Pameran buku Islam 17th IBF 2018 Dibuka Wakil Ketua DPR

Pameran buku Islam 17th IBF 2018 Dibuka Wakil Ketua DPR

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Perhelatan Pameran buku Islam 17th Islamic Book Fair (IBF) ke-17 resmi dibuka oleh Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, pada Rabu (18/04/2018) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan Jakarta. Tema yang diangkat pada IBF kali ini “Meraih Kejayaan Islam Melalui Literasi”.
Dalam sambutannya, Fadli Zon mengatakan, seharusnya IBF yang ada di Indonesia adalah IBF yang terbesar di dunia. Sebab Indonesia adalah negeri Muslim terbesar di dunia.

Fadli menilai, kegiatan IBF sangatlah penting karena menunjukkan potret sebuah peradaban. Di saat hidup di era digital, dimana banyaknya buku elektronik, ternyata masih mampu menggelar pameran buku-buku cetak. “Ini satu hal yang luar biasa,” ucapnya mengapresiasi.
Menurutnya tema IBF sangatlah tepat. Sebab pada abad pertengahan, tuturnya, Islam maju karena memelihara dan melahirkan literasi yang luar biasa melalui madrasah-madrasah.

Al-Ghazali, kata dia, sudah menulis buku Ihya Ulumuddin pada tahun 1100. Sementara di dunia Barat saat itu belum ditemukan cetakan-cetakan yang sejenis dan sama kualitas intelektualnya dengan karya Al-Ghazali itu.
Menurut Ketua panitia IBF 2018 M Anis Baswedan pameran ini diikuti sebanyak 151 penerbit dan 78 non-penerbit, empat stan instansi pemerintah, dan 28 media

partner yang menempati 274 stan. “Kami berharap, peserta yang ikut dalam pameran ini sukses mendapatkan apa yang menjadi keinginan bersama dalam menawarkan produk-produknya kepada masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut Direktur Akbar Media ini menjelaskan, melalui pameran Islamic Book Fair ini diharapkan mampu menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia menjadi lebih baik lagi. “Karena itulah, kami mengangkat tema pameran ini “Meraih Kejayaan Islam Melalui Literasi” agar semakin tumbuh minat baca masyarakat Indonesia, khususnya pada buku-buku keislaman,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta, Hikmat Kurnia. Menurut Hikmat, tema tersebut diangkat dengan tujuan semakin tumbuh kesadaran masyarakat Indonesia pada dunia literasi. “Umat Islam pernah berjaya melalui literasi. Lihatlah dinasti Abbasiyah yang sukses menciptakan golden age (masa keemasan dan kejayaan) Islam dengan dunia literasinya,” kata dia.

Dan pada masa itu pula lahir tokoh-tokoh Muslim kenamaan, seperti Imam Al-Ghazali, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan berbagai tokoh muslim lainnya. Bahkan pada masa Dinasti Abbasiyah itu pula, muncul sekolah Islam ternama, yakni Nizhamiyah, dan perpustakaan yang mengagumkan, yaitu Baitul Hikmah. “Dengan spirit itu, kita berharap, semakin tumbuh budaya baca dan menulis,” ujarnya.

Pameran Islamic Book Fair tahun ini menghadirkan sejumlah pejabat dan tokoh ulama serta penulis ternama, seperti Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr TGH Zainul Majdi MA (Tuan Guru Bajang), Fadli Zon, wakil ketua DPR, Ustaz Abdul Somad Lc MA, Ustaz Adi Hidayat, Ustaz Bachtiar Nasir, Ustaz Salim A Fillah, KH Adrian Mafatihullah Karim, dan Syaikh Mahmud Al-Mishri.

Sedangkan penulis terkemuka yang dipastikan hadir untuk membedah karya-karyanya adalah Habiburrahman El Shirazy, Tere Liye, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Hanum Rais, Wirda Mansur, dan lainnya. [sym/wahdahjakarta.com].

Meriahkan IBF 2018, Pustaka Al-Kautsar Hadirkan Penulis Buku “Semua Ada Saatnya”

IBF 2018

Meriahkan IBF 2018, Pustaka Al-Kautsar Hadirkan Penulis Buku “Semua Ada Saatnya”

(Jakarta) wahdahjakarta.com– Perhelatan tahunan Islamic Book Fair 2018 yang diselenggarakan pada 18-22 April 2018 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, akan dimeriahkan dengan kehadiran penulis dan dai internasional asal Mesir, Syaikh Mahmud Al-Mishri.

Kehadiran penulis ratusan judul buku tersebut ke Indonesia atas undangan penerbit Pustaka Al-Kautsar.

Syaikh Mahmud Al-Mishri akan membedah buku hasil karyanya yang berjudul “Semua Ada Saatnya” di Panggung Utama IBF 2018, pada Kamis (19/4) pukul 12.30-14.00 WIB. Dalam buku tersebut, penulis yang akrab dipanggil Abu Ammar ini mengajak pembaca untuk merenungi makna kehidupan lewat berbagai kisah-kisah inspiratif yang menambah keimanan. Ia juga mengajak pembaca agar hidup seimbang, untuk kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Buku “Semua Ada Saatnya” yang diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar dan diterjemahkan oleh dai fenomenal Ustadz Abdul Somad, MA., itu sampai saat ini terus mendapat antusias pembaca yang sangat luar biasa. Dalam hitungan bulan, buku ini sudah terjual puluhan ribu eksemplar dan masuk dalam kategori “National Best Seller”.

Syaikh Mahmud Al-Mishri yang saat ini lebih banyak bermukim di Saudi Arabia ini mendapatkan ijazah  menamatkan kutubussittah dan ilmu-ilmu syariah dari Dr. Muhammad Ismail Al-Muqadam. Ia juga mendapat gelar Doktor Honouris Causa sebagai salah seorang dari tujuh tokoh berpengaruh di Timur Tengah.

Selain sebagai penulis, Syaikh Al-Mishri juga aktif sebagai dai internasional dan menghadiri berbagai konferensi internasional di Amerika, Eropa, dan negara-negara Teluk. Beberapa negara yang pernah dikunjungi dalam safari dakwahnya adalah Inggris, Belgia, Belanda, Italia, Perancis, Belgia, dan lain sebagainya. Ia juga pernah meraih penghargaan internasional dalam bidang Al-Qur’an dari Uni Emirat Arab dan Libya.

Selain buku “Semua Ada Saatnya” karya Syaikh Al-Mishri yang diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar adalah Rihlah Ilaa Daaril Akhirah (Tamasya ke Negeri Akhirat) dan Qashash Al-Qur’an li Al-Athfal (Kisah Istimewa Al-Qur’an untuk Anak).  Buku-buku karya lainnya adalah; Syarh Riyadus Shalihin ( 7 jilid), Ashab Ar-Rasul (2 jilid), Qashash Al-Anbiyaa’, Sirah Ar-Rasul, Asrar Al-Fitan baina Ash-Shahabah, Qashash At-Tabi’in, Al-Fiqh Al-Muyassar li Al-Mar’ah Al-Muslimah, Syarh Al-Ahadits Al-Qudsiyah, Laa Tahzan wa Ibtasim li Al-Hayah, Rijaal laa Yansaahumu At-Tarikh, Nisaa’ Al-Anbiya’, Ahdats Nihayah Al-‘Alam, Mausu’ah Akhlaq As-Salaf, dan lain-lain.

Selain membedah buku karyanya di IBF 2018, Syaikh Mahmud Al-Mishri juga akan memberikan ceramah umum di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (18/4), bakda shalat Maghrib.

Ia juga akan bersilaturrahim dengan para tokoh, ulama, asatidz, dan aktifis Islam Indonesia. Dalam pertemuan tersebut diharapkan terbangun ukhuwah dan saling tukar gagasan bagi kemajuan kaum muslimin di negeri ini.

Pustaka Al-Kautsar berharap kehadiran ulama asal Mesir ini bisa memberikan pencerahan bagi umat Islam Indonesia dan memicu semangat untuk meraih kejayaan Islam.

“Kita bersyukur bisa menghadirkan ulama internasional, dengan harapan beliau bisa lebih mengenal Indonesia dan memberikan pencerahannya bagi kaum muslimin di sini,” ujar Tohir Bawazir, Direktur Pustaka Al-Kautsar. (AW/Pustaka Al-Kautsar)

Sambut Ramadhan, Wahdah Islamiyah Makassar Gelar Dialog Ramadhan

(Makassar) wahdahjakarta.com – Menyambut bulan Ramadhan 1439 H Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah (DPD WI) Makassar akan menggelar Dialog Ramadan, pada sabtu-ahad (5-6 Mei 2018) mendatang.

