Antar Bantuan Ke Lindu Sigi, Relawan Wahdah  dan FPI Terjebak Longsor

Antar bantuan ke Lindu Sigi, Relawan Wahdah Terjebak Longsor

Kondisi jalan menuju Lindu Kab. Sigi saat relawan Lazis Wahdah mengantar bantuan beberaa hari lalu.

(SIGI) wahdahjakarta.com — Sejumlah  personil  Relawan Wahdah dan FPI  sempat dikabarkan terjebak longsor di sekitar danau Lindu, kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

“Iya, ada  7 orang yang terjebak,” ujar Wakil Koordinator Umum Relawan Wahdah Islamiyah, ustadz Abdurrahim saat dikonfirmasi via pesan Whatsapp, Ahad (21/10).

Menurut ustadz Abdurrahim, ketujuh relawan awalnya hendak mengantarkan bantuan dan melakukan trauma healing kepada warga terdampak gempa di kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi.  Mereka berpencar menjadi dua kelompok kecil.

“Ada 3 orang  yang duluan naik  dan 4 orang masih di bawah bersama dengan kendaraan, longsor terjadi di dua tempat sehingga yang dibawa tidak bisa naik dan pulang,” imbuhnya.

Alhamdulillah, semua relawan selamat meski masih terisolasi longsor.

“Komunikasi terakhir kondisi seluruh relawan dalam keadaan baik, kami sudah arahkan untuk berkumpul di sekitar danau Lindu karena tim terpisah menjadi 2 kelompok,” ujar ustadz Abddurahim yang terus memantau perkembangan dari posko utama Wahdah Islamiyah di Sigi.

Rencananya relawan akan dievakuasi dengan menggunakan helikopter.

“Setelah di danau Lindu kami arahkan naik helikopter ke Palu, karena ada info setiap hari ada helikopter yang bolak balik dari danau Lindu ke Palu,” pungkasnya.

Selain itu dikabarkan pula, relawan Hilal Merah Indonesia (HILMI) sayap pergerakan Front Pembela Islam (FPI) juga terjebak tanah longsor saat menuju desa Tomodo, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi.

 “Alhamdulillah, Tim Relawan HILMI-FPI yang sempat mengalami longsoran tanah saat perjalanan menuju Desa Tomodo dikabarkan selamat dan berhasil kembali menuju posko induk di Palu,” dilaporkan akun resmi HILMI-FPI ‏@hilmi_fpi sekitar pukul 22.30 WIB sebagaimana dilansir dari hidayatullah.com. []

Lakukan Ini, Mahasiswi Ini Selamat dari Amukan Tsunami

Lakukan Ini, Mahasiswi Ini Selamat dari Tsunami

Mobil Fidya, korban selamat dari guncangan gempa dan amukan tsunami Palu, Jum’at (29/09/2018) lalu. Photo:Fidya/hidcom.

Fidya, sapaannya, seakan tak percaya dirinya masih bernyawa. Ia adalah satu dari sekian banyak korban yang selamat dari guncangan gempa dan amukan tsunami  Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 28 September 2018.

 

Mobilnya rusak parah habis diamuk tsunami. Sekujur bodinya tergores parah dan tersayat-sayat. Bodinya penyok dan bampernya copot. Lampu , ban,  dan spion lepas tak berbekas.

Tapi ajaib. Pengemudi mobil itu selamat. Jangankan luka parah, yang ada hanya goresan kecil di kakinya.

“Sampai sekarang saya seperti mimpi (masih) hidup,” ujar Fidyawati, sang pengemudi dan pemilik mobil itu.

Fidya, sapaannya, seakan tak percaya dirinya masih bernyawa. Ia adalah satu dari sekian banyak korban yang selamat dari guncangan gempa dan amukan tsunami  Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 28 September 2018.

Sore itu sebelum kejadian, Fidya sedang dalam perjalanan pulang dari kampusnya, Stikes Widya Nusantara (Stikes WNP) di Jl Universitas Tadulako, Palu.

Roda empat yang dikendarainya bergerak dari arah Tondo menuju rumahnya di Jl Cemara, Kecamatan Palu Barat. Sendirian di dalam mobil, ia melewati jalan raya menyisir Pantai Talise, rute yang memang biasa ia lewati bolak balik rumah-kampus.

Sambil melantunkan shalawat atas Nabi, mengikuti irama senada dari tape mobilnya, Fidya fokus berkendara. Ia ingin cepat sampai di rumah untuk menunaikan shalat maghrib.

Tiba-tiba, saat posisinya berada tidak jauh dari pertigaan Jl Talise dan Cut Mutia, ia terkejut, laju mobil dihentikan. Disaksikannya pemandangan mengagetkan. Berbagai jenis sepeda motor dan penumpangnya terjatuh, mobil-mobil saling bertabrakan di depannya. Orang-orang pada berlarian meninggalkan kendaraannya sambil berteriak-teriak.

