Wahdah Jakarta Utara Sertifikasi 11 Pengajar Al-Qur’an Khusus Dewasa

Peserta Training yang lulus sertifikasi sebagai pengajar dirosa di Jakarta Utara pada Ahad(9/12/2018) di Markaz Qur’an Wahdah Jakarta Utara.

(Jakarta) wahdahjakarta.com,– Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah Jakarta Utara melakukan sertifikasi terhadap 11 pengajar Al-Qur’an khusus orang dewasa, Ahad (9/13/2108).

Para peserta disertikasi setelah terlebih dahulu mengikuti pengajar Al-Qur’an metode DIROSA (Pendidikan Al-Qur’an Orang Dewasa) yang digelar pada hari yang sama di Markaz Qur’an Wahdah Jakarta Utara.

Menurut Ketua pelaksana Saripudin, kegiatan ini memang bertujuan untuk mencetak para pengajar dari pemuda muslim untuk memberantas buta huruf Alquran.

“Dirosa ini programnya “ECI” (Efektif, Cepat, Indah), artinya efektif, cepat diterapkan dan indah karena kebersamaan.” ujar Andi(35th), salah seorang peserta training dari Cilincing.

Menurut Andi, program ini sangat perlu dikembangkan di beberapa wilayah khususnya Jakarta karena kebanyakan masyarakat kurang paham(buta) dengan huruf Al Qur’an.

Suasana saat berlangsung materi penguasaan buku dirosa pada Training Pengajar Dirosa Jakarta Utara, Ahad(9/12/2018) di Markaz Qur’an Wahdah Jakarta Utara

Peserta awalnya disuguhi materi tentang penguasaan metode buku Dirosa selama lebih kurang 2 jam dan kemudian diberi kesempatan untuk praktek dalam mikro teaching selama 3 jam.

Terakhir, Saripudin yang juga ketua DPD WI Jakarta Utara bersyukur atas kelancaran kegiatan dan berharap agar para pengajar yang baru lulus dari pelatihan pengajar ini mampu ikut serta dalam pemberantasan buta huruf khususnya di wilayah Jakarta Utara.

“Harapannya kedepan para pengajar yang baru lulus dari training bisa ikut bergabung melaksanakan pemberantasan buta huruf di Jakarta Utara.”pungkasnya. [fry]

Komunitas Jum’at Barokah Sambangi Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah

Santri Ponpes Tahfidz Wahdah Islamiyah saat foto bersama dengan Komunitas Jum’at Berkah di Cibinong, Bogor pada Jum’at(7/12/2018) saat dikunjungi dalam program amal Jum’at Berkah yang menjadi rutinitas komunitas tersebut.

(Bogor) wahdahjakarta.com– Komunitas Jum’at Barokah berbagi sedekah dan infaq dengan santri penghafal Al-Qur’an Wahdah Islamiyah, Cibinong Bogor, Jum’at (7/12/2018).

Menurut ketua komunitas, Ely program berbagi setiap hari Jum’at merupakan kegiatan rutin komunitasnya. Sasaran targetnya antara lain pesantren tahfidz, panti asuhan, anak yatim, para lansia dan sebagainya.

“Kami memilih berbagi di hari Jum’at, jadi setiap hari Jum’at kami berbagi dengan anak yatim dan santri penghafal Al-Qur’an juga”, ujarnya kepada wahdahjakarta.com di Bogor, Jum’at (7/12/2018).

Komunitas ini beranggotakan para ibu rumah tangga. Mereka memanfaatkan waktu luang di sela-sela kegitan mengurus rumah dan mengantar anak ke sekolah dengan berbagi.

“Kami ingin menjadikan waktu kami itu lebih berharga setelah kesibukan mengurus rumah tangga dan mengantar anak ke sekolah”, imbuhnya. (Adlan).

Puting Beliung Terjang Bogor, Satu Meninggal Dunia dan 50 Rumah Rusak

 

Mobil korban meninggal a.n Eni Retni yang tertimpa pohon tumbang saat mau jemput anaknya pulang sekolah akibat puting beliung yang terjadi pada Kamis (6/12/2018) sore tadi di Bogor Selatan.

(Bogor) wahdahjakarta.com,- 4 Kelurahan di Bogor Selatan diterjang olwh angin puting beliung pada pukul 15.00 sore tadi, Kamis(6/12/2018).

“Puting beliung disebabkan oleh cuaca mendung gelap akibat adanya awan Cumulonimbus yang kemudian menerjang wilayah Bogor Selatan Kota Bogor.” ujar Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam rilis BNPB.

Sutopo menjelaskan, Puting beliung yabg disertai hujan deras dan pohon tumbang melanda wilayah Kelurahan Cipaku, Kelurahan Batutulis, Kelurahan Pamoyanan dan Kelurahan Lawanggintung Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor.

Dampak puting beliung menyebabkan satu orang meninggal dunia atas nama Eni Retno (46 tahun) warga Perumahan Bogor Nirwana Residence, Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor. Data sementara sebanyak 50 unit rumah mengalami kerusakan.

“Diperkirakan jumlah rumah rusak akan bertambah karena banyak rumah yang terdampak puting beliung di 4 kelurahan. 6 unit kendaraan ringsek. Pohon tumbang di 5 titik di kawasan Bogor Selatan.” tulisnya dalam rilis tersebut.

Tim Reaksi Cepat BPBD Kota Bogor dibantu TNI/Polri dan Tagana melakukan pendataan, evakuasi korban dan mobil serta pemotongan dan pembersihan pohon yang tumbang.

“Pendataan masih terus kami lakukan.” tutupnya.[fry]

Sumber : Rilis Kapusdatin & Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Gempa 5,3 SR Guncang Mataram, Terasa Kuat di Lombok

Warga tampak panik dan keluar dari rumah/bangunan serta Anak-anak SD sebagian dipulangkan setelah gempa 5,3 SR yang mengguncang mataram dan lombok pada Kamis (6/12/2018)

(Mataram) wahdahjakarta.com,- Gempa bumi terjadi di Kota Mataram dan Lombok pada Kamis (6/12/2018) dengan kekuatan 5,7 SR.

Berdasarkan laporan BMKG, gempabumi yang awalnya bermagnitudo 5,7 SR telah dimutakhirkan menjadi magnitudo 5,3.

Pusat gempa di darat di posisi 23 km Barat Laut Mataram pada kedalaman 10 km. Gempa tidak berpotensi tsunami.

Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan
Posko BNPB telah mengkonfirmasi dampak gempa. Guncangan gempa dirasakan kuat selama 5 detik di Kota Mataram. Masyarakat panik dan keluar dari rumah/bangunan Anak-anak SD sebagian dipulangkan.

“Di Kabupaten Lombok, gempa terasa kuat sekitar 4-5 detik. Masyarakat panik dan keluar dari kantor/bangunan. Di Denpasar gempa dirasakan sedang. Sebagian masyarakat keluar dari rumah dan bangunan.” tulisnya dalam rilis yang dikirimkan melalui grup WhatsApp media bencana.

Sutopo menuturkan, Dampak gempabumi ini dilaporkan menimbulkan guncangan di daerah Lombok Utara dalam skala intensitas VI MMI, Lombok Barat dan Mataram V MMI, Lombok Tengah dan Lombok Timur IV MMI, Denpasar III-IV MMI, Jimbaran, Tabanan, Nusa Dua dan Sumbawa III MMI, Karangasem, Singaraja dan Kuta II-III MMI.

“Belum ada laporan korban jiwa dan kerusakan bangunan. Tim Reaksi Cepat BPBD saat ini masih mengumpulkan informasi mengenai dampak gempa.” jelasnya. [fry]

Sumber : Rilis Kapusdatin BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Pemerintah Usulkan Kenaikan Biaya Haji 1440 H 43 US Dollar

Menteri Agama Lukman Hakim mengikuti rapat kerja bersama Komisi VIII DPR. (Foto:ANTARA)

(Jakarta) wahdahjakarta.com,- Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin menyebutkan penetapan biaya haji oleh Kemenag untuk tahun 2019 sebesar USD 2.675 atau setara dengan Rp 38.720.625 pada Senin (26/11) di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Menurutnya, biaya penyelenggaraan haji tersebut naik sebesar Rp.  622 ribu jika dibandingkan tahun sebelumnya.

“(Biaya haji tahun 2019) USD 2.675 yang kami usulkan, dibandingkan tahun lalu ada kenaikan USD 43,” ujarnya.

