Lazis Wahdah Buka Puasa Bersama dengan Warga Ponpes El Madina Gorontalo

 

Lazis Wahdah Gelar Buka Puasa Bersama dengan Warga Ponpes El Madina Gorontalo

(Gorontalo) Wahdahjakarta.com— Berkah Ifthor (buka puasa) LAZIS Wahdah turut dirasakan oleh warga Ponpes El Madina Gorontalo. Pada hari ke 12 Ramadhan, ratusan paket ifthor disajikan di Masjid Islamic Center Al Faruq Gorontalo.

Ime Hadi Sabrun, koordinator kegiatan mengungkapkan rasa bahagianya karena telah berkesempatan menjembatani para donatur untuk meraih keberkahan Ramadhan. Menurutnya, tak hanya sebagai sarana beramal, akan tetapi ifthor bersama kali ini bisa menjadi bagian upaya merajut ukhuwah di antara sesama.

“Alhamdulillah, ifthor bersama berlangsung dengan baik. Kita masih membuka kesempatan kepada masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan Kami,” ujarnya, Sabtu (18/5/2019).

Tampak Warga duduk dengan rapi sembari menunggu hidangan yang tersaji. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari program Berkah Ramadhan LAZIS Wahdah yang rutin dilaksanakan setiap Ramadhan. Tak hanya ifthor, LAZIS Wahdah juga mempunyai beberapa item kegiatan Ramadhan yakni Tebar Sembako Nusantara, Tebar Mukenah Nusantara, Kado Lebaran Yatim, Bingkisan Lebaran Dai, dan lain sebagainya.

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #sahabatdermawan #mudahsedekah #ayosedekah #tarbiyah #ramadhan #berkahramadhan #berkah #tebariftharnusantara #ramadhan1440

Kultum Tarawih: Ramadhan Bulan Do’a

 وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku maka sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan do’a orang yang berdo’a jika dia berdo’a kepadaKu”. (Qs. Al-Baqarah:186).

 

Pelajaran Ayat:

  1. Ayat ini terletak dalam rangkaian ayat-ayat tentang puasa. Ayat sebelumnya (183-185) mengabarkan tentang kewajiban puasa Ramadhan dan tujuan puasa, serta udzur bagi yang tidak mampu berpuasa. Lalu ayat ini. Kemudian ayat setelahnya kembali berbicara tentang puasa.

Secara redaksional ayat ini tidak memuat kata dan kalimat tentang puasa atau fiqh Ramadhan. Hal ini mengisyaratkan bahwa bulan Ramadhan atau saat puasa merupakan waktu terkabulnya do’a. Bulan Ramadhan  sebagai bulan do’a.

Ibnu ‘Asyur berkata; “Dalam ayat ini terdapat isyarat, orang yang berpuasa memiliki harapan lebih besar dikabulkan do’anya, bulan Ramadhan merupakan waktu terkablnya do’a serta disyariatkannya berdo’a setiap mengakhiri hari di bulan Ramadhan”. (At-Tahrir Wat Tanwir).

Ini sejalan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

ثلاثة لا ترد دعوتهم : الإمام العادل، والصائم حتى يفطر، ودعوة المظلوم

Ada tiga yang tidak tertolak do’anya; Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan do’a orang yang terdzalimi”. (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban).

Di hadits lain Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

للصائم دعوة لا ترد عند فطره

“Bagi orang yang berpuasa ada do’a yang tidak tertolak (yang dipanjatkan) saat dia berbuka puasa”.

“Orang yang berpuasa hingga ia berbuka”, dan “bagi orang yang berpuasa . . . “, berlaku umum, dan tidak khusus di bulan Ramadhan saja. Dan tentu saja di bulan Ramadhan hal itu lebih utama. Karena kemuliaa dan keberkahan waktu Ramadhan.

  1. Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat dengan redaksi yasalunaka (mereka bertanya kepadamu). Semua kata “pertanyaan tersebut” disusul dengan “Qul=Katakanlah” atau “Faqul=Maka katakanlah”. Kecuali ayat ini, tanpa qul (katakanlah) atau faqul (maka katakanlah). Melainkan langsung “fainniy qarib= Sesungguhnya aku dekat“.

Hal ini menunjukan kedekatan Allah dengan hambaNya yang berdo’a. Seolah kata “Qul (katakanlah) menghalangi kedekatan tersebut. Ini sejalan dengan Sabab Nuzul (sebab turunnya ayat ini), yakni ketika Nabi ditanya tentang Allah;

Apakah Tuhan kami itu dekat sehingga kami membisikiNya ataukah Dia jauh sehingga kami harus memanggilNya?”

Allah jawab dengan menurunkan ayat ini.

  1. Firman Allah;

فَإِنِّي قَرِيبٌ

“Sesungguhnya Aku dekat“.

Menunjukan dekatnya Allah dengan hambaNya dan secara khusus dengan hamba yang berdo’a.

Syekh Asy-Syinqithi berkata: “Dalam ayat ini Allah menyebutkan, Dia dekat dan mengabulkan do’a orang yang berdo’a. Sementara di ayat lain pengabulan do’a dikaitkan dengan kehendakNya. Seperti pada firman Allah dalam Surah Al-An’am ayat 41.

