Sikap Politik MIUMI Menyambut Pemilu dan Pilpres 2019

Konfrensi Pers MIUMI tentang sikap Politik MIUMI menyambut Pemilu dan Pilpres 2019, Jakarta, (29/01/2019)

(Jakarta) wahdahjakarta.com -, Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menyampaikan sikap politik menyambut Pemilihan Umum (Pemilu), Pileg, Pilpres, dan pemilihan anggota DPD RI 2019. Pernyataan sikap disampaikan melalui konfrensi pers yang digelar di Jakarta, Selasa (29/01/2019).

Berikut selengkapnya:

SIKAP POLITIK MAJELIS INTELEKTUAL DAN ULAMA MUDA INDONESIA (MIUMI)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) adalah sebuah komunitas para tokoh dari berbagai ormas dan lembaga yang menjadikan ilmu sebagai basis gerakan dan perjuangan sekaligus sarana mereka untuk bersinergi,  termasuk gerakan poltik keumatan  menyambut Pilpres, Pileg dan pemilihan DPDRI 2019. Jargon gerakan politik keumatan MIUMI adalah “INTEGRASI KEISLAMAN DAN KEBANGSAAN”, maka terkait jargon politik tersebut berikut beberapa pernyataan sikap MIUMI:

  1. Islam sebagai agama universal bagi seluruh manusia memandang politik sebagai sarana ibadah yang agung dalam rangka menata kelola kehidupan publik yang berkeadilan dan mensejahterakan masyarakat dan bangsa. Karenanya Islam dan Politik tak dapat dipisahkan bahkan menjadi satu kesatuan yang integral. Karenanya umat Islam menolak sekularisme dan liberalisme yang hendak memisahkan Islam dengan politik kebangsaaan.
  2. Tiga (3) kerangka dasar Islam yaitu; Aqidah, Syariah dan Akhlaq telah menjadi sendi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak awal berdirinya bahkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Pancasila dan UUD 1945, maka kami akan menolak dan melawan setiap upaya yang akan menyingkirkan narasi dan nilai Islam dari pondasi NKRI dan UUD 1945 misalnya narasi dan nilai Komunisme, Leninisme, dan Marxisme sebagaimana tertuang dalam TAP MPRS No. 25 Tahun 1966, demikian pula sekularisme dan liberalisme karena telah menjadi gerbang masuknya berbagai sampah ideologi yang bertentangan dengan ideologi bangsa dan Negara Indonesia yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
  3. Umat Islam sebagai pemilih terbesar yang menentukan nasib ummat dan bangsa dalam Pilpres, Pileg dan Pemilihan DPDRI pada tahun 2019 nanti, untuk itu kami menghimbau;
  4. a. Agar seluruh ummat Islam agar tidak golput dan menggunakan hak pilihnya dengan memilih calon yang berpihak pada kepentingan Islam dan umat Islam yang otomatis berpihak pada kepentingan bangsa.

b. Agar umat Islam jangan mau lagi menjadi sekedar pemanis saat pemilu raya atau hanya menjadi pendorong mobil mogok setelah pemilu raya. Pilhlah para calon yang berpihak pada kepentingan umat dan bangsa serta jangan memilih calon yang berasal dari kelompok atau organisasi atau pribadi yang anti Islam dan tidak memperhatikan kepentingan umat Islam dan bangsa. Bahkan umat Islam

c. Mengajak semua umat Islam agar menjaga persaudaraan dan persatuan atas dasar sesama muslim dan sesama bangsa, jangan menyerang sesama muslim hanya karena berbeda pilihan politik, jangan pula menyerang ulama, lembaga keulamaan, ormas Islam dan lembaga Islam manapun. Dan senantiasalah menjunjung tinggi nilai Bhineka Tunggal Ika sebagaimana yang diajarkan Alquran dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Jakarta, 29 Januari 2019.