“Gempaaaaa… Aiiiiiirrrrr… Tsunamiiiiiii…!!!

Bersamaan dengan teriakan itu mobil terasa diayun-ayunkan sangat keras. Saya menengok ke arah kanan jendela dari dalam mobil. Saya melihat air itu berdiri di dekat saya dan sangat tinggi berwarna hitam, seakan marah,” tutur Fidya di Palu kepada hidayatullah.com, Sabtu pertengahan Oktober 2018.

Itulah detik-detik “alam mengamuk” dan mulai meluluhlantakkan ibukota Sulawesi Tengah dan sekitarnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa berkekuatan 7,4 skala richter terjadi pada pukul 18.02 WIB atau pukul lima sore waktu Palu, disusul tsunami sekitar 6 menit kemudian.

Detik-detik itu pula kepanikan melanda. Di dalam mobil, Fidya mengencangkan shalawat yang diputar dan diucapkannya. Rumahnya sudah berjarak sekitar 10 menit perjalanan dari tempatnya saat itu. Tapi, tiada lagi kesempatan untuk melarikan diri apalagi pulang. Ia memilih menunduk, memegang erat setir, mematikan mesin mobil, dan menutup kedua matanya. Dipasrahkan segalanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Ia merasa dunia seperti sudah kiamat. Berbaris-baris doa ia panjatkan.

“La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyil adzim….

La ilaha illa Anta subhanaka inni kuntumminadzalimin.

(Saya) memohon perlindungan dan pertolongan Allah dari ‘kiamat’ itu,” ungkapnya.

Beruntung. Saat gelombang tsunami menghantam dan menyeretnya, mobil Fidya tidak langsung terbalik dan terbentur. Hanya terseret. “Seakan saya naik perahu yang didorong dari belakang mobil dengan ombak.”

Hitungan detik, ia membuka matanya, ternyata mobil yang ditumpangi sudah terseret sejauh 30-an meter dari jalan raya tadi, terdampar di halaman rumah penduduk setempat. Tapi bencana belum berakhir.

“Saya tengok lagi ke arah kanan saya dari jendela mobil, air laut berdiri lagi lebih tinggi dari yang pertama, dan membawa, mengisap reruntuhan bangunan, mobil, motor, serta semua orang-orang yang berada di pinggir pantai.”

Melihat semua itu, badan dan bibirnya gemetar. “Saya menutup mata lagi dan berdoa sambil berderai air mata. Seakan hari itu adalah hari terakhir saya hidup di dunia ini.”

Hempasan tsunami yang kedua ini sangat keras dan deras. Mobil yang Fidya kendarai pun terbentur bangunan yang runtuh, lalu tersangkut di atap rumah. Benturan itu keras, tapi keajaiban kembali terjadi.

“Di sini saya sempat kaget karena lihat balok seperti besar tiang rumah mengarah pas mukaku. Tapi tidak masuk dalam mobil sama sekali. Hanya memecahkan kaca mobil. Kaca mobil berhamburan di mukaku tapi sama sekali tidak luka di mukaku. Mukaku tidak luka sama sekali. Benar-benar kuasa Allah Yang Maha Melindungi dan Menolong,” tuturnya begitu terkesan.

Lewat lubang kaca depan yang pecah itulah, Fidya keluar sambil membawa tasnya. “Saya keluar mobil dalam keadaan bersih dan goresan luka kecil di kaki. Alhamdulillah air setetes pun tidak ada (masuk ke) dalam mobil.”

Langit sudah gelap, saat kedua kaki Fidya melangkah hati-hati di atas reruntuhan rumah. Ia amati sekelilingnya, disaksikannya suasana sangat mencekam. Suara tangisan terdengar dimana-mana. Orang-orang pada berteriak minta tolong. Mayat-mayat bergelimpangan di depan matanya.

Ia menengok ke belakang, tampak seorang ibu dan anak serta seorang kakek paruh baya yang juga selamat dari tsunami. Fidya bergegas mencari jalan turun dari atap rumah. Ia pun memegang ujung pohon bambu yang berada di belakang tembok atap rumah itu. Tak lupa ditolongnya ibu dan anak tadi untuk turun juga.

“Kami pun berlari-lari sekuat-kuatnya sambil berpegang tangan dan melafadzkan ‘La ilaha illallah’. Di perjalanan saya banyak melihat orang berlarian tak menentu dan penuh kegelisahan. Seakan kiamat itu telah tiba. Ya memang hari itu kiamat sughra. Tak terasa saya berjalan tanpa alas kaki dan tidak tahu posisi saya dimana, karena semua jalan gelap. Saya sangat kehausan. Tidak lama kemudian saya mendapatkan air dan roti yang berhamburan di jalan, lalu saya ambil dan makan.”