Dialog Ramadhan ini akan mengangkat tema “Mengupas Tuntas Masalah Ramadhan”.

Panitia akan  menghadirkan Ketua Dewan Syariah Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah sekaligus Direktur STIBA Makassar Ustadz DR. Muhammad Yusran Anshar, Lc., MA. dan Ketua Dewan Syuro’ Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil, Lc., M.H.I.

Ketua Panitia Dialog Ramadhan, Abdul Haris mengatakan Dialog Ramadhan ini bertujuan untuk mengupas tuntas seputar Ramadhan sebagaimana tema yang diangkat serta sebagai momentum pembekalan menyambut Ramadhan.

“Dalam acara ini akan mengupas tuntas persoalan-persoalan Ramadhan berupa amalan dan larangan, tentu kita ingin mengerjakan amalan terbaik kita di Bulan Ramadhan”. Jelasnya.

Abdul Haris juga mengatakan pembekalan Ramadhan tahun ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena pembekalan ini akan memberikan kesempatan lebih kepada peserta untuk lebih banyak berinteraksi.

“Pembekalan tahun kemarin menghadirkan 4 pemateri dalam 2 hari namun tahun ini menghadirkan 2 pemateri sehingga memberi kesempatan kepada peserta bertanya dan berdialog”. Tutupnya. [Arsul/Muh Akbar].

Kaidah Pengambilan Ilmu dan Dalil Menurut Ahlussunnah Wajama’ah

Kaidah Pengambilan Ilmu dan Dalil Menurut Ahlussunnah Waljama’ah

Salah satu aspek penting yang membedakan Ahlussunnah wal jama’ah dengan yang lain adalah konsep pengambilan ilmu dan dalil (manhaj talaqqi dan istidlal). Konsep ini mencakup sumber ilmu dan dalil beserta metode pendalilan tentang suatu masalah.

Syekh Prof. DR. Nashir bin Abdul Karim al-‘Aql hafidzahullah menyebutkan dua belas poin sebagai landasan dan kaidah pokok dalam metode talaqqi dan istidlal Ahlussunnah waljama’aah dalam kitabnya Mujmal Ushul Ahlissunnati Wal Jama’ati fil ‘Aqidah. Kedua belas kaidah tersebut adalah:

  1. Sumber aqidah adalah kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih serta ijma’ salafus Shalih. 1
  2. Setiap sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib untuk diterima walaupun ia tergolong hadits ahad2 baik dalam masalah aqidah maupun yang lainnya.
  3. Rujukan dalam memahami al-Kitab (al-Qur’an) dan As-Sunnah adalah nash-nash yang menjelaskannya, dan pemahaman Salafus Shaleh serta (pemahaman)orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka dari para imam. Dan apa yang telah tsabit (tetap) dari hal itu tidak boleh disangkal dengan kemungkinan-kemungkinan (tinjauan) bahasa.
  4. Pokok-pokok Agama (Ushulud Dien) seluruhnya telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak boleh bagi siapapun mengada-adakan sesuatu yang baru lalu mengklaimnya sebagai bagian dari Agama.
  5. Taslim (berserah diri) kepada Allah dan Rasul-Nya secara lahir dan batin, maka tidak menentang sesuatupun dari al-Qur’an atau as-Sunnah yang shahih dengan qiyas (analogi), dzauq (perasaan), kasyaf, atau perkataan Syekh serta imam dan sebagainya.
  6. Akal sehat selalu sejaln dengan dalil naqli yang shahih, dan hal (akal dan naqli) yang qath’iy (pasti) tidak akan pernah bertentangan sama sekali. (Namun) jika terjadi wahm (dugaan) bahwa keduanya bertentangan maka didahulukan dalil naqli.
  7. Wajib iltizam (komitmen) dengan lafadz-lafadz syar’i dalam masalah aqidah dan wajib menjauhi lafadz-lafadz bid’ah yang diada-adakan oleh manusia. Sedangkan lafadz-lafadz yang memiliki kemungkinan (makna) salah dan benar, maka diperjelas akan maknanya. Yang benar ditetapkan dengan lafadznya yang syar’i, sedangkan yang batil ditolak,
  8. ‘Ishmah (terjaga dari kesalahan) bersifat tetap pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan ummat secara kolektif ma’shum dari bersepakat dalam kesesatan. Adapun secara personal tidak satupun yang ma’shum diantara mereka. Oleh karena itu apa yang diikhtilafkan oleh para Imam dan yang lainnya maka rujukannya adalah al-Kitab dan As-Sunnah. Apa yang sesuai dalil diterima, dengan tetap memberi udzur kepada mujtahid ummat yang salah (dalam ijtihadnya).
  9. Pada ummat ini ada orang-orang yang muhaddatsun dan mulhamun, seperti Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu. Dan mimpi yang shalih itu benar, ia merupakan bagian dari Nubuwwah. Firasat yang benar juga haq. Dalam mimpi dan firasat tersebut terdapat karamah dan kabar gembira (mubasyirat) dengan syarat sesuai dengan aqidah. Tetapi tidak merupakan sumber aqidah dan tasyri’.
  10. Mira (debat kusir) dalam agama adalah tercela, dan debat dengan cara yang baik (mujadalah bilhusna) disyariatkan. Jika ada dalil shahih yang melarang membicarakan sesuatu, maka wajib mengamalkan dalil tersebut. Dan seorang Muslim wajib menahan diri dari membicarakan sesuatu yang dia tidak memiliki ilmu tentangnya, dan dia wajib mengembalikan hal tersebut kepada yang maha mengetahuinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  11. Wajib untuk ilitizam pada manhaj wahyu dalam membantah, sebagaimana hal tersebut juga wajib dalam masalah i’tiqad dan taqrir. Maka bid’ah tidak dibantah dengan bid’ah. Sikap meremehkan tidak dihadapi dengan ghuluw (berlebihan), dan tidak pula sebaliknya.
  12. Setiap yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di neraka. wallahu a’lam. (sym)

