Hidayah, Sumber Kebahagiaan Hakiki

 

Hidayah, Sumber Kebahagiaan Hakiki

(Tadabbur Surat Saba’ (34):  Ayat 50)

 

قُلْ اِنْ ضَلَلْتُ فَاِنَّمَاۤ اَضِلُّ عَلٰى نَـفْسِيْ  ۚ  وَاِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوْحِيْۤ اِلَيَّ رَبِّيْ   ۗ  اِنَّهٗ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

Katakanlah, Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat untuk diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Dekat.” (QS. Saba’ 34: Ayat 50)

PELAJARAN & HIKMAH AYAT:

  1. Dalam ayat ini dijelaskan tentang hidayah. Jika Allah menghendaki hidayah (petunjuk) kpada seseorang maka tidak ada yang dpt menghalanginya, dan jika Allah membiarkan sesat seseorang maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah (petunjuk). Hidayah dalam Islam adalah jalan yang lurus yang membawa kebahagiaan dan keselamatan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَهٰذَا صِرَاطُ رَبِّكَ مُسْتَقِيْمًا   ۗ  قَدْ فَصَّلْنَا الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّذَّكَّرُوْنَ

Dan inilah jalan Tuhanmu yang lurus. Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang menerima peringatan.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 126)

لَهُمْ دَارُ السَّلٰمِ عِنْدَ رَبِّهِمْ  وَهُوَ وَلِيُّهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Bagi mereka (disediakan) tempat yang damai (surga) di sisi Tuhannya. Dan Dialah pelindung mereka karena amal kebajikan yang mereka kerjakan.”

(QS. Al-An’am 6: Ayat 127)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ   ۚ  وَلَا تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ   ۗ  ذٰ لِكُمْ وَصّٰٮكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 153)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنَّنِيْ هَدٰٮنِيْ رَبِّيْۤ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ۚ     دِيْنًا قِيَمًا مِّلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا  ۚ  وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 161)

Oleh karna  itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa: _”Allahumma inni as àlukal hudaa wattuqaa wak ‘afaafa wal ghinaa”.

  1. Petunjuk jalan yang lurus itu meliputi beberap hal penting dalam segala aspek kehidupan seperti yang difirmankan oleh Allah di Surah Al-An’am ayat 151-152:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ تَعَالَوْا اَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ اَ لَّا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْئًـــا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا  ۚ  وَلَا تَقْتُلُوْۤا اَوْلَادَكُمْ مِّنْ اِمْلَاقٍ ۗ  نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَاِيَّاهُمْ  ۚ  وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ  ۚ  وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَـقِّ   ۗ  ذٰ لِكُمْ وَصّٰٮكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, berbuat baik kepada ibu bapak, janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 151)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوْا مَالَ الْيَتِيْمِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ حَتّٰى يَبْلُغَ اَشُدَّهٗ   ۚ  وَاَوْفُوْا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ بِالْقِسْطِ  ۚ  لَا نُـكَلِّفُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا   ۚ  وَاِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوْا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰى   ۚ  وَبِعَهْدِ اللّٰهِ اَوْفُوْا   ۗ  ذٰ لِكُمْ وَصّٰٮكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, sampai dia mencapai (usia) dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Apabila kamu berbicara, bicaralah sejujurnya, sekalipun dia kerabat(mu) dan penuhilah janji Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu ingat.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 152)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِ ۚ  وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَآءِ ۗ  كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 125)

Jadi siapa saja yg membenci Islam dan segala aspek ajaran atau syariat yg diajarkan dlm Islam, baik dia orang biasa, atau bahkan yg bergelar Profesor, Doktor, Kyai Haji sekalipun, maka dia (orang itu) terindikasi menjadi orang yg sesat.

