Anti Baper dan Berpikir Positif

Berpikir positiflah selalu dan jangan baper

Berpikir positif dapat menjadi tindakan preventif sebelum individu mempunyai gangguan baik emosi maupun kognisi, sebab dengan berpikir positif dan memiliki emosi yang positif, maka kita menghindar dari emosi negatif yang membawa dampak tidak baik bagi fisik maupun psikologis.

Seorang yang berpikir positif tidak pernah menolak untuk mengakui ada hal-hal negatif, tetapi yang pasti ia menolak untuk terkubur dan larut di dalamnya.

Berpikir positif adalah bentuk pikiran yang terbiasa untuk mencari hasil-hasil terbaik dari kemungkinan-kemungkinan terburuk. Kita sangat mungkin mencari sesuatu untuk dibangun; kita sangat mungkin berharap hasil terbaik meski keadaan terasa sangat buruk. 

Mari selalu kedepankan berpikir positif agar terhindar dari gangguan emosi maupun koginisi.

Sumber: FP Muslimah Wahdah Islamiyah 

Syafruddin, Korban Banjir Jeneponto Yang Kehilangan Anak dan Istri

(Jeneponto) wahdahjakarta.com — Hari ini, tepat sepekan banjir menerjang Jeneponto. 15 orang meninggal dunia, puluhan rumah hanyut dan ratusan rumah rusak berat. Fasilitas umum seperti jembatan, sekolah dan perkantoran rusak diterjang kencangnya arus banjir. Bahkan lima jembatan penghubung antar desa terputus. Akses warga terhambat. Banjir  Jeneponto menyisahkan duka.

Cerita demi cerita perjuangan menyelamatkan diri para korban selamat dan keluarga korban yang meninggal dunia mulai terdengar. Seperti cerita anak dan ibu di Desa Sapanang, Kecamatan Binamu, Jeneponto.

Ialah Syafruddin (50), yang harus kehilangan anak dan istrinya saat air bah itu datang menerjang. Ia menyaksikan langsung bagaimana air bah yang datang dari arah yang tidak diduga. Air tersebut kata Syafruddin tidak hanya membawa lumpur, tetapi berbagai macam material padat seperti sisa-sisa pohon yang tumbang hingga sampah plastik yang tidak sedikit jumlahnya.

“Mungkin sekitar tiga meter pak. Itu saya punya rumah hampirmi naik ke dalam padahal rumahku itu rumah panggung. Saking tingginya itu air,” ujar Syafruddin, Kamis (31/1/2019).

Dari informasi yang didapatkan oleh relawan, Syahfruddin pada waktu itu sedang berada di sawahnya. Menjelang zuhur ia bergegas pulang untuk bersiap menunaikan sholat zuhur.

Rumah Syafruddin yang rusak parah akibat diterjang banjir Jeneponto

“Saya suruh anak untuk keluarkan dulu mobil. Saya sementara siap-siap mandi untuk sholat,” imbuhnya.

Hanya beberapa saat ketika ia hendak masuk ke rumah, air sungai yang berada tak jauh dari area perkampungan naik menyapu rata setiap bangunan yang dilaluinya. Banyak pohon yang tumbang. Bahkan, hewan-hewan ternak seperti ayam, kuda, sapi, hingga itik banyak yang mati tenggelam. Mobilnya pun mengalami kerusakan yang cukup parah.

Ia masih terhenyak tanpa kata saat relawan menanyakan bagaimana kondisi keluarganya saat itu. Mulutnya tak bisa lagi berkata-kata. Hingga air matanya jatuh. Bagaimana musibah ini merenggut anak dan istrinya.

Didepan matanya, dua orang yang begitu ia cintai hanyut terbawa arus.

“Saya sudah pasrah pak. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa keduanya,” ungkapnya sembari menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya.

