Ustadz Zaitun: Fungsi Kekuasaan untuk Raih Kemaslahatan

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin

(Makassar) Wahdahjakarta.com – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menggelar tabligh akbar di Masjid Al Markaz Makassar (30/03/2019). Tema yang diangkat tentang arah perjuangan umat, “Integrasi Keislaman dan Kebangsaan”.

Menurut Wakil Ketua MIUMI Pusat, Ustadz Muhammadz Zaitun Rasmin, roadshow yang telah diagendakan dari tahun lalu ini bukan merupakan agenda politik praktis.

“MIUMI tidak melakukan kegiatan politik praktis, karena MIUMI bukan partai politik atau underbow salah satu partai,” tegas Ustad Zaitun.

Ustadz  yang juga Ketua Umum Wahdah Islamiyah ini menyoroti kesalahpahaman sebagian sebagian  umat Islam dalam memandang relasi Islam dan politik. Masih ada  yang memandang ikut pemilu adalah sesuatu yang dilarang dalam agama.

Menurut beliau, justru politik adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Jadi, tidak sepenuhnya benar jika dilarang berpolitik di dalam masjid.

“Kalau yang dimaksud adalah kampanye politik praktis, memang itu tidak boleh. Kecuali darurat. Tapi kalau yang dimaksud adalah siyasah syar’iyyah (politik Islam_red), itu bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam”, ujarnya.

Selanjutnya Wakil Sekjen MUI Pusat ini memberi arahan bagaimana memilih pemimpin di zaman ini yang menurut beliau berbeda dengan zaman khulafaur rasyidin.

“Jika ada dua calon pemimpin, yang satu kuat keshalihannya dan yang kedua tidak seshalih yang pertama. Tapi, calon yang kedua lebih kuat kepemimpinannya. Mana yang dipilih? Yang dipilih adalah yang kedua. Karena calon yang pertama, keshalihannya untuk dirinya pribadi. Sedangkan calon yang kedua, kekuatan kepemimpinannya untuk semua rakyatnya,” terang beliau.

Beliau menjekaskan, fungsi politik menurut Islam adalah ‘siyasatud dunya wahirasatud din’. Artinya, untuk mengatur urusan-urusan duniawi sehingga tercapai kemaslahatan, serta memastikan agar ajaran agama tetap bisa dijalankan secara maksimal.

“Tujuannya adalah mewujudkan kemaslahatan untuk rakyatnya. Termasuk dalam hal ini adalah kesejahteraan. Bukan semata-mata untuk mencapai kekuasaan.” lanjut beliau.

Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Se-Asia Tenggara ini juga menjelaskan bahwa Indonesia perlu pemimpin yang memiliki ‘sense of crisis’ atau kepekaan terhadap kesusahan yang dialami rakyatnya. [ibw/sym]

Keutamaan Shalat Jum’at: Menghapuskan Dosa dalam Sepekan

Keutamaan Shalat Jum’at: Menghapuskan Dosa dalam Sepekan

Hari Jum’at dan ibadah serta amal shaleh yang dilakukan di dalamnya menggugurkan dosa seorang hamba dalam sepekan, yakni antara Jum’at dengan Jum’at berikutnya. Telah dikemukakan pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang hal ini;

“اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ”

“Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antara masa tersebut jika seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

Keutamaan hari jum’at  ini akan diberikan kepada seorang hamba jika mejauhi dosa-dosa besar dan menunaikan shalat Jum’at dengan memenuhi adab-adabnya seperti, mandi, bersuci, memakai parfum dan minyak rambut, bersiwak (menggosok gigi), tidak memisahkan dua orang yang duduk berdampingan,  memperbanyak shalat sunnah sebelum Imam naik mimbar, dan menyimak khutbah.

Sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dari Salman al-Farisi Radhiyallahu anhu. Beliau mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى.”

