Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor Gelar  Penamatan dan Wisuda Hafalan

(Bogor) Wahdahajakrta.com-, Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor menggelar penamatan  wisuda hafalan angkatan II pada 15 Ramadhan 1440 H, Senin (20/05/2019).

Selain dihadiri para orang tua/wali santri wisuda angkatan ke. 2 ini juga turut dihadiri tokoh masyarakat, tokoh Agama, dan pemerintah setempat. Tampak hadir Ketua MUI Kecamatan Cibinong, KH. Endang Mathin, Lurah Pakansari, Asnari, Babnisa Kelurahan Pakansarai Suryana, dan tokoh lainnya.

Dalam sambutannya Asnari menyampaikan apresiasi dan support kepada pesentren Tahfidz (SMP-SMA) Al-Qur’an Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor.

Alumni Angk. II Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor (Tingkat SMA) berfoto bersama Pimpinan Pondok, Ketua MUI Ke. Cibinong, Lurah Pakansari, dan Kepala SMAQu WI Usai prosesi wisuda dan penamatan angk.II, Senin (20/05/2019)

“Sangat bangga dengan hadirnya pesantren Wahdah Islamiyah ini, yang merupakan pesantren ke 9 di kelurahan Pakasari karena bisa memberikan kontribusi buat masyarakat  yang tinggal di daerah” , ujarnya.

“Wisuda Ke.2 kali ini, ada peningkatan jumlah yang di Wisuda, Yaitu untuk tingkat SMA sebanyak 8 santri, dan untuk tingkat SMP ada 9 santri. Dibandingkan tahun lalu, wisuda angkatan pertama tahun lalu, hanya sebanyak 4 santri  SMA”, ujar Muhammad Hamka, Kepala SMPQu Wahdah Islamiyah.

Santri Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor (tingkat SMP) berfoto bersama Pimpinan pondok, Lurah Pakansari, Ketua MUI Kec. Cibinong, dan Kepala SMPQu WI usai wisuda

“Alhamdulillah sebagian besar santri menyelesaikan hafalan sesuai target, SMA 30 juz dan SMP 30 juz”, ucap pimpinan pondok Ustadz Syamsuddin menambahkan.

Dalam acara Wisuda ini, ditampilkan,beberapa selingan dari santri, Diantaranya nasyid, peragaan beladiri, dan drama ucapan pesan dan kesan dari para santri dari kelas XII yang tamat tahun ini. *AA [].

Bersama Meriahkan Ramadhan Melalui Cafe Kaget Ramadhan

(JAKARTA) Wahdahjakarta.com – Muslimah Wahdah DKI Jakarta -Depok berkerjasama dengam LAZIS Wahdah membagikan ifthor bagi pengendara ataupun warga yang berjalan di depan kantor LAZIS Wahdah Jakarta, Jl.Lenteng Agung No.1, Srengseng Sawah, Jagakarsa pada Ahad (19/5).

Kegiatan yang bertemakan Cafe Kaget Ramadhan, Ifthor On The Road merupakan Program Berkah Ramadhan 1440 H dari LAZIS Wahdah. Tujuan kegiatan ini untuk memberikan kemudahan bagi pengendara yang hendak berbuka. Ada sebanyak 170 nasi box plus teh pucuk untuk paket berbuka telah dibagikan ke pengendara dan beberapa warga setempat.

Kegiatan ini mendapatkan respon positif baik dari pengendara maupun warga setempat. Ada beberapa pengendara yang menyempatkan berhenti untuk mengambil takjil dan memberikan testimoni terhadap LAZIS Wahdah.

“Semoga sukses”, ujar salah seorang Driver Ojek Online.

“Sore ini, kami LAZIS Wahdah berkerjasama dengan Muslimah Wahdah DKI Jakarta-Depok
membagikan ifthor untuk pengendara yang lewat, semoga bermanfaat dan berkah”, ungkap Adi Julie, Marketing Eksekutive LAZIS Wahdah Jakarta. (rsp)

**

Cafe “Kaget” Ramadhan 
Tebar Ifthar dan Takjil Nusantara dan Ifthar on the Road
(Rp. 35.000/paket)

💰 Cara Berdonasi
1).Transfer Donasi melalui Bank Syariah Mandiri (BSM) norek: 773 800 8008 a.n. Lazis Wahdah Jakarta Sedekah (Kode Transfer ATM Bersama: 451).
2).Konfirmasi Transfer Donasi melalui WA/SMS ke +628119787900, ketik : BR/Nama/Alamat/Nama Program/Jumlah Donasi beserta photo bukti transferan.

