Pulanglah Nak, Tengoklah Ibu Bapakmu

Pulanglah Nak

 

Rumah memang zona ternyaman yang pernah ada. Bersama orang yang sangat kita sayangi dan kita cintai. Tapi, apakah kamu tetap selamanya berada di zona nyaman tersebut? Tentu tidak. Adakalanya kamu akan pergi. Menyusuri jejak langkah bumi

 

Terkadang, kita harus merelakan sebagian dari kebahagiaan yang kita miliki, kebersamaan yang selalu menghangatkan suasana hati. Dan pada akhirnya, kita harus meninggalkan orang-orang yang kita sayangi

 

Banyak diantara kita yang harus merantau demi mengejar sebuah cita-cita, menimba ilmu di kampus yang jauh, atau bahkan merantau untuk mengubah kondisi ekonomi keluarga dan harus bertahan hidup di negara lain. Sungguh perjuangan, bukan?

 

Jarak yang jauh. Melukis rindu yang menggemuruh. Apa kabar anak rantau? Bagaimana keadaan hatimu? Tidakkah kau rindu pada kedua orangtuamu?

 

Bayangkan kawan

Wajah tirus ibundamu mengalirkan air mata diantara dua belah pipinya

Sebab kerinduan pada anak semata wayangnya

 

Tidakkah kau berpikir. Betapa tersiksanya keduanya sebab kerinduan kepadamu? Kawan, janganlah kau siksa mereka dengan ketidakberadaanmu disisinya. Minimal ada kabar, sedetik, hingga sejaman

Pulanglah nak, tengoklah ibu bapakmu. Karena mereka adalah sebab engkau ada hingga sekarang. Uang yang kau kejar lebih murah dan hina bila dibandingkan bagaimana keduanya telah berjuang membesarkanmu

Saat gema takbir berkumandang dilorong langit. Lafalkan kata bakti untuk keduanya. Cium kening dan mulut harum mereka. Doakan surga agar selalu membersamai keduanya

 

Ayah

Bunda

Ana uhubbukum fillah

 

 

Artikel: Fan Page Apotek Wahdah 

Zakat Tabungan, Bagaimana Perhitungannya?

Zakat tabungan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah tabungan uaang yang telah mencapai setahun.

Apabila anda memiliki tabungan uang yang telah berlangsung setahun, maka berdasarkan berbagai pendapat ulama dapat disimpulkan bahwa patokan nishab zakat uang boleh dipilih antara nishab emas atau nishab perak.

Hanya saja dalam masyarakat kita, bahkan masyarakat Islam secara umum, orang-orang atau lembaga zakat lebih memilih ukuran nishab emas dari pada perak dengan pertimbangan memberikan keringanan pada mereka yang berada pada golongan menengah. Hanya saja bila ada orang yang menghitung hartanya dan mengeluarkan zakat dengan patokan nishab zakat perak, maka boleh-boleh saja .

Bila nilainya berupa uang maka harus mengacu pada salah satunya, bila seseorang menjadikan standar nishab zakatnya pada emas maka jumlah nishab harta zakat tersebut adalah;

85 gram emas x harga 1 gram emas (misalnya: Rp 500,000,-) = Rp 42,500,000,-. (Empat Puluh Dua Juta Lima Ratus Ribu Rupiah).

 

Adapun bila menjadikan standar nishab zakatnya pada perak, maka jumlah harta tersebut adalah:

595 gram perak x harga 1 gram perak (misalnya: Rp 11,000,-) = Rp 6,545,000,-. (Enam Juta Lima Ratus Empat Puluh Lima Ribu Rupiah).

Adapun kadar atau miqdar pembayaran zakatnya maka 2,5 % dari total jumlah harta, sesuai hadis: “Pada emas-perak, maka zakatnya adalah seperempat puluh (2,5 %)“. (HR Bukhari: 1454).

 

Misalnya jumlah hartanya Rp 100 juta, maka dikeluarkan 2,5 % dari Rp 100 juta tersebut yaitu sekitar Rp 2,5 juta.

 

💡 Ingin Hitung Zakat Anda? Silahkan hubungi Call Center LAZIS Wahdah 085315900900

💰 Hidup Berkah dengan Zakat. Salurkan Zakat Anda melalui

BSM : 496 900 900 8

Bank Muamalat : 801 004 8366

BNI Syariah : 400 123 4008

BRI Syariah : 100 660 4206

a.n. LAZIS Wahdah Zakat

 

📲 Bayar Zakat Online klik

https://sedekahplus.com/zakat

 

💌 LAZIS Wahdah “Melayani dan Memberdayakan”

Kultum Tarawih: Tebarkan Kebaikan

 

Kultum Tarawih: Tebarkan Kebaikan

أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشوا السَّلامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وصِلُوا الأرحام، وَصَلُّوا باللَّيْل وَالنَّاسُ نِيامٌ، تَدخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلامٍ

“Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam di antara kalian, berilah makan sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Tebarkan Salam

Menebarkan salam merupakan salah satu sarana menumbuhkan keakraban dan kasih sayang kepada sesama. Menebarkan salam maksudnya menjadikannya sebagai sapaan pembuka ketika berjumpa atau mendatangi suatu majelis atau masuk rumah.

