Khotbah Idul Fitri 1440 H: Saatnya Menjadi Umat Pemenang

 

SAATNYA MENJADI UMAT PEMENANG!

(Khutbah Idul Fitri 1440 H DPP Wahdah Islamiyah)

 

إن الحمد لله نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونستهديه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، ومن يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ} .

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا}

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا}

 

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd

Kaum muslimin yang berbahagia!

Betapa besar karunia Allah Azza wa Jalla pada pagi hari ini. Tanpa pernah kita sungguh-sungguh meminta, Dia perkenankan kita semua untuk sampai pada hari kemenangan ini. Dia pilih kita semua untuk tetap bernafas dan hadir merayakan kegembiraan Idul Fitri ini. Sementara kita tahu: ada hamba yang tak dipilihnya untuk sampai di titik ini. Mereka pergi sebelum hari raya ini tiba. Maka segala puji dan segenap syukur kami haturkan tak terkira padaMu, ya Allah…atas kesempatan ini hingga kami dapat tetap bersujud dan bersyukur hanya padaMu.

 

Allahu akbar, Allahu akbar, Walillahil Hamd

Kaum muslimin yang dirahmati Allah!

Akhirnya sampailah kita di sini. Di sebuah episode waktu dimana Ramadhan akhirnya berakhir dan pergi dari lembar kehidupan kita. Ramadhan pergi dengan semua kenangan indahnya. Kenangan indah bagi hamba-hamba yang mengukir kisah romantis bersamanya. Bersama malam-malamnya yang semerbak oleh kisah-kisah penghambaan. Bersama siangnya yang dipenuhi dengan kisah-kisah perjuangan.

Akhirnya sampailah kita di sini. Di hari kemenangan yang kita nantikan di dunia ini, sebelum kelak kita akan merayakan hari puncak kemenangan kita di Akhirat, ketika Allah Azza wa Jalla memperkenankan tapak-tapak kaki kita melangkah memijak Surga yang hanya menyuguhkan kenikmatan dan kebahagiaan, dan tiada lagi kepayahan dan penderitaan!

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Hamba yang berpuasa itu akan mendapatkan 2 kegembiraan: kegembiraan saat ia berbuka, dan kegembiraan saat berjumpa dengan Rabbnya.”  (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Albani)

Karena itu –kaum muslimin yang berbahagia- sejak awal ditetapkannya, bulan Ramadhan hadir untuk mengajarkan jalan kemenangan. Ramadhan mengajarkan bahwa kemenangan bukan jalan yang mudah. Kemenangan harus diukir di atas jejak-jejak kelelahan dan keletihan. Kemenangan harus ditorehkan pada jejak-jejak pengorbanan yang tidak ringan. Tetapi semua pengorbanan dan kepahitan itu akan berujung pada rasa manis kemenangan, yang puncak kelezatannya akan kita kecup di dalam Jannah.

Pena sejarah mencatat: Ramadhan adalah bulan dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin para sahabatnya memenangi Perang Badar. Dan di bulan itu pula, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun ke 8 Hijriyah menaklukkan kota Mekkah yang sebelumnya menjadi markas pusat kaum Musyrikin melancarkan segala bentuk makar untuk menghancurkan dakwah beliau.

Sejarah hari-hari Ramadhan juga akan bercerita kepada kita, tentang bagaimana Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu memimpin dan memenangkan pertempuran Qadisiyah.

Tentang Thariq bin Ziyad rahimahullah yang menaklukkan Semenanjung Andalusia yang hari ini meliputi Spanyol dan Portugal.

Tentang Saifuddin Quthz rahimahullah, bagaimana ia menghempaskan Pasukan Mongolia dalam Perang ‘Ain Jalut.

Juga tentang bagaimana Muhammad al-Fatih rahimahullah menaklukkan ibukota Romawi Timur yang bernama Konstantinopel.

 

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar wa lillahilhamd!