Karena itu maka marilah kita selalu bermohon kepada Allah agar tidak digelincirkan setan menjadi orang yang sesat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً   ۚ  اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

“(Mereka berdoa), Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 8)

Maka, sebagai muslim yang beriman kita harus istiqomah, sabar dan bersatu dalam dakwah ini, dan melaksanakan dakwah dengan hikmah santun dan jelas. Agar ajaran Tauhid menjadi solusi terhadap segala permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Bogor, 16 September 2018

Sumber: Transkrip Kajian Tafsir Al Hijri 1 Air Mancur Bogor, Oleh:  Buya Dr. Ibdalsyah, MA, Transkrip oleh Ustadz Willyuddin A.R. Dhani

Wahdah Islamiyah Bangun Hunian Sementara dan Kirim Da’i untuk Korban Gempa Lombok

Ketua Umum Wahdah Islamiyah menyerahkan secar simbolis bantuan shelter (hunian sementara) untuk korban gempa Lombok, Ahad (16/09/2018)

Wahdah Islamiyah Bangun Hunian Sementara dan Kirim Da’i untuk Korban Gempa  Lombok

(Lombok) wahdahjakarta.com-, Departemen Sosial dan Lazis Wahdah sejak hari kedua gempa telah mengirim utusan ke Lombok. Sayap relawan kemanusiaan “Wahdah Peduli” memulai dengan mendata kebutuhan, kemudian menerjunkan  relawan dari berbagai wilayah di Indonesia untuk ditempatkan di 5 titik berbeda.

Tim relawan Wahdah Peduli terus mengirimkan bantuan berupa dapur umum, logistik, tenda, mobil,dll. Termasuk juga tim medis, tim trauma healing, dan da’i-da’i sebagai pengajar.

Setelah tenda darurat dianggap tidak memadahi lagi, tim relawan kemudian membangun shelter-shelter (hunian sementara) yang lebih baik. Selain shelter juga sekolah-sekolah sementara sebagai sarana belajar anak-anak sekolah.

Pada hari Ahad, (16/9/2018) Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin bersilaturahmi dengan warga korban gempa di Lombok Barat bersama warga dan para tokoh setempat.

Dalam kesempatan silaturahmi ini Ustadz Zaitun menyerahkan shelter, sekolah sementara, dan santunan untuk korban gempa di Lombok Barat.

Selain bantuan fisik tersebut, Wasekjen MUI ini juga menyampaikan bahwa Wahdah Islamiyah sebagai ormas Islam telah mengirim para da’i untuk ditempatkan di Lombok. Pengiriman Da’i yang merupakan bagian dari Program Tebar Da’i Nusantara (TDN) tersebut  untuk melakukan   program trauma healing  bagi korban gempa Lombok dan sebagai guru mengaji bagi masyarakat. [ed:sym].

Silaturahmi dengan Korban Bencana Lombok, Ustadz Zaitun Sampaikan Agar Tetap Jaga Keimanan

Silaturahmi dengan Korban Bencana Lombok, Ustadz Zaitun Sampaikan Agar Tetap Jaga Keimanan

(Lombok) wahdahjakarta.com-, Lazis Wahdah menyelenggarakan “Silaturrahmi Wahdah Islamiyah dengan Korban Gempa Lombok”, bertempat Kantor Desa Gegerung, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat pada hari Ahad, (16/9/18).

Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin (UZR) yang secara khusus datang dari Jakarta menyampaikan taushiyah dan serah terima bantuan dari Lazis Wahdah.

Dalam taushiyahnya UZR mengajak masyarakat agar bersabar dan mengembalikan semua musibah ini kepada Allah subhanahu wata’ala.

“Dalam keadaan apapun termasuk musibah, kita diajarkan untuk mengucapkan alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Segala puji bagi Allah untuk semua keadaan,” kata beliau.

Wasekjen MUI  Pusat ini juga mengajak masyarakat agar tetap meyakini, ujian ini berasal dari Allah. Jangan sampai ada keyakinan bahwa musibah ini berasal dari selain Allah.

Ustadz Zaitun mengingatkan, bisa jadi musibah ini adalah teguran dari Allah agar kita bertaubat dan kembali kepada-Nya.

Ini sebagaimana kisah Nabi Musa yang seketika Allah turunkan hujan setelah kemarau panjang. Ternyata hal ini karena ada salah satu umatnya yang bertaubat serelah bermaksiat selama 40 tahun.

Terakhir, beliau berpesan bahwa iman adalah kekayaan yang paling berharga. “Iman adalah anugerah yang paling berharga. Jangan sampai iman kita terbeli dengan harga berapapun, apalagi kalau ada yang ingin membeli iman kita hanya dengan bantuan berupa sembako dan sejenisnya.”

Acara silaturahmi ini dirangkaikan dengan penyerahan bantuan dari Lazis Wahdah dan Yayasan Mimbar Tauhid berupa sekolah sementara, shelter (hunian sementara) dan 1.000 paket sembako.

