Tingkatkan Kualitas Relawan, Wahdah Islamiyah Gelar Pelatihan Tanggap Bencana

Relawan Wahdah Peduli saat menjalani pelatihan tanggap darurat bencana bersama BPBD dan Basarnas Provinsi Sulawesi Selatan.

(MAKASSAR) wahdahjakarta.com – Wahdah Islamiyah bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Basarnas Provinsi Sulawesi Selatan menggelar pelatihan tanggap bencana di Aula Kantor DPP Wahdah Islamiyah, Antang, Makassar, selama dua hari berturut-turut, terhitung dari hari Sabtu (2/3/2019) hingga Ahad (3/3/2019).

Peserta dalam kegiatan ini berasal dari perwakilan DPD Wahdah Islamiyah se-Sulawesi Selatan dan umum dari lembaga internal maupun eksternal.

Ketua Tim Wahdah Peduli, Gishar Hamka mengatakan, pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta untuk melakukan perencanaan tanggap darurat.

“Penanganan bencana dan mempersiapkan tim yang solid patut ditingkatkan. Apatah lagi, selama ini Wahdah sudah terlibat dalam beberapa aksi penanganan bencana,” ujar Gishar yang juga penanggung jawab pelatihan.

Hadir pula dalam kegiatan ini, Syahruddin, Direktur LAZIS Wahdah. Dalam penyampaiannya, ia mengatakan, Wahdah perlu meningkatkan kualitas relawannya. Termasuk mempersiapkan pola kerja yang masif dan terencana.

Sebagai pemateri, Ardadi yang juga Kepala seksi Logistik BPBD Sulawesi Selatan mengatakan, koordinasi dan penanganan yang cepat, tepat, efektif, efisien, terpadu, dan akuntabel diperlukan dalam penanggulangan bencana agar dampak yang ditimbulkan dapat dikurangi.

Dalam penanggulangan bencana, tambahnya, khususnya dalam fase tanggap darurat harus dilakukan secara cepat, tepat, dan dikoordinasikan dalam satu komando.

“Kegagapan dalam penanganan dan ketidakjelasan informasi dalam kondisi darurat bencana dapat menghambat dalam penanganan kondisi darurat bencana. Situasi dan kondisi seperti ini disebabkan oleh belum terciptanya mekanisme kerja Tanggap Darurat yang baik. Keberadaan sistem yang baik akan memudahkan akses yang ada,” jelas Ardadi.

Di hari pertama, para peserta diberikan materi-materi kebencanaan. Termasuk, materi pengenalan alat-alat savety oleh pihak Basarnas.

Beberapa alat seperti tali karmantel, carabiner, ascender, descender, tandu basket dan semacamnya diperkenalkan.

“Alat-alat ini harus ada. Karena itu yang mendukung proses penyelamatan kita. Jadi, yang pertama kali harus savety ya, penyelamatnya dulu, baru korban. Dan itu perlu waktu untuk menjadi professional,” kata Darul, dari pihak Basarnas Sulsel.

Peserta juga mendapatkan pelatihan langsung di lapangan.[]

Sumber : wahdah.or.id

Masa Tanggap Darurat Longsor Bolaang Mongondow Selama 14 Hari

Proses Evakuasi korban longsor lahan tambang di
Bolaang Mongondow pada 26 Februari 2019

(SULUT) Wahdahjakarta.com – Dalam rilis online yang disebar pada Senin,(4/3/2019) kemarin melalui grup whatsapp, BNPB menginformasikan bahwa Bupati Bolaang Mongondow telah menetapkan masa tanggap darurat selama 14 hari terhitung sejak 26/2/2019 hingga 11/3/2019.

BNPB menyebut, alasan dari perpanjangan tersebut adalah sulitnya dilakukan proses evakuasi karena kondisi lubang galian yang sempit yang membahayakan petugas SAR untuk evakuasi, serta kondisi medan yang berada pada lereng yang terjal.

