Ustadz Zaitun: Ada Motif Politik Dibalik Wacana Internasionalisasi Pengelolaan Haji

Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin saat Konferensi Pers Tolak Internasionalisasi Pengelolaan Haji, Jakarta (15/02/2018).

Ustadz Zaitun: Ada Motif Politik Dibalik Wacana Internasionalisasi Pengelolaan Haji
“Sebetulnya isu ini bukan isu baru. Sejak (tahun) 80an sudah digulirkan dengan motif politik untuk menguatkan imperium Iran dan hegemoninya di Timur Tengah,”

(Jakarta)-wahdahjakarta.com– Ketua Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara ustadz Dr. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc. MA. menganggap munculnya wacana internasionalisasi terhadap dua Kota Suci, yaitu Makkah dan Madinah, serta pengelolaan haji dan umrah bukanlah hal yang baru. Sebab ada motif politik dibalik wacana tersebut.

“Sebetulnya isu ini bukan isu baru. Sejak (tahun) 80an sudah digulirkan dengan motif politik untuk menguatkan imperium Iran dan hegemoninya di Timur Tengah,” ungkap ustadz Zaitun saat konferensi pers pada Kamis (15/02/2018) di gedung AQL, Tebet Jakarta.

Menurutnya, alasan adanya larangan haji bagi Qatar dan Iran yang mendasari munculnya kembali isu tersebut tidak dapat dibenarkan. Bahkan jumlah jamaah haji dari Qatar justru meningkat dengan penambahan quota. Kalaupun ada pelarangan itu dikarenakan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh warga negara terkait.

Meski demikian ketua Umum Wahdah Islamiyah ini berharap bahwa semangat ukhuwah dan persatuan yang harus dijaga, bukan perpecahan.
Hal senada diungkap oleh Prof. Musni yang juga hadir dalam konferensi pers tersebut, menurutnya internasionalisasi tidak dibutuhkan karena sudah ada yang mengurusnya. Kalau ini dilakukan justru akan menimbulkan perpecahan demi perpecahan.

Wacana internasionalisasi pengelolaan haji dan umrah serta urusan tanah suci Makkah dan Madinah tersebut pun ditentang keras oleh Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara, Majelis Ormas Islam (MOI) serta Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).[ibw]

Asmaul Husna [10]: Al-Mutakabbir (Yang Maha Memiliki Keagungan)

Asmaul Husna [10] Al-Mutakabbir

Al-Mutakabbir artinya Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat yang memiliki kesombongan dan kebesaran. Kedua hal tersebut tidak dimiliki oleh yang lain, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala pun diatas segalanya.

Dengan nama ini, maka kebesaran hanya milik-Nya. Seluruh ciptaan-Nya tunduk patuh terhadap kekuasaan dan keagungan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ

Yang artinya: “Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan.” (Al-Hasyr: 23)

Dalam hadits Qudsi disebutkan, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,Kesombongan adalah pakaian atas-Ku dan kebesaran adalah pakaian bawah-Ku. Barangsiapa mengambil salah satu dari dua hal ini, maka akan Aku lemparkan ke dalam neraka.”

Karena itu, kesombongan Allah subhanahu wa ta’ala adalah tidak terbatas, dan kebesaran-Nya juga tidak ada batasnya.
Allah subhanahu wa ta’ala Maha Esa dalam kebesaran dan memiliki kerajaan-Nya; Maha Esa dalam memiliki keagungan dan kekuasaan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الْأَرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٣٦﴾ وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٣٧

Yang artinya: “Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam. Dan bagi-Nya lah keagungan dilangit dan di bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Jatsiyah: 36-37)

Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sangat membenci orang yang berlaku sombong, dan mengancam mereka dengan neraka Jahanam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

Yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” (An-Nahl: 23)

وَيْلٌ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ ﴿٧﴾ يَسْمَعُ آيَاتِ اللَّهِ تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَن لَّمْ يَسْمَعْهَا ۖ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿٨﴾

Yang artinya: “Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.” (Al-Jatsiyah: 7-8)

Dengan mempelajari nama ‘Al-Mutakabbir’, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil:
1. Kita hendaknya bersikap tawadhu’ terhadap orang lain, walaupun kedudukan kita tinggi, dan perkataan kita biasa ditaati.
2. Kita hendaknya selalu membersihkan hati kita dari sifat takabbur. Allah subhanahu wa ta’ala sangat membenci orang yang bersifat dengan sifat Allah subhanahu wa ta’ala yang satu ini.