Bersyukur

“Allahu Akbar, Allahu Akbar… La ilaha illallah!”

Adzan isya terdengar dikumandangkan dari masjid sekitar Fidya, entah dimana. Ia segera menunaikan shalat di atas trotoar. Usai bersimpuh kepada Allah, ia berjalan ke arah atas, kawasan pemukiman yang lebih tinggi, ia mengenalinya kawasan Jl Cik Ditiro. “Di situlah saya diberikan sendal oleh bapak yang saya tidak kenal.”

Ia melanjutkan perjalanan ke arah atas dan berhenti di depan toko baju yang berantakan karena gempa. Di sini, Fidya mengganti pakaian dengan gamis yang diberikan oleh pemilik toko tersebut. Awalnya ia berniat ngutang, tapi karena tidak mau meninggalkan utang dalam keadaan seperti itu, ia memilih membeli baju pemberian tersebut.

“Karena saya takut meninggalkan utang jikalau hari itu adalah kesempatan terakhir saya hidup. Saya pun membayarnya.”

Perjalanan dilanjutkan, tapi mengarah ke bawah. Satu tujuan yang hendak dicapai, kediaman Pimpinan Pusat Al Khairat Sulawesi Tengah, Habib Saggaf bin Muhammad Al-Jufri. “Karena saya mengingat mertua dan keluarga suami saya semua di sana.”

Hanya sekitar 5 meter berjalan kaki, tiba-tiba ada seseorang naik sepeda motor, memakai baju putih, yang menawarkan diri mengantar Fidya ke kediaman Habib Saggaf. Ia pun turut.

“Laki-laki yang baju putih bawa motor saya tidak kenal, tapi dia bilang kalau dia juga korban yang selamat dari tsunami pas dia lagi di Palu Grand Mall. Saya lupa tanya namanya.”

Sekitar pukul 22.00 WITA, Fidya pun tiba di kediaman Habib Saggaf. Artinya, sekitar 6 jam ia melewati suasana mencekam sejak kejadian sore itu. “Alhamdulillah saya sampai dan berkumpul dengan keluarga suami.” Saat peristiwa itu, suaminya sedang dinas di Jakarta, sedangkan anak semata wayangnya tengah berada di Kabupaten Toli-Toli Sulteng.

Keesokan harinya, Sabtu (29/09/2018), Fidya kembali mendatangi lokasi kejadian dimana mobilnya terdampar. Kendaraan yang setia menemaninya kemana-mana ini kondisinya sangat mengenaskan. Terperosok dan tertindih puing-puing bangunan.

Mobil yang rusak parah itu tentu menelan kerugian ratusan juta rupiah bagi Fidya sekeluarga. Ia masih belum tahu mau diapakan. Tapi itu bukan masalah.

“Saya tidak pernah menghitung apa yang telah Allah titipkan buat saya apalagi harta benda (mobil) rusak ataupun hilang, mau ratusan juta atau berapa lah harga mobil,” tuturnya.

“Saya sama suami tidak pusing atau memikirkan masalah kerugian. Karena itu bukanlah milik saya, hanya Allah menitipkan harta pada saya. Kalau rusak berarti sudah waktunya Allah mengambil titipan itu dari saya. Nyawa atau keselamatan lebih berharga dibandingkan harta benda yang rusak.

Tapi saya sangat bersyukur, harta benda (mobil) yang Allah titipkan kepada saya bisa (menjadi wasilah) melindungi saya dari ‘kiamat’ itu,” ungkap mahasiswi berjilbab ini dengan mantap.

Yang membuatnya juga semakin bersyukur sekaligus takjub, ada korban selamat lainnya yang terjebak dalam mobil saat tsunami, tapi keluar dari mobil dalam keadaan luka parah. “Yang saya heran juga, tidak trauma sama sekali yang saya rasa, padahal orang-orang semua trauma.”

Beberapa bulan lalu, Fidya masih bekerja sebagai perawat di RSUD Anutapura Palu. Saat gempa magnitudo 7,4, Jumat (28/09/2018) itu, gedung berlantai 4 ini ambruk. Bangunannya terpisah jadi 2 bagian, yang satu sisinya tenggelam bersama seluruh pasien dan perawat yang bertugas.

Kalau boleh berandai-andai, sekiranya saat kejadian itu Fidya sedang bertugas di RS tersebut, tentu kisahnya akan berbeda. Itulah hikmah tersendiri atas keputusannya berhenti bekerja (resign) dari RS itu. “Resign (karena) pas lanjut kuliah 5 bulan lalu,” tuturnya.

Wanita kelahiran Toli-Toli, Jumat, 12 Oktober 1990 ini, betul-betul meresapi dan mengambil pelajaran dari serentetan kejadian serta keajaiban yang dialaminya itu.

