Taushiyah Kebangsaan MUI Menyikapi Hasil Pemilu dan Pilpres 2019

Taushiyah Kebangsaan Dewan Pimpinan dan Dewan Pertimbangan MUI menyikapi hasil sementara Pemilu/Pilpres 2019, Jakarta (19/04/2019)

(Jakarta) Wahdahjakarta.com– Dewan Pimpinan dan Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan taushiyah kebangsaan eterkait pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

MUI mengajak seluruh keluarga besar bangsa untuk mengikuti dan mengawal tahapan-tahapan lanjutan Pemilu hingga penetapan oleh KPU Presiden dan Wakil Presiden terpilih secara definitif berdasarkan konstitusi dengan sikap taat berkonstitusi.

Maka oleh karena itu, meminta kepada semua pihak untuk tidak mengganggu proses konstitusional tersebut melalui cara-cara langsung atau tidak langsung, seperti melalui pemberitaan Quick Count (hitung cepat), klaim kemenangan oleh kedua pasangan capres dan cawapres, maupun melalui pemberitaan media massa, baik cetak, elektronik, maupun media sosial, secara tidak berimbang yang menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat.

Berikut kutipan Taushiyah lengkapnya.

TAUSHIYAH KEBANGSAAN

DEWAN PIMPINAN DAN DEWAN PERTIMBANGAN MEJELIS ULAMA INDONESIA

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli wa salim ‘alaa sayidina Muhammad Saw

Assalamualaikum Wr. Wb.

Menyikapi dengan terselenggaranya proses Pilpres dan Pileg serentak pada Rabu, 17 April 2019, maka Dewan Pimpinan dan Pertimbangan MUI dengan ini menyampaikan taushiyah dan himbauan sebagai berikut :

  1. Mengajak seluruh keluarga besar bangsa, khususnya umat Islam, untuk bersyukur kehadirat Alla SWT bahwa suatu tahapan penting Pemilu, yakni pencoblosan kertas suara, telah berlangsung dengan lancar dan terkendali, walaupun di sana-sini masih terdapat kekurangan dan kelemahan.
  2. Mengajak seluruh keluarga besar bangsa untuk mengikuti dan mengawal tahapan-tahapan lanjutan Pemilu hingga penetapan oleh KPU Presiden dan Wakil Presiden terpilih secara definitif berdasarkan konstitusi dengan sikap taat berkonstitusi. Maka oleh karena itu, meminta kepada semua pihak untuk tidak mengganggu proses konstitusional tersebut melalui cara-cara langsung atau tidak langsung, seperti :
  3. a) Melalui pemberitaan Quick Count karena bersifat menggambarkan sesuatu yang belum pasti tapi dapat dan telah menimbulkan eforia berlebihan dari rakyat pendukung, yang pada gilirannya dapat mengundang reaksi dari pihak lain.
  4. b) Melalui klaim kemenangan oleh kedua pasangan capres dan cawapres, yang dapat dan telah menimbulkan euforia dari pendukung masing-masing, hal mana potensial menimbulkan konflik di kalangan rakyat.
  5. c) Melalui pemberitaan media massa, baik cetak, elektronik, maupun media sosial, secara tidak berimbang yang menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat.
  6. Menyerukan kepada semua pihak, baik Tim Sukses, Relawan, dan pendukung masing-masing pasangan capres-cawapres untuk dapat menahan diri untuk tidak bertindak anarkis, dan main hakim sendiri, namun menyerahkan penyelesaian setiap sengketa melalui jalur hukum berdasarkan prinsip taat konstitusi.
  7. Mendesak kepada penyelenggara Pemilu, sesuai amanat konstitusi yaitu Pemilu diselenggarakan asas Langsung, Bebas, Rahasia, serta Jujur dan Adil, untuk melaksanakan tahapan-tahapan berikutnya dengan senantiasa berpegang teguh kepada asas-asas tadi khususnya kejujuran dan keadilan. Maka KPU, BAWASLU, DKPP, dan pihak keamanan beserta jajarannya masing-masing untuk berlaku profesional, obyektif, transparan dan imparsial/non partisan.
  8. Secara khusus mendesak lembaga penegak hukum dan keamanan (Mahkamah Konstitusi, TNI, dan Polri) untuk mengemban amanat dan tanggungjawab dengan tidak mengedepankan kepentingan kecuali kepada bangsa dan negara.
  9. Menyerukan kepada umat Islam khususnya agar dapat menyatukan hati, pikiran dan langkah untuk menegakkan persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah) dan persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathoniyah) dalam koordinasi Majelis Ulama Indonesia.
  10. Mengajak seluruh umat beragama, khususnya umat Islam, untuk senantiasa memanjatkan doa kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia aman dan sentosa, rukun dan damai, dan terhindar dari malapetaka perpecahan.

Demikian Taushiyah ini disampaikan. Semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat karunia dan taufiqNya kepada bangsa Indonesia, Aamiin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 14 Sya’ban 1440 H / 19 April 2019 M

DEWAN PIMPINAN

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua  

KH Abdullah Jaidi

Sekretaris Jenderal

H. Anwar Abbas, MM. M.Ag

DEWAN PERTIMBANGAN

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua                                                                                                              

Prof. DR. HM. DIN SYAMSUDDIN, MA

Sekretaris                                           

Prof. DR. H. NOOR AHMAD, MA

Bantu Mustahik, BAZNAS Jajaki Kerjasama dengan IDC

(JAKARTA) Wahdahjakarta.com–Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menjalin kerjasama dengan Infaq Dakwah Center (IDC) dalam program pelayanan bantuan kepada para mustahik.

Pertemuan kerjasama itu dilakukan di Kantor BAZNAS, Jakarta Pusat, Jumat (5/4).

Direktur Utama BAZNAS Arifin Purwakananta mengatakan, salah satu program yang akan dilakukan ialah layanan bantuan kepada seorang guru madrasah yang tinggal di sebuah gubuk di daerah Indramayu, Jawa Barat.

“Hari ini dilakukan pertemuan dengan IDC membicarakan tentang bantuan guru madrasah di Indramayu yang kisahnya viral karena tinggal di sebuah gubuk,” katanya.

Ia menambahkan, dalam pertemuan itu, BAZNAS juga berkesempatan untuk mengklarifikasi perihal bantuan yang telah diberikan BAZNAS di berita-berita yang telah tersebar kepada guru madrasah bernama Karita (31 tahun) itu.

BAZNAS menyalurkan bantuan berupa mesin jahit obras dan perlengkapan jahit. Di bantu warga sekitar, BAZNAS juga melakukan perbaikan kios tempat usaha Karita agar bisa terlihat lebih menarik.

“Karita belum mendapat bantuan tempat tinggal, mudah-mudahan kerja sama antara BAZNAS dengan IDC ini bisa lebih berdampak dan diharapkan dapat dikembangkan dalam bentuk kerja sama di kemudian hari,” kata Arifin. []

MPI Serukan Persatuan dan Waspadai Penjajahan Berkedok Investasi

Ustadz Bachtiar Nasir

(Semarang) Wahdahjakarta.com – Majelis Pelayan Indonesia (MPI) bekerja sama dengan Gerakan Ummat Pecinta Masjid (GUPM) menyelenggarakan tabligh akbar di Masjid Abu Bakar Assegaf, Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang, Sabtu (6/4). Tabligh akbar bertema “Merajut Ukhuwah untuk Membangun Peradaban Bangsa”.

Beberapa pimpinan MPI hadir pada acara ini. Mereka adalah Ustadz Bachtiar Nasir (UBN)  dan Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin. Keduanya termasuk penggerak Aksi Damai 212 bersama Habib Rizieq. Hadir pula Ustadz Erick Yusuf, Ustadz Taufan, Tony Rosyid penulis pemenang 212 Award.

Dalam taushiyahnya, Ustadz Bachtiar Nasir mengingatkan pentingnya persatuan. Menurutnya, persatuan adalah salah satu bagian dari Pancasila yang keseluruhan sila-silanya merupakan bagian dari ajaran Islam.

Dengan persatuan, menurutnya, negeri ini akan kuat dan tidak mudah dijajah. “Para pahlawan yang memerdekakan negeri ini atas berkat rahmat Allah Ta’ala, tidak rela jika negeri ini dijajah oleh negara lain atas nama investasi!”, tegasnya.

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin

Selanjutnya, Ustadz Zaitun Rasmin yang juga Wasekjen MUI Pusat mengingatkan soal politik Islam.  “Ajaran Islam sangat lengkap, termasuk masalah politik yang tidak bisa dipisahkan. Jadi, salah kalau ada yang melarang bicara politik di dalam masjid.” ungkapnya.

“Inti dari siyasah syariyyah adalah bagaimana kekuasaan bisa mewujudkan kemaslahatan sebesar-besarnya bagi rakyat. Kemaslahatan dunia maupun akhirat.” imbuhnya.

Masjid Unissula dihadiri ribuan jamaah dalam acara ini. Jamaah bukan hanya berasal dari Semarang, namun juga Jawa Tengah secrara umum.[]

Horizon Baru Baitul Maqdis (Catatan Hiwar Da’wi Wahdah Jakarta-Depok)

Dr. Munjid Muhammad Ridwan dan Ustadz Ilham Jaya Abdul Rauf, Lc, MA pada acara Hiwar Da’wi “Baitul Maqdis Amanah Al-Qur’an” yang digelar Wahdah Islamiyah Jakarta-Depok di Masjid At-Ta’lim IPD/IPP Cilandak, Senin (25/03/2019)

Horizon Baru Baitul Maqdis (Catatan Hiwar Da’wi Wahdah Jakarta-Depok 25/03/2019)

Beberapa peserta yang hadir, sebagaimana juga ana pribadi, merasa bahwa kuliah yang satu ini berhasil memperluas horizon berpikir. Bahkan mungkin suatu saat paradigmatik, pada level tertentu. Betapa tidak, ada ungkapan fakta-fakta yang bisa jadi sebelumnya lewat begitu saja. Tapi kuliah kemarin berhasil melakukan “zoom out” terhadap cuplikan-cuplikan tersebut untuk melahirkan satu kesadaran baru. Kesadaran tentang bagaimana seharusnya persoalan Palestina didudukkan dalam peta harakah dan masyru’ Islami.

Ana gak perlu berpanjang-panjang. Ana kutip singkat poin-poin penting kuliah Dr. Munjid Muhammad Ridwan dari yang ana catat sendiri. Sebagiannya ana konfirmasikan dengan bacaan lama serta data-data bebas yang bisa digoogling.
a. Terdapat 11 ayat di dalam Alquran yang menyinggung al Masjidil Aqsa atau Baitul Maqdis, sebagaimana terdapat 15 hadits nabawi (shahih-tidaknya belum terkonfirmasi) dengan konten yang sama.
b. Baitul Maqdis satu-satunya wilayah yang di dalam Alquran disebut sebagai berkah bagi “al ‘alamin”/seluruh alam (21: 71). SubhanaLlah.

