Syurga Tidaklah Semudah dan Semurah yang Kamu Sangka

 

Syurga Tidaklah Semudah dan Semurah yang Kamu Sangka

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ [٣:١٤٢

Apakah kamu menyangka  bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum dibuktikan Allah (siapa) orang-orang yang berjuang sungguh-sungguh diantara kamu dan (belum) dibuktikanNya pula orang-orang yang sabar”. (Qs. Ali Imran:142)

Pertanyaan seperti itu bermaksud sebagai bantahan.  Tegasnya  janganlah kamu menyangka, bahwa akan mudah saja kamu masuk syurga, sebelum Allah membuktikan, memperlihatkan dengan jelas siapa pejuang yang sungguh-sungguh, dan siapa yang sabar, siapa yang tahan, dan siapa yang tabah.  Syurga tidaklah semudah yang Kamu sangka. Dia  meminta kesungguh-sungguhan, semangat, antusias dan kesabaran. Sebab  Syurga itu meminta pengorbanan. Jihad, kesungguhan, kerja keras, itulah syarat pertama perjuangan. Syarat kedua ialah sabar, tahan menderita dan tabah.

Di dalam ayat ini dan ayat yang lain kalimat  Ya’ lamillah, yang menurut arti aslinya saja ialah sebelum Allah mengetahui atau di ayat lain supaya Allah mengetahui. Tetapi  oleh karena maksud dan arti sebenarnya kalimat itu di sini lebih dari itu telah kita artikan membuktikan. Sebab pada hakikatnya sebelum manusia tahu siapa yang lemah dan siapa yang kuat imannya Tuhan Allah sendiri telah tahu.  Ilmu  Allah Ta’ala tidaklah diikat  oleh suatu ruang ataupun suatu waktu. Tetapi manusia sendiri sebagai hamba Allah tidaklah senantiasa tahu sesuatu hal sebelum kejadian. Banyak  manusia, antaranya saja antara saudara sendiri, sebelum melapetaka menimpa diri kita merasa akan kuat. Tetapi setelah malapetaka itu datang barulah kita sadar dan mengetahui, bahwa kita lemah. Di situ Allah ta’ala membuktikan dengan qudrat-iradat Nya kepada kita, bahwa kita ini sesungguhnya lemah. Seorang  guru Islam yang banyak muridnya selalu memberi fatwa kepada murid-muridnya itu supaya berjuang sungguh-sungguh dan supaya sabar. Tiba-tiba  pada suatu waktu dia sendiri ditimpa malapetaka dia difitnah lalu ditahan polisi karena suatu tujuan yang sekali-kali tidak diperbuatnya. Maka suatu hari saya ketika salah seorang muridnya sempat menziarahinya dalam tahanan dia berkata: “Dahulu saya memberi fatwa kepada saudara-saudara supaya sabar ditimpa cobaan. Sekarang  diri saya sendiri lah yang saya beri  fatwa setiap hari supaya sabar! dan sekarang saya sudah dapat membuktikan kelemahan atau kekurangan saya.

Ayat ini membuktikan bahwasannya syurga yang begitu tinggi mulia dan mahal tidaklah dapat dibeli kalau hanya dengan mulut. Orang yang berbudi tinggi dan berpikiran cerdas jika masuk ke dalam tokoh besar malu akan menawar barang yang mahal. Mulutnya  tidak akan terbuka kalau dia sendiri tahu bahwa dompet uangnya kosong atau tidak seimbang isinya dengan nilai barang yang ditawar.

Seperti guru yang kita terangkan tadi, pada waktu aman tidak ada cobaan banyak yang berani bersuara lantang, berfatwa menyuruh orang berjuang, menyuruh orang sabar. Mudah Semua orang berkata demikian, sebelum mereka menyaksikan sendiri betapa payahnya berjuang dan pahitnya sabar. [sym/wahdahjakarta.com].