“Semoga saya yang diberikan kesempatan hidup ini dapat merasakan nikmatnya iman setelah ‘kiamat’ itu terjadi. Di tengah penderitaan luka dan duka, semoga kita dapat meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wata’la,” pungkasnya berpesan. (MAS)

Sumber: Hidayatullah.com

Manfaat dan Keutamaan Membaca Al-Qur’an (2)

Keutamaan Membaca Al-Qur'an

Ilustarsi: Seorang santri sedang membaca Al-Qur’an

Pada tulisannya sebelumnya telah disebutkan empat keutamaan membaca Al-Qur’an, yakni;

Memperoleh Pahala yang Sempurnaan, Syafa’at bagi pembaca Al-Qur’an, Pahala yang berlipat ganda bagi orang yang membaca Al-Qur’an,  dan mengangkat derajat di Syurga. Pada tulisan ini akan dilanjutkan dengan keutamaan berikutnya.

5. Belajar dan Mengajarkan Al Qur’an Merupakan  Amalan Terbaik

Dari Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

خَـيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ . رواه البخاري

Sebaik-baik orang diantara kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari)

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata :

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang menggabungkan dalam dirinya dua perkara yaitu mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya, dia menyempurnakan dirinya dan orang lain, berati dia telah mengumpulkan dua manfa’at yaitu manfa’at yang pendek (kecil) dan manfa’at yang banyak, oleh karena inilah dia lebih utama” (Lihat Fathul Bari 4:76)

  1. Empat Keutamaan bagi kaum yang bekumpul untuk membaca Al Qur’an

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَـيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَـتْـلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيـَـتَدَارَسُونَهُ بَـيْـنَـهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَـيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَـتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ . روا مسلم

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah dari rumah Allah (masjid) mereka membaca kitabullah dan saling belajar diantara mereka, kecuali Allah menurunkan ketenangan kepada mereka, mereka diliputi rahmat, dinaungi malaikat dan Allah menye butnyebut mereka pada (malaikat) yang didekatNya” (HR. Muslim)

Maka berbahagilah ahlul Qur’an dengan karunia yang agung dan kedudukan yang tinggi ini, maka sungguh sangat mengherankan orang yang masih bermalas-malasan bahkan berpaling dari majelis Al Qur’an.

  1. Membaca Al-Qur’an adalah perhiasan Ahlul Iman

Dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَـثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ اْلأُتْرُجَّةِ رِيحُـهَا طَـيِّبٌ وَطَعْمُـهَا طَـيِّبٌ وَمَـثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَـثَلِ التَّمْرَةِ لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُـهَا حُلْوٌ وَمـَـثَلُ الْمُـنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَـثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُـهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُـهَا مُرٌّ وَمـَـثَلُ الْمُـنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَـثَلِ الْحَـنْظَلَةِ لَـيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُـهَا مُرٌّ . رواه البخاري و مسلم

Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur’an itu bagaikan jeruk limau; harum baunya dan enak rasanya dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca Al Qur’an itu bagaikan buah kurma; tidak ada baunya namun enak rasanya. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur’an itu bagaikan buah raihanah; harum baunya tapi pahit rasanya dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an itu bagaikan buah hanzhalah; tidak ada baunya dan pahit rasanya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang mu’min yang tidak membaca Al Qur’an berati ia telah menghilangkan salah satu sifat esensinya yaitu baik pada zhahirnya. Ini merupakan kekurangan bagi pribadi seorang muslim, yang seharusnya mampu membaca Al Qur’an, menghafalkannya dan mentadabburinya tapi justru melalaikannya

  1. Membaca Al Qur’an tidak sebanding dengan Harta benda dunia

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلاَثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ قُلْـنَا : نَعَمْ ، قَالَ : فَثَلاَثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ رواه مسلم

Apakah salah seorang diantara kalian senang bila pulang kepada keluarganya dengan mendapatkan tiga ekor unta khalifat yang gemuk-gemuk ?” Kamipun berkata : “Ya” Beliau bersabda: “Maka tiga ayat yang dibaca oleh seseorang diantara kalian dalam shalatnya itu lebih baik dari tiga ekor unta khalifat yang gemuk-gemuk” (HR. Muslim)

Harta yang paling dicintai orang Arab pada waktu itu adalah unta khalifat, apabila unta khalifat yang besar lagi gemuk memiliki nilai kekayaan yang besar yang diperebutkan manusia, maka sesungguhnya belajar atau membaca satu ayat dari kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih baik disisi Allah dari pada unta tersebut.

Bersegera membaca Al-Qur’an lebih banyak manfa’atnya dari pada berdesak-desakan memperebutkan harta kekayaan dunia yang akan sirna tidak meninggalkan bekas. Adapun bacaan Al-Qur’an maka pahalanya tersimpan untukmu.

