Rekam Gempa Palu oleh BMKG : Gempa Terbesar Pernah Terjadi Pada Tahun 1909

BMKG : Gempa Terbesar Pernah Terjadi Pada Tahun 1909

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG,  Daryono dalam jumpa pers FMB9 Kemenkominfo di Gedung Graha BNPB, Kamis (4/10/2018). Foto : Fadhlur Rahman Yusra/wahdahjakarta.com

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG,  Daryono menyebutkan bahwa pergerakan seismik dan tsunami di Sulawesi sangat aktif.

“Kalau tsunami saja, dari Toli-toli sampai mamuju pernah tercatat sebanyak 19 kali dan apabila digabung dengan yang sekarang sudah terjadi sebanyak 20 kali semenjak tahun 1900an, ini luar biasa sekali.” ujar beliau dalam jumpa pers FMB9 Kemenkominfo di Gedung Graha BNPB, Kamis (4/10/2018).

Beliau menyebutkan gempa terbesar di palu, pernah terjadi pada tahun 1909 dengan kekuatan lebih dari 7 SR berdasarkan catatan lembaga bencana Belanda.

“Saking dahsyatnya gempa saat itu, sampai buah kelapa saja ikut berjatuhan dan daun-daunnya sampai berguguran” tutur beliau.

Pada tahun 1927 juga pernah terjadi gempa dan memicu tsunami dan korban jatuh sekitar 14 orang, namun pada tahun 1969 terjadi kembali gempa dahsyat yang memicu tsunami sehingga memakan korban sebanyak 160 orang. Dan terakhir pada tahun 2012 di palu selatan yang menyebabkan 5 orang meninggal dunia. [fry]

H+7 Penanganan Gempa, Belum Semua Wilayah Terdampak Bencana Peroleh Bantuan

Penanganan Gempa H+7 Belum Semua Peroleh Bantuan

Kepala Pusat Data & Informasi serta Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho saat Jumpe Pers FMB9 Kemenkominfo di Gedung Graha BNPB, Kamis (4/10/2018). Foto : Fadhlur Rahman Yusra/wahdahjakarta.com

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Kepala Pusat Data & Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho paparkan data-data yang diperoleh dari relawan di lapangan pada jumpa pers FMB9 Kemenkominfo di Gedung Graha BNPB, Kamis(4/10/2018). Dari hasil laporan, tercatat 1.424 korban yang meninggal, 1.407 diantaranya sudah dimakamkan secara masal di Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong.

Beliau menyebutkan, BNPB saat ini memprioritaskan evakuasi korban, penanganan medis untuk korban luka, distribusi logistik, percepatan pemulihan infrastruktur dan penanganan bantuan Internasional.

Sebanyak 25 alat berat diturunkan dalam proses evakuasi, meliputi wilayah Patobo (7 unit), Balaroa (6 unit), Bulurui & Mall (1 unit), TPU Paboya (1 unit), Jalan Juanda (1 unit), Sigi (1 unit), Hotel Roa-roa (2 unit), Pantai Talise (2 unit dan 5 truk), serta Mall Ramayanan (3 unit).

“Jadi kalau ada pemberitaan dari media bahwa penanganan tidak menggunakan alat berat, itu tidak benar.” tegasnya.

Pencarian korban saat ini sangat sulit, karena korban di wilayah yang mengalami likuifaksi tenggelam dalam tanah sedalam 3 meter, dan ada beberapa wilayah yang masih basah karena lumpur, namun Tim SAR akan terus digerakkan untuk mencari dan mengevakuasi korban. Proses Evakuasi juga dibantu oleh TNI, dan Relawan dari beberapa elemen masyarakat.

“Ada banyak masyarakat yang ingin keluar dari wilayah bencana, sebagian besar adalah masyarakat pendatang. Untuk itu bagi proses evakuasi yang tidak bisa diangkut dengan pesawat, diangkut menggunakan kapal pelni, dll.” ujar beliau

Pendistribusian logistik sampai saat ini dikawal oleh TNI untuk menjaga agar bantuan sampai ke wilayah yang diprioritaskan, distribusi dilakukan menggunakan helikopter, kapal pelni, dll.