Sumber: Tafsir Al-Azhar Karya Prof. DR. Haji AbdulMalik AbdulKarim Amrullah (Hamka)

Gagas Program OMOJ, Forjim Kembali  Gelar Pelatihan Jurnalistik Dakwah

Gagas Program OMOJ, Forjim Kembali  Gelar Pelatihan Jurnalistik Dakwah

Jakarta (wahdahjakarta.com)– Forum Jurnalis Muslim (Forjim) kembali menggelar Pelatihan Jurnalistik Dakwah One Masjid One Journalist (OMOJ) di Masjid Jenderal Sudirman World Trade Centre (WTC) Jakarta Selatan, Sabtu-Ahad (8-9/9/2018).

Sebanyak 25 peserta yang berasal dari utusan masjid di Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi, Tangerang, dan Purwakarta mengikuti pelatihan ini. Pelatihan ini merupakan angkatan ke empat. Sebelumnya Forjim menggelar Pelatihan OMOJ di Jakarta Timur, Bandung, dan Lombok.

Menurut Ketua Panitia, Ahmad Zuhdi pada pelatihan kali ini fokus pada teknik membuat video jurnalistik dakwah. Diharapkan setelah dari pelatihan ini, para peserta bisa menjadi kader jurnalis masjid yang mampu mendokumentasikan kegiatan masjid.

“Selain itu juga menjadi jejaring atau penyuplai informasi umat guna keperluan dakwah Islam,” ujar Zuhdi.

Pada kesempatan selama dua hari, para peserta mendapat berbagai materi seperti urgensi dakwah media, teknik wawancara dan menulis berita,  teknik membuat video dokumenter, serta proses pembuatan video melalui smartphone.

Setelah ini, Forjim akan menggelar kembali Pelatihan OMOJ di beberapa kota. “Insyaallah dalam waktu dekat kami akhir September diadakan di Bogor untuk angkatan kelima, pertengahan Oktober di Tasikmalaya untuk angkatan ke enam,” ungkap Zuhdi.

Menurut Zuhdi, banyak sekali masjid-masjid di daerah yang berminat menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik Dakwah OMOJ. “Bekasi, Yogyakarta, Semarang, Cikampek meminta kami untuk menggelar pelatihan jurnalistik dakwah. Mudah-mudahan bisa terlaksana,” jelas wartawan media online Warta Pilihan.

Pelatihan Jurnalistik Dakwah OMOJ angkatan empat ini didukung berbagai pihak, seperti DKM Masjid Jenderal Sudirman WTC, Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi), Chanel Muslim, Lazis Wahdah, serta Aksi Cepat Tanggap (ACT).*

Terimakasih Lazis Wahdah Islamiyah

Relawan Lazis Wahdah Islamiyah

Terimakasih Lazis Wahdah Islamiyah

(Kisah Nyata dari Lombok Barat )

 

(wahdahjakarta.com)-, Pernikahan kami di tahun 2006 silam menimbulkan gejolak di kampungku, bahkan desaku. Ramai berita dan cerita di desaku, aku telah salah memilih suami. Bahkan kata salafi dijadikan akronim dari kata salah pilih oleh teman-temanku.

Ibuku hampir stres dengan keadaan itu. Anak sarjana satu satunya saat itu kenapa justru salah memilih jalan hidup beragama. Sesat kata mereka, dan itu merasuk ke dalam relung fikiran ibuku. Suamiku adalah salah satu alumni STIBA Makassar yang merupakan salah satu lembaga pendidikan milik Wahdah Islamiyah.

Maka mulailah kami hidup dengan cap sebagai orang yang berbeda dengan orang sekampung. Berat bagiku awalnya karena aku juga guru Agama di salah satu sekolah negeri. Kujalankan tugasku sehari-hari tanpa mencederai yang kuyakini. Bergumul dengan kondisi lingkungan bukan sesuatu yang ringan.

Kami bersyukur beberapa anggota keluarga memahami pemahaman kami dan mau menerima kami dengan baik. Pelan-pelan kami terus meyakinkan ibu dan keluarga dengan interaksi serta perilaku yang baik. beliau juga melihat keseharian kami, mungkin memberikan kesadaran tersendiri dalam hati ibu, bahwa anak dan menantunya baik-baik saja dalam beragama. tidak seperti yang dituduhkan orang-orang.

Kami harus menerima lirikan-lirikan aneh dari warga ketika kedatangan tamu yang merupakan teman-teman seperjuangan suami dalam dakwah. Sesekali kadang sampai ke telinga teriakan salafiiii….