Bukan hanya bantuan fisik, Wahdah Islamiyah bersama Lazis Wahdah juga menyelenggarakan program Tebar Da’i Nusantara (TDN). Wahdah Islamiyah menempatkan da’i-da’i untuk menunjang program trauma healing dan guru mengaji bagi masyarakat.

Rep: M. Ibawi

Editor: Syam

Celakalah Budak Dunia

Celakalah Budak Dunia

Celakalah Budak Dunia

Celakalah Budak Dunia

Abu Hurairah radhiyallahu ‘Anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

تعس عبد الدينار والدرهم والقطيفة ، إن أُعطي رضي وإن لم يُعطَ لم يرضَ

“Celakalah pemburu Dinar, dirham, dan Qothifah,  Jika  diberi maka dia ridha,  jika tidak diberi maka ia tidak ridha” (HR. Bukhari).

Pelajaran  Hadits:

  1. Tidak sepantasnya seorang Muslim menjadikan dunia sebagai obsesi terbesarnya dan cita-cita tertingginya serta puncak tujuan dari ilmunya. Tetapi hendaknya dia menjadikan seluruh amalannya dalam rangka mengharap wajah Allah serta kebahagiaan dan keselamatan di negeri akhirat. Sehingga  dengan demikian seluruh aktivitasnya siang  dan malamnya bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab tidak mengapa seseorang mencari dunia dengan tujuan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yakni melakukan hal itu demi mengharap wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang  tercela adalah jika upaya mencari dunia atau kesibukan mencari dunia menjauhkan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan menyibukkan serta memalingkan dari melaksanakan kewajiban ibadah kepadanya.
  2. Orang  beriman yang sempurna imannya jika diberi dia bersyukur, jika tidak memperoleh apa-apa maka dia bersabar. Dia  senantiasa ridha terhadap Qadha dan takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dewan Syari’ah Wahdah Islamiyah Imbau dan Anjurkan Perbanyak Puasa Sunnah di Bulan Muharram

Dewan Syari’ah Wahdah Islamiyah Imbau dan Anjurkan Perbanyak Puasa Sunnah di Bulan Muharram

Makassar (wahdahjakarta.com) Memasuki bulan Muharram 1440 H Dewan Syari’ah Dewan pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DS DPP WI) keluarkan imbauan dan anjuran memperbanyak puasa sunnah.

“Mengimbau kepada kaum muslimin untuk memperbanyak amalan saleh pada bulan Muharam khususnya puasa sunnah, karena bulan ini adalah salah satu dari empat bulan haram yang diagungkan dan pahala amal saleh dilipatgandakan di sisi Allah ‘azza wa jalla  serta bulan yang sangat utama untuk memperbanyak puasa sunnah”, sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan yang ditanda tangani Ketua dan Sekretaris Dewan Syari’ah DPP WI.

Selain itu Dewan Syari’ah DPP Wahdah Islamiyah juga mengimbau untuk menghidupkan sunnah puasa ‘Asyura (10 Muharram) yang didahului dengan puasa Tasu’a sehari sebelumnya (9 Muharram).

“Melaksanakan puasa Asyura untuk menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meraih pengampunan Allah ‘Azza wa jalla.

“Bagi yang hendak melaksanakan puasa Asyura, sangat dianjurkan untuk juga berpuasa sehari sebelumnya (tanggal 9 Muharam) untuk menyelisi kaum Yahudi dan melaksanakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

***

 

SURAT KEPUTUSAN DAN IMBAUAN

DEWAN SYARIAH WAHDAH ISLAMIYAH

Nomor : D.016/QR/DSA-WI/I/1440

Tentang :

KEPUTUSAN AWAL MUHARAM 1440 H SERTA ANJURAN MEMPERBANYAK PUASA

Dengan memohon rahmat Allah “azza Wajalla, Dewan Syariah Wahdah Islamiyah setelah :

MENIMBANG :

  1. Bahwa penetapan awal bulan Muharam adalah perkara syar’i hendaknya didasarkan kepada dalil yang jelas.
  2. Bahwa kader dan simpatisan Wahdah Islamiyah serta kaum muslimin secara umum membutuhkan penjelasan tentang awal bulan Muharam untuk tahun 1440 H.
  3. Bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas maka dipandang perlu menetapkan hal itu dalam sebuah Surat Keputusan.

