Jangan Lewatkan, Malam ke.27 Malam Lailatul Qadar

 

Carilah Lailatul qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan”
(terj. HR. Bukhari).

Kita berada di malam ke.27 Ramadhan. Malam yang merupakan bagian dari rangkaian  sepuluh terakhir Ramadhan. Di malam-malam ini hendaknya kita meningkatkan kesungguhan beribadah sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di malam-malam ini pula Rasul menyuruh kita untuk berburu malam Lailatul qadar. Satu malam yang mulia dan penuh berkah, yang lebih baik dari seribu bulan.

Beliau bersabda tentang Lailatul qadar;

“تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان”. صحيح البخاري

“Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari).

Jadi lailatul qadar kata Nabi terdapat pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadhan. Malam-malam ganjil tersebut yakni malam ke.21, 23, 25,27, atau 29.

Pendapat yang masyhur, lailatul qadar pada malam ke.27. Ini merupakan pendapat para sahabat, tabi’in, dan mayoritas umat Islam. Pendapat ini didukung oleh beberapa dalil, diantaranya;

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu Anhuma, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda mengenai Lailatul Qadar:

لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

 

Ia terjadi pada malam ke-27“. (HR. Abu Daud).

Dari Ubay bin Ka’ab Radhiallahu Anhu ia berkata tentang Lailatul Qadar:

“وَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُهَا هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

“Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam tersebut. Ia adalah malam yang Allah perintahkan kami menghidupkannya dengan shalat malam, yaitu malam ke-27.” (Riwayat Muslim).

Dalam riwayat Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Barangsipa yang bersungguh-sungguh mencarinya (lailatul qadar), hendaknya ia mencarinya pada malam 27”. (HR. Ahmad).

Dalam riwayat Muslim masih dari Ibnu Umar, beberapa orang bermimpi melihat malam Lailatul qadar pada malam 27. Kemudian Nabi bersabda;

أرى رؤياكم قد تواطأت في السبع الأواخر فمن كان متحريها فليتحرها في السبع الأواخر

“Aku melihat, mimpi kalian dalam tujuh hari terakhir bertepatan, maka barangsiapa yang mencarinya (lailatul qadar) hendaknya ia mencarinya pada tujuh malam yang terakhir”. (HR. Muslim).

Oleh karena itu, mari giatkan ibadah di malam ini.

Mari raih keutamaan malam lailatul qadar meningkatkan amal shaleh.

Mari hidupkan malam ini dengan qiyam, tilawatil qur’an, dan amal shaleh lainnya.

Dan jangan lupa perbanyak do’a;

اللهم إنك عفو تحب العفو، فاعف عني

“Wahai Allah, sesungguhnya Engkau maha Pemaaf, menyukai permohonan maaf, maka maafkanlah daku“. (HR. At-Tirmidzi).

 

 

Mendulang Hikmah dari Do’a Malam Lailatul Qadar

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “

“يا رسول الله، أرأيت إن علمت أي ليلة القدر، ما أقول فيها؟ قال: قولي: اللهم إنك عفو تحب العفو، فاعف عني”. الترمذي وقال: حسن صحيح

“Wahai Rasulullah, bagaimana saran engkau jika aku mengetahui (mendapatkan) Lailatul Qadar, apa yang aku ucapkan padanya?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah, “Wahai Allah, sesungguhnya Engkau maha Pemaaf, menyukai permohonan maaf, maka maafkanlah daku“. (HR. At-Tirmidzi, Hasan Shahih).

Kesungguhan ‘Aisyah dalam Meraih Kebaikan

Hadits ini menunjukkan kesungguhan Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam meraih kebaikan dan mempelajari ilmu yang bermanfaat.

Beliau adalah putri dari manusia terbaik setelah Nabi, istri Nabi, wanita paling cerdas, ia belajar langsung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia juga dikenal paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Meskipun demikian beliau sangat antusias bertanya kepada Rasul tentang do’a khusus yang patut diucapkan pada malam Lailatul qadar.

Hal ini menjadi pelajaran bagi seluruh ummat, bagaimanapun kedudukan seseorang dan capaian ilmu yang telah diraihnya, ia tetap butuh  mengetahui hal-hal yang sepatutnya diraih dengan serius dan sungguh-sungguh.

Dan yang paling spesifik dalam hal ini adalah ilmu nafi’ yang menyucikan hati dan rohani serta membuahkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala telah memuji orang yang memiliki sifat seperti ini dalam firman-Nya;

« فَبَشِّرْ عِبَادِ (17) الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ » [سورة الزمر  : 17 ، 18

“Berilah kabar gembira kepada para hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik dari perkataan tersebut”. (Qs. Az-Zumar:17-18).

Yakni mendahulukan yang lebih afdhal dan memperhatikan yang lebih sempurna. Mereka berusaha melakukan yang terbaik dari yang baik. Mereka mengedepankan yang lebih utama.