Ormas Islam Tolak Internasionalisasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah

Ulama dan Ormas Islam Tolak Internasionalisasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah

“Indonesia yang diwakili oleh para ulama dan tokoh-tokohnya serta bangsa Indonesia secara umum menolak semua upaya untuk internasionalisasi penyelenggaraan haji dan urusan dua tanah suci Makkah dan Madinah dari pihak atau negara manapun juga,”

(Jakarta)-wahdahjakarta.com– Majelis Ormas Islam (MOI), Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dan Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara menolak tegas adanya wacana internasionalisasi penyelenggaraan haji dan urusan dua tanah suci Makkah dan Madinah. Hal ini diungkap saat konferensi pers pada Kamis (15/02/2018) di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta.

Ketua Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara yang juga ketua Umum Wahdah Islamiyah ustadz Zaitun Rasmin dalam konferensi tersebut mengatakan, internasionalisasi penyelenggaraan haji dan urusan dua tanah suci Makkah dan Madinah akan menimbulkan problema besar dan persengketaan serta perselisihan yang sangat berbahaya dan dapat memicu situasi chaos dalam pelaksanaan ibadah haji bahkan dapat menjadi ancaman bagi stabilitas dua tanah suci dan wilayah sekitarnya.

KH Nazar Haris sebagai perwakilan dari MOI mengatakan, pemerintah Arab Saudi telah memberikan perhatian yang sangat besar dalam penyelenggaraan ibadah haji serta urusan dua Tanah Suci tersebut.

Hal ini terbukti dengan pembangunan dan renovasi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi serta perluasan keduanya berlipat-lipat ganda serta pembangunan jalan dan sarana – prasarana yang sangat berkualitas demi kemudahan pelaksanaan ibadah haji dan umrah.

“Arab Saudi terus menerus membuat kedua masjid suci tersebut semakin besar dan indah dari waktu ke waktu.” Kata KH Nazar yang juga Ketua Umum Persatuan Ummat Islam tersebut.

Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin

Berdasarkan kenyataan tersebut maka MOI dan MIUMI, dan seluruh umat Islam Indonesia menyatakan, tidak ada kebutuhan dan alasan untuk internasionalisasi penyelenggaraan haji dan urusan dua tanah suci Makkah dan Madinah.

“Indonesia yang diwakili oleh para ulama dan tokoh-tokohnya serta bangsa Indonesia secara umum menolak semua upaya untuk internasionalisasi penyelenggaraan haji dan urusan dua tanah suci Makkah dan Madinah dari pihak atau negara manapun juga,” Pungkas ustadz Zaitun.[ibw/sym].

Pernyataan Sikap MOI dan MIUMI Tentang Wacana Internasionalisasi Dua Kota Suci dan Pengelolaan Haji/Umroh

Pernyataan Sikap MOI dan MIUMI Tentang Wacana Internasionalisasi Dua Kota Suci dan Pengelolaan Haji/Umroh

MOI-MIUMI Tolak Internasionalisasi Dua Kota Suci

 

Internasionalisasi  dua kota suci Makkah dan Madinah akan menimbulkan problema besar dan persengketaan serta perselisihan yang sangat berbahaya dan dapat memicu situasi chaos dalam pelaksanaan ibadah haji bahkan dapat menjadi ancaman bagi stabilitas dua tanah suci dan wilayah sekitarnya .

