Di Pameran Kamar Diponegoro, Anies Berbagi Cerita Tentang Pangeran Diponegoro

Peresmian Pameran Kamar Diponegoro di Museum Sejarah Jakarta, Senin (01/04/2019)

(Jakarta) Wahdahjakarta.com– Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Anies Baswedan meresmikan Pameran Kamar Diponegoro di Museum Sejarah Jakarta, Senin (01/04/2019).

Di Museum Fatahillah ini Pangeran Diponegoro ditahan selama 26 hari sebelum diasingkan ke Sulawesi.

Anies berharap museum kamar Diponegoro ini menjadi tempat merefleksikan perjuangan Pangeran Diponegoro.

“Jadi tempat ini kita harapkan menjadi tempat bagi ribuan orang untuk merefleksikan. Ukurannya tidak besar, dari sisi luas ruangan, tetapi kekuatan sebuah museum adalah dia mengkonversi perjalanan waktu jadi ruang. Itulah kekuatan museum”, jelas Gubernur Anies.

Melalui fan page @Aniesbaswedan mantan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Kerja ini juga berbagi cerita singkat tentang Pangeran Diponegoro.

Kamar Diponegoro. Di Kamar inilah Pangeran Diponegoro disekap selama 26 hari sebelum diasingkan ke Sulawesi.

Berikut selengkapnya;

Ketika di sekolah dulu kita semua pasti fasih dengan kisah perjuangan Pangeran Diponegoro.

Bicara mengenai Pangeran Diponegoro saya ada cerita tersendiri.

Masa kecil saya di Jogja, sekolah saya dulu hanya sekitar satu kilometer dari Tegalrejo, kami sering sekali bermain di tempat perlawanan Pangeran Diponegoro dulu, tak terlupakan masa-masa itu.

Tiga tahun yang lalu, Februari 2015 saya mendapatkan kehormatan mewakili bangsa dan negara untuk menerima pengembalian Tongkat Cakra Pangeran Diponegoro dari Belanda. Tongkat pusaka tersebut lepas pada 1829, setahun sebelum Perang Diponegoro. Lalu ditemukan di keluarga Baud di Belanda diserahkan kembali ke Indonesia dan kini disimpan di museum Nasional.

Joglo di rumah saya adalah boyongan dari Kyai Kasan Besari yang dibangun 1742 di Pesantren Tegalsari, Ponorogo dan salah satu santrinya adalah Diponegoro. Karena itu ada lukisan wajah Pangeran Diponegoro yg dibuat oleh pelukis Rosid terpasang di dalam joglo.

Dan hari ini kembali mendapatkan kehormatan untuk meresmikan dibukanya Pameran Kamar Diponegoro di Museum Sejarah Jakarta. Di tempat ini Pangeran Diponegoro pernah ditahan selama 26 hari sebelum diasingkan ke Sulawesi.

Kalau kita datang ke ruangan ini bayangkan di abad ke-19, akan melihat detail perjalanannya dan hidupnya, perjuangannya dan juga bagaimana seorang Diponegoro di dalam pengasingannya memberikan perhatian pada keluarganya yang ada di Jogja Pada masa itu.

Jadi tempat ini kita harapkan menjadi tempat bagi ribuan orang untuk merefleksikan. Ukurannya tidak besar, dari sisi luas ruangan, tetapi kekuatan sebuah museum adalah dia mengkonversi perjalanan waktu jadi ruang. Itulah kekuatan museum.

Karena itu kami ingin menyampaikan terima kasih, khususnya kepada pak Peter Carey sebagai kurator, sejarawan yang dari karya-karya penelitian dan tulisannya kita banyak belajar soal Diponegoro. Dan apresiasi juga kepada para pegiat museum yang sudah membantu proses bisa terbangunnya Kamar Diponegoro ini.

Mudah-mudahan semua yang terlibat mendapatkan keberkahan atas ini semua dan InsyaAllah kepada yang mengelola, kelola ini dengan baik-baik, jadikan sebuah amanat, bahwa ini adalah untuk masa depan bangsa kita.