Bachtiar Nasir

SEKJEND MIUMI

Ustadz Salim A. Fillah Sampaikan Klarifikasi Insiden di Masjid Jogokariyan

Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Photo: Suaramasjidotcom

(Yogyakarta) wahdahjakarta.com –, Ustadz Salim A. Fillah  menyampaikan klarifikasi terkait insiden pelemparan masjid Jogokaryan oleh rombongan konvoi salah satu partai politik yang terjadi, Ahad (27/01/2019) lalu.

Wahdahjakarta.com mendapatkan teks klarifikasi pada postingan Ustadz @Salimafillah melalui halaman Facebook @Salimafillah, Senin (28/01/2019) sore. Ia kemudian mempersilahkan untuk menyebarkan klarifikasi tersebut.

“Klarifikasi Kejadian di Masjid @jogokariyan Ahad Sore yang lalu; kami sampaikan sebagai pernyataan resmi Takmir Masjid Jogokariyan. Bagi Shalih(in+at) yang merasa perlu untuk menyebarluaskan skrinsyut di bawah ini, kami persilakan”, tulis da’i dan penulis produktif ini pada akun twitter @Salimafillah.

Pada hari Ahad, 27 Januari 2019, Masjid Jogokariyan menyelenggarakan rangkaian acara Pemilihan Takmir Masjid Jogokariyan di antaranya adalah;

  1. Jalan Sehat Warga Jogokariyan
  2. Pembukaan Agenda Pencoblosan oleh Kapolresta dan Wakil Walikota Yogyakarta
  3. Pemungutan Suara
  4. Pengajian dan Pembagian Paket Santunan Sembako untuk 390 Keluarga Kurang Mampu

Seusai pembagian paket santunan sembako sekitar pukul 16.05 WIB, warga yang hendak pulang dikejutkan oleh aksi pelemparan ke arah Masjid dan jama’ah yang dilakukan konvoi massa PDIP sambil menggeber suara bising motornya, sehingga merusak prasasti nama Masjid dan tenda kegiatan. Alhamdulillah, terpasangnya tenda kegiatan di depan Masjid mengurangi kerusakan dan meminimalisasi timbulnya korban.

Merasa terpanggil karena jama’ah pengajian dan pembagian santunan banyak yang histeris, warga Jogokariyan kemudian keluar untuk menghalau konvoi massa PDIP sampai keluar kampung.

Demi menjaga kondusivitas, keamanan, dan ketenteraman Kota Yogyakarta khususnya dan secara Nasional pada umumnya; Takmir Masjid Jogokariyan dengan i’tikad baik bersegera menyambut inisiatif Mediasi dari Kapolsek Mantrijeron dan Danramil Mantrijeron, di Kantor Kecamatan Mantrijeron.

I’tikad baik Takmir Masjid Jogokariyan tersebut, diwakili oleh Ketua Takmir H.M. Fanni Rahman, S.I.P membuahkan kesepakatan dengan Tokoh PDIP Kecamatan Mantrijeron, Junianto Budi Purnomo yang sebagaimana tertera dalam Surat Bermaterai di atas yang mana pihak konvoi PDIP diwakili Junianto Budi Purnomo meminta maaf kepada pihak Masjid Jogokariyan dan Pihak konvoi PDIP diwakili Junianto Budi Purnomo menyatakan sanggup mendatangkan Sdr. Kristiono alias Kelinci selaku provokator dan penggerak aksi penyerangan untuk meminta maaf kepada pihak Masjid Jogokariyan.

