Wartawan Kagum Daya Tangkap Jurnalistik Santri Cibinong

(BOGOR) Wahdahjakarta.com — Para Pemateri dari wartawan nasional mengungkapkan kekagumannya terhadap daya tangkap santri tahfidz Ponpes Wahdah Islamiyah cibinong dalam latihan Ekstrakurikuler (Ekskul) Jurnalistik pada Ahad(27/10/2019).

Pasalnya, kelas jurnalistik tersebut pertama kali diadakan disana dengan mengikutsertakan santri sebagai peserta.

Para santri pun ikut dengan antusias mendengarkan pemaparan materi dari para wartawan professional selama lebih kurang 6 jam.

Santri cibinong saat sesi latihan wawancara bersama Faroeq Iskandar, wartawan luwuk.today

Setelah pemaparan materi, seperti workshop biasa, santri diminta untuk mempraktekkan materi yang telah disampaikan dengan menulis beberapa berita yang bebas sesuai keinginan masing-masing. Alhasil, pengerjaan berita tidak lebih dari 30 menit kemudian para pemateri menyatakan hasilnya yang bagus setelah mengecek berita masing-masing santri.

Ustadz Anwar Aras, sebagai ketua pelaksana workshop mengatakan bahwa kelas ini adalah bentuk usaha untuk mengembangkan bakat santri dalam bidang jurnalistik dan mengenal lebih dekat dunia kewartaan.

“Kita berharap ini adalah langkah awal untuk mengenalkan santri lebih dekat dengan dunia literasi dan penulisan, agar bisa memunculkan jurnalis-jurnalis baru yang siap adil dalam membela umat dengan tulisan-tulisan mereka.” tanggap Anwar.

Fadel, salah satu wartawan dari (wahdahjakarta.com) juga melihat bahwa event ini juga merupakan salah satu kegiatan dakwah yang memang harus ditanamkan dalam diri santri.

“Ini peluang dakwah, dimana kita menanamkan dalam diri santri untum kritis dalam menyaring berbagai informasi yang diterima dari berita hoax” ujarnya.

Salah satu pemateri dari harian luwuk.today, Faroeq Iskandar mengungkapkan kekagumannya mengenai daya tangkap santri saat kelas berlangsung yang relatif cepat dan sudah menghasilkan beberapa berita yang cukup relevan untuk ditampilkan dalam portal berita.

“Saya kagum dengan daya tangkap santri, walaupun workshop hanya berjalan sehari, tapi hasil beritanya sudah cukup bagus, bahkan sudah memiliki kapasitas untuk ditampilkan dalam portal.” ungkap Faroeq

“Dulu tahun 2011, masih ada temen-temen jurnalis yang baru belajar yang bikin bingung editor ngolah beritanya, tapi mereka bahkan sudah hampir bisa dipakai beritanya untuk posting di portal” terangnya.

Wartawan Indonesiainside.com, Zuhdi juga mengatakan hal demikian. Menurutnya selain daya tangkap santri yang kuat, keinginan untuk terus belajar juga ada.

“Selain daya tangkap santri yang kuat, keinginan untuk terus belajar juga ada. Ini sangat bagus.” ungkapnya

“Yang terpenting adalah metodologi pembelajaran yang dapat disederhanakan dan diterima secara operasional oleh para santri. Sehingga dapat diterapkan secara mudah dan praktis.” jelasnya

Zuhdi menyebut, kunci belajar menulis adalah memahami kerangka penulisan. Menurutnya, teori tidak akan dapat berjalan baik apabila tidak ada teknik dasar.

“Kuncinya adalah mengetahui kerangka penulisan. Ini penting sebagai teknik mendasar. Karena sebagus apapun teori jika tidak dapat ditangkap dengan baik dan sederhana juga akan sulit.” tandasnya.

(fry)

SMART 171 Salurkan Bantuan Musim Dingin untuk Pengungsi Suriah

Wahdahjakarta.com -,  Tim Solidaritas Muslim untuk Alquds Retaken 171 (SMART 171) menyalurkan bantuan musim dingin pada pengungsi Suriah di Turki Selatan, pada Ahad-Senin (27-28/10/2019).

Bantuan senilai 174 juta rupiah itu  berupa paket makanan dan selimut. Pengungsi Suriah tersebut berdiam di Reyhanli dan Kilis, kota perbatasan Turki dengan Suriah.

Sebagian besar pengungsi berasal dari Yarmuk, Homs, dan Aleppo. Ada yang baru sampai dari Suriah, ada yang telah hampir setahun tinggal di Turki. Rata-rata mereka memasuki Turki melalui Idlib. Perjalanan menuju Turki mereka lakukan dengan jalan kaki dengan masa tempuh sekitar sepekan lamanya.

Semua pengungsi memiliki kisah traumatis. Ada keluarga yang tersisa yang perempuan saja. Semua lelaki dewasa dalam keluarga meninggal atau masih di dalam penjara Bashar Assad.

Selain menyampaikan bantuan musim dingin, SMART 171 juga membagi kue dan coklat bagi anak anak dalam kamp pengungsi.

“Harganya tidak seberapa, tapi semoga bagi anak-anak ini semoga membahagiakan,” ungkap Maimon Herawati, ketua SMART 171.

Esok, tim SMART 171 dan Khairu Ummah juga akan menyampaikan bantuan selimut dan makanan untuk pengungsi di Idlib, Suriah. Pengungsi Suriah ini telah setahun lebih hidup di bawah pohon. Mereka akhirnya bisa mendapatkan tenda, tapi masih kosong. “Maunya kita juga masuk ke sana, tapi karena pertimbangan keamanan, kami meminta tolong lembaga rekanan untuk menyampaikannya,” jelas Maimon menjelang keberangkatan kembali ke Istanbul dari Kilis. []

Kelas Jurnalistik Santri Tahfidz Cibinong Diajar Langsung Oleh Wartawan

(BOGOR) Wahdahjakarta.com — Ponpes Wahdah Islamiyah Cibinong menggelar pelatihan Ekstrakurikuler (Ekskul) Jurnalistik pada Ahad(27/10/2019) bersama wartawan professional.

Kelas yang dibuka untuk santri dan mahasiswa itu dilaksanakan di aula pondok dengan peserta sekitar 12 orang dan diajar oleh para wartawan yang bekerjasama di PT. Media Siber Celebes (MISC) yang diakomodir oleh Humas dan Infokom DPW Wahdah Jakarta.

Materi yang disampaikan beragam, mulai dari teknis menulis berita dan Press Release bersama Zuhdi dari (indonesiainside.com) hingga teknik wawancara dan reportase, bersama Faroeq Iskandar dari (luwuk.today).

Ustadz Anwar Aras, sebagai ketua pelaksana workshop mengatakan bahwa kelas ini adalah bentuk usaha untuk mengembangkan bakat santri dalam bidang jurnalistik dan mengenal lebih dekat dunia kewartaan.

“Kita berharap ini adalah langkah awal untuk mengenalkan santri lebih dekat dengan dunia literasi dan penulisan, agar bisa memunculkan jurnalis-jurnalis baru yang siap adil dalam membela umat dengan tulisan-tulisan mereka.” tanggap Anwar.

Fadel, salah satu wartawan dari (wahdahjakarta.com) juga melihat bahwa event ini juga merupakan salah satu kegiatan dakwah yang memang harus ditanamkan dalam diri santri.

“Ini peluang dakwah, dimana kita menanamkan dalam diri santri untuk kritis dalam menyaring berbagai informasi yang diterima dari berita hoax” ujarnya.

Santri-santri di pesantren kabupaten Bogor itu juga mengaku terkesan dan semangat karena minatnya tersalurkan khususnya dalam dunia jurnalistik.

“Lumayan asik, karena jarang-jarang bisa belajar nulis berita langsung sama wartawan.” ungkap salah satu santri.

(fry)

Sesibuk Apapun, Jangan Nomor2kan Allah

 

Sesibuk Apapun, Jangan Nomor2kan Allah

Apa yang kamu minta pasti bakal dikasih sama Allah. Apa coba yang gak bisa Allah beri buat kita. Tinggal sebutin “Kun Fayakuun” semuanya dan apapun bisa dikasih sama Allah, iya kan?

Tapi Allah punya caranya tersendiri dalam hal mengabulkan doa. Tak perlu buru-buru, karena Allah tahu apa yang kita butuh

Jadi mulai sekarang utamakan Allah. Apa yang mau kita lakuin kita ingat Allah. Usahakan setiap langkah kaki kita, sikap hidup kita, segala yang keluar dari ucapan kita, nggak jauh dari Allah terus

Kalau sudah doa, sudah minta sama Allah, mesti bin wajib dan kudu yakin sepenuhnya sama Allah kalau doa kita itu bakalan terkabul

Nggak ada lagi kalimat ’Tapi kok?’ atau ’Kenapa ya?’ atau ’Aduh, pusing ya Rabb, kenapa bisa jadi begini? ‘

Pokoknya jangan jauh-jauh dari Allah deh. Hidup itu kalau terlalu jauh sama Allah nggak enak, dijamin. Pokoknya jangan nomorduakan Allah, itu aja sih pesan gue 

Buat Apa Sih Beasiswa Hafidz Al-Qur’an? Tanggapan Untuk Ade Armando

Ade Armando mempertanyakan, “Buat Apa Sih Beasiswa Hafidz AlQuran?” Photo: Youtube

 BUAT APA SIH BEASISWA HAFIDZ AL-QUR’AN

(Tanggapan Untuk Ade Armando)

