Prof Wan: Problem Utama Dunia Islam Saat Ini Adalah Kerusakan Ilmu

Kuliah Internasional dan Peluncuran Buku “Budaya Ilmu” karya Prof. Wan Mohd nor Wan Daud

Wahdahjakarta.com -, Menyambut tahun baru Islam 1441 H Attaqwa College Depok menggelar Kuliah Internasional “Budaya Ilmu Asas Kebangkitan Peradaban dan Tantangannya”, Sabtu (31/08/2019) malam. Kuliah ini terbilang unik dan langka, karena digelar di Ballrom sebuah Mall. Meskipun langka tapi animo para pecinta ilmu cukup tinggi. Pantauan Wahdahajakarta.com 400 kursi yang disiapkan panitia nyaris terisi penuh.

Kuliah yang dimoderatori direktur ATQO, Adian Husaini ini menghadirkan ilmuwan Melayu Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud. Kuliah yang dirangkaikan dengan peluncuran buku “Budaya Ilmu” ini diawali oleh Prof Wan dengan pernyataan, problem utama dunia Islam saat ini adalah problem ilmu.

Menurut Prof Wan pandangan tentang problem ilmu ini telah dikemukakan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas sejak tahun 1970an.

“Masalah umat saat ini bukan hanya kemiskinan, perpecahan, kemunduran ekonomi, kemunduran politik, dan kemunduran keluarga. Tapi masalah terbesar adalah problem ilmu”, ujar murid terkemuka Al-Attas ini.

Problem ilmu yang dimaksud kata Prof Wan mengutip Al-Atass bukan hanya kejahilan atau ketiadaan ilmu. “Tapi konsep ilmu yang rusak”, jelasnya. Konsep ilmu yang rusak kata Prof Wan melahirkan ilmuwan yang rusak pula.

“Ilmuwan yang rusak adalah ilmuwan yang rusak adab dan akhlaqnya”, jelasnya. Karena  tujuan ilmu dalam Islam adalah melahirkan manusia yang beradab.

Solusi dari problem ini menurut Wan Mohd Nor adalah menghidupkan budaya ilmu di tengah-tengah masyarakat Islam. Budaya  ilmu artinya bukan sekadar mengejar ilmu pengetahuan, gelar strata satu atau strata dua. Melainkan untuk menjadikan manusia yang bermoral dan beradab. Sebab tujuan ilmu adalah untuk membangun manusia yang berakhlak dan beradab.

“Budaya ilmu yang tidak melahirkan adab akan merusak diri dan orang lain”, jelas Pengasas dan Mantan Pengarah Pengarah Pusat Pengajian Tinggi Islam, Sains dan Peradaban (CASIS), Universiti Teknologi Malayia (UTM).

“Ilmu bukan sekadar maklumat, information. Tapi makna. Makna mengenal diri, untuk mengenal Allah Swt. Setiap ilmuwan harus mengenal tuhannya. Setelah itu dia akan berakhlak, beradab, sebaik-baiknya. Bukan sekadar mau menguasai bidang-bidang tertentu saja,” ungkapnya.

“Sumbangan umat Islam, bukan hanya melahirkan orang-orang yang pakar dalam bidang optik dan lainnya, tapi membentuk manusia yang bertanggung jawab pada tuhannya, nabinya, manusia, dan makhluk lain. Pada bidang ini, dunia tak bisa mengungguli,” jelasnya.

Fenomena kerusakan ilmu yang turut disoroti oleh pelopor International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) ini adalah soal perhatian terhadap skala prioritas dalam mempelajari ilmu. Salah satu buktinya sebut Prof Wan adalah yang fardhu ain dianggap fardhu kifayah, fardhu kifayah dianggap fardhu ain, fardhu ain disempitkan dan terhenti saat baligh saja.