Info Grafis dari Kementrian ESDM yang di post oleh Sutopo di akun twitternya pada hari Jum’at(5/10/2018).

Sebagian ada yang langsung di drop di pengungsian, dan ada juga aparat setempat yang mengambil di posko, namun belum semua wilayah yang terkena bencana yang mendapat bantuan.” tutur beliau

Untuk kebutuhan darurat, bantuan genset, tenda, dan watertreatment sudah berjalan serta dalam hal komunikasi, ada 3 operator komunikasi yang sudah 49% beroperasi di wilayah Sulteng untung melayani komunikasi menggunakan telepon satelit, wifi gratis, dll.

Terakhir beliau menyebutkan, sisa data evakuasi masih sama dengan 3 oktober lalu. Korban hilang juga sampai saat ini masih belum ditemukan. [fry]

Dapur Umum Wahdah Islamiyah Layani Ratusan Warga Korban Gempa

Dapur Umum korban gempa yang dibuka di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Dapur Umum korban gempa yang dibuka di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

(Sigi, Sulteng) wahdahjakarta.com,- Wahdah Islamiyah membuka pelayanan Dapur Umum Lapangan (dumlap) untuk warga pasca gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah. Dapur umum sekaligus posko induk Wahdah Islamiyah berada di kompleks SDIT Qurrata A’yun, Desa Tinggigede, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi.

“Posko sekaligus dapur umum Wahdah Islamiyah telah dibuka sehari setelah kedatangan tim relawan gelombang yang pertama. Insya Allah warga disini bisa mendapatkan pelayanan makanan gratis, pengobatan gratis dan bantuan lainnya,” terang Nasruddin, saat dikonfirmasi via WhatssApp, Selasa (2/10).

Nasruddin mengatakan satu unit dapur umum dapat memasak ratusan porsi untuk satu kali memasak dengan total kebutuhan 100 kilogram beras per harinya. Dalam sehari, akan ada tiga kali jadwal memasak mulai pagi, siang dan malam hari. Dalam proses memasak tersebut, relawan dibantu oleh warga sekitar.

“Insya Allah, jika akses jalan semakin membaik, kami berencana akan membuka posko di tempat yang lain,” paparnya.

Seluruh upaya tersebut, lanjutnya, merupakan ikhtiar LAZIS Wahdah dalam menyampaikan amanah ummat.

“Kita upayakan pelayanan ini bisa semaksimal mungkin meski jumlah tim relawan di lapangan yang tak sebanding dengan jumlah korban yang ada,” paparnya.

Donasi gempa “Sulawesi Tengah” bisa disalurkan melalui Bank Syariah Mandiri (451): 499 900 900 5 a.n LAZIS Wahdah Peduli Negeri dan Konfirmasi transfer ke 085315900900. Link donasi: http://bit.ly/donaturlaziswahdah.[fry]

Relawan Wahdah Peduli Evakuasi Korban Gempa di Daerah Pantai Tak Terjamah

Tim Evakuasi Wahdah Peduli Sisir di Daerah Pantai Tak Terjamah

Tim Evakuasi Relawan Wahdah Islamiyah kembali melakukan evakuasi dari korban meninggal dunia Gempa Palu dan Donggala, di pesisir Kampung Lere, Kecamatan Palu Barat.

(Palu) wahdahjakarta.com- Sebanyak 16 Relawan Wahdah Islamiyah yang merupakan gabungan dari LAZIS Wahdah dan Wahdah Peduli kembali melakukan evakuasi dari korban meninggal dunia Gempa Palu dan Donggala, di pesisir Kampung Lere, Kecamatan Palu Barat, Selasa (2/10/2018).

Korban yang dievakuasi diantaranya atas nama Baharuddin, berdasarkan pengakuan dari warga yang berada di lokasi.

