Tanya Jawab Fiqh Puasa [12]: Puasa Syawal, Haruskah Enam Hari Berturut-turut Atau Boleh Terpisah-pisah?

Puasa Syawal

Tanya Jawab Fiqh Puasa [12]: Puasa Syawal, Haruskah Enam Hari Berturut-turut Atau Boleh Terpisah-pisah?

Pertanyaan:

Bolehkah seseorang memilih hari-hari tertentu  untuk berpuasa pada bulan Syawal ataukah puasa syawal ini memiliki waktu-waktu (hari-hari) tertentu (ayyam ma’lum)? Apakah jika seseorang berpuasa pada hari-hari itu terhitung sebagai puasa wajib baginya?

Jawaban:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (tentang puasa Syawal);

” من صام رمضان ثم أتبعه ستًّا من شوال كان كصيام الدهر ” خرجه الإمام مسلم

Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal bagaikan puasa setahun”. (Dikelurakan Oleh Imam Muslim).

Keenam hari tersebut tidak terbatas pada hari-hari tertentu dalam bulan Syawal. Seseorang dapat memilih hari i apa saja di sepanjang bulan Syawal. Bila dia mau bisa pada awal bulan, pertengahan, atau akhir bulan. Bila dia mau bisa terpisah-pisah atau berturut-turut. Masalah ini luwes, alhamdulillah.

Jika seseorang bersegera melakukannya di awal bulan dan berturut-turut, maka itu lebih afdhal. Karena hal itu termasuk sikap bergegas kepada kebaikan (al musara’ah ilal khair).

Puasa tersebut bukan merupakan kewajiban (tidak wajib). Bahkan boleh meninggalkannya pada suatu tahun tertentu. Tetapi yang lebih utama dan lebih sempurna adalah istimrar (terus-menerus) melakukannya setiap tahun, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dirutinkan oleh pelakunya meskipun sedikit”. Semoga Allah memberi taufiq. (Sumber: Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, Juz 15, hlm. 390). (sym)

Artikel: wahdah.or.id

Tanya Jawab Fiqh Puasa [11]: Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dengan Puasa syawal?

Puasa Syawal

Tanya Jawab Fiqh Puasa [11]: Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dengan Puasa Syawal?

Pertanyaan:

Mungkinkah (baca: Bolehkah) menggabungkan dua niat puasa syawal dan puasa qadha? Syukran.

Jawab:

Masalah ini di kalangan ulama dikenal dengan masalah tasyrik (menggabungkan dua ibadah dalam satu niat). Hukumnya adalah jika termasuk wasail atau ibadah yang saling berkaitan, maka ibadahnya sah, dan kedua ibadah tersebut terhitung telah tertunaikan. Seperti, jika seseorang mandi junub pada hari jum’at dengan niat mandi jum’at dan mandi junub. Maka ia dianggap telah bersih dari hadast akbar/junub tersebut dan memperoleh pahala mandi jum’at.

Jika salah satu dari dua ibadah tersebut tidak diniatkan (ghairu maqshudah) dan yang lainnya diniatkan secara langsung, maka boleh digabung dan hal itu tidak berpengaruh pada ibadah tersebut. Misalnya shalat tahiyatul masjid dengan shalat fardhu atau shalat sunnah lainnya. Tahiyatul masjid tidak diniatkan secara langsung (ghairu maqshudah bidzatiha), tapi yang dimaksud (diniatkan) adalah memuliakan tempat (masjid) dengan shalat, dan hal itu telah terlaksana. 1

Adapun menggabung niat dua ibadah yang dimaksudkan secara dzatnya; semisal shalat –fardhu-dzuhur- dan rawatib-nya, atau seperti shiyam fardhu baik ada’ maupun qadha, kaffarat ataupun nadzar dengan shiyam sunnah seperti shiyam 6 hari syawal, maka tidak sah. Karena masing-masing ibadah tersebut berdiri sndiri dan terpisah dengan yang lainnya. Masing-masing ibadah tersebut dimaksudkan secara dzatnya dan bukan merupakan bagian dari ibadah yang lainnya (sehingga tidak dapat digabung. Jika digabung; tidak sah).

Qadha Shiyam Ramadhan dan puasa yang lainnya dimaksudkan secara dzatnya. Demikian pula dengan shiyam enam hari diu bulan syawal juga dimaksudkan secara dzatnya. Karena kedua puasa tersebut (puasa ramadhan + puasa enam hari syawal) setara dengan puasa setahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih. Sehingga tidak sah jika keduanya digabung (pelaksanaannya) dalam satu niat.

 

Kesimpulan (red): Puasa qadha dan puasa syawal tidak digabung. Jika digabung, tidak sah. Wallahu a’lam.

(sumber:http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=6579)

1[1] Misalnya, seseorang masuk masjid saat kumandang adzan telah usai. Lalu ia menunaikan shalat sunnat rawatib qabliyah . dalam keadaan seperti ini kewajiban shalat tahiyatul masjid atasnya telah gugur. Karena yang dikehendaki oleh syariat adalah “Tidak duduk –saat masuk masjid- sebelum shalat dua rakaat”. Shalat yang dimaksud adalah shalat tahiyatul masjid (penghormatan/pemuliaan terhadap masjid). Namun jika kondisi tidak memungkikan, sehingga seseorang langsung menunaikan shalat sunnah rawatib atau shalat fardhu (jika masuk saat iqamat), maka kewajiban tahiyatul masjid telah gugur, dan boleh menyertakan niat tahiyatul masjid saat shalat sunnat rawatib.

Sumber dari: http://wahdah.or.id/

Mengenal Puasa Sunnah

Mengenal Puasa Sunnah

Menghidupkan ibadah-ibadah nawafil’ (tambahan) atau sunnah merupakan salah satu sifat para kekasih Allah (wali Allah) yang dicintai oleh Allah. Dalam sebuh hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Allah ‘azza wa jalla berfirman; “Tidaklah hambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah nawafil (sunnah) melainkan Aku akan mencintainya” (terj. HR. Bukhari).

Diantara ibadah sunnah tersebut adalah puasa sunnah, Puasa yang disunnahkan adalah pada hari-hari berikut ini;

  1. Puasa ‘Arafah,

Yaitu puasa pada saat jama’ah haji wuquf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Anjuran berpuasa arafah ini hanya berlaku bagi mereka yang tidak melaksnakan ibadah haji. Puasa Arafah memiliki keutamaan menghapuskan dosa selama dua tahun, tahun sebelumnya dan tahun setelahnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa allam;

صوم يوم عرفة يكفر سنتين, ماضية ومستقبلة

Puasa ‘Arafah menghapus dosa dua tahun, yakni tahun lalu dan tahun mendatang”, . . (HR. Ahmad dan Nasai).

2. Puasa ‘Asyura dan Tasu’a

Yaitu puasa sunnah yang dikerjakan pada tanggal 10 dan 9 Muharram. Keutamaannya menghapus dosa setahun lalu, berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

. . . وصوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

. . . Sedangkan puasa ‘Asyura menghapus dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Ahmad dan Nasai).

Adapun puasa tasu’a (9 Muharram), Rasul berniat akan melakukannya tahun berikutnya sebagai bentuk penyelisihan terhadap orang Yahudi yang berpuasa juga pada 10 Muharram, “Pada tahun depan insya Allah kami akan berpuasa pada tanggal sembilan”, kata Rasul sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Muslim dan Shahihnya.

3. Puasa Syawwal

Puasa ini merupakan ratibah (pengiring) dari puasa Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang keutamaam puasa Syawal ini;

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

Siapa yang puasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh”. (HR. Muslim)

Puasa Ramadhan ditambah enam hari di bulan Syawal sama dengan puasa setahun penuh, karena puasa Ramadhan setara dengan puasa 300 hari dan puasa enam hari di bulan Syawal senilai puasa 60 hari. Sebab setiap amal anak Adam dilipatgandakan sepuluh kali lipat. 30×10=300, dan 6×10=60. 300+60=360. 360 hari merupakan jumlah hari dalam setahun menurut penanggalan hijriah.

