Kultum Tarawih: Ramadhan Bulan Pengampunan Dosa

 

Ramadhan Bulan Pengampunan Dosa

Bulan Ramadhan disebut pula sebagai bulan taubat dan pengampunan dosa. Ada tiga landasan sehingga bulan Ramadhan disifati sebagai bulan taubat dan ampunan.

Pertama, Pada bulan Ramadhan terdapat beberapa amalan yang secara khusus menghapus dosa dan kesalahan.

Kedua, Pada bulan Ramadhan setiap Muslim berperang melawan setan dan hawa nafsunya yang selalu mengajak kepada keburukan.

Ketiga, Pada bulan Ramadhan setiap Muslim merasakan kemudahan melakukan perbuatan baik.

Ramadhan Menghapuskan Kesalahan

Salah satu makna Ramadhan adalah membakar. Yakni membakar kesalahan dan dosa dengan amal shaleh.

Imam Qurthubi berkata;

((إنما سُمِّي رمضان لأنه يرمض الذنوب , أي يحرقها بالأعمال الصالحة))

Dinamakan Ramadhan karena dia membakar dosa-dosa, yakni membakar dosa-dosa dengan amal-amal shaleh

Inilah kekhususan bulan Ramadhan. Puasa, Shalat Tarawih, dan Lailatul Qadr yang hanya terdapat pada bulan Ramadhan merupakan penghapus dosa dan kesalahan.

Rasulullahn shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang keutamaan puasa Ramadhan;

 (من صام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه)

Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Keutaamaan yang sama juga dijanjikan kepada mereka yang melaksanakan shalat Tarawih dan menghidupkan malam Lailatul Qadr.

Keutamaan ini berlaku selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

 (الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان لرمضان مكفرات ما بينهن ما اجتنبت الكبائر)

“Antara shalat lima waktu, Jum’at dengan Jum’at, dan Ramadhan dengan Ramadhan menghapuskan dosa diantaranya selama dosa-dosa besar dijauhi”.

Pengampunan dosa akan lebih sempurna jika bulan Ramadhan jika bulan Ramadhan juga dimanfaatkan untuk bertaubat dan memperbanyak istighfar.

Setan Dibelenggu Pada Bulan Ramadhan

Pada bulan Ramadhan setan dibelenggu. Sehingga mereka tidak leluasa mengganggu dan menggoda manuisa berbuat dosa dan maksiat. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

” إذا دخل شهر رمضان فتحت أبواب الجنة، وغُلقت أبواب جهنم، وسلسلت الشياطين (متفق عليه).

Jika masuk bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka Jahannam ditutup, dan setan-setan dibelenggu”. (Muttafaq ‘alaihi).

Dalam hadits lain beliau bersabda;

” أتاكم شهر رمضان، شهر مبارك، فرض الله عليكم صيامه، تفتح فيه أبواب الجنة، وتغلق فيه أبواب الجحيم، و تُغلُّ فيه مردة الشياطين، و فيه ليلة هي خير من ألف شهر، من حرم خيرها فقد حرم “

Bulan Ramadhan telah mendatangi kalian,  bulan yang penuh berkah.  Pada bulan ini Allah mewajibkan kepada kalian berpuasa.  Pada bulan ini pula pintu-pintu surga dibuka,  pintu-pintu neraka ditutup, dan para dedengkot setan dibelenggu.  Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan,  siapa yang terhalangi dari kebaikan malam tersebut maka ia telah terhalangi (dari kebaikan yang banyak).  (HR. Nasai).

Dalam riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah disebutkan;

” إذا كان أول ليلة من شهر رمضان صفدت الشياطين ومردة الجن ، وغلقت أبواب النار فلم يفتح منها باب ، وفتحت أبواب الجنة فلم يغلق منها باب ، وينادى مناد كل ليلة : يا باغي الخير أقبل ويا باغي الشر أقصر ، ولله عتقاء من النار وذلك كل ليلة “

Jika malam pertama bulan Ramadhan telah masuk maka para dedengkot setan dan jin dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pintupun yang dibuka,  pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pintu pun yang ditutup,  dan setiap malam ada seruan yang memanggil,  wahai para pencari kebaikan bergegaslah,  wahai para pencari keburukan tahanlah diri kalian,  dan setiap malam ada yang dibebaskan dari neraka oleh Allah“. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

Maka Ramadhan adalah kesempatan bagi para pendosa (termasuk saya dan anda) untuk bergegas melakukan kebaikan dan meninggalkan perbuatan buruk.

Jika pada bulan Ramadhan setan dibelenggu, lalu mengapa masih ada yang berbuat dosa dan maksiat pada bulan Ramadhan?