  1. Orang yang Mahir Membaca A- Qur’an Bersama Para Malaikat

Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيـَـتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَـيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ  رواه مسلم

Orang yang mahir Al Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan baik-baik dan orang yang membaca Al Qur’an dan terbata-bata membacanya dengan mengalami kesulitan melakukan hal itu maka baginya dua pahala” (HR. Muslim)

Setelah anda ketahui wahai saudaraku muslim pahala besar dan kedudukan yang dicapai orang yang membaca Al-Qur’an maka tidak ada kewajiban bagi anda kecuali menyingsingkan lengan untuk bersungguh-sungguh, banyak membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya serta menjaga kontinuitas amal itu. –Wallahu Musta’an–  (Abu Ubaidillah).

Sumber: wahdah.or.id

 

Keutamaan Membaca Al-Qur’an (1)

Keutamaan Membaca Al-Qur'an

Ilustarsi: Seorang santri sedang membaca Al-Qur’an

Allah  Ta’ala telah menjanjikan keutamaan yang  banyak bagi mereka yang membaca Al-Qur’an,

Al-Qur’an diturunkan untuk suatu tujuan yang agung yaitu sebagai pelajaran dan hukum. Adapun pada saat ini, banyak manusia yang meninggalkan kitab yang agung ini, tidak mengenalnya kecuali hanya pada saat-saat tertentu saja.

“Diantara mereka ada yang hanya membaca saat ada kematian, diantara mereka ada yang hanya menjadikannya sebagai jimat dan diantara mereka ada yang hanya mengenalnya pada saat bulan Ramadhan saja.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan keutamaan yang begitu banyak bagi mereka yang membaca Al-Qur’an, diantaranya:

  1. Memperoleh Pahala yang Sempurnaan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَـتْـلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنـــْفَقُوا مِمَّـا رَزَقْـنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَ نِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ . لِيُـوَفّـِـيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيـَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ . فاطر : 29-30

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Fathir : 29-30)

 Qatadah berkata:

“Mutharrif rahimahullah apabila membaca ayat ini beliau berkata : “ini ayat para qari’” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir III: 554)

  1.  Syafa’at bagi pembaca Al Qur’an

Dari Abu Umamah, ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah Radhiyallahu ‘anhu bersabda :

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يـَأْتِي يَوْمَ الْقِـيَامَةِ شَفِيعًا ِلأَصْحَابِهِ . رواه مسلم

Bacalah Al Qur’an karena sesungguhnya Al qur’an itu akan datang di hari kiamat untuk mmeberi syafa’at bagi yang membacanya” (HR. Muslim)

Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

الصّـِيَامُ وَالْقُرْآنُ يـَشْفَعَانِ لِلْـعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصّـِيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّــهَوَاتِ بِالـنَّــهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيـــَــقُولُ الْقُرْآنُ مَــنَــعْتُهُ الـنَّــوْمَ بِاللَّـيْلِ فَشَــفِّعْنِي فِيهِ قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ رواه أحمد

Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada hamba kelak di hari kiamat, puasa berkata : “Ya Rabbku saya telah mencegahnya dari memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan berkata Al Qur’an :”Saya telah mencegahnya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, Nabu bersabda :”Maka keduanya memberikan syafa’at” (HR. Ahmad)

Oleh karena itu dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an Al Karim terutama di bulan Ramadhan, karena bulan ini merupakan bulan Al Qur’an. Para ulama As salaf Ash Shalih bila menghadapi bulan Ramadhan mereka menyambutnya dengan membaca Al Qur’an lebih banyak dari bulan lainnya. Mereka menyibukkan diri dengan tadarrus Al-Qur’an, mempelajarinya, mengajarkannya dan qiyamul lail dengan membaca ayat-ayatnya agar mereka beruntung mendapat syafa’at dari puasa dan Al-Qur’an yang mereka baca serta agar mendapatkan ridha dan syurganya dari Ar Rahman.

  1. Pahala yang berlipat ganda bagi orang yang membaca Al Qur’an

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ . رواه الترمذي

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al Qur’an) maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan dengan sepuluh (pahala). Aku tidak mengatakan ” الم “Alif Laam Mim adalah satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf” (HHR. Tirmidzi)

  1. Mengangkat derajat di Syurga

Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam  bersabda :

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَـنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا

“Dikatakan kepada Ahli Al Qur’an : “Bacalah dan keraskanlah dan bacalah (dengan tartil) sebagaimana engkau membacanya di dunia, sesungguhnya kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kau baca” (HHR. Tirmidzi)

Bersambung.

Sumber: Wahdah.or.id

 

PPSU DKI Jakarta Elite Squad Galang 26. 143.000 Untuk Korban Gempa Sulteng

PPSU DKI Jakarta Galang 26. 143.000 Untuk Korban Gempa Sulteng

Perwakilan PPSU DKI Jakarta diterima Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balaikota, Jum’at (19/10/2018) siang. PPSU yang menamakan diri Jakarta Elite Squad menggalang 26. 143.000 Untuk Korban Gempa Sulteng.

