H+4 Penanganan Korban Tsunami, 430 Korban Meninggal Berhasil Dievakuasi

Proses evakuasli pasca Tsunami yang menerjang wilayah sekitar selat Sunda.

(Jakarta) wahdahjakarta.com –Memasuki hari keempat pasca tsunami selat Sunda proses evakuasi terus dilakukan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan,   total korban meninggal dunia yang telah dievakuasi hingga hari Rabu (26/12/2018) mencapai 430 jiwa.

Data tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho pada jumpa pers di Graha BNPB, Rabu(26/12/2018).

Sebanyak 1495 orang mengalami luka luka, 159 orang hilang, dan 21.991 lainnya mengungsi ke tempat yang lebih aman.

“Data korban terjadi kenaikan dan penurunan sangat membingungkan karena setelah kita korscek, baik data dari posko antar kabupaten, kemudian posko data dari TNI, data dari Basarnas dan sebagainya. Ada beberapa korban yang namanya ternyata double. Sehingga ada daerah yang mengalami penurunan dan ada juga daerah yang mengalami kenaikan.” Ujar Sutopo.

Untuk kerusakan fisik, Sutopo menyebutkan  sebanyak 924 unit rumah, 73 penginapan & hotel, dan 60 warung dan kedai mengalami kerusakan.

Sutopo juga menyebut sebanyak 434 perahu, 24 kendaraan roda empat, 41 kendaraan roda dua dan beberapa fasilitas publik lainnya mengalami kerusakan. Seperti pelabuhan, dermaga, shelter, dll. []

Sekjen MUI: MUI Belum Pernah Keluarkan Fatwa Tentang Ucapan Selamat Natal

(Jakarta) wahdahjakarta.com– Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Sekjen MUI) Anwar Abbas mengatakan, MUI belum pernah mengeluarkan fatwa tentang ucapan selamat natal.

Hal itu disampaikan Buya Anwar menanggapi polemik pasca beredarnya video KH. Ma’ruf Amin menyampaikan ucapan selamat natal yang disiarkan berbagai media di tanah air.

“Untuk adanya kejelasan bagi masyarakat tentang  masalah tersebut maka dengan ini saya sebagai Sekjen MUI menyampaikan bahwa MUI belum pernah mengeluarkan fatwa tentang boleh dan atau tidak bolehnya umat Islam  menyampaikan ucapan selamat natal kepada yang merayakannya”, ujar Anwar dalam keterangan tertulis yang diterima wahdahjakarta.com, Selasa (25/12/2018).

Yang sudah ada fatwanya, lanjut Buya Anwar yaitu tentang perayaan natal bersama dimana keputusan fatwanya adalah berbunyi  sebagai berikut:

  1. Perayaan Natal di indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS  akan tetapi  natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal2 yang diterangkan diatas.
  2. Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram.
  3. Agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah subhanahu wa ta’ala dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.

Selain itu kata Anwar, MUI juga telah mengeluarkan fatwa (2016) tentang haramnya umat Islam mengenakan atribut keagamaan non Muslim.

“Jadi dengan demikian jelaslah bahwa sampai saat ini  soal ucapan selamat natal terhadap orang-orang yang merayakannya belum pernah dibahas secara mendalam oleh MUI dan oleh karena itu sampai saat ini, MUI belum pernah memiliki fatwa tentang masalah tersebut”, jelasnya.

“Tetapi meskipun demikian  MUI tahu dan menyadari bahwa dalam masalah tersebut ada perbedaan dan  pertentangan pendapat di antara para ulama. Dan dalam menghadapi perbedaan dan pertentangan  pendapat tersebut MUI belum belum  mengambil sikap”, ungkapnya. []

Toleransi Orisinil dan Polemik  (Muslim) Ucapkan Selamat Natal

Toleransi Orisinil dan Polemik  (Muslim) Ucapkan Selamat Natal

(I)

Hakikat Islam adalah penyerahan diri (istislam) secara total kepada Allah melalui Tauhid dan taat serta berlepas diri dari kesyirkan dan pelakunya. “Al-Islam huwa al-istislamu LiLlahi bit Tauhid wal Inqiyadu Lahu Bith Tha’ati wal baraa atu minasy Syirki Wa Ahlihi; Islam adalah berserah diri kepada Allah melalui tauhid dan tunduk kepada-Nya melalui taat (terhadap-Nya) serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan”, jelas Syekh Muhammad At-Tamimi dalam kitabnya Al-Ushul Ats-Tsalatsah.