4. Puasa Sya’ban

Diriwayatkan,  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan;

Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa dalam satu bulan melebihi bulan Sya’ban”. (terj. HR. Abdur).

Rasulullah shallaalahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan alasan beliau memperbanyak shiyam pada bulan Sya’ban karena ia merupakan bulan yang banyak dilalaikan manusia, sebab ia terletak antara Rajab dan Ramadhan. Alasan lain karena Sya’ban merupakan bulan diangkatnya amal setahun kepada Allah Ta’ala.

5.   Puasa pada Bulan Muharram

Puasa pada bulan Muharram merupakan puasa paling afdhal setelah puasa Ramadhan, sebagaimana dalam hadits riwayat Ibnu Majah dan Ahmad ketika Rasul ditanya;

أي الصيام أفضل بعد رمضان؟ قال: شهر الله الذي تدعونه المحرم

Puasa apa yang paling utama setelah puasa Ramadhan? Beliau bersabda, ‘(pada) bulan-Nya Allah yang kalian sebut dengan Muharram’.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Sebagian Ulama berpendapat, yang dimaksud dalam hadits ini adalah puasa ‘Asyuro da tasu’a, wallahu a’lam.

6. Puasa Tiga Hari dalam Sebulan

Puasa ini disebut pula dengan Shiyam ayyamul Bidh, yakni tanggal 13, 14, dan 15, sebagaimana dalam hadits diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu;

أمرنا رسول الله أن نصوم من الشهر ثلاثة أيام البيض؛ ثلث عشرة, وأربع عشرة, وخمس عشرة , وقال هي كصوم الدهر

Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk berpuasa pada hari-hari putih selama tiga hari setiap bulan, yakni pada tanggal 13,14, dan 15. Dan beliau mengatakan, ‘Puasa itu bagaikan puasa sepanjang tahun’. (HR. Nasai).

7. Puasa Senin dan Kamis

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa senin dan kamis, beliau mengatakan;

إن الأعمال تعرض كل اثنين وخميس , فيغفر الله لكل مسلم أولكل مؤمن إلا إلا المتهاجرين , فيقول أخّرهما

Sesungguhnya amal perbuatan dilaporkan pada setiap Senin dan kamis, lalu Allah mengampuni setiap Muslim atau Mu’min kecuali dua orang yang saling memutus silaturrahim. Lantas Allah berfirman, ‘akhirkanlah keduanya’. (HR. Ahmad)

8. Puasa Daud

Yakni sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa. Puasa ini merupakan puasa yang paling dicintai Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

أحب الصيام إلى الله صيام داود, . . . . وكان يصوم يوما ويفطر يوما

Puasa paling dicintai Allah adalah puas Daud, . . . beliau sehari berpuasa dan sehari berbuka (tidak puasa)”. (HR. Bukhari, Ahmad, dan Nasai)

8. Puasa bagi Para Bujang yang Belum Mampu Menikah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

يا معشر الشيباب, من استداع منكم الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج, ومن لم يستطع فغليه باالصوم فإنه له وجاء (أخرجه البخاري)

Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang telah memiliki kemampuan hendaknya ia menikah, karena hal itu membuatnya mudah menjaga pandangan dan memebentengi kemaluannya, siapa yang belum sanggup menikah hendaknya ia berpuasa, karena puasa merupakan pengendali baginya”. (HR. Bukhari).(sym)

 

Takwa Puncak Tujuan Ibadah Puasa

Takwa Puncak Tujuan Ibadah Puasa

Takwa Puncak Tujuan Ibadah Puasa

Ibadah puasa yang dilaksanakan hamba selama bulan Ramadhan tidak lain adalah untuk meraih derajat takwa. Takwa yang sebenar-benarnya takwa. Yakni menjalankan seluruh perintah Allah serta menjauhi larangan-larangan-Nya.

Dalam Alqur’an, Allah Ta’ala tegaskan:

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ”

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183).

Dan jika kita telaah dengan saksama ibadah sepanjang bulan Ramadhan, akan nampak bagi kita hakikat jalan untuk mencapai takwa itu.

Selama berpuasa, hamba meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Bahkan sesuatu yang pada asalnya boleh seperti makan, minum, dan berhubungan dengan istri. Ini semua merupakan indikator dari takwa itu.

Demikian pula, selama berpuasa, hamba muslim bersungguh-sungguh menegakkan ibadah kepada-Nya, baik yang sifatnyaa wajib maupun sunnah. Hampir tidak ada kebaikan yang dianjurkan dalam agama melainkan pasti berusaha di wujudkan pada bulan ini. Dan sekali lagi, ini juga merupakan indikator takwa yang sangat kuat.

Kedua perkara agung di atas merupakan gambaran bagi hakikat takwa itu sendiri. Thalq bin Habib rahimahullah berkata:

“التَّقْوَى: أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللَّهِ عَلَى نُورٍ مِنْ اللَّهِ تَرْجُو رَحْمَةَ اللَّهِ وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللَّهِ عَلَى نُورٍ مِنْ اللَّهِ تَخَافَ عَذَابَ اللَّهِ”

Takwa adalah engkau melakukan ketaatan pada Allah berdasarkan petunjuk dari Allah dan mengharap rahmat-Nya. Demikian pula, engkau meninggalkan maksiat yang Allah haramkan berdasarkan petunjuk dari Allah dan atas dasar takut pada-Nya”. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, karya Ibnu Rajab Al-Hambali, 1/400).

Nah, lantaran Ramadhan hanya ibarat terminal tempat pemberhentian sementara untuk mengisi ruhiyah dengan takwa, maka aplikasi sebenarnya dari takwa itu akan terwujud pada bulan-bulan selain Ramadhan.

Karena itu, siapa yang di bulan Ramadhan tidak bersungguh-sungguh mengisi ruhiyahnya dengan takwa dan kebaikan,  maka akan diharamkan atasnya kebaikan-kebaikan tersebut. Inilah yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Man hurima khairaha faqad hurim”.

Demikianlah, bahwa indikasi kesuksesan puasa Ramadhan kita itu ada pada sejauh mana semangat ibadah kita berubah. Baik buruknya sikap dan perangai kita, serta besar kecilnya rasa takut kita kepada Allah Ta’ala.

Jangan sampai ibadah puasa yang lelah kita tegakkan selama bulan Ramadhan, ternyata hanya berbuah rasa lapar dan dahaga saja. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tegas mengingatkan:

“رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ”

Boleh jadi, orang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath-Thabrani, Shahih li Ghairihi).

Imam Ma’ruf Al-Karkhi rahimahullah berkata:

“إذا كنتَ لا تُحسنُ تتقي أكلتَ الربا ، وإذا كنتَ لا تُحسنُ تتقي لقيتكَ امرأةٌ فلم تَغُضَّ بصرك…”

Jika engkau tidak baik dalam takwa, maka engkau pasti terjerumus memakan riba. Jika engkau tidak baik dalam takwa, saat ada wanita bertemu denganmu, engkau tidak menjaga pandanganmu.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1/402).

Sumber: Hikmah Ramadhan Ustadz Rapung Samuddin, Lc

Membangun Negeri dengan Ukhuwah Sejati dan Cinta Ilahi

Membangun Negeri dengan Ukhuwah Sejati dan  Cinta Ilahi

Membangun Negeri dengan Ukhuwah Sejati dan Cinta Ilahi

(Naskah Khutbah  Idul Fitri 1439 H DPP Wahdah Islamiyah)

‎إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، ‎وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،

‎مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

‎﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

‎﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

‎﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا‎أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وكلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Kaum muslimin rahimakumullah…

Alangkah indahnya pagi ini, kita gemakan takbir yang membahana, kita lantunkan pujian pada Allah dengan segenap jiwa, hingga hilang semua duka, hingga terhapus semua nestapa, dan mekarlah semua bahagia.

Kita syukuri semua nikmat lalu kita panjatkan puji syukur kita kepada Allah, dan mungkin puji syukur kita itu lebih bernilai bagi kita disisi Allah, lebih dari nikmat itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Negeri ini yang demikian indah, demikian kaya, gunung- gunungnya yang tinggi menjulang, lautnya yang menghampar luas, lembah, ngarai dan sawahnya yang membentang elok,sungguh karunia Ilahi yang teramat berharga untuk disia- siakan.

Selalu terkenang bagaimana dahulu jiwa-jiwa beriman yang demikan tegar dan teguh merebut dan mempertahankan kemerdekaan negeri ini, dengan segenap kekuatan yang dimiliki dengan harta, bahkan darah dan air mata.

Demi kemerdekaan itu, entah berapa ribu negeri ini mempersembahkan para syuhadanya dalam titian masa yang hingga beratus tahun hingga tanahnya  demikian subur bagi agama Allah yang mulia ini.

Suara anak-anak yang mengeja huruf Al-Quran, suara adzan yang menggema berpadu dengan denting pedang dan lembing yang beradu bersama letusan senapan dan mitraliur, itulah sketsa sejarah Jihad di negeri ini, hingga penjajah durjana hengkang dan terusir bersama kesombongan dan kekufurannya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Saat ini, di zaman ini, di negeri ini, saat negeri ini berada di persimpangan jalan, antara poros kebenaran dan poros kebatilan, antara pengusung agama Allah dan pengusung materialisme, maka saatnya anak cucu generasi beriman tampil ke depan mengambil alih kendali, menentukan arah baru negeri ini sebelum terlalu jauh menyimpang.

Bukankah itu telah menjadi janji Allah Ta’ala yang janjinya pasti terpenuhi.

﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nur : 55)

Sesungguhnya saat nilai-nilai iman dan Islam yang mengendalikan negeri ini, saat itulah kesejahteraan yang sesungguhnya, saat itulah kemakmuran yang sejati, dan itulah pembangunan yang seutuhnya pada manusianya dan pada tanah air mereka. Iman, Islam dan taqwa adalah pintu- pintu keberkahan.

‎﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَآءِ وَالأَرْضِ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al A’raf : 96)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum muslimin, a’aanakumullah…

Membangun negeri bagi para pengusung iman dan kebenaran bukanlah persoalan sederhana, benar di sana ada harapan, namun di sana tidak sedikit halangan dan aral yang melintang bahkan pengusung kebatilan senantiasa bersinergi dan memperkuat diri bahkan dengan piawai menggoda sebagian pengusung iman dan kebenaran itu. Wallahul Musta’an.

Salah satu benteng orang-orang beriman yang mutlak diperkuat dan dijaga terutama dalam kondisi seperti ini adalah benteng ukhuwah dan kebersamaan.

Ukhuwah dan kebersamaan adalah kekuatan dan berkah.

Ukhuwah dan kebersamaan adalah solusi dari banyak masalah.

Ukhuwah dan kebersamaan adalah kemajuan dan modal utama keberhasilan.

Mewujudkan itu semua juga perlu kerja keras, perlu kesabaran, perlu inayah dan i’aanah dan pertolongan Allah.

﴿ وَاعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ اللّٰـهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَاذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ اللّٰـهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ    أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰـهُ لَكُمْ ءَايٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah kalian bercerai berai dan ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika kalian saling bermusuhan kemudian Allah satukan hati kalian sehingga kalian menjadi bersaudara, dan ketika kalian berada di tepi jurang neraka maka Allah selamatkan kalian, demikianlah Allah menunjukkan tanda kekuasaan-Nya semoga kalian mendapatkan petunjuk.” (QS Ali Imran ; 103)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Ukhuwah dan Persaudaraan sejati berupa Ta’liful Qulub (berpadunya hati)  sejatinya adalah karunia Ilahi yang telah digariskan oleh-Nya kepada hamba-hamba Allah yang terpilih.

Hamba- hamba-Nya yang bertauhid dan beraqidah lurus.

Hamba-hamba-Nya yang menyembah Allah dengan sebaik-baiknya dan sebenar- benarnya.

Dunia beserta segala isi tak bisa membeli sebuah persaudaraan, namun sekali lagi itu merupakan anugerah Ilahi

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“…dan (Allah سبحانه و تعالى) Dia-lah Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal [8] : 63)

Namun pun demikian, Allah dan Rasul-Nya yang mulia telah memberikan petunjuk untuk mewujudkan ukhuwah yang hakiki itu bagi orang- orang yang beriman.

Cara utama dan pertama adalah dengan memperbaiki hubungan dengan Allah, menetapi syariat dan aturan-Nya, sebagian salaf mengatakan: perbaikilah hubunganmu dengan Allah, niscaya Allah memperbaiki hubunganmu dengan sesama manusia.

Diantaranya yang terpenting adalah menjadikan interaksi antar orang beriman dipenuhi kasih sayang, saling percaya, berlaku adil dan menghindar dari sikap hasad dan dengki, sabda Nabi:

لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ ) رواه مسلم

“Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling membenci dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu di sini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya” (HR. Muslim).

Petunjuk Nabawi yang tentunya adalah wahyu Ilahi ini menjadi dasar bagi  kita dalam mewujudkan ukhuwah sejati itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin yang berbahagia.

Mewujudkan ukhuwah juga sangat terkait sejauh mana kita memperindah akhlak dan perilaku kita, Ibnu Qudamah Al Maqdisi dalam kitabnya yang masyhur “Mukhtasar Minhaj al Qasidien” mengatakan: “Persatuan adalah buah dari akhlak yang baik, perpecahan adalah buah dari akhlak yang buruk

Akhlak sejatinya adalah buah dari aqidah yang kuat dan iman yang mendalam. Semakin kuat iman seseorang maka akhlaknya pun seharusnya semakin baik dan indah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin a’azzakumullah.

Kebutuhan kita akan persatuan dan ukhuwah semakin besar saat kita menengok kondisi global umat Islam hari ini, saat musuh  sudah di depan mata tidak pantaslah kiranya kita merawat perselisihan dan mematangkan perseteruan.

Palestina dan Masjidil Aqsha, Suriah, Rohingya dan setumpuk duka kaum muslimin belum mampu kita enyahkan, maka tak pantas kiranya kita saling berselisih untuk permasalahan yang remeh temeh.

Mereka semua berharap agar dari Negeri ini, yang 200 juta penduduk muslimnya bersatu, berukhuwah saling bersinergi lantas menjadi episentrum (kekuatan) umat dan memenangkan pertarungan ini.

Negeri ini adalah negeri harapan, negeri yang penduduknya penuh cita – cita mulia.

Wujudkan itu semua dengan semangat persatuan.

Wujudkan itu semua dengan ketaatan mutlak kepada Allah.

Wujudkan itu semua dengan akhlak yang mulia.

Teror dan angkara murka tidak akan menggoyahkan jiwa-jiwa beriman, tak akan mengotori kebersihan jiwa para pengusung kebenaran, walau sesaat dia muncul menyebar fitnah, namun kebenaran tak mungkin bisa terkalahkan biiznillah, katakan kepada para pengatur teror dan kejahatan, kalian takkan bisa membakar matahari.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin A’aanakumullah...

Diantara buah manis ukhuwah adalah terwujudnya Tanaashur, yaitu sikap saling tolong menolong.

Membangun negeri ini dan membangun dunia yang diridhai Allah berarti membangun dan menguatkan sikap dan sifat Tanaashur ini.

Hal itu berarti kita saling tolong menolong dalam ketaatan dan kebenaran.

