Adab-Adab Shalat (5)

Adab-Adab Shalat (5)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang adab-adab  shalat.

  1. Memelihara Shalat Berjamaah di Masjid Terdekat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

ليس صلاة أثقل على المنافقين من الفجر والعشاء، ولو يعلمون ما فيهما لأتوهما ولو حبوًا لقد هممت أن آمر الملؤذِن فيقيم  ، ثم آمر رجلا يؤم الناس ، ثم آخذ شعلا من النار فأحرق على من لا يخرج إلى الصلاة بعد

 “Tidak ada shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik kecuali shalat Subuh dan shalat Isya. Seandainya mereka mengetahui pahala pada kedua shalat itu niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak. Sungguh  aku pernah berpikiran kuat untuk memerintahkan muadzin agar mengumandangkan iqamah lalu aku menyuruh seseorang untuk mengimani manusia kemudian aku membawa Suluh api, lalu aku bakar rumah orang yang tidak keluar untuk shalat berjamaah setelah itu (setelah dikumandangkan informasi atau setelah mendengar ancaman beliau Shallallahu Alaihi Wasallam). (HR. Bukhari)

  1. Merealisasikan Buah Shalat

Yakni senantiasa ingat dan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, selalu merasa diawasi dan takut kepadaNya dalam setiap keadaan. Berhenti  dari perkataan kotor dan perbuatan yang munkar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي [١٤

Sesungguhnya aku ini adalah Allah tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar saat melakukan langkah dan Dirikanlah shalat untuk menginngatKu”. (QS.  Thaha:14).

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ [٢٩:٤٥

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu kitab al-qur’an dan Dirikanlah shalat shalat itu mencegah dari perbuatan perbuatan keji dan mungkar sesungguhnya mengingat Allah salah adalah lebih besar keutamaannya daripada ibadah kepada yang lain untuk mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Ankabut: 45).  Bersambung insya Allah.

 Sumber: Panduan Adab-Adab Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (2) 

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (2) 

(Lanjutan tulisan Sebelumnya)

Masjid  merupakan tempat yang mulia dan suci yang harus diagungkan. Sebab mengagungkannya merupakan bagian dari mengagungngkan syi’ar-syi’ar Allah. Sebagaimana firman Allah, “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (Terj. Qs. Al-Hajj: 32).

Salah satu bentuk pengagungan terhadap Masjid adalah menjaga adab mendatangi dan memasuki Masjid. Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang  adab mendatangi dan memasuki  Masjid.

  1. Berangkat ke Masjid dengan Berjalan Kaki

Disunnahkan berjalan kaki ketika pergi ke Masjid. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam muslim dan Shahihnya dari hadits Ubai bin Ka’ab radhiyallahu anhu, dia berkata:

Dahulu ada seseorang dari Anshar yang rumahnya paling jauh dari kota Madinah, akan tetapi ia tidak pernah ketinggalan shalat berjama’ah bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian kami menghampirinya dan saya mengatakan:

Wahai fulan! Kalau sekiranya engkau membeli seekor keledai yang melindungimu dari kerikil dan melindungimu dari panasnya bumi.” Dia menjawab: “Walallahi bukanlah yang menjadi keinginanku bahwa rumahku berdekatan dengan rumah Muhammad shalallahu alaihi wasallam“. Kemudian dia (Ka’ab) berkata: “Maka akupun menghadap nabi shallallahu alaihi wasallam dan memberitahu beliau”. Kemudian dia (ka’ab) berkata: “maka beliau memanggilnya, kemudian diceritakanlah kembali dan orang ini menyebutkan bahwa ia berharap dengan perbuatannya itu pahala dari Allah“.  Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“إن لك ما احتسبت”  وفي رواية: “قد جمع اللَّه لك ذلك كله”.

“Sesungguhnya bagimu apa yang engkau kerjakan“.[nomor hadits 663”.

Dalam riwayat lain: “Sungguh allah telah mengumpulkan bagimu semuanya“.

Imam  Abu Daud meriwayatkan dalam Sunannya dari  Aus as Saqafi radhiyallahu anhu berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 “مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا”

“Barangsiapa yang mandi pada hari jum’at kemudian pergi ke masjid lebih awal, dan berjalan tidak mengendarai kendaraan, menunggu Imam dan mendengarkan dengan seksama khutbah tidak melakukan hal-hal yang sia sia maka pada setiap langkahnya terhitung amalan setahun sholat dan puasa”. [HR. Abu Daud nomor 345, dishahihkan oleh Imam Al-albani 1/70 no 333]

Dalam shahih Muslim disebutkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;

 “أَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّه بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟” قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّه، قَالَ: “إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاةِ بَعْدَ الصَّلاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ”