(Jakarta) Wahdahjakarta.com– Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) DKI Jakarta menggalang dana bantuan untuk korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Kelompok PPSU DKI yang tergabung dalam ‘Jakarta Elite Squad’ ini berhasil mengumpulkan Rp 26.243. 000. Dana ini diserahkan secara simbolik kepada Pemprov DKI untuk selanjutnya disalurkan melalui melalui posko bantuan yang ada di Balaikota.

Dana ini mereka kumpulkan di waktu senggang mereka sebagai petugas PPSU DKI Jakarta  dengan menjual pin baju dan topi.

“Mereka mengumpulkan dananya dengan dengan menjual pin, topi dan baju di waktu senggangnya, hari ini saya dititipkan dananya sebesar Rp26.143.000”, kata Gubernur DKI Anies Baswedan melalui fan page resminya @Aniesbaswedan, Jum’at (19/10/2018).

Mantan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ini menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada anggota PPSU DKI Jakarta yang menginisiasi penggalangan dana sosial ini.

“Mereka adalah pasukan elit yang selama ini bekerja keras menjaga ibu kota, tapi masih sempat memikirkan saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah, ribuan kilometer jauhnya”, ujarnya.

“Alhamdulillah, terima kasih. InsyaAllah ini menjadi amal ibadah. Ini menunjukkan meskipun kita jauh dari Palu, Sigi dan Donggala, tapi kita peduli. Pemprov juga telah kirimkan bantuan dan satgas tanggap bencana juga ke sana”, pungkasnya.

Jum’at (19/10/2018) siang Sebanyak 21 orang yang mewakili PPSU DKI Jakarta dari lima wilayah di Jakarta menyerahkan sumbangan hasil penggalangan dana untuk para korban yang terdampak bencana gempa dan tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala, di Sulawesi Tengah. [sym].

Sumber: https://www.facebook.com/aniesbaswedan/

DKI Jakarta Sabet Juara Umum MTQ Nasional ke. 27, Anies Baswedan: Mari Jadikan Qori-Qoriah Sebagai Contoh

DKI Jakarta Sabet Juara Umum MTQ Nasional ke. 27, Anies Baswedan: Mari Jadikan Qori-Qoriah Sebagai Contoh

Gubernur Anies Bawedan berfoto bersama dengan para juara MTQ Nasional ke. 27 di Balaikota, Kamis (18/10/2018). Pemrov DKI juga memberikan bonus berupa uang tunai masing-masing 100 jt (juara1), 70 juta (juara 2) dan 50 juta (juara 3).

DKI Jakarta Sabet Juara Umum MTQ Nasional ke. 27, Anies Baswedan: Mari Jadikan Qori-Qoriah Sebagai Contoh

(Jakarta) wahdahjakarta.com– Kafilah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta berhasil meraih juara Umum pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke.27 tahun 2018 di Medan Sumatera Utara.

“Kafilah Provinsi DKI Jakarta yang telah menorehkan prestasi sebagai Juara Umum pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXVII Tahun 2018 di Provinsi Sumatera Utara”, ujar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada acara pemberian bonus dan penghargaan kepada para juara di kantor Balaikota, Kamis (18/10/2018).

Dalam sambutannya penggagas gerakan Indonesia mengajar ini mengimbau  untuk menjadikan para qori dan qoriah sebagai contoh.

“Mari kita jadikan Qori-Qoriah ini sebagai contoh, Sehingga di masyarakat ada figur-figur sebaya yang bisa dijadikan contoh.  Kalau figur yang buat contoh itu tidak sebaya, biasanya berat itu untuk ditunjukkan. Tapi kalau sebaya, enak sekali ditunjukkan. Kita berharap sekali saudara-saudara semua nanti bisa ikut mendorong perubahan kemajuan masyarakat di Jakarta”, jelasnya penuh optimisme.

Anis juga berharap DKI Jakarta dapat mempertahankan  prestasi yang telah dicapai.

“Bayangkan bila Jakarta bisa tiga kali berturut-turut juara umum, kita akan menorehkan sejarah dalam MTQ ini. Mulai sekarang 2018, 2020, 2022. Kita targetkan Jakarta hatrick tiga kali nomor satu, Insya Allah. Dan ini artinya pembinaan, pembibitan itu harus dijalankan dengan sebaik-baiknya berdasarkan meritokrasi”, ucapnya.

Sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi kepada para juara yang telah mengharumkan nama Jakarta pada event dua tahunan ini, Pemprov DKI memberikan bonus berupa uang tunai masing Rp 100. 000.000 untuk terbaik 1, Rp 70.000.000 untuk terbaik 2, dan bagi terbaik tiga Rp 50.000.000. [sym].