Hal itu berarti kita saling tolong menolong dalam mencegah kemungkaran. Sejatinya jika kita mencegah saudara kita dari kezaliman dan kemungkaran berarti kita menolong dia untuk terhindar dari sesuatu yang sangat membahayakannya. Bukankah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :

انصُرْ أخَاكَ ظالِمًا أو مظلومًا

Tolonglah saudaramu dalam keadaan dia berbuat zalim atau ia dizalimi” (HR. Bukhari & Muslim).

Menolong saat ia berbuat zalim adalah mencegahnya berbuat zalim dan mungkar.

Dan Tanaashur tentunya berarti memberi pertolongan kepada saudara kita yang membutuhkan, terutama kepada saudara kita yang terzalimi karena iman dan Islamnya

﴿وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ  فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ

Dan jika mereka meminta pertolongan padamu dalam urusan pembelaan terhadap agama ini, maka wajib atasmu memberi pertolongan“. (QS. Al-Anfaal :72).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum muslimin, a’aazakumullah…

Di era kemajuan teknologi komunikasi saat ini, yang ditandai dengan alat- alat komunikasi yang teramat canggih, kadang kita luput dan lalai, hingga tidak bijak menggunakannya, bahkan tidak sedikit yang terjatuh hingga ke lubang-lubang kehinaan dengan smartphonenya.

Mari, sebagai alumni Ramadhan kita kembali menjadi pengguna alat komunikasi canggih ini untuk kebaikan dan sebagai alat perjuangan.

Khusus kepada para pemuda harapan umat dan bangsa, bangkitlah, ambillah peran terdepan dalam perjuangan, jadilah prajurit kebenaran gagah perwira.

Dan kepada para ibu dan bapak, bagi setiap anaknya, setiap benteng keluarga bagi mata hatinya, berikan perhatian dan hati kita untuk mereka. Teteskan embun iman dan taqwa pada jiwa-jiwa mereka, jangan biarkan pencuri- pencuri aqidah dan akhlak merebut anak- anak kita, belahan jiwa dan pelanjut perjuangan.

Kepada para pemuda harapan perjuangan, jangan berleha- leha, bergeraklah, belajarlah, berjuanglah. Bangkitkan jiwa Shalahuddin pada dirimu, kobarkan semangat Thariq bin Ziyad dalam sanubarimu.

Kepada para muslimah, tiang negara yang kokoh, kokohkan dirimu dengan aqidah dan akhlak mulia, jadilah ibu yang hadir dalam jiwa anaknya dengan iman dan jihad, jadilah istri yang setia dan pelabuhan jiwa bagi suami anda hingga biduk rumah tangga indah berlayar ke pulau kebahagian, jadilah pejuang dakwah yang tangguh dalam kelembutanmu.

Kepada pemerintah dan para tampuk pimpinan negeri ini, ketahuilah bahwa dunia ini sementara. Waktu yang Allah berikan juga terbatas, maka berbuatlah untuk kebaikan dan kemaslahatan negeri, jangan sia-siakan amanah rakyat. Bertaqwalah kepada Allah, karena itulah jalan keselamatan. Jadikanlah tuntunan Syariat sebagai petunjuk menjalankan amanah itu, karena jika tidak kehancuran dunia dan akhirat adalah akibatnya.

Kepada segenap manusia-manusia tangguh, para pejuang dakwah dan pengusung kebenaran, tetaplah di jalan ini, istiqamahlah walau dunia sangat gemerlap menggoda.

Jangan sampai ukhuwah dan cinta di antara kita tercabik oleh kegersangan jiwa.

Maka bersimpuh dalam ibadah kepada Allah semoga meretas asbab kebersamaan yang sejati dan abadi hingga Syurga Ilahi

—————— Khutbah Kedua ——————

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum muslimin hafizhakumullah…

Suatu sunnah yang kiranya sangat sayang untuk kita lewatkan dalam bulan syawal ini adalah berpuasa enam hari di dalamnya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka dia seolah-olah berpuasa selama setahun.” (HR. Muslim).

Semoga Allah memberi kemudahan melaksanakannya.

Kaum muslimin yang diberkahi Allah.

Akhirnya, di penghujung khutbah ini, marilah kita menengadahkan jiwa seraya merundukkan diri, memohon dan berdoa untuk kebaikan diri, keluarga, bangsa dan umat kita.

Ya Allah, Rabb yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui, tak ada yang terluput dari-Mu.  Dan tak ada yang dapat mengampuni semua dosa kami selain Engkau, ya Allah, maka  ampunilah kami, hamba-hamba-Mu yang faqir dan hina ini, Ya Allah ,ampuni segenap dosa kami setelah Engkau karuniakan Ramadhan-Mu tahun ini.

Tuliskanlah  nama kami sebagai hamba-Mu yang Kau bebaskan dari api Neraka-Mu, Ya Ghafur, Ya Rahman, Ya Rahiim…

Ya Allah, limpahkan ampunan dan rahmat-Mu yang tiada berbatas kepada kedua orangtua kami.

Ya Allah, hanya Engkau yang Maha mengetahui betapa banyak dosa dan durhaka kami pada mereka, maka  ampuni kami, ampuni kami, ampuni kedurhakaan kami, ya Allah…Beri kami waktu dan kekuatan untuk berbakti pada mereka saat hidup maupun dan setelah kepergian mereka menghadap-Mu

Ya Allah, Mereka juga hamba-hamba-Mu yang lemah, maka ampuni dosa dan salah mereka,

Ya Allah,  ringankan dan mudahkan jejak langkah perjalanan mereka di dunia dan akhirat, lapangkan dan terangi alam kubur mereka.

Ya Allah anugerahkan kami,  pertemuan terindah bersama mereka di dalam Jannah-Mu, ya Allah…

Ya Allah sejukkan pandangan kami dengan kesholehan keluarga dan anak-anak kami, jadikanlah mereka pejuang-pejuang  di jalan-Mu, jadikanlah kami dan mereka sebagai Ahlul Quran, yang Engkau tempatkan sebagai manusia-manusia pilihan-Mu.

Ya Allah berkahilah dan tuntunlah para ulama, ustadz,  dan para guru kami yang tak kenal lelah mengajar dan membimbing kami menggapai ridha-Mu, sucikan hati mereka, lapangkan rezki mereka, hindarkan mereka dari setiap marabahaya dan lindungi mereka dari setiap tipu daya dan makar musuh-musuh-Mu.

Ya Allah, Yang Maha Perkasa dan Maha kuasa, negeri kami dan negeri-negeri saudara kami kaum muslimin telah diliputi ancaman dan makar yang hebat, namun tak ada yang dapat mengalahkan keMahaperkasaan-Mu, ya Allah.

Lindungilah negeri kami dan negeri-negeri kaum muslimin dari setiap rencana keji dan jahat musuh-musuh-Mu.

Ringankan dan bebaskan penderitaan saudara-saudara kami yang terzhalimi, teraniaya, terampas hak-haknya, dan tertuduh dengan fitnah yang keji, Ya ‘Aziizu Ya Qawiyyu…

Ya Allah, Ya Rabbana… satukanlah kami umat Islam di atas jalan-Mu. Persatukanlah negeri-negeri kaum muslimin untuk selalu seiring memperjuangkan agama-Mu. Sadarkanlah para pemimpin negeri kaum muslimin untuk tidak tertipu dan terperdaya oleh genderang tari yang dimainkan oleh musuh-musuh-Mu, ya Allah…

Ya Allah, anugerahkanlah kami pemimpin negeri yang selalu takut hanya pada-Mu. Tuntunlah langkah mereka untuk memimpin negeri ini dengan panduan Syariat-Mu. Berikan kepada mereka para pengiring dan penasehat yang selalu takut kepada-Mu, dan jauhkan mereka dari para pengiring dan penasehat yang keji.

Ya Allah..bimbinglah kami dan anak istri kami agar senantiasa berada di jalan-Mu, meniti dan menyusurinya hingga bersama di Jannah-Mu

Ya Allah..satukan hati kami dalam azam perjuangan, dalam setia pada-Mu hingga Engkau ridha pada kami.