(Jakarta)-wahdahjakarta.com– Kamis (15/02/2018) Sejumlah tokoh ummat Islam yang tergabung dalam Majelis Ormas Islam (MOI) dan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menggelar Konferensi Pers menyikapi wacana internasionalisasi pengelolaan dua kota suci (Makkah dan Madinah) serta pengelolaan ibadah Haji dan Umrah.

Melalui konferensi pers ini digelar di Ar Rahman Qur’anic Learning (AQL), Jl. Tebet Utara Jakarta Selatan ini MOI dan MIUMI menyerukan empat poin penting, berikut kutipan lengkapnya.

Munculnya propaganda tentang internasionalisasi penyelenggaraan haji dan urusan dua tanah suci Makkah dan Madinah membuat kami umat Islam Indonesia merasa perlu menyampaikan pernyataan sikap sebagai berikut:

1. Internasionalisasi penyelenggaraan haji dan urusan dua tanah suci Makkah dan Madinah akan menimbulkan problema besar dan persengketaan serta perselisihan yang sangat berbahaya dan dapat memicu situasi chaos dalam pelaksanaan ibadah haji bahkan dapat menjadi ancaman bagi stabilitas dua tanah suci dan wilayah sekitarnya .

2. Pemerintah Saudi Arabia telah memberikan perhatian yang sangat besar dalam penyelenggaraan Ibadah Haji serta ururan dua tanah suci. Hal ini terbukti dengan pembangunan dan renovasi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi serta perluasan keduanya berlipat-lipat ganda serta pembangunan jalan dan sarana – prasarana yang sangat berkualitas demi kemudahan pelaksanaan ibadah haji dan umrah , dan Saudi Arabia terus menerus membuat kedua masjid suci tersebut semakin besar dan indah dari waktu ke waktu.

3. Berdasarkan apa yang tersebut di atas, maka tidak ada kebutuhan dan alasan untuk internasionalisasi penyelenggaraan haji dan urusan dua tanah suci Makkah dan Madinah

4. Oleh karena itu Indonesia yang diwakili oleh para ulama dan tokoh- tokohnya serta bangsa Indonesia secara umum menolak semua upaya untuk internasionalisasi penyelenggaraan haji dan urusan dua tanah suci Makkah dan Madinah dari pihak atau negara manapun juga.

‎حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير

Jakarta , 29 Jumadil Ula 1439 H / 15 Februari 2018 M

MIUMI Ajak Umat Kawal Perjuangan Legislasi Zina dan LGBT

Wakil Ketua MIUMI Pusat Ustadz Zaitun saat Konferensi Pers Bedah RUU KUHP Terkai Masalah Keumatan

MIUMI Ajak Umat Kawal Perjuangan Legislasi Zina dan LGBT

(Jakarta) Wahdahjakarta.com – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat menyelenggarakan diskusi “Bedah RUU KUHP Terkait Masalah Keumatan”, Selasa, (13/2/17) di Ar Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center Jakarta.

Narasumber yang dihadirkan adalah Arsul Sani dari Komisi III DPR yang membidangi hukum, Hak Asasi Manusia (HAM) dan keamanan, Prof. Euis Sunarti, dan Pakar Hukum Universitas Indonesia (UI) Dr. Neng Djubaedah, S.H, M.H, Ph.D.

Diskusi yang dihadiri anggota MIUMI pusat dan daerah serta perwakilan berbagai ormas Islam ini menghasilkan lima point rekomendasi berikut:

1. Mendesak Presiden dan DPR untuk menolak intervensi asing berkaitan dengan RKUHP demi harga diri bangsa Indonesia dan kedaulatan hukum nasional.

2. Mendukung perluasan makna beberapa pasal dalam RKUHP terkait perzinaan, perkosaan, dan perbuatan cabul sesama jenis.

3. Mendorong koordinasi dan konsolidasi antar wakil rakyat di DPR demi menjaga ideologi bangsa Indonesia (Pancasila).

4. Menghimbau umat Islam dan seluruh umat beragama untuk siap siaga menyambut seruan Ulama dan pemuka agama masing masing untuk membela hak-hak, nilai-nilai dan kedaulatan bangsa Indonesia.

