Terobos Hujan Lebat, Tim Medis Wahdah Gelar Pemeriksaan Kesehatan di Kampung Cihonje

Tim Medis Wahdah Peduli BencanaTsunami Selat Sunda sedang melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap warga terdampak di kampung Cihonje Pandeglang

(Pandeglang) wahdahjakarta.com – Setelah menempuh perjalanan dua jam dengan menerobos hujan lebat, tim medis Wahdah Peduli Bencana Tsunami Selat Sunda di kampung Cihonji, desa Taman Jaya, Pandeglang Banten, Kamis ( 27/12/2018).

Kedatangan relawan pasukan hijau ini guna melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap warga terdampak bencana tsunami yang menerjang daerah pesisir selat Sunda, Sabtu (22/12/2018) lalu.

Wilayah yang terdampak yang dituju berjarak 14 KM dari Posko Wahdah Islamiyah. Pukul 14.30 WIB tim medis yang dipimpin dr. Mujahid, menempuh waktu 2 jam untuk sampai di lokasi. Hujan lebat, jalanan licin dan berlubang bekas tsunami dan air pasang menjadi tantangan tersendiri.

Kehadiran Tim Medis disambut suka cita oleh warga Kampung yang dihuni 80 KK ini. Mereka berdatangan dan antri untuk melakukan pemeriksaan.

“Alhamdulillah 30 warga diperiksa. Kebanyakan menderita penyakit pernapasan (ispa) dan maag,” ujarnya sesaat setelah pemeriksaan.

Pelayanan medis ini sangat dirasakan manfaatnya oleh warga.

“Terima kasih Pak, sudah jauh-jauh datang dari Makassar ke sini. Warga sini pasca tsunami masih trauma dan mengungsi ketika malam,” ujar Mulayadi (40 th), warga yang rumahnya dijadikan tempat pemeriksaan.

Pemeriksaan berlangsung hingga jelang magrib. Selain karena keterbatasan obat-obatan, warga juga sudah mulai naik ke pegunungan untuk kembali mengungsi.

Ayo bersama LAZIS Wahdah kita bantu warga terdampak Tsunami Selat Sunda, donasi bisa disalurkan melalui melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 499 900 9005 a.n LAZIS Wahdah Peduli Negeri. Konfirmasi Transfer melalui WA/SMS ke +6285315900900

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat#laziswahdahpeduli #tsunamiselatsunda #tsunamibanten#tsunamilampung #pasukanhijauitsmine #pasukanhijau

Puluhan Anak Ikut Khitanan Massal LAZIS Wahdah  Wajo

(Wajo) wahdahjakarta.com — Sebanyak 30 anak mengikuti kegiatan khitanan massal yang digelar Lembaga Amil Zakat dan Sedekah Wahdah Islamiyah (LAZIS Wahdah) Wajo Sulawesi Selatan, Ahad (23/12/2018).

Ketua LAZIS Wahdah Wajo, Muhammad Idrus mengatakan, khitanan merupakan kewajiban yang diajarkan oleh agama Islam.

Selain itu, berkhitan juga merupakan salah satu jalan untuk menuju kehidupan yang sehat bagi masyarakat.

“Dengan khitan, maka resiko penyakit kanker alat kelamin dapat dicegah. Dan tidak ada satupun dari sunnah Nabi yang merusak jiwa. Maka dari itu, sunnah akan sejalan dengan kesehatan,” terangnya.

Sementara itu, ia menambahkan, pada pelaksanaannya, yang diundang adalah warga miskin dan dhuafa.

“Kita sengaja datangkan mereka. Karena program ini memang rutin dijalankan setiap tahunnya dan menyasar dua golongan ini,” imbuhnya.

Masyarakat yang hadir merasa terbantu. Selain karena digratiskan, beberapa amil juga memberikan siraman rohani kepada mereka. Sehingga dampaknya tidak hanya untuk dunia melainkan akhirat pula.

