Penerimaan Santri Baru Pesantren Tahfidz (SMP-SMA) Al-Qur’an Wahdah Islamiyah Bogor

Penerimaan Santri Baru Pesantren Tahfidz (SMP-SMA) Al-Qur’an Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor Jawa Barat TA.1439H-1440H/2018-2019

معهد الوحدة الإسلامية لتحفيظ القرآن الكريم

Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor Jawa Barat Menerima Santri Baru Tahun ajaran 1439-1440H/2018-2019.

Visi
Menjadi lembaga Pendidikan Islam berbasis pesantren yang dapat melakukan pengajaran dan pendidikan al-Qur’an guna melahirkan generasi Qur’ani.

Misi:
1. Menjadi lembaga pencetak penghafal dan pengamal al-Qur’an
2. Menanamkan adab dan akhlaq Qur’ani melalui program Tarbiyah Qur’aniyah
3. Membekali para hafidz al-Qur’an dengan dasar-dasar Ilmu Syar’i dan bahasa Arab
Jenjang Pendidikan
1. Sekolah Menengah Pertama Al-Qur’an Wahdah Islamiyah (SMPQu-WI)
2. Sekolah Menengah Atas Al-Qur’an Wahdah Islamiyah (SMAQu-WI)

Kompetensi Lulusan Yang Diharapkan
1. Hafal al-Qur’an 15 Juz untuk SMP dan 30 bagi alumni SMA Juz dan paham maknanya,
2. Dapat berbahasa Arab aktif,
3. Menguasai dasar-dasar Ilmu Syar’i,
4. Menghafal Hadits Kitabul Jami’ Bulughul Maram,

Fasilitas:
1. Lokasi strategis, dekat pusat pemerintahan Kabupaten Bogor dan GOR Pakan Sari,
2. Gedung Asrama dan Ruang Kelas 3 lantai,

Kurikulum
1. Hafalan al-Qur’an,
2. Bahasa Arab,
3. Dasar-dasar Ilmu Syar’i; Tafsir, Hadits, Adab, dll
4. Bahasa Inggris.

Ekstra Kurikuler
1. Olahraga; Memanah, Futsal, dan tennis meja
2. Bela Diri;
3. Pengembangan Diri dan Keorganisasian

Brosur Penerimaan Santri Baru Pesantren Tahfidz (SMAQu) Wahdah Islamiyah Bogor

 

Pengurus dan Pengelola
1. Penyelenggara: Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI).
2. Pembina : KH. DR. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, MA (Wasekjen MUI Pusat & Ketua DPP Wahdah Islamiyah)
3. Pengelola:
Pimpinan Pondok: Ust. Syamsuddin, M.Pd.I
Kepala Sekolah:Ust. Muh.Hamka, S.Pd
Muhaffidz: Ustadz Hermawan Sumarlin, Lc, Al-Hafidz, Ust. Ld. Munawan, Lc, Al-Hafidz, Ust Firman, SH
Kepala TU: Firmansyah Yuskal, SH
Keuangan: Agusman, S.si.

Jadwal Pendaftaran
Gelombang 1
1. Pendaftaran: 1 Januari 2018 s.d 23 Februari 2018
2. Tes dan Wawancara : 24 – 25 Februari 2018
3. Pengumuman Hasil: 3 Maret 2018

Materi Tes
1. Tes tertulis pengetahuan Agama dan Umum serta psiko tes
2. Tes lisan dan wawancara
3. Baca Tulis Al-Qur’an
4. Kemampuan mghafal Al-Qur’an

Biaya Masuk dan Bulanan

SMPQu

  1. Pendaftaran (Formulir & Tes Masuk) : 200.000

2. Uang Pangkal :  7.000.000

3. Perlengkapan (Ranjang, Kasur,Bantal, Sepre, Lemari) : 1.500.000

4. Seragam 4 Set (Putih-Biru, Jubah, Olah Raga, Batik Lembaga) : 1.000.000

5. Buku Paket UN : 750.000

6. Bulanan Juli 2018, meliputi;
a. Konsumsi : 700.000
b. SPP : 500.000
c. Loundry: 100.000
d. Kegiatan,Ekskul: 100.000
Total: 11.850.000

SMAQu

  1. Pendaftaran (Formulir dan Tes masuk) 200.000
  2. Uang Pangkal 7.000.000
  3. Perlengkapan (Ranjang, kasur, sepre, bantal, dan lemari) 1.500.000
    4 . Seragam 4 set (Putih-Abu-abu, Jubah, Olahraga, Jubah, Batik lembaga 1.000.000
    5 . Buku Paket UN 850.000
    6 Bulanan Juli 2018, meliputi;
    a. Konsumsi: 700.000
    b. SPP: 500.000
    c. Loundry:100.000
    d. Kegiatan & Ekskul 100.000

Total 11.950.000

 

Brosur PPDB SMPQu Wahdah Islamiyah Bogor

Al-Qur’an adalah Ilmu yang Sempurna

Al-Qur’an adalah Ilmu yang Sempurna

 

Maka Al-Qur’an adalah ilmu yang sempurna. Semua ilmu ada di dalam nya. Al-Qur’an mengajarkan segalanya. (Syaikh Al-Barrak).