Museum tidak hanya bicara masa lalu, museum adalah tentang menginspirasi ke masa depan. Karena itu kita berharap anak-anak muda generasi baru yang datang ke tempat ini, menjadi lebih memahami nilai perjuangan Pangeran Diponegoro.

Mari datangi, mari jadikan tempat ini sebagai inspirasi. #ABW

Sumber: @Aniesbaswedan 

Mengharukan, Gubernur Anies Puji Kebesaran Hati Ibu Elly

Ibu Elly, ibunda dari Naufal Rosyid, petugas kebersihan korban kecelakaan tabrak lari saat menerima santunan meninggal dunia JKK dari BPJS. Sumber Photo: @Aniesbaswesan

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (DKI Jakarta) Anies Baswedan memuji kebesaran hati Ibu Elly. Ibu Elly merupakan ibu dari Naufal Rosyid, petugas kebersihan pemprov DKI Jakarta yang meninggal dunia setelah menjadi korban tabrak lari saat bekerja.

“Wajahnya jelas dalam duka, tapi imannya memancar lebih jelas. Itulah Ibu Elly, Ibunda Alm Naufal Rosyid. Itulah wajah beliau saat tiba di Balai Kota”, kata Guberbur Anies melalui Fan Page @Aniesbaswedan, Selasa (02/04/2019) siang.

Hari ini, Selasa (02/04/2019) Ibu Elly selaku ahli waris meneriman santunan meninggal dunia JKK dari BPJS di kantor Balaikota.

“Pagi ini santunan senilai 196 juta diserahkan dari BPJS Ketenagakerjaan utk Ibu Elly, sbg ahli waris”, lanjut Anies.

Berikut curhatan Anies selengkapnya;

Badannya Kecil, Hatinya Besar

Wajahnya jelas dalam duka, tapi imannya memancar lebih jelas. Itulah Ibu Elly, Ibunda Alm.Naufal Rosyid. Itulah wajah beliau saat tiba di Balai Kota.

Almarhum Naufal masih bujang, dia tinggal bersama Ibunya dan bekerja untuk ikut menghidupi keluarganya. Ibunya menuturkan bahwa gaji Naufal selalu diserahkan padanya.

Kini Naufal telah pulang ke Yang Maha Abadi. Meskipun sudah berpulang, seakan Naufal masih menitipkan uang untuk ibunya. Pagi ini santunan senilai 196 juta diserahkan dari BPJS Ketenagakerjaan utk Ibu Elly, sbg ahli waris.

Semua pekerja yang bekerja untuk Pemprov DKI Jakarta kami daftarkan di BPJS Ketenagakerjaan. Iuran bulanan dibayarkan oleh Pemprov. Kami ingin semua bisa bekerja dengan tenang. Jika kita memikirkan para pekerja, maka para pekerja bisa menunaikan tugas dengan tenang dan keluarganya bisa tentram terjamin. Kami minta semua badan usaha dan badan pemerintah untuk melindungi tenanga kerjanya dengan jaminan. Khususnya pekerja yang masih berstatus pegawai tidak tetap. Izinkan mereka bekerja dalam rasa tenang.

Pagi ini Ibu Elly menerima titipan uang yang terakhir dari Alm Naufal. Kita tahu, sebesar apapun santunan, ia tak pernah bisa menggantikan seorang anak yang lahir dari rahimnya. Sesantun apapun ucapan pengantar santunan, dia tak pernah bisa menghapus duka di hati seorang ibu.

Kita doakan agar Ibu Elly terus diberikan ketabahan. Saat berpamit, saya sampaikan padanya, “Bu Elly, Insya Allah Alm.Naufal pulang duluan untuk membukakan pintu Jannah bagi Ibunya…“ beliau menatap dengan mata berair, tersenyum dan menjawab lirih sekali… “amin amin ya rabbal alamin…“ #ABW []

Gubernur DKI Anies Baswedan memanggul jenazah alm. Naufal Rosyid, Petugas Kebersihan korban kecelakaan tabrak lari.