“Kondisi tanah labil dan tidak diketahui berapa banyak lubang yang ada, serta kondisi korban yang diperkirakan juga sudah meninggal di dalam reruntuhan longsor juga menyulitkan evakuasi. Oleh karena itu evakuasi dilakukan dengan menggunakan alat berat. Alat berat harus membuat jalan baru menuju titik longsor untuk memudahkan proses evakuasi.” Ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam rilis tersebut.

Hingga H+6 (4/2/2019) pagi pukul 07.00 WITA, tim SAR gabungan telah berhasil mengevakuasi 28 orang, dimana 9 orang meninggal dunia dan 19 orang selamat dalam kondisi luka ringan dan berat.

“Tidak ada data yang pasti berapa jumlah korbang yang tertimbun longsor. Berdasarkan laporan penambang yang selamat dan masyarakat sekitar, jumlah penambang yang saat berkerja di dalam lubang saat penambangan bervariasi. Ada yang mengatakan 30 orang, 50 orang, 60 orang, bahkan 100 orang karena saat itu banyak yang sedang menambang di lubang besar, sedang di lubang-lubang kecil tidak diketahui. Hingga saat ini laporan anggota keluarga yang hilang juga terbatas karena banyak penambang yang berasal dari luar.” Jelas Sutopo

Pada hari Ahad (3/3/2019), tim SAR gabungan telah berhasil membuka lubang yang tertutup material longsor dengan menggunakan alat berat namun belum bisa mengevakuasi korban yang masih tertimbun material. Diharapkan pada hari ini evakuasi korban dapat dilakukan.

Terakhir, Sutopo menyebut beberapa badan yang tergabung dalam proses evakuasi korban, diantaranya Tim SAR gabungan dari TRC BPBD Kabupaten Bolmong, Basarnas, SAR Kotamobagu, TNI, Polres Kotamobagu, Polsek Lolayan, DVI Polda Sulut, Koramil Lolayan, Marinir, PMI, Tagana, Satpol PP, SKPD, Rescue JRBM, relawan dan masyarakat setempat yang hingga hari ini masih terus melakukan evakuasi. Yang dikoordinir oleh Basarnas. Evakuasi dengan alat berat pun juga dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi longsor susulan. [fry]

Infomasi lajut silakan hubungi:

1.       Toni (Sekretaris BPBD Kab. Bolaang Mongondow 0853-9706-4003.

2.       Abdul Muin (Kasie Tanggap Darurat BPBD Bolmon 085397064003.

Asma Nadia, Penulis Novel Best Seller Berbagi Tips ‘Menulis Jitu Dari Hati’ di IBF 2019 Senayan

Asma Nadia, Penulis Novel Best Seller saat memberikan motivasi menulis kepada pengunjung Islamic Book Fair di panggung utama IBF 2019 Senayan

(JAKARTA) Wahdahjakarta.com – Penulis beberapa novel Best Seller, Asma Nadia saat mengisi di acara Islamic Book Fair (IBF) 2019 mengungkapkan beberapa trik atau cara agar bisa membuat tulisan yang berkesan “dari hati” dan mampu menarik pembaca. Hal tersebut disampaikan di panggung utama IBF pada Ahad (3/3/2019).

“Menulis itu sebetulnya memindahkan. Tidak hanya apa yang ada di hati, tapi juga apa yang ada di pikiran, di imajinasi dan panca indera. Itu semua kita tumpahkan dalam tulisan.” Ujarnya

Asma menyebut, untuk bisa menumpahkan perasaan terdalam ke dalam tulisan, harus rutin latihan mendeskripsikan perasaan tersebut dalam bentuk tulisan atau karangan.

“Jadi memang untuk bisa menumpahkan perasaan terdalam ke dalam tulisan, harus rajin-rajin latihan mendeskripsi. Misalnya saat patah hati, kita mendeskripsikan perasaan kita saat patah hati tersebut, maka ketika patah hati selanjutnya bahkan sampai ke-23, tulisan kita biasanya akan jadi lebih bagus.” Jelas Asma

 “Banyak membaca. Jadi buat yang mau jadi penulis, saya gak ngerti kenapa mau jadi penulis tapi gak suka membaca. Karena gurunya penulis itu adaah membaca. Kuliahnya seorang penulis itu adalah membaca, bukan orang.” Tambahnya.