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Kemenangan adalah kata yang telah digariskan oleh Allah Azza wa Jalla kepada para Rasul dan orang-orang beriman. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ (غافر: 51

“Sesungguhnya Kami pasti akan memenangkan Rasul-rasul Kami dan orang-orang beriman di kehidupan dunia dan kelak pada hari (kiamat) dimana para saksi akan berdiri.” (Ghafir: 51)

Kemenangan adalah sebuah kepastian janji Allah Ta’ala untuk kita, orang-orang beriman, selama kita memang pantas, layak dan memenuhi syarat sebagai para pemenang! Maka menjadi kewajiban setiap kita untuk memahami apa saja syarat menjadi pemenang itu. Dan semua syarat kemenangan yang kita butuhkan itu sesungguhnya telah disebutkan oleh Allah Ta’ala di dalam surah yang paling familiar dalam kehidupan kita, yaitu Surah al-‘Ashr:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu pasti dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran.”

Setelah mengawalinya dengan sumpah atas nama waktu sebagai media manusia merangkai dan merebut kemenangan, Allah Ta’ala mengawali rangkaian ayat yang indah ini sebuah ketetapan yang abadi, yaitu bahwa: semua manusia adalah para pecundang yang merugi!

Maka meski pencapaianmu setinggi langit, namamu tersohor begitu rupa, dan kekuasaanmu seolah tanpa tanding, engkau tetaplah manusia pecundang yang merugi, selama 4 syarat kemenangan yang dirangkai oleh Allah Ta’ala dalam Surah ini engkau penuhi.

 

Apa saja 4 syarat untuk mewujud sebagai manusia pemenang -Kaum muslimin yang berbahagia-?

Apa saja 4 syarat untuk mengeluarkan kita, manusia, dari barisan para pecundang abadi?

 

Syarat yang pertama adalah keimanan yang benar dan teguh kokoh menghunjam:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا

“….kecuali orang-orang yang beriman…”

Begitu Allah Azza wa Jalla menyebut syarat yang pertama ini. Keimanan yang benar dan Tauhid yang lurus adalah landasan utama semua bentuk kemenangan. Kemenangan tak pernah layak disebut sebagai “kemenangan”, jika iman dan Tauhid tidak menjadi motivasi dan penggeraknya.

Bahkan saat engkau meneguhkan iman dan Tauhid dalam dirimu dengan sebenar-benarnya, maka engkau telah seorang pemenang, meski tak pernah bersimbah darah dalam pertempuran hebat! Karena menapaki jalan iman dan Tauhid adalah kemenangan itu sendiri.

 

Syarat yang kedua adalah komitmen diri untuk menapaki jalan-jalan keshalihan dan ketaatan:

وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“…dan melakukan amal-amal shalih…”

Karena iman bukan setakat pengakuan belaka. Iman harus dibuktikan wujud nyatanya dengan komitmen diri untuk menyemaikan keshalihan melalui bibit-bibit ketaatan ibadah dan kebajikan pada sesama.

Karena amal shalih adalah pembuktian: apakah pengakuan iman dan Tauhid itu sebenar-benarnya atau tak lebih dari sekedar pemanis bibir?

Namun saat kita berbicara tentang semangat melakukan kebajikan dan amal shalih, penting sekali merenungkan ungkapan salah seorang ulama Salaf, al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah yang mengatakan:

إِنَّ اْلعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَ لَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُوْنَ خَالِصًا وَصَوَابًا، فَالْخَالِصُ أَنْ يَكُوْنَ لِلَّهِ، وَالصَّوَابُ أَنْ يَكُوْنَ عَلَى السُّنَّةِ.

“Jika amal itu dikerjakan dengan ikhlas namun tidak benar, tidak akan diterima. Dan jika ia benar namun tidak ikhlas, ia pun tidak diterima, hingga ia dikerjakan dengan ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika dikerjakan karena Allah, dan benar itu jika dilakukan sesuai Sunnah.”