5. Mengajak seluruh komponen bangsa untuk ikut mengawal proses perjuangan Iegislasi Nasional demi terwujudnya KUHP yang sesuai dengan PancasiIa dan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945.

Diskusi ini dipandu oleh Adnin Armas dan ditutup dengan konferensi pers yang dipimpin oleh Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir.

Dalam sesi konferensi pers Wakil Ketua MIUMI Pusat Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin berharap rancangan undang-undang ini segera diselesaikan dan disahkan untuk meminimalkan madharat yang muncul. [ibw/sym].

Asmaul Husna (09): Al-Jabbar (Maha Kuasa)

Asmaul Husna; Al-Jabbar (Maha Kuasa)

Asmaul Husna (09): Al-Jabbar (Maha Kuasa)

Al – Jabbar berarti berkuasa untuk memaksakan keinginan-Nya kepada hamba-Nya, berkuasa untuk memerintah dan melarang, sehingga hamba-hamba-Nya hanya bisa berkata sami’na wa atha’na saja.

Al– Jabbar juga berarti yang kuat dan tahan, sehingga tidak ada yang bisa berbuat buruk dan membahayakan-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ 

Dia-Lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhhak disembah) selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa.” (Al-Hasyr:23)

Nama Al-Jabbar  mempunyai tiga makna; Kuasa Kekuatan, Kuasa Kasih Sayang, dan Kuasa Ketinggian.

Kuasa Kekuatan, maksudnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Kuasa atas segala penguasa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengalahkan mereka semua dengan kekuasaan dan kekuatan-Nya.

Kuasa Kasih Sayang, maksudnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyayangi orang lemah, memperbaiki keadaannya dengan cara memberi mereka kekayaan dan kekuatan.

Sedangkan Kuasa Ketinggian, maksudnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Mahatinggi diatas seluruh ciptaan-Nya, tidak ada makhluk yang bisa mencapai-Nya.
Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdoa, “Maha Suci Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang memiliki Kekuasaa, Kerajaan, Keangkuhan, dan Keagungan.”

Dari memahami makna-makna diatas, dapat diambil pelajaran bahwa;
a. Sudah selayaknya seorang mukmin meminta pertolongan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Baik dalam menguatkan yang lemah, ataupun dalam mengalahkan seorang yang dzalim.

b. Seorang mukmin hendaknya selalu menyerahkan segala urusan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena kehendak-Nya pasti terlaksana, dalam hal apapun dan kepada siapapun.

Penerimaan Santri Baru Pesantren Tahfidz (SMP-SMA) Al-Qur’an Wahdah Islamiyah Bogor

Penerimaan Santri Baru Pesantren Tahfidz (SMP-SMA) Al-Qur’an Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor Jawa Barat TA.1439H-1440H/2018-2019

معهد الوحدة الإسلامية لتحفيظ القرآن الكريم

Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor Jawa Barat Menerima Santri Baru Tahun ajaran 1439-1440H/2018-2019.

Visi
Menjadi lembaga Pendidikan Islam berbasis pesantren yang dapat melakukan pengajaran dan pendidikan al-Qur’an guna melahirkan generasi Qur’ani.

