Tanya Jawab Fiqh Puasa [05]: Memiliki Hutang Puasa, Tetapi Lupa Bilangannya

Tanya Jawab Fiqh Puasa [05]: Memiliki Hutang Puasa, Tetapi Lupa Bilangannya

Pertanyaan:

Istriku memiliki kewajiban mengqadha hutang puasa beberapa hari (pada bulan Ramadan lalu), akan tetapi lupa bilangannya berapa hari persisnya. Apa yang harus dia lakukan?

Jawaban:

Alhamdulillah

Orang yang berbuka beberapa hari di bulan Ramadan karena uzur safar, sakit, haid, dan nifas diharuskan mengqadhanya.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala :

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ (سورة البقرة: (184

 

‘Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.’ (QS. Al-Baqarah: 184)

Dan diriwayatkan oleh Muslim, 335 sesungguhnya Aisyah radhiallahu anha di tanya, ‘Mengapa orang haid mengqada puasa dan tidak mengqadha shalat, beliau menjawab, “Dahulu kami mengalami hal itu, maka kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat.”

Kalau istri anda lupa bilangan hari yang menjadi tanggungannya, ragu apakah enam atau tujuh hari contohnya. Maka dia hanya wajib melakukannya enam hari. Karena asalnya seseorang tidak terkena beban kewajiban. Jika dia puasa tujuh hari sebagai kehati-hatian, maka hal itu lebih utama agar terbebas dari kewajibannya secara yakin. Kalau tidak ingat sama sekali bilangan harinya, maka dia berpuasa yang menjadi persangkaan kuat dapat membebaskan kewajibannya.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya tentang wanita mempunyai tanggungan qadha puasa Ramadan, akan tetapi dia ragu apakah empat atau tiga hari. Sekarang dia berpuasa tiga hari, apa yang harus dia lakukan?

Beliau menjawab,

“Kalau seseorang ragu mempunyai tanggungan kewajiban mengqadha, maka dia mengambil yang paling sedikit. Kalau seorang wanita atau lelaki ragu, apakah dia ada kewajiban mengqadha, tiga atau empat hari? Maka dia mengambil yang terkecil, karena yang terkecil itu yakin, sementara tambahannya itu masih meragukan. Karena pada asalnya seseorang terbebas dari (kewajiban). Akan tetapi meskipun begitu, yang lebih hati-hati hendaknya dia mengqadha hari yang meragukan ini. Jika ternyata itu memang kewajibannya, maka dia telah terbebaskan dari tanggungan dengan yakin, kalau tidak wajib, maka itu sebagai sunnah. Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang melakukan amalan kebaikan.”

[Fatawa Nurun Ala Ad-Darbi]

Penjelasan Hadits Puasa [02]: Larangan Berpuasa Pada Hari Syak

Hukum Puasa Pada Hari Syak

Dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata:

(من صام اليوم الذي يشك فيه فقد عصى أبا القاسم صلى الله عليه وسلم)

“Barangsiapa berpuasa pada hari syak (yang diragukan),maka ia telah bermaksiat (durhaka) kepada Abul Qasim shallallaahu ‘alaihi wasallam.

(Hadits ini disebutkan oleh Imam Bukhari secara mu’allaq,dan dinilai maushul oleh lima Ahli hadits, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Pelajaran Hadits

Abul Qasim adalah  gelar atau panggilan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Al Qasim adalah nama putra beliau dari istri beliau Khadijah radhiyallaahu ‘anha.

Yang dimaksud dengan hari yang diragukan dalam hadits dia atas adalah hari setelah 29 Sya’ban Disebut yaum asy Syak jika belum dapat dipastikan; apakah 1 Ramadhan telah masuk dengan terlihatnya hilal ataukah  Sya’ban dicukupkan 30 hari.

Keharaman berpuasa pada hari syak (meragukan) tersebut, disebabkan menjadi bentuk kedurhakaan kepada Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam. Karena Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa Ramadhan melainkan setelah jelas bahwa 1 Ramadhan telah masuk dengan ru’yatul hilal atau menggenapkan Sya’ban menjadi 30 hari.

Hadits di atas menunjukkan satu kaidah hukum yang menyatakan, Yang berlaku atau kuat tetap berlakunya hukum yang ada menurut keadaanya semula. Implementasi kaidah ini adalah tetapnya bulan sya’ban dan belum masuknya bulan ramadhan.  Selama  kita meyakini masih berlangsungnya bulan sya’ban dan belum adanya tanda-tanda masuknya bulan Ramadhan, artinya selama belum ada kepastian masuknya bulan Ramadhan, maka malam/hari itu masih bulan Sya’ban. Dalam hadits lain ada larangan sehari/dua hari sebelum ramadhan.

Akan tetapi boleh berpuasa pada hari tersebut (30 Sya’ban) dengan sebab dan niat yang jelas, seperti puasa Qadha, puasa Sunnah Senin dan kamis  serta puasa Daud bagi yang terbiasa melakukannya padwa bulan-bulan sebelumnya. [sym]

(Sumber: Taudhiyhul Ahkam Min Bulughil Maram dengan sedikit modifikasi ).