Generasi awal umat Islam sebenarnya adalah orang-orang yang sangat penakut. Saking penakutnya bahkan ada yang mengambil setan dan jin sebagai temannya. Lalu setelah mereka membaca Al-Qur’an. Maka mereka berubah menjadi manusia yang lebih baik. Dari yang penakut mereka menjadi pemberani. Dari titik nadir mereka menjadi pahlawan.

Generasi awal umat ini ketika belum mempelajari Al-Quran, mereka semua kotor, jorok dan sangat jauh dari kebersihan, bahkan ada yang memakan bangkai. Maka Al-Qur’an mengajarkan kepada mereka mana yang bisa dikonsumsi mana yang tidak bisa dikonsumsi. Al-Quran mengajarkan kepada mereka bagaimana bersuci dan membuat manusia menjadi lebih beradab dan hidup lebih layak.

Islam dan Al-Quran mengajarkan kebersihan. Lihatlah bagaimana Islam mengajarkan manusia mencuci wajah tangan dan kakinya dengan berwudhu. Perumpamaan sholat yang lima waktu itu diibaratkan seperti orang yang di depan rumahnya terdapat sungai yang mengalir. Apakah menurut kalian mungkin, bahwa orang yang ada sungai di depan rumah nya tersebut itu kotor? Jawabannya tidak mungkin.

Al-Qur’an mengandung segala sesuatu. Dan Al-Qur’an itu lengkap. Ketika seseorang lahir sampai dia meninggal semuanya diatur di dalam Al-Qur’an. Apa saja petunjuk tentang kehidupan dan apa yang harus dilakukan dalam hidup semua lengkap aturannya dalam Al-Qur’an. Karena itu setiap bayi yang lahir ke dunia, dikumandangkan adzan baginya, dan demikian juga halnya ketika manusia mati. Semua ada aturannya dalam Al-Qu’ran.

Al-Qur’an ada banyak ilmu-ilmu di dalamnya. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala melarang riba, semua itu untuk kebaikan manusia sendiri. Al-Qur’an menjelaskan semuanya yang dibutuhkan manusia. Dari mulai bagaimana cara ia mendapatkan harta, bagaimana ia harus mempergunakannya, bagaimana ia harus mengelolanya dan bagaimana ia harus menginfakkannya, semua jelas diatur di dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an mengatur kehidupan manusia. Bahwa kehidupan di dunia ini tidaklah abadi. Dunia hanyalah jembatan untuk menuju akhirat. Dunia hanyalah tempat untuk beribadah. Dunia hanyalah tempat untuk menyembah Allah subhanhu wa ta’ala. Bukan untuk bermewah-mewahan bukan untuk bersenang-senang bukan untuk bermain-main. Sesungguhnya tempat kembali kita adalah akhirat. Di sanalah kita hidup kekal dan abadi.

Al-Qur’an mengatur segala sesuatunya tentang kehidupan manusia. Yang besar yang kecil, yang tua yang muda, laki-laki dan perempuan, bahkan anak kecil pun sudah diatur dalam Al-Qur’an. Juga mengatur bagaimana hubungan antara penguasa dan rakyat. Juga mengatur hak para Nabi dan Rasul.

Bagaimana dengan wanita? Dalam Al-Qur’an wanita juga punya hak. Dan Al-Qur’an menjelaskan tentang hak-haknya. Sebagaimana Al-Qur’an mengajarkan kepada wanita untuk berhijab. Wanita harus berpakaian yang syar’i, sehingga identitas nya dapat dikenal. Wanita dalam Al-Qur’an adalah seorang putri yang suci yang terjaga dan dilindungi. Padahal jauh sebelum adanya Al-Qur’an wanita sangat dihinakan.

Al-Qur’an telah menjadikan generasi awal dari umatnya menjadi pahlawan-pahlawan besar. Al-Qur’an menjadi an manusia dari titik nol menjadi pahlawan besar. Bahkan dalam Al-Qur’an disebutkan tentang orang-orang yang cacat, orang-orang yang buta. Dan ini tidak ada disebutkan dalam kitab-kitab samawi sebelumnya.

