MOI Tanggapi RUU KUHP, Bukti Kritis Umat Islam Terhadap Konstitusi

Majelis Ormas Islam Indonesia pasca konferensi pers pernyataan sikap mengenai RUU KUHP

(JAKARTA) Wahdahjakarta.com — Pasca konferensi pers terkait Rancangan UU KUHP di Gedung Dewan Dakwah Islamiyah kemarin (17/9/2019). MOI buktikan bahwa Islam adalah umat yang kritis dalam menyikapi negara, khususnya aturan konstitusional.

Majelis Ormas Islam (MOI) memandang perlu menggaris bawahi pada hal-hal yang dianggap membahayakan kehidupan beragama dan bermasyarakat. Hal ini sebagaimana sikap yang disampaikan ormas-ormas tersebut dalam mengkritisi RUU P-KS.

MOI berharap DPR mempertimbangkan aspirasi berbagai pihak masyarakat sebelum RUU ini disahkan. Termasuk aspirasi dari ormas-ormas Islam.

Terkhusus mengenai aturan pidana pelaku zina, MOI menyatakan bahwa perbuatan cabul antara manusia yang berlawanan jenis maupun yang sesama jenis adalah tindakan pidana meskipun dilakukan tidak di depan umum (ruang tertutup), tidak secara paksa, tidak dengan Kekerasan atau Ancaman Kekerasan dan meskipun korban melakukannya dengan sukarela.

Kedua, adalah perilaku yang kurang manusiawi ketika memasukkan alat kelamin ke dalam anus atau mulut kepada orang lain, atau sebaliknya. Maka hal tersebut adalah tindakan pidana, meskipun tanpa Kekerasan dan tanpa Ancaman Kekerasan.

Ketiga, dalam menyatakan perbuatan perzinaan dan perbuatan cabul yang diketahui masyarakat, MOI berpendapat bahwa pelaku dapat dilaporkan oleh masyarakat dan atau Ketua RT/RW, selain orang tua, anak, suami atau istrinya, artinya semua pihak bisa bertindak dalam pelaporan, bukan hanya keluarga kandung.

Poin selanjutnya, bahwa kegiatan pelacuran dan bentuk kekerasan seksual lainnya juga seharusnya tetap masuk dalam tindak pidana, meskipun tidak dilakukan dengan paksaan.

Kemudian dalam poin pernyataan MOI tersebut, negara harus membangun lembaga rehabilitasi terhadap penderita penyakit jiwa LGBT sehingga dapat kembali normal dan produktif bagi bangsa dan negara. Hal ini membuktikan bijaksana umat Islam yang diwakili MOI dalam menanggapi persoalan krusial yang saat ini berkembang di masyarakat.

Terakhir, MOI menyatakan bahwa negara harus menjaga umat Islam dari pengaruh aliran-aliran sesat sesuai keputusan MUI Pusat. Tujuannya, supaya terjadi keselarasan dalam menyikapi segala ide atau gagasan yang berlaku di masyarakat berdasarkan aturan Islam sebagai umat mayoritas di Indonesia.

[ibw/fry]

Wasekjen WI : RUU KUHP Masih Perlu Kajian

Ust. Ridwan Hamidi, Wasekjen Wahdah Islamiyah

(JAKARTA) Wahdahjakarta.com — Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Wahdah Islamiyah, Ust. Ridwan Hamidi menyebut bahwa RUU KUHP masih perlu pengkajian yang matang sebelum disahkan. Hal tersebut ia sampaikan pada wawancara dengan wahdahjakarta.com di Gedung DPP WI DKI Jakarta pasca konferensi pers MOI pada Selasa(17/9/2019).

Menurut ketua MIUMI Yogyakarta ini, rancangan tersebut masih banyak meninggalkan persoalan yang krusial hingga menimbulkan kontroversi di masyarakat seperti pasal hukum pidana terhadap pelaku zina.

