Ramadhan, Sampai Jumpa Lagi

 

Ramadhan sudah hampir finish
Harusnya kita menangis

Ketika Ramadhan berpisah tentu orang yang beriman akan merasa sangat kehilangan. Mereka kehilangan rasa bahagia yang tidak tergantikan ketika melakukan berbagai ibadah dan amal kebaikan selama bulan Ramadhan

Tidak sedikit dari para ulama dan orang shalih yang mengungkapkan kesedihan dan tangisan karena perpisahan dengan Ramadhan

Ibnu Rajab Al Hambali berkata,

“Bagaimana bisa seorang mukmin tidak menetes air mata ketika berpisah dengan Ramadhan, sedangkan ia tidak tahu apakah masih ada sisa umurnya untuk berjumpa lagi.” (Lathaif al-Ma’arif hal. 216)

Hati orang-orang yang bertakwa mencintai bulan ini, dan bersedih karena pedihnya berpisah dengannya Wahai bulan Ramadhan, mendekatlah, berderai air mata para pecintamu, terpecah hati mereka karena perihnya berpisah denganmu

Rasa sedih akan ditinggalkan bulan Ramadhan, kita tidak akan pernah tahu, apakah kita akan diberikan kesempatan di tahun depan untuk merasakan indahnya bulan ramadhan. Karenanya detik-detik ramadhan ini akan meninggalkan kita, maka jangan sampai kita menyia-nyiakan

Pecut semangat. Tengadahkan kedua tangan. Harapkan Ramadhan kembali jumpa. Sesali dari sekarang, jika terlalai selama ini. Berbahagialah kalian yang benar-benar memanfaatkan Ramadhan dengan ibadah-ibadah. Semoga Allah merahmati dan senantiasa menerima segala amal kebajikan kita selama ini.

Artikel: Apotek Wahdah 

Sebelum Berpisah dengan Ramadhan, Renungkan Lima Ayat Ini

Sebelum Berpisah dengan Ramadhan, Renungkan Lima Ayat Ini

Oleh: Dr. Muhammad Yusran Anshar, Lc., MA

 

Pertama, Nikmat Ber-Ramadhan Semua datangnya dari Allah, Perbanyak Puji Kepada-Nya

Surah An Nahl ayat 53

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…

Ayat ini mengajak kita untuk senantiasa merenungi dan menyadari sekian banyak nikmat yg telah Allah berikan, diantaranya nikmat ber-Ramadhan

Jangan kita sangka mendapatkan kesempatan Ramadhan tahun ini, dan sebagian keluarga, sebagian tetangga kita tidak mampu ber-Ramadhan, jangan kita sangka itu karena kita lebih mulia dari mereka…

Jangan kita sangka kita mampu laksanakan hari-hari Ramadhan dengan sebaik-baiknya

Mungkin kita sudah berkali-kali khatam al Quran…

Mungkin sudah Rutin tarawih setiap malamnya bahkan mungkin kita memanfaat 10 hari terakhir Ramadhan dengan itikaf dan berbagai macam ibadah lainnya, mengejar lailatul qadr dan seterusnya…

Jangan sampai muncul pada perasaan kita, itu disebabkan kehebatan kita, disebabkan kemampuan kita, disebabkan kelebihan yg kita miliki….

lalu kita lupa akan nikmat Allah Subhaanahu Wata’ala

Allah ingatkan model orang-orang yang tidak tahu berterima kasih pada Allah

Dalam Surah al Qashas ayat 78 tentang seorang yang kaya raya, seorang yang jadi simbol kekayaan di zaman Firaun dan boleh jadi sepanjang zaman, yang dikenal dengan nama Qarun

Ketika orang-orang yang tertarik dengan dunia dan tidak paham akan akhirat…

Begitu terkagum-kagum sama seorang Qarun, bertanya apa kiatnya,apa resepnya sampai bisa kaya raya?

Qarun berkata: “Saya miliki kekayaan yang begitu banyak, disebabkan ilmu yang saya miliki”. Dia lupa bahwa Allah lah yang berikan nikmat kekayaan kepada dia

Dalam Al Quran Surah Azzumar ayat 49:

“Jika seorang manusia ditimpa mudharat, kesusahan, musibah kemudian dia berdoa kepada kami. Ketika kami merubah, beri kesembuhan, beri nikmat, hilangnya musibah tersebut, dia mengatakan saya bisa keluar dari musibah bencana dan kesusahan disebabkan karena ilmu saya”

Kata Allah inilah musibah yang sesungguhnya, ketika kita tidak menyadari kelemahan kita dan ketika kita tidak menyadari semua yang kita dapatkan semua semata-mata nikmat yang datang dari Allah.