c. Sebagaimana fatwa Ibnu Taimiyyah, bahwa di periode awalnya Islam berjaya di bumi Hijaz. Sebaliknya, di periode akhir, Islam akan berjaya di bumi Syam.
d. Hikmah Allah pasti sangat besar saat menjadikan al Masjidil Aqsa sebagai titik tolak bagi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mi’raj ke langit. Padahal, bisa saja titik tolak itu dari al Masjidil Haram saja. Mengutip bahasa Dr. Munjid, “Baitul Maqdis adalah pintu menuju ridha Allah.”
e. Para Nabi alaihimus salam bercita-cita untuk tinggal di Baitul Maqdis. Cita-cita ini menjadi bagian dari kisah Nabi Yusuf kelak yang diungkap Rasulullah tentang perempuan tua Bani Israil (Shahih Ibni Hibban dan as Silsilatus Shahihah).
f. Rasul tidak ketinggalan. Ekspedisi pasukan terakhir yang diutus Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebelum beliau wafat adalah yang diutus ke negeri Syam.
g. Peristiwa yang tersebut dalam QS. Al A’raf: 143, yang mana Allah Subhanahu Wata’ala “menampakkan diri” kepada gunung, terjadi di Baitul Maqdis.
h. Hadits Tamim ad Daari tentang pertanyaan-pertanyaan Dajjal mendeskripsikan tentang negeri yang menjadi pokok perhatian Dajjal: Baitul Maqdis.
i. Semua Nabi yang diutus sejak usia belia adalah mereka yang tinggal di Baitul Maqdis. Rasul kita yang mulia menjadi salah satu yang tinggal di luar Baitul Maqdis dan diangkat sebagai nabi nanti di usia 40 tahun.
j. Nabi Dawud alaihis salam diangkat sebagai nabi setelah memasuki Baitul Maqdis dan diberi kerajaan setelah membebaskannya dari penjajahan.
k. Al Masjidil Haram adalah masjid yang pertama didirikan, sedangkan al Masjidil Aqsa adalah yang kedua. Uniknya, interval waktu antara keduanya cuma 40 tahun (HR. Bukhari-Muslim). Intinya, negeri Baitul Maqdis adalah kawasan berberkah sejak awal sejarah kemanusiaan.
l. Terdapat dua kali kata ‘khalifah’ disebut dalam Alquran. Pertama merujuk kepada Adam, yang kedua merujuk kepada Nabi Dawud. Yang pertama berjasa membangun al Masjidil Aqsa, yang kedua berprestasi membebaskan Baitul Maqdis.

m. “Makkah adalah ibukota Islam sebagai agama,” tegas Dr. Munjid, “sedangkan Baitul Maqdis adalah ibukota Islam sebagai sistem politik. Itu sebabnya, Nabi Muhammad menjadi imam para nabi di Baitul Maqdis.”

Akhi, jangan menunggu besok untuk memasukkan agenda Baitul Maqdis ini dalam proyek dakwahmu. Letakkan dia dalam schedulmu langsung setelah membaca tulisan ini!

26/03/2019
Ilham Jaya R.
Wahdah Jakarta – Depok.

Pasca Insiden Teror Christchurch, Ustadz Zaitun Berharap Selandia Baru Pelopori Lawan Islamophobia

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Wakil Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI) Pusat KH. Muhammad Zaitun Rasmin berharap pemerintah Selandia Baru bisa memanfaatkan insiden teror penembakan di Masjid Al Noor dan Linwood, Christchurch, Jum’at lalu sebagai momentum perlawanan terhadap islamophobia.

“Memang ini sangat menyedihkan, sangat menyakitkan, termasuk bagi pemerintah Selandia Baru yang turut menjadi korban. Tetapi mudah-mudahan ada efek baiknya, kami berharap Selandia Baru menjadi pelopor untuk melawan Islamophobia”, ujarnya usai pertemuan MUI Pusat dengan Kedutaan Besar Selandia Baru, Jum’at (22/03/2019) siang.

“Mudah-mudahan Selandia Baru sebagai negara yang terkenal sebagai salah satu tempat terindah di dunia, tempat ternyaman, dapat mempelopori perlawanan terhadap suatu penyakit yang saat ini melanda dunia, berupa Islamophobia. Yang sedikit banyak telah menjadi sebab terjadinya beberapa aksi terorisme terhadap muslim di berbagai belahan dunia,” tuturnya.

Kedutaan Besar Selandia Baru diwakili Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar Selandia Baru Roy Ferguson. Sementara dari MUI diwakili Ketua Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI Muhyiddin Junaidi, Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas, Ketua Komite Hubungan Internasional MUI Shabah Surur,Wakil Sekjen Muhammad Zaitun Rasmin, dan beberapa pimpinan ormas Islam.

“Siang hari ini dalam rangka silaturrahim dengan Bapak Duta Besar New Zealand untuk Indonesia, Bapak Roy, sebetulnya beliau wakil duta besar, duta besarnya belum ada dalam waktu beberapa minggu,” ujar Kiyai Muhyiddin saat membuka pertemuan.
Kyai Muhyiddin berharap pertemua ini dapat meningkatkan hubungan bilateral persahabatan antara Indonesia dan New Zealand.

Sementara Roy menyatakan bahwa tindakan teroris itu bukanlah mewakili Selandia Baru. “Saya datang ke sini hari ini untuk memberikan Anda semua ada tiga jaminan. Pertama kami melakukan semua yang kami bisa lakukan untuk para korban serangan teroris ini. Kedua, kita bereaksi cepat dan tegas. Dan ketiga tindakan ini tidak mewakili Selandia Baru,” kata Roy. []
Reporter: Murtadha Ibawi

Lazis Wahdah Salurkan Bantuan Korban Banjir Mamuju Sulbar

(Mamuju) Wahdajakarta.com — Hujan deras sepanjang malam yang melanda wilayah Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), menyebabkan terjadinya banjir bandang, Kamis (28/1/2019) malam. Peristiwa itu mengakibatkan ribuan rumah warga terendam banjir dan satu di antaranya ambruk.
Pantauan di lapangan, banjir menggenangi wilayah Kompleks BTN Ampi dan Axuri di Jalan Pababari, serta menggenangi ruas Jalan Abdul Syakur setinggi pinggang orang dewasa. Selain itu, wilayah yang terendam banjir yakni BTN Binanga, kawasan Stadion Manakarra Mamuju, Jalan Soekarno Hatta, Kompleks Pemda Mamuju, dan perumahan di Jalan Ahmad Kirang, Abdul Wahab Azasi, Pettarani, Andi Depu dan Jalan Bau Massape.
Merespon kejadian ini, bertempat di Desa Pokkang Kec. Kalukku Kab. Mamuju, sejumlah bantuan kemanusiaan, amanah dari donatur LAZIS Wahdah didistribusikan. Dalam kegiatan ini sebanyak 250 jiwa yang terhimpun dalam 70 Kepala Keluarga mendapatkan bantuan, Jumat (1/3/2019).
Direktorat Program dan Pemberdayaan LAZIS Wahdah, Ridwan Umar menyampaikan, beberapa relawan lokal tengah dikerahkan ke lokasi terdampak. Beberapa bantuan juga sementara didistribusikan.
“Mohon doanya kepada relawan, agar diberi keselamatan selama bertugas,” harapnya.
“Alhamdulillah respon masyarakat sangat baik. Katanya Wahdah yang pertama kali masuk membawa bantuan,” ujar Ali Akbar salah seorang relawan lokal. []

Hijab Syar’i dan Kesibukan Dakwah Tak Halangi Dua Mahasiswi Ini Raih Prestasi

(Jakarta) wahdahjakarta.om-, Universitas Negeri Makassar (UNM) melakukan Wisuda Periode Februari Tahun Ajaran 2018-2019.

Sebanyak 1000 mahasiswa yang terbagi dari S1, S2, dan S3 dari berbagai fakultas dan jurusan, resmi diwisuda di pelataran Gedung Phinisi, Jalan AP Pettarani Makassar, Rabu (13/2/2019).

Pada wisuda tersebut, terdapat sejumlah mahasiswa yang mendapat predikat sebagai wisudawan atau wisudawati terbaik mulai dari tingkat universitas, fakultas dan jurusan atau prodi.

Tak ingin ketinggalan dalam prestasi bidang akademik, para aktivis dakwah kampus menjadi wisudawan terbaik di tingkat fakultas dan jurusan. Di antaranya dua orang mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP UNM), yang juga pengurus Lembaga Dakwah Kampus Al-Qolam UNM (LDK Al-Qolam UNM) meraih wisudawan terbaik.