Demikian pernyataan Takmir Masjid Jogokariyan sejelas-jelasnya, sesuai dengan fakta dan hasil mediasi yang telah ditandatangani di atas materai dan disaksikan oleh Camat, Kapolsek, Danramil, dan Bawaslu Kecamatan Mantrijeron, dengan harapan agar keamanan, ketertiban, ketentraman, dan kerukunan selalu terjaga di wilayah Kota Yogyakarta dan secara nasional pada umumnya. []

LAZIS Wahdah Bagikan Paket Logistik kepada Tenaga Pengajar Korban Tsunami di Lampung Selatan

Lazis Wahdah
LAZIS Wahdah Bagikan Paket Logistik kepada Tenaga Pengajar Korban Tsunami di Lampung Selatan

(Kalianda) wahdahjakarta.com – Lazis Wahdah Islamiyah menyalurkan bantuan paket logistik kepada puluhan tenaga Pengajar/Guru di SDN 1 dan  2 Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Selasa (29/01/2019).

Paket yang dibagikan berupa sembako untuk menyantuni Guru yang menjadi korban tsunami di Pesisir Lampung Selatan.

Menurut Yusran, relawan LAZIS Wahdah, paket sembako disesuaikan dengan jumlah tenaga pengajar di dua Sekolah tersebut.

“Totalnya ada 21 Guru, Ini berdasarkan hasil kunjungan kami sebelumnya saat memberikan Paket Sekolah disertai Trauma Healing kepada siswa di sekolah tersebut. Kepala Sekolahnya meminta agar Guru juga jika bisa diberikan perhatian,” pungkasnya.

Dia menambahkan, selain sembako, bantuan lainnya adalah Trauma Healing yang rencananya akan diberikan berupa bimbingan kerohanian kepada seluruh Guru.

“Program kami untuk Trauma Healing Insya Allah akan diadakan secara intensif, berkelanjutan. Yakni bimbingan rohani kepada guru-guru yang Insya Allah akan disertai dengan pengajian Alquran,” tukas Yusran.

Sebelumnya, Kepala Sekolah SDN 1 Kunjir Haeruddin memberikan kesaksian bahwa selama sebulan, relawan yang mengunjungi sekolah hanya melibatkan anak-anak atau para siswa, baik berupa Trauma Healing maupun santunan.

“Padahal saya harapnya Guru lebih diperhatikan pak. Karena Guru disini juga butuh Trauma Healing, butuh santunan, entah itu sembako atau santunan lainnya. Karena disini bukan hanya Siswa, namun juga ada Guru sebagai penggerak Kegiatan Belajar Mengajar (KBM),” tambahnya.

Bintara Pembina Desa (Babinsa) setempat, Darwis ikut memberikan apresiasi atas program LAZIS Wahdah ini.

Menurutnya, relawan LAZIS Wahdah yang telah terjun selama sebulan di lokasi telah membantunya untuk melakukan perbaikan terhadap desa binaannya.

“Bapak-bapak hadir jauh-jauh dari Sulawesi dan daerah lainnya tentu bukan sesuatu yang biasa. Ini mungkin karena panggilan jiwa pak yah. Sehingga kami sangat bersyukur dan berharap bapak-bapak bisa tinggal lebih lama lagi disini,” harap Pria berpangkat Sersan Satu (Sertu) di TNI AD ini.

Sepekan sebelumnya, Relawan LAZIS Wahdah mengadakan terapi Psikososial di sekolah tersebut, yang mengikutsertakan siswa yang menjadi korban serius dari Tsunami yang menerjang. (*rls)

Batasan Wajah yang Wajib Dibasuh dalam Wudhu

Batasan Wajah yang Wajib dibasuh dalam Wudhu

Ilustasi : Fiqh Wudhu

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum Wa Rahmatullahi Wa barakatuh, Mohon penjelasan tentang batasan wajah yang wajib dibasuh dalam wudhu.  Apakah ada dalil dalam masalah ini?

Jawaban

Alhamdulillah

Makna dan batasan wajah berdasarkan dua dalil syar’i;

Pertama, Dari sisi bahasa (Arab) yang dengan bahasa tersebut Allah menurunkan Al-Quran, dan dengan bahasa tersebut kita mendapatkan ajaran serta tidak ada pertentangan antara hal tersebut dengan ketentuan syariat.

