LAZIS Wahdah Jakarta Turun Jalan Galang Dana Untuk Korban Tsunami Selat Sunda

Relawan Lazis Wahdah melakukan penggalan dana untuk korban tsunami selat Sunda, Jakarta, Rabu (26/12/2018)

(Jakarta) wahdahjakarta.com — Relawan LAZIS Wahdah Jakarta turun jalan menggalang dana untuk korban tsunami Selat Sunda di perempatan lampu merah Pejaten Village, Jakarta Selatan, Rabu(26/12/2018).

Dikoordinir Staf Fundrising LAZIS Wahdah Jakarta Iqbal Abdul Malik, tim langsung beraksi dengan menebar senyuman ke setiap pengendara yang lewat sambil menawarkan ajakan berdonasi.

“Aksi galang donasi ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi warga khususnya pengendara  yang ingin berdonasi tetapi mengalami kesulitan untuk mengirimkan atau mentransfer donasinya”. Ujar Iqbal.  

Melalui aksi ini, lanjut Iqbal,  pengendara bisa berdonasi berapapun untuk membantu menghapuskan duka warga yang terdampak tsunami di Banten dan Lampung.

“Para pengendara merespon dengan baik aksi ini. Walaupun ada di antara mereka yang belum menyempatkan memberikan donasi, tetapi mereka tetap memberikan senyuman”. Ungkapnya.

“Kami mengucapkan terimakasih kepada pengendara yang sudah cukup antusias berdonasi untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak tsunami di Banten dan Lampung”, tutur Iqbal. (rsp)

PEDULI TSUNAMI SELAT SUNDA:

Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451) 499 900 900 5 an LAZIS Wahdah Peduli Negeri, dan konfirmasi transfer WA/SMS ke 0811 9787 900 (mohon dengan menyertakan bukti transfer)

📻Informasi selengkapnya hubungi :08119787900 (wa/sms/call)

#1000QuranForPaludanIndonesia

#2019rindusedekah

#2019zakatku

#tsunamibanten

#tsunamilampung

#tsunamiselatsunda

MIUMI: Politik dan Ekonomi Hanya Salah Satu Instrumen Dakwah

Tabligh Akbar Tokoh MIUMI “Arah Perjuangan Ummat”

(Bandung) wahdahjakarta.com – Sekretaris Jendral Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustadz Bachtiar Nasir menyatakan, politik maupun ekonomi hanyalah salah satu instrumen dalam dakwah.

“Politik hanya salah satu instrumen dakwah. Ekonomi juga cuma salah satu instrumen dakwah. Dakwalah sebenarnya yang membangun peradaban itu. Maka dakwah harus menjadi prioritas dalam segala aspek kehidupan,” tegasnya dalam acara Tabligh Akbar MIUMI di Masjid Istiqamah, Bandung, Jawa Barat, Sabtu, (22/12/2018).

Selanjutnya, Ulama muda Lulusan Universitas Madinah itu mengutip surat an-Nur ayat 55;

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”

Seseorang akan beruntung jika meyakini janji baik Allah dan juga yakin akan ancamanNya.

Kedua keyakinan itulah yang akan menjadikan seseorang menjadi akhirat-oriented dan teguh dalam berdakwah. “Dan biasanya hidup orang seperti ini akan mantap menatap masa depan, karena tidak mendahulukan logika dalam mencari kebenaran, dia lebih percaya pada janji Allah,” lanjut pimpinan AQL Islamic Center itu.

Ustadz Bachtiar Nasir melanjutkan, bahwa syarat menjadi pemenang adalah beriman dan beramal shaleh. Seperti yang dijelaskan dalam ayat di atas; Allah menjanjikan kepada orang beriman dan beramal shaleh kekuasaan sebagaimana yang telah diberikan kepada orang-orang sebelum mereka.

Akan tetapi, jangan salah kaprah. Kemenangan ataupun kekuasaan yang dijanjikan oleh Allah tersebut mempunyai perbedaan mendasar dengan anggapan non-muslim.

