Konferensi Internasional di Mekkah Angkat Tema Persatuan Islam

Perwakilan Indonesia pada Konferensi Internasional Persatuan Islam di Makkah. 

(Mekkah) wahdahjakarta.com – Rabithah Alam Islami (Liga Dunia Islam) menyelenggarakan konferensi internasional di Mekkah Al Mukarramah,  12-13 Desember 2018.

Tema “al wahdah al islamiyah” atau persatuan Islam adalah isu sentral dalam konferensi kali ini. Para ulama dan dai diingatkan, tugas mereka adalah menyatukan kaum muslimin, dalam hal menyebarkan nilai-nilai sikap pertengahan (wasathiyyah), nilai-nilai ikatan persaudaraan (ukhuwwah), serta menjauhi ajakan-ajakan permusuhan dan perselisihan

Konferensi ini diselenggarakan dengan tujuan membuat langkah-langkah strategis dalam menangani permasalahan sektarian dalam Islam. Selanjutnya diharapkan akan menjadi  wadah komunikasi lintas madzhab untuk menjembatani terciptanya  rasa saling percaya, saling memahami, serta ta’awun (saling membantu dan bekerjasama) yang berkesinambungan.

Ketua Rabithah Alam Islami As-Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Karim mengajak seluruh peserta konferensi untuk membentengi umat dari perpecahan dan juga sikap ekstrim dalam beragama.

Konferensi  yang yang dihadiri 1000 Ulama dan Da’i dari 127 negara ini terselenggara atas dukungan penuh Raja Saudi Arabia, Raja Salman bin Abdul Aziz.

Turut hadir dalam konferensi  tersebut Ketua Dewan Pertimbangan MUI Prof. Dr.H. Din Syamsuddin, Wakil Ketua Umum MUI Pusat Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Wakil Ketua MPR RI Dr. Hidayat Nur Wahid, dan Ketua Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara yang juga Wasekjen MUI, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin. [ags/ibw]

Petisi “Kami Bersama Maimon Herawati,” Tanda Tangan Sudah Capai 8000 Orang

Screhs schoot Petisi “Kami Bersama Maimon Herawati” yang sudah ditandatngani 8000 orang.

(Jakarta) wahdahjakarta.com— Muncul petisi di situs change.org “Kami Bersama Maimon Herawati” sebagai wujud dukungan kepada dosen Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, itu sebagai pejuang penyelamat generasi muda bangsa.

“Sebagai seorang emak-emak, Teh Imun (Maimon Herawati) kerap mewakili jeritan para emak-emak lainnya, akan segala bentuk gempuran yang mengarah kepada potensi dekadensi moral generasi muda. Kebanyakan perjuangan itu dilakukan lewat literasi berupa postingan tulisan di medsos dan sejenisnya serta di ruang seminar dan diskusi,” tulis Irfan Abdul Gani selaku penggagas petisi.

Sejak dibuat Rabu (12/12/2018) kemarin, dan sampai Kamis (13/12/2018) siang ini, tanda tangan petisi sudah lebih dari 8000 orang, dan telah mengarah kepada angka 10.000 tanda tangan. Diprediksi petisi itu bisa menembus ratusan ribu tanda tangan.

“Saya mendukung Bunda Maimon dalam menjaga generasi muda dari polusi yang merusak,” kata Astuti Kusumorini dalam tulisannya di petisi itu.

Maimon mendapat bully-an, bahkan cemoohan, sampai intimidasi lewat alat komunikasi, setelah ia berhasil mendesak Komisi Penyiaran Indonesia untuk menghentikan seluruh iklan Shoppee yang menampilkan girlband asal Korea Selatan, Blackpink, di sejumlah layar kaca televisi.

Tak hanya itu, akun media sosial jenis aplikasi Instagram Maimon dihapus, dan akun Facebook-nya juga di-suspend.

Melalui petisi “Hentikan Iklan Blackpink Shopee”, Maimon menganggap, iklan Shopee yang menggunakan grup Korea Selatan, Blackpink ini, sering diputar pada program anak-anak. Satu film anak-anak bahkan memuat iklan ini setiap beberapa menit seperti Film Tayo do RTV, Jumat (7/12).

“Apa pesan yang hendak dijajalkan pada jiwa-jiwa yang masih putih itu? Bahwa mengangkat baju tinggi-tinggi dengan lirikan menggoda akan membawa mereka mendunia? Bahwa objektifikasi tubuh perempuan sah saja?” tegas Maimon, yang juga dikenal sebagai aktivis Muslimah, yang selama ini getol menyuarakan penderitaan warga Palestina. []

Terkait Iklan Blackpink, KPI Peringatkan 11 Stasiun Tv

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Petisi penolakan iklan Blackpink Shopee yang dibuat Maimon Herawati berbuntut pada peringatan keras yang dilayangkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) kepada 11 stasiun televisi yang menayangkan iklan BLACKPINK Shopee yang dinilai tak sesuai norma kesusilaan.

Dalam surat peringatan yang ditandatangani oleh Ketua KPI Pusat, Yuliandre Darwis pada Selasa (11/12/2018) tersebut, KPI menilai muatan dalam iklan dan acara yang menampilkan beberapa wanita yang menari dengan pakaian minim tersebut tidak memperhatikan dan berpotensi melanggar ketentuan tentang penghormatan terhadap norma kesopanan yang diatur dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) KPI tahun 2012.

“Kami meminta kepada produsen, agar dalam membuat iklan dan melakukan promosi untuk senantiasa memperhatikan brand safety, sehingga tidak menimbulkan persepsi negatif terhadap produk atau jasa yang ditawarkan,” ujar komisioner sekaligus Koordinator Bidang Isi Siaran KPI Pusat, Hardly Stefano sebagaimana dilansir dari kiblat.net.

“Surat peringatan juga ditembuskan pada Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) agar sesuai dengan MoU yang pernah ditanda-tangani bersama KPI, P3I melakukan pengawasan dan evaluasi iklan agar sesuai dengan etika pariwara dan norma yang berlaku di masyarakat,” lanjutnya seperti dikutip dari website resmi KPI, kpi.go.id.

Dengan dikeluarkannya surat peringatan dari KPI, Hardly berharap lembaga penyiaran segera melakukan perbaikan internal dengan menghentikan penayangan iklan Shopee yang dimaksud, dan menggantinya dengan tampilan lain yang tidak menimbulkan persepsi negatif.

