MUI Usulkan RUU P-KS Diubah Jadi RUU Penghapusan Kejahatan Seksual

Wasekjen MUI Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS).

Sebagai jalan tengah lembaga perkumpulan Ulama, Zu’ama, dan Cendekiawan itu mengusulkan agar RUU P-KS diubah menjadi RUU penghapusan kejahatan seksual.

“Ini berbahaya, nanti ada banyak kejahatan seksual seolah-olah mendapat legitimasi dari RUU PKS itu,” kata Wakil Sekjen MUI, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, dilansir indonesianinside, Kamis (7/2).

MUI merekomendasikan RUU tersebut diganti dengan RUU Kejahatan Seksual. Sebab, kejahatan seksual itu lebih berbahaya, sementara kekerasan seksual lebih multi-tafsir yang justru berpotensi merusak.

“Rekomendasi MUI dihentikan saja, tapi kalau masih mau dilanjutkan diganti dengan RUU kejahatan seksual, jadi perlindungan terhadap (korban) kejahatan seksual,” tegas Ustadz Zaitun yang juga ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah. 

Senada hal itu Prof Euis Sunarti, Guru Besar IPB Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, juga mengusulkan agar Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) diubah menjadi RUU Penghapusan Kejahatan Seksual.

Ketua GiGA (Penggiat Keluarga) Indonesia (Giga Keluarga) ini mengemukakan, ada banyak alasan RUU yang menuai prokontra ini ditolak atau diubah dengan mengganti kata kekerasan menjadi kejahatan.

“Dalam RUU P-KS, yang diatur adalah larangan pemaksaannya (pelacuran, aborsi), mengabaikan pelacuran sebagai penyimpangan perilaku seks-nya. Demikian juga tidak memasukkan perilaku seks menyimpang lainnya,” ungkapnya.

Sebelumnya, sebuah petisi online yang digagas oleh Maimon Herawati menolak pengesahan Rancangan Undang-undang Pencegahan Kekerasan Seksual (RUU P-KS). Pasalnya RUU ini seakan-akan melegalkan zina. Ratusan ribu orang telah menandatangani petisi ini. []

Sumber: indonesiainside.id

Sirah Nabi (1) Perjalanan Hidup Nabi dan Lahir Hingga Kenabian

Tulisan ini akan memaparkan secara singkat perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (Sirah Nabawiyah) sejak lahir hingga turunnya wahyu pertama atau pengangkatan sebagai Nabi.

Nama dan Nasab Nabi ﷺ;  Beliau adalah Abul Qosim Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththolib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushoy bin Kilaab bin Murroh bin Ka’b bin Luay bin Gholib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhor bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Kelahiran; Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dilahirkan dalam keadaan yatim pada hari senin tanggal 12 rabi’ul awal pada Tahun Gajah. Ayahnya  meninggal tatkala ia masih dalam kandungan, ini pendapat yang lebih kuat.

Kelahiran dan kedatangan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan pengabulan dari do’a Nabi Ibrahim dalam surah Al-Baqarah ayat 129 dan kabar gembira dari Nabi Isa ‘alaihiss salam dalam surah Ash- Shaf ayat 6.

dalam surah Al-Baqarah ayat 129 dan kabar gembira dari Nabi Isa ‘alaihiss salam dalam surah Ash- Shaf ayat 6.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku adalah (pengabulan) doa Nabi Ibrahim, kabar gembira Nabi Isa, dan ibuku melihat ketika ia mengandungku seolah-olah cahaya keluar darinya menerangi istana-istana Bushra di Negri Syam.”

Ibu Susuan Nabi;  Wanita pertama yang menyusui Nabi ﷺ setelah ibundanya adalah Tsuwaibah yang merupakan mantan budak wanita Abu Lahab, yang sebelumnya juga telah menyusui Hamzah bin Abdil Muththolib.

“..Tsuwaibah menyusuiku bersama Abu Salamah…”. (HR.Bukhari (9/43) dan Muslim 10/25-27))

Diantara tradisi orang Arab pada masa lalu adalah mencari wanita di pedalaman yang dapat menyusui bayi mereka sebagai tindakan preventif dari penyakit yang banyak menular di perkotaan. Selain itu agar anak mereka menjadi kuat serta lisan dan bahasanya terjaga.

Abdul Muththolib memilih seorang wanita dari kalangan Bani Sa’ad bin Bakr yaitu Halimah binti Abi Dzuaib untuk menyusui Nabi ﷺ .

Wanita lain yang juga menyusuinya adalah Ummu Aiman, nama aslinya Barkah binti Tsa’labah yakni mantan budak beliau yang didapatkannya sebagai warisan dari ayahnya.

Usia 4 Tahun; Tatkala usia Nabi ﷺ menginjak empat tahun, dua malaikat mendatanginya dan membelah dadanya, lalu mencuci hatinya dan mengembalikannya ke tempat semula.”

