Adzan Berkumandang di Posko Pengungsian di Donggala

Adzan Berkumandang di Posko Pengungsian Donggala

Shalat berjama’ah di tenda pengungsi Donggala, Jum’at (12/10/2018)

(Donggala) wahdahjakarta.com– Adzan subuh berkumandang di Mushalla darurat posko pengungsian yang berada di Desa Limboro, Kabupaten Donggala, Sulawesi tengah, Minggu, (14/10/2018).

Sebelumnya, adzan untuk salat dikumandangkan tanpa pengeras suara, sehingga waktu shalat tidak diketahui pengungsi. Al-hamdulillah adzan subuh hari ini mulai terdengar karena sudah ada pengeras suara sumbangan Lazis Wahdah.

Farid (35), warga setempat menyebutkan, subuh kali ini berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya.
“Waktu subuh tadi saya kaget pak, kenapa tiba-tiba ada suara adzan terdengar keras, Alhamdulillah bisa langsung bangun tadi dan segera ke masjid,” ungkapnya.

Farid sebelumnya sangat kesulitan untuk shalat tepat waktu di mushala darurat yang dibangun, sebab tidak ada penanda yang jelas.

“Sudah dua belas hari pak saya biasa terlambat salat bersama imam. Ini Alhamdulillah sudah bisa tahu kapan waktu masuknya,” tuturnya.

Andi Nasaruddin salah satu personil relawan Wahdah Islamiyah yang berposko di lokasi pengungsian ini mengatakan, setelah ada pengeras suara dan fasilitas penerangan jumlah jama’ah mengalami peningkatan.

“Alhamdulillah jumlah warga yang shalat Subuh lebih banyak dari sebelumnya. Mungkin karena awalnya tidak ada penerangan dan pengeras suara yang bisa mengingatkan warga akan masuknya waktu shalat,” pungkasnya.
Nasar, sapaan akrabnya, menuturkan, perlahan-lahan inventaris musholla ini diadakan untuk menunjang program dakwah di posko pengungsian ini.

“Kami berusaha membangun warga dari musholla, jadi program-program banyak kami laksanakan di musholla. Di antaranya adalah Sekolah Darurat, Taman Pembinaan Alquran untuk Anak-anak, Pengajian Ibu-ibu dan bapak-bapak, dan lainnya,” ujarnya.

Di antara inventaris yang telah diadakan antara lain lampu penerang, pengeras suara yang perdana telah mengumandangkan adzan, dan mukena.

“Insya Allah akan disusul dengan Alquran, karpet dan kebutuhan lainnya,” ungkap Nasar lagi.
Posko pengungsian di desa ini merupakan satu dari delapan titik pengungsian yang dibina oleh Lazis Wahdah. Program utama yang digelar di masing-masing posko pembinaan antara lain distribusi logistik/ sembako, layanan kesehatan, trauma healing, pembinaan rohani dan program kemasyarakatan lainnya.(San/sym)

Sumber: http://makassar.tribunnews.com

Relawan Wahdah Islamiyah Lakukan Aksi Bersih-Bersih di Pengungsian

Salah satu Relawan LAZIS Wahdah yang melakukan kegiatan kebersihan di lokasi pengungsian bencana Sulteng.

(DONGGALA) wahdahjakarta.com– Relawan Wahdah Islamiyah melakukan pembersihan di posko pengungsian Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala Sulawesi tengah, Sabtu (13/10).

Pembersihan dilakukan sepanjang posko yang berisi 342 Kepala Keluarga ini, dengan menyisir tenda-tenda pengungsian.

Andi Nasaruddin selaku Koordinator Posko relawan Wahdah mengatakan, tujuan dilaksanakan pembersihan adalah untuk membantu warga menjalankan aktivitasnya di lingkungan yang steril.

“Banyak sekali sampah, sehingga banyak lalat-lalat berkeliaran yang sangat berbahaya untuk kesehatan warga,” ujar pria asal Bone ini.

Nasaruddin melanjutkan, salah satu program Wahdah Islamiyah di posko pengungsian ini adalah layanan kesehatan. Maka untuk mempersiapkannya, kata Nasar, adalah dengan mempersiapkan lingkungan yang bersih.

“Insya Allah tim medis akan tiba untuk melayani keluhan kesehatan warga,” ujarnya.