Misi:
1. Menjadi lembaga pencetak penghafal dan pengamal al-Qur’an
2. Menanamkan adab dan akhlaq Qur’ani melalui program Tarbiyah Qur’aniyah
3. Membekali para hafidz al-Qur’an dengan dasar-dasar Ilmu Syar’i dan bahasa Arab
Jenjang Pendidikan
1. Sekolah Menengah Pertama Al-Qur’an Wahdah Islamiyah (SMPQu-WI)
2. Sekolah Menengah Atas Al-Qur’an Wahdah Islamiyah (SMAQu-WI)

Kompetensi Lulusan Yang Diharapkan
1. Hafal al-Qur’an 15 Juz untuk SMP dan 30 bagi alumni SMA Juz dan paham maknanya,
2. Dapat berbahasa Arab aktif,
3. Menguasai dasar-dasar Ilmu Syar’i,
4. Menghafal Hadits Kitabul Jami’ Bulughul Maram,

Fasilitas:
1. Lokasi strategis, dekat pusat pemerintahan Kabupaten Bogor dan GOR Pakan Sari,
2. Gedung Asrama dan Ruang Kelas 3 lantai,

Kurikulum
1. Hafalan al-Qur’an,
2. Bahasa Arab,
3. Dasar-dasar Ilmu Syar’i; Tafsir, Hadits, Adab, dll
4. Bahasa Inggris.

Ekstra Kurikuler
1. Olahraga; Memanah, Futsal, dan tennis meja
2. Bela Diri;
3. Pengembangan Diri dan Keorganisasian

Brosur Penerimaan Santri Baru Pesantren Tahfidz (SMAQu) Wahdah Islamiyah Bogor

 

Pengurus dan Pengelola
1. Penyelenggara: Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI).
2. Pembina : KH. DR. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, MA (Wasekjen MUI Pusat & Ketua DPP Wahdah Islamiyah)
3. Pengelola:
Pimpinan Pondok: Ust. Syamsuddin, M.Pd.I
Kepala Sekolah:Ust. Muh.Hamka, S.Pd
Muhaffidz: Ustadz Hermawan Sumarlin, Lc, Al-Hafidz, Ust. Ld. Munawan, Lc, Al-Hafidz, Ust Firman, SH
Kepala TU: Firmansyah Yuskal, SH
Keuangan: Agusman, S.si.

Jadwal Pendaftaran
Gelombang 1
1. Pendaftaran: 1 Januari 2018 s.d 23 Februari 2018
2. Tes dan Wawancara : 24 – 25 Februari 2018
3. Pengumuman Hasil: 3 Maret 2018

Materi Tes
1. Tes tertulis pengetahuan Agama dan Umum serta psiko tes
2. Tes lisan dan wawancara
3. Baca Tulis Al-Qur’an
4. Kemampuan mghafal Al-Qur’an

Biaya Masuk dan Bulanan

SMPQu

  1. Pendaftaran (Formulir & Tes Masuk) : 200.000

2. Uang Pangkal :  7.000.000

3. Perlengkapan (Ranjang, Kasur,Bantal, Sepre, Lemari) : 1.500.000

4. Seragam 4 Set (Putih-Biru, Jubah, Olah Raga, Batik Lembaga) : 1.000.000

5. Buku Paket UN : 750.000

6. Bulanan Juli 2018, meliputi;
a. Konsumsi : 700.000
b. SPP : 500.000
c. Loundry: 100.000
d. Kegiatan,Ekskul: 100.000
Total: 11.850.000

SMAQu

  1. Pendaftaran (Formulir dan Tes masuk) 200.000
  2. Uang Pangkal 7.000.000
  3. Perlengkapan (Ranjang, kasur, sepre, bantal, dan lemari) 1.500.000
    4 . Seragam 4 set (Putih-Abu-abu, Jubah, Olahraga, Jubah, Batik lembaga 1.000.000
    5 . Buku Paket UN 850.000
    6 Bulanan Juli 2018, meliputi;
    a. Konsumsi: 700.000
    b. SPP: 500.000
    c. Loundry:100.000
    d. Kegiatan & Ekskul 100.000

Total 11.950.000

 

Brosur PPDB SMPQu Wahdah Islamiyah Bogor

Membatasi dan Mengatur Jarak Kelahiran, Bolehkah?

 

Mengatur Jarak Kelahiran

Membatasi dan Mengatur Jarak Kelahiran, Bolehkah?