Apakah kalian ingin aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah hapuskan dosa-dosa (kalian), dan mengangkat dengannya derajat-derajat (kalian)”. “Tentu wahai Rasulullah”, jawab mereka. Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang dibenci, memperbanyak langkah menuju masjid, menunggu sholat setelah sholat, maka itulah ar ribath“. [HR. Muslim nomor 231]

5. Bergegas Ke Masjid Ketika Adzan Berkumandang

Dianjurkan bergegas pergi ke masjid ketika adzan dikumandangkan atau bahkan hendaknya datang sebelum adzan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengabarkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

” لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ”

“Seandainya manusia tahu (pahala) apa (yang Allah siapkan) pada adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi niscaya mereka akan mengundi, dan seandainya mereka mengetahui (pahala) pada shaf pertama mereka akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya“. [HR. Bukhari nomor 615 dan Muslim nomor 437]

6. Berjalan ke Masjid dengan Khusyuk dan Tenang

Dianjurkan berjalan dengan khusyuk dan tenang ketika menuju Masjid. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

  “إِذَا سَمِعْتُمُ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا”

Ketika kalian mendengarkan iqamah maka berjalanlah menuju shalat dengan tenang dan tidak tergesa-gesa serta tidak berlari, maka apa yang kamu dapatkan shalatlah kalian dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah“. (HR. Bukhari nomor s636 dan Muslim nomor 602).

Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar berjalan menuju Masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa serta tidak berlari-lari. Sebab hal itu dapat mempengaruhi ketenangan dan kekhusyukan dalam shalat.  Bersambung. [Yoshi/ed:Sym].

Sumber: http://www.alukah.net/sharia/0/108669/#_ftn2

Adab Mendatangi dan Memasuki Masjid (1)

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid  (1)

Masjid  merupakan tempat yang mulia dan suci. Oleh karena itu harus diagungkan, sebab mengagungkannya merupakan bagian dari mengangkan syi’ar-syi’ar Allah. Sebagaimana firman Allah, “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (Terj. Qs. Al-Hajj: 32).

Salah satu bentuk pengagungan dan penghormatan terhadap Masjid adalah menjaga adab saat mendatangi dan memasuki Masjid. Tulisan ini memaparkan beberapa adab yang hendaknya diperhatikan ketika mendatangi dan memasuki  Masjid.

  1. Mengenakan Pakaian yang Terbaik, Rapi dan Sopan

Dianjurkan dan disunnahkan berhias dengan mengenakan pakaian terbaik, rapi, dan sopan ketika mendatangi dan memasuki Masjid. Hal ini berdasarkan  perintah Allah Ta’ala dalam surah Al-A’raf ayat 31;

 يَابَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. al-a’raf: 31).

Ayat tersebut berisi perintah mengenakan pakaian yang terbaik ketika hendak masuk Masjid. Bahkan tidak mengapa seseorang mengkhususkan pakaian tertentu untuk shalat, terutama shalat Jum’at. Imam Abu Daud meriwayatkan Sunannya satu hadits dari  Muhammad bin Yahya bin Hibban radhiyallahu ‘anhu bahwa, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“أَنْ يَتَّخِذ ثَوْبَيْنِ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ سِوَى ثَوْبَيْ مِهْنَتِهِ”

Hendaknya seseorag memiliki dua pakaian; (pakaian khusus) untuk hari Jum’at selain pakaian kerja.” (HR. Abu Daud 1078 dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih abu Daud,No. 953)

  1. Bersiwak

Bersiwak atau membersihkan gigi merupakan satu Sunnah Rasul yang sangat ditekankan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa bersiwak dapat mensucikan mulut dan mendatangkan ridha Allah Ta’ala.

Diantara waktu yang sangat dianjurkan bersiwak adalah ketika hendak shalat. Bahkan andaikan tidak khawatir mempersulit ummatnya Nabi ingin menyuruh ummatnya bersiwak setiap hendak berwudhu dan shalat. Imam Bukhari dan lmam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

 “لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ”.

‘Kalaulah tidak memberatkan bagi ummatku maka sungguh akan kuperintahkan mereka bersiwak setiap (sebelum) melakukan Shalat“. (HR. Bukhari, No. 887 dan Muslim, No. 252).

  1. Tidak Mendatangi Masjid dalam Keadaan Mulut dan Badan Berbau

Dilarang mendatangi dan memasuki Masjid setelah makan bawang merah, putih atau yang sejenisnya melainkan membersihkannya terlebih dahulu.

