Bima Arya: Kemaksiatan Kita Berantas di Kota Bogor

Walikota Bogor Bima Arya menyampaikan orasi di hadapan peserta aksi #TolakLGBT di halaman kantor Balaikota Bogor, Jum’at (9/11/2018)

(Bogor) wahdahjakarta.com – Wali Kota Bogor, anggota DPRD Kota Bogor, Kapolresta Bogor dan jajaran aparatur pemerintah Kota Bogor lainnya menerima delegasi sejumlah ulama dan tokoh yang tergabung dalam Forum Masyarakat Bogor Anti LGBT (Lesbian Gay Biseks Transgender) di Balaikota Bogor, Jumat (9/11/2018).

Pertemuan tersebut digelar disela-sela aksi masyarakat Bogor menolak LGBT.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengucapkan terima kasih atas kegiatan menyampaikan aspirasi yang dilakukan. Hal itu ia sampaikan usai pertemuan dengan para ulama.

“Ada tiga hal yang menjadi kesapakatan kami hari ini yang insyaallah barokah, memberikan maslahat dan manfaat bagi kita semua,” ujar Bima dihadapan puluhan ribu masyarakat Bogor yang hadir.

Pertama, kata Bima, insyaallah jajaran pemerintah kota dan muspida sepakat untuk bersinergi dengan alim ulama, tokoh masyarakat untuk terus memberantas kemaksiatan di Kota Bogor, memberantas penyimpangan seksual di Kota Bogor dan memberantas prostitusi online di Kota Bogor.

“Kedua, kami sepakat untuk berikhtiar bersama-sama dengan DPRD Kota Bogor membuat regulasi yang jelas, yang kuat dan kokoh agar kemaksiatan, LGBT, prostitusi dan lainnya bisa diberantas sampai ke akar-akarnya,” tegas Bima yang disambut pekikan takbir para peserta Aksi.

Menurutnya, saat ini DPRD Kota Bogor dan Pemerintah Kota Bogor sedang merumuskan Perda Ketahanan Keluarga. “Insyaallah hal-hal yang menjadi keprihatinan kita akan diatur secara jelas didalamnya hingga kemaksiatan kita berantas di Kota Bogor tercinta,” jelasnya.

Yang ketiga, lanjut Bima, kami juga sepakat untuk menyuarakan dengan keras pesan kepada pemerintah pusat dalam hal ini Kominfo untuk bersikap tegas memblokir semua aplikasi dan laman media sosial yang membuka ruang terjadinya prostitusi online.

“Dan kami minta dukungannya dalam rangka menyuarakan aspirasi ini,” ucapnya.

Diakhir sambutannya, dengan tegas Bima memperintahkan jajarannya untuk bersama-sama memberantas kemaksiatan di Bogor. “Saya perintahkan kepada camat, lurah, kepala dinas dan semuanya untuk mengawasi apartemen, hotel, restoran dan kos-kosan agar tidak ada hal-hal yang kita khawatirkan bersama yaitu kemaksiatan,” jelas Bima yang kembali disambut takbir para hadirin.

Aksi ini diikuti peserta dari berbagai kalangan. Acara berjalan dengan tertib dan lancar, meski sempat diguyur hujan para peserta tetap semangat mengikuti acara hingga selesai. (Ipul/sym)

Selamatkan Keluarga dari Bahaya LGBT

Selamatkan Keluarga dari Bahaya LGBT

Kelainan orientasi seksual seperti Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT)  merupakan penyakit psikososial yang sangat berbahaya. Kasus kelainan seks tersebut dapat dikatakan sebagai kasus pencideraan akidah.

Dalam Islam bentuk kelainan orientasi seksual tersebut dihukumi haram dan dosa besar. Allah menjanjikan azab, bagi aktivis kelainan tersebut. Bentuk penularannya dapat berupa propaganda Lesbian, Homoseksual, Biseks, dan Transgender (LGBT) yang tengah massif tersebar di berbagai media saat ini.

Pertanyaannya, siapa yang menjadi korban dari penyakit menular tersebut? Tak lain adalah anak-anak dan saudara serta kerabat kita sendiri. Untuk itu para orang tua mesti selalu bertanya, sedang apakah anak-anak hari ini? Bersama siapakah mereka bergaul?

Tentu saja, pertanyaan di atas bukan karena tidak percaya kepada mereka, tetapi sebagai tanggung jawab orang tua kepada anak-anak mereka.

Laiknya penyakit menular, penyakit kelainan LGBT termasuk penyakit berjangit berbahaya tapi penderitanya bisa diobati.

Para penderita tersebut bisa disembuhkan dengan usaha terapi. Bukan justru dikucili atau mendapat diskriminasi dari masyarakat.

Selanjutnya, untuk mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Beberapa di antaranya adalah:

Pertama, Kokohkan akidah anak.

Akidah yang kokoh adalah sumber utama keselamatan dan kebahagiaan manusia. Ibarat imun, akidah menjadi tameng atas segala penyakit fisik dan ruhani.

Untuk mengokohkan akidah anak-anak, pastinya orang tua dulu yang menguatkan energi iman yang dipunyai. Sebab seringkali anak adalah cerminan dari orang tua dan lingkungannya.

Anak bisa lebih cepat belajar dengan faktor keteladanan dari pengajarnya, terlebih teladan dari guru dan orang tuanya.

Kedua, Optimalkan peran orang tua di rumah.

Sejumlah kasus amoral yang diberitakan, seperti hamil di luar nikah, konsumsi narkoba dan obat terlarang, serta pergaulan bebas lainnya, jika ditelusuri biasanya berujung kepada hilangnya peran pengawasan dan pendampingan  orang tua terhadap anak-anaknya.

Sesal kemudian tak lagi berguna. Inilah yang menimpa sebagian orang tua sebagai tebusan atas kelalaian mereka terhadap perkembangan anak-anaknya.

Hari ini perkembangan teknologi dan kecepatan informasi menjadi salah satu tantangan orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Di sisi lain, sebagian orang tua menganggap membelikan anak gadget mewah atau smartphone canggih bisa membantu mereka dalam mengatasi anak-anak terutama di rumah.

Ragam alasan bisa disebut atas tindakan itu. Mulai dari sarana komunikasi dengan anak, membuka wawasan dan memudahkan pengetahuan, agar anak tidak gagap teknologi, dan seterusnya.

Sejatinya, tak ada yang keliru dengan sejumlah alasan tersebut. Sebab perkembangan zaman boleh jadi menuntut demikian.

Cuma hal itu bisa menjadi senjata makan tuan jika ternyata anak diserahi kebebasan sepenuhnya tanpa ada pendampingan dan pengawasan dari orang tua.

Untuk itu, wahai orang tua pulanglah sejenak ke rumah. Setidaknya, jalinlah komunikasi yang baik dengan anak-anak. Libatkan mereka dengan meminta pendapat dalam urusan dan persoalan mereka.

Jalinlah kedekatan dengan anak.  Rebutlah hatinya. Tuntunlah mereka menjadi anak yang shaleh dan shalehah. Ingatlah, uang bisa dicari, sedangkan anak tak bisa terbeli.

Ketiga, Asah kepekaan terhadap lingkungan.

Karir yang melejit atau kesibukan yang padat di luar rumah bukan alasan bagi orang tua untuk lalai dalam mendidik anak-anaknya. Atau menjadikan orang tua tidak peka dengan keadaan yang terjadi di sekitar.

Sebaliknya orang tua dituntut untuk mengenali bahaya yang mengancam pendidikan dan kepribadian anak. Pelajari dan carilah sebab sekaligus solusi dari pengaruh buruk dan bahaya tersebut.

Sebab tak jarang, anak-anak yang bermasalah itu berawal dari hilangnya kepekaan orang tua terhadap lingkungan yang ada di sekitar anak.

Keempat, Ceritakan kisah kaum Nabi Luth dan sejarah lainnya.

Penyakit yang sama pernah terjadi sejak masa silam, tepatnya di kalangan kaum Nabi Luth. pernah merebak beberapa puluh tahun silam.

Akibat bahaya yang ditimbulkan, Nabi Luth beserta orang beriman yang taat lainnya diungsikan keluar dari negerinya. Hingga akhirnya Allah menimpakan azab yang keras kepada negeri tersebut.

Pelajaran terbesar dari kisah di atas adalah penyakit Lesbian, Homoseksual, Biseksual, dan Transgender (LGBT) adalah virus menular.

Tidak hanya merusak moral dan menciderai akidah, tapi juga berpotensi mengundang “cuma-cuma” siksaan Allah di dunia dan akhirat.

Kelima, Panjatkan doa kepada Sang Maha Penjaga.

Berdoa adalah senjata keluarga Muslim yang tidak dimiliki selain mereka. Berdoalah kepada Allah Zat Maha Penjaga.

Jangan pernah berputus asa untuk mendoakan kebaikan dan keselamatan bagi diri dan keluarga serta saudara seiman lainnya.

Allah yang menurunkan penyakit dan Dia pula yang sanggup menyembuhkan segala jenis penyakit tersebut.

Menjauhkan kaum muslimin dari segala fitnah dan marabahaya yang mengancam. Sebagaimana hanya kepada Allah pula seorang hamba memohon rahmat dan ma’unah-Nya dalam kehidupan ini.*/Mustabsyirah, pegiat komunitas penulis Malika/hidayatullah.com.

Solusi LGBT  (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di Indonesia

solisi lgbt

Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) adalah penyakit. Penyakit masyarakat yang bermula dari penyakit psikoseksual. Bukan pula kodrat dan hak asasi manusia. Oleh karena LGBT merupakan penyakit maka dengan izin Allah dan usaha yang sungguh-sungguh, pengidap LGBT dapat disembuhkan.

DR.Dr. Dadang Hawari mengatakan, “Kasus homoseksual tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui proses perkembangan psikoseksual seseorang  terutama faktor pendidikan keluarga di rumah dan pergaukan sosial. Homoseksual dapat dicegah dan diubah  orientasi seksualnya, sehingga seseorang yang semula homoseksual dapat hidup wajar lagi”. (Pendekatan Psikoreligi pada Homoseksual).

Dalam pandangan Islam setiap penyakit ada obat dan solusinya, termasuk penyakit LGBT. Intelektual Muslim DR. Adian Husaini menawarkan sepuluh solusi jangka pendek dan jangka panjang untuk menanggulangi wabah LGBT di Indonesia.

  1. Dalam jangka pendek, perlu dilakukan peninjauan kembali peraturan perundang-undangan yang memberikan kebebasan melakukan peraktek hubungan seksual sejenis. Perlu ada perbaikan dalam pasal 292 KUHP, misalnya, agar pasal itu juga mencakup perbuatan hubungan seksual sejenis dengan yang sama-sama dewasa. Pemerintah dan DPR perlu segera menyepakati untuk mencegah menularnya legalisasi LGBT itu tidak dari AS dan negara-negara lain, dengan cara memperketat peraturan perundang-undangan. Bisa juga sebagian warga masyarakat indonesia yang sadar dan peduli untung mengajukan gugatan judicial review terhadap pasal-pasal KUHP yang memberikan jalan terjadinya tindak kejahatan di bidang seksual.
  2. Dalam jangka pendek pula, sebaiknya ada perguruan tinggi yang secara resmi mendirikan pusat kajian dan penanggulangan LGBT. Pusat kajian itu bersifat komprehensif dan intregative serta lintas bidang setudi. Aktivitasnya adalah melakukan penelitian-penelitian serta konsultasi fisikologi dan pengobatan bagi pengidap LGBT.
  3. Masih dalam jangka pendek, sebaiknya juga masijid-masjid besar membuka kelinik LGBT, yang memberikan bimbingan dan penyuluhan keagamaan kepada penderita LGBT, baik secara langsung maupun lewat media online, bahkan juga pengobatan-pengobatan terhadap penderita LGBT. Bisa dipadukan terapi modern dengan beberapa bentuk pengobatan seperti bekam, ruqyah syar’iyyah, dan sebabaginya.
  4. Pemerintah bersama masyarakat perlu segera melakukan kampanye besar-besaran untuk memberikan penyuluhan tentang bahaya LGBT termasuk membatsai kampanye-kampanye hitam kaum liberalis yang memberikan dukungan kepada legalisasi LGBT
  5. Kaum muslimin, khususnya, perlu memberikan pedekatan yang integral dalam memandang kedudukan LGBT ditengah masyarakat. Bagimanpun LGBT adalah bagian dariumat manusia yang harus diberikan hak-haknya sesuai dengan perinsip kemanuisaan, sambil terus disadarkan akan kekeliruan tindakan mereka. Dalam hal ini, perlu segera dilakukan pendidikan khusus untuk mencetak tenaga-tenaga dalam dai dalam bidang LGBT. Lebih bagus jika program ini diintegrasikan dalam suatu prodi diperguruan tinggi dalam bentuk konsentrasi program studi.
  6. Para pemimpin dan toko-tokoh umat Islam perlu banyak melakukan pendekatakan ke para pemimpin dimedia masa, khususnya media televisi, agar mencegah dijadikannya media massa sebagai ajang kampanye bebas penyebaran paham dan praktek LGBT ini
  7. Secara individual, setiap muslim, harus aktif menyarakan kebenaran, melakukan ammar ma’ruf nahi mungkar, kepada siapa pun yang terindikasi ikut melakukan penyebaran paham legalisasi LGBT. Sebagimana tuntunan Al-qur’an, dakwah perlu dilakukan dengan hikmah, mauidhatil hasanah, dan berdebat dengan cara yang lebih baik
  8. Lebaga-lembaga donor dan kaum berpunya dikalangan muslim, perlu memberikan beasiswa secara khusus kepada calon-calon doktor yang bersedia menulis disertai dengan bersungguh-sungguh untuk menekuni serta terjun dalam arena dakwah khusus penyadaran pengidap LGBT
  9. Media-media massa muslim perlu menampilkan sebanyak mungkin kisah-kisah pertobatan LGBT dan mengajak mereka untuk aktif menyarakan pendapat mereka, agar masyarakat semakin optimis, bahwa penyakit LGBT bisa disembuhkan
  10. Orang-orang yang sadar dari LGBT perlu didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai khususnya oleh pemerintah agar mereka dapat berhinpun dan memperdayakan dirinya dalam menjalani aktivitas kehidupannya sehari-hari dan melaksanakan aktivitas penyadaran kepada para LGBT yang belum sadar akan kekeliruannya.

(LGBT di Indonesia, Perkembangan dan Solusinya Oleh DR. Adian Husaini)

Umat Islam Bogor Gelar Aksi Tolak LGBT Jumat Besok

Aksi Tolak LGBT

Flyr Aksi Damai Tolak LGBT yang akan digelar gabungan ormas Islam Bogor pada Jum’at (9/11/2018) besok

(Bogor) wahdahjakarta.com – Berbagai organisasi massa yang tergabung dalam Forum Masyarakat Bogor Anti LGBT akan menggelar Aksi #TolakLGBT (Lesbian Gay Biseks Transgender) di Kota Bogor pada Jumat (9/11/2018).

Ketua Forum Masyarakat Bogor Anti LGBT Abdul Halim mengatakan, aksi ini diadakan sebagai respon maraknya LGBT di Bogor.

Kegiatan ini untuk mengingatkan semua pihak akan bahaya LGBT yang bisa mengundang azab dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Selain itu aksi yang akan kita laksanakan besok ini sebagai wujud keprihatinan kita akan bahaya LGBT sesuai dengan hasil temuan Komisi Penanggulangan AIDS bahwa penularan AIDS tertinggi di kota Bogor itu karena LGBT,” ujarnya, Kamis (7/11/2018).

Halim juga mengatakan target aksi damai tersebut adalah lahirnya aturan pelarangan LGBT di Bogor.

 

 

“Kita minta pemerintah agar mengeluarkan semacam SK atau Perda Anti LGBT, yang dengan payung hukum tersebut harapannya bisa melarang secara tegas kegiatan LGBT di Bogor,” tutur Halim.

Rencananya, aksi dimulai dengan konvoi dari Masjid Amaliyah Ciawi menuju Masjid Raya Bogor untuk melaksanakan shalat Jumat, setelah shalat Jumat massa akan longmarch menuju Balaikota Bogor.

“Di balaikota kita akan temui Walikota dan para anggota DPRD, kita akan minta mereka agar lebih peduli dengan kasus LGBT ini dan bisa mengeluarkan kebijakan yang tegas untuk mengatasi penyakit masyarakat ini,” jelas Halim.

Untuk itu, ia mengajak seluruh pihak yang peduli akan masalah ini bisa meluangkan waktunya untuk berjuang bersama-sama para ulama, pimpinan ormas Islam, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan berbagai pihak lainnya dalam Aksi Damai Tolak LGBT pada Jumat 9 November 2018. [ ]

Wahdah Islamiyah Distribusikan Bantuan 1 M dari Lembaga Sosial Arab Saudi

Wahdah Islamiyah Distribusikan Bantuan 1 M dari Lembaga Sosial Arab Saudi

Relawan Wahdah Peduli sedang menurunkan paket bantuan kemanusiaan dari Lembaga Sosial Arab Saudi. Lembaga bentukan Raja Salman ini menyalurkan bantuan senilai 1 Milyar Rupiah untuk korban gempa Sulteng

Palu (Wahdahjakarta.com)– Memasuki pekan keenam pasca bencana gempabumi, tsunami, dan likuifaksi yang menimpa beberapa daerah di Sulawesi Tengah (Sulteng), Jum’at (28/09/2018) lalu, bantuan kemanusian terus berdatangan.

Delegasi Lembaga Sosial Arab Saudi King Salman Humanitarian Aid and Relief Centre tiba di Palu, Sulawesi Tengah pada Selasa (6/11/2018). Lembaga yang didikan Raja Salman bin Abdul Aziz ini merupakan lembaga sosial yang bergerak di bidang  sosial dan bantuan kemanusiaan.

Para relawan Arab Saudi tersebut dipimpin Syaikh Khalid Al-Salamah dan didampingi oleh relawan Wahdah Peduli Syandri Sya’ban dan beberapa relawan lainnya.

Kedatangan lembaga sosial Raja Salman itu bertujuan untuk menindaklanjuti beberapa program sosial kemanusiaan di Sulawesi Tengah.

“Mereka datang dengan berbagai program. Wahdah Islamiyah digandeng sebagai mitra dalam hal pendataan dan penyaluran bantuan,” terang Syandri kepada LAZISWahdah.com.

Syaikh Khalid juga menyampaikan terima kasih kepada Wahdah Islamiyah atas sambutan yang ramah serta berbagai kemudahan dan bantuan yang diberikan dalam melaksanakan proyek-proyek sosial dan kemanusiaan di Sulawesi Tengah.

Wahdah Islamiyah Distribusikan Bantuan 1 M dari Lembaga Sosial Arab Saudi

“Semoga kerjasama ini bisa terus berlanjut dan mudah-mudahan bantuan ini bisa bermanfaat” tukasnya.

Total bantuan sebesar 1 M dengan rincian 5000 paket sembako, 5000 paket hygiene kit dan 3500 perlengkapan dapur. Bantuan tersebut akan didistribusikan oleh Wahdah Islamiyah di beberapa titik lokasi pengungsi Palu, Sigi dan Donggala.

Selain menggandeng Wahdah Islamiyah lembaga sosial internasional ini juga bermitra dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam penyaluran bantuan kepada warga terdampak bencana gempa Palu. [sym]

Lazis Wahdah Rampungkan Pembangunan Masjid Sementara di Lombok Timur

Wahdah Islamiyah

Masjid sementara Wahdah Islamiyah di Lombok Timur

(Lombok Timur) wahdahjakarta.com  – Sudah tiga bulan gempa Lombok berlalu. Wahdah Islamiyah (WI) bersama masyarakat Indonesia terus berupaya mengikhtiarkan segala usaha untuk menghadirkan pelayanan maksimal demi kenyamanan masyarakat terdampak bencana gempa.

Diantara program yang dijalankan  oleh Wahdah adalah pembangunan Kompleks Shelter hunian sementara yang dilengkapi fasilitas umum seperti Masjid sementara dan Sekolah darurat yang  masih tengah berlangsung.

“Alhamdulillah, Rabu (31/10), Masjid Darurat yang berlokasi di Dusun Aikmanis, Desa Gunung Malang, Kec. Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur telah rampung dan siap dimanfaatkan oleh warga sekitar”, kata staf Lazis wahdah kepada wahdahjakarta.com melalui keterangann tertulis, Rabu (7/11/2018) siang.

Masjid ini seluas 134 m² ini memiliki daya tampung sebanyak 220 jamaah, dengan kontruksi  rangka baja ringan dan atap spandek serta dinding kalsiboard.

Program recovery tersebut merupakan bentuk dukungan dan solusi sebagai kebutuhan masyarakat akan sarana ibadah kala berada di pengungsian.

Menurut Nu’man, selaku Koordinator relawan bahwa kebutuhan tempat beribadah bagi warga masyarakat Lombok pasca gempa  merupakan yang  utama. Menurutnya, sarana ibadah berupa pembangunan Majid darurat adalah awal yang baik bagi kebangkitan Lombok kedepan.

“Alhamdulillah, LAZIS Wahdah menghadirkan manfaat kebaikan melalui program pembangunan Masjid ini. Upaya ini merupakan bentuk totalitas Wahdah untuk membangun kembali pulau seribu Masjid,” pungkasnya. []

Donasi peduli Lombok dapat disalurkan melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 499 900 9005 a.n LAZIS Wahdah Peduli Negeri dan konfirmasi transfer WA/SMS ke 0811 9787 900 (mohon dengan menyertakan bukti transfer) . Semoga Allah membalas semua usahaka kita atas kepedulian kita terhadap saudara-saudara kita, aamiin. []

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #pedulinegeri #peduligempalombok #gemalombok

#pasukanhijau

#wahdahpeduli

#bangunkembalilombok

Gempa Berkekuatan M 5,2 Guncang Mamasa, 2 Orang Pingsan

Gempa Berkekuatan M 5,2 Guncang Mamasa, 2 Orang Pingsan

(Mamasa) wahdahjakarta.com-, Gempa dengan kekuatan M 5,2 kembali mengguncang wilayah Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) pada Rabu (7/11/2018) pukul 16.42 WIB. Pusat gempa di darat dengan kedalaman 11 km pada lokasi 9 km tenggara Mamasa Sulawesi. Gempa tidak berpotensi tsunami.

Dalam keterangangan tertulis kepada wahdahjakarta.com Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan bahwa gempa terasa kuat sekitar 4-5 detik.

“Masyarakat yang sebelumnya sudah tinggal di lokasi pengungsian sebanyak 10.646 jiwa pengungsi panik dan berhamburan keluar ke tanah lapang. Dilaporkan 2 orang pingsan karena kaget atas kejadian gempa tersebut, “ jelas Sutopo.

Sebelumnya masyarakat mengungsi akibat gempa berkekuatan M 5,5 pada Selasa (6/11/2018) pukul 01.35 WIB. Masyarakat mengantisipasi gempa dengan mengungsi di tanah lapang karena saat gempa dirasakan keras selama 4-5 detik.

“Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa dan kerusakan akibat gempa. BPBD Kabupaten Mamasa masih melakukan pendataan dampak gempa,” pungkasnya.

Vonis 10 Hari dan Denda Rp 2.000 Untuk Pembakar Bendera, Ini Sikap MUI

Vonis 10 Hari dan Denda 2.000 Untuk Pembakar Bendera, Ini Sikap MUI

Anggota Watim MUI KH. Mohammad Siddiq

(JAKARTA) wahdahjakarta.com – Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai kasus pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid yang diklaim sebagian kalangan sebagai bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sudah selesai dengan dijatuhkannya vonis oleh hakim kepada pembawa dan pembakar bendera.

Anggota Watim MUI KH Muhammad Siddiq mengatakan, vonis hakim Pengadilan Negeri Garut penjara 10 hari bagi pembakar dan pembawa bendera itu adalah hasil dari proses penegakkan hukum yang harus dihormati semua pihak.

Walaupun terkesan formalistik atas vonis yang terlalu ringan, Siddiq tidak terlalu mempermasalahkan.

Proses hukum ini adalah usaha dari semua pihak untuk mencapai penyelesaian atas insiden pembakaran bendera, saya kira ini hal yang baik ketika semua selesai dengan ketetapan hukum,” kata Siddiq kepada wartawan, Selasa (6/11).

Tokoh yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) ini menyadari masih ada pihak yang kurang puas dengan vonis hakim tersebut.

Ia mempersilakan pihak yang tidak puas menempuh jalur hukum lain. Namun, sikap umat Islam yang menyerahkan penyelesaian terkait pembakaran bendera ke pengadilan adalah cara yang paling tepat.

“Mudah-mudahan vonis ini bisa diterima semua pihak biar tidak ada kegaduhan dan jadi pelajaran agar insiden serupa tidak lagi terjadi,” imbuhnya.

Sebelumnya Pengadilan Negeri Garut pada Senin (5/11). Dalam sidang terkait pembakarab bendera di hari santri di Garut, hakim memutuskan pembawa dan pembakar bendera dijatuhi hukuman 10 hari penjara dan denda Rp 2.000.

Hakim beranggapan keduanya terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah sehingga dijatuhi kurungan 10 hari dan denda Rp 2 ribu. Kepada pembawa bendera pun, Hakim memutuskan menjatuhkan pidana ringan serupa. Unsur pidana yang dikenakan karena dianggap mengganggu dan membuat kegaduhan sebagaimana pasal yang didakwakan yakni Pasal 174 KUHP.

Sumber: Republika.co.id

Terapi Qur’ani untuk  Trauma Healing Korban Gempa Palu 

 

Ustadz Muhammad Yani Abdul Karim, tim trauma healing Lazis Wahdah sedang menyampaikan taushiyah sebagai salah satu agenda terapi Qur’ani yang merupakan bagian dari kegiatan Trauma healing korban gempa Palu yang digelar Lazis Wahdah, Palu, Selasa (06/11/2018)

(Palu) wahdahjakarta.com – Tim penyembuhan trauma (Trauma Healing) LAZIS Wahdah  menitikberatkan penyembuhan psikologi korban gempa Palu dengan metode al-Qur’an. Hal ini dikemukakan langsung oleh Muhammad Yani Abdul Karim Lc. MA., Tim Dai dan Trauma Healing Wahdah Islamiyah.

“Mereka tidak hanya butuh makanan dan obat-obatan. Tetapi mereka perlu juga kita isi ruhnya dengan al-Qur’an agar hati dan pikiran mereka bisa terbuka bahwa bencana ini adalah ujian yang mengharuskan kita sabar,” ujarnya, Selasa (6/10).

