Puasa Sembilan Hari di Bulan Dzulhijjah Termasuk Sunnah?

Puasa Sembilan Hari di awal Bulan Dzulhijjah Termasuk Sunnah?

Pertanyaan:

Apakah puasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk sunnah

Jawaban:

Puasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk sunnah berdasarkan hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dari Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu anh;  Beliau mengatakan bahwa;

أربع لم يكن يدعهن رسول الله صلى الله عليه وسلم صيام يوم عاشوراء والعشر وثلاثة أيام من كل شهر والركعتين قبل الغداة.

Ada empat amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam (yaitu) puasa Asyura puasa puasa ‘asyar (di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah), puasa tiga hari setiap bulan, dan shalat dua rakaat sebelum subuh”. (HR Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Hibban).

Dalam hadits laim dari  Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya…” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Hadits  ini merupakan dalil tentang disunnahkannya puasa pada 10 hari pertama bulan dzulhijjah.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari  ‘Aisyah radhiyallahu anha yang  mengatakan bahwa,  “Saya tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah”, telah dijelaskan oleh para ulama.

Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah beliau tidak puasa karena suatu sebab seperti sakit atau safar (perjalanan) atau sebab yang lainnya.

Selain itu tidak terlihatnya bepuasa tidak menunjukkan bahwa beliau tidak berpuasa sama sekali. Karena  Puasa merupakan amalan yang tidak nampak.  kemudian di satu sisi puasa merupakan amal shaleh yang sangat ditekankan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Karena pada hari-hari ini (sepuluh awal bulan Dzulhijjah) amal shaleh lebih utama dan lebih dicintai Allah. Oleh karena itu jelaslah bahwa puasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan sunnah. [sym].

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/ 

Wahdah Islamiyah Jakarta Tegaskan Komitmen Dakwah Qur’an

Ketua DPW WI Jakarata dan Depok Ustadz. Ilham Jaya saat menyampaikan arahan pada MPP DPW WI Jakarta, Ahad (12/08/2018)

Tema MPP kali ini adalah “Energy of Dakwah Qurani”, dengan menempatkan wacana atau gagasan, menjadikan dakwah Al Quran serta mencanangkan program dan kegiatan dakwah yang lebih efektif dan efisien di Jakarta.

(Jakarta) wahdahjakarta.c0m,-  Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah DKI Jakarta (Wahdah Jakarta) menggelar Musyawarah Pengurus Pleno (MPP) pada Ahad (12/08/2018) di Agroedutainment Toko Trubus Cimanggis Depok.

Tema MPP kali ini adalah “Energy of Dakwah Qurani”, dengan menempatkan wacana atau gagasan, menjadikan dakwah Al Quran serta mencanangkan program dan kegiatan dakwah yang lebih efektif dan efisien di Jakarta.

Ketua DPW Wahdah Islamiyah Jakarta, Ilham Jaya Abdul Rauf mengatakan,  Wahdah Jakarta dan Depok bertekad akan menjadikan dakwah Al-Quran sebagai inti dari aktifitas-aktifitas Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok.

“Kegiatan dan program dakwah yang dijalankan Wahdah di DKI Jakarta dan sekitarnya Wahdah Islamiyah Jakarta memformulasikan tema-tema Qurani baik secara konten dan perwajahan dakwah Islam sebagai brand utama dakwah Wahdah Islamiyah di Jakarta dan sekitarnya”, terang Ustadz Ilham.

“Kita harapkan bahwasanya tema-tema Quran ini menjadi unggulan dalam program kerja di lembaga perjuangan ini”, pungkas mantan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar ini.

Saat ini Wahdah Jakarta mengelola beberapa kegiatan dan program Dakwah Qur’an seperti Rumah Tahfidz, Markaz Qur’an, DIROSA (bimbingan baca Al-Qur’an untuk orang dewasa), tahfidz Week end, bimbingan terjemah Qur’an, pesantren tahfidz, serta pelatihan guru dan pengajar Qur’an.

Ustadz Ilham berharap program dan gerakan ini memberikan manfaat yang besar terhadap umat di Indonesia secara umum, terkhusus bagi warga Jakarta sebagai pusat Ibukota, dan umat Islam secara umum.

MPP ini diikuti oleh perwakilan pengurus wahdah dan Muslimah Wahdah tingkat Daerah di Jakarta dan Depok (DPD WI Jakarta Timur, DPD WI Jakarta Selatan, DPD WI Jakarta Pusat, DPD WI Jakarta Utara, dan DPD WI Depok. [sym]

Keutamaan Puasa ‘Arafah

Puasa ‘Arafah adalah puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, ketika jama’ah haji melakukan wuquf dipadang ‘Arafah. Puasa ini disunahkan bagi setiap muslim yang tidak melakukan ibadah haji.

Adapun bagi yang sedang melakukan ibadah haji maka mereka disunahkan untuk tidak berpuasa pada hari ‘Arafah karena Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabatnya termasuk Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu’anhum tidak berpuasa ‘Arafah tatkala melakukan ibadah haji. Kecuali bagi jamaah haji yang berhaji tamattu’ dan tidak mendapatkan hadyu atau dam, maka boleh baginya berpuasa dihari ‘Arafah dan hari-hari tasyriq.