Kedua, Dari sisi kesepakatan (ijma’) para ulama. Dan ijma’ mereka merupakan hujjah (landasan dalil).

Pakar bahasa (Arab) berkata, ‘Al-Wajhu, adalah bagian depan segala sesuatu.’ (Al-Muhith Fil-Lughah, 1/314, Kitabul-‘Ain, 4/66)

Imam Al-Qurthubi berkata, ‘Al-Wajhu menurut bahasa diambil dari kata ‘al-muwajahah’ (berhadap-hadapan), yaitu anggota badan yang meliputi beberapa anggota, memiliki batasan panjang dan lebar; Batasan panjangnya adalah dari ujung kening hingga ujung dagu, sedangkan batasan lebarnya adalah dari telinga ke telinga.” (Al-Jami’ Li Ahkaamil-Quran, 6/83)

Ibnu Katsir berkata, “Batasan wajah menurut para ahli Fiqih adalah, ‘Panjang, antara tempat tumbuhnya rambut, kepala gundul tidak dianggap, hingga ujung dagu, sedangkan lebar antara kedua telinga.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/47)

Wajah, panjangnya adalah antara tempat tumbuhnya rambut hingga dagu dan ujung jenggot, dan lebarnya adalah antara kedua telinga.”

Imam An-Nawawi berkata, “Inilah yang disebutkan pengarang tentang batasan wajah, pendapat ini benar, dan demikianlah kalangan mazhab kami berpendapat serta dinyatakan pula oleh Asy-Syafi’I rahimahullah dalam Kitab Al-Umm.” (Al-Majmu’)

Dia juga berkata, “Bangsa Arab tidak menamakan wajah kecuali yang berada di muka.” (Al-Jami’ Li Ahkamil Quran, 6/84)

Imam Nawawi juga berkata dalam Kitab Al-Majmu, 1/3, ‘Wajah menurut bangsa Arab adalah apa yang didapati saat berhadapan”

Al-Kasani berkata dalam Bada’ius-Shana’i, 1/3, Wajah adalah dari awal rambut hingga bawah dagu dan antara kedua telinga. Ini adalah batasan yang benar, karena merupakan batasan yang dapat ditangkap secara bahasa, karena wajah adalah sesuatu yang berada di hadapan manusia, atau apa saja yang biasanya berada di hadapannya menurut bahasa, dan muwajahah (berhadap-hadapan) biasanya terkait dengan batasan ini.’

Perhatikan: Daqa’iqu Ulin-Nuha, 1/56, Kisyaful-Qana’, 1/95, Al-Mughni, 1/83, Tabyinul-Haqa’iq, 1/2, Fathul-Qadir, 1/15, Mathalib Ulin-Nuha, 1/113, Raddul-Muhtar, 1/96, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 4/126, Tafsir Ibnu Katsir, 3/48, Al-Kulliyyat, 1628, Al-Lubab, 7/219, Tafsir Al-Baghawi, 3/21, Nuzumud-Durar, 2/403.

Para Mufasir (ahli tafsir) dan Fuqaha (ahli fiqih) serta ahli bahasa berpendapat sama yaitu bahwa wajah adalah apa yang tampak saat berhadapan, dan itu merupakan batasannya. Cukuplah hal tersebut menjadi landasan syar’i. Wallahu ta’ala a’lam.[]

Sumber: Islamqa.info/id

Hukum Berwudhu dengan Memasukkan Tangan ke dalam Gayung

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, Idzin bertanya. Bolehkah berwudhu dengan memasukkan tangan ke dalam wadah air seperti gayung atau ember? (Abdullah)

Jawaban:

Boleh berwudhu dengan memasukkan tangan ke dalam wadah air, baik berupa bak air, ember, gayung dan sebagainya. Dengan syarat  membasuh atau mencuci tangan tangan tiga kali di luar wadah, sebelum memasukannya ke dalam wadah. Hal ini berdasarkan praktik wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diterangkan dalan hadits shahih riwayat Imam Muslim.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ الأَنْصَارِيِّ ، وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ ، قَالَ : قِيلَ لَهُ : ” تَوَضَّأْ لَنَا وُضُوءَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَدَعَا بِإِنَاءٍ ، فَأَكْفَأَ مِنْهَا عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلَاثًا ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ ، فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ ، فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثًا ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ ، فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ ، فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ، مَرَّتَيْنِ ، مَرَّتَيْنِ ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا ، فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَأَدْبَرَ ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ، ثُمَّ قَالَ : هَكَذَا كَانَ وُضُوءُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “

Dari Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim al-Anshari, dia adalah seorang sahabat Nabi, dikatakan kepadanya, “Praktikkanlah kepada  kami wudhu’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam !” Dia meminta wadah air, lalu dia menumpahkan sebagian air itu pada kedua (telapak) tangannya, lalu dia membasuhnya tiga kali.

Lalu dia memasukkan satu tangannya (ke dalam wadah air itu), lalu mengeluarkannya, lalu dia berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung dari satu telapak tangannya. Dia melakukannya tiga kali.

Lalu dia memasukkan satu tangannya (ke dalam wadah air itu), lalu mengeluarkannya, lalu dia membasuh wajahnya tiga kali.

Lalu dia memasukkan satu  tangannya (ke dalam wadah air itu), lalu mengeluarkannya, lalu dia membasuh kedua tangannya sampai siku-siku dua kali, dua kali.

Lalu dia memasukkan satu  tangannya (ke dalam wadah air itu), lalu mengeluarkannya, lalu mengusap kepalanya. Dia memajukan kedua tangannya lalu memundurkannya, kemudian dia membasuh kedua kakinya sampai mata kaki. Kemudian dia berkata, “Seperti inilah wudhu’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .” [HR. Muslim]

Dalam hadits di atas Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim mencontohkan tatacara wudhu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dimana beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya sebanykan tiga kali di luar wadah, kemudian melanjutkan wudhunya membasuh anggota wudhu lainnya dengan memasukan tangannya ke wadah air. Dan cara tersebut merupakan cara wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah disaksikannya. Setelah berwudhu beliau mengatakan, “Seperti inilah wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. [sym].

Rombongan Wanita Berjilbab Bersihkan Sampah Tahun Baru, Netizen: Luar Biasa

Serombongan wanita berjilbab sedang membersihkan sampah di lokasi perayaan Tahun Baru 2019, Pantai Manakarra, Mamuju Sulbar, Selasa (01/01/2019).

(Mamuju)  wahdahjakarta.com –, Serombongan wanita berjilbab lebar tertangkap kamera netizen saat membersihkan sampah di lokasi perayaan tahun baru,  pantai Manakarra Mamuju Sulawesi Barat, Selasa (01/01/2019).

Pemandangan simpatik ini diabadikan seorang netizen atas nama Ali Akbar melalui akun facebook miliknya.

“Suasana masih pagi sekali,  kulihat dari kejauhan  rombongan wanita berjilbab melintas menuju ke arah Jl. Yos Sudarso”, tulis Ali Akbar.

“Awalnya saya mengira  rombongan yang entah mau ke mana rame-rame masih pagi sekali,  tapi kulihat masing-masing dari mereka membawa kresek (kantongan), ada juga pria bertopi tauhid membawa sapu”, lanjutnya.

“Kulihat rombongan wanita berjilbab itu dengan cekatan mengisi kantongannya dengan sampah”, imbuhnya.

Aksi  bersih-bersih sampah tahun baru ini mendapat respon simpatik dari para netizen.  Mereka menyampaikan apresiasi di laman komentar akun fb Ali Akbar.

“Luar biasa”, tulis Netizen Badar Ahmad Fauzi.

“Luar bisa,  semoga mereka diberi keberkahan,  amin”, sambung Abdul Rahman Anwar.