Ya Allah..damaikanlah setiap jiwa-jiwa beriman, satukanlah dalam ukhuwah karena-Mu, jangan biarkan permusuhan mengeram dalam jiwa-jiwa ini Ya Allah.

Ya Allah..jadikan setiap jengkal negeri ini bersaksi atas Jihad dan perjuangan kami menegakkan Syariat-Mu di atasnya.

‎اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi kami dari perbuatan maksiat kepada-Mu, dan (anugerahkanlah kepada kami) ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan Kami ke surga-Mu dan (anugerahkanlah pula) keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dunia ini. Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam urusan agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan jangan Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami berkuasa atas kami.”

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةًوَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sumber: Naskah Khutbah Seragam Idul Fitri 1439 Dewan Syari’ah DPP Wahdah Islamiyah

Cinta Negeri dengan Iman Pada Ilahi (Khutbah Idul Fitri 1438 H)

Cinta Negeri dengan Iman Pada Ilahi

Cinta Negeri dengan Iman Pada Ilahi (Khutbah Idul Fitri 1438 H)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Kaum muslimin rahimakumullah …

Pagi ini, kita berkumpul di sini, pada detik-detik penuh makna, saat desah nafas dan detak jantung menyatu pada takbir, tahlil dan tahmid. Pagi ini kita berkumpul di sini, menggenapkan suka, memadukan jiwa, menyambung asa .. atas Ramadhan tercinta… semoga taqwa menjadi muara atas semua juang dan usaha kita.

Kaum muslimin a’azzakumullah …

Saat ini, ketika takbir kita kumandangkan dengan penuh suka dan gembira. Ternyata di sana, nun jauh di negeri- negeri seberang, ada saudara kita yang tetap gembira dengan takbirnya walau bau mesiu mengiringi, walau dingin menusuk menyertai, walau lapar dan dahaga setia membersamai.

Bahagia dan gembira selalu hadir, mengapa?

Karena bahagia itu di sini, di dalam jiwa ini. Ketika iman telah membalut qalbu, memberinya rasa terindah, ya,  semuanya karena iman, karena indahnya bergantung kepada Allah.

Oleh karena itu, bergembiralah, berbahagialah, menyatulah pada tasbih semesta yang terus membahana pada setiap putaran bumi, pada setiap tetes embun dan kicau burung atau hangat mentari pagi.

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus: 58)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Kaum Muslimin a’aanakumullah

Saat ini, di negeri ini, yang dikenal dengan nama Nusantara atau Indonesia. Zamrud khatulistiwa julukannya, tanah air yang merdeka dari para penjajah. Di negeri yang indah ini, tempat iman bertahta, ternyata ada suara-suara sumbang yang mengusik telinga, mempertanyakan cinta tanah air kaum muslimin, mempertanyakan nasionalisme umat Islam.

Ada apa ini?

Apakah anda lupa bahwa tanpa umat Islam, tak ada yang bernama Indonesia. Apakah anda lupa bahwa negeri ini merdeka oleh pekik takbir Allahu Akbar? Apakah anda lupa bahwa penjajah terusir atas pengorbanan berjuta syuhada yang darahnya mewangi membasahi ibu pertiwi.  Apakah anda lupa pada Sultan Agung, Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo? Atau anda tak kenal Syekh Yusuf dan Sultan Hasanuddin? Atau anda tak tahu siapa Tuanku Nan Renceh, Tuanku Imam Bonjol  dan Sultan Baabullah, Atau Fathillah yang berjaya di Jayakarta? Ataukah anda sudah lupa pada Sudirman, Sutomo, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Muhammad Natsir atau bahkan sang guru Bangsa Hadji Oemar Said Cokroaminoto? Mereka semua anak bangsa yang telah membuktikan cintanya pada negeri ini dengan keringat, darah dan air mata. Cinta mereka suci, karena bagi mereka cinta negeri haruslah karena Ilahi Rabbi. Cinta negeri tanpa cinta pada Ilahi tak ada rasa dan arti.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Kaum Muslimin yang berjaya!

Kitalah pewaris sejati negeri ini, kitalah yang paling berhak atas setiap jengkal dan incinya.

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُوْرِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبادِيَ الصَّالِحُوْنَ

Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami tulis dalam Zabur setelah Adz-Dzikr (Taurat), Bahwasanya bumi itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shaleh.” (QS. Al Anbiya : 105)

Wahai para pahlawan kesiangan, wahai para jawara dunia maya, anda tak lebih dari bidak-bidak catur para durjana tak bertuhan, para komunis terlaknat, dan para liberalis pengkhianat. Umat dan bangsa ini tidak takut pada kalian, tidak gentar pada setiap gertak sambal kalian! Intimidasi kalian kepada para ulama dan pemimpin umat tak akan berarti apa-apa biiznillah. Hati mereka terlalu manis atas setiap pahit dan busuknya makar kalian. Merekalah sesungguhnya garda terdepan negeri ini, merekalah pewaris sejati, para pahlawan sejati, para tokoh pendiri negeri ini. Dan jangan ajari mereka tentang toleransi, karena sesungguhnya merelah umat Islam dan para ulamanya kaum mayoritas yang paling toleran di negeri ini. Saat umat Islam dibantai di negeri mayoritas nonmuslim, maka mereka mendapatkan keamanan, perlindungan dan kesempatan yang sama di negeri ini. Bahkan dalam beberapa kondisi terjadilah apa yang disebut tirani minoritas.

Negeri ini hanya akan selamat jika anak negerinya menjadikan iman dan taqwa  sebagai pilar utama.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَآءِ وَالأَرْضِ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al A’raf : 96)

Taqwa sebagaimana yang didefinisikan oleh sebagian ulama salaf:

الخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ، وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ، وَالْقَنَاعَةُ بِالْقَلِيْلِ، وَالإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ

Taqwa itu adalah: Rasa takut kepada Allah Sang Maha mulia, mengamalkan apa yang diturunkan-Nya, merasa cukup dengan yang ada, dan selalu menyiapkan diri untuk hari perpisahan dengan dunia.”

Iman pada Allah Sang Maha Mulia akan melahirkan amal shaleh yang tertuntun oleh wahyu, yang mengantar pada sikap yang benar terhadap dunia dengan zuhud atasnya dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, titik pusat dari kumparan asa dan harapannya. Karakter seperti inilah yang akan membawa bangsa ini menuju kemenangan dan kejayaannya yang sejati.

Hamba yang bertaqwa menyadari benar bahwa kisah hidupnya di dunia tidak akan lama. Karena itu, setiap pilihan sikap dan langkah akan selalu ditimbang dengan sebaik-baiknya oleh hamba yang bertaqwa, apakah pilihan itu dapat dipertanggungjawabkannya di Hari Akhir? Apakah pilihan itu memberinya kebahagiaan di kehidupan Akhiratnya?

Diriwayatkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَفْضَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لَهُ اِسْتِعْدَادًا

Artinya: “Sebaik-baik orang beriman adalah yang terbaik akhlaknya dan yang paling cerdas dari mereka adalah yang terbanyak mengingat mati dan  yang paling baik bersiap untuknya” (HR. Baihaqy dan dinyatakan hasan oleh Albani)

Ketika memilih pekerjaan, maka pilihan hamba yang bertaqwa jatuh pada yang menguntungkan akhiratnya. Ketika memilih bisnis, maka hamba yang bertaqwa akan menjauhi bisnis yang merugikan akhiratnya. Ketika memilih pasangan hidup, maka pilihan hamba yang bertaqwa jatuh pada yang menguntungkan akhiratnya. Ketika mendidik keluarganya, hamba yang bertaqwa akan mendidik mereka agar dapat bersatu kembali di dalam Surga Allah. Termasuk ketika memilih pemimpin, hamba yang bertaqwa akan menjatuhkan pilihan pada apa yang dapat dipertanggungjawabkannya di akhirat.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil-hamd.