Makna dan hakikat Islam seperti diejelaskan di atas menunjukan bahwa inti dari makna Islam adalah; Pertama, Istislam. Yakni penyerahan diri secara total kepada Allah yang mengejawantah melalui tauhid. Kedua, Inqiyad, yakni tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah yang mewujud dalam bentuk ketaatan terhadap perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ketiga, Baraah minasy Syirki wa ahlihi, Berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan.

Fokus utama tulisan ini adalah unsur ketiga dari makna dan hakikat Islam sebagaimana disebutkan di atas. Yakni berlepas diri (bara’) dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan. Artinya, tidak akan sempurna iman dan Islam seseorang hingga ia berlepas diri kesyirikan dan pelaku kesyirikan. Berlepas dari dari kesyirikan mengandung arti tidak membenarkan kesyirikan, tidak mentolerir perbuatan syirik. Sementara berlepas diri dari pelaku kesyirikan mengandung makna tidak ikut-ikutan terhadap perbuatan dan perilaku orang musyrik dalam aspek yang merupakan kekhususan dan ciri khas mereka. Termasuk di dalamnya tidak menayampaikan ucapan selamat atas perayaan agama mereka. Sebab ucapan selamat menunjukan pembenaran terhadap keyakinan mereka yang syirik dan kufur.

Keharaman menyampaikan ucapan selamat kepada orang Kafir dan musyrik atas perayaan Agama mereka telah difatwakan oleh para Ulama sejak dahulu. Diantaranya Imam Ibnu Qoyim al-Jauziyah rahimahullah (w.751 H) dalam kitabnya Ahkam Ahlidz Dzimmah. Beliau mengatakan;

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه

Memberi ucapan selamat terhadap syiar orang kafir yang menjadi ciri khas mereka, hukumnya haram dengan sepakat ulama. Misalnya, memberi ucapan selamat untuk hari raya mereka atau ibadah puasa mereka, misalnya dengan kita mengatakan, ‘merry christmas’ atau selamat natal atau ucapan lainnya. Kalimat semacam ini, meskipun orang pengucapnya tidak dihukumi kafir, namun ini termasuk melanggar yang haram. Sama halnya memberi ucapan selamat bagi orang yang sujud kepada salib. Bahkan dosanya lebih besar dan lebih dimurkai Allah, dari pada anda memberi ucapan selamat kepada peminum khamr, atau pembunuh, atau zina dan dosa lainnya. (Ahkam ahlidz-Dzimmah, 1/441).

Imam Ibnu Qoyim al-Jauziyah hidup tahun 700an hijriyah, dan wafat tahun 751 H. Hal itu menunjukkan, kesepakatan ulama yang beliau sampaikan adalah kesepakatan ulama generasi sebelum beliau. Dan perlu diingatkan bahwa untuk urusan aqidah seperti ini hendaknya diserahkan kepada ulama yang memiliki otoritas untuk membahas dan menyampaikan hukumnya boleh tidaknya. Artinya tidak semua orang memiliki otoritas untuk menghukuminya.

(II)

Meskipun telah ada fatwa Ulama tentang ketidak bolehan seorang Muslim menyampaikan ucapan selamat natal, ada saja orang-orang yang ngotot menghendaki ummat Islam mengucapkan selamat natal. Setiap bulan Desember ramai di media sosial diskusi dan polemik tentang ucapan selamat natal ini. Mulai dari artikel di website sampai sekadar kicuaun di facebook, twitter, dan media sosial lainnya. Di sini penulis mengutip tulisan peneliti INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), Ustad Akmal Syafril. Tulisan beliau dipublish oleh: http://www.rappler.com/indonesia/116988-ucapan-selamat-natal-muslim-toleransi.