Harapan itu masih tetap ada. Meski sanak keluarga telah tiada, masih ada secercah harapan dari pria yang dikenal oleh warga sebagai orang baik. Tak ada pilihan bagi dirinya, selain dengan hanya memasrahkan semuanya kepada Allah Ta’ala. Syafruddin yakin. Di balik musibah ini akan ada jalan terbaik yang Allah siapkan baginya. []

Ketua Umum Wahdah Islamiyah Lepas  Bantuan Logistik  Untuk Korban Banjir Jeneponto

(Makassar) wahdahjakarta.com— Nyaris sepekan, pasca terjadinya banjir di enam Kecamatan se-Kabupaten Jeneponto, logistik dan bantuan terbaik tetap tersalurkan  melalui LAZIS Wahdah Islamiyah.

Demi memfasilitasi kebutuhan mendesak masyarakat terdampak, Rabu (30/1/2019), LAZIS Wahdah melakukan ekspedisi kemanusiaan jalur darat sejauh 88,7 KM selama hampir tiga jam lamanya.

Ekspedisi Kemanusiaan kali ini dilepas langsung oleh Ketua Umum Wahdah islamiyah, DR. Muhammad Zaitun Rasmin di halaman Kantor DPP Wahdah Islamiyah di Makassar.

Bantuan yang disalurkan berupa Beras 1200 Kg, mie instan 100 dus, air mineral 80 dus, perlengkapan mandi 500 paket, perlengkapan bayi 200 paket, pakaian layak pakai 40 karung, gula pasir 300 kg serta perlengkapan sholat 100 paket.

Dari pantauan relawan di lapangan, sebanyak 3726 jiwa mengungsi. Sementara, tercatat 15 orang meninggal dunia, 17 orang luka-luka, dan 10 orang dinyatakan hilang.

Kerusakan fisik meliputi 725 rumah rusak dan 73 kendaraan rusak. Sementara wilayah yang paling terdampak parah berada di Dusun Sapanang.

Ekspedisi Kemanusiaan Lazis Wahdah

Ikhtiar membantu sesama akan terus berlanjut. Lewat tangan-tangan tulus penebar kebaikan, kita tunaikan hak-hak sesama lewat bantuan terbaik kita.

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #wahdahpeduli #ayosedekah #pedulibanjirsulsel #banjirjeneponto

Memilih Peran Dakwah yang Strategis

Oleh: Ustadz Ilham Jaya Abdul Rauf (Ketua DPW Wahdah Islamiyah Jakarta-Depok)

Seorang thalibul ilmi mungkin sudah sadar tentang tanggung jawab dakwah di tengah ummat. Dia tahu bahwa ilmu yang telah dia pelajari adalah karunia sekaligus amanah. Namun, dia bingung menentukan peran yang tepat. Apalagi kajian Islamnya alhamdulillah memang memberinya wawasan yang cukup luas tentang peran-perang yang bisa dia lakoni di masyarakat. 

Akh yang lain sudah punya amanah yang jelas dalam organisasi dakwah. Tapi di sisi lain dia berpikir tentang program dakwah pribadi mengingat bahwa dia punya faktor-faktor pendukung untuk itu. Dia mungkin punya kelebihan tertentu yang belum maksimal pemberdayaannya selama ini.

Bagaimana memetakan peran dalam peta ‘amal islami’ yang semakin kompleks dan membutuhkan banyak peran? Faktor-faktor apakah yang harus dipertimbangkan dalam menentukan posisi dalam dunia aktivisme ishlah yang luas?

Ada tiga faktor yang utama.

Pertama, keunggulan pribadi. Setiap kita pasti punya keunggulan dan kelebihan yang unik. Sebab, Allah subahanahu wa ta’ala mencipta manusia dalam bentuk yang paling sempurna. Kelebihan tersebut bisa bersifat strategis, managerial ataupun teknis. Kesempurnaan tersebut kemudian melalui proses yang sangat unik antara satu individu dengan individu lainnya. Terasah dan mengkristal dalam bentuk yang semakin terurai oleh bidang kehidupan yang luas. Proses tersebut bisa terwarnai oleh asal daerah, latar keluarga, pendidikan, bahkan pengalaman yang murni bersifat pribadi.