Di dalam kitab Shahihain Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwasanya Nabi melarang orang yang baru selesai makan bawang untuk memasuki Masjid. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ، وَالثُّومَ، وَالْكُرَّاثَ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ”

Barangsiapa yang memakan bawang putih atau bawang merah serta daun bawang maka jangan sekali-kali mendekati masjid kami, karena sesungguhnya Malaikat terganggu dengan apa-apa yang manusia terganggu dengannya“.(HR. Bukhari nomor 855 dan Muslim No. 564).

Bawang dan daun bawang bukanlah makanan yang haram, akan tetapi dilarang bagi yang akan melaksanakan shalat di Masjid memakannya karena dapat menimbulkan aroma yang tidak sedap dan mengganggu orang-orang yang shalat. Bahkan yang terganggu dengan bau bawang bukan hanya manusia, tapi para Malaikat juga turut terganggu, sebagaimana disebutkan  dalam hadits di atas.

Larangan ini berlaku pula pada semua yang mengandung bau tidak sedap dan menggangu penciuman orang lain, seperti bau rokok, bau mulut karena berhasir-hari tidak bersiwak (sikat gigi), atau bau badan karena keringat atau jarang mandi  dan baju dalaman yang telah dipakai berhari-hari tanpa diganti. Bersambung insyaAllah. [ed:Sym].

Berbakti Kepada Ayahanda Yang Telah Meninggal Dunia, Bagaimana Caranya?

Berbakti Kepada Ayahanda Yang Telah Meninggal Dunia, Bagaimana Caranya?

 Pertanyaan:

Saya menyampaikan pertanyaan ini di tengah perasaan galau pasca meninggalnya ayah saya sejak dua tahun yang lalu. Sementara ayah saya termasuk yang agak teledor akan kewajibannya kepada Allah, di antaranya adalah:

Beliau tidak selalu menjaga shalat lima waktu, terkadang beliau shalat dan terkadang beliau tidak shalat karena malas, bukan karena mengingkari wajibnya shalat.

Beliau jarang berpuasa Ramadhan dengan alasan karena sakit, dan selalu mengkonsumsi obat jantung, atau karena lemah tidak mampu melaksakan, akan tetapi beliau termasuk perokok, saya mengira penyebab beliau tidak berpuasa adalah karena sulitnya meninggalkan rokok.

Dahulu kami mempunyai toko, dan menurut sepengetahuan saya beliau tidak mengeluarkan zakat dari barang-barang yang ada di toko tersebut, secara ekonomi kami mengalami kesulitan, bisnis kami juga tidak mendapatkan keuntungan, toko pun akhirnya terjual.

Sepertinya beliau pernah mempunyai sejumlah harta yang memungkinkannya untuk pergi haji, namun beliau tidak melaksanakannya. Beliau selalu menyampaikan kepada saya bahwa beliau ingin pergi haji akan tetapi beliau tidak bisa. Beliau mempunyai banyak masalah dan berbahaya di kedua matanya, beliau sangat menghindari sinar matahari langsung dan kecapean. Namun setelah beliau meninggal dunia ada sebagian orang yang menghajikan beliau sepertinya ada tiga orang dan bukan berasal dari kerabatnya.

Saya sangat mencintai ayah saya, semua yang mengenalnya juga mencintainya.

Oleh karenanya saya berharap kepada anda agar menjelaskan kepada saya tentang apa yang memungkinkan saya kerjakan sebagai bakti saya kepada ayah saya, saya mencintainya dan mengkhawatirkan beliau tertimpa adzab kubur dan adzab pada hari kiamat. Saya ingin berbakti kepada ayahanda setelah beliau wafat.

Jawaban:

Alhamdulillah

Jika anda ingin berbakti dan memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada ayah anda setelah beliau meninggal dunia, maka anda bisa melakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Mendoakannya dengan tulus, Allah –Ta’ala- berfirman:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ . رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (سورة إبراهيم: 40-41

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do`aku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (QS. Ibrahim: 40-41)

 Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ) رواه مسلم، رقم 1631

Jika seorang manusia meninggal dunia terputuslah semua amalnya kecuali 3 perkara: 1) shadaqah jariyah, 2). Atau ilmu yang bermanfaat, 3) atau anak shaleh yang mendoakannya”. (HR. Muslim: 1631)

Dalam hadits lain Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– juga bersabda:

 إِنَّ الله تَبَارَكَ وتَعالى لَيَرْفَعُ لِلرَّجُلِ الدَّرَجَةَ ، فَيَقُولُ : أَنَّى لِي هَذِهِ ؟ فَيَقُولُ : بِدُعَاءِ وَلَدِكَ لك (رواه الطبراني، ص: 375 وعزاه الهيثمي في مجمع الزوائد، 10/234 للبزار، ورواه البيهقي في السنن الكبرى، 7/78

Sesungguhnya Allah –Tabaraka wa Ta’ala- akan mengangkat derajat seseorang. Maka orang itu bertanya, “Dari mana saya mendapatkan semua ini?” Maka Allah berfirman: “Dari doa anakmu”. (HR. Thabrani pada bab doa: 375, disebutkan juga oleh Al Haitsami dalam Majma’ Zawaid (10/234) karya Al Bazzar, dan Baihaqi di dalam As Sunan Al Kubro (7/78)

  1. Bershadaqah atas nama beliau,
  2. Melaksanakan haji dan umrah atas nama beliau, menghadiahkan pahala keduanya untuk beliau, untuk masalah ini telah kami rinci pembahasannya.
  3. Melunasi hutangnya, sebagaimana telah dilakukan oleh Jabir dengan hutang ayahandanya Abdullah bin Haram –radhiyallahu ‘anhuma– setelah diperintah oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari: 2781.

Adapun puasa Ramadhan yang telah beliau tinggalkan dan pembayaran zakat maka hal ini termasuk yang tidak mungkin dikerjakan oleh anaknya, jika seorang muslim bersengaja teledor pada dua kewajiban tersebut, maka dia harus menanggung dosanya, tidak bisa seseorang menanggung orang lain, seperti halnya juga shalat maka tidak bisa shalat seseorang menggantikan shalat orang lain.

Allah –‘azza wa jalla– telah mengabarkan kepada kita bahwa seorang muslim akan diberi balasan dari perbuatannya, jika baik maka akan mendapatkan balasan kebaikan, dan jika buruk maka akan mendapatkan balasan keburukan. Allah –Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (سورة الزلزلة: 7-8

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Kecuali jika Allah mengampuni keburukan dengan rahmat dan karunia-Nya.

Hanya saja zakat itu mirip dengam hutang, nah zakat ini menjadi hak para mustahik zakat, maka anda wajib mengira-ngira seberapa banyak zakat beliau yang belum dibayarkan selama masa hidupnya, lalu anda yang membayarkannya, semoga hal itu akan menjadi sebab yang meringankan di alam kubur.

Semoga Allah memberikan balasan yang baik kepada anda yang telah mencintai ayah anda dan upaya untuk berbakti kepadanya dan berharap agar Allah mengampuninya. Wallahu A’lam.

[Sumber: https://islamqa.info/id]

Bertaubat Tapi Tidak Menyesal, Sahkah Taubatnya?

Bertaubat Tapi Tidak Menyesal, Sahkah Taubatnya?

Pertanyaan:

Sahkah Taubat tanpa disertai dengan penyesalan atas dosa pada masa lalu? apa makna penyesalan sebagai syarat diterimanya taubat?

Jawaban:

Pertama,

Syarat Taubat yang benar adalah;

  1. Meninggalkan
  2. Menyesali dosa yang telah Lalu.
  3. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut

Jika Taubat dari kezaliman kepada sesama hamba berupa kezaliman dalam harta, kehormatan, atau jiwa maka dipersyaratkan syarat yang keempat yaitu meminta kehalalan dari pemilik hak atau mengembalikan hak kepada pemiliknya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada hambaNya untuk melakukan taubat nasuha;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). (QS.At-Tahrim ayat 8).

Imam Al-Baghawai berkata, “Para ulama berbeda pendapat tentang makna taubat nasuha”.

Menurut Umar Bin Khattab Ali bin ka’ab bin Muadz Bin Jabal radhiyallahu ‘anhum,

Bahwa taubat nasuha adalah seseorang bertaubat kemudian tidak kembali kepada perbuatan dosa tersebut sebagaimana susu tidak kembali kepada sebagaimana air susu tidak kembali kepada asalnya”.

Hasan Al Bashri berkata,

Taubat nasuha adalah seseorang menyesali dosa yang telah lalu disertai Azzam tekad untuk tidak mengulanginya”.

Al-Kalbi berkata;

Taubat nasuha adalah beristighfar dengan lisan menyesali dengan hati dan menahan anggota badan dari mengulangi perbuatan dosa”.

Said bin Musayyib berkata;

Taubat Nasuha adalah Taubat yang tulus dari jiwa kalian yang paling mendalam”.

Al-Qurthubi taubat nasuha harus mencakup empat hal, (1) Istighfar dengan lisan (perkataan), (2) Meninggalkan dengan anggota badan, (3) Hati bertekad untuk tidak mengulangi dosa, dan (4) Menjauhi teman-teman yang buruk. (Tafsir Al-Baghawi, 4/430-431).

Kedua

Penyesalan merupakan syarat utama atau rukun taubat yang paling agung dari Abdullah bin Muhsin bin Muqrin dari Ayahnya, dari  Abdullah Bin Masud radhiyallahu Anhu, beliau berkata, saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

“النَّدَمُ تَوْبَةٌ”

Sesal Itu Taubat” (HR Ahmad 4012 dan dishahihkan oleh al-Albani).

Sebagian ahli ilmu berkata cukuplah seseorang itu dianggap bertaubat Jika dia menyesal karena Penyesalan akan membuat seseorang meninggalkan dosa dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa sebab meninggalkan dosa dan bertekad untuk tidak mengulangi nya muncul dari penyesalan Bukan dari yang lainnya Fathul Bari 13471

Al-qari rahimahullahu berkata Sesal Itu Taubat karena dia mengandung konsekuensi yang lain yaitu meninggalkan dosa dan berazam atau bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa serta mengembalikan hak-hak sesama manusia

Maksudnya menyesali menyesali dosa karena menganggap dosa tersebut sebagai maksudnya menyesali perbuatan maksiat karena dia merupakan kedurhakaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. [sym].

Sumber: https://islamqa.info/ar/289765

 

Adab-Adab Shalat [03]

 

Adab Shalat

Adab-Adab Shalat [03]

Sambungan dari Tulisan Sebelumnya

  1. Tenang dan Thuma’ninah dalam melakukan setiap Gerakan dan Rukun-rukun Shalat; Tidak Cepat- cepat atau Terburu-buru

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

Tidaklah seorang muslim yang apabila hadir waktu shalat fardhu ia membaguskan wudhunya, khusy’unya, dan ruku’nya kecuali shalatnya akan menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama tidak melakukan dosa besar dan yang demikian itu berlaku selamanya”.  (HR Muslim).

  1. Berusaha Menahan Diri Sekuat Mungkin Untuk Tidak Menguap atau bersendawa ketika sholat dan Rendahkanlah Suara Apabila Terpaksa atau Tidak Tertahankan

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

 إنّ التثاؤب  في الصلاة من الشيطان ، فإذا وجد أحدكم ذلك فليكظم

Sesungguhnya menguap ketika salat adalah dari setan jika salah seorang dari kalian ingin menguap maka tahanalah (HR.  Ibnu Hibban).

  1. Bersegeralah Untuk Melakukan Shalat di Awal waktu dan Tidak Mengalirkannya Tanpa Udzur.

Jangan malas karena hal itu merupakan ciri-ciri orang munafik sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala;

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ [٩:٥٤

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. (QS. At-Taubah: 54).

 12. Duduk   di Tempat Shalat Setelah Selesai Setiap Shalat Fardhu untuk Istighfar Berdzikir dan Berdo’a

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

Barangsiapa bertasbih setelah selesai setiap salat fardhu 33 kali, bertahmid 33 kali, bertakbir 33 kali, total berjumlah 99 Kali, dan Ia sempurnakan seratus  dengan mengucapkan Laa ilaha illallahu Wahdahu Laa Syariikalahu  Lahul Mulku Walahul Hamdu Wa huwa ‘ala Kulli syai-in Qadir (Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata yang tidak ada sekutu baginya hanya miliknya kerajaan dan hanya miliknya Segala pujian dan dia maha kuasa segala sesuatu) maka dosa-dosanya diampuni  sekalipun seperti buih di lautan“. (HR.  Muslim).

Bersambung insya Allah. [sym].

Sumber: Panduan Adab-Adab Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.

Adab-Adab dalam Shalat (2)

Adab dalam Shalat

Adab-Adab dalam Shalat (2)

Sambungan dari tulisan sebelumnya

Ke.5 lima, Memasuki shalat dengan tenang dengan menghadapkan hati kepada Allah Azza wa Jalla dan dengan anggota badan yang tenang tawadhu rendah hati dan khusyu’ Di hadapan-Nya. Juga  dengan penuh rasa hina diri ketundukan dan haibah (takut kepada kebesaran Allah).

Allah Ta’ala berfirman;

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ [٢٣:١]  الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ [٢٣

Sungguh beruntung orang orang mukmin, yakni mereka yang khusyuk dalam shalatnya (Qs. al-Mu’minun 1-2).

Ke.6, Tidak Menolehkan Muka, Tertawa atau Mempermainkan Pakaian dengan Tangan Ketika shalat

Aisyah radhiyallahu anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah ditanya mengenai berpaling dalam shalat maka beliau bersabda; “Itu (berpaling dalam shalat) merupakan pencurian yang dilakukan oleh setan dari shalat seorang hamba”. (HR Bukhari).

Ke.7. Memandang ke Tempat Sujud dan Menghindari Pandangan ke Langit (diatas)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Mengapa suatu Mengapa suatu kaum menengadahkan pandangan matanya ke langit ketika shalat Rasulullah mengatakan hal itu dengan penuh penekanan hingga beliau bersabda mereka harus benar-benar berhenti maka mata mereka akan benar-benar disambar”. (HR. Bukhari).

