Tanya Jawab Fiqh Puasa (13): Ciuman Suami istri, Membatalkan Puasa?

Ciuman Suami istri, Membatalkan Puasa?

Pertanyaan : Apakah batal jika kita mencium istri pada bulan Ramadhan ? (Guntoro, Lampung Selatan)

Jawaban:

Ciumuan antara suami istri pada siang hari bulan Ramadhan tidak membatalakn puasa. Oleh karena itu hukumnya boleh. Namun kebolehan ini hanya berlaku bagi mereka yang mampu mengendalikan syahwatnya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal ini. Namun beliau merupakan manusia yang paling mampu mengendalikan syahwatnya.

Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan;

“كانَ النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُ وَهُو صائمٌ ويُباشرُ وهُوَ صائمٌ، ولكنه أَمْلَكَكُمْ لإرْبِهِ” مُتّفقٌ عليه واللفظٌ لمسلم، وزاد في روايةٍ “في رَمَضَان”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa, dan beliau juga mencumbui (istrinya) saat puasa, tapi beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan hasratnya”. (Muttafaq ‘alaih). Dalam redaksi lain, “Pada bulan Ramadhan”.

Hadits ini merupakan dalil bolehnya mencium istri atau bermesraan dan bercumbu saat berpuasa, dengan syarat ciuman dan cumbuan tersebut tidak sampai menggerakkan syahwat. Artinya kebolehan ini tidak berlaku secar mutlak. Boleh bagi yang dapat mengendalikan nafsunya seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapaun bagi mereka yang mudah bergejolak syahwatnya atau masih muda, hendaknya tidak melakukan hal tersebut.  Karena dikhawatirkan berlanjut kepada hubungan badan yang membatalkan puasa. []

===

Pembaca yang ingin bertanya dapat menyampaikan pertanyaan via Whatsapp ke narahubung “Tanya Ustadz”:  0813 7848 2598, dengan cara ketik Nama/Alamat/Pertanyaan.

Kultum Tarawih: Meraih Syafa’at Puasa dan Al-Qur’an

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah, Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 285;

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an” (QS. Al-Baqarah : 185)

Aِyat lain yang menerangkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan adalah surah al-Qadr ayat 1 dan ad-Dukhan ayat 3:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ [٩٧:١

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (Qs al-Qadr:1).

حم [٤٤:١] وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ [٤٤:٢]إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ [٤٤:٣

Haa miim. Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. (Qs. Ad-Dukhan:1-3).

Oleh karena itu bulan Ramadhan disebut pula sebagai bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an). Bahkan pewajiban dan pensyariatan puasa pada bulan Ramadhan dikaitkan dengan peristiwa diturunkannya la-Qur’an pada bulan tersebut. Dimana setelah menyatakan, Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an, barulah Allah perintahkan kewajiban berpuasa pada ayat 185 surah Al-Baqarah.

Sehingga puasa dan  Al-Qur’an  ibarat saudara kembar. Keduanya akan datang sebagai pemberi syafa’at pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ

 “Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429]

Syarat utama meraih syafa’at Al-Qur’an adalah dekat dengan Al-Qur’an, baik membaca, mempelajari, memahami, dan mengamalkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat memberi syafa’at kepada para sahabatnya (pembacanya).

 

Oleh sebab itu pula salah satu amalan utama yang ditekankan pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini adalah menyibukkan diri dengan Al-Qur’an; membaca (tilawah), mempelajari (tadarus), menghafal (tahfidz), dan merenungkan (tadabbur).

Para Salafus Shaleh dahulu selalu menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Sebagian diantara mereka mengkhatamkan Al-Qur’an dalam Shalat tarawih setiap tiga malam. Sebagian lagi setiap tujuh malam sekali.

Utsman bin Affan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari pada bulan Ramadhan. Imam Syafi’i mengkhatamkan dua kali sehari di luar Shalat dalam bulan Ramadhan. Al-Sawad setiap dua hari. Qatadah setiap tujuh hari di luar Ramadhan. Sedangkan pada bulan ramadhan setiap tiga hari. Dan pada sepuluh malam terakhir setiap hari sekali khatam. Mereka benar-benar menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an.  []

Khotbah Jum’at: Meraup Berkah Ramadhan

 

 

Meraup Berkah Ramadhan

Khotbah Pertama

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin, jamaah shalat Jum’at yang dirahmati oleh Allah.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, detik-detik yang dilaluinya bisa lebih berharga dibandingkan dengan dunia beserta seluruh isinya, dan jika datang bulan Ramdhan, Rasulullah memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya dan menjelaskan tentang keutamaan dan berkah yang menyertainya, beliau mengatakan:

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya:”Telah tiba dihadapan kalian bulan Ramadhan, bulan penuh dengan berkah, Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di dalamnya, pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka di tutup, dan syetan-syetan di belenggu di bulan Ramadhan. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan”. HR Ahmad.

Sikap Rasulullah ini tentunya menunjukkan dahsyatnya keutamaan bulan Ramadhan, Rasulullah menyebutnya sebagai bulan yang penuh dengan berkah, yang dimaksud dengan berkah adalah untaian-untaian kebaikan dan manfaat. Dan jika di hubungkan dengan bulan Ramadhan, maka berkahnya menghiasinya dalam beberapa hal:

Pertama: Bulan Ampunan dosa

Jika kita mengkaji hadits-hadits yang datang dari Rasulullah, maka kita akan mendapati banyak sekali amalan-amalan yang menjadi faktor diampuninya dosa-dosa hamba, diantaranya yang terkandung dalam sabda Rasulullah:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 

Artinya:”Barang siapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosanya yang telah lalu”. Muttafaqun Alaihi.

Dan sabda Rasulullah:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya:”Barang siapa yang shalat malam dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dari dosanya yang telah lalu”. Muttafaqun Alaihi.

Dan sabda Rasulullah:

 

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya:”Barang siapa yang memakmurkan malam Lailatul Qadr (dengan Ibadah) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosanya yang telah lalu”. Muttafaqun Alaihi.

Tiga redaksi hadits ini menunjukkan bahwa Ramadhan merupakan bulan maghfirah, sebab berkumpul di dalamnya amalan-amalan yang dapat menjadi faktor diampuninya dosa seorang hamba, baik amalan tersebut hukumnya wajib ataupun yang hukumnya sunnah.

Maka jika seorang hamba melaksanakan satu amalan saja dengan penuh keikhlasan dan keimanan, seperti puasa yang merupakan bagian dari rukun islam yang wajib hukumnya untuk dilaksanakan, maka sesungguhnya amalan ini dapat menjadi penghapus dosa yang telah lalu baginya.

Kedua: Bulan Dilipat Gandakannya Pahala Amalan

Ini adalah berkah kedua yang menghiasi bulan Ramadhan, yaitu pahala-pahala amalan dilipat gandakan oleh Allah, jika pada hari biasa, sebuah amalan dapat dilipat gandakan antara sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, maka di dalam bulan Ramadhan, ada amalan yang dilipat gandakan dengan jumlah yang tidak terbatas, Rasulullah bersabda:

كل عمل ابن آدم يضاعف الحسنة عشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف، قال الله عز وجل: إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به

Artinya: ”Setiap Amalan manusia dilipat gandakan, satu kebaikan pahalanya (bila) sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, Allah berfirman: kecuali ibadah puasa (pahalanya tidak terhingga), sesungguhnya (puasa) milikku, dan AKU yang memberi pahalanya”. HR Muslim.

Kaum muslimin, jamaah shalat Jum’at yang dirahmati oleh Allah.

Sesungguhnya hadits ini dapat memberikan motivasi bagi seluruh kaum muslimin untuk melaksanakan ibadah puasa, sebab pahala yang dijanjikan oleh Allah sangat luar biasa, dapat melebihi hitungan-hitungan yang ada di kepala manusia, dan hadits ini juga dapat memberikan dorongan bagi kita untuk senantiasa meningkatkan kwalitas puasa yang kita laksanakan, sebab semakin baik kwalitas puasa kita, maka akan berpengaruh kepada besarnya pahala yang di dapatkan dari Allah.

Ketiga: Bulan Ramadhan mengkondisikan kaum muslimin untuk beramal sholih

Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah diatas:

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya: ”Telah tiba dihadapan kalian bulan Ramadhan, bulan penuh dengan berkah, Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di dalamnya, pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka di tutup, dan syetan-syetan di belenggu di bulan Ramadhan. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan”. HR Ahmad.

Dalam hadits ini, dapat kita simpulkan bahwa bulan Ramadhan telah dikondisikan dengan sedemikian rupa, untuk menjadi bulan Taubat, bulan beramal ibadah, dan bulan yang penuh dengan kebaikan, seakan tidak ada tempat bagi manusia untuk melakukan kemaksiatan. Silahkan di renungkan; di bulan Ramadhan di buka pintu-pintu Surga, ditutup pintu Neraka, di belenggu syaitan-syaitan, serta diwajibkan bagi seluruh kaum muslimin untuk berpuasa. Dan realita dalam kehidupan juga membuktikan, bahwa berapa banyak di kalangan kaum muslimin tidak mampu untuk berpuasa di luar bulan Ramadhan, meskipun puasa-puasa yang sangat dianjurkan dan dijanjikan pahala yang besar seperti puasa ‘Asyura’ dan ‘Arafah, namun ketika bulan Ramadhan datang, maka mereka dapat melaksanakan ibadah puasa tersebut. Dan betapa banyak di kalangan kaum muslimin yang tidak mampu untuk melaksakan qiyamul lail di luar bulan Ramadhan, namun ketika bulan Ramadhan datang menjelang, mereka dapat melaksanakannya dengan penuh semangat.

 

Keempat:  Lailatul Qadr

Ini adalah puncak dari keberkahan di bulan Ramadhan dan puncak keindahannya, yang mana malam ini, lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah:

 

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya:”Laitul Qodar (adalah malam) yang lebih baik daripada seribu bulan”.