Dukung Program Khitanan Massal Gratis LAZIS Wahdah dengan cara ikut berdonasi melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 497 900 9009 a.n LAZIS Wahdah Sedekah dan konfirmasi transfer ke 085315900900. Mari wujudkan Indonesia sehat melalui pengamalan syariat yang mulia ini. Semoga Allah membalas kebaikan kita dengan pahala yang berlimpah, aamiin. []

Wantim MUI Imbau Ormas Islam Peduli Korban Bencana Tsunami Selat Sunda

(Jakarta) wahdahjakarta.com — Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau ormas-ormas Islam untuk terus peduli terhadap korban bencana tsunami selat Sunda. Imbauan itu disampaikan Wantim MUI Prof Din Syamsuddin di kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (26/12/2018).

“Kepada ormas-ormas Islam dan kelompok-kelompok umat Islam, didorong untuk mengulurkan tangan solidaritas dengan melakukan aksi-aksi kemanusiaan seperti yang selama ini sudah dilakukan di Lombok, Donggala, Sulawesi Tengah, dan tempat-tempat lain, termasuk yang di Banten dan Lampung,” ajak Din.

Seperti Gempa NTB yang lalu disusul gempa di Sulawaesi Tengah, Palu, Donggala, dan terakhir tsunami yang menerjang Banten dan Lampung yang menimbulkan ratusan korban meninggal dunia serta korban luka-luka.

“Kami Dewan Pertimbangan MUI menyampaikan ucapan duka cita terhadap korban, keluarga korban, dan yang cedera dan sakit. Kita berdoa semoga keluarga baik yang di Lombok, Palu, Donggala, Banten, Lampung ini bersabar dan bertawakkal,” ucapnya usai memimpin  Rapat Pleno ke-33 di lantai empat kantor MUI Pusat.

Wantim MUI juga menyerukan kepada bangsa khususnya umat Islam untuk semakin meningkatkan hubungan dengan Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta, lewat doa dan istighfar serta munajat lain. Agar, negeri ini dilindungi dan terbebaskan dari malapetakan dan marabahaya. []

Sumber: Hidayatullah.com

Memilukan, Beginilah Kondisi Kampung Paniis Setelah Dihantam Tsunami Setinggi 50 meter

Relawan Lazis Wahdah Peduli berjalan di atas bekas terjangan tsunami selat sunda di kampung Paniss Pandeglang.

Memilukan, Beginilah Kondisi Kampung Paniis Setelah Dihantam Tsunami Setinggi 50 meter

(Pandeglang) wahdahjakarta.com – Kampung Paniis desa Taman Jaya Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, merupakan satu wilayah terparah yang terdampak tsunami Selat Sunda, Sabtu (22/12/2018) lalu.

Saat Tim Wahdah Peduli menyambangi desa tersebut, Rabu (27/12/2018), terlihat rumah-rumah tersapu rata oleh tsunami. Yang tersisa  hanya  puing reruntuhan bangunan dan pondasi.

Disisi lain terlihat tumpukan material rumah dan bangunan seperti genting, balok-balok kayu dan perabotan rumah tangga yang menggunung.

“Waktu kejadian Ibu Desy yang lihat tsunami berteriak agar warga menyelamatkan diri. Saya kan tidak percaya. Jadi saya pergi cek ternyata ombak tsunami setinggi 50 m mulai menggulung rumah warga.” ujar Herman kepada Abu Umar, Koordinator SAR Wahdah Peduli.

Tsunami menghancurkan 45 rumah, 32 diantaranya tinggal menyisakan pondasi.

“Sekarang warga Paniis mengungsi ke gubuk sawah ataupun di perbukitan yang diatas kampung” tambahnya.

Kondisi perkampungan yang dihuni 106 KK ini begitu memilukan, selain karena lokasi yang jauh dan sangat dekat dengan bibir pantai juga listrik hingga saat ini belum pulih. Begitu pun dengan jaringan seluler yang belum bisa diakses.