Selain layanan kesehatan, Wahdah Islamiyah juga membuka Sekolah Ceria kepada anak-anak, bersama Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI). Sekolah ditujukan untuk mengisi waktu anak-anak yang libur sekolah akibat gempa yang terjadi.

“Juga sebagai cara Trauma Healing dengan menggunakan permainan dan materi-materi sekolah,” pungkas Nasar.

“Kami berharap program-program yang kami jalankan bisa memberikan manfaat bagi seluruh warga pengungsian, bukan hanya bantuan sembako,” tambahnya.

Sejauh ini, sudah ada delapan posko Wahdah Islamiyah yang tersebar di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigimoutong. Masing-masing memiliki program antara lain distribusi logistik, trauma healing, pembinaan keislaman, sekolah darurat, dan program lainnya. (fry)

Laporan:Rustam Hafid
Relawan Wahdah Peduli

Lahan Terbatas, Warga Terpaksa Bangun Tenda Pengungsian di Samping Kuburan

Tenda yang didirikan warga di samping kuburan akibat terbatasnya lahan untuk pengungsian.

(Palu) Wahdahjakarta.com-– Pemandangan miris terlihat di sekitaran kompleks pengungsian di Kel. Balaroa, Kec. Palu Barat, kota Palu Jumat (12/10,) pasalnya, terlihat beberapa warga memanfaatkan tanah pekuburan sebagai tempat tinggal.

Tenda-tenda warga yang begitu banyak membuat sebagian warga memilih untuk tidur diatas tanah pekuburan.

Warga di perumahan Balaroa yang mengungsi memilih mendirikan tenda di dekat lokasi pemakaman karena lahan yang terbatas.

Terlihat pula tumpukan pakaian diatas pekuburan dengan jumlah yang sangat banyak.

mereka dijanji sama pemerintah untuk diberikan tempat tinggal sementara,paling lambat dua bulan. [fry]

Laporan:
Dzulkifli Tri Darmawan
Relawan Media Lazis Wahdah Islamiyah

Tanah Longsor di Sumatera Utara, 4 orang Meninggal Dunia

4 orang jenazah yang menjadi korban longsor di Sumatera Utara kemarin di urus pemakamannya oleh warga.

4 orang jenazah yang menjadi korban longsor di Sumatera Utara kemarin di urus pemakamannya oleh warga.

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Sebanyak 4 orang meninggal dunia tertimbun longsor di Sumatera Utara. Tepatnya di Lingkungan VII Gg. Senggol Kelurahan Simaremare Kec. Sibolga Utara Kota Sibolga, Sumatera Utara pada 11/10/2018 pukul 17.00 WIB.

“Hujan lebat menyebabkan tebing longsor dan menimbun rumah di bawahnya.” Ujar Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam twitternya pada hari jumat(12/10) pagi ini.

Kondisi Rumah yang tertimbun tanah longsor di Sibolga, Sumatera Utara

Belum diketahui berapa jumlah rumah yang tertimbun, namun berdasarkan foto yang diupload Sutopo, kerusakan yang ditimbulkan tidak begitu parah, sedangkan korban yang meninggal sudah diurus oleh masyarakat sekitar. (Fry)

Dengar Lantunan Ayat Suci, Korban Gempa Tersentuh Menyeka Air Mata

Umar Al Faruq bin Ikhwan Jalil saat melantunkan ayat suci QS. Al Anbiya pada saat kegiatan Trauma Healing di Palu, Sulteng

Umar Al Faruq bin Ikhwan Jalil saat melantunkan ayat suci Al-Quran pada saat kegiatan Trauma Healing di Palu, Sulteng

(PALU) wahdahjakarta.com- “Kami hadir untuk membersamai bapak dan ibu, bukan hanya hadir dengan bantuan ini, namun hadir dengan jiwa kami,” kata Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil membuka taushiyahnya dalam program trauma healing kepada pengungsi korban gempa Palu, Posko Pengungsian Balaroa, Jalan Sumur Yoga, Palu, Kamis (11/10/2018).
“Kami berharap kebersamaan kita bukan hanya di dunia, namun hingga di SurgaNya Allaah ta’ala ” ungkap Ustadz Ikhwan yang juga Ketua Dewan Syura Wahdah Islamiyah ini.

“Bencana yang hadir, akan menjadi asbab ditinggikannya derajat, dan penebal keimanan. Bolehlah kita berada di tenda pengungsian, namun tetap shalat, berdzikir, membaca Alquran dan ibadah lainnya,” tuturnya.