Naufal Rosyid (24 thn) adalah petugas kebersihan pemprov DKI yang menjadi korban tabrak lari, (26/03) lalu.  ditemukan terkapar di tepi jalan di bawah jalan layang Pasar Rebo Jakarta Timur. Masih dengan sapu dan seragamnya. Tak sadarkan diri. Pukul 5.30 pagi dia ditemukan oleh kawan kerjanya.

Subuh itu, teman-teman kerjanya sesama petugas kebersihan, melarikan Naufal ke RS Pasar Minggu. Tim dokter bekerja keras, dioperasi karena ada pendarahan di otak. Kondisinya berat.

Ibunya mencintai Naufal, tapi Allah lebih mencintainya. Panggilan pulang ke Rahmatullah yang ia songsong pada Ahad (31/03/2019). Insya Allah ia husnul khatimah, kata Anies. 

Gubernur Anies turut melayat, menyolatkan, mendoakan, dan mengantar jenazah almarhum ke kuburan. []

Fenomena Ustadz Daun Salam dalam Pesta Politik

llustrasi: Daun salam dan nasi uduk

Wahdahjakarta.com -, Dalam suasana kampanye, setiap partai dan caleg hingga capres membutuhkan keikutsertaan dan kehadiran ustadz, kiyai dan ulama. Tapi jangan seperti daun salam dalam pembuatan nasi uduk yang fungsinya sekadar penyedap. Sesudah nasi uduk jadi dengan aroma yang menggoda, justeru yang pertama dibuang atau disingkirkan adalah daun salam.

Selama ini, kenyataannya memang demikian. Ustadz dan ulama hanya dibutuhkan saat kampanye, setelah itu kebijakan para pemimpin justeru bertentangan dengan apa yang diajarkan para ustadz dan ulama itu. Bahkan prilaku sang pemimpin sendiri sangat bententangan seperti melakukan kebohongan, korupsi dan seterusnya.

Lebih tragis lagi, sesudah berkuasa, justeru ustadz dan ulama itu yang dipenjarakan karena tidak sejalan dengan kebijakan pemimpin. 

Oleh: Ahmad Yani (Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI))

Lazis Wahdah Jakarta Dukung Training Jurnalistik Asyik

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Wahdah Islamiyah Jakarta-Depok dan Forum Jurnalis Muslim (Forjim)  menggelar Training Jurnalistik Asyik di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Jakarta Timur, Sabtu (30/03/2019). Pelatihan ini didukung Lazis Wahdah Jakarta.

Menurut Ketua Departemen Informasi dan Komunikasi (Infokom) Wahdah Jakarta-Depok, Syamsuddin Al-Munawiy  pelatihan ini digelar untuk melahirkan kader jurnalistik dakwah yang memiliki kompetensi dalam dakwah media.

“Diharapkan dari  pelatihan ini lahir jurnalis-jurnalis dakwah yang siap berdakwah melalui jurnalistik, karena di zaman ini peran media dalam dakwah tidak dinafikan”, ucapnya.

Sementara Direktur Eksekutif  Lazis Wahdah Jakarta, Yudi Wahyudi berharap pelatihan ini dapat ditindak lanjuti. Apalagi melihat animo peserta yang antusias mengikuti pelatihan dari awal sampai akhir.

“Pelatihan jurnalistik asyik insya Allah akan terus berlanjut dan akan segera ada follow up, baik pelatihan singkat mupun bentuk lain berupa pelatihan  jurnalistik video maupun pelatiahn intensif selama tiga bulan”, ungkapnya.

“Dengan melihat antusiasme peserta maka menjadi gambaran ke depan, pelatihan akan menjadi salah satu program berkelanjutan”, imbuhnya.

Ia menambahkan, kerjsama dengan forjim merupakn kerjasam yang sangat strategis. “Mudah-mudahan bisa memperkaya materi kita ke depan sehingga minat dan semangat calon jurnalis dapat ditingkatkan”, harapnya.