Ini pertanyaan penting, namun yang lebih penting adalah jawaban dari pertanyaan ini.

Orang yang berakal tentu tidak dapat memungkiri, pada bulan Ramadhan manusia berbondong-bondong melakukan kebaikan. Kesadaran berbuat baik dan beribadah meningkat. Serta semangat meninggalkan keburukan juga meningkat. Masjid-masjid lebih ramai dari biasanya. Jama’ah shalat juga bertambah. Ini adalah bukti, banyak yang kembali ke jalan yang benar dan lurus. Banyak yang berpaling dari keburukan. Inilah salah satu makna dan bukti diikatabnya setan, dimana mereka tidak leluasa mengganggu dan menggoda manusia untuk berbuat buruk.

Makna lain dari “setan-setan diikat” adalah, mereka tidak leluasa mengganggu dan menggoda manusia untuk berbuat jahat seperti pada bulan-bulan lain di luar Ramadhan. Kekuatan mereka melemah, was-was dan gangguan mereka berkurang. Tetapi hal ini tidak berlaku umum. Artinya masih ada sebagian kalangan yang tidak luput dari gangguan dan godaan setan.

Boleh jadi yang dimaksud adalah, yang diikat adalah dedengkot setan dan kepalanya. Sedangkan yang kecil-kecil dibiarkan atau sebaliknya.

Maksud lain dari “setan-setan diikat” adalah, puasa menyebabkan seseorang merasakan lapar dan lemah secara fisik. Sehingga hal ini memperlemah ruang gerak setan yang berjalan melalui aliran darah dalam tubuh manusia. Sehingga secara otomatis mereka tidak leluasa mengganggu dan menggoda manusia untuk berbuat buruk, sebagaimana mereka dapat menggoda manuisa disaat tidak puasa atau di luar Ramadhan.

Bisa juga yang dimaksud adalah makna secara hakiki. Yakni secara fisik setan diikat, dirantai, dan dibelenggu. Sehingga mereka tidak dapat menggoda orang-orang yang berpuasa. Adapun perbuatan dosa terjadi karena pengaruh hawa nafsu yang secara tabiat selalu mengajak kepada perbuatan buruk (ammarah bis suu).

Ibnu Abdil Barr berkata;

“Adapun sabda Nabi, “setan-setan dibelenggu”, maka maknanya menurut saya adalah, Allah menjaga orang-orang beriman atau mayoritas orang beriman dari perbuatan maksiat, sehingga setan tidak mampu mengganggu mereka seperti pada bulan-bulan lain”.

Kemudahan Berbuat Baik Pada Bulan Ramadhan

Pada bulan Ramadhan  setiap orang merasakan kemudahan dalam berbuat baik. Masing-masing merasakan bulan Ramadhan sebagai memontum yang kondusif melakukan amal shaleh. Hal ini didukung oleh beberapa faktor, diantaranya;

  1. Do’a Malaikat

Malaikat mendoakan orang-orang berpuasa, sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang orang-orang yang banyak berpuasa (shawwam);

وتستغفر لهم الملائكة حتى يفطروا رواه الإمام أحمد عن أبي هريرة

“Dan para Malaikat memohonkan ampun untuk mereka”. (HR. Ahmad).

Para Malaikat adalah makhluq Allah yang suci dan dekat dengan Allah. Do’a dan istighfar mereka berpeluang besar diterima oleh Allah Ta’ala.

Sementara manusia banyak berbuat salah dan dosa. Karena itu sangat butuh kepada ampunan Allah. Maka do’a dan permohonan ampun Malaikat merupakan sesuatu yang sangat penting bagi manusia.

  1. Ramadhan Musim Ibadah Kolektif

Bulan Ramadhan merupakan musim ibadah secara jama’i, kolektif, dan kolosal. Kebanyakan manusia bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadah dan amal shaleh. Hal itu tentu menarik minat dan semangat untuk makin giat dan bersemangat beramal shaleh.

Ramadhan datang membawa kunci-kunci ampuna. Siapa yang menerimanya dan kembali kepada Allah, maka dia mendapat ampunan-Nya. Siapa yang menolak dan tidak menerima kunci tersebut maka ia terhalangi dari ampunan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 (رغِم أنف من أدركه رمضان ولم يغفر له)

Celakalah orang yang mendapatkan bulan Ramadhan namun tidak diampuni dosanya”.

Ini adalah do’a nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk orang yang menyia-nyiakan peluang Ramadhan. Semoga menjadi bahan renungan bagi pembaca. Sebab di bulan ini berbagai kemudahan dan peluang berbuat baik dan meraih ampunan Allah terbuka lebar. []