Hikmah dari Do’a Khusus Minta Maaf Pada Malam Lailatul Qadar

Meminta maaf kepada Allah pada setiap waktu dan keadaan merupakan sesuatu yang dianjurkan, sebagaimana ditunjukan oleh dalil-dalil yang banyak. Sampai-sampai Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu meminta lebih dari sekali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diajarkan suatu do’a yang akan beliau baca dalam do’anya.  Maka Rasu mengatakan kepadanya;:

«  سَلِ اللهَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ »

“Mintalah al-‘afw (maaf) dan al-‘afiyah (keselamatan)

Lalu apa hikmah mengkhususkan minta maaf (ampunan) dalam do’a  malam Lailatul qadar?

Dijelaskan oleh Ibnu Rajab,

“Nabi menyuruh meminta maaf pada malam lailatul qadar setelah bersungguh-sungguh melakukan pada malam tersebut dan sepuluh malam terakhir Ramadhan, karena para ‘Arifin bersungguh-sungguh dalam beramal tetapi mereka tidak merasa telah melakukan amal shaleh, sehingga mereka kembali memohon maaf, seperti seorang pelaku dosa yang banyak lalai”. (Lathaiful Ma’arif, 206).

Seorang hamba senantiasa berjalan menuju Allah sembari terus memandang karunia dan nikmat Allah kepadanya  sementara pada saat yang sama ia melihat sendiri aib dirinya dan amalannya serta berbagai kekuarangan dan kelalaiannya. Namun dia tahu bahwa andaikan Tuhannya mengadzabnya dengan adzab yang pedih, maka itu adil baginya. Karena semua putusanNya adil terhadapnya. Dan bahwasanya semua kebaikan yang dia miliki dan lakukan semata-mata karunia dan anugerah Allah kepadanya. Sebagaimana dalam dzikir Sayyidul Istighfar;

“أبوء لك بنعمتك علي وأبوء بذنبي”

“Aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui pula dosaku (kepadaMu)”

Maka dia tidak menganggap dirinya (sempurna, melaikan) memandang dirinya banyak lalai dan dosa, dan ia tidak memandang Tuhannya melainkan telah memberikan banyak kebaikan (kepadanya)”. Syifa’ul “Alil, Ibn Qayyim, 115)

Adab Berdo’a

Berdo’a dengan lafal seperti dalam do’a lailatul qadar ini mengandung adab penting dalam berdo’a. Yaitu memuji Allah dengan pantas dan layak bagi Allah serta sesuai dengan permintaan yang berdo’a.

Allah telah membimbing kita untuk melakukan adab ini dalam berbagai ayatnya. Misalnya dalam surat Al-Fatihah yang terbagi dua bagian. Pertamana berisi pujian hamba kepada Rabbnya, kedua permintaan hamba kepada Rabbnya. Sebagaimana diterangkan dalam hadits qudsi yang masyhur.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang yang berdo’a dalam shalatnya tanpa memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi, maka Nabi mengatakan, “Orang ini terburu-buru”.

Kemudian beliau memannggilnya dan mengatakan kepadanya atau kepada yang lain

“إذا صَلَّى أحَدُكُم فليَبْدأ بتَمْجيدِ رَبَّه والثَّناءِ عليه، ثم يُصَلَّي على النبيِّ ، ثم يدعو بعدُ بما شاءَ

“Jika salah seorang diantara kalian berdo’a hendaknya dia mulai dengan memuji Tuhannya, menyanjungnya, kemudian bershalawat kepada Nabi, lalu setelah itu ia berdo’a seseuai keinginanannya”.

Husnudzan Kepada Allah

Do’a ini mengajarakan adab husnudzan (bersangka baik) kepada Allah. Ketika seorang hati Mukmin dipenuhi prasangka baik kepada Allah, maka tidak akan kehilangan harapan kepada Allah.

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf, mencintai maaf, karena itu, maafkanlah aku”.

Manusia Sangat Butuh Kepada Ampunan Allah

Aisyah radhiyallahu ‘anha sangat antusias bertanya kepada nabi tentang do’a malam lailatul qadar. Lalu Nabi menjawab dengan menyuruhnya memohon maaf (al-‘afw). Jika hal ini dijarkan oleh nabi kepada seorang shidiqah binti Shidiq, lalu bagaiman dengan kita?

Hal ini menunjukkan, kita saangat butuh kepada Allah. Kita butuh segalanya kepada Allah, namun yang paling kita butuhkan ampunan dan maaf atas dosa dan kesalahan kita.

 

 

Tanda-tanda Lailatul Qadar

Lailatul qadar memiliki beberapa tanda yang Nampak dan dapat dirasakan. Namun melihat dan mengalami tanda-tandanya bukanlah syarat mendapat kebaikan dan keberkahan malam lailatul qadar. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan, keutamaan malam Lailatul qadar diperoleh dengan mengisi malam tersebut dengan qiyam dan ibadah-ibadah lainnya.

