Tolak RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Atau Ubah Jadi RUU Penghapusan Kejahatan Seksual


RUU P-KS tidak komprehensif karena tidak memuat sekaligus pengaturan norma perilaku seksual

Tolak RUU P-KS

Prof Euis Sunarti (Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, Prof. Euis Sunarti mengusulkan agar Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P_KS) diubah menjadi RUU Penghapusan Kejahatan Seksual.

Ketua GiGA (Penggiat Keluarga) Indonesia (Giga Keluarga) ini mengemukanan 7 alasan agar RUU  yang masih menuai prokontra ini ditolak atau diubah dengan mengganti kata kekerasan menjadi kejahatan.  

Berikut adalah beberapa alasannya.

Pertama, Tidak komprehensif karena tidak memuat sekaligus pengaturan norma perilaku seksual. Masyarakat memandang penting pengaturan perilaku seksual bukan hanya pada penghapusan kekerasannya, namun juga meliputi normanya yaitu larangan kejahatan seksual (perilaku seks menyimpang seperti zina, pelacuran, homo dan biseksual).

Dalam RUU P-KS, yang diatur adalah larangan pemaksaanya (pelacuran, aborsi), mengabaikan pelacuran sebagai penyimpangan perilaku seks-nya. demikian juga tidak memasukkan perilaku seks menyimpang lainnya.

Naskah akademik (NA) RUU sama sekali tidak mengakomodir kekerasan seksual terhadap laki-laki yang semakin marak dan menakutkan, yang sebagian besar terkait dengan kejahatan seks menyimpang L987,

Oleh  karenanya tidak bisa dipisahkan antara pengaturan teknis perilaku seksual (kekerasanya) dengan normanya (larangan perilaku seks menyimpang).

Sehingga dipandang penting mengubah RUU ini dari Penghapusan Kekerasan Seksual menjadi Penghapusan kejahatan seksual.

RUU ini tidak memenuhi aspirasi masyarakat Indonesia, diduga karena pihak perumus NA dan draft RUU merupakan pihak yang tidak setuju adanya larangan zina dan L987 dalam KUHP.

Kedua, Menegasikan institusi keluarga (rumah tangga). NA dan RUU ini tidak memberi perhatian dan mengakomodir institusi keluarga di Indonesia yang hidup dengan nilai-nlai konvensional, menjadikan agama (khususnya agama Islam yang dianut mayoritas keluarga Indonesia) sebagai landasan kehidupan. Agama yang dianut keluarga dan masyarakat Indonesia sangat mencela perilaku seks menyimpang.

Secara sosiologis, keluarga di Indonesia menganut paradigma sistem dan struktural fungsional, yaitu pengakuan keluarga sebagai sistem, satu kesatuan dengan struktur yang satu sama lain memiliki fungsi saling melengkapi dan menguatkan. Struktur keluarga (suami-istri; orangtua-anak) dan konsekuensi fungsinya, termasuk pengakuan dan keyakinan bahwa laki-laki sebagai suami menjadi kepala keluarga (UU Perkawinan). Suami sebagai kepala keluarga dituntut role accountability nya, sebagai amanah juga beban, tidak otomatis menjadikanya mulia. Demikian juga hal sama untuk istri, memiliki peran fungsi dan tugas yang dituntut pertanggungjawabanya.

Keluarga Indonesia tidak menganut paradigma konflik sosial yang menjadi landasan teori feminis dan gender (relasi, identitas, ekspresi gender) yang menjadi dasar pengembangan atau perumusan RUU PKS ini.

RUU PKS ini dikembangkan menggunakan feminist legal theory dan gender.

Ketiga, Naskah akademik RUU tidak menjadikan UU no 1 Tahun 1974 tentang perkawinan sebagai acuan dalam mengelaborasi landasan yuridisnya.

Padahal UU perkawinan menjadi dasar pembentukan keluarga Indonesia yang didalamnya mengatur hubungan suami-istri, termasuk pasal yang menyatakan laki-laki sebagai kepala keluarga.

RUU PKS dikembangkan dengan paradigma feminis dan gender equality yang memandang sistem patriarki (salah satunya ditunjukan bahwa laki-laki sebagai kepala keluarga) merupakan penghambat perempuan maju, menjadi sumber dskriminasi perempuan, sehingga harus diubah dan dihapuskan.