Menurutnya, tim memilih teknik bermain dan pengelolaan emosi spiritual. Tim akan melakukan pendidikan bersifat religius, seperti terapi al-Qur’an, siraman rohani, kisah-kisah dan bermain bagi anak-anak.

“Nanti kami juga akan membantu mereka, adik-adik itu membaca Alquran. Karena itu persiapan untuk trauma healing, medianya juga macam-macam,” kata Yani.

Kegiatan ini dilaksanakan di mushola darurat di Kelurahan Panau, Kecamatan Tawaeli, Kota Palu dengan jumlah peserta sebanyak 77 orang dengan rincian 30 ibu-ibu, 40 anak-anak dan 7 remaja, 11 diantaranya ikut bergabung dalam program dirosa (pembinaan al-Qur’an untuk orang deawasa) Wahdah Islamiyah.

Marlina (46), peserta kegiatan ini merasa senang karena telah dihibur oleh tim. Tak hanya itu, bantuan yang diberikan juga bervariasi. Selain hiburan bagi anak-anak, tausyiah bagi ibu-ibu juga diberikan santunan tunai per orang sebagai bentuk kepedulian Wahdah Islamiyah kepada para korban gempa.

“Alhamdulillah Wahdah Islamiyah tak hanya beri kami makanan, tapi juga ajari kami al-Qur,an dan mendampingi anak-anak kami,” ujarnya.

Hingga saat ini penanganan korban gempa dengan beragam kegiatan masih terus berlanjut. Wahdah Islamiyah sendiri hingga saat ini telah menjalankan beberapa program dan salah satunya adalah proyek hunian sementara atau shelter dibeberapa titik. Selain dari pasokan logistik, aksi layanan medis dan sebagainya. [sym]

MUI Kirim Ketua DDII Sebagai Utusan Perdamaian ke Afganistan

MUI

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali mengirimkan utusan misi perdamaian Afghanistan. Utusan MUI kali ini adalah Anggota Dewan Pertimbangan MUI yang juga Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) KH Mohammad Siddiq.

Kyai Mohammad Siddiq mengatakan, pihaknya selama berada di sana bertemu dengan Majelis Ulama Afghanistan, High Council for Peace, Dubes Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk Afghanistan, Indonesia Islamic Center dan lain sebagainya.

Langkah ini didukung oleh pemerintah Indonesia baik Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kementerian Luar Negeri, Badan Intelijen Negara (BIN) dan KBRI Kabul, Afganistan.

“Misi ini menindaklanjuti pertemuan ulama-ulama dari Afghanistan, Pakistan dan Indonesia pada saat di Istana Bogor bulan Mei lalu,” ujarnya kepada Republika.co.id, Rabu (7/11).

Menurutnya, dalam pertemuan beberapa bulan lalu di Istana Bogor membicarakan munculnya gencetan senjata sehingga perdamaian yang permanen masih belum terwujud.

“Tapi sekarang situasi di Kabul kelihatan tenang dan damai meski sangat kelihatan keamanan sangat ketat,” ucapnya.

Ia menceritakan, konflik masih terjadi di daerah pedalaman antara suku dan golongan. Untuk itu, pemerintah Indonesia terus mengirimkan misi perdamaian di Afghanistan dengan melibatan Taliban yang masih menguasai setengah dari wilayah 35 provinsi dan seperttiga penduduk dengan bermarkas di Doha, Qatar. “Allahu mustaan semoga Allah menolong, amin,” ungkapnya.

Beberapa bulan lalu, MUI menggelar pertemuan tripartit melibatkan MUI, perwakilan Afghanistan, dan delegasi dari Taliban Pakistan. Pertemuan yang digelar di Bogor beberapa waktu lalu itu menghasilkan Resolusi Bogor untuk perdamaian Afghanistan.

Sumber: Republika.co.id