Intelektual muda ini menulis;

Jika banyak orang mempertanyakan mengapa seorang Muslim begitu ngotot untuk tidak mengucapkan selamat Natal, maka barangkali sekaranglah saat yang tepat untuk bertanya sebaliknya: Mengapa ada yang begitu ngotot memaksa umat Muslim untuk mengucapkan selamat Natal? Apakah ucapan itu sebegitu pentingnya sehingga menjadi tolok ukur kerukunan hidup umat Islam dan Kristen di negeri ini?

Sebagian orang nampak begitu habis-habisan mencari pembenaran untuk memaksa umat Muslim mengucapkan selamat Natal, sampai-sampai menyamakan Natal dengan “Maulid Nabi Isa AS”. Pandangan ini sudah jelas absurd.

Pertama, umat Kristen jelas-jelas merayakan kelahiran Yesus sang anak Tuhan yang disalib untuk menebus dosa-dosa manusia, sedangkan Isa AS yang dikenal oleh umat Muslim adalah seorang Nabi, dan ia tidak mati di tiang salib. Islam pun sangat menolak konsep Trinitas, karena Allah tiada beranak dan tidak pula diperanakkan (lam yalid wa lam yuulad). Keduanya adalah sistem kepercayaan yang sangat berbeda.

Kedua, dan ini juga tidak kalah pentingnya, adalah bahwa umat Muslim meyakini semua Nabi dan Rasul membawa risalah dari sumber yang sama, mengajarkan diin (agama) yang sama, meski ada perubahan syari’at. Dengan kata lain, umat Muslim meyakini bahwa merekalah – dan bukan umat Kristiani – yang sesungguhnya penerus Nabi Isa AS, meski syari’at yang berlaku adalah syari’at Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, jika benar-benar merayakan Maulid Nabi Isa AS, maka mengapa harus menyampaikan ucapan selamat kepada umat Kristiani?

Alasan ketiga adalah fakta bahwa telah terjadi perdebatan di seluruh dunia tentang pemilihan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus itu sendiri. Yang terakhir ini tentu saja membuat ucapan selamat Natal – jika dimaknai sebagai ucapan selamat merayakan Hari Maulid Nabi Isa AS – semakin absurd.

Semua kesimpangsiuran ini hanya mengakibatkan suasana semakin kisruh. Pada akhirnya, toleransi malah kehilangan makna, sebab ada “keseragaman” yang dipaksakan, ada sikap saling menghormati yang hilang, dan kita disibukkan dengan wacana-wacana yang sesungguhnya tidak penting, sedangkan yang benar-benar signifikan pengaruhnya bagi kerukunan hidup berbangsa justru dianggap sebagai angin lalu.

Penulis rasanya tidak pernah menemukan teman Kristen yang meminta (apalagi menuntut) rekan-rekannya yang Muslim untuk mengucapkan selamat Natal. Karena itu, dalam pandangan kami, wacana ini hanyalah isu yang sengaja difabrikasi dan dibesar-besarkan.

Ironisnya, fabrikasi isu nampaknya bukan isapan jempol dalam urusan beragama di negeri ini. Tengoklah misalnya insiden “tilawah Al-Qur’an langgam Jawa” yang juga pernah menimbulkan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat Muslim Indonesia beberapa waktu yang lalu. Meski langgam Jawa diklaim sebagai bukti “harmonisnya” agama dan budaya sejak masa lampau, toh kenyataannya wacana ini tenggelam begitu saja, karena memang tidak sedikitpun mengakar pada masyarakat Indonesia.

Orang Sunda tak memunculkan langgam Sunda, orang Minang tak mengusulkan langgam Minang, dan orang Bugis tentram saja dengan bacaan tilawah yang biasa, tanpa langgam Bugis. Bahkan masyarakat Jawa pun hingga detik ini masih belum akrab dengan langgam Jawa. Wacana ini hilang begitu saja, karena sejak awal memang dimunculkan tanpa alasan yang jelas.