Menurut Thomas Alfa Satrianto selaku tim Evakuasi, kondisi mayat sudah rusak, yang ditandai dengan hadirnya belatung dan tubuh yang membengkak.

“Kondisi mayat seperti ini karena telah berhari-hari sebagian anggota tubuhnya terendam oleh air laut dan terjepit diantara puing-puing rumah,” ujarnya.

Relawan Wahdah Peduli Rustam Hafid mengatakan, evakuasi dilakukan setelah sebelumnya mendapat laporan dari keluarga korban.

“Lokasi berada di bibir pantai, dan semua perumahannya porak poranda akibat terjangan gelombang tsunami,” tuturmya.

Dia menambahkan, masih ada beberapa korban yang berada dibawah reruntuhan rumahnya, dideteksi dari menyebarnya bau kurang sedap disekitaran lokasi.

“Sayang sekali belum ada kegiatan evakuasi di lokasi ini, padahal wilayah terdampaknya begitu luas,” imbuhnya.

Tim SAR Wadah Islamiyah masih akan terus melakukan kegiatan evakuasi, sambil meninjau lokasi-lokasi terdampak yang belum terjamah oleh kegiatan evakuasi. [fry/aha]

Gempa Susulan Kembali Guncang Palu, Relawan Dirikan Tenda Di Halaman Masjid

Gempa Susulan Kembali Guncang Palu

Gempa Susulan Kembali Guncang Palu

(PALU) wahdahjakarta.com- Gempa besar susulan kembali mengguncang kota Palu, Selasa (2/10) dini hari.

“Terjadi gempa susulan yang agak keras dan beberapa detik yang menyebabkan kami anggota tim berhamburan keluar dari masjid (posko induk) di SD Wahdah Tinggede. Lahaula wala quwwata illa billah” tulis ustadz Iskandar Kato, salah seorang koordinator relawan Wahdah Peduli, via Whatsapp.

Gempa ini terjadi saat relawan Wahdah Peduli beristirahat di Posko.

“Salah seorang relawan sementara dirawat tim medis karena keseleo lutut saat lari keluar dari masjid.” Ungkap ustadz Iskandar.

Untuk mengantisipasi terjadinya gempa lagi relawan Wahdah Peduli bermalam di tenda halaman masjid.

Berdasarkan informasi dari BMKG gempa tersebut berkekuatan 5 magnitudo dengan kedalam 11 km. [fry/aha]

Tak Ada Listrik, Tim Medis Hanya Mengandalkan Cahaya HP

 

Tim Medis Andalkan Cahaya Ponsel Akibat Krisis Listrik di Palu

Akibat listrik yang belum menyala sejak gempa membuat Tim Medis hanya mengandalkan sumber cahaya seadanya, bahkan pencahayaan HP.

Palu (1/1) – wahdahjakarta.com,- Akibat listrik yang belum menyala sejak gempa membuat Tim Medis hanya mengandalkan sumber cahaya seadanya, bahkan pencahayaan HP.

Salah seorang relawan medis dari Tim Medis Wahdah Islamiyah, dr. Mujahid menyebutkan sejumlah warga mengalami trauma fisik (patah tulang, luka ringan – berat), penyakit pernapasan (ISPA) dan penyakit kulit serta trauma psikis.

“Saat ini sangat dibutuhkan pasokan untuk obat-obatan,” ujarnya.

 

Diantara pasien yang dirawat adalah Sultan (36) yang sehari-hari bekerja sebagai tukang las, pasien patah tulang di bagian paha menjelaskan saat gempa dirinya saat lagi bekerja dan jatuh dari ketinggian 6 m.

Korban lainnya, seorang ibu rumah tangga yang juga berada di tenda disebutkan oleh keluarganya mengalami trauma yang sama, dia terseret arus sejauh lebih 10 km dan ditemukan oleh keluarganya setelah dua hari dengan luka berat di sekujur tubuh.