MENGINGAT :

  1. Firman Allah  dalam al-Quran Surah al-Taubah: 36

‎إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah engkau menganiaya diri kamu di keempat bulan itu”

  1. Firman Allah  dalam al-Quran Surah al-Baqarah: 189

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ…

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan hilal (bulan sabit). Katakanlah, “Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji”

  1. Hadis Rasulullah  dari Abu Hurairah  :

« أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ »

“Seutama-utama puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah Muharam” (HR. Muslim)

  1. Hadis Rasulullah  dari Abu Qatadah al-Anshari  ketika beliau ditanya tentang puasa Asyura, maka beliau menjawab:

« يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ »

Menghapuskan dosa tahun lalu” (HR. Muslim)

  1. Hadis Rasulullah  dari Abdullah bin Abbas  :

« لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ »

Jika aku masih hidup hingga tahun depan maka aku akan berpuasa (juga) di tanggal 9 Muharam” (HR. Muslim)

MEMPERHATIKAN :

  1. Hasil pemantauan Tim Rukyatul Hilal BMKG Kab. Gowa dan beberapa Tim Lajnah Falakiyah PBNU pada tanggal 29 Zulhijah 1439 H/ 10 September 2018 M yang melaporkan bahwa hilal awal Bulan Muharam 1440 H telah terlihat.
  2. Hasil pemantauan Tim Komisi Rukyat Falakiyah Dewan Syariah Wahdah Islamiyah pada tanggal 10 September 2018 M di kota Makassar yang melaporkan bahwa hilal terlihat.
  3. Keputusan musyawarah pengurus harian Dewan Syariah Wahdah Islamiyah pada hari Rabu, 12 September 2018 yang menetapkan bahwa 1 Muharam 1440 H jatuh pada hari Selasa yang bertepatan dengan tanggal 11 September 2018 M.

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN :

  1. Menetapkan 1 Muharam 1440 H di Indonesia jatuh pada hari Selasa, bertepatan dengan tanggal 11 September 2018 M.
  2. Hari Asyura tahun ini di Indonesia bertepatan dengan hari Kamis, 20 September 2018.
  3. Mengimbau kepada kaum muslimin untuk memperbanyak amalan saleh pada bulan Muharam khususnya puasa sunnah, karena bulan ini adalah salah satu dari empat bulan haram yang diagungkan dan pahala amal saleh dilipatgandakan di sisi Allah  serta bulan yang sangat utama untuk memperbanyak puasa sunnah.
  4. Melaksanakan puasa Asyura untuk menghidupkan sunnah Rasulullah  dan meraih pengampunan Allah .
  5. Bagi yang hendak melaksanakan puasa Asyura, sangat dianjurkan untuk juga berpuasa sehari sebelumnya (tanggal 9 Muharam) untuk menyelisi kaum Yahudi dan melaksanakan sunnah Rasulullah .

Ditetapkan : Di Makassar

Pada Tanggal : 02 Muharam 1440 H 12 September 2018 M

DEWAN SYARIAH WAHDAH ISLAMIYAH

Dr. Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A.

Ketua

Harman Tajang, Lc., M.H.I.

Sekretaris

Sumber dari: http://wahdah.or.id/keputusan-awal-muharam-1440-h-serta-anjuran-memperbanyak-puasa/

Bagaimana  Seharusnya Memuliakan Bulan Muharram

Bagaimana  Seharusnya Memuliakan Bulan Muharram

Pertanyaan:

Bismillah.. Assalamualaikum utadz, saya  mau tanya.. Sekarang kan kita sedang berada di bulan Muharram atau Suro.  Di daerah saya sebagian orang enggan mengadakan hajatan pada bulan muharram. Karena menganggap Muharram sebagai bulan sial.  Benarkah demikian ustadz?  Karena saya juga pernah dengar dan baca bahwa bulan Muharram merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam.  Bagaimana seharusnya kita memuliakan bulan Muharram? (Fadli, Jakarta).