Sehingga  RUU ini menjadikan otonomi penuh yang sama laki-laki dan perempuan (dinyatakan dengan frasa Persetujuan yang bebas dari ketimpangan relasi kuasa dan gender) , sebagai definisi kekerasan.

Keempat, RUU ini dikembangkan sama sekali tanpa kajian bagaimana dan apa dampak implementasi aturan terhadap institusi perkawinan dan keluarga.

Jika ketiadaan persetujuan dijadikan syarat perilaku seksual itu dikategorikan sebagai pemaksaan dan kekerasan, bagaimana implementasi dan dampaknya dalam perilaku seksual suami-istri dalam keluarga ?

Mengapa sama sekali tidak mengangkat hasil-hasil kajian yang berlimpah mengenai marital quality (conflict, satisfaction, happiness) dan dampaknya terhadap perceraian ?

Tidak hawatirkah bahwa RUU ini membuka ruang / kesempatan terjadinya marital disharmony, perselingkuhan, dan perceraian.. saat ini kita justru sedang prihatin karena angka perceraian semakin meningkat, 1000 perceraian per hari, dan 40 perceraian per jam. 70% perceraian diajukan perempuan (istri).

Kelima, RUU ini hanya mengedepankan HAK, tanpa menyeimbangkannya dengan kewajiban. Hak setiap individu untuk terbebas dari kekerasan hendaknya diseimbangkan dengan kewajiban untuk memastikan hak nya terpenuhi.

Apalagi jika implementasi hubungan seks antara suami istri dalam ikatan perkawinan, maka penekanan hak saja, akan berpotensi munculnya konflik perkawinan.

Keenam, Definisi kekerasan sangat luas dari pelecehan sampai pemaksaan dan penyiksaan, berpotensi multi tafsir, dan dampak implementasinya dalam kehidupan, khususnya dalam hubungan suami-istri.

Pelecehan pun baik yang fisik (mencolek dll) maupun non fisik (kedipan mata. Isyarat.dll). Jika itu diterapkan dlm hubungan laki-laki dan perempuan sebagai suami istri, maka akan berpotensi menimbulkan masalah.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka RUU ini harus diubah menjadi RUU Penghapusan Kejahatan Seksual, atau dibatalkan.

Ketujuh, Komponen pencegahan dalam RUU ini sangat sedikit dan tidak mengelaborasi faktor kekerasan dan penyimpangan seksual yang harus dicegah dan diantisipasi. lagi-lagi, tidak menjadikan keluarga sebagai bagian penting.

Bogor, 31 Januari 2019

Prof Euis Sunarti (Guru Besar IPB Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, Ketua GiGa (Penggiat Keluarga) Indonesia (Giga Keluarga)).

Apakah “Uang  Terimakasih” Termasuk Suap?

Laknat Allah kepada yang memberi suap dan menerima suap (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syekh Al-Albani)

Pertanyaan

Saya diterima sebagai honorer di kementerian A**. Tapi setelah saya diterima, Kepala kantornya meminta uang sebanyak 5 juta. Katanya sebagai uang terimakasih. Apakah ini termasuk sogok (suap)? Khadafi – Muara bingo

Jawaban:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَعنةُ الله على الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

Artinya: ” Laknat Allah kepada  penyuap dan yang menerima suap”.(HR Ahmad)

Ibnu Athir mengatakan:

‘’Penyuap adalah orang yang memberikan sesuatu (materi atau jasa) untuk memuluskan urusannya yang bathil, adapun (murtasyi) penerima suap adalah yang mengambilnya… adapun jika ia membayar/memberikan sesuatu untuk mengambil haknya, atau untuk mencegah kedhaliman, maka tidak termasuk dalam kategori suap”. “An-Nihayah Fi Gharibil Athar (2/546)”.

Muhammad Syamsul Haq Al-‘Adhim Aabadi mengatakan:

Suap adalah sesuatu yang dibayarkan untuk membatalkan/mengalahkan kebenaran, atau untuk memenangkan kebatilan, adapun memberi sesuatu (materi atau jasa) untuk menjaga dan mengamankan hak milik (atau menegakkan kebenaran) atau untuk mencegah kedhaliman bagi dirinya, maka hal ini hukumnya tidak apa-apa (bukan termasuk suap). (Aunul Ma’bud 9/359).