Di sela tausiyah, Umar Al-Faruq bin Ikhwan Jalil melantunkan Kalam Ilahi dalam surah Al-Anbiya, yang disambut derai air mata dari warga pengungsian yang hadir.

Satu persatu warga tertunduk, menghayati lantunan ayat suci, dan tak sedikit yang menyeka air mata karena tersentuh.

Setelah lantunan ayat suci Al-Quran, ustadz Ikhwan mengajak seluruh warga untuk semakin kuat bersabar menghadapi ujian. “Untuk semakin menguatkan kita, bahwa tiada yang lebih besar dari Allah ta’ala, kami mohon izin kepada bapak dan ibu untuk bertakbir bersama sebanyak tiga kali,” serunya yang kemudian disambut pekikan takbir dari warga pengungsian.
Trauma Healing merupakan salah satu program WI dalam penanggulangan korban gempa Palu dan sekitarnya. Ustadz dan Ustadzah senior dan praktisi diterjunkan ke lokasi bencana sejak Senin (6/10/2018).

Selanjutnya, relawan WI akan mendirikan posko pembinaan keislaman kepada warga, yang diisi dengan program-program, diantaranya Trauma Healing, pembinaan pengajian untuk Ibu-ibu dan anak-anak, serta program lainnya.

Sampai berita ini diturunkan, Wahdah Islamiyah telah mendirikan posko relawan di 9 titik yang tersebar di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi, dengan program utama SAR, Trauma Healing, layanan medis, dan distribusi logistik. (RH/FSY/SYM)

Jelang Akhir Masa Tanggap Darurat, BNPB: Korban Meninggal 2.045 Jiwa

Proses evakuasi korban meninggal yang dilakukan Relawan di wilayah pusat gempa.

Proses evakuasi korban meninggal yang dilakukan Relawan di wilayah pusat gempa.

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Menjelang hari-hari terkhir evakuasi korban gempa Sulteng, pencarian terhadap korban kian digencarkan oleh Tim SAR gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BNPB, maupun Relawan dan masyarakat.

Sutopo Purwo Nugroho, Kapusdatin & Humas BNPB menyatakan, penghentian evakuasi korban akan dilaksanakan pada 11 Oktober 2018 berdasarkan pernyataan wakil presiden yang merupakan koordinator dalam penanganan darurat bencana yang ditunjuk langsung oleh presiden.

Pada konferensi Pers yang digelarRabu(10/10/2018) BNPB melaporkan, sekitar 2.045 korban meninggal berhasil ditemukan dalam keadaan sudah hancur, melepuh dan sulit dikenali, sehingga pada saat korban ditemukan, Tim Evakuasi memutuskan untuk segera menguburkan jenazah karena berpotensi menyebabkan penyakit. Tetapi sebelumnya, Tim Evakuasi mengambil sampel identitas berupa foto bagian yang mudah dikenali dari jenazah sebelum dimakamkan.

“Korban yang hilang kemungkinan lebih banyak, dan hingga saat ini Tim Evakuasi masih melakukan pencarian.” Tutur Sutopo.

Untuk korban luka hingga kemarin, tercatat sebanyak 10.679 orang, korban mengalami luka berat sebanyak 2.549, dan 8.130 orang lainnya mengalami luka ringan.

Sutopo menyebutkan, pada saat evakuasi dihentikan nanti, jenazah yang belum ditemukan akan dinyatakan hilang, dan seandainya ditemukan oleh Relawan maupun warga, maka akan tetap dicatat di BNPB sebagai korban meninggal.
Namun jika masyarakat menemukan mayat korban gempa diimbau untuk melaporkannya agar dicatat sebagai korban meninggal.

“Kadang warga ketika merapikan puing-puing bangunan menemukan jenazah, nanti dilaporkan saja, biar kita catat sebagai korban meninggal.” Ujar Sutopo. (Fry)

Evakuasi Korban Gempa Sulteng Dihentikan, BNPB: Yang Belum Ditemukan Dinyatakan Hilang

Proses evakuasi Korban Gempa Sulteng oleh Relawan

Proses evakuasi Korban Gempa Sulteng oleh Relawan

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memutuskan menghentikan masa tanggap darurat gempa Sulteng. Dengan demikian proses evakuasi korban juga dihentikan. Adapun korban yang belum ditemukan dinyatakan hilang, dan areal lokasi bencan dijadikan sebagai areal kuburan massal.