 “Jika kami masih menemukan tayangan yang sama sebagaimana dimaksud dalam surat peringatan, KPI akan menjatuhkan sanksi sesuai dengan regulasi yang ada,” tegas Hardly. (sumber:kiblat.net)

Gelar Mukernas XI, Wahdah Islamiyah Akan Usung Paradigma Baru

Sekjen DPP Wahdah Islamiyah, Syaibani Mujiono (tengah berkopiah hitam) saat konferensi pers panitia Mukernas XI Wahdah Islamiyah, Rabu (12/12/2018)

(Makassar) wahdahjakarta.com—Sekretaris Jendral (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI), Syaibani Mujiono mengatakan, pada Musyawarah Kerja Nasional XI (Mukernas ke.11) mendatang, WI akan mengusung paradigma baru dalam pergerakan dakwahnya.

Hal itu disampaikan Syaibani saat menggelar konfrensi pers di salah satu rumah makan di Makassar, Rabu (12/12/2018).

Mantan Ketua Dewan Pimpinan Cabang Wahdah Islamiyah Makassar ini mengatakan, selama ini WI hanya berdakwah melalui pengajian-pengajian, tarbiyah (belajar Islam intensif setiap pekan), tebar dai nusantara, bidang sosial dan sebagainya. Namun, dalam masa kepemimpinannya sebagai Sekjen, Syaibani menyebut ingin membawa WI ke arah paradigma baru.

“Saat ini tanpa kita sadari, peranan perekonomian masih menjadi salah satu primadona bagi setiap lembaga atau ormas-ormas dalam menyukseskan setiap agenda dakwahnya. Dan untuk itu WI punya caranya sendiri,” ujarnya.

Paradigma yang menurutnya ingin diusung antara lain, menjajaki kerjasama dengan perbankan syariah dalam setiap item dakwah WI di seluruh pelosok negeri, perintisan usaha-usaha mikro, penyatuan setiap elemen kader Wahdah yang mempunyai usaha-usaha kecil, serta usaha perekonomian lainnya.

“Saat ini kita sudah punya kerjasama dengan beberapa bank syariah baik yang nasional maupun yang swasta. Insya Allah kita juga berencana akan merintis sebuah Perguruan Tinggi yang akan menyediakan prodi khusus perekonomian syariah,” jelas alumni STIBA Makassar ini.

Menurutnya, kiprah WI dalam membangun bangsa akan terus berlanjut. “Termasuk soal bagaimana perekonomian ummat bisa berkembang,” imbuhnya.

Sejumlah  persiapan  menuju mukernas XI telah dilaksanakan satu demi satu. Panitia penyelenggara kini sedang menyiapkan event besar menyambut mukernas WI XI  yang akan dihelat di Celebes Convention Center (CCC) Makassar.

Event terbesar dan pertama di kota Makassar ini mengusung tema “Ummat Fest 2018”. Panitia berrencana menghadirkan ribuan pengunjung.

“Ini kegiatan besar dan tagetnya tidak main-main. Ada ribuan orang yang insya Allah akan hadir. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa,” kata Ketua panitia Andri Amir di Makassar, Rabu (12/12/2018).

Kegiatan yang akan disajikan seperti tabligh akbar, sholat Jumat berjamaah, dialog hijrah, bazaar fashion dan kuliner. []

Harapan Pemprov Bangka Belitung Kepada Wahdah Islamiyah

Pengukuhan DPW Wahdah Islamiyah Bangka Belitung oleh Sekjen DPP Wahdah Islamiyah, Ustadz Syaibani Mujiono, Pangkal Pinang, Sabtu (8/`12/2018)

(Pangkal pinang) wahdahjakarta.com–Pemerintah Provinsi Bangka Belitung (Pemprov Babel) berharap Wahdah Islamiyah dapat berperan dalam menjelaskan pemahaman Islam yang benar kepada masyarakat.

“Sekarang ini juga banyak yang menafsirkan ayat Al-Qur’an sesuai hawa nafsunya. Maka kami mengharapkan dari Wahdah bisa menjadi bagian menjelaskan kepada masyarakat Islam yang sesungguhnya” ujar Syahruddin dalam sambutannya mewakili Guberbur Babel pada pengukuhan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah (BPW WI) Bangka Belitung, Sabtu (8/12/2018).

“Bapak Gubernur sangat merespon dari setiap kegiatan dakwah, terutama daerah pelosok terpencil yang masih kurang tersentuh oleh Pendidikan agama yang memadai, maka ini menjadi peluang Wahdah untuk hadir di sana.” Jelasnya sebagaimana dilansir dari wahdah.or.id.

Menurut Ketua Departemen Urusan Pengembangan Daerah Dewan Pimpinan Pusat (DPP) WI, Syamsuddin Kurru, DPW Wahdah Islamiyah Babel merupakan DPW ke-34, artinya Wahdah Islamiyah telah ada di 34 provinsi seluruh Indonesia.

“Dengan dikukuhkannya DPW WI Bangka Belitung menandakan Wahdah Islamiyah telah resmi berdiri di 34 Provinsi seluruh Indonesia.” Ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut juga dikukuhkan pengurus 3 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yakni DPD Wahdah Islamiyah Pangkal Pinang, Bangka dan Bangka Tengah.

Kegiatan dengan tema “Sinergitas Dakwah di Negeri Serumpun Sebalai” dihadiri dari perwakilan pemerintah provinsi Babel, Polda Babel, Ketua DMI Provinsi Babel dan sejumlah tokoh masyarakat, simpatisan dan kader Wahdah Islamiyah Babel.

Dalam sambutannya Sekejen DPP ustadz Syaibani menjelaskan tentang kiprah Wahdah Islamiyah baik di daerah maupun tingkat Nasional. Ia berharap pemerintah bisa mendukung kegiatan dakwah Wahdah Islamiyah.

Pengukuhan DPW WI Babel digelar di Ruang Pasir Padi, Kantor Gubernur Bangka Belitung. Pengukuhan dirangkaikan dengan ceramah Tabligh Akbar oleh ustadz Syaibani yang membahas kandungan Surah al-Ashr.

Diantara point materinya ustadz Syaibani menekankan pentingnya seorang da’i berdakwah di tengah masyarakat dengan mengamalkan prinsip yang ada dalam Surah al-Ashr.[sym]
Sumber: wahdah.or.id

Shaleh Tapi “Tak Berdaya Guna” Untuk Islam

Relawan Wahdah Peduli bersama TNI sedang melakukan evakuasi korban gempa dan tsunami palu di salah satu kawasan perumahan

Banyak orang shaleh di sekitar kita. Tidak sedikit dari mereka adalah pribadi yang ahli ibadah (gemar beribadah), faqih (keilmuan dan pemahaman agama yang memadai), cerdas, memiliki skill bagus, dan potensi-potensi lain yang cukup signifikan. Keberadaan mereka adalah modal utama bagi kebangkitan Umat Islam di zaman ini dan kelak.

Mereka adalah aset umat yang bila diberdaya-gunakan tentu akan sangat membantu proses kebangkitan Islam dan mengangkat derajat umat Islam di hadapan umat lainnya. Sebaliknya, mereka yang tidak berdaya guna – apalagi jika tidak berusaha memberdaya-gunakan dirinya – adalah salah satu sebab keterlambatan percepatan kebangkitan umat, bahkan pada kondisi tertentu bisa menjadi ancaman runtuhnya bangunan perjuangan yang telah dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sahabat radhiallahu ‘anhum dan para pendahulu kita yang shaleh (salaf).

“Daya Guna” di sini, adalah ‘amal. Atau dalam bahasa kita, makna pasangan kata ini mungkin dekat dengan istilah efektif, yakni sesuatu yang dapat membawa efek bagi selainnya. Tentu yang kita maksudkan di sini adalah efek yang bermanfaat, positif, dan membangun serta hal lainnya yang berafisliasi dengan makna – makna tersebut.

Penegakan agama Allah di muka bumi merupakan perkara yang mulia dan besar. Agama Islam sebagai satu-satunya agama yang haq tidak dapat tegak kecuali dengan kerja dan ‘amal. Hal ini karena agama Islam menempatkan kerja dan ‘amal sebagai sebuah bagian yang penting dalam keber-Islaman seseorang. Kita bahkan tahu bahwa keimanan yang benar adalah keimanan yang tidak hanya sebatas pada hati dan ucapan, namun harus dibuktikan dalam wujud ‘amal.

Mengapa Harus Ber’amal

Berikut kami paparkan beberapa urgensi dan alasan mengapa kita harus (segera) melakukan ‘amal dan kerja untuk agama kita, Islam yang mulia (tentu tidak hanya sebatas beberapa hal ini), yakni :

a. Sedikitnya Jatah Waktu

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

Usia umatku, enam puluh sampai tujuh puluh tahun” .(HR. Tirmidzi).

Ini adalah ketetapan Allah, meskipun sangat sedikit yang bisa melampaui batas waktu itu, hanya bagi mereka yang dikehendaki oleh Allah, tentunya. Katakanlah seseorang hidup di dunia selama enam puluh tahun, maka perputaran kehidupannya kurang lebih berjalan seperti berikut :

Pertama, jika orang tersebut menghabiskan waktu selama 8 jam sehari untuk tidur (meskipun ada manusia yang lebih dari itu -kami berlindung kepada Allah-), maka selama hidupnya dia telah menghabiskan umurnya selama 175.200 jam atau 7.300 hari atau sekitar 20 tahun untuk tidur.

Kedua, jika orang tersebut menghabiskan waktu selama 10 jam sehari untuk bekerja maka selama hidupnya dia telah menghabiskan umurnya selama 219.000 jam atau 9.125 hari atau sekitar 25 tahun untuk bekerja.

Ketiga, jika orang tersebut menghabiskan waktu selama 6 jam sehari untuk mengurusi masalah – masalah keduniaan seperti: rumah tangga, anak, isteri, makan, minum, mengunjungi kerabat, berlibur, berbelanja, dan lainnya ditambah dengan ibadah -khususnya ibadah – ibadah mahdhah seperti : shalat, shaum, dll- maka selama hidupnya dia telah menghabiskan umurnya selama 131.400 jam atau 5.475 hari atau sekitar 15 tahun untuk mengurusi hal – hal tersebut. Wallahu A’lam.

Jika demikian keadaannya, berapa banyak waktu yang tersisa untuk ber’amal dan mempersembahkan sesuatu untuk agama Allah? Masih adakah waktu yang tersisa untuk ikut berlomba menggapai nilai – nilai ukhrawi dalam setiap derap langkah dan desah nafas kehidupan kita? Jika saja, setiap detik, menit, jam , hari, bulan dan tahun kita jadikan dan niatkan untuk ibadah/taqarrub kepada Allah, tentu akan sangat membahagiakan. Sebagaimana perintah Allah Ta’ala, artinya :” Tetapi, Jika tidak??? Kepada Allah jualah kita memohon perlindungan.

Karena itulah, riwayat hidup generasi salafusshaleh adalah cermin akan pemanfaatan waktu. Riwayat hidup Imam Nawawi rahimahullah merupakan riwayat hidup yang harum dan besar, yang layak merepresentasikan kondisi generasi salafusshaleh dalam mengelola waktu untuk ber’amal dan bekerja demi sebuah hal yang besar. Beliau adalah seorang ‘alim yang mengurangi waktu tidur, makan, minum, dan hal lainnya yang bisa menyibukkannya dari taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika beliau pindah dari kampung kelahirannya, Nawa, ke Damaskus, ia semakin giat memanfaatkan waktu. Selama 20 tahun penuh beliau bahkan tidak pernah merebahkan tubuhnya ke bumi, melainkan hanya tidur bersandar pada buku – bukunya, sibuk belajar, dan memperbanyak ibadah. Salah seorang temannya pernah membawakan makanan yang masih ada kulitnya, namun beliau tidak bersedia memakannya. Beliau berkata, “Saya khawatir tubuhku lembab sehingga aku tertidur”. Demikianlah beliau berkejaran dengan waktu.

Segeralah menyadari sedikitnya jatah waktu untuk kita! Imam Hasan Al Bashri pernah berkata,

“Waktu hanya ada tiga, waktu kemarin yang sudah bukan milik kita lagi. Esok hari yang belum tentu kita punyai. Dan sekarang yang ada di tangan kita”.

Mengapa sang Imam mengatakan hal itu? Ya, tentu tidak lain karena beliau sangat memahami berharganya waktu yang sedikit ini.

Maka, kebiasaan manusia – manusia besar seperti mereka adalah menggunakan jatah waktu yang sedikit untuk sebuah karya besar.

b. Perbedaan derajat
Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menjanjikan surga kepada orang -orang yang ta’at. Namun Allah memasukkan mereka ke surga semata – mata karena rahmatNya, bukan atas dasar hak seorang hamba sebagaimana yang diketahui. Tetapi keadilan ilahi menetukan bahwa seseorang yang mencurahkan segala tenaga dan potensinya untuk taat kepada Rabbnya dan berupaya menegakkan agama-Nya itu tidak sama dengan orang yang melalaikan semua itu. Begitu pula, tidak sama antara orang yang banyak mencurahkan harta, pikiran dan tenaga semata – mata untuk kejayaan agama, dengan orang yang hanya sedikit dan pelit mencurahkan nikmat tersebut. Manakala Allah telah menakdirkan perbedaan ini, tentu kesudahan mereka di surgaNya adalah pada tingkatan – tingkatan yang berbeda pula.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Sesungguhnya surga itu mempunyai seratus tingkatan (derajat), yang semua itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala sediakan untuk orang -orang yang berjihad di jalanNya. Sedangkan jarak antara dua tingkatan seperti jarak antara langit dan bumi. Jika kamu meminta surga kepada Allah maka mintalah surga firdaus karena merupakan surga yang paling luas. Di atasnya terdapat ‘arsy Rahman dan sungai – sungai tyerpancar darinya”. (HR. Bukhari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

Sesungguhnya surga itu mempunyai beberapa kamar. Ruangan luarnya dapat dilihat dari dalam, begitu juga ruang dalamnya, dapat dilihat dari luar, Kemudian seoran A’rabi berdiri seraya bertanya : Wahai Rasulullah, untuk sipakah kamar – kamar itu? Kemudian rasulullah menjawab : “Untuk orang yang selalu berkata baik, suka memberi makan orang lain, membiasakan puasa dan suka melakukan shalat malam sewaktu manusia sedang terlelap”. (HR. Tirmidzi).

Diriwayatkan dalam sebuah hadits yang lainnya,

Sesungguhnya penduduk surga saling melihat penduduk surga yang ada di atasnya, seperti mereka memandang bintang yang berkilau, seperti mutiar yang melintas di ufuk langit dari arah timur atu barat, karena keutamaan yang ada pada mereka. Para sahabat bertanya : Wahai Rasulullah, bukankah tempat itu untuk para nabi? Sedangkan orang lain tidak dapat mencapainya? Lalu rasul menjawab : Ya, demi Dzat yang jiwaku ada dalam kekuasaanNya, tempat itu juga untuk orang – orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan utusanNya”. (HR. Bukhari).

Dan Nabi pernah menceritakan perbedaan derajat bagi penghuni surga,

“Dua surga yang bejana dan isinya terbuat dari perak. Dan ada surga yang bejana dan isi keduanya terbuat dari emas…” (HR. Bukahri).

Lihatlah, saudaraku. Lihatlah mimpi dan berita gembira dari Allah ini dengan mata hati nurani yang bersih sebelum melihatnya dengan kasat mata, agar engkau memperoleh bashirah, cahaya yang terang, betapa surga itu adalah harga yang mahal pun tingkatan – tingkatan yang ada di dalamnya.

Betapa orang – orang shalih sebelum kita berusaha keras mendapatkan derajat – derajat yang tinggi itu. Pun mereka berkompetisi untuk mengungguli derajat orang – orang selain mereka. Dalam kitab Ar-Ruh karya Ibunl Qayyim Al Jauziyah rahimahullahu disebutkan beberapa kisah tentang mereka, di antaranya :

Ketika Muhammad bin Sirin meninggal dunia, seorang sahabatnya sangat berduka atas kepergiannya. Kemudian ia bermimpi melihatnya dalam keadaan yang baik. Ia bertanya , “Wahai saudaraku, aku lihat kamu dalam keadaan yang membahagiakan diriku, lalu apa yang Allah tetapkan pada Hasan (Hasan bin Yasar Al Bashri)? Ia menjawab : Ia diangkat di atasku tujuh puluh derajat”. Aku berkata : Mengapa bisa demikian sedangkan kami melihatmu lebih istimewa dibandingkan dia? Ia menjawab : Itu karena ‘duka citanya’ yang panjang”.

Ketika Rabi’ah (Rabi’ah al-Adawiyah, ahli ibadah yang masyhur) meninggal dunia, seorang sahabatnya bermimpi melihatnya memakai pakaian dan cadar dari sutra. Sedangkan dulunya ia dikafani dengan memakai jubah dan cadar dari wol. Maka sahabatnya itu bertanya : Di mana kain jubah dan cadar dari kain wol yang menjadi kafanmu? Ia menjawab : Demi Allah, kain itu dilepas dariku dan diganti dengan pakaian yang kamu lihat padaku ini. Sedangkan kain yang menjadi kafanku itu dilipat, diberi stempel kemudian diangkat ke illiyyin agar sempurna pahalanya bagiku di hari kiamat…. (selanjutya ia – sahabatnya – bertanya lagi), Apa yang diperbuat oleh “Abdah binti Abi Kilab (ahli ibadah dan zahid)? Ia menjawab : Jauh, jauh, demi Allah dia telah mendahului kami mendapatkan derajat yang tinggi. Kemudian sahabatnya berkata : Apa sebabya, padahal kamu menurut manusia adalah orang yang paling banyak ibadahnya? Ia menjawab : Sesungguhnya Abdah tidak pernah mempedulikan bagaimana keadaan dirinya di dunia di waktu pagi atau sore. Lalu aku bertanya lagi : Apa yang diperbuat oleh Abu Malik (Abu Malik al- ‘Abid, wiridnya setiap hari adalah shalat empat ratus raka’at, Shifatush-Shafwa : 3/357-360)? Ia menjawab : Dia mengunjungi Allah kapan pun ia inginkan. Sahabatnya bertanya lagi, Apa yang diperbuat oleh Basyar bin Mansyur (orang yang jujur, ahli badah dan zahid)? Ia pun menjawab : Bukh, bukh (kalimat yang diucapkan ketika memuji). Demi Allah ia diberi melebihi apa yang ia inginkan. …”.

Imam Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Sesungguhnya aku sangat menginginkan satu tahun saja dari usiaku seperti Ibnu Mubarak (seorang ‘alim, ‘abid, mujahid, dermawan dan berbagai keutamaan lainnya). Tapi aku tidak mampu melakukannya . Bahkan dalam tiga hari sekalipun”. Mengapa Sufyan Ats-Tsauri mengatakan hal itu? Padahal beliau adalah ulama yang terkenal luar biasa dalam beribadah. Sampai – sampai ada salah seorang salaf di zamannya mengatakan, “Sufyan di zamannya, seperti Abu Bakar dan Umar di zamannya”.

Kisah – kisah ini tidaklah kemudian menjadi sandaran dan pijakan kita dalam ber’amal, sebagaimana dalil – dalil al-Qur’an dan sunnah yang shahih. Namun, setidaknya kisah dalam mimpi – mimpi tersebut, sungguh menghembuskan aroma, semangat dan nafas keimanan.

c. Jalan Para Nabi dan Rasul serta Reformis (Muslihun)
Tidak syak lagi, bahwa ber’amal, melakukan kerja – kerja dalam rangka dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, merupakan jalan para nabi dan rasul serta para reformis (mushlih), dalam kafilah cahaya yang panjang sejak Nabi Adam hingga datangnya hari kebangkitan kelak. Mereka yang bergabung dalam kafilah ini, akan mendapatkan kemuliaan besar saat ini dan nanti. Mereka adalah orang – orang yang memberikan goresan sejarah perjuangan, sehingga lembaran – lembaran sejarah tak kuasa untuk luput mencatat riwayat hidup mereka. Sedangkan mereka yang tertinggal dari kafilah ini akan terperangkap dalam lingkaran kemalasan, kejemuan, was – was, tidak menentu arah, rapuh dan tekanan. Wallahu Musta’an.

d. “Mereka”Pun “Berkarya”
Mereka adalah para pengusung kekafiran dan para penyerunya. Bukankah kita tahu, betapa umat Islam saat ini sedang mengalami ancaman dan rongrongan yang luar biasa dari para penyeru –misionaris- kekufuran. Tujuan mereka tidak lain adalah menggoncang keimanan umat sehingga akhirnya rela melepasakan keimanan dan keislaman mereka (murtad).

Dalam perjalanan sejarah, tercatat begitu banyak “dai – dai” mereka yang mampu bekerja “banting-tulang”, dengan pengorbanan yang tinggi yang ketika mendengar dan membaca cerita – cerita “’amal” mereka, kita tak sengaja “menelan ludah” dan “menggelengkan kepala” pertanda takjub akan heroisme mereka.

Seorang anggota tim dakwah daerah dari lembaga keagamaan di wilayah Makassar dan sekitarnya pernah menuturkan kisahnya. Saat itu, tim dakwah menjalankan misi dakwahnya ke sebuah daerah terpencil dan terisolir di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Desa Sicini, namanya. Perjalanan menuju ke sana sarat dengan perjuangan. Betapa tidak, akses jalan dan prasarana perhubungan menuju ke desa tersebut nyaris tidak ada dan sungguh bagi mereka yang bernyali pas-pasan akan ciut dibuatnya. Batu cadas yang tajam ditambah jalan yang amat landai, membuat semangat dan ghirah para da’i – da’i “pilihan” itu semakin menyala. Mereka melaju kendaraannya dengan goncangan bak ombak di tengah lautan yang luas. Sehingga sempat terpikir oleh mereka, adakah desa itu memilki penduduk yang menetap. Kalau pun ada, bagaimana mereka mampu bertahan dengan kesulitan seperti ini. Akhirnya ketika mereka tiba, tampaklah sebuah fenomena yang tidak disangka. Ternyata, di desa, telah ada dan hidup seorang misionaris selama puluhan tahun. Ia telah mampu mewarnai desa tersebut dengan warna – warna kekafiran dan mengkafirkan sebagian dari penduduk desa yang sebelumnya memeluk agama Islam dari nenek moyang mereka. Kenyataan ini, membuat kita sadar, betapa “mereka” mampu “berdaya guna” bagi agamanya. Padahal, usaha mereka mengorbankan daya, harta benda dan keluarga, tidak akan mengangkat mereka dari jurang kenistaan dan siksaan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya ;

“ Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikit pun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka” (QS Al Imran : 10).

Sekali lagi, kita harus segera ber’amal dan mengakhiri ketidakberdayaan. Jika saja para pengusung kekafiran dan kesesatan (yang tidak memiliki konsep keimanan yang haq) bekerja keras siang dan malam memperjuangkan kejayaan agama dan millah mereka serta berusaha untuk menambah pengikut yang diharapkan dapat membantu eksistensi mereka, mengapa kita sebagai seorang mu’min yang berupaya meraih kesempurnaan iman dengan ‘amal, peniti jejak para salafussshaleh, pengusung manhaj yang haq, dan pengejar kenikmatan surga dan bidadari yang ada di dalamnya, tidak ber’amal lebih keras atau setidaknya dengan ‘kekerasan’ (dengan kadar) yang sama dengan “kekerasan” mereka untuk meninggikan agama Allah?

Penutup

Kita harus memahami betapa penting memberdayakan segala keshalihan, potensi dan bakat dalam bentuk ‘amal untuk agama, sebagai sebuah konsekuensi akan keimanan kita. Dan yang pasti, hal ini adalah sebuah kompetisi mencapai puncak kemuliaan, rahmat dan keridhaan Allah Jalla Wa ‘Ala .

Maka, hendaknya kepada orang – orang yang telah berikrar dengan keimanannya, mereka yang telah mampu untuk mewujudkan keshalihan individunya, dan mereka yang Allah telah anugerahkan beragam nikmat dan potensi dalam dirinya, segeralah ber’amal! Saatnya mengakhiri ketidakberdayaan. Berdaya guna untuk Islam. Berdaya guna untuk sebuah karya menuju cita mulia. Kemuliaan agama Allah di dunia. Kenikmatan tak terhingga di surga.

Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.(QS. At Taubah : 105).

Wallahu A’lam.(Abu Mujahid)

Maraji’ :
Ajzu Ats Tsiqat, DR. Muhammad ibn Hasan ibn ‘Aqil Musa Syarif (edisi Indonesia : Shalih Tapi Tak Berdayaguna), Rabbani Press, Jakarta, Oktober 2002.
Etos Kerja Seorang Muslim, Muh. Ihsan Zainuddin.

Keutamaan Shalat Berjama’ah


Shalat merupakan rukun Islam yang kedua setelah syahadatain. Shalat juga merupakan tiang agama dan amalan yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melaksanakan Shalat secara berjama’ah merupakan ketaatan kepada Allah yang sangat mulia. Shalat berjama’ah juga merupakan salah satu syi’ar Islam yang mulia yang memiliki fadhilah dan keutamaan yang banyak.

Keutamaan shalat Berjama’ah yang akan dibahas dalam tulisan ini terkait dengan seluruh aktivitas yang terkait dengan shalat berjama’ah. Mulai dari berjalan menuju masjid, berdiam di masjid menanti waktu shal;at berjama’ah, dan sebagainya;

1. Naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada Hari kiamat bagi Orang yang Hatinya Terpaut dengan Masjid

Salah satu fadhilah yang didapatkan dari shalat berjama’ah adalah barang siapa yang mempunyai rasa cinta yang dalam terhadap masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah di dalamnya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan naungan pada hari kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ …وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ… : متفق عليه

“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (diantaranya)……dan seseorang yang hatinya selalu terpaut pada masjid” (Muttafaqun Alaihi)

Imam An-Nawawi ketika menjelaskan makna hadits di atas mengatakan;

“Orang mempunyai rasa cinta yang dalam terhadap masjid dan kontinyu dalam melaksanakan shalat berjama’ah di dalamnya bukan berarti selalu tinggal di masjid” (Syarah An-Nawawi 7 : 121)

2. Keutamaan Berjalan ke Masjid untuk Shalat Berjama’ah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan bahwa setiap langkah seorang muslim menuju ke masjid merupakan salah satu sebab pengampunan dosa dan pengangkatan derajat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ …وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ… : رواه مسلم

Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajat ?” Para shahabat berkata : “Tentu, Ya Rasulullah”, Beliau bersabda ” ….dan memperbanyak langkah menuju ke masjid …” (HR. Muslim).

Pengangkatan derajat artinya kedudukan yang tinggi di Syurga (syarah An-Nawawi 3 : 141).

Penghapusan dosa dan pengangkatan derajat tidak hanya didapatkan oleh orang yang memperbanyak langkahnya menuju ke masjid, akan tetapi fadhilah ini akan didapatkan juga ketika kembali ke rumahnya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

مَنْ رَاحَ إِلَى مَسْجِدِ الْجَمَاعَةِ فَخُطْوَةٌ تَمْحُو سَيِّئَةً وَخُطْوَةٌ تُكْتَبُ لَهُ حَسَنَةً, ذَاهِبًا وَرَاجِعًا : رواه أحمد

“Barang siapa yang menuju ke masjid untuk shalat berjama’ah maka setiap langkahnya menghapuskan dosa dan ditulis padanya satu kebaikan baik ketika ia pergi maupun ia kembali” (HSR. Ahmad).

3. Keutamaan Menunggu Shalat

Dan diantara fadhilah shalat berjama’ah adalah barang siapa yang duduk untuk menunggu shalat ia akan senantiasa dido’akan oleh para malaikat, makhluk yang tidak pernah bermaksiat kepada-Nya.

Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

أَحَدُكُمْ مَا قَعَدَ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فِي صَلاَةٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ تَدْعُو لَهُ الْمَلاَئِكَةُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْه : رواه مسلم

“Apabila salah seorang dari kalian duduk untuk menunggu shalat di masjid maka dia senantiasa dalam keadaan shalat selama ia tidak berhadats (dan) para malaikat akan mendo’akannya : “Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah rahmatilah dia” (HR. Muslim)

4. Keutamaan Berada di Shaf Pertama

Dalam shalat berjama’ah terdapat shaf dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melebihkan shaf awal atas shaf lainnya dikarenakan didalamnya terdapat fadhilah yang sangat agung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ اْلأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا : رواه البخاري

Kalau seandainya manusia mengetahui apa yang terdapat dalam adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan melakukan undian niscaya mereka akan melakukannya” (HR. Bukhari).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak menjelaskan tentang fadhilah apa yang terkandung didalamnya hal ini menunjukkan betapa besarnya pahala yang terdapat didalamnya. Dan telah datang beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa shaf awal juga menyerupai shafnya para malaikat, sebagaimana juga terdapat riwayat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dan malaikat-Nya bershalawat terhadap orang-orang yang berada di shaf awal dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah memintakan ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas orang-orang yang berada di shaf pertama dan kedua (Lihat Ahammiyatu Shalatil Jama’ah : 21-24).

5. Keutamaan berada di shaf sebelah kanan

Diriwayatkan dari Aisyah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى مَيَامِنِ الصُّفُوفِ : رواه أبو داود

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang berada pada shaf sebelah kanan” (HHR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Para shahabat menyukai untuk senantiasa berada di bagian kanan shaf apabila mereka shalat dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Al-Bara’ Radhiyallahu ‘anhu berkata :

كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللهِ أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ فَيُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهَِ : رواه أبوداود

Kami apabila shalat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lebih kami sukai untuk kami berada di sebelah kanan beliau karena beliau menghadapkan wajahnya (pertama kali) kepada kami (saat salam)” (HSR. Abu Daud)

6. Keutamaan Mengucapkan Amin

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan tentang fadhilah mengucapkan amin bersama-sama imam dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا قَالَ اْلإِمَامُ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ : رواه البخاري

Apabila imam mengucapkan “ghairul maghduubi ‘alaihim waladdhaliin” maka katakanlah “Amin” karena barang siapa yang aminnya bertepatan dengan aminnya para malaikat maka akan diampuni dosanya yang telah lalu ” (HR. Bukhari)

7. Pengampunan dosa atas orang yang melaksanakan shalat berjama’ah setelah menyempurnakan wudhu

Diantara keutamaan shalat jama’ah adalah kabar gembira dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam atas orang yang shalat berjama’ah setelah menyempurnakan wudhu berupa pengampunan dosa. Diriwayatkan dari Utsman bin Affan berkata “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلاَّهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوبَهُ : رواه مسلم

“Barang siapa yang berwudhu dan menyempurnakannya kemudian berjalan untuk melaksanakan shalat fardu bersama dengan manusia atau secara berjama’ah atau di dalam masjid maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosa-dosanya” (HR. Muslim)

8. Keutamaan shalat berjama’ah atas shalat sendiri

Telah terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan tentang ganjaran bagi orang yang melaksanakan shalat secara berjama’ah berupa pelipat gandaan derajat atas orang yang shalat secara sendiri-sendiri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda;

( صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً ( رواه البخاري

“Shalat berjama’ah lebih afdhal dari shalat sendiri sebanyak dua puluh derajat” (HR. Bukhari)

9. Dua pembebasan atas orang yang senantiasa mendapatkan takbir pertama imam selama empat puluh hari

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ صَلَّى للهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ اْلأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَااقِ : رواه الترمذي

Barang siapa yang shalat selama empat puluh hari secara berjama’ah dan selalu mendapatkan takbir pertama, maka di tetapkan baginya dua pembebasan : Pembebasan dari api neraka dan pembebasan dari nifaq” (HHR. Tirmidzi).

Ya Allah, janganlah Engkau wafatkan kami sebelum kami mendapatkan keutamaan-keutamaan ini, Amin.

-Syamsuddin-
Maraji’ : Ahammiyah Shalati Al Jama’ah, Dr. Fadhlu Ilahi
(Al Fikrah Tahun 2 Edisi 18)

Lima Pesan Menag untuk Perbaikan Layanan Haji 2019

(Bogor) wahdahjakarta.com —  Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI) di Arab Saudi tahun 1439H/2018 M meningkat menjadi 85,23. Ini berarti secara umum layanan pemerintah kepada jemaah haji Indonesia telah memenuhi kriteria “sangat memuaskan”.

“Hal ini harus mendorong Kementerian Agama untuk terus melakukan inovasi terhadap layanan haji,” ujar Mentri Agama Lukman Hakim Saefuddin saat memimpin Rapat Pimpinan Kementerian Agama 2018 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (5/12/2018).

Menag Lukman mengingatkan beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dan harus menjadi inovasi pada penyelenggaraan ibadah haji di tahun 2019.

Pertama, penerapan fast track pada seluruh bandara pemberangkatan. “Kalau tahun ini baru dapat kita laksanakan di Bandara Sokarno Hatta, maka usahakan tahun depan sudah dapat dilaksanakan di seluruh bandara,” kata Menag sebagaiman dilansir dari kemenag.go.id.