Jawaban:

Muharram merupakan bulan haram (asyhurul hurum) sebagaimana diterangkan dalam surat At-Taubah ayat 6. Selain itu bulan Muharram juga disebut oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bulan Allah (syahrullah). Sehingga tidak tepat jika dikatakan bahwa bulan Muharram merupakan bulan sial. Karena bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dan terhormat berdasarkan keterangan dari Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena Muharram merupakan bulanNya Allah yang mulia [syahrullah al-haram], maka kita harus memuliakannya. Tentu memuliakan dan menghormati bulan ini bukan dengan mengkeramatkannya, bukan dengan menganggapnya sebagai bulan sial. Bukan pula dengan menghindari hajatan karena taakut sial dan seterusnya. Tapi kita hendaknya memuliakaan bulan ini sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya. Kita harus memuliakaan bulan ini sebagaimana Rasulullah dan para sahabat mengormatinya. Yakni dengan meninggalkan segala bentuk dosa dan meningkatkan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Jangan Berbuat Dzalim di bulan Muharram

Pada bulan-bulan mulia ini –termasuk muharram-, Allah melarang berbuat dzalim. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah memalui kalimat “Fala tadzlimu fihinna anfusakum,”. Maksudnya janganlah kalian mendzalimi diri sendiri pada bulan-bulan tersebut. Karena keharaman dosa pada bulan-bulan itu lebih tegas, dan dosanya lebih berat dari dosa yang dilakukan pada bulan-bulan lain. Hal ini seperti pelipatgandaan dosa yang dilakukan di tanah haram. Sebagaiaman dinyatakan oleh Allah, “Waman yurid fihi bi ilhadin bi dzulmin. . .

Menurut Ibnu Ishak sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir, ma’ana kalimat ‘fala tadzzlimu fihinna anfusakum’ adalah janganlah kalian jadikan yang haram menjadi halal dan yang halal menjadi haram sebagaimana dilakukan oleh para ahli syirik.

 Oleh karena itu hendaknya kita memuliakan dan menyicikan bulan ini dengan meninggalkan segala bentuk kedzaliman. Mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Dan kedzaliman nomor wahid yang harus dihindari dan dijauhi adalah kesyirikan. Sebab, syirik merupakan kedzaliman paling besar, sebagaimana firman Allah dalam surah Luqman ayat 13:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar“. (QS Luqman:13).

Sunnah Bepuasa

Amalan yang dianjurkan pada bulan ini adalah puasa sunnah. Karena puasa pada bulan Muharram merupakan puasa paling afdhal setelah puasa Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم (رواه مسلم

Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bula Allah (yaitu) Muharram, , , ”. (H.R. Muslim).

Imam al-Qari berkata, “dzahirnya, yang dimaksud adalah berpuasa pada sepanjang bulan Muharram”.

Sedangkan Imam Nawawi rahimahullah berpendapat, “Jika dikatakan bahwa puasa paling afdhal setelah Ramadhan adalah adalah puasa pada bulan Muharram? Lalu bagaimana dengan memperbanyak puasa sya’ban melebihi puasa di bulan Sya’ban? Maka jawabannya adalah, “Mungkin beliau tidak mengetahui keutamaan puasa Muharram melainkan di akhir hayat beliau sebelum beliau sempat melakukannya, atau beliau ditimpa sakit atau sedang safar sehingga tidak sempat memperbanyak puasa, atau karena faktor lain”.

Imam Ibnu Rajab berkata, “Shiyam tathawwu’ ada dua macam, yakni; [pertama] shiyam tathawu’ mutlak. Puasa sunnah mutlak yang paling afdhal adalah puasa Muharram. Sebagaimana shalat sunnah mutlak yang paling afdhal adalah qiyamullail (shalat malam). [Kedua] Shiyam yang menyertai shiyam Ramadhan seperti puasa sya’aban dan enam hari di bulan syawal. Ini tidak termasuk puasa sunnah mutlak. Karena termasuk jenis puasa yang menyertai puasa Ramadhan. Ini lebih afdhal dari puasa tathawwu’ mutlak. Syekh Soleh al-Munajjid mengomentari pendapat Ibn Rajab di atas bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan. Sehingga hadits ini dibawa kepada ma’na anjuran memperbanyak shiyam pada bulan Muharram. Bukan berpuasa sebulan penuh.

Selain itu di bulan ini ada  hari ‘Asyuro yang ditekankan untuk berpuasa pada hari tersebut. Sehingga bagi yang tidak sempat memperbanyak puasa pada bulan Muharram ini, jangan sampai melewatkan puasa di hari yang satu ini. Karena puasa ini memiliki fadhilah yang sangat utama, yakni menghapus dosa selama setahun. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah bersabda, “Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits lain dari Ibnu Abbas bahwa beliau berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari as Syura dan bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim). [sym]

Bulan Muharram Bulan Sial?