“Terkait dengan isi rancangan UU KUHP memang masih menyisakan beberapa persoalan, diantaranya mengenai krieria pelaku zina tersebut yang dalam hal ini batasan idealnya tentu mengakomodir aturan Islam sebagai umat Mayoritas di negeri ini. Kalau itu masih ditinggalkan, maka wajar kalau umat Islam mengambil sikap” terang ustadz yang kerap disapa URH ini.

“Kemudian yang kedua, contoh beberapa pasal yang bermasalah misalnya, terkait dengan siapa yang boleh melaporkan, jika terjadi perzinahan tersebut. Dalam rumusan yang ada, pelapor adalah anak, istri dan orang tua, hanya sampai disitu, maka muncul pertanyaan bagaimana dengan pihak ketiga seperti kerabat lain atau masyarakat yang mungkin berstatus sebagai saksi” ungkap URH.

Ustadz Ridwan juga berharap pasal yang ada mencakup pidana terhadap seluruh tindak asusila yang diharamkan oleh agama Islam.

“Tentu kita berharap tindak pidana tersebut berlaku untuk semua kalangan, baik terhadap yang sudah berkeluarga atau belum, melakukan di tempat terbuka atau tertutup, atau melalui pemaksaan atau suka-suka. Karena dalam landasan agama kita semuanya mendapat tindakan hukum yang sama” ujarnya.

“Sebetulnya kita juga melihat nampaknya rancangan ini perlu kembali dikaji, bukan hanya sekedar mengejar target untuk disahkan secara cepat. Apalagi ini KUHP, harapannya betul-betul dikaji secara matang.” ungkapnya lagi.

Terakhir, Ustadz Ridwan berharap beberapa konsep yang ada harus memperhatikan nilai budaya timur yang berlaku di masyarakat Indonesia, bukan hanya berpatok pada gagasan yang diambil dari budaya di luar negeri.

“Harapannya juga beberapa konsep yang ada seperti kekerasan seksual tidak mengabaikan budaya yang telah berlaku di masyarakat Indonesia, bukan hanya menggunakan budaya diluar negeri kita.” jelas URH.

(fry)

MOI Nyatakan Sikap Terhadap Isi RUU KUHP Yang Melegalkan Zina

(JAKARTA) Wahdahjakarta.com — Majelis Ormas Islam (MOI) menyampaikan sikapnya terhadap RUU KUHP yang melegalkan perzinahan diluar pernikahan dalam pernyataan konferensi pers yang digelar pada Selasa(17/9/2019) di Kantor Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Dalam konferensi tersebut hadir beberapa ormas Islam seperti Dewan Dakwah, PUI, Al Irsyad, Wahdah Islamiyah, PP IKADI, Hidayatullah, dan PB Mathlaul Anwar.

Salah satu perwakilan ormas Islam yang hadir, yakni Wahdah Islamiyah yang diwakili ust. Ridwan Hamidi, selaku Wasekjen DPP Wahdah Islamiyah menyebut bahwa RUU KUHP tersebut masih melupakan beberapa pertimbangan terkait ajaran Umat Islam yang mengharamkan zina diluar nikah

“Terkait dengan isi kandungan RUU KUHP memang masih menyisakan beberapa persoalan, diantaranga terkait dengan kriteria pelaku zina, tentu idealnya ada pertimbangan mengenai landasan hukum umat Islam sebagai mayoritas di negeri ini, maka untuk itu wajar jika umat Islam memberikan tanggapan” ujar ust. Ridwan.

Pernyataan sikap MOI terkait RUU KUHP

MOI dalam pernyataannya juga mencantumkan 6 poin sikap yang secara umum mengecam pasal pelegalan zina diluar nikah dalam RUU KUHP tersebut serta permintaan agar dibentuknya lembaga rehabilitasi LGBT

Berikut pernyataan MOI tersebut :

PERNYATAAN SIKAP
MAJELIS ORMAS ISLAM (MOI)
TENTANG
RANCANGAN UNDANG-UNDANG
KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

بسم الله الرحمن الرحيم
Mencermati dengan seksama perkembangan RUU (Rancangan Undang-undang) KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) di DPR RI, maka dengan ini, mengharap rahmat, hidayah, dan ridha Allah ﷻ, Majelis Ormas Islam (MOI) menyampaikan sikap sebagai berikut:

  1. Bahwa perbuatan cabul antara manusia yang berlawanan jenis maupun yang sesama jenis adalah tindakan pidana meskipun dilakukan tidak di depan umum (ruang tertutup), tidak secara paksa, tidak dengan Kekerasan atau Ancaman Kekerasan dan meskipun korban melakukannya dengan sukarela.