Usia 6 tahun; Ketika Rasulullah ﷺ menginjak usia 6 tahun, Ibundanya meninggal di Abwaa’ yang terletak di antara Makkah dan Madinah, lalu kakeknya Abdul Muththolib mengambil alih mengasuhnya.

Usia 8 tahun. Saat Rasulullah ﷺ berumur 8 tahun, kakeknya yang bernama Abdul Muththolib wafat. Dan pengasuhan Rasulullah ﷺ beralih ke pamannya Abu Tholib.

Usia 12 tahun;  Saat Rasulullah ﷺ menginjak usia 12 tahun, Abu Tholib membawanya ke Syam. Ketika mereka sampai di Bushra, seorang pendeta bernama Buhaira melihatnya. Pendeta ini mendapati sifat-sifat  kenabian pada diri Rasulullah ﷺ maka ia pun meminta Abu Tholib untuk memulangkannya, maka ia pun kembali.

Usia 15 tahun;  Ketika usia Rasululullah ﷺ menginjak 15 tahun terjadi perang Fijar antara Quraisy versus Hawazin.

Peristiwa perang Fijar terjadi antara Kinanah yang didukung oleh Quraisy berhadapan dengan Hawazin. Perang ini dinamakan Fijar karena telah melanggar kehormatan bulan Harom.

Tidak ada kabar yang shohih menyebutkan tentang keikutsertaan Rasulullah ﷺ pada perang ini.  Namun as-Suhaili mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ tidak ikut bersama paman-pamannya dalam perang tersebut karena perang ini melanggar kehormatan bulan harom, dan pihak-pihak yang bersengketa masih dalam kekufuran. Sementara Allah ﷻ tidak mengijinkan bagi orang beriman untuk berperang kecuali untuk meninggikan kalimat Allah. (Lihat ar-Raudhu al-Unuf 1/209).

Usia 20 tahun; Kemudian Rasulullah menyaksikan Hilful Fudhul untuk menolong pihak yang terzholimi.

Dinamakan perjanjian Fudhul karena mereka telah melakukan sesuatu yang utama (fadhl). (Lihat al-Bidayah wan Nihayah 2/322).  Disebutkan juga bahwa dinamakan sebagai perjanjian Fudhul karena dipelopori oleh 3 orang pemuka kabilah, yang semuanya bernama Fadhl.

Penyebab terjadinya perjanjian Fudhul (Hilful Fudhul) adalah karena seorang dari Kabilah Zabid dari Yaman datang ke Makkah bersama barang dagangannya. Ia menjualnya kepada seorang yang bernama al-‘Ash bin Wail as-Sahmi, namun orang ini tidak bersedia membayarnya. Kemudian al-‘Ash dilaporkan kepada tokoh-tokoh Quraisy, namun tidak ada juga yang ingin menolongnya.

Maka ia mendaki gunung Abi Qubais, ia brteriak agar haknya dkembalikan, akhirnya bangkitlah Zubair bin Abdil Muththolib dan berkata “Orang seperti ini tidak mungkin dibiarkan terzholimi.” Maka berkumpullah Banu Hasyim, Zuhrah, Banu Taim di rumah Abdullah bin Jad’an, mereka bersumpah dan berjanji untuk menolong orang yang terzholimi tersebut sampai haknya dikembalikan. Selanjutnya mereka menemui al-‘Ash bin Wa’il untuk mengambil paksa dan mengembalikan harta kepada pemiliknya. (Thabaqat Ibnu Sa’ad 1/126-128)

Nabi ﷺ yang saat itu berumur 20 tahun menghadiri perjanjian tersebut. Nabi ﷺ berkata tentang perjanjian tersebut: “Saya telah menyaksikan di Rumah Abdullah bin Jad’an sebuah perjanjian yang lebih aku cintai daripada seekor unta brwarna merah. Seandainya saya diajak dalam perjanjian yang sama dalam Islam, maka saya akan bergabung.” (Ibnu Hisyam 1/166)

Usia 25 tahun; Pada usia 25 tahun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Khadijah binti Khuwailid  bin Asad bin Abdil ‘Uzza bin Qushai bin Kilab. Usia Khadijah  saat itu 40 tahun. Menurut Ibnu Ishaq 28 tahun.

Usia 35 tahun; Ketika Rasulullah berusia 35 tahun orang-orang Quraisy merenovasi Ka’bah dan berbeda pendapat tentang siapa yang pantas meletakkan kembali hajar aswad pada posisinya semula. Maka Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallamm hadir sebagai penengah diantara mereka. Dari peristiwa inilah nabi Muhammad dinobatkan sebagai Al-Amin (yang paling terpercaya).

Usia 38 tahun; Ketika nabi Muhammad berusia 38 tahun tanda-tanda kenabian mulai bermunculan secara beruntun. Para rahib dan dukun juga sudah mulai membicarakan tanda-tanda tersebut.