Kedua syarat yang telah disebutkan ini berkaitan erat dengan pribadi kita masing-masing. Iman dan amal shalih adalah dua syarat yang harus terwujud pada sosok insan pemenang. Iman dan amal shalih adalah dua hal yang harus dipenuhi untuk kemenangan pribadi.

Namun kemenangan pribadi tentu saja tidaklah cukup, sampai kita menyebarkan kemenangan itu kepada sesama manusia, agar kemenangan itu terwujud dalam kehidupan sosial kita. Sebab seorang muslim tidak sudi menikmati kemenangan itu sendiri, hingga ia membaginya kepada orang lain. Kepada sesama manusia.

Karena itu, Syarat kemenangan yang ketiga adalah adanya kesadaran bersama dari kaum beriman dan pecinta amal shalih untuk saling mengingatkan dan menasehati terhadap kebenaran. Tidak diam. Tidak membisu. Tapi selalu lantang menyuarakan kebenaran dan meluruskan yang salah:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ

“…dan mereka saling berpesan dengan kebenaran…”

Kemenangan sejati itu adalah ketika engkau berpegang teguh pada kebenaran, meski manusia menganggapmu kalah, bahkan menyebutmu sebagai pecundang. Sebaliknya engkau adalah pecundang sejati jika hidupmu dipenuhi dengan kesesatan, keculasan dan kecurangan, meski seluruh dunia mengucapkan selamat atas kemenangan semu-mu!

Karena itu, kemenangan sebuah masyarakat takkan pernah terwujud meski teknologi dan infrastrukturnya dahsyat tak terkira, jika masyarakat itu selalu melakukan pembiaran terhadap kebatilan, kemungkaran, keculasan dan kecurangan. Karena itu semua adalah borok busuk kehidupan, yang jika didiamkan dan dibiarkan akan meluluhlantakkan bangunan dan tatanan masyarakat itu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kondisi ini seperti kehidupan para penumpang sebuah bahtera di tengah lautan. Yang ketika para penumpang di dek bagian bawah membutuhkan air bersih harus bolak-balik naik ke atas. Hingga akhirnya karena tidak mau repot dan susah, mereka berencana untuk melobangi bagian bawah kapal itu untuk memudahkan akses mereka mendapatkan air. Tentang itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

فَإِنْ أَخَذُوْا عَلَى يَدَيْهِ أَنْجَوْهُ وَ نَجَّوْا أَنْفُسَهُمْ، وَإِنْ تَرَكُوْهُ أَهْلَكُوْهُ وَأَهْلَكُوْا أَنْفُسَهُمْ

“Maka jika mereka mencegahnya, mereka telah menyelamatkannya dan menyelamatkan diri mereka sendiri. Namun jika mereka membiarkannya, mereka telah membinasakannya dan membinasakan diri mereka sendiri.” (HR. Al-Bukhari)

Kondisi ini berlaku dalam seluruh tatanan kehidupan.

Dalam lingkup keluarga misalnya, jika seorang ayah dan ibu membiarkan anak-anak melakukan kemungkaran: membiarkan mereka tidak shalat, membebaskan mereka bergaul dengan lawan jenis, tidak mengingatkan tentang wajibnya mengenakan hijab bagi muslimah, atau membiarkan mereka menghabiskan waktu dengan bermain game; maka ini pertanda buruk bagi sebuah keluarga! Keluarga seperti ini tidak layak disebut sebagai “keluarga pemenang”, meski di tengah masyarakat sangat dihormati karena capaian-capaian dunianya. Karena dalam sudut pandang akhirat, keluarga ini telah karam-tenggelam.

Begitu pula dalam tataran berbangsa dan bernegara. Jika semua diam dan tidak peduli dengan kezhaliman dan kemaksiatan yang merajalela, maka itu pertanda bangsa dan negara itu sebenarnya telah karam, meski capaian-capaian fisiknya diakui dunia. Jika sebuah bangsa menganggap biasa perilaku durhaka kepada Allah, selalu curang dan culas, menganggap biasa suap-menyuap, perampasan hak milik orang lain, perilaku seksual yang menyimpang dan pelecehan terhadap agama, lalu semuanya diam tak bersuara, maka saat itu sesungguhnya mereka telah karam dan binasa!

Itulah sebabnya, mengapa Islam mewajibkan setiap kita untuk berdakwah. Mewajibkan setiap kita untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, sesuai dengan batas kemampuan kita.

Di titik ini, maka setiap kita harus memahami dengan jernih: bahwa nasihat dan teguran sesungguhnya adalah tanda cinta. Saat kita mencintai seseorang, kita takkan rela ia hancur dan binasa. Maka kita pun menasihati dan menegurnya. Sebaliknya diam dan membiarkan adalah tanda ketidakpedulian. Saat kita tak lagi peduli pada seseorang, maka hancur binasa pun dia, kita takkan peduli apalagi bersedih.

 

Allahu akbar, Allahu akbar wa liLlahil hamd!

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Kemudian yang terakhir, Syarat yang keempat adalah umat pemenang akan selalu saling mengingatkan untuk selalu bersabar dan menguatkan kesabaran.

وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“…dan mereka saling berwasiat dengan kesabaran.”

Karena jalan kemenangan adalah jalan panjang. Jalan dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar tidaklah mudah. Ada banyak tekanan, cibiran, persekusi bahkan intimidasi.

Saat kita meluruskan aqidah dan keyakinan yang salah, sudah pasti kita akan berhadap dengan para fanatisnya yang merasa benar sendiri. Saat kita menasihati kawan seiring bahkan anak dan istri kita untuk memperbaiki diri, seringkali kita akan menghadapi penolakan atau setidak-tidaknya tatapan sinis.

Saat kita –misalnya- berjuang menegakkan kedaulatan bangsa dan negara, sudah pasti musuh-musuh bangsa bersama antek-anteknya akan menghalangi dengan berbagai cara. Bahkan di jalan itu, boleh jadi kita harus mengorbankan jiwa dan raga.

Tapi demikianlah jalan yang harus dilalui…

Maka “sabar” adalah senjata utama kita dalam semua jejak perjuangan. Sabar adalah batu tempat para pemenang berpijak untuk meraih kemenangannya. Tanpa itu, takkan ada kisah kemenangan. Takkan ada kejayaan.

 

Allahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd!

Kaum muslimin yang berbahagia!

Kemenangan itu telah ditetapkan. Allah Azza wa Jalla mengatakan:

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ (171) إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ (172) وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ (173) الصافات

“Telah ada dalam ketetapan Kami bagi hamba-hamba Kami yang diutus: bahwa sungguh mereka itulah sebenar-benarnya kaum yang diberi pertolongan. Dan sungguh tentara Kami pastilah para pemenang itu.”

Maka selama kita telah memastikan diri berada di atas rel kemenangan itu, kita insya Allah telah menjadi pemenang, meski kedua mata kita tak lagi sempat menyaksikan kejayaan di dunia ini.

Renungkanlah kisah seorang anak remaja, al-Ghulam, dalam kisah Ashabul Ukhdud. Seorang remaja penegak Tauhid yang oleh penguasa tertinggi saat itu dianggap akan merongrong kekuasaannya. Berbagai cara ditempuh oleh rezim itu untuk melenyapkannya, tapi tak ada yang berhasil. Dihempas dari puncak gunung tinggi, ditenggelamkan ke perut laut dalam. Tak ada yang dapat melenyapkannya. Hingga akhirnya pemuda itu sendiri yang mengusulkan pada Sang Raja bagaimana cara jitu untuk membunuhnya. Pemuda itu mengatakan (dan kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim):

إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَقْتُلْنِي حَتَّى تَفْعَلَ مَا آمُرُكَ بِهِ فَإِنْ أَنْتَ فَعَلْتَ مَا آمُرُكَ بِهِ قَتَلْتَنِي، وَإِلَّا فَإِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعَ قَتْلِي قَالَ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: تَجْمَعُ النَّاسَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ تَصْلِبُنِي عَلَى جِذْعٍ فَتَأْخُذُ سَهْمًا مِنْ كِنَانَتِي ثُمَّ تَقُولُ: بِسْمِ اللَّهِ رَبِّ الْغُلَامِ ، فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ قَتَلْتَنِي

“Sesungguhnya engkau takkan mampu membunuhku sampai engkau melakukan apa yang aku perintahkan. Jika engkau melakukan apa yang aku suruh, maka engkau akan dapat membunuhku. Jika tidak, engkau takkan mampu membunuhku.”

Sang Raja bertanya: “Cara apa itu?”

Remaja itu menjawab: “Engkau kumpulkan rakyatmu di satu tanah lapang, lalu engkau salib aku di atas sebuah batang kurma, kemudian engkau ambil satu anak panah dari kantung panahku, lalu engkau ucapkan: ‘Bismillah Rabbil ghulam’ (Dengan menyebut nama Allah, Tuhannya anak ini). Jika engkau melakukan ini, maka engkau pasti dapat membunuhku…”

 

Kaum muslimin yang berbahagia!

Remaja muda itu akhirnya gugur, setelah Sang Raja yang kafir itu bersedia mengucapkan: “Bismillah Rabbil ghulam” saat memanahnya.

Apakah remaja itu kalah dengan kematiannya? Sama sekali tidak. Kematiannya justru menjadi puncak kemenangan dunianya. Karena setelah seluruh rakyatnya menyaksikan anak muda itu hanya bisa mati dengan kalimat “Bismillah”, secara serentak seluruh rakyatnya menyakini keMahakuasaan Allah hingga akhirnya mendeklarasikan keimanan mereka.

 

Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd!

Akhirnya, hari-hari ke depan akan menjadi hari-hari pembuktian bagi kita semua sebagai alumni-alumni Ramadhan: apakah kita termasuk alumni pemenang atau alumni pecundang?

Kemenangan kita usai Ramadhan dibuktikan dengan berlanjutnya keshalihan, ketaatan dan kebaikan yang telah kita ukir hingga ke hari-hari paska Ramadhan. Shalat berjamaah, membaca al-Qur’an, tetap bersedekah, konsisten mengenakan hijab menutup aurat, menaklukkan hawa nafsu, menjaga lisan, dan meninggalkan apa saja yang tak berguna di kehidupan akhirat. Termasuk Sunnah menggenapkan kebaikan Ramadhan dengan berpuasa 6 hari di bulan Syawal yang pahalanya setara dengan puasa setahun lamanya.

Maka jangan hentikan ragam keshalihan dan kebajikan itu saat Ramadhan berakhir, karena hidup dan mati kita hanya untuk Allah, dan bukan untuk Ramadhan!

 

Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd!

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Akhirnya, di ujung khutbah ini, marilah kita bersunyi diri, bersenyap jiwa dan hati, menengadah penuh ratap dan harap kepada Allah Azza wa Jalla, memohon dalam doa yang dipenuhi harapan kebaikan dunia dan akhirat kita:

 

Khutbah Kedua

الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على أشرف أنبيائه و أفضل رسله و على آله و صحبه

Rabbana…

Kami-lah sekumpulan hambaMu yang penuh kehinaan. Dalam diri kami tiada apapun yang dapat kami sombongkan. Durhaka kami yang tak henti-henti. Maksiat kami yang terus terjadi siang dan malam. Kelalaian kami padaMu terus berulang. Semuanya tiada yang luput dari pengawasan dan pengetahuanMu, ya Allah…Nafsu kami terus membakar, tapi kami sungguh-sungguh takut pada adzab dan siksa NerakaMu, ya Allah…

Maka kepada siapa lagi kami harus mengadukan dosa dan durhaka diri yang memenuhi diri ini selain kepadaMu, ya Allah? Engkau sajalah Rabb kami. Engkau sajalah Ilah yang kami ibadahi. Engkau sajalah Sang Maha Pengampun. Maka ampunilah, ampunilah segenap kelam dosa dan maksiat kami, ya Allah…

 

Rabbana…

Dalam kehinaan yang tiada tara ini, kami bersimpuh padaMu, ya Allah…kami memohon liputilah ayah-bunda kami dengan keberkahan tiada henti dalam hidup dunia maupun akhirat mereka. Limpahkan kebahagiaan dalam hidup mereka. Berkahi sisa usia mereka dalam ibadah dan ketaatan padaMu, ya Allah.