Terakhir, Asma menjelaskan alasan mengenai keharusan seorang yang ingin menjadi penulis untuk membiasakan diri dalam berinteraksi dengan buku atau membaca. Menurutnya, membaca buku adalah menikmati setiap unsur-unsur yang ada dalam sebuah buku dari awal hingga akhir.

“Ketika membaca,  kita bisa menikmati proses dari opening atau dari judul ke ending, jadi kita punya pengalaman berinteaksi dengan semua unsur-unsur cerita ketika kita membaca sebuah buku dari awal hingga selesai.” Pungkasnya.

Longsor di Bolaang Mongondow, Tim SAR Terpaksa Amputasi Kaki Korban Tewas

Proses Evakuasi Korban Longsor di Penambangan Bolaang Mongondow pada 26 Februari 2019.

(BOLAANG MOGONDOW) Wahdahjakarta.com – Pasca longsor pada 26 Februari lalu, Tim SAR terus melakukan evakuasi korban yang tertimbun tanah yang merupakan pekerja di Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) di Desa Bakan, Kec. Lolayan, Kab. Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

“Evakuasi korban longsor di penambangan rakyat terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Hingga 28/2/2019 pukul 18.00 WITA, sebanyak 26 korban berhasil dievakuasi dimana 7 orang meninggal dunia dan 19 orang selamat.” Ujar Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam rilis yang diterima oleh wahdahjakarta.com via Whatsapp.

Seorang korban yang sempat dinyatakan selamat saat dievakuasi atas nama Teddy Mokodompit, warga Kotamobagu, namun akhirnya korban meninggal dunia. Korban terpaksa diamputasi kakinya karena tertimbun batu besar.

“Jika batu disingkirkan dikhawatirkan lubang tambang makin runtuh karena batu tersebut menahan bagian atas lubang.” Ujar Sutopo.

Sutopo menyebutkan, saat ini Tim SAR gabungan sedang melakukan rapat koordinasi dipimpin langsung Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas untuk mengambil langkah-langkah yang akan ditempuh dalam operasi SAR lanjutan besok.

“Ada kemungkinan untuk menggunakan alat berat tetapi masih dikoordinasikan juga dengan pihak keluarga. Mengingat sudah memasuki hari ketiga dan diduga banyak korban meninggal dunia yang belum dievakuasi  akan berdampak pada kesehatan Tim SAR Gabungan apabila masih menggunakan cara manual. Kondisi medan memang cukup berat karena di lereng dengan kemiringan cukup terjal.” Jelas Sutopo. [fry]

Sumber : Rilis Online Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho

Gempa 5,6 SR Guncang Solok Selatan, 343 Rumah Rusak dan 48 Orang Luka

Kondisi salah satu Rumah di Solok Selatan Pascagempa 5,6 SR

(SOLOK SELATAN) Wahdahjakarta.com –  Gempa 5,6 SR mengguncang kawasan kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat pada pagi tadi Kamis (28/2/2019) pukul 06.27 WIB.  

Menurut informasi dari BNPB, Gempat berpusat di darat pada kedalaman 10 km dan menimbulkan dampak 48 orang korban luka serta 343 unit rumah rusak.

“Hingga kini, pemerintah daerah, TNI, Polri dan mitra kerja setempat masih terus melakukan upaya penanganan darurat.” Ujar Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat menginformasikan selain korban luka-luka dan kerusakan unit rumah, gempa juga menyebabkan kerusakan pada fasilitas sekolah, peribadatan dan kesehatan.

Tampak dalam kerusakan Rumah warga di Solok Selatan akibat gempa.

Dampak gempa bumi mencakup 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Sangir Balal Janggo (Nagari Sungai kunyit, Sungai Kunyit Barat, Talunan Maju), Kecamatan Sangir Batang hari (Nagari Ranah Pantai Cermin), dan Kecamatan Sangir Jujuan (Nagari Lubuk Malako).