Tumpukan perabot rumah tangga pasca tsunami

Wargapun sangat mengharapkan agar ada bantuan penerangan yang bisa dipakai di malam hari. Selain itu dibutuhkan kompor dan peralatan masak serta selang untuk menyalurkan air bersih. []

Ayo bersama LAZIS Wahdah kita bantu warga terdampak Tsunami Selat Sunda, donasi bisa disalurkan melalui melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 499 900 9005 a.n LAZIS Wahdah Peduli Negeri. Konfirmasi Transfer melalui WA/SMS ke +6285315900900

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #tsunamiselatsunda #tsunamibanten #tsunamilampung #pasukanhijauitsmine #pasukanhijau

LAZIS Wahdah Jakarta Turun Jalan Galang Dana Untuk Korban Tsunami Selat Sunda

Relawan Lazis Wahdah melakukan penggalan dana untuk korban tsunami selat Sunda, Jakarta, Rabu (26/12/2018)

(Jakarta) wahdahjakarta.com — Relawan LAZIS Wahdah Jakarta turun jalan menggalang dana untuk korban tsunami Selat Sunda di perempatan lampu merah Pejaten Village, Jakarta Selatan, Rabu(26/12/2018).

Dikoordinir Staf Fundrising LAZIS Wahdah Jakarta Iqbal Abdul Malik, tim langsung beraksi dengan menebar senyuman ke setiap pengendara yang lewat sambil menawarkan ajakan berdonasi.

“Aksi galang donasi ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi warga khususnya pengendara  yang ingin berdonasi tetapi mengalami kesulitan untuk mengirimkan atau mentransfer donasinya”. Ujar Iqbal.  

Melalui aksi ini, lanjut Iqbal,  pengendara bisa berdonasi berapapun untuk membantu menghapuskan duka warga yang terdampak tsunami di Banten dan Lampung.

“Para pengendara merespon dengan baik aksi ini. Walaupun ada di antara mereka yang belum menyempatkan memberikan donasi, tetapi mereka tetap memberikan senyuman”. Ungkapnya.

“Kami mengucapkan terimakasih kepada pengendara yang sudah cukup antusias berdonasi untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak tsunami di Banten dan Lampung”, tutur Iqbal. (rsp)

PEDULI TSUNAMI SELAT SUNDA:

Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451) 499 900 900 5 an LAZIS Wahdah Peduli Negeri, dan konfirmasi transfer WA/SMS ke 0811 9787 900 (mohon dengan menyertakan bukti transfer)

📻Informasi selengkapnya hubungi :08119787900 (wa/sms/call)

#1000QuranForPaludanIndonesia

#2019rindusedekah

#2019zakatku

#tsunamibanten

#tsunamilampung

#tsunamiselatsunda

MIUMI: Politik dan Ekonomi Hanya Salah Satu Instrumen Dakwah

Tabligh Akbar Tokoh MIUMI “Arah Perjuangan Ummat”

(Bandung) wahdahjakarta.com – Sekretaris Jendral Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustadz Bachtiar Nasir menyatakan, politik maupun ekonomi hanyalah salah satu instrumen dalam dakwah.

“Politik hanya salah satu instrumen dakwah. Ekonomi juga cuma salah satu instrumen dakwah. Dakwalah sebenarnya yang membangun peradaban itu. Maka dakwah harus menjadi prioritas dalam segala aspek kehidupan,” tegasnya dalam acara Tabligh Akbar MIUMI di Masjid Istiqamah, Bandung, Jawa Barat, Sabtu, (22/12/2018).

Selanjutnya, Ulama muda Lulusan Universitas Madinah itu mengutip surat an-Nur ayat 55;

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”

Seseorang akan beruntung jika meyakini janji baik Allah dan juga yakin akan ancamanNya.

Kedua keyakinan itulah yang akan menjadikan seseorang menjadi akhirat-oriented dan teguh dalam berdakwah. “Dan biasanya hidup orang seperti ini akan mantap menatap masa depan, karena tidak mendahulukan logika dalam mencari kebenaran, dia lebih percaya pada janji Allah,” lanjut pimpinan AQL Islamic Center itu.

