Buat Apa Sih Beasiswa Hafidz Al-Qur’an? Tanggapan Untuk Ade Armando

Ade Armando mempertanyakan, “Buat Apa Sih Beasiswa Hafidz AlQuran?” Photo: Youtube

 BUAT APA SIH BEASISWA HAFIDZ AL-QUR’AN

(Tanggapan Untuk Ade Armando)

Berhari lalu beredar video Ade Armando (AA) yang mempermasalahkan kebijakan beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang menerima calon mahasiswa penghafal Al-Qur’an melalui jalur khusus. Ini bukan kali pertama AA memprotes kebijakan ini. 25 Juni Ade juga curhat di Fan Page pribadinya @adearmandosesungguhnya tentang ketidaksetujuannya terhadap kebijakan PTN yang membuka jalur khusus bagi calon mahasiswa penghafal Al-Qur’an. Bahkan sejak  tiga tahun lalu (Mei 2016) dosen Ilmu Komunikasi salah satu PTN ini telah menolak ‘’perlakuan istimewa” terhadap para penghafal Al-Qur’an.

Pada 21 Mei 2016 Ade mempertanyakan kebijakan “jalur khusus’’ bagi hafidz pada editorial madinaonline.id yang dipimpinnya melalui sebuah artikel berjudul, “Buat Apa Perguruan Tinggi Negeri Membuka Kuota bagi Penghapal Al Quran?”.

Ketidak senangan Ade pada kebijakan yang “mengistimewakan” para penghafal Al-Qur’an disampaikan kembali melalui tulisan singkat di laman FP @adearmandoyangsesungguhnya pada 25 Juni. Ia menulis:

“SAYA TIDAK SETUJU PARA PENGHAPAL AL QURAN BISA DITERIMA PERGURUAN TINGGI NEGERI MELALUI JALUR KHUSUS

Saya menghargai bahwa ada anak-anak muda yang bersedia menghapal Al Quran.

Tapi kemampuan menghapal Al Quran tidak ada korelasinya dengan kemampuan akademik seseorang.

Keunggulan para hafidz adalah mereka mampu menghapal. Itu saja.

Kemampuan menghapal Al Quran bahkan tidak ada hubungannya dengan integritas moral seseorang. Karena itu tidak sepantasnya PTN yang dibiayai rakyat menerima mahasiswa tanpa ujian hanya karena ia penghapal Al Quran.

Rupanya belum putus asa, Ade terus menampakan penolakan terhadap kebijakan yang memberikan kesempatan kepada para penghafal Al-Qur’an masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur khusus. Berhari lalu Ade mengunggah video singkat berisi protes terhadap kebijakan yang menurutnya diskriminatif dan tidak ada manfaatnya.

Menyimak penolakan dan protes A. Armando penulis menyimpulkan, alasan dia tidak setuju para penghapal Al-Qur’an diterima masuk PTN melalui jalur khusus adalah diskriminasi, integritas dan akhlaq serta kemampuan akademik. Ketiga alasan ini oleh Ade dianggap menghalangi jatah/kuota calon lain yang lebih layak dan potensial.

Ilustrasi: Santri penghafal Al-Qur’an sedang memperdengarkan (tasmi’) hafalannya

Tanggapan

Kebijakan ini diskriminatif?

Ade menyimpulkan bahwa menerima penghafal Al-Qur’an masuk PTN melalui jalur khusus merupakan bentuk diskriminasi terhadap non Islam. Karena yang bisa mengakses beasiswa atau program jalur khusus ini hanya calon mahasiswa yang beragama Islam. Calon mahasiswa non Muslim tidak dapat mengakses jalur khusus ini. Menurut Ade ini berimplikasi jatah calon mahasiswa non muslim diambil oleh calon mahasiswa muslim yang hafal Qur’an.

Sebenarnya jika Ade berpikir adil dan objektif tidak akan sampai pada simpulan, kebijakan ini diskriminatif. Karena “jalur khusus” bagi calon mahasiswa bukan hanya melalui jalur hafidz. Kampus PTN maupun PTS ada membuka jalur khusus bagi calon mahasiswa berprestasi di bidang lain, seperti olahraga/atlit (Ade juga tidak setuju), aktivis organisasi seperti pengurus OSIS, dan lain sebagianya. Di jalur ini terbuka peluang yang sama dan setara antara calon mahasiswa Muslim dan non Muslim. Kedua, Kalau mau dapat jalur khusus yang sama atau serupa, silahkan lembaga keagamaan di luar Islam mengusulkan “fasilitas” dan “kekhususan” yang sama kepada rektor PTN/PTS. Kalau perlu ke Kemenristekdikti sekalian. Minta jalur khusus masuk PTN/PTS bagi calon mahasiswa yang hafal Bibel, atau Weda, atau Kitab Suci lainnya. Jadi, soal diskriminatif clear.