Tanya Jawab Fiqh Puasa [04]: Antara Niat Puasa Qadha dan Puasa Sunnah

Tanya Jawab Fiqh Puasa [04]: Antara Niat Puasa Qadha  dan Puasa Sunnah

Pertanyaan:

Suatu ketika saya sedang berpuasa qadha’ Ramadhan, akan tetapi pada siang harinya saya merasa ragu, apakah tadi saya berniat sebelum subuh atau setelah subuh ?, lalu saya rubah niat puasa pada hari itu menjadi puasa sunnah karena Allah, apakah yang saya lakukan tersebut benar atau tidak boleh ?, dan jika tidak boleh, apakah ada kaffarat atau amalan tertentu yang harus saya lakukan ?, saya berharap anda segera menjawabnya mengingat saya sangat bingung dalam masalah ini ?

Jawaban:

Alhamdulillah

Pertama:

Jika seseorang ragu-ragu dalam niatnya untuk puasa qadha, apakah dia sudah berniat sebelum subuh atau setelah subuh, maka hukum asalnya pada kondisi tersebut adalah sama saja dengan tidak ada niat, hukumnya tetap sesuai dengan hukum awalnya; karena inilah kondisi yang diyakini; karena dia meragukan keberadaan niat sebelum fajar. Jadi  yang pokok dan yang diyakininya adalah tidak adanya niat, sementara keyakinan itu tidak bisa dihilangkan oleh karagu-raguan.

Akan tetapi jika penanya di atas mengalami was was (sering ragu-ragu), maka hendaknya ia melanjutkan puasanya dengan niat puasa qadha; karena keragu-raguan jika sering terulang tidak dianggap; karena wajib hukumnya untuk tidak memperturutkan rasa was-was dan keragu-raguan, untuk menghindari kesulitan yang akan ditimbulkanya. Dan kesulitan ini bertentangan dengan syari’at Islam yang lurus dan toleran.

Seperti itu juga halnya jika keraguan itu merupakan sebuah kerisauan yang mendadak, disertai dengan dugaan kuat bahwa niatnya masih sah, atau ada indikasi bahwa anda sedang puasa qadha’ bukan lainnya, yang pada hari tersebut tidak menunjukkan adanya puasa lainnya kecuali untuk puasa qadha’.

Oleh karenanya para ulama berkata:

والشك بعد الفعل لا يؤثر * وهكذا إذا الشكوك تكثر

Keraguan setelah adanya perbuatan tidak berpengaruh apa-apa, demikian juga jika keragu-raguan itu sering dirasakan”.

Kedua:

Barang siapa yang telah memasuki puasa wajib, seperti; puasa qadha’ Ramadhan, maka tidak dibolehkan baginya untuk membatalkannya tanpa ada udzur (alasan) yang dibenarkan, seperti; karena sakit atau bepergian.

Jika dia membatalkannya –dengan adanya udzur atau tanpa udzur- maka dia wajib mengqadha’ puasa pada hari itu dengan berpuasa pada hari lain untuk mengganti hari tersebut.

Dan tidak ada kaffarat (denda) apapun dari pembatalan puasanya, baik pembatalannya karena udzur atau tidak ada udzur; karena kaffarat itu tidak diwajibkan kecuali karena berjima’ di siang hari pada bulan Ramadhan. Baca juga jawaban soal nomor: 49750

Jika seorang muslim telah merubah niatnya dari puasa qadha’ menjadi puasa sunnah muthlak (umum), maka tidak ada kaffarat apapun baginya, hanya saja dia wajib beristigfar dan bertaubat kepada Allah.

Kesimpulan:

Jika niatnya sudah ditetapkan sebelumnya untuk puasa qadha’, maka tidak boleh membatalkannya.

Akan tetapi jika hal itu dahulu sudah pernah dilakukan, maka dia wajib beristigfar dan bertaubat dan tidak ada denda apapun karenanya.

Namun jika anda ragu-ragu apakah sudah berniat untuk puasa qadha’ tadi malam atau belum, maka hukum asalnya berarti tidak ada niat sebelumnya, dan kita mengamalkan yang diyakini bahwa puasanya dianggap berniat setelah fajar, maka tetap sah sebagai puasa sunnah, hal ini jika keragu-raguan tersebut dianggap berlaku.

Adapun jika niatnya tercampuri oleh rasa was-was (sering ragu-ragu), maka hal itu merupakan keraguan yang tidak berdasar, puasa tersebut adalah puasa wajib yang tidak terpengaruh karena keragu-raguan, maka tidak boleh membatalkannya.

Dan karena anda telah membatalkannya, maka gantilah dengan berpuasa pada hari lain, jangan pernah diulangi lagi dan tidak ada denda apapun. Wallahu A’lam.

[Sumber: https://islamqa.info].