Rasulullah shallalhu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang keutamaan qiyam Lailatil qadar;

“مَن قام ليلة القدر إيمانًا واحتسابًا، غُفر له ما تقدَّم من ذنبه”. متفق عليه

“Siapa yang menegakkan (ibadah-ibadah) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan hanya mengharap balasan (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu“. (HR. Bukhari dan Muslim).

Iman[an] karena iman yang menjadi syarat mendapatkan ampunan dalam hadits tersebut maksudnya tashdiq (membenarkan) qiyam (shalat malam) yang dilakukannya pada malam tersebut merupakan ketaatan kepada Allah, dan meyakini pula bahwa Allahlah yang mensyariatkan shalat malam pada malam tersebut.

Adapun ihtisab[an] artinya mengharap pahala dari Allah , sehingga dia melakukan ibadah pada malam tersebut dengan sungguh-sungguh karena termotifasi oleh janji pahala yang dijanjikan Allah.

 

Tanda-tanda Lailatul Qadar

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Baari:

“Telah disebutkan dalam beberapa riwayat tanda-tanda lailatul qadar namun kebanyakan tanda-tanda tersebut tidak nampak kecuali setelah lewat malam tersebut”

Para ulama telah menyebutkan be-berapa tanda-tanda tersebut, berdasar-kan hadits-hadits yang shahih diantara-nya :

Bulan Sabit Seperti Belahan Piring

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Kami bermudzakarah  (bertanya-tanya)  tentang kapan malam lailatul qadr ber-sama dengan Rasulullah Subhaanahu Wa Ta’ala, maka beliau bersabda :

Siapa saja diantara kalian yang mengingat ketika terbit bulan dan saat itu bulan bagaikan belahan piring (bulan sabit)” (HR. Muslim)

Suhu udara pada malam itu tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin

Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Malam Lailatul qadar adalah malam yang sejuk tidak panas dan tidak dingin, di pagi harinya cahaya mentarinya lembut dan berwarna merah“ (HHR. Ath Thayalisi, Ibnu Khuzaimah dan Al Bazzar)

Cahaya Matahari Pada Pagi Hari-nya Tidak Menyengat

Dari Ubaiy bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu  berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda:

“Pagi hari dari malam lailatul qadr terbit matahari tidak menyengat bagaikan bejana, sampai meninggi” (HR. Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Abu Daud).

Namun tidak ada halangan bagi yang tidak melihat atau mengetahui tanda-tandanya untuk mendapatkan keutamaan dan pahalanya selama dia menghidupkan pada sepuluh malam terakhir dengan ibadah karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Oleh Karena itu tidak perlu menyibukkan diri dengan mengamati dan mengintai tanda-tanda fisik malam lailatul qadar. Lebih baik giatkan ibadah pada malam terakhir sebagaimana anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. –sym- []

 

 

Jangan Lewatkan, Peluang Lailatul Qadar di Malam ke.25

Oleh : Ustadz Samsul Basri

Lailatul qadar atau malam yang mulia penuh keberkahan, akan turun di sepuluh hari terakhir ramadhan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam telah menyabdakan demikian, dalam haditsnya,

تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان

Carilah lailatul Qadar di malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir ramadhan. (HR. Bukhari. No. 2017)

Dan ternyata yang lebih dekat lagi, adalah di malam-malam ganjil di tujuh hari terakhir ramadhan. Yaitu malam ke 25, 27 dan 29. Hal ini didasarkan dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya sahabat-sahabat Nabi shallaahu ‘alaihi wasallam diperlihatkan dalam tidur mereka atau mereka bermimpi menyaksikan lailatul qadar yang turun di tujuh hari terakhir Ramadhan. Ketika mereka menceritakan mimpi mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنِّي أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ ، فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّاهَا فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ

“Sungguh aku memandang bahwa mimpi kalian tentang Lailatul Qadar tepat terjadi pada tujuh malam terakhir, maka siapa yang mau mendekatkan diri kepada Allah dengan mencarinya, lakukanlah pada tujuh malam terakhir”., (HR. Bukhari: 1876)

 

Dalam sahih Muslim, terdapat penegasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak mengebaikan 7 hari terakhir ramadhan,

التمسوها في العشر الأواخر ، فإن ضعف أحدكم أو عجز فلا يُغلبن على السبع البواقي

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh terakhir (Ramadhan), jika salah seorang dari kalian lemah atau tidak kuat (di malam ke 21, 22, 23, 24), maka jangan sampai terlewatkan tujuh malam terakhir.“, (HR. Muslim: 1989)

Saudarakufillah para pencinta dan pemburu kebaikan, insyaallah malam ini adalah malam ke 25, salahsatu malam ganjil di 7 hari terakhir Ramadhan, malam yang berpeluang turun lailatul qadar. Semoga Allah memberikan taufik, kekuatan dan kemudahan menggapai banyaknya amal shalih di malam ahad ini.