Ke. 8 Memelihara Kesadaran (bertafakur) dan Merenungkan Makna Ayat-ayat dan Dzikir- dzikir yang Dibaca.  Hindari  kelalaian dan lupa dalam shalat.

Allah Ta’ala berfirman;

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ [١٠٧:٤]﴿٤﴾  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ [١

“Maka kecelakaan lah bagi orang-orang yang salat yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya” (Qs. al-Maun 4-5).

Al-Wail adalah siksaan di neraka bagi orang-orang yang menghasilkan salatnya hingga keluar dari waktunya dan Siksa ini disediakan pula bagi orang yang melakukan salat dengan tubuh dan lisannya saja, sedangkan hatinya tidak khusyu’,  tidak merenungkan apa apa yang mereka baca.  Maka shalat mereka tidak berpengaruh bagi jiwa dan amal perbuatannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Sesungguhnya seseorang ada yang selesai dari shalatnya akan tetapi tidak dicatat baginya dari shalatnya kecuali hanya sepersepuluhnya, sepersembila nya, seperdelapannya, Sepertujuhnya,  seperenamnya seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya,  atau seperdua nya”. [Bersambung insya Allah]

(Panduan Adab-Adab dalam Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, hlm. 20-24).

Adab-Adab dalam Shalat (1)

Hukum Shalat Berjama’ah

Adab-Adab dalam Shalat (1)

Berikut ini beberapa adab dalam shalat;

  1. Menghadap kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan penuh keinginan dan harap serta kecintaan, dengan penuh perhatian perhatian dan semangat serta rindu untuk bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena  itu Ingatlah kamu kepadaku niscaya aku ingat pula kepadamu dan bersyukurlah kepadaku dan janganlah kamu mengingkari nikmat Ku”.  (Qs.Al Baqarah: 152).

  1. Berpenampilan yang baik sebelum masuk shalat dengan memilih pakaian yang bersih, memakai minyak wangi dan bersiwak.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Wahai anak Adam pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid untuk shalat”, (Qs. Al-A’raf: 31).

Ayat ini menunjukan anjuran berhias dengan mengenakan pakaian terbaik ketika datang ke Masjid untuk menunaikan Shalat.

  1. Lakukanlah sesuatu yang sangat mendesak (seperti makan) sebelum shalat agar selama shalat hati anda tidak disibukkan dengan selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

لا يقوم أحدكم إلى الصلاة وهو  بحضرة الطعام ولا هو يدفعه الأخبثان الغائط والبول

Janganlah salah seorang diantara kalian melakukan salat sedang Ia di hadapan makanan dan dan jangan pula ia salat sedang ia menahan buang air besar atau buang air kecil”. (HR. Ibnu Hibban).

Berdasarkan hadits ini para Ulama memandang makruh hukumanya shalat jika makanan telah tersajikan, sebagaimana makruh pula hukumanya shalat sambil menahan hasrat buang air. Alasannya karena hal itu dapat mengganggu dan mengurangi kekhusyukan shalat. Namun jika hal itu dilakukan tidak membatalkan shalat. Artinya shalatnya tetap sah.

  1. Ketika Mendatangi shalat berjalanlah dengan tenang, tidak berlari-lari tidak terburu-buru sehingga membuat nafas tersengal-sengal atau membuat keributan yang mengganggu orang lain.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Apabila panggilan salat telah berkumandang maka janganlah kalian mendatanginya dengan terburu-buru.   Datangilah  Shalat dengan tenang, apa yang kalian dapatkan dari shalat maka lakukanlah dan apa yang tertinggal dari shalat maka sempurnakanlah setelah imam salam” (HR.Muslim).

Ini  menunjukkan bahwa dianjurkan bagi orang pergi menuju shalat untuk tidak melakukan perbuatan yang sia-sia  dengan tangannya, berkata dengan perkataan yang buruk dan melihat sesuatu yang buruk. Dianjurkan  untuk sungguh-sungguh dalam menjauhi apa apa yang biasa dijauhi oleh orang yang sedang shalat, dan apabila ia telah sampai ke masjid dan menunggu shalat maka harus lebih serius lagi dalam menjauhi hal-hal yang telah disebutkan tadi”. (Syarah Nawawi ‘Ala Muslim). Bersambung insya Allah. [sym].

Sumber: Panduan Adab-Adab dalam Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, hlm. 16-19.

Keutamaan  Akhlaq dalam Islam

Keutamaan Akhlaq

Keutamaan  Akhlaq dalam Islam

Akhlaq yang mulia memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa hadis hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Pertama; Tujuan Diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

 Hadits Shahih riwayat Bukhari dan Ahmad bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

 “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan AkhlaqYang Mulia”.