Berikut ini sebaran korban dan kerusakan pascagempa : 

1.            Nagari Sungai Kunyit : 22 org luka-luka, 168 unit rumah rusak (21 RB, 42 RS, 105 RR), 1 unit fasilitas kesehatan

2.            Nagari Sungai Kunyit Barat : 101 unti rumah rusak (1 RB, 50 RS, 50 RR)

3.            Nagari Talunan Maju : 23 org luka, 30 unit rumah rusak (7 RB, 23 RS), 1 unit fasilitas peribadatan, 1 fasilitas kesehatan.

4.            Nagari Ranah Pantai Cermin: 2 org luka-luka, 30 unit rumah RR

5.            Nagari Lubuk Malako: 1 org luka-luka, 14 unit rumah rusak (3 RS, 11 RR), 1 fasilitas pendidikan. [fry]

Sumber : Rilis Online Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho

Apakah Kiblat Harus Tepat Menghadap Ka’bah Atau Cukup Mengarah Ke Ka’bah

Menghadap Kiblat merupakan syarat-syarat shalat, dimana tidak sah shalat seseorang jika tidak menghadap kiblat, kecuali pada saat shalat khauf atau shalat nafilah di atas kendaraan, atau sebuah kapal. Maka kondisi shalat nafilah seperti ini tidak mengharuskan menghadap kiblat, cukup sesuai arah kendaraan dimana ia mengarah.

Para ulama tidak berbeda pendapat dalam hal ini, akan tetapi mereka berbeda apakah kiblat itu harus tepat menghadap Ka’bah atau cukup mengarah ke arah Ka’bah walau tidak sama persis atau tepat menghadap Ka’bah?

Para ulama berbeda pendapat akan hal ini dalam 2 pendapat.

[•] Pendapat mazhab Syafi’iyah dan mazhab Hanabilah yaitu bahwa yang wajib harus tepat menghadap Ka’bah.

[•] Pendapat mazhab Malikiyah dan Hanafiah yaitu bahwa yang wajib cukup arah Ka’bah jika seorang yang shalat tidak melihat Ka’bah tersebut. Adapun bagi orang yang melihat Ka’bah maka semua sepakat harus tepat mengarah ke Ka’bah.

(•) Dalil mazhab Hanabilah dan Syafi’iyah

Firman Allah azza wajalla:

فول وجهك شطر المسجد الحرام

“Palingkanlah wajah-Mu ke arah Masjid al-Haram.” (QS. Al-Baqarah: 144)

Wajah pendalilannya adalah bahwa makna asy-syathr yaitu arah yang berhadapan bagi seorang yang shalat. Karena itu wajib untuk menghadap tepat ke Ka’bah.

• Nabi shallallahu ‘alaihim wasallam tidak shalat kecuali mengarah Ka’bah.

• Kiyas, yaitu kesungguhan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam mengagungkan Ka’bah sampai pada derajat tawatur, dan shalat merupakan diantara syiar agama yang paling agung. Sedang penetapan syariat akan keabsahannya tepat menghadap Ka’bah menambah kemudian Ka’bah itu, sehingga tentu ini menjadi sesuatu yang disyariatkan.

Kemudian, perkara ka’bah sebagai Kiblat merupakan sesuatu yang telah pasti sedangkan yang lainnya sebagai Kiblat maka ia adalah sesuatu yang masih diragukan. Sedangkan menjaga dari perkara yang mengkhawatirkan sebagai bentuk kehati-hatian adalah suatu kewajiban. Karena itu wajib pula untuk menghadap tepat ke arah Ka’bah.

•Firman Allah azza wajalla:

(•) Dalil Mazhab Malikiyah dan Hanafiah

فول وجهك شطر المسجد الحرام

“Palingkanlah wajah-Mu ke arah Masjid al-Haram.” (QS. Al-Baqarah: 144)

Wajah pendalilannya Allah menyebutkan syathr al-Masjid al-Haram bukan Syathr al-Ka’bah. Siapapun yang telah shalat menghadap arah Masjid al-Haram maka ia telah melakukan perintah syariat, baik itu ia benar atau salah.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

ما بين المشرق والمغرب قبلة

“Antara timur dan barat kiblat.” (HR. Tirmidzi, dia mengatakan hadits ini Hasan shahih)

Amalan para sahabat, dahulu orang-orang yang shalat di masjid Quba saat shalat subuh di Madinah mereka menghadap Bait al-Maqdis membelakangi Ka’bah, kemudian mereka memutar saat shalat tanpa mencari petunjuk arah. Saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari hal ini. Sedangkan untuk mengarah tepat ke arah Ka’bah tidak akan diketahui kecuali dengan menggunakan petunjuk yang cukup lama dan teliti untuk menetapkannya. Maka bagaimana mereka tiba-tiba mengetahuinya dikegelapan malam?