Sejumlah Kampus di Palu Rusak Parah Akibat Gempa dan Tsunami Palu

Sejumlah Kampus di Palu Rusak Parah Akibat Gempa dan Tsunami Palu

Rektorat Institut Agama Islam Negri (IAIN) Palu sehari pasca gempa dan tsunami Palu.

Pasca gempa dan tsunami Palu, perkuliahan di Universitas Tadulako diberhentikan sementara. Meski demikian, mahasiswa Untad tetap bisa mengikuti kuliah dalam program sit in di beberapa kampus di Indonesia yang menyatakan kesediaannya untuk membantu.

(PALU) Wahdahjakarta.com – Hari kedua dan ketiga di Palu, Forjim Solidarity dan Tim Media Lazis Wahdah menyambangi tiga kampus yang menjadi ikon pendidikan di Palu, yakni Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismu), Kampus Universitas Al-Khairat, dan kampus Universitas Tadulako (Untad).

Kampus IAIN Palu yang berada di tepi Pantai Talise, tepatnya di Jl Diponegoro No23, Lere, Palu, Sulawesi Tengah, termasuk kampus yang terkena gelombang tsunami.  Kondisinya terbilang parah dan menyedihkan. Saat memasuki kampus, terlihat lumpur tebal dan genangan air di seluruh area kampus.

Bangunan kuliah hingga rektorat rusak terendam lumpur. Begitu juga dengan mobil yang terparkir di pekarangan kampus tampak ringsek.  Hingga saat ini, belajar mengajar di kampus IAIN Palu diliburkan. Belum bisa dipastikan kapan mahasiswa kembali ke kampus, mengingat area kampus masih tergenang air dan lumpur.

Sejumlah Kampus di Palu Rusak Parah Akibat Gempa dan Tsunami Palu

Salah satu ruangan IAIN Palu yang rusak akibat gempa dan tsunami Palu. Photo diambil sehari setelah gempa Palu, Sabtu (30/09/2018).

Selain kampus IAIN, gempa Palu juga menimpa kampus Universitas Tadulako (Untad). Sebagian besar kondisi bangunannya retak-retak dan tak sedkit yang roboh.

Menurut Muhammad Khairil Al Fath, salah satu mahasiswa Untad, ia mendengar informasi dari teman-teman kuliahnya, bahwa dua mahasiswa yang meninggal dunia akibat gempa Palu. Satu laki-laki, dan satu perempuan. Juga dikabarkan ada beberapa mahasiswi yang dinyatakan hilang, belum diketahui keberadaannya.

“Saya mendengar, mahasiwa yang meninggal itu tertimpa runtuhan bangunan. Nyawanya tak tertolong, ketika hendak dievakuasi. Saat mau ditolong, mahasiswa itu menolak untuk dipotong salah satu tangannya, hingga menghembuskan nafasnya yang terakhir,” kata Khairil.

Adapun perempuan yang meninggal adalah mahasiswi bercadar. Ketika ditemui, perempuan itu terlihat utuh tubuhnya dan tetap terbalut dengan busana muslimahnya. Namun Khairil belum mengetahui nama kedua mahasiswa yang meninggal tersebut.

Pasca gempa dan tsunami Palu, perkuliahan di Universitas Tadulako diberhentikan sementara. Meski demikian, mahasiswa Untad tetap bisa mengikuti kuliah dalam program sit in di beberapa kampus di Indonesia yang menyatakan kesediaannya untuk membantu. Kabarmya, pada 5 November 2018, mahasiswa akan kembali kuliah.

Dalam kesempatan itu, forjim solidarity dan tim media Laznas Wahdah juga menyambangi Universitas Muhammadiyah (Unismu) Palu. Hanya satu gedung serba guna (arena olahraga) yang roboh akibat gempa. Sedangkan Gedung kampus Universitas Al Khairat tidak mengalami kerusakan yang berarti. Namun kampusnya dijadikan sebagai posko pengungsian. (des/sym)

Mungkin Kita Salah Sangka

Mungkin Kita Salah Sangka

“Katakanlah (Muhammad):

Maukah kalian kuberitahu

Tentang orang-orang yang

paling merugi amalan-amalannya?

(Yaitu) orang-orang yang

tersesat amal mereka di dunia,

Namun mereka sangka bahwa

mereka melakukan perbuatan yang baik.”

(Terjemahan ayat 103-104, Surah al-Kahfi)

***

Begitulah kita manusia.

Terlalu sering tersalah sangka.

Mengira diri hamba yang baik,

ternyata durjana membara dalam diri.

Mengira diri berdiri di jalan keshalihan,

ternyata mendurhaka saja sehari-hari.

Mengira diri bagian “golongan yang selamat”,

ternyata tanpa sadar hidup sebagai “golongan terlaknat”.