  2. Bahwa perilaku memasukkan alat kelamin ke dalam anus atau mulut kepada orang lain, atau sebaliknya adalah tindakan pidana, meskipun tanpa Kekerasan dan tanpa Ancaman Kekerasan.

  3. Bahwa terhadap perbuatan perzinaan dan perbuatan cabul yang diketahui masyarakat, dapat dilaporkan oleh masyarakat dan atau Ketua RT/RW, selain orang tua, anak, suami atau istrinya.

  4. Bahwa kegiatan pelacuran dan bentuk kekerasan seksual lainnya, tetap masuk dalam tindak pidana, meskipun tidak dilakukan dengan paksaan

  5. Bahwa negara harus membangun lembaga rehabilitasi terhadap penderita penyakit jiwa LGBT sehingga dapat kembali normal dan produktif bagi bangsa dan negara

  6. Bahwa negara harus menjaga umat Islam dari pengaruh aliran-aliran sesat sesuai keputusan MUI Pusat

Jakarta, 17 Muharram 1441 H
17 September 2019 M

Ketua MOI
Drs. H. Mohammad Siddik, MA.

Persatuan Umat Islam (PUI) – Mathla’ul Anwar (MA) – Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII)
Persatuan Islam (Persis) – Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) – Hidayatullah – Al-Ittihadiyah
Al-Jam’iyatul Washliyah – Syarikat Islam – Al Irsyad Al Islamiyah – Wahdah Islamiyah
Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKsPPI).

Sumber : Panitia Konferensi Pers MOI, Gedung DDII, Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Wahdah Jakarta Depok Buka Kelas Inkubasi UKM Bersama Trainer Google

Foto bersama peserta workshop dengan trainer

(JAKARTA) Wahdahjakarta.com – Wahdah Islamiyah Jakarta-Depok menggelar kelas inkubasi UKM Online untuk para pada hari Sabtu (14/9). Hadir sebagai pemateri Coach Nunung Setiawan, trainer resmi Google yang juga telah malang melintang di dunia bisnis online.

Kelas inkubasi ini dihadiri belasan peserta yang berasal dari berbagai kalangan. Sebagian besar adalah da’i dan aktivis, sebagian lagi mahasiswa dan pelajar.

Era digital diperkirakan akan semakin disruptif kedepan. Siapa yang tidak siap dengan ini, pasti akan tergilas. Bukan hanya bisnis, dakwah pun juga dituntut demikian.

Kelas perdana di Ruang Belajar Kantor DPP Wahdah Perwakilan Jakarta ini mengangkat tema SEO (Search Engine Optimization). Yaitu cara mengoptimasi sebuah web agar bisa muncul di halaman satu Google.

Salah satu peserta dari Bekasi bernama Fajar merasa mendapat banyak manfaat dari pelatihan singkat ini. “Setelah mengikuti kegiatan ini maa syaa Allah ya, acara ini memberikan pengetahuan baru bagi saya dimana peluang berbisnis melalui dunia online luar biasa besar. Saya dapat pengetahuan baru yang belum pernah saya dapatkan, seperti ada ide dari sini untuk memulai secara benar dan tepat gitu”, ucapnya.

“Kami berharap acara ini bisa berkesinambungan dan menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan, dan bisa meningkatkan kapasitas kader-kader ikhwah Wahdah Islamiyah khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Termasuk didalamnya kita ingin mengangkat UKM-UKM baru supaya lebih produktif”, ungkap Ibawi, ketua panitia acara.