Ustadz Bachtiar Nasir melanjutkan, bahwa syarat menjadi pemenang adalah beriman dan beramal shaleh. Seperti yang dijelaskan dalam ayat di atas; Allah menjanjikan kepada orang beriman dan beramal shaleh kekuasaan sebagaimana yang telah diberikan kepada orang-orang sebelum mereka.

Akan tetapi, jangan salah kaprah. Kemenangan ataupun kekuasaan yang dijanjikan oleh Allah tersebut mempunyai perbedaan mendasar dengan anggapan non-muslim.

Umat Islam tidak akan dianugerahi kemenangan jika orientasi dakwahnya adalah memperjuangkan ormas atau memperjuangkan suku. Allah akan menganugrahi kemenangan jika memperjuangkan agama.

“Memperjuangkan agama adalah ujung dari semua perjuangan. Dan pemimpinnya adalah ulama, karena ulama adalah ahli waris para Rasul. Selama kita berpegang pada kepemimpinan ulama untuk memenangkan agama, maka pasti menang.” Tegas UBN.

Dalam Islam, kekuasan hanyalah alat untuk memenangkan agama Allah Swt. “Tujuan politik Islam adalah memenangkan Islam di atas seluruh agama, seluruh sistem,” tegas Ustadz Mu’inuddinillah Basri Ketua MIUMI Solo yang menjadi salab satu narasumber Road Show MIUMI di Bandung. []

Kehabisan Pangan, Sejumlah Pengungsi Memilih Keluar Masuk Hutan

(Kalianda) wahdahjakarta.com — Selasa (25/12/2018) pagi, Nursanah (54), warga Desa Way Muli Timur, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, baru kembali ke rumahnya yang hancur di pesisir pantai. Ia datang bersama suami, anak, menantu dan dua cucunya. Pasca tsunami ia memilih masuk hutan dan berlindung disana.

“Hanya pakaian yang melekat di badan yang kami bawa, sesekali ada yang mengantarkan makanan ke atas, namun tidak cukup untuk kami,” kata Nursanah seperti dilansir BBC Indonesia.

Jarak rumah mereka dari pantai hanya 10 meter. Semuanya hancur berkeping-keping tanpa sisa. Ia pun kemudian berlari menuju gunung Rajabasa. Ditempat itulah mereka membangun tenda seadanya bersama puluhan pengungsi lainnya. Ia menambahkan, bahwa dirinya sempat kesetrum karena masih ada airan listrik saat air bah datang.

Kendati lebih tenang, namun keluarga Nursanah akan tetap kembali ke pengungsian di dalam hutan sore hari ini.

“Kami masih trauma, apalagi dengar gemuruh gunung Anak Krakatau setiap malam semenjak tsunami,” tambah Nursanah.

Hampir 20 km seluruh kawasan pesisir Kecamatan Kalianda, mulai dari Desa Air Panas sampai Desa Waymuli menjadi korban hantaman tsunami. Setidaknya 400 rumah rusak parah.

Hingga kini, jumlah korban meninggal dunia terus bertambah. Berdasarkan laporan BNPB, sebanyak 430 orang meninggal, 1.495 orang luka-luka, 159 orang hilang, 21.991 orang mengungsi. Tak hanya itu, sebanyak 34 perahu dan kapal rusak, 24 kendaraan roda 4 rusak, 41 kendaraan ruda 2 rusak, 1 dermaga rusak, dan 1 shelter rusak.

Ayo bersama LAZIS Wahdah kita bantu warga terdampak Tsunami Selat Sunda, donasi bisa disalurkan melalui melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 499 900 9005 a.n LAZIS Wahdah Peduli Negeri. Konfirmasi Transfer melalui WA/SMS ke +6285315900900

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #tsunamiselatsunda #tsunamibanten #tsunamilampung

H+4 Penanganan Korban Tsunami, 430 Korban Meninggal Berhasil Dievakuasi

Proses evakuasli pasca Tsunami yang menerjang wilayah sekitar selat Sunda.