Sebelumnya, pada Ahad, (30/9/2018), Tim Medis dari ormas Wahdah Islamiyah Peduli Gempa Sulteng telah mengerahkan 14 orang relawan yang terdiri dari 3 dokter dan selebihnya tenaga perawat dan apoteker.

Layanan kesehatan awal di buka di posko Wahdah Islamiyah di Jl. Rappolinja Desa Tinggede Kecermatan Marowali Kabupaten Sigi, Sulteng.

Menurut tim medis tersebut, layanan telah dibuka sejak semalam selepas shalat isya ini melayani 9 pasien. Baik yang datang langsung ke posko maupun yang di datangi langsung ke rumah-rumah warga terdampak gempa.

Info yang dihimpun dr. Mujahid menyebutkan 1203 korban jiwa, di update dari klaster kesehatan palu.

Laporan: Nasruddin Abdul Karim,Relawan Lazis Wahdah Islamiyah

Editor: Faisal

Aksi Simpatik Wahdah Islamiyah Depok Untuk Korban Gempa Palu – Donggala

Wahdah Islamiyah Depok Galang Dana Untuk Korban Gempa Palu
(Depok) wahdahjakarta.com- Sebagai wujud kepedulian kepada korban gempa Palu dan Dongala, Sulawesi Tengah, LAZIS Wahdah bersinergi dengan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah (WI) Depok dan Yayasan Al Hijaz Al Khairiyah Depok menggalang donasi melalui “Aksi Simpatik”, Ahad (30/09/2018).
Menurut tim media Lazis Wahdah Jakarta, aksi simpatik penggalangan donasi #peduligempasulteng ini merupakan bentuk layanan kemudahan kepada masyarakat pengguna jalan raya untuk berdonasi ke Palu – Donggala.
Aksi yang berlangsung pada pukul 14.15 s/d 17.15 WIB ini berlokasi di Jl. Raya Bogor – Jakarta, Cimanggis, Depok (Simpangan Pasar Pal). Bertindak sebagai komando lapangan (korlap), Ustadz Arofah Syarifuddin selaku Ketua DPD WI Depok. Turut hadir dalam aksi ini Ustadz Jayadi Hsan (Ketua Departemen Kaderisasi Wahdah Islamiyah DKI Jakarta – Depok) dan Ustadz Anas Syukur, Lc (Ketua DPD WI Jaksel) .


Aksi simpatik ini mendapat respon yang positif dari pengendara baik roda dua maupun roda empat. Hal ini ditandai dengan banyaknya yang berdonasi untuk berbagi walaupun sedikit dengan warga Palu – Donggala yang saat ini sedang merana; ditinggal oleh keluarga tercinta, rumah mereka hancur.
“Mereka sedang diuji menerima semua ini, kita pun juga diuji. akankah kita rela berkorban harta, jiwa, dan raga untuk mereka”? ( Rudisa Putra/sym)

Saat Semuanya Tak Lagi Berarti

Saat Semuanya Tak Lagi Berarti

Kalau Anda merasa sedang butuh makna hidup, jalan-jalanlah ke Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin. Di Mandai. Dekat bandara lama.

Di sini, uang tak lagi berarti. Anda boleh punya belasan juta di dompet dan ratusan juta di ATM, tetapi jika kota tujuan Anda adalah Palu, tak akan ada tempat duduk yang nyaman.

Begitu banyak yang berpakaian rapi, harum, dan mahal. Namun tetap harus antre seat di Hercules, satu-satunya pesawat yang bisa berangkat ke tanah yang baru dua hari diterjang gempa dan tsunami itu.

Lupakan dahulu penerbangan komersial, duduk di bussines class, dan dilayani pramugari. Lupakan dahulu ruang tunggu yang dingin dan banyak toilet. Lupakan Starbucks, J.Co, dan executive lounge.

Ada yang rela bermalam di sini, tidur di tegel dan taman, tetapi belum juga bisa terbang sampai sekarang.

Terlalu banyak yang mendaftar. Kapasitas terbatas. Beberapa Hercules yang mondar-mandir Makassar-Palu, Palu-Makassar, belum cukup untuk mengangkut semuanya.

