Gempabumi Tektonik Guncang Konawe Selatan, Tidak berpotensi Tsunami

Peta kabupaten Konawe Selatan (Konsel) Su;lawesi Tenggara (Sultra)

Wahdahjakarta.com-, Gempabumi tektonik mengguncang wilayah Ranomeeto –Kabupaten  Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra)  pada hari  Senin (05/11/2018).

Kepala Stasiun Geofisika Kendari, Rosa Amelia, S. Si, hasil analisis Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisikan (BMKG() menunjukan, gempa berkekuatan M=2.1 terjadi pada pukul 16:20:18 WITA dengan episenter 4,18  LS – 122,47 BT sekitar 29.5 KM arah BaratDaya Kendari– Sulawesi Tenggara dengan kedalaman 5  Km.

“Berdasarkan laporan masyarakat menunjukan bahwa dampak gempabumi berupa goncangan sedang dirasakan di wilayah Ranomeetoo, Pasar Baruga dan Lanud HLO – Konawe Selatan dalam skala intensitas II MMI”, ujar Rosa melalui keterangan tertulis yang tersebar di media sosial, Senin (05/11/2018) sore.

“Di daerah ini goncangan gempabumi dilaporkan dirasakan oleh sebagian orang. Hasil koordinasi  hingga saat laporan ini dibuat belum ada informasi adanya kerusakan akibat gempa bumi tersebut”, jelasnya.

“Terkait dengan peristiwa gempabumi di Konawe Selatan(SULTRA), hingga laporan ini disusun pada pukul 16:56 WITA, telah terjadi aktivitas gempabumi susulan sebanyak 3 kali. Masyarakat dihimbau agar tetap tenang”, imbuhnya.

Ditinjau dari kedalamannya, gempabumi ini merupakan gempabumi dangkal akibat aktivitas Sesar Kendari  di wilayah Barat Daya Kendari-Sulawesi Tenggara.

Sumber: Rosa Amelia,S.Si (Kepala Stasiun Geofisika Kendari)

 Sehatkan Diri dan Keluarga dengan Al-Qur’an

Qur'anic Holiday Terapi Qur'ani Sehatkan Diri dan Keluarga  

Sehatkan Diri dan Keluarga dengan Al-Qur’an

(Depok) wahdahjakarta.com-, Salah satu fungsi Al-Qur’an adalah sebagai syifa (penawar dan penyembuh). Sebagaimana diterangkan dalam surat Yunus ayat 57:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٧

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Qs. Yunus: 58).

Menurut para Ulama, syifa yang dikandung oleh Al-Qur’an meliputi kesembuhan bagi (penyakit) hati berupa syubhat, jahalah (kebodohan), pendapat atau pandangan yang keliru (al-ara al-fasidah), penyimpangan yang buruk, serta maksud dan tujuan yang jelek.

Al-Qur’an adalah obat semua penyakit hati tersebut. “Karena Al-Qur’an mengandung ilmu yang meyakinkan yang menghapuskan setiap kerancuan (syubhat) dan kebodohan (jahalah). Selain itu al-Qur’an juga mengandung nasehat dan peringatan yang menghapuskan setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah”.

Kata  ‘’syifa lima fis Shudur” mencakup makna bahwa al-Qur’an adalah penyembuh bagi apa yang ada di dalam hati dan jiwa manusia berupa penyakit syahwat dan syubhat yang merupakan bibit utama penyakit hati. Buya Hamka mengistilahkannya dengan, “Sesuatu kumpulan dari resep-resep rohani”, (Tafsir Al-Azhar, 11/237).

Tapi bagaimana memfungsikan Al-Qur’an sebagai resep-resep rohani dan penawar bagi berbagai penyakit?

Untuk menjawab ini  Qur`anic Living Service (QALS) bekerjasama dengan Ma’had Bina Tahfidz (MABIT) dan Lazis wahdah menggelar event “Qur’anic Holiday” dengan tema;

“TERAPI QUR’ANI, SEHATKAN DIRI DAN KELUARGA”

Acara ini insya Allah akan digelar pada hari Sabtu, 10 November 2018, jam 08.00-12.00 bertempat di Masjid Balaikota Depok.

Panitia menghadirkan  pakar Ruqyah dari Makkah, Syaikh Yusen bin Sulaiman Hafizhahullah. Beliau adalah seorang da’i, imam, dan khatib di Makkah Saudi Arabia.Merupakan salah satu pengemban sanad Qur’an Qiro’ah Sab’ah.

“Di tengah kesibukannya telah menulis 4 buah buku Aqidah, putera beliau yang berusia kurang dari 10 tahun telah hafal Alqur’an, dan dalam kesehariannya beliau banyak membantu orang-orang di sekitarnya untuk berobat dan belajar terapi dengan Alqur’an Pengemban Sanad Qur’an Qiro’ah Sab’ah”, ujar Ketua Lazis Wahdah Jakarta dalam keterangan tertulis kepada wahdahjakarta.com, Senin (5/11/2018).

Selain itu acara ini juga akan diisi oleh  Ustadz Muhammad Nur Hasan Palogai, Lc. Beliau dikenal sebagai penggiat pendidikan Al-Qur’an.

“Ustadz  Nur juga telah menyusun 2 buah buku dalam pembelajaran Alqur’an  yakni 2 Langkah Mudah Belajar Tajwid dan 3 Langkah Mudah Menerjemah, dan  telah mengisi ratusan training yang telah meluluskan ribuan orang alumni”, kata Yudi menambahkan.

Ada beberpa materi yang akan disajikan dalam acara ini, yaitu:

  • Apa itu Terapi dengan Alqur’an?

  • Bagaimana terapi dengan Alqur’an?

  • Praktek Terapi Sehat dengan Alqur’an

  • Konsultasi Terapi Qur’ani

  • Apa dan Bagaimana Agar Alqur’an bersemayam di dalam diri dan Keluarga?

Informasi dan pendaftaran melalui 08111162262 / 08111768900 (wa/sms/telp) dengan format:

Ketik, NamaLengkap_Alamat_NomerHape_Email, kirim ke,

08111162262 / 08111768900 (wa/sms/telp)

 

Buruan Daftar, Peserta TERBATAS!

 

“Siapkan Infak Terbaik untuk Dakwah Qur`an di Palu dan Sekitarnya”


LGBT Bukan Sekedar Penyimpangan Perilaku Sexual, Tapi Gerakan Penularan Sedunia

Aksi Tolak LGBT

Flyr Aksi Damai Tolak LGBT yang akan digelar gabungan ormas Islam Bogor pada Jum’at (9/11/2018) besok.

Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender (LGBT) bukan sekadar perilaku sexual menyimpang tapi gerakan penularan sedunia. Hal ini diungkap oleh pakar Psikologi Prof. Sarlito Wirawan Sawrwono melalui artikel popolar yang tersebar di berbagai grup Whats app dan media sosial lannya sejak sepekan terakhir.

Berikut artikel Prof Sarlito “LGBT SEBUAH SEKTE SEX BARU Melalui GERAKAN PENULARAN SEDUNIA”

Mungkin ada yang heran bertanya, kenapa saya begitu keras terhadap perilaku Lesbianism, gay, bisexual and transexualism (LGBT).

Saya seakan penuh murka dan tak memberikan sedikitpun ruang toleransi bagi pengidapnya.

Mungkin saya perlu klarifikasi bahwa saya tidak sedang bicara tentang pelaku, orang dan oknum.

Terhadap oknum, orang dan pelaku LGBT, kita harus tetap mengutamakan kasih-sayang, berempati, merangkul dan meluruskan mereka.

Dan saya juga tidak sedang bicara tentang sebuah perilaku personal dan partikular. Saya juga tak sedang bicara tentang sebuah gaya hidup menyimpang yang menjangkiti sekelompok orang.

Karena saya sedang bicara tentang sebuah GERAKAN !!!

Ya, saya sedang bicara tentang sebuah GERAKAN : ORGANIZED CRIME yang secara sistematis dan massif sedang menularkan sebuah penyakit !!! Sekali lagi, bagi saya ini bukan semata perilaku partikular, sebuah kerumun, bahkan bukan lagi semata-mata sebuah gaya hidup, tapi sebuah harakah : MOVEMENT !!! Terlalu paranoidkah kesimpulan ini ???

Saya telah mengumpulkan begitu banyak kesaksian di kampus-kampus tentang mahasiswa-mahasiswa normal kita yang dipenetrasi secara massif agar terlibat dalam LGBT dan tak bisa keluar lagi darinya.

Perilaku mereka sangat persis seperti sebuah sekte, kultus atau gerakan-gerakan eksklusif lainnya : fanatik, eksklusif, penetratif dan indoktrinatif.

Ya, ini telah berkembang menjadi sebuah sekte seksual.

Kenapa mereka perlu menjadi sebuah gerakan ?

Karena target mereka tak main-main: mendorong pranata hukum agar eksistensi mereka sah secara legal.

Dan untuk itu mereka membutuhkan beberapa prasyarat :

Pertama, jumlah mereka harus signifikan secara statistik, sehingga layak untuk mengubah asumsi, taksonomi dan kategorisasi

Kedua, keberadaan mereka telah memenuhi persyaratan populatif, sehingga layak disebut sebagai sebuah komunitas

Ketiga, perilaku mereka telah diterima secara normatif menurut persyaratan kesehatan mental dari WHO.

Untuk memenuhi ketiga hal ini, maka organisasi ini harus mampu menularkan penyimpangannya secara eksponensial kepada lingkungannya.

Mereka telah mempelajari hal itu dari keberhasilan “perjuangan” saudara-saudara mereka di Amerika Serikat.

Mereka sadar, pertumbuhan jumlah mereka hanya bisa dilakukan lewat penularan, mengingat mereka tak mungkin tumbuh lewat keturunan.

Mereka sadar, tanpa penularan mereka akan punah !!!

Kenapa harus menyasar mahasiswa ?

Sebenarnya yang ingin mereka sasar ada dua : Pertama, mahasiswa; dan yang kedua, institusi akademik.

Mereka menyasar mahasiswa, karena mahasiswa adalah generasi galau identitas dengan kebebasan tinggi dan tinggal di banyak tempat kost.

Sedangkan institusi akademik perguruan tinggi mereka butuhkan untuk menguatkan legitimasi ilmiah atas “kenormalan” mereka.

Mereka bergerilya secara efektif, dengan dukungan payung HAM dan institusi internasional.

Per 1 Januari 2015, tercatat ada 17 negara yang undang-undangnya telah melegalkan perkimpoian sesama jenis.

Dan akan menyusul belasan negara lain.

Trend dukungan atas perkimpoian sesama jenis terus bertambah.

Silahkan tanya ke politisi negeri ini, apakah mereka akan melegalkan perkimpoian sesama jenis di Indonesia ?

Sekarang sih saya yakin jawabannya: TIDAK.

Tapi 20-30 tahun lagi, tergantung situasinya.

Jika itu membuat mereka terpilih, akan banyak politisi yang bersedia menyetujuinya.

Saya tidak berlebihan. Itu rasional sekali.

Silahkan cek di negara-negara lain.

Tahun 1950, tidak ada satupun negara yang melegalkan perkimpoian ini, tapi dunia berubah sangat cepat, kelompok pendukung kebebasan semakin besar, kelompok yang tidak peduli, “i dont care” semakin banyak, sistem demokrasi mempercepat legalisasi perkimpoian sesama jenis.

Syah. Atas nama kebebasan.

Semua agama melarang perkimpoian sesama jenis.Tapi demokrasi tidak mengenal kitab suci.

Kalian tahu, bahkan homo kelas berat, masih santai pergi ke gereja, ke tempat-tempat ibadah. Mereka hanya mengenal suara terbanyak.

Saya kasih contoh Brazil, Mei 2011 mereka melegalkan perkimpoian sesama jenis.

Apakah orang Brazil tidak beragama ?

90% penduduk mereka beragama, lantas apakah tidak ada disana yang keberatan dengan legalisasi ini ?

Jawabannya sederhana : mayoritas tutup mata.

“I don’t care”. Urus saja (urusan) masing-masing. Saya tidak mau recok. kamu jangan rese. Yang sesama cowok mau ciuman di tempat umum pun, bodo amat. Toh, mereka tidak mengganggu saya.

Dulu, Brazil itu sangat religius. Lantas kenapa sekarang jadi berubah sekali ? Bagaimana mungkin politisi mereka meloloskan UU itu ? Apakah rakyatnya tidak keberatan ?

Itulah kemenangan besar paham kebebasan.

Mereka masuk lewat tontonan, bacaan, menumpang lewat kehidupan glamor para pesohor.

Masyarakat dibiasakan melihat sesuatu yang sebenarnya mengikis kehadiran agama.

Awalnya jengah, lama-lama terbiasa, untuk kemudian apa salahnya ?

Di sisi lain, eksistensi agama dipertanyakan. Tuh lihat, toh yang beragama juga bejat, tuh lihat, mereka juga menjijikkan.

Fobia agama dibentuk secara sistematis, dimulai dari pemeluknya sendiri, untuk kemudian, orang-orang dalam posisi gamang, mulai mengangguk, benar juga.

Orang-orang jadi malas mendengarkan nasehat agama, buat apa ? Urus sajalah urusan masing-masing.

Rumus ini berlaku sama di seluruh dunia. Apapun agamanya.

Bahkan termasuk dalam kasus, tidak ada agama di suatu tempat, hanya ada nilai-nilai luhur–yang pasti juga akan melarang pernikahan sesama jenis.

Fasenya sama persis. Strateginya juga sama.

Dekatkan mereka dengan materialisme dunia, jauhkan mereka dari nilai-nilai luhur.

Gunakan teknologi untuk mempercepat prosesnya. Internet misalnya, itu efektif sekali menyebarkan berita, propaganda, dan sebagainya.

Apakah Indonesia juga akan begitu ?

Silahkan tunggu 20-30 tahun lagi.

Jika tidak ada yang membangun benteng-benteng pemahaman bagi generasi berikutnya, tidak ada yang membangun pertahanan tangguh, malah sibuk saling sikut berkuasa, sibuk berebut urusan dunia, sibuk dengan urusan duniawinya, 20-30 tahun lagi, kita akan menyaksikan pasangan cowok bermesraan di tempat-tempat umum.

Tetangga sebelah rumah kita adalah pasangan sesama jenis, dan mereka dilindungi oleh UU, karena sudah dilegalkan.

Ketika masa itu tiba, kalian bisa kembali mengeduk catatan ini.

Pedulilah, hidup ini bukan cuma urusan pribadi masing-masing.

Hidup ini tentang saling menjaga, saling menasehati, saling meluruskan.

Pedulilah, Kawan, ikut menyebarkan pemahaman baik, lindungi keluarga, teman, remaja, dan semua orang yang bisa kita beritahu agar menjauhi perilaku melanggar aturan agama, nilai-nilai kesusilaan. (By : Prof. Sarlito Wirawan Sarwono)

***

Generasi Qur’ani di Era Milenial

Generasi Qur'ani di Era Millenial

Daurah Sehari Wahdah Islamiyah Banten “Generasi Qur’ani di Era Millenial”

Generasi Qur’ani di Era Milenial

Wahdah Islamiyah (WI) Banten mempersembahkan Daurah Al-Qur’an Satu Hari, dengan tema;

“GENERASI QUR’ANI DI ERA MILENIAL”

Menyajikan materi

  1. Mulia dengan Al-Qur’an, Oleh Ustadz. Wahyuniswaru, SH (Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar
  2. Hakikat Kehidupan, Oleh Ustadz Andi Aris, SH, Al-Hafidz (Alumni STIBA Makassar)
  3. Akibat Menjauhi Al-Qur’an dan Solusinya Oleh Ustadz Ginanjar Setiawan (Alumi Sekolah Ilmu Bahasa Arab (STIBA) Ar Rayah Sukabumi)
  4. Perbaikan Bacaan (tahsin) Al-Fatihah sesuai standar matan jazariyah dan bersanad, Oleh Ustadz Jumardan, M.Pd (Dosen UNMA Banten) dan Ustadz Ayub Syahrul (Alumni STIBA Ar Rayah Sukabumi)

Hari/tanggal   : Ahad/11 November 2018

Waktu              : 08.00-15.00 WIB

Tempat            :

                           1. Masjid Al-Ikhlas D’ Griya Benggala, Kota Serang (Sebelah tenggara lampu merah Kebon jahe)

                           2. Masjid Darussalam, Jln. Ciptayasa, Kp.Tegal Jetak 02/03, Ciruas, kab. Serang

Informasi dan Pendaftaran: 0838 0584 7029 (Prayoga)

Hukum Mengambil Upah dari Mengajarkan Agama dan Al-Qur’an

Keutamaan Membaca Al-Qur'an

Ilustarsi: Seorang santri sedang membaca Al-Qur’an

Hukum Mengambil Upah dari Mengajarkan Agama dan Al-Qur’an

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum, mohon penjelasan tentang hukum mengambil upah atau gaji dari mengajarkan Agama atau Al-Qur’an.

Jawaban:

Pertama:

Asal dalam ibadah, seorang muslim tidak boleh mengambil gaji sebagai pengganti apa yang dia lakukan. Siapa yang berkeinginan ketaatannya untuk (mendapatkan) dunia. Maka dia tidak mendapatkan pahala di sisi Allah sebagaimana Firman Ta’ala:

( مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ) هود/ 15 ، 16

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” QS. Hud: 15-16.

Kedua:

Kalau ibadah itu manfaatnya untuk orang lain dimana orang selain pelakukanya dapat mengambil manfaat seperti ruqyah dengan Qur’an atau mengajarkannya. Atau mengajarkan hadits, maka dia diperbolehkan mengambil upah atasnya menurut jumhur ulama. Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

فعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ نَفَراً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مَرُّوا بِمَاءٍ فِيهِمْ لَدِيغٌ ، فَعَرَضَ لَهُمْ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَاءِ فَقَالَ : هَلْ فِيكُمْ مِنْ رَاقٍ إنَّ فِي الْمَاءِ رَجُلاً لَدِيغًا ؟ فَانْطَلَقَ رَجُلٌ مِنْهُمْ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ عَلَى شَاءٍ [أي : مجموعة من الغنم]، فَبَرَأَ ، فَجَاءَ بِالشَّاءِ إِلَى أَصْحَابِهِ ، فَكَرِهُوا ذَلِكَ ، وَقَالُوا : أَخَذْتَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَجْراً ؟ حَتَّى قَدِمُوا الْمَدِينَةَ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَخَذَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَجْراً ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : (إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ) رواه البخاري ( 5405 ) .

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwa sekelompok dari para shahabat Nabi sallallahu alaihi wa sallam melewati perkampungan yang terkena sengatan. Maka salah seorang penduduk perkampungan menawarkan seraya mengatakan, “Apa ada diantara kamu semua orang yang meruqyah. Sesungguhnya ada seseorang terkena sengatan di perkampungan? Maka ada salah seorang diantara mereka pergi dan dibacakan Fatihatul Kitab (dengan imbalan) sejumlah kambing dan sembuh. Maka beliau sambil membawa kambing kembali ke teman-temannya. Sementara mereka tidak menyukainya. Seraya mengatakan, “Apakah kamu mengambil upah dari kitabullah? Sampai mereka di Madinah. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, mengambil upah dari Kitabullah. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling berhak anda mengambil upah itu dari kitabullah.” (HR. Bukhari, (5405).

Dikeluarkan oleh Bukhori, (2156) dan Muslim, (2201) dari hadits Abu Said Al-Khudri. Nawawi rahimahullah membuat bab dalam penjelasan Muslim seraya mengatakan, “Bab Jawaz Akhdil Ujroh Alar Ruqyah Bil Quran Wal Adzkar (Bab diperbolehkan mengambil upah atas Ruqyah dengan Quran dan Zikir).

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan dalam menjelaskan hadits,

Ini jelas diperbolehkan mengambil upah atas ruqyah dengan Al-Fatihah dan zikir. Dan itu halal tidak makruh di dalamnya. Bagitu juga upah dalam mengajarkan Qur’an. Dan ini mazhab Syafi’I, Malik, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan ulama salaf lainnya dan ulama setelahnya. (Syarkh Nawawi, (14/188)

Para ulama Lajnah Daimah Lil Ifta’ mengatakan,

 “Anda diperbolehkan mengambil upah dari pengajaran Qur’an. Karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam menikahkan seseorang dengan wanita dengan mengajarkannya kepadanya apa yang dia punya dari Qur’an. Dan hal itu sebagai maharnya. Dan shabat yang mengambil upah atas kesembuhan orang kafir sakit disebabkan ruqyah kepadanya dengan Fatihatul Kitab. Dan Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda akan hal itu, “Sesungguhnya yang paling berhak untuk anda ambil upahnya adalah Kitab Allah.” HR. Bukhori dan Muslim. Sesungguhnya yang dilarang adalah mengambil upah atas bacaan Qur’an itu sendiri dan meminta orang dengan bacaannya.”  (Fatawa Lajnah Daimah, 15/96).

(Sumber: Jawaban dikuti dari islamqa.info.id)

#DonggalaBangkit dengan Spirit Hijrah

#DonggalaBangkit dengan Spirit Hijrah

Tabligh Akbar “Donggala Bangkit” yang digelar Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah (DPD WI) Donggala, Ahad (04/11/2018) Photo:Rustam

#DonggalaBangkit dengan Spirit Hijrah

(Donggala) wahdahjakarta.com – Spirit hijrah menjadi modal utama bagi warga Donggala Sulawesi Tengah untuk kembali bangkit pasca bencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi yang menimpa beberapa daerah di Sulteng pada penghujung bulan September 2018 lalu.

Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah (DPD WI) Kabupaten Donggala menggelar Tabligh Akbar dengan tema “Donggala Berhijrah” di Masjid Al-Istiqomah Labuan Bajo Kabupaten Donggala, Sul-Teng, Ahad (4/11/2018).

Menurut, ketua Pengurus Masjid Al-Istiqomah Roni Jalaluddin  kegiatan tabligh akbar ini merupakan satu cara Trauma Healing untuk masyarakat pasca bencana.

Ketua Pengurus Masji Istiqamah Donggala Roni Jalaluddin menyampaikan sambutan pada Tabligh Akbar “Donggala Berhijrah”, Ahad (04/11/2018). Photo:Rustam

Roni optimis, Donggala akan bangkit dengan spirit hijrah insya Allah.

“Sebagaimana pada tema kegiatan, kita bersama membangun Donggala kembali untuk hijrah ke arah yang lebih baik ,” ujarnya.

Senada dengan Roni harapan dan optimisme #Donggalabangkit juga diungkapkan Wakapolres Donggala Komisaris Polisi Hedi Abu Djafar yang turut hadir menyampaikan sambutan dalam Tabligh Akbar “Donggala Berhijrah” ini.

Wakapolres Donggala Ajak Masyarakat Berhijrah ke Arah yang Lebih Baik

Wakapolres Donggala Ajak Masyarakat Berhijrah ke Arah yang Lebih Baik

 “Alhamdulillah saat ini kita akan mendengarkan Tabligh Akbar, maka mari kita memaksimalkan diri untuk benar-benar membuat daerah kita, Donggala, berhijrah ke arah yang lebih baik,” ujar kompol Hedi.

Tabligh akbar yang dipadati ratusan jama’ah ini menghadirkan Ketua Dewan Syari’ah Wahdah Islamiyah, Ustadz. DR. Muhammad Yusran Anshar sebagai penceramah.

Spirit Hijrah

Jama’ah antusias mengikuti dan menyimak taushiyah Tabligh Akbar “Donggala Berhijrah” yang digelar Wahdah Islamiyah Donggala, Ahad (04/11/2018). Photo:Rustam

Dalam taushiyahnya Ustadz Yusran mengajak hadirin Tabligh Akbar “Donggala Berhijrah” untuk bangkit dengan semangat dan spirit  hijrah, semangat perbaikan diri dan keluarga.

“Mari kita berhijrah, berhijrah dari apa? Berpindah dari manusia yang banyak bermaksiat menuju manusia yang banyak berdzikir kepada Allah Taala,” tuturnya.

Salah satu cara menyelamatkan diri dari bala, lanjut ustad Yusran, adalah dengan melakukan perbaikan-perbaikan. Inilah cara yang telah ditempuh oleh Rasulullah. Sebagaimana ditegaskan Allah dalam Alquran, bahwa Allah tidak akan menyiksa suatu kaum dengan kezaliman yang mereka lakukan, selama mereka adalah orang selalu mengadakan perbaikan, saling menasehati dari kesalahan.

Ustadz Muhammad Yusran Anshar

 “Bagaimana kita berhijrah? Kita mulai dari diri dan keluarga kita. Arahkan diri untuk rajin ke Masjid, sembari mengajak anggota keluarga kita juga ikut menyejahterakan Masjid. Sehingga tercipta keluarga yang shalih, dan terkonversi menjadi Masyarakat yang taat kepada Allah taala. Dari kondisi ini, niscaya akan tercipta Donggala yang mendapatkan Rahmat dan Keberkahan dari Allah Subhana wa taala,” jelasnya.

Anak-anak korban gempa Donggala sedang menenteng bantun sembako pasca Tabligh Akbar “Donggala Berhijrah”, Ahad (04/11/2018)

Tabligh Akbar “Dongga Berhijrah” juga dirangkaikan dengan pembagian paket sembako kepada ratusan warga yang hadir, yang terdiri dari jemaah laki-laki, Ibu-ibu, para pemuda serta anak-anak. (Rustam/Sym).

Pertama Kali Ikut Olimpiade Nasional Bahasa Arab, Sekolah Wahdah Raih Juara III

(Jakarta) wahdahjakarta.com, Meski baru pertama kali mengikuti Olimpiade Nasional Bahasa Arab SMA Tahfidz Asyatibi Wahdah Islamiyah sudah menunjukkan prestasi yang menggembirakan.

Alhamdulillah, salah seorang  siswa SMA Tahfidz Syaatibi Gowa Binaan Wahdah Islamiyah, meraih juara pada ajang Olimpiade Nasional Bahasa Arab II, yang diselenggarakan oleh Forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran ( F-MGMP) Bahasa Arab se-Indonesia, Jumat (2/11/2018).

Dari 3 siswa utusan sekolah binaan Wahdah Islamiyah ini, terpilih Laode Muhammad Hisyam (kelas XII) berhasil meraih juara 3 untuk lomba Bahasa Arab pada tingkat SMA Swasta. Selain itu ada juga tingkat SMK dan MAN.

Ajang bergengsi untuk mata pelajaran Bahasa Arab ini  diikuti  perwakilan berbagai Propinsi diantaranya  Papua, Aceh, Sumatra, Kalimantan, Jogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, dan tuan rumah DKI Jakarta.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Konferensi  Nasional I F-MGMP Bahasa Arab. Mengambil tempat di gedung PPPPTK Bahasa Kemendikbud RI, Srengseng Sawah Jakarta Selatan.

Sebelumnya panitia telah menyelanggarkan seleksi mulai tingkat kabupaten dan  propinsi. Juara terbaik 1,2 dan 3 tiap propinsi berhak mengikuti tingkat nasional hingga grand final di Jakarta.

“Alhamdulillah, kami bangga tentu saja, ini pertama kalinya ikut serta dalam Olimpiade Nasional Bahasa Arab”, ujar Amiruddin, guru penamping dari SMA Tahfidz Asy Syathibi.

 “Insya Allah prestasi ini akan terus ditingkatkan melalui program-program bahasa arab di sekolah, sehingga banyak siswa yg mampu berbahasa arab nantinya, dan diikutsertakan pada ajang lomba-lomba lainnya”, Imbuhnya. (AA)

Ustadz Yusran Anshar Ungkap Tips #DonggalaBangkit dengan Spirit Hijrah

Ustadz Yusran Anshar Ungkap Tips #DonggalaBangkit dengan Spirit Hijrah

Ketua Dewan Syari’ah Wahdah Islamiyah Ustadz DR. Muhammad Yusran Anshar Ungkap Tips #DonggalaBangkit dengan Spirit Hijrah pada Tabligh Akbar Donggala Berhijrah, Ahad (04/11/2018). Photo:Rustam

(DONGGALA) wahdahjakarta.com – Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah (DPD WI) Kabupaten Donggala menggelar Tabligh Akbar dengan tema “Donggala Berhijrah” di Masjid Al-Istiqomah Labuan Bajo Kabupaten Donggala, Sul-Teng, Ahad (4/11/2018).

Tabligh Akbar dihadiri oleh ratusan warga Donggala yang antusias untuk mendengarkan tausiyah dari Direktur STIBA Makassar, Ustad Muhammad Yusran Anshar.

Dalam taushiyahnya ketua Dewan Syariah Wahdah Islamiyah ini mengungkap tips #DonggalaBangkit melalui Spirit hijrah.

“Hijrah sering dipahami dengan makna berpindah tempat. Namun menurutnya, itu bukan inti persoalan, sebagaimana kata para Ulama, dalam bahasa Arab, Hijrah adalah berpindah”, ujar ahli hadits jebolan Medinah International University Malaysia ini.

“Hijrah ada yang bersifat Hissiyyah dan Maknawiyah. Hijrah Hissiyyah adalah berpindah fisik, sedangkan Hijrah Maknawiyah adalah berpindah amalan-amalannya,” tukasnya.

Ustad Yusran menjelaskan, Hijrah Maknawiyah adalah berpindah sikap, yang mungkin ia masih tetap di tempat tersebut namun telah merubah keadaan dirinya, sebagai contoh adalah Ia masih berada di Donggala, namun ia sedang berusaha merubah segala tingkah lakunya.

“Mari kita berhijrah, berhijrah dari apa? Berpindah dari manusia yang banyak bermaksiat menuju manusia yang banyak berdzikir kepada Allah taala,” tuturnya.

Salah satu cara menyelamatkan diri dari bala, lanjut ustad Yusran, adalah dengan melakukan perbaikan-perbaikan. Inilah cara yang telah ditempuh oleh Rasulullah. Sebagaimana ditegaskan Allah dalam Alquran, bahwa Allah tidak akan menyiksa suatu kaum dengan kezaliman yang mereka lakukan, selama mereka adalah orang selalu mengadakan perbaikan, saling menasehati dari kesalahan.

“Bagaimana kita berhijrah? Kita mulai dari diri dan keluarga kita. Arahkan diri untuk rajin ke Masjid, sembari mengajak anggota keluarga kita juga ikut menyejahterakan Masjid. Sehingga tercipta keluarga yang shalih, dan terkonversi menjadi Masyarakat yang taat kepada Allah taala. Dari kondisi ini, niscaya akan tercipta Donggala yang mendapatkan Rahmat dan Keberkahan dari Allah Subhana wa taala,” ujarnya.

“Semua ini menghadirkan kesadaran bahwa dunia begitu singkat. Betapa kematian adalah sesuatu yang pasti datangnya, waktunya hanya Allah taala yang mengetahui. Maka mari selalu mengisi waktu kita dengan amalan-amalan shalih,” tutupnya.

Tabligh Akbar kemudian dilanjutkan dengan pembagian paket sembako kepada ratusan warga yang hadir, yang terdiri dari jemaah laki-laki, Ibu-ibu, para pemuda serta anak-anak.

Kegiatan ini adalah Tabligh Akbar kedua yang digelar oleh DPD WI Donggala pasca Gempa dan Tsunami yang melanda Sulawesi Tengah. Tabligh Akbar yang pertama di gelar di Masjid Raya Donggala, Ahad (21/10/2018) lalu. (Rustam/Sym)

Wahdah Donggala Gelar Trauma Healing Melalui Motivasi Hijrah

Wahdah Donggala Gelar Trauma Healing Melalui Motivasi Hijrah

Jama’ah sedang menyimak taushiyah Tabligh Akbar “Donggala Berhijrah” yang disampaikan ketua STIBA Makassar, Ustadz. DR. Muhammad Yusran Ansar, Lc, MA, Ahad (4/11/2018).

(Donggala) wahdahjakarta.com – Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah (DPD WI) Kabupaten Donggala menggelar Tabligh Akbar dengan tema “Donggala Berhijrah” di Masjid Al-Istiqomah Labuan Bajo Kabupaten Donggala, Sul-Teng, Ahad (4/11/2018).

Tabligh Akbar diawali dengan sambutan dari Ketua DPD WI Donggala, ustad Suparman Razak. Dalam penyampaiannya beliau mengungkapkan, Tabligh Akbar ini adalah yang kedua setelah sebelumnya dilaksanakan di Masjid Raya Donggala.

“Kami berusaha memberikan yang terbaik ketika kita semua terlanda musibah, dengan mendatangkan bantuan sandang dan pangan dari seluruh daerah di Indonesia. Saat bencana, banyak warga yang trauma karenanya, maka kami mendatangkan praktisi trauma healing untuk mengatasinya,” tukasnya.

Selain bantuan sandang dan pangan, lanjut Ustad Suparman, warga juga membutuhkan logistik rohani. Rohani harus terisi agar keimanan semakin terisi.

Ketua DPD Wahdah Islamiyah Donggala (Wahdah Donggala) ustadz Suparman

“Maka WI hadir untuk memikirkan bagaimana caranya agar seluruh kaum muslimin, khususnya korban Gempa, bahagia jasmani dan rohaninya,” tutupnya.

Roni Jalaluddin, ketua Pengurus Masjid Al-Istiqomah ikut memberikan komentar kepada kegiatan Tabligh Akbar ini.

Menurutnya, kegiatan ini adalah salah satu cara Trauma Healing untuk masyarakat pasca bencana yang terjadi.

Setelah gempa dan tsunami melanda, Roni mengungkapkan kesuyukuran atas kehadiran LAZIS Wahdah yang hadir membangkitkan semangat warga Donggala. “Sebagaimana pada tema kegiatan, kita bersama membangun Donggala kembali untuk hijrah ke arah yang lebih baik ,” ujarnya.

Sambutan ini kemudian dilanjutkan dengan Tabligh Akbar dengan tema “Donggala Berhijrah” bersama Ustad Muhammad Yusran Anshar, diikuti dengan pembagian 700 paket logistik kepada warga Donggala yang hadir. (Rustam/Sym)

Di Tabligh Akbar Wahdah Islamiyah, Wakapolres Donggala Ajak Masyarakat Berhijrah ke Arah yang Lebih Baik

 

Wakapolres Donggala Ajak Masyarakat Berhijrah ke Arah yang Lebih Baik

Wakapolres Donggala Ajak Masyarakat Berhijrah ke Arah yang Lebih Baik

Di Tabligh Akbar Wahdah Islamiyah, Wakapolres Donggala Ajak Masyarakat Berhijrah ke Arah yang Lebih Baik

 (DONGGALA) wahdahjakarta.com – Bencana gempa bumi, Tsunami dan Likuifaksi yang melanda Palu, Donggala dan Sigi menyisakan banyak pertanyaan atas penyebab utamanya.

Meskipun prediksi ilmiah telah diungkapkan oleh banyak ahli, namun kompleksnya bencana yang hadir masih sulit jika semata-mata disalahkan pada alam.

“Bencana yang terjadi menjadi kewajiban bagi kita untuk mengambil pelajaran. Sebenarnya kejadian alam ini diluar nalar kita, karena memang terjadi atas kuasa Allah taala, ” ujar Wakil Kepala Kepolisian Resort (WAKAPOLRES) Kabupaten Donggala, Komisaris Polisi Hedi Abu Daftar, saat memberikan sambutan pada Tabligh Akbar Wahdah Islamiyah di Masjid Al-Istiqomah Labuan Bajo Kabupaten Donggala, Sul-Teng, Ahad (4/11/2018).

Hedi mengatakan, sebulan pasca bencana telah cukup untuk mengetahui penyebabnya, yakni kembali pada manusia yang menghuni wilayah tersebut.

“Setelah gempa ini tidak usah menyalahkan siapa, namun kita bermuhasabah atas dosa dan kesalahan kita masing-masing, ” tuturnya.

Hikmah dari bencana ini lanjut Hedi, tidak ada yang lain selain banyak berdoa dan berdzikir kepada Allah taala.

“Alhamdulillah saat ini kita akan mendengarkan Tabligh Akbar, maka mari kita memaksimalkan diri untuk benar-benar membuat daerah kita, Donggala, berhijrah ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.

Sambutan ini kemudian dilanjutkan dengan Tabligh Akbar dengan tema “Donggala Berhijrah” bersama Ustad Muhammad Yusran Anshar, diikuti dengan pembagian paket logistik kepada warga Donggala yang hadir. (Rustam/Sym)