Apakah Memasukkan Uang Ke Dalam Kotak Amal Saat Khutbah Jum’at Termasuk Lagha?

Kotak Amal

Kotak Amal

Apakah Memasukkan Uang Ke Dalam Kotak Amal Saat Khutbah Jum’at Termasuk Lagha?

Pertanyaan:

Bismillah.. Assalamualaikum ustadz,

Afwan.. Ana mau tanya..

Ketika khatib sedang berkhutbah itu kita wajib untuk tenang dan tidak melakukan gerakan yang sia2..

Kira2 yang dimaksud gerakan yg sia2 itu seperti apa saja ya ust? Apakah memasukkan uang kedalam kotak amal dan mendorong kotak amal juga termasuk gerakan yang sia-sia? (Fadhel/Group Wa Konsultasi Islami).

 

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Khutbah Jum’at merupakan salah satu syarat sah pelaksanaan Shalat Jum’at. Dalam Khutbah Jum’at sendiri juga terdapat rukun-rukun khutbah yang harus terpenuhi, seperti  membaca hamdalah, membaca shalawat dan lain-lain. Oleh karena khutbah merupakan syarat sah shalat Jum’at maka menyimak dan mendengarkan khutbah Jum’at hukumnya wajib.

Oleh sebab itu ketika khutbah Jum’at berlangsung para jama’ah dianjurkan menghadap ke arah kiblat, memperhatikan, mendengarkan, dan menyimak khutbah dengan serius dan sungguh-sungguh serta tidak melakukan sesuatu yang sia-sia yang dapat mengurangi bahkan menggugurkan pahala jum’atnya. Hal ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim;

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

Barangsiapa berwudhu, lalu memperbagus (menyempurnakan) wudhunya, kemudian mendatangi shalat Jum’at lalu mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka dia akan diampuni dosa-dosanya antara  hari itu sampai dengan hari Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya. Barangsiapa menyentuh kerikil, maka sia-sialah Jum’atnya” (HR. Muslim)

Baca Juga  Hadits Puasa [4]: Niat Puasa

Dalam Syarh Shahih Muslim Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa memegang (bermain-main) kerikil  dan lainnya merupakan saat khutbah merupakan salah satu perbuatan yang sia-sia. Selain itu juga terdapat isyarat untuk menghadapkan hati dan anggota badan saat  khutbah Jum’at berlangsung.

Selian itu perbuatan sia-sia (lagha) juga dapat berupa ucapan atau perkataan sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah dalam sabdanya,

Apabila engkau berkata kepada temanmu “diamlah” pada hari Jum’at sedang imam sedang berkhutbah, maka engkau telah berbuat lagha (sia-sia).” (HR al-Bukhari).

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulus-Salam Syarh Bulughil Maram menjelaskan: “Apabila engkau berkata kepada temanmu: ‘diamlah’ ketika khatib berkhutbah, maka engkau telah berbuat lagha” merupakan penguat larangan berbicara. Apabila hal tersebut (berkata ‘diamlah’) dikategorikan sebagai pebuatan laghapadahal perkataan hal tersebut termasuk pada amar ma’ruf, maka orang yang berbicara lebih berat hukumnya. Dengan pengertian tersebut, maka wajib bagi orang yang akan menegur dengan menggunakan isyarat apabila memungkinkan.

Artinya jika perkataan “diam”! yang dimaksudkan mengingatkan orang berbuat lagha tergolong lagha juga, maka perkataan lain seperti mengobrol lebih terlarang lagi.

Lalu bagaimana dengan memasukan uang ke kotak amal dan menggeser kotak amal?

Jika mengucapkan satu kata ‘’diam’’ dan menyentuh/mempermainkan kerikil yang merupakan gerakan paling ringan termasuk lagha (sia-sia) yang dilarang, maka perkataan dan perbuatan atau gerakan yang lebih banyak lebih terlarang. Apalagi saat pengedaran kotak infaq ketika khutbah terdapat enam gerakan yang tidak dapat dielakkan:

  • Mengambil dompet dari saku/tas
  • Memilih uang dalam dompet
  • Melipat-lipat uang sebelum memasukannya ke dalam kotak infaq
  • Memasukkan uang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri menutupinya
  • Menggeser kotak infaq, sebelum maupun setelah memasukkan uang kedalam kotak infaq.
  • Jika tidak berinfaq minimal sekedar menggeser.
Baca Juga  Fiqh Praktis Zakat Fitrah

Illat (sebab)  yang menjadi alasan larangan memainkan kerikil, mengatakan ‘’diam”! atau yang lainnya karena dapat memalingkan dari berdzikir dan menyimak khutbah.

Oleh karena itu sebaiknya tidak mengedarkan kotak amal atau infaq saat Khutbah Jum’at sedang berlangsung. Hal ini demi menjaga suasana khusyu’ dan khidmatnya pelaksanaan shalat dan khutbah Jum’at. Sebagai solusi dapat diusahakan alternatif lain, seperti;

  1. Menyiapkan kotak amal/infaq di setiap pintu masuk,
  2. Mengedarkan kotak amal/infaq sebelum khutbah dimulai, misalnya saat penyampaian pengumuman atau maklumat oleh pengurus masjid jelang masuk waktu jum’at (jika ada).
  3. Mengedarkan kotak amal/infaq setelah shalat Jum’at sebelum menunaikan shalat ba’diyah jum’at.

Tentu bagi pengurus masjid perlu mensosialisasikan hal ini secara bijak kepada jama’ah, sebagai bentuk edukasi kepada para jama’ah. Walahu a’lam bish Shawab. [sym].

Tahfidz Weekend

Posted in Fiqih, Konsultasi and tagged , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.