Batasan Wajah yang Wajib Dibasuh dalam Wudhu

Batasan Wajah yang Wajib dibasuh dalam Wudhu

Ilustasi : Fiqh Wudhu

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum Wa Rahmatullahi Wa barakatuh, Mohon penjelasan tentang batasan wajah yang wajib dibasuh dalam wudhu.  Apakah ada dalil dalam masalah ini?

Jawaban

Alhamdulillah

Makna dan batasan wajah berdasarkan dua dalil syar’i;

Pertama, Dari sisi bahasa (Arab) yang dengan bahasa tersebut Allah menurunkan Al-Quran, dan dengan bahasa tersebut kita mendapatkan ajaran serta tidak ada pertentangan antara hal tersebut dengan ketentuan syariat.

Kedua, Dari sisi kesepakatan (ijma’) para ulama. Dan ijma’ mereka merupakan hujjah (landasan dalil).

Pakar bahasa (Arab) berkata, ‘Al-Wajhu, adalah bagian depan segala sesuatu.’ (Al-Muhith Fil-Lughah, 1/314, Kitabul-‘Ain, 4/66)

Imam Al-Qurthubi berkata, ‘Al-Wajhu menurut bahasa diambil dari kata ‘al-muwajahah’ (berhadap-hadapan), yaitu anggota badan yang meliputi beberapa anggota, memiliki batasan panjang dan lebar; Batasan panjangnya adalah dari ujung kening hingga ujung dagu, sedangkan batasan lebarnya adalah dari telinga ke telinga.” (Al-Jami’ Li Ahkaamil-Quran, 6/83)

Ibnu Katsir berkata, “Batasan wajah menurut para ahli Fiqih adalah, ‘Panjang, antara tempat tumbuhnya rambut, kepala gundul tidak dianggap, hingga ujung dagu, sedangkan lebar antara kedua telinga.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/47)

Wajah, panjangnya adalah antara tempat tumbuhnya rambut hingga dagu dan ujung jenggot, dan lebarnya adalah antara kedua telinga.”

Imam An-Nawawi berkata, “Inilah yang disebutkan pengarang tentang batasan wajah, pendapat ini benar, dan demikianlah kalangan mazhab kami berpendapat serta dinyatakan pula oleh Asy-Syafi’I rahimahullah dalam Kitab Al-Umm.” (Al-Majmu’)

Dia juga berkata, “Bangsa Arab tidak menamakan wajah kecuali yang berada di muka.” (Al-Jami’ Li Ahkamil Quran, 6/84)

Imam Nawawi juga berkata dalam Kitab Al-Majmu, 1/3, ‘Wajah menurut bangsa Arab adalah apa yang didapati saat berhadapan”

Al-Kasani berkata dalam Bada’ius-Shana’i, 1/3, Wajah adalah dari awal rambut hingga bawah dagu dan antara kedua telinga. Ini adalah batasan yang benar, karena merupakan batasan yang dapat ditangkap secara bahasa, karena wajah adalah sesuatu yang berada di hadapan manusia, atau apa saja yang biasanya berada di hadapannya menurut bahasa, dan muwajahah (berhadap-hadapan) biasanya terkait dengan batasan ini.’

Perhatikan: Daqa’iqu Ulin-Nuha, 1/56, Kisyaful-Qana’, 1/95, Al-Mughni, 1/83, Tabyinul-Haqa’iq, 1/2, Fathul-Qadir, 1/15, Mathalib Ulin-Nuha, 1/113, Raddul-Muhtar, 1/96, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 4/126, Tafsir Ibnu Katsir, 3/48, Al-Kulliyyat, 1628, Al-Lubab, 7/219, Tafsir Al-Baghawi, 3/21, Nuzumud-Durar, 2/403.

Para Mufasir (ahli tafsir) dan Fuqaha (ahli fiqih) serta ahli bahasa berpendapat sama yaitu bahwa wajah adalah apa yang tampak saat berhadapan, dan itu merupakan batasannya. Cukuplah hal tersebut menjadi landasan syar’i. Wallahu ta’ala a’lam.[]

Sumber: Islamqa.info/id

Posted in Artikel.

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.