Lukman menjelaskan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kenaikan harga tersebut. Beberapa faktor tersebut adalah kenaikan harga tiket pesawat hingga transportasi selama berada di Arab Saudi.

“Termasuk kenaikan angkutan atau transportasi darat dari Makkah ke Madinah atau sebaliknya, dari Jeddah ke Makkah itu pemerintah Saudi Arabia secara resmi menaikkan harganya karena mereka ingin meremajakan bus-bus yang digunakan jemaah kita,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Lukman menyebut kenaikan harga tersebut akan berimbas pada peningkatan kualitas pelayanan jemaah. Termasuk untuk pengadaan fasilitas penyejuk ruangan di Arafah serta keperluan lainnya.

“Jadi tenda-tenda di Arafah ini di tahun 2019 akan kita lengkapi dengan AC, penyejuk udara, dan tentu ini menambah biaya 50 Saudi Rial,” jelas Lukman.

Sementara untuk kuota haji, Lukman menyebut tidak ada perubahan jumlah dari tahun sebelumnya. Menurutnya, pihaknya tetap menyediakan kuota untuk 221 ribu calon jemaah yang siap diberangkatkan.

“Jumlah tersebut terdiri dari 204 ribu untuk haji reguler dan 17 ribu untuk haji khusus,” pungkasnya.

Sumber : Kumparan.com

Sebab-Sebab Lemahnya Iman

Berbicara tentang islam, tentu semua kita termasuk para muslim yang sama-sama in syaa Allah diberkahi dan dinanti-nanti oleh Rasulullah di pintu surga nantinya, yang bersaksi bahwa tidak ada illah yang patut disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, dan Rasulullah Muhammad salallahu ‘alaihi wasallam adalah Rasul (utusan) yang dianugerahkan Allah kepada kita semuanya.

Tapi, apakah semua kita beriman? dan apakah iman kita tersebut sudah bisa disebut iman yang masuk kriteria yang ditentukan Allah? jawabannya, wallahu a’lam bishawab, karena kita ga tau isi hati kita, kita tidak tahu apa yang dibaca oleh Allah dalam hati kita. Karena cuma Allah-lah yang bisa baca isi hati kita. Manusia itu kodratnya buta, buta dalam hal memperhatikan apa yang memang disuratkan Allah bahwa ia tak mampu melihatnya, seperti hal-hal yang ghaib, maupun isi hati. Memang manusia adalah sebaik-baik bentuk dan makhluk yang paling dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sampai malaikat saja diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepada nenek moyang kita, yakni Nabi Adam ‘alaihissalam, tapi bukan berarti kita merupakan makhluk yang sempurna, kita jauh sekali dari kata itu. Karena kita ditakdirkan tidak luput dari khilaf dan lupa.

Seperti halnya dalam sebuah perjalanan yang pasti ada aja hambatan yang harus perbaiki dulu , begitupun saat kita sedang dalam masa perbaikan iman, misalya dalam proses hijrah, kadang ada yang menjanggal kita dalam proses tersebut, apa saja itu?

  1. Kurang Ikhlas

Allah berfirman :

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

Ayat ini menerangkan seterang-terangnya bahwa ketika kita menyatakan bahwa kita merupakan hamba Allah yang beriman, maka kita harus menyempurnakan niat kita terlebih dahulu untuk memiliki harta berharga yang disebut iman tersebut, karena iman tidak akan datanng atau tidak akan kita peroleh kalau kita beriman bukan untuk Allah subhanahu wa ta’ala, padahal jelas kalau iman yang pertama adalah menyempurnakan tauhid kita kepada Allah, Sang Pemilik jiwa dan raga kita. keikhlasan yang dimaksud disini adalah menyempurnakan tauhid itu tadi dalam menjalankan syariat yang telah ditetapkan Allah subahahu wa ta’ala.