Asri, teman kantor saya sangat mencemaskan kakak dan ponakannya. Belum ada yang bisa dihubungi. Makanya dia mesti berangkat ke Palu. Mencari sendiri kepastian itu.

Doelnest la Maspul, Paulus Tandi Bone, Nurdin Amir, Hariandi Hafid, Maman Sukirman, dan banyak rekan jurnalis lain juga masih menanti dipanggil namanya. Lambung mulai getar, baterai ponsel melemah, badan penat. Namun tidak ada yang bisa mempercepat keberangkatan sebelum tiba gilirannya.

Para relawan dan tim medis juga menunggu jatah terbang.

Lalu di bagian kedatangan, yang tanpa AC dan pengharum, ratusan orang lainnya tiba. Mereka para korban gempa yang selamat.

“Habis semuanya. Ada mobil, tapi kami parkir sembarangan di bandara Palu. Tidak ada artinya lagi,” ujar seorang ibu yang tampak sangat lelah. Matanya berair.

Seorang anggota keluarganya tidak ikut ke Makassar. Belum ditemukan. Dia cuma memikirkan dua kemungkinan; tenggelam atau tertanam. Gempa dan tsunami membuat banyak yang hilang.

Empat bocah bersaudara duduk bernaung di bawah kanopi kantin. Ibunya yang bercadar membelikan minuman dan wafer.

Di Palu, kata mereka, sekarang sangat susah mengasup. Krisis air, krisis makanan. Belum banyak bantuan yang datang. Bandara tutup. Jalur darat putus. Pelabuhan juga kabarnya rusak.

Masih di bagian kedatangan, beberapa ambulans menembus blokade. Sejumlah penumpang harus segera dibawa ke rumah sakit. Ada yang tangannya dibalut perban. Ada yang tidak bisa berjalan karena kakinya entah tertimpa apa pada Magrib di hari Jumat itu.

Saya juga melihat seorang wanita tua, yang melangkah gontai sambil terus terisak. Pasti ada yang hilang dari dirinya. Entah harta, sanak saudara, atau apa. Saya tak mungkin menambah perihnya dengan pertanyaan.

Namun inilah realitas di dunia. Tempat kita sedang mampir ini. Begitu banyak duka, luka.

Jadi kalau sekarang kita masih dalam suka, ada baiknya kita meresponsnya dengan qana’ah. Kalau sekarang kita masih bisa sarapan Indomie, makan siangnya ikan teri, lalu malamnya bakso, itu sudah rezeki yang besar.

Percuma banyak deposito bila tak ada yang bisa dibeli. Uang dan kartu debit tak mungkin dikunyah.

Dan bila saat ini kita dalam keadaan berlebih, tengoklah ke saudara-saudara yang sedang tak berpunya.

Hidup seperti roda Hercules yang melaju di runway.

Fb Imam dz

Wasekjen MUI : Tarbiyah Membangun Pemahaman Islam yang Benar

Wasekjen MUI : Tarbiyah Membangun Pemahaman Islam yang Benar

Wasekjen MUI sekaligus Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah, Muhammad Zaitun Rasmin pada hari Jum’at, 28 September 2018 mengadakan kunjungan dalam majelis ta’lim umum pekanan Wahdah Islamiyah di Masjid Al Hijaz Depok.

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Wasekjen MUI sekaligus Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah, Muhammad Zaitun Rasmin pada hari Jum’at, 28 September 2018 mengadakan kunjungan dalam majelis ta’lim umum pekanan Wahdah Islamiyah di Masjid Al Hijaz Depok.

Dalam kunjungan itu beliau berpesan agar tidak meninggalkan kegiatan ta’lim sebagai bentuk syiar dakwah islam dalam materi yang berjudul “Pentingnya Mengikuti Majelis Ilmu”.