Al-Qur’an menyebutkan segala sesuatunya. Pertanian bahkan perindustrian. Contohnya tentang buah zaitun. Maka Al-Qur’an mengajak manusia untuk aktif dan beraktifitas. Untuk tidak malas. Dan mau bekerja keras. Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk malas.

Al-Qur’an mengandung segala sesuatu bahkan dalam bidang kesehatan. Contohnya perintah untuk makan dengan tidak berlebih-lebihan. Ini menyangkut dengan ilmu kesehatan, bahwa segala sesuatu yang berlebih2an tidak baik bagi tubuh manusia.

Al-Qur’an juga mengajarkan ilmu falak(astronomi) tentang gugusan bintang, langit dan bumi. Allah mendirikan langit tanpa penyanggah tanpa tiang. Seumpamanya orang yang membuat bangunan, tidak pernah ada yang bisa mendirikannya tanpa tiang. Ini lah bukti kebesaran Nya bukti ke Esaan-Nya.

Maka Al-Qur’an adalah ilmu yang sempurna. Semua ilmu ada di dalam nya. Al-Qur’an mengajarkan segalanya. Semoga kita semua yang ada disini bisa mempelajari dan mengambil kebaikan darinya. Amin. [Ringkasan kajian dengan tema “From zero to hero with Al-Qur’an” bersama Syeikh Prof. DR. Muhammad Sholih Al Barack Hafidhahullah (Guru Besar Tafsir Al Quran di KSA), Rabu, 17 Januari 2018].

Allah Pelindung Orang Beriman

 

 

Allah Pelindung Orang Beriman, gambar: wahdahmakassar.or. id

Allah Pelindung Orang Beriman

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya:
Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” [Surat Al-Baqarah 257].

Makna dan maksud Waliy pada frasa Allahu waliyyulLadzina Amanu di atas adalah penolong dan pembantu, pecinta, pemberi hidayah, sebagaimana dikatkan oleh Imam Al-Baghawi (1/273). Jadi maksud Allah sebagai Waliy bagi orang beriman adalah;
– Allah akan selalu menolong dan membantu orang-orang beriman,
– Allah mencintai orang beriman,
– Allah membimbing dan meneguhkan orang beriman di atas hidayah dan petujuk-Nya
– Allah memenuhi dan mengurusi keperluan orang-orang beriman

Kesemua karunia di atas sesungguhnya merupakan balasan dari janji Allah kepada para Waliy-Nya dah hamba-hambaNya yang beriman, sebagaimana dalam Hadits Qudsi tentang keistimewaan wali-wali Allah, “Dan jika hambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah tambahan (nawafil/nafilah), maka Aku pasti mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Akulah pendengarannya yang dengannya dia mendengar, (Akulah) penglihatannya yang dengannya dia melihat, (Akulah) tangannya yang dengannya dia memegang, dan (Akulah) kakinya yang dengannya dia berjalan, Jika dia meminta Aku kabulkan dan jika dia memohon perlindungan Aku pasti melinunginya”. (HR. Bukhari).

Itulah hakikat dan makna Allah sebagai waliy bagi orang beriman, sebagaimana sebaliknya orang beriman merupakan wali Allah. Sebagaimana firman Allah, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. (Qs. Yunus:62-63).

Minadz Dzulumati Ilan Nur
“Mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya”; Maknanya dari gelapnya kekufuran dan kejahilan menuju cahaya iman dan ilmu. Ibnu Katsir mengatakan, “Dia mengeluarkan hamba-hambaNya yang beriman dari gelapnya kekufuran keraguan menuju cahaya kebenaran yang sangat jelas, terang, mudah, dan bersinar terang”.

Semakna dengan Imam Ibnu Katsir, Syekh As-Sa’di mengatakan, “Allah mengeluarkan mereka dari gelapnya kekufuran, maksiat, dan kebodohan menuju cahaya iman, ketaatan, dan ilmu. Sehingga balasan bagi mereka adalah keselamatan bagi mereka dari gelapnya kuburan, hari kebangkitan, dan kiamat”.

Jalan Kebenaran dan Keselamatan Hanya Satu
Pada Frasa “minadzulumat ilan Nur”, kata dzulumat disebutkan dengan bentuk jamak (plural/jama’), sedangkan kata Nur disebutkan dengan bentuk tunggal (singular/mufrad). Hal ini mengisyaratkan bahwa jalan kebenaran itu hanya satu. Sebaliknya kekufuran itu beragam dan semuanya bathil. Hal ini semakna dengan firman Allah dalam surah Al-An’am ayat 153;

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Qs.Al-An’am:153).