Sumber: Mujmal Ushul Ahlissunnah Wal Jama’ah Fil ‘Aqidah, Syekh. Prof. DR. Nashir bin Abdul Karim al-‘Aql.

1 As-Salaf as-Shalih artinya para pendahulu yang shalih. Dalam Kamus-kamus bahasa Arab disebutkan, “salaf adalah orang yang mendahuluimi dari kalangan kakek buyutmu dan kerabatmu yang melampauimu dari sisi usia dan keutamaan. Oleh karena itu generasi awal Islam dari kalangan Tabi’in disebut as-Salaf as-Shalih”. (Tajul ‘Arus, Lisanul ‘Arab, dan al-Qamusul Muhith).

2 Hadits ahad adalah hadits yang diriwayatkan oleh jumlah yang tidak mencapai derajat mutawatir. Sedangkan hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh jumlah banyak yang mustahil bersekongkol untuk berdusta. Menurut kalangan ahli bid’ah, hadits ahad tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah aqidah karena menurut mereka hadits ahad tidak mendatangkan ilmu, tapi hanya mendatangkan keraguan. Pandangan ini tidak tepat karena yang rajih bahwa hadits ahad yang shahih mendatangkan ilmu/yakin sehingga dapat dijadikan dalil dalam masalah aqidah.

Puluhan Ribu Jama’ah  Iringi Pelepasan 1000 Ton Beras Indonesia Ke Suriah

Pelepasan kapal Kemanusiaan 1000 Ton Besar dari Masyarakat Aceh Untuk Suria

Puluhan Ribu Jama’ah  Iringi Pelepasan 1000 Ton Beras Indonesia Ke Suriah

(Banda Aceh) wahdahjakarta.com– Konvoi bantuan beras Kapal kemanusiaan 1000 ton untuk Suriah akhirnya dilepas dari masjid Baiturrahman Banda Aceh, Minggu (15/4) diiringi puluhan ribu jamaah serta doa sejumlah ulama.

President Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ahyudin menyatakan Indonesia adalah bangsa yang besa, bantuan ini membuktikan hal tersebut. “Langit hadir membersamai kita, jadi saksi keberpihakan kita. Insya Allah segala kebaikan warga aceh akan berbuah kebaikan kepada warga Aceh sendiri,” ujarnya.