Dalam catatan BNPB pada konferensi Pers yang digelar, Rabu(10/10/2018) siang sekitar 2.045 korban meninggal berhasil ditemukan dalam keadaan sudah hancur, melepuh dan sulit dikenali. Sehingga saat korban ditemukan, tim Evakuasi memutuskan untuk segera menguburkan jenazah karena berpotensi menyebabkan penyakit.

“Tetapi sebelumnya, Tim Evakuasi mengambil sampel identitas berupa foto bagian yang mudah dikenali dari jenazah sebelum dimakamkan”, jelas Kapusdatin & Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam konferensi pers kemarin, rabu (10/10/2018)

“Korban yang hilang kemungkinan lebih banyak, dan hingga saat ini Tim Evakuasi masih melakukan pencarian.” Imbuh Sutopo.

Korban yang ditemukan sudah dimakamkan seluruhnya, 969 jenazah dimakamkan secara massal, sedangkan 1.076 lainnya dikembalikan kepada keluarga untuk dimakamkan di pemakaman keluarga.
Untuk korban luka, tercatat sebanyak 10.679 orang, korban mengalami luka berat sebanyak 2.549, dan 8.130 orang lainnya mengalami luka ringan.Sutopo menyebutkan, pada saat evakuasi dihentikan nanti, jenazah yang belum ditemukan akan dinyatakan hilang, dan seandainya ditemukan oleh Relawan maupun warga, maka akan tetap dicatat di BNPB sebagai korban meninggal.
“Kadang warga ketika merapikan puing-puing bangunan menemukan jenazah, nanti dilaporkan saja, biar kita catat sebagai korban meninggal.”

Sebelumnya media ini memberitakan keputusan BNPB mengakhiri masa tanggap darurat gempa Palu dan penghentian evakuasli berdasarkan keputusan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.

“Berdasarkan keputusan gubernur Sulteng, BNPB mengumumkan evakuasi tanggap darurat korban akan diakhiri pada tanggal 11 Oktober besok, sehingga untuk evakuasi korban yang masih tersisa akan di maksimalkan sebelum jatuh tempo”, ujar Sutopo saat Konfrensi pers,Rabu (10/10/2018).

“Karena Tim SAR juga punya tugas lain dalam hal penanganan bencana, maupun kemanusiaan, dan tempo pencarian korban juga kami menyesuaikan dengan undang-undang”, tuturnya.

Beberapa pertimbangan lain berdasarkan Rapat Koordinasi dengan Gubernur Sulteng, Longki Djanggola adalah bahwa korban yang dievakuasi sudah banyak yang rusak dan sulit dikenali akibat kondisi jenazah yang sudah melepuh, sehingga begitu ditemukan langsung dimakamkan karena berpotensi menyebabkan penyakit.

Tokoh agama dan tokoh masyarakat juga menyampaikan agar dipertimbangkan untuk tidak melanjutkan evakuasi, sehingga lokasi bencana diusulkan agar menjadi tenpat penguburan massal dan masyarakat akan dibangunkan tempat lain untuk tinggal diluar lokasi bencana. [fsy/sym].

Gempa Bumi Rusak Rumah Warga di Sumenep, Jawa Timur

Jawa Timur & Bali diguncang gempa bumi

Setelah Sulteng, Jawa Timur & Bali juga menjadi pusat gempa bumi berkekuatan hampir mencapai 7 dan menghancurkan beberapa rumah warga pada saat malam hari

(Jakarta) wahdahjakarta.com- Gempa bumi dengan kekuatan 6,4 mengguncang wilayah Jawa Timur dan Bali pada Kamis (11/10/2018) dini hari. Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan , episenter gempabumi terletak pada koordinat 7,47 LS dan 114,43 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 55 km arah timur laut Kota Situbondo, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur pada kedalaman 12 km. Gempa tidak berpotensi tsunami.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis , Kamis (11/10/2018) pagi menyampaikan bahwa sementara korban gempa adalah tiga orang meninggal dunia dan sejumlah rumah mengalami kerusakan.
“Posko BNPB telah mengkonfirmasi dampak gempa ke BPBD Provinsi Jawa Timur. Data sementara dampak gempa dilaporkan 3 orang meninggal dunia dan beberapa rumah mengalami kerusakan. Daerah yang
terparah adalah di Kecamatan Gayam Kabupaten Semenep Jawa Timur”, jelas Sutopo dalam keterangan tertulis yang diterima wahdahjakarta.com.