Dia lupa bahwa dulu dia ketika dapat musibah dia berdoa dengan bersungguh-sungguh kepada Allah, tapi ketika hilang musibah, lupa bersyukur

Adapun orang-orang beriman dalam setiap kebaikan-kebaikan yang didapatkannya, baik yang sifatnya materi dunia apalagi yang sifatnya ukhrawi, ketika dimudahkan untuk lakukan ketaatan-ketaatan, dia akan selalu ingat nikmat-nikmat Allah.

Allah sebutkan dalam surah Al A’raf ayat 43 tentang para penduduk surga ketika mereka sudah masuk surga

َ ۖوَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ …

…. dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk….

Itu pengakuan yang tulus dari orang- orang yang telah diberi kenikmatan berupa surga

Dalam hadis riwayat Imam Muslim Hadis Qudsi, Allah ingatkan:

“wahai hamba-hamba ku itulah amalan-amalan kalian yang saya akan hitung-hitung semua dan yang saya akan sempurnakan pahala-pahala nya untuk kalian sesuai dengan apa yang telah kalian lakukan”

Siapa yang mendapatkan kemudahan berbuat kebaikan, jangan tepuk dada jangan bangga diri, ingatlah itu semua nikmat dari Allah…

Namun jika termasuk tidak beruntung, tidak mendapatkan kebaikan, jangan dia cela, kecuali pada dirinya sendiri…

Oleh karena itu, Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagaimana diriwayatkan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dan disebutkan Ibnu Majah dalam sunannya,

Jika dapat kebaikan dia tidak lupa katakan

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

“Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat” yang artinya segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan-Nya menjadi sempurna segala amal sholih

 

Di akhir-akhir Ramadhan ini mari kita perbanyak pujian-pujian kepada Allah atas nikmat kemudahan bisa dapatkan Ramadhan tahun ini dan bisa insya Allah bisa kita akhiri Ramadhan…

Kedua, Jangan bangga terhadap Kebaikan yang telah dilakukan, iringi rasa cemas,takut dan penuh Harap Allah Menerima Amalan

Surah Al Maidah ayat 27:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Dialog antara 2 bersaudara, kedua anak Adam Alaihissalam telah memberikan persembahan kepada Allah Subhaanahu Wata’ala. Satunya diterima persembahannnya dan satunya ditolak

Yang ditolak merasa sedih dan protes, maka diberikan informasi, diajari bahwa Allah cuma menerima pahala kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang bertaqwa

Tidak semua kebaikan diterima pahalanya Allah. Ada yang sudah capek-capek tidak dapatkan apa-apa sesuai yang diinginkan, karena Allah hanya menerima yang datang dari yang bertaqwa

Siapa yang dikatakan bertaqwa? Allah katakan, jangan kalian merasa sok suci, sok bersih, sok baik, karena Allah yang paling mengetahui orang-orang yang bertaqwa

Jika demikian maka tidak ada alasan bagi kita untuk mengklaim dan memastikan bahwa semua kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan sepanjang Ramadhan ini dan bahkan sepanjang umur kita, telah diterima di sisi Allah Subhaanahu Wata’ala

Oleh karenanya, apa yang telah kita selesaikan kebaikan, mari kita banyak berharap pada Allah Subhaanahu Wata’ala, tidak bangga diri, mari diliputi rasa kecemasan dan rasa ketakutan, jangan-jangan kita sudah capek-capek beramal tapi tidak diterima oleh Allah

Orang-orang yang beriman, orang yang banyak lakukan kebaikan adalah orang ketika justru banyak buat kebaikan mereka tambah rasa takut pada Allah…

Dalam Al Quran Surat Al Mukminun ayat 60 :

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka…

Mereka-mereka ketika sudah lakukan kebaikan, hati mereka bergetar…

Aisyah Radhiyallaha Anha ketika baca ayat ini, mengatakan kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, wahai Rasulullah, mereka-mereka itu yang sangat takut pada Allah, apakah dulu karena mereka adalah pezina, pembunuh, pencuri, sehingga begitu takut menghadap Allah? kata Nabi, tidak wahai Aisyah

Mereka Sebagaimana Allah katakan, adalah orang yang bersegera dengan melakukan kebaikan, tapi selalu merasa takut ketika berhadapan kepada Allah Subhaanahu Wata’ala…

Mereka tidak pernah klaim sebagai orang-orang suci dan tidak pernah menafikan setiap amalannya diterima oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Maka liatlah Nabi Ibrahim, bapak para Nabi, Ketika telah selesaikan proyek besar pembangunan Kabbah, pusat peribadatan kaum muslimin.