Sementara itu, dari berbagai daerah masih bermunculan laporan adanya toko dan perusahaan ini-itu yang mewajibkan pegawai Muslimnya untuk mengenakan topi Sinterklas. Masih segar dalam ingatan kita tentang masjid yang dibakar di Tolikara dan kasusnya tidak ada tanda-tanda kemajuan hingga kini.

Demikian pula netizen Muslim yang emosinya diaduk-aduk oleh akun Twitter @hikdun yang sudah lama menghina Islam tanpa penyikapan yang jelas dari pihak penegak hukum. Bukankah ini semua – dan kasus-kasus lain semacamnya – adalah masalah toleransi yang sesungguhnya?

Marilah membangun toleransi. Tapi sebelumnya, marilah duduk dan berbicara jujur, dari hati ke hati. (Rappler.com).

(III)

Apa yang disampaikan oleh Akmal pada akhir artikelnya menarik untuk direnungkan. “Mari membangun toleransi. Tapi sebelumnya, marilah duduk dan berbicara jujur, dari hati-ke hati”. Sebab seorang Muslim tentu mengimani bahwa Allah adalah Maha Esa, tidak beranak dan tidak dilahirkan. Seorang Muslim juga meyakini bahwa Isa adalah Nabi Allah, bukan anak Tuhan dan bukan Tuhan. Seorang Muslim meyakini pula bahwa Nabi Isa tidak mati di tiang salib. Lalu bagaimana mungkin seorang Muslim diminta meridhai sesuatu yang bertentangan dengan iman dan aqidahnya. Apakah hal ini dapat menumbuhkan teoleransi dan kerukunan?

Sebagian kalangan yang ngotot “Muslim harus mengucapkan selamat Natal demi toleransi dan kerukunan” mengatakan, ucapan selamat natal tidak menunjukkan pembenaran terhadap keyakinan kaum kristen yang sedang merayakan natal. Lalu apa gunannya ucapan selamat tersebut? Sekadar basa-basi? Katanya demi kerukunan dan toleransi, tapi yang terjadi justeru basa-basai umat beragama.

Tamtsil sederhana berikut penting direnungkan;

Kita mengucapkan selamat kepada salah seorang kawan atau kerabat yang sedang berbahagi di hari wisudanya.”Selamat ya”. Artinya kita turut berbahagia atas kebahagiaan dia mendapat gelar sarjana, sekaligus meyakini dan mempercayai kesarjaannya. Sebab menjadi tidak bermakna dan tidak berguna kita menyampaikan ucapan selamat dan menampakkan turut berabahagia, lalau kita mengingkari dan tidak mempercayai kesarjaannya. Atau contoh lain, ucapan selamat kepada teman yang melangsungkan pernikahn. Artinya kita yakin dan percaya bahwa ia benar-benar menikah. Sangat janggal dan lucu, bila kita mengucapkan selamat atas pernikahan seseorang lalu hati kita tidak mempercayai pernikahannya atau meragukan keabsahan pernikannya.

Oleh karena itu, tidak perlu menumbuhkan kerukunan beragama dengan cara-cara yang mengandung basa-basi seperti diisyaratkan dalam tamtsil di atas. Sebab, kerukunan ummat beragama dapat dibangun tanpa harus mencampur adukan urusan aqidah dan ibadah. Toleransi antar ummat beragama dapat dibangun dengan masing-masing agama tetap pada pendirian masing-masing. Kerukunan dan toleransi dapat dibangun tanpa harus suatu agama terlibat dalam ritual agama lain, meski sekadar ucapan selamat. Inilah toleransi orisinil, yang merupakan salah satu realisasi dari Firman Allah, Lakum dinukum Wa Liya Diin; Untukmu Agamau dan untukkulah agamaku. (terj. Qs. Al-Kafirun ayat 6). Wallahu a’lam. [sym].

Sebelumnya artikel ini dipublikasikan di web wahdah.or.id.

Korban Tsunami Selat Sunda Jadi 429 Meninggal, 1485 Luka-Luka, 154 Hilang dan 16.082 Mengungsi

Relawan Dapur Umum Pelayanan Pengungsi

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Tim SAR gabungan  terus bergerak melakukan penyisiran di daerah terdampak bencana tsunami selat Sunda, yaitu Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Pesawaran dan Tangambus.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, data sementara terdampak bencana tsunami Selat Sunda hingga Selasa (25/12/2018) pukul 13.00 WIB, tercatat 429 orang meninggal dunia, 154 orang hilang, 1485 orang luka-luka dan 16.082 orang mengungsi.

“Jadi, data yang kemarin kami sampaikan, korban mengungsi 5000 lebih. Tapi sekarang ada penambahan-penambahan karena daerah-daerah yang terdampak yang sebelumnya belum di data saat ini berhasil di data oleh petugas. Sehingga total jumlah pengungsi 16.082 orang, yang tersebar di beberapa tempat.” Ujar Sutopo dalam siaran persnya yang diterima wahdahjakarta.com.

Untuk  kerusakan material, lanjut Sutopo  882 unit rumah, 73 penginapan / hotel, dan 60 buah warung dan toko, 1 dermaga serta 1 shelter mengalami kerusakan.

Ada juga beberapa data kendaraan yang mengalami kerusakan, seperti perahu dan kapal sebanyak 434 unit, mobil 24 unit dan sepeda motor sebanyak 41 unit.

“Data terus bergerak, seiring dengan tim SAR gabungan yang terus bergerak melakukan penyisiran di daerah-daerah yang terdampak di 5 kabupaten yaitu pandeglang, serang, lampung selatan, pesawaran dan tangambus. Data ini adalah data sementara per pukul 13.00 WIB yang tentu saja nanti akan bertambah jumlahnya.” Pungkasnya. []

LAZIS Wahdah Kirim Relawan Tambahan ke Daerah Terdampak Tsunami Selat Sunda

Relawan Lazis Wahdah bersiap menuju lokasi terdampak tsunami selat Sunda

(Banten) wahdahjakarta.comLAZIS Wahdah mengirimkan tim relawan tambahan ke daerah bencana tsunami di pesisir pantai Selat Sunda di wilayah Provinsi Banten dan Lampung. Hingga hari ini, dari laporan tim data di lapangan, relawan yang telah diturunkan sebanyak 30 orang.

Wahdah Islamiyah hingga hari ini telah menurunkan total 30 relawan, baik relawan lokal maupun yang dipasok dari berbagai wilayah di Indonesia,” kata Irfan, koordinator relawan LAZIS Wahdah Peduli Tsunami Selat Sunda, Selasa (25/12/2018).

Ia mengatakan, pihaknya hari ini telah mengirimkan lima orang relawan tambahan untuk melakukan assesment lapangan di daerah terdampak bencana dan penyegaran tim sebelumnya.

“Hari ini sudah saya kirimkan bantuan. Relawan juga telah dikirimkan sebagian adalah tenaga medis, dan SAR,” tuturnya.

Selain bantuan logistik, kata Irfan, LAZIS Wahdah juga akan memberikan bantuan secara khusus seperti pada bencana gempa di Lombok dan Palu.

“InsyaAllah dalam waktu dekat bantuan-bantuan logistik juga yang dibutuhkan akan kami kirim, karena bagaimana pun kondisi mereka begitu memprihatinkan. Kemarin kita juga baru saja menyalurkan bantuan di Desa Cibaliung dan Desa Sumur. Desa lain insya Allah menyusul,” jelasnya.

Hingga hari ketiga pasca bencana tsunami, tim relawan telah membentuk sejumlah posko. Selain posko satelit di Desa Cibaliung, LAZIS Wahdah juga telah membangun posko induk di Pondok pesantren wahdah islamiyah,Jl.Belakang Terminal No.1 RT.03 RW.04 Pemancangan,Cipocok Jaya Kota Serang.

Irfan mengatakan hingga saat ini masih banyak keperluan warga yang perlu untuk segera didistribusikan seperti makanan, bantuan medis dan obat-obata, alas tidur, selimut, kebutuhan bayi, paket mandi, dan perlengkapan sekolah.