Mengira diri sebagai ahli Jannah

dengan jubah, jenggot dan purdah,

ternyata sedang terjungkal-jungkal

dalam jilatan Neraka yang menyala.

Mengira diri sedang membela Sunnah,

ternyata diri inilah menyebab umat benci Sunnah.

Mengira diri meneladan kaum Salaf,

ternyata kitalah sejauh-jauhnya hamba dari jejak Salaf.

Seringkali kita tak tahu malu:

mematut diri layak menerima Rahmat-Nya,

tapi entah apa yang mematutkan diri ini

layak menerima Rahmat penuh Kasih-Nya?

Kita terlalu sering berprasangka baik

dalam episode maksiat yang tak henti.

Mulut dipenuhi ghibah.

Mata melanggani yang haram.

Telinga menyimak maksiat.

Lisan bercakap buruk.

Tangan mengukir dosa.

Hati dipenuhi dengki dan benci.

Lalu dengan semua itu:

Kita “melayakkan” diri untuk dirahmatiNya?

Yang benar saja, wahai diri…

***

Maka di titik itulah:

Betapa diri ini seharusnya

tak putus-putus

melantun istighfar dan taubat.

Tak henti-hentinya memohon pinta:

“Tunjukkan kami jejak jalan yang lurus, ya Rabbana!”

Amin…

Akhukum,

Muhammad Ihsan Zainuddin

NB:

Donlot “Bahasa Arab itu Gampang!”

di sini: http://ihsanzainuddin.com

Tim SAR  Mulai Bersihkan Puing Reruntuhan di Balaroa

Tim SAR Wahdah Islamiyah

 

(PALU) wahdahjakarta.com – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memang telah menghentikan evakuasi jenazah akibat gempa dan tsunami di Palu pada 11 Oktober lalu. Meski demikian, Tim SAR Wahdah Islamiyah tetap melanjutkan aktivitas di perumahan Balaroa, namun bukan lagi evakuasi jenazah, melainkan membersihkan puing-puing reruntuhan rumah warga akibat gempa.

Usai apel pagi, Rabu (17/10/2018), Tim SAR Lazis Wahdah langsung bergerak menuju Balaroa. Aksi bersih-bersih dimulai di kediaman Suardi, salah seorang warga yang rumahnya hancur lebur akibat gempa, tepatnya di Jl. Kamboja. Tampak sekelilingnya puing-puing reruntuhan dan genangan air di tempatnya tinggal.

Pak Suardi sedkit bercerita, ketika bencana gempa terjadi, ia menjebol pintu rumahnya yang telah roboh. Alhamdulillah, istri dan anak-anaknya berhasil lolos dari maut dan berlari ke tempat yang lebih tinggi. “Sebelum gempa terjadi, di depan rumah saya ada pohon jambu yang biasa kami kami panjati,” ujarnya mengenang.

Ustadz Mustafa selaku Koordinator Tim SAR, meminta tim relawan agar tetap berhati-hati. Utamakan keselamatan dengan menggunakan helm dan sarung tangan.

Selain membersihkan reruntuhan, tim SAR Wahdah juga membantu warga menyelamatkan harta benda yang tertimbun dan tergenang air.

“Hari ini, Tim SAR Lazis Wahdah mengevakuasi sepeda motor relawan kami yang menjadi korban gempa. Ia ingin motornya dievakuasi, meski kondisinya rusak parah. Atau mungkin ia ingin menjadikan motornya sebagai kenang-kenangan,” kata Ustadz Abu Umar selaku koordinator lapangan Relawan Wahdah Islamiyah.[des]

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #pedulinegeri #peduligempasulteng #gempadonggala

#gempapalu #pasukanhijau

#wahdahpeduli

Bersabarlah, Musibah Bisa Menghapus Dosa

Bersabarlah

Diantara hikmah musibah adalah, musibah dapat menghapuskan dosa.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak henti-hentinya musibah menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya dan hartanya, sampai ia berjumpa dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.” 💦

[HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 2280].

Kesusahan, keperihan hidup, sakit dan musibah adalah hal yang lumrah menimpa kita sebagai manusia. Tidak satu pun manusia yang susah seumur hidup, ataukah….Selengkapnya: https://tinyurl.com/y9dm2prp


❤ “Sedekah Membangun Negeri”, Sedekah Anda untuk Program Dakwah, Program Tahfizh, Program Pendidikan, Program Kemandirian dan Program Wahdah Peduli

💠Layanan Sedekah: Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451) 773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah

💠Layanan Zakat: Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451) 772 800 8002 an Lazis Wahdah Jakarta Zakat

📲Konfirmasi transfer/Layanan Jemput Donasi: 0811 9787 900 (call/wa/sms)

#melayanidanmemberdayakan
#spiritalqur’an