Kedua, penempatan jemaah haji berdasarkan sistem zonasi. Hal ini menurut Menag bertujuan agar dapat meningkatkan kenyamanan sekaligus pelayanan bagi jemaah di tanah suci. “Tentu orang Bugis akan lebih senang jika tempat tinggalnya di sana berdekatan dengan orang Makasar. Selain bahasa yang digunakan, ini juga memudahkan kita bila ingin menentukan menu katering. Sehingga akan lebih dekat seleranya dengan masing-masing jemaah,” kata Menag

Ketiga, penggunaan air conditioner (AC) di Arafah. Menurut Menag ini perlu menjadi perhatian, karena dalam survei BPS pun disebutkan bahwa pelayanan di Arafah, Muzdalifah dan Mina memperoleh nilai paling rendah, yakni 82,60. Sementara pelayanan di Makkah memperoleh indeks 87,34.  Dan pelayanan di Madinah memiliki indeks 85,37.

Keempat, Menag berharap pada penyelenggaraan haji 2019, Direktorat Penyelenggaraan Haji dan Umrah menyiapkan sistem pelaporan petugas digital. “Seluruh petugas kita harus sudah bisa melakukan pelaporan secara digital. Siapkan dalam sebuah aplikasi terintegrasi,” pesan Menag.

Sementara, penguatan manasik haji menjadi hal kelima yang perlu mendapatkan perhatian penyelenggaraan haji 2019. “Kita perlu memperkuat manasik hajinya. Kita perlu memikirkan terkait inovasi manasik haji, dengan membuat audio visual atau lain sebagainya,” tandas Menag. (kemenag.go.id)

Amalan Ketika Mendengarkan Adzan

Adzan merupakan seruan yang berisi pengagungan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalamnya terdapat penegasan akan kemahabesaran Allah Ta’ala, Syahadatain, serta panggilan untuk mendatangi shalat dan menyambut kemenangan.

Oleh karena itu selayaknya panggilan adzan tidak dibiarkan luput begitu saja saat dikumandangkan. Namun kadang ia lewat begitu saja tanpa disimak dengan baik. Bahkan kadang sebagian orang  tetap sibuk dengan aktivitasnya dan mengobrol atau mendengarkan hal lain saat adzan dikumdangkan.

Hal itu tentu saja menyalahi adab. Karena sebagai Muslim dianjurkan memperhatikan adab dan etika saat mendengar adzan. Ada lima amalan yang sangat dianjurkan saat adzan berkumandang. Amalan-amalan ini meruapakan adab mendengarkan adzan.

Kelima amalan tersebut adalah;

Pertama, Mengucapkan Seperti Ucapan Muadzin

Ini berdasarkan hadits shahih;

عن أَبي سعيدٍ الخُدْرِيِّ رضيَ اللَّه عنْهُ أَنَّ رسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قال: ” إِذا سمِعْتُمُ النِّداءَ، فَقُولُوا كَما يقُولُ المُؤذِّنُ ” (متفق عليه

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Jika kalian mendengarkan adzan, maka katakanlah seperti perkataan muadzin”. (Muttafaq ‘alaih).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Muslim  dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

” إِذا سمِعْتُمُ النِّداءَ فَقُولُوا مِثْلَ ما يَقُولُ ” (رواه مسلم

“Jika kalian mendengarkan adzan, maka katakanlah seperti yang dia katakan”. (HR. Muslim)

Tatacara menjawab adzan atau mengatakan seperti ucapan yang dikatakan muadzin dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaiman dalam hadits riwayat Imam Muslim, dari Amirul Mu’minin Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

” إذا قال المؤذن: الله أكبر الله أكبر، فقال أحدكم: الله أكبر الله أكبر، ثم قال: أشهد أن لا إله إلا الله قال: أشهد أن لا إله إلا الله، ثم قال: أشهد أن محمداً رسول الله قال: أشهد أن محمداً رسول الله، ثم قال: حي على الصلاة قال: لا حول ولا قوة إلا بالله، ثم قال حي على الفلاح قال: لا حول ولا قوة إلا بالله، ثم قال: الله أكبر الله أكبر قال: الله أكبر الله أكبر، ثم قال: لا إله إلا الله، قال: لا إله إلا الله من قلبه دخل الجنة ” (رواه مسلم

Jika muadzin mengucapkan Allahu Akbar, Allahu Akbar, lalu salah seorang diantara kalian mengucapkan Allah Akbar Allahu Akbar, kemudian (muadzin) mengucapkan Asyhadu An La Ilaha Illallah, dia mengucapkan Asyhadu An La Ilaha Illallah, lalu (muadzin) mengucapkan Asyhadu Anna Muhammad[an] Rasulullah, ia mengucapkan Asyhadu Anna Muhammad[an] Rasulullah, kemudian (muadzin) mengucapkan Hayya ‘alas Shalah, ia mengucapkan La Haula Wa La Quwwata Illa Billah, kemudian (muadzin) mengucapkan Hayya ‘alal Falah, ia mengucapkan La Haula Wa La Quwwata Illa Billah, kemudian (muadzin) mengucapkan La Ilaha Illallah, ia mengucapkan La Ilaha Illlah (ikhlas) dari hatinya maka ia akan masuk surga.” (HR. Muslim).

Hadits ini menerangkan tentang cara menjawab adzan, yakni mengucapkan seperti perkataan muadzin, kecuali pada ucapan Hayya ‘alas Shalah dan Hayya ‘alal Falah, maka dijawab dengan La Haula Wa La Quwwata Illa Billah. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan keutamaan yang besar bagi yang melakukan amalan ini, yaitu masuk surga.

Kedua, Bershalawat Setelah Muadzin Selesai Mengumandangkan Adzan

Setelah kumandang adzan selesai, maka dianjurkan mengucapkan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

” إِذا سمِعْتُمُ النِّداءَ فَقُولُوا مِثْلَ ما يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا علَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى علَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ بِهَا عشْراً، ” (رواه مسلم).

“Jika kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti ucapan muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalwat kepadanya sepuluh kali”. (HR. Muslim).

Makna dan maksud shalawatNya Allah adalah rahmat dan ampunan. Artinya orang yang bershalwat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam satu kali makan memperoleh rahmat dan ampunan Allah sepuluh kali lipat.

Lafadz shalawat yang dianjurkan untuk dibaca setelah adzan adalah Shalawat Ibrahimiyah, yaitu;

للهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Ketiga, Memohon Wasilah Untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sebagaimana dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 

” إِذا سمِعْتُمُ النِّداءَ فَقُولُوا مِثْلَ ما يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا علَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى علَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ بِهَا عشْراً، ثُمَّ سلُوا اللَّه لي الْوسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنزِلَةٌ في الجنَّةِ لا تَنْبَغِي إِلاَّ لعَبْدٍ منْ عِباد اللَّه وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُو، فَمنْ سَأَل ليَ الْوسِيلَة حَلَّتْ لَهُ الشَّفاعَةُ ” (رواه مسلم).