Ade sendiri sepertinya ingin mengusulkan hal ini. Ia mengatakan;

“Tambahan lagi kebijakan semacam ini akan terkesan diskriminatif terhadap mahasiswa non-Islam. Kemudahan ini hanya diberikan pada siswa muslim dan sama sekali tak mungkin dimanfaatkan oleh siswa non-muslim. Kalau mau adil, seharusnya perguruan tinggi negeri ini juga memberikan kesempatan khusus bagi mahasiswa non-muslim berdasarkan penguasaan ilmu agama mereka. Kalau ini dianggap tidak masuk akal, ya begitu juga kebijakan memudahkan penghapal Al Quran ini tidak masuk di akal”. (http://www.madinaonline.id/c907-editorial/buat-apa-perguruan-tinggi-negeri-membuka-kota-bagi-penghapal-al-qurangeri-membuka-kuota-bagi-penghapal-al-quran/)

Usulan Ade tidak apple to apple, karena fasilitas jalur khusus bagi mahasiswa non muslim bukan menghafal kitab suci, tapi penguasaan ilmu Agama. Ini jelas tidak sama. Kalau syarat bagi non muslim diberlakukan bagi mahasiswa muslim, maka lebih banyak lagi dari kalangan pelajar muslim yang diterima di PTN/PTS melalui jalur khusus. Ntar Ade makin stress.

Penghafal Qur’an Tidak Layak Kuliah di Jurusan Umum di PTN/PTS?

Ade sepertinya menganggap, para penghafal Al-Qur’an tidak layak kuliah pada jurusan umum di PTN maupun PTS. Anggapan ini lahir dari sindrom sekularisme yang bercokol pada pikiran Ade. Ade terlanjur terjebak dalam dikotomi Ilmu Agama/Al-Qur’an dan Sains. Sehingga Ade pakai istilah ilmu umum, yang menurutnya penghafal Al-Qur’an tidak mampu mempelajari dan mendalaminya. Ini sangat keliru. Karena dalam Islam tidak dikenal dikotomi yang seperti ini. Sejarah telah mencatat, para Ulama, Saintis dan Ilmuwan Muslim zaman dulu hingga saat ini mengawali proses belajar dan mencari ilmu dengan menghafal Al-Qur’an. Sebutlah misalnya; Imam Syafi’i, Ibn Taimiyah, Ibn Sina, Fakhruddin Al-Razi, Ibn Khaldun, Yusuf Qaradhawi, Dr. Raghib As-Sirjani (dokter spesialis bedah tulang), dll.

Ade juga menganggap bahwa penghafal Al-Qur’an lemah secara akademik, sehingga tidak layak kuliah pada jurusan umum di PTN/PTS. Alasan ini tidak berdasar dan tidak didukung data yang jelas. Memang tidak semua penghafal Al-Qur’an itu memiliki kemampuan akademik yang sama. Tidak semuanya jenius. Tapi tidak semuanya juga ‘’bodoh” dan tidak memiliki akademik yang mumpuni. Sebagaimana di sekolah- sekolah umum yang siswanya tidak hafal Qur’an, tidak semua siswanya jenius dan layak masuk PTN/PTS di jurusan bergengsi, misalnya. Alumni sekolah/pesantren tahfidz bervariasi kualitas kemampuan akademiknya, sama seperti di sekolah umum. Alumni pesantren/sekolah tahfidza atau para hafidz ada yang jenius, memiliki kemampuan akademik yang tinggi, dan ada yang biasa-biasa saja. Umumnya yang melanjutkan ke PTN/PTS pada bidang ilmu umum atau sains adalah mereka yang memang memiliki kemampuan akademik. Para santri juga umumnya “tahu diri”. Mereka telah mengukur kemampuan mereka sejak awal dan melalukan persiapan-persiapan seperti lazimnya pelajar yang menghadapi UN dan SMPTN. Jelang UN mereka juga mengikuti pelajaran tambhan, Bimbingan Belajar, Tryout, dan persiapan-persiapan lainnya. Jadi anggapan Ade, bahwa penghafal Al-Qur’an yang diterima di PTN/PTS melalui jalur khusus memiliki kemampuan akademik yang rendah adalah tidak berdasar. Tidak berdasar data dan fakta.

Santri Penghafal Al-Qur’an sedang saling simak Hafalan. Foto: Istimewa.