Kedua mahasiswi yang meraih wisudawan terbaik itu, yakni Nurul Hikmah, S.Pd (wisudawan terbaik 1 Fakultas dan wisudawan terbaik 1 Jurusan PGSD), yang juga sebagai ketua LDK Al-Qalam UNM. Kemudian Rismawati Pasbal, S.Pd (wisudawan terbaik 2 PG-PAUD), yang juga sebagai bendahara LDK Al-Qalam UNM.

Nurul Hikmah mengatakan, dengan pencapaian prestasinya itu mampu memotivasi aktivis dakwah kampus lainnya yang aktif dalam berbagai kegiatan dakwah dan kelembagaan.

Menurutnya, aktifitas organisasi tidak menjadi alasan untuk tidak berprestasi di bidang akademik.

“Semoga ke depannya lebih banyak lagi aktivis dakwah yang berprestasi. Apalagi sebagai seorang aktivis, tentunya mereka bukan orang yang biasa-biasa saja, melainkan orang yang mau mengambil peran lebih untuk perbaikan umat, khususnya di kampus”, trang Nurul.

 “Jadi, Prestasi organisasi sebaiknya juga berbanding lurus dengan prestasi akademik. Tidak ada alasan membuat prestasi akademik mundur. Malah sebaliknya, kegiatan ini menjadi pendorong prestasi akademik,” lanjut Nurul.

Selain itu, ia berpesan kepada muslimah lainnya agar juga bisa berprestasi di bidang akademik dan juga sebagai bakti kepada orangtua.

“Selain orangtua sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik saya kepada mereka, saya juga ingin membuktikan bahwa dari kami para aktivis dakwah, khususnya yang jilbab besar, juga bisa berprestasi. Jilbab itu bukanlah penghalang,” terang Nurul. []

Anggota Majelis Pakar Wahdah Islamiyah Dikukuhkan Sebagai Guru Besar ITB


Prof Trio Adiono

(Bandung) wahdahjakarta.com– Anggota Majelis Pakar Wahdah Islamiyah, Profesor Trio Adiono hari ini menyampaikan orasi ilmiah di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Sabtu (9/2). Hari ini beliau dikukuhkan sebagai Guru Besar Sekolah Teknki Elektro dan Informatika ITB.

Selain dikenal sebagai akademisi, Prof. Trio juga banyak berkiprah di dunia dakwah. Salah satu amanah saat ini adalah sebagai Pembina DPW Wahdah Islamiyah Jawa Barat dan merupakan anggota Majelis Pakar Wahdah Islamiyah.
Dalam orasinya beliau memaparkan materi mengenai “Industri Chip Sebagai Basis Pengembangan Industri Nasional”. Menurut beliau, perkembangan industri chip di Indonésia serta kemampuan bangsa Indonesia dalam membuat produk teknologi tinggi sangatlah potensial.
Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin juga turut menghadiri orasi ilmiah tersebut.
Selain itu hadir juga jajaran pengurus Wahdah Islamiyah yang lain, diantaranya Wasekjen DPP Wahdah Islamiyah Ustadz Ridwan Hamidi, Pembina DPW WI Jabar Ustadz Dr. Topan Setiadipura, Ustadz Abu Yahya Purwanto, Ketua DPW WI Jabar Mochamad Budiman, dan Ketua DPW WI Jawa Timur Dr Dhany Arifianto. [ibawi]

Ustadz Zaitun Rasmin:  Kelemahan Umat Islam Akibat Jauh Dari Al Qur’an

Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin saat menyampaikan kajian Subuh di Masjid Al-Ikhlas Tangerang, Ahad (10/02/2019)

(Tangerang) wahdahjakarta.com –  Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin menyatakan, kelemahan yang dialami umat Islam saat ini karena jauh dari Al-Qur’an. Kelemahan tersebut meliputi masalah iman, ilmu dan ukhuwah.