Umat Islam tidak akan dianugerahi kemenangan jika orientasi dakwahnya adalah memperjuangkan ormas atau memperjuangkan suku. Allah akan menganugrahi kemenangan jika memperjuangkan agama.

“Memperjuangkan agama adalah ujung dari semua perjuangan. Dan pemimpinnya adalah ulama, karena ulama adalah ahli waris para Rasul. Selama kita berpegang pada kepemimpinan ulama untuk memenangkan agama, maka pasti menang.” Tegas UBN.

Dalam Islam, kekuasan hanyalah alat untuk memenangkan agama Allah Swt. “Tujuan politik Islam adalah memenangkan Islam di atas seluruh agama, seluruh sistem,” tegas Ustadz Mu’inuddinillah Basri Ketua MIUMI Solo yang menjadi salab satu narasumber Road Show MIUMI di Bandung. []

Kehabisan Pangan, Sejumlah Pengungsi Memilih Keluar Masuk Hutan

(Kalianda) wahdahjakarta.com — Selasa (25/12/2018) pagi, Nursanah (54), warga Desa Way Muli Timur, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, baru kembali ke rumahnya yang hancur di pesisir pantai. Ia datang bersama suami, anak, menantu dan dua cucunya. Pasca tsunami ia memilih masuk hutan dan berlindung disana.

“Hanya pakaian yang melekat di badan yang kami bawa, sesekali ada yang mengantarkan makanan ke atas, namun tidak cukup untuk kami,” kata Nursanah seperti dilansir BBC Indonesia.

Jarak rumah mereka dari pantai hanya 10 meter. Semuanya hancur berkeping-keping tanpa sisa. Ia pun kemudian berlari menuju gunung Rajabasa. Ditempat itulah mereka membangun tenda seadanya bersama puluhan pengungsi lainnya. Ia menambahkan, bahwa dirinya sempat kesetrum karena masih ada airan listrik saat air bah datang.

Kendati lebih tenang, namun keluarga Nursanah akan tetap kembali ke pengungsian di dalam hutan sore hari ini.

“Kami masih trauma, apalagi dengar gemuruh gunung Anak Krakatau setiap malam semenjak tsunami,” tambah Nursanah.

Hampir 20 km seluruh kawasan pesisir Kecamatan Kalianda, mulai dari Desa Air Panas sampai Desa Waymuli menjadi korban hantaman tsunami. Setidaknya 400 rumah rusak parah.

Hingga kini, jumlah korban meninggal dunia terus bertambah. Berdasarkan laporan BNPB, sebanyak 430 orang meninggal, 1.495 orang luka-luka, 159 orang hilang, 21.991 orang mengungsi. Tak hanya itu, sebanyak 34 perahu dan kapal rusak, 24 kendaraan roda 4 rusak, 41 kendaraan ruda 2 rusak, 1 dermaga rusak, dan 1 shelter rusak.

Ayo bersama LAZIS Wahdah kita bantu warga terdampak Tsunami Selat Sunda, donasi bisa disalurkan melalui melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 499 900 9005 a.n LAZIS Wahdah Peduli Negeri. Konfirmasi Transfer melalui WA/SMS ke +6285315900900

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #tsunamiselatsunda #tsunamibanten #tsunamilampung

H+4 Penanganan Korban Tsunami, 430 Korban Meninggal Berhasil Dievakuasi

Proses evakuasli pasca Tsunami yang menerjang wilayah sekitar selat Sunda.

(Jakarta) wahdahjakarta.com –Memasuki hari keempat pasca tsunami selat Sunda proses evakuasi terus dilakukan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan,   total korban meninggal dunia yang telah dievakuasi hingga hari Rabu (26/12/2018) mencapai 430 jiwa.

Data tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho pada jumpa pers di Graha BNPB, Rabu(26/12/2018).

Sebanyak 1495 orang mengalami luka luka, 159 orang hilang, dan 21.991 lainnya mengungsi ke tempat yang lebih aman.