Memejamkan Mata dalam Shalat

Memejamkan  Mata dalam Shalat

Pertanyaan:
Apa hukum memjamkan mata dalam shalat?

Jawaban:
Alhamdulillah

Para ulama sepakat makruh memejamkan  mata dalam shalat tanpa ada kebutuhan. Pemilik kitab ‘Roud’ menegaskan akan makruhnya karena hal itu termasuk prilaku orangYahudi. (Roudul Murbi’, (1/95). Begitu juga pemilik kitab Manarus sabil dan Kafi serta Zad karena hal itu mengarah untuk tidur. Manarus Sabil, (1/66) Kafi, (1/285). Pemilik kitab ‘Al-Iqna’ menegaskan akan makruhnya kecuali kalau ada kebutuhan seperti takut (sesuatu) yang dilarang. Melihat budak wanita, istri atau orang asing telanjang, (Al-iqna’, 1/127) begitu juga pemilik Al-Mugni, Al-Mugni, 2/30).

Apa yang ditegaskan oleh pemilik Tuhfatul Muluk akan makruhnya tanpa melihat adanya kebutuhan atau tidak (Tuhfatul Muluk, 1/84). Kasani mengatakan,

Dimakruhkan karena menyalahi sunah. Dimana (dalam sunah) dianjurkan kedua mata memandang ke tempat sujud. Juga karena setiap anggota badan mendapatkan bagian dalam ibadah begitu juga dua mata. (Badai’ Sonai’, (1/503).

Pemilik Maroqi Falah menegaskan kemakruhannya kecuali kalau ada maslahah. Seraya mengatakan,

Terkadang memejamkan mata itu lebih utama dibanding dengan melihat. Maroqi Falah, (1/343).

Imam Al-Izz bin Abdussalam mengatakan dalam fatwanya memperbolehkan ketika ada kebutuhan. Jikalau hal itu lebih khusu’ dalam shalatnya. Sementara Ibnu Qoyim menegaskan dalam Zadul Maad bahwa seseorang kalau lebih khusu’ dengan membuka kedua matanya itu lebih utama. Kalau sekiranya memejamkan kedua mata itu lebih khusu’ karena ada gangguan yang mengganggu shalat dari ukiran dan hiasan maka tentu hal itu tidak dimakruhkan bahkan pendapat dengan anjuran menutup mata itu lebih dekat tujuan syariat serta pokok dibandingkan dengan pendapat memakruhkan. Zadul Ma’ad, (1/283) . [Sumber:https://islamqa.info/id/22174].

Tanya Jawab Fiqh Puasa [03]:  Bolehkah Puasa Qadha Pada Hari Syak?

Qadha Puasa

Tanya Jawab Fiqh Puasa [03]:  Bolehkah Puasa Qadha Pada Hari Syak?

Pertanyaan:

Saya mengetahui bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang puasa pada hari syak (meragukan, yaitu akhir bulan Sya’ban, atau sehari dua hari sebelum Ramadhan). Beliau melarang melarang puasa pada dua hari sebelum Ramadhan. Tapi, apakah boleh bagi saya melakukan puasa qadha untuk mengqadha hutang puasa Ramadhan yang lalu pada hari-hari tersebut?

Jawaban:

Alhamdulillah

Ya, dibolehkan mengqadha puasa Ramadhan yang lalu pada hari syak sehari atau dua hari sebelum Ramadhan.

Terdapat riwayat shahih bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang puasa pada hari syak dan beliau melarang berpuasa pada sehari dan dua hari sebelum Ramadan. Akan tetapi, larangan tersebut berlaku jika hari itu bukan hari yang menjadi kebiasaan seseorang berpuasa. Berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلا يَوْمَيْنِ إِلا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ  ) رواه البخاري، رقم 1914، ومسلم، رقم 1082)

Jangan dahulukan Ramadan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali seseorang yang pada hari itu dia biasanya berpuasa. Maka berpuasalah pada hari itu.” (HR. Bukhari, no. 1914 dan Muslim, no. 1082)

Apabila dibolehkan baginya puasa sunnah yang biasa dia lakukan, maka kebolehan puasa qadha Ramadhan lebih utama lagi, karena dia wajib, dan tidak boleh baginya menunda meng-qadha puasanya hingga setelah Ramadhan berikutnya.

Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab Al-Majmu’ (6/399)

“Ulama di kalangan mazhab kami berkata, ‘Tidak sah berpuasa pada hari syak (meragukan) sebelum Ramadhan. Tapi jika dia berpuasa pada hari itu untuk  puasa qadha, atau nazar, atau kaffarat, maka semua puasa itu sah. Karena, kalau  diperbolehkan baginya berpuasa sunnah pada hari itu jika memiliki sebabnya, maka puasa wajib lebih utama dibolehkan. Seperti waktu yang dilarang untuk shalat. Demikian juga, apabila dia memiliki hutang puasa Ramadan lalu, maka justeru diwajibkan baginya ketika itu, karena waktu pelaksanaan puasa qadha baginya telah sempit.”