Hadits  ini menunjukkan kedudukan akhlak yang sangat penting di dalam agama Islam. Al Fairuz Abadi rahimahullahu ta’ala mengatakan, “Ingatlah bahwa sesungguhnya agama keseluruhannya adalah akhlak”.

Oleh karena itu Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam disifati dalam al-Qur’an sebagai manusia yang memiliki akhlaq yang luhur. Beliau dipuji oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena akhlaknya yang agung, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Qalam ayat 4;

Sesungguhnya engkau Muhammad berada di atas akhlaq yang luhur” (Qs. Muhammad: 4).

Kedua, Allah Mencintai Akhlaq yang Luhur

Sebagaimana  dikabarkan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dalam sabdanya,

” إن الله كريم يحب الكرم ويحب معالي الأخلاق ويكره سفسافها “

 “Sesungguhnya Allah itu maha mulia dan mencintai kemuliaan serta mencintai ketinggian akhlak dan membenci akhlak yang rendah”. (HR. Hakim dan Abu Nuaim dengan sanad yang sohih).

Hadits ini menunjukkan keutamaan akhlak dari sisi yang lain yaitu dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketiga, Akhlak  Merupakan Barometer Iman

Artinya  keimanan seseorang sangat ditentukan oleh akhlaknya yang baik atau buruk. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mensifati orang yang memiliki akhlak mulia sebagai orang beriman yang paling sempurna imannya.  Beliau mengatakan;

أكمل المؤمنين إيمانًا أحسنهم خلقًا)) رواه الترمذي وأحمد))

 “Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya diantara mereka”.  (HR.Tirmidzi dan Ahmad dengan sanad yang Hasan).

Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dengan sanad yang Hasan pula, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

أفضل المؤمنين أحسنهم خلقا

Orang  beriman yang paling afdhol adalah yang terbaik akhlaknya di antara mereka”.  (HR. Hakim dengan sanad Hasan).

Keempat, Manusia Terbaik

Orang  Terbaik Adalah yang Terbaik akhlaknya atau manusia terbaik adalah yang terbaik akhlaknya. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

 

“Yang  terbaik diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kelima, Jaminan  Surga Tertinggi Bagi yang Baik Akhlaknya

 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

أنا زعيم ببيت في ربض الجنة لمن ترك المراء وإن كان محقًّا، وببيت في وسط الجنة لمن ترك الكذب وإن كان مازحًا، وببيت في أعلى الجنة لمن حسن خلقه)) رواه أبو داود والطبراني والبهقي وحسنه الألباني))

Saya memberikan jaminan berupa rumah di surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaknya”. (HR. Abu Daud, Thabrani, dan Baihaqi serta dihasankan oleh Syekh Al-Albani).

Keenam, Akhlaq yang Baik Termasuk yang Paling Banyak Memasukkan Manusia ke dalam Surga

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukkan manusia kedalam surga. Beliau mengatakan;

تقوى الله وحسن الخلق،)) رواه الترمذي وأحمد وابن حبان وحسنه الألباني.

Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”. (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban  dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani).

Mengapa takwa dan akhlak yang baik dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Al Fawaid bahwa taqwa kepada Allah menjaga hubungan baik seorang hamba dengan Tuhannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala sedangkan akhlak yang baik menjaga hubungan baik seorang hamba dengan sesama manusia.

Ketujuh, Manusa  Paling Dicintai Allah Adalah Yang Terbaik Akhlaknya

Akhlak yang baik merupakan Sebab utama untuk dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana  sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Thabroni dengan sanad  yang shohih bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

أحب عباد الله إلى الله أحسنهم خلقًا)) رواه الحاكم والطبراني وقال الهيثمي رجاله رجال الصحيح))

“Hamba  Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terbaik akhlaknya”. (HR. Hakim dan Thabrani).

Kedelapan, Dicintai oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan menempati posisi paling dekat dengan Beliau di akhirat kelak

Akhlak yang baik merupakan sebab untuk dicintai oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan mendapatkan tempat atau posisi dekat dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam di surga di hari kiamat kelak. Beliau pernah bersabda;

إنَّ من أحبكم إليَّ وأقربكم مني مجلسًا يوم القيامة أحاسنكم أخلاقًا)) رواه الترمذي وحسنه الألباني))

 “Sesungguhnya sesungguhnya yang paling aku cintai diantara kalian dan paling dekat tempatnya dengan aku pada hari kiamat nanti adalah yang terbaik akhlaknya diantara Kalian”. (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani).