Pada momen-momen tertentu, kelebihan ini kadang terlihat sangat jelas bagi orang lain. Sangat berkilau sehingga orang tersebut spontan dan jujur memuji kita atau sekadar mengungkapkan kekagumannya. Kelebihan tersebut kadang juga menunjukkan penampakan dengan cara lain. Kita biasa merasakan telah melaksanakan pekerjaan tertentu dengan sangat mudahnya sementara orang lain melakukannya dengan usaha ekstra. Kita bahkan melakukan pekerjaan tadi dalam waktu yang lebih singkat namun memberi hasil lebih besar atau lebih banyak. Kita mengerjakannya secara sangat natural, menikmati, sehingga waktu kerja berlalu tanpa kita sadari. Inilah ciri-ciri keunggulan pribadi.

Ambil contoh seseorang misalnya memiliki keunggulan pribadi dalam kemampuan negosiasi. Proses negosiasi yang bagi sebagian orang terasa mengintimidasi, justru dia nikmati. Negosiasi yang bagi orang lain menguras emosi dan energi, bagi orang ini serasa “game” yang justru menyenangkan. 

Pengatahuan modern banyak menyuguhkan teori-teori kepribadian yang bisa digunakan sebagai alat bantu untuk mengenal kekuatan individu seseorang. Teori-teori tersebut membuat peta kepribadian yang mengklasifikasikan manusia kepada tipe-tipe kepribadian tertentu. Tipe kepribadian tersebut biasanya dilengkapi dengan indikator-indikator perilaku yang mudah terbaca. Hal ini tentu sangat membantu walau kita harus tetap bijak menyikapi dan tidak terjebak pada image pribadi yang berlebihan. 

Proses menyingkap faktor pertama ini tentu tidak singkat. Kita lebih banyak mengalaminya untuk kemudian menyadari keberadaannya. Setelah disadari, baru ada peluang untuk mengembangkannya bahkan melakukan elaborasi lebih jauh. Dengan begitu, kita telah mengupayakan untuk mencapai tingkatannya yang paling optimal. Sehingga memberikan manfaat yang berarti bagi agama, ummat dan masyarakat.

Kedua, besarnya manfaat bagi ummat dan masyarakat. Semakin besar manfaat dari peran tertentu atau program tertentu bagi ummat, tentu semakin besar pula potensi ridha Allah dan pahala di dalamnya. Ini mungkin bisa kita sebut sebagai nilai strategis sebuah peran atau kontribusi terhadap agama. Kita tentu menginginkan peran yang bisa jadi amal buat ladang pahala yang besar di akhirat kelak.

Dalam satu kajiannya, Ibnul Qayyim menegaskan bahwa nilai atau bobot amal pada dasarnya tidak bersifat mutlak. Nilai amal ditentukan oleh tuntutan situasi dan kondisi. Ketika tiba waktu shalat, amalan yang paling utama adalah menunaikan shalat fardhu. Ketika kita kedatangan tamu, maka amalan yang paling utama adalah menghormati dan melayani tamu. Jika lingkungan kita buta aksara Al-Qur’an, mengajarkan baca-tulis Al-Qur’an menjadi peran yang paling utama. Begitulah seterusnya, nilai amal tergantung pada bobot maslahat yang ditimbulkannya sesuai dengan posisi keberadaan kita masing-masing. Inilah nilai strategis. 

Bila yang pertama tadi adalah faktor yang sifatnya internal, faktor kedua ini lebih bersifat eksternal dan terfokus kepada objek dakwah atau kelompok yang hendak kita layani kepentingannya. Tidak kurang beragamnya dari yang pertama, faktor ini juga sangat bisa bervariasi sejalan dengan komplesitas kehidupan dan tuntutan dakwah yang semakin berkembang. Cakupannya tentu bisa meluas pada akhirnya atau menyempit, tergantung kepada visi atau juga keunggulan yang kita miliki. 

Akhirnya yang ketiga, adalah faktor-faktor pendukung yang bisa mencakup tools, keterampilan, prasyarat tertentu atau kegiatan pendukung lainnya. Antum yang merasa bahwa ceramah dan tabligh adalah keunggulan sekaligus kebutuhan yang signifikan pengaruhnya bagi kemaslahatan dakwah, harus punya perhitungan sendiri terhadap faktor-faktor pendukung yang bisa terwujud secara realistis.

