Keutamaan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Pada hakekatnya berbakti kepada kedua orang tua merupakan naluri dan fitrah setiap manusia. Sebab dalam jiwa dan setiap orang tertanam sifat cinta dan hormat kepada kedua orang tuanya atau ayah ibunya. Sebab kedua ibu bapaknyalah yang menjadio sebab kehadiran setiap orang ke dunia ini.

Meskipun demikian dalam Islam berbakti kepada  kedua orang tua memiliki kedudukan yang mulia. Banyak keterangan dari Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan keutamaan berbakti kepada kedua orang tua.

Amalan Paling  Dicintai Allah

Dalam suatu hadits shahih yang diriwayatkan sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut berbuat baik kepada kedua orang tua sebagai salah satu amalan yang paling dicintai oleh Allah.

Abu ‘Amr Asy-Syaibani meriwayatkan, pemilik rumah ini (seraya menunjuk ke rumah Abdullah bin Mas’ud) menyampaikan kepadaku;

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: «الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا» قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ» قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ» قَالَ: حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”, “Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Rasul menjawab, “Shalat pada (awal) waktunya.” “Kemudian apa lagi?” Nabi Menjawab lagi, “Berbakti kepada kedua orang tua.”Aku bertanya kembali.” “Kemudian apa lagi?” “Kemudian jihad fi Sabilillah.”

Ibnu Mas’ud mengatakan, “Beliau terus menyampaikan kepadaku (amalan yang paling dicintai oleh Allah), andaikan aku meminta tambahan, maka beliau akan menambahkan kepadaku”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasai).

Amalan yang Paling Utama

Berbuat baik dan berbakti kepada orang tua juga merupakan amalan yang afdhal atau paling utama. Sebagaimana dalam versi riwayat lain hadits Ibnu Mas’ud di atas.

فعن عَبْدِ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ العَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «الصَّلاَةُ عَلَى مِيقَاتِهَا»، قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ بِرُّ الوَالِدَيْنِ»، قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ» فَسَكَتُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

Dari  ‘Abdullh bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”, “Amalan apakah yang paling afdhal (utama)?” Rasul menjawab, “Shalat pada –waktu-waktunya.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau Mmenjawab lagi, “Berbakti kepada kedua orang tua.”Aku bertanya kembali.” “Kemudian apa lagi?” “Kemudian jihad fi Sabilillah.” Kemudian aku terdiam dan tidak lagi bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Andaikan  aku meminta tambahan, maka beliau akan menambahkan kepadaku”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi).

Umur Panjang dan Kemudahan Rezki  Bagi Anak yang Berbakti Kepada Kedua Orang Tuanya

Anak yang senantiasa berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya akan memperoleh keberkahan hidup berupa umur panjang dan kemudahan rezki. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwaykan oleh Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth;

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ،قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ، وَأَنْ يُزَادَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ، وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezkinya, maka hendaknya ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan menyambug silaturrahim (kekerabatan).” (HR. Ahmad).

Orang Tua Merupakan Pintu Syurga yang Pertengahan

Kedua orang tua merupakan salah satu pintu syurga, bahkan pintu syurga yang paling pertengahan. Abu Abdurrahman As-Sulami meriwayatkan dari Abu Darda, Seorang pria mendatangi beliau mengatakan, “Saya memiliki seorang istri, namun ibuku menyuruhku untuk mentalaknya. Abu Darda mengatakan, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

«الوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الجَنَّةِ، فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ البَابَ أَوْ احْفَظْهُ»

“Orang tua merupakan pintu syurga paling pertengahan, jika engkau mampu maka tetapilah atau jagalah pintu tersebut”. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dishahihkan Syekh Al-Albani dan syekh Al-Arnauth).

Ridha Allah Tergantung Ridha Kedua Orang Tua

Bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya akan mengundang ridha kedua orang tua kepada anak. Sementara ridha kedua orang tua terhadap anak merupakan penentun seorang anak mendapat ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu meriwatakan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

«رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ». (26)

“Ridha Rabb tergantung ridha orang tua, dan murka Allah tergantung murka orang tua”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

Mustajabnya Do’a Orang Tua Untuk Anak yang Berbakti

Anak yang berbakti akan senantiasa didokan oleh orang tuanya, dan do’a orang tua untuk kebaikan anaknya meruapakan salah satu do’a yang musatajab (memiliki peluang besar dikabulkan oleh Allah).

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

” ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ، لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ “)

“Ada tiga do’a yang mustajab, tidak ada keraguan akan hal itu; do’a orang yang terdzalimi, do’a musafir, dan do’a orang tua untuk (kebaikan) anaknya”. (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syekh Al-Arnauth).

Dalam riwayat lain berbunyi;

 ” ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “

“Ada tiga do’a yang mustajab, tidak ada keraguan tentang hal itu; do’a orang tua (untuk anaknya), do’a musafir, dan do’a orang terdzalimi”. (HR. Abu Daud dan Ahmad, dihasankan oleh Syekh Al-Albani).

Sebab Dikabulkannya Taubat

Berbuat baik atau berbakti kepada kedua orang tua atau kepada salah satu dari keduanya merupakan salah satu sebab dikabulkannya taubat.  Ibnu Umar meriwayatkan bahwa;

 أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، رَجُلٌ، فقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَذْنَبْتُ ذَنْبًا كَبِيرًا، فَهَلْ لِي مِنْ تَوْبَةٍ؟، فقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلَكَ وَالِدَانِ؟ »، قَالَ: لَا، قَالَ: «فَلَكَ خَالَةٌ»؟، قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: «فَبِرَّهَا إِذًا».

“Seorang pria datang kepada Rasululla shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “wahai Rasulullah, saya telah melakukan dosa besar, apakah masih ada taubat utukku?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah kamu masih memiliki kedua orang tua?” “Tidak,” “Apakah kamu memiliki khalah (saudari ibu)?” “Iya,” “Kalau begitu berbuat baiklah kepadanya!” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban, dishahihkan olejh Syekh Al-Albani).

وعن عطاء ، عن ابن عباس رضي الله عنهما: أَنَّهُ أَتَاهُ رَجُلٌ ، فَقَالَ : إِنِّي خَطَبْتُ امْرَأَةً فَأَبَتْ أَنْ تَنْكِحَنِي وَخَطَبَهَا غَيْرِي، فَأَحَبَّتْ أَنْ تَنْكِحَهُ ،فَغِرْتُ عَلَيْهَا فَقَتَلْتُهَا ،فَهَلْ لِي مِنْ تَوْبَةٍ؟ قَالَ: أُمُّكَ حَيَّةٌ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: تُبْ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَتَقَرَّبْ إِلَيْهِ مَا اسْتَطَعْتَ، فَذَهَبْتُ فَسَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ: لِمَ سَأَلْتَهُ عَنْ حَيَاةِ أُمِّهِ؟ فَقَالَ: إِنِّي لَا أَعْلَمُ عَمَلًا أَقْرَبَ إِلَى الله عز وجل من بر الوالدة. (30)

‘Athaa` bin Yasaar rahimahullah meriwayatkan, Suatu ketika Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma didatangi seseorang lalu berkata pada beliau:

“Sesungguhnya sebelumnya saya melamar seorang wanita, namun ia enggan menikah denganku, dan kemudian dilamar oleh orang lain, dan iapun mau menikah dengannya, lalu saya pun merasa cemburu dan membunuh wanita tersebut, maka apakah taubat saya bisa diterima ?“.

Ibnu Abbas balik bertanya padanya: “Apakah ibumu masih hidup?” Ia menjawab: “Tidak (sudah wafat)”. Maka Ibnu Abbas berkata padanya:

“Bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wajalla, dan beribadahlah mendekatkan diri pada-Nya semaksimal kemampuanmu“. ‘Athaa` berkata: (Setelah orang tersebut pergi) saya mendatangi Ibnu Abbas dan bertanya padanya: Kenapa anda bertanya tentang hidupnya ibunya?

Beliau menjawab: “Sesungguhnya saya tidak tahu ada amalan yang lebih mendekatkan diri kepada Allah (dan lebih dicintai-Nya) dari berbakti pada sang bunda“.  (Atsar ini shahih).

Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Termasuk Usaha di Jalan Allah (Fi Sabilillah)

Berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua merupakan amalan mulia, bahkan termasuk amalan di jalan Allah. Sebagaimana dalam suatu riwayat dari sahabat Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu;

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَة، قَالَ: مَرَّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ، فَرَأَى أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جِلْدِهِ وَنَشَاطِهِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ: لَوْ كَانَ هَذَا فِي سَبِيلِ اللهِ؟، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يُعِفُّهَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ رِيَاءً وَمُفَاخَرَةً فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ

“Seorang pria lewat di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dilihat oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan kesungguhannya dan rajinnya dalam bekerja. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, andaikan (kesungguhan dan rajinnya ini) di jalan Allah?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Jika ia keluar untuk bekerja menghidupi anaknya yang masih kecil maka ia termasuk di jalan Allah, jika ia keluar bekerja untuk membantu/menghidupi kedua orang tuanya yang sudah sepuh maka ia di jalan Allah, jika ia keluar bekerja untuk dirinya sendiri demi menjaga kehormatan/harga dirinya maka ia di jalan Allah, dan jika ia keluar untuk riya (pamer) dan berbangga diri maka ia di jalan setan.” (HR. Thabrani dan Baihaqi).

Kewajiban Berbakti Tidak Gugur Meskipun Orang Tua Kafir atau Musyrik

Saking agungnya kedudukan orang tua dan besarnya hak mereka untuk mednapatkan bakti dari anak-anaknya, kewajiban berbakti tidak gugur meskipun orang tua berbeda keyakinan dengan anaknya.  Sebagaimana dalam surat Luqman ayat 14-15.

{ وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [لقمان: 14- 15]

Dalam hadits shahih diriwayatkan, Asma binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kewajibannya berbakti kepda ibunya yang masih musyrik.

 يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي قَدِمَتْ عَلَيَّ وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ صِلِيهَا»

“Wahai Rasulullah, ibuku datang kepadaku namun masih enggan masuk Islam, apakah saya tetap menyambung hubungan dengannya? Rasul bersabda, “Iya sambunglah hubungan (silaturrahim dengannya). (HR. Bukhari, Muslim,Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Hibban). (Sym)

Sebelum Menggunjing atau Meng-ghibah, Renungkan Delapan Hal Ini

Mennggunjing

Menggunjing atau meng- ghibah merupakan dosa besar, namun entah kenapa, banyak manusia yang terjatuh kedalamnya, bahkan dilakukan juga oleh ahli ibadah dan orang yang berilmu –baik sengaja ataupun tidak-, kecuali yang memang diberikan taufiq oleh Allah ta’ala untuk selalu berada diatas ketaatan, dan ridha-Nya.

Allah telah melarang dosa ini dalam firman-Nya yang popular, yaitu dalam QS Al-Hujurat ayat 12:

وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Artinya: ”dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?”.

Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mendefinisikan ghibah/menggunjing ini yaitu:

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

Artinya: Engkau membicarakan tentang saudaramu sesuatu yang dia benci. (HR Muslim: 4690).

Imam Nawawi rahimahullah kemudian memperjelas lagi definisi ini dalam komentarnya:

Ghibah adalah menceritakan tentang seseorang dengan sesuatu yang dibencinya baik badannya, agamanya, perkara dunianya, dirinya, fisiknya, perilakunya, hartanya, orang tuanya, anaknya, istrinya, pembantunya, hamba sahayanya, serbannya (penutup kepalanya), pakaiannya, gerak langkahnya, gerak gerinya, raut mukanya yang berseri atau masam, atau hal lain yang berkaitan dengan penyebutan seseorang baik dengan lafad (verbal), tanda, ataupun isyarat dengan menggunakan mata, tangan ataupun kepala”. (Al-Adzkaar: 336).

Beberapa perkara yang mesti kita ketahui tentang dosa ghibah/menggunjing ini adalah:

Pertama: Menjijikkan

Menggunjing orang lain merupakan perbuatan yang sangat menjijikkan jiwa dan hati manusia, sampai-sampai Allah ta’ala dalam ayat diatas menyerupakannya dengan memakan bangkai orang yang ia gunjingkan. Ironisnya, sangat sedikit yang bisa menghindarkan diri dari kezaliman yang satu ini. Bahkan orang yang ahli ilmu dan ahli ibadah bisa saja terjatuh didalamnya.

Kedua: Adzab Kubur Bagi Pelaku Ghibah

Allah ta’ala akan mengadzab orang-orang yang menggunjing semenjak ia pertama kali masuk kedalam kubur. Sebagaimana dalam hadis Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu:

“Nabi shallallahu’alaihi wasallam suatu ketika melewati dua kuburan, beliau bersabda: “Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini diadzab, dan mereka tidaklah diazab karena perkara yang besar (dalam pandangan kalian)… Sesungguhnya salah satunya selalu menyebarkan namimah (adu domba dan ghibah), sedangkan yang kedua tidaklah mensucikan diri dari kotoran air kencingnya”. (HR Bukhari: 1378).

Ketiga: Ghibah=Transfer Pahala kepada Orang yang Dighibah

Yang mendapatkan keuntungan dan maslahat dari perbuatan menggunjing ini adalah orang yang menjadi objek gunjingan, dan yang mendapatkan kerugian dan mudharat adalah orang yang menggunjing, bukan siapa-siapa.Sebab diakhirat kelak, pahala kebaikan dan amalan orang menggunjing ini akan diberikan kepada orang yang digunjinginya, bila dosa ghibah ini masih belum terbayarkan, sedangkan pahala-pahalanya sudah habis, maka dosa dan keburukan orang yang digunjing tersebut akan diserahkan pada orang yang menggunjing, lalu ia dilemparkan kedalam neraka, sebagaimana dalam hadis yang popular. (lihat: Shahih Imam Muslim: 4/1997 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Keempat: Dosa Ghibah yang Paling

Dosa ghibah yang paling besar adalah terhadap para ulama, para dai, dan orang-orang shalih, sebab hal ini dapat menyebabkan manusia berpaling dari ilmu atau dakwah. Bahkan ghibah merupakan penyebab utama untuk menghina para ulama/duat yang merupakan pewaris para nabi dan rasul. Sebab itu, mereka yang suka menggunjing dan memfitnah para ulama dan dai adalah orang-orang yang cepat sekali dimatikan hatinya oleh Allah ta’ala. Imam Ibnu ‘Asakir rahimahullah berkata:

“Wahai saudaraku –semoga Allah memberikan taufiq kepada saya dan anda untuk mendapatkan ridhaNya dan menjadikan kita termasuk orang yang bertaqwa kepadaNYa dengan sebenar-benarnya- dan Ketahuilah, bahwa daging–daging ulama itu beracun, dan sudah diketahui akan kebiasaan Allah dalam membongkar tirai orang-orang yang meremehkan mereka”. (Tabyyin Kadzib Al-Muftara: 29).

Syaikh Ibnu Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Menggunjing para ulama, dosanya lebih besar dari pada menggunjing orang yang bukan ulama, sebab gunjingan untuk selain ulama adalah ghibah pribadi, yang apabila terdapat mudharat, maka mudharatnya hanya sebatas pada orang yang menggunjing dan yang digunjingi, akan tetapi menggunjing ulama bisa mendatangkan mudharat pada agama islam, karena para ulama merupakan pembawa bendera islam, bila keyakinan dan kepercayaan manusia terhadap ucapan dan pandangan mereka hilang (karena adanya aib/cela yang disebar lewat gunjingan) maka bendera islam (yang mereka perjuangkan) akan jatuh, sehingga ini sangat memberikan mudharat bagi umat islam. Apabila manusia yang digunjingi adalah laksana dimakan bangkainya, maka ulama yang digunjingi dagingnya berracun karena adanya mudharat yang sangat besar (dari menggunjing mereka)”. (Syarah Riyadh Al-Sholihin: 1/226).

Kelima: Ghibah Menghantarkan Pada Hasad dan Permusuhan

Ghibah memunculkan sifat dengki, hasad dan permusuhan antara sesama manusia. Ia juga merupakan perbuatan yang menyebarkan keburukan, dusta, kezaliman, dan adu domba yang semuanya merupakan dosa yang sangat besar. Bahkan ia juga merupakan bentuk penghinaan, dan pelecehan kehormatan dan harga diri orang yang digunjingi. Sebab itu, tidak mengherankan bila sampai berakibat pada kerusakan, keretakan keluarga dan rumah tangga, pemutusan hubungan silaturrahim, perceraian, pertikaian, pembunuhan dan penganiayaan, karena harga diri merupakan harga mati bagi seorang manusia, bila dicoreng dihadapan orang lain, maka ia adalah sesuatu yang sangat memalukan dan merendahkan.

Keenam: Balasan Ghibah di Akhirat

Orang yang menggunjing akan ditanya tentang kebenaran gunjingan tersebut diakhirat kelak. Sebagaimana dalam HR Thabarani (3/420) diriwayatkan dalam hadis:

“Barangsiapa yang menggunjing orang lain dengan sesuatu yang orang tersebut tidak lakukan, dengan tujuan untuk mengolok-oloknya, maka Allah akan memenjarakannya dalam neraka jahannam sehingga ia mendatangkan kebenaran/bukti perkataannya tersebut”.

Walaupun hadis ini dinilai dhoif oleh Hafidz Al-Haitsami dan Syaikh Al-Albani dari segi sanad, namun maknanya benar, dan ia pasti akan diazab sebagaimana dalam banyak hadis.

Ketujuh: Azab bagi Penggunjing di Akhirat

Azab orang yang menggunjing sangatlah besar diakhirat kelak, ini tambahan dari azabnya tatkala masih berada dalam alam kubur. Anas radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

Tatkala saya diangkat kelangit, saya melewati kumpulan orang yang memiliki kuku terbuat dari tembaga, dengannya mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka sendiri, lantas sayapun bertanya pada Jibril ‘alaihissalam: Siapakah mereka itu wahai Jibril? Beliau menjawab: “Mereka itu adalah orang-orang yang suka memakan daging manusia (menggunjing), dan suka menghina harga diri mereka”. (HR Ahmad 3/224, dan Abu Daud : 4878, shahih).

Kedelapan: Tidak Diampuni Kecuali Ada Maaf dari Pihak yang Dighibah

Bahwasanya dosa ghibah tidaklah diampuni kecuali harus ada sikap maaf dari orang yang digunjingi. Dari segi ini, para ulama menyandingkan ghibah dengan kesyirikan, karena kesyirikan tidak diampuni kecuali dengan taubat dan memohon ampun kepada Allah ta’ala, sedangkan ghibah tidak dimaafkan kecuali dengan memohon maaf kepada orang yang digunjingi. (sym).

 

Penulis  : Ustadz Maulana Laeda, Lc, MA

Artikel   : wahdah.or.id

Adab Kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Memuliakan dan menghoramati nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan bagian dari iman. Tidak sempurna keimanan seorang Muslim tanpa mencintai dan memuliakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantara bentuk penghormatan tersebut adalah dengan menjaga adab kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Menaati, menapaki jejak dan mengikuti petunjuk serta mengikuti dan meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
  2. Mendahulukan kecintaan pada beliau serta menghormati dan mengagungkannya,
  3. Bershalawat ketika menyebut dan atau mendengar beliau disebut,
  4. Waspada dari sikap menyelisihi dan mendurhakai beliau,
  5. Tidak mendahulukan perkataan manusia manapun dari perkataan dan pendapat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
  6. Mengimani kenabian dan kerasulan beliau serta membenarkan setiap apa yang beliau kabarkan,
  7. Menghindari sikap ghuluw terhadap beliau, yakni tidak menempatkan beliau pada posisi menuhankan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
  8. Tidak memberikan dan menisbatkan kekhususan Allah kepada beliau dengan tidak bersumpah atas nama beliau dan tidak bertawakkal kepada beliau,
  9. Loyal dan cinta pada mereka yang cinta dan loyal pada beliau serta memusuhi dan belepas diri dari orang yang memusuhi dan membenci beliau,
  10. Menolong sunnah dan melindungi kesucian syariat yang beliau bawa,
  11. Menghidupkan sunnahnya dan menampakkan syariatnya serta dan meneruskan da’wah beliau serta menunaikan wasiatnya.

(Sumber: Al-Muntaqa Min al-Adab Asy Syar’iyyah, Syekh Majid bin Sa’ud Aal ‘Uwaisyin, hlm.18)

Meraih Kemuliaan dengan Sifat Jujur

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menghiasi diri dengan akhlaqul karimah, dan sangat mewanti-wanti dari akhlaq yang tercela. Rasulullah –shallahu alaihi wasallam– bersabda;

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ الْخُلُقِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

Sesungguhnya seseorang dapat mencapai derajat [hamba] yang banyak berpuasa dan shalat dengan akhlaq yang mulia.[HR. Ahmad].

Bahkan dalam Islam akhlaqul karimah merupakan salah satu cermin dari kesempurnaan iman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaqnya.[HR. Abu Dawud].

Hadits diatas menunjukkan bahwa akhlaq yang mulia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari iman, barang siapa yang berkomitmen dengan akhlaq yang mulia dalam berinteraksi maka hal tersebut menunjukan kesempurnaan imannya, dan barang siapa yang berinterkasi dengan akhlaq yang buruk, maka hal tersebut menunjukkan kelemahan imannya.

Keutamaan Akhlaq Jujur

Diantara akhlaq mulia yang sangat dianjurkan oleh Islam adalah ash-shidqu, yang dimaksud dengan kalimat ini adalah sifat jujur, makna lainnya adalah menyampaikan sesuatu sesuai dengan realita dan kenyataan tanpa ada penambahan dan pengurangan, atau antonim [lawan kata] dari alkadzib atau sifat dusta.

Puncak Akhlaq Mulia

Kejujuran merupakan puncak akhlaq yang mulia, dan tidaklah seseorang berhias dengannya kecuali dia akan beruntung di dunia dan di akhirat, dan sifat ini merupakan jalan yang dititi oleh orang-orang sholeh dari kalangan para Nabi dan Rasul, Allah berfirman:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقاً نَبِيّاً

Ceritakanlah (wahai Muhammad) kisah Ibrahim dalam kitab (alqur’an) sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan dan juga seorang nabi.[Maryam 41].

Sifat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Jujur merupakan salah satu sifat utama Nabi Muhammad –shallallhu alaihi wa sallam– yang sangat menonjol sehingga masyhurlah dari beliau julukan al-Amin [yang dipercaya], Abdullah bin Mas’ud mengatakan:

حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق

“Rasulullah mengatakan kepada kami –sedangkan beliau adalah orang yang jujur dan dipercaya-.[HR. Bukhari&Muslim].

Allah Menyuruh Untuk Jujur

Diantara keutamaan lain dari sifat ini adalah Allah memerintahkan memerintahkan kepada sifat ini. Allah Ta’ala berfirman:

يا أيها الذين أمنوا أتقوا الله وكونوا مع الصادقين

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, hendaknya kamu bersama orang-orang yang benar [jujur]. [Qs. At-Taubah 119].

Jujur Mmbawa Kepada Kebaikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقاً وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّاباً

Sesungguhnya sifat jujur membawa kepada kebaikan, dan kebaikan memasukkan ke surga, dan sesungguhnya sesorang berusaha untuk bersifat jujur sampai menjadi orang yang jujur, sesungguhnya sifat dusta membawa kepada perbuatan keji, dan perbuatan keji memasukkan [seseorang] ke neraka, dan seseorang berusaha untuk berdusta sampai menjadi pendusta.[HR. Bukhari&Muslim].

Hadits ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan sifat jujur, bahwa sifat ini merupakan salah satu amalan yang dapat membawa seseorang melaksanakan kebaikan-kebaikan dengan mudah, dan ini sesuai dengan ucapan sebagian ulama kita:

جزاء الحسنة حسنات التي بعدها وجزاء السيئة سيئات التي بعدها

Ganjaran bagi [pelaku] kebaikan adalah [mudahnya baginya] melaksanakan kebaikan setelahnya, dan ganjaran bagi [pelaku] keburukan adalah [mudahnya bagi] melaksanakan keburukan setelahnya.[syarh kitabut tauhid karya Abdullah alghaniman].

Rumah di Surga Bagi Orang Jujur

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan rumah di tengah surga bagi orang yang jujur dan menjauhi dusta. Beliau bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُق

Saya menjamin rumah di dalam surge bagi yang meninggalkan debat meskipun [dia] dalam keadaan benar, dan [menjamin] rumah di tengah surga bagi yang meninggalkan sifat dusta meskipun dalam keadaan bergurau, dan [menjamin] rumah di surga yang tertinggi bagi yang memperbaiki akhlaqnya.[HR. Abu Dawud].

Jujur Membawa Kepada Keberuntungan

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:

أربع من كن فيه فقد ربح‏:‏ الصدق والحياء وحسن الخلق والشكر‏

“Empat sifat bila berkumpul pada seseorang maka dia akan beruntung: sifat jujur, sifat malu, [berhias dengan] akhlaq yang mulia, dan sifat syukur.

Penulis : Ustad. Lukman Hakim, Lc, MA
Artikel : wahdah.or.id

Cerdas Beribadah

Cerdas Beribadah

Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontiniu walaupun sedikit (terj. HR. Muslim)

Cerdas. Sebuah kata yang begitu lazim di telinga kita. Ketika mendengarnya,membacanya, maka mungkin kesan yang akan muncul di benak kita adalah dunia pendidikan. Demikanlah. Karena memang, kecerdasan -terkadang- identik dengan prestasi.

Tetapi, yang akan kami bahas di sini, bukanlah makna ”cerdas” dalam aspek di atas. Melainkan, makna ”cerdas” dalam perspektif yang lebih besar. Ya, bahkan dalam perkara yang teramat penting. Perkara yang dengannya kita diciptakan olehNya. Kecerdasan dalam beribadah.

Marilah kita simak. Semoga kami, Anda dan siapa pun yang membacanya memperoleh faidah.

Bahwa kita diciptakan untuk beribadah, itu tentu sudah pasti. Namun apakah setiap orang yang rajin beribadah akan serta merta dikatakan telah cerdas beribadah? Rasanya tidak ada jawaban yang tepat untuk menjawabnya kecuali: Tidak! Kerajinan beribadah tentu saja tidak identik dengan kecerdasan beribadah. Seab banyak orang meletihkan dan melelahkan dirinya untuk “sekedar” –seperti sangkaan mereka– menumpuk berbagai ibadah. Seperti pengembara yang menempuh perjalanan dengan memanggul sebuah kantong yang isinya tak lebih dari bermilyar-milyar pasir. Tak berguna.

Betapa seringnya kita dibuat kagum ketika membaca betapa tidak letih – letihnya orang – orang shaleh (salaf) terdahulu menunjukkan penghambaan mereka. Kisah mereka bagai dongeng saja. Lalu kita pun secara serta merta selalu ingin meniru mereka. Persis. Tanpa melakukan perhitungan yang cerdas. Bila mendengarkan bahwa Imam Ahmad –misalnya- mengerjakan shalat sunnat 200 raka’at dalam satu hari, maka kita pikir kita pun seharusnya melakukan hal yang sama. Bila membaca bahwa seorang ’Atha Bin Abi Rabah radhiallahu ’anhu -misalnya- tidur di masjid selama 20 tahun lamanya, kita pun menganggap bahwa untuk menjadi shaleh kita harus pula demikian.

Begitulah seterusnya. Kita berputar dalam lingkaran kekaguman yang membuat kita tidak melihat dan menyimpulkan secara tepat. Kita tidak coba untuk merenungkan bagaimana mereka mengalami proses perjuangan meundukkan nafsu hingga dapat melakukan itu semua. Kita idak pikirkan tentang keistiqamahan dan konsistensi mereka menjalankan itu semua. Kita tidak pikirkan bahwa untuk ke puncak itu, mereka harus melewati sebuah niat yang lurus, tulus dan kuat. Bahwa kita butuh melihat konsistensi kita. Kita lupa bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam mengatakan: ”Sebaik-baik amalan adalah yang sedikit namun berkelanjutan.

Maka di penghujung jalan, kita pun mengalami kemunduran, kejemuan dan keletihan. Setelah mengerjakan 200 raka’at di hari pertama, mungkin di hari-hari esoknya tak satu raka’at pun yang tertegakkan. Sebab jiwa kita trauma, ia letih. Syukur-syukur jika ia tidak membenci shalat sunnat itu.

Namun demikianlah, kita harus cerdas dan pandai mengukur diri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak pernah membebani jiwa manapun bila tidak sesuai kemampuannya.

Ada banyak cahaya kecerdasan beribadah yang terwariskan kepada kita. Salah satunya adalah kisah yang dialami oleh sahabat nabi yang mulia, namanya Tamim Ad-Dary radhiallahu ’anhu.

Seorang pria pada suatu ketika mengunjunginya. Tujuannya hanya satu. Ingin mengetahui bagaimana Tamim Ad-Dary menyelesaikan ayat demi ayat dalam al-Qur’an.

”Barapa banyakkah wirid dan ayat Anda baca setiap harinya?” tanya pria itu membuka percakapan mereka.

”Hmmm, barangkali engkau ini termasuk orang yang membaca al-Qur’an di malam hari, lalu di pagi harinya ia kemudian mengatakan kepada orang lain : ’Malam ini aku telah membaca al-Qur’an”. Sungguh demi Allah, wahai saudaraku, bila aku mengerjakan shalat tiga raka’at saja di malam itu jauh lebih aku senangi daripada menyelesaikan al-Qur’an dalam satu malam namun di pagi harinya aku kemudian menceritakanya kepada orang lain”, jawab Tamim Ad-Dary.

Nampaknya pria itu kemudian sedikit agak emosi mendengar jawaban Tamim Ad-Dary. Ia hanya terkejut saja menyimak jawaban itu. Maka ia berujar, ”Ah, kalian para sahabat nabi, seharusnya yang masih hidup dari kalian ini diam saja dan tidak usah berbicara. Kalian justru tidak mau mengerjakan ilmu kalian, malah kalian justru menyalahkan orang yang bertanya pada kalian!”.

”Jangan salah paham, saudaraku. Sekarang apakah engkau mau kujelaskan suatu hal yang mungkin tidak engkau pahami?”, tanya Tamim Ad-Dary dengan sedikit lembut.

”Cobalah engkau renugnkan”, lanjut Tamim. ”Jika saja aku ini seorang mu’min yang kuat dan engkau adalah seorang mu’min yang lemah, lalu engkau berusaha membawa bebanku dengan segala kelemahanmu, hingga akhirnya engkau kemudian tidak sanggup memikulnya. Menurutmu, apakah yang akan terjadi? Engkau hanya akan mengalami sebuah kejemuan dalam beribadah. Demikan pula sebaliknya. Engkau seorang mu’min yang kuat dan aku yang lemah ini mencoba memikul bebanmu. Tentu aku akan mengalami sebuah kejemuan pada akhirnya.

Maka, saudaraku, berikanlah sesuatu yang sesuai batas dirimu untuk dien ini, dan ambillah dari dien ini apa yang engkau mampu untuk melaksanakannya secara perlahan. Hingga akhirnya kelak engkau dapat istiqamah dan konsisten mengerjakan ibadah yang mampu engkau tegakkan”.

Sebuah nasehat yang bijak. Sederhananya adalah kita bercita-cita menggapai surga tertinggi, Firdaus, dan dalam meniti jalan ke sana kita melaluinya dengan kesederhanaan yang berkualitas. Kesederhanaan yang dapat membuat kita istiqamah dan langgeng dalam penghambaan kepadaNya. Mengerjakan yang kecil. Dan mulai sejak sekarang. Bukankah rasul kita yang mulia, -sekali lagi- Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam berkata: ”Sebaik-baik amalan adalah yang berkelanjutan meskipun sedikit?. Inilah inti ibadah yang cerdas. Maka pahamilah, saudaraku !!.

Sumber :Perindu-Perindu Malam, karya Abul Miqdad Al Madany. Mujahid Press.

Awalnya Penasaran, Akhirnya Ketagihan Dosa dan Maksiat

Banyak pintu menuju maksiat, bertebaran pula para penjaja dosa yang mengumbar janji-janji kenikmatan. Tak hanya membuat betah para durjana untuk mengulangi dosa, tapi juga mengundang hasrat orang yang baru ngedrop iman tergiur untuk mencicipinya.

Awalnya penasaran lalu coba-coba Pada dasarnya, manusia lahir dalam keadaan fitrah. Fitrah untuk menjadi hamba bagi Penciptanya dan tunduk dengan aturan-aturan-Nya, naluri untuk menghindar dari maksiat dan dosa. Lantas kapan manusia mulai ‘menikmati’ dosa? Masing-masing tentu memiliki pengalaman yang berbeda, baik dari sisi waktu, faktor pemicu, maupun jenis dosa yang pada gilirannya menjadi kebiasaan dalam hidupnya.

Tak hanya oleh orang yang belum tahu, dosa tak jarang dilakukan oleh orang yang sudah mengerti hukum, juga paham tentang perkara yang dilarang oleh agama. Rasa penasaran lantaran belum pernah melakukan, sering menjadi awal dari dosa. Rasa penasaran itu bisa lahir dari bisikan nafsu yang terus ‘dikompori’ oleh setan, dan atau berpadu dengan banyaknya iming-iming dari luar. Penasaran seperti apa rasanya ‘ngefly’ oleh minuman khamr, lezatnya makan daging babi dan nikmatnya kemaksiatan lain seperti zina dan berjudi.

Sementara di luar, setan terus memberikan rangsangan. Menggambarkan kenikmatan dosa melalui gambar yang terpampang, film-film yang tertayang dan cerita-cerita yang tersebar. Hal ini semakin menguatkan nafsu orang untuk menjajalnya. Setanpun mulai memanfaatkan peluang. Dia berusaha menepis berbagai keraguan, menyingkirkan sensor-sensor keimanan yang masih tersisa di hati dan pikiran calon korbannya. Mungkin dengan memberi pengharapan masih adanya kesempatan untuk bertaubat, atau memberikan alibi yang terkesan masuk akal. Seperti ketika Adam penasaran terhadap pohon yang dilarang untuk didekati, maka Setan datang dengan membawa jawaban yang menyesatkan, meski sekilas tampak logis dan seakan ia berada pada pihak yang membela Adam,

Dan Setan berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam Jannah)”. (QS. al-A’raaf 19)

Begitulah, setan akan mencarikan seribu alasan ‘logis’ agar manusia tak ragu untuk mencicipi dosa. “Mumpung masih muda, toh hanya sekali, masih ada waktu untuk taubat, tak ada orang yang tahu, yang penting niatnya baik, cukup diambil manfaatnya, jangan hanya melihat sisi buruknya…” dan seabrek polesan yang membuat akal tersihir dan hati menjadi terlena, hingga akhirnya manusia termakan oleh propaganda setan, nas’alullahal ‘aafiyah.

Terkadang setan memanfaatkan peluang kebosanan seseorang dalam menjalani aktivitas kehidupan. Sasarannya adalah mereka yang belum merasakan kenikmatan ibadah meski telah menjalankannya, atau orang yang tidak membenci dosa meskipun belum mencicipinya. Lalu setan datang untuk ‘menasihatinya’, “Kamu tidak merasakan nikmatnya ibadah karena jalan hidupmu datar-datar saja. Coba kalau kamu menjadi ahli maksiat terlebih dahulu, seperti si fulan atau fulanah, pasti setelah taubat kamu akan merasakan manisnya keimanan..!” Tampak logis, berpihak dan berlagak sebagai penasihat yang bijak. Padahal, itu tak lebih dari perangkap, yang seandainya seseorang masuk ke dalamnya, sulit baginya untuk keluar.

Tatkala dorongan nafsu semakin kuat, pengaruh akal melemah, sementara dalih juga telah disiapkan, mulailah seseorang untuk mencoba mencicipi dosa. Satu langkah setan telah diikuti, sulit bagi si korban untuk kembali kecuali yang dirahmati Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. an-Nuur 21)

Akhirnya Ketagihan Dosa

Sekali mencoba, pasti dia akan merasakan satu di antara dua rasa yang berbeda, meski follow up dari coba-coba ini akhirnya sama juga. Mungkin ia tidak merasakan nikmat sebagaimana yang dia bayangkan sebelumnya. Ini membuatnya makin penasaran, maka dia terdorong untuk mencoba kali kedua untuk meyakinkannya. Atau sekali coba dia langsung mendapatkan rasa yang diharapkannya, maka diapun tergila-gila dan ketagihan untuk mengulanginya.

Seperti awal mula orang yang hobi berjudi. Awalnya coba-coba, siapa tahu mendapat ‘keberuntungan’. Jika ternyata menang, maka akan dijadikan sumber penghasilan, jika kalah, maka semakin penasaran untuk mencoba berulang-ulang. Harta ludes pun belum tentu menjadi alasan untuk berhenti berjudi, dia akan terus mengejar angannya meski harus dengan berhutang atau bahkan mencuri.

Dusta juga begitu. Bohong yang pertama seakan menjadi bibit unggul bagi tumbuhnya kedustaan berikutnya. Karena untuk menutupi kedustaan pertama seseorang akan melakukan dusta yang kedua, ketiga, keempat dan begitu seterusnya.

Apalagi dosa zina. Tidak mudah orang berhenti dari perbuatan keji ini jika terlanjur mencobanya. Karena ketagihannya itulah, maka hukuman bagi pezina di akhirat sangat sesuai dengan karakter mereka di dunia. Ibnul Qayyim al-Jauziyah menuturkan,

Ketahuilah bahwa balasan itu berbanding lurus dengan perbuatan. Hati yang telah terpaut dengan sesuatu yang haram, setiap kali dia berhasrat untuk meninggalkan dan keluar darinya, pada akhirnya kembali ke dosa semula”.

Begitu pula dengan balasan baginya di barzakh maupun di akhirat. Pada sebagian riwayat hadits Samurah bin Jundub yang disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda,

‘’Suatu malam aku bermimpi ada dua orang yang mendatangiku, lalu keduanya mengajakku keluar, maka akupun beranjak bersama keduanya. Ternyata aku melihat ada sebuah rumah yang dibangun seperti tungku, bagian atas sempit dan bagian bawahnya luas, sedangkan di bawahnya ada nyala api. Di dalam bangunan tersebut ada kaum laki-laki dan perempuan yang telanjang. Ketika api dinyalakan merekapun berusaha naik ke atas hingga hampir-hampir mereka keluar. Jika api redup merekapun kembali ke tempat semula. Sayapun bertanya: “Siapakah mereka?” Dia menjawab: “Mereka adalah para pezina.”

Maka perhatikanlah kesesuaian hadits ini dengan kondisi hati para pezina di dunia. Setiap kali mereka berkeinginan untuk bertaubat dan berhenti darinya, serta keluar dari tungku syahwat menuju kesejukan taubat, ternyata kandas dan mereka kembali lagi padahal hampir saja mereka keluar darinya.”

Tak terkecuali dosa-dosa yang lain, pada dasarnya dosa adalah bibit bagi dosa berikutnya, baik dengan jenis yang sama atau bahkan melahirkan dosa-dosa baru yang berbeda jenisnya. Hingga ada kaidah yang populer di kalangan ulama,

إِنَّ مِنْ عَقُوْبَةِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهاَ

Sesungguhnya, di antara hukuman bagi keburukan adalah lahirnya keburukan berikutnya.”

Menjadi Pengikut Setan yang Setia

Seperti minum air laut, makin banyak minum akan terasa semakin haus. Begitulah gambaran orang yang kecanduan dosa setelah mencoba. tatkala kecenderungan terhadap dosa makin kuat mencengkeram, ketika itu ikatan ketaatan mulai longgar dan akhirnya pudar. Tak merasa bersalah saat menelantarkan kewajiban, merasa enjoy saat menjamah kemaksiatan. Intinya, dia telah menjadi pecinta dan pendukung kemaksiatan. Satu langkah setan lagi diikuti, makin sulit pula harapan dia untuk kembali ke jalan yang lurus.

Tinggal langkah terakhir, hampir-hampir dia sudah sejenis dengan setan, atau berbuat seperti yang diperbuat oleh setan. Ketika dia menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal, lalu menghasung manusia kepada kemaksiatan dan menghalangi manusia dari ketaatan, maka dia telah memiliki karakter yang sama dengan setan, kafir dan menyeru kepada kekafiran, na’udzu billah.

Itulah siklus dosa yang boleh jadi tidak disadari, dari sekedar kecenderungan dan penasaran yang diikuti dengan coba-coba, akhirnya menumbuhkan kesenangan dan cinta dosa. Akhirnya, ia pun berbuat seperti yang diperbuat oleh setan,

“Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.” (QS al-An’am 113)

Maka, bersabar untuk tidak mencoba dosa, meskipun berat, itu lebih ringan daripada dia harus bersabar menghadapi beratnya dorongan nafsu setelah dosa pertama dijamahnya. Semoga Allah melindungi kita dari dosa. Amien. Disalin

Sumber: Majalah Ar-Risalah

Pemimpin Itu Pelayan

Pemimpin Itu Pelayan

Pemimpin Itu Pelayan

Yahya bin Akhtsam menceritakan,  suatu hari ia menginap di rumah Ma’mun rahimahullah. Suatu saat ia haus di tengah malam. Ia pun bangun mencari air dan minum.  Lalu,  Ma’mun melihatnya dan berkata, “Wahai Yahya,  ada apa denganmu, mengapa engkau belum tidur?” Yahya menjawab, “Wahai Amirul Mu’minin,  demi Allah,  aku sangat haus sekali.” Lalu Ma’mun berkata padanya,  “Kembalilah ke tempat istirahatmu.”

Setelah itu,  Ma’mun pun bangun dan pergi ke dapur dan mengambil tempayan air,  lalu datang kepada Yahya bin Akhtsam dan berkata, “Wahai Amirul Mu’minin. Kenapa tidak pelayan Anda saja yang mengambilkan?”  Ma’mun menjawab,  “Mereka tidur,”  Yahya pun berkata, “Sebenarnya saya tadi sudah bangun dan minum”, lalun Ma’mun berkata,  “Teramat buruk seseorang yang menjadikan tamunya sebagai pelayannya”.

Lalu Ma’mun berkata kepada Yahya,  “Wahai Yahya”,  Yahya menjawab, “Labbaika ya Amiral Mu’minin”,

“Bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?” kata Ma’mun.  Yahya pun mengiyakan,  dan Ma’mun melanjutkan,  “Ririwayatkan padaku Ar-Rashid,  dari Al-Mahdi,  dari Al-Manshur,  dari bapaknya bahwa Ibnu Abbas berkata,  “Dikabarkan padaku oleh Jabir bin Abdillah ia berkata,  bahwasanya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سيد القوم خادمهم

Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka“.

(Al Muntadhim,  10/26, Hayatus Salaf bainal Qaul Wal Amal:326).

Adab-Adab Shalat (5)

Adab-Adab Shalat (5)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang adab-adab  shalat.

  1. Memelihara Shalat Berjamaah di Masjid Terdekat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

ليس صلاة أثقل على المنافقين من الفجر والعشاء، ولو يعلمون ما فيهما لأتوهما ولو حبوًا لقد هممت أن آمر الملؤذِن فيقيم  ، ثم آمر رجلا يؤم الناس ، ثم آخذ شعلا من النار فأحرق على من لا يخرج إلى الصلاة بعد

 “Tidak ada shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik kecuali shalat Subuh dan shalat Isya. Seandainya mereka mengetahui pahala pada kedua shalat itu niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak. Sungguh  aku pernah berpikiran kuat untuk memerintahkan muadzin agar mengumandangkan iqamah lalu aku menyuruh seseorang untuk mengimani manusia kemudian aku membawa Suluh api, lalu aku bakar rumah orang yang tidak keluar untuk shalat berjamaah setelah itu (setelah dikumandangkan informasi atau setelah mendengar ancaman beliau Shallallahu Alaihi Wasallam). (HR. Bukhari)

  1. Merealisasikan Buah Shalat

Yakni senantiasa ingat dan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, selalu merasa diawasi dan takut kepadaNya dalam setiap keadaan. Berhenti  dari perkataan kotor dan perbuatan yang munkar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي [١٤

Sesungguhnya aku ini adalah Allah tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar saat melakukan langkah dan Dirikanlah shalat untuk menginngatKu”. (QS.  Thaha:14).

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ [٢٩:٤٥

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu kitab al-qur’an dan Dirikanlah shalat shalat itu mencegah dari perbuatan perbuatan keji dan mungkar sesungguhnya mengingat Allah salah adalah lebih besar keutamaannya daripada ibadah kepada yang lain untuk mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Ankabut: 45).  Bersambung insya Allah.

 Sumber: Panduan Adab-Adab Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (2) 

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (2) 

(Lanjutan tulisan Sebelumnya)

Masjid  merupakan tempat yang mulia dan suci yang harus diagungkan. Sebab mengagungkannya merupakan bagian dari mengagungngkan syi’ar-syi’ar Allah. Sebagaimana firman Allah, “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (Terj. Qs. Al-Hajj: 32).

Salah satu bentuk pengagungan terhadap Masjid adalah menjaga adab mendatangi dan memasuki Masjid. Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang  adab mendatangi dan memasuki  Masjid.

  1. Berangkat ke Masjid dengan Berjalan Kaki

Disunnahkan berjalan kaki ketika pergi ke Masjid. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam muslim dan Shahihnya dari hadits Ubai bin Ka’ab radhiyallahu anhu, dia berkata:

Dahulu ada seseorang dari Anshar yang rumahnya paling jauh dari kota Madinah, akan tetapi ia tidak pernah ketinggalan shalat berjama’ah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian kami menghampirinya dan saya mengatakan:

Wahai fulan! Kalau sekiranya engkau membeli seekor keledai yang melindungimu dari kerikil dan melindungimu dari panasnya bumi.” Dia menjawab: “Walallahi bukanlah yang menjadi keinginanku bahwa rumahku berdekatan dengan rumah Muhammad shalallahu alaihi wasallam“. Kemudian dia (Ka’ab) berkata: “Maka akupun menghadap nabi shallallahu alaihi wasallam dan memberitahu beliau”. Kemudian dia (ka’ab) berkata: “maka beliau memanggilnya, kemudian diceritakanlah kembali dan orang ini menyebutkan bahwa ia berharap dengan perbuatannya itu pahala dari Allah“.  Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“إن لك ما احتسبت”  وفي رواية: “قد جمع اللَّه لك ذلك كله”.

“Sesungguhnya bagimu apa yang engkau kerjakan“.[nomor hadits 663”.

Dalam riwayat lain: “Sungguh allah telah mengumpulkan bagimu semuanya“.

Imam  Abu Daud meriwayatkan dalam Sunannya dari  Aus as Saqafi radhiyallahu anhu berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 “مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا”

“Barangsiapa yang mandi pada hari jum’at kemudian pergi ke masjid lebih awal, dan berjalan tidak mengendarai kendaraan, menunggu Imam dan mendengarkan dengan seksama khutbah tidak melakukan hal-hal yang sia sia maka pada setiap langkahnya terhitung amalan setahun sholat dan puasa”. [HR. Abu Daud nomor 345, dishahihkan oleh Imam Al-albani 1/70 no 333]

Dalam shahih Muslim disebutkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;

 “أَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّه بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟” قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّه، قَالَ: “إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاةِ بَعْدَ الصَّلاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ”

Apakah kalian ingin aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah hapuskan dosa-dosa (kalian), dan mengangkat dengannya derajat-derajat (kalian)”. “Tentu wahai Rasulullah”, jawab mereka. Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang dibenci, memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu sholat setelah sholat, maka itulah ar ribath“. [HR. Muslim nomor 231]

5. Bergegas Ke Masjid Ketika Adzan Berkumandang

Dianjurkan bergegas pergi ke masjid ketika adzan dikumandangkan atau bahkan hendaknya datang sebelum adzan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengabarkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

” لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ”

“Seandainya manusia tahu (pahala) apa (yang Allah siapkan) pada adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi niscaya mereka akan mengundi, dan seandainya mereka mengetahui (pahala) pada shaf pertama mereka akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya“. [HR. Bukhari nomor 615 dan Muslim nomor 437]

6. Berjalan ke Masjid dengan Khusyuk dan Tenang

Dianjurkan berjalan dengan khusyuk dan tenang ketika menuju Masjid. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

  “إِذَا سَمِعْتُمُ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا”

Ketika kalian mendengarkan iqamah maka berjalanlah menuju shalat dengan tenang dan tidak tergesa-gesa serta tidak berlari, maka apa yang kamu dapatkan shalatlah kalian dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah“. (HR. Bukhari nomor s636 dan Muslim nomor 602).

Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar berjalan menuju Masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa serta tidak berlari-lari. Sebab hal itu dapat mempengaruhi ketenangan dan kekhusyukan dalam shalat.  Bersambung. [Yoshi/ed:Sym].

Sumber: http://www.alukah.net/sharia/0/108669/#_ftn2

Adab Mendatangi dan Memasuki Masjid (1)

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid  (1)

Masjid  merupakan tempat yang mulia dan suci. Oleh karena itu harus diagungkan, sebab mengagungkannya merupakan bagian dari mengangkan syi’ar-syi’ar Allah. Sebagaimana firman Allah, “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (Terj. Qs. Al-Hajj: 32).

Salah satu bentuk pengagungan dan penghormatan terhadap Masjid adalah menjaga adab saat mendatangi dan memasuki Masjid. Tulisan ini memaparkan beberapa adab yang hendaknya diperhatikan ketika mendatangi dan memasuki  Masjid.

  1. Mengenakan Pakaian yang Terbaik, Rapi dan Sopan

Dianjurkan dan disunnahkan berhias dengan mengenakan pakaian terbaik, rapi, dan sopan ketika mendatangi dan memasuki Masjid. Hal ini berdasarkan  perintah Allah Ta’ala dalam surah Al-A’raf ayat 31;

 يَابَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. al-a’raf: 31).

Ayat tersebut berisi perintah mengenakan pakaian yang terbaik ketika hendak masuk Masjid. Bahkan tidak mengapa seseorang mengkhususkan pakaian tertentu untuk shalat, terutama shalat Jum’at. Imam Abu Daud meriwayatkan Sunannya satu hadits dari  Muhammad bin Yahya bin Hibban radhiyallahu ‘anhu bahwa, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“أَنْ يَتَّخِذ ثَوْبَيْنِ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ سِوَى ثَوْبَيْ مِهْنَتِهِ”

Hendaknya seseorag memiliki dua pakaian; (pakaian khusus) untuk hari Jum’at selain pakaian kerja.” (HR. Abu Daud 1078 dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih abu Daud,No. 953)

  1. Bersiwak

Bersiwak atau membersihkan gigi merupakan satu Sunnah Rasul yang sangat ditekankan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa bersiwak dapat mensucikan mulut dan mendatangkan ridha Allah Ta’ala.

Diantara waktu yang sangat dianjurkan bersiwak adalah ketika hendak shalat. Bahkan andaikan tidak khawatir mempersulit ummatnya Nabi ingin menyuruh ummatnya bersiwak setiap hendak berwudhu dan shalat. Imam Bukhari dan lmam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

 “لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ”.

‘Kalaulah tidak memberatkan bagi ummatku maka sungguh akan kuperintahkan mereka bersiwak setiap (sebelum) melakukan Shalat“. (HR. Bukhari, No. 887 dan Muslim, No. 252).

  1. Tidak Mendatangi Masjid dalam Keadaan Mulut dan Badan Berbau

Dilarang mendatangi dan memasuki Masjid setelah makan bawang merah, putih atau yang sejenisnya melainkan membersihkannya terlebih dahulu.

Di dalam kitab Shahihain Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwasanya Nabi melarang orang yang baru selesai makan bawang untuk memasuki Masjid. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ، وَالثُّومَ، وَالْكُرَّاثَ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ”

Barangsiapa yang memakan bawang putih atau bawang merah serta daun bawang maka jangan sekali-kali mendekati masjid kami, karena sesungguhnya Malaikat terganggu dengan apa-apa yang manusia terganggu dengannya“.(HR. Bukhari nomor 855 dan Muslim No. 564).

Bawang dan daun bawang bukanlah makanan yang haram, akan tetapi dilarang bagi yang akan melaksanakan shalat di Masjid memakannya karena dapat menimbulkan aroma yang tidak sedap dan mengganggu orang-orang yang shalat. Bahkan yang terganggu dengan bau bawang bukan hanya manusia, tapi para Malaikat juga turut terganggu, sebagaimana disebutkan  dalam hadits di atas.

Larangan ini berlaku pula pada semua yang mengandung bau tidak sedap dan menggangu penciuman orang lain, seperti bau rokok, bau mulut karena berhasir-hari tidak bersiwak (sikat gigi), atau bau badan karena keringat atau jarang mandi  dan baju dalaman yang telah dipakai berhari-hari tanpa diganti. Bersambung insyaAllah. [ed:Sym].