Ya Allah, Karuniakanlah untuk kami keberkahan dan kemuliaan lailatul qadar. Dan ampunkanlah untuk kami dosa-dosa kami.Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbu al-‘afwa fa’fuannaa” []

Kapankah Malam Lailatul Qadar ?

Bulan  Ramadhan  adalah bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang mulia (lailatul qadar) malam diturun-kannya Al-Qur’an. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala mengabar-kan bahwa ia lebih mulia dari seribu bulan dari segi keutamaan,  kemuliaan-nya dan banyaknya pahala. Pada malam itu turun para Malaikat atas idzin Allah membawa keselamatan sampai terbit fajar.

Kapankah Lailatul Qadar itu?

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan dalam Fathul Bari 42-50 pendapat dalam penentuan malam lailatul qadar, dan yang paling rajih adalah bahwa dia pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengabarkan hal itu. Beliau bersabda:

تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان”

Carilah malam lailatul qadar pada tanggal-tanggal ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Malam tanggal ganjil yang dimaksud adalah tanggal 21,22,23,25, 27, dan 29. Sebagaimana dalam hadits yang lain beliau bersabda:

 “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam yang terakhir pada malam 21, 23, 25 dan 27.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani).

Maka barangsiapa yang menghi-dupkan sepuluh malam terakhir khu-susnya malam-malam ganjil dari bulan Ramadhan dengan amalan-amalan ibadah niscaya akan menda-patkan lailatul qadar dan mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berupa ampunan dan pahala.

Adapun  hikmah dari disembunyi-kannya waktu tepatnya lailatul qadar agar supaya kaum muslimin memper-banyak ibadah di keseluruhan malam bulan Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, karena lailatul qadar berpindah-pindah setiap tahunnya.

Pada tahun tertentu lailatul qadar terjadi pada malam ke.27, sebagaimana pada tahun lain terjadi pada malam ke.21. Pernah juga terjadi pada malam ke.23 dan pada tahun yang lain terjadi pada malam ke.25.

Malam ke.21

Di masa Nabi lailatul qadar pernah terjadi pada tanggal 21 Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits riwayat Muslim dari sahabat Abu Sa’id Al-khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي نَسِيتُهَا أَوْ أُنْسِيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ كُلِّ وِتْرٍ وَإِنِّي أُرِيتُ أَنِّي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ”.

“Sungguh telah diperlihatkan padaku Lailatul Qadar, kemudian aku lupa atau dibuat lupa. Olehnya, carilah Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir, pada setiap malam ganjilnya. Pada saat itu aku merasa bersujud di air dan lumpur.”

Abu Sa’id berkata: “Hujan turun pada malam ke-21, hingga air mengalir mengaliri tempat shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seusai shalat aku menyaksikan wajah beliau kotor terkena lumpur. (HR. Bukhari dan Muslim).

Malam ke.23

Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lailatul qadar pernah terjadi pada malam ke.23. sebagaimana ditunjukan oleh hadits Abdullah bin Unais yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Aku bermimpi melihat Lailatul qadar, kemudian aku dibuat melupakannya, kemudian aku bermimpi bahwa esok paginya aku bersujud di tanah lumpur yang berair”. (HR. Muslim).

Abdullah bin Unais berkata, “ Kemudian kami mendapati hujan pada malam ke.23, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama kami, dan sayapun terkena air hujan. Sungguh bekas air dan tanah menempel pada wajah dan hidung Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Lailatul Qadar pada malam ke.23 juga ditunjukan oleh riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata;

“Kami mengingat-ingat bersama malam Lailatul qadar di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau bersabda;

Siapa diantara kalian yang ingat ketika rembulan muncul seperti  belahan mangkok besar?”

Sebagian ulama menafsirkan, rembulan muncul dengan bentuk seperti belahan mangkok besar pada malam ke.23 Ramadhan. Sebagian lagi mengatakan setelah malam 23.

Malam Ke.25

Ada pula riwayat yang menunjukan, lailatul qadar terjadi pada malam ke.25. sebagaimana ditunjukan oleh hadits Ubadah bin Shamit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar memberitahukan kepada mereka tentang lailatul qadar, kemudian ada dua orang yang berdebat, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

خرجت لأخبركم بليلة القدر فتلاحى فلان وفلان فرفعت وعسى أن يكون خيرا لكم فالتمسوها في التاسعة والسابعة والخامسة

“Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Lailatul Qadar, tapi ada Fulan dan Fulan berdebat hingga diangkat (tidak bisa lagi diketahui), mungkin ini lebih baik bagi kalian, carilah dia (lailatul qadar) pada malam kesembilan, keujuh,  dan kelima)” (HR. Bukhari).

Kemungkinan yang dimaksud dengan malam kesembilan (at-tasi’ah) sembilan malam terakhir dari sepuluh malam terakhir Ramadhan yaitu malam ke.29, atau kemungkinan yang dimaksud sembilan malam yang tersisa yaitu malam ke.21 atau ke.22 tergantung jumlah hari bulan Ramadhan tahun itu sempurna (30 hari) atau kurang (29 hari). Adapun kelima (al-khamisah) adalah malam ke.25.

Dalam riwayat lain berbunyi;

” التمسوها في التسع والسبع والخمس “

Carilah ia pada malam sembilan, tujuh, dan lima”.

Maksudnya pada malam ke.29, ke.27, dan ke.25. (Fathul Bari, 316)

Malam Ke.27

Pendapat yang masyhur, lailatul qadar pada malam ke.27. Ini meruapakan pendapat para sahabat, tabi’in, dan mayoritas umat Islam. Pendapat ini didukung oleh beberapa dalil, diantaranya;

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu Anhuma, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda mengenai Lailatul Qadar:

لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

 “Ia terjadi pada malam ke-27“. (HR. Abu Daud).

Dari Ubay bin Ka’ab Radhiallahu Anhu ia berkata tentang Lailatul Qadar:

“وَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُهَا هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam tersebut. Ia adalah malam yang Allah perintahkan kami menghidupkannya dengan shalat malam, yaitu malam ke-27.” (Riwayat Muslim).

Dalam riwayat Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Barangsipa yang bersungguh-sungguh mencarinya (lailatul qadar), hendaknya ia mencarinya pada malam 27”. (HR. Ahmad).

Dalam riwayat Muslim masih dari Ibnu Umar, beberapa orang bermimpi melihat malam Lailatul qadar pada malam 27. Kemudian Nabi bersabda;

أرى رؤياكم قد تواطأت في السبع الأواخر فمن كان متحريها فليتحرها في السبع الأواخر

Aku melihat, mimpi kalian dalam tujuh hari terakhir bertepatan, maka barangsiapa yang mencarinya (lailatul qadar) hendaknya ia mencarinya pada tujuh malam yang terakhir”. (HR. Muslim).

Malam Ke.29

 

Pendapat berikutnya, lailatul qadar terdapat pada malam 29. Pertama, malam 29 termasuk malam ganjil sehingga peluangnya sama dengan malam-malam ganjil lainnya. Selain itu terdapat hadits lain yang mengisyaratkan, lailatul qadar pada malam ke.29. seperti hadits Ubadah bin Shamit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

” لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْبَوَاقِي , مَنْ قَامَهُنَّ ابْتِغَاءَ حِسْبَتِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ , وَهِيَ لَيْلَةُ وِتْرٍ تِسْعٌ أَوْ سَبْعٌ أَوْ خَمْسٌ أَوْ ثَلاثٌ أَوْ آخِرُ لَيْلَةٍ ” .

“Lailatul qadar terdapat pada sepuluh hari yang tersisa, siapa yang melakukan qiyam dengan mencarinya secara sungguh-sungguh maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Lailatul qadar itu pada malam ganjil; sembilan, tujuh, atau lima, atau tiga, atau malam terakhir”.

Yang dimaksud dengan akhir lailah (malam terakhir) adalah malam 29.

Dalam hadits Ibnu Khuaimah dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salakm bersabda;

Bersungguh-sungguhlah mencari lailatul qadar pada malam terakhir”

Kesimpulan

Malam, lailatul qadar terdapat pada sepuluh malam terakhir ramadhan. Tepatnya pada malam-malam ganjil. Jika seorang muslim mencari malam lailatul Qadar carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir : 21, 23,25,27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari pada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25,27 dan 29. Wallahu ‘alam. –sym- []

 

Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan dan Lailatul Qadar #4#

Perbanyak Do’a dan Istighfar

Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan salah satu amalan yang perlu terus ditingkatkan adalah memperbanyak do’a dan istighfar. Dan diantara yang hendaknya tidak boleh luput adalah memohon dibebaskan dari neraka. Karena setiap malam di bulan Ramadhan Allah membebaskan setiap hambaNya dari neraka dan setiap hamba memiliki do’a yang mustajab.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang hal ini;

إنَّ لله عتقاءَ في كلِّ يوم وليلة، لكلِّ عبد منهم دعوةٌ مستجابة

 “Sesungguhnya setiap hari siang dan malam Ramadhan ada yang dibebaskan dari neraka oleh Allah, dan setiap hamba memiliki do’a yang mustajab”. (HR. Ahmad, no. 7450 dan dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

Selain itu do’a lain yang hendaknya selalu dipanjatkan pada malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan adalah permohonan ampun yang diajarkan oleh Nabi kepada Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha;

‘Aisyah mengatakan; “Wahai Rasulullah, bagaimana saran engkau jika aku mengetahui (mendapatkan) Lailatul Qadar, apa yang aku ucapkan padanya?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah,

اللهم إنك عفو تحب العفو، فاعف عني

 “Wahai Allah, sesungguhnya Engkau maha Pemaaf, menyukai permohonan maaf, maka maafkanlah daku“. (HR. At-Tirmidzi, Hasan Shahih).

Do’a ini hendaknya dibaca setiap malam pada sepuluh malam terakhir. Karena malam Lailatul qadar terdapat pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Sebagaimana diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

التمسوها في العشر الأواخر من رمضان

“Carilah ia (lailatul qadar) pada sepuluh  malam terakhir Ramadhan,”. (HR. Bukhari dan Tirmidzi).

Dianjurkan pula bagi setiap Muslim untuk mengakhiri Ramadhan dengan memperbanyak istighfar pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Istighfar bermakna juga do’a memohon ampunan. Ini penting karena do’a orang puasa mustajab, baik do’a saat menjalani puasa di siang hari maupun do’a saat berbuka atau menjelang berbuka puasa.

Istighfar merupakan penutup setiap amal shaleh. Ia merupakan penutup shalat, haji, dan qiyamullail, serta kaffaratul majlis. Maka seyogyanya juga seorang Muslim menutup puasa Ramadhan nya dengan istighfar.

Berkenaan dengan hal ini, diriwayatkan, Umar bin Abdul Aziz  rahimahullah (ketika menjadi khalifah) menulis surat imbauan kepada para gubernur di berbagai wilayah pada akhir Ramadhan. Beliau menginstruksikan kepada masyarakat untuk mengakhiri Ramadhan dengan istighfar dan zakat fitrah. Karena zakat fitrah pembersih orang puasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata, sedangkan istighfar menambal puasa yang sobek karena perbuatan sia-sia dan perkataan kotor”. (Lathaif Ma’arif, 214).

Namun perlu diingat, istighfar yang paling bermaanfaat adalah yang disertai dengan taubat. Karena itu istighfar hendaknya disertai dengan meninggalkan dosa, menyesali perbuatan dosa tersebut, serta bertekad untuk tidak mengulangi dan mengembalikan hak yang diambil secara dzalim kepada pemiliknya jika dosa kepada sesama manusia. -sym- []

Bersambung insya Allah

Sumber: 38 Faidah fil ‘Asril Awakhir Wa Lailatil Qadr

 

Malam ke.23 Peluang Lailatul Qadar

Kita berada di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Malam paling istimewa dari malam-malam Ramadhan, bahkan paling istimewa dari seluruh malam dalam setahun. Pada malam sepuluh terakhir ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam Lailatul Qadar.

Malam lailatul qadar merupakan salah satu yang menjadi keutamaan Ramadhan. Ramadhan lebih istimewa dari bulan-bulan lain karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar.

Malam lailatul qadar adalah malam yang mulia dan penuh berkah. Ia lebih mulai dari seribu bulan atau 83 tahun lebih. Maksudnya amal shaleh pada malam lailatul qadar lebih baik dari amal shaleh selama seribu bulan tanpa lailatul qadar. Penjelasan tentang keutamaan malam Lailatul qadar silahkan baca di sini atau di sini 

Kapan Malam Lailatul Qadar?

Malam Lailatul Qadar terdapat pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, sebagaimana dikbarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya;

التمسوها في العشر الأواخر من رمضان، التمسوها في كل وتر

Carilah ia (lailatul qadar) pada sepuluh  malam terakhir Ramadhan, carilah pada setiap malam ganjil”. (HR. Bukhari dan Tirmidzi).

Dalam riwayat lain beliau bersabda;

“تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان”. صحيح البخاري

Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari).

Jadi lailatul qadar kata Nabi terdapat pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadhan. Malam-malam ganjil tersebut yakni malam ke.21, 23, 25,27, atau 29.

Malam ke.21 dah lewat. Mungkin malam ini, malam ke 23.

Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lailatul qadar pernah terjadi pada malam ke.23. sebagaimana ditunjukan oleh hadits Abdullah bin Unais yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Aku bermimpi melihat Lailatul qadar, kemudian aku dibuat melupakannya, kemudian aku bermimpi bahwa esok paginya aku bersujud di tanah lumpur yang berair”. (HR. Muslim).

Abdullah bin Unais berkata, “ Kemudian kami mendapati hujan pada malam ke.23, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama kami, dan sayapun terkena air hujan. Sungguh bekas air dan tanah menempel pada wajah dan hidung Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Lailatul Qadar pada malam ke.23 juga ditunjukan oleh riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata;

“Kami mengingat-ingat bersama malam Lailatul qadar di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau bersabda;

“Siapa diantara kalian yang ingat ketika rembulan muncul seperti  belahan mangkok besar?

Sebagian ulama menafsirkan, rembulan muncul dengan bentuk seperi belahan mangkok besar pada malam ke.23 Ramadhan. Sebagian lagi mengatakan setelah malam 23.

Dalam Musnad Imam Ahmad terdapat hadits, seorang sahabat Nabi melihat bulan pada malam Lailatul qadar seperti belahan/separuh mangkok besar.

Tunggu apa lagi, yuk maskimalkan ibadah di malam ini. Malam ke.23. Jangan lupa perbanyak do’a ini;

اللهم إنك عفو تحب العفو، فاعف عني

 “Wahai Allah, sesungguhnya Engkau maha Pemaaf, menyukai permohonan maaf, maka maafkanlah daku“. (HR. At-Tirmidzi)

 

 

Kultum Tarawih: Kiat-Kiat Meraih Lailatul Qadar

Kita berada di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Salah satu keistimewaan sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan adalah adanya malam lailatul qadar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk mencari malam Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Tepatnya pada malam-malam ganjil. Beliau bersabda;

“تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان”. صحيح البخاري

Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari).

Lailatul qadar malam yang mulia lagi penuh berkah. Ia lebih baik dari seribu bulan. Artinya amal shaleh pada malam Lailatul qadar lebih baik dari amal shaleh selama seribu bulan tanpa lailatul qadar. Oleh karena itu mendapatkan keutamaan malam lailatul qadar ini merupakan karunia besar dan nikmat yang sangat berharga. Sebaliknya orang yang luput dari kebaikan malam lailatl qadar ini telah merugi dan luput darinya kebaikan yang banyak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

” وفيه ليلة خير من ألف شهر من حُرم خيرها فقد حُرم “

Di dalamnya (bulan Ramadhan)  terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan,  siapa yang terhalangi dari kebaikan malam tersebut maka ia telah terhalangi (dari kebaikan yang banyak).  (HR. Nasai).

Oleh karena itu hendaknya meningkatkan kesungguhan beribadah di sepuluh malam ini demi mendapatkan kemuliaan Lailatul qadar. Ada lima hal yang penting diperhatikan dan dilakukan sebagi upaya meraih kebaikan  malam Lailatul Qadar yang mulia ini.

  1. Persiapan Yang Matang

Yakni menyiapkan fisik dengan mengkondisikan tubuh agar tetap fit dan bugar pada malam hari. Seperti istirahat yang cukup serta menghindari keletihan pada siang hari. Karena ketika fisik terlalu letih akan menjadi sebab cepat ngantuk pada malam hari. Akibatnya tidak bisa memaksimalkan waktu malam dengan ibadah.

Persiapan lain yang tidak kalah pentingnya adalah datang ke masjid lebih awal (jika sedang tidak i’tikaf).

Dianjurkan pula tidak makan berlebihan saat buka puasa dan makan malam. Karena kelebihan makan menyebabkan tubuh terasa berat melakukan ibadah dan cepat ngantuk.

Selain itu dianjurkan pula meninggalkan kesibukan menyita waktu dan menguras tenaga pada siang hari maupu malam bakda tarawih. Seperti berbelanja dan keluar masuk pasar/mall/supermarket untuk berburu diskon lebaran. Keperluan lebaran berupa pakaian dan makanan sebaiknya disiapkan sebelum memasuki bulan Ramadhan, paling lambat sebelum memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan.

  1. Penyucian Jiwa

Mensucikan dan mengosongkan jiwa dari dosa dan maksiat, yakni melalui taubat nasuha. Meninggalkan dosa-dosa besar, Karena syarat mendapatkan keutamaan Ramadhan dan malam Lailatul Qadr adalah meninggalkan dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at berikutanya, dan bulan Ramadhan ke bulan Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa diantaranya selama dosa-dosa besar dijauhi“. (HR. Muslim).

Dosa dan maksiat juga membuat tubuh merasa berat melakukan ibadah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Asy-Syarh;

Bukankah kami telah lapangkan dadamu, dan kami ampuni dosa-dosamu, yang membebani punggugmu”, (Qs. Asy-Syarh: 1-3).

  1. Mengisi Hati dengan Cinta Allah dan Pengagungan PadaNya

Hal ini dilakukan dengan mengamati dan merenungkan tanda kebesaran Allah pada diri manusia dan alam raya secara umum.

Termasuk merenungkan keluasan rahmat dan nikmat Allah dalam kehidupan. Serta merungkan adzabNya yang pedih pada para pendosa. Sebab semakin lembut hati seseorang semakin mudah melakukan ibadah dan amal shaleh.

Memilih amalan yang lahir dan batin yang dipriorotaskan pada malam yang mulia ini. Sebab amalan itu bertingkat-tingkat. Setiap orang dibukakan pintu amal yang berbeda-beda. Masing-masing orang dimudahkan melakukan suatu amalan yang tidak dibukakan dan dimudahkan bagi orang lain.

  1. Menghindari Sikap Buang-buang Waktu Pada Malam Ini

Hendaknya menghindari melakuka perbuatan sia-sia yang tidak bermanfaat. Seperti cerita dan obrolan yang berlebihan, berselencar di dunia maya, sibuk dengan medsos dan sebagainya.

Hal yang tidak penting yang kadang menyita perhatian adalah sibuk mengamati dan mencaritemu tanda-tanda malam Lailatul Qadr.

Sebaliknya hendaknya menyibukkan diri dengan amal shaleh dengan meningkatkan kesungguhan dalam setiap ibadah yang dilakukan.

Sebab mendapatkan kemuliaan dan keutamaan malam Lailatul Qadar tidak ditentukan oleh melihat tanda-tandanya. Mengetahui dan melihat tanda-tanda Lailatul Qadar bukanlah syarat mendapatkan kemuliaan dan keutamaannya. Tapi syaratnya adalah iman dan ihtisab dalam setiap amal ibadah yang dilakukan malam itu. –sym- []

Sumber: Hakadza Kaana An-Nabiyyu shallallahu ‘alaihi wa sallam fi Ramadhan

Simak video kiat meraih Lailatul Qadar oleh Ustadz Muhammad Yusran Ansar di sini. 

Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan dan Lailatul Qadar #3#

Seorang Muslim hendaknya meningkatkan kesungguhan beribadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Sebab sepuluh malam terakhir merupakan saat-saat paling utama dari keseluruhan hari-hari Ramadhan. Karena di sepuluh terakahir Ramadhan terdapat malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Meningkatkan kesungguhan dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir ramadhan merupakan salah satu sunnah dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dikabarkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau  mengatakan,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد في العشر الأواخر ما لا يجتهد في غيره  رواه مسلم

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (melakukan ibadah) pada sepuluh malam terakhir dengan kesungguhan yang tidak sama pada malam-malam lainnya”. (HR. Muslim).

Salah satu ibadah yang patut menjadi perhatian dan peningkatan pada sepuluh malam terakhir ramadhan adalah tilawah Al-Qur’an. Peningkatan kesungguhan dalam interaksi dengan Al-Qur’an pada sepuluh hari terakhir Ramadhan dapat dialakukan dengan menambah jumlah khatam. Sebagian salaf mengkhatamkan al-Qur’an setiap tujuh atau tiga hari. Jika memasuki sepuluh hari terakhir mereka mengkhatamkan setiap hari.

Ini dapat dilakukan dengan mudah jika seseorang mengisi sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan I’tikaf sepuluh hari penuh. Karena saat I’tikaf seseorang fokus dan berkosentrasi melakukan ibadah. Khusus pada malam hari, selain shalat malam amalan yang ditekankan adalah memperbanyak tilawah Al-Qur’an.

Malaikat Jibril ‘alaihissalam datang kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam pada malam-malam Ramadhan lalu mudarasah Al Qur’an bersama beliau.

Renungkanlah hubungan yang erat antara waktu malam dengan Al Qur’an dalam ayat yang banyak, dan hal itu lebih tegas pada bulan Ramadhan; Bacalah firman Allah;

Hubungan antara malam dan Al Qur’an sangat erat sekali, karena pada malam hari suasana tenang, tentram, dan jiwa dalam keadaan teduh. -sym-[]

Bersambung insya Allah

Sumber: 38 Faidah fil ‘Asril Awakhir Wa Lailatil Qadr

Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan dan Lailatul Qadar #2#

Sepuluh hari terakhir Ramadhan ibarat pasar raya yang menjanjikan keuntungan yang berlipat ganda. Di sini orang-orang shaleh berloma dalam kebaikan. Para ahli ibadah bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah dengan beragam jenis ketaatan.

Mereka berusaha mengakhiri Ramadhan dengan amalan terbaik.  Karena “amalan itu tergantung penutupnya”. (HR. bukhari dan Muslim).  Ibarat kuda pacu jika telah mendekati garis finish makin meningkat kecepatannya. Mereka benar-benar mengagungkan sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Abu Utsman An-Nahdi rahimahullah berkata, “Mereka (orang-orang shaleh terdahulu) mengagungkan sepuluh hari terakhir Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan sepuluh hari pertama bulan Muharram”. (Lathaif Ma’arif, 35).

Keutamaan sepuluh hari terakhir Ramadhan mencakup waktu siang dan malam hari. Tapi malam-malamnya lebih utama, karena terdapat malam Lailatul Qadar.

Salah satu amalan pamungkas di sepuluh terakhir Ramadhan ini adalah I’tikaf. Berdiam di masjid dalam rangka ibadah kepada Allah. Di dalam I’tikaf terkumpul beragam ibadah sekaligus, seperti shalat lima waktu berjama’ah tepat waktu, menanti waktu shalat fardhu di masjid, tilawah al-Qur’an, do’a dan dzikir, qiyamul Lail, dan ibadah lainnya.

I’tikaf di sepuluh terakhir Ramadhan merupakan wujud peningkatan mujahadah (kesungguhan) dalam melakukan amal shaleh. Dengan I’tikaf seseorang memiliki peluang lebih besar mendapakan malam Lailatul qadar. Insya Allah. []

Bersambung insyaAllah.