“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang (sebanyakmungkin) sesuai dengan kemampuannya, lalu diam mendengarkan khutbah  ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara Jum’at tersebut dan ke Jum’at berikutnya.”  (HR. Bukhari).

Dalam Shahih Muslim terdapat tambahan tiga hari. Abu Hurairah Radhiyallahu anhu mengabarkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

Barangsiapa yang mandi lalu berangkat Jum’at, kemudian mendirikan shalat semampunya, selanjutnya diam mendengarkan khutbah hingga selesai kemudian shalat bersama imam, niscaya akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at itu hingga Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari lagi.”  (Terj. HR. Muslim).

Namun keutamaan tersebut diperoleh dengan syarat memerhatikan adab-adab Jum’at sebagaimana disebutkan dalam hadits Bukhari dan Muslim di atas.

Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani berkata tentang hal ini.

“Jika dilihat dari berbagai hadits yang telah disebutkan, penghapusan dosa yang dimaksud karena bertemunya Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya bisa didapat dengan terpenuhinya syarat sebagaimana yang telah disebutkan yaitu mandi, bersih-bersih diri, memakai harum-haruman, memakai minyak, mengenakan pakaian terbaik, berjalan ke masjid dengan tenang, tidak melangkahi jama’ah lain, tidak memisahkan di antara dua orang, tidak mengganggu orang lain, melaksanakan amalan sunnah dan meninggalkan perkataan  dan perbuatan laghwu (sia-sia).” (Fathul Bari, 2: 372).

Majelis Ormas Islam Deklarasi Tolak RUU P-KS

Deklarasi Tolak RUU P-KS oleh Majelis Ormas Islam, Jakarta (28/03/2019)

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Sebanyak 13 organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam yang tergabung dalam Majelis Ormas Islam (MOI) menyatakan penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS).

Penolakan tersebut disampaikan melalui deklarasi yang dibacakan Ketua MOI KH. Drs Muhammad Siddiq usai seminar “Bahaya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (P-KS)” yang digelar di kantor Dewan Dakwah Islamiyah (DDII), Jakarta, Kamis (28/03/2019).

“Penolakan ini didasarkan atas keprihatinan, materi dalam rancangan undang-undang  ini dapat mersuak sendi-sendi moral bangsa dan tatanan keluarga di Indonesia”, tegas Muhammad Siddiq yang juga ketua DDII.

MOI merupakan forum kerjasama ormas Islam yang terdiri dari Syarikat Islam (SI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Persatuan Islam (PERSIS), Hidayatullah, Mathla’ul Anwar, Persatuan Tarbiyah Islamiah (Perti), Al Jam ‘iyatul Washliyah, Al-Ittihadiyah, Persatuan Ummat Islam (PUI), Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), Wahdah Islamiyah (WI), dan Ikatan Da’i Indonesia (IKADI).

Deklarasi diawali dengan seminar dan diskusi membahas bahaya RUU P-KS dengan dua nara sumber utama. Wakil Sekretaris Komisi Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr Wido Supraha dan Helmi Al Djufri konsultan hukum pada Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) Indonesia DKI Jakarta.

DR. Wido Supraha

Doktor Wido mengatakan, RUU P-KS bermasalah sejak dari naskah akademiknya. Setiap  RUU wajib diawali dengan kajian dalam bentuk naskah akademik. Dengan begitu, RUU apa pun yang dibangun di atas naskah akademik yang memiliki persoalan hanya akan melahirkan persoalan baru.

Ia bahkan menyebut naskah akademik RUU ini mengandung racun. Racun seperti apa yang Wido maksud?

“Naskah akademik RUU ini dibangun di atas pendekatan hukum yang berperspektif perempuan,” jelasnya.

Pendekatan hukum berperspektif perempuan selalu memandang budaya patriarki sebagai sumber masalah diskriminasi dan ketidakadilan bagi perempuan.