Keutamaan puasa ‘Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun. Tahun lalu dan setelahnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ketika ditanya tentang puasa ‘Arafah. Beliau bersabda:

صيام يوم عرفة يكفر السنة الماضية والباقية

 “Puasa hari ‘Arafah bisa menghapuskan (dosa) pada tahun lalu dan sesudahnya”. (HR Muslim 1162)

Apakah puasa ini bisa menghapus semua jenis dosa; dosa-dosa kecil dan besar yang dilakukan dalam dua tahun tersebut atau cuma menghapuskan dosa-dosa kecil?

Para ulama berbeda dalam dua pendapat :

Pertama: Pendapat Madzhab Dzhahiriyah dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa puasa ini dapat menghapus dosa kecil maupun besar. Diantara dalil mereka adalah hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim  dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

من حج لله فلم يرفث ولم يفسق رجع من ذنوبه كيوم ولدته أمه

 “Barangsiapa yang menunaikan haji karena Allah, lalu ia tidak berkata keji dan berbuat fasik ,maka ia akan disucikan dosa-dosanya sebagaimana keadaannya ketika ia dilahirkan oleh ibunya” (HR. Bukhari; 1819, dan Muslim; 3358)

Kedua; Pendapat jumhur ulama (termasuk Imam madzhab yang empat) bahwa yang dihapus hanyalah dosa-dosa kecil, adapun dosa-dosa besar hanyalah bisa terhapus dengan taubat, hal ini sesuai dengan dalil firman Allah Ta’ala :

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ ( النساء ؛ 31

 “Andai kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang atas kalian, maka Kami akan menghapus dosa-dosa kalian”. (QS Al Nisa’ ; 31).

Dalil lain hadits riwayat Imam Muslim (574) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان إلى رمضان مكفرات ما بينهن إذا اجتنب الكبائر

Shalat lima waktu, antara jum’at yang satu dengan jum’at lainnya ,dan antara ramadhan yang satu dengan ramadhan lainnya adalah menghapus dosa-dosa yang dilakukan diantara keduanya selama tidak melakukan dosa-dosa besar”. (HR. Muslim, No.574).

Hadits ini adalah dalil yang sangat jelas bahwa shalat wajib, Jum’at dan puasa Ramadhan yang merupakan dua rukun Islam tidak bisa menghapus dosa-dosa besar, apatah lagi kalau hanya puasa ‘Arafah yang hukumnya sunat. Wallaahu a’lam.

Istri Tidak Shalat dan Selalu Membantah

Istri Tidak Shalat dan Selalu Membantah

Pertanyaan;

Istriku selalu menyelisihiku dalam banyak hal seperti pendidikan anak, hubungan dengan kerabat, dan urusan rumah tangga lainnya. Apa yang harus saya lakukan? Saya juga sudah menyuruhnya untuk shalat membaca Al-Qur’an. Tetapi dia tidak nurut, mohon do’anya agar dia mendapat hidayah (petunjuk)

Jawaban:

Pertama,

Rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga yang dibangun di atas prinsip tafahum (saling memahami) dan saling mencintai, yang kemudian disempurnakan dengan saling mengasihi dan menyayangi (Mawaddah wa Rahmah) antara suami dan istri. Semua ini tidak akan terwujud dengan sempurna melainkan jika masing-masing menunaikan kewajibannya. Diantaranya kewajiban suami memberikan nafkah istri dan anak-anaknya, kewajiban istri untuk taat pada suami.

Jika istri mau merebut wewenang kepemimpinan rumah tangga (qawwamah) dari suami, atau melakukan tindakan nusyuz dan menolak untuk taat pada suami, maka sesungguhnya istri seperti ini telah merintuhkan bangunan rumah tangga dengan tangannya dan mengabaikan anak-anaknya dengan perbuatan buruknya tersebut.

Para istri hendaknya menyadari dan memahami bahwa ketaatan pada suaminya merupakan kewajiban syar’i. Dan para suami menempatkan kewenangan mereka sebagai pemimpin rumah tangga (qawwam) secara baik dalam membimbing, membina, dan membahagiakan istri dan keluarganya. Allah Ta’ala berfirman;

( الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِم ) النساء/34

Para istri juga hendaknya merenungkan hadits-hadit Nabi berikut;

 

  1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

’Andaikan saya boleh menyuruh seseorang sujud kepada orang lain, niscaya akan saya perintahkan wanita sujud kepada suaminya”. (HR.Tirmidzi, No. 1159 dan dishahihkan oleh Syekh Al-Albani)

  1. Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 ( ثَلَاثَةٌ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ آذَانَهُمُ : الْعَبْدُ الْآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ ، وَامْرَأَةٌ بَاَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ ، وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ )

Ada tiga orang yang shalatnya tidak  . . . .(1) Budak (hamba sahayaz) yang melarikan diri dari tuannya hingga dia kembali, (2) Istri yang tidur malam dalam keadaan suaminya murka padanya, dan (3) Pemimpin kaum yang dibenci oleh kaumnya (rakyatnya)”. (HR. Tirmidzi)

  1. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

( لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ لَا تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا ) . رواه الترمذي ( 1174 ) ، وصححه الألباني في ” صحيح الترمذي “

”Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari surga mengatakan, ‘janganlah engkau menyakitinya semoga Allah membinasakanmu, dia hanya sementara bersamamu, dia akan segera meninggalkanmu dan datang kepadaku”. (HR.Tirmidzi. No.1174 dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

  1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam brsabda;

 ( لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

 ‘’Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (di rumah) tanpa seidzin (suami) nya dan tidak boleh mengidzinkan orang lain masuk ke rumahnya tanpa seidzin suaminya”. (HR. Bukhari, No.4899 dan Muslim, No. 1026)

Syaikh Al-Albani rahimahullah mengomentasri hadits ini dengan mengatakan;

Jika seorang istri wajib mentaati suami dalam urusan menyalurkan syahwatnya, maka dalam urusan yang lebih penting dan lebih urgent tentu lebih wajib untuk taat pada suaminya, seperti dalam masalah pendidikan anak, pembinaan keluarga dan perbaikan rumah tangga dan hak-hak wajib lainnya”.

Selanjutnya Syekh Al-Albani mebgutip perkataan Ibn Hajar dalam Fathul Bari;

Hadits ini menunjukan bahwa hak suami atas istri lebih utama dari ibadah kebaikan yang sifatnya tathawwu’ (tambahan/sunnah), karena hak suami hukumnya wajib, sedangkan menunaikan yang wajib lebih didahulukan dari tathawwu’ (sunnah/tambahan)”. (Adab Zafaf, hlm. 210)

Kedua,

Suami hendaknya mencaritahu sebab-sebab pembangkangan (nusyuz) istrinya. Dengan mengenali dan mengetahui sebab-sebabnya akan memudahkan menemukan solusi untuk memperbaikinya, agar masing-masing aman dan selamat dari murka Allah. Kadang diantara faktor yang kadang menyebabkan istri berbuat nusyuz adalah suami sendiri. Misalnya maksiat atau kedurhakaan suami kepada Allah. Sebagian orang saleh zaman dahulu (Salafus Shaleh) ada yang mengatakan;

Kadang saya menemukan dampak dari kemaksiatanku pada hewan tunggangan (kendaraan) ku dan istriku”. Dampak tersebut berupa buruknya akhalaq istri dan keenggananan untuk menantaati suami. Artinya sikap buruk istri pada suami merupakan reaksi dan balasan dari akhlaq buruk suami kepada istrinya.

Diantara sebab lain adalah campurtangan keluarga, kerabat, tetangga atau teman-teman istri yang turut andil bersama Iblis dalam memisahkan pasangan suami-istri.

Jika sebabnya adalah dari istri seperti lemah iman, maka suami harus membantu mengingatkan untuk selalu ingat Allah. Suami hendaknya membantu istri dalam merawat dan menguatkan imannya. Suami juga hendaknya mengajari istri bagaimana seharusnya seorang istri menunaikan kewajiban terhada suaminya.

Jika istri belum berubah maka suami boleh memukul degan pukulan yang mendidik tanpa menyakiti. Jika belum berubah juga, maka pisah ranjang. Jika suami telah berusaha menempuh tahapan-tahapan untuk memperbaiki namun itsri tidak juga mengalami perubahan, maka tidak mengapa menceraikannya dengan talak satu. Kadang hal itu membuat istri sadar sehingga mau berubah dan kembali (rujuk) pada suaminya.

Dasar hukum tahapan-tahapan perbaikan masalah hubungan suami istri dan problem rumah tangga adalah firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 34;

( وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً ) النساء/34

Artinya, “

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (Qs. An-Nisa:34).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya”, yakni istri yang tidak taat pada suaminya atau durhaka kepada suami dengan perkataan dan perbuatan, maka suami hendaknya mendidiknya secara perlahan-lahan”.

maka nasehatilah mereka”, yakni jelaskan kepada mereka hukum-hukum Allah tentang kewajiban itsri untuk taat pada suami serta larangan durhaka kepadanya, diserati dengan motivasi untuk melakukan ketaatan dan peringatan dari perbuatan maksiat. Jika dia berhenti (dari sikal nusyuznya) maka inilah yang diharapkan . Jika tidak maka suami dapat memboikotnya di tempat tidur dengan tidak menidurinya dan tidak menggaulinya. Jika belum berubah juga maka suami boleh memukul dengan pukulan yang tidak melukai. Jika maksud dan tujuan telah tercapai dengan salah satu dari langkah-langkah perbaikan ini dan istri telah taat pada suami”, maka

“janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya”, maksudnya jika yang kalian inginkan telah tercapai maka lupakanlah apa yang telah terjadi sebelumnya, janganlah mencela, dan janganlah menyebut-nyebut aib yang telah lalu,karena hal itu dapat menyebabkan keburukan yang baru”. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 142).

Yang pasti seorang suami adalah orang paling tahu tentang istrinya, jika dia mengetahui sebab nusyuznya istrinya berupa sesuatu yang dapat diperbaiki, maka hendaknya dia berusaha memperbaikinya. Jika tidak berhasil maka hendaknya melibatkan kelurga masing-masing sebagai mediator.  Sebab kadang pihak luar (keluarga/kerabat) lebih berpengaruh dari nasehat suami sendiri.

Ketiga,

Jika istri tidak  mengerjakan shalat, maka suami wajib untuk memulai penyelesaian problem rumah tangga dengan masalah sahalat. Karena shalat merupakan identitas uatama seorang Muslim (ah) sekaligus pembeda antara Muslim dengan orang kafir dan musyrik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 ( إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ ) . رواه مسلم ( 116

Pembeda seorang Muslim dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. (HR. Muslim, No.116).

Dalam hadits riwayat Tirmidzi beliau bersabda;

( إِنَّ الْعَهْدَ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ (

Perjanjian antara kami dengan mereka (orang kafir) adalah Shalat, siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja maka ia telah kafir” (HR. Tirmidzi, No.2621, Nasai No. 463, dan Ibnu Majah, No.1079 serta dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

Oleh karena itu anda hendaknya mendidik dan membimbingnya untuk mengerjakan shalat dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan. Anda harus mengingatkannya bahwa meninggalkan shalat dapat menyebabkan kekufuran. Jika dia nurut, maka alhamdulillah. Namun jika dia tidak patuh (tidak mau shalat) maka tidak solusi lain untuk menyelasaikan masalah nusyuznya. Semoga Allah memberikan hidayah kepadanya untuk mengerjakan shalat serta membimbing hatinya kepada kebaikan dan mengurunianya syukur nikmat. [sym]

Sumber: https://islamqa.info/ar/98624

7 Bekal  Utama Menuju Pernikahan Sukses dan Bahagia

7 Bekal  Utama Menuju Pernikahan Sukses dan Bahagia

Pernikahan adalah satu fase perjalanan kehidupan. Karenanya, penting bagi seseorang yang hendak memasuki jenjang pernikahan untuk menyiapkan perbekalan. Tentunya bekal yang tepat. Karena salah membawa bekal sangat beresiko dalam suatu perjalanan. Bagaimana jadinya orang yang hendak mendaki gunung justru berbekal pelampung?

Begitu pula dalam pernikahan. Ketika gaya hidup masyarakat barat menjadi kiblat dan masih jauhnya mayoritas masyarakat dari konsep Islam dalam kehidupan berumah tangga, hal ini sangat rentan memicu timbulnya berbagai konflik dalam rumah tangga, bahkan sampai kepada perceraian.

Apalagi pernikahan tidak sekedar tentang hidup berdua. Tidak semata antara “aku dan kamu” tapi lebih luas adalah membangun peradaban. Lantas bagaimana suatu peradaban dapat dibangun tanpa bekal yang memadai?

Lalu, bekal apa yang mesti disiapkan oleh orang yang hendak menikah? Bekal apa saja yang bakal berguna dalam perjalanan pernikahan itu? Tulisan ini akan menyaikan tujuh beka utama menuju pernikaha sukses dan bahagia.

  1. Kelurusan Niat

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Amal itu tergantung niatnya,dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR Bukhari Muslim)

Hadits ini menjadi dalil pentingnya niat dalam setiap amal perbuatan. Bahwa niat merupakan pondasi awal suatu amal perbuatan. Bahkan suatu amal perbuatan yang dilandasi oleh beberapa niat dapat memberikan imbas pahala yang berlipat.

Begitu juga dalam pernikahan. Penting bagi orang yang hendak menikah untuk meluruskan niat dan menjaga kelurusan niat pernikahannya agar rumah tangga yang dibangun menuai keberkahan. Seseorang yang meniatkan pernikahannya agar dapat menjaga dirinya dari godaan syetan, untuk menyempurnakan setengah dien nya, agar dapat melakukan amalan-amalan yang hanya bisa dilakukan dalam pernikahan, insya Allah dia akan sampai kepada niatnya. Sebagaimana kaidah yang penulis pegangi, bahwa niat baik insya Allah ketemu jalannya. Dan tentunya niat ini perlu senantiasa dijaga kelurusannya sepanjang masa pernikahan yang panjang. Dan hanya Allah sebaik-baik Penolong.

  1. Bertakwa kepada Allah

Di dalam surat Ath thalaq  ayat 2-3 Allah berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ (٣)

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tak tidak disangka-sangka” (QS Ath Thalaq 2-3)

Allah berjanji mencukupi kebutuhan dan mengatasi urusan hamba-Nya yang bertakwa. Sementara kita pahami bersama bahwa kehidupan rumah tangga adalah misteri yang hanya akan terungkap setelah kita menjalaninya. Kita tidak tahu seperti apa hari-hari ke depan dalam pernikahan yang kita bangun kecuali setelah hari itu kita lewati. Karenanya, menyiapkan diri dengan membangun ketakwaan kepada Allah merupakan bekal yang tepat agar lapis-lapis misteri yang terkuak dapat dijalani dengan kemanisan iman.

  1. Mencanangkan Visi Misi Pernikahan

Dalam organisasi dakwah saja kita mengenal visi misi dan rencana kerja. Maka tak kalah penting pula hal ini diterapkan dalam pernikahan. Bahkan kesamaan visi misi bagi dua calon pasangan yang akan menikah merupakan salah satu barometer kesuksesan urusan yang akan mereka tempuh. Kesamaan visi misi akan membuat biduk rumah tangga mudah diarahkan dan tidak mudah oleng oleh terpaan angin persoalan.

  1. Bekal ilmu

Kaidah “ilmu sebelum amal” berlaku dalam semua lini amaliyah termasuk pernikahan. Hendaknya seseorang yang hendak memasuki jenjang pernikahan, berbekal ilmu seputar kerumahtanggaan berbasis syari’at. Jangan sampai seseorang menempuh pernikahan tanpa modal pemahaman karena bisa terjebak dalam berbagai jerat-jerat kesalahan dan kemaksiatan.

  1. Bekal Mental Psikologis

Tragedi piring terbang, ringan tangan kepada pasangan, bisa jadi merupakan rapuhnya mental pasutri. Mentalnya belum tangguh untuk mengarungi lembah-lembah pernikahan yang penuh dengan lekuk dan liku.

Dalam pernikahan ada banyak hal yang tidak terduga. Kejutan-kejutan bahagia ataupun hal-hal yang bisa membuat air mata berurai, semua itu butuh kesiapan mental, butuh sikap dewasa dalam menghadapainya. Kesabaran, kemampuan mengolah rasa, sangat dibutuhkan demi utuhnya kapal penikahan dari hempasan badai. Dan bekal ini akan terus bertambah seiring berjalannya usia pernikahan dan dinamika yang terjadi di dalamnya

  1. Bekal Finansial

Poin ini bukan menjadi kaidah bahwa menikah harus kaya. Bahwa orang miskin dilarang menikah. Bukan. Tapi lebih kepada kesiapan untuk menghadapi realita bahwa kebutuhan hidup berumah tangga tentu akan jauh lebih besar daripada menanggung diri sendiri.

Bukankah Allah akan memampukan orang yang menikah dengan rejeki-Nya? Tentu, ini dalil yang tidak bisa disangkal. Hanya saja, apakah kemudian rejeki itu hanya ditunggu saja sambil berpangku tangan? Tentunya saja perlu ada sebab-sebab untuk mendatangkannya. Ada ikhtiar utnuk meraihnya.

Karena terkadang poin ini menjadi syarat bagi sebagian orang bahwa calon pasangannya harus punya pekerjaan tetap, harus mapan, harus berpenghasilan sekian. Di sisi lain pun seorang pria menjadi gamang menikah karena belum memiliki pekerjaan tetap, penghasilannya masih minimalis. Hmmm …. kalau boleh penulis koreksi, pemikiran itu perlu diluruskan. Sah-sah saja sih syarat itu diajukan. Tapi jangan sampai gara-gara syarat itu Anda kemudian memutuskan untuk tidak menikah. Bagi penulis, masalah sebenarnya bukan pada pekerjaannya, tapi tetap bekerja dan mempunyai semangat kerja. Karena rejeki itu sudah ada yang mengatur. Dan sebagaimana janji Allah, bahwa Allah akan memampukan mereka dengan rejeki-Nya.

  1. Bekal Fisik

Menjalani kehidupan berumah tangga tentu saja berbeda kondisinya dengan kehidupan membujang. Banyak hal yang membutuhkan kesiapan dan kesigapan fisik kita. Seorang suami tentu perlu menyiapkan fisiknya supaya bisa mencari penghidupan tidak hanya untuk dirinya tapi juga untuk istri dan anaknya.

Seorang istri pun perlu sigap menciptakan keadaan rumah yang nyaman demi nyamannya suami di sisinya dan lebih betah menghabiskan waktu di rumah. Mengurus anak-anak pun butuh kesiapan fisik. Bahkan dalam melakoni hubungan suami istri pun butuh kesiapan fisik yang prima. Karenanya hal ini perlu disiapkan pra nikah dengan menjaga kesehatan dan menjalani pola hidup sehat.  (ummisanti).

Amalan-Amalan Ini Berpahala Haji

Amalan-Amalan Ini Berpahala Haji

Ibadah haji haji merupakan ibadah yang mulia dan berpahala serta bernilai tinggi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengabarkan bahwa balasan bagi haji yang mabrurbadalah surga. Dalam hadits beliau menggambarkan bahwa orang yang kembali dari Haji seperti bayi yang terlahir dari kandungan Ibu.

Artinya dia kembali dalam keadaan bersih dari dosa namun tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menunaikan ibadah haji

Akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Adil. Melalui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengabarkan bahwa ada beberapa amalan yang pahalanya setara dengan ibadah haji. Diantara amalan-amalan  yang berpahala haji tersebut adalah;

  1. Shalat Isyraq

Shalat Isyraq adalah shalat yang dikerjakan sesaat setelah matahari terbit. Bagi yang melaksanakannya di Masjid setelah berdzikir semenjak Subuh akan mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah.

Hal  ini  terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah kemudian dia duduk berdzikir sampai terbit matahari, lalu shalat dua raka’at maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah sempurna sempurna sempurna”. (HR. Tirmidzi).

2. Menghadiri Majelis Ilmu di Masjid

Menghadiri majelis ilmu di Majid bernilai seperti pahala haji.  Sebagaimana  dikabarkan oleh sahabat yang mulia Abu Umamah radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak ada yang dia inginkan melainkan untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya maka baginya pahala Haji, sempurna hajinya”. (HR. Thabrani dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani).

3. Menunaikan Shalat Fardhu di Masjid

 Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Barangsiapa yang berjalan ke masjid untuk menunaikan salat fardhu secara berjamaah maka dia seperti Haji dan barangsiapa yang berjalan ke masjid untuk melaksanakan salat sunnah maka dia seperti umrah yang sunnah”. (HR.Thabrani dan dihasilkan oleh Syaikh Al Albani)

4. Umrah pada Bulan Ramadhan

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,“Umrah pada bulan Ramadhan setara dengan Haji atau Haji bersamaku” (muttafaqun ‘alaih).

5. Berbuat baik kepada kedua orang tua (Birrul walidain)

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Seorang pria datang menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Pemuda  itu mengatakan, saya ingin berjihad tetapi saya tidak mampu. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Bertanya kepadanya, “Apakah salah seorang dari kedua orang tuamu masih hidup?” “Ibuku (masih hidup)”, jawabnya. Maka  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah (dengan berbuat baik kepadanya), jika engkau melakukan itu maka anda seperti orang yang berhaji, beumrah serta berjihad”.

6. Berdzikir Setelah Shalat

Abu Hurairah radhiyallahu Anhu menceritakan bahwa orang-orang fakir datang menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan menanyakan tentang keadaan mereka. Mereka mengatakan, wahai Rasulullah sesungguhnya orang-orang kaya yang memiliki harta telah memborong semua pahala mereka mencapai derajat tinggi dan memperoleh kenikmatan yang banyak, mereka shalat seperti kami shalat, mereka puasa seperti kami puasa dan mereka memiliki kelebihan harta yang dengannya mereka bisa berhaji, berumrah, berjihad dan bersedekah. Maka  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu amalan yang jika kalian lakukan maka kalian dapat menyamai mereka dan tidak ada yang dapat menyamai kalian melainkan orang yang mengamalkan seperti yang kalian amalkan, yaitu kalian Bertasbih (sunhanallah) bertahmid (alhamdulillah) dan bertakbir (Allahu Akbar) masing-masing 33 kali setiap selesai shalat wajib”.  (Muttafaq ‘alaih).

Semoga Allah memberikan kekuatan dan taufiq melakukan amalan-amalan ini. [sym].

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (2) 

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (2) 

(Lanjutan tulisan Sebelumnya)

Masjid  merupakan tempat yang mulia dan suci yang harus diagungkan. Sebab mengagungkannya merupakan bagian dari mengagungngkan syi’ar-syi’ar Allah. Sebagaimana firman Allah, “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (Terj. Qs. Al-Hajj: 32).

Salah satu bentuk pengagungan terhadap Masjid adalah menjaga adab mendatangi dan memasuki Masjid. Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang  adab mendatangi dan memasuki  Masjid.

  1. Berangkat ke Masjid dengan Berjalan Kaki

Disunnahkan berjalan kaki ketika pergi ke Masjid. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam muslim dan Shahihnya dari hadits Ubai bin Ka’ab radhiyallahu anhu, dia berkata:

Dahulu ada seseorang dari Anshar yang rumahnya paling jauh dari kota Madinah, akan tetapi ia tidak pernah ketinggalan shalat berjama’ah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian kami menghampirinya dan saya mengatakan:

Wahai fulan! Kalau sekiranya engkau membeli seekor keledai yang melindungimu dari kerikil dan melindungimu dari panasnya bumi.” Dia menjawab: “Walallahi bukanlah yang menjadi keinginanku bahwa rumahku berdekatan dengan rumah Muhammad shalallahu alaihi wasallam“. Kemudian dia (Ka’ab) berkata: “Maka akupun menghadap nabi shallallahu alaihi wasallam dan memberitahu beliau”. Kemudian dia (ka’ab) berkata: “maka beliau memanggilnya, kemudian diceritakanlah kembali dan orang ini menyebutkan bahwa ia berharap dengan perbuatannya itu pahala dari Allah“.  Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“إن لك ما احتسبت”  وفي رواية: “قد جمع اللَّه لك ذلك كله”.

“Sesungguhnya bagimu apa yang engkau kerjakan“.[nomor hadits 663”.

Dalam riwayat lain: “Sungguh allah telah mengumpulkan bagimu semuanya“.

Imam  Abu Daud meriwayatkan dalam Sunannya dari  Aus as Saqafi radhiyallahu anhu berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 “مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا”

“Barangsiapa yang mandi pada hari jum’at kemudian pergi ke masjid lebih awal, dan berjalan tidak mengendarai kendaraan, menunggu Imam dan mendengarkan dengan seksama khutbah tidak melakukan hal-hal yang sia sia maka pada setiap langkahnya terhitung amalan setahun sholat dan puasa”. [HR. Abu Daud nomor 345, dishahihkan oleh Imam Al-albani 1/70 no 333]

Dalam shahih Muslim disebutkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;

 “أَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّه بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟” قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّه، قَالَ: “إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاةِ بَعْدَ الصَّلاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ”

Apakah kalian ingin aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah hapuskan dosa-dosa (kalian), dan mengangkat dengannya derajat-derajat (kalian)”. “Tentu wahai Rasulullah”, jawab mereka. Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang dibenci, memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu sholat setelah sholat, maka itulah ar ribath“. [HR. Muslim nomor 231]

5. Bergegas Ke Masjid Ketika Adzan Berkumandang

Dianjurkan bergegas pergi ke masjid ketika adzan dikumandangkan atau bahkan hendaknya datang sebelum adzan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengabarkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

” لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ”

“Seandainya manusia tahu (pahala) apa (yang Allah siapkan) pada adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi niscaya mereka akan mengundi, dan seandainya mereka mengetahui (pahala) pada shaf pertama mereka akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya“. [HR. Bukhari nomor 615 dan Muslim nomor 437]

6. Berjalan ke Masjid dengan Khusyuk dan Tenang

Dianjurkan berjalan dengan khusyuk dan tenang ketika menuju Masjid. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

  “إِذَا سَمِعْتُمُ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا”

Ketika kalian mendengarkan iqamah maka berjalanlah menuju shalat dengan tenang dan tidak tergesa-gesa serta tidak berlari, maka apa yang kamu dapatkan shalatlah kalian dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah“. (HR. Bukhari nomor s636 dan Muslim nomor 602).

Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar berjalan menuju Masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa serta tidak berlari-lari. Sebab hal itu dapat mempengaruhi ketenangan dan kekhusyukan dalam shalat.  Bersambung. [Yoshi/ed:Sym].

Sumber: http://www.alukah.net/sharia/0/108669/#_ftn2

Adab Mendatangi dan Memasuki Masjid (1)

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid  (1)

Masjid  merupakan tempat yang mulia dan suci. Oleh karena itu harus diagungkan, sebab mengagungkannya merupakan bagian dari mengangkan syi’ar-syi’ar Allah. Sebagaimana firman Allah, “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (Terj. Qs. Al-Hajj: 32).

Salah satu bentuk pengagungan dan penghormatan terhadap Masjid adalah menjaga adab saat mendatangi dan memasuki Masjid. Tulisan ini memaparkan beberapa adab yang hendaknya diperhatikan ketika mendatangi dan memasuki  Masjid.

  1. Mengenakan Pakaian yang Terbaik, Rapi dan Sopan

Dianjurkan dan disunnahkan berhias dengan mengenakan pakaian terbaik, rapi, dan sopan ketika mendatangi dan memasuki Masjid. Hal ini berdasarkan  perintah Allah Ta’ala dalam surah Al-A’raf ayat 31;

 يَابَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. al-a’raf: 31).

Ayat tersebut berisi perintah mengenakan pakaian yang terbaik ketika hendak masuk Masjid. Bahkan tidak mengapa seseorang mengkhususkan pakaian tertentu untuk shalat, terutama shalat Jum’at. Imam Abu Daud meriwayatkan Sunannya satu hadits dari  Muhammad bin Yahya bin Hibban radhiyallahu ‘anhu bahwa, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“أَنْ يَتَّخِذ ثَوْبَيْنِ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ سِوَى ثَوْبَيْ مِهْنَتِهِ”

Hendaknya seseorag memiliki dua pakaian; (pakaian khusus) untuk hari Jum’at selain pakaian kerja.” (HR. Abu Daud 1078 dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih abu Daud,No. 953)

  1. Bersiwak

Bersiwak atau membersihkan gigi merupakan satu Sunnah Rasul yang sangat ditekankan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa bersiwak dapat mensucikan mulut dan mendatangkan ridha Allah Ta’ala.

Diantara waktu yang sangat dianjurkan bersiwak adalah ketika hendak shalat. Bahkan andaikan tidak khawatir mempersulit ummatnya Nabi ingin menyuruh ummatnya bersiwak setiap hendak berwudhu dan shalat. Imam Bukhari dan lmam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

 “لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ”.

‘Kalaulah tidak memberatkan bagi ummatku maka sungguh akan kuperintahkan mereka bersiwak setiap (sebelum) melakukan Shalat“. (HR. Bukhari, No. 887 dan Muslim, No. 252).

  1. Tidak Mendatangi Masjid dalam Keadaan Mulut dan Badan Berbau

Dilarang mendatangi dan memasuki Masjid setelah makan bawang merah, putih atau yang sejenisnya melainkan membersihkannya terlebih dahulu.

Di dalam kitab Shahihain Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwasanya Nabi melarang orang yang baru selesai makan bawang untuk memasuki Masjid. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ، وَالثُّومَ، وَالْكُرَّاثَ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ”

Barangsiapa yang memakan bawang putih atau bawang merah serta daun bawang maka jangan sekali-kali mendekati masjid kami, karena sesungguhnya Malaikat terganggu dengan apa-apa yang manusia terganggu dengannya“.(HR. Bukhari nomor 855 dan Muslim No. 564).

Bawang dan daun bawang bukanlah makanan yang haram, akan tetapi dilarang bagi yang akan melaksanakan shalat di Masjid memakannya karena dapat menimbulkan aroma yang tidak sedap dan mengganggu orang-orang yang shalat. Bahkan yang terganggu dengan bau bawang bukan hanya manusia, tapi para Malaikat juga turut terganggu, sebagaimana disebutkan  dalam hadits di atas.

Larangan ini berlaku pula pada semua yang mengandung bau tidak sedap dan menggangu penciuman orang lain, seperti bau rokok, bau mulut karena berhasir-hari tidak bersiwak (sikat gigi), atau bau badan karena keringat atau jarang mandi  dan baju dalaman yang telah dipakai berhari-hari tanpa diganti. Bersambung insyaAllah. [ed:Sym].

Mudzakarah Seribu Ulama Hasilkan Manifesto Ulama dan Umat

Mudzakarah Seribu Ulama Hasilkan "Manifesto Ulama dan Umat"

Mudzakarah Seribu Ulama Hasilkan “Manifesto Ulama dan Umat”

(Tasikmalaya) wahdahjakarta.com,Mudzakarah Seribu Ulama yang digelar di Gedung Aisyah Kota Tasikmalaya resmi ditutup pada Ahad (5/8/2018) sekira pukul 23.00 WIB. Pertemuan yang dihadiri sejumlah ulama dan tokoh nasional itu menghasilkan tiga keputusan yang diberi judul Manifesto Ulama dan Umat. Berikut ini isinya,

Pertama, menetapkan Resolusi Konstitusional Pemerintah RI untuk kembali kepada Undang-undang Dasar (UUD) 1945 sesyau dengan penetapan Keppres Nomor 150 tahun 1959, LNRI Tahun 1959 Nomor 75, Dekret Presiden Soekarno 5 Juli 1959.

Kedua, Mengundangkan Syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bagi umat Islam bangsa Indonesia, serta.

Ketiga, Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya mengunkuhkan keputusan Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional di Jakarta tentang pencalonan presiden dan wakil presiden 2019. Namun jika terjadi deadlock politik, maka harus ada calon alternatif yang sesuai dengan Syariat Islam secara utuh.

Tiga poin tersebut dibacakan oleh Kaatib ‘Am Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) Majelis Mujahidin, Drs. H. Nashruddin Salim di hadapan peserta Mudzakarah Seribu Ulama. (Rep: Dadang. M| INA).

1.000 Ulama Hadiri Mudzakarah Ulama dan Kongres Mujahidin

1.000 Ulama Hadiri Mudzakarah Ulama dan Kongres Mujahidin

(Tasikmalaya) wahdahjakarta.com,– Mudzakarah Seribu Ulama dan Kongres Majelis Mujahidin Kelima pada 05-07 Agustus 2018 digelar di Kota Tasikmalaya. Ketua Panitia Mudzakarah Ulama Tasikmalaya, dr. Isa Ridwan mengungkapkan rangkaian acara yang akan dilaksanakan hingga hari Selasa (07/08/2018) mendatang.

“Acara pertama adalah tabligh akbar yang nantinya diisi oleh KH. Cholil Ridwan, Ustadz Bachtiar Nasir (UBN), dan Ustadz Fadlan Garamatan. Kemudian akan dilanjutkan dengan mudzakarah 1.000 ulama,” ungkap Isa dalam sambutannya di Panggung Utama Gedung Aisiyah, Jl. Ir. Juanda, Tasikmalaya, Ahad (05/08/2018).

Isa mengucapkan, bahwa dari data bagian kesekretariatan, ada lebih dari 1.000 ulama yang mendaftar dan hadir dalam Mudzakarah ini.

“Para ulama ini sudah ada yang terwakili dari Sabang sampai Merauke. Ada dari NTB yang meskipun masih dilanda musibah alam, menyisihkan waktunya datang dalam Mudzakarah ini. Ada dari ujung timur juga ada,” ungkapnya.

Isa mengungkapkan, acara ini tidak akan berlangsung tanpa bantuan semua kalangan. Ia juga bersyukur bahwa acara ini mendapat perhatian dari Walikota Tasikmalaya, juga dari masyarakat Islam kota Tasikmalaya.

“Jujur kita kekurangan dari keuangan, tapi berkat bantuan warga kota Tasikmalaya, seperti memberi bantuan non materi, berupa makanan dan juga jasa. Lebih dari 500 relawan, hampir mendekati angka 1.000 yang membantu acara ini,” ungkapnya.

Bahkan, bukan hanya elemen yang mengatasnamakan elemen umat Islam, tapi ada juga elemen beladiri yang mengawal acara ini. Menurutnya, pengunjung acara Tabligh Akbar ini tembus sampai 10.000 orang.

Sedangkan Walikota Tasikmalaya, Budi Budiman dalam sambutannya berharap bahwa acara ini menuai keberkahan bagi warga Tasikmalaya.

“Harapan kami acara ini berjalan dengan lancar, penuh kedamaian, dan kami bersama-sama panitia berterima kasih kepada keamanan dari kepolisian dan juga laskar-laskar. Kita ingin menghadirkan kemurnian Mudzakarah ulama, mudah-mudahan mudzakarah ini memberikan rekomendasi-rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka menghadirkan negara yang Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur,” ungkapnya.

Ia berharap, Mudzakarah 1000 ulama ini menjadi momentum bagi kebaikan bangsa ke depan, yang bukan hanya bagi warga Tasikmalaya, tapi juga kepada umat Islam dari Sabang sampe Merauke. “Semoga Mudzakarah dan Kongres MMI ini akan menghadirkan keberkahan bagi bangsa,” tutupnya.

Hadir dalam Mudzakarah 1000 ulama ini, Ketua MMI Ustadz Abu Jibril, Ustadz Fadhlan Garamatan, Walikota Tasikmalaya Budi Budiman, Ketua MUI Pusat, KH. Cholil Ridwan, Wasekjen MUI Pusat, Tengku Zulkarnaen, Gus Nur, Ketua MUI Tasikmalaya KH. Achef Noor Mubarok, Purnawirawan TNI Sarwan Hamid.  (Rep: M. Jundi/ed:sym).