Sedangkan kami, hamba-hambaMu yang hina ini, ampunilah segala kedurhakaan dan ketidakperhatian kami kepada mereka. Berikan kami kesempatan untuk terus mengukir bakti-bakti terbaik kepada mereka di sepanjang hayat kami, ya Allah…

 

Rabbana…

Indonesia, negeri yang Engkau titipkan kepada kami, sedang mengalami dan melewati hari-hari yang sungguh mengkhawatirkan kami. Negeri yang Engkau merdekakan dengan Rahmat-Mu ini dengan sangat terang-benderang telah menjadi sasaran tangan-tangan khianat yang keji, yang tak segan dan ragu merampas kemerdekaan kami demi memuaskan nafsu rakus dan tamak mereka.

Maka hari ini memohon padaMu, ya Allah, dengan segala keMahaperkasaanMu, dengan segala keMahabesaranMu, atas nama semua hambaMu yang terzhalimi, hancurkan tangan-tangan khianat itu bersama makar-makar mereka…tenggelamkan tangan-tangan khianat itu bersama seluruh pendukungnya…

Rabbana, karuniakan negeri kami dan negeri-negeri kaum muslimin: para pemimpin yang selalu takut hanya padaMu, para pemimpin yang mengasihi kami, yang memimpin kami dengan keadilan, yang dengan izinMu –ya Allah- membawa negeri ini pada kemakmuran yang Kau ridhai.

 

Rabbana…

Dengan kasihMu yang Mahaluas, dengan kuasaMu yang Mahaperkasa, kami memohon dengan sepenuh jiwa, hadirkanlah pertolongan dan kemenanganMu kepada saudara-saudara kami yang sedang berjihad dan berjuang menegakkan kedaulatan mereka di Palestina dan Suriah, serta di wilayah manapun dari bumiMu ini, ya Allah…

 

Rabbana…

Karuniakan rahmat dan keberkahanMu yang tak bertepi kepada para ulama, para ustadz, para guru dan siapa saja yang telah mengantarkan kebaikan dan keshalihan kepada kami. Kepada para ulama dan ustadz yang tak kenal jemu menasihati kami…kepada guru-guru mengaji kami yang menuntun lisan ini mengeja ayat-ayatMu…Kasihi mereka dan keluarga mereka…Pertemukan kami kembali di dalam limpahan karunia dan nikmatMu di dalam Jannatul Firdaus…

 

Rabbana…

Tak ada yang dapat mengabulkan doa-doa dan permohonan hati ini selain Engkau saja satu-satuNya. Maka kabulkanlah, ya Allah…Kabulkanlah, ya Allah…

ربنا آتنا في الدنيا حسنة و في الآخرة حسنة و قنا عذاب النار

و صلى الله و سلم على نبينا و حبيبنا محمد و على آله و صحبه أجمعين

و آخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal Seperti Puasa Setahun

 

 

Syawal merupakan bulan berkah. Ia juga merupakan bulan ketaatan dan ibadah, karena merupakan  permulaan bulan haji. Pada bulan ini terdapat sunnah puasa enam hari, qadha i’tikaf dan puasa.

Disyaritkan puasa enam hari di bulan Syawal setelah bulan Ramadhan. Pahala puasa Ramadhan ditambah puasa syawal sama dengan puasa setahun. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

“Siapa yang puasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh”. (HR. Muslim).

Dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang berpuasa Ramadhan, maka puasa sebulan sama dengan sepuluh bulan, dan puasa enam bulan di bulan Syawal sama dengan puasa dua bulan, sehingga sempurna setahun, karena “Siapa yang berbuat baik maka baginya sepuluh kali lipat [Qs. Al-An’am: 160”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah).

Para Ulama Hanabilah dan Syafi’iyah mengatakan, puasa enam hari di bulan Syawal  setelah puasa Ramadhan setara dengan puasa wajib selama setahun.

Diantara faedah dan manfaat puasa syawal adalah sebagai penambal dan pelengkap kekuarangan pada puasa Ramadhan. Sebagaimana fungsi puasa sunnah sebagai penambal dan pelengkap kekurangan pada shalat wajib.

Qadha Dulu Baru Puasa Syawal

Sebaiknya dan lebih afdhal jika seseorang menyelesaikan kewajiban qadha hutang puasa tersebih dahulu baru melaksnakan puasa enam hari di bulan Syawal. Agar ia terlepas dari beban dan tangguang jawab yang wajib, yakni menyelesaikan dan menyempurnakan puasa Ramadhan.

Hal ini sejalan dengan teks hadits Nabi, “Kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal”, yang menunjukan bahwa harus menyempurnakan puasa Ramadhan terlebih dahulu. Kemudian melakukan puasa enam hari Syawal setelahnya.

“Karena tidak terpenuhi  maskud mengikuti puasa Ramadhan dengan puasa Syawal melainkan menyempurnakan puasa Ramadhan terlebih dahulu”. (Fatwa Lajnah Daimah, 10/392)

Boleh Tidak Berurutan

Boleh melaksanakan puasa Syawal tanpa berurutan, sesuai kondisi dan kemampuan seseorang.  Jika diakhirkan di pertengahan bulan Syawal atau di pekan terakhir tidak mengapa. Khususnya bagi mereka yang mendapat kunjungan banyak tamu dari kerabat, handai tolan, dan kolega di pekan-pekan pertama Syawal. –sym- []

Jadilah Terbaik di Mata Allah dan Sederhana di Mata Manusia

Seringkali dengan mudah kita melontarkan kritik jelek pada orang lain. Padahal kita baru saja bertemu dengan orang itu. Saat melihat penampilannya yang tidak sesuai dengan selera kita, kita langsung menilai jelek orang tersebut

Kebiasaan menilai orang dari penampilannya sudah melekat dalam diri sebagian besar orang. Ketika, kita melihat orang yang berbeda dari kita, kita secara spontan mencibirnya, menganggapnya aneh, kemudian memandangnya remeh

Sebagai manusia, kita memang tempatnya salah dan lupa. Tak pernah berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Kegiatan mencibir orang lain sepertinya sudah mendarah daging dalam diri manusia. Padahal kita tidak pernah tahu apapun tentang orang lain yang pernah kita sindir tersebut

Sebelum menilai baik buruknya seseorang. Terlebih dahulu, nilailah diri sendiri. Sebab, aib kita belum tentu lebih sedikit bila dibandingkan orang lain. Jadilah terburuk untuk diri sendiri. Sebab, dimata manusia kita memang baik, tapi percayalah bahwa itu terjadi karena Allah menutupi aib-aib kita

Sederhanakan pitutur dan tetingkahmu dihadapan khalayak ramai. Dan jadilah yang terbaik dihadapan Allah. Sederhana itu mengajarkan kepada manusia soal bagaimana merendahkan hati diantara sesama. Tak congkak dengan segala keterlebihan yang ada. Sebab asal baik di mata Allah, itu lebih dari cukup. Biarkan Dia yang menilaimu, sementara manusia tak banyak cukup tahu soal dirimu.


“Jadilah terbaik di mata Allah. Jadilah yang terburuk di mata sendiri. Jadilah sederhana diantara manusia” (Ali bin Abi Thalib Rhadiyallahu ‘anhu)

Artikel: Apotek wahdah