Selama satu setengah jam, mantan Presiden Kebangsaan Persatuan Pelajar Islam Amerika Serikat dan Kanada ini memaparkan mareri kuliahnya dengan lugas dan bernas serta menjawab beberapa pertanyaan hadirin,

Kuliah ini dirangkaiakn dengan Peluncuran buku karya Prof Wan, “Budaya Ilmu; Makna dan Manifestasi dalam Sejarah dan Masa Kini”. Diantara karya Prof Wan yang tereknal di tanah air antara lain Filsafat Pendidikan dan Praktik Syed Muhammad Naquib al-Attas: Sebuah Eksposisi Konsep Asli Islamisasi (1998), yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.  []

 

Disertasi UIN SUKA Halalkan Sex di Luar Nikah, Ustadz Zaitun: Innalillah, Ini Musibah

Abdul Aziz dan disertasinya yang bolehkan hubungan sex di luar nikah. Photo;Mediasuara.com

Wahdahjakarta.com -, Ketua Umum Wahdah Islamiyah (WI) Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin memandang lulusnya disertasi Abdul Aziz di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) Yogyakarta yang menghalalkan hubungan sex di luar nikah sebagai musibah.

“Kita di MUI dan ormas Islam pertama menyikapi disertasi ini dengan ucapan innalillahi wa inna ilaihi raji’un”, ujarnya mengawali perbincangan tentang disertasi tersebut di Talkshow Indonesia Pagi TvOne, Ahad (01/09/2019).

Anehnya Abdul Aziz  justru merasa disertasinya bisa menjadi solusi mengatasi problem diskriminasi dan pelanggaran HAM. Ia berdalih, hubungan sex yang dihalalkan dalam Al-Qur’an ada dua. Hubungan sex dengan pasangan yang sah dan diikatboleh pernikahan dan hubungan sex dengan milk al-yamin, yang oleh Aziz diistikahkan dengan sex non marital.

Disertasi Abdul Aziz berjudul Milk Al Yamin: Muhammad Syahrur Sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital. Dia menggunakan konsep Milk Al-Yamin dari intelektual liberal asalSuriah,  Muhammad Syahrur, yang menyatakan seks di luar nikah dalam batasan tertentu tak melanggar syariat Islam.

Aziz  menyebut bahwa sering terjadi kriminalisasi terhadap hubungan seksual nonmarital. Aziz pun tak luput memberi beberapa contoh kasus dalam pelaksanaan hukum yang  kemudian berujung kepada hukuman mati terhadap pelaku.

“Contoh kasus yang mengerikan itu tadi, hukuman mati karena dituduh zina seperti kasus di Aceh tahun 1999 dan di Ambon tahun 2001. Semua itu karena mereka memakai hukum Islam tapi menganggap hubungan seksual nonmarital itu masuk kelompok hubungan zina yang bisa dirajam.” papar Aziz.

“Memang di Al Qur’an ada ayat yang menjelaskan mengenai zina, tetapi definisi zina kan tidak ada itu.” ungkapnya.

Wasekjen MUI ini menanggapi hal tersebut dengan menyayangkan pendapat Aziz. Menurut beliau, pembahasan definisi zina itu di kalangan para ulama sudah selesai dan masyarakat awam pun sudah tahu secara lumrah makna sebenarnya dari zina.

“Kalau definisi zina gak ada, saya tidak tahu kalau seorang doktor bicara begitu, pembahasan zina di kalangan para ulama itu sudah selesai. Bahkan orang-orang baru belajar Islam pun sudah tahu.” ujar UZR.

UZR menyebut bahwa persoalan tersebut terlalu sering disamarkan dengan istilah-istilah asing yang membuatnya kurang dipahami oleh masyarakat awam.

“Persoalan ini yang sebetulnya agak disamar-samarkan dan tidak diterjemahkan, kenapa tidak dijelaskan makna sebenarnya mengenai seks bebas di luar pernikahan? inilah yang kami sayangkan di zaman kita ini.” tanggap Ustadz Zaitun.

“Milkul Yamin itu artinya perbudakan, bukan komitmen seperti yang disebutkan oleh pak Abdul Aziz dan Syahrur juga. Milkul Yamin itu datang sebelum adanya Islam, dimana budak dianggap sebagai hak milik dan dilegalkan untuk melakukan perzinahan dengan budak tersebut. Namun setelah Islam datang, maka hal itu dihapuskan dengan menyempitkan persepsi itu dan membebaskan para budak.” jelas UZR.

“Ini yang tidak diterjemahkan, tiba-tiba Milkul Yamin itu dibawa kepada istilah hubungan seksual yang dilakukan secara komitmen suka sama suka diluar pernikahan. komitmen apa itu?” tangkas UZR lagi. “Kalau itu bilang saja sex bebas”, tegasnya.