[Sumber: https://islamqa.info]

Gelar Tabligh Akbar, Wahdah Islamiyah Maluku Utara Hadirkan Ulama Arab Saudi

Gelar Tabligh Akbar, Wahdah Islamiyah Maluku Utara Hadirkan Ulama Arab Saudi

(Ternate) wahdahjakarta.com– Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah Maluku Utara (DPW WI Malut)  yang baru  saja dikukuhkan mulai bergerak melakukan kegiatan.  Kegiatan ini adalah impelementasi atas komitmen Wahdah Islamiyah (WI) dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang lebih berkualitas.

Jumat (27/04/ 2018), WI Malut  kedatangan tamu istimewa dari Arab Saudi, yaitu  Syaikh Abdullah bin Hamd Az-Zaidani hafidzahullah. Selama di Ternate, Syaikh yang merupakan salah satu murid mendiang Syaikh Muhammad Al-Utsaimin ini diagendakan akan membawakan Tausiyah Magrib di Masjid Raya Ternate dan Tabligh Akbar di Masjid Muhajirin pada Sabtu, 28 April 2018.

Dalam taushiyahnya  di masjid Utsman bin Affan, Koloncucu Ternate pada Jum’at (27/04/2018) sore,  Syaikh menjelaskan hubungan anatara perilaku dan manusia.  Menurutnya  hubungan antara perilaku dan  manusia,   bagaikan hubungan antara makanan dan piring.  Makanan diibaratkan sebagai perilaku dan piring diibaratkan sebagai manusia. “Sebagus apapun sebuah piring jika makanan yang ada diatasnya adalah makanan yang rusak maka makanan itu tidak akan disentuh oleh orang lain,” jelasnya.

Seperti  itulah yang terjadi dengan diri manusia. “Sebagus apapun pikiran  yang disampaikan oleh seseorang  melalui ucapannya,  jika  ucapannya yang bagus itu tidak diiringi dengan perilaku yang baik (akhlak yang mulia), maka  ucapan  yang bagus itu susah untuk menyentuh hati   orang lain”, imbuhnya . “Perilaku buruklah yang menghalangi ucapan yang bagus itu menjadi berlalu begitu saja, tidak akan menimbulkan kesan positif bagi orang lain”, pungkasnya.

Beliau berpesan, “maka perbaikilah  perilaku! karena perilaku itu sangat menentukan penilaian orang lain”, imbaunya.   “Umat Islam harus menperbaiki perilakunya agar Islam yang baik  itu tidak dirusak oleh perilaku umat Islam sendiri. Umat Islam harus berusaha mensinergikan perilakunya dengan Islam”, tandasnya. (Lap: Darmawijaya/Ed: sym).

PP Salimah Gelar Silaturahim Nasional Koperasi dan Pengusaha

PP Salimah

PP Salimah Gelar Silaturahim Nasional Koperasi dan Pengusaha

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Pimpinan Pusat Persaudaraan Muslimah (PP Salimah) kembali menggelar perhelatan akbar berskala nasional. Pertemuan kali ini mengangkat tema ‘Menuju Koperasi dan UKM yang Produktif Kontributif’, Jumat sampai dengan Ahad (27 – 29/4/2018), bertempat di Hotel Grand Cempaka, Jakarta.

Dalam silaturahim nasional ini berkumpul ratusan pengurus Salimah tingkat PW (Pimpinan Wilayah), PD (Pimpinan Daerah), dan Pengurus Kossuma (Koperasi Syariah Serba Usaha Salimah).

Ketua Umum Salimah, Siti Faizah  menyampaikan, “Salimah merupakan ormas perempuan yang peduli pada peningkatan kualitas perempuan, anak, dan keluarga Indonesia. Selain memiliki program dakwah, pendidikan, sosial, juga  fokus pada program peningkatan kualitas ekonomi keluarga, antara lain dengan mendirikan lembaga otonom, Koperasi Syariah Serba Usaha Salimah (Kossuma) sebagai salah satu Lembaga Kelengkapan Salimah (LKS).”

Dalam sambutannya, Ketua Umum Salimah 2015-2020 ini menyampaikan, silaturahim Kossuma dan UKM ini dirancang dengan harapan agar keterlibatan lembaga otonom Salimah bisa optimal sesuai kapasitas dalam aksi nyata membantu masyarakat, menyumbangkan pikiran bagi peningkatan kualitas ekonomi anggota dan masyarakat.

“Menyumbangkan sebagian dari hasil usaha untuk membantu kelancaran roda organisasi, sebagai pemenuhan seruan Allah Ta’ala, ‘Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.’ (Qs. Albaqarah:267),” papar Faizah.

Menurut  Ketua Departemen Ekonomi PP Salimah Etty Pratiknyowati Kossuma didirikan sejak tahun 2006, hingga saat ini, sudah berdiri 120 Kossuma di seluruh Indonesia. “Ada beberapa yang sudah bekerjasama dan mengakses dana pembiayaan baik melalui KUR maupun LPDB,” ujar Etty.