Berhari lalu beredar video Ade Armando (AA) yang mempermasalahkan kebijakan beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang menerima calon mahasiswa penghafal Al-Qur’an melalui jalur khusus. Ini bukan kali pertama AA memprotes kebijakan ini. 25 Juni Ade juga curhat di Fan Page pribadinya @adearmandosesungguhnya tentang ketidaksetujuannya terhadap kebijakan PTN yang membuka jalur khusus bagi calon mahasiswa penghafal Al-Qur’an. Bahkan sejak  tiga tahun lalu (Mei 2016) dosen Ilmu Komunikasi salah satu PTN ini telah menolak ‘’perlakuan istimewa” terhadap para penghafal Al-Qur’an.

Pada 21 Mei 2016 Ade mempertanyakan kebijakan “jalur khusus’’ bagi hafidz pada editorial madinaonline.id yang dipimpinnya melalui sebuah artikel berjudul, “Buat Apa Perguruan Tinggi Negeri Membuka Kuota bagi Penghapal Al Quran?”.

Ketidak senangan Ade pada kebijakan yang “mengistimewakan” para penghafal Al-Qur’an disampaikan kembali melalui tulisan singkat di laman FP @adearmandoyangsesungguhnya pada 25 Juni. Ia menulis:

“SAYA TIDAK SETUJU PARA PENGHAPAL AL QURAN BISA DITERIMA PERGURUAN TINGGI NEGERI MELALUI JALUR KHUSUS

Saya menghargai bahwa ada anak-anak muda yang bersedia menghapal Al Quran.

Tapi kemampuan menghapal Al Quran tidak ada korelasinya dengan kemampuan akademik seseorang.

Keunggulan para hafidz adalah mereka mampu menghapal. Itu saja.

Kemampuan menghapal Al Quran bahkan tidak ada hubungannya dengan integritas moral seseorang. Karena itu tidak sepantasnya PTN yang dibiayai rakyat menerima mahasiswa tanpa ujian hanya karena ia penghapal Al Quran.

Rupanya belum putus asa, Ade terus menampakan penolakan terhadap kebijakan yang memberikan kesempatan kepada para penghafal Al-Qur’an masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur khusus. Berhari lalu Ade mengunggah video singkat berisi protes terhadap kebijakan yang menurutnya diskriminatif dan tidak ada manfaatnya.

Menyimak penolakan dan protes A. Armando penulis menyimpulkan, alasan dia tidak setuju para penghapal Al-Qur’an diterima masuk PTN melalui jalur khusus adalah diskriminasi, integritas dan akhlaq serta kemampuan akademik. Ketiga alasan ini oleh Ade dianggap menghalangi jatah/kuota calon lain yang lebih layak dan potensial.

Ilustrasi: Santri penghafal Al-Qur’an sedang memperdengarkan (tasmi’) hafalannya

Tanggapan

Kebijakan ini diskriminatif?

Ade menyimpulkan bahwa menerima penghafal Al-Qur’an masuk PTN melalui jalur khusus merupakan bentuk diskriminasi terhadap non Islam. Karena yang bisa mengakses beasiswa atau program jalur khusus ini hanya calon mahasiswa yang beragama Islam. Calon mahasiswa non Muslim tidak dapat mengakses jalur khusus ini. Menurut Ade ini berimplikasi jatah calon mahasiswa non muslim diambil oleh calon mahasiswa muslim yang hafal Qur’an.

Sebenarnya jika Ade berpikir adil dan objektif tidak akan sampai pada simpulan, kebijakan ini diskriminatif. Karena “jalur khusus” bagi calon mahasiswa bukan hanya melalui jalur hafidz. Kampus PTN maupun PTS ada membuka jalur khusus bagi calon mahasiswa berprestasi di bidang lain, seperti olahraga/atlit (Ade juga tidak setuju), aktivis organisasi seperti pengurus OSIS, dan lain sebagianya. Di jalur ini terbuka peluang yang sama dan setara antara calon mahasiswa Muslim dan non Muslim. Kedua, Kalau mau dapat jalur khusus yang sama atau serupa, silahkan lembaga keagamaan di luar Islam mengusulkan “fasilitas” dan “kekhususan” yang sama kepada rektor PTN/PTS. Kalau perlu ke Kemenristekdikti sekalian. Minta jalur khusus masuk PTN/PTS bagi calon mahasiswa yang hafal Bibel, atau Weda, atau Kitab Suci lainnya. Jadi, soal diskriminatif clear.