Berdasarkan pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan:

  1. Jika anda membayarkan sejumlah uang untuk kelulusan sebagai pegawai honorer, maka ini termasuk kategori suap, karena kedudukan sebagai pegawai honorer bukan milik anda, namun milik umum, maka sejumlah uang yang anda bayarkan bertujuan untuk mengalahkan pendaftar yang lain, dan ini adalah kebatilan.
  2. Jika anda lulus sebagai pegawai honorer setelah melakukan serangkaian ujian tertentu, dan anda berhasil lulus dalam ujian-ujian tersebut, tanpa membayarkan sejumlah uang, maka kedudukan pegawai honorer adalah milik anda, karena anda mendapatkannya secara fair. Kemudian dalam prosesnya anda diminta sejumlah uang tertentu sebagai hadiah, dan jika tidak dibayar terancam untuk dibatalkan kelulusannya, maka ini tidak masuk dalam kategori membayar suap bagi anda, karena anda hanya mengamankan posisi yang memang menjadi hak anda. Namun bagi yang meminta uang dari anda, maka harta tersebut adalah harta haram baginya, sebab ia memintanya secara batil/tanpa hak, Allah berfirman:

وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

          Artinya: ”Dan janganlah kalian makan harta diantara kalian dengan jalan yang            batil”.            (QS Al-Baqarah 188)

Dijawab Oleh  : Ust. Lukman Hakim, Lc, M.A (Alumni S1 Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam Medinah Munawwarah dan S2 Jurusan Dirasat Islamiyah Konsentrasi Hadits di King Saud University Riyadh KSA)

Artikel             : wahdah.or.id

Asmaul Husna [33]: Al-Halim (Yang Maha Penyantun)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Dan ketahuilah bahwa Allah maha pengampun lagi maha penyantun”. (Qs. Al-Baqarah: 235)

إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Sesungguhnya Dia  adalah Maha penyantun lagi maha pengampun”.  (Qs.Al Isra: 44)

Ali Bin Abi Thalib radhiallahu Anhu berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi mengajariku sebuah doa agar aku membacanya jika mengalami permasalahan;

لا إله إلا الله الحليم الكريم ، رب العرش الكريم والحد لله ربّ العالمين

Tiada Tuhan selain Allah yang Maha penyantun dan mulia Arsy yang agung segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala Rabb sekalian alam

Al-Halim (yang maha penyantun) artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak terburu-buru membalas dendam walaupun berpuasa melakukannya. Al-Halim tidak terpancing kemarahannya sekedar oleh kemaksiatan dan keddzaliman yang dilakukan manusia. Juga tidak menahan rezeki dan nikmat nikmat-Nya kepada manusia lantaran dosa yang mereka lakukan. Tapi  walaupun manusia berbuat banyak sekali kesalahan dan dosa hal hal ini tetap memberi mereka rezeki.

Sebenarnya Al-halim melihat dan mendengar manusia melakukan kemungkaran, kemaksiatan, dan kekafiran. Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga Maha Kuasa membalas dan mengajak mereka namun Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengadzab mereka. Sebaliknya  Dia tetap sayang kepada mereka dengan harapan mereka akan bertaubat dan kembali taat padanya. (Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

Asmaul Husna (32) Al-Khabir  (Yang Maha Mengetahui Rahasia)

Asmaul Husna Al-Khabir (yang Maha mengetahui rahasia)

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Al-An’am ayat 18 dan 103;

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ 

Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. (Qs. Al-An’am: 18)

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ 

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. (Qs. Al-An’am:103)

Al-Khabir artinya Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui hal yang ada pada masa dulu dan sekarang, mengetahui hakikat sesuatu sebelum terjadinya dan mengetahui hakikat-hakikat yang tersimpan dalam semua hal.

Dalam rangka  itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengajarkan kita melaksanakan salat istikharah.

اللهم إني أستخيرك بعلمك، وأستقدرك بقدرتك ، و أسألك من فضلك العظيم ، فإنك تقدر ولا أقدر ، و تعلم ولا أعلم ، و أنت علام الغيوب 

اللهم إن كنت تعلم أن هذا الأمر (تسمي الأمر ) خير لي ، في ديني و معاشي و عاقبة أمري ، أو قال : عاجل أمري و آجله ، فاقدره لي ويسره لي ، ثم بارك لي فيه ، و إن كنت تعلم أن هذا الأمر (تسمي الأمر ) شر لي ، في ديني و معاشي و عاقبة أمري ، أو قال: في عاجل أمري و آجله ، فاصرفه عني و اصرفني عنه ، و اقدر لي الخير حيث كان ، ثم أرضني به .