•Dahulu orang-orang di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membangun masjid tanpa ada ilmu keinsiyuran yang bertugas tepat untuk menyamakan arah mihrab tepat menghadap ke arah Ka’bah, sementara untuk mengetahui arah Kiblat yang tepat itu harus dengan ketelitian yang tinggi dalam ilmu keinsiyuran. Sementara tidak ada satupun ulama yang menyebutkan bahwa mempelajari ilmu keinsiyuran itu adalah sesuatu yang wajib, maka diketahui bahwa menghadap tepat ke arah Kiblat bukanlah sesuatu yang wajib.

Tarjih:

Ini merupakan ringkasan dari dalil-dalil dua kelompok pendapat yang berbeda. Jika engkau mengamati dalil-dalilnya maka dalil-dalil kelompok kedualah (mazhab Malikiyah dan Hanafiah) yang lebih kuat dan lebih jelas penjelasannya. Apalagi bagi yang jauh di berbagai belahan dunia.

Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh imam al-Qurthubi rahimahullah.

Diringkas dari kitab: Rawai’u al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam Min al-Qur’an Karya Syaikh Ali ash-Shabuni rahimahullah.

————

Catatan dari peringkas, di zaman sekarang ilmu untuk menetapkan arah kiblat sudah sangat mudah dengan berbagai alat. Bahkan seseorang mampu mengetahuinya dengan aplikasi handphone yang mengarahkan kiblat tepat pada Ka’bah.

Karena itu boleh dikatakan sulit untuk memberikan rukhshah bagi orang-orang yang tidak mengetahui arah Kiblat tepat pada arah Ka’bah, kecuali bagi orang-orang yang tidak memiliki handphone atau tidak memiliki aplikasi penunjuk arah Kiblat di handphonenya.

Maka untuk kehati-hatian atas ijma’ ulama akan kewajiban shalat tepat menghadap Ka’bah maka hendaknya seseorang tidak memudah-mudahkan hal ini. Jika ia telah bersungguh-sungguh dan ternyata shalatnya selama ini tidak tepat mengarah Ka’bah melainkan hanya mengarah ke arahnya maka kami menguatkan pendapat mazhab Malikiyah dan Hanafiah akan hal ini akan keshahihan shalatnya. Wallahu a’lam.

Oleh: Ustadz Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

Sumber : wahdah.or.id

Lazis Wahdah Masih Setia Bantu Pengungsi Donggala

Relawan LAZIS Wahdah bersama pengungsi di Donggala saat pembagian bantuan logistik berupa sembako pada Kamis (14/02/2019)

(Donggala) Wahdahjakarta.com – Tak terasa sudah empat bulan berlalu, pasca terjadinya bencana Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi yang menimpa Palu, Sigi dan Donggala pada tanggal 28 September 2018.

Meski sudah berlangsung empat bulan dan keadaan di beberapa titik kota mulai membaik, namun ternyata masih ada beberapa titik pengungsian yang masih ramai akan pengungsi dan membutuhkan bantuan. Salah satunya adalah posko pengungsian yang terletak di Desa Toaya, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala.

Ketika dikunjungi relawan LAZIS Wahdah, kondisi di posko pengungsi tersebut bejumlah 66 KK dan terdiri 233 jiwa. Di posko tersebut terdapat tenda besar yang kemudian di dalamnya dibuatkan petak-petak sehingga menjadi beberapa ruangan yang menjadi tempat tinggal sementara oleh para pengungsi. Beberapa dapur yang dibuat juga sudah mengalami kekurangan bahan logistik, sehingga LAZIS Wahdah berinisiatif untuk mendistribusikan bantuan di tempat tersebut.

