Kenapa aku selalu diuji? Allah menjawab: Sebab Kamu Mampu

Ujian akan senantiasa Allah turunkan kepada kita sebagai hamba-Nya, maka bila kamu mengaku dirimu beriman, tentu Allah akan datangkan sebuah ujian kepadamu.

Dan satu hal yang harus kamu tahu, bahwa ujian sebenarnya jalan agar dosa-dosamu dihapus. Sebab itulah mengapa kamu harus mampu bersabar dan qana’ah atas apa yang terjadi.

Maka jadikan ujian sebagai ladang penghapus dosamu, dan jangan pernah kamu mengeluhkannya dengan terus menyebut Allah tidak adil, bila tidak ingin dosamu malah bertambah.

Allah tidak akan memberi ujian kepadamu diluar batas kemampuanmu, maka bersabarlah! Karena ujian yang tengah kamu hadapi hanyalah sementara.

Sebab Allah telah berjanji dalam Alquran bahwa dibalik kesusahan akan ada kemudahan. Maka jangan pernah kamu khawatir masalah tak berakhir, karena pasti semuanya akan berakhir bila telah tiba waktunya

Kenapa aku selalu diuji? Allah menjawab: Sebab Kamu Mampu. (Humairoh/Apotek  Wahdah)

Fenita Arie Tadabbur Qur’an Bareng Da’iyah Wahdah Islamiyah di Hijrah Fest 2019

Makassar (wahdahjakarta.com) – Hari terakhir roadshow hijrah fest makassar menghadirkan Hijab squad ( fenita arie, Mulan Jamila, Bersama daiyah nasional Wahdah Islamiyah ustadzah Harisa Tipa Abidin,S.Pdi atau akarab disapa Ummu Khalid, bertempat di i Hall Celebes convention center Makassar.

Dalam majelis Hijrah khusus Muslimah didepan ribuan peserta tersebut ustadzah menyampaikan pentingnya hijrah paripurna sebagai konsekwensi dari keberislaman dan keimanan.

“ Ujian dalam proses hijrah adalah hal yang tak dapat di elakkan, baik yang sifatnya pribadi maupun yang datang dari lingkungan, Olehnya itu ustadzah Harisa Tipa mengajak Mulan dan fenita Arie untuk merenungi firman Allah dalam surah fushilat ayat 30-32

“ Orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 30-32) Mereka yang istiqomah dari ujian keimana Maka Allah Akan menjanjikan Syurga

Firman Allah: tatanazzalu ‘alaiHimul malaa-ikatu (“Maka malaikat akan turun kepada mereka.”) Mujahid, as-Suddi, Zaid bin Aslam dan anaknya berkata: “Yaitu ketika [datang] kematian, para malaikat itu mengatakan: alaa takhaafuu (‘Janganlah kamu merasa takut.’) Mujahid, ‘Ikrimah dan Zaid bin Aslam berkata: “Yaitu dari perkara akhirat yang kalian hadapi.” Walaa tahzanuun (‘dan janganlah kalian merasa sedih.’) atas perkara dunia yang kalian tinggalkan, berupa anak, keluarga, harta atau utang piutang. Karena sesungguhnya Kami akan menggantikan hal itu untuk kalian.

Wa abshiruu bil jannatillatii kuntum tuu’aduun (“Dan bergembiralah kamu dengan [memperoleh] surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”) lalu mereka diberikan kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan tercapainya kebaikan. Yaitu Allah Ta’ala memberikan keamanan dari rasa takutnya dan menyejukkan pandangan matannya, kecuali hal itu bagi seorang mukmin merupakan sesuatu yang menyujukkan jiwa, karena hidayah yang diberikan Allah kepadanya, juga karena amal yang dilakukannya di dunia.

Demikian Ummu khalid Menutup Majelis Hijrah di hijrah Fest 2019 Makassar.

Buat Apa Sih Beasiswa Hafidz Al-Qur’an? Tanggapan Untuk Ade Armando

Ade Armando mempertanyakan, “Buat Apa Sih Beasiswa Hafidz AlQuran?” Photo: Youtube

 BUAT APA SIH BEASISWA HAFIDZ AL-QUR’AN

(Tanggapan Untuk Ade Armando)

Berhari lalu beredar video Ade Armando (AA) yang mempermasalahkan kebijakan beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang menerima calon mahasiswa penghafal Al-Qur’an melalui jalur khusus. Ini bukan kali pertama AA memprotes kebijakan ini. 25 Juni Ade juga curhat di Fan Page pribadinya @adearmandosesungguhnya tentang ketidaksetujuannya terhadap kebijakan PTN yang membuka jalur khusus bagi calon mahasiswa penghafal Al-Qur’an. Bahkan sejak  tiga tahun lalu (Mei 2016) dosen Ilmu Komunikasi salah satu PTN ini telah menolak ‘’perlakuan istimewa” terhadap para penghafal Al-Qur’an.

Pada 21 Mei 2016 Ade mempertanyakan kebijakan “jalur khusus’’ bagi hafidz pada editorial madinaonline.id yang dipimpinnya melalui sebuah artikel berjudul, “Buat Apa Perguruan Tinggi Negeri Membuka Kuota bagi Penghapal Al Quran?”.

Ketidak senangan Ade pada kebijakan yang “mengistimewakan” para penghafal Al-Qur’an disampaikan kembali melalui tulisan singkat di laman FP @adearmandoyangsesungguhnya pada 25 Juni. Ia menulis:

“SAYA TIDAK SETUJU PARA PENGHAPAL AL QURAN BISA DITERIMA PERGURUAN TINGGI NEGERI MELALUI JALUR KHUSUS

Saya menghargai bahwa ada anak-anak muda yang bersedia menghapal Al Quran.

Tapi kemampuan menghapal Al Quran tidak ada korelasinya dengan kemampuan akademik seseorang.

Keunggulan para hafidz adalah mereka mampu menghapal. Itu saja.

Kemampuan menghapal Al Quran bahkan tidak ada hubungannya dengan integritas moral seseorang. Karena itu tidak sepantasnya PTN yang dibiayai rakyat menerima mahasiswa tanpa ujian hanya karena ia penghapal Al Quran.

Rupanya belum putus asa, Ade terus menampakan penolakan terhadap kebijakan yang memberikan kesempatan kepada para penghafal Al-Qur’an masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur khusus. Berhari lalu Ade mengunggah video singkat berisi protes terhadap kebijakan yang menurutnya diskriminatif dan tidak ada manfaatnya.

Menyimak penolakan dan protes A. Armando penulis menyimpulkan, alasan dia tidak setuju para penghapal Al-Qur’an diterima masuk PTN melalui jalur khusus adalah diskriminasi, integritas dan akhlaq serta kemampuan akademik. Ketiga alasan ini oleh Ade dianggap menghalangi jatah/kuota calon lain yang lebih layak dan potensial.

Ilustrasi: Santri penghafal Al-Qur’an sedang memperdengarkan (tasmi’) hafalannya

Tanggapan

Kebijakan ini diskriminatif?

Ade menyimpulkan bahwa menerima penghafal Al-Qur’an masuk PTN melalui jalur khusus merupakan bentuk diskriminasi terhadap non Islam. Karena yang bisa mengakses beasiswa atau program jalur khusus ini hanya calon mahasiswa yang beragama Islam. Calon mahasiswa non Muslim tidak dapat mengakses jalur khusus ini. Menurut Ade ini berimplikasi jatah calon mahasiswa non muslim diambil oleh calon mahasiswa muslim yang hafal Qur’an.

Sebenarnya jika Ade berpikir adil dan objektif tidak akan sampai pada simpulan, kebijakan ini diskriminatif. Karena “jalur khusus” bagi calon mahasiswa bukan hanya melalui jalur hafidz. Kampus PTN maupun PTS ada membuka jalur khusus bagi calon mahasiswa berprestasi di bidang lain, seperti olahraga/atlit (Ade juga tidak setuju), aktivis organisasi seperti pengurus OSIS, dan lain sebagianya. Di jalur ini terbuka peluang yang sama dan setara antara calon mahasiswa Muslim dan non Muslim. Kedua, Kalau mau dapat jalur khusus yang sama atau serupa, silahkan lembaga keagamaan di luar Islam mengusulkan “fasilitas” dan “kekhususan” yang sama kepada rektor PTN/PTS. Kalau perlu ke Kemenristekdikti sekalian. Minta jalur khusus masuk PTN/PTS bagi calon mahasiswa yang hafal Bibel, atau Weda, atau Kitab Suci lainnya. Jadi, soal diskriminatif clear.

Ade sendiri sepertinya ingin mengusulkan hal ini. Ia mengatakan;

“Tambahan lagi kebijakan semacam ini akan terkesan diskriminatif terhadap mahasiswa non-Islam. Kemudahan ini hanya diberikan pada siswa muslim dan sama sekali tak mungkin dimanfaatkan oleh siswa non-muslim. Kalau mau adil, seharusnya perguruan tinggi negeri ini juga memberikan kesempatan khusus bagi mahasiswa non-muslim berdasarkan penguasaan ilmu agama mereka. Kalau ini dianggap tidak masuk akal, ya begitu juga kebijakan memudahkan penghapal Al Quran ini tidak masuk di akal”. (http://www.madinaonline.id/c907-editorial/buat-apa-perguruan-tinggi-negeri-membuka-kota-bagi-penghapal-al-qurangeri-membuka-kuota-bagi-penghapal-al-quran/)

Usulan Ade tidak apple to apple, karena fasilitas jalur khusus bagi mahasiswa non muslim bukan menghafal kitab suci, tapi penguasaan ilmu Agama. Ini jelas tidak sama. Kalau syarat bagi non muslim diberlakukan bagi mahasiswa muslim, maka lebih banyak lagi dari kalangan pelajar muslim yang diterima di PTN/PTS melalui jalur khusus. Ntar Ade makin stress.

Penghafal Qur’an Tidak Layak Kuliah di Jurusan Umum di PTN/PTS?

Ade sepertinya menganggap, para penghafal Al-Qur’an tidak layak kuliah pada jurusan umum di PTN maupun PTS. Anggapan ini lahir dari sindrom sekularisme yang bercokol pada pikiran Ade. Ade terlanjur terjebak dalam dikotomi Ilmu Agama/Al-Qur’an dan Sains. Sehingga Ade pakai istilah ilmu umum, yang menurutnya penghafal Al-Qur’an tidak mampu mempelajari dan mendalaminya. Ini sangat keliru. Karena dalam Islam tidak dikenal dikotomi yang seperti ini. Sejarah telah mencatat, para Ulama, Saintis dan Ilmuwan Muslim zaman dulu hingga saat ini mengawali proses belajar dan mencari ilmu dengan menghafal Al-Qur’an. Sebutlah misalnya; Imam Syafi’i, Ibn Taimiyah, Ibn Sina, Fakhruddin Al-Razi, Ibn Khaldun, Yusuf Qaradhawi, Dr. Raghib As-Sirjani (dokter spesialis bedah tulang), dll.

Ade juga menganggap bahwa penghafal Al-Qur’an lemah secara akademik, sehingga tidak layak kuliah pada jurusan umum di PTN/PTS. Alasan ini tidak berdasar dan tidak didukung data yang jelas. Memang tidak semua penghafal Al-Qur’an itu memiliki kemampuan akademik yang sama. Tidak semuanya jenius. Tapi tidak semuanya juga ‘’bodoh” dan tidak memiliki akademik yang mumpuni. Sebagaimana di sekolah- sekolah umum yang siswanya tidak hafal Qur’an, tidak semua siswanya jenius dan layak masuk PTN/PTS di jurusan bergengsi, misalnya. Alumni sekolah/pesantren tahfidz bervariasi kualitas kemampuan akademiknya, sama seperti di sekolah umum. Alumni pesantren/sekolah tahfidza atau para hafidz ada yang jenius, memiliki kemampuan akademik yang tinggi, dan ada yang biasa-biasa saja. Umumnya yang melanjutkan ke PTN/PTS pada bidang ilmu umum atau sains adalah mereka yang memang memiliki kemampuan akademik. Para santri juga umumnya “tahu diri”. Mereka telah mengukur kemampuan mereka sejak awal dan melalukan persiapan-persiapan seperti lazimnya pelajar yang menghadapi UN dan SMPTN. Jelang UN mereka juga mengikuti pelajaran tambhan, Bimbingan Belajar, Tryout, dan persiapan-persiapan lainnya. Jadi anggapan Ade, bahwa penghafal Al-Qur’an yang diterima di PTN/PTS melalui jalur khusus memiliki kemampuan akademik yang rendah adalah tidak berdasar. Tidak berdasar data dan fakta.

Santri Penghafal Al-Qur’an sedang saling simak Hafalan. Foto: Istimewa.

Selain itu Ade juga meragukan etos kerja, etos belajar dan kedisiplinan para penghafal Al-Qur’an. Ade menulis:

“Perguruan tinggi negeri membutuhkan mahasiswa yang pintar, gigih, bekerja keras. Saya menghargai orang yang mampu menghapal Al Quran. Tapi kemampuan itu bukanlah keunggulan yang diperlukan perguruan tinggi umum. Keunggulan para penghapal Al Quran adalah menghapal. Mampu menghapal Al Quran tidak identik dengan keunggulan akademik, kepintaran atau bahkan kualitas kepribadian”. (http://www.madinaonline.id/c907-editorial/buat-apa-perguruan-tinggi-negeri-membuka-kota-bagi-penghapal-al-qurangeri-membuka-kuota-bagi-penghapal-al-quran/)

Rupanya Ade tidak tahu menahu dunia penghafalan Al-Qur’an. Seolah-olah penghafal Al-Qur’an itu bodoh/tidak pintar, pemalas/tidak gigih, dan bukan pekerja keras. Sekali lagi Ade tidak tahu dunia penghafalan Al-Qur’an. Harusnya Ade melalukan survei  terlebih dahulu ke pondok-pondok pesantren, melihat keseharian para santri. Melihat jadwal harian 24 jam para penghafal Al-Qur’an. Minimal membaca panduan menghafal Al-Qur’an. Saya ingin tegaskan pada anda pak Ade, “Pemalas, orang yang tidak gigih dan tidak disiplin tidak akan mungkin bisa hafal Al-Qur’an”. Karena menghafal Al-Qur’an membutihkan tekad yang kuat, kesabaran, kesungguhan, kegigihan, dan kerja keras. Tentu semua itu dibangun di atas niat suci Lillahi Ta’ala. Pak Ade perlu tahu, para santri penghafal Al-Qur’an itu telah ditanamkan kesadaran bahwa belajar/mencari ilmu (termasuk Kuliah)itu ibadah dan membutuhkan kesungguhan. Para santri dah paham hal ini, dan mereka telah terlatih 2-3 tahun menjalani proses belajar yang tidak biasa. Saya katakan tidak biasa, karena sebagian mereka tetap bersekolah secara normal pada saat nyantri atau menghafal Al-Qur’an. Jadi mereka sebenarnya telah terbiasa dengan beban belajar yang berat. Anda bisa bayangkan, jam 4 (bahkan ada yang jam 3) subuh sudah bangun; shalat Tahajud, membaca Al-Qur’an/mengulangi atau memperlancar hafalan sampai masuk Subuh. Usai shalat subuh mereka menghafal atau setoran hafalan sampai mata hari terbenam. Setelah itu mereka bersih-bersih. Rapikan kamar tidur sendiri, membersihkan lingkungan pondok (sesuatu yang jarang dilakukan oleh anak-anak pelajar yang tidak nyantri). Jam 7 atau 8 mereka masuk sekolah, belajar di kelas seperti lazimnya siswa sekolah. Kegiatan belajar mengajar di kelas umumnya sampai dzuhur. Bakda dzuhur kadang masih lanjut belajar di  kelas atau belajar di masjid. Kemudian istirahat siang sampai Asar. Setelah shalat asar lanjut kegiatan tahfidz sepeti muraja’ah (Mengulangi hafalan) atau kegiatan ekstra kurikuler. Setelah Maghrib-Isya ngaji lagi atau belajar kitab kuning. Setelah makan malam masih belajar lagi atau menyiapkan hafalan. Rutinitas seperti ini mereka jalani selama 3 tahun. Bahkan ada yang enam tahun (jika mondok sejak SMP) menjalani rutinitas seperti ini di  bawah arahan dan bimbingan para guru dan ustadz yang ikhlas dan sungguh-sungguh. Tentu saja hal ini membentuk habit dan karakter  positif para santri penghapal Al-Qur’an. Sehingga ketika seorang santri menamatkan hafalan Qur’annya ia telah melewati proses belajar yang disertai kerja keras dan kedisiplinan yang luar biasa.

Kepribadian dan Akhlaq Penghapal Qur’an Belum Tentu Keren?

Selain meragukan kemampuan akademik para calon mahasiswa penghapal Qur’an Ade juga mendelegitimasi akhlaq dan kepribadian para calon mahasiswa penghapal Qur’an. Ia katakan bahwa, “Mampu menghapal Al Quran tidak identik dengan keunggulan akademik, kepintaran atau bahkan kualitas kepribadian”. (http://www.madinaonline.id/c907-editorial/buat-apa-perguruan-tinggi-negeri-membuka-kota-bagi-penghapal-al-qurangeri-membuka-kuota-bagi-penghapal-al-quran/”.

Benar bahwa kemampuan menghapal akademik tidak identik dengan keunggulan akademik, kepintaran, dan kualitas kepribadian. Sekali lagi Ade, terlalu memaksakan bahwa seolah-olah santri hafidz yang masuk PTN dan PTS di jurusan umum hanya bermodalkan hafalan tanpa kemampuan akademik dan  kualitas kepribadian sama sekali. Umumnya santri hafidz yang masuk ke jurusan umum di PTN, PTS, maupun PTI adalah mereka yang memiliki keunggulan akademik, pintar dan memiliki kualitas kepribadian serta akhlaq yang bagus. Dalam proses menghafal Al-Qur’an para santri juga mendapatkan pembinanan adab, akhlaq, dan karakter. Mereka belajar Adab dan etika akademik melalui kitab-kitab Adab seperti Ta’lim Muta’allim (Al-Zarnuji), Tadzkirat al-Sami’, Adab al-‘Alim Wa Muta’allim (Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari), dan sebagainya. Mereka juga belajar adab penghafal dan pengemban Al-Qur’an secara khusus melalui kitab At-Tibyan fi Adab Hamala til Qur’an (Imam Nawawi), Akhlaq Hamalatil Qur’an (Al-Ajuri), dan lain sebagainya. Demikian pula dengan pendidikan karakter. Pondok pesantren, termasuk pesantren penghafal Al-Qur’an identik dengan pendidikan Adab, Akhlaq, dan karakter. Dan pendidikan adab, akhlaq, serta karakter di pesantren tidak hanya melalui teori, tapi melalui praktik langsung dan keteladanan. Proses internaliasi karakter dan kepribadian yang baik terjadi secara langsung melalui keteladanan dan interaksi langsung dengan Kyai, guru, ustadz, senior/kakak kelas. Para guru dan ustadz selalu memberikan arahan dan nasehat jika seorang santri melalukan perbuatan yang menyelisihi adab dan akhlaq.

Meskipun demikian tentu tidak dipungkiri, ada saja santri atau penghapal Al-Qur’an yang memiliki aib dan kekurangan dalam aspek akhlaq dan kepribadian. Akan tetapi hal ini bukan alasan yang tepat menganggap bahwa hafidz Qur’an tidak layak masuk PTN melalui jalur khusus karena belum tentu akhlaqnya baik. Karena calon mahasiswa lainnya yang bukan hafidz Qur’an belum tentu semuanya memiliki akhlaq yang baik dan kepribadian yang berkualitas. Bahkan sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bahwa problem pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan umum adalah krisis akhlaq dan karakter. Sehingga tidak sedikit orang tua yang memilih mengirim putra-putri mereka ke pesantren, termasuk pesantren Tahfidz untuk menghindarkan anak dari akhlaq yang buruk. Mereka berharap, di pesantren anak terdidik dengan adab dan karakter yang baik.

Kesimpulannya adalah penolakan dan ketidak setujuan Ade terhadap kebijakan PTS/PTS yang membuka jalur khusus bagi mahasiswa penghapal Al-Qur’an tidak berdasar. Alasan yang dikemukakan terkesan dipaksakan, serta tidak didukung oleh data dan fakta. Pak Ade sepertinya tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman secara utuh tentang dunia penghafalan Al-Qur’an. Tidak tahu ‘’hafidz’’ yang bagaimana yang masuk jurusan umum di PTN dan PTS. Dia menganggap santri hafidz Qur’an semuanya bodoh, tidak memiliki kepintaran, dan keunggulan akademik serta akhlaq dan kepribadian yang baik. Kesalahpahaman ini sepertinya bercokol dalam pikiran Ade. Sehingga menanggapi “jalur khusus bagi hafidz” untuk kuliah di PTS dan PTS dengan sikap nyinyir dan apriori. Saya sarankan, Pak Ade sebaiknya cari tahu lebih dalam tentang dunia tahfidz Al-Qur’an, agar tidak salah paham. Lebih baik lagi jika Ade, melalukan observasi secara mendalam ke pesantren-pesantren dan sekolah-sekolah Tahfidz. Agar anda lihat langsung bagaimana kerja keras dan kedisiplinan serta kesungguhan para santri tahfidz dalam belajar dan mencari ilmu. (Syamsuddin)

Bogor, 07 Okt 2019

Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor Gelar  Penamatan dan Wisuda Hafalan

(Bogor) Wahdahajakrta.com-, Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor menggelar penamatan  wisuda hafalan angkatan II pada 15 Ramadhan 1440 H, Senin (20/05/2019).

Selain dihadiri para orang tua/wali santri wisuda angkatan ke. 2 ini juga turut dihadiri tokoh masyarakat, tokoh Agama, dan pemerintah setempat. Tampak hadir Ketua MUI Kecamatan Cibinong, KH. Endang Mathin, Lurah Pakansari, Asnari, Babnisa Kelurahan Pakansarai Suryana, dan tokoh lainnya.

Dalam sambutannya Asnari menyampaikan apresiasi dan support kepada pesentren Tahfidz (SMP-SMA) Al-Qur’an Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor.

Alumni Angk. II Pesantren Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor (Tingkat SMA) berfoto bersama Pimpinan Pondok, Ketua MUI Ke. Cibinong, Lurah Pakansari, dan Kepala SMAQu WI Usai prosesi wisuda dan penamatan angk.II, Senin (20/05/2019)

“Sangat bangga dengan hadirnya pesantren Wahdah Islamiyah ini, yang merupakan pesantren ke 9 di kelurahan Pakasari karena bisa memberikan kontribusi buat masyarakat  yang tinggal di daerah” , ujarnya.

“Wisuda Ke.2 kali ini, ada peningkatan jumlah yang di Wisuda, Yaitu untuk tingkat SMA sebanyak 8 santri, dan untuk tingkat SMP ada 9 santri. Dibandingkan tahun lalu, wisuda angkatan pertama tahun lalu, hanya sebanyak 4 santri  SMA”, ujar Muhammad Hamka, Kepala SMPQu Wahdah Islamiyah.

Santri Tahfidz Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor (tingkat SMP) berfoto bersama Pimpinan pondok, Lurah Pakansari, Ketua MUI Kec. Cibinong, dan Kepala SMPQu WI usai wisuda

“Alhamdulillah sebagian besar santri menyelesaikan hafalan sesuai target, SMA 30 juz dan SMP 30 juz”, ucap pimpinan pondok Ustadz Syamsuddin menambahkan.

Dalam acara Wisuda ini, ditampilkan,beberapa selingan dari santri, Diantaranya nasyid, peragaan beladiri, dan drama ucapan pesan dan kesan dari para santri dari kelas XII yang tamat tahun ini. *AA [].

Tanya Jawab Fiqh Puasa (13): Ciuman Suami istri, Membatalkan Puasa?

Ciuman Suami istri, Membatalkan Puasa?

Pertanyaan : Apakah batal jika kita mencium istri pada bulan Ramadhan ? (Guntoro, Lampung Selatan)

Jawaban:

Ciumuan antara suami istri pada siang hari bulan Ramadhan tidak membatalakn puasa. Oleh karena itu hukumnya boleh. Namun kebolehan ini hanya berlaku bagi mereka yang mampu mengendalikan syahwatnya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal ini. Namun beliau merupakan manusia yang paling mampu mengendalikan syahwatnya.

Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan;

“كانَ النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُ وَهُو صائمٌ ويُباشرُ وهُوَ صائمٌ، ولكنه أَمْلَكَكُمْ لإرْبِهِ” مُتّفقٌ عليه واللفظٌ لمسلم، وزاد في روايةٍ “في رَمَضَان”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa, dan beliau juga mencumbui (istrinya) saat puasa, tapi beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan hasratnya”. (Muttafaq ‘alaih). Dalam redaksi lain, “Pada bulan Ramadhan”.

Hadits ini merupakan dalil bolehnya mencium istri atau bermesraan dan bercumbu saat berpuasa, dengan syarat ciuman dan cumbuan tersebut tidak sampai menggerakkan syahwat. Artinya kebolehan ini tidak berlaku secar mutlak. Boleh bagi yang dapat mengendalikan nafsunya seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapaun bagi mereka yang mudah bergejolak syahwatnya atau masih muda, hendaknya tidak melakukan hal tersebut.  Karena dikhawatirkan berlanjut kepada hubungan badan yang membatalkan puasa. []

===

Pembaca yang ingin bertanya dapat menyampaikan pertanyaan via Whatsapp ke narahubung “Tanya Ustadz”:  0813 7848 2598, dengan cara ketik Nama/Alamat/Pertanyaan.

Kultum Tarawih: Meraih Syafa’at Puasa dan Al-Qur’an

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah, Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 285;

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an” (QS. Al-Baqarah : 185)

Aِyat lain yang menerangkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan adalah surah al-Qadr ayat 1 dan ad-Dukhan ayat 3:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ [٩٧:١

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (Qs al-Qadr:1).

حم [٤٤:١] وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ [٤٤:٢]إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ [٤٤:٣

Haa miim. Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. (Qs. Ad-Dukhan:1-3).

Oleh karena itu bulan Ramadhan disebut pula sebagai bulan Al-Qur’an (Syahrul Qur’an). Bahkan pewajiban dan pensyariatan puasa pada bulan Ramadhan dikaitkan dengan peristiwa diturunkannya la-Qur’an pada bulan tersebut. Dimana setelah menyatakan, Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an, barulah Allah perintahkan kewajiban berpuasa pada ayat 185 surah Al-Baqarah.

Sehingga puasa dan  Al-Qur’an  ibarat saudara kembar. Keduanya akan datang sebagai pemberi syafa’at pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ

 “Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429]

Syarat utama meraih syafa’at Al-Qur’an adalah dekat dengan Al-Qur’an, baik membaca, mempelajari, memahami, dan mengamalkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat memberi syafa’at kepada para sahabatnya (pembacanya).

 

Oleh sebab itu pula salah satu amalan utama yang ditekankan pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini adalah menyibukkan diri dengan Al-Qur’an; membaca (tilawah), mempelajari (tadarus), menghafal (tahfidz), dan merenungkan (tadabbur).

Para Salafus Shaleh dahulu selalu menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Sebagian diantara mereka mengkhatamkan Al-Qur’an dalam Shalat tarawih setiap tiga malam. Sebagian lagi setiap tujuh malam sekali.

Utsman bin Affan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari pada bulan Ramadhan. Imam Syafi’i mengkhatamkan dua kali sehari di luar Shalat dalam bulan Ramadhan. Al-Sawad setiap dua hari. Qatadah setiap tujuh hari di luar Ramadhan. Sedangkan pada bulan ramadhan setiap tiga hari. Dan pada sepuluh malam terakhir setiap hari sekali khatam. Mereka benar-benar menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an.  []

Al-Qur’an, Teman Yang Tidak Akan Mengecewakanmu

Jika engkau ingin mencari teman yang tidak akan mengecewakan, maka bertemanlah dengan al-Qur’an. Jika engkau telah berteman dengannya, maka ia akan selalu memberi manfaat untukmu di dunia hingga ke akhirat dan tak akan mengecewakanmu, sedikitpun.

Di dunia ia akan menjadi penunjuk hidupmu, mengaturmu, mengingatkanmu akan sesuatu yang berbahaya untukmu, menyucikan jiwamu bahkan ia akan menarikmu dari jalan yang salah dengan cara yang lembut.

Syaikh Dr. Ahmad Isa al-Ma’shrawi –nafa’allahu bihi al-ummah–  berkata:

الذين يعيشون مع القرآن تلاوة وحفظا ينفردون بخاصية رائعة فهم كلما استمالتهم الدنيا حبذهم القرآن إليه بلطف فعادوا تائبين

Orang-orang yang hidup bersama al-Qur’an baik dengan sekedar membacanya atau dengan menghafalkannya memiliki karakteristik yang unggul dan sangat indah. Setiap kali dunia melalalikan mereka, maka al-Qur’an akan menariknya kepadanya dengan lembut hingga mereka kembali taubat kepada Allah“.

Al-Qur’an juga akan menjadi ladang pahala setiap kali engkau membacanya. Baik lancar ataupun tidak lancar. Setiap hurufnya adalah 10 nilainya.

Al-Qur’an akan mengobati hatimu yang sakit bahkan jika hatimu telah mati. al-Qur’an betul-betul memperhatikanmu, untuk kebaikan hidupmu seluruhnya.

Itu di dunia.

Setelah engkau meninggal dunia, al-Qur’an juga tidak akan mengecewakanmu insya Allah. Seluruh pahala bacaan al-Qur’anmu ketika hidup dan seluruh amal salehmu akan berubah menjadi seseorang yang sangat indah rupawan untuk menemanimu di dalam kuburmu. Engkau tidak akan sendirian di dalam kubur insya Allah.

Itu di dalam kubur.

Pada hari pembalasan nanti, al-Qur’an akan datang padamu untuk memberi syafa’at padamu. Ia tidak akan membiarkanmu masuk neraka. Ia akan menolongmu pada hari yang amat genting itu. Hari dimana manusia sangat butuh dengan syafa’at, hari yang perbandingannya 1:50.000 tahun. Sehari di sana, sama dengan 50.000 tahun di dunia.

Ketika engkau telah masuk surga, ia tidak meninggalkanmu. Ia kembali datang hingga berkata kepada Allah, “Hiasilah dia”. Maka engkaupun akan dipakaikan mahkota kemuliaan. Begitu informasi Nabi kepada kita.

Tidak hanya itu, tingkatanmu di surga nanti adalah sesuai akhir ayat yang engkau baca insya Allah.

Karena itu bersahabatlah dengan al-Qur’an. Bacalah ia setiap hari. Jangan biarkan harimu berlalu tanpa membacanya. Sebab ialah teman yang tidak akan mengecewakanmu.

Teman seperti apa yang lebih baik dari al-Qur’an?

(Muhammad Ode Wahyu)

Seru, Begini Cara  Wahdah dan KWQA  Dekatkan Al-Qur’an Kepada Masyarakat

Ilustrasi: Santri Penghafal Al-Qur’an

(Soreang) wahdahjakarta.com -, Wahdah Islamiyah (WI) bekerjasama dengan Komunitas Wakaf Qur’an (KWQA) Adventure (WQA) menyelenggarakan Camping Qur’an di Madarikul Huda Kampung Cigoong RT 02 RW 05 Desa Mekarsari, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu-Ahad (15-16/12/2018).

Kegiatan camping dimaksudkan untuk mengajak masyarakat Desa yang awalnya malas untuk membaca al-Qur’an kemudian diajak untuk ikut dalam kegiatan tersebut utamanya bagi usia remaja.

Menurut Ketua KWQA Jawa Barat, Irfan Cahaya G, lembaganya  merupakan komunitas sosial yang memiliki cita-cita dan harapan tinggi untuk mewujudkan visi dan misi mendekatkan masyarakat kepada al-Qur’an.

“Beberapa proyek yang kami selenggarakan bernuansa islami, adapun beberapa kegiatan yang telah kami jalankan yakni penyebaran al-Quran, sharing metode menghafal al-Quran dan terapi hijama. Komunitas ini memiliki sejuta harapan untuk membangun masyarakat yang agamis dipelosok negeri,” ujarnya.

Beberapa rangkaian kegiatan yang diusung seperti Qur’an Camp, Tabligh Akbar, Tebar Al-Qur’an dan Memanah.

“Jadi kita disini semacam tadabur alam. Tapi kami kemas sedemikian rupa agar menarik sehingga kegiatannya tidak membosankan,” imbuhnya menjelaskan.

Ia mengharapkan kegiatan ini memberikan motivasi untuk mengisi aktivitas pada  hari-hari selanjutnya dengan aktivitas kebaikan.

Kegiatan Qur’an Camp adalah program pembelajaran al-Qur’an secara intensif. Selama dua hari para peserta akan diajak untuk berinteraksi lebih dekat dengan al- Qur’an. Target utama yang hendak dicapai dalam kegiatan ini adalah bertambah dan terjaganya hafalan al-Qur’an para peserta. Namun program khusus tahsin diberikan sebelum para peserta mulai menghafal.

Selain menghafal dan melaksanakan muroja’ah, para peserta juga akan mendapatkan beberapa motivasi dan pelatihan teknik menghafal dengan baik dan benar sehingga kedepan, akan lebih banyak lagi generasi muda di tiap Desa se Jawa Barat yang mencetak hafizh dan hafizah.

Para peserta selain fokus menghafal dan memperdalam ilmu agama, mereka juga melakukan aksi bersih-bersih masjid.

“Alhamdulillah kami bersyukur atas adanya program Qur’an Camp ini, kami berharap program ini menjadi berkesinambungan tidak hari ini saja, dan terimakasih sudah memberikan kami al-Qur’an,” kata Baban, salah seorang tokoh masyarakat yang hadir.

Donasi program wakaf al-Qur’an anda dapat dikirim ke Rek.759 900 900 5 Bank Mandiri Syariah a.n. Lazis Wahdah Wakaf. Untuk amanah pencatatan tambahkan angka 380 di belakang nominal donasi anda, contoh : Rp. 2.000.380, konfirmasi transfer via WA/SMS ke 085315900900. []

Hafidz Cilik Ahmad dan Kamil Tampil Memukau di Ummat Fest, Peserta Menitikkan Air Mata

Salah satu peserta Ummat Fest 2018 memberikan hadiah madu kepada dua hafidz cilik Ahmad dan Kamil, Makassar, Sabtu (15/12/2018)

(Makassar) wahdahjakarta.com — Dua hafidz cilik, Muhammad Ghozali Akbar alias Ahmad (10 tahun) dan Kamil Ramadhan (11 tahun) membuat peserta Ummat Fest 2018 menitikkan air mata, Sabtu (15/12/2018).

Kedua bocah yang baru saja tampil pada MTQ internasional di Moscow, Rusia itu tampil memukau berbagi inspirasi pada Ummat Fest 2018 yang digelar di Celebes Convention Center (CCC), Tanjung Bunga, Makassar.

Mereka tak hanya hafal Alquran 30 juz. Karunia yang tak dimiliki kebanyakan hafiz adalah kemampuan dalam mengingat halaman, nama surah, nomor ayat, serta posisi ayat dan halaman dengan sangat detail.

Saat tampil dalam dialog sore, Ahmad dan Kamil sempat diuji beberapa ustaz peserta Ummat Fest. Salah satunya Ustaz Muhammad Jus’am, pengurus DPP Wahdah Islamiyah sekaligus pendiri Pesantren Tahfidzul Quran Umar bin Khattab, Moncongloe, Maros.

Ustaz Jus’am meminta keduanya membacakan ayat pada halaman 240 dan nama surah yang posisinya paling atas. Tanpa berpikir lama, Ahmad dan Kamil langsung membacakan ayat dimaksud dan menyebutkan nama surah serta nomor ayatnya.

Terjemahannya, “Dan aku mengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishaq, Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak bersyukur.” (QS. Yusuf: 38)

Tak sekadar bisa menyebutkan ayatnya. Suara Ahmad dan Kamil juga amat indah dengan tajwid yang benar. Itu membuat banyak peserta Ummat Fest terharu hingga tak kuasa menahan air mata.

Ustaz Jus’am yang juga owner Madu Malinota itu lalu memberikan ujian kedua. Dia meminta Ahmad dan Kamil membacakan ayat paling atas pada 40 halaman setelahnya. “Insya Allah,” sahut Ahmad dan Kamil serempak.

Saat Ustaz Jus’am masih membuka sambil menghitung lembar demi lembar Alquran hingga halaman ke-40, Ahmad dan Kamil tampak santai. Begitu Ustaz Jus’am ketemu halaman ke-40, Ahmad dan Kamil langsung membacakannya. Luar biasa.

Terjemahan ayat tersebut, “(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap orang datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi setiap orang diberi (balasan) penuh sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).”

Setelah membacakan ayatnya, Ahmad dan Kamil langsung menyebutkan nama surah dan nomor ayatnya yang ternyata Surah An Nahl ayat 111. An Nahl berarti lebah, penghasil madu. Ustaz Jus’am pun menghadiahkan mereka madu, termasuk kepada pendampingnya Ustaz Ike Muttaqin.

Beberapa peserta makin tak kuasa membendung air mata. Betapa tidak, bisa jadi ini adalah ujian terberat karena diminta membacakan 40 halaman setelahnya. Dan tanpa berpikir panjang, Ahmad dan Kamil langsung menyebutkannya. Selama ini, dia lebih banyak dites 3-7 halaman setelah atau sebelumnya.

Seorang akhwat atau perempuan peserta Ummat Fest juga diberi kesempatan menguji kedua hafiz cilik ini. Dia meminta dibacakan ayat kedua dari atas pada halaman ke-311. Ayat itu juga langsung dibacakan secara lugas.

Begitu pula ketika diminta membacakan ayat keenam dari bawah pada tiga halaman sebelumnya. Lagi-lagi, Ahmad dan Kamil membuat peserta Ummat Fest 2018 terkesima. Sungguh, Allah subhanahu wata’ala memberikan karunia yang luar biasa kepada kedua anak tersebut.

Sebelumnya, Ahmad dan Kamil juga sempat tampil di pengujung tablik akbar yang menghadirkan dua pemateri, Ustaz Muhammad Zaitun Rasmin dan Ustaz Bachtiar Nasir. Keduanya bergantian menguji Ahmad dan Kamil.

Ustaz Bachtiar Nasir menguji mereka untuk membacakan tiga ayat dalam Alquran yang mengandung kata “anittum”. Kali ini mereka berbagi. Ahmad yang membacakan ayatnya, sementara Kamil yang menyebut nama surah dan nomor surahnya. Subhanallah.

Seperti biasa, Ahmad dan Kamil datang ke Makassar didampingi gurunya sekaligus ayah asuh, Ustaz Ike Muttaqin. Keduanya masih akan tampil pada hari terakhir Ummat Fest, Minggu (15/12/2018). Namun, acara tersebut diperuntukkan khusus akhwat atau perempuan. (rakyatku.com).

Harta Tak Dibawa Mati

Harta Tak Dibawa Mati

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (Qs. Luqman:33)

Tafsir dan Penjelasan

Allah Subahanu wa ta’ala memperingatkan manusia terhadap hari berbangkit dan memerintahkan kepada mereka untuk bertakwa kepada-Nya, takut kepada-Nya, dan khawatir menghadapi hari kiamat, karena pada hari itu:

{لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ}

seorang bapak tidak dapat menolong anaknya. (Luqman: 33)

Yakni seandainya seorang bapak hendak menebus anaknya dengan dirinya, pastilah permintaan tebusannya itu ditolak. Demikian pula halnya seandainya seorang anak bermaksud menebus bapaknya dengan dirinya, tidak diterima pula.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala kembali menasihati mereka melalui firman-Nya:

{فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا}

maka jangan sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu. (Luqman: 33)

Maksudnya, jangan sekali-kali membuat dirimu terlena kerena hidup tenang di dunia hingga melupakan negeri akhirat.

{وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ}

dan jangan pula penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah. (Luqman: 33)

Jangan pula kamu biarkan setan memperdayakanmu. Demikianlah menurut pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak, dan Qatadah; karena sesungguhnya setan itu selalu memperdayakan manusia, menjanjikan dan memberikan angan-angan kepadanya. Padahal tiada sesuatu pun dari apa yang dijanjikan setan itu terpenuhi, bahkan sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

{يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلا غُرُورًا}

Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An-Nisa: 120)

Wahb ibnu Munabbih telah mengatakan bahwa Uzair alaihis salam pernah berkata, “Ketika aku menyaksikan musibah yang menimpa kaumku, maka kesedihanku makin berat, kesusahanku bertambah banyak, dan tidak dapat tidur. Maka aku memohon kepada Tuhanku dengan merendahkan diri kepada-Nya, mengerjakan salat dan puasa, dan selama kujalani hal itu tiada henti-hentinya aku menangis. Tiba-tiba datanglah malaikat kepadaku, lalu aku bertanya kepadanya, ‘Ceritakanlah kepadaku, apakah arwah orang-orang yang siddiqin (beriman) dapat memberikan syafaat (pertolongan) kepada arwah orang-orang yang zalim, atau para bapak dapatkah memberi syafaat kepada anak-anak mereka?’ Malaikat itu menjawab,

‘Sesungguhnya hari kiamat adalah hari keputusan peradilan dan kekuasaan yang maha menang, tiada kemurahan padanya dan tiada seorang pun yang dapat berbicara kecuali dengan seizin Tuhan Yang Maha Pemurah. Seorang bapak tidak dapat dihukum karena dosa anaknya, begitu pula seorang anak tidak dapat dihukum karena dosa orang tuanya, dan seseorang tidak dapat dihukum karena dosa yang dilakukan saudaranya, dan seorang budak tidak dapat dihukum karena dosa majikannya. Tiada seorang pun yang diperhatikannya melainkan hanya dirinya sendiri, tiada seorang pun yang bersedih hati karena kesedihan orang lain, dan tiada seorang pun yang merasa kasihan kepada orang lain. Masing-masing orang di hari kiamat hanya kasihan kepada dirinya sendiri. Tiada seseorang pun yang dihukum karena kesalahan orang lain; setiap orang disibukkan oleh kesusahannya sendiri, menangis karena kesalahannya sendiri, dan ia hanya memikul dosanya sendiri, dan tidak dibebankan kepada seseorang dosa orang lain, ia hanya menanggung dosanya sendiri’.” Riwayat Ibnu Abu Hatim.

(Sumber: Tafsir Ibnu Katsir)