“Data korban terjadi kenaikan dan penurunan sangat membingungkan karena setelah kita korscek, baik data dari posko antar kabupaten, kemudian posko data dari TNI, data dari Basarnas dan sebagainya. Ada beberapa korban yang namanya ternyata double. Sehingga ada daerah yang mengalami penurunan dan ada juga daerah yang mengalami kenaikan.” Ujar Sutopo.

Untuk kerusakan fisik, Sutopo menyebutkan  sebanyak 924 unit rumah, 73 penginapan & hotel, dan 60 warung dan kedai mengalami kerusakan.

Sutopo juga menyebut sebanyak 434 perahu, 24 kendaraan roda empat, 41 kendaraan roda dua dan beberapa fasilitas publik lainnya mengalami kerusakan. Seperti pelabuhan, dermaga, shelter, dll. []

Sekjen MUI: MUI Belum Pernah Keluarkan Fatwa Tentang Ucapan Selamat Natal

(Jakarta) wahdahjakarta.com– Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Sekjen MUI) Anwar Abbas mengatakan, MUI belum pernah mengeluarkan fatwa tentang ucapan selamat natal.

Hal itu disampaikan Buya Anwar menanggapi polemik pasca beredarnya video KH. Ma’ruf Amin menyampaikan ucapan selamat natal yang disiarkan berbagai media di tanah air.

“Untuk adanya kejelasan bagi masyarakat tentang  masalah tersebut maka dengan ini saya sebagai Sekjen MUI menyampaikan bahwa MUI belum pernah mengeluarkan fatwa tentang boleh dan atau tidak bolehnya umat Islam  menyampaikan ucapan selamat natal kepada yang merayakannya”, ujar Anwar dalam keterangan tertulis yang diterima wahdahjakarta.com, Selasa (25/12/2018).

Yang sudah ada fatwanya, lanjut Buya Anwar yaitu tentang perayaan natal bersama dimana keputusan fatwanya adalah berbunyi  sebagai berikut:

  1. Perayaan Natal di indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS  akan tetapi  natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal2 yang diterangkan diatas.
  2. Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram.
  3. Agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah subhanahu wa ta’ala dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.

Selain itu kata Anwar, MUI juga telah mengeluarkan fatwa (2016) tentang haramnya umat Islam mengenakan atribut keagamaan non Muslim.

“Jadi dengan demikian jelaslah bahwa sampai saat ini  soal ucapan selamat natal terhadap orang-orang yang merayakannya belum pernah dibahas secara mendalam oleh MUI dan oleh karena itu sampai saat ini, MUI belum pernah memiliki fatwa tentang masalah tersebut”, jelasnya.

“Tetapi meskipun demikian  MUI tahu dan menyadari bahwa dalam masalah tersebut ada perbedaan dan  pertentangan pendapat di antara para ulama. Dan dalam menghadapi perbedaan dan pertentangan  pendapat tersebut MUI belum belum  mengambil sikap”, ungkapnya. []

Toleransi Orisinil dan Polemik  (Muslim) Ucapkan Selamat Natal

Toleransi Orisinil dan Polemik  (Muslim) Ucapkan Selamat Natal

(I)

Hakikat Islam adalah penyerahan diri (istislam) secara total kepada Allah melalui Tauhid dan taat serta berlepas diri dari kesyirkan dan pelakunya. “Al-Islam huwa al-istislamu LiLlahi bit Tauhid wal Inqiyadu Lahu Bith Tha’ati wal baraa atu minasy Syirki Wa Ahlihi; Islam adalah berserah diri kepada Allah melalui tauhid dan tunduk kepada-Nya melalui taat (terhadap-Nya) serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan”, jelas Syekh Muhammad At-Tamimi dalam kitabnya Al-Ushul Ats-Tsalatsah.

Makna dan hakikat Islam seperti diejelaskan di atas menunjukan bahwa inti dari makna Islam adalah; Pertama, Istislam. Yakni penyerahan diri secara total kepada Allah yang mengejawantah melalui tauhid. Kedua, Inqiyad, yakni tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah yang mewujud dalam bentuk ketaatan terhadap perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ketiga, Baraah minasy Syirki wa ahlihi, Berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan.