Mewujudkan iman dan takwa serta menegakkan kebenaran adalah tanggung jawab kita semua, termasuk para insan pers. Masa ini kita menyaksikan betapa berkuasanya media baik mainstream maupun sosial dalam mengarahkan dan mengatur opini publik, hingga yang benar bisa menjadi salah dan yang salah bisa menjadi benar.

Dalam kesempatan yang mulia ini kami menyerukan agar saudara-saudara kita yang bergelut di media selalu menjadikan akhirat sebagai landasan berpikir dan bertindaknya. Alangkah indahnya dunia jika diisi dengan tontonan yang sekaligus menjadi tuntunan, membangun moral dan akhlak yang mulia. Sebaliknya akan semakin runyam dan memprihatinkan kondisi kita dengan tontonan dan acara serta postingan yang tidak mendidik, pamer aurat dan mendangkalkan aqidah akhlak.

Dan jangan pula anda terjebak dalam memojokkan Islam dan dakwah serta para penyeru kebenaran ini, sungguh kehormatan seorang muslim sangat penting untuk dijaga dan dihargai.

Wahai Para pemuda Islam yang dicintai Allah!

Penghujung kehidupan ini adalah rahasia Allah. Itulah sebabnya, kita semua sama di hadapan kematian. Jadilah pemuda muslim yang cerdas, yang selalu menimbang setiap langkah dan tindakan: “Apakah ini bermanfaat untuk akhiratku atau tidak?”

Ingatlah masa muda adalah penggalan zaman yang tidak lama, namun menjadi penentu keberhasilan atau kegagalanmu dunia akhirat. Jadikan dirimu seperti cemerlangnya Ali, seberaninya Usamah, dan sealimnya Ibnu Umar dan setekunnya Abdullah bin Amr, radhiyallahu anhum ajma’in.

Kepada para muslimah yang dimuliakan Allah!

Islam memuliakan Anda dengan anugerah yang luar biasa. Islam menjadikan Anda sebagai salah satu pilar utama kejayaan umat dan bangsa ini. Namun itu takkan terjadi kecuali jika Anda, wahai muslimah, mewujud menjadi seorang wanita yang bertaqwa kepada Allah. Jagalah ibadah Anda dengan penuh kesungguhan. Jagalah kehormatan diri dengan mengenakan hijab yang disyariatkan oleh Allah Azza wa Jalla. Muslimah yang bertaqwa akan membawa keberkahan untuk dirinya, keluarganya, bangsa dan umatnya.

Wahai setiap istri jadilah sandaran jiwa bagi suami anda, hadirlah dalam suka dan dukanya, bersamai itu semua dengan cinta dan iman agar abadi cintamu hingga gerbang istanamu di Jannah Allah.

Wahai setiap ibu, usaplah jiwa buah hatimu dengan sentuhan kasih sayang yang berbalut taqwa, genapi hatinya dengan khasyah, bersamai hari-harinya dengan ibadah, jangan biarkan liarnya kehidupan memangsa anak belahan jiwamu. Sisihkan waktu dan hatimu buat mereka.

Wahai setiap ayah, andalah andalan sejatinya. Anda adalah “Ibrahim” bagi setiap “Ismail” di rumah anda, anda adalah “Muhammad” bagi setiap “Fatimah” dalam keluarga anda. Maka bicaralah kepada setiap anakmu, sentuh hatinya dengan cinta, basuh qalbunya dengan iman, hiasi kebersamaanmu dengan bahagia dalam Jihad di jalan Allah, rengkuh mereka dalam doa-doamu yang tiada henti, itulah jembatan Surga yang sejati.

Kaum muslimin yang diberkahi Allah!

Akhirnya, di penghujung khutbah ini, marilah kita menghadapkan jiwa dan merundukkan diri, memohon dan menghaturkan doa untuk kebaikan diri, keluarga, bangsa dan umat kita.

Ya Allah, Rabb yang Maha melihat dan Maha mengetahui, sekecil apapun dosa dan khilaf diri ini, tak ada yang terluput dari-Mu. Meski kelam malam begitu gulita sekalipun, semua tak luput dari-Mu, ya Allah. Dan tak ada yang dapat mengampuni semua dosa kami selain Engkau, ya Allah. Maka ampunilah kami, sekumpulan hamba-Mu yang faqir dan hina ini, ya Allah. Ampuni segenap dosa kami seiring berhembus perginya angin Ramadhan tahun ini. Torehkan nama kami dalam nama-nama hamba-Mu yang Kau bebaskan dari api Neraka-Mu, Ya Ghafur, Ya Rahman, Ya Rahiim…

Ya Allah, limpahkan ampunan dan rahmat-Mu yang Maha luas kepada kedua orangtua kami. Dengan segala kekurangannya, mereka telah berjuang dan berusaha untuk mewarnai kehidupan kami. Ya Allah, hanya Engkau yang Maha mengetahui betapa banyak kedurhakaan kami pada mereka. Maka ampuni kami, ampuni kami, ampuni kedurhakaan kami, ya Allah…Beri kami waktu dan kekuatan untuk berbakti pada mereka yang masih Engkau beri kehidupan.

Ya Allah, seperti juga kami, mereka, orang tua kami, pastilah tak luput dari dosa dan salah. Mereka adalah hamba-hamba-Mu yang lemah, maka ampuni dosa dan salah mereka, ya Allah. Ringankan dan mudahkan jejak langkah perjalanan mereka di dunia dan akhirat. Lapangkan dan terangi alam kubur mereka. Karuniakan kepada kami pertemuan terindah bersama mereka di dalam Jannah-Mu, ya Allah…

Ya Allah sejukkan pandangan kami dengan kesholehan keluarga dan anak-anak kami, jadikanlah mereka pejuang di jalanMu, jadikanlah kami dan mereka sebagai Ahlul Quran, yang Engkau tempatkan sebagai manusia-manusia pilihanMu.

Ya Allah berkahilah dan  tuntunlah para ulama, ustadz,  dan para guru kami yang tak kenal lelah mengajar dan membimbing ummat menggapai ridhaMu, sucikan hati mereka, lapangkan rezki mereka, hindarkan mereka dari setiap marabahaya dan lindungi mereka dari setiap tipu daya dan makar musuh-musuhMu.

Ya Allah, yang Maha perkasa dan Maha kuasa, negeri kami dan negeri-negeri saudara kami kaum muslimin telah diliputi ancaman dan makar yang hebat. Namun tak ada yang dapat mengalahkan keMahaperkasaan-Mu, ya Allah. Lindungilah negeri kami dan negeri-negeri kaum muslimin dari setiap rencana keji dan jahat untuk merusak dan menghancurkannya. Ringankan dan bebaskan penderitaan saudara-saudara kami yang terzhalimi, teraniaya, terampas hak-haknya, dan tertuduh dengan fitnah yang keji, Ya ‘Aziizu Ya Qawiyyu…

Ya Allah, Ya Rabbana… satukanlah kami umat Islam di atas jalan-Mu. Persatukanlah negeri-negeri kaum muslimin untuk selalu seiring memperjuangkan agamaMu. Sadarkanlah para pemimpin negeri kaum muslimin untuk tidak tertipu dan terperdaya oleh genderang tari yang dimainkan oleh musuh-musuh-Mu, ya Allah…

Ya Allah, anugerahkanlah kami pemimpin negeri yang selalu takut hanya padaMu. Tuntunlah langkah mereka untuk memimpin negeri ini dengan panduan Syariat-Mu. Berikan kepada mereka para pengiring dan penasehat yang selalu takut kepadaMu, dan jauhkan mereka dari para pengiring dan penasehat yang keji.