Netizen lain justeru mempertanyakan kepedulian panitia dan peserta acara.

“Pertanyaanku . . . knp yg hadir di acara itu g punya kesadaran utk buang sampah atau knp panitianya g menyediakan sampah tersendiri”, tulis Riri Aisyilla.

Menurut salah satu anggota komunitas ini,  kebiasaan bersih-bersih secara suka rela sudah sejak lama mereka lakukan.  Namun makin massif setelah terinspirasi dari aksi 212. []

Forum Peduli Rohingya Minta UNHCR Segera Selesaikan Kasus Pemukulan Warga Rohingya

Pengungsi Rohingnya didampingi sejumlah lembaga audiensi dengan DPRD Makassar, (21/09/2018)

 (Makassar) wahdahjakarta.com – Forum Peduli Rohingya Makassar meminta Badan PBB untukm pengungsi (UNHCR) agar segera menyelesaikan persolan pemukulan warga Rohingnya oleh pengungsi asal Afganistan di Makassar.

“Kami berharap agar pelaku ini segera ditindak karena kalau tidak, saya khawatir ormas Islam yang selama ini menjadi pembela pengungsi Rohingya yang akan bertindak,” tegas Sekretaris Forum Peduli Rohingya Makassar, Irfan Abu Faiz, sebagaimana dilansir dari Pilarindonesia.com, Selasa (01/01/2019).

Rosyid, salah seorang pengungsi asal Rohingya, yang tinggal di Kota Makassar, mengaku dipukuli oleh salah seorang pengungsi asal Afganistan di wisma penampungan pengungsi yang berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, Senin (31/12/2018), kemarin.

“Tiba-tiba dia datang ke wisma saya dan langsung memukul saya. Padahal, saya tidak tahu apa masalahnya. Untungnya hanya tangan saya kena,” kata Rosyid saat dihubungi, Selasa (1/1/2019).

Selain menganiaya, Rosyid juga mengaku diancam pelaku. “Semua bukti ancamannya itu saya simpan,” ujarnya.

Informasi yang dihimpun, pelaku yang belum diketahui nama terangnya itu sengaja mendatangi Rosyid karena merasa dihalang-halangi untuk menikah dengan salah seorang putri pengungsi asal Rohingya.

Salah seorang pengungsi Rohingya enggan disebutkan namanya, menyampaikan bahwa kalangan pengungsi Rohingya hanya sekadar memperingatkan kepada bapak perempuan itu agar tidak menikahkan anaknya dengan pengungsi asal Afganistan tersebut karena pertimbangan aqidah.

“Saya juga pernah sampaikan ke bapaknya itu wanita, malah saya dimusuhi juga,” ungkapnya.

Sekretaris Forum Peduli Rohingya Makassar, Irfan Abu Faiz, meminta kepada pihak UNHCR dan IOM agar segera menyelesaikan persoalan itu.

“Kami berharap agar pelaku ini segera ditindak karena kalau tidak, saya khawatir ormas Islam yang selama ini menjadi pembela pengungsi Rohingya yang akan bertindak,” tegasnya. []

Sumber: Pilarindonesia.com

Longsor Timbun Puluhan Rumah Menjelang Akhir Tahun 2018 di Sukabumi

Longsor di Sukabumi, Photo: Jabar.pojoksatu.id

(Sukabumi) wahdahjakarta.com — Bencana longsor kembali terjadi dan menimbulkan korban jiwa. Di saat sebagian besar penduduk bersuka cita menyambut tahun baru 2019, bencana longsor terjadi diKampung Cimapag, Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolol, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (31/12/2018) pukul 17.00 WIB.

“Hujan deras yang mengguyur sekitar Desa Sirnaresmi menyebabkan  aliran permukaan di areal hutan dan persawahan. Jenuhnya air menyebankan longsor perbukitan dan materialnya meluncur menuruni lereng kemudian menimbun sekitar 34 rumah kampung adat bagian bawahnya”, Terang Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis kepada wahdahjakarta.com.