Apakah Antum sudah siap berkontribusi sebagai muballigh yang mutqin dengan materi-materi kajian yang kaya dan aktual? Sudahkan Antum cukup paham terhadap nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat yang menjadi subjek kegiatan tabligh Antum? Sudah adakah antisipasi terhadap kebutuhan transportasi yang bisa mengatasi kebutuhan standar mobilitas muballig? Apakah peran ini sekadar pelengkap atau memang menjadi profesi yang diinginkan menopang kebutuhan ekonomi? Ini adalah sebagian pertanyaan yang harus diperhatikan untuk memastikan lengkapnya faktor-faktor pendukung untuk peran dakwah yang optimal di tengah masyarakat. 

Setiap peran memiliki syarat dan prasyarat yang berbeda antara satu dengan yang lain. Di sini, setiap kita dituntut memiliki wawasan yang memadai untuk bisa menetapkannya. Bertanya atau mengamati orang-orang yang telah unggul pada peran tersebut bisa sangat membantu untuk menemukannya.    

Pada akhirnya, seseorang mungkin punya beberapa pilihan peran. Dan begitulah umumnya. Keunggulan seseorang bisa berbilang, tuntutan prioritas dakwah pada umumnya kompleks dan beragam, serta keadaan seseorang untuk memenuhi faktor-faktor pendukung juga berbeda-beda.

Pada kondisi ini, Antum ambillah alat tulis dan inventarisasikan pilihan-pilihan yang ada. Beri keterangan yang lengkap terhadap potensi setiap pilihan terhadap faktor-faktor yang tersebut di atas. Akan tampak pada akhirnya pilihan-pilihan yang lebih baik daripada yang lain. Kalau itu sudah jelas, maka bulatkan azam dan tawakkallah pada Allah. Fokus dan Bismillah.  (Ilham Jaya R.)

Takmir Masjid Jogokariyan: Kasus Insiden 27 Januari Telah Selesai

(Yogyakarta) wahdahjakarta.com, Takmir dan Keluarga Besar Masjid Jogokariyan menyatakan, kasus insiden Masjid Jogokariyan yang terhadi pada Ahad (27/01/2019) sore telah selesai.

Pernyataan ini disampaikan pihak Masjid Jogokariyan setelah pihak PDIP Kecamatan Mantrijeron mendatangkan Sdr. Kristiano alias Kelinci untuk menunutaskan permasalahan. Pertemuan lanjutan diadakan pada Rabu (30/01/2019) pukul 21.00 di kantor Mantrijeron yang difalitasi oleh Kapolsek, Camat, dan Damramil Kecamatan Mantrijeron.

Berikut surat pernyatan selengkapnya yang diterima wahdahjakarta.com, Kamis (31/01/2019) pagi.  

Jama’ah masjid Jogokariyan bersiap menghalau perusuh, Ahad (27/01/2019) lalu

SURAT PERNYATAAN TAKMIR DAN KELUARGA BESAR MASJID JOGOKARIYAN, YOGYAKARTA

Tentang Kejadian Hari Ahad Sore, Tgl 27 Januari 2019 di Depan Masjid Jogokariyan dan Sekitarnya

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Berdasarkan surat pernyataan bersama antara H. Muhammad Fanni Rahman selaku Ketua Takmir Masjid Jogokariyan dengan Junianto Budi Purnomo selaku tokoh PDIP Kecamatan Mantrijeron yang ditandatangani di atas materai pada tanggal 27 Januari 2019 di Kantor Kecamatan Mantrijeron yang berisi 2 hal:

  1. Permintaan maaf dari Junianto Budi Purnomo kepada H. Muhammad Fanni Rahman selaku Ketua Takmir Masjid Jogokariyan, yang telah dilakukan pada pertemuan pertama tersebut.
  2. Kesanggupan untuk mendatangkan Sdr. Kristiono (Kelinci) untuk menuntaskan permasalahan di atas yang telah dipenuhi dengan diadakannya pertemuan lanjutan pada hari Rabu, 30 Januari 2019 di Kantor Kecamatan Mantrijeron sekitar pukul 21.00 WIB yang difasilitasi oleh Kapolsek, Camat, dan Danramil Kecamatan Mantrijeron,