Selain itu Ade juga meragukan etos kerja, etos belajar dan kedisiplinan para penghafal Al-Qur’an. Ade menulis:

“Perguruan tinggi negeri membutuhkan mahasiswa yang pintar, gigih, bekerja keras. Saya menghargai orang yang mampu menghapal Al Quran. Tapi kemampuan itu bukanlah keunggulan yang diperlukan perguruan tinggi umum. Keunggulan para penghapal Al Quran adalah menghapal. Mampu menghapal Al Quran tidak identik dengan keunggulan akademik, kepintaran atau bahkan kualitas kepribadian”. (http://www.madinaonline.id/c907-editorial/buat-apa-perguruan-tinggi-negeri-membuka-kota-bagi-penghapal-al-qurangeri-membuka-kuota-bagi-penghapal-al-quran/)

Rupanya Ade tidak tahu menahu dunia penghafalan Al-Qur’an. Seolah-olah penghafal Al-Qur’an itu bodoh/tidak pintar, pemalas/tidak gigih, dan bukan pekerja keras. Sekali lagi Ade tidak tahu dunia penghafalan Al-Qur’an. Harusnya Ade melalukan survei  terlebih dahulu ke pondok-pondok pesantren, melihat keseharian para santri. Melihat jadwal harian 24 jam para penghafal Al-Qur’an. Minimal membaca panduan menghafal Al-Qur’an. Saya ingin tegaskan pada anda pak Ade, “Pemalas, orang yang tidak gigih dan tidak disiplin tidak akan mungkin bisa hafal Al-Qur’an”. Karena menghafal Al-Qur’an membutihkan tekad yang kuat, kesabaran, kesungguhan, kegigihan, dan kerja keras. Tentu semua itu dibangun di atas niat suci Lillahi Ta’ala. Pak Ade perlu tahu, para santri penghafal Al-Qur’an itu telah ditanamkan kesadaran bahwa belajar/mencari ilmu (termasuk Kuliah)itu ibadah dan membutuhkan kesungguhan. Para santri dah paham hal ini, dan mereka telah terlatih 2-3 tahun menjalani proses belajar yang tidak biasa. Saya katakan tidak biasa, karena sebagian mereka tetap bersekolah secara normal pada saat nyantri atau menghafal Al-Qur’an. Jadi mereka sebenarnya telah terbiasa dengan beban belajar yang berat. Anda bisa bayangkan, jam 4 (bahkan ada yang jam 3) subuh sudah bangun; shalat Tahajud, membaca Al-Qur’an/mengulangi atau memperlancar hafalan sampai masuk Subuh. Usai shalat subuh mereka menghafal atau setoran hafalan sampai mata hari terbenam. Setelah itu mereka bersih-bersih. Rapikan kamar tidur sendiri, membersihkan lingkungan pondok (sesuatu yang jarang dilakukan oleh anak-anak pelajar yang tidak nyantri). Jam 7 atau 8 mereka masuk sekolah, belajar di kelas seperti lazimnya siswa sekolah. Kegiatan belajar mengajar di kelas umumnya sampai dzuhur. Bakda dzuhur kadang masih lanjut belajar di  kelas atau belajar di masjid. Kemudian istirahat siang sampai Asar. Setelah shalat asar lanjut kegiatan tahfidz sepeti muraja’ah (Mengulangi hafalan) atau kegiatan ekstra kurikuler. Setelah Maghrib-Isya ngaji lagi atau belajar kitab kuning. Setelah makan malam masih belajar lagi atau menyiapkan hafalan. Rutinitas seperti ini mereka jalani selama 3 tahun. Bahkan ada yang enam tahun (jika mondok sejak SMP) menjalani rutinitas seperti ini di  bawah arahan dan bimbingan para guru dan ustadz yang ikhlas dan sungguh-sungguh. Tentu saja hal ini membentuk habit dan karakter  positif para santri penghapal Al-Qur’an. Sehingga ketika seorang santri menamatkan hafalan Qur’annya ia telah melewati proses belajar yang disertai kerja keras dan kedisiplinan yang luar biasa.

Kepribadian dan Akhlaq Penghapal Qur’an Belum Tentu Keren?

Selain meragukan kemampuan akademik para calon mahasiswa penghapal Qur’an Ade juga mendelegitimasi akhlaq dan kepribadian para calon mahasiswa penghapal Qur’an. Ia katakan bahwa, “Mampu menghapal Al Quran tidak identik dengan keunggulan akademik, kepintaran atau bahkan kualitas kepribadian”. (http://www.madinaonline.id/c907-editorial/buat-apa-perguruan-tinggi-negeri-membuka-kota-bagi-penghapal-al-qurangeri-membuka-kuota-bagi-penghapal-al-quran/”.

Benar bahwa kemampuan menghapal akademik tidak identik dengan keunggulan akademik, kepintaran, dan kualitas kepribadian. Sekali lagi Ade, terlalu memaksakan bahwa seolah-olah santri hafidz yang masuk PTN dan PTS di jurusan umum hanya bermodalkan hafalan tanpa kemampuan akademik dan  kualitas kepribadian sama sekali. Umumnya santri hafidz yang masuk ke jurusan umum di PTN, PTS, maupun PTI adalah mereka yang memiliki keunggulan akademik, pintar dan memiliki kualitas kepribadian serta akhlaq yang bagus. Dalam proses menghafal Al-Qur’an para santri juga mendapatkan pembinanan adab, akhlaq, dan karakter. Mereka belajar Adab dan etika akademik melalui kitab-kitab Adab seperti Ta’lim Muta’allim (Al-Zarnuji), Tadzkirat al-Sami’, Adab al-‘Alim Wa Muta’allim (Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari), dan sebagainya. Mereka juga belajar adab penghafal dan pengemban Al-Qur’an secara khusus melalui kitab At-Tibyan fi Adab Hamala til Qur’an (Imam Nawawi), Akhlaq Hamalatil Qur’an (Al-Ajuri), dan lain sebagainya. Demikian pula dengan pendidikan karakter. Pondok pesantren, termasuk pesantren penghafal Al-Qur’an identik dengan pendidikan Adab, Akhlaq, dan karakter. Dan pendidikan adab, akhlaq, serta karakter di pesantren tidak hanya melalui teori, tapi melalui praktik langsung dan keteladanan. Proses internaliasi karakter dan kepribadian yang baik terjadi secara langsung melalui keteladanan dan interaksi langsung dengan Kyai, guru, ustadz, senior/kakak kelas. Para guru dan ustadz selalu memberikan arahan dan nasehat jika seorang santri melalukan perbuatan yang menyelisihi adab dan akhlaq.

Meskipun demikian tentu tidak dipungkiri, ada saja santri atau penghapal Al-Qur’an yang memiliki aib dan kekurangan dalam aspek akhlaq dan kepribadian. Akan tetapi hal ini bukan alasan yang tepat menganggap bahwa hafidz Qur’an tidak layak masuk PTN melalui jalur khusus karena belum tentu akhlaqnya baik. Karena calon mahasiswa lainnya yang bukan hafidz Qur’an belum tentu semuanya memiliki akhlaq yang baik dan kepribadian yang berkualitas. Bahkan sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bahwa problem pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan umum adalah krisis akhlaq dan karakter. Sehingga tidak sedikit orang tua yang memilih mengirim putra-putri mereka ke pesantren, termasuk pesantren Tahfidz untuk menghindarkan anak dari akhlaq yang buruk. Mereka berharap, di pesantren anak terdidik dengan adab dan karakter yang baik.

Kesimpulannya adalah penolakan dan ketidak setujuan Ade terhadap kebijakan PTS/PTS yang membuka jalur khusus bagi mahasiswa penghapal Al-Qur’an tidak berdasar. Alasan yang dikemukakan terkesan dipaksakan, serta tidak didukung oleh data dan fakta. Pak Ade sepertinya tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman secara utuh tentang dunia penghafalan Al-Qur’an. Tidak tahu ‘’hafidz’’ yang bagaimana yang masuk jurusan umum di PTN dan PTS. Dia menganggap santri hafidz Qur’an semuanya bodoh, tidak memiliki kepintaran, dan keunggulan akademik serta akhlaq dan kepribadian yang baik. Kesalahpahaman ini sepertinya bercokol dalam pikiran Ade. Sehingga menanggapi “jalur khusus bagi hafidz” untuk kuliah di PTS dan PTS dengan sikap nyinyir dan apriori. Saya sarankan, Pak Ade sebaiknya cari tahu lebih dalam tentang dunia tahfidz Al-Qur’an, agar tidak salah paham. Lebih baik lagi jika Ade, melalukan observasi secara mendalam ke pesantren-pesantren dan sekolah-sekolah Tahfidz. Agar anda lihat langsung bagaimana kerja keras dan kedisiplinan serta kesungguhan para santri tahfidz dalam belajar dan mencari ilmu. (Syamsuddin)

Bogor, 07 Okt 2019

Posted in Al-Qur'an, Artikel and tagged , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.