6 Bulan Jelang Kenabian; Enam bulan sebelum diangkat menjadi Nabi, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai mendapatkan tanda-tanda wahyu berupa mimpi. Ummul Mukmini Aisyah radhiyallahu ‘mengabarkan, permulaan wahyu yang datang kepada nabi berupa mimpi yang benar. Beliau tidak mengalami sesuatu dalam mimpinya melainkan datang seperti cahaya waktu subuh. Kemudian beliau suka menyendiri dan bertahannuts di gua Hira.

Usia 40 tahun; Pada usia 40 tahun, ketika sedang bertahannuts di gua Hira pada bulan Ramadhan, beliau diangkat menjadi Nabi, yang ditandai dengan kedatangan Malaikat Jibril membawa wahyu pertama dari Allah. [sym]

Ditulis Oleh     : Syamsuddin Al-Munawiy

Artikel             : wahdahjakarta.com

Nabi Menikah dengan Khadijah (Serial Sirah Nabawiyah Part:11)

Sirah Nabawiyah
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Khadijah

Serial Sirah Nabawiyah (07) dari Kitab Al-Khulashah Al-Bahiyah Fi Tartib Ahdats As-Sirah An-Nabawiyah

11-  ولمّا بلغ صلى الله عليه وسلم الخامسة والعشرين تزوج خديجة رضي الله عنها 

(11). Ketika berusia 25 tahun Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam  menikah dengan Khadijah Radhiallahu ‘anha

Penjelasan

Pada usia 25 tahun, Nabi menikahi Khadijah binti Khuwailid  bin Asad bin Abdil ‘Uzza bin Qushai bin Kilab. Usia Khadijah  saat itu 40 tahun. Menurut Ibnu Ishaq 28 tahun.

Awal perkenalan Muhammad dengan Khadijah ialah ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjalin kerjasama dalam usaha dagang Khadijah seorang janda yang terkenal kaya di Makah. Beliau membawa dagangan wanita itu ke Jursyi, sebuah daerah dekat Khamisy Masyit, sebanyak dua kali dan juga ke wilayah-wilayah lain di luar Makkah dengan ditemani oleh Maisaroh, budak Khadijah. Bisnis  yang dijalankan selalu mendapatkan untung.

Setelah kembali dari perjalanan dagang tersebut Maisaroh menceritakan kepada majikannya, Khadijah semua perilaku akhlak dan karakter Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Sehingga Khadijah merasakan kagum dan tertarik kepada beliau. Beliau kemudian melamar Khodijah lewat ayahnya Khalid Bin asad yang segera menikahkan beliau dengan putrinya tersebut. (Akram Dhiya Al-Umari, As-Sirah An-Nabawiyah Ash-Shahihah).

Diriwayatkan pula, Khadijahlah yang melamar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mendengar kabar dari Maisarah tentang keluhuran budi pekerti dan kemuliaan akhlaq Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,  ia segera mengutus sahabat dekatnya, Nafisah binti Ummayyah yang masih merupakan kerabat nabi Muhammad untuk meanawarkan menikahi Khadijah. Tawaran itu diterima dan disetujui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mendengar tawaran tersebut, Rasulullah segera menyampaikan kepada paman-pamannya. Maka paman beliau Hamzah bin Abdil Muthalib mendatangi rumah Khuwailid bin Asad bersama beliau untuk melamar Khadijah radhiyallahu ‘anha. (Al-Anhar An-Naqiyyah, hlm. 50).

Dari hasil pernikahannya dengan Khadijah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dikaruniai keturunan dua Putra dan empat Putri, masing-masing; Abdullah (yang diberi gelar Ath-Thayyib dan Ath-Thahir), Al-Qasim, Zainab, Ruqayyah, ummu Kultsum, dan Fathimah radhiyallahu ‘anhunna. Hal ini  menurut Syekh Akram Dhiya Al-Umari merupakan penguat, umur Khadijah saat menikah dengan Nabi adalah 28 tahun. “Biasanya, sebelum usia 50 tahun seorang wanita sudah memasuki menopause”. (As-Sirah An-Nabawiyah Ash-Shahihah, 93).  

Al-Qasim dan Abdullah meninggal dunia sebelum Islam. sedangkan keempat putrinya sempat mendapati Islam dan memeluk Islam. Ummu Kultsum dan Ruqayyah dinikahi oleh Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, sehingga beliau digelari Dzu Nurain (pemilik dua cahaya).

Khadijah merupakan istri pertama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sangat memuji dan mencintainya. Bahkan beliau selalu mengenangnya saat sudah wafat. Ia tidak tergantikan sama sekali di hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa tidak, Khadijahlah wanita pertama yang setia menemani dan membesarkan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa-masa awal kenabian. Bahkan dialah wanita pertama yang beriman kepada risalah yang dibawanya.

Khadijah hidup bersama Nabi selama 25 tahun. Beliau wafat tiga tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah, sebelum peristiwa Isra Mi’raj. Tahun kematiannya disebut sebagai ‘Amul Huzn (tahun kesedihan) karena waktu kematiannya berdekatan dengan kematian Paman Nabi Abu Thalib. Keduanya merupakan penyokon dakwah dan perjuangan Nabi pada masa-masa awal kenabian. Wallahu a’lam. [sym].