Maka dengan ini Takmir Masjid Jogokariyan menyatakan bahwa:

  1. Kasus kejadian di depan Masjid Jogokariyan dan sekitarnya pada hari Ahad tanggal 27 Januari 2019 telah selesai.
  2. Mengucapkan terimakasih kepada Kapolres Kota Yogyakarta, Kapolsek Mantrijeron, Danramil Mantrijeron, dan Camat Mantrijeron.
  3. Kepada ummat Islam dan laskar-laskar Islam di seluruh Indonesia yang telah menunjukkan solidaritas dan simpati kepada Masjid Jogokariyan, kami ucapkan terimakasih dan semoga Allah menjaga keistiqamahan kita dalam perjuangan.
  4. Menghimbau kepada pemerintah, khususnya KPU dan Bawaslu untuk mengutamakan format kampanye yang penuh kesejukan dan ketentraman bagi masyarakat luas.
  5. Menghimbau kepada semua partai peserta Pemilu untuk mengedepankan cara-cara kampanye yang kreatif, edukatif, santun, dan tidak provokatif.

Demikian pernyataan ini dibuat, semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

An. Takmir dan Keluarga Besar Masjid Jogokariyan, Yogyakarta

Muhammad Fanni Rahman

LAZIS Wahdah Beri Bantuan Pendidikan Kepada Siswa Kurang Mampu Di Samarinda

Lazis Wahdah

(Samarinda) wahdahjakarta.com – Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Wahdah Islamiyah (Lazis Wahdah) memberikan bantuan pendidikan kepada siswa kurang mampu di Samarinda kalimatan Timur (Kaltim).

Bantuan pendidikan ini diberikan kepada masing-masing Ainun najla, Muhammad nur khairullah, Naurah jazirah dan Sofiyyah muslim. Keempatnya merupakan siswa SD IT Imam Syafi’i Samarinda, Kalimantan Timur.

“Beasiswa pendidikan untuk keempat siswa keluarga miskin ini merupakan donasi pendidikan yang diserahkan oleh sejumlah donatur LAZIS Wahdah di seluruh Indonesia,” kata Darwin Shiddiq, Ahad (27/1/2019).

Ia menyampaikan, masih ditemukan sejumlah kendala yang dilihat dari skala nasional pendidikan Indonesia saat ini.

Misalnya kata dia, masalah terbatasnya akses pendidikan, selain itu kualitas, relevansi dan daya saing yang masih rendah, serta ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas pun masih terbatas. Kendati demikian, ia melanjutkan, meski dalam keadaan serba sulit, kita tidak bisa membiarkan mereka tidak bersekolah lantaran masalah biaya dan kelengkapan sekolah.

“Substansi pendidikan merupakan kunci dari pembangunan, maka atas dasar itulah, LAZIS Wahdah ingin membantu pelajar Indonesia untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik,” kata dia.

Melalui program ini, lanjut dia, LAZIS Wahdah ingin mewujudkan komitmen untuk mendayagunakan kekayaan ummat lewat zakat, shodaqoh, dan infak untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya.

“Inilah tujuan sebenarnya, mengapa zakat dan sedekah serta infak itu penting untuk ditunaikan,” imbuhnya.

Salah seorang penerima manfaat bernama Abdullah mengaku untuk membayar sekolah, orangtuanya harus nyambi sebagai pengajar privat.

“Dikumpulkan dalam sebulan hanya terkumpul 300 ribu. Terkadang nungak 2/3 bulan. Untuk pembayaran buku mesti nyicil. Belum lagi bensin untuk antar Muhammad ke sekolah tiap hari,” ungkap Shovi, ibu Abdullah.