Huh nyesek juga….tapi ya sudahlah fikirku.

Yang lebih bikin nyesek adalah fitnah bahwa shalat kami dan ibadah-ibadah kami digaji. Itu  yang disampaikan ibu kepadaku. Tetapi justru hal ini kujadikan sebagai salah satu titik pencerahan untuk menyadarkan ibu, bahwa demikianlah fitnah. Karena beliau lihat sendiri bagaimana suamiku bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari hari kami.

Hingga tibalah malam itu, gempa dengan kekuatan 7 SR menguncang desaku kemudian gempa susul menyusul meluluh lantakkan desaku.

Apa hubungannya dengan kehidupan dan keluargaku?

Sebelum menimpa kami, Kabupaten Lombok Utara(KLU) dan Lombok Timur(Lotim ) telah lebih dahulu diluluh lantakkan oleh gempa, dan tim dari Lazis Wahdah telah berada di sana. Sehingga ketika gempa menimpa kami dan menghancurkan rumah hampir seluruh warga, maka segera tim Lazis Wahdah menuju ke desa kami memberikan bantuan. Bahkan Lazis Wahdah merupakan lembaga kemanusiaan pertama yang mengulurkan bantuan ke desa kami hingga hari ini.

Suamiku yang tadinya dicibir, tiba-tiba menjadi magnet bersama Lazis wahdah karena mereka tidak kenal lelah siang dan malam terus hadir memberikan rasa empati baik materi, moril, maupun seprituia.

Anak-anak, lansia, para janda, semua merasakan kehadiran Lazis Wahdah.

Doaku yang paling indah dalam fikiranku saat ini, semoga kehadiran wahdah bersama dakwahnya akan bersemi di desaku di masa yang akan datang

Terimakasih ya Allah puji syukur ke hadirat-Mu.

Terimakasih Laziz Wahdah Islamiyah dengan relawannya.

Terimakasih suamiku. [ed:sym]

Sumber: WAG Alumni STIBA tanpa mencantumkan nama penulis.

Kesalahan-Kesalahan Suami (01): Mengabaikan Orang Tua Setelah Menikah

Kesalahan-Kesalahan Suami (01):  Mengabaikan Orang Tua Setelah Menikah

Fenomena  yang sering terjadi setelah menikah orang tua dan istri beradu cemburu. Suami  harus bersikap arif dan bijak mengharmoniskan, bukan menambah runyam.

Wahdahjakarta.com-, Tidak sedikit suami yang mengabaikan orang tuanya setelah menikah. Hak-hak   mereka dilalaikan. Penghargaan  dan penghormatan terhadap keduanya sirna tak bersisa. Istri  lebih ditaati daripada orang tua demi menyenangkan istri. Ayah Bunda pun terabaikan. Bahkan tak jarang mereka diusir dari rumah atau membiarkan sendirian di rumah, justru disaat mereka butuh uluran perawatan dari sang anak.

Jelas saja sikap seperti ini merupakan kedurhakaan pada orang tua. berlakunya begitu dekat pada azab yang dipercepat dan terjadi di dunia yang akan menurunkan sekaligus menenggelamkan kehidupannya. Apa  yang bisa diharapkan dari seseorang yang melalaikan orang paling dekatnya sekaligus paling utama untuk diberikan bakti dan kasih? Mudah  diduga ia akan lebih mengabaikan orang lain. Sebab orang yang tidak berbuat baik pada kedua orang tuanya takkan mungkin dapat berbuat baik kepada anak istrinya apalagi orang lain.

Anak yang sholeh selalu berusaha berbakti pada kedua orang tuanya dalam kondisi apapun. Ia  akan melakukan apapun untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya, bahkan setelah menikah. untuk itu seorang anak perlu melakukan sejumlah tips berikut:

  1. Berdoa
  2. Menjaga sikap yang dapat membuat orang tua merasa bahwa anaknya telah berubah
  3. Tingkatkan bakti pada orang tua baik secara materi maupun maknawi.
  4. Sebaiknya tinggal terpisah di rumah sendiri namun dengan tetap menjaga komunikasi setiap saat.
  5. Jauhkan orang tua dari kerumitan persoalan rumah tangga semaksimal mungkin.
  6. Berusaha untuk senantiasa mengharmoniskan hubungan antara orang tua dengan istri .