Sebagian Ulama berkata, Pengabulan do’a yang dikaitkan dengan kehendak Allah adalah do’a orang beriman, sebagaimana ditunjukan oleh konteks ayat. Sedangkan janji pengabulan secara mutlak adalah untuk do’a orang beriman. Oleh karena itu do’a mereka tidak tertolak. Entah mereka diberikan apa yang mereka minta, atau disimpan sebagai simpanan pahala, atau dihindarkan dari mereka suatu bala bencana atas taqdir Allah“. (Adhwaul Bayan, 1/74).

Maksudnya adalah orang kafir atau musyrikin jika mereka berdo’a maka doa’a mereka kemungkinan dikabulkan oleh Allah dan kemungkinan tidak. Tergantung kehendak Allah. Adapun orang beriman, jika mereka berdo’a, maka do’a mereka dikabulkan oleh Allah selama tidak ada penghalang do’a yang mereka lakukan.

  1. Firman Allah

Aku mengabulkan do’a orang-orang yang berdo’a jika dia berdo’a kepadaKu”

Isyarat yang sangat nyata, syarat dikabulkannya do’a adalah kehadiran hati. Seorang yang berdo’a hendaknya berdo’a disertai hati yang hadir dan tidak lalai. Yakin dengan do’anya  disertai keikhlasan dan ketulusan serta rasa butuh kepada Allah dan pengagungan kepada Allah.

Jika ada yang bertanya, “kapan do’a seseorang dikabulkan?’’ maka jawabannya adalah saat orang itu berdo’a. “jika dia berdo’a kepadaku’’. Artinya do’a seseorang dikabulkan oleh Allah saat dia berdo’a.

 

Puasa Adalah Perisai dari Neraka

 

Ash-Shiyamu junnat[un], Puasa adalah perisai. Begitu kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa haditsnya.

Perisai dari apa?

Di dunia puasa menjadi perisai dari syahwat dan maksiat serta hawa nafsu. Sedangkan di akhirat puasa menjadi perisai dari neraka dan adzab Allah.

Imam Ahmad dan Nasai meriwayatkan dari Utsman bin Abil ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“الصوم جُنَّة من عذاب الله”. (صحيح الجامع: 3867).

“Puasa itu perisai dari adzab Allah”. (Shahih al-Jami’, 3867).

Dalam riwayat lain berbunyi;

“الصيام جُنَّة من النار كجُنَّة أحدكم من القتال”.

“Puasa itu perisai seperti perisai salah seorang diantara kalian pada saat perang”. (HR. Ahmad dan Nasai)”.

Dalam riwayat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 “الصيام جُنَّة يستجن بها العبد من النار” (صحيح الجامع: 3868).

“Puasa itu perisai, dengannya seorang hamba berlindung dari api neraka” (HR. Ahmad, Shahih al-Jami’ 3868).

Sementara dalam riwayat Abu Huraitag berbunyi;

“الصيام جُنَّة وحصن حصين من النار” (صحيح الجامع: 3880)

 

 “Puasa itu benteng yang membentengi dari api neraka”. (HR. Ahmad, Shahih al-Jami’, 3880).

Ibnu Hibban meriwayatkan dengan sanad shahih,  dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya.

يا كعب بن عُجْرةَ: الصلاةُ قربان، والصوم جُنَّة، والصدقة تطفئُ الخطيئة كما يذهبُ الجليدُ على الصفا”.

“Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah; Shalat itu pendekatan diri kepada Allah, puasa itu perisai, dan sedekah itu menghapuskan kesalahgan sebagaimana

Al-Munawiy berkata dalam Faidhul Qadir;

“Puasa adalah pelindung di dunia dari maksiat dengan menghancurkan syahwat dan menjaga anggota badan sedang di akhirat melindungi dari neraka”.

Beliau juga berkata;

“Puasa dalah perisai dari adzab Allah sehingga ia tidak disentuh oleh api neraka sebagaimana api neraka tidak dapat menyentuh anggota badan yang termasuk anggota wudhu, karena puasa melibatkan seluruh anggota tubuh, sehingga dengan rahmat Allah puasa menjadi perisai dari neraka”.

Oleh karena itu Ibnu Abdil Barr berkata; “Cukuplah hal ini sebagai bukti keutamaan bagi orang yang berpuasa”.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihin wa sallam, beliau bersabda;

“مَن صام يومًا في سبيل الله بَعَّد الله وجهه عن النار سبعين خريفًا”.

“Siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh 700 tahun”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat Nasai dari Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu dengan lafal;

“مَن صام يومًا في سبيل الله، باعد الله منه جهنم مسيره مائة عام”

“Siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh perjalanan seratus tahun”.

Imam Qurthubi berkata; “Makna di jalan Allah adalah ketaatan kepada Allah. Jadi maksudnya adalah siapa yang berpuasa dengan maksud mengharap wajah Allah”.

Al-Munawi rahimahullah berkata; “Di jalan Allah, maksudnya karena Allah (Lillah) dan karena mengharap wajah Allah, atau dalam perang atau perjalanan haji”.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallalhu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“مَن صام يومًا في سبيل الله جعل الله بينه وبين النار خندقًا كما بين السماء والأرض”

“Siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, Allah letakkan parit antara dirinya dengan api neraka sejauh jarak antara langit dan bumi”.

Jika hal ini berlaku untuk puasa sunnah satu hari Allah menjauhkannya dari neraka dengan parit sejauh perjalanan 500 tahun, maka bagaimana dengan puasa Ramadhan yang merupakan puasa fardhu (wajib)? []

Penulis             : Syekh Abu Ahmad

Penerjemah    : Abu Muhammad

Artikel             : https://www.alukah.net/