Acara ini terselenggara dengan adanya kerjasama antara Wahdah Jakarta Depok, Laznas Wahdah, Komunitas LEJIT, dan Halaqah Mus’ab bin Umair di Jakarta.
[rsp/ibw]

LAZ Wahdah Sponsori Workshop Marketing Online di Tebet

(JAKARTA)Wahdahjakarta.com- Pelatihan atau workshop marketing online sudah berhasil digelar di Kantor DPP Wahdah Islamiyah Perwakilan Jakarta, Tebet, Jakarta Selatan pada Sabtu (14/9). Workshop yang terselenggara atas kerjasama Wahdah Islamiyah Jakarta-Depok dan LAZ Wahdah ini berlangsung dari pukul 06.00 s/d 09.00 WIB pagi.

Pelatihan yang mengambil tema tentang SEO diminati oleh peserta karena pada umumnya peserta sudah mempunyai web/blog untuk memasarkan produk jualannya tetapi masih sangat sedikit pengunjung. Maka untuk menambah pengetahuan peserta tentang teknik SEO (Search Engine Optimization) dihadirkan pemateri yang ahli di bidang itu yaitu Nunung Setiawan seorang digitalprenuer dan founder hobiternak.com yang berasal dari Yogyakarta.

Nunung Setiawan ketika ditanya tentang kenapa memilih ternak sebagai konten web, ia dengan santai menjawab tidak ada patokan sebenarnya, dan kembali ke fashion masing-masing individu. “Tidak ada patokan, ketika saya memilih ternak karena peternak itu sibuk, tangannya selalu kotor jadi tidak ada waktu memegang laptop, jadi sebenarnya kembali ke fashion” ujarnya.

“Banyak web yang tidak ditemukan di google diantara penyebabnya adalah tidak terhubung dengan baik dengan situs lain, dan baru saja buat situs baru, serta kata kunci yang digunakan mempersulit google mencarinya”, tambahnya.

Salah satu peserta dari Bekasi yang bernama Fajar sangat terkesan dengan kegiatan ini kerana dalam kegiatan ini ia mendapatkan pengetahuan dan inspirasi baru dalam bisnis online. “Setelah mengikuti kegiatan ini Maa Syaa Allah ya, acara ini memberikan pengetahuan baru bagi saya dimana peluang berbisnis melalui dunia online luar biasa besar….Saya dapat pengetahuan baru yang belum pernah saya dapatkan seperti ada ide dari sini untuk memulai secara benar dan tepat gitu”, ucapnya.

“Kami berharap acara ini bisa berkesinambungan dan menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan, dan bisa meningkatkan kapasitas kader-kader ikhwah wahdah islamiyah khususnya dan masyarakat umum pada umumnya termasuk didalamnya mengangkat UKM-UKM baru supaya lebih produktif”, ungkap Ust.Ibawi, panitia acara ini. [rsp]

**

Ketua LAZNAS Wahdah Jakarta Berbagi Semangat di Seminarnya Bang Sandi

Ketua LAZNAS Wahdah Jakarta, Yudi Wahyudi bersama Sandiaga Uno di acara Pelatihan Kewirausahaan yang diadakan di Media Hotel, 7 September 2019

 

(Jakarta)Wahdahjakarta.com- Pelatihan atau Workshop Kewirausahaan telah selesai digelar di Media Hotel, Jl. Gn. Sahari, No.12, Jakarta Pusat pada Sabtu (7/9). Pelatihan yang pada rencana awalnya menghadirkan Sandiaga Uno atau yang akrab disapa dengan Bang Sandi sebagai pemateri utama tetapi karena ada halangan maka ia hanya menyampaikan pidato sambutan. Namun, peserta masih antusias dengan acara ini yang berlangsung dari pagi sampai sore yang diselenggarakan oleh PT SPI (Sejahtera Prima Indonesia).