Sumber: Min Akhtha’i al-Azwaj, Syaikh Muhammad bin Ibarhim al-Hamd

Harapan Ustadz Komari Penemu Metode Dirosa

Harapan Ustadz Komari Penemu Metode Dirosa

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Ustadz Komari hadir sebagai pemateri utama dalam Pelatihan Pengajaran Al Qur’an Metode Dirosa yang diadakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), tepatnya di Anjungan Jawa Barat, Jumat-Ahad (31/8-2/9 2018). Ia bersama 4 orang timnya saling bergantian menyampaikan materi selama hampir tiga hari berturut-turut.

Dalam sesi materinya, Ustadz yang menulis buku dirosa ini bertanya kepada peserta TOT yang merupakan pengajar dirosa mengenai teknik yang diajarkan ke peserta. Semua peserta serentak menjawab dengan benar tetapi ada teknik yang belum pernah sama sekali diajarkan oleh pengajar dirosa yaitu teknik berpasangan. Dalam teknik berpasangan, pengajar menyuruh muridnya untuk saling berhadapan dengan temannya, yang satu membaca dan satunya lagi menyimak secara bergantian.

Ustadz Komari saat ditanya oleh Tim LAZIS Wahdah Jakarta mengenai jalannya TOT kali ini, ia mengaku terkesan dengan tempatnya yang berada di lokasi wisata. Namun, peserta juga kewalahan mencari tempat ini.

“Secara umum acara berjalan lancar, tempat yang bagus dan nyaman. Kendala selama ini di Jakarta adalah belum adanya program yang berkesinambungan untuk membuat pelatihan mengajar sehingga program tidak berjalan semestinya. Ini terbukti hanya ada dua pengajar dirosa yang aktif yaitu Ustadz Syaripuddin dan Ustadz Abdurrahman”, ujar Ustadz Komari.

Di akhir sesi wawancaranya dengan Tim LAZIS Wahdah Jakarta, Ustadz Komari sangat berharap melalui TOT kali ini, semua alumninya bisa action mengajar dan membuka banyak pelatihan di daerahnya sehingga bisa melahirkan pengajar-pengajar dirosa yang baru.

“Harapannya adalah alumni bisa action mengajar dan membuka pelatihan untuk melahirkan pengajar-pengajar yang baru, sehingga penambahan jumlah pengajar/guru dirosa bisa terwujud”, tutur Ustadz Komari.

[rsp]

—————

Info donasi dan kegiatan LAZIS Wahdah Jakarta: 0811 9787 900 (call/wa/sms)

LAZIS Wahdah, Melayani dan Memberdayakan

Ujian dalam Pernikahan Menurut Imam Al Ghazali

Ujian dalam Pernikahan Menurut Imam Al Ghazali

wahdahjakarta.com-, Pernikahan cara paling mujarab untuk memecahkan syahwat, pernikahan satu-satunya cara untuk melestarikan keturunan yang diakui oleh syariat, pernikahan salah satu cara untuk melindungi hati dari maksiat, dan pernikahan salah satu jalan menuju kebahagiaan akhirat. Namun tak sedikit orang yang tidak mau, bahkan takut untuk memasuki gerbang PERNIKAHAN dengan alasan yang beragam. Ada yang beranggapan, pernikahan hanya bisa mendatangkan masalah di atas masalah, dan ada juga yang merasa bahwa pernikahan adalah tali yang mengikat, sehingga ruang gerak terasa sempit dan dibatasi.

Setiap syariat yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk umat ini, pasti mempunyai hikmah yang bisa diambil dan juga ujian yang harus diwaspadai. Shalat, zakat, puasa dan haji adalah contoh Syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengandung banyak hikmah, namun tak dapat dipungkiri, di balik semua itu ada ujian atau cobaan yang harus diwaspadai. Jika tidak, maka kita tidak akan pernah mendapatkan apa-apa dari semua itu, demikian juga dengan pernikahan.