“Meresponsasi ini, muncul teori tentang hukum berperspektif perempuan yang didasarkan pada kesetaraan dan keadilan gender di bidang politik, ekonomi, dan sosial yang sering dikenal sebagai ” Yurisprudensi Feminis ” atau ” Teori Hukum Feminis ” .”

Menurut peneliti INSISTS ini, karena naskah akademik RUU P-KS ini dibangun di atas konsep yang bertentangan dengan konsep-konsep kunci  dalam Islam, maka sudah sepatutnya RUU ini ditolak.

“Menolak RUU-PKS ini jauh lebih wajib daripada sekadar merevisi kontennya tanpa merubah naskah akademiknya”, pungkas Wido dalam mengakhiri makalahnya. [sym]

Kebebasan Memilih

Kebebasan Memilih

Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

“Pilihlah Dengan Nurani Anda” adalah satu-satunya iklan atau kampanye pemilu yang paling menarik dan paling substansial bagi saya. Menarik karena ia tidak memihak pada partai atau calon presiden manapun.

Substansial karena ia melibatkan hak asasi yang terdalam dari diri manusia. Pilihan tidak lagi dipengaruhi lagi oleh hingar-bingar kampanye dengan segala janji-janji politiknya. Pilihan lebih dipengaruhi oleh akal pikiran yang berkulminasi pada kehendak.

Nurani jelas merupakan kata pinjaman dari Islam, yang akarnya adalah “nur”. Dalam kamus bahasa Melayu “nurani” diartikan bercahaya atau bersinar. Hati Nurani artinya hati yang bercahaya. Allah adalah cahaya langit dan bumi. Ia Maha Mengetahui. Ilmu yang diperoleh dari padaNya, kata Imam Syafi’i, adalah cahaya dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat. (al-ilm nur wa nur Allah la yuhda lil ‘asi)

Oleh sebab itu dalam Islam konsep kebebasan memilih tidak sama dengan konsep “bebas” atau liberal atau freedom di Barat. Tidak seperti kata Cicero Libertas est potestas vivendi ut velis (Kebebasan adalah kemampuan seseorang untuk hidup dengan semaunya).

Kata hurr atau hurriyyah, bebas atau kebebasan, juga bukan kata yang tepat untuk makna kebebasan dalam Islam. Sebab hurr digunakan untuk merujuk kepada status sesuatu atau seseorang yang diberi kebebasan seperti hamba, bekas tahanan dan lain-lain. Bukan kebebasan dalam konteks pikiran dan kehendak ditentukan oleh individu.

Kebebasan dalam Islam tidak ada unsur pemaksaan seperti dalam medan semantik kata hurr. Kata yang tepat untuk ini dalam Islam adalah ikhtiyar, berasal dari akar kata khayr artinya baik. Kata ini sering diartikan berusaha, tapi sebenarnya berarti berusaha memilih yang terbaik.

Maka dari itu “tidak ada paksaan dalam agama” diteruskan dengan kata-kata “Qad tabayyana al-rushd min al-ghayyi” (Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat (Q.S. 2 : 256).

Karena jalan yang benar telah ditunjukkan oleh ilmu agama yang rasional maka ikhtiyar atau memilih yang terbaik tidak mungkin dilakukan kecuali dengan ilmu. Ilmu tentang baik buruk. Bagi kaum sekuler baik-buruk ditentukan oleh akal atau kesepakatan masyarakat.

Dalam Islam akal berada dibawah wahyu. Jadi ikhtiyar berbekal nilai atau ilmu tentang nilai baik buruk yang berasal dari agama. Pelaku maksiat tentu bukan orang yang memiliki nurani atau ilmu untuk memilih mana yang baik dan yang buruk.

Ber-ikhtiyar memilih pemimpin atau kepala negara atau presiden hakekatnya sama saja. Kebebasan memilih harus berbekal ilmu tentang baik-buruknya calon yang akan dipilih. Peribahasa “Jangan membeli kucing dalam karung” artinya “Jangan memilih tanpa ilmu”.