Pertanyaan:

Saya dan istri bersepakat untuk mengatur keturunan (kelahiran). Kami tidak memiliki maksud apa-apa melainkan sekadar mengatur jarak (kelahiran), yakni dengan cara istri saya mengkonsumsi pil pencegah kehamilan. Apa hukumnya mengatur keturunan?

Jawaban:
Alhamdulillahi wahdah, Was Shalatu Was Salamu ‘ala Man La Nabiyya ba’dah, amma ba’d;

Pengaturan keturunan (kelahiran) jika untuk maksud yang baik dan dilandasi udzur sya’ri, seperti istri tidak kuat menjalani kehamilan dan persalinan yang jaraknya terlalu rapat, atau istri mengidap suatu penyakit, maka hal itu (mengatur kelahiran) tidak apa-apa (boleh). Namun, bila dilakukan tanpa udzur udzur syar’i, maka kami memandang hendaknya seseorang menyerahkan hal itu kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Karena Dialah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan anak keturunan dan Dia pulalah yang menjamin rezkinya, men-tarbiy-ahnya, dan sebagainya. Oleh karena itu tidak boleh bagai pasangan suami istri mengakhirkan kelahiran tanpa adanya mudharat (yang mengancam) dan tanpa udzur syar’i.

Meskipun sebagian ulama tasahul (bermudah-mudahan) dalam masalah seperti ini, tapi sebenarnya jika ditelusuri lebih jauh tersingkap, bahwa target jangka panjang dari program ini adalah ditujukan kepada ummat Islam, yang pada hakikatnya pembatasan keturunan (Tahdidun Nasl). Kadang tujuan itu dilakukan dengan cara mengatasnamakan pengaturan (jarak kelahiran) dan semacamnya.

Adapun pengaturan tanpa obat-obatan, seperti memilih waktu-waktu tertentu (misal di luar masa subur) untuk bercampur suami-istri, selama tidak menimbulkan mudharat bagi masing-masing; suami atau sitri. Hal ini boleh selama tidak ada maksud membatasi keturunan. Dan seorang istri tidak boleh menolak untuk hamil tanpa udzur syar’i. Wallahu Ta’ala a’la wa a’lam, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhamma wa alihi wa shahbihi ajma’im.

Kesimpulan:

1. Membatasi keturunan hukumya haram, kecuali darurat, seperti istri mengidap penyakit yang membahayakan jiwanya bila hamil dan melahirkan
2. Mengatur kelahiran dibolehkan bila ada udzur syar’i, seperti fisik istri yang tidak kuat bila menjalani kehamilan dengan jarak yang dekat, atau mengidap penyakit tertentu. [sym].

(Sumber: Fatwa Syekh DR. Abdurrhaman al-Mahmud, dalam http://www.almoslim.net/node/52850, diakses tanggal 22 Maret 2016).

Panjang Umur dan Rezki Lancar Berkat Silaturrahim


Panjang Umur dan Lancar Rezki Berkat Silaturrahim

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

((مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وأن يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ)) أخرجه البخاري

“Siapa yang ingin dilapangkan rezkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia bersilaturahim” (Dikeluarkan oleh Bukhari).

Pelajaran Hadits:

Hadits ini mengandung anjuran untuk menyambung silaturrahim. Dalam hadits ini dikabarkan pula bahwa silaturrahim dapat mendatangkan keluasan rezki dan menambah umur bagi yang melakukannya. Hadits ini tentu saja tidak bertentangan dengan firman Allah Ta’ala dalam surah al-A’raf ayat 34. Karena pertambahan yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah kinayah (kiasan) dari berkah pada umur dengan banyaknya ketaatan serta memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang bermanfaat di akhirat dan meninggalkan kenangan baik setelah meninggal.

Sebagian ulama berkata; penambahan yang dimaksud adalah hakiki. Hal ini bila dilihat dari sisi ilmu/pengetahuan Malaikat yang ditugaskan mencatat umur manusia semetara dalam ayat yang dimakud adalah umur manusia dalam ilmu Allah Ta’ala yang tidak dapat dimajukan dan diakhirkan.