Dalam acara tersebut sejumlah ulama besar Indonesia dari Aceh hingga Papua hadir memberi tausyiah, diantaranya ulama asal Arab Saudi yang kini sudah menjadi warga negara Indonesia, Syech Ali Jabeer, tokoh ulama Aceh Tgk Haji Nuruzzahri, Tengku HM Yusuf A Wahab (ulama Aceh), Tengku H Faisal Ali (Wakil Majelis Permusyawatan Ulama Aceh), ustadz Heriwibowo, Lc (ulama Jakarta), dan Ustadz Fazlan Garamatan (ulama Papua).

Acara dilanjutkan dengan doa dan pelepasan konvoi 40 kontainer menuju pelabuhan Belawan Medan oleh Walikota Banda Aceh, Aminullah, ibu Gubernur Nangroe Aceh Darussalam dan President ACT, Ahyudin diiringi para ulama dan ribuan masyarakat Aceh.

Kapal kemanusiaan sendiri akan layarkan pada 21 April mendatang dari pelabuhan Belawan Medan dengan kapal Kemanusiaan. “Insya Allah dikirimkan ke masyarakat suriah melalui Turki, 12,5 juta jiwa menjadi pengungsi, lebih dari 5 juta jiwa diantaranya berada di Turki. Kita akan membersamai Turki dalam turut membantu para pengungsi Suriah, ” tandas Presiden ACT, Ahyudin.

Ia berharap semoga dengan bantuan ini Allah akan menjauhkan rakyat Aceh dari musibah dan marabahaya.

Pelepasan kapal Kemanusiaan 1000 Ton Besar dari Masyarakat Aceh Untuk Suria

Ustadz Fadlan, ulama asal Papua menilai apa yang dilakukan masyarakat Aceh telah membuktikan pesan-pesan Allah. “Mengantarkan makanan terbaik untuk masyarakat suriah yang tengah ditimpa bencana dan musibah. Mengamalkan apa yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab,” ungkapnya.

Sedangkan syech Ali Jabeer, ulama asal Saudi Arabia mengungkapkan kebahagiaannya bisa ikut mengiringi keberangkatan kapal kemanusiaan 1000 ton beras ini ke rakyat suriah yang sedang ditimpa kemalangan.

“Bantuan 1000 ton dari Aceh ini akan menjadi awal kemakmuran Aceh, bahkan kemakmuran bangsa Indonesia. Turki bisa makmur karena sedekahnya kepada para pengungsi Suriah, Aceh juga akan mengalami hal yang sama usai mengirimkan bantuan 1000 ton ini,” imbuh ulama kelahiran kota suci Madinah tersebut disambut ucapan ‘amiin’ dan takbir dari ribuan jamaah yang hadir.

Menjelang magrib, Tabliq Akbar ditutup dengan pelepasan iringan kontainer kapal Kemanusiaan disaksikan ribuan jamaah anak-anak dan dewasa sambil mengibarkan bendera merah putih dan turki. Mereka tampak antusias melepas bantuan rakyat Aceh menuju bumi Syam. [Dudy/Forjim].

 

 

Kader Wahdah Islamiyah Saudi Arabia Gelar Daurah di Madinah

Kader Wahdah Islamiyah Saudi Arabia Gelar Daurah di Madinah

(Madinah) wahdahjakarta.com – Kader Wahdah Islamiyah (W) yang sedang menuntut ilmu di Arab Saudi mengadakan Daurah Murabbi dan Daurah Tamkin di hotel Funun asy-Syalal di kota Madinah al-Munawwarah pada Jum’at, 20 Rajab 1439H (06/04/2018).

Kegiatan yang dilaksanakan atas kerjasama dengan Markaz Al-Inayah bil jaliyah al-Indunusiah Saudi Arabia ini menghadirkan 2 pemateri dari Dewan Pimpinan Pusat WI, yakni Ustadz Ir. Muh. Qasim Saguni, M.A Ketua DPP WI Bidang Dakwah dan Kaderisasi dan Ustadz Ir. Muh. Taufan Djafry, Lc, M.H.I Ketua Departemen Kaderisasi DPP WI.

Daurah ini diikuti oleh para kader Wahdah Islamiyah yang tersebar di Universitas Islam Madinah, King Saud University Riyadh, Universitas Imam Muhammad bin Su’ud Riyadh, dan universitas Al- Qossim Buraidah.