Memilih presiden adalah memilih pemimpin yang akan menentukan masa depan kita. Baik buruk masa depan kita ditentukan oleh pemimpin. Untuk mengetahui calon pemimpin yang baik, kita harus punya pengetahuan tentang visinya, kehidupan pribadinya, sikap keberagamaannya, sikap kerakyatannya, akhlaknya, leadershipnya dan kemampuannya mengadakan perbaikan dalam berbagai sektor kehidupan kita.

Jika akal kita tidak lagi mampu menentukan pilihan, kita tidak perlu pergi ke dukun atau tukang ramal. Islam mengajarkan sarana spiritual khusus untuk ber-ikhtiyar yaitu shalat istikharah (Memohon pilihan).

Akar kata istikharah sama dengan ikhtiyar. Doanya begitu jelas “Saya mohon pilihan dengan ilmuMu dan dengan kekuasaanMu ……..jika engkau tahu jika perkara ini (calon ini, pilihan ini) baik bagiku, agamaku, kehidupanku, dan masa depanku, maka takdirkanlah, mudahkanlah, dan turunkanlah barakah kepadaku…”.

Artinya kita memohon agar cahaya ilmu Tuhan dipancarkan ke dalam hati kita. Cahaya itulah yang membelokkan hati (yuqallib al-qulub) kita ke arah pilihan yang benar. Memilih dengan nurani berarti memilih dengan hati yang bercahayakan ilmu Allah. Itulah sejatinya makna memilih dengan nurani. Jika telah tiba masa ber’azam untuk memilih maka pegangan terakhir adalah tawakkal. (Dr Hamid Fahmy Zarkasyi)

Enam Warga Kena DBD, Puskesmas Perwira Gandeng IDC Lakukan Fogging Gratis

Laskar Fogging Infaq Dakwah Center

(BEKASI) Wahdahjakarta.com — Wabah demam berdarah dengue (DBD) masih terjadi di sejumlah wilayah di Kota Bekasi, Jawa Barat. Di RW 012 Kelurahan Perwira, Bekasi Utara sebanyak enam warga terserang wabah yang mematikan ini.

Untuk mengantisipasi meluasnya wabah DBD, Puskesmas Perwira menggandeng Infaq Dakwah Center (IDC) melakukan fogging (pengasapan) gratis di RW tersebut pada Rabu, 27 Maret 2019.

“Di RW 12 ini kasus DBD ada sekitar enam warga yang terkena. Mungkin dengan fogging ini bisa memutus rantai dari DBD ini, itu sebabnya kita gandeng Laskar Fogging IDC,” ujar Kepala Puskesmas Perwira dokter Lily.

Secara khusus, dokter Lily menyampaikan terima kasih kepada IDC. “Terima kasih atas bantuan IDC yang telah mengirim Laskar Fogging ke RW 12,” kata dia.

Fogging berlangsung mulai pukul 07 pagi hingga menjelang waktu zuhur. Selama berlangsungnya pengasapan ke rumah-rumah warga, Laskar Fogging IDC ditemani pihak Puskesmas, pengurus RW dan pengurus PKK.

Ketua RW 012 Subeno mengatakan, rendahnya kesadaran warga akan kebersihan lingkungan menjadi sebab mewabahnya DBD. Sehingga selain dengan fogging, untuk mencegah meluasnya wabah DBD dilakukan dengan membersihkan lingkungan.

“Ada beberapa warga kami yang sempat dirawat di rumah sakit karena kena DBD. Kita akui, kesadaran warga dalam kebersihan lingkungan masih rendah. Sehingga setelah kasus DBD ini terjadi di lingkungan RW 012, kami langsung melakukan kerja bakti,” ungkap Subeno ketika ditemui di sela-sela pengasapan.