Ayo bersama LAZIS Wahdah kita bantu warga terdampak Tsunami Selat Sunda, donasi bisa disalurkan melalui melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 499 900 9005 a.n LAZIS Wahdah Peduli Negeri. Konfirmasi Transfer melalui WA/SMS ke +6285315900900

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #tsunamiselatsunda #tsunamibanten #tsunamilampung

Lazis Wahdah Serahkan Bantuan Logistik Untuk Pengungsi Tsunami Selat Sunda

Relawan Lazis Wahdah

(Banten) WahdahJakarta.com – Alhamdulillah, Bantuan berupa 4 dus makanan ringan bergizi tinggi untuk pengungsi tsunami selat sunda  telah tersalurkan, Senin (24/12/20180, pukul 17.30 WIB.

Penyaluran perdana dari LAZIS Wahdah dilakukan di desa Cibaliung, kecamatan Sumur kabupaten Banten.

Suherdi, Koordinator Posko Swadaya Masyarakat di Desa Cibaliung, Kec Sumur, Banten menyampaikan, `Alhamdulillah, dengan kepedulian saudara-saudara kita, kami mengucapkan terimakasih..`

Selanjutnya Desa Cibaliung insyaAllah akan menjadi salah satu posko LAZIS Wahdah.

Bantuan selanjutnya didistribusikan ke posko cabang yang akan dibuatkan tenda. Pendataan penyaluran bantuan masih berlangsung, berapa jumlah pengungsi, dan apa yang dibutuhkan.

`Bantuan baru sampe ke Desa Sumur, sedangkan ke desa lainnya yg terdampak parah, yaitu Desa Kertajaya, Sumber jaya belum tersentuh sama sekali`, kata relawan  LAZIS Wahdah Rudisa Putra.

Hasil pantauan relawan LAZIS Wahdah, bantuan yang diprioritaskan adalah obat, beras, makanan ringan dan bahan-bahan untuk penyiapan dapur umum`, ujar Irfan Korlap Relawan LAZIS Wahdah. []

Laporan:  Rudisa Putra

Bagi yang akan berdonasi dapat mengirimkan bantuan melalui rekening :

BSM (471) 499 900 900 5 an LAZIS Wahdah Peduli Negeri

Informasi selengkapnya hubungi nomer 08119787900 (wa/sms/call)

 LAZIS Wahdah, Melayani dan Memberdayakan

LAZIS Wahdah Jakarta Kirim Tim Reaksi Cepat ke Lokasi Tsunami Selat Sunda

LAZIS Wahdah Jakarta Kirim Tim Reaksi Cepat ke Lokasi Tsunami Selat Sunda

LAZIS Wahdah Jakarta Kirim Tim Reaksi Cepat ke Lokasi Tsunami Selat Sunda

(Jakarta) wahdahjakarta.com – LAZIS Wahdah Jakarta berangkatkan Tim Reaksi Cepat Tanggap untuk membantu korban  terdampak bencana Tsunami Selat Sunda pada Senin (24/12/2018) pukul 01.30 dinihari WIB.

“Bencana tsunami yang kali ini memang tidak sama dan sedikit unik karena tidak didahului dengan gempa sehingga kemungkinan besar memerlukan penanganan khusus dan memerlukan informasi yang lebih akurat di lokasi untuk penanganan kegawatdaruratannya. Pendampingan terhadap masyarakat sangat diperlukan di lokasi agar mereka bisa dibantu keselamatannya dan arahannya.” Ujar Yudi Wahyudi, Ketua LAZIS Wahdah Jakarta.

“Tim LAZIS Wahdah dari Jakarta berencana akan membawa beberapa kebutuhan yang dianggap penting seperti bantuan air minum, roti, kemudian pakaian bekas yang bersifat darurat dan tenaga dari relawan, baik tenaga lapangan maupun tenaga media.” Tambahnya.

Untuk bantuan pangan, LAZIS Wahdah menyediakan beberapa kebutuhan pokok seperti beberapa dus air minum dan biskuit. Kemudian untuk sandang, tim LAZIS juga membawa 3 karung pakaian bekas yang masih layak pakai yang terdiri dari pakaian pria dan wanita, mukena dan jilbab, serta selimut dan handuk.