Ketika Setelah selesai proyek raksasa ini…

 

Apa yang beliau katakan? apakah beliau bangga diri, tepuk tangan dan semacamnya…? TIDAK, beliau justru mengatakan, bersama anaknya Ismail Alaihissalam

 

RABBANA TAQABBAL MINNA INNAKA ANTA SAMI’UN ‘ALIM

 

Ya Allah Terimalah persembahan kami ini. karena sesunguhnya Engkau Maha Mendengar dan Mengetahui

Beliau yang Allah telah katakan, Allah telah mempersaksikan setiap perintah yang diperintahkan kepada beliau diselesaikan dengan sempurna. tapi, beliau tidak pernah bangga diri, bahkan beliau minta kepada Allah, ya Allah terima apa yang saya lakukan ini…

Olehnya itu…Ketika kita telah lakukan kebaikan.

Sudah beramal, sudah baca Al Qur’an, sudah tarwih, sudah puasa dan sudah sudah… berbagai macam kebaikan lainnya, jangan tepuk dada, jangan bangga diri, bahkan mari kita mengharap amalan kita supaya bisa diterima di sisiNya

Fudalah bin Ubaid Radhiyallahu Anhu, Seorang sahabat yang dipersaksikan masuk surga, karena ikut Baitur Ridwan,berkata:

“Seandainya saya tahu ada kebaikan yang pernah saya lakukan walaupun sebesar biji sawi telah diterima oleh Allah, maka saya lebih sukai dari dunia dan isinya…”

Beliau sampai tidak yakin ada kebaikannya diterima walau sebesar biji sawi

Kisah yang lain…Para Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika bertemu saat Shalat Ied, apa yang mereka lakukan? Imam Tabrani sebutkan dalam kitab Doa, dalam bab doa shalat Ied

Ketika Wasilah bin Asqa dan Abu Umamah al basir bertemu, mereka saling mengatakan “TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKA”

Ini doa yang paling banyak dikatakan sahabat ketika lebaran,

Semoga Allah menerima dari kami dan dari mu, karena mereka tidak yakin amalannya diterima…

Mereka tidak putus asa tapi mereka tidak pernah memastikan bahwa setiap amalannya pasti diterima oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala

Ketiga, Tutup Kebaikan dengan  dengan Istigfar

Surah Al Muzammil Penghujung ayat 20

ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

….Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat ini berkaitan shalat lail, shalat yang tidak mudah, hanya orang-orang shaleh yang mampu melakukannya, mengorbankan jatah tidurnya untuk menghadap Allah

Orang yang rajin Tahajjud saja suruh banyak-banyak istigfar…

Ternyata semua ibadah yang diajarkan dalam Islam ditutup dengan Istigfar

Ketika kita telah wukuf di arafah, ibadah yang paling mulia waktu haji wukuf di arafah, kita menuju musdalifah, kata Allah: banyak-banyak lah istigfar

Ketika selesai Shalat, shalat ibadah yg mulia ditutup juga dengan kebaikan istigfar

Umar bin Abd.Azis rahimahullah Khalifah pada zamannya ketika mau menutup hari-hari Ramadhan, beliau utus surat ke Gubernur-gubernur nya dan menitip pesan, “tutuplah Ramadhan ini dengan melakukan zakat fitrah dan jangan lupa memperbanyak Istiqfar pada Allah Subhaanahu Wata’ala”

Jika ada yang bertanya, apa yang harus kita katakan menjelang tutup Ramadahan? kita katakan perbanyak ist pada Allah Subhaanahu Wata’ala.

Karena kita sadar, Ramadhan hadiah yang terbaik untuk kita, yang belum kita tunaikan hak-hak nya sebagaimana mestinya. Ramadhan, tamu yang begitu agung, yang belum kita tunaikan hak-haknya sebagaimana mestinya, maka kita perbanyak istigfar kepada Allah Subhaanahu Wata’ala.

 

Keempat, Sempurnakan Kebaikan, Ucapkan Takbir dan Syukur

Surah Al Baqarah ayat 185

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur 

Allah menyiapkan bagaimana kita menutup Ramadhan

Mari kita sempurnakan bilangan bilangan   Ramadhan

Ramadhan bukan cuma tanggal 27 Ramadhan, sebagian orang kalau sudah merasa mendapatkan Lailatul Qadri masjid sudah sepi, tidak ada lagi orang rajin ke masjid dengan klaim bahwa sudah dapatkan Lailatul Qadri

Seakan puncak Ramadhan adalah tanggal 27 tersebut. Mari kita sempurnakan, mari tetap semangat lakukan kebaikan-kebaikan hingga akhir

Karena sesungguhnya kebaikan itu sangat ditentukan pada bagian paling akhirnya

Kemudian, ketika sudah datang pengumuman lebaran, hilal sudah terlihat atau disempurnakan jadi 30 Ramadhan, malam syawal kita dianjurkan perbanyak takbiran. Sebagai bentuk kesyukuran pada Allah, membesarkan Allah yang telah berikan hidayah petunjuk pada kita mampu menyelesaikan Ramadhan