Fokus utama tulisan ini adalah unsur ketiga dari makna dan hakikat Islam sebagaimana disebutkan di atas. Yakni berlepas diri (bara’) dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan. Artinya, tidak akan sempurna iman dan Islam seseorang hingga ia berlepas diri kesyirikan dan pelaku kesyirikan. Berlepas dari dari kesyirikan mengandung arti tidak membenarkan kesyirikan, tidak mentolerir perbuatan syirik. Sementara berlepas diri dari pelaku kesyirikan mengandung makna tidak ikut-ikutan terhadap perbuatan dan perilaku orang musyrik dalam aspek yang merupakan kekhususan dan ciri khas mereka. Termasuk di dalamnya tidak menayampaikan ucapan selamat atas perayaan agama mereka. Sebab ucapan selamat menunjukan pembenaran terhadap keyakinan mereka yang syirik dan kufur.

Keharaman menyampaikan ucapan selamat kepada orang Kafir dan musyrik atas perayaan Agama mereka telah difatwakan oleh para Ulama sejak dahulu. Diantaranya Imam Ibnu Qoyim al-Jauziyah rahimahullah (w.751 H) dalam kitabnya Ahkam Ahlidz Dzimmah. Beliau mengatakan;

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه

Memberi ucapan selamat terhadap syiar orang kafir yang menjadi ciri khas mereka, hukumnya haram dengan sepakat ulama. Misalnya, memberi ucapan selamat untuk hari raya mereka atau ibadah puasa mereka, misalnya dengan kita mengatakan, ‘merry christmas’ atau selamat natal atau ucapan lainnya. Kalimat semacam ini, meskipun orang pengucapnya tidak dihukumi kafir, namun ini termasuk melanggar yang haram. Sama halnya memberi ucapan selamat bagi orang yang sujud kepada salib. Bahkan dosanya lebih besar dan lebih dimurkai Allah, dari pada anda memberi ucapan selamat kepada peminum khamr, atau pembunuh, atau zina dan dosa lainnya. (Ahkam ahlidz-Dzimmah, 1/441).

Imam Ibnu Qoyim al-Jauziyah hidup tahun 700an hijriyah, dan wafat tahun 751 H. Hal itu menunjukkan, kesepakatan ulama yang beliau sampaikan adalah kesepakatan ulama generasi sebelum beliau. Dan perlu diingatkan bahwa untuk urusan aqidah seperti ini hendaknya diserahkan kepada ulama yang memiliki otoritas untuk membahas dan menyampaikan hukumnya boleh tidaknya. Artinya tidak semua orang memiliki otoritas untuk menghukuminya.

(II)

Meskipun telah ada fatwa Ulama tentang ketidak bolehan seorang Muslim menyampaikan ucapan selamat natal, ada saja orang-orang yang ngotot menghendaki ummat Islam mengucapkan selamat natal. Setiap bulan Desember ramai di media sosial diskusi dan polemik tentang ucapan selamat natal ini. Mulai dari artikel di website sampai sekadar kicuaun di facebook, twitter, dan media sosial lainnya. Di sini penulis mengutip tulisan peneliti INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), Ustad Akmal Syafril. Tulisan beliau dipublish oleh: http://www.rappler.com/indonesia/116988-ucapan-selamat-natal-muslim-toleransi.

Intelektual muda ini menulis;

Jika banyak orang mempertanyakan mengapa seorang Muslim begitu ngotot untuk tidak mengucapkan selamat Natal, maka barangkali sekaranglah saat yang tepat untuk bertanya sebaliknya: Mengapa ada yang begitu ngotot memaksa umat Muslim untuk mengucapkan selamat Natal? Apakah ucapan itu sebegitu pentingnya sehingga menjadi tolok ukur kerukunan hidup umat Islam dan Kristen di negeri ini?

Sebagian orang nampak begitu habis-habisan mencari pembenaran untuk memaksa umat Muslim mengucapkan selamat Natal, sampai-sampai menyamakan Natal dengan “Maulid Nabi Isa AS”. Pandangan ini sudah jelas absurd.

Pertama, umat Kristen jelas-jelas merayakan kelahiran Yesus sang anak Tuhan yang disalib untuk menebus dosa-dosa manusia, sedangkan Isa AS yang dikenal oleh umat Muslim adalah seorang Nabi, dan ia tidak mati di tiang salib. Islam pun sangat menolak konsep Trinitas, karena Allah tiada beranak dan tidak pula diperanakkan (lam yalid wa lam yuulad). Keduanya adalah sistem kepercayaan yang sangat berbeda.

Kedua, dan ini juga tidak kalah pentingnya, adalah bahwa umat Muslim meyakini semua Nabi dan Rasul membawa risalah dari sumber yang sama, mengajarkan diin (agama) yang sama, meski ada perubahan syari’at. Dengan kata lain, umat Muslim meyakini bahwa merekalah – dan bukan umat Kristiani – yang sesungguhnya penerus Nabi Isa AS, meski syari’at yang berlaku adalah syari’at Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, jika benar-benar merayakan Maulid Nabi Isa AS, maka mengapa harus menyampaikan ucapan selamat kepada umat Kristiani?

Alasan ketiga adalah fakta bahwa telah terjadi perdebatan di seluruh dunia tentang pemilihan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus itu sendiri. Yang terakhir ini tentu saja membuat ucapan selamat Natal – jika dimaknai sebagai ucapan selamat merayakan Hari Maulid Nabi Isa AS – semakin absurd.

Semua kesimpangsiuran ini hanya mengakibatkan suasana semakin kisruh. Pada akhirnya, toleransi malah kehilangan makna, sebab ada “keseragaman” yang dipaksakan, ada sikap saling menghormati yang hilang, dan kita disibukkan dengan wacana-wacana yang sesungguhnya tidak penting, sedangkan yang benar-benar signifikan pengaruhnya bagi kerukunan hidup berbangsa justru dianggap sebagai angin lalu.

Penulis rasanya tidak pernah menemukan teman Kristen yang meminta (apalagi menuntut) rekan-rekannya yang Muslim untuk mengucapkan selamat Natal. Karena itu, dalam pandangan kami, wacana ini hanyalah isu yang sengaja difabrikasi dan dibesar-besarkan.

Ironisnya, fabrikasi isu nampaknya bukan isapan jempol dalam urusan beragama di negeri ini. Tengoklah misalnya insiden “tilawah Al-Qur’an langgam Jawa” yang juga pernah menimbulkan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat Muslim Indonesia beberapa waktu yang lalu. Meski langgam Jawa diklaim sebagai bukti “harmonisnya” agama dan budaya sejak masa lampau, toh kenyataannya wacana ini tenggelam begitu saja, karena memang tidak sedikitpun mengakar pada masyarakat Indonesia.

Orang Sunda tak memunculkan langgam Sunda, orang Minang tak mengusulkan langgam Minang, dan orang Bugis tentram saja dengan bacaan tilawah yang biasa, tanpa langgam Bugis. Bahkan masyarakat Jawa pun hingga detik ini masih belum akrab dengan langgam Jawa. Wacana ini hilang begitu saja, karena sejak awal memang dimunculkan tanpa alasan yang jelas.

Sementara itu, dari berbagai daerah masih bermunculan laporan adanya toko dan perusahaan ini-itu yang mewajibkan pegawai Muslimnya untuk mengenakan topi Sinterklas. Masih segar dalam ingatan kita tentang masjid yang dibakar di Tolikara dan kasusnya tidak ada tanda-tanda kemajuan hingga kini.

Demikian pula netizen Muslim yang emosinya diaduk-aduk oleh akun Twitter @hikdun yang sudah lama menghina Islam tanpa penyikapan yang jelas dari pihak penegak hukum. Bukankah ini semua – dan kasus-kasus lain semacamnya – adalah masalah toleransi yang sesungguhnya?

Marilah membangun toleransi. Tapi sebelumnya, marilah duduk dan berbicara jujur, dari hati ke hati. (Rappler.com).

(III)

Apa yang disampaikan oleh Akmal pada akhir artikelnya menarik untuk direnungkan. “Mari membangun toleransi. Tapi sebelumnya, marilah duduk dan berbicara jujur, dari hati-ke hati”. Sebab seorang Muslim tentu mengimani bahwa Allah adalah Maha Esa, tidak beranak dan tidak dilahirkan. Seorang Muslim juga meyakini bahwa Isa adalah Nabi Allah, bukan anak Tuhan dan bukan Tuhan. Seorang Muslim meyakini pula bahwa Nabi Isa tidak mati di tiang salib. Lalu bagaimana mungkin seorang Muslim diminta meridhai sesuatu yang bertentangan dengan iman dan aqidahnya. Apakah hal ini dapat menumbuhkan teoleransi dan kerukunan?

Sebagian kalangan yang ngotot “Muslim harus mengucapkan selamat Natal demi toleransi dan kerukunan” mengatakan, ucapan selamat natal tidak menunjukkan pembenaran terhadap keyakinan kaum kristen yang sedang merayakan natal. Lalu apa gunannya ucapan selamat tersebut? Sekadar basa-basi? Katanya demi kerukunan dan toleransi, tapi yang terjadi justeru basa-basai umat beragama.

Tamtsil sederhana berikut penting direnungkan;

Kita mengucapkan selamat kepada salah seorang kawan atau kerabat yang sedang berbahagi di hari wisudanya.”Selamat ya”. Artinya kita turut berbahagia atas kebahagiaan dia mendapat gelar sarjana, sekaligus meyakini dan mempercayai kesarjaannya. Sebab menjadi tidak bermakna dan tidak berguna kita menyampaikan ucapan selamat dan menampakkan turut berabahagia, lalau kita mengingkari dan tidak mempercayai kesarjaannya. Atau contoh lain, ucapan selamat kepada teman yang melangsungkan pernikahn. Artinya kita yakin dan percaya bahwa ia benar-benar menikah. Sangat janggal dan lucu, bila kita mengucapkan selamat atas pernikahan seseorang lalu hati kita tidak mempercayai pernikahannya atau meragukan keabsahan pernikannya.

Oleh karena itu, tidak perlu menumbuhkan kerukunan beragama dengan cara-cara yang mengandung basa-basi seperti diisyaratkan dalam tamtsil di atas. Sebab, kerukunan ummat beragama dapat dibangun tanpa harus mencampur adukan urusan aqidah dan ibadah. Toleransi antar ummat beragama dapat dibangun dengan masing-masing agama tetap pada pendirian masing-masing. Kerukunan dan toleransi dapat dibangun tanpa harus suatu agama terlibat dalam ritual agama lain, meski sekadar ucapan selamat. Inilah toleransi orisinil, yang merupakan salah satu realisasi dari Firman Allah, Lakum dinukum Wa Liya Diin; Untukmu Agamau dan untukkulah agamaku. (terj. Qs. Al-Kafirun ayat 6). Wallahu a’lam. [sym].

Sebelumnya artikel ini dipublikasikan di web wahdah.or.id.

Korban Tsunami Selat Sunda Jadi 429 Meninggal, 1485 Luka-Luka, 154 Hilang dan 16.082 Mengungsi

Relawan Dapur Umum Pelayanan Pengungsi

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Tim SAR gabungan  terus bergerak melakukan penyisiran di daerah terdampak bencana tsunami selat Sunda, yaitu Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Pesawaran dan Tangambus.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, data sementara terdampak bencana tsunami Selat Sunda hingga Selasa (25/12/2018) pukul 13.00 WIB, tercatat 429 orang meninggal dunia, 154 orang hilang, 1485 orang luka-luka dan 16.082 orang mengungsi.

“Jadi, data yang kemarin kami sampaikan, korban mengungsi 5000 lebih. Tapi sekarang ada penambahan-penambahan karena daerah-daerah yang terdampak yang sebelumnya belum di data saat ini berhasil di data oleh petugas. Sehingga total jumlah pengungsi 16.082 orang, yang tersebar di beberapa tempat.” Ujar Sutopo dalam siaran persnya yang diterima wahdahjakarta.com.

Untuk  kerusakan material, lanjut Sutopo  882 unit rumah, 73 penginapan / hotel, dan 60 buah warung dan toko, 1 dermaga serta 1 shelter mengalami kerusakan.

Ada juga beberapa data kendaraan yang mengalami kerusakan, seperti perahu dan kapal sebanyak 434 unit, mobil 24 unit dan sepeda motor sebanyak 41 unit.

“Data terus bergerak, seiring dengan tim SAR gabungan yang terus bergerak melakukan penyisiran di daerah-daerah yang terdampak di 5 kabupaten yaitu pandeglang, serang, lampung selatan, pesawaran dan tangambus. Data ini adalah data sementara per pukul 13.00 WIB yang tentu saja nanti akan bertambah jumlahnya.” Pungkasnya. []

LAZIS Wahdah Kirim Relawan Tambahan ke Daerah Terdampak Tsunami Selat Sunda

Relawan Lazis Wahdah bersiap menuju lokasi terdampak tsunami selat Sunda

(Banten) wahdahjakarta.comLAZIS Wahdah mengirimkan tim relawan tambahan ke daerah bencana tsunami di pesisir pantai Selat Sunda di wilayah Provinsi Banten dan Lampung. Hingga hari ini, dari laporan tim data di lapangan, relawan yang telah diturunkan sebanyak 30 orang.

Wahdah Islamiyah hingga hari ini telah menurunkan total 30 relawan, baik relawan lokal maupun yang dipasok dari berbagai wilayah di Indonesia,” kata Irfan, koordinator relawan LAZIS Wahdah Peduli Tsunami Selat Sunda, Selasa (25/12/2018).

Ia mengatakan, pihaknya hari ini telah mengirimkan lima orang relawan tambahan untuk melakukan assesment lapangan di daerah terdampak bencana dan penyegaran tim sebelumnya.

“Hari ini sudah saya kirimkan bantuan. Relawan juga telah dikirimkan sebagian adalah tenaga medis, dan SAR,” tuturnya.

Selain bantuan logistik, kata Irfan, LAZIS Wahdah juga akan memberikan bantuan secara khusus seperti pada bencana gempa di Lombok dan Palu.

“InsyaAllah dalam waktu dekat bantuan-bantuan logistik juga yang dibutuhkan akan kami kirim, karena bagaimana pun kondisi mereka begitu memprihatinkan. Kemarin kita juga baru saja menyalurkan bantuan di Desa Cibaliung dan Desa Sumur. Desa lain insya Allah menyusul,” jelasnya.

Hingga hari ketiga pasca bencana tsunami, tim relawan telah membentuk sejumlah posko. Selain posko satelit di Desa Cibaliung, LAZIS Wahdah juga telah membangun posko induk di Pondok pesantren wahdah islamiyah,Jl.Belakang Terminal No.1 RT.03 RW.04 Pemancangan,Cipocok Jaya Kota Serang.

Irfan mengatakan hingga saat ini masih banyak keperluan warga yang perlu untuk segera didistribusikan seperti makanan, bantuan medis dan obat-obata, alas tidur, selimut, kebutuhan bayi, paket mandi, dan perlengkapan sekolah.

Ayo bersama LAZIS Wahdah kita bantu warga terdampak Tsunami Selat Sunda, donasi bisa disalurkan melalui melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 499 900 9005 a.n LAZIS Wahdah Peduli Negeri. Konfirmasi Transfer melalui WA/SMS ke +6285315900900

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #tsunamiselatsunda #tsunamibanten #tsunamilampung

Lazis Wahdah Serahkan Bantuan Logistik Untuk Pengungsi Tsunami Selat Sunda

Relawan Lazis Wahdah

(Banten) WahdahJakarta.com – Alhamdulillah, Bantuan berupa 4 dus makanan ringan bergizi tinggi untuk pengungsi tsunami selat sunda  telah tersalurkan, Senin (24/12/20180, pukul 17.30 WIB.

Penyaluran perdana dari LAZIS Wahdah dilakukan di desa Cibaliung, kecamatan Sumur kabupaten Banten.

Suherdi, Koordinator Posko Swadaya Masyarakat di Desa Cibaliung, Kec Sumur, Banten menyampaikan, `Alhamdulillah, dengan kepedulian saudara-saudara kita, kami mengucapkan terimakasih..`

Selanjutnya Desa Cibaliung insyaAllah akan menjadi salah satu posko LAZIS Wahdah.

Bantuan selanjutnya didistribusikan ke posko cabang yang akan dibuatkan tenda. Pendataan penyaluran bantuan masih berlangsung, berapa jumlah pengungsi, dan apa yang dibutuhkan.

`Bantuan baru sampe ke Desa Sumur, sedangkan ke desa lainnya yg terdampak parah, yaitu Desa Kertajaya, Sumber jaya belum tersentuh sama sekali`, kata relawan  LAZIS Wahdah Rudisa Putra.

Hasil pantauan relawan LAZIS Wahdah, bantuan yang diprioritaskan adalah obat, beras, makanan ringan dan bahan-bahan untuk penyiapan dapur umum`, ujar Irfan Korlap Relawan LAZIS Wahdah. []

Laporan:  Rudisa Putra

Bagi yang akan berdonasi dapat mengirimkan bantuan melalui rekening :

BSM (471) 499 900 900 5 an LAZIS Wahdah Peduli Negeri

Informasi selengkapnya hubungi nomer 08119787900 (wa/sms/call)

 LAZIS Wahdah, Melayani dan Memberdayakan

LAZIS Wahdah Jakarta Kirim Tim Reaksi Cepat ke Lokasi Tsunami Selat Sunda

LAZIS Wahdah Jakarta Kirim Tim Reaksi Cepat ke Lokasi Tsunami Selat Sunda

LAZIS Wahdah Jakarta Kirim Tim Reaksi Cepat ke Lokasi Tsunami Selat Sunda

(Jakarta) wahdahjakarta.com – LAZIS Wahdah Jakarta berangkatkan Tim Reaksi Cepat Tanggap untuk membantu korban  terdampak bencana Tsunami Selat Sunda pada Senin (24/12/2018) pukul 01.30 dinihari WIB.

“Bencana tsunami yang kali ini memang tidak sama dan sedikit unik karena tidak didahului dengan gempa sehingga kemungkinan besar memerlukan penanganan khusus dan memerlukan informasi yang lebih akurat di lokasi untuk penanganan kegawatdaruratannya. Pendampingan terhadap masyarakat sangat diperlukan di lokasi agar mereka bisa dibantu keselamatannya dan arahannya.” Ujar Yudi Wahyudi, Ketua LAZIS Wahdah Jakarta.

“Tim LAZIS Wahdah dari Jakarta berencana akan membawa beberapa kebutuhan yang dianggap penting seperti bantuan air minum, roti, kemudian pakaian bekas yang bersifat darurat dan tenaga dari relawan, baik tenaga lapangan maupun tenaga media.” Tambahnya.

Untuk bantuan pangan, LAZIS Wahdah menyediakan beberapa kebutuhan pokok seperti beberapa dus air minum dan biskuit. Kemudian untuk sandang, tim LAZIS juga membawa 3 karung pakaian bekas yang masih layak pakai yang terdiri dari pakaian pria dan wanita, mukena dan jilbab, serta selimut dan handuk.

“Kita belum bisa pastikan secara tepat jumlah bantuan pangannya berapa karena kita tidak bawa langsung dari Jakarta, nanti kita beli ketika sampai di lokasi” ujar Rudi, manager online marketing LAZIS Wahdah Jakarta.

Tim LAZIS Wahdah dikirim dari Jakarta sebanyak 3 orang, terdiri dari 2 orang tim Rescue dan 1 orang tim media yang  merupakan jurnalis dari wahdahjakarta.com. Nantinya tim LAZIS Wahdah Jakarta akan bergabung dan berkoordinasi dengan tim LAZIS Wahdah Jawa Barat yang juga dikirim sebanyak 3 orang yang sudah sampai di Banten semenjak pukul 01.00 dinihari tadi.  [fry]