“Kita belum bisa pastikan secara tepat jumlah bantuan pangannya berapa karena kita tidak bawa langsung dari Jakarta, nanti kita beli ketika sampai di lokasi” ujar Rudi, manager online marketing LAZIS Wahdah Jakarta.

Tim LAZIS Wahdah dikirim dari Jakarta sebanyak 3 orang, terdiri dari 2 orang tim Rescue dan 1 orang tim media yang  merupakan jurnalis dari wahdahjakarta.com. Nantinya tim LAZIS Wahdah Jakarta akan bergabung dan berkoordinasi dengan tim LAZIS Wahdah Jawa Barat yang juga dikirim sebanyak 3 orang yang sudah sampai di Banten semenjak pukul 01.00 dinihari tadi.  [fry]

LIDMI Sampaikan Ucapan Belasungkawa Atas Musibah Tsunami Selat Sunda

Ketua Umum PP LIDMI

(MAKASSAR) wahdahjakarta.com  — Ketua Umum Pimpinan Pusat Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (PP LIDMI) Hamri Muin menyampaikan ucapan belasungkawa mendalam terhadap seluruh korban tsunami selat Sunda yang terjadi pada Sabtu (22/12) malam.

“Keluarga besar LIDMI turut berduka cita sedalam-dalamnya atas musibah tsunami di Selat Sunda terutama Pantai Anyer yang terdampak ,” kata  Hamri.

Hamri berharap agar keluarga korban yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan.

“Doa terbaik kami untuk seluruh korban, tim evakuasi, serta keluarga yang ditinggalkan. Semoga mereka semua ditempatkan di tempat yang layak disis-Nya,” harapnya sebagaimana dalam pesan tertulis yang dikirimkannya, Ahad (23/12).

Pria asal Sebatik ini menyerukan kepada seluruh Jaringan LIDMI se-Indonesia baik wilayah maupun daerah termasuk seluruh lembaga dakwah kampus binaan untuk menggelar aksi simpatik terkait bencana tersebut.

“Saya juga menghimbau kepada seluruh pengurus LIDMI wilayah dan daerah seluruh Indonesia untuk menggalang Dana sebagai wujud rasa simpatik kita terhadap para korban jiwa,” pungkasnya.

Terakhir ia berharap agar keluarga korban bisa tetap bersabar.

“Sabarlah, Insya Allah ini adalah ujian bagi Kita. Dan semoga Allah menganugerahi kita kesabaran yang cukup dalam menghadapi kejadian ini,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menyebut korban tewas akibat terjangan tsunami Selat Sunda di Anyer dan Lampung mencapai 168 orang tewas.

Selain korban tewas, Sutopo menyebut setidaknya 745 orang luka dan 30 orang lainnya masih hilang.

 []

Ketua Umum Wahdah Islamiyah Sampaikan Ucapkan Duka Atas Tsunami Selat Sunda

Ucapan Belasungkawa dari Ketua Umum Wahdah Islamiyah untuk korban tsunami selat Sunda.

(Makassar) wahdahjakarta.com — Ketua Umum Wahdah Islamiyah, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin menyampaikan ucapan dukacita bagi para korban bencana tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) malam.

Ia menegaskan, sejumlah elemen pemerintah saat ini telah bergerak untuk melakukan penanganan bencana termasuk Wahdah Islamiyah yang akan mengirimkan sejumlah relawan.

“Saya mewakili keluarga besar Wahdah Islamiyah turut prihatin atas kejadian tsunami yang terjadi di selat sunda. Semoga seluruh korban mendapatkan tempat yang layak disis-Nya. Dan teruntuk bagi keluarga yang ditinggalkan semoga selalu diberi kesabaran,” ungkap ustad Zaitun di arena Mukernas XI Wahdah Islamiyah di Hotel Sahid Jaya Makassar, Ahad (23/12).

Menurutnya, musibah yang terjadi merupakan ujian dari Allah yang harus kita sikapi dengan hati yang lapang.