Data sementara, lanjut Sutopo,  diperkirakan 8 orang tertimbun longsor, dimana 4 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia. 4 korban lainnya dalam upaya evakuasi namun terkendala cuaca hujan dan gelap karena malam.

“Selain itu listrik padam dan komunikasi seluler juga sulit. Upaya evakuasi akan dilanjutkan besok pagi (hari ini)’’, imbuhnya.

BPBD Kabupaten bersama TNI, Polri, Basarnas, aparat setempat, relawan dan masyarakat melakukan evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban. Pendataan masih dilakukan. Pendataan untuk memastikan jumlah korban dan rumah tertimbun longsor.

Akses jalan menuju lokasi longsor jalanan yang terjal, berbatu dan ditambah cuaca hujan rintik menyulitkan tim untuk melakukan evakuasi. Posko BNPB terus memantau penanganan bencana dan berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sukabumi dan BPBD Provinsi Jawa Barat.

Info lanjut silakan menghubungi: TRC BPBD Kab. Sukabummi Bpk. Rahmawan via tlp. 081311146733 & Polmas Bogor Raya Bpk. Agus Priyo via tlp. 0895338321257. []

Jelang Akhir Tahun, Wantim MUI Sampaikan Tiga Pesan Kehidupan Umat

(Jakarta ) wahdahjakarta.com – Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) sampaikan tiga pesan kepada umat dalam Rapat Pleno Ke-33, Rabu (26/12) di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat.

Ketua Wantim MUI, Prof. Dr. Din Syamsuddin, memaparkan ada tiga tema penting yang dibahas pada Pleno Ke-33 yang bertemakan Muhasabah Kehidupan Umat Akhir Tahun Miladiyah.

Pertama, Wantim MUI merasa prihatin akan musibah dan bencana alam selama fase 2018 ini, antara lain, Gempa Lombok, Tsunami Palu dan Donggala, dan Tsunami Banten dan Lampung.

“Wantim MUI menyampaikan duka cita mendalam dan doa untuk para korban dan keluarganya semoga kuat dan mampu menghadapi ujian ini seraya bertawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kepada umat Islam yang lain diharapkan dapat menggalang dana bantuan untuk meringankan beban korban bencana,“ kata Prof Din.

Kedua, lanjutnya, Wantim MUI merasa prihatin terhadap perkembangan yang terjadi di Provinsi Xinjiang, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), khususnya muslim Uyghur.

“Dari berbagai informasi yang dapat dipercaya telah terjadi pelanggaran HAM berat disana,” terangnya.

Namun demikian, pihaknya juga menerima dan menghormati informasi yang disampaikan pemerintah Tiongkok yang disampaikan melalui duta besar RRT untuk Indonesia, Xian Qian, yang disampaikan lewat Kementerian Luar Negeri RI bahwa tidak terjadi hal yang demikian.

“Kami berharap pemerintah RRT dapat memperlakukan etnis Uyghur sebagai warga negara yang baik dan menerima atau mengundang delegasi ormas Islam untuk melakukan klarifikasi langsung di RRT atau Xinjiang,” ucapnya.

Istilah re-education camp menurut hasil rapat Wantim, menimbulkan banyak persespi pembinaan yang keras dan represif. Wantim MUI, lanjutnya, memiliki kemungkinan untuk bersurat ke pemerintah Indonesia atau langsung ke OKI atau Rabithah Alam Al-Islami untuk memberikan pernyataan terkait fenomena yang terjadi.

Sedangkan point ketiga, kata Prof Din, Wantim MUI merasa prihatin dengan munculnya gejala-gejala pertentangan dan perpecahan, terutama dalam agenda demokrasi Pilpres atau Pileg yang menampilkan dua kubu pendukung yang secara berlebihan saling menjelekkan dan menghina.