Pelatihan ini diikuti  22 peserta yang berasal dari para pelajar dan Da’i perwakilan Pesantren sekitar Jakarta. []

Wahdah Peduli Gelar Pelatihan Tanggap Darurat Bencana di Bone

(Watampone) Wahdahjakarta.com– Wahdah Peduli, lembaga kemanusiaan yang berada di bawah naungan Ormas Wahdah Islamiyah (WI) bersama LAZIS Wahdah melaksanakan Pelatihan Tanggap Darurat Bencana, di Aula Kantor ASDP Cabang Bajoe Kabupaten Bone, Sabtu (30/03/2019).

Sebanyak 45 peserta yang merupakan kader Wahdah Islamiyah daerah Bone, Sinjai dan Wajo mengikuti pelatihan yang digelar selama dua hari ini, mulai Sabtu (30/03/2019) hingga Ahad (31/0 3/2019).

Pelatihan ini dibuka oleh Wakil Bupati Bone, Haji Ambo Dalle, yang dihadiri pula oleh beberapa pejabat pemerintah kab. Bone, antara lain General manager PT. ASDP Kab. Bone, Kepala BPBD Kab. Bone, Kepala Pos Pencarian dan Pertolongan BPBD Kab. Bone, serta Ketua Dewan Pimpinan Daerah WI Bone dan Ketua DPW WI Sulsel.

Dalam sambutannya, Ambo Dalle menyampaikan, selama ini Wahdah Islamiyah memiliki kepedulian yang luar biasa di beberapa bencana alam yang terjadi di Indonesia.

“Tahun 2018 lalu ada di Lombok. Tak lama kemudian ada lagi di Palu, Sigi dan Donggala, serta daerah bencana lainnya. Selalu saya dapati di daerah-daerah tersebut. Maka memang sudah luar biasa pengabdiannya,” tutur dia.

Dia juga mengapresiasi pelatihan yang dilaksanakan oleh Wahdah Peduli (WP) Ini. Menurut dia, apa yang dilakukan hari ini oleh WP akan memiliki banyak manfaat.

“Setiap saat jika dibutuhkan akan selalu siap untuk melakukan pertolongan. Terutama bisa bekerjasama dengan unit-unit kebencanaan yang telah kami bentuk disetiap daerah di kabupaten Bone,” ujar dia.

Maka dari itu, lanjut Ambo Dalle, dengan adanya kader Wahdah Islamiyah yang sedang dilatih, maka masyarakat, khususnya Pemerintah daerah akan sangat terbantu.

“Jika praktik nanti, utamakan keselamatan. Harus ada SOP, agar suatu saat nanti bukan justru kita yang diselamatkan,” pesannya.

Ketua IKA STKIP Muhammadiyah Bone itu juga berharap agar Wahdah Islamiyah bisa membantu Pemerintah Daerah untuk mengajak Masyarakat menjaga lingkungan Bone yang asri, bersih dan sejuk.

“Semoga Wahdah Islamiyah bisa masuk dalam sosialisasi program Pemerintah daerah. Diantaranya adalah survei keberadaan jamban keluarga, pengolahan sampah organik dan anorganik utamanya sampah plastik di perairan pesisir Bone, tidak merokok pada sembarang tempat, dan program lainnya,” tukasnya.

“Utamanya sosialisasi program-program ini di sekolah-sekolah, dan kami harapkan bisa melalui mimbar Dakwah Wahdah Islamiyah, termasuk ke desa-desa se kabupaten Bone,” tambahnya. (rls)

Petugas Kebersihan Korban Tabrak Lari Meninggal Dunia, Anies: Insya Allah Husnul Khatimah

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Petugas kebersihan korban tabrak lari 26 maret lalu meninggal dunia, Ahad (31/03/2019). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berdo’a semoga almarhum Naufal Rosyid husnul khatimah.

Gubernur Anies juga mengecam pengendar yang sampai saat ini belum ditemukan. “Dan kau penungggang kendaaran tak dikenal itu… Ingatlah bahwa kau bisa lari pagi itu, tapi kau tidak bisa lari dari pertanggungjawaban di hadapan Yang Maha Adil”, tulis Anies dalam Fans Page resminya, Ahad (31/03/2019) siang.

Berikut selengkapnya.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Hai kau pengemudi motor. Ketahuilah petugas penyapu jalan yang kau tabrak itu hari ini dikuburkan. Kau tabrak dia hari Selasa Subuh, 26 Maret. Lalu kau lari. Kau tega meninggalkan anak manusia terkapar tak berdaya di jalan raya.

Naufal Rosyid ditemukan terkapar di tepi jalan. Masih dengan sapu dan seragamnya. Di bawah jalan layang Pasar Rebo. Tak sadarkan diri. Pukul 5.30 pagi dia ditemukan oleh kawan kerjanya.

Pagi itu sejak masih gelap. Naufal, anak umur muda 24 tahun ini sudah berada di jalan raya. Dia dan puluhan ribu petugas sejak pukul 3 pagi sudah bangun. Mereka yang paling berpeluh memastikan jalanan bersih. Demi kenyamaan jutaan orang melintas menuju kerja. Jika ada yg kebetulan tersisa, sebagian pelalulalang akan dengan ringan memaki lewat jempol tangannya di media sosial seakan tak membayangkan beratnya mereka bekerja.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memanggul jenazah Naufal Rosyid, petugas kebersihan korban tabrak lari saat bertugas .

Subuh itu, teman-teman kerjanya sesama petugas kebersihan, melarikan korban ke RS Pasar Minggu. Tim dokter bekerja keras, dioperasi karena ada pendarahan di otak. Kondisinya berat.

Ibunya mencintai Naufal, tapi Allah lebih mencintainya. Panggilan pulang ke Rahmatullah yang ia songsong. Ia pulang ke Ibunya. Tapi ibunya di rumah hanya bisa menyambut anaknya sebagai jenazah.

Tadi kami takziyah ke keluarga ini. Rumahnya di tengah kampung, lewat gang sempit. Wajah duka terlihat di warga sekampung itu. Ibunya tabah, ayahnya pula. Tampak ada duka tapi ada juga iman. Saat kafan dibuka, wajah almarhum jernih ada senyum. InsyaAllah penanda ia husnul khatimah.

Untuk semua pengguna jalan. Kurangi kecepatan bila melihat ada petugas bekerja di jalan raya. Seragam mereka berwarna terang. Dan jadi bercahaya bila terkena lampu di saat gelap. Ingat, setiap petugas itu punya ibu, ayah, anak, istri, suami dan keluarga. Bantu pastikan mereka, yang bekerja untuk kita semua ini, bisa pulang ke rumah dengan selamat.

Dan kau penungggang kendaaran tak dikenal itu… Ingatlah bahwa kau bisa lari pagi itu, tapi kau tidak bisa lari dari pertanggungjawaban di hadapan Yang Maha Adil.

#ABW (aniesbaswedan)

Forjim: Jurnalistik Bagian dari Dakwah

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Koordinator Bidang Kaderisasi Forjim (Forum Jurnalis Muslim) Ahmad Zuhdi mengatakan, jurnalistik merupakan bagian dari dakwah. Yakni dakwah bilkitabah (dakwah melalui tulisan).

“Tugas jurnalis merupakan salah  satu bagian dakwah. Yakni dakwah bil kitabah atau dakwah bil qolam. Dakwah melalui tulisan”, ujarnya kepada peserta Training Jurnalistik Asyik yang digelar Wahdah Islamiyah Jakarta-Depok dan Forjim, di Jakarta, Sabtu (30/03/2019).

“Dengan semangat ini, diharapkan dakwah dapat tersebar ke seluruh penjara dan mudah diterima oleh masyarakat tanpa mengenal batas teritori wilayah”, jelasnya.

Pelatihan yang disponsori Lazis Wahdah  ini diikuti oleh puluhan peserta dari perwakilan aktivis masjid, lembaga Islam dan masyarakat umum. Peserta datang dari berbagai daerah di Jabodetabek. Bahkan ada yang dari Maluku dan Riau.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah (DPW WI) Jakarta-Depok, Ustadz Ilham Jaya Abdul Rauf dalam paparan materinya mengingatkan pentingnya perluasan jaringan media Islam.