Kedudukan dan  Keutamaan Shalat Subuh (1)

Ilustrasi: Shalat Subuh

Shalat Subuh merupakan satu dari shalat lima waktu diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah memerintahkan menjaga shalat dan secara khusus shalat Subuh sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 238:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلهِ قَانِتِينَ  ﴿البقرة: ٢٣٨ 

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu´.”

Artinya, Wahai kaum muslimin jagalah sholat fardhu yang lima waktu dengan melaksanakannya secara rutin waktunya dengan menunaikan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya dan wajib-wajibnya, dan jagalah shalat wustha (pertengahan) yakni shalat Asar shalat subuh.

Ini menunjukkan kedudukan dan keutamaan shalat subuh yang sangat penting, karena Allah  Ta’ala memerintahkan untuk menjaganya setelah perintah untuk menjaga sholat lima waktu secara umum.

Berikut keutamaan shalat Subuh yang dijelaskan dalam banyak hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

(1) Berada dalam Lindungan Allah

Orang  yang mengerjakan salat subuh berada di dalam perlindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jundub bin Abdillah bin  Sufyan Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu mengabarkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مَن صلَّى الصبح، فهو في ذمة الله،))؛ رواه مسلم وأحمد))

Barangsiapa yang shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah”. (HR. Muslim dan Ahmad).

Artinya orang yang melaksanakan subuh kemanannya dijamin oleh Allah Ta’ala

(2) Memperoleh Pahala Seperti Shalat Semalam Penuh

Orang yang melaksanakan shalat Subuh secara berjama’ah mendapatkan keutamaan seperti shalat semalam penuh. Utsaman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 مَن صلى العشاء في جماعة، فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة، فكأنما صلَّى الليلَ كلَّه))؛ رواه مسلم

“Barangsiapa yang shalat Isya secara berjama’ah maka ia seperti shalat setengah malam, dan barangsiapa yang shalat Subu secara berjama’ah maka seperti shalat semalam suntuk”. (HR. Muslim)

(3). Selamat dari Sifat Munafik

Menjaga shalat Subuh secara berjama’ah dapat mengindarkan dan menyelamatkan seseorang dari sifat dan ciri munafik. Karena mengabaikan dan melalaikan shalat subuh merupakan salah satu ciri dan sifat orang munafik.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

ليس صلاة أثقل على المنافقين من الفجر والعشاء، ولو يعلمون ما فيهما، لأتَوهما ولو حبوًا،))؛ رواه أحمد، والبخاري، ومسلم

“Tidak ada shalat yang paling berat bagi orang munafik melebihi shalat fajar (subuh) dan shalat Isya, andaikan mereka tahu apa yang ada dalam dua shalat tersebut niscaya akan datang (ke masjid) untuk melaksanakannya meskipun dengan merangkak”. (HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim).

Seluruh Shalat lima waktu berat bagi orang munafik. Oleh karena itu mereka bermalas-malasan melakukan shalat, namun yang paling berat dari kelima shalat fardhu yang lima waktu adalah shalat subuh dan Isya.

Andaikan mereka tahu balasan berupa pahala bagi yang melaksanakannya atau ganjaran dosa bagi yang meninggalkannya maka mereka akan tetap mendatanginya mesikipun harus merangkak.

(4). Disaksikan Oleh para Malaikat

Shalat Subuh disaksikan oleh para Malaikat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ

 “Para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain  yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda;

Para Malaikat bergantian mendatangi kalian pada siang dan malam. Para malaikat itu bertemu di shalat Subuh dan shalat Ashar. Kemudian yang bermalam dengan kalian naik (ke langit) dan ditanya oleh Rabb mereka, dan Dia lebih tahu keadaan hamba-hambanya, Bagaimana kondisi hamba-hambaku ketika kalian tinggalkan?’ Para malaikat menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami mendatangi mereka dalam keadaan shalat.” (Terj. HR. Bukhari-Muslim)

(5).  Cahaya yang Sempurna Pada Hari Kiamat

Buraidah al-Aslami radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira kepada orang yang melaksanakan subuh berupa cahaya sempurna pada hari kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 بشِّرِ المشَّائين في الظُّلَم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة))؛ رواه أبو داود والترمذي))

Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid di kegelapan malam dengan karunia cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Demikan beberapa keutamaan shalat Subuh. Semoga kita termotivasi menjaga shalat shubuh. Keutamaan yang lain akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya insya Allah. [sym].

Bersambung.

Pengantin Menjamak Shalat Karena Sibuk Berhias dan Menyambut Tamu

Pertanyaan:

Apa hukum menjamak shalat bagi pengantin pada hari pernikahannya. Disebabkan kesibukannya dengan rias pengantin dan menyambut tamu?

Jawaban:

Alhamdulillah

Asalnya dalam agama adalah kewajiban menunaikan shalat pada waktunya berdasarkan Firman Allah:

(إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا    (النساء/103

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103).