Banyak kesyukuran pada Allah,

Kita berterima kasih kepada Allah, kita gembira…

Jika ada yang berkata bukankah Ramadhan adalah tamu yang kita dirindukan, bukankah perpisahan dengannya adalah suatu kesedihan

Maka Jawabannya: benar, kita sedih Ramadhan pergi, kita sedih, berat rasanya melepaskan kepergian Ramadhan…

Tapi Seiring dengan itu kita juga bergembira karena menyambut hari kemenangan, kita bergembira karena Allah mudahkan selesaikan amanah Ramadhan yang tidak ringan ini…

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasalllam menyebutkan pada sebagian hadis tentang keutamaan puasa diantaranya, ada 2 kegembiraan, kebahagian ketika selesai puasa, baik puasa per hari nya maupun puasa satu bulannya. Hamba yang lemah mampu menyelesaikan titah perintah dari Zat yang agung Allah Subhaanahu Wata’ala

Apalagi ada janji bahwa kita akan bisa bertemu Allah di akhirat,maka kita gembira atas nikmat tersebut

 

Kelima, Beribadah Hingga Kematian Datang

 

Surah Al Hijr ayat 99

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

Ramadhan bukan batas akhir ibadah, kita berhenti ibadah ketika ajal mendatangi kita…

masih ada hari-hari melewati dunia

Jangan berhenti lakukan kebaikan

Karena kita baru tahu apakah Ramadhan Kita ini berbuah, bermanfaat, diterima ketika kita termasuk orang-orang yang rajin beribadah setelah bulan suci Ramadhan

Imam Bukhari menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “sesungguhnya patokan, tolak ukur amalan itu dilihat bagian yang paling akhirnya, bagaimana kita menghadap Allah pada hari kematian kita begitulah keadaan kita nanti di akhirat,apakah kita husnul khatimah atau tidak”

Jangan pernah berhenti beribadah, baik di bulan Ramadhan dan setelah Ramadhan pergi

Ketika hanya mengenal masjid ketika di bulan Ramadhan, ketika hanya mau mengaji di bulan Ramadhan. Maka jangan-jangan hanya beribadah kepada Ramadhan, bukan kepada Allah pemilik Ramadhan…

Kata Abubakar Assiddiq Radhiyallahu Anhu ketika sebagian sahabat hilang semangatnya waktu dengar Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam wafat. Beliau mengatakan, “siapa yang beribadah kepada Muhammad, maka Muhammad telah mati, tapi siapa yang beribadah kepada Allah, Allah Maha hidup dan tidak mati”

Ramadhan pergi, tapi ada bulan Syawal, pemilik Syawal juga pemilik bulan Ramadhan…

Mari terus perbanyak kebaikan-kebaikan, hingga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menetapkan ajal kita

Kita tutup Ramadhan kita tahun ini dengan sebaik baiknya. Kita berdoa kepada Allah agar kita pun ditutup usia kita di dunia dengan husnul khatimah (*)

 

*) Diolah dari Materi Khutbah Jumat Ustadz Dr.Muhammad Yusran, Lc., MA (Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab-STIBA Makassar), Masjid Kampus Anas bin Malik Stiba, 28 Ramadhan 1437 H/24 Juni 2017

Video Khutbah dapat disimak di sini.

Artikel: Wahdah.or.id

 

 

Dear Ramadhan, Maafkan Aku

Barangsiapa yang terjangkit kelalaian, disibukkan oleh kelupaan, sehingga ia pun berpaling karenanya, maka keimanannya akan berkurang dan melemah sesuai keberadaan ketiga perkara tersebut padanya atau juga sebagian dari ketiganya

Lalai merupakan penyakit berbahaya bila seseorang telah terjangkit dan penyakit tersebut bercongkol pada dirinya. Maka ia tidak akan menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah, berdzikir mengingat-Nya, dan beribadah kepada-Nya, akan tetapi menyibukkan diri dengan berbagai perkara yang sia-sia dan jauh dari dzikir mengingat Allah

Meski di tengah bulan suci Ramadhan sekali pun, terkadang sifat lalai sering kali menjadi biang masalah dalam ibadah-ibadah. Bosan mengaji, malas mendirikan tarawih, pelit dalam berderma, rakus dalam mengambil dunia.

Ramadhan datang, namun hidupnya hanya penuh dengan kesia-siaan. Waktunya terbuang percuma. Dengan kegiatan yang tak mengundang faedah. Target Ramadhannya tak ada, mengerjakan ibadahpun ala kadarnya

Kawan, lantas surga macam apa yang pantas kau terima?

………………….

Dear Ramadhan, maafkan aku 🙁

Maafkan aku yang melalui Ramadhan dengan sia-sia dan disibukkan dengan sesuatu yang sia-sia pula.

Artikel   : Apotek Wahdah