Darsih (59), warga yang terkena DBD berharap setelah dilakukan fogging dan kerja bakti membersihkan lingkungan tidak ada lagi warga RW 012 yang terkena DBD. “Ya mudah-mudahan setelah fogging tidak ada lagi yang kena (DBD). Terima kasih sudah di-fogging,” kata Darsih yang sempat diopname selama sepekan di rumah sakit.

Sementara itu, relawan IDC Firman mengatakan layanan fogging gratis IDC ini mendapat respon positif dari masyarakat luas. “Banyak yang menghubungi call center kami, minta fogging di sejumlah titik. Bahkan ada dari Cikampek yang minta difogging juga. Silakan bagi yang membutuhkan layanan fogging gratis IDC bisa menghubungi kami,” terang Firman.

Layanan fogging gratis IDC ini pertama kali diluncurkan pada pertengahan Februari 2019. Saat ini IDC yang berbasis di Kota Bekasi memiliki dua unit mesin fogging.[]  

Wantim MUI Berharap Pemilu 2019 Berjalan Damai, Berkualitas, dan Beradab

Rapat Pleno ke-37 Wantim MUI Pusat membahas Pemilu Damai, Berkualitas, dan Beradab, Rabu (27/03/2019)

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) menggelar Rapat Pleno ke-37 di Kantor MUI Pusat, Jalan Proklamasi 51, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (27/03/2019). Rapat pleno ini mengangkat tema Mewujudkan Pemilu Damai, Berkualitas, dan Beradab.

Wantim MUI merasa prihatin dengan kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Terdapat perselisihan, perseteruan, dan perbedaan pendapat yang tajam yang jika tidak dikelola dengan baik dapat membawa pada perpecahan bangsa.

“Maka, Dewan Pertimbangan MUI mendorong terselenggaranya Pemilu 2019 yang damai, berkualitas, berkeadilan, dan berkeadaban,” tegas Ketua Wantim MUI Din Syamsudin.

Wantim MUI juga menyeru kepada penyelenggara Pemilu yaitu KPU, Bawaslu serta lembaga penegak hukum untuk menyelenggarakan Pemilu dengan sebaik-baiknya sesuai dengan hukum dengan menampilkan diri sebagai wasit yang adil.

Kepada rakyat pemilih khususnya ummat Islam ia mengimbau untuk menggunakan hak pilihnya sebagai manivestasi tanggung jawab sebagai warga negara yang baik.

“Memilih pemimpin adalah kewajiban kebangsaan dan keagamaan sekaligus”, jelasnya.

Untuk itu mantan Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini berpesan agar masyarakat meningkatkan kecerdasan politik agar pemilu berkualitas dan memilih pemimpin yang sesuai hati (qalbu) dan wawasan yang terkandung di Indonesia yang berkeadilan, berkemajuan, dan berkemakmuran di bawah naungan ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Wantim MUI juga menyeru umat Islam untuk terus berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar bangsa Indonesia yang berkeinginan lahir batin terhindar dari petaka perpecahan dan permusuhan.

Terakhir Wantim MUI berharap Pemilu 2019 berjalan damai, berkualitas, dan beradab.

 “Wantim MUI berharap agar Pemilu 2019 berjalan damai, berkualitas dan beradab, maka kita menolak setiap gejolak dan gelagat yang akan mengadu domba umat Islam,” kata dia.

“Oleh karenanya Dewan Pertimbangan MUI mengajak untuk mengawal Pemilu 2019 dan menjadi pemersatu bangsa di masa datang”, pungkasnya. []

Milad ke-27, Radio Dakta Kokohkan Komitmen Sebagai Media Informasi Terpercaya

Radio Dakta

(Bekasi) Wahdahjakarta.com -, Menginjak usia yang ke-27, Radio Dakta semakin mengokohkan dirinya sebagai radio informasi yang terpercaya di Kota Bekasi.

Perjalanan Radio Dakta diawali dari pembelian sebuah radio di Bandung bernama Radio Famor lalu dipindahkan ke Bekasi, tepatnya di Jalan KH Agus Salim nomor 77, Bekasi Timur.