(Jakarta) wahdahjakarta.com –Memasuki hari keempat pasca tsunami selat Sunda proses evakuasi terus dilakukan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan,   total korban meninggal dunia yang telah dievakuasi hingga hari Rabu (26/12/2018) mencapai 430 jiwa.

Data tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho pada jumpa pers di Graha BNPB, Rabu(26/12/2018).

Sebanyak 1495 orang mengalami luka luka, 159 orang hilang, dan 21.991 lainnya mengungsi ke tempat yang lebih aman.

“Data korban terjadi kenaikan dan penurunan sangat membingungkan karena setelah kita korscek, baik data dari posko antar kabupaten, kemudian posko data dari TNI, data dari Basarnas dan sebagainya. Ada beberapa korban yang namanya ternyata double. Sehingga ada daerah yang mengalami penurunan dan ada juga daerah yang mengalami kenaikan.” Ujar Sutopo.

Untuk kerusakan fisik, Sutopo menyebutkan  sebanyak 924 unit rumah, 73 penginapan & hotel, dan 60 warung dan kedai mengalami kerusakan.

Sutopo juga menyebut sebanyak 434 perahu, 24 kendaraan roda empat, 41 kendaraan roda dua dan beberapa fasilitas publik lainnya mengalami kerusakan. Seperti pelabuhan, dermaga, shelter, dll. []

Sekjen MUI: MUI Belum Pernah Keluarkan Fatwa Tentang Ucapan Selamat Natal

(Jakarta) wahdahjakarta.com– Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Sekjen MUI) Anwar Abbas mengatakan, MUI belum pernah mengeluarkan fatwa tentang ucapan selamat natal.

Hal itu disampaikan Buya Anwar menanggapi polemik pasca beredarnya video KH. Ma’ruf Amin menyampaikan ucapan selamat natal yang disiarkan berbagai media di tanah air.

“Untuk adanya kejelasan bagi masyarakat tentang  masalah tersebut maka dengan ini saya sebagai Sekjen MUI menyampaikan bahwa MUI belum pernah mengeluarkan fatwa tentang boleh dan atau tidak bolehnya umat Islam  menyampaikan ucapan selamat natal kepada yang merayakannya”, ujar Anwar dalam keterangan tertulis yang diterima wahdahjakarta.com, Selasa (25/12/2018).

Yang sudah ada fatwanya, lanjut Buya Anwar yaitu tentang perayaan natal bersama dimana keputusan fatwanya adalah berbunyi  sebagai berikut:

  1. Perayaan Natal di indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS  akan tetapi  natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal2 yang diterangkan diatas.
  2. Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram.
  3. Agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah subhanahu wa ta’ala dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.

Selain itu kata Anwar, MUI juga telah mengeluarkan fatwa (2016) tentang haramnya umat Islam mengenakan atribut keagamaan non Muslim.

“Jadi dengan demikian jelaslah bahwa sampai saat ini  soal ucapan selamat natal terhadap orang-orang yang merayakannya belum pernah dibahas secara mendalam oleh MUI dan oleh karena itu sampai saat ini, MUI belum pernah memiliki fatwa tentang masalah tersebut”, jelasnya.

“Tetapi meskipun demikian  MUI tahu dan menyadari bahwa dalam masalah tersebut ada perbedaan dan  pertentangan pendapat di antara para ulama. Dan dalam menghadapi perbedaan dan pertentangan  pendapat tersebut MUI belum belum  mengambil sikap”, ungkapnya. []

Toleransi Orisinil dan Polemik  (Muslim) Ucapkan Selamat Natal

Toleransi Orisinil dan Polemik  (Muslim) Ucapkan Selamat Natal

(I)

Hakikat Islam adalah penyerahan diri (istislam) secara total kepada Allah melalui Tauhid dan taat serta berlepas diri dari kesyirkan dan pelakunya. “Al-Islam huwa al-istislamu LiLlahi bit Tauhid wal Inqiyadu Lahu Bith Tha’ati wal baraa atu minasy Syirki Wa Ahlihi; Islam adalah berserah diri kepada Allah melalui tauhid dan tunduk kepada-Nya melalui taat (terhadap-Nya) serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan”, jelas Syekh Muhammad At-Tamimi dalam kitabnya Al-Ushul Ats-Tsalatsah.

Makna dan hakikat Islam seperti diejelaskan di atas menunjukan bahwa inti dari makna Islam adalah; Pertama, Istislam. Yakni penyerahan diri secara total kepada Allah yang mengejawantah melalui tauhid. Kedua, Inqiyad, yakni tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah yang mewujud dalam bentuk ketaatan terhadap perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ketiga, Baraah minasy Syirki wa ahlihi, Berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan.

Fokus utama tulisan ini adalah unsur ketiga dari makna dan hakikat Islam sebagaimana disebutkan di atas. Yakni berlepas diri (bara’) dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan. Artinya, tidak akan sempurna iman dan Islam seseorang hingga ia berlepas diri kesyirikan dan pelaku kesyirikan. Berlepas dari dari kesyirikan mengandung arti tidak membenarkan kesyirikan, tidak mentolerir perbuatan syirik. Sementara berlepas diri dari pelaku kesyirikan mengandung makna tidak ikut-ikutan terhadap perbuatan dan perilaku orang musyrik dalam aspek yang merupakan kekhususan dan ciri khas mereka. Termasuk di dalamnya tidak menayampaikan ucapan selamat atas perayaan agama mereka. Sebab ucapan selamat menunjukan pembenaran terhadap keyakinan mereka yang syirik dan kufur.

Keharaman menyampaikan ucapan selamat kepada orang Kafir dan musyrik atas perayaan Agama mereka telah difatwakan oleh para Ulama sejak dahulu. Diantaranya Imam Ibnu Qoyim al-Jauziyah rahimahullah (w.751 H) dalam kitabnya Ahkam Ahlidz Dzimmah. Beliau mengatakan;

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه

Memberi ucapan selamat terhadap syiar orang kafir yang menjadi ciri khas mereka, hukumnya haram dengan sepakat ulama. Misalnya, memberi ucapan selamat untuk hari raya mereka atau ibadah puasa mereka, misalnya dengan kita mengatakan, ‘merry christmas’ atau selamat natal atau ucapan lainnya. Kalimat semacam ini, meskipun orang pengucapnya tidak dihukumi kafir, namun ini termasuk melanggar yang haram. Sama halnya memberi ucapan selamat bagi orang yang sujud kepada salib. Bahkan dosanya lebih besar dan lebih dimurkai Allah, dari pada anda memberi ucapan selamat kepada peminum khamr, atau pembunuh, atau zina dan dosa lainnya. (Ahkam ahlidz-Dzimmah, 1/441).

Imam Ibnu Qoyim al-Jauziyah hidup tahun 700an hijriyah, dan wafat tahun 751 H. Hal itu menunjukkan, kesepakatan ulama yang beliau sampaikan adalah kesepakatan ulama generasi sebelum beliau. Dan perlu diingatkan bahwa untuk urusan aqidah seperti ini hendaknya diserahkan kepada ulama yang memiliki otoritas untuk membahas dan menyampaikan hukumnya boleh tidaknya. Artinya tidak semua orang memiliki otoritas untuk menghukuminya.

(II)

Meskipun telah ada fatwa Ulama tentang ketidak bolehan seorang Muslim menyampaikan ucapan selamat natal, ada saja orang-orang yang ngotot menghendaki ummat Islam mengucapkan selamat natal. Setiap bulan Desember ramai di media sosial diskusi dan polemik tentang ucapan selamat natal ini. Mulai dari artikel di website sampai sekadar kicuaun di facebook, twitter, dan media sosial lainnya. Di sini penulis mengutip tulisan peneliti INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), Ustad Akmal Syafril. Tulisan beliau dipublish oleh: http://www.rappler.com/indonesia/116988-ucapan-selamat-natal-muslim-toleransi.

