Ustaz Zaitun: Salah Langkah Trump Awal Persatuan Umat Islam Dunia

Ustaz Zaitun:  Salah  Langkah Trump  Awal Persatuan Umat Islam  Dunia
(Jakarta-wahdahjakarta.com)- Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP-WI) Ustaz Muhammad Zaitun Rasmin menyebut salah langkah yang dilakukan Donal Trump menyetujui penetapan Yerusalem memantik persatuan umat Islam dunia. “Saya yakin, salah langkah Trump itu sebagai awal persatuan umat Islam dunia”, ucap Ustaz Zaitun pada acara Orasi Kemanusiaan “Indonesia Bersatu Bela Palestina” di Masjid Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa (12/12).

Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini menegaskan pula bahwa hal itu merupakan salah satu tanda dekatnya kemenangan Islam. “Kemenangan Islam itu pasti dan sudah dijanjikan oleh Allah, orang-orang yang memusuhi Islam selalu dibuat salah langkah”, imbuhnya.

“Kita bersyukur kepada Allah yang membuat Donald Trump salah langkah”, terang ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara ini.
“Saya sudah mencium pembebasan Al-Aqsa. Dan gelombang persatuan umat Islam Dunia tidak akan berhenti sebelum Al-Aqsa dibebaskan”, pungkasnya. [sym]

Mulia dengan Al-Qur’an

 

Al-Qur’an bacaan yang mulia. Gambar: tadabburadily

Mulia dengan Al-Qur’an

Alquran merupakan kitab suci lagi mulia. Diturunkan oleh Tuhan semesta alam kepada manusia termulia melalui Malaikat paling mulia serta di tempat paling mulia dan pada waktu paling mulia, yakni bulan Ramadhan. Allah Ta’ala menerangkan dalam beberapa ayatNya tentang keagungan dan kemuliaan Alquran, diantaranya surah Al-Waqi’ah ayat 75-77;

فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ﴿٧٥﴾ وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ ﴿٧٦﴾ إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ ﴿٧٧﴾ فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ ﴿٧٨﴾ لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ ﴿٧٩﴾ تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٨٠

Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran. (75) Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. (76) Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, (77) pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), (78) tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (79) Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin. (80) (Qs. Al-Waqi’ah:75-80).

Melalui ayat-ayat di atas Allah mengabarkan bahwa Alquran adalah kitab suci dan mulia yang diturunkan dari Rabb[ul] ‘alamin, Tuhan semesta alam. Dalam ayat ini juga Allah menyifati Alquran sebagai al-karim; bacaan yang mulia. Menurut Ibnu Jauzi bahwa,”al-karim adalah kata (maknanya) menyeluruh untuk segala sesuatu yang terpuji. Alquran disebut dengan sifat al-karim karena mengandung penjelasan, petunjuk, dan hikmah. Alquran diagungkan disisi Allah”. (Zadul Masir,VIII/151).
Dalam ayat lain kemuliaan Alquran juga diungkapkan dengan kata al-majid. Sebagaimana dalam surat Qaf ayat 1, dan Al-Buruj ayat 21-22;
ق ۚ وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ ﴿١﴾
“Qaaf Demi Al Quran yang sangat mulia”. (Qs. Qaf:1).
بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ ﴿٢١﴾ فِي لَوْحٍ مَّحْفُوظٍ ﴿٢٢﴾
Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, (21) yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh”. (Qs. Al-Buruj:21-22).

Makanya bahwa Alquran yang didustakan orang-orang kafir ini adalah kitab yang mulia dari sisi rangkaian susunan kata-katanya hingga mencapai batas mukjizat berada di puncak kemuliaan dan berkah. (At-Tafsir Al-Munir, XV/545).
Kemuliaan Alquran dan berpengaruh pada kemuliaan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Al-Qur’an adalah firman Allah yang Maha mulia, diturunkan kepada manusia paling mulia melalui perantaraan Malaikat paling mulia, pada malam kemuliaan di bulan paling mulia dan di bumi paling mulia pula.

1. Diturunkan Pada Malam Paling Mulia
Al-Qur’an diturunkan pada malam paling mulia di bulan paling mulia. Yakni malam Al-Qadar (Lailatul Qadr), yakni malam kemuliaan yang penuh berkah.
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ – وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ – لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (Qs. Al-Qadr 1-3).

Para Ulama mengatakan malam al-qadar tersebut merupakan malam paling paling utama dan paling mulia dalam setahun. Kemuliaan ini karena ia merupakan malam diturunkannya Al-Qur’anul Karim.

2.Diturunkannya Pada Bulan Paling Mulia
Al-Qur’an diturunkan pada malam yang mulia di bulan paling mulia, yakni bulan Ramadhan.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ…
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (Qs. Al-Baqarah 185).
Kemuliaan bulan ini juga karena merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an pertama kali. Pewajiban puasa pada bulan Ramadhan juga karena al-Qur’an diturunkan pada bulan ini, yakni bulan Ramahan yang mulia. Bahkan saking besarnya pengaruh kemuliaan Al-Qur’an pada bulan Ramadan ini, bulan Ramadhan dikenal pula dengan Syahrul Qur’an, bulan Al-Qur’an.
Oleh karena itu diantara amalan utama yang dianjurkan untuk diperbanyak pada bulan Ramadhan adalah membaca AlQur’an. Orang-orang shaleh dahulu menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum memperbanyak interaksi dengan AlQuran.

3. Diturunkan di Bumi Termulia
Selain diturunkan pada malam dan bulan yang mulia, Al-Qur’an juga diturunkan di tempat paling mulia yakni Makkah al-Mukarramah. Makkah merupakan tempat termulia di atas permukaan bumi. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad, “Allah telah memilih beberapa tempat dan negeri, yang terbaik dan termulia adalah dan Makkah dan Madinah”.

Oleh karena itu kedua kota tersebut masyhur dengan sebutan Haramain, yang artinya dua kota suci atau mulia. Dan jika disebutkan secara mutlak dengan kata tanah haram maka yang dimaksud adalah Makkah Al-Mukarramah. Kemuliaan kota ini dikabarkan langsung oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an dan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya;
إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ﴿٩١﴾
Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Qs. An-Naml:91).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari Fathu Makkah (Penaklukan Makkah); “Sesungguhnya kota ini (Makkah), Allah telah memuliakannya pada hari penciptaan langit dan bumi, ia adalah kota suci, dengan dasar kemuliaan yang telah ditetapkan oleh Allah hingga hari kiamat”. (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Kemuliaan kota Makkah juga karena merupakan negeri dan kota paling dicintai Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah berkata saat detik-detik terakhir meninggalkan Makkah ketika hijrah, “Demi Allah, engkau adalah sebaik-baik bumi dan bumi Allah yang paling dicintaiNya. Seandainya kaummu tidak mengusirku darimu, maka aku tidak akan keluar darimu (meninggalkanmu)”. (terj. HR. Tirmidzi).

Di Makkah terdapat Masjidil Haram dan Ka’bah al-Musyarrafah yang merupakan Kiblat kaum Muslimin. shalat di sana memiliki keutamaan 100.000 kali dibanding shalat di tempat lain. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; “Shalat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu shalat di tempat lainnya”. (terj. HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Bersambung insyaAllah [sym]

Wahdah Islamiyah Inisiasi Silaturahmi Tokoh dan Ulama Se-Sulawesi Tenggara

Wahdah Islamiyah Inisiasi Silaturahmi Tokoh dan Ulama Se-Sulawesi Tenggara
(Kendari – wahdahjakarta.com)- Ketua Umum Wahdah Islamiyah (WI) Ustaz Muhammad Zaitun Rasmin bersama jajaran pengurus Wahdah Sulawesi Tenggara mengadakan silaturahmi bersama para pimpinan ormas dan tokoh masyarakat Sulawesi Tenggara. Silaturahmi bertempat di Hotel Zahra, Kota Kendari pada hari Ahad, 10/12/2017.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Sulawesi Tenggara Ust. Muhammad Ikhwan Kapai sebagai penyelenggara menjelaskan bahwa tema pertemuan ini adalah “Peran Tokoh Umat dan Ulama dalam Membangun Negeri”.
Tema ini sengaja dipilih karena NKRI adalah rumah besar. Dimana umat Islam sebagai salah satu penghuninya, merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga rumah bersama ini.
Membuka acara silaturahmi ini, Ust. Zaitun menyatakan bahwa saat ini ada sekelompok orang yang ingin merampok kekayaan Indonesia. Maka menjadi tugas utama umat Islam untuk menjaga dan mempertahankan rumah besar bernama NKRI ini.
Peran ulama saat ini menjadi semakin sentral karena umat mulai kembali mendengar ulamanya. Wasekjen MUI ini juga menyampaikan bahwa keberadaan MUI sebagai tenda besar umat Islam perlu disyukuri. Saat ini MUI bukan hanya ingin memimpin dan mengarahkan kebangkitan umat Islam di Indonesia, MUI sedang menginisiasi adanya forum majelis-majelis ulama di dunia.
Acara silaturahmi ini berbagai tokoh, pimpinan ormas, dan akademisi Sulawesi Tenggara. Antara lain Ketua DPRD Sultra Adurrahman Shaleh, unsur MUI KH Chadid, Ketua DPW Hidayatullah Ust. Nasri Bohari, dan rektor maupun dosen beberapa universitas. [ibw]

Ustadz Zaitun: Bangsa Indonesia Cinta Persatuan

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin

(Kendari-Wahdahjakarta.com)-Wahdah Islamiyah Sulawesi Tenggara menyelenggarakan tabligh akbar di Masjid Al Kautsar, Kota Kendari pada Ahad, (10/12/2017). Tabligh akbar di masjid terbesar Kendari ini menghadirkan Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Zaitun Rasmin sebagai pemateri utama.

Panitia memilih tema ukhuwah karena dipandang saat ini ikatan persaudaraan menjadi “critical point”. Satu titik kritis yang harus dijaga dan dikuatkan karena menyangkut solidaritas sesama muslim di tanah air maupun di seluruh dunia.

Ustaz. Zaitun mengawali dengan mengingatkan isu yang sedang hangat saat ini, yaitu Al Quds Palestina. Ketua Ikatan Ulama’ dan Da’i ASEAN ini menghimbau agar umat Islam di Indonesia turut membantu saudara kita disana.

Ulama kelahiran Gorontalo ini mengecam keras tindakan Trump. “Keputusan Donald Trump yang menyatakan Al Quds sebagai ibukota Israel adalah tanda awal hancurnya Israel dan Amerika in syaa Allah,” tegasnya.

Beliau mengingatkan bahwa menguatnya ukhuwah di antara kaum muslimin diharapkan menjadi penguat persatuan sesama komponen bangsa di Indonesia. Dengan kata lain, ukhuwah diharapkan menjadi penguat “persatuan Indonesia”.
“Persatuan bisa kita lakukan lebih luas. Termasuk dengan non muslim. Contohnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam saat tiba di Madinah. Persatuan tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas dan mempertahankan Madinah dari gangguan luar,” tambah beliau.

Menurut beliau, adanya para perusak negeri ini bukan alasan untuk tidak mencintai negeri ini. “Di negeri ini memang ada para perusak dan perampok yang ingin menjualnya. Namun ini bukan menjadi alasan untuk tidak mencintai negeri ini. Pada dasarnya, bangsa kita adalah bangsa yang cinta persatuan. Sebagaimana yang diajarkan oleh agama kita. Maka ini bisa menjadi modal penting bagi kita dalam mengupayakan kerukunan dan ukhuwah,” lanjut beliau.

Tabligh akbar sukses digelar dan dihadiri ribuan peserta. Sebagian berasal dari luar kota dan bahkan luar pulau, seperti Pulau Muna dan Buton. [ibw]

9 Sikap Wahdah Islamiyah (WI) Tekait Al-Quds Yerusalem


PERNYATAAN SIKAP DEWAN PIMPINAN PUSAT WAHDAH ISLAMIYAH TERKAIT Al-QUDS YERUSALEM
Nomor: K.399/IL/I/03/1439
الحمد لله القائل : سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ الله وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْساَنٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ

Sehubungan rencana pemerintah Amerika Serikat untuk memindahkan Kedutaan Besarnya ke Al-Quds Yerusalem yang dengan demikian adalah dukungan penuh untuk menjadikan Yerusalem sebagai Ibu Kota Zionis Israel, maka Wahdah Islamiyah memandang persoalan ini sangat serius dan menandakan bahwa persoalan Palestina dan Al-Aqsha telah memasuki masa yang sangat genting dan berbahaya.

Bersasarkan hal tersebut di atas, dipandang perlu untuk menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Menolak dan mengutuk keras rencana Amerika Serikat tersebut, yang jelas-jelas merupakan puncak penjajahan dan kezaliman Zionis Israel atas tanah suci kaum muslimin.
2. Menyerukan kepada segenap kaum muslimin untuk menggalang penolakan atas rencana zalim ini.
3. Menegaskan kembali dukungan penuh bagi kemerdekaan Palestina termasuk Al-Quds Yerusalem dari penjajahan Zionis Israel.
4. Menyerukan kepada negara-negara muslim untuk segera menyatukan sikap merespon kondisi yang sangat serius ini dengan tindakan nyata mencegah Amerika Serikat mewujudkan rencana jahatnya dengan cara apapun juga.
5. Menuntut pemerintah Indonesia sebagai negara muslim terbesar dunia untuk menjadi inisiator penolakan dan pencegahan hal tersebut di atas.
6. Menyerukan kepada kaum muslimin untuk melakukan boikot cerdas atas produk-produk Amerika Serikat sebagai respon minimal atas kezaliman dan dukungannya kepada Zionis Israel.
7. Menyerukan kepada segenap kaum muslimin untuk kembali memperkuat komitmen keislamannya dalam seluruh sisi kehidupan, karena kekuatan yang sesungguhnya pada umat Islam ini adalah terletak pada kedekatannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
8. Menyerukan kepada kaum muslimin seluruhnya untuk mempererat ukhuwah islamiyah dan meminimalkan sejauh mungkin segala hal yang bisa menjadi sebab perselisihan dan perpecahan dalam tubuh umat Islam. Karena perpecahan inilah yang membuat kita tidak berdaya di hadapan kezaliman dan kepongahan musuh atas kita.
9. Menyerukan kepada kaum muslimin untuk memaksimalkan doa dan permohonan kepada Allah Subhanahu Wata’ala Rab Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa untuk menurunkan pertolonganNya kepada kaum muslimin di Al-Quds Yerusalem dan Palestina secara umum yang akan membungkam kesombongan musuh-musuhNya.
Demikian penyataan ini dibuat sebagai penegasan sikap Wahdah Islamiyah atas persoalan Palestina dan Al-Quds Yerusalem secara khusus, Nashrun Minallah wa Fathun Qariib, Amin.

Makassar, 19 Rabiul Awal 1439 H/08 Desember 2017 M

DEWAN pimpinan pusat

wahdah islamiyah

ttd ttd

H. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A.

Ketua Umum

Syaibani Mujiono, S.Sy.

Sekretaris Jenderal

Sumber: http://wahdah.or.id/pernyataan-sikap-dewan-pimpinan-pusat-wahdah-islamiyah-terkait-al-quds-yerusalem/

Al-Aqsa Memanggil



Khutbah Jumat
Oleh: Ustaz. Muhammad Ikhwan Jalil

‎إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
‎مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
‎يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
‎أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Kaum muslimin A’azzakumullah
Tahukah kita apa dan dimana kota Al-Quds Yerussalem, yang dengan pongahnya Amerika hendak pindahkan kedutaannya ke kota itu yang menegaskan pencaplokan dan penjajahan Zionis Israel atas Palestina dan tanah suci ke tiga kaum muslimin.
Al-Quds Yerusalem bukanlah sekedar kota administratif, yang kebetulan terletak di jantung Palestina.
Namun Al-Quds Yerusalem adalah sejarah
Namun Al-Quds Yerusalem adalah izzah dan harga diri
Namun Al-Quds Yerusalem adalah pertanda eksistensi
Namun Al-Quds Yerusalem adalah Masjidil Aqsha, tempat Isra’ nya Nabi kita yang mulia Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam , Allah Tabaraka wata’ala berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَام إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبصير

Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kekuasaan) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (al-Isra’ : 1).

Sejak tahun 16 Hijriah saat Amirul Mu’minin Khalifah Umar bin Al Khattab – radhiyallahu anhu membebaskan kota Al-Quds Yerusalem dan kota itu berada di pangkuan kaum muslimin , maka ia menjadi barometer kejayaan atau keterpurukan umat Islam

Kapan Al-Quds berada dalam genggaman kekuasaan kaum muslimin, maka itu tanda kejayaan umat ini, dan kapan ia berada dalam kekuasaan kuffar maka itu tanda keterpurukan umat ini . Demikian senantiasa dalam putaran roda sejarah.

Tahukah kita bahwa Al-Quds termasuk Masjidil Aqsa di dalamnya pernah dikuasai kaum salibis selama hampir 90 tahun , yaitu dari tahun 492 – 583 H / 1099 – 1187 M.

Selama itu sebagian dari Masjidil Aqsa mereka jadikan kandang kuda, sebagian catatan sejarah mengatakan mereka jadikan kandang babi .
Izzah dan kemulian kembali diraih kaum muslimin setelah perjuangan panjang Nuruddin Az Zangki
Yang dituntaskan Shalahuddin Al Ayyubi – rahimahumullah dengan merebut kembali Al-Aqsa .

Kaum Muslimin Rahimakumullah…
Setelah beratus tahun pembebasan itu ternyata pada tahun 1948 M muncul kaum Zionis Yahudi yang berlindung dibawah bendera penjajah Israel dengan dukungan penuh negara Amerika, Inggris dan negara- negara Barat. Berdirilah negara Zionis ini, menjajah tanah suci Al-Quds dengan segala kekejaman yang tidak bisa dibayangkan oleh nurani manusia ..
Allahul Musta’an

Sungguh kenyataan sejarah yang menyakitkan, namun kondisi ini justru membangkitkan perlawanan yang heroik dari anak- anak Palestina dan putera- putera Al Aqsha hingga menjadi momok yang sangat menakutkan bagi penjajah Zionis ini.

Hari ini mereka demikian pongah dengan angkuh hendak menjadikan Al-Quds sebagai Ibukota negara lacur Zionis Israel .
Sesungguhnya mereka sedang menggali kuburannya sendiri. Lihatlah biiznillah peristiwa ini.
Akan menjadi titik balik sejarah, yang akan membangkitkan para “shalahuddin” yang akan datang semua penjuru dunia
أقول قولي هذا و أستغفر الله لي و لسآئر المسلمين إنه هو الغفور الرحيم


Khutbah Kedua

الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على أشرف المرسلين و على آله و صحبه أجمعين ، أما بعد
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
jika menengok sejarah saat para Sahabat Rasulullah memimpin penaklukan negeri Syam termasuk Palestina hingga berakhirnindah dengan penaklukan Al Quds dengan penuh damai dan aman .
Kita mungkin bertanya, mengapa hari ini kemenangan itu seakan “terlambat”??

Jawabannya, mungkin ini adalah ujian dari Allah kepada kaum
Muslimin … atau mungkin ada yang kurang dalam keislaman kita hingga pertolongan dan kemenanfan belum tiba …
Saat shaluhuddin memeriksa pasukan dan mendapati mereka tekun tilawah Al Quran dan shalat malam , maka keyakinan akan membuncah pada hatinya .

Ya, kemenangan hanya dapat diraih dengan pertolongan Allah , dan pertolongan Allah akan turun saat kita teguh menjalankan agamanya
‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Artinya: “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)

‎وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
Artinya: “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj : 40)
‎وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
Artinya: “dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya. Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hadid: 25).
Ayat ini mengisyaratkan bahwa pertolongan Allah menagih perjuangan dan pengorbanan kita dengan tenaga , keringat dan darah.

Allahu Akbar
Akhirnya marilah dihari yang mulia ini kita sisihkan hati kita untuk al-Aqsa, untuk Al-Quds dengan doa kepada pemiliknya yang sejati Allah Rabbul Izzati untuk menjaganya dan mengembalikannya seutuhnya kepada kaum muslimin, ummat terpilih yang mewarisi tanah suci. [sym]

Cinta Rasul, Ini Buktinya


cinta Raul bagian  dari iman. Bahkan termasuk prasyarat meraih kesempurnaan iman. Artinya tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia menempatkan cinta Rasul sebagai cinta tertinggi. Takkan sempurna Iman seorang hamba sebelum menjadikan Rasul sebagai sosok yang paling ia cintai melebih kecintaan pada segala sesuatu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tegaskan hal ini melalui sabdanya;
والذي نفسي بيده لايؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من نفسه وماله وولده والناس أجمعين”. [البخاري[
Demi Dzat yang jiwaku berada di Tanga-Nya, tidak beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya melibihi (cintanya) pada diri, harta, dan anaknya, serta seluruh manusia” (HR. Bukhari).

Hadits di atas menunjukan bahwa bukti iman adalah mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mebilihi kecintan terhadap diri, harta, anak serta apa dan siapapun dari kalangan manusia. Orang beriman yang sejati selalu menempatkan cinta kepada Rasul pada posisi cinta tertinggi. Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebut cinta kepada Rasul sebagai kewajiban yang harus ditunaikan setiap Muslim terhadap Rasul. Sebab hal itu merupakan hak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana ditunjukan oleh firman Allah Ta’ala dalam surah At-Taubah ayat 24;

﴿ قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لًا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ ﴾ (سورة التوبة، الآية 24).
Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS: At-Taubah Ayat: 24)

Menurut Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahAyat yang mulia ini merupakan dalil paling agung yang menunjukan wajibnya mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mendahulukan kecintaan pada keduanya atas segala sesuatu”. (Taisir Karimirrahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hlm.332).

Selain itu, menurut Syekh As Sa’di, “Ayat ini juga menunjukkan ancaman keras (wa’id syadid) dan celaan yang keras terhadap orang yang lebih mencintai hal-hal yang disebutkan dalam ayat tersebut (ayah, anak, saudara, istri-suami, harta kekayaan, aset bisnis, rumah) dari Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya”. (hlm.332).

Perkatan Syekh As-Sa’di di atas senada dengan pendapat ahli Tafsir lainnya karena tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama tentang maksud ayat tersebut. “Dalam ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan wajibnya mencintai Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama dalam masalah ini. Dan yang demikian itu harus lebih didahulukan di atas segala sesuatu yang dicintai”, jelas Imam Al-Qurthubi.

Bahkan takkan pernah sempurna iman seorang hamba selama ia masih lebih mencintai dirinya, anak, dan orang tuanya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amirul Mu’minin Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; Wahai Rasulullah; sungguh, engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu, kecuali diriku”. Artinya Umar masih lebih mencintai dirinya dari Nabi. Tapi beliau masih lebih mencintai Nabi dari orang lain). “Tidak”, kata Rasul. “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya (demi Allah), (anda tidak beriman) hingga aku lebih kau kamu cintai dari dirimu”, lanjut Rasul. “Sekarang engkau sungguh lebih aku cintai dari diriku”, kata Umar. Nabi mengatakan, “Sekarang (telah benar cintamu padaku) wahai Umar”.
Kecintaan pada Rasul akan menjadi sebab berkumpul bersama beliau di surga kelak. Karena setiap orang akan dikumpulkan bersama yang dicintainya. Seorang pria datang kepada Nabi bertanya tentang ‘kapan’ kiamat. Tapi Rasulullah balik bertanya kepada pria itu. “Apa yang anda siapkan untuknya?” “Tidak ada apa-apa, kecuali cintaku kepada Allah dan Rasul-Nya”, jawab pria itu. “anda akan bersama dengan yang anda cintai”, janji Rasul.
Ini merupakan keutamaan yang agung. Kita dapat dikumpulkan bersama Nabi di surga meski tidak mampu beramal seperti beliau. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, beliau sangat bahagia dan senang mendengar, “setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya”. “saya tidak dapat beramal seperti Rasulullah, Abu Bakar dan Umar”, aku Anas.”Tapi dengan cintaku pada mereka, aku berharap dapat dikumpulkan bersama mereka di surga nanti”, harapnya. Hal yang sama diungkapkan pula oleh Imam Syafi’i rahimahullah. Beliau mengatakan;
Aku mencintai para shalihin, meski aku tidak termasuk (bagian) dari mereka
Semoga dengan cintaku pada mereka, aku peroleh syafa’at

Jika manusia sealim dan se-shaleh Anas bin Malik dan Imam Syafi’i masih berharap syafa’at melaui cinta pada orang Shaleh, maka orang sekelas kita lebih butuh lagi. Oleh karena itu, mari tumbuhsuburkan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabanya serta orang-orang shaleh lainnya.

Bukti Cinta Rasul
Lalu dengan Apa dan Bagaimana Membuktikan Cinta Kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Diantaranya;
Pertama; Membenarkan (tashdiq) berita dan informasi yang Nabi kabarkan.
Kedua, Mentaati perintahnya,
Ketiga, Meniggalkan larangannya,
Keempat, Tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan mengikuti syariat dan sunnahnya.
Keempat poin tersebut tercakup dalam Ittiba’ (mengikuti) dan iqtida (meneladani) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
(Ditulis kembali dari tulisan yang pernah dipublish di: http://wahdah.or.id/kewajiban-mencintai-rasulullah-shallalahu-aaihi-wa-sallam, pada tanggal 9/1/2015. /)

Dihina Ade Armando, Ini Tanggapan Kyai Didin Hafidhuddin

Dihina Ade Armando, Ini Tanggapan Kyai Didin Hafidhuddin

(Bogor)-wahdahjakarta.com– Kamis (07/12) pukul 05.18 Ade Armando menulis pada Fans Page pribadinya; @adearmandosesungguhnya ujaran kebencian terhadap ulama Bogor KH. Didin Hafidhuddin. Ade yang berprofesi sebagai dosen UI ini lancang menyebut Kyai Didin Hafidhuddin sebagai dosen busuk dan buruk. “Bapak adalah dosen busuk dan buruk”, tulis Ade.

Ade Armando yang di profil FP nya menyebut diri sebagai toilet umum dan jurnalis juga menyebut Kyai Didin cengeng dan dungu. “Jangan malah cengeng dan kasih imbauan tolol untuk bermusuhan dengan non Muslim”, imbuhnya.

Menanggapi penghinaan ini Kyai Didin menyatakan bahwa beliau tidak marah dan tidak tersinggung dengan penghinaan tersebut. “Sehubungan dengan kata-kata yang dilontarkan saudara Ade Armando pada diri saya, maka ingin saya sampaikan bahwa saya sama sekali tidak tidak marah dan tidak tersinggung dengan penghinaannya itu karena yang dihina adalah pribadi saya”, ujarnya melalui pesan Wahatsapp.

“Kita wajib marah ketika agama yang dihina atau ketika Alquran dinista atau ketika ajaran atau syariat Islam yang dilecehkan”, lanjut guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Penghinaan Ade kepada Kyai Didin melalui tulisannya di FP yang mempertanyakan makna kata kafir pada imbauan Kyai Didin yang mengajak ummat Muslim berhenti berbelanja di tempat orang kafir. “Siapa yang Bapak maksud sebagai ‘kafir’?”, tulis Ade dengan nada tanya.
Atas penghinaan ini pula Ade mendapat kecam dari para netizen yang membanjiri laman komentar Fans Page pribadi @adearmandosesungguhnya. [sym]

Meneguhkan Nikmat Persatuan


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ﴿١٠٣﴾

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Qs. Ali Imran:103).

Berpegang Teguhlah Pada Tali Allah
Setelah menyuruh orang beriman untuk bertakwa kepadaNya dengan sungguh-sungguh dan melarang mereka mati kecuali mati di atas Islam, Allah menyuruh mereka untuk berpegang teguh dengan tali Allah. Apa itu tali Allah. Menurut para Mufassir, makna tali Allah dalam ayat di atas adalah Islam, al-Qur’an, dan As-Sunnah.
Imam Abul Fida Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi ad Dimasyqi menyebutkan dua makna habl (tali) Allah dalam ayat di atas, yakni ‘ahd (janji) Allah dan Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai tali Allah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir, “Kitabullah (al-Qur’an) merupakan tali Allah yang teruntai dari langit ke bumi”. (Tafsir Al-Qur’an al-‘Azdim, 1/533).

Buya Hamka menambahkan As-Sunnah sebagai bagian dari makna tali Allah. “Apa yang disebut sebagai tali Allah sudah terang pada ayat di atas tadi, ialah ayat Tuhan yang dibacakan kepadamu, tegasnya Qur’an. Berjalin-berkelindan dengan Rasul yang ada diantara kamu. Yaitu sunnahnya dan contoh bimbingannya”, jelasnya pada juz 4 hlm. 37 Tafsir Al-Azhar.
Jadi, jelaslah bahwa maksud perintah ‘’Berpegang teguhlah dengan tali Allah” adalah berpegang teguhlah kepada wahyu Allah, yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berpegang Teguhlah Kepada Tali Allah= Bersatulah
Perintah untuk beri’tisham (berpegang teguh) kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam ayat di atas juga mengandung perintah untuk bersatupadu. Sebagaimana dikatakan oleh Buya Hamka rahimahullah. “Di sini ditegaskan, bahwa berpegang pada tali Allah itu kamu sekalian artinya bersatu padu. Karena kalau pegangan semuanya sudah satu, maka dirimu yang terpecah belah itu sendirinyapun menjadi satu”. “Lalu dikuatkan lagi dengan lanjutan ayat, “Dan janganlah kamu bercerai berai”.

Hal ini sekaligus menunjukan bahwa persatuan sejati hanya tegak di atas komitmen terhadap tali Allah, yakni al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Sebaliknya mengabaikan al-Qur’an dan As Sunnah akan menghantarkan kepada perpecahan, perselisihan, dan percerai beraian. Oleh karena itu pula, Allah menyuruh merujuk dan kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ketika terjadi perbedaan. Sehingga dengan demikian, perbedaan yang terjadi tidak sampai menjerumuskan kepada perpecahan.

Akan tetapi tak dapat dinafikan, kadar komitmen masing-masing bertingkat-tingkat. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah, dalam surah Fathir [35] ayat 32, “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (terj. Qs. Fathir:32). Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa para pewaris Kitabullah bertingkat-tingkat berdasar kadar dan tingkat komitmen mereka. Ada yang (1) dzalim linafsih, (2) muqtashid, dan (3) sabiqun bil khairat. Ketiganya diakui sebagai pewaris kitab yang memiliki hak ukhuwah dan persaudaraan.

Jangan Berceraiberai
Wa la tafarraqu (jangan bercerai berai)”, maksudnya “Allah menyuruh mereka untuk berjama’ah dan melarang mereka berpecah”, demikian dikatakan Imam Ibn Katsir. “Di sini tampak pentingnya jama’ah”, kata Buya Hamka. Karena, “Berpegang pada tali Allah sendiri-sendiri tidaklah ada faedahnya, kalau tidak ada persatuan antara satu dengan yang lain. Di sinilah kepentingan kesatuan komando, kesatuan pimpinan. Pimpinan tertinggi ialah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam”, lanjut Buya. (Juzu’ IV, hlm. 37).

Jama’ah dan ijtima’ penting dan dibutuhkan dalam meneguhkan komitmen terhadap tali Allah yang dimaksud dalam perintah di atas. Karena perkumpulan (baca:persatuan) kaum Muslimin di atas (dasar) Agama mereka dan persatuan hati-hati mereka dapat memperbaiki urusan Agama dan dunia mereka. Dengan persatuan mereka dapat melakukan banyak hal dan meraih maslahat yang hanya dapat diraih melalui persatuan dan tidak dapat diraih bila mengabaikannya, seperti saling ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan dan takwa. Sebaliknya, perpecahan dan permusuhan dapat merusak nidzam (keteraturan), memutuskan ikatan hubungan satu sama lain diantara mereka. Sehingga masing-masing bekerja menurut kesenangan dirinya meskipun menimbulkan mudharat secara umum.

Oleh karena itu persatuan dan kebersamaan merupakan suatu sikap terpuji yang diridhai Allah. Sebaliknya perselisihan, peceraiberaian, dan perselihian dimurkaiNya. Sebagaimana diterangkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallanu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah meridhai pada kalian tiga perkara dan memurkai tiga perkara; Dia meridhai kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan seseuatu apapun, kalian semua berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah, serta (meridhai kalian) bernasehat kepada orang yang diserahi urusan kalian oleh Allah (pemimpin). . . “. (terj. HR. Muslim)

Persatuan Itu Nikmat, Perselisihan Itu Laknat
Nikmat Persatuan dan kesatuan hati sesama Muslim merupakan nikmat dan karunia Allah yang sangat besar. Bila terus dipupuk dan dibina akan mendatangkan rahmat dan keberkadan dari Allah. Sebaliknya, perselisihan, perpecahan, perceraiberaian dan semacamnya adalah bala dan bencana. Bila dibiarkab terus menerus akan menyebabkan datangnya laknat Allah. Akan menghalangi turunnya rahmat dan pertolongan Allah. Hal ini telah diperingatkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Taatilah Allah dan RasulNya, serta janganlah berbantah-bantahan yanng menyebabkan kalian gentar dan hilang kekuatan kalian”. (terj. Qs. Al-Anfal:46).

Oleh karena pada pertengahan ayat, setelah menyuruh untuk berpegang teguh kepada tali Allah dan melarang bercerai berai, Allah mengingatkan nikmat persatuan yang dikaruniakanNya. “Dan ingatlah olehmu nikmat Allah atas kamu; ketika kamu sedang bermusuh-musuhan telah dijinakan-Nya antara hati kamu masing-masing.” Ini adalah kondisi bangsa Arab sebelum diutusnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Antara Aus dan Khazraj terlibat perang dan dendam kesumat.

Namun setelah kedatangan Nabi mereka dipersaudarakan oleh ikatan Iman dan Islam. Mereka masuk Islam sehingga mereka menjadi saudara yang daling mencintai di bawah naungan keagungan Allah, terikat dan terhubung satu sama lain karena Allah, serta saling saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. (Lih. Tafsir Ibn Katsir, 1/534).
Itulah satu nikmat paling besar”, kata Buya Hamka. “Sebab perpecahan, permusuhan, dan berbenci-bencian adalah sengketa dan kutuk yang sangat menghabiskan tenaga-jiwa”, lanjutnya. Oleh karena itu Allah mengingatkan, “Sehingga dengan nikmat Allah kamu menjadi bersaudara.” Apakah nikmat yang paling besar daripada persaudaraan sesudah permusuhan? Itulah nikmat yang lebih besar dari pada emas dan perak. Sebab, nikmat persaudaraan adalah nikmat dalam jiwa. Bahkan andaikan kita menafkahkan seluruh kekayakan yang ada di bumi demi menyatukan hati-hati manusia, takkan bisa ta npa rahmat karunia Allah (Lihat. Qs. Al-Anfal ayat 63).

Bagai di Tepi Neraka
Saking buruknya dampak perpecahan dan perceraiberaian Allah gambarkan bahwa percecahan yang terjadi sebelum datanganya nikmat persatuan dari Allah seolah berada di tepi lobang neraka. “Padahal kamu dahulu telah di pinggir lobang nerak”. “Sebelumnya berada di tepi jurang neraka disebabkan oleh kekafiran mereka, lalu Allah selamatkan mereka dengan memberihidayah Iman“. (Tafsir Ibn Katsir, 1/534).

Sementara Buya Hamka memaknai neraka dalam ayat tersebut dengan, ”neraka perpecahan, neraka kutuk-mengutuk, benci-membenci, sampai berperang bunuh-membunuh”. “Namun kamu telah diselamatkanNya dari dalamnya.” Dibangkitkan Allah kamu dari dalam neraka jiwa itu, ditariknya tangan kamu, sehingga tidak jadi jatuh, yaitu kedatangan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya Tuhan (Allah) berfirman di ujung ayat, “Demikianlah Allah menyatakan kepada kamu tanda-tanda-Nya supaya kamu mendapat petunjuk.” (ujung ayat 103).
Maka semua anjuran yang tersebut di atas itu disebutkan sebagai tanda-tanda (ayat-ayat) atau kesaksian tentang kekuasaan Allah. Tentang peraturan dan sunnah Allah (natuurwet) di alam ini. Bahwasanya persatuan dari manusia yang sepaham bisa menimbulkan kekuatan yang besar”.

Kesimpulan
Oleh karena itu upaya membina persatuan dan persaudaraan hendaknya dibarengi dengan usaha sungguh-sungguh membina iman serta meningkatkan komitmen berpegang teguh terhadap Dinul Islam dengan selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan As Sunnah. Namun adanya kekurangan pada kadar komitmen saudara sesama Muslim terhdap al-Qur’an dan As Sunnah tidak sepantasnya menjadi alasan untuk tidak mengupayakan persatuan dan persaudaraan di kalangan kaum Muslimin. Upaya membina persatuan harus berkait kelindan dengan kerja keras membina ummat untuk belajar serta mengamalkan al-Qur’an dan As Sunnah. Dalam hal ini berlaku kaidah, ma la yudraku kulluhu la yutra ku kulluhu, sesuatu yang tidak dapat dicapai seluruhnya maka tidak ditinggalkan seluruhnya. Wallahu a’lam. [sym]

Rahmat dan Karunia Terbesar Itu Adalah Al-Qur’an

 

Rahmat dan Karunia Terbesar Itu Adalah Al-Qur’an . Sebab ia mengandung unsur penting yang dibutukan manusia dalam menjalani kehidupan dunia ini, yaitu (1) ma’idzah (nasehat dan pengajaran), (2) syifa (penawar dan penyembuh) berbagai penyakit dalam dada, (3) huda[n] (petunjuk), dan (4) rahmat.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٧﴾ قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ ﴿٥٨﴾

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan“. (Qs. Yunus;57-58).

Ketika kaum Muslimin berhasil membuka negeri Iraq pada masa pemerintahan Amirul Mu’minin radhiyallahu ‘anhu, mereka memperoleh berbagai ghanimah (rampasan perang). Ketika kharaj Iraq diserahkan kepada Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu sebagai Khalifah, beliau keluar bersama budaknya untuk menerima Kharaj tersebut. Beliau mulai menghitung Onta hasil rampasan perang yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash ini ternyata jumlahnya sangat banyak, sembari menghitung beliu terus menggumamkan puji dan syukur pada Allah. “Alhamdulillah Lillahi Ta’ala”, ucapnya. Menyambut sikap ini beudak beliau mengatakan, “Ini adalah fadhl (karunia) Allah dan rahmat-Nya”. “kamu berdusta”, sambut Umar. “Bukan ini”, lanjutnya. Karunia dan rahmat Allah yang sesungguhnya adalah yang dikatakan oleh Allah, “katakan………” (membaca surah Yunus ayat 58).
***
Fragmen di atas dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir al-Qur’an al-Adzim ketika menjelaskan tafsir ayat 57-58 surat Yunus yang dibahas dalam tulisan ini. Melalui penggalan kisah ini pula Amirul Mu’minin mengajari kita bagaimana menempatkan perbandingan antara kekayaan materi dengan karunia Allah berupa nimat Al-Qur’an pada posisi yang adil. Bahwa nikmat al-Qur’an lebih baik dari berbagai sisi dibanding seluruh perbendaharaan dunia dengan segala pernak-perniknya yang fana dan akan hilang.

Oleh sebab itu Allah menyuruh Nabi-Nya untuk bergembira dengan karunia al-Qur’an tersebut, sebab ia mengandung unsur penting yang dibutukan manusia dalam menjalani kehidupan dunia ini, yaitu (1) ma’idzah (nasehat dan pengajaran), (2) syifa (penawar dan penyembuh) berbagai penyakit dalam dada, (3) huda[n] (petunjuk), dan (4) rahmat.

Mau’idzah; Nasehat dan pelajaran
Inilah unsur dan siafat pertama yang dikandung oleh al Qur’an yang disebutkan pada ayat di atas. Mu’idzah, Secara harfiah, berarti nasehat dan pelajaran. Penulis Kitab At-Tafsir al-Wajiz (hlm.216) menyebutnya sebagai nasehat yang mendalam dan menyentuh serta mengandung wasiat (pesan) untuk melakukan kebaikan dan mengikuti kebenaran serta menjauhi keburukan dan kebatilan.

Menurut Imam Ibnu Katsir, makna Qur’an sebagai nasehat dan pelajaran adalah, “zajir ‘anil fawahisy; melarang dari perbuatan keji”. (Tafsir Al-Qur’an al-‘Adzim, 3/1380). Syekh As Sa’di menambahkan penjelasan yang lebih rinci tentang makna mau’idzah yang diperankan oleh al-Qur’an, yakni menasehati dan memperingatkan dari berbagai amal perbuatan yang mengundang murka Allah dan berkonsekuensi pada turunnya adzab-Nya dengan disertai penejelasan akan dampak buruk dan mafsadat dari perbuatan tersebut”. (Lih, Tafsir As Sa’di, hlm. 213-214).

Sebagai kalamullah atau kitab suci yang bersumber dari Allah Rabbul ‘alamin, metode yAl-Qur’an dalam menasehati dan mengajari manusia untuk melakukan kebaikan, mengikuti kebenaran, serta meninggalkan perbuatan buruk dan keji yang mengundang murka, siksa dan adzab Allah adalah metode yang sesai dengat tabiat dan kecenderungan jiwa manusia. Yakni melalui tadzkir (peringatan), targhib (motifasi), dan tarhib (ancaman), sebagaimana dikatakan oleh para Ahli Tafsir diantaranya Imam Ath-Thabari, Asy-Syaukani, Az Zuhali, dan yang lainnya.

Selain dalam ayat ini, fungsi dan peran al-Qur’an sebagai mau’idzah diterangkan pula dalam ayat lain diantaranya surat Ali Imran ayat 138 dan An-Nur ayat 34;

هَٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٨﴾

(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Qs. Ali Imran[3]: 138).

وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ آيَاتٍ مُّبَيِّنَاتٍ وَمَثَلًا مِّنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٣٤﴾

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (Qs. An-Nur[24]:34).

Unik dan menariknya dalam dua ayat ini (3:138, dan 24:34) fungsi dan peran Qur’an sebagai nasehat dan pelajaran dikaitkan dengan takwa. Allah berfirman, “dan mau’idzah bagi orang-orang yang bertakwa”. Hal ini menujukan secara tegas bahwa hanya orang-orang bertakwa yang dapat menerima nasehat dan mengambil pelajaran dari Al-Qur’an. Sebagaimana petunjuk al-Qur’an juga hanya dapat diraih oleh orang-orang bertakwa. Karena Allah telah tetapkan bahwa al-Qur’an merupakan, “huda[n] Lil Muttaqin; petunjuk bagi orang-orang bertakwa”.

Syifa’ ; Penawar dan Penyembuh
Sifat al-Qur;an yang disebut kedua dalam ayat di atas adalah asy-Syifa. Penawar atau penyembuh bagi (penyakit) yang ada di dalam dada. Menurut para Mufassir bahwa makna dada dalam ayat ini adalah hati. Sehingga mereka menafsirkan bahwa fungsi dan peran Al Qur’an sebagai syifa’ (penawar dan penyembuh) adalah, “obat penyembuh dari penyakit syubhat dan keragu-raguan”. (Tafsir Ibn Katsir,3/1380). Artinya, “Al-Qur’an menghilangkan berbagai kotoran (rijs) dan daki yang ada di dalamnya”.

Senada dengan Ibnu Katsir, Syekh As Sa’di juga mengatakan bahwa, “Al-Qur’an ini merupakan penawar bagi penyakit yang ada di dalam dada (hati) berupa penyakit-penyakit syahwat yang menghalangi ketundukan pada Syariat dan (penyembuh) dari penyakit syubhat yang menggerogoti ilmu dan keyakinan. Karena di dalam al-Qur’an ini terdapat mau’idzah (nasehat dan pelajaran), targhib wat tarhib(motifasi dan gertakan), wa’d wal wa’id (janji dan ancaman) yang (kesemua itu) membuat seorang hamba memiliki sikap raghbah dan rahbah. (Tafsir As Sa’diy, hlm. 367).

Jadi syifa yang dikandung oleh Al-Qur’an meliputi kesembuhan bagi (penyakit) hati berupa syubhat, jahalah (kebodohan), pendapat atau pandangan yang keliru (al-ara al-fasidah), penyimpangan yang buruk, serta maksud dan tujuan yang jelek. (hlm.465). Al-Qur’an adalah obat semua penyakit hati tersebut. “Karena Al-Qur’an mengandung ilmu yang meyakinkan yang menghapuskan setiap kerancuan (syubhat) dan kebodohan (jahalah). Selain itu al-Qur’an juga mengandung nasehat dan peringatan yang menghapuskan setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah”. (hlm.465).

Dari penjelasan Ibn Katsir dan Syekh As Sa’di di atas disimpulkan, kata ‘’syifa lima fis Shudur” mencakup makna bahwa al-Qur’an adalah penyembuh bagi apa yang ada di dalam hati dan jiwa manusia berupa penyakit syahwat dan syubhat yang merupakan bibit utama penyakit hati. Buya Hamka mengistilahkannya dengan, “Sesuatu kumpulan dari resep-resep rohani”, (Tafsir Al-Azhar, 11/237).

Meskipun demikian tak dapat dinafikan pula bahwa fungsi dan peran Al Qur’an sebagai penyembuh juga mencakup penyakit fisik atau badan, sebagaimana dikandung oleh keumuman kata syifa dalam ayat lain yang juga menyebukan fungsi al-Qur’an sebagai syifa. Selain ayat ini ada beberapa ayat lain yang menyebut al-Qur’an sebagai syifa’ yaitu; surah Al-Isra ayat 82 dan Fushilat ayat 44. Dalam al Isra disandingkan rahmat, dan dalam surat Fushilat disandingkan dengan petunjuk (hudan).

Syekh As-Sa’di ketika menafsirkan kata Syifa pada kalimat, “katakan, bagi orang beriman al-Qur’an itu adalah huda (petunjuk) dan syifa (penyembuh)” mengisyaratkan bahwa kesembuhan melalui al-Qur’an mencakup penyakit badan (amradh badaniyah) dan penyakit hati (amradh qalbiyah). Proses dan cara penyembuhan penyakit badan dengan al-Qur’an disebat dengan ruqyah. Mengobati suatu penyakit dengan bacaan al-Qur’an bukan sesuatu yang baru. Sebab para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah seorang yang keracunan hewan berbisa dengan bacaan surat Al-Fatihah.

Penunjuk dan Pemandu Jalan
Dalam ayat ini al-Qur’an disebut juga sebagai hudan yang berarti petunjuk. Al-Qur’an adalah pemandu atau pelopor, untuk menempuh semak belukar kehidupan ini , supaya kita jangan tersesat. Sebab baru sekali ini kita datang ke dunia ini . Jangan sesat dalam i’tikad dan kepercayaan , jangan salah dalam amal dan ibadat. (Tafsir Al-Azhar, 11/239).
Menurut Ibnu Syekh As Sa’di makna hudan adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Artinya al-Qur’an (sebagaimana dikatakan oleh Buya Hamka) adalah panduan, pedoman, petunjuk untuk mengenali kebenaran sekaligus panduan dan tuntunan dalam mengamalkan kebenaran tersebut. Sebab Al-Qur’an menuntun ke jalan yang lurus dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat sehingga mereka yang berpedoman dengan al-Qur’an memperoleh hidayah sempurna dari Allah Ta’ala.

Bila kita amati ayat-ayat yang menyebutkan al-Qur’an sebagai hudan (petunjuk) kita temukan bahwa bahwa al-Qur’an kadang disebut sebagai hudan Lin Nas (petunjuk bagi manusia), atau petunjuk bagi orang-orang beriman, atau hudan Lil Muttaqin (petunjuk bagi orang bertakwa). Pada asalnya al-Qur;an merupakan petunjuk bagi seluruh manusia, akan tetapi orang-orang kafir tidak mengindahkan petunjuk al-Qur’an sehingga mereka tidak memperoleh sama sekali manfaat al-Qur’an. Bahkan bagi orang kafir al-Qur’an justru menambah kerugian mereka karena sikap durhaka mereka terhadap al-Qur’an.

Rahmat
Fungsi keempat bagi al-Qur’an adalah sebagai rahmat, yaitu karunia berupa kasih sayang, kebaikan, dan pahala di dunia dan akhirat. Menurut Buaya Hamka ini hasil dari urutan tiga pertama (mau’idzah, syifa’, dan huda[n]). Menurutnya bila ajaran Allah dipegang teguh, al-Qur’an dijadikan sebagai obat hati penawar dada, dan dijadikan petunjuk dalam perjalanan hidup, pasti akan merasakan rahmat Ilahi bagi diri, rumah tangga, dan masyarakat.
Semakna dengan pendapat Buya Hamka di atas Syekh As Sa’di juga mengatakan bahwa bila seseorang memperoleh hidayah, maka ia berhak mendapat rahmat yang berasal dari hidayah tersebut. Sehingga ia meraih kebahagiaan (sa’dah) kesuksesan (falah), keberuntungan (ribh), keselamatan (najah), kesenangan (farh), dan kegembiraan (surur). (hlm.367).

Akan tetapi karunia Allah berupa hidayah dan rahmat kasih sayang Allah sebagai bagian dari fungsi al-Qur’an hanya diperuntukan bagi orang-orang beriman. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir, “Hal itu (hidayah dan rahmat) hanya berlaku bagi orang-orang beriman yang mengimani, mempercayai, dan meyakini al-Qur’an beserta isi kandungan yang terdapat di dalamnya” (Tafsir Ibn Katsir, 3/1380).
Artinya orang yang tidak beriman tidak akan pernah merasakan al-Qur’an sebagai petunjuk dan rahmat. Justru sebalikan bagi orang yang dzalim al-Qur’an hanya akan menambah kerugian mereka. Merugi karena tidak mendapatkan manfaat apapun dari al-Qur’an.

Berbahagialah
Allah menyertai ayat tentang empat unsur yang dimiliki oleh Al-Qur’an berupa nasehat dan pelajaran, penawar atau penyembuh, petunjuk, dan rahmat dengan perintah untuk bergembira. Allah mengatakan, “Katakan wahai Muhammad, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itulah bersukacita, itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. Maksudnya nikmat dan karunia al-Qur’an lebih pantas untuk disyukuri dan disikapi dengan bahagia karena ia lebih baik dari perbendaharaan dunia yang dikumpulakn oleh manusia”.

Oleh karena itu untuk memperoleh pelajaran, kesembuhan, petunjuk, dan rahmat dari al-Qur’an hendaknya kita mengimani, mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan al-Qur’an. Semoga Allah merahmati kita dengan al-Qur’an, menjadikannya sebagai imam, cahaya, dan rahmat bagi kita. Allahumma bil qur’an, waj’alhu lana imama[an], wa nura[n], wa huda[n], wa rahmah. [Cikempong, 22/11/2016, 02.26).
Artikel:http://wahdah.or.id