Peserta yang menghadiri workshop ini berasal dari kalangan pengusaha UMKM yang siap tumbuh dan berkembang bersama PT SPI yang berada dalam pengawasan Bang Sandi. Ada lebih kurang 60 pengusaha UMKM hadir dalam workshop ini salah satunya berasal dari Malaysia

Di antara pengusaha UMKM lokal yang hadir ada yang berasal dari Mekar Sari, Depok bernama Yudi Wahyudi yang juga mengemban amanah sebagai Ketua LAZNAS Wahdah Jakarta. Dalam pidatonya, ia menyampaikan bahwa pada saat ini LAZNAS Wahdah merupakan Mitra UMKM yang ingin bertumbuh bersama dan berbagi.

”Bahwa kali ini Kami membawa produk binaan keagenan yaitu dari produk yang unik yang merupakan produk muslim asli Indonesia dan insya Allah kualitasnya kualitas ekspor yaitu produk permen unik dari buah asli yang rasanya macam-macam dari mulai manggis, jeruk, nanas, jambu biji, strawberry dan sebagainya ada 10 jenis”, ucapnya saat menyampaikan sambutan dihadapan 60 an peserta.

“Mudah-mudahan PT ini bisa tumbuh berkembang besar dan bisa bersinergi dengan umat dalam gerakan ekonomi kerakyatan untuk menjadi sebuah gerakan yang terstruktur, sistematis, dan masif (TSM)”, tambahnya [rsp]

**

Gerakan Penegakan Shalat Adakan Workshop, Undang Pemateri Dari Mekah

(Jakarta)Wahdahjakarta.com – Yayasan Gerakan Penegakan Shalat (GPS) mengadakan workshop bersama lembaga-lembaga dakwah di Jakarta, Rabu (28/8). GPS mengundang Syaikh Abdul Karim as Sulami dari Masyru’ Ta’zhim Qadr ash Shalaah di Mekkah sebagai pemateri utama.

Syaikh Abdul Karim yang sudah malang melintang di berbagai negara, berbagi materi dan pengalaman yang menurut para peserta sangat menarik. Imam Masjid Al Ijabah di Makkah Al Mukarramah ini bahkan menceritakan pengalamannya ketika di Albania.

“Negara yang mayoritas muslim itu, jumlah orang yang meninggalkan shalat mencapai 85 persen. Angka ini cukup mencengangkan bagi peserta yang hadir. Ini menambah motivasi tersendiri bagi para da’i yang hadir. Agar Indonesia tidak mengalami hal yang sama.”, ujar ust ibawi, panitia acara ini.

Workshop yang disponsori oleh LAZIS Wahdah ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda.
Semua peserta yang hadir hari ini, baik alumni Madinah, LIPIA, Al Azhar Mesir, Ar Raayah, Al Irsyad, STIBA dan lainnya, menyampaikan kepuasannya dan rasa syukur yang mendalam atas kesempatan yang diberikan untuk mendapatkan berbagai mutiara dari materi yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Karim.

Bahkan salah seorang dari peserta sampai mengatakan, “Seakan-akan kita baru belajar shalat sekarang ini.” Yang lain lagi mengungkapkan, “Kayaknya kita selama ini belum shalat (yang sebenarnya).” [ibw/rsp]

**

Fintech Syariah, Bantu Modal UKM Potensial

 

Pemandangan booth UKM syariah yang menjadi peserta Muslim Life Fest 2019

(JAKARTA) Wahdahjakarta.comFinancial Technology (Fintech) Syariah akhir-akhir ini mulai dikembangkan sebagai inovasi kreatif untuk pengembangan ekonomi syariah yang menggabungkan teknologi dengan investasi. Salah satunya dengan membantu permodalan UKM potensial seperti yang disebutkan oleh ketua KPMI.

Dalam wawancara eksklusif dengan Wahddahjakarta.com pada hari terakhir Muslim LIfe Fest 2019 DI JCC Senayan(1/9/2019), CEO ETHIS, Ronald Yusuf Wijaya yang merupakan salah satu dari anggota Fintech Syariah mengungkapkan bahwa permodalan UKM yang memiliki grafik pertumbuhan yang bagus adalah salah satu upaya Fintech Syariah dalam membantu UKM Syariah yang terkendala dalam permodalan.