Intelektual muda ini menulis;

Jika banyak orang mempertanyakan mengapa seorang Muslim begitu ngotot untuk tidak mengucapkan selamat Natal, maka barangkali sekaranglah saat yang tepat untuk bertanya sebaliknya: Mengapa ada yang begitu ngotot memaksa umat Muslim untuk mengucapkan selamat Natal? Apakah ucapan itu sebegitu pentingnya sehingga menjadi tolok ukur kerukunan hidup umat Islam dan Kristen di negeri ini?

Sebagian orang nampak begitu habis-habisan mencari pembenaran untuk memaksa umat Muslim mengucapkan selamat Natal, sampai-sampai menyamakan Natal dengan “Maulid Nabi Isa AS”. Pandangan ini sudah jelas absurd.

Pertama, umat Kristen jelas-jelas merayakan kelahiran Yesus sang anak Tuhan yang disalib untuk menebus dosa-dosa manusia, sedangkan Isa AS yang dikenal oleh umat Muslim adalah seorang Nabi, dan ia tidak mati di tiang salib. Islam pun sangat menolak konsep Trinitas, karena Allah tiada beranak dan tidak pula diperanakkan (lam yalid wa lam yuulad). Keduanya adalah sistem kepercayaan yang sangat berbeda.

Kedua, dan ini juga tidak kalah pentingnya, adalah bahwa umat Muslim meyakini semua Nabi dan Rasul membawa risalah dari sumber yang sama, mengajarkan diin (agama) yang sama, meski ada perubahan syari’at. Dengan kata lain, umat Muslim meyakini bahwa merekalah – dan bukan umat Kristiani – yang sesungguhnya penerus Nabi Isa AS, meski syari’at yang berlaku adalah syari’at Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, jika benar-benar merayakan Maulid Nabi Isa AS, maka mengapa harus menyampaikan ucapan selamat kepada umat Kristiani?

Alasan ketiga adalah fakta bahwa telah terjadi perdebatan di seluruh dunia tentang pemilihan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus itu sendiri. Yang terakhir ini tentu saja membuat ucapan selamat Natal – jika dimaknai sebagai ucapan selamat merayakan Hari Maulid Nabi Isa AS – semakin absurd.

Semua kesimpangsiuran ini hanya mengakibatkan suasana semakin kisruh. Pada akhirnya, toleransi malah kehilangan makna, sebab ada “keseragaman” yang dipaksakan, ada sikap saling menghormati yang hilang, dan kita disibukkan dengan wacana-wacana yang sesungguhnya tidak penting, sedangkan yang benar-benar signifikan pengaruhnya bagi kerukunan hidup berbangsa justru dianggap sebagai angin lalu.

Penulis rasanya tidak pernah menemukan teman Kristen yang meminta (apalagi menuntut) rekan-rekannya yang Muslim untuk mengucapkan selamat Natal. Karena itu, dalam pandangan kami, wacana ini hanyalah isu yang sengaja difabrikasi dan dibesar-besarkan.

Ironisnya, fabrikasi isu nampaknya bukan isapan jempol dalam urusan beragama di negeri ini. Tengoklah misalnya insiden “tilawah Al-Qur’an langgam Jawa” yang juga pernah menimbulkan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat Muslim Indonesia beberapa waktu yang lalu. Meski langgam Jawa diklaim sebagai bukti “harmonisnya” agama dan budaya sejak masa lampau, toh kenyataannya wacana ini tenggelam begitu saja, karena memang tidak sedikitpun mengakar pada masyarakat Indonesia.

Orang Sunda tak memunculkan langgam Sunda, orang Minang tak mengusulkan langgam Minang, dan orang Bugis tentram saja dengan bacaan tilawah yang biasa, tanpa langgam Bugis. Bahkan masyarakat Jawa pun hingga detik ini masih belum akrab dengan langgam Jawa. Wacana ini hilang begitu saja, karena sejak awal memang dimunculkan tanpa alasan yang jelas.