Lalu Allah langsung menyinggung soal shalat pada ayat ini, artinya ketika kita masih ada keterpaksaan dalam mendirikan shalat, atau menganggap shalat itu hanya sebatas rutinitas, bukan prioritas, maka ini juga tergolong tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beribadah kepada Alla azza wa jalla. Lalu setelah shalat, Allah menyinggung lagi masalah zakat, tentunya juga termasuk infaq & sedekah. Hal ini juga pasti memerlukan keikhlasan dalam melakukannya, tanpa keikhlasan, semua yang sudah kita berikan di jalan Allah itu adalah sia-sia, dan apabila ada sedikit saja kedongkolan atau kekhawatiran dalam hati kita kalau harta kita nanti akan berkurang, maka hati-hati, ini juga tanda-tanda kalau kita Kurang Ikhlas dalam beribadah, apalagi kalau ditambah lagi bumbu riya’ sebagai penyedap, makin habis pahala kita tersebut.

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah besabda “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan (ganjaran perbuatannya) sesuai apa yang telah ia niatkan”

Imam An Nawawi mengatakan disini bahwa hadits tersebut shahih dan sudah disepakati keshahihannya dan beliau juga berpendapat bahwa hadits ini juga disepakati sebagai salah satu hadits yang keutamaannya sangat besar serta merupakan salah satu hadits yang menjadi dasar-dasar islam. Jadi jelas, bahwa niat yang ikhlas adalah salah satu kunci bahwa kita memiliki iman yang teguh. Mulai sekarang, coba perbaiki niat kita, barangkali ada ibadah-ibadah yang selama ini kita anggap enteng niatnya karena sudah kebiasaan, misalnya shalat, karena malu sama orang tua, suami, atau tetangga, jadi kita shalat karena malu nanti diomongin tetangga karena ga shalat, atau malu karena beragama islam tapi ga shalat, ubah niat yang begitu, jadikan shalat adalah kebutuhan kita, jadikan shalat menjadi tempat curhat kita sama Allah, apalagi di sepertiga malam, enak banget tuh buat curhat sama Allah, karena ga ada yang dengar kecuali Allah.

  1. Konsistensi Emosional

Setiap manusia pasti punya perasaan atau emosi dan akal sehat, kecuali manusia yang udah dicabut sama Allah kewarasannya, tapi kadang manusia itu sebagian tenggelam dalam lautan emosi sampai tidak memiliki sikap bijaksana yang menyebabkan kebuntuan dalam berfikir, kondisi seperti ini yang menyebabkan seseorang mudah melakukan kesalahan dan meninggalkan kebenaran. Artinya kalau kita lagi emosi pasti kita bakal gampang mengambil suatu tindakan yang gegabah, makanya Rasulullah melarang kita membuat keputusan kalau kita berada dalam puncak emosi atau sedang dalam keadaan marah dan memberi petunjuk kepada kita ketika menghadapi kemarahan, salah satunya dengan diam.

وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.

(HR. Ahmad)

Karena manusia cenderung mengambil keputusan yang kurang tepat kalau dia sedang dalam keadaan marah. Inilah kondisi yang dialami oleh sebagian orang yang bersikap konsisten secara emosional (perasaan) yang bukan karena keinginannya sendiri atau kesadaran, orang ga bakal sadar kalau sedang mengambil keputusan yang salah kalau sedang marah, yang ada di fikirannya hanya bagaimana menghancurkan musuhnya, bagaimana caranya agar hal yang membuatnya marah tersebut segera hancur.

Terkadang sikap konsisten semacam ini timbul karena dipengaruhi suatu nasihat atau sugesti yang ia dengar sehingga hal tersebut mampu mempengaruhi dirinya baik secara mental maupun fisik. Dan pengaruh semacam itu bersifat sementara serta mudah hilang, biasanya akan diikuti oleh penyesalan karena sudah mengambil tindakan yang salah.