Acara ini dibuka oleh Yuana Sutyowati, Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM. Pada kesempatan ini juga ada penyerahan bantuan pembiayaan. Diterima oleh dua UKM anggota Koperasi Salimah Sejahtera Indonesia (KSSI).

Mereka mengajuan KUR dan disetujui setelah melalui proses kelayakan usaha dan kelengkapan administrasi.  Penerima KUR tersebut adalah Reni Anggraeni. Mengajukan permohonan KUR dengan jumlah nominal 100 juta untuk mengembangkan usaha kuliner Salimah Food dan garment batik.  Sedangkan penerima KUR Syurti, mengajukan sejumlah 25 juta digunakan untuk mengembangkan usaha konveksi seragam. Dana KUR ini diperoleh melalui BRI Syariah.

KSSI juga akan menyerahkan berkas pengajuan pembiayaan syariah ke LPDB sejumlah 300 juta yang digunakan untuk mendukung usaha anggota koperasi.

Silaturahmi ini ada beberapa rangkaian acara. Jumat sore, akan dilaksanakan diskusi panel, membahas mengenai Penguatan Kelembagaan dan Jaringan Kerjasama, akses pembiayaan baik melalui KUR (Kredit Usaha Kecil) maupun LPDB (Lembaga Pengelola Dana Bergulir). Juga akan diberikan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kewirausahaan. Semua narasumber dari jajaran Deputi Kemenkop dan LPDB.

Acara lainnya adalah Seminar Wirausaha Perempuan. Digagas oleh Komunitas Enterprener Perempuan (KEP). Salah satu komunitas yang dimiliki Salimah, di bawah kendali Departemen Pendidikan. Seminar dengan judul Melejitkan Bisnis,  akan menghadirkan pembicara-pembicara profesional, Sabtu (28/4/2018).

Salimah melalui KSSI juga akan melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan BankWaqf International Malaysia. (Rilis)

Sya’ban, Gerbang  Ramadhan yang Terlalaikan

Sya’ban, Gerbang Ramadhan yang Terlalaikan

Sya’ban, Gerbang Ramadhan yang Terlalaikan

Oleh:Ustadz Muhammad Yusran Anshar, Lc, MA, Ph.D

 

Itulah bulan yang manusia lalai darinya—bulan yang berada di antara Rajab dan Ramadhan….” (HR. An-Nasa’i)

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

 

Ayyuhannas Rahimakumullah!

Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala!

Bulan Sya’ban adalah bulan ke delapan dalam Islam. Para ulama mengatakan bahwa bulan ini dinamakan Sya’ban karena berasal dari kata sya’b atau syi’b yang kadang disebut dengan lembah. Manusia berpencar untuk mencari air setelah berlalunya bulan Rajab.

Bagi kebanyakan orang Sya’ban tidak memiliki keistimewaan, namun ternyata Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam mengistimewakannya dengan melakukan berbagai amalan di dalamnya, di antaranya adalah dengan berpuasa.

Imam Ahmad dan Imam Nasai rahimahumallahu meriwayatkan dari sahabat yang mulia Usamah bin Zaid radhiyallahu anhuma, salah seorang sahabat yang paling dekat dan dicintai oleh Nabi shallallahu alaih wa sallam. Beliau memerhatikan bahwa junjungan beliau yang paling beliau cintai dan mencintai beliau, ketika datang bulan Sya’ban memperbanyak puasa. Tidak sama dengan bulan-bulan yang lain. Maka beliau bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Ada apa gerangan wahai Rasulullah sehingga Anda memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, puasa yang tidak pernah Anda lakukan sebanyak itu selain di bulan Sya’ban?”

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab pertanyaan ini dengan dua alasan.

Pertama: Beliau mengatakan

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ

Itulah bulan yang manusia lalai darinya—bulan yang berada di antara Rajab dan Ramadhan….” (HR. An-Nasa’i).

Banyak manusia yang melalaikan bulan Sya’ban. Banyak manusia yang memforsir ibadah di bulan Rajab, karena dia merupakan salah satu bulan yang diharamkan atau diagungkan oleh Allah. Lalu seolah dengan berlalunya bulan Rajab maka tiba waktu untuk beristirahat sebelum masuk bulan Ramadhan. Bulan yang nantinya mereka akan kembali mengoptimalkan ibadah di dalamnya.

Melihat fenomena ini, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ingin mengubah pandangan mereka. Sehingga beliau justru memperbanyak ibadah di bulan Sya’ban. Salah satunya adalah dengan memperbanyak puasa sunnah.

Kedua: Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan,

وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“… Dia adalah bulan yang diangkat di dalamnya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku senang jika amalanku diangkat sementara aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa bulan Sya’ban merupakan bulan di mana amal-amal shaleh diangkat dan dilaporkan kepada Allah Rabbul ‘Alamin. Dan beliau suka ketika amalannya diangkat ke langit dan malaikat membawa catatan amalannya di sisi Allah malaikat berkata, “Wahai Allah hamba-Mu Muhammad dalam keadaan berpuasa, ketika saya membawa catatan-catatan malam ini.”