“Kan kalau orang untuk pembiayaan selalu kepikirannya antara bank, atau temen deket. Sekarang dengan konsep Fintech Syariah ini justru UKM dapat akses permodalan dari lingkungan yang mereka tidak kenal” ujar Ronal.

Ronal menjelaskan, tugas dari Fintech Syariah adalah sebagai platform yang mempertemukan investor dengan perusahaan.

“Kita sebagai platform, ketika ada proyek mereka yang dianggap layak, itu akan ditaruh di website, lalu orang yang punya uang bisa melihat proyeknya, kalau mereka nyaman dengan mitigasi proyek tersebut, mereka bisa patungan rame-rame” terangnya.

Menurut Ronal, hal tersebut bisa menyesuaikan antara pihak yang membutuhkan modal dengan pemilik modal.

“Dengan begini, bisa me-matching-kan orang yang kurang dana dengan orang yang punya dana lebih.” kata Ronal

Perbedaan dari Fintech Syariah dengan Bursa efek adalah dari segi besar atau kecil perusahaan yang tergabung dalamnya.

“Bursa Efek itu kan tempat buat perusahaan besar, kalau itu buat perusahaan besar yang punya profit milyaran. Kalo disini, bursanya didanai oleh masyarakat luas” terang Ronal

Ronal juga menyebutkan mengenai pembagian produk Fintech Syariah, seperti Payment, Agregator, logo advisor.

“Untuk keanggotaan, di Asosiasi Fintech Syariah saat ini udah 100 lebih, 55 diantaranya sudah fintech, yang lain itu diluar fintech kita ajak gabung” papar Ronal.

Untuk feedback-nya, Fintech Syariah mengharapkan transparansi dari UKM itu sendiri mengenai kemajuan perusahaannya.

“Harus tranaparan, data semua yang ada harus di share ke kami, bahkan spek barangnya pun harus di share, karena syariah kan gak boleh ghoror” tutur Ronal.

Terakhir, Ronal mengharapkan agar penggunaan Fintech Syariah mampu memperkuat pasar ekonomi syariah di Indonesia maupun dunia.

“Tugas kami mengedukasi publik secara luas mengenai pemanfaatan teknologi di keuangan syariah dimana ini akan menjadi kunci utama mendorong ekonomi syariah di Indonesia bahkan di dunia.” tandasnya. (fry)

Tips Memilih Properti Syariah yang Aman Oleh Dewan Pengawas APSI

(JAKARTA) Wahdahjakarta.com — Selain menampilkan booth properti syariah, Muslim Life Fest  juga mengadakan talkshow bertemakan “APSI – Properti Syariah antara harapan, kenyataan dan tantangan” yang diadakan di gelaran hari terakhir (1/9).

Melalui kegiatan ini, Muslim Life Fest berupaya untuk memberikan pencerahan tentang apa itu properti syariah kepada masyarakat.

Properti syariah adalah properti yang transaksi kepemilikannya dilakukan berdasarkan ajaran Islam. Dewan Pengawas Properti APSI (Asosiasi Properti Syariah Indonesia) Hardiana kemudian menjelaskan bahwa ada 3 hal penting yang harus diperhatikan dalam property syariah yakni : Pertama, yang harus kita hindari adalah riba. Kedua, tidaklah gharar (penipuan). Ketiga harus terhindar dzalim.

Dalam talkshow tersebut, Hardiana juga memberikan sejumlah tips kepada masyarakat untuk memilih dan membeli properti syariah. Ia menyatakan bahwa salah satu aspek terpenting dalam membeli properti syariah adalah seorang calon pembeli harus mengetahui legalitasnya terlebih dahulu.

“Ketika kita akan membeli properti, kita harus mengetahui legalitasnya terlebih dahulu. Legal itu artinya properti itu sah secara hukum dan sah secara agama. Dia memiliki produk hukum yang sesuai dengan peraturan pemerintah sesuai tempat tinggal.” tuturnya.