Dalam Adab An-Nikah wa Kasr Asy-Syahwah (26-33), Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa setidaknya ujian dalam pernikahan ada tiga macam:

Pertama, sulit mendapatkan harta yang halal. Hal ini tidak mudah dihadapi oleh setiap orang, -apalagi saat ini keadaan perekonomian tidak stabil-, sehingga pernikahan pun menjadi salah satu pemicu untuk meraup pundi-pundi rupiah dari perbuatan keji lagi haram. Karena hal inilah, dia dan keluarganya akan binasa.

Orang yang membujang lebih aman dalam menghadapi ujian ini. Sedangkan orang yang berkeluarga, kebanyakan akan terjerumus dalam  keburukan, karena dia selalu memperturuti keinginan istrinya, hingga akhirnya dia akan menjual akhiratnya demi mendapatkan dunia.

Kedua, tidak bisa memenuhi hak istrinya, tidak sabar menghadapi akhlaknya dan tidak sanggup menanggung derita karenanya. Ujian ini lebih mudah dibandingkan ujian yang pertama, karena menghadapinya lebih ringan daripada menghadapi ujian yang pertama.

Memperbaiki akhlak sang istri dan memenuhi kebutuhannya lebih ringan daripada mencari harta yang halal. Namun dalam hal ini juga ada yang perlu diwaspadai, karena sang suami adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungan jawab akan kepemimpinannya. Rasulullah Shallallahu Alaih wa Sallam bersabda, “Cukuplah seseorang berdosa jika dia menyia-nyiakan keluarganya.

Ketiga, istri dan anaknya menyibukkan dia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keduanya menuntut dia untuk mencari dunia, memperbaiki kehidupan keluarga dengan cara mengumpulkan dan menumpuk harta untuk mereka, serta mencari kemewahan dan kemegahan bersama mereka. Setiap sesuatu yang bisa menjauhkan diri dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik berupa istri, harta dan anak, maka ia akan berdampak negatif terhadap pemiliknya. Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/

Gelar Daurah Ilmiah Al-Quds,  WI Hadirkan Wakil Ketua Komite Al-Quds

Gelar Daurah Ilmiah Al-Quds,  WI Hadirkan Wakil Ketua Komite Al-Quds

(Makassar) wahdahjakarta.com-,  DPP Wahdah Islamiyah menggelar Daurah Ilmiyah al-Quds bertema “Daurah Nuruddin Ibnu Mahmud Zanki Lil Uluum Al Maqdisiyah” bertempat di Hotel Remcy Jl. Boulevard Blok F5 No.9, Panakkukang, Kota Makassar, Sabtu (1/9). Daurah atau pelatihan tersebut menghadirkan Ulama Palestina sekaligus Wakil Ketua Komite Al Quds Persatuan Ulama Se Dunia Syaikh Samir Said Muhammad Isa.

Selain Syaikh Samir, turut hadir sebagai penerjemah ustadz Muhammad Ikhwan Abdul Jalil Lc. M.HI., Ketua Dewan Syuro Wahdah Islamiyah. Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Samir mengatakan, bahwa tujuan diadakannya pelatihan ini agar memahamkan peserta terkait al-Quds sebagai sebuah kota milik kaum Muslimin yang harus dijaga dan dibebaskan nantinya.

”Bertolak kepada perjuangan Nuruddin Zanky lalu dilanjutkan oleh Shalahuddin Al Ayyubi, kita berharap selanjutnya kitalah yang akan membebaskan tanah suci milik umat Islam ini,” ucapnya.

Ia juga menyampaikan beberapa hal yang orang Israel lakukan untuk menutupi semua kebenaran terkait bangsa Palestina dari dunia luar. Sehingga menurutnya, kebanyakan orang buta dengan sejarah yang sebenarnya.

”Israel itu telah berbohong kepada dunia. Mereka telah membuat makar dengan membunuhi manusia di Palestina, merampas tanah mereka, mengubah identitas tempat suci itu, lalu membuat onar di tanah suci kaum muslimin tersebut,” ujranya.

Kepada akademisi, ia berpesan untuk menggunakan ilmunya di jalan kebaikan, terutama untuk mempertahankan Masjid Al-Aqsa yang sekarang masih terus dikuasai oleh tentara Israel. Ia berharap dengan adanya pelatihan ini akan semakin menambah pemahaman kita tentang Palestina sehingga akan membuat rasa empati dan kecintaan kita kepada tanah suci umat Islam ini semakin bertambah.