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #wahdahpeduli #ayosedeka

Jelang Pemilu/Pilpres 2019, MIUMI Imbau Umat Islam Jaga Persaudaran dan Persatuan

Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiuar Nasir (kiri) dan Wakil Ketua MIUMI Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin (kanan)

(Jakarta) wahdahjakarta.com -, Menyikapi Pemilihan Umum (Pemilu) serentak dan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan digelar 17 April 2019 mendatang, Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) mengimbau kepada umat Islam agar tetap menjaga persaudaraan dan persatuan.

“Mengajak semua umat Islam agar menjaga persaudaraan dan persatuan atas dasar sesama muslim dan sesama bangsa,” ujar Sekretaris Jenderal MIUMI, Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) saat konfrensi pers tentang Sikap Politik MIUMI di Jakarta, Selasa (29/01/2019).

Komunitas yang menghimpun para tokoh dari berbagai ormas dan lembaga ini juga mengimbau agar tidak saling menyerang hanya karena perbedaan pilihan politik.

“Jangan  menyerang sesama muslim hanya karena berbeda pilihan politik, jangan pula menyerang ulama, lembaga keulamaan, ormas Islam dan lembaga Islam manapun”, imbaunya.

UBN juga mengajak untuk senantiasa menjunjung tinggi nilai Bhineka Tunggal Ika sebagaimana yang diajarkan Alquran dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Selain itu MIUMI juga mengimbau umat Islam untuk menyalurkan hak pilih dan tidak golput. Namun MIUMI memberi arahan agar memilih calon yang berpihak pada kepentingan Islam dan umat Islam yang otomatis berpihak pada kepentingan bangsa.

Bahkan MIUMI mengingatkan  agar mewasapadai manuver politik sebagian oknum dan kalangan yang hanya menjadikan umat Islam sebagai alat mencapai kepentingan politik pribadi yang sesaat.

“Agar umat Islam jangan mau lagi menjadi sekedar pemanis saat pemilu raya atau hanya menjadi pendorong mobil mogok setelah pemilu raya”, terang UBN.

Ia melanjutkan, Pilhlah para calon yang berpihak pada kepentingan umat dan bangsa serta jangan memilih calon yang berasal dari kelompok atau organisasi atau pribadi yang anti Islam dan tidak memperhatikan kepentingan umat Islam dan bangsa. []

Delapan Imbauan Wantim MUI Menyikapi Pemilu 2019

Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI)

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan delapan imbauan menghadapi Pemilu 2019. Harapannya masyarakat dapat mengutamakan persatuan, agar tidak saling bermusuhan karena perbedaan pandangan politik.

Imbauan dan pernyataan sikap disampaikan Wakil Ketua Wantim MUI, KH Didin Hafiduddin. Kyai Didin mengatakan, Wantim MUI prihatin terhadap kondisi kebangsaan dan keumatan yang cenderung mengalami gejala perpecahan karena beda pilihan politik.

“Pertama, MUI berharap walau adanya perselisihan dalam cuaca panas politik Pilpres 2019 tidak menyebabkan pertentangan yang melemahkan umat dan bangsa,” kata Kiai Didin dalam konfrensi pers bertajuk ‘Umat Islam Menghadapi Pemilu/Pilpres 2019’ usai Rapat Pleno ke-34 Wantim MUI di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Kedua, menyeru pimpinan ormas dan tokoh untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan. Pilpres hanya sarana atau alat. Sehingga jangan sampai sarana itu malah menyebabkan kehancuran. Pilpres sesungguhnya membuat negara beradab dan ajang mencari pemimpin terbaik.

Ketiga, umat Islam diharapkan mengutamakan persatuan dan kesatuan. Meski ada perbedaan pilihan tapi tidak boleh merusak ukhuwah islamiyah. Persaudaraan tidak boleh terganggu karena pesta demokrasi lima tahun sekali ini.

“Keempat, Wantim MUI menyeru tokoh agama, tokoh masyarakat, pimpinan pemerintahan agar tidak mengumbar pernyataan yang mengundang konflik dan pertentangan. Seperti, mengajak kelompoknya kepada pernyataan yang irasional yang menimbulkan masalah di kemudian hari,” ujarnya.