“Kita juga pernah menjadi radio hiburan, radio keluarga, hingga pada akhirnya kita kembali ke khittah-nya menjadi radio informasi yang bernafaskan islam di tahun 2000-an,” ujar  Direktur Utama PT Radio Nada Komunikasi Utama, Andi Kosala, pada Rabu (27/3)

Menanggapi tentang tantangan di masa depan, Andi mengatakan regenerasi dan revitalisasi Radio Dakta juga harus dilakukan, salah satunya dengan mengubah format siaran.

“Jika kita perhatikan Radio Dakta juga kini sudah berubah format dengan memunculkan lebih banyak informasi dan edukasi sesuai dengan visi dan misi kami,” imbuhnya.

Andi menambahkan dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, Radio Dakta juga bertransformasi menyasar ke sejumlah media sosial.

“Jadi Radio Dakta kini sudah ada Facebook, Twitter, dan Instagram. Ini diperlukan dalam rangka revitalisasi program, selain juga untuk merangkul pendengar dari kalangan muda dan milenial,” tutupnya.

Di usia yang ke-27 ini juga banyak harapan pendengar dan masyarakat Kota Bekasi agar Radio Dakta tetap mampu menghadirkan informasi yang mencerdaskan, serta menjadi penyambung lidah dengan pemerintah Kota dan Kabupaten Bekasi. []

Sumber: Rilis

Layanan Fogging Gratis IDC Diminati Masyarakat

Laskar Fogging IDC

(BEKASI) Wahdahjakarta.com—Infaq Dakwah Center (IDC) kembali melakukan layanan fogging (pengasapan) gratis. Kali ini layanan fogging dilakukan di Kampung Ujung Harapan, RT 06 RW 18, Babelan, Kota Bekasi, Jawa Barat, Ahad (24/3/2019).

Selain fogging, pada kesempatan ini IDC juga membarengi dengan pengobatan gratis di lokasi yang sama. Warga setempat begitu antusias berobat kepada tim dokter dari Go Medica yang digandeng IDC. Sekira seratus lebih warga, baik orangtua, remaja, dan anak-anak mengikuti pengobatan ini.

Untuk layanan fogging, IDC menurunkan empat orang laskar fogging dan dua mesin fogging. Selama pengasapan, warga menyambut Laskar Fogging IDC di depan pintu-pintu rumah mereka. Diantara warga ada yang menginginkan pengasapan hingga ke dalam rumah, ada juga yang menginginkan hanya sebatas di halaman rumah.

Ketua RT 06 Saptaji Pamungkas menyampaikan apresiasi kepada IDC yang telah menggelar bakti sosial di wilayahnya. “Kita bersyukur sekali adanya pengobatan dan fogging gratis dari IDC ini. Sehingga diharapkan warga di sini terhindar dari penyakit,” kata Saptaji saat ditemui di lokasi acara.

Relawan IDC Irfanuddin mengungkapkan antusiasme masyarakat atas layanan fogging gratis. Dikatakan Irfanuddin, sejak diluncurkan Februari 2019 silam, layanan fogging gratis IDC ini mendapat sambutan positif dari masyarakat.

“Permintaan masyarakat akan layanan fogging gratis begitu tinggi. Banyak masyarakat yang menghubungi call center IDC menyampaikan permintaan fogging gratis di wilayah mereka,” kata Irfanuddin.

Dikatakan Irfanuddin, sebelum di Kampung Ujung Harapan Bekasi, IDC melayani fogging di beberapa tempat, termasuk di daerah Palmerah, Jakarta Barat

“Jadwal selanjutkan, Rabu pekan depan, 27 Maret 2019 IDC akan melakukan fogging gratis di Perwira, Bekasi bekerjasama dengan Puskesmas setempat. Kemudian, IDC bekerjasama dengan Masjid Agung Al Barkah Bekasi. Selain fogging, diadakan juga pengobatan gratis kerjasama dengan Masjid Agung,” jelas Irfanuddin.