Syaikh Abu Ilyas Adam sholih Qodir Mudir tanfidzi Markaz Inayah dan syaikh Dhiya ar Rifai yang menjabat di bagian keuangan Markaz inayah turut hadir di acara ini dan menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya kepada para mahasiswa Indonesia yang tergabung di Markaz Inayah dan mengikuti seluruh kegiatan yang diadakan Markaz Inayah seperti yaumul ‘Ilmi, Daurah Tamkin, Dakwah Qowafil, Pesantren haji, dan Umrah.

Kegiatan ini dirangkaikan dengan pemberian penghargaan kepada para peserta halaqah tarbiyah terbaik para kader dari Universitas Islam Madinah dan Universitas Al-Qossim, serta kepada para murabbi dan alumni dari Markaz Inayah yang sebagian akan kembali ke tanah air pada tahun ini karena sudah menyelesaikan studinya di Arab Saudi.[ Yoshi P. Pratama/sym/wahdahjakarta.com].

Wakili Indonesia Terima Penghargaan Bela Palestina, UBN dan UZR Dipertemukan dengan Erdogan

Wakili Indonesia Terima Penghargaan Bela Palestina, UBN dan UZR Dipertemukan dengan Erdogan

(Istanbul)- wahdahjakarta.com– Dalam konferensi Al-Quds Amanati, para aktivis Palestina Internasional mengundang tamu utama, dua tokoh khusus untuk mewakili dua negara pembela Baitul Maqdis. Pertama ustad Bachtiar Nasir mewakili rakyat Indonesia, dan kedua Dr. Nuruddin Nabati, anggota parlemen Turki.

Konferensi yang dihadiri ratusan delegasi Indonesia ini, juga memberikan tanda penghargaan atas usaha-usaha pembelaan terhadap Palestina di dua negara ini. Terkhusus untuk rakyat Indonesia, Konferensi Internasional yang diberada dibawah pengawasan langsung para Ulama Al-Quds ini menghadiahkan salah satu lempengan asli kubah masjid Ash-Shakrah.

Setelah berdampingan di forum dengan Dr. Nuruddin Nabati, anggota Parlemen Turki pembela Al-Quds, Ustad Bachtiar Nasir diundang khusus untuk bertemu Presiden Erdogan yang sedang berada di Istanbul saat itu. Untuk mewakili seluruh umat Islam Indonesia, maka pertemuan itu juga dihadiri oleh Ustad Muhammad Zaitun Rasmin, KH. Ahmad Shabri Lubis, Ustad Jeje Zainuddin dan ustad Ridwan Yahya.

Berikut videonya : https://www.youtube.com

Satu harapan besar dari konferensi internasional aktivis Baitul Maqdis di Istanbul ini agar Indonesia berada di shaf terdepan dalam pembelaannya. Bahkan, seorang tokoh arab yang hadir mengatakan setelah mendengar penampilan bacaan al-Qur’an oleh seorang anak Indonesia bernama Umar Al-Faruq, “Sekarang dalam multaqo ini anak Indonesia Umar Al Faruq membacakan Alquran, semoga kelak yang membebaskan Al Quds adalah Umar Al Faruq dari Indonesia,”.

Amanah besar di pundak, siapkah kita untuk bersama Palestina menjaga Baitul Maqdis?n[SoA/sym/wahdahjakarta.com].

Hadiri Konfrensi Al-Quds Amanah Kita Bersama, Pimpinan Wahdah Tampilkan Nasyid Palestina

Hadiri Konfrensi Al-Quds Amanah Kita Bersama, Pimpinan Wahdah Tampilkan Nasyid Palestina

(Istanbul) wahdahjakarta.com– Bertempat di Kota bersejarah Istambul, Turkey tanggal 13-14 April 2018 berlangsung Konfrensi Internasional Al-Quds Amanah Kita. Dihadiri perwakilan dari berbagai negara muslim dunia, yang membahas persoalan Masjidil Aqsha dan kota Al-Quds tercinta.

Konfrensi ini juga membahas penyikapan yang tegas dan cerdas atas keputusan Amerika untuk menjadikan Al Quds sebagai ibukota Negara penjajah Israel.
Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah (WI) Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin turut hadir sebagai salah satu tamu kehormatan.

Aksi Bela Palestina 17-12-17 di Monas Jakarta yang dinisiasi oleh para Ulama Indonesia diantaranya Ustadz Zaitun Rasmin sebagai salah satu aktor utamanya sungguh mendapat apresiasi luar biasa dari dunia Islam .