Kata ‘Mauquta’ adalah shalat wajib yang telah ditentuan waktu pada waktu-waktu tertentu. Kalau menjama’ antara zuhur dan asar atau magrib dengan isya’. Sesungguhnya ketika ada uzur yang telah dijelaskan oleh para ulama. Diantaranya bepergian, sakit, takut, hujan dimana semuanya itu dibangun atas menghilangkan kesusahan dan kesulitan.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan,

“Sibuk dengan berhias atau menyambut tamu bukan termasuk uzur dalam menjama (shalat). Karena memungkinkan untuk menghilangkan kesusahan dan kesulitan di dalamnya dengan lebih dahulu berhias atau mengakhirkannya atau meringankan atau membaginya agar tidak berbenturan dengan waktu shalat. Atau melakukan apa yang dinamakan dengan jama’ suri dengan shalat salah satu dua shalat tersebut di akhir waktunya dan shalat lainnya di awal waktunya.

Wasiat bagi para wanita agar jangan telalau memberatkan atau berlebihan dalam berhias. Hal itu lebih dekat dengan kemudahan dan lebih jauh dari terjerumus apa yang Allah murkai dengan menyimpang syareat-Nya bahkan lebih tepat mendapatkan berkah pernikahan.

Wallahu a’lam .

Sumber: Islamqa.info.id

Belajarlah Bahasa Arab, Karena Ia Bagian dari Agamamu

“Belajarlah Bahasa Arab, karena ia bagian dari Agamamu”

Hari ini ana kesekian kalinya menasehati anak ana tentang pentingnya belajar Bahasa Arab. Ana kutip sebagian energinya di sini.

SubhanaLlah, ketika kita berulang-ulang menyadarkan ummat tentang asingnya Islam di akhir zaman, adakah keterasingan yang lebih dalam daripada seorang Muslim yang membaca Kitab Allah kemudian tidak mengerti maksudnya?

Sapaan-sapaan merdu  yang dia baca itu: “Yaa Ayuhalladziina Aamanuu … Yaa Ayuhalladziina Aamanuu … Yaa Ayuhalladziina Aamanuu ….” Tidak cukupkah panggilan yang berulang-ulang ini mengetuk relung hati kesadarannya?

Tidakkah seharusnya dia meninggalkan segala urusannya agar dia mampu memahami pesan dari Kalam Allah yang ditujukan (I mean literally) langsung kepadanya? Berapa harga dunia ini untuk bisa ditukar dengan memahami-hati Kalam Penciptanya tanpa perantara penerjemah dari makhluk-Nya?

Anehnya, kondisi ini bisa berlarut-larut pada seorang Muslim hingga usianya jelang masuk kubur. Bisakah kondisi tersebut mendapatkan udzur nanti di Akhirat? WaLlahu A’lam. Yang pasti, setiap individu harus siap dengan jawabannya sendiri.

Ibnul Qayyim pernah mengingatkan kondisi pendidikan Al-Qur’an Rasulullah dahulu kepada sahabat-sahabatnya. Seakan beliau hendak mengingatkan tentang salah satu substansi pendidikan Nabawi.

Beliau, kata Ibnul Qayyim, memberi effort dan penekanan yang lebih besar kepada pendidikan makna Al-Qur’an daripada rasamnya. Jelas, pintu pertama menuju makna itu adalah artinya. Bandingkan dengan kondisi sebagian kita hari ini, rasamnya ditinggalkan, apalagi maknanya. 

Jika asingnya Islam di tengah ummatnya berarti asingnya Rasulullah di kalangan ummat, adakah yang lebih asing daripada seorang yang mendengar sabda Rasul, sementara yang dia dengar cuma rangkaian bunyi yang tanpa arti? Tanpa arti baginya, karena ybs awam dari bahasa Rasul yang sungguh lebih cinta kepadanya daripada dirinya sendiri?

Bila asingnya Sunnah di tengah ummat berarti jauhnya teks dan konteks Sunnah dari jangkauan ummat, adakah keterasingan yang lebih vulgar daripada komunitas yang “merasa” Ahlus Sunnah, namun literasi Sunnah mereka masih berada pada level paling rendah: memahami arti.

Kalau kita menginginkan anak-anak kita menjadi intelektual di masa depan, ulama atau thalibul ‘ilmi, yang mampu melawan “kolonialisme eksistensi” era-digital, coba jawab pertanyaan ini. Adakah ulama yang pernah kita baca atau dengar keagungannya tapi awam bahasa Arab? Bukankah kita yakin tentang luasnya geo-intelek Islam ini karena kita mendengar nama-nama Arab mereka yang mengetuk-ngetuk ujung dunia: al-Qurthubi, al-Bukhari, al-Albani, as-Sindi, al-Mubarakfuri, al-Harrani, an-Naisaburi, asy-Syiradzi, al-Jawi, dst, dst? Layakkah generasi kita berdiri-sanding dengan nama-nama emas itu kalau syarat pertama: bahasa Arab, terbata-bata?