“Inti dari kelemahan iman, ukhuwah, dan ilmu adalah karena kita jauh dari Al Qur’an. Tentu banyak kelemahan kita yang lain, namun pada akhirnya kita harus kembali kepada Al Qur’an.” Jelasnya  dalam suatu kajian di Masjid Al-Ikhlas Tangerang, Ahad (10/02/2019).

Ustadz Zaitun Rasmin (UZR) juga menjelaskan bahwa makna dari kembali kepada Al Qur’an tersebut tidak hanya sebatas membaca saja, namun juga perlu tadabbur dan memahami apa saja isi dari Al Qur’an.

“Kembali kepada Al Qur’an adalah dalam makna yang sebenar-benarnya, bukan sekedar membaca tapi juga memahami dan mengamalkannya. Kalau kita berbicara tentang kejayaan Islam yang sesungguhnya, maka harus diawali dengan Ilmu yang benar termasuk ilmu membaca Al Qur’an.” Ungkapnya

Dalam paparannya, UZR mengingatkan agar umat Muslim harus keluar dari masalah tersebut dan mulai kembali mempelajari Al Qur’an dengan cara yang benar.

“Kita harus keluar dari problema itu, sekarang rata-rata umat Islam bacaan Al Qur’annya tidak bagus. Ketika shalat fardhu di Masjid, rata-rata saat waktu shalat subuh, maghrib dan Isya tidak ada yang sanggup menjadi imam.” Jelas Wasekjen MUI tersebut.

“Coba perhatikan ketika shalat di masjid, rata-rata kalau shalat subuh, maghrib dan Isya itu orang banyak yang tawadhu, nanti baru berani pada shalat dzuhur dan ashar” canda beliau disambut gelak tawa jamaah.

“itu bukan karena hafalannya, tapi karena bacaan Al Qur’annya yang kurang bagus” tambah beliau.

Terakhir, beliau mengajak jamaah untuk berupaya menyempurnakan bacaan Al Qur’an dan mendalaminya.

“Jangan lewati 2019 ini tanpa mempelajri cara membaca Al Qur’an dengan baik, jangan menunggu karena salah satu ilmu yang tidak bisa dipelajari sendiri adalah ilmu membaca Al Qur’an.” Pungkas UZR. [fry/sym]

Wasekjen MUI: Umat Islam Cinta Damai Tapi Tidak Pengecut

KH. Muhammad Zaitun Rasmin saat menyampaikan Kajian Subuh di Masjid Al-IKhlash Tangerang, Ahad (10/02/2019)

(Tangerang) wahdahjakarta.com -, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI) KH. Muhammad Zaitun Rasmin mengatakan, umat Islam adalah umat yang kstaria dan cinta damai, namun tidak pengecut.

“Umat Islam adalah umat ksatria yang cinta damai, namun jangan anggap bahwa umat Islam itu pengecut, Umat Islam tidak suka mengganggu orang lain namun tidak suka pula apabila diganggu dan Umat Islam tidak mau menghina orang lain tapi umat Islam juga tidak mau dihina,” ucapnya di hadapan jama’ah pengajian Masjid Al-Ikhlas Tangerang, Ahad (10/02/2019).

Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah ini juga menjelaskan tentang sunnatullah kemenangan dalam perjuangan. ‘’Tidak ada kemenangan tanoa perjuangan”, ujarnya.

“Umat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam ditakdirkan sebagai umat yang harus lebih kuat, karena tidak ada kemenangan kalau tidak berjuang. Itu sudah sunatullah bagi umat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam”  jelasnya.

“Memang bukan segala-galanya harus dari kekuatan kita, tetap ada pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, yang penting diawali dengan perjuangan” tutur UZR.

Wakil Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini  memberikan contoh dalam sejarah nabi pada saat Fathu Makkah, dimana kemenangan yang diraih oleh kaum Muslim merupakan kemudahan yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala melalui hambatan-hambatan yang dialami oleh kaum Musyrikin yang kemudian mengakui keberadaan kaum Muslimin. []