Menurutnya, properti syariah yang aman adalah properti yang telah memiliki izin lingkungan dari pemerintah setempat. Jika tidak ada, sebaiknya dihindari karena berpotensi menimbulkan masalah.

Selain itu, calon pembeli juga dapat menanyakan siteplan kepada pihak pengembang untuk lebih memastikan keamanannya.

Dalam memilih properti, biasanya seseorang akan mempertimbangkan kedekatan antara properti yang hendak dibeli dengan beberapa tempat umum seperti stasiun, halte dan bahkan jalan tol. Hal ini tidak salah.

Namun ada baiknya, calon pembeli juga harus memperhatikan tempat tinggal yang hendak ditempati dengan sejumlah tempat kegamaan, seperti masjid, sekolah Islam, rumah tahfidz dan bahkan rumah pemuka agama dengan harapan untuk mendapatkan keberkahan dengan lebih luas.

Dalam gelaran selama 3 hari ini, Direktur Lima Event, Deddy Andu mengatakan jumlah pengunjung mencapai lebih dar 60 ribu orang.

“Antusiasme yang besar di kalangan pengunjung mendorong kami untuk meningkatkan lagi kualitas pelaksanaan dengan program-program yang lebih kreatif, inovatif dan solutif untuk kemajuan ekonomi umat,” tutur Deddy Andu.

Properti Syariah Menggeliat, Muslim Life Fest Ajak Masyarakat Kenal Lebih Dekat

Booth De Kost Indonesia saat acara Muslim Life Fest 2019.

(JAKARTA) Wahdahjakarta.com — Industri properti syariah di Indonesia kian menggeliat. Seiring mencuatnya tren gaya hidup halal di masyarakat, semakin meningkat pula permintaan masyarakat terhadap kebutuhan properti syariah.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2016 menyebut bahwa porsi pembelian properti melalui sistem syariah meningkat 11,23 persen per tahun.

Dalam Indonesia Muslim Lifestyle Festival (Muslim Life Fest) yang berlangsung dari 30 Agustus-1 September 2019 di Jakarta Convention Center lalu, properti syariah menjadi salah satu  sorotan yang menarik pengunjung.

Berbagai properti syariah hadir dan menawarkan keunggulannya masing-masing.

DeKost Dramaga Riverside misalnya, apartemen kos syariah pertama dan terbesar di Indonesia yang terletak di jalan Cilubang Raya, dekat IPB Bogor ini memiliki 3 tower dengan total 1200 unit. Ketiga tower yang berada di area 1,74 hektar ini dikhususkan untuk pria (ikhwan), perempuan (akhwat) dan keluarga muda.

Saat ini sudah terjual sebanyak 450 unit. Harga per unitnya cukup terjangkau berkisar Rp 222 juta (view dalam) dan Rp 229 juta (view luar), bisa dilakukan secara tunai, bertahap maksimal 3 bulan dan angsuran selama maksimal 18 bulan.

Minat para orang tua mengambil apartemen tersebut cukup besar.

Menurut data penjualan De Kost Dramaga Riverside, saat ini sudah terjual sekitar 450 unit.

Yang membedakan apartemen ini dengan apartemen pada umumya adalah bukan sekedar menyediakan hunian, sekaligus juga program-program pengbangan akidah, akhlak, juga bisnis untuk para mahasiswa.

Ada 7 program yang terintergrasi yaitu shalat subuh berjamaah, tahfidz quran, kajian fiqih muamalah, amanah preneur, beasiswa, mentoring bisnis syariah dan akses berjejaring dengan komunitas bisnis syariah.

Selain apartemen, ada pula hunian keluarga yaitu Sakinah Islamic Village dan The Ortensia Village, yang terletak di Bogor, Bekasi dan Tangerang.

Properti syariah yang satu ini menawarkan hunian murah berkonsep islami untuk keluarga bahagia. Harga rumah yang ditawarkan berkisar mulai dari Rp 180 juta untuk tipe 30/70 sampai dengan Rp 500 juta untuk tipe 70-an.

Sumber : Rilis Media Muslim Life Fest