Ade sendiri sepertinya ingin mengusulkan hal ini. Ia mengatakan;

“Tambahan lagi kebijakan semacam ini akan terkesan diskriminatif terhadap mahasiswa non-Islam. Kemudahan ini hanya diberikan pada siswa muslim dan sama sekali tak mungkin dimanfaatkan oleh siswa non-muslim. Kalau mau adil, seharusnya perguruan tinggi negeri ini juga memberikan kesempatan khusus bagi mahasiswa non-muslim berdasarkan penguasaan ilmu agama mereka. Kalau ini dianggap tidak masuk akal, ya begitu juga kebijakan memudahkan penghapal Al Quran ini tidak masuk di akal”. (http://www.madinaonline.id/c907-editorial/buat-apa-perguruan-tinggi-negeri-membuka-kota-bagi-penghapal-al-qurangeri-membuka-kuota-bagi-penghapal-al-quran/)

Usulan Ade tidak apple to apple, karena fasilitas jalur khusus bagi mahasiswa non muslim bukan menghafal kitab suci, tapi penguasaan ilmu Agama. Ini jelas tidak sama. Kalau syarat bagi non muslim diberlakukan bagi mahasiswa muslim, maka lebih banyak lagi dari kalangan pelajar muslim yang diterima di PTN/PTS melalui jalur khusus. Ntar Ade makin stress.

Penghafal Qur’an Tidak Layak Kuliah di Jurusan Umum di PTN/PTS?

Ade sepertinya menganggap, para penghafal Al-Qur’an tidak layak kuliah pada jurusan umum di PTN maupun PTS. Anggapan ini lahir dari sindrom sekularisme yang bercokol pada pikiran Ade. Ade terlanjur terjebak dalam dikotomi Ilmu Agama/Al-Qur’an dan Sains. Sehingga Ade pakai istilah ilmu umum, yang menurutnya penghafal Al-Qur’an tidak mampu mempelajari dan mendalaminya. Ini sangat keliru. Karena dalam Islam tidak dikenal dikotomi yang seperti ini. Sejarah telah mencatat, para Ulama, Saintis dan Ilmuwan Muslim zaman dulu hingga saat ini mengawali proses belajar dan mencari ilmu dengan menghafal Al-Qur’an. Sebutlah misalnya; Imam Syafi’i, Ibn Taimiyah, Ibn Sina, Fakhruddin Al-Razi, Ibn Khaldun, Yusuf Qaradhawi, Dr. Raghib As-Sirjani (dokter spesialis bedah tulang), dll.

Ade juga menganggap bahwa penghafal Al-Qur’an lemah secara akademik, sehingga tidak layak kuliah pada jurusan umum di PTN/PTS. Alasan ini tidak berdasar dan tidak didukung data yang jelas. Memang tidak semua penghafal Al-Qur’an itu memiliki kemampuan akademik yang sama. Tidak semuanya jenius. Tapi tidak semuanya juga ‘’bodoh” dan tidak memiliki akademik yang mumpuni. Sebagaimana di sekolah- sekolah umum yang siswanya tidak hafal Qur’an, tidak semua siswanya jenius dan layak masuk PTN/PTS di jurusan bergengsi, misalnya. Alumni sekolah/pesantren tahfidz bervariasi kualitas kemampuan akademiknya, sama seperti di sekolah umum. Alumni pesantren/sekolah tahfidza atau para hafidz ada yang jenius, memiliki kemampuan akademik yang tinggi, dan ada yang biasa-biasa saja. Umumnya yang melanjutkan ke PTN/PTS pada bidang ilmu umum atau sains adalah mereka yang memang memiliki kemampuan akademik. Para santri juga umumnya “tahu diri”. Mereka telah mengukur kemampuan mereka sejak awal dan melalukan persiapan-persiapan seperti lazimnya pelajar yang menghadapi UN dan SMPTN. Jelang UN mereka juga mengikuti pelajaran tambhan, Bimbingan Belajar, Tryout, dan persiapan-persiapan lainnya. Jadi anggapan Ade, bahwa penghafal Al-Qur’an yang diterima di PTN/PTS melalui jalur khusus memiliki kemampuan akademik yang rendah adalah tidak berdasar. Tidak berdasar data dan fakta.

Santri Penghafal Al-Qur’an sedang saling simak Hafalan. Foto: Istimewa.

Selain itu Ade juga meragukan etos kerja, etos belajar dan kedisiplinan para penghafal Al-Qur’an. Ade menulis:

“Perguruan tinggi negeri membutuhkan mahasiswa yang pintar, gigih, bekerja keras. Saya menghargai orang yang mampu menghapal Al Quran. Tapi kemampuan itu bukanlah keunggulan yang diperlukan perguruan tinggi umum. Keunggulan para penghapal Al Quran adalah menghapal. Mampu menghapal Al Quran tidak identik dengan keunggulan akademik, kepintaran atau bahkan kualitas kepribadian”. (http://www.madinaonline.id/c907-editorial/buat-apa-perguruan-tinggi-negeri-membuka-kota-bagi-penghapal-al-qurangeri-membuka-kuota-bagi-penghapal-al-quran/)

Rupanya Ade tidak tahu menahu dunia penghafalan Al-Qur’an. Seolah-olah penghafal Al-Qur’an itu bodoh/tidak pintar, pemalas/tidak gigih, dan bukan pekerja keras. Sekali lagi Ade tidak tahu dunia penghafalan Al-Qur’an. Harusnya Ade melalukan survei  terlebih dahulu ke pondok-pondok pesantren, melihat keseharian para santri. Melihat jadwal harian 24 jam para penghafal Al-Qur’an. Minimal membaca panduan menghafal Al-Qur’an. Saya ingin tegaskan pada anda pak Ade, “Pemalas, orang yang tidak gigih dan tidak disiplin tidak akan mungkin bisa hafal Al-Qur’an”. Karena menghafal Al-Qur’an membutihkan tekad yang kuat, kesabaran, kesungguhan, kegigihan, dan kerja keras. Tentu semua itu dibangun di atas niat suci Lillahi Ta’ala. Pak Ade perlu tahu, para santri penghafal Al-Qur’an itu telah ditanamkan kesadaran bahwa belajar/mencari ilmu (termasuk Kuliah)itu ibadah dan membutuhkan kesungguhan. Para santri dah paham hal ini, dan mereka telah terlatih 2-3 tahun menjalani proses belajar yang tidak biasa. Saya katakan tidak biasa, karena sebagian mereka tetap bersekolah secara normal pada saat nyantri atau menghafal Al-Qur’an. Jadi mereka sebenarnya telah terbiasa dengan beban belajar yang berat. Anda bisa bayangkan, jam 4 (bahkan ada yang jam 3) subuh sudah bangun; shalat Tahajud, membaca Al-Qur’an/mengulangi atau memperlancar hafalan sampai masuk Subuh. Usai shalat subuh mereka menghafal atau setoran hafalan sampai mata hari terbenam. Setelah itu mereka bersih-bersih. Rapikan kamar tidur sendiri, membersihkan lingkungan pondok (sesuatu yang jarang dilakukan oleh anak-anak pelajar yang tidak nyantri). Jam 7 atau 8 mereka masuk sekolah, belajar di kelas seperti lazimnya siswa sekolah. Kegiatan belajar mengajar di kelas umumnya sampai dzuhur. Bakda dzuhur kadang masih lanjut belajar di  kelas atau belajar di masjid. Kemudian istirahat siang sampai Asar. Setelah shalat asar lanjut kegiatan tahfidz sepeti muraja’ah (Mengulangi hafalan) atau kegiatan ekstra kurikuler. Setelah Maghrib-Isya ngaji lagi atau belajar kitab kuning. Setelah makan malam masih belajar lagi atau menyiapkan hafalan. Rutinitas seperti ini mereka jalani selama 3 tahun. Bahkan ada yang enam tahun (jika mondok sejak SMP) menjalani rutinitas seperti ini di  bawah arahan dan bimbingan para guru dan ustadz yang ikhlas dan sungguh-sungguh. Tentu saja hal ini membentuk habit dan karakter  positif para santri penghapal Al-Qur’an. Sehingga ketika seorang santri menamatkan hafalan Qur’annya ia telah melewati proses belajar yang disertai kerja keras dan kedisiplinan yang luar biasa.

Kepribadian dan Akhlaq Penghapal Qur’an Belum Tentu Keren?

Selain meragukan kemampuan akademik para calon mahasiswa penghapal Qur’an Ade juga mendelegitimasi akhlaq dan kepribadian para calon mahasiswa penghapal Qur’an. Ia katakan bahwa, “Mampu menghapal Al Quran tidak identik dengan keunggulan akademik, kepintaran atau bahkan kualitas kepribadian”. (http://www.madinaonline.id/c907-editorial/buat-apa-perguruan-tinggi-negeri-membuka-kota-bagi-penghapal-al-qurangeri-membuka-kuota-bagi-penghapal-al-quran/”.