“Peristiwa tsunami di selat sunda yang berdampak di Lampung, Padeglang Dan Serang Banten adalah hamba yang lemah dan kematian serta musibah sifatnya datang secara tiba-tiba. Olehnya itu mari kita semakin rendah hati dan bersikap lapang dada untuk menghadapinya,” ujarnya.

Akibat bencana tersebut, sebagaimana laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),  hingga pukul 16.00 WIB telah terdapat 222 orang meninggal dunia, 843 orang terluka, dan 28 orang hilang.

Bencana tsunami menerjang wilayah pantai Selat Sunda menyebabkan sejumlah daerah rusak parah. Wilayah tersebut diantaranya Kabupaten Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan. []

Korban Tsunami Selat Sunda Terus Bertambah: 222 Meninggal Dunia, 843 Luka-Luka dan 28  Hilang

Proses evakuasli pasca Tsunami yang menerjang wilayah sekitar selat Sunda.

(Jakarta) wahdahjakarta.com — Jumlah korban dan kerusakan akibat tsunami yang menerjang wilayah pantai di Selat Sunda terus bertambah. Data sementara yang berhasil dihimpun Posko BNPB hingga Minggu 23/12/2018 pukul 16.00 WIB tercatat 222 orang meninggal dunia, 843 orang luka-luka dan 28 orang hilang.

Kerusakan material meliputi 556 unit rumah rusak, 9 unit hotel rusak berat, 60 warung kuliner rusak, 350 kapal dan perahu rusak. Tidak ada korban warga negara asing. Semua warga Indonesia. Korban dan kerusakan ini meliputi di 4 kabupaten terdampak yaitu di Kabupaten Pandeglang, Serang, Lampung Selatan dan Tanggamus.

Jumlah ini diperkirakan masih akan terus bertambah karena belum semua korban berhasil dievakuasi, belum semua Puskesmas melaporkan korban, dan belum semua lokasi dapat didata keseluruhan. Kondisi ini menyebabkan data akan berubah.

Dari total 222 orang meninggal dunia, 843 orang luka-luka dan 30 orang hilang terdapat di:

Kabupaten Pandeglang tercatat 164 orang meninggal dunia, 624 orang luka-luka, 2 orang hilang. Kerusakan fisik meliputi 446 rumah rusak, 9 hotel rusak, 60 warung rusak, 350 unit kapal dan perahu rusak, dan 73 kendaraan rusak. Daerah yang terdampak di 10 kecamatan. Lokasi yang banyak ditemukan korban adalah di Hotel Mutiara Carita Cottage, Hotel Tanjung Lesung dan Kampung Sambolo.

Banyak korban adalah wisatawan dan masyarakat setempat. Daerah wisata sepanjang pantai dari Pantai Tanjung Lesung, Pantai Sumur, Pantai Teluk Lada, Pantai Panimbang dan Pantai Carita sedang banyak wisatawan berlibur yang kemudian diterjang tsunami.

Korban di Kabupaten Serang tercatat 11 orang meninggal dunia, 22 orang luka-luka, dan 26 orang hilang. Kerusakan bangunan masih dilakukan pendataan.

Sedangkan korban di Kabupaten Lampung Selatan tercatat 48 orang meninggal dunia, 213 orang luka-luka dan 110 rumah rusak. Di Kabupaten Tanggamus terdapat 1 orang meninggal dunia.

Penanganan darurat terus dilakukan. BNPB bersama TNI, Polri, Basarnas, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian PU Pera, Kementerian ESDM, dan K/L terkait terus mendampingi Pemda dalam penanganan darurat. Pemda Provinsi dan Pemda Kabupaten terus berkoordinasi dengan berbagai pihak. Posko, pos kesehatan, dapur umum dan pos pengungsian didirikan untuk menangani korban.

Alat berat dikerahkan membantu evakuasi. Saat ini sedang bekerja 5 unit excavator, 2 unit loader, 2 unit dump truck dan 6 unit mobil tangki air. Bantuan alat berat akan ditambah.

Jumlah pengungsi masih dalam pendataan.

Sumber: Rilis Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Update selanjutnya di sini