“Kemudahan informasi dan komunikasi seharusnya juga lebih  memudahkan aktivis media Islam untuk mengembangkan jaringan mereka lebih luas”, tegas Ustadz Ilham.

Mantan jurnalis Majalah Internasional Al-Bayan London ini juga mengajak para praktisi media Islam untuk menjalin kerja sama deng kelompok intelektual dan akademisi untuk pengembangan media Islam. []

Gandeng Forjim, Wahdah Islamiyah Jakarta dan Depok Gelar Diklat Jurnalistik Asyik

Training Jurnalistik Asyik Wahdah Islamiyah Jakarta-Depok bekerjasama dengan Forum Jurnalis Muslim (Forjim)

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Wahdah Islamiyyah Jakarta-Depok bekerjasama dengan Forjim (Forum Jurnalis Muslim) menggelar Training Jurnalistik Asyik bertema “MENGGAGAS MEDIA, MERAJUT BERDAYA”. Acara digelar di Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq Jatinegara, Jakarta Timur, pada Sabtu (30/03/2019). 

Ustadz Ilham Jaya, Lc, MHI selaku pembicara dengan tajuk “Menggagas Media Berdaya Tanpa Tapi”, menekankan pentingnya mengembangkan jaringan media islam. Menurutnya kemajuan informasi dan komunikasi seharsunya dimanfaatkan untuk hal itu.

“Kemudahan informasi dan komunikasi seharusnya juga lebih  memudahkan aktivis media Islam untuk mengembangkan jaringan mereka lebih luas”, tegas Ustadz Ilham.

Mantan jurnalis Majalah Internasional Al-Bayan London ini juga menekankan pentingnya penguasaan bahasa dunia Islam sebagai salah satu syarat untuk memengakses informasi-informasi global dan pengembangan jaringan media islam.

“Dengan menguasai bahasa asing, wawasan kita tidak terbonsai oleh informasi-informasi dari media yang ada di sekitar kita”, ungkap CEO PT Basaeer Asia Publishing ini.

Diungkapkannya, keberhasilan ekonomi Islam salah satunya sinergi pelaku ekonomi halal non ribawi dengan kalangan intelektualitas salah satunya penulis yang berfungsi mengedukasi masyarakat melalui media.

“Tumbuhnya kesadaran dan Perkembangan industri halal seharusnya jadi ceruk tersendiri bagi perkembangan media Muslim”, terangnya.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah Jakarta-Depok ini juga mengajak para praktisi media Islam untuk menjalin kerja sama deng kelompok intelektual dan akademisi untuk pengembangan media Islam.

Sementara itu koordinator bidang kaderisasi Forjim Ahmad Zuhdi mengatakan,  pelatihan ini penting diikuti oleh mereka memulai dunia jurnalistik sebagai bekal dalam menjalankan kerja-kerja jurnalis ke depan.

Jurnalis Indonesiainside.id ini juga mengingatkan kepada para peserta bahwa tugas jurnalis merupakan salah  satu bagian dakwah.

“Yakni dakwah bil kitabah atau dakwah bil qolam. Dakwah melalui tulisan”, jelasnya.  

“Dengan semangat ini, diharapkan dakwah dapat tersebar ke seluruh penjara dan mudah diterima oleh masyarakat tanpa mengenal batas teritori wilayah”, pungkasnya. (sym)

Roadshow di  Makassar, MIUMI Bahas Integrasi Keislaman dan Kebangsaan

Ketua MIUMI Sulsel Ustadz DR. Rahmat Abdul Rahman

(Makassar) Wahdahjakarta.com– Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menggelar roadshow Tabligh Akbar di berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya berlangsung di Makassar, Sabtu (30/03/19).

Ketua MIUMI Sulsel, Ustadz Rahmat Abdurrahman mengatakan, Tabligh Akbar ini di adakan dalam rangka memberikan pencerahan tentang Integrasi Keislaman dan Kebangsaan.