Ya Allah.. bimbinglah kami dan anak istri kami agar senantiasa berada di jalan-Mu, meniti dan menyusurinya hingga bersama di Jannah-Mu

Ya Allah.. satukan hati kami dalam azam perjuangan, dalam setia pada-Mu hingga Engkau ridha pada kami.

Ya Allah.. damaikanlah setiap jiwa – jiwa beriman, satukanlah dalam ukhuwah karena-Mu, jangan biarkan permusuhan mengeram dalam jiwa-jiwa ini Ya Allah.

Ya Allah.. jadikan setiap jengkal negeri ini bersaksi atas Jihad dan perjuangan kami menegakkan Syariat-Mu di atasnya.

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 


Sumber dari: http://wahdah.or.id/

7 Etika Mendatangi Shalat Hari Raya

7 Etika Mendatangi Shalat Hari Raya

Berikut ini adab dan etika yang hendaknya diperhatikan ketika mendatangi shalat hari raya atau shalat id.

 1. Mandi, Menggunakan Parfum, dan Memakai Pakaian Bagus

Hal ini berdasarkan hadits berikut;

عن زيد بن الحسن بن علي ، عن أبيه – رضي الله عنهما – قال : أمرنا رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – في العيدين أن نلبس أجود ما نجد ، وأن نتطيب بأجود ما نجد ، وأن نضحي بأسمن ما نجد ، البقرة عن سبعة والجزور عن عشرة ، وأن نظهر التكبير وعلينا السكينة والوقار .

 

Dari Zaid bin Hasan bin Ali dari Ayahnya radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata bahwa Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami pada shalat dua hari raya untuk mengenakan pakaian terbaik yang kami miliki, memakai parfum terbaik yang kami miliki, dan berkurban dengan hewan paling gemuk yang kami miliki, . . .” (HR. Hakim)

Adapun dalil tentang mandi  adalah  riwayat dari Al-Baihaqi melalui asy-Syafi’i tentang seseorang yang pernah bertanya kepada Ali radhiyallahu ‘anhu tentang mandi. Beliau menjawab,“Mandilah setiap hari jika engkau mengehendakinya.” Kata orang itu, ”Bukan itu yang kumaksud, tapi mandi yang memang mandi (dianjurkan). Ali menjawab , ”Hari Jum’at, Hari Arafah, Hari Nahr dan hari Fithri”.

Ibnu Qudamah mengatakan bahwa karena hari Ied merupakan  hari berkumpulnya kaum muslimin untuk shalat, maka ia disunnahkan untuk mandi sebagaimana hari Jum’at.

Diriwayatkan pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan pakaian hibarah  shalat hari Raya.

2. Makan Dahulu Sebelum Berangkat Shalat Idul Fitri, dan makan setelah kembali dari Shalat Pada hari Idul Adha

 Berdasarkan hadits riwayat ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidak berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri sebelum makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied  beliau menyantap daging qurbannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidziy).

“Imam Ahmad rahimahullah sebagaimana dikutip oleh ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (2:228) berkata: “Saat Idul Adha dianjurkan tidak makan hingga kembali dan memakan sembelihan qurban. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dari hasil sembelihan qurbannya. Jika seseorang tidak memiliki qurban (tidak berqurban), maka tidak masalah jika ia makan terlebih dahulu sebelum shalat ‘ied.”

Bertakbir

Disunahkan mengumandangkan takbir sejak tenggelamnya matahari pada malam Ied. Pada hari raya Idul Adha takbir dianjurkan untuk dikumandangkan sejak ba’da shalat subuh pada tanggal 9 Dzulhijjah dan berakhir pada hari terakhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah). Sedangkan pada shalat idul Fithri takbir berakhir dengan dimulainya shalat ied. Dianjurkan pula bertakbir ketika berada di perjalanan menuju tempat shalat ‘ied.

Adapun lafazh takbir (takbiran) yang disebutkan oleh para ulama adalah :

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ

Lafazh ini sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhuma (HR. Ibnu Abi Syaibah).

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً

Lafazh ini dicontohkan oleh Salman radhiyallahu ‘anhu  (HR. Abdur Rozzaq).

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَـهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ وَ هُوَ عَلىَ كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

اللهُ أَكْبَرُ ( 3× ) اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً وَ الْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَ لَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ هَزَمَ اْلأَحْزَبَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ

Lafazh ini disebutkan oleh Imam Syafi’i (Lih:Al Adzkar : 224)

4. Melalui Jalan Yang Berbeda Ketika Berangkat dan Kembali

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma;

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللهِ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ    إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ ( رواه البخاري (

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pada hari Raya selalu melalui jalan yang berbeda (ketika berangkat dan kembali). (HR. Bukhari).

5. Shalat Ied Dilakukan di Tanah Lapang, kecuali darurat karena hujan atau sebab lainnya, maka boleh dilakukan di masjid.

Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengerjakan shalat ide di tanah lapang sebagaimana diterangkan dalam hadits berikut;

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى … ( رواه البخاري و مسلم(

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke luar ke Mushalla (tempat shalat di tanah lapang) pada hari Idul Fithri dan Idul Adh-ha” (HR. Bukhari dan Muslim).

6. Saling memberi Ucapan Selamat (Tahniah)

Dianjurkan saling menyampaikan ucapan selamat (tahniah) pada dua hari Raya (idul Fithri dan Idul Adha). Berdasarkan sebuah riwayat bahwa para shabat Nabi bila bertemu pada hari ied mereka saling menyampaikan ucapan selamat dengan mengatakan;

تقبل الله منّا ومنكم

7. Diporbolehkan Makan, Minum, dan menikmati hiburan yang halal selama tidak berlebihan, sebagaimana hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Idul Adha,

أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكرالله

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah”. (HR. HR. Ahmad).

Wallahu a’lam

Lailatul Qadar Umur Tambahan Kaum Muslimin

Lailatul Qadar

Lailatul Qadar Umur Tambahan Kaum Muslimin

Umur ummat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak sama dengan ummat-ummat sebelumnya. Umat terdahulu terkenal dengan umur yang panjang serta tubuh yang kuat. Semua itu menjadikan mereka maksimal dalam menegakkan ibadah kepada Allah.

Berbeda dengan umur ummat Rasulullah. Selain kadarnya yang pendek, itu pun dipadati pula oleh banyak kelemahan serta kelalaian. Karena itu, dari hitung-hitungan, amal ibadah ummat ini sangat jauh tertinggal dari orang-orang sebelumnya.

Itulah sebabnya, mengapa Allah Ta’ala kemudian menetapkan banyak amal-amal kebaikan yang pahalanya berlipat kali untuk meneutupi kekurangan umur yang diberikan pada mereka.

Seorang yang shalat berjamaah misalnya, Nabi mengabarkan ia lebih baik dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendiri. Itu artinya, orang yang shalat jama’ah seakan umurnya melampaui dua puluh tujuh hari orang yang shalat sendiri.

Demikian pula orang yang shalat di Masjidil Haram. Pahalanya sama dengan sepuluh ribu kali lipat shalat di masjid selainnya. Itu artinya, seakan ia mendapat tambahan umur sepuluh ribu hari ketimbang orang yang tidak shalat di masjidil haram

Nah, demikian pula dengan Lailatul Qadar. Ibadah di dalamnya lebih baik ketimbang seribu bulan ibadah di bulan-bulan selainnya. Seakan mereka yang mendapat Lailatul Qadar itu menerima bonus umur seribu bulan ketimbang mereka yang tidak mendapatkannya. Dan itu berlaku setiap tahun.

Makanya, tidak heran jika ada dari ummat Rasulullah kelak yang datang amal-amal yang sangat banyak. Seakan ia hidup ribuan tahun khusus hanya untuk beribadah. Itu dikarenakan amal-amal yang dikerjakan hamba tersebut, kendati zahirnya sedikit akan tetapi lipatan pahalanya sangat melimpah di sisi-Nya.

