DPW DKI Jakarta dan Depok

Bolehkah Tidak Memberi Maaf Pada Orang Lain

13

Pertanyaan:

“Assalamu Alaikum, Ustadz, saya punya masalah dengan teman beberapa waktu lalu. Saya sangat kecewa dan marah kepadanya. Berkali-kali dia datang minta maaf tapi tidak saya ladeni. Apakah sikap saya ini benar?”

Jawaban:

Wa’alaikum Salam.

Perbuatan yang saudara(i) lakukan ini tidak pantas dan tidak dibolehkan oleh syariat. Karena ciri seorang Muslim itu adalah lapang dada dan saling memberi maaf.

Kita boleh marah dan mendiamkan jika saudara muslim kita berlaku tidak adil atau menzalimi kita. Akan tetapi, hal itu hanya diizinkan selama tiga hari. Lebih dari itu, maka hukumnya tidak boleh.

Dalam hal ini, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melarang seseorang memboikot saudaranya lebih dari 3 hari. Dalam sebuah hadits disebutkan, Rasulullah bersabda:

لاَيَحِلُّ لِمُسلِمٍ أَن يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ، فَيَعْرِضُ هَذَاوَيَعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ”. متفق عليه.

“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari, saling bertemu lalu yang satu berpaling dan lainnya juga berpaling. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan, dalam riwayat lain sikap tidak memaafkan kesalahan sesama Muslim sementara yang bersalah sudah berusaha minta maaf, diancam amalnya akan ditangguhkan (tidak diterima) hingga bersedia memberi maaf dan berdamai.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menceritakan:

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ فِى كُلِّ يَوْمِ خَمِيسٍ وَاثْنَيْنِ فَيَغْفِرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى ذَلِكَ الْيَوْمِ لِكُلِّ امْرِئٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ امْرَأً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ ارْكُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا اترْكُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Pintu-pintu surga dibuka setiap hari senin dan hari kamis, lalu orang-orang yang tidak berbuat syirik diampuni dosa-dosanya, kecuali orang yang memiliki rasa kebencian terhadap suadaranya. Lalu dikatakan, “Tangguhkanlah kedua orang ini hingga kembali berdamai. Tangguhkanlah kedua orang ini hingga kembali berdamai”. (HR.Muslim).

Wallahu A’lam.

Sumber: Akun Facebook  Ustadz Rappung Samuddin,Lc, MA

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.