  1. Kecenderungan Kepada Apa Yang Telah Berlalu

Kadang kita suka iri sama apa yang didapatkan oleh teman kita yang jalan hidupnya tidak sama dengan yang kita lalui saat ini,  yang dahulunya merupakan orang yang sama-sama dengan kita dikala kita belum hijrah, dan ketika kita sudah hijrah serta sudah tahu mana yang haram dan dilarang agama, maka kita melihat adanya “kebebasan” yang didapatkan oleh teman kita tersebut disebabkan ketidaktahuannya dalam syariat, terlihat seperti hidupnya lebih bebas, karena masa bodoh dengan syariat Allah. Tapi pada dasarnya bukan begitu, justru kita yang lebih bebas, kenapa? karena dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah kepada kita, dengan pengetahuan kita terhadap hukum-hukum yang ditetapkan Allah kepada kita sebagai umat muslim, maka semakin bebas pula kita dari dosa, maksiat, dll. Dan semakin bebas pula kita dalam berjalan lurus ke arah ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketika seseorang hendak bersikap konsisten, pasti tiba-tiba ia merasakan suatu perpindahan dalam hidupnya, dimana pada masa lalu ia hidup dengan penuh maksiat kepada Rabb-nya, dipermainkan setan dan penuh keguncangan dalam hidupnya, kemudian ia berpindah (hijrah) menuju kestabilan rohani dan ketentraman. Keguncangan itu wajar, karena Rasulullah saja sering dicegat oleh kamu kafir Quraisy ketika hendak hijrah ke madinah, tidak sedikit umat Rasulullah yang disiksa bahkan dibunuh ketika diketahui bahwa ia akan meninggalkan kota Mekah bersama Rasulullah, makanya Rasulullah terpaksa mengambil jalan memutar dari pintu Mekkah yang terdekat dengan Madinah, karena pintu tersebut dikawal oleh kaum kadir Quraisy. Begitu dengan kita sekarang, pasti ada hambatan, pasti ada pemikiran bahwa ada perbedaan yang amat jauh antara kehidupan kita di masa lalu yang penuh dengan maksiat dengan kehidupan kita yang sekarang.

Ketika pada suatu masa, kita teringat pada masa lalu tersebut, sahabat-sahabat kita dan berbagai prilaku kita yang terbilang “bebas” ketika bersama mereka, dan kemudian kita mencoba melepaskan tali kekang pikiran kita untuk menelusuri dan mencoba mengilang masa lalu yang kita bilang “indah” tersebut, disinilah iman kita diuji, karena sikap semacam ini bisa saja membahayakan iman kita dan mengancam keistiqamahan kita dalam proses perubahan dan secara tidak langsung telah memberi peluang kepada syaitan untuk melancarkan serangannya kepada kita berupa tipu daya serta permainan sampai kita berfikir untuk meninggalkan proses hijrah kita tersebut. Inilah yang patut kita waspadai karena hal ini sangat rawan terjadi dalam proses-proses hijrah kita hari ini, maka dari itu, kurangi melihat apa yang dimiliki orang lain.

Rasulullah bersabda dalam hadits kitabul jami’ hadits ke-2 :

أُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ عَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada yang dibawah kalian dan janganlah kalian melihat yang diatas kalian sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kalian”.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Maka, kurangi memandang indah dosa-dosa yang sudah kita buat pada masa lampau, perbanyak istighfar ketika kita melihat bahwa kita pernah melakukan dosa tersebut di masa lalu, dan bersyukurlah terhadap apa yang sudah kita milik saat ini, karena hidayah itu mahal, dan hanya diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman dan mampu mempertahankan keimanannya.

Di Silatnas Hidayatullah, Bilal Philips Bicara Kiat Mendidik Generasi Sahabat

Dr. Abu Ameenah Bilal Philips, Dai internasional saat berbicara pada  Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang digelar di Kampus Gunung Tembak, Balikpapan. Usai Shalat Jumat (23/11).

(Balikpapan) wahdahjakarta.com – Sejumlah tokoh nasional dan internasional terus berdatangan meramaikan helatan Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang digelar di Kampus Gunung Tembak, Balikpapan.

Usai Shalat Jumat (23/11), giliran Dr. Abu Ameenah Bilal Philips, dai internasional yang berkesempatan mengisi di Masjid Agung ar-Riyadh, Balikpapan.

Di hadapan sepuluh ribu lebih peserta Silatnas, Abu Ameenah, demikian ia disapa, menuturkan tema “Mendidik Generasi Sahabat yang Baru, Persoalan dan Solusinya”.

Ribuan peserta Silatnas Hidayatullah saat menyimak paparan dari Bilal Philipsh

Doktor kelahiran Jamaika tersebut lalu memotivasi peserta dengan menjelaskan hadits Nabi Muhammad Shallallau alaihi wasallam tentang iman manusia yang paling menakjubkan.
Dijelaskan, iman tersebut rupanya bukan milik malaikat atau nabi atau sahabat yang hidup bersama mereka. Tapi mereka justru orang beriman yang hidup di akhir zaman. Mengimani al-Qur’an tapi tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah.