“Ya Allah Sesungguhnya aku memohon pilihan kepadaMu dari anugerahmu yang agung. Sesungguhnya Engkau maha kuasa dan aku tidak ada kuasa, Engkau mengetahui dan aku tidak mengetahui, dan Engkaulah Dzat Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang baik.  Ya  Allah jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (menyebutkan urusannya) baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku dan akhir urusanku, (atau beliau bersabda urusan duniaku dan urusan akhiratku) maka buatlah aku kuasa melaksanakannya, mudahkanlah bagiku kemudian berilah aku keberkahan dalam hal itu. Jika  Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku dalam hal agama, kehidupan, dan akhir urusanku,  (atau beliau bersabda urusan duniaku dan urusan akhiratku) maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya.  Berilah aku kebaikan di mana saja ia berada kemudian buatlah aku rela dengannya”.

Saat Nabi Ibrahim Alaihissalam berada dalam kobaran api, Malaikat Jibril Alaihissalam bertanya kepadanya,  “Apakah engkau memerlukan sesuatu?” Nabi Ibrahim Alaihissalam menjawab, “Kalau bantuan darimu aku tidak memerlukannya, kalau bantuan dari Allah subhanahu wa ta’ala, Dia Maha mengetahui Keadaanku saat ini, sehingga aku tidak perlu meminta kepadaNya”.

Menghayati  nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala Al-Khabir mengajak kita untuk memperkuat keyakinan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Mengetahui keadaan kita baik dalam keadaan suka atau duka, sehat atau sakit. Hal  ini membuat kita tidak meminta-minta kepada orang lain namun hanya meminta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sehingga kita tidak rendah diri di mata manusia. (Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah)

Sikap Politik MIUMI Menyambut Pemilu dan Pilpres 2019

Konfrensi Pers MIUMI tentang sikap Politik MIUMI menyambut Pemilu dan Pilpres 2019, Jakarta, (29/01/2019)

(Jakarta) wahdahjakarta.com -, Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menyampaikan sikap politik menyambut Pemilihan Umum (Pemilu), Pileg, Pilpres, dan pemilihan anggota DPD RI 2019. Pernyataan sikap disampaikan melalui konfrensi pers yang digelar di Jakarta, Selasa (29/01/2019).

Berikut selengkapnya:

SIKAP POLITIK MAJELIS INTELEKTUAL DAN ULAMA MUDA INDONESIA (MIUMI)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) adalah sebuah komunitas para tokoh dari berbagai ormas dan lembaga yang menjadikan ilmu sebagai basis gerakan dan perjuangan sekaligus sarana mereka untuk bersinergi,  termasuk gerakan poltik keumatan  menyambut Pilpres, Pileg dan pemilihan DPDRI 2019. Jargon gerakan politik keumatan MIUMI adalah “INTEGRASI KEISLAMAN DAN KEBANGSAAN”, maka terkait jargon politik tersebut berikut beberapa pernyataan sikap MIUMI:

  1. Islam sebagai agama universal bagi seluruh manusia memandang politik sebagai sarana ibadah yang agung dalam rangka menata kelola kehidupan publik yang berkeadilan dan mensejahterakan masyarakat dan bangsa. Karenanya Islam dan Politik tak dapat dipisahkan bahkan menjadi satu kesatuan yang integral. Karenanya umat Islam menolak sekularisme dan liberalisme yang hendak memisahkan Islam dengan politik kebangsaaan.
  2. Tiga (3) kerangka dasar Islam yaitu; Aqidah, Syariah dan Akhlaq telah menjadi sendi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak awal berdirinya bahkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Pancasila dan UUD 1945, maka kami akan menolak dan melawan setiap upaya yang akan menyingkirkan narasi dan nilai Islam dari pondasi NKRI dan UUD 1945 misalnya narasi dan nilai Komunisme, Leninisme, dan Marxisme sebagaimana tertuang dalam TAP MPRS No. 25 Tahun 1966, demikian pula sekularisme dan liberalisme karena telah menjadi gerbang masuknya berbagai sampah ideologi yang bertentangan dengan ideologi bangsa dan Negara Indonesia yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
  3. Umat Islam sebagai pemilih terbesar yang menentukan nasib ummat dan bangsa dalam Pilpres, Pileg dan Pemilihan DPDRI pada tahun 2019 nanti, untuk itu kami menghimbau;
  4. a. Agar seluruh ummat Islam agar tidak golput dan menggunakan hak pilihnya dengan memilih calon yang berpihak pada kepentingan Islam dan umat Islam yang otomatis berpihak pada kepentingan bangsa.

b. Agar umat Islam jangan mau lagi menjadi sekedar pemanis saat pemilu raya atau hanya menjadi pendorong mobil mogok setelah pemilu raya. Pilhlah para calon yang berpihak pada kepentingan umat dan bangsa serta jangan memilih calon yang berasal dari kelompok atau organisasi atau pribadi yang anti Islam dan tidak memperhatikan kepentingan umat Islam dan bangsa. Bahkan umat Islam

c. Mengajak semua umat Islam agar menjaga persaudaraan dan persatuan atas dasar sesama muslim dan sesama bangsa, jangan menyerang sesama muslim hanya karena berbeda pilihan politik, jangan pula menyerang ulama, lembaga keulamaan, ormas Islam dan lembaga Islam manapun. Dan senantiasalah menjunjung tinggi nilai Bhineka Tunggal Ika sebagaimana yang diajarkan Alquran dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Jakarta, 29 Januari 2019.

Bachtiar Nasir

SEKJEND MIUMI

Ustadz Salim A. Fillah Sampaikan Klarifikasi Insiden di Masjid Jogokariyan

Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Photo: Suaramasjidotcom

(Yogyakarta) wahdahjakarta.com –, Ustadz Salim A. Fillah  menyampaikan klarifikasi terkait insiden pelemparan masjid Jogokaryan oleh rombongan konvoi salah satu partai politik yang terjadi, Ahad (27/01/2019) lalu.

Wahdahjakarta.com mendapatkan teks klarifikasi pada postingan Ustadz @Salimafillah melalui halaman Facebook @Salimafillah, Senin (28/01/2019) sore. Ia kemudian mempersilahkan untuk menyebarkan klarifikasi tersebut.

“Klarifikasi Kejadian di Masjid @jogokariyan Ahad Sore yang lalu; kami sampaikan sebagai pernyataan resmi Takmir Masjid Jogokariyan. Bagi Shalih(in+at) yang merasa perlu untuk menyebarluaskan skrinsyut di bawah ini, kami persilakan”, tulis da’i dan penulis produktif ini pada akun twitter @Salimafillah.

Pada hari Ahad, 27 Januari 2019, Masjid Jogokariyan menyelenggarakan rangkaian acara Pemilihan Takmir Masjid Jogokariyan di antaranya adalah;

  1. Jalan Sehat Warga Jogokariyan
  2. Pembukaan Agenda Pencoblosan oleh Kapolresta dan Wakil Walikota Yogyakarta
  3. Pemungutan Suara
  4. Pengajian dan Pembagian Paket Santunan Sembako untuk 390 Keluarga Kurang Mampu

Seusai pembagian paket santunan sembako sekitar pukul 16.05 WIB, warga yang hendak pulang dikejutkan oleh aksi pelemparan ke arah Masjid dan jama’ah yang dilakukan konvoi massa PDIP sambil menggeber suara bising motornya, sehingga merusak prasasti nama Masjid dan tenda kegiatan. Alhamdulillah, terpasangnya tenda kegiatan di depan Masjid mengurangi kerusakan dan meminimalisasi timbulnya korban.

Merasa terpanggil karena jama’ah pengajian dan pembagian santunan banyak yang histeris, warga Jogokariyan kemudian keluar untuk menghalau konvoi massa PDIP sampai keluar kampung.

Demi menjaga kondusivitas, keamanan, dan ketenteraman Kota Yogyakarta khususnya dan secara Nasional pada umumnya; Takmir Masjid Jogokariyan dengan i’tikad baik bersegera menyambut inisiatif Mediasi dari Kapolsek Mantrijeron dan Danramil Mantrijeron, di Kantor Kecamatan Mantrijeron.