Penghargaan berupa keping kubah Masjidil Aqsha diterima oleh Ustadz Bachtiar Nasir dan Ustadz Zaitun bersama beberapa tokoh Ulama Indonesia yang hadir .
Ustadz Zaitun juga memberi nuansa Indonesia dalam konfrensi dengan menampilkan Nasyid Palestina Tercinta bersama Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil dan Ananda Umar Al Faruq yang juga didaulat untuk menbawakan Tilawah Al Quran dalam pembukaan konferensi. Grup Nasyid dadakan ini cukup membuat semangat para peserta bergelora hingga menyambutnya dengan berdiri.

Dalam kunjungan ini UZR berkesempatan untuk bertemu dengan Presiden Turkey Rajab Toyib Erdogan bersama beberapa perwakilan ulama Indonesia .
Semangat membela al Aqsha demikian mengkristal dan hal itu perlu dikapitalisasi dengan cerdas dan cermat . [MIJ/sym/wahdahjakarta.com].

Seperti Inilah Rasulullah Menyambut Ramadhan (1)

Shiyam Sya’ban

Seperti Inilah Rasulullah Menyambut Ramadhan [1]: Memperbanyak Puasa Pada Bulan Sya’ban

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bahagia dengan kedatangan bulan suci Ramadhan. Oleh karena itu beliau menyiapkan diri untuk menyambutnya. Beliau juga menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya perihal kedatangan bulan Ramadhan.

Tulisan ini akan menguraikan secara berseri, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan diri menyambut bulan Ramadhan yang mulia. Semoga bermanfaat.

1. Memperbanyak Puasa pada bulan Sya’ban

Rasul yang mulia menyambut ramadhan dengan memperbanyak puasa pada bulan Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallhu ‘anha;

…”وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِى شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ”

. . . Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan. Saya juga tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa dalam suatu bulan (di luar Ramadhan) kecuali pada bulan Sya’ban”, (HR. Bukhari).

Bahkan dalam Shahih Muslim berbunyi,

وَلَمْ أَرَهُ صَائِمًا مِنْ شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Aku (‘Aisyah) tidak pernah sama sekali melihat beliau (Nabi) memperbanyak puasa dalam satu bulan, kecuali pada bulan Sya’ban. Beliau berpuasa pada bulan Sya’ban. (Atau) beliau berpuasa pada kebanyakan hari di bulan Sya’ban, kecuali sedikit (beberapa hari saja beliau tidak puasa).

Para Ulama berbeda pendapat mengenai hikmah perbuatan Nabi memperbanyak shiyam pada bulan Sya’ban;
(1) sebagai upaya pengkondisikan jiwa untuk menyongsong puasa ramadhan.
(2) Karena beliau luput dari puasa tiga hari dalam sebulan (ayyamul bidh). Sehingga beliau berpuasa pada bulan sya’ban untuk mengqadha puasa ayyamil bidh tersebut.
(3) Istri-istri beliau mengqadha utang puasa mereka pada Ramadhan sebelumnya di bulan sya’ban.
(4) karena sya’ban merupakan bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia dan bulan diangkatnya amalan kepada Allah Ta’ala, dan beliau suka amalannya diangakat dalam keadaan sedang puasa.

Dari keempat sebab dan hikmah diatas, yang paling sesuai dalil adalah yang keempat, sebagaimana dirajihkan oleh al-hafidz Ibn Hajar rahimahullah. Rasul memperbanyak shiyam pada bulan sya’ban karena pada bulan tersebut amalan diangkat kepada Allah. Sebagaimana jawaban beliau ketika ditanya oleh Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma.

Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu memperbanyak shiyam seperti puasamu pada bulan sya’ban”, tanya Usamah. “Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanykan manusia. Karena ia terletak antara Rajab dan Ramadhan. Ia (juga) merupakan bulan diangkatnya amalan kepada Allah Rabbul ‘Alamiyn. Sedangkan saya senang amalan saya diangkat dalam keadaan saya sedang puasa”, jawab Rasulullah. (Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Nasai dan berderajat hasan).

Namun tidak menutup kemungkinan ada hikmah dan sebab lain beliau memperbanyak pada bulan ke delapan penanggalan hijriyah ini. Sebagaimana dikatakan oleh Syekh Faishal bin ‘Ali al-Ba’daniy hafidzahullah. Yakni guna mengkondisikan jiwa untuk menghadapi puasa Ramadhan.