Dalam hadits lain Rasul mengingatkan,

“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai, maukah kalian aku beritahukan suatu amalan yang jika kalian lakukan maka kalian saling mencintai? “Tentu wahai Rasululla”, kata para sahabat, “Tebarkan salam diantara kalian”.

Inilah sebabnya mengapa menebarkan salam menjadi sebab masuk surga. Karena ia dapat menumbuhkan kasih sayang dan saling mencintai diantara sesama. Sementara saling mencintai merupakan ciri dan sifat orang beriman. Dan keimana merupakan syarat utama masuk surga.

Oleh karena itu Seorang Muslim hendaknya proaktif mengucapkan salam kepada sesama. Karena ia merupakan ajaran Islam yang utama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Islam apa yang paling terbaik?”

تُطعم الطعام، وتَقرأ السلام على مَن عرَفت ومَن لم تَعرِف

Kamu memberi makan, dan menyampaikan salam kepada yang kamu kenal dan kepada yang kamu tidak kenal”. (HR. Bukhari).

Beri Makan!

Memberi makan merupakan salah satu ajaran Islam yang mulia sebagaimana dalam hadits Bukhari di atas.

Seperti halnya menebarkan salam, memberi makan juga merupakan salah faktor menumbuhkan ukhuwah dan kasih sayang kepada sesama.

Selain itu memberi makan juga merupakan sifat hamba-hamba Allah yang terbaik. Allah Ta’ala berfirman;

﴿ وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا  ﴾ [الإنسان: 8  ].

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.

Memberi makan merupakan amalan yang dapat mengantarkan ke surga. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits lain, diantaranya;

Rasulullah pernah ditanya oleh salah seorang sahabat  tentang amalan yang memasukan ke surga. Rasul menjawab;

(عليك بحُسن الكلام وبذل الطعام)؛ رواه الطبراني

 “Hendaknya kamu bertutur kata yang baik dan memberi makan”. (HR. Thabrani).

Oleh karena itu kebanyakan sahabat Nabi, tabi’in, dan orang-orang shaleh terdahulu (salafus Shaleh) sangat antusias untuk selalu memberi makan. Merekea gemar bersedekah makanan, meskipun hanya berupa sepotong roti, atau sebuti bawang, walaupun hanya sedikit. Sebab mereka mengetahui satu hadits Nabi, “Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya pada hari kiamat”.

 

Antara Menebar Salam dan Memberi Makan

Imam Al-Khathabi berkata;

“Nabi  menjadikan memberi makan sebagai amalan badan yang paling afdhal berupa pebuatan, kemudian menebar salam sebagai amalan yang paling afdhal berupa perkataan”.

Sambung Silaturrahim

Menyambubung silaturrahim maksudnya menyambung hubungan dengan semua orang memiliki ikatan kekerabatan baik dari jalur ayah maupun ibu. Menyambung silaturrahim termasuk salah satu perkara yang sangat ditekankan oleh Al-Qur’an. Bahkan dalam Islam memutuskan silaturrahim termasuk salah satu perbuatan dosa yang tercela.

﴿ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ﴾ [النساء: 1]،

Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. (Qs. An-Nisa:1)

 

Muslim Tak Kenal Putus Asa

Oleh Muhammad Ihsan Zainuddin

Jika hatimu penuh sesak

menatap kondisi negerimu yang berderak,

Bila jiwamu galau tak terkira

saksikan kezhaliman merata-rata,

Jika asa dan harapan seolah tak lagi

mengambil ruang jejak dalam diri ini…

 

Maka ingatlah

suatu waktu dahulu pernah terjadi:

seorang bocah muslim kecil

dirampas dari ayah-ibunya oleh Pasukan Mongol yang keji.

 

Hingga akhirnya,

bocah kecil itu terjual sebagai budak di Damaskus.

Tapi Allah takdirkan pertemuan indahnya

bersama seorang Tuan penduduk Damaskus…

Tuan itu membelinya.

Tuan itu mengajarinya Bahasa Arab.

Tuan itu mengajarinya al-Qur’an.

Tuan itu mengejakan al-Sunnah padanya.

 

Kisahnya panjang yang terjadi…

Hingga bocah kecil itu di kemudian hari,

menjadi Raja penguasa Mesir di zamannya!

Bukalah kitab sejarahmu,

di sana engkau akan temukan namanya:

Saifuddin Quthz…

 


 

Pada tahun 658 Hijriyah,

dalam kesyahduan Ramadhan seperti hari ini,

pada hari ke 25 bulan penuh suci ini:

Saifuddin Quthz memimpin kemenangan kaum muslimin

di Pertempuran ‘Ain Jalut…

Pertempuran yang meruntuhkan kejayaan Mongolia

setelah kekuasaan keji nan kejam itu

menebar kezhaliman dan kebengisan

di seantero wilayah dimana kaum muslimin

bersujud kepada Allah!

 


 

Maka Sang Muslim tak kenal putus asa!

 

Meski tangan-tangan khianat penerus Mongolia itu

sedang menata siasat keji penuh makar di negerimu:

jangan pernah putus asa!

Karena mungkin:

Allah sedang menyiapkan engkau untuk menjadi:

Saifuddin Quthz di abad milenial!

 

Akhukum,

Muhammad Ihsan Zainuddin