Benar bahwa kemampuan menghapal akademik tidak identik dengan keunggulan akademik, kepintaran, dan kualitas kepribadian. Sekali lagi Ade, terlalu memaksakan bahwa seolah-olah santri hafidz yang masuk PTN dan PTS di jurusan umum hanya bermodalkan hafalan tanpa kemampuan akademik dan  kualitas kepribadian sama sekali. Umumnya santri hafidz yang masuk ke jurusan umum di PTN, PTS, maupun PTI adalah mereka yang memiliki keunggulan akademik, pintar dan memiliki kualitas kepribadian serta akhlaq yang bagus. Dalam proses menghafal Al-Qur’an para santri juga mendapatkan pembinanan adab, akhlaq, dan karakter. Mereka belajar Adab dan etika akademik melalui kitab-kitab Adab seperti Ta’lim Muta’allim (Al-Zarnuji), Tadzkirat al-Sami’, Adab al-‘Alim Wa Muta’allim (Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari), dan sebagainya. Mereka juga belajar adab penghafal dan pengemban Al-Qur’an secara khusus melalui kitab At-Tibyan fi Adab Hamala til Qur’an (Imam Nawawi), Akhlaq Hamalatil Qur’an (Al-Ajuri), dan lain sebagainya. Demikian pula dengan pendidikan karakter. Pondok pesantren, termasuk pesantren penghafal Al-Qur’an identik dengan pendidikan Adab, Akhlaq, dan karakter. Dan pendidikan adab, akhlaq, serta karakter di pesantren tidak hanya melalui teori, tapi melalui praktik langsung dan keteladanan. Proses internaliasi karakter dan kepribadian yang baik terjadi secara langsung melalui keteladanan dan interaksi langsung dengan Kyai, guru, ustadz, senior/kakak kelas. Para guru dan ustadz selalu memberikan arahan dan nasehat jika seorang santri melalukan perbuatan yang menyelisihi adab dan akhlaq.

Meskipun demikian tentu tidak dipungkiri, ada saja santri atau penghapal Al-Qur’an yang memiliki aib dan kekurangan dalam aspek akhlaq dan kepribadian. Akan tetapi hal ini bukan alasan yang tepat menganggap bahwa hafidz Qur’an tidak layak masuk PTN melalui jalur khusus karena belum tentu akhlaqnya baik. Karena calon mahasiswa lainnya yang bukan hafidz Qur’an belum tentu semuanya memiliki akhlaq yang baik dan kepribadian yang berkualitas. Bahkan sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bahwa problem pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan umum adalah krisis akhlaq dan karakter. Sehingga tidak sedikit orang tua yang memilih mengirim putra-putri mereka ke pesantren, termasuk pesantren Tahfidz untuk menghindarkan anak dari akhlaq yang buruk. Mereka berharap, di pesantren anak terdidik dengan adab dan karakter yang baik.

Kesimpulannya adalah penolakan dan ketidak setujuan Ade terhadap kebijakan PTS/PTS yang membuka jalur khusus bagi mahasiswa penghapal Al-Qur’an tidak berdasar. Alasan yang dikemukakan terkesan dipaksakan, serta tidak didukung oleh data dan fakta. Pak Ade sepertinya tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman secara utuh tentang dunia penghafalan Al-Qur’an. Tidak tahu ‘’hafidz’’ yang bagaimana yang masuk jurusan umum di PTN dan PTS. Dia menganggap santri hafidz Qur’an semuanya bodoh, tidak memiliki kepintaran, dan keunggulan akademik serta akhlaq dan kepribadian yang baik. Kesalahpahaman ini sepertinya bercokol dalam pikiran Ade. Sehingga menanggapi “jalur khusus bagi hafidz” untuk kuliah di PTS dan PTS dengan sikap nyinyir dan apriori. Saya sarankan, Pak Ade sebaiknya cari tahu lebih dalam tentang dunia tahfidz Al-Qur’an, agar tidak salah paham. Lebih baik lagi jika Ade, melalukan observasi secara mendalam ke pesantren-pesantren dan sekolah-sekolah Tahfidz. Agar anda lihat langsung bagaimana kerja keras dan kedisiplinan serta kesungguhan para santri tahfidz dalam belajar dan mencari ilmu. (Syamsuddin)

Bogor, 07 Okt 2019

Ponpes Tahfidz Wahdah Islamiyah Bogor Juarai WONDERKIND FESTIVAL 2019

Santri Pondok Pesantren Wahdah Islamiyah Saat berfoto sebagai Runner Up Juara Umum di ajang Festival WondeKind 2019.

(Bogor) Wahdahjakarta.com — 37 Santri Ponpes Tahfidz Quran Cibinong Kabupaten Bogor kembali mengukir prestasi dalam mengikuti lomba pada festifal Wondekind 2019 ke 6, berlangsung 18-20 Oktober 2019.

“Alhamdulillah, perjuangan para santri dalam latihan persiapan dalam mengikuti lomba tidak sia-sia. Dari 13 kategori lomba yang diadakan, 9 lomba yang diikuti, dan 4 lomba meraih juara.” ujar ust. Muslim Arifin Arsyad selaku ketua kontingen pembina ponpes tahfidz Wahdah.

Event ini berlangsung di Pondok Pesantren Darul Quran Mulia Gunung Sindur Kabupaten Bogor, diikuti sebanyak 212 utusan sekolah dan Ponpes tingkat SMP dan SMA se Jawa Barat DKI Jakarta dan Banten.

Rangkaian kegiatan dengan mengambil tema Beyond Woerdwide (Melampaui Dunia) ini terdiri dari Bazaar, Talkshow, Workshop, Nasyid, Tabligh Akbar, konser Amal dan Kronus.