Sementara menurut Ibnul Qayyim, makna penambahan umur dalam hadits tersebut adalah karunia berupa taufiq melakukan dzikrullah dan sibuk dengan ibadah.

Namun yang paling tepat adalah membawa makna hadits ini pada makna hakiki. Karena Allah telah mentakdirkan sebab dan penyebabnya.

Sehingga jika Dia mentakdirkan memanjangkan umur manusia, maka Dia juga menyediakan untuknya berbagai sebab maknawaiyah maupun hissiyah sebagai faktor memperpanjang umurnya, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama yang lain. [sym].

(Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Al-Birr was-Shilah, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]

Pertanyaan:

Di dalam Shahih Bukhari disebutkan hadits bahwa 700.000 orang akan masuk surga, sedangkan generasi awal saja mungkin jumlah mereka sudah mencapi 700.000. Apakah ada tafsir lain tentang hadits ini?

Jawaban:

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.
Barangkali maksud anda wahai penanya adalah hadits tentang 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ahmad serta yang lainnya dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Kalau anda memperhatikan hadits ini, akan hilanglah -insya Allah- ketidakjelasan yang tercermin dalam pertanyaan anda.

Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau berkata:

Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang nabi atau dua orang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: ‘Ini adalah Musa dan kaumnya,’ lalu dikatakan, ‘Perhatikanlah ke ufuk.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, ‘Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk surga tanpa hisab sejumlah 70.000 orang. Kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam masuk tanpa menjelaskan hal itu kepada para shahabat. Maka para shahabat pun membicarakan tentang 70.000 orang itu. Mereka berkata, ‘Kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya maka kitalah mereka itu atau anak-anak kita yang dilahirkan dalam Islam, sedangkan kita dilahirkan di masa jahiliyah.’ Maka sampailah hal itu kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau keluar dan berkata, ‘mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah (dimanterai), tidak meramal nasib dan tidak mita di-kai, dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal.” [HR. Bukhari 8270].

Maksud hadits ini menjelaskan bahwa ada satu kelompok dari ummat ini akan masuk surga tanpa dihisab, bukan berarti bahwa jumlah ahli surga dari ummat ini hanya 70.000 orang. Maka mereka yang 70.000 orang yang diterangkan dalam hadits ini adalah mereka yang memiliki kedudukan yang tinggi dari kalangan ummat ini karena mereka memiliki keistimewaan khusus yang disebutkan oleh hadits ini, yaitu mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak meramal nasib, dan tidak minta di-kai, serta hanya kepada Allah mereka bertawakkal.

 

Ada lagi hadits yang menjelaskan penyebab mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab di dalam riwayat lain bagi Imam Bukhari rahimahullah, dari Abbas radhiallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Ditampakkan kepadaku beberapa ummat. Maka ada seorang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh satu ummat, ada pula seorang nabi yang diikuti oleh beberapa orang, ada juga nabi yang diikuti oleh sepuluh orang. Ada juga nabi yang diikuti lima orang, bahkan ada seorang nabi yang berjalan sendiri. Aku pun memperhatikan maka tiba-tiba ada sejumlah besar orang, aku berkata, ‘Wahai Jibril, apakah mereka itu ummatku? Jibril menjawab, ‘Bukan, tapi lihatlah ke ufuk!’ Maka aku pun melihat ternyata ada sejumlah besar manusia. Jibril berkata, ‘Mereka adalah ummatmu, dan mereka yang di depan, 70.000 orang tidak akan dihisab dan tidak akan diadzab.’ Aku berkata, ‘Kenapa?’ Dia menjawab, ‘Mereka tidak minta di-kai, tidak minta diruqyah, dan tidak meramal nasib serta hanya kepada Allah mereka bertawakal.’Maka berdirilah Ukasyah bin Mihshan, lalu berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan salah satu seorang di antara mereka.’ Nabi pun berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah dia salah seorang di antara mereka.’Lalu ada orang lain yang berdiri dan berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku salah seorang di antara mereka.’ Nabi Shalalahu ‘alaihi wasslam menjawab, ‘Kamu telah didahului oleh Ukasyah’.” [HR. Bukhari 6059]

