DPW DKI Jakarta dan Depok

Bolehkah, Membaca Al-Qur’an Tanpa Memahami Maknanya?

2
Keutamaan Membaca Al-Qur'an
Ilustarsi: Seorang santri sedang membaca Al-Qur’an

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum ustadz, saya ingin bertanya tentang hukum membaca Al-Qur’an tanpa memahami maknanya. Karena saya tidak dapat berbhasa Arab dan tidak dapat membaca kitab gundul.

Jawaban

Dibolehkan membaca Al-Qur’an meskipun tidak memahami maknanya. Akan tetapi lebih dianjurkan mentadaburi dan memikirkan sampai memahami maknanya.  Caranya dengan merujuk ke kitab-kitab Tafsir jika dapat memahami kitab-kitab tersebut.

Cara lain dengan menanyakan kepada ahli ilmu jika mengalami kendala dan masalah dalam tadabbur. Karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ (سورة ص: 29)

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)

Seorang mukmin hendaknya mentadaburi, maksudnya memperhatikan bacaan dan memikirkan maknanya. Dan memahami maknanya, dengan begitu, dia dapat mengambil manfaatnya. Jika tidak dapat mengambil manfaat makna secara sempurna, dia telah mengambil manfaat makna yang banyak.

Maka perlu membaca dengan tadabur dan memahami. Bagitu juga bagi seorang wanita. Mentadabburi Al-Quran agar dapat mengambil manfaat dari firman Tuhannya serta mengetahui maksudnya dan mengamalkannya. Allah subhanahu  wa ta’ala berfirman:

(أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (سورة محمد: 24)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?.” (QS. Muhammad: 24)

Allah  Azza Wajalla menganjurkan dan mengajak untuk memahami dan mentadaburi Kalam-Nya Subhanahu. Kalau seorang mukmin membaca Kitabullah  , maka dianjurkan keduanya untuk mentadaburi dan memahaminya serta memperhatikan apa yang dibacanya. Agar dapat mengambil manfaat dan memahami Kalam Allah. Dan mengamalkan dengan apa yang diketahui dari Kalam Allah. Dalam hal ini, dapat meminta memanfaatkan kitab-kitab tafsir yang dikarang para ulama seperti tafsir Ibnu Katsir, tafsir Ibnu Jarir, tafsir Al-Baghowi, Tafsir Syaukani dan kitab tafsir lainnya.. Begitu juga bertanya kepada ulama  yang dikenal mempunyai ilmu dan memiliki keutamaan untuk menanyakan berbagai masalah.”

Sumber: Fatwa Samahatus Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah .

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.