Ikhwani fiLlah … setelah Tauhid, Sunnah, Palestina, tarbiyah, … menurut ana, salah satu PR ummat yg terbesar adalah Bahasa Arab. (Abu Sarah)

Tolak RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Atau Ubah Jadi RUU Penghapusan Kejahatan Seksual


RUU P-KS tidak komprehensif karena tidak memuat sekaligus pengaturan norma perilaku seksual

Tolak RUU P-KS

Prof Euis Sunarti (Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, Prof. Euis Sunarti mengusulkan agar Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P_KS) diubah menjadi RUU Penghapusan Kejahatan Seksual.

Ketua GiGA (Penggiat Keluarga) Indonesia (Giga Keluarga) ini mengemukanan 7 alasan agar RUU  yang masih menuai prokontra ini ditolak atau diubah dengan mengganti kata kekerasan menjadi kejahatan.  

Berikut adalah beberapa alasannya.

Pertama, Tidak komprehensif karena tidak memuat sekaligus pengaturan norma perilaku seksual. Masyarakat memandang penting pengaturan perilaku seksual bukan hanya pada penghapusan kekerasannya, namun juga meliputi normanya yaitu larangan kejahatan seksual (perilaku seks menyimpang seperti zina, pelacuran, homo dan biseksual).

Dalam RUU P-KS, yang diatur adalah larangan pemaksaanya (pelacuran, aborsi), mengabaikan pelacuran sebagai penyimpangan perilaku seks-nya. demikian juga tidak memasukkan perilaku seks menyimpang lainnya.

Naskah akademik (NA) RUU sama sekali tidak mengakomodir kekerasan seksual terhadap laki-laki yang semakin marak dan menakutkan, yang sebagian besar terkait dengan kejahatan seks menyimpang L987,

Oleh  karenanya tidak bisa dipisahkan antara pengaturan teknis perilaku seksual (kekerasanya) dengan normanya (larangan perilaku seks menyimpang).

Sehingga dipandang penting mengubah RUU ini dari Penghapusan Kekerasan Seksual menjadi Penghapusan kejahatan seksual.

RUU ini tidak memenuhi aspirasi masyarakat Indonesia, diduga karena pihak perumus NA dan draft RUU merupakan pihak yang tidak setuju adanya larangan zina dan L987 dalam KUHP.

Kedua, Menegasikan institusi keluarga (rumah tangga). NA dan RUU ini tidak memberi perhatian dan mengakomodir institusi keluarga di Indonesia yang hidup dengan nilai-nlai konvensional, menjadikan agama (khususnya agama Islam yang dianut mayoritas keluarga Indonesia) sebagai landasan kehidupan. Agama yang dianut keluarga dan masyarakat Indonesia sangat mencela perilaku seks menyimpang.

Secara sosiologis, keluarga di Indonesia menganut paradigma sistem dan struktural fungsional, yaitu pengakuan keluarga sebagai sistem, satu kesatuan dengan struktur yang satu sama lain memiliki fungsi saling melengkapi dan menguatkan. Struktur keluarga (suami-istri; orangtua-anak) dan konsekuensi fungsinya, termasuk pengakuan dan keyakinan bahwa laki-laki sebagai suami menjadi kepala keluarga (UU Perkawinan). Suami sebagai kepala keluarga dituntut role accountability nya, sebagai amanah juga beban, tidak otomatis menjadikanya mulia. Demikian juga hal sama untuk istri, memiliki peran fungsi dan tugas yang dituntut pertanggungjawabanya.

Keluarga Indonesia tidak menganut paradigma konflik sosial yang menjadi landasan teori feminis dan gender (relasi, identitas, ekspresi gender) yang menjadi dasar pengembangan atau perumusan RUU PKS ini.

RUU PKS ini dikembangkan menggunakan feminist legal theory dan gender.

Ketiga, Naskah akademik RUU tidak menjadikan UU no 1 Tahun 1974 tentang perkawinan sebagai acuan dalam mengelaborasi landasan yuridisnya.

Padahal UU perkawinan menjadi dasar pembentukan keluarga Indonesia yang didalamnya mengatur hubungan suami-istri, termasuk pasal yang menyatakan laki-laki sebagai kepala keluarga.

RUU PKS dikembangkan dengan paradigma feminis dan gender equality yang memandang sistem patriarki (salah satunya ditunjukan bahwa laki-laki sebagai kepala keluarga) merupakan penghambat perempuan maju, menjadi sumber dskriminasi perempuan, sehingga harus diubah dan dihapuskan.

Sehingga  RUU ini menjadikan otonomi penuh yang sama laki-laki dan perempuan (dinyatakan dengan frasa Persetujuan yang bebas dari ketimpangan relasi kuasa dan gender) , sebagai definisi kekerasan.

Keempat, RUU ini dikembangkan sama sekali tanpa kajian bagaimana dan apa dampak implementasi aturan terhadap institusi perkawinan dan keluarga.

Jika ketiadaan persetujuan dijadikan syarat perilaku seksual itu dikategorikan sebagai pemaksaan dan kekerasan, bagaimana implementasi dan dampaknya dalam perilaku seksual suami-istri dalam keluarga ?