Bagi masyarakat yang menginginkan layanan fogging gratis, Irfanuddin mempersilakan menghubungi call center IDC di 0856-7700-020. “Insyaallah untuk sementara kami hanya melayani fogging gratis di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi),” kata Irfanuddin.*

Pengamat: Negara Anggota  OKI Harus Cegah Meluasnya Islamophobia

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Pengamat masalah Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi, mengatakan, negara-negara anggota Organisasi Kerja sama Islam (OKI) perlu bertindak cepat untuk mencegah makin meluasnya Islamophobia yang mengarah kebencian terhadap Islam.

“Islamofobia menjadi masalah dunia yang mulai mengkhawatirkan,” ujar Yon Machmudi.

Karena itu, menurut Yon, pertemuan darurat tingkat menteri OKI yang digagas Turki untuk menanggapi aksi terorisme di Selandia Baru sangat positif karena secara cepat merespons persoalan-persoalan dunia Islam.

“OKI di bawah kepemimpinan Turki memang lebih progesif dan responsif dalam menyelesaikan isu-isu dunia Islam,” ujar dia.

Konferensi Tingkat Menteri (KTM) Darurat OKI yang bertajuk “OIC Open Ended Executive Committee Emergency Ministerial Meeting On The Recent Terrorist Attack Against Two Mosques In New Zealand And Countering Hatred Against Muslims” itu diselenggarakan di Istanbul, Turki pada Jumat (22/03/2019).

Dalam pertemuan darurat tersebut, negara-negara anggota OKI, termasuk Indonesia yang diwakili Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, bersatu mengecam serangan teror yang terjadi pada Jumat (15/03/2019) di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru yang menewaskan 50 orang dan membuat puluhan orang lainnya luka-luka.

Stop Islamophobia

Menurut Yon, langkah kongkret OKI diperlukan karena sikap anti-Islam tidak lagi terbatas pada ujaran kebencian dalam lisan dan tulisan, tetapi sudah mulai terorganisasi dan berkembang menjadi aksi terorisme.

Sehingga, Islamophobia tidak hanya mengancam umat Islam, tetapi juga dapat merusak perdamaian dan peradaban dunia secara umum.

“Selama ini Islamofobia dikembangkan melalui gerakan radikal supremasi kulit putih Eropa melalui kampanye anti-imigran,” kata dia kutip INI-Net di Jakarta, Sabtu (23/03/2019). []

Sumber: Hidayatullah.com 

Mengharukan, Anies Sampaikan Ucapan Terima Kasih Kepada Pekerja Pembangunan MRT

(Jakarta) Wahdahjakarta.com -, Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Gubernur DKI) Anies Baswedan menyampaikan ucapan terima kasih kepada para pekerja pembanguan MRT Jakarta.

Ucapan terima kasih disampaikan Gubernur Anies melalui fan page resmi @aniesbaswedan, Ahad (24/03/2019) sore. Hingga berita ini diturunkan postingan ucapan terima kasih Anies telah dibagikan (share) sebanyak 23.370, 63 ribu like, dan 6,3 ribu komentar warga net.

Pengerjaan pembangunan MRT Jakarta

Berikut selengkapnya.

Kepada Yth.

Para Pekerja Pembangunan MRT Jakarta

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Ibu dan Bapak yang saya hormati, saya menuliskan pesan ini untuk ucapkan terima kasih. Mengirimkan apresiasi pada semua yang pernah bekerja untuk membangun MRT ini.

Saya sudah berkali-kali naik MRT, tapi tadi pagi berbeda. Pagi ini bersejarah karena MRT akan diresmikan. Di perjalanan menuju lokasi acara, wajah para pekerja itulah yang muncul di benak saya.

Mereka yang berpeluh siang malam. Saya tahu persis karena hampir setiap malam lewat sekitar tiang-tiang pancang. Di malam gulita, saat mayoritas warga telah tidur, Anda semua masih berkeringat. Bekerja tanpa henti.