Bulan Muharram Bulan Sial?

Bulan Muharram Bulan Sial?

Bulan Muharram Bulan Sial?

 

Pertanyaan:

Bismillah.. Assalamualaikum utadz, saya  mau tanya.. Sekarang kan kita sedang berada di bulan Muharram atau Suro.  Di daerah saya sebagian orang enggan mengadakan hajatan pada bulan muharram. Karena menganggap Muharram sebagai bulan sial.  Benarkah demikian ustadz?  Karena ana juga pernah dengar dan baca bahwa bulan Muharram merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam.  Bagaimana seharusnya kita memuliakan bulan Muharram? (Fadli, Jakarta).

Jawaban:

Wa ‘alikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan mulia (asyhurul hurum)  yang diistimewakan oleh Allah. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam surat At-Taubah ayat 36.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram.  (Qs. at Taubah :36).

Yang dimaksud dengan empat bulan haram dalam ayat di atas adalah bulan Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Hal ini dijelaskan oleh Nabi dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati: tigabulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharra  m dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Bulan Muharram juga disebut oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai syahrullah (Bulan Nya Allah).  Sebagaimana dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim,  Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

أفضل الصيام بعد رمضان شهرالله المحرم

Puasa paling afdhal setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulanNya Allah (yakni)  bulan Muharram“. (HR. Muslim)

Penyebutan ini memberi makna bahwa bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandarkan pada lafdzul Jalalah (Allah). Menurut Para Ulama penyandaran sesuatu pada lafdzul Jalalah menunjukan tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah Baitullah (Rumah Allah/Masjid), Rasulullah, Saifullah (Pedang Allah, gelar bagi Sahabat Nabi Hamzah bin Abdul Muthalib) dan sebagainya. Menurut Imam Ibnu Rajab al-Hambali  rahimahullah, “Muharram disebut dengan syahrullah (bulan-Nya Allah) karena [1]  untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan Muharram, serta [2] untuk menunjukkan otoritas Allah Ta’ala dalam mensucikankan dan memuliakan bulan Muharram”.

Oleh karena itu kurang tepat jika menganggap bulan Muharram sebagai bulan sial. Sebab pada dasarnya tidak ada hari atau bulan sial. Bahkan keyakinan adanya waktu tertentu yang dianggap sial dapat menyebabkan syirik. Justru sebaliknya. Bulan Muharram merupakan bulanNya Allah yang mulia yang hendaknya dimuliakan dan dihormati. Tentu saja memuliakan dan menghormati bulan Muharram bukan dengan men-sial-kannya atau mengkeramatkannya. Tetapi dengan mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah dalam memuliakan bulan ini. Yakni dengan meninggalkan kezaliman dan memperbanyak puasa suannah. Wallahu a’lam. [sym].

Keutamaan Bulan Muharram

“Sesungguhnya Allah memilih yang termulia dari makhluq ciptaan-Nya. Dari para Malaikat dan manusia Dia pemilih para utusan [Rasul]-Nya sebagai Malaikat dan manusia termulia. Dari perkataan manusia Dia memilih dzikrullah. Di bumi Dia memilih masjid sebagai tempat termulia. Dari seluruh bulan (asy-syuhur) Dia memilih Ramadhan dan bulan-bulan haram. Dari hari-hari Dia memilih hari jum’at, dan Dia juga memilih malam lailatulqadr sebagai malam paling mulia. Maka muliakanlah yang dimulikan oleh Allah”. Sebab, pemuliaan terhadap yang dimuliakan oleh Allah merupakan alamat ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Waman yu’adzim sya’airallah fiannaha min taqwal qulub”.

Muharram Bulan Mulia

Bulan Muharram merupakan satu dari empat bulan mulia yang disebut asyhurul hurum Sebagaimana dinyataakaan oleh Allah dalam al-Qur’an surah at-Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ [٩:٣٦

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. at Taubah :36).

Yang dimaksud dengan empat bulan haram dalam ayat di atas adalah bulan Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan bulan Muharram. Hal ini dijelaskan oleh Nabi dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati: tigabulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharra  m dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut Al-Qadhi Abu Ya’la rahimahullah, penamaan bulan haram karna; [1] diharamkan pembunuhan pada bulan tersebut sebagaimana hal ini diyakini pula oleh orang jahiliyyah, dan [2] Larangan untuk melakukan berbagai perbuatan haram pada bulan tersebut lebih keras dari pada bulan-bulan lainnya. (lihat Zadul Maysir, Ibnu Jauziy). Pendapat yang sama dikemukakan pula oleh Ibnu Abbas, Qatadah dan yang lainnya.