Mengapa sama sekali tidak mengangkat hasil-hasil kajian yang berlimpah mengenai marital quality (conflict, satisfaction, happiness) dan dampaknya terhadap perceraian ?

Tidak hawatirkah bahwa RUU ini membuka ruang / kesempatan terjadinya marital disharmony, perselingkuhan, dan perceraian.. saat ini kita justru sedang prihatin karena angka perceraian semakin meningkat, 1000 perceraian per hari, dan 40 perceraian per jam. 70% perceraian diajukan perempuan (istri).

Kelima, RUU ini hanya mengedepankan HAK, tanpa menyeimbangkannya dengan kewajiban. Hak setiap individu untuk terbebas dari kekerasan hendaknya diseimbangkan dengan kewajiban untuk memastikan hak nya terpenuhi.

Apalagi jika implementasi hubungan seks antara suami istri dalam ikatan perkawinan, maka penekanan hak saja, akan berpotensi munculnya konflik perkawinan.

Keenam, Definisi kekerasan sangat luas dari pelecehan sampai pemaksaan dan penyiksaan, berpotensi multi tafsir, dan dampak implementasinya dalam kehidupan, khususnya dalam hubungan suami-istri.

Pelecehan pun baik yang fisik (mencolek dll) maupun non fisik (kedipan mata. Isyarat.dll). Jika itu diterapkan dlm hubungan laki-laki dan perempuan sebagai suami istri, maka akan berpotensi menimbulkan masalah.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka RUU ini harus diubah menjadi RUU Penghapusan Kejahatan Seksual, atau dibatalkan.

Ketujuh, Komponen pencegahan dalam RUU ini sangat sedikit dan tidak mengelaborasi faktor kekerasan dan penyimpangan seksual yang harus dicegah dan diantisipasi. lagi-lagi, tidak menjadikan keluarga sebagai bagian penting.

Bogor, 31 Januari 2019

Prof Euis Sunarti (Guru Besar IPB Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, Ketua GiGa (Penggiat Keluarga) Indonesia (Giga Keluarga)).

Apakah “Uang  Terimakasih” Termasuk Suap?

Laknat Allah kepada yang memberi suap dan menerima suap (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syekh Al-Albani)

Pertanyaan

Saya diterima sebagai honorer di kementerian A**. Tapi setelah saya diterima, Kepala kantornya meminta uang sebanyak 5 juta. Katanya sebagai uang terimakasih. Apakah ini termasuk sogok (suap)? Khadafi – Muara bingo

Jawaban:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَعنةُ الله على الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

Artinya: ” Laknat Allah kepada  penyuap dan yang menerima suap”.(HR Ahmad)

Ibnu Athir mengatakan:

‘’Penyuap adalah orang yang memberikan sesuatu (materi atau jasa) untuk memuluskan urusannya yang bathil, adapun (murtasyi) penerima suap adalah yang mengambilnya… adapun jika ia membayar/memberikan sesuatu untuk mengambil haknya, atau untuk mencegah kedhaliman, maka tidak termasuk dalam kategori suap”. “An-Nihayah Fi Gharibil Athar (2/546)”.

Muhammad Syamsul Haq Al-‘Adhim Aabadi mengatakan:

Suap adalah sesuatu yang dibayarkan untuk membatalkan/mengalahkan kebenaran, atau untuk memenangkan kebatilan, adapun memberi sesuatu (materi atau jasa) untuk menjaga dan mengamankan hak milik (atau menegakkan kebenaran) atau untuk mencegah kedhaliman bagi dirinya, maka hal ini hukumnya tidak apa-apa (bukan termasuk suap). (Aunul Ma’bud 9/359).

Berdasarkan pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan:

  1. Jika anda membayarkan sejumlah uang untuk kelulusan sebagai pegawai honorer, maka ini termasuk kategori suap, karena kedudukan sebagai pegawai honorer bukan milik anda, namun milik umum, maka sejumlah uang yang anda bayarkan bertujuan untuk mengalahkan pendaftar yang lain, dan ini adalah kebatilan.
  2. Jika anda lulus sebagai pegawai honorer setelah melakukan serangkaian ujian tertentu, dan anda berhasil lulus dalam ujian-ujian tersebut, tanpa membayarkan sejumlah uang, maka kedudukan pegawai honorer adalah milik anda, karena anda mendapatkannya secara fair. Kemudian dalam prosesnya anda diminta sejumlah uang tertentu sebagai hadiah, dan jika tidak dibayar terancam untuk dibatalkan kelulusannya, maka ini tidak masuk dalam kategori membayar suap bagi anda, karena anda hanya mengamankan posisi yang memang menjadi hak anda. Namun bagi yang meminta uang dari anda, maka harta tersebut adalah harta haram baginya, sebab ia memintanya secara batil/tanpa hak, Allah berfirman:

وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

          Artinya: ”Dan janganlah kalian makan harta diantara kalian dengan jalan yang            batil”.            (QS Al-Baqarah 188)