Ibu, Bapak dan Saudara semua, kerja keras itu, butiran keringat jernih itu yang membuat bangsa kita bisa cemerlang. MRT adalah kristal cemerlang dari keringat Ibu, Bapak dan Saudara semua.

Kita tahu bahwa Borobudur itu dibangun selama lebih dari 100 tahun; bangsa kita memang punya stamina untuk membuat karya monumental lintas masa. Kita kagum karyanya tapi tak pernah kenal nama-nama para pekerjanya. Memang para pekerja di balik karya besar selalu tersembunyi, tapi karyanya dirasakan dan membanggakan.

Saya sudah meminta kepada Direksi PT. MRT bahwa kali ini harap dicatat setiap nama yang terlibat, sekecil apapun termasuk para pekerja paling operasional. Dokumentasikan semua, dan izinkan kami, bangsa Indonesia, mengenal orang-orang yang bekerja keras dalam sunyi untuk mengubah wajah ibu kota.

Hari ini mungkin Anda di rumah, menonton di televisi atau membaca beritanya. Anda tidak berada di lokasi, tak menyaksikan langsung hasil kerja keras yang anda lakukan. Tapi ketahuilah, tepuk tangan tadi membahana. Ribuan bertepuk-tangan. Izinkan saya menegaskan bahwa tepuk tangan itu sesungguhnya untuk Anda, untuk tiap jiwa yang bekerja dalam senyap.

Bapak, Ibu dan Saudara semua, Anda telah mengubah wajah ibu kota, hasil kerja Anda akan memudahkan hidup jutaan orang selama puluhan tahun yang akan datang. Mereka semua hampir pasti tidak kenal dengan nama Anda tapi semua pasti merasakan karya Anda yang akan berbekas sepanjang sejarah.

Kami yang berdiri di atas panggung saat ini, gelintiran jumlahnya, tak sebanding dengan Ibu-Bapak yang ratusan ribu jumlahnya yang bekerja tak tampak, jauh dari sorotan publik.

Atas nama rakyat Jakarta, saya mengirimkan rasa terima kasih dan rasa hormat pada Ibu, Bapak dan Saudara semua. Di manapun Anda berada, kami mendoakan. Semoga tiap butir keringat itu akan dicatat sebagai amal shaleh, dan setiap kemudahan yang dirasakan oleh pengguna MRT akan dicatat sebagai amal jariyah bagi Anda semua.

Wassalamu’alaikum warrahmatulahi wabarakatuh.

Salam,

Anies Baswedan

Menurut Joko Intarto (wartawan) MRT Jakarta sudah digagas sejak tahun 1985. Atau 34 tahun lalu. Namun langkah konkritnya baru dimulai tahun 2005, setelah presiden menetapkan MRT Jakarta sebagai proyek nasional.

Setahun kemudian (2006), dilakukan penandatanganan pembiayaan antara Gubernur Japan Bank for International Cooperation (JBIC) Kyosuke Shinozawa dan Duta Besar Indonesia untuk Jepang Yusuf Anwar. JBIC kemudian mendesain dan memberikan rekomendasi studi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Desain proyek memang sudah selesai tahun 2009. Namun tahap pengerjaan konstruksi baru bisa dilakukan pada Oktober 2013 dengan target selesai tahun 2018. Mestinya bertepatan dengan pelaksanaan Asian Games. MRT fase I memiliki panjang 16 Kilometer. Menghubungkan Bundaran HI dengan Lebak Bulus. Melewati 13 stasiun dan 1 depo.

Waktu tempuh dari ujung ke ujung, kurang lebih 30 menit. Ada pun jeda keberangkatan kereta satu dengan lainnya adalah 5 menit. Dengan frekuensi tersebut, MRT diperkirakan bisa melayani 16 ribu penumpang per hari. []