Menurut UZR, penyamaran istilah seperti itu adalah sebuah musibah besar apalagi untuk masyarakat awam, karena perzinahan adalah persoalan yang langsung ditentang dalam ayat dalam Al Qur’an.

“Orang berzina saja itu sudah musibah, apalagi berzina dan merasa itu boleh, itu adalah musibah yang adzhom, dan para ulama dan tokoh harus berbicara, ini tidak boleh berlanjut sampai kemudian diamalkan.” tegas UZR.

Kemudian UZR berpesan mengenai penghalalaan hubungan seksual pra-nikah bahwa masyarakat harus takut akan kedatangan musibah sebagai dampaknya.

“Takutlah kita akan kedatangan musibah. Kalau alasan, semua orang bisa cari pembenaran. Ini adalah perbuatan yang bertentangan dengan syariat Islam.” pesan UZR.(fry)

Pertama Kali, Jakarta Adakan Perayaan Meriah Tahun Baru Hijriyah

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan saat menyapa para pengunjung Jakarta Muharram Festival 2019. Sumber : Instagram @aniesbaswedan

(JAKARTA) Wahdahjakarta.com — Pemprov DKI Jakarta adakan pesta penyambutan tahun baru hijriyah pertama kali digelar di sekitaran Bundaran Hotel Indonesia pada Sabtu(31/8/2019). Acara tersebut dihadiri langsung oleh gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan dibuka oleh ceramah ustadz Maulana.

Festival diisi dengan beragam acara, pertunjukan dan penampilan, mulai dari Halal Food Festival, Beauty Jakarta Festival, Muharram Concert, Fire Dance dan Piala Gubernur Pawai Obor.

“Alhamdulillah, untuk pertama kalinya Pemprov DKI Jakarta menyelenggarakan perayaan malam Tahun Baru Hijriah, #JakartaMuharramFestival ditandai dengan panggung budaya dan pawai obor yang merupakan tradisi kita.” tulis Anies di Instagram pribadinya.

Anies mengungkapkan, perayaan Tahun Baru Islam kali ini merefleksikan kebaruan Pemprov DKI dalam menghadirkan kesetaraan dan keadilan bagi seluruh warga di Jakarta setelah kemarin Pemprov DKI telah melakukan serah terima kunci hunian DP 0 rupiah yang bukan sekadar pelaksanaan program, melainkan suatu bentuk kesetaraan bagi warga yang ingin memiliki hunian.

“Kita ingin Jakarta membawa kebaruan dan kesetaraan salah satunya adalah melalui acara ini di mana ribuan pedagang kecil merasakan manfaat kegiatan ini dan manfaat ekonomi ini dirasakan sampai ke bawah, karena itulah fokus Pemprov DKI.” tangkas Anies.

Shalat Isya berjamaah bersama Syaikh Ahmad Al Misry

Selain mengikuti rangkaian acara yang bernama Jakarta Muharram Festival 2019 tersebut, Anies juga melakukan salat Isya berjemaah bersama warga DKI Jakarta di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat yang diimami langsung oleh Syekh Ahmad Al Misri, guru besar dari negara Mesir.

Sekitar 4.000 peserta ada yang mengikuti pawai obor yang mulai berjalan sejak pukul 19.15 WIB. Pawai diawali dari Jalan Medan Merdeka Barat, Silang Monas, menuju ke Bundaran HI.

Para peserta obor datang dari lima wilayah kota Jakarta ditambah Kepulauan Seribu. Para peserta laki-laki mengenakan pakaian koko sedangkan perempuan kebanyakan memakai gamis. Tampak masing-masing dari mereka memegang tongkat obor. Api yang digunakan bukan api sungguhan, melainkan lampu elektrik.

Acara puncaknya, Pemprov DKI juga telah menyiapkan pertunjukan Water Screen Projection Laser di air mancur Bundaran HI dan 3D Project Mapping Building yang bakal menarik perhatian pengunjung dan pertunjukan menarik lainnya.

“Kami mohon doanya agar dimudahkan dalam mewujudkan program-program Pemprov DKI, agar selalu istiqomah untuk memajukan kota dan membahagiakan warganya. Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1441 Hijriah.” tulis Anies terakhir.(fry)