Hal tersebut juga mengingatkan kita tentang alasan mengapa beliau Shallallahu alaihi wa sallam berpuasa Senin Kamis. Beliau menjelaskan alasannya adalah karena hari-hari tersebut adalah waktu diangkatnya amal-amal shaleh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bulan Sya’ban yang banyak dilalaikan ini, ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam justru memperbanyak beribadah di dalamnya dengan dua alasan tadi. Karena manusia banyak melalaikannya. Ini merupakan isyarat bahwa ketika banyak manusia yang lalai dan lupa kepada Allah pada suatu waktu, lalu ada hamba yang memanfaatkan waktu tersebut, maka hamba itu menjadi mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

Bukankah kita masih ingat bahwa di antara shalat-shalat yang begitu dianjurkan kepada kita adalah shalat lail yang merupakan shalat yang paling afdhal? Di antara alasan mengapa dia menjadi afdhal adalah karena pada waktu shalat lail itulah banyak manusia yang lalai. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلاَمَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا اْلأَرْحَـامَ، وَصَلُّوْا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ

Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahim dan shalatlah di malam hari saat manusia tertidur, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ad-Darimi).

Hadits di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa siapa yang bangkit dan beribadah pada waktu di mana kebanyakan manusia lalai, maka dia akan mendapatkan keutamaan di sisi Allah Subahanahu wa Ta’ala. Bukankah ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebutkan akan terjadinya fitnah di tengah-tengah kaum muslimin, terjadi pertempuran, pertengkaran dan seterusnya maka pada saat itu manusia akan disibukkan dengan fitnah-fitnah yang terjadi di tengah-tengah mereka, maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

العِبَادَةُ فِي الهَرْجِ كَهِجْرَةِ إلَيَّ

“Ibadah pada zaman al-harj seperti hijrah kepadaku.” (HR Muslim dan Ibnu Majah).

Bukankah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam mengatakan,

طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ

“Beruntunglah orang-orang yang terasing.” Lalu ada yang bertanya, “Siapa orang yang terasing itu wahai, Rasulullah?” Jawab beliau, “Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek. Orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang menaatinya.” (HR. Ahmad).

Maka mari kita memanfaatkan waktu ini untuk memperbanyak ibadah utamanya ibadah puasa. Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya bagaimana puasa Nabi shallallahu alaihi wasallam pada bulan Sya’ban? Beliau mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berpuasa dalam satu bulan lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Walaupun yang dimaksud dengan puasa satu bulan penuh adalah memperbanyak puasa, sebagaimana dikatakan oleh para ulama berdasarkan informasi dari istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang lainnya. Jadi dikatakan bahwa beliau berpuasa sebulan penuh karena beliau memperbanyak puasa di bulan tersebut.
Sekalipun bulan Muharram adalah bulan yang paling afdhal untuk berpuasa sunnah namun puasa sunnah yang paling banyak dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah justru di bulan Sya’ban.

Lalu apa hikmahnya?

Para ulama menyebutkan bahwa hikmah terbesar mengapa beliau memperbanyak puasa di bulan Sya’ban adalah sebagai persiapan, latihan, dan pemanasan sebelum memasuki musabaqah atau perlombaan yang hakiki. Yaitu perlombaan hamba-hamba Allah di bulan Ramadhan untuk menuju predikat yang paling tinggi bagi seorang hamba yaitu predikat takwa. Maka marilah kita memanfaatkan waktu ini untuk melatih diri kita berpuasa.

Mungkin sebagian kita, sejak perginya bulan Ramadhan yang lalu tidak lagi pernah merasakan bagaimana indahnya berpuasa karena Allah. Maka saatnya kita mencoba berpuasa di bulan Sya’ban ini agar tubuh kita tidak kaget dengan kedatangan bulan Ramadhan, di mana kita akan berlapar-lapar dan berhaus-haus karena Allah selama satu bulan penuh. Untuk itu kita jadikan Sya’ban sebagai latihan dan pemanasan bagi kita.

Para salaf memahami bahwa bukan hanya puasa yang harus kita biasakan sebelum datangnya bulan Ramadhan. Di antara ibadah yang mereka anjurkan untuk dibiasakan sejak sekarang adalah membaca Alquran. Karena Ramadhan adalah bulannya Alquran sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ ۚ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185).

Dia adalah bulan untuk membaca Alquran dan mengkhatamkannya berkali-kali, tiga kali, sepuluh kali, bahkan ada dari kalangan ulama kita yang mengkhatamkannya sebanyak enam puluh kali. Tapi tidak mungkin kita bisa membaca Al-Quran sebanyak itu, jika kita tidak pernah menyentuh Al-Quran sejak perginya Ramadhan yang lalu.