Di sinilah Rahasianya, mengapa para ulama mengatakan, dibutuhkan kecerdasan dalam beribadah. Carilah tempat dan waktu di mana padanya terkandung keberkahan yang menyebabkan pahala berlipat ganda. Jangan sampai kita lelah dalam sebuah amal, akan tetapi pahalanya sangat kecil di sisi-Nya.

Sebagai contoh, hadist yang diriwayatkan dari Ummul Mukminin Juwairiyah. Bahwa suatu pagi, Rasulullah keluar dari rumah Juwairiyah ke masjid melaksanakan shalat subuh. Ketika itu Juwairiyah berada di tempat sujud (sejadah). Saat Rasulullah kembali dari masjid dan matahari sudah tinggi, Rasulullah mendapati Juwairiyah masih duduk bersimpuh di tempat semula. Rasulullah bertanya: “Wahai Juwairiyah, adakah sejak tadi engkau duduk di tempat sujud itu?” Juwairiyah menjawab: “Iya, benar”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda:  “Sungguh aku telah membaca sesudahmu empat kalimat, andai (pahalanya) ditimbang dengan (pahala) kalimat yang kamu baca seharian, pasti bisa mengimbanginya, yaitu kalimat: “Subhanallah wa Bihamdihi ‘Adada Khalqihi, wa Ridha’a Nafsihi, wa Zinata ‘Arsyihi, wa Midada Kalimatihi”. (Mahasuci Allah dengan segenap puji-Nya, sebanyak makhluk ciptaan-Nya, sejauh keridhaan-Nya, seberat timbangan Arsy-Nya, dan sebanyak tinta untuk menulis kalimat-kalimat-Nya).” (HR. Muslim).

Iya, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarkan pada Juwairiyah, bahwa amal itu yang paling utama diperhatikan adalah kualitasnya, dan bukan kuantitas. Bisa jadi seorang duduk seharian untuk berdzikir, akan tetapi dikalahkan oleh sebuah amal sederhana yang ternyata pahalanya sangat besar di sisi Allah. Wallahu A’lam.

Sumber: Hikmah Ramadhan Ustadz Rapung Samuddin, Lc

Lazis Wahdah Berbagi di Ujung Negeri Bersama Prajurit TNI Penjaga Perbatasan RI-Malaysia

Lazis Wahdah  Berbagi di Ujung Negeri Bersama Prajurit TNI Penjaga Perbatasan RI-Malaysia

Lazis Wahdah Berbagi di Ujung Negeri Bersama Prajurit TNI Penjaga Perbatasan RI-Malaysia

Kegiatan Berbagi Di Ujung Negeri ini merupakan salah satu kegiatan Ramadhan yang dilaksanakan oleh LAZIS Wahdah Nunukan dalam rangka melayani ummat selama bulan suci Ramadhan.

(Nunukan) wahdahjakarta.com| Tak ada yang istimewa dari pondok kayu berlantai dua tersebut. Dibuat dari kayu-kayu disusun, bentuknya kotak dibagi menjadi empat ruang, atas dan bawah. Namun, pondok ini berjasa besar dalam menuntaskan rindu para prajurit penjaga perbatasan. Hanya di Pondok Cinta sinyal telepon seluler bisa ditangkap. Itu pun harus dengan cara menggantungkan telepon di dinding luar pondok.

Demikianlah gambaran yang dialami oleh prajurit  Tentara Nasional Indonesia (TNI) penjaga perbatasan Indonesia – Malaysia yang berlokasi di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Kerinduan mereka dengan keluarga jangan ditanya lagi. Momentum Ramadhan seperti saat sekarang ini harus mereka lalui dengan sabar karena harus menjalankan tugas negara.

Sabtu (9/6/2018) lalu, LAZIS Wahdah Nunukan bergerak melintasi jalan-jalan setapak menuju pos-pos perbatasan. 70 paket Ifthar disalurkan kepada para prajurit yang ada.

”Alhamdulillah, setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh, mobil kami yang mengangkut paket ifthar tiba di patok tiga wilayah perbatasan,” ujar ustadz Abu Ismail, Ketua LAZIS Wahdah Nunukan.

Kegiatan Berbagi Di Ujung Negeri ini merupakan salah satu kegiatan Ramadhan yang dilaksanakan oleh LAZIS Wahdah Nunukan dalam rangka melayani ummat selama bulan suci Ramadhan.

”Kami ucapkan terima kasih. Bantuan ini sangat berharga bagi kami yang di perbatasan. Apalagi kami jauh dari keluarga. Dengan melihat ramainya buka puasa ini, kerinduan kami kepada keluarga sedikit bisa terobati,” ucap salah seorang prajurit.

***

Indahnya berbagi dengan sesama. Mari perbanyak Sedekah untuk membantu orang yang membutuhkan di sekitar kita melalui LAZIS Wahdah dengan nomor rekening sedekah Bank Syariah Mandiri (451) 773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah dan konfirmasi transfer ke 0811 9787 900 (wa/sms).

Semoga di penghujung Ramadhan tahun ini, Allah masih memberikan kita kesempatan untuk memperbanyak amal kebaikan, aamiin. []

LAZIS Wahdah, Melayani dan Memberdayakan

Lailatul Qadar dan Malam Ganjil

Lailatul Qadar dan Malam Ganjil

Lailatul Qadar dan Malam Ganjil

Seperti telah disinggung dalam kajian-kajian lalu, bahwa malam Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan, utamanya di malam-malam ganjil.

Dan bahwasanya diangkatnya pengetahun tentang kapan pastinya malam itu sejalan dengan hikmah Rabbani. Yakni agar supaya kaum Mukminin bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah pada seluruh malam-malam tersebut.

Adapun pernyataan sebagian sahabat, seperti Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Ubay bin Ka’ab, bahwa Lailatul Qadar itu jatuhnya pada malam ke-27, maka ia adalah ijtihad mereka berdua. Juga, bisa saja ia terjadi pada satu tahun tertentu yang mereka rasakan, dan bukan setiap tahunnya.

Riwayat tersebut berbunyi:

(وَعَنْ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا, عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: – لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ – (رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu Anhuma, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda mengenai Lailatul Qadar: “Ia terjadi pada malam ke-27“. (HR. Abu Daud).

Dari Ubay bin Ka’ab Radhiallahu Anhu ia berkata tentang Lailatul Qadar:

“وَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُهَا هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam tersebut. Ia adalah malam yang Allah perintahkan kami menghidupkannya dengan shalat malam, yaitu malam ke-27.” (Riwayat Muslim).

Pendapat yang kuat terkait riwayat Mu’awiyah di atas bahwa ia adalah hadits mauquf. Yakni hanya merupakan perkataan sahabat (Mu’awiyah bin Abi Sufyan), sebagaimana nyatakan oleh Ibnu Hajar.

Intinya, bahwa malam Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, utamanya pada malam-malam ganjil. Lebih utama lagi pada malam ke-27. Dan tabiat Lailatul Qadar itu berpindah-pindah setiap tahunnya.

Buktinya, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mendapatinya pada malam ke-21, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Sa’id Radhiallahu Anhu.

Saat itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkhutbah di hadapan para sahabat seraya mengatakan:

“إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي نَسِيتُهَا أَوْ أُنْسِيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ كُلِّ وِتْرٍ وَإِنِّي أُرِيتُ أَنِّي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ”.

Sungguh telah diperlihatkan padaku Lailatul Qadar, kemudian aku lupa atau dibuat lupa. Olehnya, carilah Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir, pada setiap malam ganjilnya. Pada saat itu aku merasa bersujud di air dan lumpur.”

Abu Sa’id berkata: “Hujan turun pada malam ke-21, hingga air mengalir mengaliri tempat shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seusai shalat aku menyaksikan wajah beliau kotor terkena lumpur. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sumber: Hikmah Ramadhan Ustadz Rapung Samuddin, Lc