Jika kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti ucapan muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalwat kepadanya  (memberi ampunan padanya) sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah pada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi hamba Allah, aku berharap akulah yang mendapatkannya. Siapa yang meminta untukku wasilah seperti itu, dialah yang berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR. Muslim).

Lafadz ucapan permintaan wasilah tersebut terdapat dalam do’a setelah adzan

اللَّهُمَّ رَبَّ هذِهِ الدَّعوةِ التَّامَّةِ، والصَّلاةِ الْقَائِمةِ، آت مُحَمَّداً الْوسِيلَةَ، والْفَضَيِلَة، وابْعثْهُ مقَاماً محْمُوداً الَّذي وعَدْتَه،

Keempat, Membaca Dua Kalimat Syahadat dan Radhitu Billahi Rabba[n] . . .

Setelah mendengarkan dan menjawab adzan dianjurkan mengucapkan dua kalimat syahadat dan dilanjutkan dengan Radhitu Billahi Rabba[n]  wa Bi Muhammadi[n] Rasula[n] wa Bil Islami Dina[n]

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا. غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ

Siapa yang mengucapkan setelah mendengar muadzin: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammada[n] ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi rabbaa wa bi muhammadin rasulaa wa bil islami diinaa (aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha sebagai Rabbku, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agamaku), maka dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim).

Kelima, Berdo’a Sesuai Keinginan dan Kebutuhan

Dianjurkan pula berdo’a sesuai keinginan dan kebutuhan saat mendengarkan adzan. Berdasarkan anjuran Nabi kepada salah seorang sahabat yang bertanya tentang keutamaan muadzin. Sebagaimana dikabarkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu,  seseorang pernah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya muadzin selalu mengungguli kami dalam pahala amalan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ

Ucapkanlah sebagaimana disebutkan oleh muadzin. Lalu jika sudah selesai kumandang azan, mintalah (berdoalah), maka akan diberi (dikabulkan).” (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Artinya, doa sesudah adzan termasuk di antara doa yang diijabahi, sebagaimana dijelaskan dalam hadits lain,  Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“ثنتانِ ما تُرَدَّانِ: الدعاءُ عند النداءِ، وتحتَ المطرِ ” (رواه الحاكم وحسنه السيوطي والألباني).

“Ada dua do’a yang tidak tertolak, (yakni) do’a saat (setelah) adzan dan saat turun hujan”. (HR. Hakim).

Dalam hadits lain riwayat Imam Tirmidzi dikabarkan bahwa,

” الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ ” (رواه أبو داود والترمذي وصححه الألباني).

 “Do’a yang tidak tertolak (diantaranya) adalah do’a antara dzan dan iqamat” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Wallahu a’lam bis Shawab. (Bogor, 5/12/2018)

Harta Tak Dibawa Mati

Harta Tak Dibawa Mati

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (Qs. Luqman:33)

Tafsir dan Penjelasan

Allah Subahanu wa ta’ala memperingatkan manusia terhadap hari berbangkit dan memerintahkan kepada mereka untuk bertakwa kepada-Nya, takut kepada-Nya, dan khawatir menghadapi hari kiamat, karena pada hari itu:

{لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ}

seorang bapak tidak dapat menolong anaknya. (Luqman: 33)

Yakni seandainya seorang bapak hendak menebus anaknya dengan dirinya, pastilah permintaan tebusannya itu ditolak. Demikian pula halnya seandainya seorang anak bermaksud menebus bapaknya dengan dirinya, tidak diterima pula.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala kembali menasihati mereka melalui firman-Nya:

{فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا}

maka jangan sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu. (Luqman: 33)

Maksudnya, jangan sekali-kali membuat dirimu terlena kerena hidup tenang di dunia hingga melupakan negeri akhirat.

{وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ}

dan jangan pula penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah. (Luqman: 33)

Jangan pula kamu biarkan setan memperdayakanmu. Demikianlah menurut pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak, dan Qatadah; karena sesungguhnya setan itu selalu memperdayakan manusia, menjanjikan dan memberikan angan-angan kepadanya. Padahal tiada sesuatu pun dari apa yang dijanjikan setan itu terpenuhi, bahkan sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

{يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلا غُرُورًا}

Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An-Nisa: 120)

Wahb ibnu Munabbih telah mengatakan bahwa Uzair alaihis salam pernah berkata, “Ketika aku menyaksikan musibah yang menimpa kaumku, maka kesedihanku makin berat, kesusahanku bertambah banyak, dan tidak dapat tidur. Maka aku memohon kepada Tuhanku dengan merendahkan diri kepada-Nya, mengerjakan salat dan puasa, dan selama kujalani hal itu tiada henti-hentinya aku menangis. Tiba-tiba datanglah malaikat kepadaku, lalu aku bertanya kepadanya, ‘Ceritakanlah kepadaku, apakah arwah orang-orang yang siddiqin (beriman) dapat memberikan syafaat (pertolongan) kepada arwah orang-orang yang zalim, atau para bapak dapatkah memberi syafaat kepada anak-anak mereka?’ Malaikat itu menjawab,

‘Sesungguhnya hari kiamat adalah hari keputusan peradilan dan kekuasaan yang maha menang, tiada kemurahan padanya dan tiada seorang pun yang dapat berbicara kecuali dengan seizin Tuhan Yang Maha Pemurah. Seorang bapak tidak dapat dihukum karena dosa anaknya, begitu pula seorang anak tidak dapat dihukum karena dosa orang tuanya, dan seseorang tidak dapat dihukum karena dosa yang dilakukan saudaranya, dan seorang budak tidak dapat dihukum karena dosa majikannya. Tiada seorang pun yang diperhatikannya melainkan hanya dirinya sendiri, tiada seorang pun yang bersedih hati karena kesedihan orang lain, dan tiada seorang pun yang merasa kasihan kepada orang lain. Masing-masing orang di hari kiamat hanya kasihan kepada dirinya sendiri. Tiada seseorang pun yang dihukum karena kesalahan orang lain; setiap orang disibukkan oleh kesusahannya sendiri, menangis karena kesalahannya sendiri, dan ia hanya memikul dosanya sendiri, dan tidak dibebankan kepada seseorang dosa orang lain, ia hanya menanggung dosanya sendiri’.” Riwayat Ibnu Abu Hatim.

(Sumber: Tafsir Ibnu Katsir)