Dijawab Oleh  : Ust. Lukman Hakim, Lc, M.A (Alumni S1 Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam Medinah Munawwarah dan S2 Jurusan Dirasat Islamiyah Konsentrasi Hadits di King Saud University Riyadh KSA)

Artikel             : wahdah.or.id

Asmaul Husna [33]: Al-Halim (Yang Maha Penyantun)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Dan ketahuilah bahwa Allah maha pengampun lagi maha penyantun”. (Qs. Al-Baqarah: 235)

إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Sesungguhnya Dia  adalah Maha penyantun lagi maha pengampun”.  (Qs.Al Isra: 44)

Ali Bin Abi Thalib radhiallahu Anhu berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi mengajariku sebuah doa agar aku membacanya jika mengalami permasalahan;

لا إله إلا الله الحليم الكريم ، رب العرش الكريم والحد لله ربّ العالمين

Tiada Tuhan selain Allah yang Maha penyantun dan mulia Arsy yang agung segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala Rabb sekalian alam

Al-Halim (yang maha penyantun) artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak terburu-buru membalas dendam walaupun berpuasa melakukannya. Al-Halim tidak terpancing kemarahannya sekedar oleh kemaksiatan dan keddzaliman yang dilakukan manusia. Juga tidak menahan rezeki dan nikmat nikmat-Nya kepada manusia lantaran dosa yang mereka lakukan. Tapi  walaupun manusia berbuat banyak sekali kesalahan dan dosa hal hal ini tetap memberi mereka rezeki.

Sebenarnya Al-halim melihat dan mendengar manusia melakukan kemungkaran, kemaksiatan, dan kekafiran. Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga Maha Kuasa membalas dan mengajak mereka namun Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengadzab mereka. Sebaliknya  Dia tetap sayang kepada mereka dengan harapan mereka akan bertaubat dan kembali taat padanya. (Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

Asmaul Husna (32) Al-Khabir  (Yang Maha Mengetahui Rahasia)

Asmaul Husna Al-Khabir (yang Maha mengetahui rahasia)

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Al-An’am ayat 18 dan 103;

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ 

Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. (Qs. Al-An’am: 18)

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ 

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (Qs. Al-An’am:103)

Al-Khabir artinya Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui hal yang ada pada masa dulu dan sekarang, mengetahui hakikat sesuatu sebelum terjadinya dan mengetahui hakikat-hakikat yang tersimpan dalam semua hal.

Dalam rangka  itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengajarkan kita melaksanakan salat istikharah.

اللهم إني أستخيرك بعلمك، وأستقدرك بقدرتك ، و أسألك من فضلك العظيم ، فإنك تقدر ولا أقدر ، و تعلم ولا أعلم ، و أنت علام الغيوب 

اللهم إن كنت تعلم أن هذا الأمر (تسمي الأمر ) خير لي ، في ديني و معاشي و عاقبة أمري ، أو قال : عاجل أمري و آجله ، فاقدره لي ويسره لي ، ثم بارك لي فيه ، و إن كنت تعلم أن هذا الأمر (تسمي الأمر ) شر لي ، في ديني و معاشي و عاقبة أمري ، أو قال: في عاجل أمري و آجله ، فاصرفه عني و اصرفني عنه ، و اقدر لي الخير حيث كان ، ثم أرضني به .

“Ya Allah Sesungguhnya aku memohon pilihan kepadaMu dari anugerahmu yang agung. Sesungguhnya Engkau maha kuasa dan aku tidak ada kuasa, Engkau mengetahui dan aku tidak mengetahui, dan Engkaulah Dzat Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang baik.  Ya  Allah jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (menyebutkan urusannya) baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku dan akhir urusanku, (atau beliau bersabda urusan duniaku dan urusan akhiratku) maka buatlah aku kuasa melaksanakannya, mudahkanlah bagiku kemudian berilah aku keberkahan dalam hal itu. Jika  Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku dalam hal agama, kehidupan, dan akhir urusanku,  (atau beliau bersabda urusan duniaku dan urusan akhiratku) maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya.  Berilah aku kebaikan di mana saja ia berada kemudian buatlah aku rela dengannya”.

Saat Nabi Ibrahim Alaihissalam berada dalam kobaran api, Malaikat Jibril Alaihissalam bertanya kepadanya,  “Apakah engkau memerlukan sesuatu?” Nabi Ibrahim Alaihissalam menjawab, “Kalau bantuan darimu aku tidak memerlukannya, kalau bantuan dari Allah subhanahu wa ta’ala, Dia Maha mengetahui Keadaanku saat ini, sehingga aku tidak perlu meminta kepadaNya”.

Menghayati  nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala Al-Khabir mengajak kita untuk memperkuat keyakinan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Mengetahui keadaan kita baik dalam keadaan suka atau duka, sehat atau sakit. Hal  ini membuat kita tidak meminta-minta kepada orang lain namun hanya meminta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sehingga kita tidak rendah diri di mata manusia. (Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah)