Arafah, Hari Lahir Kembali

ARAFAH, HARI LAHIR KEMBALI...

ARAFAH, HARI LAHIR KEMBALI…

Esok sungguh istimewa.

9 Dzulhijjah.

Satu jejak hari yang ditakdirkan Allah untuk hadir

di bulan penghujung tahun.

 

Apakah ia akan menjadi akhir untuk sebuah awal terbaikmu?

Akankah 9 Dzulhijjah

menjadi kelahiranmu kembali?

 

Pada 9 Dzulhijjah

Allah titipkan ampunanNya

untuk jejak kelas dosamu

yang berserakan

di jejak hidupmu setahun lalu

yang kekal di tahun hadapan.

 

Rugi sungguh merugi.

Bodoh sungguh bodoh.

Jika engkau lewatkan ia

tanpa jejak taqwa

meski sekedar menahan lapar dan sedikit dahaga.

 

Berpuasalah esok.

Taburi dengan dzikir dan doa.

Hiasi dengan sedekah.

Kunci dengan lisan yang terjaga.

Engkau akan lahir kembali.

Mengawali jejak hidup dengan nafas baru yang indah.

 

 

(Titip doa tak putus

untuk Lombok tercinta…)

 

 

Akhukum,

Muhammad Ihsan Zainuddin

Keagungan dan Keutamaan Hari Arafah

Keagungan dan Keutamaan  Hari Arafah

Hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) saat jama’ah haji wuquf di padang Arafah merupakan hari agung dan mulia. Sebab dia merupakan puncak dari ritul ibadah haji, hari disempurnakannya nikmat Islam, dan hari Raya bagi Jama’ah haji serta hari pengampunan dosa dan pembebasan dari Neraka. Saking agung dan mulianya Allah bersumpah dengannya.

Keagungan dan keutamaan hari Arafah seperti disebutkan di atas berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam yang akan dijelaskan secara singkat berikut ini.

  1. Hari ‘Arafah merupakan hari disempurnakannya Agama dan Nikmat Allah

Dalam shahihain terdapat satu hadits, Ada orang Yahudi mengatakan kepada Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu, wahai Amirul Mukmin. Ada satu ayat di Kitab yang kamu baca. Kalau diturunkan kepada kami, pasti kami jadikan hari itu sebagai hari raya. ”Ayat apa itu?” tanya Umar. Dia menjawab (membaca surat Al-Maidah ayat 3);

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا (سورة المائدة :3)

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” QS. Al-Maidah: 3

Umar mengatakan, “Sungguh kami telah mengetahui hari itu, dan tempat dimana diturunkan kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam saat beliau sedang wukuf di Arafah pada hari Jumat”. (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Hari Arafah Adalah Hari Raya Bagi Jama’ah Haji Yang Berwukuf

Bagi jama’ah haji hari ‘Arafah yang merupakan puncak ibada haji sekaligus hari raya. Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

(وم عرفة ويوم النحر وأيام التشريق عيدنا أهل الإسلام ، وهي أيام أكل وشرب  (رواه أهل السنن

Hari Arafah, hari nahr dan hari-hari tasyriq adalah hari raya kami orang Islam, ia adalah hari makan dan minum.” (HR. Ahlis sunan).

Diriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa beliau mengatakan, “Ayat ini (Al-Maidah:3) diturunkan pada hari Jumat di hari Arafah. Keduanya menjadi hari raya bagi kami alhamdulillah”.

  1. Allah Bersumpah dengan Hari Arafah

Allah bersumpah dengan hari ‘Arafah. Ini menunjukan kemuliaan dan keutamaan hari Arafah. Karena Allah tidak bersumpah kecuali dengan yang agung dan mulia. Dalam Al-Qur’an Allah menyebut hari ‘Arafah sebagai hari yang disaksikan, Allah Ta’ala berfirman;

وشاهد ومشهود (سورة البروج :3

Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (QS. Al-Buruj: 3)

Abu Hurairah radhiyallahu anhu  mengatakan bahwa Nabi shallallahu aliahi wa sallam bersabda: “Hari yang dijanjikan adalah hari kiamat, dan hari yang disaksikan adalah hari Arafah. Yang menjadi saksi adalah hari Jumah.” (HR. Tirmizi dihasankan oleh Albani)

Sumpah Allah dengan hari Arafah juga terdapat dalam surah Al-Fajr ayat 3;

والشفع والوتر (سورة الفجر :3

“Dan yang genap dan yang ganjil.” (QS. Al-Fajr: 3)

Ibnu Abbas mengatakan, “Yang genap adalah hari Idul Adha dan yang ganjil adalah hari Arafah”.

  1. Puasa Pada Hari ‘Arafah Menghapus Dosa Dua Tahun

Salah satu amalan yang disunnahkan pada hari ‘Arafah adalah berpuasa, yang dikenal dengan nama puasa ‘Arafah. Puasa Arafah memiliki keutamaan yang besar, yakni menghapus dosa dua tahun.

Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau bersabda:

يكفر السنة الماضية والسنة القابلة  (رواه مسلم

“ Menghapus dosa tahun lalu dan tahun depan.” (HR. Muslim)

Puasa ini dianjurkan bagi selain jamaah haji. Bagi jamaah haji tidak dianjurkan berpuasa di hari Arafah. Karena Nabi shallallahu alaihiwa sallam tidak puasa di Arafah dan melarang berpuasa di hari tersebut.

  1. Allah Mengambil Sumpah Janji Kepada Keturunan Adam Pada Hari Arafah

Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إن الله أخذ الميثاق من ظهر آدم بنعمان – يعني عرفة – وأخرج من صلبه كل ذرية ذرأها ، فنثرهم بين يديه كالذر ، ثم كلمهم قبلا ، قال : ” ألست بربكم قالوا بلى شهدنا أن تقولوا يوم القيامة إنا كنا عن هذا غافلين (172) أو تقولوا إنما أشرك آباؤنا من قبل وكنا ذرية من يعدهم أفتهلكنا بما فعل المبطلون (سورة الأعراف :172-173 ، رواه أحمد وصححه الألباني)

Sesungguhnya Allah mengambil janji setia dari punggung Adam di Nikman (yakni Arafah)  dan mengeluarkan dari tulang rusuknya semua keturunan yang melanjutkannya. Dan disebarkan diantara kedua tangannya seperti biji. Kemudian semua ditanya seraya mengatakan: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.” (QS. Al-A’raf: 172-173, HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albany)

  1. Hari Arafah Merupakan Hari Pengampunan Dosa dan Pembebasan dari Neraka

Hari Arafah merupakan hari Pengampunan dosa dan pembebasan dari Neraka, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Ummul Mukmiminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ما من يوم أكثر من أن يعتق الله فيه عبدا من النار من يوم عرفة ، وإنه ليدنو ثم يباهي بهم الملائكة فيقول : ما أراد هؤلاء ؟  (رواه مسلم

“Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan seorang hamba dari neraka  di banding pada hari Arafah. Sesungguhnya Dia mendekat dan membanggakannya (di hadapan) para malaikat, seraya bertanya, “Apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim)

  1.  Pada Hari Arafah Allah Membangga-banggakan Penduduk Arafah

Pada hari Arafah Allah membangga-banggakan  jama’ah haji yang berkumpul untuk wuquf di  Arafah di hadapan para Malaikat.  Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إن الله تعالى يباهي ملائكته عشية عرفة بأهل عرفة ، فيقول : انظروا إلى عبادي أتوني شعثا غبرا (رواه أحمد وصححه الألباني)

Sesungguhnya Allah membanggakan penduduk Arafah kepada malaikat-Nya pada siang Arafah, Seraya berfirman, “Lihatlah kepada hamba-Ku mereka datang dalam kondisi lusuh dan berdebu.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Albani).

Semoga kita memperoleh keberkahan hari yang mulia dan agung ini. Semoga kita memperoleh ampunanNya dan pembebasan dari neraka.  Wallahu a’lam. [sym].

Semarak Dzulhijjah Muslimah Wahdah Jakarta

Semarak Dzulhijjah Muslimah Wahdah Jakarta 

Semarak Dzulhijjah Muslimah Wahdah Jakarta 

(Depok) wahdahjakarta.com-, Bertepatan dengan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia (1/08/2018), Muslimah Wahdah Wilayah (MWW) Jakarta dan Depok menggelar acara Semarak Dzulhijah di Kompleks Pesantren Al Hijaz Kelapa Dua Depok.  Acara ini dihadiri oleh 80 peserta dari beberapa daerah di Jakarta dan Depok.

Menurut Ketua Muslimah Wahdah Wilayah Jakarta Ustadzah Rahmah Thamrin kegiatan ini digelar sebagai sarana silaturrahmi menambah pemahaman tentang keutamaan bulan Dzulhijjah. “Kami berharap acara ini dapat menjadi sarana silaturahmi muslimah dan sarana menambah pemahaman kita terhadap keutamaan bulan Dzulhijah. Juga sebagai sarana memupuk semangat pengorbanan”, ungkapnya.

Acara semarak Dzulhijah dibuka mulai pukul 8.30 dengan sesi game ta’aruf dan game cerdas tangkas sebagai acara pembuka. Acara selanjutnya merupakan materi inti yang disampaikan oleh Ustadzah Rahmawati Basarang dengan tema “Menggapai Indahnya Islam bersama Bulan Dzulhijah”.

Pada sesi terakhir sebelum penutupan, panitia melakukan orasi penggalangan donasi Qurban dan donasi dakwah.  Alhamdulillah pada sesi ini diperoleh donasi hewan Qurban 4 ekor kambing dan 5 bagian sapi. [yd/ed:sym].

Sepuluh Langkah Praktis Meraih Pahala di Hari Arafah

Sepuluh Langkah Praktis Meraih Pahala di Hari Arafah

Hari Arafah merupakan  hari yang utama. Bahkan lebih utama dari sepuluh ribu hari, sebagaimana dikatakan sahabat  Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Hari Arafah juga merupakan hari pengampunan dosa dan pembebasan dari siksa neraka.  ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Diantara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arafah. ” (Terj. HR. Muslim no. 1348).

Oleh karena itu seorang Muslim hendaknya berusaha meraih keutamaan hari yang mulia ini. Berikut ini sepuluh langkah meraih pahala di hari ‘Arafah yang mulia.

  1. Mengagungkan hari Arafah dengan mengingat keutamaan dan kedudukannya disisi Allah karena Allah Subhana wa Ta’ala telah bersumpah dalam firman-Nya:

( وَمَشْهُودٍ): dan yang disaksikan.

  1. Seorang Muslim hidup dengan hatinya, sebagaimana keadaan Nabi Shallahu Alahi wa Sallam shalat dan berkhutbah dihadapan manusia ketika wukuf di hari Arafah.
  2. Merasakan anugerah Allah dengan disempurnakannya agama Islam di hari Arafah dan dicukupkannya kenikmatan setelah cahaya yang agung dari ayat-ayat tauhid, kisah-kisah, dan hukum-hukum, dan juga merasakan bahwa hari Arafah adalah hari raya yang agung bagi orang islam.
  3. Merasakan kasih sayang Allah kepada manusia yang berada di Arafah: “Apa yang mereka inginkan? Lihatlah kepada hamba-hambaku, yang datang kepadaku dalam keadaan kusut dan berdebu“.
  4. Berniat sejak malam untuk puasa Arafah untuk menyempurnakan pahala, sebab puasa di hari itu menghapuskan dosa satu tahun yang lalu dan dosa satu tahun yang akan datang. Dan dimana lagi kita mendapatkan amalan di hari tersebut yang dapat menghapuskan dosa lebih dari 700 hari?
  5. Melakukan amalan saleh di hari Arafah seperti hari-hari yang lain dari 10 hari pertama dzulhijjah dan semua hari dalam setahun seperti:

* Shalat malam dan beristigfar pada waktu sahur.

* Shalat berjama’ah dan bersegera datang ke Masjid.

* Duduk setelah shalat subuh untuk berdzikir, bagi laki-laki di masjid dan perempuan di rumahnya.

* Mencurahkan diri dalam ketaatan dengan menunggu  shalat setelah shalat.

* Mengisi waktu dengan Al-Qur’an baik dengan tilawah, menghafal, memahami, mentadabburi dan mengajarkannya.

* Membaca dzikir pagi dan petang.

* Memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, takbir, secara mutlak kapan saja di 10 hari pertama dzulhijjah, dan dikhususkan pada akhir sholat setelah terbit fajar di hari arafah.

  1. Mengumpulkan syarat-syarat terkabulnya doa dan adab-adabnya mulai dari: ikhlas, harapan, yakin, husnuzon, bersungguh-sungguh dalam meminta, merendahkan diri, bersuci, menghadap kiblat, meminta dengan nama-nama Allah yang baik, doa-doa dari Al-Qur’an, nabi, dan kumpulan doa, mengakui dosa, meminta pengampunan, dan rahmat, mengangkat kedua tangan, mengulangi doa, dan bershalawat kepada Nabi Shallahu Alaihi Wasalam, serta berpakaian yang baik.
  2. Memanfaatkan waktu-waktu yang agung pada hari Arafah karena “(sebaik-baik doa, doa di hari Arafah)”, dan jangan sampai waktu-waktu yang berharga ini terlewatkan di tempat perbelanjaan atau sibuk mengendarai kendaraan di hari Arafah.
  3. Untuk Jama’ah haji memiki pahala yang banyak, dan untuk selain mereka punya pahala in syaa Allah bagi yang berdzikir di hari Arafah “(sebaik-baik doa, doa di hari Arafah dan sebaik-baik apa yang Aku (Rasulullah) katakan dan Nabi-nabi sebelumku

لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya, kerajaan dan pujian milik-Nya dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu“.

Dan dari keutamaan (Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seorang hamba dari neraka adalah hari Arafah)

  1. Mengharapkan karunia Allah yang besar dan luasnya kasih sayang-Nya. Dan keutamaan hari Arafah bagi siapa yang berada di Arafah dan yang tidak di arafah masih mendapatkan keutamaan hari Arafah, dan sesungguhnya keutamaan ada pada hari itu, dan keutamaan berdoa yang bersifat umum untuk para haji dan selain mereka, tetapi siapa yang berada di Arafah maka dia telah mengumpulkan antara keutamaan tempat dan waktu.

Dan pembebasan dari api neraka di hari Arafah umum untuk semua kaum Muslim. sebagaimana yang dikatakan Ibn Rajab Al-Hambali “Siapa yang wukuf di Arafah dan siapa yang tidak wukuf di Arafah dari kalangan kaum Muslim”.

Ya Allah, rahmatilah kami, dan ampunilah kami, dan masukkanlah kami ke Surga, dan lindungilah kami dari azab neraka, wahai yang Maha Pengampun. [ed:sym].

Sumber: 10 Khuthuwat ‘Amaliyah Lis Titsmar Yaum ‘Arafah al-‘adzim Oleh Syaikh Al-Munajjid, Alih Bahasa Oleh: Muttazimah

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ [٥٨:١١[

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al Mujadilah: 11)

Allah Ta’ala juga berfirman;

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ [ ٥٦:١] لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ [٥٦:٢] خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ [٥٦:٣]

Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya.  (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain)”. (Qs. Al Waqiah 1-3).

 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak tidur dan tidak selayaknya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidur. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan meninggikan dan menurunkan timbangan orang banyak. maksud Al-Khafidz adalah yang menurunkan kesombongan dan kecongkakan para penguasa sehingga kedudukan mereka menjadi rendah dan hina. Bisa juga dimaksudkan dengan merendahkan orang-orang kafir dan musyrik dengan menjatuhkan mereka ke dalam neraka Jahannam.

Maksud Al-Khafidh adalah meninggikan para Wali Allah subhanahu wa ta’ala dan menolong mereka dalam melawan musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ar-Rafi’ juga berarti yang meninggikan kedudukan hamba-hamba yang dikehendakiNya di dunia sebelum mereka ditinggikan di akhirat dengan memasukkan mereka ke dalam surga pada derajat yang sangat tinggi. Seringkali  Al-Khafidh disebutkan bersamaan dengan Ar-Rafi’ sehingga terlihat dengan jelas bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala meninggikan dan merendahkan hamba-hambaNya sesuai dengan hikmahNya . (Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

Kisah Duka Seorang Musafir di Perjalanan

Kisah Duka Seorang Musafir di Perjalanan

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Sungguh malang nasib bapak yang berinisial MF (60). Dia berasal dari Cirebon, lahir di Manado. Dia sering bolak-balik Cirebon – Sukabumi untuk melakukan pengobatan jemarinya yang kaku selama satu tahun. Ujian menimpa dirinya ketika hendak pulang dari Sukabumi ke rumahnya di Cirebon, Rabu(8/8/2018) bahwa bus yang hendak dia tumpangi tidak ada lagi karena kehabisan tiket.

Oleh karena itu, Bapak (MF) naik bus jurusan Depok untuk transit di sana. Sebelum turun di terminal Depok, betapa kagetnya bapak ini karena barang-barang berharga yang dibawa seperti tas, sepatu, dompet dan seluruh isinya serta hp sudah dibawa kabur oleh pencuri. Lalu dia langsung mengunjungi kantor polisi terdekat untuk pengaduan dan mendapatkan surat keterangan hilang dari polisi.

Berbekal surat keterangan hilang dari polisi, Bapak (MF) meneruskan langkahnya dengan berjalan kaki di sepanjang jalanan Depok – Jakarta karena tidak punya uang untuk bayar ongkos angkutan umum, dan nomor hp satu pun tidak ada yang ingat untuk dihubungi. Sehingga pada akhirnya bapak ini tiba di sebuah masjid di kampus Universitas Gunadarma. Usai Shalat MF berbincang-bincang dengan salah seorang mahasiswa yang juga santri binaan Wahdah Islamiyah yang seluruh kegiatannya di support oleh LAZIS Wahdah.

Mahasiswa yang tidak disebutkan namanya ini menyarankan kepada bapak yang musafir untuk segera mengunjungi kantor LAZIS Wahdah. Bapak (MF) pun langsung berjalan kaki sejauh 20 km lebih untuk sampai di kantor LAZIS Wahdah Jakarta. Setelah sampai di sana, ternyata di kantor lamanya. Lalu dia bertemu dengan salah seorang pengurus Wahdah Islamiyah di sana dan mendapatkan alamat baru LAZIS Wahdah Jakarta dari pengurus tersebut. Bapak (MF) tetap semangat berjalan kaki lagi hingga sampai juga di kantor LAZIS Wahdah Jakarta di Lenteng Agung, dekat Universitas Pancasila.

Di sana, Bapak (MF) bertemu langsung dengan pimpinan LAZIS Wahdah Jakarta, Yudi Wahyudi dan menceritakan semua apa yang dialaminya. Pimpinan LAZIS Wahdah Jakarta turut prihatin lalu memberikan bantuan yang berasal dari donatur kepadanya.

“Saya sangat berterima kasih sekali kepada LAZIS Wahdah atas bantuannya, bantuan ini sangat berarti sekali bagi saya “,  tuturnya.

“Terus terang, saya adalah muallaf meskipun sudah 12 an tahun tetapi belum bisa banyak membaca Al Qur’an bahkan hampir tidak mempunyai waktu membaca Al Qur’an. Mungkin ini teguran buat saya“, tambahnya.

Alhamdulillah Bapak, Allah mempertemukan kita di tempat ini bukan tidak ada maksud. Mudah-mudahan ini adalah awal untuk menjalin silaturrahim kita kedepannya. Kami sudah ada da’i di Cirebon dan sudah ada rencana untuk buka cabang nantinya di sana”, ujar Ketua LAZIS Wahdah Jakarta. [yd/rsp]

———-

**

💧Kunjungi 👇🏻

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2154471844768740&id=1458576761024922

❤Indahnya berbagi dengan mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Mari bersama bahagiakan dhuafa, yatim, santri penghafal Al Qur’an, dan para da’i yang sedang berjuang menyebarkan cahaya islam di pelosok Nusantara dengan segala keterbatasan melalui LAZIS Wahdah.

➡ Bank Syariah Mandiri (451) 773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah

📲Konfirmasi transfer ke 08119787900 (call/wa/sms)

“Bahagia mereka, bahagia kita semua”

💌LAZIS Wahdah, “Melayani dan Memberdayakan”

15  Nasihat dalam Memanfaatkan Sepuluh Hari  Pertama Bulan Dzulhijjah

15  Nasihat dalam Memanfaatkan Sepuluh Hari  Pertama Bulan Dzulhijjah

Khalid bin Ali Al-Jureish

 

Saudaraku,

Sepuluh Hari  pertama bulan Dzulhijjah ini adalah hari-hari yang paling mulia dalam hidupmu, detik-detiknya bagaikan harta karun, malam dan siangnya bagaikan perbendaharaan yang mahal. Karena pada hari-hari yang mulia ini berkumpul ibadah-ibadah pokok seperti puasa, sedekah, haji, shalat, dll, seperti yang dikatakan oleh Ibn Hajar rahimahullah.

Saya ingin menyampaikan nasihat ini kepada saudaraku tentang pentingnya memanfaatkan hari-hari yang penuh kemuliaan ini 10 hari pertma bulan Dzulhijjah. Bersemangatlah dalam melakukannya dan mempraktekkannya serta menyebarkannya kepada hamba Allah yang lain, Semoga Allah ‘Azza wa jalla memberikan pahala kepadak,  kepadamu, dan kepada meraka.

Pertama, Latihlah Dirimu dalam Melakukan Amal Sholeh

Sesungguhnya melatih diri untuk melakukan amalan sholeh sebelum memasuki 10 hari yang mulia itu penting. mengapa? Untuk mempersiapkan diri menghadapinya, dan meningkatkan amalan, dan agar kamu bisa mengontrol dirimu ketika memasukki 10 hari yang mulia, sehingga menguatkan azzammu dan memaksimalkan tekadmu.

Kedua, Bersungguh-sungguhlah

Saudaraku, betapa bagusnya jika kau membuat kegiatan ibadah pada 10 hari yang mulai ini dengan berbagai macam ibadah didalamnya, tetapi waspadalah pada pemutus dan penghalang ibadah, karena dia dimulai dari yang kecil kemudian membesar, maka berhati- hatilah, putuskan penghalang tersebut diawal kemunculannya, dan bersungguh-sungguhlah pada hari itu, karena waktu tersebut mulia dan agung.

Ketiga, Jangan Abaikan Dzikir Ini

Dzikir ini jika seratus kali sehari, menghapus dosa-dosa. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

«Siapa yang mengucapkan سبحان الله وبحمده dalam sehari 100 kali, dihapuskan kesalannya walaupun kesalahannya sebanyak buih di lautan». (HR Al-Bukhari).

Hal ini juga mirip dengan hadits Shahih Muslim dari hadits Sa’d  radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda: «Maka dituliskan baginya seribu kebaikan atau dihapuskan baginya seribu kesalahan».

Maka usahakanlah di sepuluh hari yang mulia ini mengawali dan membiasakan dzikir tersebut, walaupun belum pernah melakukan sebelumnya. Lalu lanjutkan selama hidupmu. Melakukan amalanini  tidak membutuhkan waktu lebih dari dua menit. Dan jangan lupa  ajarkan kepada orang lain, karena “yang menunjukkan kebaikkan seperti orang yang melalukannya.

Jadikan  ibadah tersebut sebagai kebiasaan dalam hidupmu, dan jika kau bisa dalam 10 hari yang mulia itu, jangan bosan dalam berdzikir, bertakbir, bertasbih dll, maka lakukanlah, karena setiap  yang kamu ucapkan atau lakukan, menjadi tabunganmu pada timbangan kebaikanmu yang akan membuatmu bahagia di hari kiamat. Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda  « Hendaklah lidahmu selalu basah dengan dzikirullah (menyebut nama Allah )’Azza wa jalla».

Keempat: Jangan Abaikan 3.000. 0000 Kebaikan

Salah satu karunia Allah dan rahmat-Nya bahwa setiap huruf Al-Qur’an yang engkau baca dari dibalas 10 kebaikan atau lebih. Nah, salahsatu yang dapat dilakukan dalam 10 hari ini adalah membaca sejumlah ayat pada setiap shalat.  Jika  engkau membaca di setiap selesai sholat  satu juz, maka engkau telah mengkhatamkan hampir dua kali khatam selama 10 hari dan setiap khatam pahalanya lebih dari 3.000.000 (tiga juta) kebaikan.

Kelima: Jangal Lupa Dzikir Ini

Jangan lupakan dzikir

“لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya, kerajaan dan pujian milik-Nya dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu

Ini adalah  dzikir yang agung. Jika  engkau  mengucapkannya sepuluh kali, engkau seperti orang yang membebaskan empat budak, bahkan jika engkau mengucapkannya sebanyak seratus kali, dan sangat gampang dan mudah bagi yang diberi taufik oleh Allah, engkau seperti orang yang membebaskan sepuluh budak, Allah Akbar!

Ini adalah amalan yang mudah setara dengan pahala membebaskan budak. Maka nasihatku padamu, mulailah dengannya di 10 hari yang mulia walaupun engkau belum pernah melakukannya. Lalu lanjutkanlah amalan ini karena dia adalah kebaikan yang agung. Ia akan menjadi tabunganmu pada hari kiamat.  Amalan  tersebut tidak membutuhkan waktu lama, tidak sampai sepuluh menit. Dzikir ini dapat kau ucapkan dalam satu waktu atau pada waktu yang berbeda dalam satu hari.

Keenam, Program Amal Sholeh Bersama Keluarga

Sepuluh hari pertama bulan  Dzulhijjah adalah kesempatan yang terbatas, sedikit dan cepat berlalu. Maka  sebaiknya engkau membuat kegiatan-kegiatan ibadah untuk keluargamu untuk investasi pahala. Buat berbagai program  macam amalan sholeh dan kamu akan turut mendapatkan pahala dari apa yang dikerjakan oleh keluargamu. Berusalah  memotivasi mereka dalam merutinkan amal sholeh. Libatkan mereka dalam menyusun dan merencanakan kegiatan-kegiatan tersebut.

Ketujuh: Jangan Lewatkan Kegiatan Dakwah

Sesungguhnya menunjukkan kebaikan pad orang lain, dan mengingatkan mereka adalah amalan sholeh yang efektif, karena pahalanya jika mereka melakukannya akan kembali kepadamu seperti pahala mereka, dan tercatat di sisi Allah Ta’ala pada timbangan kebaikanmu, apalagi di sepuluh hari yang mulia ini. Maka  bersungguh-sungguhlah pada hari iini, karena pada hari ini ladang pahala terbentang luas yang berlipat ganda. Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda: « Siapa yang menunjukkan kebaikan maka baginya seperti pahala yang melakukannya». (HR Muslim).

Kedelapan, Belajar Bersama Keluarga

Saudara[i]ku,  membacalah tentang sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah, dan berusahalah  menerapkan setiap apa yang engkau baca untuk meraih ilmu dan amal sekaligus. Dan   alangkah indahnya jika keluarga berkumpul untuk membaca seperti ini, agar keluarga tersebut meraih dua kebaikan, ilmu dan amal.

Semoga  kegiatan belajar keluarga ini menjadi rutinitas pekanan sepanjang tahun, dan disarankan di hari selain 10 hari dzulhijjah untuk kegiatan belajar bersama keluarga membaca kitab Arbi’un dalam sebuah majelis untuk tarbiyah keimanan.

Kesembilan, Dakwah Kepada Teman Sejawat

Saudaraku, berusaha keraslah untuk mengingatkan teman-temanmu tentang mengambil keutamaan di sepuluh hari yang mulia ini. Bisa jadi salah satu dari mereka mendengarnya darimu sekarang dan dia melakukannya dalam hidupnya, dan pahala itu akan terus mengalir untukmu. Jangan  remehkan kalimat kebaikan yang engkau ucapkan atau amalan yang kau ingatkan.

Kesepuluh, Tebarkan Kebaikan Melalui Sarana Komunikasi, Media Online dan Sosial (Medsos)

Manfaatkan berbagai sarana komunikasi (median online dan medsos) untuk menyadarkan tentang pentingnya memanfaatkan 10 hari yang mulia ini. karena sarana komunikasi ini sangat cepat menyebar, masuk di setiap rumah.  Jadilah  pelopo kebaikanr yang aktif menyebarkan keutamaan tersebut dengan tetap berhati-hati agar tidak menyebar sesuatu kecuali yang benar dan pasti. Melalui pesan-pesan ini engkau telah melakukan peran yang besar seperti khatib dan da’i, karena di depanmu ribuan manusia, maka jangan menganggap remeh hal ini.

Kesebelas;

Salah satu amalan sholeh pada 10 Hari dzulhijjah adalah membaca Al-Qur’an, tasbih, takbir, tahmid, tahlil, puasa, dan sholat, dan lain lain dari amalan sholeh, dan alangkah baiknya amalan-amalan ini dan yang lain dijadwalkan dan diamalkan dan diintropeksi diri tentang amalan tersebut, karena hari-hari ini sangat perlu ditulis, diperhatikan, dan direncanakan dan baiknya sebelum memasukki 10 hari tersebut, dan jangan lupa menginfokan orang lain tentang hal itu.

Keduabelas, Walaupu Hanya Sekali Kumpulkan Empat Amalan Ini dalam Sehari 

Disebutkan  dalam hadits  Bukhari tentang Abu Bakr ketika Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Shahabat: «Siapa di antara kalian yang berpuasa hari ini?”Saya”, jawab Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.  Siapa yang hari ini mengikuti (mengantar)  jenazah?” tanya Nabi lagi, “Saya”, jawab Abu Bakar lagi. Nabi  shallalahu ‘alaihi wasallam melanjutkan pertanyaannya, “Siapa yang memberi makan orang miskin hari ini?, Abu Bakar kembali menjawab: “Saya”.  “Siapa yang hari ini telah menjenguk orang sakit, tanya Nabi yang keempat kalinya.  Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjawab kembali, “Saya”. Lalu Rasulullah shallalhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seluruh perkara tersebut terkumpul pada diri seserang melainkan dia akan masuk surga »..

Dalam  hadits ini dinyatakan empat hal, cobalah untuk mengumpulkannya walaupun di beberapa hari pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini karena dia adalah keuntungan yang besar.

Tiga Belas, Jangan Lengah

Jangan berpikir bahwa syaitan akan meninggalkanmu di hari-hari mulia ini, tetapi dia akan menghalangimu lebih dari hari-hari yang lain, mengapa? Untuk menjauhkanmu dari harta(pahala) yang besar, maka jadilah anda pemenang dan syaitan yang kalah, karena sesungguhnya tipuan syaitan itu lemah dan hari-hari yang mulia itu sedikit dan cepat berlalu.

Keempat Belas, Ingat! Amal Shaleh di Hari-hari Ini Lebih Dicintai Allah

Intatlah selalu  hadits Nabi shallalhu ‘alaihi wasallam: “Tidak ada amalan shalih yang lebih dicintai Allah daripada beramal di hari-hari ini hari-hari yang sepuluh.”

Maka Hadits ini adalah stimulus yang besar untuk memperkuat tekadmu dalam melakukan amalan sholeh di sepuluh hari yang mulia ini. Cukuplah  bagimu bahwa hari tersebut adalah hari-hari yang terbaik dalam hidupmu, dan bahagiamu sampai pada hari-hari ini juga adalah pendorong yang besar dan agung.

Lima Belas, Sebarkan Nasehat Ini Seluas-luasnya

engkau menyebarkan nasihat-nasihat seperti ini merupakan tanda kebaikan dan menyampaikannya kepada orang lain adalah kebaikan yang besar. Karena hal itu memotivasi orang lain dalam melejitkan pahala pada hari-hari ini.

Semoga Allah memberkati kita dalam amalan kita dan umur kita, dan memperbaiki niat kita dan keturunan kita, dan menerima amalan sholeh kita, dan  semoga shalawat dan keselamatan tercurahkan selalu kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarganya dan sahabatnya semuanya. [Muttazimah/ed:sym].

Sumber: Khamsa ‘Asyrah Washiyah fi Istitsmarm ‘Asyr Dzil Hijjah, Oleh Penulis: Khalid bin Ali Al-Jureish, Alihbahasa Oleh: Muttazimah

Sambut Bulan Dzulhijah dengan Memperbanyak Amal Shaleh

Sambut Bulan Dzulhijah dengan Memperbanyak Amal Shaleh

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan suci (asyhurul hurum) yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 36. Dan salah satu yang istimewa dari bulan Dzulhijjah ada pada sepuluh hari pertama yang diterangkan oleh banyak dalil Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya.

Firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Fajr ayat 1-2;

وَالْفَجْر وَلَيَالٍ عَشْر الفجر

Demi fajar dan malam yang sepuluh” (QS. Al Fajr :1-2)

Sebahagian besar ahli Tafsir menafsirkan bahwa makna “Malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dan sumpah Allah Ta’ala atas waktu tersebut menunjukkan keagungan dan keutamaannnya (Lih:Tafsir Ibnu Katsir 4:535,  Zaadul Maad 1:56)

Diriwayatkan dari shahabat Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah  shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Tidak ada hari-hari yang di dalamnya amalan yang paling dicintai oleh Allah kecuali hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah” Para shahabat bertanya “Wahai Rasulullah, apakah amal-amal shalih pada hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah dari pada jihad fii sabilillah ?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Ya, kecuali seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali dari jihad tersebut dengan sesuatu apapun” (Terj. HR. Bukhari)

Diriwayatkan  dari Imam Ahmad -rahimahullah- dari Ibnu Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tidak ada hari-hari yang lebih agung dan amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah padanya, melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka perbanyaklah pada hari itu tahlil لا إله إلا الله, Takbir الله أكبر dan Tahmid الحمد لله

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Qurath Radhiyallahu Anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: ”Hari yang paling afdhal / utama (dalam setahun) adalah hari raya qurban (10 Dzuulhijjah)” (HSR. Ibnu Hibban)

Jika seseorang bertanya:

”Yang manakah yang lebih afdhal sepuluh terakhir di bulan Ramadhan ataukah sepuluh awal bulan Dzulhijjah ?” Imam Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata “Jika dilihat pada waktu malamnya, maka sepuluh terakhir bulan Ramadhan lebih utama dan jika dilihat waktu siangnya, maka sepuluh awal bulan Dzulhijjah lebih utama” . (Lih. Zaadul Ma’ad 1:57)

Amalan Yang Disyariatkan Pada Hari-hari Tersebut

Setiap  muslim hendaknya memanfaatkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini dengan penuh ketaatan kepada Allah Ta’ala memperbanyak dzikir dan syukur kepadaNya, melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi seluruh larangan serta memanfaatkan musim-musim ini untuk menyambut segala pemberian Allah Ta’ala yang dengannya kita meraih keridhaan-Nya.

  1. Melaksanakan Ibadah Haji dan Umrah

Kedua ibadah inilah yang paling utama dilaksanakan pada hari-hari tersebut, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Umrah yang satu ke umrah yang lainnya merupakan kaffarat (penghapus dosa-dosa) diantara keduanya, sedang haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali Syurga” (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Berpuasa

Dianjurkan pada hari-hari tersebut atau beberapa hari diantaranya  terutama pada hari Arafah (9 Dzulhijjah).

Ibadah  puasa merupakan salah satu amalan yang paling afdhal dan dilebihkan oleh Allah سبحانه وتعلى dari amalan-amalan shalih lainnya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasululllah صلى الله عليه وسلم bersabda :

Tidaklah seseorang berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari Neraka (karena puasanya) sejauh 70 tahun perjalanan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Khusus tentang puasa Arafah, diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda” Berpuasa di hari Arafah ( 9 Dzulhijjah ) menghapuskan dosa tahun lalu dan dosa tahun yang akan datang

  1. Memperbanyak Takbir dan Dzikir Pada Hari-hari Tersebut

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

…وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“…Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan..” (QS. Al Hajj: 28)

Tafsiran dari “Hari-hari yang telah ditentukan” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah . Oleh kerena itu para ulama kita menyunnahkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut. Dan penafsiran itu dikuatkan pula dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu’:

“…maka perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid pada hari-hari tersebut” (HSR. Ath Thabrany)

Dan diriwayatkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radiyallahu Anhu ketika keduanya keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah mereka berdua berakbir, maka orang-orang pun ikut berakbir sebagaimana takbir mereka berdua (R. Bukhari) Dan Ishaq bin Rahowaih –rahimahullah– meriwayatkan dari para ahli fiqh dari kalangan tabi’in bahwa mereka –rahimahumullah– mengucapkan pada hari-hari tersebut:

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ َاللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ

Disunnahkan mengangkat suara saat bertakbir, baik ketika di pasar, rumah, jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya, Allah سبحانه وتعلى berfirman:

…وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ…

“…Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah (dengan berakbir kepadaNya) atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu…” (QS. Al Baqarah :185).

  1. Bertaubat dan Menjauhi Kemaksiatan serta seluruh dosa agar mendapatkan maghfirah dan rahmat dari Allah Ta’al

Hal ini penting dilakukan karena kemaksiatan merupakan penyebab ditolaknya dan jauhnya seseorang dari rahmat Allah Ta’ala, sebaliknya ketaatan merupakan sebab kedekatan dan kecintaan Allah Ta’ala kepada seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sungguh Allah itu cemburu dan kecemburuan Allah apabila seseorang melakukan apa yang Allah haramkan atasnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Memperbanyak Amalan Shaleh 

Dianjurkan pula memperbanyak amalan-amalan shalih berupa ibadah-ibadah sunnat seperti shalat, jihad, membaca Al Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan yang semacamnya. Karena amalan tersebut akan dilipatgandakan pahalanya jika dilakukan pada hari-hari tersebut, hingga ibadah yang kecil pun jika dilakukan pada hari-hari tersebut akan lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah سبحانه وتعلى dari pada ibadah yang besar yang dilakukan pada waktu yang lain. Contohnya, jihad, yang merupakan seutama-utama amal, namun akan dikalahkan oleh amal-amal shalih yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulah Dzulhijjah, kecuali orang yang mendapat syahid.

  1. Bertakbir

Disyariatkan pada hari-hari tersebut bertakbir di setiap waktu, baik itu siang maupun malam, terutama ketika selesai shalat berjama’ah di masjid. Takbir ini dimulai sejak Shubuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji, sedang bagi jama’ah haji maka dimulai sejak Zhuhur hari penyembelihan (10 Dzulhijjah) Adapun akhir dari waktu bertakbir adalah pada hari terakhir dari hari-hari Tasyrik (13 Dzulhijjah)

  1. Memotong Hewan Qurban (Udhiyah) bagi yang mampu pada hari raya qurban (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah)

Hal ini merupakan sunnah bapak kita Ibrahim Alaihissalam ketika Allah سبحانه وتعلى mengganti anak beliau dengan seekor sembelihan yang besar. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم berqurban dengan dua komba jantan yang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk, Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan bertakbir

Bagi orang yang berniat untuk berqurban hendaknya tidak memotong rambut dan kukunya sampai dia berqurban, diriwayatkan dari Umu Salamah, Rasulullah bersabda:

Jika kalian telah melihat awal bulan Dzulhijjah dan salah seorang diantara kalian berniat untuk menuyembelih hewan qurban maka hendaknya dia menahan rambut dan kukunya” Diriwayat lain disebutkan:”Maka janganlah dia (memotong) rambut dan kuku-kukunya sehingga dia berqurban”.

Kemungkinan larangan tersebut untuk menyerupai orang yang menggiring (membawa) qurban sembelihan saat melakukan ibadah haji, sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى :

…وَلاَ تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ …

“…Dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebaelum qurban sampai di termpat penyembelihannya…” (QS. Al Baqarah :196).

Namun demikian tidak mengapa bagi orang yang akan berqurban untuk mencuci atau menggosok rambutnya meskipun terjatuh sehelai atau beberapa helai dari rambutnya.

  1. Shalat ‘Ied

Melaksanakan shalat ‘Ied berjama’ah sekaligus mendengarkan khutbah dan mengabil manfaat darinya, yaitu sebagai hari kesyukuran dan untuk mengamalkan kebaikan. Karenanya janganlah seseorang menjadikan hari ‘Ied untuk berbuat kejahatan dan kesombongan. Serta jangan pula menjadikannya sebagai kesempatan untuk bermaksiat kepada Allah سبحانه وتعلى dengan mendengarkan nyanyian-nyanyian, alat-alat yang melalaikan(seperti alat-alat musik) minuman keras dan yang semacamnya. Karena perbuatan-perbuatan seperti itu bisa menjadi penyebab terhapusnya amal-amal shalih yang telah dikerjakan pada sepuluh hari pertama bulan tersebut .

Semoga Allah  Ta’ala senantiasa menujuki kita kepada jalan yang lurus dan memberikan taufiq agar kita termasuk orang-orang yang memanfaatkan kesempatan emas seperi ini dengan baik, Amin yaa Rabbal ‘Alamin.

(Sumber: Tulisan Ustadz DR. Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A. (Ketua Dewan Syariah Wahdah Islamiyah))

Energy Of Da’wah Qurani

Energy of Da'wah Qurani

Sambutan Ketua DPW Wahdah Islamiyah dalam seminar Energy Of Da’wah Qurani

Energy Of Da’wah Qurani

(Depok) Wahdahjakarta.com, – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok  menggelar Sharing Dakwah Qurani di Aula Trubus Cimanggis Depok Jawa barat pada Ahad, (12/08/2018).

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari MPP (Musyawarah Pengurus Pleno) yang rutin diadakan setiap 4 bulan sekali.

Sharing Da’wah Qurani pada MPP ini mengundang salah satu Lembaga Pendidikan Alquran yang sedang naik daun yaitu Tim Askar Kauny yang diwakili Ust Habiburakhman, Lc. Lembaga pimpinan Ust Bobby Herwibowo, Lc ini terkenal dengan metode menghafal qur´an menggunakan otak kanan dengan branding `Menghafal Semudah Tersenyum`.

Dengan metode ini (atas ijin Allah) sudah jutaan orang yang telah merasakan manfaat bagaimana menghafal qur`an dengan mudah, dan ada 40.000 lebih peserta aktif dari komunitas penghafal qur`an di Indonesia dan beberapa negara lain. Askar Kauny juga telah memiliki 23 Pesantren penghafal qur`an untuk Yatim dan Dhuafa yang digratiskan sejak didirikan tahun 2014 dan masih terus banyak beberapa permintaan antri untuk pendirian pesantrennya.