Pola komunikasi dialektik ini, lanjutnya, memiliki potensial mengganggu ukhuwah islamiyah dan wathaniyah, terlebih komunikasi via media sosial yang saling menjuluki dengan nama binatang.

“Wantim MUI menyerukan kepada masyarakat, khususnya Umat Islam agar dapat menahan diri dan menjaga persatuan dan kesatuan. Wantim MUI juga mengajak masyarakat untuk tidak menciptakan pertentangan dalam menyampaikan aspirasi,” ungkap Prof Din.

Hadir dalam pleno tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Fachir, Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Desra Percaya, dan Perwakilan Ormas Tingkat Pusat dan Tokoh Ulama Nasional. []

Mui.or.id

Kongres 2018, PP LIDMI Sosialisasikan 32 Standar Operasional Manajemen Dakwah Kampus

MUSPIMNAS LIDMI 2018

(MAKASSAR) wahdahjakarta.com – Melalui Kongres 2018, Pimpinan Pusat Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (PP LIDMI) mensosialisasikan 32 Standar Operasional Pengelolaan (SOP) Manajemen Dakwah Kampus di Aula Pesantren Pondok Madinah, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Ahad (30/12/2018).

SOP manajemen ini dipresentasikan oleh PP Lidmi di hadapan puluhan perwakilan Pimpinan Wilayah (PW) dan Pimpinan Daerah (PD) LIDMI se-Indonesia.

“Semuanya berjumlah 32, yang berasal dari enam Departemen dalam tubuh PP Lidmi, antara lain Departemen Ke-LDK-an, Departemen Humas, Departemen Infokom, Departemen Sosial, Departemen Kajian Strategis dan Departemen Ekonomi,” kata Rustam Hafid, Panitia pengarah Kongres LIDMI 2018.

Diantara SOP yang akan dibahas, lanjut Rustam, adalah Konsep Studi Alquran Intensif (SAINS) Nasional, yang berisi petunjuk umum dan teknis terkait dengan pengadaan bimbingan Alquran kepada seluruh Mahasiswa se Indonesia.

“Terkadang Lembaga Dakwah Kampus (LDK) bingung bagaimana formula yang tepat agar mahasiswa mau belajar Alquran, terutama agar belajarnya intensif. Maka melalui Kongres ini, SOP SAINS ini akan disosialisasikan kepada seluruh PW dan PD,” tutur dia.

“Nantinya, seluruh PW dan PD tersebut akan menurunkan SOP tersebut kepada seluruh LDK binaan di daerah masing-masing,” tambahnya.

SOP Manajemen Dakwah Kampus yang lain diantaranya adalah SOP pembentukan PD Lidmi, yang akan disampaikan kepada PW agar mampu membentuk jaringan daerah di wilayahnya.

“Sesuai dengan harapan Ketua Umum PP LIDMI, ditargetkan seluruh daerah di Indonesia memiliki jaringan LIDMI di dalamnya agar pembinaan Mahasiswa lebih merata di seluruh wilayah Indonesia,” pungkas Hafid.

Sebelumnya, Ketua Umum PP Lidmi Hamri Muin mengatakan, saat ini baru 37 kampus yang resmi dibina oleh LIDMI, selainnya bersifat eksternal dan masih ada ribuan kampus yang belum terjajaki.

“Namun kami akan terus berusaha agar dari ribuan kampus di Indonesia tersebut, LIDMI bisa melakukan pembinaan kepada mahasiswa-mahasiswa di dalamnya,” kata Hamri.

Cita-cita ini mendapat dukungan dari Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, saat membuka Musyawarah Pimpinan Nasional dan Kongres LIDMI 2018 di Gedung Pola Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Sabtu (29/12/2018).

MUSPIMNAS dan KONGRES merupakan agenda tahunan LIDMI yang digelar untuk mengevaluasi kinerja Dakwah Kampus se Indonesia, dengan menghadirkan pimpinan PW dan PD Lidmi se Indonesia. ()