Diikuti Puluhan Ribu Massa Aksi 211 Minta Aktor Pembakaran Kalimat Tauhid Diusut Tuntas

(Jakarta) wahdahjakarta.com- Aksi damai menyikapi pembakaran  bendera bertulisakan kalimat tauhid di Garut 22 oktober 2018 lalu digelar di Jakarta, Jum’at (02/11/2018).

Ribuan massa dari berbagai elemen umat Islam menghadiri aksi yang disebut taksi 211 atau Aksi Bela tauhid II ini.

“Kita semua tahu, bahwa bendera (yang dibakar) tersebut merupakan bendera yang sangat dimuliakan umat muslim, jadi kami ingin ikut membela bendera bertulis kalimat mulia itu dengan ikut membelanya lewat aksi ini” tutur Taufik (19) pesera aksi asal Bogor kepada wahdahjakarta.com.

Pantauan wahdahjakarta.com massa mulai berdatangan secara bergelombang sejak pagi.  Massa memadati kawasan masjid Istiqlal menjelang Shalat Jum’at.

Usai shalat Jum’at massa longmarch  menuju arah istana negara, Jln. Merdeka Utara. Namun karena akses menuju istana diblokade maka massa terkosentasi di patung kuda. Para tokoh pimpinan aksi bergantian menyampaikan orasi.

Diantara tokoh yang hadir menyampaikan orasi bunda Neno Warisman.  “Kami para barisan emak dan kaum wanita akan selalu berada di bawah panji-panji Rasulullah, dibawah kalimat tauhid Laa ilaaha illallah. Tidak boleh takut, tidak boleh surut. Kebenaran harus tetap diperjuangkan, ucapnya penuh semangat.”

Hadir pula tokoh ulama Betawi KH. Abdul Rasyid Syafi’i.  Beliau menyatakan, aksi ini diharapkan  mempengaruhi pemikiran masyarakat mengenai bendera tauhid yang disebut sebagai bendera HTI.

“Ini adalah bukti kecintaan umat Islam kepada kalimat tauhid yang kemarin dihina dengan cara dibakar oleh oknum banser”, ujarnya kepada wahdahjakarta.com di sela-sela aksi.

“Memang ini saat yang sangat tepat kita menunjukkan kecintaan kita sehingga yang akan datang tidak ada lagi siapapun yang berani berbuat hal yang sama di Indonesia” tuturnya.

Ada yang menarik dalam aksi 211  ini. Sebuah bendera  tauhid dengan panjang puluhan meter dikibarkan oleh ormas Nahdhatul Ummah asal Jatinangor, Sumedang  Jawa Barat dalam perjalanan konvoi menuju patung kuda.

Pukul 14.45 perwakilan peserta aksi 211 menemui Menko Polhukam Wiranto di kantor Kemenko Polhukam. Dalam pertemuan ini perwakilan massa menyampaikan tuntutan dan permintaan ummat Islam kepada pemerintah Indonesia terkait pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid.

Pertama, massa meminta kepada pemerintah membuat pernyataan resmi bahwa bendera yang dibakar bertulis kalimat tauhid, bukan bendera yang mewakili organisasi masyarakat manapun.

“Kami menuntut Pemerintah Indonesia membuat pernyataan resmi bahwa bendera tauhid adalah bendera Rasul Allah, bukan ormas manapun,” ujar juru bicara aksi 211 Awit Mashuri dalam jumpa pers bersama Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam.

Kedua, menuntut agar pemerintah melakukan proses hukum kepada semua para  yang terlibat pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid tersebut.

Menurut Awit, tak cuma pelaku lapangan, tetapi juga auktor intelektual di balik kasus pembakaran tersebut.

Rep : FSY

Ed  : Sym

Perwakilan Aksi Bela Tauhid  Sampaikan Dua Permintaan Kepada Pemerintah

Perwakilan Aksi Bela Tauhid  Sampaikan Dua Permintaan Kepada Pemerintah

(Jakarta) wahdahjakarta.com– Perwakilan massa Aksi Bela Tauhid II menemui Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan  (Menko Polhukam) Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Jumat (2/11/2018).

Dalam pertemuan itu, perwakilan massa menyampaikan dua permintaan kepada pemerintah.

Pertama, meminta kepada pemerintah membuat pernyataan resmi bahwa bendera yang dibakar bertulis kalimat tauhid, bukan bendera yang mewakili organisasi masyarakat manapun.

“Kami menuntut Pemerintah Indonesia membuat pernyataan resmi bahwa bendera tauhid adalah bendera Rasul Allah, bukan ormas manapun,” ujar juru bicara aksi 211 Awit Mashuri dalam jumpa pers bersama Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam.

Kedua, menuntut agar pemerintah melakukan proses hukum para pihak yang terlibat pembakaran bendera.

Menurut Awit, tak cuma pelaku lapangan, tetapi juga auktor intelektual di balik kasus pembakaran tersebut.

Aksi kali ini dilatarbelakangi peristiwa pembakaran bendera yang bertulis kalimat tauhid di Garut, Jawa Barat, pada peringatan hari santri nasional beberapa waktu lalu.

Pihak Polri telah menyebutkan, bendera yang dibakar itu merupakan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

 

UBN Ajak Masyarakat Palu Kembali Kepada Kalimat Tauhid

UBN Ajak Masyarakat Palu Kembali Kepada Kalimat Tauhid

(Palu) wahdahakarta.com— Founder Ar-Rahman Quranic Learning (AQL) Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) mengunjungi masyarakat Palu, Sulawesi Tengah. Beliau mengajak masyarakat Sulteng untuk memurnikan tauhid, pasca ditempa musibah bencana gempa bumi.

Ia mengatakan bahwa tidak ada yang pantas untuk ditakuti dan menggantungkan segala sesuatu kecuali hanya kepada Allah Taala. Begitupun tidak ada yang pantas untuk dibanggakan kecuali hanya kepada Allah Taala.

“Mari kita bersihkan hati kita, kembali kepada kalimat tauhid dan bersaksi bahwa Rasulullah adalah utusan Allah. Maka beruntunglah bagi mereka yang membersihkan hatinya dari segala penyakit hati,” katanya dalam Tabligh Akbar di Masjid Raya Baiturrahaman, Palu, Sulteng, Kamis, (01/11/2018).

Sekjen Majelis Intelektual Muda Indonesia (MIUMI) ini juga menjelaskan ada tiga penyakit hati yang paling berbahaya menurut Ibnu Abbas yakni Kesombongan, Riya dan Dengki. Sehingga benar, apa-apa musibah yang menimpa kamu, disebabkan oleh usaha tangan kamu sendiri.

“Dengan kalimat Tauhid semoga umat Islam diberikan kemuliaan. Ketauhilah mereka yang sombong merobek kalimat tauhid, bahwa kedzaliman yang paling besar adalah menyembah bukan kepada Allah Taala,” tegasnya.

UBN melanjutkan musuh umat Islam terbesar adalah syaithan, maka secara tegas harus kita tolak segala kesyirikan. Sebagaimana ditegaskan di dalam surah Al Kafirun, katakanlah untuk tidak menyembah apa yang mereka sembah baik berupa objek dan sarananya.

“Cuma ada masalah besarnya, yakni orang tua. Di mana orang tua lah yang menjadikan anaknya Yahudi, Nashrani atau Majusi. Kesalahan terbesar orang tua adalah ketika mereka mempertahankan budaya yang menyekutukan Allah dan diajarkan secara turun menurun. Maka kita harus berlepas diri dari kesyirikan itu dan berserah diri kepada Rabb Pencipta Alam Semesta,” serunya. (Hafidz Syarif/kiblat.net)

Tuntutan Umat Islam Indonesia dalam Aksi Bela Tauhid 211

(Jakarta) wahdahjakarta.com—Gabungan ormas Islam Indonesia menggelar Aksi Bela Tauhid II, pada Jum’at (02/11/2018).

Massa Aksi Bela Tauhid berkumpul di Masjid Istiqlal untuk melaksanakan shalat Jum’at terlebih dahulu.  Usai shalat Jum’at massa mulai bergerak dari Masjid Istiqlal, Jakarta menuju Istana Negara mulai pukul 13.00 WIB.

Hampir semua peserta aksi memakai atribut bertuliskan kalimat Tauhid. Rata-rata memakai ikat kepala dengan berlafazd kalimat tauhid.  Massa juga membawa bendera Tauhid.

Mereka juga tak lupa membawa bendera kalimat tauhid berwarna hitam dan warna putih. Massa aksi tersebut berjalan menuju ke arah patung kuda. Sesekali mereka meneriakkan takbir.

Dalam aksi bela tauhid jilid dua ini, massa menyampaikan lima tuntutan terkait pembakaran bendera bertuliskan kalimat La Ilaha Illallah.

Pertama, meminta kepada pemerintah Republik Indonesia untuk membuat pernyataan resmi bahwa bendera tauhid adalah bendera Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bukan bendera ormas apapun sehingga tidak boleh dinistakan oleh siapapun.

Kedua, meminta kepada pemerintah Republik Indonesia untuk memproses hukum semua pihak yang terlibat dalam pembakaran bendera tauhid berlaku baik pelaku maupun aktor intelektual yang mengajarkan dan mengerahkan serta menebar kebencian untuk memusuhi bendera tauhid.

Ketiga, Menghimbau kepada seluruh umat Islam Indonesia untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan serta tidak mudah diadu domba oleh pihak manapun.

Kempat, menghimbau kepada umat beragama agar menghormati simbol-simbol agama dan selalu menjaga kebhinekaan sehingga tidak ada lagi persekusi atau penolakan terhadap pemuka agama atau aktifis di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Kelima, PBNU wajib meminta maaf kepada umat Islam atas pembakaran bendera tauhid yang dilakukan oleh anggota Banser di Garut dan PBNU harus dibersihkan dari liberalisme dan aneka paham sesat menyesatkan lainnya karena NU adalah rumah besar ASWAJA (Ahlussunnah Wal Jama’ah).

Perwakilan Massa Aksi Bela Tauhid II Diterima Menko Polhukam

Perwakilan Massa Aksi Bela Tauhid II Diterima Menkop olhukam

Perwakilan Massa Aksi Bela Tauhid II Diterima Menko Polhukam. Jum’at (2/11/2018) siang. Photo:Republika.co.id

(JAKARTA) wahdahjakarta.com — Sebanyak 10 orang perwakilan massa Aksi Bela Tauhid II diterima Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Jumat (2/11). Para perwakilan massa aksi itu masuk bersama-sama ke Kantor Kemenko Polhukam sekitar pukul 14.45 WIB.

10 orang perwakilan Aksi Bela Tauhid itu adalah Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Maarif, Ustaz Asep Syarifudin, Habib Hanif Alatas, Ustazah Nurdiati Akma, Kiai Raud Bahar, Ustadz Awit Masyuri, Ustadz Maman S, Ustadz Al Khaththath, Egi Sujana, dan Kiai Nasir Zein.

Ke-10 orang perwakilan tersebut didata sekitar pukul 14.20 WIB. Menko Polhukam juga sudah berada di dalam ruangan Kantor Kemenko Polhukam menerima 10 perwakilan Aksi Bela Tauhid II. Selain itu, dalam pertemuan tersebut juga hadir Wakapolri Komjen Pol Ari Dono.

Sebelumnya, Kapolres Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Roma Hutajulu mengatakan, Kantor Staf Presiden (KSP) juga akan hadir menemui perwakilan massa aksi di Kemenko Polhukam.

Selain itu, Puluhan polisi berpeci putih dan berkalung sorban ikut mengawal aksi Bela Tauhid, Jumat (2/11). Saat ini, massa aksi Bela Tauhid terpusat di depan Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jakarta Pusat, Jumat (2/11).

Jajaran polisi berpeci putih itu ikut berdiri membentuk pagar betis di depan kawat berduri yang terpasang di depan Gedung Sapta Pesona untuk menghalau massa agar tidak mendekati Istana Merdeka di Jalan Medan Merdeka Barat.

Di depan kawat berduri, puluhan massa berseragam putih dari Laskar Pembela Islam (LPI) turut berdiri di depan kawat ikut menghadang massa yang ingin berunjuk rasa depan istana. Ribuan massa dari berbagai daerah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga Cirebon, Garut tiba di Jakarta mengikuti aksi Bela Tauhid 211 yang mulanya direncanakan digelar di depan Istana.

Irwan Syaifulloh, salah satu orator yang mengaku dari elemen gerakan 212, mengaku tuntutan mereka agar pemerintah mengakui bahwa pelaku membakar bendera bertuliskan kalimat Tauhid, bukan bendera kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Ia juga mengatakan, massa meminta agar pemerintah berlaku adil dan menindak pelaku dengan ketentuan hukum yang berlaku. Hingga pukul 14.00 WIB, perwakilan massa masih berorasi di depan patung kuda. (Republika.co.id)

Peserta Aksi 211 Bela Kalimat Tauhid Mulai Padati Kawasan Masjid Istiqlal

Peserta Aksi 211 Bela Kalimat Tauhid Mulai Padati Kawasan Masjid Istiqlal

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Pasca insiden pembakaran bendera bertuliskan  kalimat tauhid, umat Muslim Indonesia melakukan sejumlah aksi damai bela kalimat tauhid di berbagai daerah.  Hari ini, Jum’at (2/11/2018) Aksi Bela Tauhid jilid 2 berskala nasional kembali digelar di ibu kota.

Pantauan wahdahjakarta.com sejak pagi terlihat masyarakat dari berbagai daerah mulai memadati kawasan Masjid Istiqlal Jakarta.

Mereka mengenakan berbagai atribut bernuansa tauhid, seperti topi, bendera, ikat kepala, baju, dan sebagainya.

Mereka datang dari berbagai daerah demi membela kalimat tauhid yang dilecehkan oleh oknum pembakar bendera bertuliskan kalimat suci tersebut.

Diantara peserta ada yang berasal dari puncak, Bogor Jawa Barat. Tak tanggung-tanggung, mereka memulai perjalanan dari puncak sebelum maghrib menggunakan bus untuk mengikuti Aksi damai ini. Mereka mengaku tahu informasi ini dari media sosial facebook dan kemudian memutuskan untuk berangkat menuju jakarta.

“Kita semua tahu, bahwa bendera tersebut merupakan bendera yang sangat dimuliakan umat muslim, jadi kami ingin ikut membela bendera bertulis kalimat mulia itu dengan ikut membelanya lewat aksi ini” tutur Taufik(19) kepada wahdahjakarta.com.

Menag Ajak Umat Maafkan Pembakar Bendera Kalimat Tauhid

Viral Pembubaran Kementrian Agama, Begini Tanggapan Menag

(Jakarta) wahdahjakarta.com—Kasus pembakaran bendera bertulisan kalimat tauhid oleh oknum anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU di Garut, Jawa Barat, sedang diproses oleh aparat hukum. Pelakunya juga sudah menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan.

Sehubungan dengan itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta publik untuk mempercayakan penyelesaian masalah ini ke kepolisian. Menag berharap publik tidak terjebak pada perdebatan dan demonstrasi yang berkepanjangan.

“Saya mengajak umat untuk mengakhiri segala perdebatan di ruang publik, apalagi sampai berunjuk rasa yang bisa timbulkan kerawanan dan gangguan ketertiban umum,” ujarnya di Jakarta,  Kamis (01/11/2018) lansir Kementerian Agama.

Menag Lukman juga berharap agar pelaku pembakar bendera di Garut tersebut dimaafkan.

“Sebagai ciri dari ketakwaan, mari kita umat beragama memaafkan mereka sambil terus mendukung aparat hukum yang kini telah dan sedang menangani kasus tersebut secara serius,” sambungnya.

Menurut Menag, saat ini bangsa Indonesia sedang prihatin dan berduka. Peristiwa gempa di NTB dan Sulteng, serta musibah jatuhnya pesawat udara memerlukan konsentrasi penanganan dari semua pihak.

“Mari salurkan energi positif yang kita miliki untuk menolong sesama yang sedang tertimpa musibah,” pesannya.

“Umat Islam sebagai mayoritas di negeri ini berkewajiban bekerja sama saling meringankan penderitaan yang dihadapi sesama, dan terus menjaga kerukunan dan kedamaian hidup bersama,” tutupnya. (Sumber: https://kemenag.go.id).

Kalimat Tauhid Misi Dakwah Para Nabi dan Rasul

Kalimat Tauhid

(Bekasi) Wahdahjakarta.com – Kalimat tauhid merupakan misi utama dakwah para Nabi dan Rasul. Demikian pernyataan Inisiator Majelis Ulama Muslim Indonesia (MIUMI), ustadz Farid Ahmad Okbah mengungkapkan tentang sakralitas kalimat syahadat.

“Nabi Muhammad menyerukan kepada manusia pada saat itu dimulai dari masyarakat Makkah, Nabi selalu menyerukan untuk mengucapkan kalimat Tauhid,” ujarnya pada Kamis (01/11/2018) di Bekasi.

“Nabi pun mengingatkan kepada mereka, jika kalian mengatakan “Laa ilaaha Illallah”, maka singgasana Persi dan Romawi akan jatuh ke tangan kalian,” tegas Ketua Yayasan Pesantren Tinggi Al-Islam Bekasi itu.

Ustadz Farid kemudian menuturkan tentang kemuliaan kalimat syahadat, sebagai jalan bagi seseorang untuk masuk ke surga.

“Tidak ada seorang yang akan masuk surga kecuali dengan kalimat tauhid. Jika seandainya ada orang yang ingin masuk surga, maka wajib mengucapkan dua kalimat syahadat yang termasuk kalimat tauhid,” ujarnya.

Ustadz Farid pun menyebut pentingnya umat muslim untuk menyerukan kalimat syahadat kepada manusia. Sebagaimana yang Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad.

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam,” ujarnya mengutip arti dari surat Al-Anbiya ayat 107.

Dia menjelaskan bahwa rahmat bagi seluruh alam bukan sekadar perdamaian atau sekadar mengajak orang-orang supaya toleran. Melainkan untuk menegakkan kalimat syahadat.

“Supaya mereka selamat dunia dan akhirat. Karena tidak ada jalan masuk surga kecuali dengan kalimat tauhid,” pungkasnya. (kiblat.net).

Begini Cara Ustadz Zaitun Semangati Pengungsi Korban Bencana Sulteng

Begini Ustadz Zaitun Menyemangati Pengungsi Korban Bencana Sulteng

(PALU), wahdahjakarta.com– Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin mengunjungi pengungsi  korban Gempa Bumi, Tsunami dan Likuifaksi Sulawesi Tengah di Kompleks Pengungsian Bukit Suharto, Kelurahana Petobo, Palu, Kamis (1/11/2018).

Kunjungan ini dalam rangka silaturrahim dan dimulai sejak Kamis pagi  dengan rangkaian kegiatan, antara lain Taushiyah, Pembagian Paket Logistik, Pembagian Paket Ceria, dan Makan Siang Bersama.

Di hadapan ratusan warga yang hadir ia berpesan, sebagai orang beriman, musibah apapun yang terjadi, walaupun membuat kita sedih, namun kita harus mengakui bahwa musibah itu tidak terlepas dari ketentuan Allah Ta’ala.

“Dalam menghadapi kejadian seperti itu, kita harus semakin memperkuat keimanan terhadap takdir Allah Taala, bahwa apapun yang terjadi, semuanya adalah kehendak Allah. Kita harus meyakini ketika Allah berkehendak, maka ada kebaikan yang diharapkan untuk kita,” tuturnya.

Untuk semakin menguatkan keyakinan warga, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini mengangkat kisah tentang keutamaan berprasangka baik terhadap takdir Allah.

“Ada cerita yang menarik, dan kisah ini telah masyhur diangkat oleh para Ulama sebagai peneguh keimanan”, kata Ustadz Zaitun memulai kisahnya.

“Suatu ketika, tersebutlah seorang Sultan yang berkuasa dalam suatu negeri. Hingga terjadi dalam suatu waktu, ibu jari tangan sang Sultan terputus akibat insiden kecil. Maka peristiwa ini tersebar di kalangan petinggi Kesultanan. Seorang Menteri yang terkenal setia dan selalu mendampingi Sultan khususnya ketika berburu, tiba-tiba menasehatkan kepada sang Sultan dengan berkata ‘Fihi Khayr’ yang artinya ‘itu adalah kebaikan’ . Sang Sultan tiba-tiba marah dan memenjarakan si Menteri tersebut akibat perkataannya. Selang beberapa hari kemudian, Sang Sultan keluar istana untuk menekuni hobinya yakni berburu. Hingga sampai pada suatu ketika, sang Raja diculik oleh sebuah Suku Jahiliyah di tengah padang pasir. Salah satu kepercayaan Suku ini adalah jika ada orang pertama yang mereka jumpai dalam pengembaraan maka harus dikorbankan dengan cara disembelih. Namun beruntung, suku tersebut kemudian melepaskan sang Sultan karena menjumpai adanya kecacatan pada dirinya, yakni ibu jari yang telah terputus. Ketika kembali ke Istana, Sultan sangat bergembira dengan kebebasannya dan membebaskan Menteri yang pernah djpenjarakannya. Saat keluar, sang Sultan bertanya kepada sang Menteri perihal perkataannya ‘Fiihi Khayr’ saat dijebloskan ke penjara. Sang Menteri menjawab, jika ia tidak dipenjaran maka ia lah yang akan menemani Sultan berburu, dan ketika tertangkap oleh Suku Jahiliyah, maka Suku itu akan menyembelih sang Menteri karena berbadan sempurna dibanding sang Raja yang cacat, ” kisahnya.

Perkataan sang Menteri ‘Fiih Khayra’ menurut Ustad Zaitun, adalah perkataan yang terlontar karena keimanan, karena meyakini bahwa segala sesuatu adalah kebaikan.

“Maka kisah ini memberikan pelajaran besar bagi kita untuk berprasangka baik kepada segala sesuatu yang terjadi pada kita. Insya Allah rumah kita yang hancur akibat Gempa akan diganti oleh Allah dengan rumah yang lebih baik. Keluarga kita yang hilang akan diganti dengan kebaikan, dan keadaan lainnya, ” pungkas Ketua Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara ini.

Ustadz Zaitun: Palu, Sigi, dan Donggala Akan Bangkit

Ustadz Zaitun: Palu, Sigi, dan Donggala Akan Bangkit

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin menyampaikan taushiyah kepada pengungsi korban gempa Sulteng di bukit Suharto, Petobo, Palu Sulawesi Tengah, Kamis (1/21/11/2018). Photo: Rustam 

(PALU) wahdahjakarta.com– Wahdah Islamiyah (WI) menggelar Silaturahim Akbar bersama korban Gempa Bumi, Tsunami dan Likuifaksi Sulawesi Tengah di Kompleks Pengungsian Bukit Suharto, Kelurahana Petobo, Palu, Kamis (1/11/2018).

Tausiyah Agama disampaikan  oleh Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah (WI) , Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin.

Di hadapan ratusan warga yang hadir dia berpesan, sebagai orang beriman, musibah apapun yang terjadi, walaupun membuat kita sedih, namun kita harus mengakui bahwa musibah itu tidak terlepas dari ketentuan Allah Ta’ala.

“Dalam menghadapi kejadian seperti itu, kita harus semakin memperkuat keimanan terhadap takdir Allah Taala, bahwa apapun yang terjadi, semuanya adalah kehendak Allah. Kita harus meyakini ketika Allah berkehendak, maka ada kebaikan yang diharapkan untuk kita,” tuturnya.

“Walaupun kita kehilangan, namun kita masih beruntung karena diberi kesempatan oleh Allah Ta’ala untuk hidup menghirup udaraNya”, imbuhnya.

“Kita adalah manusia-manusia pilihan yang mendapat karunia kehidupan, dan berbagai karunia lainnya. Terutama adalah apa yang terpancar dari wajah bapak dan Ibu yakni wajah-wajah yang penuh keimanan,” sambungnya.

Di akhir tausiyah, ustadz Zaitun berpesan agar seluruh warga yang hadir mempertebal keimanan, dengan tidak mudah dirayu dengan bantuan sembako atau yang lainnya, agar meninggalkan Islam.

“Ujian apapun, kita harus selalu siap mempertahankan keimanan, siap?, ” sapa ustad Zaitun yang disambut dengan teriakan ‘Siap’ oleh ratusan warga dan relawan yang hadir.

Wasekjen MUI Pusat ini juga menyatakan dengan penuh harap dan optimis bahwa Palu, Sigi, dan Doanggala akan bangkit insya Allah.

”Palu Sigi dan Donggala, bahkan Indonesia akan bangkit dan menuju ke arah yang lebih baik,” tutupnya.

Silaturahim Akbar Wahdah Islamiyah ini juga dihadiri oleh Pimpinan AQL  Ustad Bachtiar Nasir yang ikut memberikan tausiyah kepada warga yang hadir.

Di tempat kegiatan ini telah berdiri beberapa tenda hunian sementara Wahdah Islamiyah yang menjadi salah program terbesar Wahdah di SulTeng yakni pembangunan Hunian Sementara (Huntara) untuk korban gempa yang kehilangan rumah.[RH/sym]

Laporan: Rustam Hafid (Relawan Media Wahdah Islamiyah)