“Kegiatan ini guna memberikan gambaran bahwa pada hakikatnya Islam tidak pernah bertentangan dan nasionalisme, dan isu nasionalisme tidak boleh dijadikan pamen untuk memukul ummat Islam, apa lagi sampai menjauhkan ummat Islam dalam menjalankan peran bernegara,” Imbuhnya

Hubungan antara negara dan agama tidak boleh terpisahkan.

“Para ulama kita tentang hubungan negara dan agama, kita bukan menganut prinsip sekularisme yang membedakan dan memisahkan di antara keduanya,” Ujar Ustadz Rahmat saat memberi sambutan.

Kegiatan ini menghadirkan tokoh dari MIUMI Pusat dan MIUMI daerah. Dari MIUMI Pusat yang hadir di antaranya Ustadz Bachtiar Nasir dan Ustadz Zaitun Rasmin

Selain itu, ulama dan intelektual dari MIUMI Makassar juga turut memberikan orasi antara lain Ustadz Rahmat Abdurrahman, Ustadz Yusril Muh Arsyad dan hadir juga Anggota DPR RI Tamsil Linrung.

Tamsil Linrung dalam sambutannya menceritakan sosok pahlawan nasionalis yakni Muhammad Natsir.

“Dalam perjalanan Indonesia ini perang besarnya adalah ummat Islam, salah satunya ialah Muhammad Natsir,” Ungkapnya

Anggota DPR RI Pusat ini melanjutkan, bahwa pencerahan antara Negara dan Agama harus terus dilanjutkan.

“Jika dulu kita memiliki Muhammad Natsir, melakukan Roadshow untuk memberikan pencerahan kepada ummat. Maka sekarang, kita memiliki Ustaz Bachtiar Nasir dan Ustaz Zaitun Rasmin yang terus memberikan pencerahan kepada ummat,” Tuturnya. []

Reporter: Muhammad Akbar

Ketua Wantim MUI Soroti Politisasi Isu Khilafah dalam Pemilu/Pilpres

Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Ketua Dewan Pertimbangan MajelisUlama Indonesia (Wantim MUI) Dien Syamsuddin mengimbau pasangan calon presiden dan Wakil Presiden untuk menghindari isu keagamaan dalam kampanye. Salah satu contohnya seperti isu khilafah.

“Karena hal itu merupakan bentuk politisasi Agama yang bersifat pejoratif (menjelekkan)”, jelasnya. Ketika menyampaikan imbauan sesuai taushiyah Wantim MUI ke.37 27 Maret 2019, Jum’at (29/03/2019).

“Walaupun di Indonesia khilafah seabgai lembaga politik tidak diterima luas, namun khilafah yang disebut dalam Al-Qur’an adalah ajaran Islam yang mulia (manusia mengemban misi menjadi Wakil Tuhan di Bumi/ khalifatullah fil ardh)”, terangnya.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini juga memandang, mempertentangkan  khilafah dengan Pancasila adalah identik dengan mempertentangkan  Negara Islam dengan Negara Pancasila. Menurutnya masalah ini sesungguhnya sudah lama selesai dengan penegasan Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi was Syahadah (Negara Kesepakatan dan Kesaksian).

“Upaya mempertentangkannya merupakan upaya membuka luka lama dan dapat menyinggung perasaan umat Islam”, tegasnya.

Prof Dien juga menolak upaya labelisasi anti pancasila terhadap kelompok tertentu. “Menisbatkan sesuatu yang di dianggap Anti Pancasila terhadap suatu kelompok  adalah labelisasi dan generalisasi (mengebyah-uyah) yg berbahaya dan dapat menciptakan suasana perpecahan di tubuh bangsa”, ungkapnya.

Oleh karena itu ia mengimbau segenap keluarga bangsa agar jangan terpengaruh apalagi terprovokasi dengan pikiran-pikiran yang tidak relevan dan kondusif bagi penciptaan Pemilu/Pilpres damai, berkualitas, berkeadilan, dan berkeadaban. []