Berbuat Baiklah, Meski Sempit

BERBUAT BAIKLAH, MESKI SEMPIT…

Oleh: Ustadz Muhammad Ihsan Zainuddin  

Seorang wanita kaya raya berdiri di tepi jalan

akibat mobil kendaranya rusak tak mampu berjalan.

Berulang kali ia memberi tanda dengan tangannya,

namun tak ada yang berkenan hati menyinggahinya.

 

Waktu terus berjalan…

Dan rintik hujan mulai menetes jatuh.

Dan hatinya semakin cemas,

karena gelap malam mulai berarak.

 

Hingga tiba-tiba saja…

Sebuah mobil tua yang payah berhenti.

Tepat di sisi Sang Nyonya nan kaya itu.

Di belakang kemudi,

tampaklah sesosok pemuda berkulit gelap.

Wanita itu menatapnya, dan menatap mobil tuanya.

Wanita itu ragu, sungguh ragu:

apakah ia ikut menumpang,

atau tetap menunggu di tepi jalan yang mulai gelap itu?

 

Nyonya kaya itu bimbang dan ragu,

pasalnya ia mengira segenap manusia

mengetahui kekayaan dan harta bendanya…

 

Tapi akhirnya,

ia putuskan sudah.

Ia menaiki mobil tua itu, dan menumpanginya.

 

Dalam perjalanan itu,

Sang Nyonya kaya menanyakan nama dan pekerjaan anak muda itu.

Anak muda yang tampak payah dalam kemiskinannya.

“Namaku Adam.

Dan pekerjaanku adalah sopir taksi,” jawab anak muda itu.

 

Wanita itu sedikit lebih tenang sekarang.

Dalam hatinya, ia sedikit mengutuk diri,

agak menyesali buruk sangkanya seawal tadi.

Sekarang tampak padanya:

betapa anak muda itu sepenuh adab,

hingga bahkan tak melirik sedikit pun padanya.

 

Singkat cerita,

mereka pun tiba di kota.

Dalam hatinya,

Sang Nyonya kaya itupun telah berniat

akan memberikan seberapa besar pun upah

yang diminta pemuda itu.

 

Sang Nyonya pun meminta sopir taksi itu berhenti.

Taksi itupun berhenti.

“Berapa upahnya, Anak muda?”

“Tidak ada, Nyonya…”

“Tidak ada??!

Mana mungkin? Engkau telah menolongku,

dan mengantarku dengan selamat…”

 

Adam, anak muda itu tersenyum sahaja.

“Upahku adalah Nyonya berjanjilah

untuk melakukan kebaikan kepada siapa saja

yang Nyonya temui…”

 

Adam, sopir taksi itupun berlalu,

meninggalkan Sang Nyonya dalam kebisuannya.

 


 

Dan dalam keterkejutan jiwanya,

Sang Nyonya kaya itu melangkahkan kakinya.

Di depan sebuah kafe kecil, langkahnya terhenti.

Ia masuk ke dalam, dan kepada seorang pelayan wanita

ia memesan secangkir kopi hangat…

 

Sang pelayan pun sejurus kemudian datang.

Menyajikan secawan kopi panas untuk Sang Nyonya itu.

Sang Nyonya memandang pelayan wanita itu.

Tampak lelah dan payah sekali wajahnya.

Perutnya tampak besar dan buncit.

 

“Anda tampak sangat lelah. Kenapa?” tanyanya.

Pelayan itu tersenyum susah-payah.

“Waktu persalinan sudah menjelang, Nyonya…”

 

“Mengapa tidak rehat dan cuti saja?”

“Saya harus menabung untuk biaya persalinan bayiku, Nyonya…”

Sang Nyonya itu mengangguk pelan.

 

Secawan kopi panas itupun selesai.

Sang Nyonya membayar kopinya.

Sang pelayan membawa uang itu

ke kasir untuk mengambilkan kembaliannya,

karena uang besar itu setara dengan 10 cawan kopi.

 

Tapi kursi Nyonya kaya itu telah kosong

saat Sang Pelayan ingin menyerahkan kembaliannya.

Matanya mengedar ke segenap penjuru,

tapi Nyonya itu benar-benar telah pergi.

Tapi di meja itu, ia menemukan secarik kertas:

“Kembalian kopiku itu kuhadiahkan untukmu…”

 

Betapa gembira hati Pelayan itu!

Ia membalik kertas itu untuk kembali menemukan

sebaris kalimat lain:

“Dan di bawah meja ini,

saya juga menitipkan hadiah untuk calon bayimu…”

 

Hampir saja ia berterik histeris,

karena yang di bawah meja itu adalah

sejumlah uang yang setara dengan gajinya

selama 6 bulan!

 

Air matanya tak mungkin lagi dibendung.

Ia bergegas pergi. Meminta izin dari kerjanya.

Ia pergi mendahului angin…

Suaminya harus tahu kegembiraan ini.

Suami yang jiwanya galau sepanjang hari

memikirkan kelahiran bayinya…

 

Ia masuk menerobos pintu rumahnya.

Memanggil-manggil sang suami yang terkejut

dan terheran atas kepulangannya di waktu tak biasa.

“Apakah sudah waktunya melahirkan?”

pikir Sang Suami.

 

Tapi istrinya memeluknya erat.

Suaranya berbaur bahagia dan haru.

“Bersyukurlah, Adam…

Akhirnya Tuhan memberikan jalan keluarNya!”

 

Dan Adam, supir taksi budiman itu

terdiam tanpa kata mendengar tutur kisah sang istri,

dan melihat “hadiah kebaikan” yang dibawanya.

 


 

Jangan pernah melupakan:

Kebaikan itu pasti akan kembali kepadamu,

suatu waktu nanti…

Berbuat baiklah, dan selalu ingat:

“Tidak ada balasan untuk kebaikan

kecuali kebaikan belaka.”

 

Jadi, apa kebaikanmu hari ini?

 

Akhukum,

Muhammad Ihsan Zainuddin

 

NB:

Jika Anda bergabung di Telegram saya:

t.me/IhsanZainuddin

t.me/IhsanZainuddin

saya berharap itu menjadi kebaikan saya hari ini,

karena saya juga berbagi di sana.

 

Saya juga berbagi E-BOOK “Bahasa Arab itu Gampang!”

di blog: http://IhsanZainuddin.com

semoga Anda berkenan membacanya sekarang…