“Inilah yang menjadi tantangan buat umat Islam. Sebab yang dikenal dari kaum Muslimin justru sebagiannya adalah keburukan dan kekurangan” kata Bilal.

“Kita dikenal suka menyontek, mencuri, dan mengambil hak orang lain,” ucapnya

“Maka satu-satunya cara memperbaiki itu dengan menghasilkan generasi baru yang lebih baik imannya,” lanjut dai internasional yang kini bermukim di Qatar itu.

Kata Bilal, cara yang sederhana adalah komunikasi efektif antara orangtua dan pendidik. Hal ini dianggapnya sebagai titik lemah pada dunia pendidikan saat ini. Dimana sebagian mereka berbeda pandangan soal tujuan dan proses pendidikan itu sendiri.

Terakhir Bilal juga menyoroti soal sekularisasi ilmu yang dianggapnya membahayakan iman umat Islam.

“Itulah kenapa berkah ilmu dan amal itu bisa hilang,” pungkasnya kembali mengutip hadits soal keutamaan ilmu yang bermartabat.[fry]

Pasukan Penanganan Gempa NTB Resmi Kembali Ke Satuan Tugas

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Republik Indonesia Puan Maharani saat menyalami anggota Pasukan Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) Gempa Nusa Tenggara Barat (NTB) 2018 saat pelepasan resmi di Bandara Internasional Lombok, Praya, Lombok Tengah pada selasa (21//11).

(Lombok) wahdahjakarta.com,- Pasukan Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) Gempa NTB 2018 resmi dilepas untuk mengakomodasi seluruh bantuan bagi korban bencana pada selasa (21//11) di Bandara Internasional Lombok, Praya, Lombok Tengah.

Acara ini dipimpin oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani dan dihadiri oleh Pangkogasgab NTB 2018, Mayjen TNI Madsuni, S.E.; Kapolda NTB, Brigjen Achmat Juri; Sekda Prov NTB, Rosiady Sayuti; Bupati Lombok Tengah, Moh. Suhaili Fadhil Thohir; Anggota DPR RI, serta anggota pasukan Kogasgabpad NTB 2018 dengan para unsur terkait dan turut hadir pula Kepala BNPB Willem Rampangillei.

Setelah terjadinya beberapa gempa besar di NTB pada Juli lalu, Tim Kogasgabpad ini telah ditugaskan untuk mengakomodasi seluruh bantuan bagi korban bencana , baik yang berasal dari pihak TNI, Polri, Pemerintah Daerah (Pemda) dan masyarakat untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa.

Menko PMK, dalam sambutannya, memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kabupaten/Kota terdampak bencana Lombok yang telah memberikan dukungan dan kerja sama yang baik dalam mengatasi segala permasalahan selama penanganan masa darurat dan pemulihan pasca bencana NTB. Secara khusus Menko PMK memberikan apresiasi kepada seluruh prajurit TNI dan POLRI yang tergabung dalam Kogasgabpad Nusa Tenggara Barat di bawah pimpinan Mayjen TNI Madsuni.

Menurutnya, pengabdian para prajurit TNI dan Polri menjadi bukti nyata hadirnya negara di tengah masyarakat selama masa tanggap darurat bencana di NTB termasuk pada masa-masa sulit.

“Selama bertugas di sini, para prajurit Kogasgabpad telah bekerja sungguh-sungguh dengan ikhlas untuk memberikan pertolongan, pelayanan dan pengabdian bagi masyarakat terdampak bencana di NTB, sehingga perlahan namun pasti, NTB dapat bangkit menata kehidupan yang lebih baik”, ujar Puan.

“Akhirnya saya ucapkan selamat jalan bagi seluruh prajurit Kogasgabpad, selamat menjalankan kembali tugas pengabdian di kesatuannya masing-masing. Sampaikan salam hormat saya kepada keluarga yang selama ini senantiasa setia mendoakan keselamatan dan kelancaran tugas para prajurit demi menjalankan tugas kemanusiaan di daerah ini.” tutupnya. [fry]

Nasib Pemimpin Dzalim dan Pendukungnya di Padang Mahsyar

 

(Jakarta) wahdahjakarta. com-,
Pakar hadis Dr Daud Rasyid menjelaskan tentang kondisi manusia saat dikumpulkan di padang Masyar. Hal itu ia sampaikan saat tabligh akbar di Masjid Al Barkah As Syafiiyah, Tebet, Jakarta Selatan, Ahad lalu (18/11).