Seperti pada ayat 257 Surat Al-baqarah, dalam ayat di atas jalan lurus yang diperintahkan oleh Allah untuk diikuti disebutkan dalam bentuk mufrad (tunggal), sedangkan jalan yang Allah larang untuk diikuti disebutkan dalam bentuk jamak (plural). Sebab jalan jalan kebenaran itu hanya satu.

Wali Orang Kafir Adalah Thaghut
Adapun orang kafir maka pelindung adalah Thaghut dan Setan yang menghiasi kekafiran dalam pandangan mereka, sehingga mereka keluar dari cahaya iman dan ilmu menuju gelapnya kekufuran dan kejahilan. Jalan kekafiran disebut dan disifati sebagai kegelapan karena jalannya penuh dengan iltibas (ketidakjelasan).

Balasan untuk mereka adalah neraka dan kekal di dalamnya.
Semoga Allah meneguhkan iman di hati-hati kita dan menunjuki kita ke jalan iman, ilmu, dan ketaatan. [sym].

Mulia dengan Al-Qur’an (Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan)

Mulia dengan Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan kitab suci lagi mulia. Diturunkan oleh Tuhan semesta alam kepada manusia termulia melalui Malaikat paling mulia serta di tempat paling mulia dan pada waktu paling mulia, yakni bulan Ramadhan. Allah Ta’ala menerangkan dalam beberapa ayatNya tentang keagungan dan kemuliaan Alquran, diantaranya surah Al-Waqi’ah ayat 77-80;

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ ﴿٧٧﴾ فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ ﴿٧٨﴾ لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ ﴿٧٩﴾ تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٨٠

Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran. (75) Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. (76) Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, (77) pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), (78) tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (79) Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin. (80) (Qs. Al-Waqi’ah:75-80)

Kemuliaan Al-Quran dan berpengaruh pada kemuliaan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Al-Qur’an adalah firman Allah yang Maha mulia, diturunkan kepada manusia paling mulia melalui perantaraan Malaikat paling mulia, pada malam kemuliaan di bulan paling mulia dan di bumi paling mulia pula.

Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan kemuliaan Al-Qur’an dari sisi kemulian waktu dan tempat diturunkannya serta kemuliaan Nabi pembawa Al-Qur’an dan ummatnya yang mengemban Al-Qur’an. Selanjutnya dalam tulisan ini akan diuraikan kemuliaan Al-Qur’an dari sisi kemuliaan Malaikat yang membawanya kepada Nabi dan kemuliaan orang-orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Selamat membaca.

6. Al-Qur’an Dibawa Oleh Malaikat Termulia

Malaikat yang menjadi pembawa wahyu Al Qur’an adalah Malaikat Jibril yang merupakan sebaik-baik malaikat dan terpercaya. Sbagaimana dijlaskan dalam surat At-Takwir ayat 19;

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)’’. (Qs. At-Takwir:19).

Allah juga memuji malaikat Jibril yang menurunkan al-Qur’an kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menyifatinya sebagai Malaikat terpercaya untuk menurunkan wahyu Ilahi. Sebagaimana dalam beberapa ayat diantaranya;

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُواوَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)“.Qs. An-Nahl:102)

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٩٢﴾ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ﴿١٩٣﴾ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ﴿١٩٤

Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,(Qs. Asy-Syu’ara:192-194).

7. Al-Qur’an Pada Generasi Terbaik

Sebaik-baik generasi adalah generasi yang padanya Al Qur’an turun (Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam).

Rasulullah shalllahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُالنَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَيَلُونَهُمْ

Sebaik-baik generasi adalah generasi di zamanku, kemudian yang setelahnya, dan kemudian yang setelahnya.” (HR. Muslim).

8. Manusia Terbaik adalah yang Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

Rasulullah shalllahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan yang mengajarkannya”. (HR. Al Bukhari).

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (43) وَإِنَّهُ لَذِكْرٌلَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ.

Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (Az-Zukhruf : 43-44).

Umar ibnu Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

  إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَاالْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

 Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Al Qur’an, dan merendahkan yang lainnya juga dengan Al Qur’an. (HR. Muslim).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata;

أن جماع أمراض القلب هي أمراض الشبهات والشهوات والقرآن شفاءللنوعين

 “Unsur penyakit hati terkumpul pada dua hal, yaitu syubhat dan syahwat, dan keduanya diobati dengan Al Qur’an.” (Ighatsatul Lahafan, Juz.1/44).