 

Kaum muslimin, jamaah shalat Jum’at yang dirahmati oleh Allah.

Inilah berkah yang dikandung oleh bulan Ramadhan, yang hendaknya kita termotivasi untuk meraihnya. Sesungguhnya cara yang terbaik untuk meraup keberkahan Ramadhan adalah dengan memaksimalkan kemampuan dan usaha kita untuk melaksanakan ibadah di dalamnya dengan sebaik dan sebanyak mungkin, sebagaimana ucapan Malaikat sebagaimana yang disabdakan Rasulullah:

يا باغي الخير أقبل

Artinya:”Wahai pencari kebaikan, datanglah”. HR Timidzi dan yang lainnya.

Semoga Allah senantiasa menuntun kita pada jalan kebaikan, dan menjaga kita dari jalan kesesatan.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وجعلني وإياكم من الصالحين.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

 

 

Khotbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين

عِبَادَ اللهِ

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

 

Sumber: Wahdah.or.id

 

 

NEGERIKU…

Pantai Pajala Muna Barat

Oleh: Muhammad Ihsan Zainuddin

 

Semoga negeriku akan baik-baik saja.

Semoga negeriku selalu terjaga.

Semoga anak bangsaku terlindungi senantiasa.

Semoga azanku terus membahana.

Semoga Takbir selalu terpekik perkasa.

Semoga langit negeriku tetap menjadi saksi:

tentang anak-anak negeri berhati suci

yang siap meregang nyawa tegakkan keadilan!

 

Duhai Ilahi…

Kata-kataku kini hampir habis:

Saksikan kezhaliman merata tak terkira.

Kedunguan dibalut pengkhianatan.

Pembawa kebenaran dianggap pendusta.

Penegak keadilan dikira penjahat nista.

Pengkhianat dipandang pahlawan.

Perompak digelar kesatria.

 

Ampuni kami, Rabbana…

Kami memang penuh dosa.

Tapi setidaknya:

Berikan kami satu kesempatan lagi:

menikmati Rahmat kemerdekaanMu

di gugusan negeriku yang bernama indah:

Indonesia.

 

Hamba faqir tak terkira,

Muhammad Ihsan Zainuddin

 

 

 

Shalat Tarwih Bersama Imam Hingga Selesai

Selain puasa, amalan yang sangat dianjurkan pada bulan Ramadhan adalah melaksanakan qiyam ramadhan yang dikenal pula dengan sebutan  Shalat Tarwih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa Qiyam Ramadhan ini hukumnya sunnah,sebagaimana dalam sabdanya;

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ عَلَيْكُمْ ، وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ ، فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا ، خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “

Sesungguhnya Allah Tabaraka wa ta’ala mewajikbkan kepada kalian puasa Ramadhan dan aku mensunahkan kepada kalian qiyamnya (shalat tarwih), maka barang siapa yang berpuasa dan melakukan shalat tarwih karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka ia keluar dari bulan Ramadhan tanpa dosa sebagaimana ketia ia dilahirkan oleh ibunya”. (HR. Nasai).

Shalat tarwih dianjurkan dilaksanakan secara berjama’ah, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dihidupkan kembali oleh Amirul Mu’minin Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu.

Ketika mengikuti shalat Tarwih hendaknya mengikuti shalat berjama’ah sampai imam selesai. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan keutamaan shalat semalam penuh bagi yang shalat malam/tarwih bersama Imam sampai selesai.

 مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. An Nasai no. 1605, Tirmidzi no. 806, Ibnu Majah no. 1327, Ahmad dan Tirmidzi.)

Oleh karena itu hendaknya seseorang melaksnakan shalat tarwih sampai selesai agar mendapatkan keutamaan yang dijanjikan oleh Nabi dalam hadits di atas.

Jika ingin bangun di akhir malam melaksanakan shalat Tahajud, maka tidak masalah. Namun tidak perlu witir, karena Nabi melarang dua witir dalam satu malam. Wallahu a’lam. (sym).[].

===

Sukseskan Program Berkah Ramadhan Bersama LAZIS Wahdah:

Tebar Mukena Nusantara

Bahagiakan dhuafa dengan mukena baru untuk menambah semangat dalam beribadah

(Rp.200.000/paket)

 

Cara Berdonasi

1).Transfer Donasi melalui Bank Syariah Mandiri (BSM) norek: 773 800 8008 a.n. Lazis Wahdah Jakarta Sedekah (Kode Transfer ATM Bersama: 451).

2).Konfirmasi Transfer Donasi melalui WA/SMS ke +628119787900, ketik : BR/Nama/Alamat/Nama Program/Jumlah Donasi beserta photo bukti transferan.

 

💌 LAZIS Wahdah “Melayani dan Memberdayakan”

 

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #posternasihat #nasihat #selfreminder #quotes #muslim #mudahsedekah #ayosedekah #tarbiyah #ramadhan #berkahramadhan #berkah #MarhabanYaRamadhan #ramadhan1440