Sementara itu, dari berbagai daerah masih bermunculan laporan adanya toko dan perusahaan ini-itu yang mewajibkan pegawai Muslimnya untuk mengenakan topi Sinterklas. Masih segar dalam ingatan kita tentang masjid yang dibakar di Tolikara dan kasusnya tidak ada tanda-tanda kemajuan hingga kini.

Demikian pula netizen Muslim yang emosinya diaduk-aduk oleh akun Twitter @hikdun yang sudah lama menghina Islam tanpa penyikapan yang jelas dari pihak penegak hukum. Bukankah ini semua – dan kasus-kasus lain semacamnya – adalah masalah toleransi yang sesungguhnya?

Marilah membangun toleransi. Tapi sebelumnya, marilah duduk dan berbicara jujur, dari hati ke hati. (Rappler.com).

(III)

Apa yang disampaikan oleh Akmal pada akhir artikelnya menarik untuk direnungkan. “Mari membangun toleransi. Tapi sebelumnya, marilah duduk dan berbicara jujur, dari hati-ke hati”. Sebab seorang Muslim tentu mengimani bahwa Allah adalah Maha Esa, tidak beranak dan tidak dilahirkan. Seorang Muslim juga meyakini bahwa Isa adalah Nabi Allah, bukan anak Tuhan dan bukan Tuhan. Seorang Muslim meyakini pula bahwa Nabi Isa tidak mati di tiang salib. Lalu bagaimana mungkin seorang Muslim diminta meridhai sesuatu yang bertentangan dengan iman dan aqidahnya. Apakah hal ini dapat menumbuhkan teoleransi dan kerukunan?

Sebagian kalangan yang ngotot “Muslim harus mengucapkan selamat Natal demi toleransi dan kerukunan” mengatakan, ucapan selamat natal tidak menunjukkan pembenaran terhadap keyakinan kaum kristen yang sedang merayakan natal. Lalu apa gunannya ucapan selamat tersebut? Sekadar basa-basi? Katanya demi kerukunan dan toleransi, tapi yang terjadi justeru basa-basai umat beragama.

Tamtsil sederhana berikut penting direnungkan;

Kita mengucapkan selamat kepada salah seorang kawan atau kerabat yang sedang berbahagi di hari wisudanya.”Selamat ya”. Artinya kita turut berbahagia atas kebahagiaan dia mendapat gelar sarjana, sekaligus meyakini dan mempercayai kesarjaannya. Sebab menjadi tidak bermakna dan tidak berguna kita menyampaikan ucapan selamat dan menampakkan turut berabahagia, lalau kita mengingkari dan tidak mempercayai kesarjaannya. Atau contoh lain, ucapan selamat kepada teman yang melangsungkan pernikahn. Artinya kita yakin dan percaya bahwa ia benar-benar menikah. Sangat janggal dan lucu, bila kita mengucapkan selamat atas pernikahan seseorang lalu hati kita tidak mempercayai pernikahannya atau meragukan keabsahan pernikannya.

Oleh karena itu, tidak perlu menumbuhkan kerukunan beragama dengan cara-cara yang mengandung basa-basi seperti diisyaratkan dalam tamtsil di atas. Sebab, kerukunan ummat beragama dapat dibangun tanpa harus mencampur adukan urusan aqidah dan ibadah. Toleransi antar ummat beragama dapat dibangun dengan masing-masing agama tetap pada pendirian masing-masing. Kerukunan dan toleransi dapat dibangun tanpa harus suatu agama terlibat dalam ritual agama lain, meski sekadar ucapan selamat. Inilah toleransi orisinil, yang merupakan salah satu realisasi dari Firman Allah, Lakum dinukum Wa Liya Diin; Untukmu Agamau dan untukkulah agamaku. (terj. Qs. Al-Kafirun ayat 6). Wallahu a’lam. [sym].

Sebelumnya artikel ini dipublikasikan di web wahdah.or.id.