Dalam kunjungannya pada Kamis (14/2/2019), LAZIS Wahdah memberikan 45 paket Sembako yang terdiri dari beras, mie instan, dan ikan kaleng.

LAZIS Wahdah juga berencana membangun MCK di lokasi pengungsian tersebut, karena tidak adanya MCK. Kedepannya LAZIS Wahdah berharap bisa membangunkan Huntara kepada para pengungsi di posko tersebut, mengingat kondisi tenda mereka mulai bocor dan rusak.

Don’t stop bantu Sulteng. Sulteng masih butuh bantuan anda, mari merajut kebaikan bersama LAZIS Wahdah lewat program-program kebaikan. Salurkan donasi anda melalui Bank Mandiri Syariah (451) nomor rekening : 499 900 900 5 a.n LAZIS Wahdah Peduli Negeri dan konfirmasi transfer ke 085315900900. Semoga Allah mengganjar setiap niat tulus kita dengan pahala yang setimpal, aamiin.[]

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #pedulinegeri #peduligempasulteng #gempadonggala #gempapalu #pasukanhijau #wahdahpeduli

Gelar Pertemuan di Semarang, Komisi Dakwah MUI Tetapkan Pedoman Dakwah bagi Da’i

Suasana saat Pertemuan Komisi Dakwah MUI Pusat

(Jawa Tengah) wahdahjakarta.com — Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengadakan halaqah di Masjid Agung Baiturrahman Semarang Jawa Tengah.

Acara ini diikuti oleh Pengurus Komisi Dakwah MUI Propinsi dan kabupaten kota se- Jawa Tengah, DMI, Muslimat, Fatayat dan penyuluh agama Proponsi Jawa Tengah

Dalam sambutannya, Cholil Nafis selaku ketua Komisi Dakwah memaparkan tentang pentingnya koodinasi dakwah (taksiq al-da’wah) antar sesama ormas dan praktisi dakwah guna efektifitas dakwah dan punya daya pengaruh yg tinggi  (high inpect) dan cepat di masyarakat.

“Diperlukan peta dakwah agar saat berdakwah kita berpijak pada data, yang kita sebut dengan dakwah base on data” ujarnya.

Untuk lebih merapikan langkah dakwah, Komisi Dakwah MUI Pusat telah
mengeluarkan Pedoman Dakwah guna jadi acuan para da’i. Pedoman dakwah ini memberi arah dakwah yg lebih efektif dan wasathiyah (muderasi).

Pedoman tersebut memuat ketentuan da’i kompeten dan profesional, kode etik dakwah guna dakwahnya lebih mencerahkan dan Dewan etik diperlukan manakala ada masalah dengan da’i di masyarakat dalam dakwahnya.

Demi menjamin kualitas da’i  Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat, MUI akan melakukan upaya da’i bersertifikat melalui pelatihan atau pengakuan keilmuan untuk diberi sertifikat sebagai da’i yang kompeten.

Nantinya, MUI akan menjamin akan isi dakwahnya dari setiap da’i yg
telah mendapat sertifikat.

Diupayakan pula nantinya, para pengisi acara keagamaan Islam di masyarakat adalah orang yg berkualitas, kompeten dan berakhlakul karimah. [fry]

PENUNTUT ILMU YANG SIA-SIA

Seperti yang kita tahu, bahwa Allah sudah menyebut kita semua sebagai orang-orang yang merugi, pada surat Al Ashr ayat 2 :

إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian”

Tapi apakah kita semua yang merugi? Bukan, orang yang merugi itu kalau dia tidak seperti yang disebutkan Allah dalam ayat ke 3 nya :


إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَق وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ
“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Jadi sekarang kita merenung, apakah kita sudah seperti itu dalam hidup ini? Jangan sampai kita hanya sibuk mementingkan diri sendiri dan tidak peduli dengan saudara kita sesama muslim lain yang belum mendapat hidayah

Memang jahat kalau kita sudah belajar tapi tidak sempat membawa satupun teman kita ke majelis tempat kita menimba ilmu. Bukankah nanti di surga kita masih butuh syafaat dari seorang sahabat? Kenapa kita se yakin itu masuk surga dan tidak mau membantu sahabat kita yang lain, yang mungkin sangat butuh hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah berfirman :
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا, الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا, أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
“Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?”. (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat.”
[Al-Kahfi : 103-105]

Allah katakan “orang yang paling merugi itu adalah mereka yang sia-sia perbuatannya di dunia, dan mengira bahwa mereka telah berbuat sebaik baiknya”. Sekarang coba kita sandarkan pada diri kita, apakah kita sudah cukup bermanfaat untuk orang lain? sudah berapa orang yang sudah kita ajak menuju kepada kebaikan hari ini?.

Menjadi tanda tanya besar pula, kenapa kita yang sudah lama belajar ini belum atau bahkan tidak pernah mengajak orang untuk ikut ke majelis ilmu tempat kita belajar. Bukankah itu amal jariyah buat kita kalau sanggup mengajak orang lain menuju hidayah yang dinanti-nantinya dari Allah subhanahu wa ta’ala
Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat diatas mengatakan, bahwa orang-orang yang paling merugi perbuatannya adalah orang Yahudi & Nasrani. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa ayat ini berlaku untum kaum haruriyah(khawarij).

Dan Ibnu Katsir rahimahullah berkata “Kandungan ayat ini mencakup kaum Yahudi, Nasrani, Khawarij, dan lainnya. Ayat ini masuk dalam kategori ayat Makkiyah sebelum ayat-ayat untuk orang Yahudi dan orang Nasrani diturunkan, serta sebelum kemunculan kaum khawarij. Ayat ini berlaku umun berkenaan dengan setiap orang yang beribadah kepada Allah tidak sesuai dengan syariat Islam, sehingga amalannya tidak diridhai dan diterima.
[Tafsir Ibnu Katsir]

Ayat ini juga bisa kita ambil untuk masa sekarang, kalimat Imam Ibnu Katsir mengenai cakupan ayat ini adalah orang2 yang juga berasal dari golongan lain selain yahudi & nasrani, termasuk muslim.

Disini patut kita renungi, apakah kita sudah cukup banyak mengajak orang lain dalam kebaikan dan mencegahnya dari keburukan. Kenapa harus begitu? Karena kita sebagai umat muslim diwajibkan untuk melaksanakan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar.

Jadi kewajiban itu bukan cuma buat ustadz atau ustadzah.. Kita juga wajib, dan merupakan pemikiran yang salah kalau kita katakan bahwa itu bukan tanggungjawab kita dan urusan dosa adalah urusannya. Justru nanti Allah yang akan mempertanyakan itu semua, “Sudahkah kamu mendakwahi si fulan/fulanah ini?”. Kalau kita jawab belum, maka siap2 kita juga ikut dengan dia ke neraka, atau negeri kita ditimpakan bencana.

Lantas dimana amalan yang sia-sia disini? Seperti itu tadi, ketika kita sudah belajar dengan sungguh2 di majelis ilmu, bahkan sampai hafal perkataan ulama tersebut, tapi kita tak sanggup mengajak satu orang saja untuk ikut hijrah dengan kita, maka semuanya sia-sia. Karena nanti di akhirat Allah akan tanyakan tentang kewajiban kita tersebut. Disitulah kita termasuk golongan orang-orang yang merugi. Naudzubillah..

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita rasa takut akan ancamanNya. Banyak2 berdoa mudah2an makin banyak orang yang terinspirasi untuk hijrah melalui ajakan kita, memperoleh hidayah, bahkan sampai mampu menolong kita nanti di hari akhirat. Mungkin saja, orang yang tadinya tak tahu menau sama sekali dengan agama, kemudian kita ajak belajar dan ternyata dia menikmati itu sampai derajat taqwanya mungkin bisa lebih tinggi dari kita di sisi Allah kemudian dia masuk surga, ternyata malah kita yg ga sempat masuk surga dan kemudian dia yang nolong kita. Masya Allah, betapa beruntungnya kita hari itu.