Maka bulan Sya’ban adalah bulannya membaca Alquran. Kata Salamah bin Suhail,

“Bulan Sya’ban adalah bulannya para qurro‘ (pembaca Alquran)”.

Amr bin Qais Al-Mula’i beliau bahkan menutup kedai-kedai beliau setelah datangnya bulan Sya’ban untuk mengonsentrasikan diri khusus untuk membaca Al-Quran.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia, bulan suci, bulan yang bersih. Maka mari kita bersihkan hati-hati kita dengan memperbanyak taubat kepada Allah dan menghentikan maksiat-maksiat yang selama ini kita lakukan. Bulan Ramadhan adalah bulan yang suci dan bersih, maka tidak mungkin kita sambut dengan sebaik-baiknya kecuali dengan hati yang bersih pula. Dan cara membersihkan hati adalah dengan banyak taubat kepada Allah serta memperbanyak amal shaleh, karena amal shaleh bisa menghilangkan noda-noda kemaksiatan dan dosa kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَـفًا مِّنَ الَّيْلِؕاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِؕذٰ لِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ

Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” (QS. Hud: Ayat 114).

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHOTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ ، وَحْدَهُ لَاْ شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمَاً كَثِيْرَاً

Hadirin sekalian!
Sebagai penutup! Saat ini kita berada di pertengahan bulan Sya’ban. Lalu apakah ada amalan khusus dengan datangnya pertengahan Sya’ban?
Ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا
Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud).

Hadits ini dishahihkan oleh sebagian ulama dan dilemahkan oleh sebagian yang lain. Ulama yang melemahkannya mengatakan bahwa tetap dibolehkan untuk berpuasa sunnah sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Dan sebagian ulama yang menshahihkannya mengatakan bahwa maksudnya adalah jangan memulai berpuasa di pertengahan Sya’ban sehingga orang-orang yang memulai puasanya di awal Sya’ban tidak mengapa meneruskan puasa sunnahnya.

Kesimpulannya Jamaah sekalian, ketika datang pertengahan Sya’ban maka tidak mengapa—insya Allah—bagi mereka yang ingin melakukan puasa-puasa sunnah untuk berpuasa.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah yang mengatakan bahwa malam Sya’ban adalah malam di mana Allah mengampuni seluruh hamba-hamba-Nya kecuali seorang musyrik dan seseorang yang bertengkar dengan saudaranya. Hadits ini pun dilemahkan oleh sebagian ulama dan dishahihkan oleh sebagian yang lainnya. Ulama yang menshahihkannya menjelaskan bahwa hal ini menunjukkan di antara keutamaan bulan Sya’ban dan secara khusus pertengahannya. Namun tidak ada penegasan bahwa adanya ibadah-ibadah dan amalan-amalan khusus seperti shalat-shalat dan puasa-puasa khusus yang hanya diniatkan pada pertengahan Sya’ban.

Sya’ban secara keseluruhan adalah momen untuk memperbanyak ibadah dan tidak khusus hanya di lima belas Sya’ban saja.
Tentu saja yang terpenting dari semua ini adalah kita perlu memperbanyak doa kepada Allah, karena sekalipun Ramadhan sudah sangat dekat, namun tidak ada jaminan bahwa kita masih hidup ketika hilal Ramadhan terlihat. Padahal kita begitu butuh dengan Ramadhan. Maka mari kita memperbanyak doa agar Allah kembali mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan.

Dan yang lebih penting dari itu adalah semoga kita bisa menjadi orang-orang yang memanfaatkan bulan Ramadhan dengan banyak beribadah sebagaimana yang Allah inginkan dari kita dan dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad shallallah alaihi wa sallam.

Hari jumat adalah waktu yang tepat untuk beribadah dan berdoa kepada Allah. Hari ini ada satu waktu yang kapan seorang hamba berdoa pada waktu tersebut pasti Allah akan mengabulkan doanya. Kita juga dianjurkan untuk memperbanyak shalawat serta salam kepada Nabi yang tercinta Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
اللَّهُمَّ أَعِزَّالْإِسْلَامَا وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ والْمُنَافِقِينَ وَأَعدَاءَكَ وَأَعدَاءِنَا يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا يَا أَرحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ إنَّا نَسأَلُكَ حُسنَ الخَاالخَاتِمَةِ. رَبَّنَا ارزُقنَا حُسنَ الخَاتِمَةِ يَا أَرحَمَ الرَّحِمِينَ. َرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sumber: Khutbah Ustadz. Muhammad Yusran Anshar, Lc, MA, Ph.D /http://stiba.ac.id/

Wahdah Islamiyah Bangun Sekolah Tahfidzul Qur’an di Perbatasan Bangladesh-Myanmar

Sekolah Tahfidzul Qur’an Ummatan Wahidah Wahdah Islamiyah di Bangladesh

(Bangladesh) wahdahjakarta.com – Sekolah Tahfizhul Qur’an Ummatan Wahidah Wahdah Islamiyah yang berlokasi di perbatasan Bangladesh-Myanmar tepatnya di Jadimora, Nay Para, Tekhnaf-HWY, Cox’s Bazar, Bangladesh telah resmi beroperasi sejak April 2018.