Lazis Wahdah Buka Puasa Bersama dengan Warga Ponpes El Madina Gorontalo

 

Lazis Wahdah Gelar Buka Puasa Bersama dengan Warga Ponpes El Madina Gorontalo

(Gorontalo) Wahdahjakarta.com— Berkah Ifthor (buka puasa) LAZIS Wahdah turut dirasakan oleh warga Ponpes El Madina Gorontalo. Pada hari ke 12 Ramadhan, ratusan paket ifthor disajikan di Masjid Islamic Center Al Faruq Gorontalo.

Ime Hadi Sabrun, koordinator kegiatan mengungkapkan rasa bahagianya karena telah berkesempatan menjembatani para donatur untuk meraih keberkahan Ramadhan. Menurutnya, tak hanya sebagai sarana beramal, akan tetapi ifthor bersama kali ini bisa menjadi bagian upaya merajut ukhuwah di antara sesama.

“Alhamdulillah, ifthor bersama berlangsung dengan baik. Kita masih membuka kesempatan kepada masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan Kami,” ujarnya, Sabtu (18/5/2019).

Tampak Warga duduk dengan rapi sembari menunggu hidangan yang tersaji. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari program Berkah Ramadhan LAZIS Wahdah yang rutin dilaksanakan setiap Ramadhan. Tak hanya ifthor, LAZIS Wahdah juga mempunyai beberapa item kegiatan Ramadhan yakni Tebar Sembako Nusantara, Tebar Mukenah Nusantara, Kado Lebaran Yatim, Bingkisan Lebaran Dai, dan lain sebagainya.

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #sahabatdermawan #mudahsedekah #ayosedekah #tarbiyah #ramadhan #berkahramadhan #berkah #tebariftharnusantara #ramadhan1440

Kultum Tarawih: Ramadhan Bulan Do’a

 وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku maka sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan do’a orang yang berdo’a jika dia berdo’a kepadaKu”. (Qs. Al-Baqarah:186).

 

Pelajaran Ayat:

  1. Ayat ini terletak dalam rangkaian ayat-ayat tentang puasa. Ayat sebelumnya (183-185) mengabarkan tentang kewajiban puasa Ramadhan dan tujuan puasa, serta udzur bagi yang tidak mampu berpuasa. Lalu ayat ini. Kemudian ayat setelahnya kembali berbicara tentang puasa.

Secara redaksional ayat ini tidak memuat kata dan kalimat tentang puasa atau fiqh Ramadhan. Hal ini mengisyaratkan bahwa bulan Ramadhan atau saat puasa merupakan waktu terkabulnya do’a. Bulan Ramadhan  sebagai bulan do’a.

Ibnu ‘Asyur berkata; “Dalam ayat ini terdapat isyarat, orang yang berpuasa memiliki harapan lebih besar dikabulkan do’anya, bulan Ramadhan merupakan waktu terkablnya do’a serta disyariatkannya berdo’a setiap mengakhiri hari di bulan Ramadhan”. (At-Tahrir Wat Tanwir).

Ini sejalan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

ثلاثة لا ترد دعوتهم : الإمام العادل، والصائم حتى يفطر، ودعوة المظلوم

Ada tiga yang tidak tertolak do’anya; Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan do’a orang yang terdzalimi”. (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban).

Di hadits lain Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

للصائم دعوة لا ترد عند فطره

“Bagi orang yang berpuasa ada do’a yang tidak tertolak (yang dipanjatkan) saat dia berbuka puasa”.

“Orang yang berpuasa hingga ia berbuka”, dan “bagi orang yang berpuasa . . . “, berlaku umum, dan tidak khusus di bulan Ramadhan saja. Dan tentu saja di bulan Ramadhan hal itu lebih utama. Karena kemuliaa dan keberkahan waktu Ramadhan.

  1. Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat dengan redaksi yasalunaka (mereka bertanya kepadamu). Semua kata “pertanyaan tersebut” disusul dengan “Qul=Katakanlah” atau “Faqul=Maka katakanlah”. Kecuali ayat ini, tanpa qul (katakanlah) atau faqul (maka katakanlah). Melainkan langsung “fainniy qarib= Sesungguhnya aku dekat“.

Hal ini menunjukan kedekatan Allah dengan hambaNya yang berdo’a. Seolah kata “Qul (katakanlah) menghalangi kedekatan tersebut. Ini sejalan dengan Sabab Nuzul (sebab turunnya ayat ini), yakni ketika Nabi ditanya tentang Allah;

Apakah Tuhan kami itu dekat sehingga kami membisikiNya ataukah Dia jauh sehingga kami harus memanggilNya?”

Allah jawab dengan menurunkan ayat ini.

  1. Firman Allah;

فَإِنِّي قَرِيبٌ

“Sesungguhnya Aku dekat“.

Menunjukan dekatnya Allah dengan hambaNya dan secara khusus dengan hamba yang berdo’a.

Syekh Asy-Syinqithi berkata: “Dalam ayat ini Allah menyebutkan, Dia dekat dan mengabulkan do’a orang yang berdo’a. Sementara di ayat lain pengabulan do’a dikaitkan dengan kehendakNya. Seperti pada firman Allah dalam Surah Al-An’am ayat 41.

Sebagian Ulama berkata, Pengabulan do’a yang dikaitkan dengan kehendak Allah adalah do’a orang beriman, sebagaimana ditunjukan oleh konteks ayat. Sedangkan janji pengabulan secara mutlak adalah untuk do’a orang beriman. Oleh karena itu do’a mereka tidak tertolak. Entah mereka diberikan apa yang mereka minta, atau disimpan sebagai simpanan pahala, atau dihindarkan dari mereka suatu bala bencana atas taqdir Allah“. (Adhwaul Bayan, 1/74).

Maksudnya adalah orang kafir atau musyrikin jika mereka berdo’a maka doa’a mereka kemungkinan dikabulkan oleh Allah dan kemungkinan tidak. Tergantung kehendak Allah. Adapun orang beriman, jika mereka berdo’a, maka do’a mereka dikabulkan oleh Allah selama tidak ada penghalang do’a yang mereka lakukan.

  1. Firman Allah

Aku mengabulkan do’a orang-orang yang berdo’a jika dia berdo’a kepadaKu”

Isyarat yang sangat nyata, syarat dikabulkannya do’a adalah kehadiran hati. Seorang yang berdo’a hendaknya berdo’a disertai hati yang hadir dan tidak lalai. Yakin dengan do’anya  disertai keikhlasan dan ketulusan serta rasa butuh kepada Allah dan pengagungan kepada Allah.

Jika ada yang bertanya, “kapan do’a seseorang dikabulkan?’’ maka jawabannya adalah saat orang itu berdo’a. “jika dia berdo’a kepadaku’’. Artinya do’a seseorang dikabulkan oleh Allah saat dia berdo’a.

 

Puasa Adalah Perisai dari Neraka

 

Ash-Shiyamu junnat[un], Puasa adalah perisai. Begitu kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa haditsnya.

Perisai dari apa?

Di dunia puasa menjadi perisai dari syahwat dan maksiat serta hawa nafsu. Sedangkan di akhirat puasa menjadi perisai dari neraka dan adzab Allah.

Imam Ahmad dan Nasai meriwayatkan dari Utsman bin Abil ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“الصوم جُنَّة من عذاب الله”. (صحيح الجامع: 3867).

“Puasa itu perisai dari adzab Allah”. (Shahih al-Jami’, 3867).

Dalam riwayat lain berbunyi;

“الصيام جُنَّة من النار كجُنَّة أحدكم من القتال”.

“Puasa itu perisai seperti perisai salah seorang diantara kalian pada saat perang”. (HR. Ahmad dan Nasai)”.

Dalam riwayat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 “الصيام جُنَّة يستجن بها العبد من النار” (صحيح الجامع: 3868).

“Puasa itu perisai, dengannya seorang hamba berlindung dari api neraka” (HR. Ahmad, Shahih al-Jami’ 3868).

Sementara dalam riwayat Abu Huraitag berbunyi;

“الصيام جُنَّة وحصن حصين من النار” (صحيح الجامع: 3880)

 

 “Puasa itu benteng yang membentengi dari api neraka”. (HR. Ahmad, Shahih al-Jami’, 3880).

Ibnu Hibban meriwayatkan dengan sanad shahih,  dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya.

يا كعب بن عُجْرةَ: الصلاةُ قربان، والصوم جُنَّة، والصدقة تطفئُ الخطيئة كما يذهبُ الجليدُ على الصفا”.

“Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah; Shalat itu pendekatan diri kepada Allah, puasa itu perisai, dan sedekah itu menghapuskan kesalahgan sebagaimana

Al-Munawiy berkata dalam Faidhul Qadir;

“Puasa adalah pelindung di dunia dari maksiat dengan menghancurkan syahwat dan menjaga anggota badan sedang di akhirat melindungi dari neraka”.

Beliau juga berkata;

“Puasa dalah perisai dari adzab Allah sehingga ia tidak disentuh oleh api neraka sebagaimana api neraka tidak dapat menyentuh anggota badan yang termasuk anggota wudhu, karena puasa melibatkan seluruh anggota tubuh, sehingga dengan rahmat Allah puasa menjadi perisai dari neraka”.

Oleh karena itu Ibnu Abdil Barr berkata; “Cukuplah hal ini sebagai bukti keutamaan bagi orang yang berpuasa”.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihin wa sallam, beliau bersabda;

“مَن صام يومًا في سبيل الله بَعَّد الله وجهه عن النار سبعين خريفًا”.

“Siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh 700 tahun”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat Nasai dari Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu dengan lafal;

“مَن صام يومًا في سبيل الله، باعد الله منه جهنم مسيره مائة عام”

“Siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh perjalanan seratus tahun”.

Imam Qurthubi berkata; “Makna di jalan Allah adalah ketaatan kepada Allah. Jadi maksudnya adalah siapa yang berpuasa dengan maksud mengharap wajah Allah”.

Al-Munawi rahimahullah berkata; “Di jalan Allah, maksudnya karena Allah (Lillah) dan karena mengharap wajah Allah, atau dalam perang atau perjalanan haji”.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallalhu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“مَن صام يومًا في سبيل الله جعل الله بينه وبين النار خندقًا كما بين السماء والأرض”

“Siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, Allah letakkan parit antara dirinya dengan api neraka sejauh jarak antara langit dan bumi”.

Jika hal ini berlaku untuk puasa sunnah satu hari Allah menjauhkannya dari neraka dengan parit sejauh perjalanan 500 tahun, maka bagaimana dengan puasa Ramadhan yang merupakan puasa fardhu (wajib)? []

Penulis             : Syekh Abu Ahmad

Penerjemah    : Abu Muhammad

Artikel             : https://www.alukah.net/

 

 

 

Kultum Tarawih: Ramadhan Bulan Pengampunan Dosa

 

Ramadhan Bulan Pengampunan Dosa

Bulan Ramadhan disebut pula sebagai bulan taubat dan pengampunan dosa. Ada tiga landasan sehingga bulan Ramadhan disifati sebagai bulan taubat dan ampunan.

Pertama, Pada bulan Ramadhan terdapat beberapa amalan yang secara khusus menghapus dosa dan kesalahan.

Kedua, Pada bulan Ramadhan setiap Muslim berperang melawan setan dan hawa nafsunya yang selalu mengajak kepada keburukan.

Ketiga, Pada bulan Ramadhan setiap Muslim merasakan kemudahan melakukan perbuatan baik.

Ramadhan Menghapuskan Kesalahan

Salah satu makna Ramadhan adalah membakar. Yakni membakar kesalahan dan dosa dengan amal shaleh.

Imam Qurthubi berkata;

((إنما سُمِّي رمضان لأنه يرمض الذنوب , أي يحرقها بالأعمال الصالحة))

Dinamakan Ramadhan karena dia membakar dosa-dosa, yakni membakar dosa-dosa dengan amal-amal shaleh

Inilah kekhususan bulan Ramadhan. Puasa, Shalat Tarawih, dan Lailatul Qadr yang hanya terdapat pada bulan Ramadhan merupakan penghapus dosa dan kesalahan.

Rasulullahn shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang keutamaan puasa Ramadhan;

 (من صام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه)

Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Keutaamaan yang sama juga dijanjikan kepada mereka yang melaksanakan shalat Tarawih dan menghidupkan malam Lailatul Qadr.

Keutamaan ini berlaku selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

 (الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان لرمضان مكفرات ما بينهن ما اجتنبت الكبائر)

“Antara shalat lima waktu, Jum’at dengan Jum’at, dan Ramadhan dengan Ramadhan menghapuskan dosa diantaranya selama dosa-dosa besar dijauhi”.

Pengampunan dosa akan lebih sempurna jika bulan Ramadhan jika bulan Ramadhan juga dimanfaatkan untuk bertaubat dan memperbanyak istighfar.

Setan Dibelenggu Pada Bulan Ramadhan

Pada bulan Ramadhan setan dibelenggu. Sehingga mereka tidak leluasa mengganggu dan menggoda manuisa berbuat dosa dan maksiat. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

” إذا دخل شهر رمضان فتحت أبواب الجنة، وغُلقت أبواب جهنم، وسلسلت الشياطين (متفق عليه).

Jika masuk bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka Jahannam ditutup, dan setan-setan dibelenggu”. (Muttafaq ‘alaihi).

Dalam hadits lain beliau bersabda;

” أتاكم شهر رمضان، شهر مبارك، فرض الله عليكم صيامه، تفتح فيه أبواب الجنة، وتغلق فيه أبواب الجحيم، و تُغلُّ فيه مردة الشياطين، و فيه ليلة هي خير من ألف شهر، من حرم خيرها فقد حرم “

Bulan Ramadhan telah mendatangi kalian,  bulan yang penuh berkah.  Pada bulan ini Allah mewajibkan kepada kalian berpuasa.  Pada bulan ini pula pintu-pintu surga dibuka,  pintu-pintu neraka ditutup, dan para dedengkot setan dibelenggu.  Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan,  siapa yang terhalangi dari kebaikan malam tersebut maka ia telah terhalangi (dari kebaikan yang banyak).  (HR. Nasai).

Dalam riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah disebutkan;

” إذا كان أول ليلة من شهر رمضان صفدت الشياطين ومردة الجن ، وغلقت أبواب النار فلم يفتح منها باب ، وفتحت أبواب الجنة فلم يغلق منها باب ، وينادى مناد كل ليلة : يا باغي الخير أقبل ويا باغي الشر أقصر ، ولله عتقاء من النار وذلك كل ليلة “

Jika malam pertama bulan Ramadhan telah masuk maka para dedengkot setan dan jin dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pintupun yang dibuka,  pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pintu pun yang ditutup,  dan setiap malam ada seruan yang memanggil,  wahai para pencari kebaikan bergegaslah,  wahai para pencari keburukan tahanlah diri kalian,  dan setiap malam ada yang dibebaskan dari neraka oleh Allah“. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

Maka Ramadhan adalah kesempatan bagi para pendosa (termasuk saya dan anda) untuk bergegas melakukan kebaikan dan meninggalkan perbuatan buruk.

Jika pada bulan Ramadhan setan dibelenggu, lalu mengapa masih ada yang berbuat dosa dan maksiat pada bulan Ramadhan?

Ini pertanyaan penting, namun yang lebih penting adalah jawaban dari pertanyaan ini.

Orang yang berakal tentu tidak dapat memungkiri, pada bulan Ramadhan manusia berbondong-bondong melakukan kebaikan. Kesadaran berbuat baik dan beribadah meningkat. Serta semangat meninggalkan keburukan juga meningkat. Masjid-masjid lebih ramai dari biasanya. Jama’ah shalat juga bertambah. Ini adalah bukti, banyak yang kembali ke jalan yang benar dan lurus. Banyak yang berpaling dari keburukan. Inilah salah satu makna dan bukti diikatabnya setan, dimana mereka tidak leluasa mengganggu dan menggoda manusia untuk berbuat buruk.

Makna lain dari “setan-setan diikat” adalah, mereka tidak leluasa mengganggu dan menggoda manusia untuk berbuat jahat seperti pada bulan-bulan lain di luar Ramadhan. Kekuatan mereka melemah, was-was dan gangguan mereka berkurang. Tetapi hal ini tidak berlaku umum. Artinya masih ada sebagian kalangan yang tidak luput dari gangguan dan godaan setan.

Boleh jadi yang dimaksud adalah, yang diikat adalah dedengkot setan dan kepalanya. Sedangkan yang kecil-kecil dibiarkan atau sebaliknya.

Maksud lain dari “setan-setan diikat” adalah, puasa menyebabkan seseorang merasakan lapar dan lemah secara fisik. Sehingga hal ini memperlemah ruang gerak setan yang berjalan melalui aliran darah dalam tubuh manusia. Sehingga secara otomatis mereka tidak leluasa mengganggu dan menggoda manusia untuk berbuat buruk, sebagaimana mereka dapat menggoda manuisa disaat tidak puasa atau di luar Ramadhan.

Bisa juga yang dimaksud adalah makna secara hakiki. Yakni secara fisik setan diikat, dirantai, dan dibelenggu. Sehingga mereka tidak dapat menggoda orang-orang yang berpuasa. Adapun perbuatan dosa terjadi karena pengaruh hawa nafsu yang secara tabiat selalu mengajak kepada perbuatan buruk (ammarah bis suu).

Ibnu Abdil Barr berkata;

“Adapun sabda Nabi, “setan-setan dibelenggu”, maka maknanya menurut saya adalah, Allah menjaga orang-orang beriman atau mayoritas orang beriman dari perbuatan maksiat, sehingga setan tidak mampu mengganggu mereka seperti pada bulan-bulan lain”.

Kemudahan Berbuat Baik Pada Bulan Ramadhan

Pada bulan Ramadhan  setiap orang merasakan kemudahan dalam berbuat baik. Masing-masing merasakan bulan Ramadhan sebagai memontum yang kondusif melakukan amal shaleh. Hal ini didukung oleh beberapa faktor, diantaranya;

  1. Do’a Malaikat

Malaikat mendoakan orang-orang berpuasa, sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang orang-orang yang banyak berpuasa (shawwam);

وتستغفر لهم الملائكة حتى يفطروا رواه الإمام أحمد عن أبي هريرة

“Dan para Malaikat memohonkan ampun untuk mereka”. (HR. Ahmad).

Para Malaikat adalah makhluq Allah yang suci dan dekat dengan Allah. Do’a dan istighfar mereka berpeluang besar diterima oleh Allah Ta’ala.

Sementara manusia banyak berbuat salah dan dosa. Karena itu sangat butuh kepada ampunan Allah. Maka do’a dan permohonan ampun Malaikat merupakan sesuatu yang sangat penting bagi manusia.

  1. Ramadhan Musim Ibadah Kolektif

Bulan Ramadhan merupakan musim ibadah secara jama’i, kolektif, dan kolosal. Kebanyakan manusia bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadah dan amal shaleh. Hal itu tentu menarik minat dan semangat untuk makin giat dan bersemangat beramal shaleh.

Ramadhan datang membawa kunci-kunci ampuna. Siapa yang menerimanya dan kembali kepada Allah, maka dia mendapat ampunan-Nya. Siapa yang menolak dan tidak menerima kunci tersebut maka ia terhalangi dari ampunan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 (رغِم أنف من أدركه رمضان ولم يغفر له)

Celakalah orang yang mendapatkan bulan Ramadhan namun tidak diampuni dosanya”.

Ini adalah do’a nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk orang yang menyia-nyiakan peluang Ramadhan. Semoga menjadi bahan renungan bagi pembaca. Sebab di bulan ini berbagai kemudahan dan peluang berbuat baik dan meraih ampunan Allah terbuka lebar. []

Murid-Murid SD IMS Khalifa Salurkan Donasi Melalui LAZIS Wahdah

(Tangsel) wahdahjakarta.com – Bertepatan dengan acara Wisuda Tahfidz Juz 30 SD IMS Khalifa, Bintaro, Tangerang Selatan pada Senin (13/5), LAZIS Wahdah yang diwakilli langsung oleh Direktur LAZIS Wahdah Jakarta, Ust. Yudi Wahyudi dan jajarannya hadir pada acara tersebut.