I’tikad baik Takmir Masjid Jogokariyan tersebut, diwakili oleh Ketua Takmir H.M. Fanni Rahman, S.I.P membuahkan kesepakatan dengan Tokoh PDIP Kecamatan Mantrijeron, Junianto Budi Purnomo yang sebagaimana tertera dalam Surat Bermaterai di atas yang mana pihak konvoi PDIP diwakili Junianto Budi Purnomo meminta maaf kepada pihak Masjid Jogokariyan dan Pihak konvoi PDIP diwakili Junianto Budi Purnomo menyatakan sanggup mendatangkan Sdr. Kristiono alias Kelinci selaku provokator dan penggerak aksi penyerangan untuk meminta maaf kepada pihak Masjid Jogokariyan.

Demikian pernyataan Takmir Masjid Jogokariyan sejelas-jelasnya, sesuai dengan fakta dan hasil mediasi yang telah ditandatangani di atas materai dan disaksikan oleh Camat, Kapolsek, Danramil, dan Bawaslu Kecamatan Mantrijeron, dengan harapan agar keamanan, ketertiban, ketentraman, dan kerukunan selalu terjaga di wilayah Kota Yogyakarta dan secara nasional pada umumnya. []

LAZIS Wahdah Bagikan Paket Logistik kepada Tenaga Pengajar Korban Tsunami di Lampung Selatan

Lazis Wahdah
LAZIS Wahdah Bagikan Paket Logistik kepada Tenaga Pengajar Korban Tsunami di Lampung Selatan

(Kalianda) wahdahjakarta.com – Lazis Wahdah Islamiyah menyalurkan bantuan paket logistik kepada puluhan tenaga Pengajar/Guru di SDN 1 dan  2 Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Selasa (29/01/2019).

Paket yang dibagikan berupa sembako untuk menyantuni Guru yang menjadi korban tsunami di Pesisir Lampung Selatan.

Menurut Yusran, relawan LAZIS Wahdah, paket sembako disesuaikan dengan jumlah tenaga pengajar di dua Sekolah tersebut.

“Totalnya ada 21 Guru, Ini berdasarkan hasil kunjungan kami sebelumnya saat memberikan Paket Sekolah disertai Trauma Healing kepada siswa di sekolah tersebut. Kepala Sekolahnya meminta agar Guru juga jika bisa diberikan perhatian,” pungkasnya.

Dia menambahkan, selain sembako, bantuan lainnya adalah Trauma Healing yang rencananya akan diberikan berupa bimbingan kerohanian kepada seluruh Guru.

“Program kami untuk Trauma Healing Insya Allah akan diadakan secara intensif, berkelanjutan. Yakni bimbingan rohani kepada guru-guru yang Insya Allah akan disertai dengan pengajian Alquran,” tukas Yusran.

Sebelumnya, Kepala Sekolah SDN 1 Kunjir Haeruddin memberikan kesaksian bahwa selama sebulan, relawan yang mengunjungi sekolah hanya melibatkan anak-anak atau para siswa, baik berupa Trauma Healing maupun santunan.

“Padahal saya harapnya Guru lebih diperhatikan pak. Karena Guru disini juga butuh Trauma Healing, butuh santunan, entah itu sembako atau santunan lainnya. Karena disini bukan hanya Siswa, namun juga ada Guru sebagai penggerak Kegiatan Belajar Mengajar (KBM),” tambahnya.

Bintara Pembina Desa (Babinsa) setempat, Darwis ikut memberikan apresiasi atas program LAZIS Wahdah ini.

Menurutnya, relawan LAZIS Wahdah yang telah terjun selama sebulan di lokasi telah membantunya untuk melakukan perbaikan terhadap desa binaannya.

“Bapak-bapak hadir jauh-jauh dari Sulawesi dan daerah lainnya tentu bukan sesuatu yang biasa. Ini mungkin karena panggilan jiwa pak yah. Sehingga kami sangat bersyukur dan berharap bapak-bapak bisa tinggal lebih lama lagi disini,” harap Pria berpangkat Sersan Satu (Sertu) di TNI AD ini.

Sepekan sebelumnya, Relawan LAZIS Wahdah mengadakan terapi Psikososial di sekolah tersebut, yang mengikutsertakan siswa yang menjadi korban serius dari Tsunami yang menerjang. (*rls)

Batasan Wajah yang Wajib Dibasuh dalam Wudhu

Batasan Wajah yang Wajib dibasuh dalam Wudhu

Ilustasi : Fiqh Wudhu

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum Wa Rahmatullahi Wa barakatuh, Mohon penjelasan tentang batasan wajah yang wajib dibasuh dalam wudhu.  Apakah ada dalil dalam masalah ini?

Jawaban

Alhamdulillah

Makna dan batasan wajah berdasarkan dua dalil syar’i;

Pertama, Dari sisi bahasa (Arab) yang dengan bahasa tersebut Allah menurunkan Al-Quran, dan dengan bahasa tersebut kita mendapatkan ajaran serta tidak ada pertentangan antara hal tersebut dengan ketentuan syariat.

Kedua, Dari sisi kesepakatan (ijma’) para ulama. Dan ijma’ mereka merupakan hujjah (landasan dalil).

Pakar bahasa (Arab) berkata, ‘Al-Wajhu, adalah bagian depan segala sesuatu.’ (Al-Muhith Fil-Lughah, 1/314, Kitabul-‘Ain, 4/66)

Imam Al-Qurthubi berkata, ‘Al-Wajhu menurut bahasa diambil dari kata ‘al-muwajahah’ (berhadap-hadapan), yaitu anggota badan yang meliputi beberapa anggota, memiliki batasan panjang dan lebar; Batasan panjangnya adalah dari ujung kening hingga ujung dagu, sedangkan batasan lebarnya adalah dari telinga ke telinga.” (Al-Jami’ Li Ahkaamil-Quran, 6/83)

Ibnu Katsir berkata, “Batasan wajah menurut para ahli Fiqih adalah, ‘Panjang, antara tempat tumbuhnya rambut, kepala gundul tidak dianggap, hingga ujung dagu, sedangkan lebar antara kedua telinga.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/47)

Wajah, panjangnya adalah antara tempat tumbuhnya rambut hingga dagu dan ujung jenggot, dan lebarnya adalah antara kedua telinga.”

Imam An-Nawawi berkata, “Inilah yang disebutkan pengarang tentang batasan wajah, pendapat ini benar, dan demikianlah kalangan mazhab kami berpendapat serta dinyatakan pula oleh Asy-Syafi’I rahimahullah dalam Kitab Al-Umm.” (Al-Majmu’)

Dia juga berkata, “Bangsa Arab tidak menamakan wajah kecuali yang berada di muka.” (Al-Jami’ Li Ahkamil Quran, 6/84)

Imam Nawawi juga berkata dalam Kitab Al-Majmu, 1/3, ‘Wajah menurut bangsa Arab adalah apa yang didapati saat berhadapan”

Al-Kasani berkata dalam Bada’ius-Shana’i, 1/3, Wajah adalah dari awal rambut hingga bawah dagu dan antara kedua telinga. Ini adalah batasan yang benar, karena merupakan batasan yang dapat ditangkap secara bahasa, karena wajah adalah sesuatu yang berada di hadapan manusia, atau apa saja yang biasanya berada di hadapannya menurut bahasa, dan muwajahah (berhadap-hadapan) biasanya terkait dengan batasan ini.’

Perhatikan: Daqa’iqu Ulin-Nuha, 1/56, Kisyaful-Qana’, 1/95, Al-Mughni, 1/83, Tabyinul-Haqa’iq, 1/2, Fathul-Qadir, 1/15, Mathalib Ulin-Nuha, 1/113, Raddul-Muhtar, 1/96, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 4/126, Tafsir Ibnu Katsir, 3/48, Al-Kulliyyat, 1628, Al-Lubab, 7/219, Tafsir Al-Baghawi, 3/21, Nuzumud-Durar, 2/403.

Para Mufasir (ahli tafsir) dan Fuqaha (ahli fiqih) serta ahli bahasa berpendapat sama yaitu bahwa wajah adalah apa yang tampak saat berhadapan, dan itu merupakan batasannya. Cukuplah hal tersebut menjadi landasan syar’i. Wallahu ta’ala a’lam.[]

Sumber: Islamqa.info/id

Hukum Berwudhu dengan Memasukkan Tangan ke dalam Gayung

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, Idzin bertanya. Bolehkah berwudhu dengan memasukkan tangan ke dalam wadah air seperti gayung atau ember? (Abdullah)

Jawaban:

Boleh berwudhu dengan memasukkan tangan ke dalam wadah air, baik berupa bak air, ember, gayung dan sebagainya. Dengan syarat  membasuh atau mencuci tangan tangan tiga kali di luar wadah, sebelum memasukannya ke dalam wadah. Hal ini berdasarkan praktik wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diterangkan dalan hadits shahih riwayat Imam Muslim.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ الأَنْصَارِيِّ ، وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ ، قَالَ : قِيلَ لَهُ : ” تَوَضَّأْ لَنَا وُضُوءَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَدَعَا بِإِنَاءٍ ، فَأَكْفَأَ مِنْهَا عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلَاثًا ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ ، فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ ، فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثًا ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ ، فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ ، فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ، مَرَّتَيْنِ ، مَرَّتَيْنِ ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا ، فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَأَدْبَرَ ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ، ثُمَّ قَالَ : هَكَذَا كَانَ وُضُوءُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “

Dari Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim al-Anshari, dia adalah seorang sahabat Nabi, dikatakan kepadanya, “Praktikkanlah kepada  kami wudhu’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam !” Dia meminta wadah air, lalu dia menumpahkan sebagian air itu pada kedua (telapak) tangannya, lalu dia membasuhnya tiga kali.

Lalu dia memasukkan satu tangannya (ke dalam wadah air itu), lalu mengeluarkannya, lalu dia berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung dari satu telapak tangannya. Dia melakukannya tiga kali.

Lalu dia memasukkan satu tangannya (ke dalam wadah air itu), lalu mengeluarkannya, lalu dia membasuh wajahnya tiga kali.

Lalu dia memasukkan satu  tangannya (ke dalam wadah air itu), lalu mengeluarkannya, lalu dia membasuh kedua tangannya sampai siku-siku dua kali, dua kali.

Lalu dia memasukkan satu  tangannya (ke dalam wadah air itu), lalu mengeluarkannya, lalu mengusap kepalanya. Dia memajukan kedua tangannya lalu memundurkannya, kemudian dia membasuh kedua kakinya sampai mata kaki. Kemudian dia berkata, “Seperti inilah wudhu’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .” [HR. Muslim]

Dalam hadits di atas Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim mencontohkan tatacara wudhu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dimana beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya sebanykan tiga kali di luar wadah, kemudian melanjutkan wudhunya membasuh anggota wudhu lainnya dengan memasukan tangannya ke wadah air. Dan cara tersebut merupakan cara wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah disaksikannya. Setelah berwudhu beliau mengatakan, “Seperti inilah wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. [sym].

Rombongan Wanita Berjilbab Bersihkan Sampah Tahun Baru, Netizen: Luar Biasa

Serombongan wanita berjilbab sedang membersihkan sampah di lokasi perayaan Tahun Baru 2019, Pantai Manakarra, Mamuju Sulbar, Selasa (01/01/2019).

(Mamuju)  wahdahjakarta.com –, Serombongan wanita berjilbab lebar tertangkap kamera netizen saat membersihkan sampah di lokasi perayaan tahun baru,  pantai Manakarra Mamuju Sulawesi Barat, Selasa (01/01/2019).

Pemandangan simpatik ini diabadikan seorang netizen atas nama Ali Akbar melalui akun facebook miliknya.

“Suasana masih pagi sekali,  kulihat dari kejauhan  rombongan wanita berjilbab melintas menuju ke arah Jl. Yos Sudarso”, tulis Ali Akbar.

“Awalnya saya mengira  rombongan yang entah mau ke mana rame-rame masih pagi sekali,  tapi kulihat masing-masing dari mereka membawa kresek (kantongan), ada juga pria bertopi tauhid membawa sapu”, lanjutnya.

“Kulihat rombongan wanita berjilbab itu dengan cekatan mengisi kantongannya dengan sampah”, imbuhnya.

Aksi  bersih-bersih sampah tahun baru ini mendapat respon simpatik dari para netizen.  Mereka menyampaikan apresiasi di laman komentar akun fb Ali Akbar.

“Luar biasa”, tulis Netizen Badar Ahmad Fauzi.

“Luar bisa,  semoga mereka diberi keberkahan,  amin”, sambung Abdul Rahman Anwar.

Netizen lain justeru mempertanyakan kepedulian panitia dan peserta acara.

“Pertanyaanku . . . knp yg hadir di acara itu g punya kesadaran utk buang sampah atau knp panitianya g menyediakan sampah tersendiri”, tulis Riri Aisyilla.

Menurut salah satu anggota komunitas ini,  kebiasaan bersih-bersih secara suka rela sudah sejak lama mereka lakukan.  Namun makin massif setelah terinspirasi dari aksi 212. []