Jauhi Sifat Sombong

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran” (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam)

Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap al haq dan sombong terhadap makhluk. Hal ini diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadist di atas dalam sabda beliau, “sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain”. Menolak kebenaran adalah dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain. (Syarh Riyadus Shaalihin, II/301, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cet Daar Ibnu Haitsam)

Allah Memberi yang Terbaik untuk Hamba-Nya

 

Sering sekali kita meminta kepada Allah dengan sangat menggebu-gebu, bahkan saking seringnya kita tidak tahu caranya berterimakasih dengan syukur bila yang diberikan Allah tidak sesuai dengan harapan.

Padahal apapun yang kita minta pada-Nya belum tentu baik untuk kita, tetapi apapun yang Allah beri pasti yang terbaik untuk kita.

Jadi, intinya terimalah pemberian Allah dengan penuh keikhlasan hati, jangan mengeluh apabila tidak sesuai dengan harap, sebab setelahnya pasti ada kebaikan yang nampak, bersabarlah!

Terkadang Allah menunda. Bukan bermaksud menyakiti sang hamba, atau menggantung harapannya yang sejak lama telah ia pinta. Melainkan Allah tahu jika diberikan, maka keburukannya jauh lebih terasa dari apa yang sebelumnya dibayangkan.

Kamu tidak bisa meraba yang ghaib. Masa depanmu tak bisa terdeteksi dengan indera yang kamu miliki. Maka percayakan saja semuanya kepada Allah.

Maka, jangan keburu berburuk sangka bila yang Allah tetapkan tak sesuai dengan yang kita pinta, sebab Allah tahu apa yang benar-benar kita butuhkan.

…………………………..

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al Baqarah: 216)