Dinding salah satu rumah warga Jawa Timur yang terkena dampak gempa bumi tadi malam.

Selain itu beberapa rumah mengalami kerusakan. BPBD Provinsi Jawa Timur dan BPBD Kabupaten Sumenep masih melakukan pendataan. Kerusakan 25 rumah terdapat di:
– rumah rusak di desa Jambuir, Kec. Gayam Kepulauan sapudi- Sumenep
– rumah rusak di Kopedi Kec.Bluto – Sumenep
– rumah rusak di Kertasada Kec.Kalianget – Sumenep
– rumah rusak di Nyabakan timur Kec.Batang-Batang – Sumenep
– rumah rusak di Desa Prambanan, Kec. Gayam – Sumenep
– rumah rusak di Desa Pancor Kec. Gayam – Sumenep
– rumah rusak di Desa Nyamplong Kec. Gayam – Sumenep
Selain itu terdapat satu Masjid rusak di Desa Gendang Timur Kec.Sepudi – Sumenep.
Gempa M6,4 yang kemudian telah dimutakhirkan menjadi M6,3 oleh BMKG terasa di seluruh wilayah Jawa Timur meliputi Kabupaten/Kota Situbondo, Jember, Banyuwangi, Lumajang, Kab. Probolinggo, Kota Probolinggo, Bondowoso, Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Kab. Pasuruan Kota Pasuruan, Kota Batu, Kota Malang, Kab. Malang, Kab. Blitar, Surabaya, Sidoarjo, Jombang, Kab. Mojokerto, dan Kota Mojokerto.
Guncangan gempa dirasakan cukup kuat oleh masyarakat di Sumenep dan Situbondo selama 2-5 detik. Masyarakat berhamburan keluar rumah. Sedang di daerah lain gempa dirasakan sedang selama 2-5 detik.
“Berdasarkan analisis peta gempa dirasakan, intensitas gempa dirasakan III-IV MMI di Denpasar, III MMI di Karangkates, III MMI di Gianyar, III MMI di Lombok Barat, III MMI di Mataram, III MMI di Pandaan”, terang Sutopto.
“Artinya gempa dirasakan ringan hingga sedang. Secara umum tidak banyak dampak kerusakan akibat gempa”, Pungkasnya.
Sutopo menambahkan, posko BNPB terus memantau perkembangan dampak gempa dan penanganannya. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi:
1) Kalaksa BPBD Kabupaten Sumenep (Rahman 0812-3530-146).
2) Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur (Suban, +62811328601).

Gempa Bumi M6,4 Guncang Jawa Timur dan Bali, 3 Orang Dikabarkan Meninggal Dunia

Keadaan rumah warga di Sumenep, Jawa Timur

Keadaan rumah warga di Sumenep, Jawa Timur pasca gempa 6,4 SR tadi malam, kamis(11/10/2018)

(Jakarta) wahdahjakarta.com- Gempabumi dengan kekuatan magnitudo M6,4 mengguncang wilayah Jawa Timur dan Bali pada Kamis (11/10/2018) pukul 01.57 WIB. BMKG melaporkan episenter gempabumi terletak pada koordinat 7,47 LS dan 114,43 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 55 km arah timur laut Kota Situbondo, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur pada kedalaman 12 km.
“Gempa tidak berpotensi tsunami”, Kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis kepada wahdahjakarta.com, Kamis (11/10/2018) pagi.
“Posko BNPB telah mengkonfirmasi dampak gempa ke BPBD Provinsi Jawa Timur. Data sementara dampak gempa dilaporkan 3 orang meninggal dunia dan beberapa rumah mengalami kerusakan. Daerah yang terparah adalah di Kecamatan Gayam Kabupaten Sumenep Jawa Timur”, jelas Sutopo.

Tampak dalam salah satu rumah warga pasca gempa tadi malam.

Tiga orang meninggal dunia adalah (1) Nuril Kamiliya (L/7) (Warga Desa Prambanan, Kec. Gayam – Sumenep), (2) H. Nadhar (P/55) Dsn. Jambusok, Desa Prambanan, Kec. Gayam – Sumenep, dan (3) Laki-laki Dewasa yang identitasnya masih identifikasi.
“Korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh. Kejadian gempa Kamis dini hari saat korban sedang tidur tiba-tiba gempa mengguncang dan rumah roboh sehingga korban tidak bisa menyelamatkan diri”, Pungkasnya. [fry/sym].

Korban Meninggal Gempa Sulteng 2.010, BNPB Putuskan Akhiri Masa Masa Tanggap Darurat

penghentian masa tanggap darurat gempa sulteng.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB ketika dimintai keterangan tentang penghentian masa tanggap darurat gempa sulteng.

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Memasuki hari kesebelas pasca gempa Sulawesi Tengah jumlah korban meninggal yang ditemukan capai 2.010.
“Semua korban meninggal telah dimakamkan di pemakaman umum maupun yang diambil oleh keluarganya untuk dimakamkan di pemakaman keluarga, ” ujar Kapusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho pada konfrensi Pers di Graha BNPB Jakarta, Selasa (09/10/2018) siang.

Ada 10.679 korban yang mengalami luka-luka, 2.549 diantaranya mengalami luka berat dan 8.130 lainnya mengalami luka ringan.

Sementara jumlah korban hilang dilaporkan sebanyak 671 orang yang hingga saat ini masih dalam pencarian oleh Tim SAR gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BNPB, Relawan, maupun masyarakat yang dikoordinir oleh Basarnas.

Untuk pengungsi yang tercatat sebanyak 82.775 orang, semenjak 8 oktober lalu sudah direncanakan relokasi hunian sementara untuk percepatan pembangunan infrastruktur.

“Di tenda itu tidak enak, panas, apalagi bercampur seperti yang ada di tempat-tempat pengungsian.” ucap sutopo.

Ada pula sebagian pengungsi yang sudah dievakuasi keluar kota Palu sebanyak 8.276 orang, 6.157 diantaranya menggunakan jalur udara, 1.908 menggunakan jalur laut dan sisanya mengevakuasi secara mandiri ke Maros melalui jalur darat sebanyak 211 orang.

Untuk penanganan pangan, BNPB mencatat ada 16 titik dapur umun yang tersebar di wilayah pusat bencana yang ditangani oleh Dinas Sosial dan Tagana dari kabupaten sekitar.

Selain itu ada pula dapur umum yang dikelola oleh lembaha dan organisasi sosial. Wahdah Islamiyah membuka dua posko, di Palu dan Pasangkayu Sulbar.
Untuk bantuan logistik, obat2an dll. sudah banyak berdatangan baik dari negara sahabat, NGO, maupun organisasi kemanusiaan di dalam negeri.

Melihat keadaan yang sudah mulai membaik dibanding pada hari-hari awal ketika gempa terjadi. Berdasarkan keputusan gubernur Sulteng, BNPB mengumumkan evakuasi tanggap darurat korban akan diakhiri pada tanggal 11 Oktober besok, sehingga untuk evakuasi korban yang masih tersisa akan di maksimalkan sebelum jatuh tempo.

“Karena Tim SAR juga punya tugas lain dalam hal penanganan bencana, maupun kemanusiaan, dan tempo pencarian korban juga kami menyesuaikan dengan undang-undang”, tutur sutopo.

Beberapa pertimbangan lain berdasarkan Rapat Koordinasi dengan Gubernur Sulteng, Longki Djanggola adalah bahwa korban yang dievakuasi sudah banyak yang rusak dan sulit dikenali akibat kondisi jenazah yang sudah melepuh, sehingga begitu ditemukan langsung dimakamkan karena berpotensi menyebabkan penyakit.

Tokoh agama dan tokoh masyarakat juga menyampaikan agar dipertimbangkan untuk tidak melanjutkan evakuasi, sehingga lokasi bencana diusulkan agar menjadi tenpat penguburan massal dan masyarakat akan dibangunkan tempat lain untuk tinggal diluar lokasi bencana.

Untuk pencarian korban hingga hari ini, BNPB mengerahkan sekitar 25 alat berat, 7 diantaranya sudah beroperasi di Petobo, 5 di Balaroa, dan akan dilakukan pencarian dengan menggunakan eskavator amphibi sebanyak 6 unit di wilayah Jono Oge, kab. Sigi karena wilayah evakuasi masih sangat basah oleh lumpur. (fry)