Menurut panitia, tujuan dari kompetisi ini diadakan agar bisa menjalin silaturahim dan saling mengasah skill dan potensi peserta antar Pondok Pesantren.

Dari 4 lomba yg berhasil masuk juara terdiri dari juara 1 Musabaqah Hifzil Quran (MHQ) kategori 2 juz atas nama Farhan kelas IX, Juara 2 Khotbah Bahasa Arab atas nama Adzhar tingkat SMA, Juara 3 Khotbah diaraih atas nama Ilham tingkat SMA dan terakhir lomba Futsal meraih juara 2 umum.

Tim Futsal Ponpes Wahdah saat berfoto dengan para asatidz

Lomba Futsal di final melawan tim dari Darul Muttaqqin Kab.Bogor. Adapun santri dari tim Futsal terdiri dari 11 santri diantaranya Fauz, Yasir, Noval , Arham, Abror, Zaky, Lutfi, Zahirul, Roja, Faikar dan Fahlevi, dari kelas VII, VIII dan IX SMP.

Fatih Muhammad selaku ketua panitia sangat terkesan dengan partisipasi dari para santri Ponpes Wahdah ini, karena semangat dan kekompakan mereka, sehingga prestasi tidak kalah dengan peserta lain.

Ustadz Ilham Darussalam yang juga turut selaku pembina pendamping santri mengatakan bahwa rombongan ponpes Wahdah termasuk kontingen yang terfavorit.

“Alhamdulillah ponpes kita masuk kontingen tervaforit versi panitia dari sisi keaktifan dan kekompakannya” ujar Alumni Stiba Makassar ini.

(Anwar)

Wahdah Islamiyah Kukuhkan Relawan Tanggap Bencana

Wahdah Peduli

(Makassar)Wahdahjakarta.com – Wahdah Islamiyah kembali menggelar pelatihan tanggap darurat bencana bertempat di Kabupaten Toli-toli Sulawesi Tengah, Sabtu hingga Ahad (19-20/10/2019).

Pelatihan kali ini dilaksanakan atas kerjasama Pengurus Pusat Wahdah Peduli (WP), Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Sedekah (LAZIS) Wahdah, serta Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah (DPD WI) Toli-toli.

Diantara lembaga yang berpartisipasi memberikan skill tanggap darurat antara lain Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BODB), Palang Merah Indonesia (PMI) dan SAR Kabupaten Toli-toli.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua DPD WI Toli-toli Jamal Malang, membuka dengan resmi Basic training ini.

Dalam sambutannya dia berpesan, pihaknya sangat bersyukur atas pelaksanaan pelatihan ini, khususnya sebagai cambuk dan peluang dakwah baru melalui misi kemanusiaan.

“Kami berharap semua peserta yg tergabung sebagai relawan WP agar sigap dalam bencana untk membantu sesama,” tutup dia.

Prosesi pembukaan ini kemudian dilanjutkan dengan rangkaian pelatihan yang terdiri dari Manajemen Bencana oleh BPBD Kab. Toli-toli, Mitigas Bencana dan SOP Tanggap darurat oleh tim WP Pusat, Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) oleh PMI Kab. Toli-toli, dan ditutup oleh pelatihan Water Rescue oleh SAR Kab. Toli-toli.

Pelatihan dihadiri oleh 21 orang kader Wahdah Islamiyah Toli-toli, yang kemudian dikukuhkan sebagai relawan rescue WP daerah Toli-toli yang siap diterjunkan pada tanggap darurat bencana.

Laporan: Rustam Hafid

Laznas Wahdah: Jangan Lupakan Mereka

 

Wahdahjakarta.com -, Banyak kerusakan yang diakibatkan oleh bencana yang terjadi secara berturut-turut di Indonesia beberapa minggu terakhir. Tak hanya rumah penduduk, gedung-gedung instansi pun juga ikut hancur, salah satunya gedung sekolah. Posko Satuan Tugas Penanggulangan Darurat Bencana Maluku mencatat, hingga Selasa (8/10/2019), ada sebanyak 172 gedung sekolah dan bangunan kampus yang mengalami kerusakan.

Dengan runtuhnya bangunan sekolah, secara otomatis hal itu akan membuat proses belajar mengajar menjadi terhenti. Bahkan mungkin akan membuat anak-anak tertinggal jauh pelajaran, dibanding dengan anak-anak di daerah lain. Selain itu, anak-anak juga membutuhkan tempat untuk memulihkan trauma mereka atau trauma healing pasca bencana.