Tentang sifat mereka pun dijelaskan di dalam hadits Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata,

Pasti ada 70.000 orang dari ummatku atau 700.000 orang (salah seorang periwayat hadits ini ragu) akan masuk surga orang pertama di antara mereka, tidak memasukinya sebelum masuk pula orang terakhir dari mereka. Wajah-wajah mereka seperti bulan pada bulan purnama.” [HR. Bukhari]
Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]

Tentang sifat mereka diterangkan pula di dalam riwayat Muslim dalam shahihnya dari hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu,

“…, kemudian selamatlah orang-orang mukmin, selamat pulalah kelompok pertama dari mereka yang wajah-wajah mereka seperti bulan pada malam purnama sejumlah 70.000 orang. Mereka tidak dihisab kemudian orang-orang setelah seperti cahaya bintang di langit, kemudian yang seperti mereka.”

Bagi kita semua kaum muslimin ada kabar gembira dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam di dalam hadits ini dan hadits-hadits lainnya. Adapun kabar gembira dalam hadits ini karena ada riwayat yang lain dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah dari hadits Abu Umamah dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata,

Rabbku ‘Azza wa Jalla telah menjanjikan kepadaku bahwa ada dari ummatku yang akan masuk surga sebanyak 70.000 orang tanpa hisab ataupun adzab beserta setiap ribu orang ada 70.000 orang lagi dan tiga hatsiyah dari hatsiyah-hatsiyah Allah ‘Azza wa Jalla.”

Kita memohon kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar Dia menjadikan kita termasuk golongan mereka. Bila anda hitung 70.000 orang menyertai setiap seribu orang dari yang 70.000 itu, berapakah jumlah seluruhnya bagi orang yang masuk surga tanpa hisab?!?

Dan berapa jumlah seluruh hatsiyah dari hatsiyah Allah yang Agung dan Mulia, Yang Penyayang dan Pengasih?
Adapun berita gembira yang kedua adalah bahwa jumlah ahli surga dari ummat ini dua pertiga (2/3) dari seluruh jumlah ahli surga, maka jumlah ummat Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang masuk surga lebih banyak dibanding jumlah seluruh ummat yang lalu. Berita gembira ini datang dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sebuah hadits ketika beliau bersabada kepada para sahabatnya pada suatu hari,

“Ridhakah kalian, kalau kalian menjadi seperempat (1/4) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, ‘Ridhakah kalian menjadi sepertiga (1/3) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, ‘Ridhakah kalian menjadi setengah (1/2) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, “Demi Allah yang jiwaku ada dalam tangan-Nya, sesungguhnya aku berharap kalian menjadi setengah (1/2) dari penduduk surga karena surga tidak akan dimasuki kecuali oleh jiwa yang muslim dan tidaklah jumlah kalian dibanding ahli syirik kecuali seperti jumlah bulu putih pada kulit sapi hitam atau seperti bulu hitam pada kulit sapi merah.” [HR. Bukhari 6047]

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyempurnakan berita gembiranya kepada kita dalam hadits shahih yang lain. Beliau berkata,

“…, Ahli surga 120 shaf, 80 shaf di antaranya dari ummatku, dan 40 shaf lagi dari ummat lainnya.” [HR. Tirmidzi 3469,lalu Tirmidzi berkata, “Ini hadits hasan.”]

Maka kita memuji Allah atas nikmatnya dan kita memohon karunia dan rahmat-Nya, dan semoga Dia menempatkan kita di surga dengan upaya dan anugrah-Nya, dan semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi kita Muhammad. [sym].
(Sumber: Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid//http://islamqa.info/id/4203).