Kesembilan, Paling  Berat Bobotnya dalam Timbangan Kebaikan Seorang Hamba

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

ما من شيء في الميزان أثقل من حسن الخلق)) رواه الترمذي وابن حبان وصححه الألباني))

Tidak ada sesuatu apapun yang paling berat bobotnya dalam timbangan seorang hamba dibandingkan akhlak yang baik”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban serta dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

Sepuluh, Setara  dengan Pahala Shalat Malam dan Puasa

Orang yang memiliki akhlak yang baik dapat meraih atau mencapai kedudukan seperti orang yang rajin salat Lail dan puasa sunnah pada siang hari. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

إن المؤمنَ لَيُدركُ بحُسن الخُلق درجةَ الصائمِ القائم)). رواه أبو داود وأحمد وصححه الألباني))

 “Sesungguhnya seseorang dapat sesungguhnya dengan akhlaknya yang baik seseorang dapat mencapai kedudukan orang yang rajin sholat lail dan puasa sunnah”. (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Hakim serta dishahihkan Syekh Al-Albani).

Beberapa  poin dan hadis di atas menunjukkan tingginya dan organnya kedudukan Akhlak Yang Mulia di dalam Islam sampai-sampai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memohon kepada Allah subhanahu wa taala dalam doanya untuk dikaruniai akhlak yang baik serta serta dipalingkan dari akhlak yang buruk. Beliau mengatakan;

Ya Allah ampunilah dosa-dosaku dan kesalahan-kesalahanku Ya Allah Tunjukilah aku kepada amalan yang baik dan Akhlak Yang Mulia karena tidak ada yang tunjuki kepada Akhlak Yang Mulia melainkan engkau dan tidak ada yang dapat memalingkan dari akhlak yang buruk melainkan Engkau”. (HR Hakim).

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengaruniai kita akhlak yang baik dan memalingkan kita dari akhlak yang buruk Wallahu a’lam.  [sym].

Bagi Yang Baru Hijrah, Jangan Abaikan Amalan Ini

Bagi Yang Baru Hijrah, Jangan Abaikan Amalan Ini

Hijrah yang dimaksud di sini lebih tepat ditempatkan sebagai sinonim dari kata tobat. Artinya hijrah di sini bermakna kembali ke pangkuan Islam dalam arti sungguh-sungguh mempelajari dan mengamalkan Islam secara kaffah. Kata hijrah akhir-akhir ini biasanya identik dengan lahirnya kesadaran baru untuk berislam lebih serius setelah sebelumnya larut dalam kelalaian bahkan bergelimang dosa. Setelah sebelumnya meninggalkan shalat dan abai terhadap ilmu agama, maka setelah hijrah mulai tumbuh kesadaran belajar Agama dan tumbuh kesadaran menjaga shalat fardhu. Bahkan mulai menghidupkan amalan-amalan sunnah.

Namun biasanya orang yang baru “hijrah” dihantui persaan bersalah atas kesalahan masa lalu. Sehingga kadang muncul pertanyaan, “Apa amalan terbaik untuk menghapus dosa dan salah di masa lalu?”. Temukan jawabannya dalam artikel singkat ini.

***

Dalam Kitab Al-Adab Al-Mufrad (no.4) terdapat kisah yang sangat indah tentang hal ini yang dikisahkan oleh ‘Athaa` bin Yasaar rahimahullah, yaitu:

Suatu ketika Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma didatangi seseorang lalu berkata pada beliau:

Sesungguhnya sebelumnya saya melamar seorang wanita, namun ia enggan menikah denganku, dan kemudian dilamar oleh orang lain, dan iapun mau menikah dengannya, lalu saya pun merasa cemburu dan membunuh wanita tersebut, maka apakah taubat saya bisa diterima ?“.

Ibnu Abbas balik bertanya padanya: “Apakah ibumu masih hidup?”.

Ia menjawab: “Tidak (sudah wafat)”.

Maka Ibnu Abbas berkata padanya:

Bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wajalla, dan beribadahlah mendekatkan diri pada-Nya semaksimal kemampuanmu“.

‘Athaa` berkata: (Setelah orang tersebut pergi) saya mendatangi Ibnu Abbas dan bertanya padanya: Kenapa anda bertanya tentang hidupnya ibunya?

Beliau menjawab:

Sesungguhnya saya tidak tahu ada amalan yang lebih mendekatkan diri kepada Allah (dan lebih dicintai-Nya) dari berbakti pada sang bunda“.  (Atsar ini shahih).

Oleh karena itu, yang baru hijrah jangan abaikan amalan ini (birrul walidain/berbakti kepada ibu bapak)

Ya Allah… Jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa berbakti pada orang tua kami.. aamiin.

(Ustadz Maulana La Eda dengan sedikut perubahan oleh admin).