media sosial

Adab Menggunakan Media Sosial

Adab Menggunakan Media Sosial
Oleh ustadz Ayyub Soebandi, Lc.

Tidak bisa dipungkiri pengaruh media sosial tidak bisa terlepaskan dari kehidupan di masa sekarang. Dukungan internet yang kencang, teknologi yang canggih dengan lahirnya smartphone dimana dengan satu genggaman kita bisa melakukan apa saja dan memperoleh informasi dengan mudahnya.

Begitu juga dengan dukungan aplikasi dan media sosial yang banyak bermunculan seperti BBM (Blackberry Massanger), WA (WhatsApp), Twitter, Path, Facebook, Instagram, Linkedin, Pinterest, Line dll. Kita dapat berhubungan dengan manusia dari belahan bumi manapun, dapat bersilaturahim dengan teman-teman lama, juga bisa berkenalan dengan teman-teman baru dan tak jarang banyak yang menjalin keakraban di dunia nyata.

Memang pada hakikatnya sebagai mahluk sosial manusia tidak dilarang untuk bergaul dan Allahpun menjelaskan dalam Al Qur’an tentang hal ini.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat : 13)

Walaupun melakukan komunikasi di media sosial dan hanya memperlihatkan gambar, chattingan dan status, tapi tak selamanya menggambarkan si empunya akun dalam kesehariannya, hingga tak terlihat dengan jelas apakah si empunya sama persis dengan yang dia gambarkan di sosmed, tapi menjaga adab tetap harus dikedepankan. Berikut beberapa adab yang perlu diperhatikan di jejaring sosial :

Menjaga interaksi dengan lawan jenis.

Inilah ajaran Islam, yaitu membatasi seminimal mungkin interaksi antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram, baik di dunia nyata ataupun di jejaring sosial. Para Sahabat radhiyallahu’anhum saja, dengan keimanan mereka, ketika bertanya kepada Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, harus bertanya dibelakang hijab. Allah Ta’ala berfirman,

Baca Juga  Adab-Adab Shalat [03]

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)

Nah, bagaimana dengan kita yang keimanan kita di bawah keimanan mereka?

Chattingan bebas dengan lawan jenis adalah trik Iblis untuk menjerumuskan ke dalam hal-hal yang diharamkan. Maka hendaknya waspada dan tetap menjaga interaksi dengan lawan jenis. Jika interaksi langsung di dunia nyata sangat perlu dijaga, maka bagaimana lagi di dunia maya yang lebih bebas dan jauh dari pandangan manusia, yakinlah Allah maha Mengetahui dan maha Melihat perbuatan kita.

Cermat dalam mengkonsumsi dan menyebarkan berita.

Salah satu yang dibenci oleh Allah adalah terlalu aktif menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Dalam hadis dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا قِيلَ وَقَالَ ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

“Sesungguhnya Allah membenci 3 hal untuk kalian: menyebarkan berita burung (katanya-katanya); menyia-nyiakan harta; dan banyak bertanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Terlebih ketika berita itu bisa bikin geger di masyarakat. Allah mencela orang yang suka menyebarkan berita yang membuat masyarakat ribut. Dalam al-Quran, Allah menyebut mereka dengan al-murjifuun (manusia pembuat onar).

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah, beberapa orang tukang penyebar berita terkadang membuat geger masyarakat. terutama berita yang terkait keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah mengancam, jika mereka tidak menghentikan kebiasaan ini, maka mereka akan diusir dari Madinah.

Baca Juga  Ibrahim -'alaihissalam' Pembangun Keluarga Pejuang

Allah berfirman,

“Jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.” (QS. al-Ahzab: 60)

Sehingga, sebelum menyebarkan, pastikan berita anda benar. Hentikan kebiasaan buruk mudah menyebarkan berita. Tanamkan dalam diri kita, menyebarkan berita itu bukan prestasi, prestasi itu adalah menyebarkan ilmu yang bermanfaat, bukan menyebarkan berita.

Bagaimana lagi ketika sengaja menyebarkan berita dusta atau hoax?

Maka sebelum menyebarkan berita, info, tulisan, gambar dll maka hendaknya memastikan kebenarannya terlebih dahulu. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat : 6).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim).

Menjaga amanah ilmiah.
Ketika menukilkan sebuah tulisan, berita dll, hendaknya selalu berusaha mencantumkan sumber dari mana ilmu atau faidah itu kita dapatkan. Hal ini agar kita tidak termasuk orang-orang yang mendapat ancaman hadits,

الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

“Orang yang Al-Mutasyabbi’ (mengaku-ngaku memiliki dengan sesuatu yang tidak dimilikinya), maka ia seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR Bukhari, Muslim).

Berkata dengan baik atau diam.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Al-Bukhari, Muslim).

Baca Juga  Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (3) 

Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”

Begitu juga dengan tulisan, hendaknya memikirkan terlebih dahulu sebelum menulis, jika bermanfaat maka silahkan menulis, jika tidak bermanfaat maka ditahan.

Gunakan bahasa yang baik dan sopan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

”Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

Dan katakan (Sampaikan) kepada hamba-hamba-Ku, jika mereka mau berbicara (kalau dia mau posting, kalau dia mau comment, kalau dia mau menyampaikan sebuah artikel), dia harus gunakan bahasa yang terbaik.

Kata “ahsan” dalam ayat ini kalau pakai istilah bahasa Inggris yaitu superlatif bukan comparatif. Jadi bukan yang lebih baik tapi yang terbaik.

Jadi, kalau mau berbicara gunakanlah bahasa yang terbaik, kenapa?

Karena setan selalu mengadu domba dan sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata.

Maka, gunakanlah bahasa yang terbaik.

Apalagi di sosmed, karena ketika kita masuk ke grup WA atau di Facebook atau di Twitter atau kita mention sesuatu, kita tidak memberikan ekspresi, lalu tidak ada intonasi. Jadi secara umum tidak ada ekspresi dan tidak adanya intonasi maka rentan terjadi kesalahpahaman.[]

Sumber : Majalah Sedekah Plus
https://laziswahdah.com/blog/adab-menggunakan-media-sosial/

1000 Quran untuk Palu dan Indonesia
Posted in Artikel and tagged , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.