Sebanyak 20 santri sementara belajar dan fokus menghafal al-Qur’an dengan dibimbing oleh seorang muhaffizh. Sekolah dua lantai ini rencananya akan dijadikan sebagai markaz para penghafal al-Qur’an anak-anak Rohingya.

Selain menghafal para santri juga akan dibekali dengan pelajaran-pelajaran umum seperti bahasa dan materi sekolah pada umumnya. ”Saat ini mereka belajar dilantai dua. Untuk lantai satu, ke depan kami akan buat tiga kelas lagi. Kita khususkan untuk pelajaran umum dan bahasa. 20 santri yang kami terima sebenarnya masih akan terus bertambah. Karena ruangan masih tak memungkinkan untuk banyak orang, makanya hanya 20 orang yang kami terima untuk sementara waktu,” ujar ustadz Syahruddin C Asho, Direktur LAZIS Wahdah.

Beliau menambahkan, lantai satu yang masih dalam tahap perluasan ini rencananya akan dilengkapi dengan fasilitas perlengkapan sekolah (School Kids). Selain membantu perlengkapan sekolah, LAZIS Wahdah juga memberikan tunjangan kepada guru yang mengajar.

Menurut Syahruddin, fasilitas yang baik dan didukung oleh sumber daya manusia yang berkompeten di bidangnya akan menghasilkan keluaran yang baik pula.

”Salah satu program yang terus kita usung adalah program recovery untuk membangkitkan semangat dan harkat hidup para pengungsi Rohingya. Tentu kita pahami bersama bahwa sebuah bangsa yang maju peradabannya adalah bangsa yang mempunyai kepeduliaan tinggi terhadap pendidikan masyarakatnya. Insya Allah untuk sekolah reguler akan kami upayakan dua bulan ke depan.” tambahnya, Rabu (25/4). [Lazis wahdah]

***

Ayo Bantu Pembangunan Sekolah Tahfizh Rohingya di Bangladesh

💰 Donasi Pembangunan Sekolah Rohingya dapat disalurkan melalui Bank Syariah Mandiri (BSM) norek: 799 900 9004 a.n. Lazis Wahdah Care (Kode Transfer ATM Bersama: 451).

📚 Catatan
1. Demi amanah dan kedisiplinan pencatatan maka diharapkan menambah jumlah nominal 900 setiap transferan. Contoh Rp 500.900,-
2. Konfirmasi Transfer melalui WA/SMS ke +6285315900900, ketik : PSR/Nama/Alamat/Jumlah Donasi beserta photo bukti transferan.

📻 Info Kegiatan & Program LAZIS Wahdah kunjungi
Web : www.laziswahdah.com
Facebook : https://goo.gl/a2Xkh0
Instagram : https://goo.gl/nBbvTv
Twitter : https://goo.gl/lkt51n
Telegram : https://goo.gl/53rp3E

🌹 Atas partisipasi dan sedekahnya kami ucapkan “Syukran wa Jazakumullahu Khairan” dan semoga Allah melipat gandakan pahala sedekah kita.

💌 LAZIS Wahdah “Melayani dan Memberdayakan”

Tabligh Akbar Menyambut Ramadhan 1439 H

Tabligh Akbar Menyambut Ramadhan 1439 H

Tabligh Akbar Menyambut Ramadhan 1439 H

Tabligh Akbar Menyambut Ramadhan 1439 H

Meraih Gelar Taqwa di Bulan Ramadhan

Bersama narasumber:

Masjid Al-Ikhlas . Jln. Perjuangan, No. 8 RT/RW: 005/007, Kel. Tugu Selatan, Kec. Koja Jakarta Utara

Hari, Ahad 6 Mei 2018

Waktu: 08.30-Dzuhur

Narahubung:  0813 2219 5723 (Ustadz. Syarif)

Pelaksana: DPD Wahdah Islamiyah Jakarta Utara

Didukung Oleh:

  • Lazis Wahdah
  • DKM Masjid Al-Ikhlas

 

Donasi Via LAZIS Wahdah

💌 Bagi anda yang ingin turut berdonasi dapat dilakukan dengan cara :

  1. Membeli Kupon Donasi dgn harga Rp. 10.000,- / kupon yg telah disiapkan oleh Panitia.
  2. Donasi bisa disalurkan langsung ke rekening Bank Syariah Mandiri (451) 776 900 900 5 an lazis wahdah ramadhan. Tambahkan kode diakhir transfer 300. Contoh Rp 50.300,-. Konfirmasi ke nomer 08119787900 (Call/Sms/WA)
  3. Datang langsung ke Markaz Qur’an Wahdah Jakarta Selatan Jl Lenteng Agung No 01, Jagakarsa Jakarta Selatan.