Syahrullah, Bulan-Nya Allah

Selain itu bulan ini disebut pula dengan syahrullah [bulan-Nya Allah]. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم (رواه مسلم

Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bula Allah (yaitu) Muharram, , , ”. (H.R. Muslim).

Penyebutan ini memberi makna bahwa bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandarkan pada lafdzul Jalalah (Allah). Menurut Para Ulama penyandaran sesuatu pada lafdzul Jalalah menunjukan tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah Baitullah (Rumah Allah/Masjid), Rasulullah, Saifullah (Pedang Allah, gelar bagi Sahabat Nabi Hamzah bin Abdul Muthalib) dan sebagainya. Menurut Imam Ibnu Rajab al-Hambali  rahimahullah, “Muharram disebut dengan syahrullah (bulan-Nya Allah) karena [1]  untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan Muharram, serta [2] untuk menunjukkan otoritas Allah Ta’ala dalam mensucikankan dan memuliakan bulan Muharram”.

Puasa Sunnah Paling Afdhal  Pada Bulan Muharram 

Amalan yang dianjurkan pada bulan ini adalah puasa sunnah. Karena puasa pada bulan Muharram merupakan puasa paling afdhal setelah puasa Ramadhan. Imam al-Qari berkata, “dzahirnya, yang dimaksud adalah berpuasa pada sepanjang bulan Muharram”.

Sedangkan Imam Nawawi rahimahullah berpendapat, “Jika dikatakan bahwa puasa paling afdhal setelah Ramadhan adalah adalah puasa pada bulan Muharram? Lalu bagaimana dengan memperbanyak puasa sya’ban melebihi puasa di bulan Sya’ban? Maka jawabannya adalah, “Mungkin beliau tidak mengetahui keutamaan puasa Muharram melainkan di akhir hayat beliau sebelum beliau sempat melakukannya, atau beliau ditimpa sakit atau sedang safar sehingga tidak sempat memperbanyak puasa, atau karena faktor lain”.

Imam Ibnu Rajab berkata, “Shiyam tathawwu’ ada dua macam, yakni; [pertama] shiyam tathawu’ mutlak. Puasa sunnah mutlak yang paling afdhal adalah puasa Muharram. Sebagaimana shalat sunnah mutlak yang paling afdhal adalah qiyamullail (shalat malam). [Kedua] Shiyam yang menyertai shiyam Ramadhan seperti puasa sya’aban dan enam hari di bulan syawal. Ini tidak termasuk puasa sunnah mutlak. Karena termasuk jenis puasa yang menyertai puasa Ramadhan. Ini lebih afdhal dari puasa tathawwu’ mutlak. Syekh Soleh al-Munajjid mengomentari pendapat Ibn Rajab di atas bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan. Sehingga hadits ini dibawa kepada ma’na anjuran memperbanyak shiyam pada bulan Muharram. Bukan berpuasa sebulan penuh.

Selain itu di bulan ini ada  hari ‘Asyuro yang ditekankan untuk berpuasa pada hari tersebut. Sehingga bagi yang tidak sempat memperbanyak puasa pada bulan Muharram ini, jangan sampai melewatkan puasa di hari yang satu ini. Karena puasa ini memiliki fadhilah yang sangat utama, yakni menghapus dosa selama setahun. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah bersabda, “Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits lain dari Ibnu Abbas bahwa beliau berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari as Syura dan bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim). [sym].

