Selain Puasa, Ini 9 Amalan Yang Sangat Dianjurkan Pada Bulan Ramadhan

 

Ramadhan Mubark

Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Berkah artinya kebaikan yang banyak, melimpah dan langgeng. Artinya bulan Ramadhan merupakan bulan bertabur kebaikan.

Keberkahan bulan Ramadhan yang melimpah disebabkan oleh banyaknya ibadah amal kebaikan yang secara khusus dianjurkan dan ditekankan pada bulan Ramadhan. Diantaranya, puasa yang hanya diwajibkan pada bulan Ramadhan, shalat tarawih atau qiyam Ramadhan, tilawah dan tadarus Al-Qur’an, sedekah, zakat, I’tikaf, dan sebagainya.

Berkah Ramadhan hanya dapat diraih dengan melaksanakan amal kebaikan secara sungguh-sungguh. Berikut ini Sembilan amalan kebaikan yang sangat dianjurkan pada bulan Ramadhan, sebagaimana dikutip dari buku Kaifa Nu’isyu Ramadhan karya Syekh Abdullah Ash-Shalih.

  1. Shalat Tarawih

Shalat tarawih adalah sebutan untuk shalat malam yang dikerjakan pada bulan Ramadhan. Selain shalat tarawih disebut pula dengan nama qiyam Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharapkan  pahala, maka nisacaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yang dimaksud qiyam Ramadhan  dalam hadits ini adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh Imam An-Nawawi.

Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih dapat menggugurkan dosa dengan syarat karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jika mengahadirishalat Tarwih dianjurkan mengikuti shalat bersama Imam sampai selesai, karena “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Nasai).

  1. Sedekah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan manusia yang paling dermawan. Kedermawanan beliau makin bertambah pada bulan Ramadhan. Beliau juga menyampaikan, sedekah pada bulan Ramadhan merupakan sedekah yang paling afdhal. Beliau bersabda;

أفضل الصدقة صدقة في رمضان

“Sedekah paling afdhal  adalah sedekah pada bulan Ramadhan” (HR. Tirmidzi).

Ada dua bentuk sedekah yang dianjuran pada bulan Ramadhan ini, yakni memberi makan dan memberikan buka puasa.

  1.  Menyibukkan Diri dengan Al-Qur’an

Bulan Ramadhan disebut bulan dengan bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an). Oleh karena itu salah amalan yang ditekankan pada bulan ini adalah tilawah Al-Qur’an (membaca Al-Qur’an). Orang-orang shaleh terdahulu menjadikan bulan Ramadhan sebagai ksempatan menyibukkan diri dengan Al-Qur’an; mulai dari membaca, mempelajari, dan mentadabburi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa “tadarus” Al-Qur’an bersama Malaikat Jibril. Pada tahun beliau wafat, Malaikat Jibril mendatangi Nabi dua kali untuk mudasarah Al-Qur’an.

Sebagian salaf mengkhatamkan Al-Qur’an dalam shalat Tarwih setiap tiga malam. Ada pula yang setiap sepuluh malam.

Utsman bin Affan biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari pada bulan Ramadhan.

Imam Syafi’i dapat mengkhatamkan enam puluh kali di luar Shalat pada bulan Ramadhan.

Qatadah mengkhatamkan setiap tujuh hari di luar bulan Ramadhan, sedangkan pada bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan setiap tiga hari. Pada sepuluh malam terakhir beliau mengkhatamkan setiap malam.

Setiap Muslim hendaknya menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum menyibukkan diri dengan Al-Qur’an. Hendaknya menentukan target khatam minimal sekali pada bulan Ramadhan. Jika di luar Ramadhan mengkatamkan Al-Qur’an sekali sebulan atau setiap 40 hari, maka pada bulan Ramadhan ini dapat ditingkatkan menjadi dua sampai tiga kali khatam. Jika direncanakan dan disertai manajemen waktu yang baik, maka tidak sulit mengkhatamkan Al-Qur’an dua sampai tiga kali dalam bulan Ramadhan.

  1. Beribadah Pada Malam Lailatul Qadr

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah adanya malam Lailatul Qadr. Malam yang lebih baik dari seribu bulan.  Nabi mengabarkan tentang hal ini dalam sabdanya;

Di dalamnya (bulan Ramadhan) terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan,  siapa yang terhalangi dari kebaikan malam tersebut maka ia telah terhalangi (dari kebaikan yang banyak).  (HR. Nasai).

Oleh karena itu salah diantaraa amalan yang dianjurkan pada bulan Ramadhan adalah mencari dan menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan ibadah.

Rasulullah menjanjikan ampunan bagi yang mengisi malam Lailatul Qadr dengan ibadah. Sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam  lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari  dan Muslim)

Di hadits lain yang diriwayatkan Imam Ahmad beliau bersabda;

Barangsiapa yang melakukan qiyam untuk mendapat malam Lailatul qadr lalu ia benar-benar mendapatkannya, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang lalu dan akan datang’, (terj. HR. Ahmad).

  1. I’tikaf

I’tikaf sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, sekaligus untuk meraih malam Lailatul Qadr.

I’tikaf adalah mengurung diri di masjid untuk berkonsentrasi melakukan ibadah kepada Allah. Dalam I’tikaf terkumpul  berbagai jenis ibadah berupaka shalat, do’a, dzikir, tilawah Al-Qur’an, dan lain sebagainya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf selama sepuluh hari setiap bulan Ramadhan. Dalam hadits Bukhari disebutkan, pada tahun beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.

  1. Umrah di bulan Ramadhan

Bagi yang mampu dianjurkan melaksanakan ibadah umrah di bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang keutamaan umrah pada bulan Ramadhan;

فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي ، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً  وفي رواية لمسلم : حجة معي

“Jika datang bulan Ramadhan berumrahlah,karena umarh pada bulan Ramadhan sama denga ibadah haji” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat Muslim berbunyi, “Sama seperti berhaji bersamaku”.

  1.  Memperbanyak Do’a, Dzikir, dan Istighfar

selain disebut sebagai syahrul Qur’an, syahrus Shiyam, bulan Ramadhan disebut pula sebagai syahrud Du’a. Pada bulan ini do’a orang-orang beriman mustajab di sisi Allah. Salah satu dalilnya adalah posisi ayat tentang do’a yang terletak dalam rangkaian ayat-ayat tentang puasa, yakni surah al-Baqarah ayat 186:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ [٢:١٨٦

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Qs. Al-Baqarah:186).

Dua ayat sebelum ayat diatas (183-185) berbicara tentang puasa Ramadhan. Demikian pula ayat setelahnya (187). Menurut para ulama Tafsir, hal itu menunjukan adanya keterkaitan yang sangat erat antara do’a dan Ramadhan. Dimana salah satu amalan utama pada bulan ini adalah do’a. Do’a pada bulan ini sangat mustajab, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad  dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang jayyid bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa salam bersabda: ”Setiap muslim memiliki do’a yang mustajabah (yaitu) do’a yang ia panjatkan pada bulan Ramadhan.

Diantara waktu yang dianjurkan memperbanyak do’a dan istighfar adalah Saat berbuka atau menjelang berbuka dan di sepertiga malam terakhir atau saat sahur.

  1. Duduk di Masjid Setelah sahalat Subuh Sampai Terbit Mata hari

Duduk di masjid setelah shalat subuh sampai terbit mata hari merupakan salah satu kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berlaku umum di luar Ramadhan dan di dalam bulan Ramadhan. Amalan yang dilakukan di sini adalah berdzikir dan beristighfar serta berdoa’a dan bershalwat sebagai rangkaian dari dzikir pagi.

Setelah itu dilanjutkan dengan shalat dua raka’at setelah terbit mata hari. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa salam mengabarkan tentang keutamaan shalat ini.

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ، ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ . قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Barangsiapa yang shalat subuh berjama’ah, kemudian dia duduk bedzikir kepada Allah hingga terbit mata hari kemudian dia shalat dua raka’at maka maka baginya pahala seperti  haji dan umrah”. Rasul berkata, “sempurna, sempurna, sempurna”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syekh Al-Bani).

  1. Meninggalkan Perkara Sia-sia

Bulan Ramadhan yang penuh berkah dan bertabur kebaikan hendaknya diisi dengan berbagai amal kebaikan. Dan tidak diisi denga perbuatan sia-sia. Oleh karena itu salah satu upaya menjaga kualitas ibadah Ramadhan adalah dengan meninggalkan berbagai perbuatan sia-sia yang tidak bermanfaat. Termasuk meninggalkan perbuatan dusta, perkataan kotor dan keji, serta tindakan bodoh yang dapat mengurangi kesempurnaan puasa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan tentang hal ini dalam sabdanya;

 والصيام جُنة، فإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفُث ولا يفسق ولا يصخب،

dan puasan itu perisai, oleh karena itu pada hari kalian berpuasa janganlah berkata kotor (rafats), jangan berbuat fasik/maksiat, dan janganlah berteriak-teriak”. (HR. Bukhari).

Di hadits lain beliau bersabda;

“مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ بهِ والجهْلَ فَلَيْسَ للَّهِ حَاجةٌ في أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وشرابَهُ”

Baragsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak sudi sedikitpun menerima puasanya, meskipun dia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Bukhari dan Abu Daud).

Semoga kita dihindarkan dari perbuatan buruk dan sia-sia yang merusak puasa, serta diberi kekuatan mengisi bulan Ramadhan dengan beragam ibadah dan ketaatan kepaa ALLAH Ta’ala. (sym)