Materi tersebut diberikan supaya semangat para peserta tidak mudah kendor ketika mengikuti majelis ilmu karena kebanyakan orang yang mengikuti majelis ilmu hanya karena pemateri yang mengisi kajian merupakan pemateri yang terkenal, sedangkan untuk pemateri-pemateri yang kurang terkenal justru terabaikan.

Dalam materi tersebut, beliau juga menyebutkan bahwa pentingnya kegiatan Kelompok Belajar Islam Intensif (KKI) atau lebih dikenal dengan nama Tarbiyah. Menurut beliau, metode ini sangat cocok untuk kalangan awam yang baru ingin mendalami ilmu agama maupun pembinaan karakter islam sesuai tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah karena materi tarbiyah merupakan materi-materi dasar sekaligus pengenalan terhadap agama Islam secara ringan agar ummat tidak kaget akibat langsung diberi materi yang sangat dalam pembahasannya dalm proses awal hijrah.

“In syaa Allah dengan menghidupkan Tarbiyah, kita akan membangun pemahaman yang benar, dan kalau dasar-dasarnya sudah bagus kedepannya nanti akan jadi lebih mudah dalam memahami kitab-kitab sunnah yang ada. Dan jika dasar yang dimiliki sudah cukup kuat, tentu orang akan lebih mudah membaca maupun memahami sendiri apa saja ajaran islam yang ada dalam kitab tersebut.” Ujar beliau dalam kesempatan tersebut.

Merupakan tindakan yang kurang tepat apabila seseorang ingin mendapatkan ilmu dasar dari kitab dengan membacanya sendiri tanpa binaan langsung dari dasar oleh yang sudah punya ilmu tentang hal tersebut.

“Lebih mudah memahami dasar ilmu agama dari yang sudah menguasainya walaupun murabbi(pengajar) tersebut juga masih dalam proses belajar juga.” Ujar beliau.

Lagipula, apabila kita mempelajari dasar ilmu kepada ulama besar tentu tidak akan lebih intensif daripada kepada murabbi, karena waktu yang dimiliki oleh seorang ustadz besar akan lebih sedikit untuk pembinaan khusus dan karakter daripada seorang murabbi yang cenderung belum terlalu banyak kesibukan, namun hasil yang didapat akan sama saja. (fry)

Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma'shum Bondowoso Tutup Usia

Kyai Ma’shum Bondowoso Tutup Usia

Jakarta (wahdahjakarta.com)-, Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren al-Ishlah Bondowoso Jawa Timur, KH. Muhammad Ma’shum meninggal dunia pada Kamis (13/09/2018) siang di Rumah Sakit Siloam Surabaya.

Sepanjang hidupnya Ulama yang popular dengan nama Kyai Ma’shum Bondowoso ini dikenal sebagai ulama mujahid yang istiqamah dalam perjuangan Islam. Beliau selalu aktif dalam aksi-aksi bela Islam bersama para ulama dan tokoh ummat Islam.

Terakhir beliau hadir dalam Ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional yang digelar di Hotel Menara Peninsula Jakarta beberapa waktu lalu walaupun dengan membawa infusin dan tabung oksigen karena sakit beliau makin parah.

Ummat Islam Indonesia tentu berduka dengan kepergian ulama pejuang tercinta dari Bondowoso Jawa Timur ini.

Ta’ziyah mendalam disampaikan Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin melalui fan page pribadinya.

“Saya menyampaikan ta’ziyah (bela sungkawa) sedalam-dalamnya atas wafatnya guru kita, K.H. Muhammad Ma’shum Bondowoso”.

Menurut Wasekjen MUI Pusat ini, Kyai Ma’shum merupakan pejuang dan teladan dalam perjuangan ummat Islam.

“Beliau adalah teladan dalam perjuangan dan ulama yang sangat besar jasanya”, ujarnya.

“Teriring doa semoga Allah subahanahu wata’ala menerima semua amal kebaikan beliau, dan melipatgandakan pahalanya serta mengampuni segala dosanya”, lanjutnya.

Rahimahullah rahmatan wasi’atan waaskanahu fasiiha jannatihi. Amiin.