Mau Selamat, Jauhi Syubhat dan Tinggalkan yang Meragukan

 

Mau Selamat, Jauhi Syubhat dan Tinggalkan yang Meragukan 

عن النعمان بن بشيرٍ رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ((إن الحلال بينٌ وإن الحرام بينٌ، وبينهما أمور مشتبهاتٌ لا يعلمهن كثيرٌ من الناس، فمن اتقى الشبهات استبرأ لدِينه وعِرضه، ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام، كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه، ألا وإن لكل ملكٍ حمًى، ألا وإن حمى الله محارمُه، ألا وإن في الجسد مضغةً إذا صلَحت صلَح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب))؛  متفق عليه

 

Dari  Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhuma,  Beliau berkata,  saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan sesungguhnya yang haram juga jelas. Dan  di antara keduanya terdapat perkara yang musytabihat (samar-samar)  yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia.  Maka  barangsiapa yang menjauhi syubhat (perkara yang samar), maka dia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya. (Sebaliknya) barangsiapa yang terjatuh ke dalam syubhat (samar) maka dia telah terjatuh ke dalam perkara yang haram. Seperti  penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang, tentu dikawatirkan dia akan terjatuh kedalam yang haram. Ketahuilah, setiap raja memiliki daerah terlarang. Dan ingatlah daerah larangan-Nya Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya.  Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging, kalau dia baik maka baiklah seluruh tubuh, jika dia rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah  bahwa segumpal daging tersebut adalah qolbu (hati)”. (Muttafaq ‘alaih)

 

Pelajaran Hadits

  1. Hadits ini merupakan sepertiga atau seperempat dari poros ajaran Islam, karena dia termasuk salah satu dari tiga atau empat hadits yang merupakan poros ajaran Islam.
  2. Anjuran untuk memakan yang halal dan Thoyib (baik). Sesuatu  yang baik dan belum ada keterangan tentang keharamannya maka dia halal, dan semua yang khabis (buruk) adalah haram.
  3. Barang siapa yang ingin menyelamatkan dirinya hendaknya dia menjauhi syubhat. Siapa yang melakukan hal ini (meninggalkan syubhat) maka dia telah menjaga kehormatan agamanya dan dirinya.
  4. Makanan berdampak dan berpengaruh terhadap hati dan perilaku. Sedangkan hati merupakan pemimpin dan raja bagi seluruh anggota tubuh. seluruh anggota tubuh merupakan rakyat dan pasukannya. sehingga hanya seorang bedaknya berusaha untuk menjaga hatinya, dan menjauhkan hatinya dari segala pengaruh yang buruk. Dianjurkan  juga untuk senantiasa mengkondisikan hati agar menerima kebaikan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. [sym].

Sumber: Tuhfatul Kiram Syarah Bulughul Maram, Syaikh Doktor Muhammad Lukman As-Salafi.

Gelar Milad ke. 10 AQL Pimpinan UBN Angkat Tema Peace Is  Power

Gelar Milad ke. 10 AQL Pimpinan UBN Angkat Tema Peace Is  Power

Jakarta (wahdahjakarta.com)– Arrahman Quranic Learning (AQL) Islamic Center  pada Selasa 11 September 2018 yang bertepatan dengan 1 Muharram 1440 H menggelar Milad ke-10 dengan tema “Peace Is Power”.

Dalam rilis yang diterima wahdahjakarta.com dinyatakan bahwa, “Peace Is Power adalah basis kekuatan yang membuat peradaban manusia tumbuh dan berkembang melalui tautan hati antar etnis, antar ras yang sejak awal tersemai  melalui benih sapa terindah yang pernah didengar manusia Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”.

Melalui  acara ini AQL pimpinan Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) ingin mengangkat kekuatan Islam yang menawarkan dan memberikan rasa damai dan kedamaian untuk menjadi solusi bagi dunia yang penuh dengan kekerasan dan peperangan ini. Hal tersebut sesuai  dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, “Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

AQL (Ar- Rahman Quranic learning) Islamic Center didirikan pada 1 Muharram 1429 H (29 Desember 2008) mempunyai visi besar membangun peradaban dengan Al-Quran karena pendiri  AQL  Islamic Center menyadari bahwa rahmat Allah terbesar bagi umat manusia itu adalah Alquran. AQL pun berkomitmen kuat untuk selalu mendekatkan Al-Quran kepada masyarakat untuk dibaca dan dihafalkan .

Pada  1 Muharram 1440 H (11 September 2018) AQL Islamic Center  yang mempunyai visi besar membangun peradaban dengan Al-Qur’an tepat berusia 10 tahun. Di usianya yang ke-10 ini AQL Islamic Center bertekad untuk mengawal  kebangkitan Islam di bumi Allah dan menunjukkan kepada dunia bahwa kedamaian itu adalah kekuatan yang paling dibutuhkan dunia saat ini dan Islam mampu memberikan ya Karena untuk kedamaian umat manusialah Allah menurunkan Islam. [ed:sym].