Kehadiran Tim LAZIS Wahdah Jakarta dalam rangka serah terima donasi dari pundi/celengan murid-murid SD IMS Khalifa yang dirangkaikan dengan kajian Syaikh Dr Nabil Ahmad yang bertemakan “Menjadi Ahlul Qur’an dan Perbaikan Bacaan Qur’an”

Bapak Habibi selaku Kepala Sekolah Eksternal SD IMS Khalifa dan Wakil Bidang Keagamaan menuturkan bahwa ini suatu pengalaman tersendiri bagi murid-murid di sini untuk turut peduli dan berbagi dengan sesama melalui pundi sedekah LAZIS Wahdah.

“Semoga kerjasama dengan LAZIS Wahdah tetap terjalin kedepannya, dan semoga LAZIS Wahdah tetap menjadi lembaga yang amanah”, ujar Bapak Habibi

“Anak-anak di sini antusias dalam berinfaq. Disamping itu, Kami juga selalu mengingatkan. Selain itu, kedatangan syaikh menambah antusias anak-anak”, tambahnya. (rsp)

**

 

Menebar Hidayah ke Pedalaman Kalimantan

Ustadz Agus (bejubah putih)

(Mempawah) Wahdahjakarta.com — Daerah-daerah terpencil di Indonesia masih banyak yang terpinggirkan. Tak hanya di sisi ekonomi dan sosial, para penduduknya juga tak mendapatkan pendidikan keagamaan yang kurang layak.

Sejak lama, daerah Pontianak yang kebanyakan dihuni oleh suku dayak memang beragama kristen. Namun ternyata, nun jauh disana, tepatnya di Kecamatan Toho, Mempawah masih ada komunitas muslim yang menghuni daerah tersebut. Meski jumlahnya tak banyak.

Ditempuh sejauh puluhan kilo, dengan durasi waktu dua hingga tiga jam lamanya, dengan berbagai macam tampilan alam yang mengesankan. Gunung-gunung, hutan lebat dipinggir jurang, dan jauhnya perjalanan menjadi kisah tersendiri bagi ustadz Agus Muliono.

Sudah setahun lamanya, ia bersama sang istri hijrah dari Makassar menuju Mempawah. Selama itu pula, ada banyak lika-liku, dan kisah yang ia hendak bagi. Ia mengatakan, dahulunya, Mempawah ini adalah bagian dari Kabupaten Pontianak. Jaraknya tak jauh dari ibu kota Provinsi Kalimantan Barat.

“Saya rasa muslim di Toho butuh kita bantu. Sebab, masyarakat masih sangat awam dengan Islam,” tutur ustadz Agus.

Kerap kali ada beberapa kejadian yang membuatnya harus mengelus dada. Saat sebagian masyarakat ada yang tak peduli dengan apa yang ia sampaiakan. Bahkan beberapa kali dakwahnya sengaja diperlambat dan kajiannya tiba-tiba dibatalkan.

“Pernah saya sudah buat janji. Tapi qadarullah, jauh-jauh saya kesana, malah dibatalkan begitu saja. Saya hanya bisa mengelus dada. Mungkin ini bagian dari cara Allah memantapkan dakwah saya,” katanya, sebagaimana dalam penyampaiannya beberapa waktu yang lalu.

Ia bercerita, saat berusaha menjajal medan Mempawah, hujan yang deras membuatnya basah kuyup. Ia juga sempat kecelakaan dan mengharuskan ia beristirahat beberapa waktu. Sementara motornya yang sudah tua, juga harus diperbaiki, meski kondisi perekonomiannya saat itu juga melesuh.

“Saya harus kuat. Karena dakwah itu pekerjaan mulia. Nabi saja tidak mengeluh meski sering diancam dibunuh,” tandasnya.

Ustadz Agus adalah alumni program Tadribut ad Du’at atau Sekolah Dai Wahdah Islamiyah. Ia ditugaskan di Mempawah, mengemban tugas dakwah dan telah melewati masa satu tahun. []

 

https://wp.me/paJg5M-3DR

 

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #sahabatdermawan #mudahsedekah #ayosedekah #tarbiyah #ramadhan #berkahramadhan #berkahhidayah #daiqu

 

Foto: Ifthor on the Road Wahdah Islamiyah Depok

Tebar Ifthor Nusantara Wahdah Islamiyah Depok 

(Depok) Wahdahjakarta.com-, Rabu (15/05/2019) yang bertepatan dengan 10 Ramadhan 1440 H Panitia Semarak Ramadhan 1440 H Wahdah Islamiyah Depok menggelar kegiatan “Ifthar on the Road”.

Tim Tebar Ifthar on the Road Wahdah Islamiyah Depok membagikan takjil kepada pengendara dan pengguna jalan

Kegiatan berbagi takjil atau buka puasa kepada pengguna jalan ini merupakan bagian dari rangkaian program Ramadhan Wahdah Islamiyah secara nasional, yakni gerakan “Tebar Ifthar Nusantara”.

Tim Tebar Ifthar on the Road Wahdah Depok membagikan takjil kepada pengendara

“Selain bermaksud meraih berkah Ramadhan melalui berbagi takjil, ifthar on the road ini juga bertujuan membantu para pengguna jalan yang hendak berbuka puasa”, ujar Ketua Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah Depok, Arofah Syarifuddin.

Ifthor on the Road Wahdah Islamiyah Depok


Yuk gabung di Cafe “Kaget” Ramadhan
Tebar Ifthar dan Takjil Nusantara dan Ifthar on the Road
(Rp. 35.000/paket)

Cara Berdonasi
1).Transfer Donasi melalui Bank Syariah Mandiri (BSM) norek: 773 800 8008 a.n. Lazis Wahdah Jakarta Sedekah (Kode Transfer ATM Bersama: 451).
2).Konfirmasi Transfer Donasi melalui WA/SMS ke +628119787900, ketik : BR/Nama/Alamat/Nama Program/Jumlah Donasi beserta photo bukti transferan.

💌 LAZIS Wahdah “Melayani dan Memberdayakan”

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat#posternasihat #nasihat #selfreminder #quotes #muslim#mudahsedekah #ayosedekah #tarbiyah #ramadhan #berkahramadhan#berkah #MarhabanYaRamadhan #ramadhan1440

 

Gelar Semarak Ramadhan 1440 H, Keluarga Mahasiswa Teknik UP Hadirkan Ketua Wahdah Jaksel

 

Ustadz MUhammad Anas Syukur (kopiah hitam) bersama pengurus Keluarga Mahasiswa Teknik UP

Gelar Semarak Ramadhan 1440 H, Keluarga Mahasiswa Teknik UP Hadirkan Ketua Wahdah Jaksel

(Jakarta) Wahdahjakarta.com-, Ramadhan merupakan bulan rahmat. Berbagai kegiatan yang bertujuan menumbuhkan kasih saying antar sesame digelar di bulan Ramadhan penuh berkah ini. Salah satunya rangkaian semarak Ramadhan yang digelar Keluarga Mahasiswa Teknik Universitas Pancasila.

Kegiatan yang mengangkat tema, “Ramadhan, Ciptakan Berkah dengan Rajut Persaudaraan Antar Mahasiswa  KM UP” ini berlangsung sejak tanggal 13-24 Mei 2019.

Menurut panitia pelaksana, kegitan ini digelar untuk merajut Ukhuwah Islamiyah yang lebih erat antar sesama muslim serta menumbuhkan muhabbah dibulan Ramadhan yang  merupakan syahrul rahmah.

Berbagai rangkaian kegiatan yang digelar sebagai rangkaian semarak Ramadhan 1440 H ini antara lain Tadarus & Khataman Al-Qur’an, Kultum dan Buka puasa serta Sahur bersama,  Sholat Tarawih berjamaah, Fun Games bersama Anak Yatim, Santunan Anak Yatim, Ceramah Umum, dan sebagainya.

Selasa (14/05/2019) panitia menghadirkan Ketua DPD Wahdah Islamiyah Jakarta Selatan, Ustadz Anas Syukur pada taushiyah menjelang buka puasa.

Kegiatan tersebut selain dihadiri oleh Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik, juga dihadiri mahasiswa lainnya serta civitas akademika Universitas Pancasila

Alhamdulillah kegiatan yang sudah berjalan 2 hari ini berjalan dengan lancar dan mendapatkan antusias dari para mahasiswa yang ikut dalam buka puasa bersama tersebut.

Dalam taushiyahnya Ustadz Anas mengingatkan tentang keajaiban Istighfar. Menurutnya ada sesuatu yang luar biasa di balik Istighfar. Hanya saja banyak yang kurang tahu keajaiban yang luar biasa tersebut. Oleh karena itu, “mari perbanyak istighfar di bulan ini”, ujar Ustadz Anas. []