Di tengah bencana yang melanda, bukankah proses belajar mengajar harus tetap dilakukan? Mengingat pendidikan adalah salah satu hak anak yang harus dipenuhi. Jika terhenti dalam waktu yang lama, maka pelajaran yang tertinggal pun akan semakin jauh

LAZNAS Wahdah terus mengajak kepada kita semua untuk berderma memberikan harta terbaik kita untuk kelancaran belajar anak-anak korban gempa di Ambon. Besar harapan, dan tumpuan pendidikan mereka untuk selalu diperhatikan

 

Yuk sahabat, salurkan donasi terbaikmu melalui:

 

Bank Syariah Mandiri (BSM) 499 900 900 5 an. LAZIS Wahdah Peduli Negeri

Konfirmasi transfer: 085 315 900 900

 

Donasi online klik https://sedekahplus.com/campaign/83/berkah-peduli

 

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #laznaswahdah #sedekah #ayosedekah

 

Kumpul di Turki, NGO 40 Negara Muslim Bahas Solusi Krisis Kemanusiaan di Daerah Konflik

 

(Istanbul) Wahdahjakarta.com -, Sebanyak 100 NGO (Non Government Organization) dari 40 negara Muslim berkumpul di Istanbul Turki pada pertemuan Second Family Life Forum, Stories Narrated 2019, pada Jum’at-Sabtu (18-19/10).

Sebanyak 550 peserta hadir untuk berkontribusi menyelesaikan krisis kemanusiaan di wilayah konflik yang mayoritas adalah negara Muslim.

Indonesia diwakili oleh KNRP (Komite Nasional Rakyat Palestina), Adara, dan SMART 171 (Solidarity of Muslim for Al-Quds Retaken), dan Lasnaz Dewan Dakwah Islamiyah.

Selanjutnya, peserta konferensi sepakat untuk menjalankan program  trauma healing bagi perempuan penyintas, edukasi literasi bagi ibu dan anak, pemberdayaan ekonomi para ibu, dll.

Pada malam Penggalangan Dana (18/10), terkumpul total komitmen donasi senilai 8,7 juta dolar, atau berkisar Rp121,8 Miliar.

Selain itu, Founder of the Syrian Association of Detainees, Mona Baraker, di salah satu seminar konferensi, meminta seluruh peserta untuk menyebarkan informasi di media sosial. “Sebarkan informasi ini di media sosial, buat sebanyak mungkin orang tahu dan mau bergerak,” paparnya.

“Ini salah bentuk tanggung jawab kita sebagai seorang muslim. Muslim ibarat satu tubuh, saat satu anggota tubuh sakit, semua turut merasakannya.” ucap perwakilan dari Indonesia, SMART 171, Maimon Herawati.

SMART 171 berkomitmen menggalang dana 100 juta untuk perempuan tangguh ini. []

WMI Gelar Trauma Healing Untuk Anak Pengungsi Wamena

(JAYAPURA) Wahdahjakarta.com – Tim Kemanusiaan Wahana Muda Indonesia (WMI) Melaksanakan program Trauma Healing untuk anak-anak pengungsi Wamena di sejumlah camp pengungsian di jayapura.

Koordinator Tim KemanusiaanWMI untuk Wamena Ewing Rachman mengatakan, Program Trauma healing ini digelar dalam rangka menghilangkan trauma dan rasa takut pada diri anak-anak atas peristiwa yang mereka alami beberapa waktu lalu.

“Trauma Healing ini menjadi bagian penting guna membangun kembali mental anak yang saat ini berada di pengungsian, rasa trauma dan takut sudah pasti menghantui mereka. ditambah kejenuhan selama beberapa hari berada di pengungsian yang fasilitasnya juga terbatas” Kata Ewing di Camp Pengungsian Lanud Silas Papare Jayapura, Kamis, (10/10).

Ewing menjelaskan, Kegiatan trauma healing untuk anak-anak pengungsi Wamena ini akan di isi dengan kegiatan belajar dan bermain juga fun game yang sudah disiapkan oleh Tim Kemanusiaan WMI. Dan untuk kegiatannya dipimpin oleh terapis yang juga pegiat Out Bond dari WMI.

“Insyaallah Kita sudah siapkan baik personil maupun perlengkapan untuk kebutuhan kegiatan program, dan program ini akan kita gelar setiap hari selama kita berada di sini sambil menunggu jadwal kepulangan pengungsi ke kampung halaman” Ungkap Ewing.

Melihat kondisi di pengungsian yang bersatu antara barang dan manusia dalam ruangan yang sesak tentunya menambah tingkat trauna dan stress para pengungsi.

“Itu sebab perlu kita lakukan sebuah kegiatan yang memberi dukungan dan manusia berupa dukungan sosial, emosional dan praktis bagi para pengungsi setelah mengalami situasi kritis. Dalam dunia kerelawanan kami menyebutnya psychological first aid”, tegas Ewing.

WMI berharap kegiatan sederhana ini bisa membantu anak-anak penyintas pasca trauma yang mereka hadapi beberapa saat yang lalu.