Allah berfirman :
“نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍ ۖ فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ”
“Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada siapa pun yang takut kepada ancaman-Ku.”
[Qaf : 45]

Disinilah Allah memberi solusinya, kalau kita mau mengajak orang ke jalan yang baik maka berikan nasehat atau peringatan kepada orang tersebut dengan ayat2 Al Qur’an.

Kalau kita tidak sanggup mengajak pakai tangan atau kekuasaan, minimal kita ajak dengan lisan atau perkataan kita, dan kalau kita masih belum sanggup lagi, minimal kita doakan dia dengan hati, mudah2an dia cepat mendapat hidayah, dan itulah selemah2 iman.

Sumber : KADO UNTUK AKTIVIS MUSLIM, MEREKA MENANTI KITA : FARIQ GASIM ANUZ (BAB 2 : Orang Yang Paling Merugi, HAL 9)

Unik, Ini Cara LAZIS Wahdah Bangkitkan Semangat Shalat Subuh Berjamaah Korban Tsunami Lampung Selatan

(LAMPUNG SELATAN) Wahdahjakarta.com – Relawan LAZIS Wahdah yang mendirikan posko pembinaan di Desa Kunjir Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan menggelar Gerakan Shalat Subuh Berjamaah (GSB) di Musala Darurat Kamp Pengungsian SMA N 1 Rajabasa, Senin (18/2/2019).

Momen saat shalat subuh berjamaah LAZIS Wahdah dengan penduduk setempat korban bencana tsunami di Lampung Selatan

Gerakan Shalat Subuh Berjamaah ini diisi dengan beberapa rangkaian, antara lain Tausiyah Subuh dan Sarapan Pargi bersama warga di kamp pengungsian.

Rustam Hafid selaku relawan LAZIS Wahdah mengatakan, hal ini ditujukan untuk menumbuhkan lingkungan yang Islami di tengah-tengah Kamp pengungsian.

“Mereka para Pengungsi masih ditemani trauma bencana tsunami yang menerjang kemarin. Selain itu, kondisi mereka yang jauh berbeda di bawah tenda pengungsian memerlukan pertolongan darurat berupa layanan kerohanian. Maka GSB ini kami gelar agar mereka antusias menghidupkan Musala Darurat yang kami dirikan,” tandas Rustam.

Dia melanjutkan, cara memantik partisipasi warga di kamp pengungsian yang berisi 58 Kepala Keluarga ini untuk menghadiri GSB adalah dengan menyediakan sarapan bubur kacang hijau hangat setelah mendengarkan tausiyah subuh.

“Tema tausiyah Subuh ini adalah Hak Muslim Atas Muslim yang Lain. Kami tadabburi hadits ini untuk diperdengarkan kepada warga, agar mereka tetap menjaga silaturahmi kepada sesama walaupun kondisi serba susah,” tuturnya.

Arifuddin sebagai salah satu pengungsi mengatakan, GSB yang digelar secara unik ini telah memberikan warna yang berbeda kepada kamp pengungsian mereka.

“Alhamdulillah karena sekaligus sebagai sarapan untuk anak-anak kami sebelum ke sekolah,” kata Arif sapaan akrabnya.

Kegiatan ini mendapat respon positif dari Pemerintah Desa setempat. Seperti yang diutarakan oleh Muhammad Nur selaku Sekretaris Desa Kunjir.

Menurutnya, relawan-relawan yang masuk telah banyak memberikan bantuan berupa sembako dan lain sebagainya. Namun program LAZIS Wahdah ini yang unik karena menyentuh kebutuhan utama warga.

“Terimakasih karena walaupun datang dari jauh, namun masih bersemangat mendampingi kami,” ucapnya.

Pada tahap recovery untuk daerah terdampak tsunami di Lampung Selatan, LAZIS Wahdah berfokus pada program pembinaan kerohanian pengungsi, antara lain pendirian Musala Darurat, Tausiyah Singkat setelah shalat berjamaah, Pembinaan Alquran untuk anak-anak dan remaja, serta GSB yang telah digelar sebanyak dua kali. (*RH)