Sebagaimana diterangkan dalam Surat Yunus ayat  57 dan Surat Al Isra’ayat 82;

يَاأَيُّهَاالنَّاسُ قَدْجَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِوَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٧

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.(Qs. Yunus:57).

Penjelasan singkat ayat di atas dapat dibaca pada Rahmat dan Karunia Terbesar Itu Adalah Al-Qur’an.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَاهُوَشِفَاءٌ وَرَحْمَةٌلِّلْ مُؤْمِنِينَ ۙ وَلَايَزِيدُالظَّالِمِينَ إِلَّاخَسَارًا ﴿٨٢

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian’’. (Qs. Al-Isra:82).

Anda Juga Ingin MULIA ?

Bagi yang menghendaki kemuliaan hendaknya mengambil bagian dari Al-Qur’an, yakni dengan mempelajari dan atau mengajarkannya. Jadikan belajar dan mengajar Alquran sebagai agenda hidup sepanjang hayat. Luangkan waktu mninimal satu dua jam sepekan untuk ngaji qur’an. Tingkatkan kemampuan membaca Alquran! dan teruslah bertumbuh secara ilmiah dan ruhiah bersama Alquran. [sym]

Mulia dengan Al-Qur’an (2)

Mulia dengan Al-Qur’an


Alquran merupakan kitab suci lagi mulia. Diturunkan oleh Tuhan semesta alam kepada manusia termulia melalui Malaikat paling mulia serta di tempat paling mulia dan pada waktu paling mulia, yakni bulan Ramadhan. Allah Ta’ala menerangkan dalam beberapa ayatNya tentang keagungan dan kemuliaan Alquran, diantaranya surah Al-Waqi’ah ayat 75-77;

فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ﴿٧٥﴾ وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ ﴿٧٦﴾ إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ ﴿٧٧﴾ فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ ﴿٧٨﴾ لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ ﴿٧٩﴾ تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ ﴿

Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran. (75) Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. (76) Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, (77) pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), (78) tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (79) Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin. (80) (Qs. Al-Waqi’ah:75-80)

Melalui ayat-ayat di atas Allah mengabarkan bahwa Alquran adalah kitab suci dan mulia yang diturunkan dari Rasbb[ul] ‘alamin, Tuhan semesta alam. Dalam ayat ini juga Allah menyifati Alquran sebagai al-karim; bacaan yang mulia. Menurut Ibnu Jauzi bahwa,” al-karim adalah kata (maknanya) menyeluruh untuk segala sesuatu yang terpuji. Alquran disebut dengan sifat al-karim karena mengandung penjelasan, petunjuk, dan hikmah. Alquran diagungkan disisi Allah”. (Zadul Masir,VIII/151).

Dalam ayat lain kemuliaan Alquran juga diungkapkan dengan kata al-majid. Sebagaimana dalam suratQaf ayat 1, dan Al-Buruj ayat 21-22;

Qaaf Demi Al Quran yang sangat mulia”. (Qs. Qaf:1).
Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, (21) yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh”. (Qs. Al-Buruj:21-22).

Kemuliaan Alquran dan berpengaruh pada kemuliaan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Al-Qur’an adalah firman Allah yang Maha mulia, diturunkan kepada manusia paling mulia melalui perantaraan Malaikat paling mulia, pada malam kemuliaan di bulan paling mulia dan di bumi paling mulia pula.

Pada tulisan sebelumnya telah diterangkan tentang kemuliaan Al-Qur’an dari sisi kemulian tempat dan waktu diturunkan. Pada tulisan ini akan dilanjutkan dengan uaraian kemuliaan Al-Qur’an dari kemuliaan manusia yang menerimanya dan ummat yang mengembannya. Selamat membaca.

4. Al-Qur’an Diturunkan Kepada Manusia dan Nabi Termulia

Al-Qur’anul karim diturunkan kepada manusia paling mulia, yaitu Nabi Muhamma shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah Sayyid waladi Adam; Pemimpin anak cucu Adam, penghulu para Nabi dan Rasul (sayyiddul Anbiya war Rusul), serta Rasul Ulul Azmi. Kemuliaan Rasulullah secara nasab diterangkan dalam banyak hadits, diantaranya“Dari Watsilah bin Asyqo’ Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

(إناللهاصطفىكنانةمنولدإسماعيل،واصطفىقريشامنكنانة،واصطفىمنقريشبنيهاشم،واصطفانيمنبنيهاشم )

Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Isma’il dan Allah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Allah memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan Allah memilih aku dari keturunan Bani Hasyim’” (HR Muslim).

