BELAJAR HIJRAH DARI KELUARGA NABI IBRAHIM ‘Alaihimussalam

Hijrah Keluarga Nabi Ibrahim

Hijrah Keluarga Nabi Ibrahim

BELAJAR HIJRAH DARI KELUARGA NABI IBRAHIM ‘Alaihimussalam

Merantau, kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Ada yang merantau untuk berdagang. Ada yang merantau untuk kuliah, ada yang mencari suaka ke negeri orang, dan sbagainya. Kata merantau sudah identic dengan hijrah. Namun, apakah setiap yang merantau bisa disebut hijrah?

Banyak di antara kita adalah perantau. Semua kembali kepada niatnya, merantau kita dalam rangka apa? Apakah seperti ‘merantau’-nya keluarga Nabi Ibrahim? Beliau ‘merantau’ untuk menyebarkan agama Allah di muka bumi.

Merantau (baca: hijrah) adalah bagian tak terpisahkan dari ‘iqamatuddin’ (menegakkan nilai-nilai agama). Dengan ‘merantau’-nya para Nabi, para shahabat, tabi’in, dan para ulama serta da’i-da’I pengemban risalah, agama ini bisa tersebar. Bisa kita rasakan manisnya hingga sekarang.

Di antara para Nabi yang banyak merantau (baca: hijrah), adalah Khalilurrahman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam beserta keluarga. Awalnya beliau berdakwah di wilayah Mesopotamia (Babilonia Lama). Wilayah antara Sungai Eufrat dan Tigris, sekitar Iraq sekarang.

Sudah masyhur kisahnya bahwa dakwah beliau waktu itu ditentang bukan hanya oleh Namrud si raja zhalim dan rakyatnya saja. Ayah kandung beliau pun tak kalah keras penentangannya. Bahkan mengancam akan merajam serta mengusir.

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ ۖ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

Artinya: “Ayahnya berkata, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka akan kurajam kamu dan tinggalkanlah aku dalam waktu yang lama”. (QS Maryam: 46)

Setelah sekian lama berdakwah dan bertaruh nyawa, dakwah beliau tetap tidak menggembirakan. Polytheisme (kemusyrikan) begitu kuat mengakar. Di antara yang beriman hanya istri dan keponakan beliau saja, Nabi Luth ‘alaihis salam.

Beliau pun berkata kepada Nabi Luth,

فَآمَنَ لَهُ لُوطٌ ۘ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya: “Sesungguhnya aku akan berhijrah menuju tempat yang diperintahkan oleh Rabbku. Sungguh Dia adalah Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Al Ankabut: 26)

Di ayat yang lain Allah abadikan ucapan beliau,

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ

Artinya: “Sungguh aku akan pergi (berhijrah) ke tempat yang di perintahkan oleh Allah, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS Ash Shaffat: 99)

Maka berangkatlah beliau bersama istri dan keponakannya, Sarah dan Luth ‘alaihimus salam ke negeri Syam. Hijrah menuju negeri yang diberkahi. Namun, disana penduduknya sama-sama penganut politheisme alias musyrik. Mereka adalah penyembah bintang-bintang.

Lagi-lagi beliau kembali berhijrah. Berikutnya Mesir yang menjadi tujuan. Negeri para Fir’aun. Negeri yang peradaban kunonya sudah lama tersohor.

Di Mesir pun tak lama. Beliau tinggalkan raja zhalim dan negerinya untuk lagi-lagi, kembali berhijrah. Bersama Sarah dan Hajar ‘alaihimussalam. Nabi Ibrahim bertolak menuju Palestina. Disinilah kelak Allah berikan kabar gembira hadirnya Ishaq, kemudian Ya’qub, dan berikutnya Yusuf ‘alaihimussalam.

Kisah hijrah beliau tak berhenti disitu. Beliau kembali hijrahkan istri dan bayi mungilnya Nabi Ismail ke Baitullah. Istri yang belum lama membersamai, kembali harus disapih. Karena ada skenario ilahiyah nan agung harus dijalankan. Kelak kita akan tahu bahwa perintis dakwah di Baitullah adalah seorang wanita shalihah, yang mengubah wajah dunia.

Selain para nabi dan juga nabi kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, hijrah juga dikerjakan oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum. Sepeninggal Sang Murabbi (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat pun berhijrah ke luar Madinah. Ada yang ke Yaman, Syam, Iraq, Mesir, dsb hingga agama rahmat ini kita rasakan sekarang.

Begitulah, syariat agung bernama ‘hijrah’ ini telah dicontohkan oleh manusia-manusia pilihan. Dari generasi ke generasi. Untuk orang-orang pilihan. Yang bersedia mengemban amanah menyebarkan risalah.

Begitu agungnya hijrah sehingga penyebutannya dalam Al Qur’an sering digandengkan dengan iman dan jihad. Kemudian Allah janjikan keutamaan besar bagi pelakunya, bukan hanya di akhirat saja namun sejak di dunia. Allah janjikan kelapangan rizki bagi pelakunya jika hijrahnya benar-benar lillah wa fillah.

وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ

Artinya: “Barang siapa berhijrah fi sabilillah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan keluasan rezeki.” (QS An Nisa: 100)

Semoga Allah berikan taufiq agar kita bisa meneladani kesabaran dan keistiqomahan mereka. Dalam berhijrah mempertahankan dan menyebarkan kebenaran. Amin.

Murtadha Ibawi.

Posted in Artikel and tagged , , , , .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan