9 Ciri Guru yang Sukses, Perhatikan Ciri yang ke-8!Sangat Mengagumkan

Guru yang Sukses, Gambar:wahdah.or.id

9 Ciri Guru yang Sukses, Perhatikan Ciri yang ke-8!Sangat Mengagumkan

Dalam bukunya Rahasia Sukses Orang-orang Besar, Syekh. DR. ‘Aidh bin Abdullah al-Qarni menyebutkan 9 ciri guru yang sukses, yaitu;

1. Diteladani, disegani, dicintai, dan dihormati oleh murid – muridnya.

2. Ikhlas dalam mengajarkan ilmu – ilmunya, memiliki tekad yang kuat untuk memberi manfaat yang terbaik untuk murid – muridnya, dan berusaha keras mengantarkan mereka pada ketinggian derajat orang – orang yang berilmu.

3. Tidak berprilaku menakutkan, tidak bersikap kasar, senantiasa menyayangi murid-muridnya, dan merekapun menyayanginya.

4. Tekun memperdalam bidang keahliahan dan Konsenrasinya, menonjol di bidangnya, dan meguasai seluruh materinya dengan baik.

5. Rajin mengkaji, berwawasan luas, mengenal baik adat dan budaya masyarakatnya, dan memahami betul permasalahan umatnya.

6. Bersemangat dalam menyampaikan ilmu, memberi motivasi kepada murid– muridnya, dan selalu ramah dan ceria di hadapan mereka.

7. Tertib, tepat dalam janji – janjinya, dan rapi dalam setiap pekerjaannya.

8. Menjauhi hal – hal yang syubhat (meragukan), meninggalkan setiap perilaku yang buruk, dan bersifat terpuji dalam segala hal.

9. Tidak larut dalam canda, kelalaian, kebodhan, perkataan kotor, dan hanya bertutur kata dengan lembut dan santun. [sym].

[Sumber: Rahasia Sukses Orang-orang Besar, Karya Syekh. DR. ‘Aidh bin Abdullah al-Qarni, Qisthi Press]

Adillah Memposisikan Dunia dan Akhirat

 

Adillah Memposisikan Dunia dan Akhirat. Gambar:wahdah.or.id 

Adillah Memposisikan Dunia dan Akhirat, karena kita akan tingga di dunia ini sementara saja, sedangkan di akhirat kekal abadi selamanya. 

Kita acap kali tidak adil dalam memberi perhatian terhadap urusan dunia dan urusan akhirat. Seringkali seluruh perhatian dan potensi dikerahkan untuk urusan dunia, sedangkan akhirat seperlunya saja.

Padahal dunia dan akhirat sangat tidak sebanding. Bahkan perbandingan antara keduanya ibarat batu bata (yang terbuat dari tanah liat) dengan bongkahan emas. Allah menyebut dalam Kitab-Nya bahwa Akhirat lebih baik dari dunia. “Wal akhiratu khairun laka minal ula; dan akhirat lebih baik bagimu dari kehidupan yang pertama (dunia)”, kata Allah dalam surat Adh Dhuha.

Bahkan akhirat tidak hanya lebih baik dari dunia. Ia juga lebih kekal. “Wal akhiratu khairun Wa abqa; dan akhirat lebih baik serta lebih kekal”, kata Allah dalam ayat lain.

Oleh karena itu tidak selayaknya kita mengerahkan seluruh perhatian dan potensi untuk dunia yang sementara lalu mengabaikan akhirat yang kekal dan lebih baik. Seharusnya perhatian dan kesungguhan kita terhadap dunia sekadar dengan singkatnya kita berdiam di sini.

Demikian pula dengan akhirat, perhatian kita kepadanya hendaknya seukur dengan lamanya tinggal di sana, sebagaimana diwasiatkan Sufyan Ats Tsauri rahimahullah. Bekerjalah untuk duniamu seukur berapa lamanya kau akan tinggal di bumi. Dan bekerjalah untuk akhiratmu, seukur berapa lamanya kau akan hidup di sana”.

Syekh Ahmad ‘Isa al-Ma’asharawi mengakatan, ” Kehidupan di atas permukaan bumi (dunia) hanya puluhan tahun, Sedangkan kehidupan di dalam tanah adalah ribuan tahun lamanya, Maka kehidupan manakah yang harus kita perhatikan bersemangat mengejarnya? Berpikirlah dua kali sebelum anda memilih yang haram dan meninggalkan yang halal“.  [sym]

Do’a Tidur [1]: Tidur dan Bangun Tidur dengan Nama Allah

Bismika Allahumma Amutu wa ahya

Do’a Tidur [1]: Tidur dan Bangun Tidur dengan Nama Allah

Berikut ini adalah penjelasan hadist untuk doa dan dzikir menjelang tidur;

Dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu, bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur beliau mengucapkan,

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ ) رواه البخاري

Bismika Allahumma Amuutu wa Ahyaa; Ya Allah, dengan namamu aku mati dan hidup”. Jika bangun tidur beliau mengucapkan, “Alhaamdulillahi alladziy ahyaanaa ba’damaa amaatanaa wa ilihin Nusyur; Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami dan kepada-Nyalah tempat kembali”. (HR. Bukhari).

Kesimpulan dan Pelajaran:
1. Yang dimaksud dengan mati dan hidup dalam do’a ini adalah tidur dan bangun tidur. Dalam al-Qur’an tidur disebut sebagai kematian (kecil). Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah Al-An’am ayat 60 dan Az-Zumar ayat 42;

﴿ وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ… ﴾ [الأنعام: 60

Dan dialah yang mematikan (menidurkan) kamu pada waktu malam dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. Kemudia Dia membangkitkan (membangunkan) kamu pada siang hari. . . “ (Qs. Al-An’am [6]:60).

﴿ اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ﴾ [الزمر: 42

Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa orang yang belum mati ketika ia tidur”.

  1. Tidur dan bangun tidur merupakan salah satu tanda kemahabesaran Allah pada diri manusia bagi mereka yang merenungkan hakikat kematian dan kehidupan.

  2. Tidur dan bangun tidur dapat mengingatkan seorang hamba akan hakikat kematian dan kehidupan. Bahwa hidup dan mati manusia berada dalam kendali Allah Ta’ala. Dialah Dzat yang menghidupkan dan mematikan siapa siapa Dia kehendaki.

4. Tidur dan bangung tidur juga mengingatkan seorang hamba akan hari berbangkit pada hari kiamata kelak. Jika Allah kuasa menghidupkan (membangunkan)kembali setelah kematian kecil saat tidur, tentu Dia juga mampu dan kuasa membangkitkan manusia dari kuburan-kuburan mereka pada hari kiamat kelak.

5. Do’a ini juga memberi pesan, batas antara hidup dan mati sangat tipis. Jarak keduanya sangat dekat. Saat tertidur seseorang seakan benar-benar mati, tidak mengetahui apa-apa yang terjadi di sekitar kita. Meskipun sebenarnya tidur hanya kematian kecil.

6. Oleh karena itu sebelum tidur kita memohon kepada Allah Dzat menggenggam kehidupan dan kematian untuk menghidupkan kita dengan baik dan jika tidur itu benar-benar menjadi kematian yang sesungguhnya, maka kita juga memohon kematian yang baik, yakni hidup dan mati di atas nama Allah. Demikian pula ketika terbangun, yang terucap dari lisan kita adalah pernytaan syukur atas kehidupan yang dikembalikan oleh Allah ke jasad kita. [sym].

Artikel:wahdah.or.id

Adab Menguap Dalam Islam

Adab Menguap

“Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi I/116-117 no. 304)

Islam adalah agama yang telah Allah sempurnakan bagi ummat manusia. Begitu pula dengan ajarannya, di dalamnya telah dijelaskan dengan sangat detail, di antaranya adalah adab ketika menguap.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan adab tersebut. Namun sangat disayangkan sebagian kaum muslimin tidak memperhatikan adab tersebut. Bahkan sebaliknya, mereka malah mengikuti cara-cara tidak Islami ketika menguap. Mulut mereka dibuka lebar-lebar dan tidak ditutup, bahkan terkadang di iringi dengan suara yang keras.

Menguap dibenci oleh Allah Jalla wa A’laa, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan benci terhadap menguap, maka apabila ia bersin hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucapkan Alahamdulillah). Dan kewajiban bagi setiap muslim yang mendengar untuk mendoakannya. Adapun menguap berasal dari syaitan, hendaklah setiap muslim berusaha untuk menahannya sebisa mungkin. Dan bila mengeluarkan suara ‘ha’, maka saat itu syaitan menertawakannya.” (HR. Bukhari).

Maka dari itu selayaknya seorang muslim benci menguap sebagaimana Allah membencinya. Dan yang menyebabkan dimakruhkannya menguap adalah karena hal ini berasal dari syaitan, dan syaitan tidak akan menghinggapi sesuatu kecuali pada hal-hal yang jelek dan yang dibenci. Lagi pula, menguap membuat seseorang banyak makan yang pada akhirnya membawa kemalasan dalam beribadah.

Terlebih pada saat shalat, seorang muslim disunahkan untuk menahannnya sekuat mungkin karena itu dari syaithan, sebagaimana yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi I/116-117 no. 304)

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa hendaklah seorang muslim jika menguap berusaha untuk menahannya sedapat mungkin. Jika ia tidak dapat menahan mulutnya tetap dalam keadaan tertutup, maka hendaklah ia menutupinya dengan tangannya. Dan lebih utama menutup mulut dengan tangan kiri karena menguap merupakan perbuatan yang buruk.

Wallahu a’lam
Tri Afrianti

Sumber:
Buku Adab Menguap dan Bersin (Adaabut Tatsaa’ub wal ‘Uthaas) Syaikh Isma’il bin Marsyud Ar Rumaih

etika bertetangga

Etika Bertetangga

Etika Bertetangga

  1. Menghormati Tetangga dan Bersikap Baik terhadap mereka
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,sebagaimana di dalam hadist Abu Hurairah radiallahu anhu,”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dalam riwayat lain disebutkan, ”Hendaklah ia berprilaku baik terhadap tetangganya.”(Muttafaq’alaihi).
  2. Tidak Mendirikan Bangunan yang Mengganggu Tetangga
    Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar matahari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, baik merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.
  3. Memelihara Hak-hak Tetangga
    Hendaknya kita memelihara hak-haknya disaat mereka tidak di rumah.Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan jahil; dan hendaknya kita ulurkan tangan, bantuan dan pertolongan kepada mereka membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.
  4. Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan pergi mereka.
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah,tidak beriman!” Nabi ditanya, “siapa, wahai Rasulullah? “Nabi menjawab, “orang yang tetangganya tidak merasa tentram karna perbuatannya.(muttafaq’alaihi).
  5. Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.
  6. Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abu Dzar radiallahu anhu,”wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur (daging kuah) maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu.”(HR.muslim)
  7. Hendaknya kita turut bersuka cita didalam kebahagiaan mereka dan berduka cita didalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit; kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka lunak dan sayang kepada kita.
  8. Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan dan kekeliruan mereka, dan jangan pula senang bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memanfaatkan kekeliruan dan kelupaan mereka.
  9. Hendaknya kita sabar atas perilaku kurang baik mereka terhadap kita.Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ”Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah disebutkan diantaranya seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu, hingga keduanya dipisahkan oleh kematian atau kepergiaannya.”(HR. Ahmad)

Sumber:
– Etika Seorang Muslim, Ilmiah Darul Wathan, (hlm.137-141).
http://wahdah.or.id.

ghibah

Ghibah yang Dibolehkan, Emang Ada?

Setiap Muslim hendaknya menjaga dan memelihara lisannya dari perkataan dosa dan tercela. Karena setiap perkataan yang terucap akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Oleh karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan dalam sabdanya, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya mengucapkan yang baik, atau (jika tidak) hendaknya ia diam” (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Diantara dosa lisan yang sangat buruk dan tercela adalah ghibah (menggunjing). Saking tercelanya, dalam Al-Qur’an diumpamakan seperti memakan bangkai saudara sendiri. Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12. “Dan janganlah sebagian diantara kamu meng-ghibah-i (menggunjing) sebagian yang lain, sukakalah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu kalian tidak suka”. (terj. Qs. Al-Hujurat: 12).
Ghibah artinya membicarakan orang lain ketika ia tidak ada dengan pembicaraan yang tidak ia sukai. Sebagaimana pengertian ghibah yang didefinisikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu, “dzikruka akhaka bima yakrahu (kamu membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya”. (terj. HR. Muslim).

Namun demikian ada pembicaraan tentang orang lain yang dibolehkan. Bahkan ulama menyebutnya sebagai ghibah yang dibolehkan. Imam An-Nawawi rahimahullah menempatkan masalah ini dalam satu Bab khusus (bab 265) dalam Kitabnya Riyadhus Shalihin yang beliau beri judul, Bab Ma Yubahu Min al-Ghibah, Bab Ghibah yang Dibolehkan.
Ketahuilah bahwa, sesungguhnya ghibah itu dibolehkan untuk tujuan yang benar sesuai syariat, yang tidak mungkin dicapai kecuali dengan ghibah, hal itu ada dalam enam perkara”, terang An-Nawawi mengawali Bab ke 265 dalam kitabnya tersebut.
Jadi ghibah yang boleh menurut An-Nawawi hanya (1) untuk maksud dan tujuan yang benar secara syar’i, dan (2) tujuan yang benar tersebut hanya dapat dicapai dengan membicarakan orang lain alias ghibah. Keenam Jenis ghibah tersebut adalah:

Pertama, Mengadukan Kezaliman
Bagi orang yang terzalimi boleh menyebutkan nama orang yang menzaliminya ketika mengadukan kezaliman yang dialaminya kepada penguasa atau hakim dan atau lainnya yang berwenang, atau boleh melaporkan kepada orang yang mampu menengahi dengan orang yg menzaliminya. Misalnya ia berkata: “Si fulan telah menzalimi saya”.

Kedua; Dalam rangka Meminta Tolong untuk Menghilangkan Kemungkaran dan Mengembalikan Pelaku Maksiat ke Jalan yang Benar
Misalnya ia berkata kepada orang yang diharapkan bisa menghilangkan kemungkaran tersebut: “Fulan telah berbuat (maksiat) demikian, maka hendaknya engkau mencegahnya”, atau kalimat yang semisal itu. Maksud dan tujuannya adalah mencari sarana atau perantara untuk menghilangkan kemungkaran tersebut. Jika ia tidak bermaksud seperti itu, maka hukumnya haram.
Artinya jika sekadar membicarakan bahwa si fulan berbuat maksiat ini dan itu tanpa ada sama sekali maksud dan tujuan untuk merubah kemunkaran yang dikerjakannya atau mengembalikannya ke jalan yang benar, maka hal itu termasuk ghibah yang diharamkan.

Ketiga; Meminta Fatwa
Misalnya seorang mustafti (peminta fatwa) mengatakan kepada mufti: Ayahku/saudaraku/ suamiku/fulan telah menzalimiku demikian. Apakah hal itu boleh baginya? Dan saya tidak memiliki jalan untuk terlepas dari orang ini dan mengambil hak saya serta melawan kezalimannya (kecuali dengan itu)?. Hal ini boleh kalau ada hajat.
Akan tetapi yang afdhal dan lebih hati-hati hendaknya ia mengatakan; “ Apa pendapat anda, tentang seorang atau seorang suami yang keadaannya demikian?” Maka jika sudah tercapai tujuannya tanpa menyebut nama individunya (itu lebih baik). Walaupun jika menyebut namanya itu boleh juga, sebagaimana dalam hadits Hindun radhiallahu’anha.

Keempat: Memperingatkan dan Menasehati Kaum Muslimin dari Suatu Keburukan
Hal ini dari beberapa sisi;
• Diantaranya: Jarh (kritikan) terhadap orang yang dikritik dari para rawi dan saksi yang layak dikritik. Yang demikian itu boleh berdasarkan ijma’ (konsensus) kaum muslimin, bahkan (menyebut nama orang yang dikritik) wajib untuk tujuan ini.
• Diantaranya juga: meminta pendapat (saran) ketika hendak menikah dengan seorang, atau kerja sama dengannya, menitipkan sesuatu, bermuamalah dan selain itu, atau berdialog dengannya. Wajib bagi orang yang dimintai saran untuk tidak menyembunyikan keadaan orang tersebut. Bahkan dia mesti menyebutkan kejelekkan-kejelekkan yang ada padanya dengan niat menasihati.
• Dan diantaranya : Jika melihat seorang pelajar yang bolak-balik menemui ahli bidah, atau orang fasiq untuk mengambil ilmu darinya, dan dikawatirkan pelajar tadi akan mengalami mudharat dengan itu. Maka wajib menasihatinya dan menjelaskan keadaannya (ahli bidah). Dengan syarat untuk tujuan menasihatinya.
Akan tetapi kadang terjadi kesalahan dalam hal ini. Terkadang yang mengkritik itu terbawa sifat hasad (dalam menjarh). Syaitan membuat pengkaburan dalam hal itu, digambarkan seolah-olah itu adalah nasihat. Maka berlaku cermatlah dalam mengkritik.
•Diantaranya: Orang yang mempunyai amanah tanggung jawab, tapi tidak melaksanakannya sebagaimana mestinya: Baik karena memang ia tidak pantas untuk itu, ataupun karena ia adalah seorang fasiq atau teledor dan semisalnya. Maka wajib untuk menyebutkan (kekurangan orang itu) kepada pihak yang memiliki kewenangan umum untuk menyingkirkannya dan menggantikannya dengan orang yang pantas. Atau mengabarkan hal itu agar ia ditindak sesuai keadaannya, tidak tertipu dengannya, dan berupaya untuk mendorongnya agar istiqamah atau membimbingnya.

Kelima Orang yang Menampakkan Kefasikan atau Kebid’ahannya

Boleh “menghibahi” orang yang secara terang-terangan menampakkan perbuatan fasik dan atau bid’ahnya. Semisal orang terang-terangan menampakkan minum khamer, merampok manusia, minta pajak dan pungutan uang secara zalim (pungli), melakukan perkara-perkara yang batil.
Maka boleh menyebutkan perbuatan buruk yang dia tampakkan. Namun diharamkan menyebutkan aib-aib selainnya (yang tidak dia tampakkan), kecuali disebutkan kejelekannya karena suatu sebab lain.

Keenam; Dalam Rangka Mengenalkan
Boleh menyebutkan suatu aib secara fisik untuk maksud dan tujuan mengenalkan. Hal ini berlaku bagi orang yang popular dengan gelar yang dikaitkan dengan ciri atau aib fisiknya.
Jika seseorang dikenal dengan gelar si Buta (A’masy), si Pincang (A’raj), si Tuli (asham), si Picek (a’ma), si Juling (ahwal) dan lain-lain, maka Boleh saja mengenalkan mereka dengan hal itu. Tapi diharamkan menyebutkannya dengan maksud menghina atau merendahkan. Seandainya memungkinkan menyebutkannya dengan selain itu, tentu lebih utama.
Maka ini adalah enam sebab yang disebutkan para ulama dan kebanyakannya adalah perkara yang telah disepakati.

Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat ditarik simpulan bahwa ada ghibah yang dibolehkan karena hajat dan kebutuhan yang dibenarkan oleh syariat. Namun perlu diperhatikan, hal ini hanya berlaku untuk keenam hal tersebut dengan maksud dan tujuan yang benar ssuai syariat. Jika bukan untuk maksu yang dibenarkan secara syar’i, maka pembicaraan tentang keenam hal tersebut termasuk ghibah yang diharamkan. [sym].
Sumber: Riyadhus Shalihin karya Abu Zakaria Yahya bin Syarf An-Nawawi, Kitab Al-Umur Al-Manhiy ‘anha, Bab Ma Yubahu Min Al-Ghibah, Dar as-Salam Lin Nasyr Wat Tauzi’, hlm. 407-408.

Hak-hak Ukhuwah (Persaudaraan)

UZR ayat-ayat Ukhuwah

UZR ayat-ayat Ukhuwah

(Tadabbur Ayat-ayat Persaudaraan dari Surat Al-Hujurat)

Oleh: Ust. Muhammad Zaitun Rasmin
Surat Al Hujurat banyak mengajarkan kepada kita tentang persaudaraan. Allah ta’ala mengajarkan secara rinci bagaimana seharusnya kita ber-ukhuwwah. Surat ini adalah “Surat Ukhuwwah”.
Pada ayat 9 dan 10 (http://wahdahjakarta.com/2017/11/19/persaudaraan-sejati/ & http://wahdahjakarta.com/2017/11/20/berukhuwwah-bukan-berarti-tanpa-gesekan/ Allah menjelaskan tentang hakikat ukhuwah dan persaudaraan, lalu pada ayat berikutnya Allah memberikan panduan cara merawat ukhuwah, yakni dengan menunaikan hak-hak ukhuwah atau persaudaraan.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُون
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim” (QS Al-Hujurat: 11)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al-Hujurat: 12)

Setelah menerangkan hakikat ukhuwwah di ayat 9 dan 10, berikutnya Allah jelaskan secara detail bagaimana cara merawat ukhuwwah di ayat 11 dam 12.
Berikutnya di ayat ke-13 Allah ingatkan lagi tentang pentingnya persaudaraan.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal

Tidak boleh ada yang menyombongkan diri jika kita ingin membangun ukhuwwah. Yang paling mulia di antara kita adalah yang paling bertaqwa dan yang tahu seberapa besar kadar ketaqwaan kita hanyalah Allah.
Orang Islam manapun, tidak boleh ada yang merusak persatuan, apalagi jika sudah ada kepemimpinan umat. Merusak ukhuwwah ini pelakunya disebut ahlul baghyi, jamaknya bughaat atau pemberontak.
Bangunan ukhuwwah adalah unsur penting dalam agama kita. Jangan ada yang sembrono. Jangan ada tindakan perusakan atau pelemahan ukhuwwah ini, besar ataupun kecil.
Diantara upaya penguatan ukhuwwah adalah Allah perintahkan kita agar saling kerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan. Wata’aawanuu alal birri wat taqwa.

Mimbar-mimbar Cahaya
Ukhuwwah ini termasuk amal shalih yang utama. Allah berikan balasan kelak di akhirat kedudukan yang sangat mulia, sampai-sampai banyak yang cemburu dari kalangan para Nabi dan Syuhada’.
Para penjaga ukhuwwah akan Allah tempatkan di atas mimbar-mimbar cahaya.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : الْمُتَحَابُّونَ فِي جَلاَلِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ
Artinya: “Allah ‘azza wa jalla berfirman: Orang-orang yang saling mencinta di bawah keagungan-Ku untuk mereka mimbar-mimbar (tempat yang tinggi) dari cahaya yang membuat para Nabi dan orang-orang yang mati syahid menginginkannya”. (H.R Tirmidzi, hasan shahih).
Hendaknya kita turut menjaga ukhuwwah dan persatuan umat ini, mudah-mudahan kelak Allah berikan tinggikan kedudukan kita di atas mimbar-mimbar cahaya-Nya. Amin. [ibw/sym]

UZR ayat-ayat Ukhuwah

Berukhuwwah Bukan Berarti Tanpa Gesekan

(Tadabbur Ayat-ayat Persaudaraan dari Surat Al-Hujurat)

Oleh: Ustaz Muhammad Zaitun Rasmin

Pada tulisan sebelumnya ( http://wahdahjakarta.com/2017/11/19/persaudaraan-sejati/)telah diterangkan bahwa ukhuwah dan persaudaraan di atas iman merupakan ketetapan dari Allah. Namun berukhuwah dan bersaudara di atas landasan iman bukan berarti tanpa masalah dan gesekan sama sekali. Masalah, bahkan gesekan diantara orang yang berukhuwah merupakan sesuatu yang tak dapat dielakkan. Namun Allah telah memberi panduan dan pedoman mengatasi dan menyelesaikannya, sebagaimana dalam ayat ini.

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya: “Dan jika ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi jika yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil” (Qs. Al-Hujurat:9)

Ukhuwwah adalah satu nilai yang telah Allah tetapkan, dan ini adalah ikatan yang tidak mudah diputus.
Allah sebutkan di ayat ini, bahwa kaum Muslimin yang berukhuwwah itu tetap ada kemungkinan berselisih, bahkan berperang.

Point ini mengajarkan kepada kita setidaknya dua hal:
Pertama, adanya gesekan bahkan pertikaian dalam ukhuwwah itu tidak berarti iman telah hilang dari hati mereka. Sehebat apapun perselisihannya, mereka tetap disebut dengan predikat “al mu’minun” atau orang beriman.

Kedua, jika terjadi gesekan, perselisihan, atau bahkan peperangan, harus segera di-ishlah (didamaikan).
Ayat ini juga mengajarkan kepada kita bahwa ada yang berpotensi melampaui batas dalam berselisih. Lantas, apa yang harus dilakukan jika hal ini terjadi?

Perintah kepada orang beriman: Bantu yang terzhalimi. Hentikan yang menzhalimi dan kalau perlu, perangi sampai dia berhenti. Tujuannya agar kezhalimannya berhenti, bukan untuk membunuh saudara sendiri.
Allah sebutkan “hattaa tafii’a ilaa amrillah“, hingga kelompok ini kembali kepada perintah Allah. Allah tidak menyebut “hattaa maata”, perangi sampai mereka terbunuh.

Apa yang dimaksud perintah Allah dalam ayat ini? Perintah tersebut adalah perintah untuk BERSATU.
Selesaikan “bil ‘adli wa aqsithuu”. Dengan adil dan tanpa kecurangan. Perlu diteliti baik-baik, dalam penyelesaian ini. Berbahaya jika ada kecurangan-kecurangan dalam upaya penyelesaian, ini justru akan memicu potensi konflik lagi.
Ilustrasinya, jika adik kita berbuat salah atau zhalim kepada kita sebagai kakak, bagaimana sikap kita?
Harus kita cegah kezhalimannya, dan arahkan agar perbuatannya tidak berulang. Adapun kita sebagai saudara, walaupun kita tidak suka dengan perbuatannya, rasa persaudaraan tidak akan hilang. Kita pasti tetap mengakuinya sebagai saudara.
Terhadap saudara-saudara kita sesama muslim juga seharusnya seperti itu pula. Jaga persaudaraan ini dengan sebenar-benarnya. [ibw/sym]

adab makan dan minum

Haramnya Boros dalam Makan dan Minum

Hadits Diharamkannya Makan dan Minum Secara Boros

عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : كل واشرب ، والبس وتصدق ، من غير سرف ولا مخيلة . رواه أحمد وأبو داود ، وعلقه البخاري

Dari ‘Amr bin syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Makan dan minum serta berpakaian dan bersedakahlah tanpa boros dan tidak sombong”. (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Bukhari secara mu’allaq).

Pelajaran Hadits:
Hadits ini menunjukkan haramnya tabdzir (pemborosan) dan israf (berlebih-lebihan) dalam makan dan minum, sedekah, dan berpakaian. Hendaknya seseorang pertengahan dalam bertindak karena diharamkan bersikap sombong dan takabbur.
Hadit ini juga menunjukkan perhatian Islam terhadap kemaslahatan jiwa dan tubuh serta menjauhkannya dari hal-hal yang membahayakan bagi keduanya di dunia dan di akhirat. [sym]
(Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Adab, halaman: 590-591, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)

Artikel:http://wahdah.or.id

Wahdah Jakarta Shafwan bin Umayyah

SHAFWAN BIN UMAYYAH, BENCI BERBUAH CINTA

Shafwan bin Umayyah adalah putra dari Umayyah bin Khalaf, salah satu tokoh Quraisy. Umayyah bin Khalaf sendiri adalah pembesar Quraisy yang luar biasa bencinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana tokoh-tokoh yang lain seperti Abu Jahal, ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, dua bersaudara ‘Uthbah dan Syaibah bin Rabi’ah, Al Walid bin Mughirah, dll.

Umayyah, ayah dari Shafwan radhiyallahu ‘anhu dicatat dalam sejarah sebagai penyiksa Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu. Kekejamannya pada hari itu akan selalu dikenang sepanjang sejarah. Kebenciannya terhadap Islam dan kebengisannya berakhir di Perang Badar bersama kawan-kawan seangkatannya.

 

Dendam Kesumat

Sejak peristiwa terbunuhnya Umayyah di Perang Badar, tertanam dendam kesumat di hati sang anak, Shafwan. Setahun berselang, para putra mahkota tokoh-tokoh Quraisy ini ingin melampiaskan pembalasannya di Perang Uhud. Putra-putra Quraisy ini seperti Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abi Jahal, Abu Sufyan, dan lain-lain yang semuanya ingin membalaskan dendam orang tua atau saudaranya yang terbunuh. Tak luput pula Shafwan turut serta.

Dendam kesumat ini terus tumbuh dan mengakar di hatinya hingga Makkah ditaklukkan. Artinya, kebenciannya kepada Islam telah terhitung kurang lebih 21 tahun sejak Rasulullah mendeklarasikan kenabian. Dalam peristiwa Fathu Makkah ini sebetulnya Shafwan bin Umayyah masuk dalam daftar 10 nama yang diburu, dinyatakan halal darahnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beruntung Shafwan dimintakan amnesti oleh Umair bin Wahb radhiyallahu ‘anhu, kawan lamanya.

Namun menurut pengakuannya sendiri, kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak serta merta merekah setelah masuk Islam. Kecintaannya kepada Rasulullah baru mulai tumbuh dan menguat setelah Perang Hunain.

 

Benci Berbuah Cinta

Barang kali Shafwan termasuk dalam kategori yang disebutkan oleh Anas bin Malik:

إنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إلا الدُّنْيَا، فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإسْلامُ أحبَّ إلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَ
Artinya: “Sungguh dulu ada seseorang yang masuk Islam dan tujuannya hanyalah untuk mendapat harta duniawi, maka tidaklah ia masuk Islam hingga akhirnya Islam lebih ia cintai daripada dunia dan seisinya” (HR Muslim no 2312)
Pasca Perang Hunain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kepada Shafwan bin Umayyah bagian ghanimah sebanyak 100 ekor unta, lalu 100 ekor unta lagi, kemudian ditambah 100 ekor unta lagi.
Hingga akhirnya Shafwan bin Umayyah mengakui sendiri,

وَاللهِ لَقَدْ أعْطَانِى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أعْطَانِى، وَإِنَّهُ لأبْغَضُ النَّاسِ إلَىَّ، فَمَا بَرِحَ يُعْطِينِى حَتَّى إنَّهُ لأحَبُّ النَّاسِ إلَىَّ

“Demi Allah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kepadaku apa yang ia berikan, padahal ia adalah orang yang dulunya paling aku benci. Namun beliau terus-menerus memberikan pemberiannya kepadaku hingga akhirnya beliau menjadi orang yang paling aku cintai”. (HR Muslim no 2313)

Setelah masuk Islam, Shafwan bin Umayyah termasuk shahabat yang sangat baik keislamannya. Beliau turut berjuang di medan-medan jihad dalam rangka membela dan meninggikan kalimatullah.

 

Shafwan Adalah Buah Kedermawanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Dari kisah ini kita belajar bagaimana seorang Shafwan bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu yang dulunya tak terkira dendamnya, bisa masuk Islam. Bara kebencian yang telah terpendam lebih dari dua dekade itu pun tak disangka, akhirnya padam. Dengan siraman hidayah Rabbul ‘alamin.

Dari kisah ini pula kita belajar, betapa dermawannya Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa dunia sungguh tidak bernilai di mata beliau. Bagi beliau, keislaman seorang Shafwan bin Umayyah jauh lebih berharga dari sekedar ratusan unta dan kambing.

Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, wa radhiyallahu ‘an Shafwaana wa ‘anish shahaabati ajma’iin.

 

Sumber:

  1. Min Akhlaqir Rasulil Karim shalallahu ‘alaihi wa sallam, karya Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad hafizhahullah
  2. Situs Islam Story asuhan Dr. Raghib As Sirjani

 

Murtadha Ibawi

Departemen Dakwah Wahdah Islamiyah Jakarta