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan,

وهوخيرأهلالأرضنسباعلىالإطلاق …فأشرفالقومقومهوأشرفالقبائلقبيله

Dan beliau (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah penduduk bumi yang paling baik nasabnya secara mutlak, maka semulia-mulia kaum adalah kaum beliau, semulia-mulia kabilah adalah kabilah beliau”.

5. Diturunkan Untuk Ummat Terbaik

Alquran diturunkan untuk ummat terbaik yang dilahirkan untuk ummat manusia, yakni ummat Islam. Allah Ta’ala berfirman tentang hal ini;

كُنتُمْ خَيْرَأُمَّةٍأُخْرِجَتْلِلنَّاسِتَأْمُرُونَبِالْمَعْرُوفِوَتَنْهَوْنَعَنِالْمُنكَرِوَتُؤْمِنُونَبِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah’’.(Qs. Ali Imran:110).

Dalam ayat lain Allah mengabarkan bahwa Alquran merupakan kitab hidayah bagi orang-orang termulia, yakni orang-orang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 2;

ذَٰلِكَ الْكِتَابُلَارَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًىلِّلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah:2).

Alquran merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Sementara dalam ayat lain secara tegas Allah menyatakan bahwa, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.” (terj. Qs. Al-Hujurat:13).

[sym]

Tujuh Faidah Bagi Penghafal Al-Qur’an (3): Al-Qur’an Memacu Semangat dan Membuat Lebih Giat Beraktivitas

Santri Penghafal Al-Qur’an

Tujuh Faidah Bagi Penghafal Al-Qur’an (3): Al-Qur’an Memacu Semangat dan Membuat Lebih Giat Beraktivitas

Al-Qur’an merupakan kitab yang indah. Setiapkali seorang muslim membacanya, niscaya akan bertambah semangat dan keaktifannya. Ketika shalat, dia termasuk diantara orang orang yang paling dahulu sampai ke masjid.

Jika menghadiri acara acara kegembiraan (walimah nikah undangan dst.) dia tidak bermalas malasan, bahkan dia maju untuk membantu dan menyampaikan selamat kepada kedua mempelai dengan wajah riang gembira dan berseri-seri, seolah-olah kegembiraan itu adalah miliknya.
Ketika menghadapi jenazah, dia adalah orang yang pertamakali menampakkan tanda kesedihan di wajahnya. Dia memandikan, menshalatkan dan memikulnya.

Sesuatu yang mendorongnya untuk melakukan semua itu adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘’Hak seorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima: Menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, menghadiri undangan, dan mendoakan orang yang bersin.’’(terj. HR al-Bukhori dan muslim ).

Dalam hadis yang lain: “Jika dia bersin lalu memuji Allah (al-hamdulillah ) maka dia mengucapkan tasymit kepadanya (yaitu dengan ucapan yarhamukallah’semoga allah merahmatimu’). “ (terj. HR At-Tirmizi dan an-Nasai)

Wahai saudaraku yang tercinta! Tidak anda lihat para penghafal al-Qur’an, bagaimana mereka mendapatkan saemangat, giat beraktivitas dan menunaikan semua persaudaraan.

Dengan demikian, berpegang teguhlah kepada al-Qur’an agar Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniakan rasa semangat dan giat dalam beraktivitas kepada anda! Berpegang teguhlah agar anda dapat menempatkan diri diantara orang-orang yang pertama dalam setiap kebaikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong anda dalam menulis tugas tugas sekolah tanpa merasa lelah dan bosan, serta dalam waktu yang sangat singkat. Saya tidak akan mengatakan pada anda,”cobalah”. Akan tetapi, saya justru ingin mengatakan, “Orang buta tidak seperti orang yang melihat, dan tidak pula orang yang bodoh seperti orang yang berilmu. Barangsiapa yang telah merasakan, niscaya dia tahu. Barangsiapa yang tahu , niscaya dia mengakui.

Tujuh Faidah Bagi Penghafal Al Qur’an (2): Allah Menolong Para Penghafal Al Qur’an

Tujuh Faidah Bagi Penghafal Al Qur’an (2): Allah Menolong Para Penghafal Al Qur’an

Masya Allah! Sesunguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersama para penghafal Al Qur’an. Dia senantiasa mengulurkan bantuan dan pertolongan-Nya kepada mereka. Oleh sebab itu, anda akan mendapati mereka sebagai orang-orang kuat.

Pembaca yang budiman, jika anda membaca kisah kisah para sahabat, maka anda merasa takjub. Benar! Pada awalnya mereka menemukan sesuatu untuk demikian, tetapi meskipun demikian mereka adalah orang orang yang keras terhadap orang orang kafir dan saling menyayangi diantara sesama muslim.

Dengan segala keterbatasan yang ada,mereka sanggup melangkah orang orang Quraisy, kemudian mengalahkan seluruh kabilah kabilah (suku) kaum Musyrikin. Setelah itu, mereka memusatkan perhatian kepada Kisra (kekaisaran Persia) dan Kaisar (kekaisaran Romawi) hingga benar benar menghancurkan dan melenyapkan keduanya. Dengan apakah?. Dengan Al Qur’an yang mulia.

Janganlah anda mengira bahwa kekuatan terletak pada besarnya badan dan kebesaran nama. Sekali kali tidak. Sesungguhnya, kekuatan itu adalah kekuatan hati, maka barangsiapa yang merasa ragu, hendaklah ia mendalami sirah Rasulullah dan kehidupan para sahabatnya.

Saudara tercinta, benarkah ingin menjadi kuat dan pemberani?. Jjika benar, berpegang teguhlah kepada Al Qur’an, taati dan hiduplah di bawah naungannya!

Baca Juga: Tujuh Faidah bagi Penghafal Al-Qur’an (1) : Allah Mencintai Para Penghafal Al-Qur’an

10 Langkah Hafal Quran (1): Ikhlas

Santri Penghafal Al-Qur’an. Photo: Istimewa.

10 Langkah Hafal Qur’an (1): Ikhlas

Al-Quran adalah firman Allah Ta’ala. Ia adalah sebaik-baik dan semulia-mulia perkataan. Allah tidak akan menganugrahkan kenikmatan menghafal al-Quran, kecuali kepada mereka yang berniat ikhlas hanya untuk diri-Nya.

Manusia yang beramal tanpa disertai niat yanga ikhlas untuk Allah maka amalannya akan seperti debu yang dihembuskan. Ia tidak mendapat pahala kecuali dengan niat yang benar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرء مانوى

Setiap amalan tergantung kepada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai apa yang ia niatkan.”(HR.Al-Bukhari)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

من تعلم العلم مما يبتعغى به وجه الله لايتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة

Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya ia niatkan untuk mendapatkan wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan dunia maka (pada Hari Kiamat) ia tidak akan mencium aroma surga.”

Cukuplah hadits ini sebagai peringatan dan ancaman bagi kita, marilah berdoa kepada Allah agar memperbaiki niat dan amalan dan menjadikan orang-orang yang ikhlas.
(Syekh Hasan bin Ahmad bin Hasan Hamam, Kaifa Tahfadzul Qur’an Fi ‘Asyi Khuthuwat, hlm. 18-20).

Tujuh Faidah bagi Penghafal Al-Qur’an(1): Allah mencintai para penghafal AL-Qur’an

Tujuh Faidah bagi Penghafal Al-Qur’an (1) : Allah Mencintai Para Penghafal Al-Qur’an

Ada beberapa faidah yang didapatkan oleh para penghafal AL-Quran, dan di antara faidah-faidah tersebut adalah Allah; Allah mencintai para penghafal al-Qur’an.

Pernakah anda mendengar hadits indah ini sebelumnya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sesumgguhnya Allah ta’ala memiliki ahli-ahli dari golongan manusia, lalu ditanyakan siapakah ahli Allah dari mereka?” beliau menjawab, “yaitu ahlul Qur’an (orang-orang yang hafal Al-Qur’an dan mengamalkannya ) mereka adalah ahli Allah (wali-wali Allah ) dan memiliki kedudukan khusus di sisi-nya .’’(terj. HR Ahmad dalam Musnad-nya dengan sanad yang hasan ).

Apakah anda mengetahui, apa makna para aolongan ahli Allah itu? Mereka adalah golongan manusia yang paling dicintai oleh Allah. Benar, Allah mencintai kalam-Nya, orang yang senantiasa menyertai dan membacanya pada siang dan malam hari serta menghafalnya dalam dada mereka.

Salah satu di antara buah kecintaan ini adalah bahwa Allah akan merahmati, membahagiakan, meridhoi, dan memasukkan mereka kedalam surganya. Demikianlah, Allah memberikan kabar gembira kepada mereka.

Pembaca bukankah andah ingin dicintai Allah? Apakah anda ingin semua orang mencintai anda, hinga sekalipun itu adalah orang yang berbeda pendapat dengan anda, hinga sekalipun itu adalah orang yang berbeda pendapat dengan anda, termasuk para ustadz, guru dan teman-teman anda di sekolah?.

Sungguh saya benar-benar merasa bahwa anda menyukai dan menginginkan hal tersebut. Dengan demikian, saya serukan, ’Ayo berpegang teguhlah pada kitab Rabbmu  dan hafalkanlah!’
Bersambung.

Tanda Orang Beriman yang Sebenarnya (2)

Pada bagian sebelumnya telah disebutkan tanda orang beriman dalam rangkaian ayat 2-3 surat Al-Anfal. Ada tiga tanda sebagaimana disebutkan pada ayat 2, yaitu (1) Jika disebut nama Allah, hati mereka bergetar, (2) Jika dibacakan ayat-ayatNya hati iman mereka bertambah, dan (3) hanya bertawakkal kepada Allah.

    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿٢﴾    الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣﴾    أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ﴿٤

Sesungguhnya orang beriman itu hanyalah mereka yang disebut nama Allah bergetar hatinya, jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya ayat itu membuat iman mereka makin bertambah, dan hanya Kepada Rabb mereka bertawakkal . Yaitu orang yang mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian (harta) yang Kami rezkikan kepada mereka. Mereka itulah orang beriman yang hakiki, dan mereka akan memperoleh kedudukan (derajat) yang tinggi di sisi Tuhan mereka, ampunan, serta rezki yang mulia” (terj. Qs. Al-Anfal ayat 2-4).

Menegakkan Shalat
Ini merupakan salah satu sifat orang beriman yang paling sering disebutkan dalam al-Qur’an dan hadits Nabi shallallau ‘alaihi wa sallam. Mendirikan atau menegakkan shalat. Bukan sekadar mengerjakan shalat. Karena yang dimaksud dengan iqamatus Shalah (mendirikan/menegakkan shalat) adalah mendirikan shalat dengan memenuhi rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, sunnah-sunnhnya, dan adab-adabnya.

Selain itu menegakkan shalat juga bermakna menunaikan shalat tersebut pada awal waktunya secara berjama’ah di Masjid dan melaksanakannya dengan khusyu’. Penunaian dan penegakkan shalat secara sempurna dengan menyempurnakan rukun, syarat,wajib, sunnah, dan adabnya serta dilakukan dengan khusyu dan tertib; waktu, cara, dan tempat diharapkan membuahkan hasil mencegah seseornag dari perbuatan keji, mungkar, dan sia-sia.

Menginfakkan Sebagian Rezki Yang Mereka Peroleh
Rezki yang dimaksud di sini tidak hanya berupa harta. Tapi termasuk di dalamnya harta, ilmu, kedudukan, dan kesehatan. Orang beriman menginfakkan kesemua itu sebagai bukti iman dan taatnya kepada Allah Ta’ala. Infaq di sini bisa mencakup yang wajib maupun yang sunnah. Karena Ibadah kepada dengan harta (‘ibadah maliyah) memiliki ragam bentuk, seperti zakat, infaq, sedekah, waqaf, hibah, hadiah, dan memberi pinjaman.

Dalam ayat al-Qur’an, ibadah maliyah seperti infaq memiliki kedudukan yang sangat utama. Dalam sebagian ayat diisyaratkan bahwa ibadah maliyah berupa zakat, sedekah, infaq, dan sebagainya merupakan ciri utama orang beriman dan bertakwa yang akan memperoleh kemulian dan pemuliaan dari Allah berupa petunjuk (hudan), rezki, al-falah (keberuntungan), yang akan berujung pada derajat yang tinggi di Surga Firdaus pada hari akhir kelak. Diantara ayat yang menerangkan hal itu adalah Surah Al-Mukminun ayat 1-11 dan Surah Al-Anfal ayat 2-4 di atas.

Ciri dan sifat orang beriman bukan hanya lima poin yang disebutkan di atas. Meski Ayat di atas ditutup dengan penegasan bahwa, “Mereka itulah orang-orang beriman yang sebenar-nya”, namun hal ini bukan untuk membatasi sifat orang beriman pada lima poin itu saja. Tapi karena kelima sifat tersebut mewakili amalan hati yang paling afdhal dan amalan anggota badan yang paling afdhal pula. Sifat-sifat mukminin dalam kelima poin di atas mencakup ibadah qalbiyah (hati), badaniyah (badan), dan maliyah (harta). Bahkan ada amalan yang menggabungkan qalbiyah, qauliyah, dan badaniyah sekaligus seperti ibadah shalat. Wallahu Ta’ala a’lam. (Mawasangka, 17-02-2015).

Artikel:  wahdah.or.id

Baca juga:  Tanda Orang Beriman yang Sebenarnya (1)