Kelima, posisi MUI sebagai rumah besar bersama. MUI tetap menjadi pelayan umat dan mitra pemerintah dalam memberikan amar maruf nahi munkar.

Keenam, umat dipersilahkan memiliki literasi politik untuk menentukan pilihan terbaik dengan tidak golput.

Wantim MUI berharap yang dijadikan pegangan dalam pilpres ini adalah hadis Rasulullah yang berbunyi: “Barang siapa yang tidak punya kepedulain terhadap umat Islam maka mereka bukan bagian Muslimin”, Umat diharapkan memilih Capres atau Caleg dengan cerdas yang mengutamakan kepentingan umat di atas segalanya.

Ketujuh, penyelenggara pemilu seperti KPU dan Bawaslu bersikap netral dan berkeadilan. Sehingga demokrasi berjalan baik. Sebagai wasit dan penyelenggara tidak boleh jadi pemain. Begitu pun dengan lembaga hukum dan kepolisian.

Kedelapan, umat Islam memiliki kekuatan doa. Kepada pemimpin masyarakat dan umat Islam secara menyeluruh agar melaksanakan shalat dan berdoa kepada Allah agar dilahirkan pemimpin yang amanah, jujur, dan membawa kemaslahatan di dunia dan akhirat.

Saat menyampaikan pandangan Wantim MUI itu dia didampingi sejumlah tokoh, di antaranya KH Din Syamsuddin, KH Abdullah Sahal, KH Yusnar Suyuf, dan Syafiq Mughni.

Delapan poin pandangan Wantim MUI itu merupakan kesimpulan yang dihasilkan dari Rapat Pleno ke-34 yang diikuti pimpinan, anggota Wantim, bersama pimpinan-pimpinan ormas, dan lembaga Islam. Rapat berlangsung selama tiga jam di Aula MUI, Jakarta Pusat, Rabu (30/01/2019).

UBN : Jangan Sampai Umat Islam Dibutuhkan Saat Pemilu Saja

Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir dan Wakil Ketua MIUMI Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin pada konfrensi pers MIUMI, Jakarta, Selasa (29/01/2019)

(JAKARTA) wahdahjakarta.com – Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (Sekjend MIUMI) Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) mengatakan, umat Islam tidak boleh hanya dibutuhkan saat pemilu saja.

“Jangan sampai kita hanya dibutuhkan ketika pesta demokrasi saja. Pilihlah calon yang berpihak pada kepentingan umat dan bangsa,” ujar UBN dalam konfrensi pers Sikap Politik MIUMI menyambut Pemilu, Pileg, dan Pilpres 2019 di Jakarta, Selasa (29/02/2019).

MIUMI juga mengingatkan agar umat Islam tidak mau dijadikan sekadar pemanis saat pemilu. Menurut dia, umat Islam sebagai pemilih terbesar sangat menentukan nasib umat dan bangsa dalam Pilpres, Pileg dan Pemilihan DPD pada tahun 2019 nanti.

Umat Islam juga diminta untuk tidak memilih pribadi, kelompok atau organisasi yang anti-Islam dan tidak memperhatikan kepentingan umat. “Kita harus cerdas menentukan pilihan, jangan sampai salah pilih,” sambungnya.

Dalam konferensi pers tersebut ia juga mengimbau umat Islam untuk berpartisipasi pada Pemilihan Umum (Pemilu) serentak 17 April 2019 dan tidak golput.

“Kami mengimbau agar seluruh umat Islam agar tidak golput dan (agar) menggunakan hak pilihnya dengan memilih calon yang berpihak pada kepentingan umat dan kepentingan bangsa,” imbaunya.

Komunitas cendekiawan dan ulama muda itu juga mengajak umat Islam agar tetap menjaga persaudaraan dan persatuan. Jangan ada perpecahan, apalagi hanya karena pileg dan pilpres.

“Kami mengajak semua umat Islam agar menjaga persaudaraan dan persatuan atas dasar sesama muslim dan sesama bangsa. Jangan pecah belah karena masalah politik,” tutur Bachtiar.

Dia juga mengimbau umat Islam tidak saling menyerang hanya karena berbeda pilihan. Jangan pula menyerang ulama, lembaga keulamaan, ormas Islam dan lembaga Islam manapun. “Junjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika sebagaimana yang diajarkan Alquan dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam,” serunya.[]

Pernyataan Sikap Dewan Dakwah Islamiyah Kota Bogor Tentang Cap Go Meh

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Kota Bogor, Ustadz Abdul Khalim

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan Bertawakkal kepada Allah ‘Azza wa Jalla,

Atas nama Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia Kota Bogor kami menyatakan Sikap Tentang Polemik Cap Go Meh Tanggal 19 Februari 2019 sebagai berikut:

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. 9, At Taubah 24)

  1. Setelah menelusuri jejak digital sejarah dan pemberitaan CGM didapati bahwa salah satu ciri khas pawai budaya CGM yang akan dilaksanakan pada tgl.19 Februari 2019, dengan mengusung tandu 100 joli (dewa) serta dupa yang diyakini Umat Agama Konghucu membawa keberkahan, maka Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Kota Bogor menyatakan bahwa CGM adalah acara Budaya berbasis Agama yang dalam ajaran Agama Islam merupakan bentuk perbuatan Syirik.
  2. Setelah menelusuri jejak acara CGM Kota Bogor yang dalam acaranya banyak melibatkan umat Islam dengan pola pemberian upah, kami memandang bahwa pola seperti ini mengandung unsur mengajak umat agama lain untuk mengikuti acara budaya berbasis agama dengan menggunakan kekuatan materi, maka Dewan Da’wah Kota Bogor menyatakan bahwa pawai CGM dengan pola pemberian upah untuk melibatkan massa Umat Islam dalam acara Budaya berbasis Agama Konghucu merupakan kegiatan yang tanpa disadari  mengarah kepada penyesatan.
  3. Setelah menelusuri jejak Budaya Sunda maka CGM bukan termasuk budaya khas Bogor tetapi budaya khas Agama Konghucu, maka Dewan Da’wah Kota Bogor menyatakan bahwa CGM adalah sebuah bentuk budaya dan perayaan yang menjadi hak khusus Umat Konghucu oleh karena itu tidak perlu dibesar-besarkan menjadi acara umum yang melibatkan umat agama lain khususnya Umat Islam.
  4. Setelah mengamati dengan saksama peran pro aktif Pemkot Kota Bogor dalam memfasilitasi acara CGM yang notabene Budaya berbasis Agama Konghucu, maka Dewan Da’wah Kota Bogor memandang kebijakan ini kurang tepat jika CGM  dijadikan sebagai salah satu icon budaya Kota Bogor. Oleh karena itu kami mengusulkan agar Festifal Budaya Kota Bogor hendaklah diselenggarakan bertepatan dengan Hari Jadi Bogor (HJB), tidak  diselenggarakan dalam rangka memeriahkan Tahun Baru Imlek dengan CGM sebagai acara puncak
  5. Kami menghimbau kepada Umat Islam tetap menghormati Umat Konghucu menggelar acara CGM namun dengan prinsip ajaran Islam (lakum diinukum waliy yadiin: untukmu agamamu dan untukku agamaku).
  6. Kewajiban kami dalam rangka Amar Ma’ruf Nahi Munkar merupakan bentuk kecintaan Umat Islam kota Bogor kepada seluruh umat beragama dan untuk keselamatan masyarakat kota Bogor agar terhindar dari bencana dan adzab Alloh SWT.
  7. Kewajiban kami dalam Da’wah adalah menyampaikan sehingga dapat menjadi hujjah kami di hadapan Allah SWT.

Firman Allah SWT :

Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas. (QS.18, Al-Kahfi: 28)

Demikian semoga Allah membuka pintu hati dan pikiran kita agar pentunjuk-Nya selalu menyertai kita. Amiin.

Bogor, 29 Januari 2019

Wassalamu’alaikum wr. wb

Ttd

Abdul Khalim, S.Ag

Ketua Dewan Da’wah Kota Bogor

Muhammad Abbas Aula, Lc. M.HI

Ketua Majelis Syuro Dewan Da’wah Kota Bogor*