Oleh karena itu sebagai bentuk iqtida (peneladanan) terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekaligus menyiapkan fisik dan psikis menyambut Ramadhan, hendaknya kita memperbanyak shiyam pada bulan ini, bulan sya’ban. Agar secara fisik dan pisikis kita siap berpuasa pada bulan Ramadhan nanti. Apatah lagi bagi yang masih memiliki utang puasa. hendaknya memanfaatkan hari yang tersisa di bulan sya’ban ini untuk mengqadhanya.

Selain itu, shiyam sya’ban juga menjadi penting karena ia bagaikan sunnah rawatib pada shalat lima waktu. Sebagaimana dikatakan oleh Syekh al-‘Utsaimin rahimahullah, “Para ahli ilmu berakata; Puasa sya’ban semisal dengan sunan rawatib pada shalat wajib yang lima waktu. Seakan-akan puasa sya’ban merupakan sunnah qabliyah bagi puasa ramadhan. Sebab itu, disunnahkan berpuasa pada bulan sya’ban dan enam hari di bulan syawal. Keduanya bagai sunnah qabliyah dan ba’diyah” (Majmu’ Fatawa Ibn ‘Utsaimin, 20/22-23).

Semoga Allah Rabbul ‘Alamiyn memberkahi kita di bulan sya’ban ini, dan menghantarkan kita ke bulan Ramadhan yang mulia. Wallahu a’lam bis Shawab. (bersambung insya Allah). (sym/wahdah.or.id).

Sumber: Kitab, Ha Kadza Kana an-Nabiyyu shallallahu ‘alaihi wa sallam Fiy Ramadhan (Beginilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan”.

Sekjen MIUMI Peroleh Penghargaan dari Lembaga Al-Quds Amanahku

Sekjen MIUMI Peroleh Penghargaan dari Lembaga Al-Quds Amanahku
(Istanbul) wahdahjakarta.com– Sekretaris Jendral Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (Sekjen MIUMI) Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) didapuk memberikan sambutan terakhir dalam Multaqo Al-Quds Amanati di Istanbul, Turki, Sabtu (14/4/2018).

Video orasi UBN saat Aksi Bela Palestina di Jakarta 17-12-17 menuai decak kagum dan standing applause. “Kita tidak akan surut dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Kami memang datang dari jauh. Tapi kemenangan itu sangat dekat,” ungkapnya.

Lebih lanjut UBN mengatakan, warga Indonesia serta pemuda Idonesia bersama warga dunia yang lain akan terus membebaskan Palestina.

Pimpinan AQL ini juga mengajak para pemimpin negara Islam untuk bersatu membebaskan Palestina. “Musibah terburuk umat saat ini adalah perpecahan. Kekalahan dahulu cukup sudah menjadi pelajaran, kini saatnya bersatu,” tegas UBN.

Pada acara puncak konferensi Internasional al-Quds Amanahku II tersebut KH. Bachtiar Nasir menerima penghargaan dari Lembaga al-Quds Amanahku atas perjuangan dan usahanya bersama para ulama dan tokoh Indonesia dalam membela serta mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk merebut kemerdekaannya, khususnya dalam Aksi Bela Palestina 17 Desember 2017 di Monas Jakarta. Penghargaan tersebut berupa kepingan dari kubah qubbatush shakra di Masjidil Aqsha.

Ini merupakan sebuah kehormatan agar estafet perjuangan pembebasan Al-Quds dipegang oleh muslimin Indonesia. Saat akan menerima penghargaan UBN justru mengatakan, “Saya tidak bisa memimpin jutaan ummat muslim Indonesia dalam aksi 17-12-17 tanpa bantuan sahabat-sahabat saya.”

Lalu UBN memanggil KH Shobri Lubis, Ustadz Zaitun Rasmin (UZR), Ustadz Jeje Zainuddin, Ustadz Tamsil Linrung serta para tokoh Islam Indonesia yang turut hadir pada acara multaqo tersebut. Hal itu sebagai isyarat bahwa penghargaan ini bukanlah untuk individu tertentu, tapi pada hakikatnya ini adalah penghargaan untuk seluruh umat Islam Indonesia yang tetap komit pada janjinya untuk selalu mendukung kemerdekaan bangsa Palestina. (Forjim).