Mari buktikan kecintaan kita kepada meraka, saudara-saudara seiman yang sementara berada dalam kondisi terpuruk. Saatnya menyatukan doa, suara, infak dan usaha jihad demi kemenangan Al Quds. Bagi anda yang ingin berkontribusi untuk berkontribusi membantu saudara kita di Palestina, dapat menyalurkan donasinya melalui rekening Bank Syariah Mandiri (451) 799 900 900 4 an LAZIS Wahdah Care. Kode program 940. Contoh Rp 2.000.940,-. Konfirmasi ke 085315900900. []

Para Pengajar Al-Qur’an Metode Dirosa Konsolidasi dan Berbagi Tips

Kumpul di TMII, Para Pengajar Al-Qur’an Metode Dirosa Konsolidasi dan Berbagi Tips

Penemu metode Dirosa Ustadz Komari pada TOT Dirosa Nasional di Jakarta, Jum’at-Ahad (31/08-02/09/2018)

Kumpul di TMII, Para Pengajar Al-Qur’an Metode Dirosa Konsolidasi dan Berbagi Tips

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Selama tiga hari berturut-turut sejak Jum’at (31/08/2018) sampai Ahad (02/09/2018) sore Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok menggelar Training Of Trainer  (TOT) Pengajar Al-Qur’an metode Dirosa. Training berskala nasional ini mengambil lokasi di Anjugan Jawa Barat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur.

Para peserta yang merupakan utusan dari berbagai daerah Cabang Wahdah Islamiyah dibekali berbagai skill sebagai trainer atau pelatih pengajar Al-Qur’an metode Dirosa. Sebuah  metode belajar Al-Qur’an dari dasar bagi orang dewasa yang disusun oleh kader Wahdah Islamiyah Ustad Komari.

Oleh karena para peserta training merupakan para pengajar yang telah berpengalaman mengajar Al-Qur’an dengan metode Dirosa, maka panitia menyelipkan Agenda Konsolidasi, sharing pengalaman dan tips dalam mengajak untuk orang dewasa untuk belajar Al-Qur’an.

Diantara peserta yang berbagi pengalaman mengajak belajar Al-Qur’an  Ustadz Abdurrahman utusan Wahdah Islamiyah Kolaka Sulawesi Tenggara.

Salah satu cara efektif menurut alumni pelatihan da’i (tadrib addu’at)  Wahdah Islamiyah tahun angkatan 2011 dalam menjalankan program dirosa ini adalah dengan cara ‘menjemput bola’, tidak menunggu mereka yang mau datang belajar.

Ibu ibu pengantar yang sedang menunggu anaknya belajar di kelas pada sebuah sekolah dasar, ditawari untuk belajar membaca Al-Quran. Mereka masing-masing diminta memperdengarkan bacaanAl-fatihah dan melafalkan penyebutan huruf hijaiyyah.

Dari sini diketahui bahwa mereka umumnya bacaan mereka masih sangat jauh dari standar bacaan Al-Qur’an yang benar. Pertemuan singkat tersebut kemudian dimanfaatkan oleh sang guru ngaji guna menawarkan program belajar Al-Qur’an dengan menggunakan metode Dirosa. Gayung pun bersambut, mereka tertarik dan mau belajar.

Pengalaman dalam dakwah bersama Wahdah Islamiyah cabang Kolaka Sulawesi Tenggara memberikan penglaman kepada pria kelahiran Palopo, Sulawesi Selatan ini, cara sangat efektif dan efisien menyentuh masyarakat dan mengajak mereka belajar ngaji  melalui metode dirosa ini dengan cara ‘menjemput bola’, tidak menunggu mereka yang mau datang belajar. (AA/sym)

Wahdah Islamiyah Adakan Sekolah Sementara Bagi Anak-Anak Korban Gempa Lombok

Wahdah Islamiyah Adakan Sekolah Sementara Bagi Anak-Anak Korban Gempa Lombok

Sekolah Sementara Anak-Anak Korban Gempa Lombok

Wahdah Islamiyah Adakan Sekolah Sementara Bagi Anak-Anak Korban Gempa Lombok

(Lombok) wahdahjakarta.com—Diantara program Wahdah Islamiyah untuk Lombok adalah mengadakan sekolah sementara untuk anak-anak yang sekolahnya hancur karena gempa tepatnya di Dusun Jelaten, Desa Gegerung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat.

Menurut Gunawan Mansur, Koordinator pengajar tim guru ‘Sekolah Sementara Wahdah Islamiyah’ bahwa pendirian tersebut sudah direncakan dan bertujuan mempertahakan mental postif anak-anak di Lombok. Terlebih dampak sekolah yang hancur membuat anak-anak merasakan kesulitan dalam hal mendapatkan pelajaran sebagaimana saat dahulu sekolahnya masih utuh.

“Ya, ini kan sebagai misi Wahdah Islamiyah juga yaitu membangun SDM, kita ingin anak-anak di Lombok tetap mendapatkan pendidikan yang baik untuk masa depan mereka. Sekolah ini akan menjadi tempat mereka belajar ilmu umum dan terkhusus ilmu agama tentunya,” tegas Gunawan, Jumat (31/8).

Ia menambahkan, harapan Wahdah Islamiyah sebagai salah satu Ormas Islam di Indonesia adalah ingin melihat kembai senyum anak-anak Lombok yang sempat redup pasca gempa yang mengguncang Lombok.

”Semoga ikhtiar ini akan membawa senyum bahagia bagi anak-anak Lombok. Pendidikan adalah modal utama bangsa ini untuk maju. Kita upayakan bukan hanya di Lombok Barat melainkan di Kabupaten lainnya di NTB ini yang terdampak gempa,” tutupnya. []

Sumber dari: http://wahdah.or.id/

Wahdah Islamiyah Jakarta Gelar TOT Pengajar Al-Qur’an Metode Dirosa

Wahdah Islamiyah Jakarta Gelar TOT Pengajar Al-Qur’an Metode Dirosa

Wahdah Islamiyah Jakarta Gelar TOT Pengajar Al-Qur’an Metode Dirosa

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Tema Al-Qur’an sangat strategis dalam melakukan penetrasi dakwah umum ke masyarakat. Beberapa lembaga dakwah yang bermunculan akhir akhir ini  juga mengambil branding mengenai Al Quran.

Salahsatu program dakwah umum yang di jalankan oleh Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok adalah program pembelajaran Al-Qur’an khusus orang dewasa melalui metode khusus yang dikenal dengan Dirosa (Pendidikan Al-Qur’an Orang Dewasa).

“Metode Dirosa ini adalah  program andalan lembaga Wahdah Islamiyah”, ujar Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok Ustadz Ilham Jaya Abdul Rauf saat membuka Traininf of Trainer (TOT) Nasiona Pengajar DIROSA yang digelar di Anjungan Jaba Barat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur pada Jum’at (31/08/2018).

Wahdah Islamiyah Jakarta Gelar TOT Pengajar Al-Qur’an Metode Dirosa

Ketua DPW Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok Ustadz Ilham Jaya Abdul Rauf Pada Pembukaan TOT Pengajar Al-Qur’an Metode Dirosa di TMII Jakarta, Jum’at (31/08/2018)

“Untuk mengantisipasi permintaan pengajar Al-Qur’an  metode Dirosa di daerah, harus diiringi ketersediaan tenaga pengajarnya. Dalam melahirkan para pengajar Dirosa di berbagai daerah, maka diperlukan para trainer yang siap melatih para dai menjadi pengajar dirosa”, jelasnya.

Kegiatan ini digagas oleh Tim Dirosa Pusat Wahdah Islamiyah  dibawah kordinasi Lembaga Pembinaan  Pengelolaan dan Pengajaran Quran (LP3Q) bekerja sama dengan Departemen Pendidikan DPW WI DKI Jakarta Depok sebagai panitia enyelenggara lokal.

Kegiatan ini digelar selama 3 hari 31 Agustus – 2 September 2018 dan diikuti oleh 50 orang peserta utusan WI se Indonesia. [Anwr/sym].