Perkembangan yang begitu cepat ini (atas ijin Allah) menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap dakwah Alqur`an yang begitu tinggi, disamping karena metode yang dikembangkan Askar Kauni begitu mudah dan menyenangkan di dalam prakteknya. `Menghafal Qur`an dengan tidak menggunakan otak`, demikian papar Ust Habib dalam sesi sharing dengan pengurus DPW WI DKI Jakarta – Depok.

Dalam sambutanya Ustadz Ilham Jaya selaku Ketua DPW Menyampaikan perlunya melakukan terobosan – terobosan terus menerus di dalam dakwah, sehingga potensi yang ada akan semakin berkembang. Dengan adanya sharing dakwah qurani diharapkan menambah wawasan, bekal `amunisi` dan energi bagi Pengurus Wahdah Islamiyah di Jakarta dan Depok agar berdakwah kepada masyarakat lebih mudah diterima, dan punya kekuatan yang dahsyat di dalam membuka pintu-pintu hidayah sebagai sebuah ikhtiar didalam mendakwahkan Alqur`an.(yd).

Menjadi  Manusia Terbaik

Siapakah manusia terbaik itu?

Apakah dia orang yang terkenal dan punya banyak penggemar? Apakah sebaik-baik manusia itu yang punya liker atau follwer terbanyak? Mari kita cermati apa yang disampaikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,

خيركم من تعلّم القرآن وعلّمه

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari: 4739)

 Bagaimana maksud hadits tersebut? Agar Anda lebih memahaminya, mari sejenak kita berbelok arah. Sekarang coba Anda pikirkan tentang suatu malam, yang di dalam Al Qur’an Allah berfirman tentangnya,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ [٩٧:١]  وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ [٩٧:٢] لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ [٩٧:٣]  تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ [٩٧:٤]  سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ [٩٧:٥

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (Terjemah QS al Qadr [97]: 1-3)

Malam apakah itu? Ya, lailatul qadar. Satu malam yang begitu dimuliakan. Satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Tahukah Anda sebabnya? Karena pada malam itu diturunkan Al Qur’an. Malam yang biasa, ketika padanya diturunkan Al Qur’an, dia menjadi malam yang paling mulia. Dan Anda tentunya tahu bahwa malam lailatul qadar ini berada di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, bulan Ramadhan pun menjadi sebaik-baik bulan. Lagi-lagi karena bersinggungan dengan Al Qur’an, Ramadhan menjadi sebaik-baik bulan di antara dua belas bulan yang ada.

Bagaimana dengan Makkah dan Madinah? Bukankah dua tempat itu merupakan tempat yang dimuliakan? Tempat tersebut setiap tahun dikunjungi oleh ribuan manusia dari berbagai penjuru negeri. Mengapa? Karena pada dua tempat itu diturunkan Al Qur’an sehingga menjadi tempat yang paling mulia di dunia.

Begitu pula dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Dan beliau (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam) adalah penduduk bumi yang paling baik nasabnya secara mutlak, maka semulia-mulia kaum adalah kaum beliau, semulia-mulia kabilah adalah kabilah beliau.” (Zaadul Ma’aad 1/72)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memiliki keutamaan dibandingkan rasul yang lainnya karena kepada beliaulah diturunkan Al Qur’an.

Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda,

“Sebaik-baik generasi adalah generasi di zamanku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (HR Bukhari: 2652)

Mengapa generasi di zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjadi sebaik-baik generasi? Karena pada generasi itulah masa diturunkannya Al Qur’an.

Nha, sampai di sini Anda mulai paham bukan? Setiap apa pun yang bersinggungan atau berdekatan dengan Al Qur’an, dia menjadi mulia. Bahkan Napoleon Bonaparte, penguasa Perancis yang berhasil menduduki Mesir pada tahun 1798-1801, dia secara tidak sengaja menemukan Al Qur’an di perpustakaan Mesir dan  mempelajari isinya selama beberapa hari. Apa kemudian yang dia katakan? “Aku telah mempelajari dari buku ini (Al Qur’an) dan aku merasa bahwa apabila kaum muslim mengamalkan aturan dalam buku ini, niscaya mereka tidak akan pernah terhinakan. Selama Al Qur’an ini berkuasa di tengah kaum muslimin dan mereka hidup di bawah naungan ajarannya, mereka tidak akan tunduk kepada kita, kecuali kita pisahkan mereka darinya.”

Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh William Ewat Gladstone, seorang berkebangsaan Inggris. Dia berkata di depan parlemen Inggris sambil memegang Al Qur’an, “Selama Al Qur’an ini masih berada di tangan kaum muslimin, maka selama itu juga eropa tidak akan mampu menguasai timur dan tidak akan hidup dengan aman.”

Seakan-akan kedua orang tersebut telah mempelajari dan memahami hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Al Qur’an dan merendahkan yang lainnya juga dengan Al Qur’an.” (HR Muslim: 817)

Bagaimana dengan kita? Kalau orang kafir saja memahami bahwa umat Islam akan mulia dengan Al Qur’an, sehingga mereka berupaya menjauhkan umat Islam dari Al Qur’an, maka  sudah selayaknya kita sebagai umat Islam menyadari dan mengambil bagian dalam hal ini. Jika kita ingin menjadi orang yang diangkat derajatnya, menjadi sebaik-baik manusia, maka kita harus berdekatan dengan Al Qur’an. Bermesraan lebih sering dengan Al Qur’an daripada dengan smartphone. Banyak membuka dan menelaah Al Qur’an daripada membuka dan menelaah status-status di medsos.

Dari sini pula kita bisa mengukur seberapa mulianya kadar diri kita di hadapan Allah. Jika kita lebih banyak berinteraksi dengan dunia maya atau kesibukan dunia dan menjadikan interaksi dengan Al Qur’an sebagai prioritas yang kesekian setelah prioritas-prioritas yang lain, maka kita perlu mengucapkan istighfar. Kita perlu segera berbenah. Kita perlu segera mengubah haluan dengan menjadikan Al Qur’an sebagai prioritas utama dalam jadwal-jadwal harian kita. Karena kemenangan dan kemuliaan agama ini akan diraih oleh orang-orang yang menghidupkan hatinya dengan lentera Al Qur’an. (UmmiSanti)