“Nanti di padang Masyhar disaat matahari jaraknya sekitar 1-2 mil dari atas kepala, dalam kondisi tersebut ada yang keringatnya sampai tumit, kemudian lebih atas lagi sampai lutut dan seterusnya. Semua manusia kehausan, namun keutamaan umat Rasulullah akan diberikan minum dari sebuah telaga yang ketika minum seteguk dari telaga tersebut maka tidak akan haus selamanya,” jelas Ustaz Rasyid.

Akan tetapi, di saat umat Nabi Muhammad SAW berkumpul hendak mengambil air minum, ada golongan yang tidak bisa mendekat ke telaga tersebut. “Mereka diusir oleh malaikat, ternyata golongan itu adalah mereka yang di dunia suka merubah ajaran agama dan para pemimpin zalim yang suka berbohong,” jelas Ustaz Rasyid.

Ia menambahkan, tidak hanya pemimpin zalim, para pendukungnya pun akan celaka. “Orang-orang yang membenarkan kebohongan penguasa tersebut dan mendukung kezalimannya maka mereka itu bukan termasuk golongan umat Nabi Muhammad dan tidak akan menjumpai Nabi di telaga tersebut,” ungkap Ustaz Rasyid.

“Jadi siapa yang tidak mendukung kezaliman penguasa pembohong, maka dia termasuk golongan Nabi Muhammad dan akan datang ke telaga tersebut,” tuturnya.

“Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang nanti bisa meminum air dari telaga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam” tandas Ustaz Rasyid.

Kesaksian Aira, Korban Likuifaksi Tentang Neraka Di Petobo

Aira, korban bencana palu yang selamat dari likuifaksi.

(Petobo) wahdahjakarta.com,– “Saat itu saya dengar ceramah. Tiba-tiba bumi berguncang. Ibu saya berteriak menyuruh saya keluar. Saya lari dan terhuyung sana-sini,” kata Aira dalam sebuah video yang dikirim oleh relawan Wahdah Islamiyah di Kelurahan Petobo, Kec. Palu Selatan, kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (20/11).

Aira bercerita kepada relawan, ibunya beberapa kali berteriak histeris menyuruh Aira keluar rumah. Namun karena guncangan yang sangat besar membuat keduanya kesulitan berlari.

“Saya lihat pohon tumbang. Kami terjebak. Mau lari tapi susah,” ungkapnya dengan nada sedih.

Aira menjelaskan, ia dan ibunya hanya pasrah. Hanya bisa berzikir dan berdoa agar selamat. Tsunami dan lumpur sudah terlihat di depan matanya. Tubuhnya terjatuh dan tidak bisa bergerak setelah beberapa kali berusaha untuk bangkit.

“Selama saya pingsan saya lihat neraka. Banyak yang disiksa. Saya lihat cahaya putih, saya ikuti cahaya itu. Ada sosok berbaju putih bilang sama saya. Kalau saya masih mau turun ke bumi ada syaratnya. Saya harus tutup aurat, jaga sholat, dan rajin ibadah,” tutur Aira sembari mengenang.

Aira mengaku melihat jasadnya sudah terbujur kaku dihimpit lumpur. Ia masuk ke tubuhnya dan seketika itu siuman. Orang-orang membantunya dengan menggunakan linggis. Malam itu ia beristirahat di sebuah kursi karena rumahnya telah hancur. Esok harinya, Aira di bawa ke masjid.

“Untuk sampai ke masjid saya harus merangkak di atas lumpur. Baru saya ke puskesmas disana saya cuci kaki dan bersih-bersih. Saya di bawa ke Rumah Sakit tapi disana tidak layak. Alhamdulillah besoknya kaki saya bisa di operasi setelah di bawa ke Rumah Sakit yang lebih lengkap,” tukas Aira.

Ia melanjutkan, di Rumah Sakit itulah ia bertemu dengan ayah dan ibunya yang sempat hilang Aira dan beberapa teman-temannya saat ini masih mengungsi di sekitar lokasi likuifaksi. Ia merupakan salah satu santri binaan dai Wahdah Islamiyah. []