Sebab-Sebab Lemahnya Iman

Berbicara tentang islam, tentu semua kita termasuk para muslim yang sama-sama in syaa Allah diberkahi dan dinanti-nanti oleh Rasulullah di pintu surga nantinya, yang bersaksi bahwa tidak ada illah yang patut disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, dan Rasulullah Muhammad salallahu ‘alaihi wasallam adalah Rasul (utusan) yang dianugerahkan Allah kepada kita semuanya.

Tapi, apakah semua kita beriman? dan apakah iman kita tersebut sudah bisa disebut iman yang masuk kriteria yang ditentukan Allah? jawabannya, wallahu a’lam bishawab, karena kita ga tau isi hati kita, kita tidak tahu apa yang dibaca oleh Allah dalam hati kita. Karena cuma Allah-lah yang bisa baca isi hati kita. Manusia itu kodratnya buta, buta dalam hal memperhatikan apa yang memang disuratkan Allah bahwa ia tak mampu melihatnya, seperti hal-hal yang ghaib, maupun isi hati. Memang manusia adalah sebaik-baik bentuk dan makhluk yang paling dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sampai malaikat saja diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepada nenek moyang kita, yakni Nabi Adam ‘alaihissalam, tapi bukan berarti kita merupakan makhluk yang sempurna, kita jauh sekali dari kata itu. Karena kita ditakdirkan tidak luput dari khilaf dan lupa.

Seperti halnya dalam sebuah perjalanan yang pasti ada aja hambatan yang harus perbaiki dulu , begitupun saat kita sedang dalam masa perbaikan iman, misalya dalam proses hijrah, kadang ada yang menjanggal kita dalam proses tersebut, apa saja itu?

  1. Kurang Ikhlas

Allah berfirman :

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

Ayat ini menerangkan seterang-terangnya bahwa ketika kita menyatakan bahwa kita merupakan hamba Allah yang beriman, maka kita harus menyempurnakan niat kita terlebih dahulu untuk memiliki harta berharga yang disebut iman tersebut, karena iman tidak akan datanng atau tidak akan kita peroleh kalau kita beriman bukan untuk Allah subhanahu wa ta’ala, padahal jelas kalau iman yang pertama adalah menyempurnakan tauhid kita kepada Allah, Sang Pemilik jiwa dan raga kita. keikhlasan yang dimaksud disini adalah menyempurnakan tauhid itu tadi dalam menjalankan syariat yang telah ditetapkan Allah subahahu wa ta’ala.

Lalu Allah langsung menyinggung soal shalat pada ayat ini, artinya ketika kita masih ada keterpaksaan dalam mendirikan shalat, atau menganggap shalat itu hanya sebatas rutinitas, bukan prioritas, maka ini juga tergolong tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beribadah kepada Alla azza wa jalla. Lalu setelah shalat, Allah menyinggung lagi masalah zakat, tentunya juga termasuk infaq & sedekah. Hal ini juga pasti memerlukan keikhlasan dalam melakukannya, tanpa keikhlasan, semua yang sudah kita berikan di jalan Allah itu adalah sia-sia, dan apabila ada sedikit saja kedongkolan atau kekhawatiran dalam hati kita kalau harta kita nanti akan berkurang, maka hati-hati, ini juga tanda-tanda kalau kita Kurang Ikhlas dalam beribadah, apalagi kalau ditambah lagi bumbu riya’ sebagai penyedap, makin habis pahala kita tersebut.

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah besabda “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan (ganjaran perbuatannya) sesuai apa yang telah ia niatkan”

Imam An Nawawi mengatakan disini bahwa hadits tersebut shahih dan sudah disepakati keshahihannya dan beliau juga berpendapat bahwa hadits ini juga disepakati sebagai salah satu hadits yang keutamaannya sangat besar serta merupakan salah satu hadits yang menjadi dasar-dasar islam. Jadi jelas, bahwa niat yang ikhlas adalah salah satu kunci bahwa kita memiliki iman yang teguh. Mulai sekarang, coba perbaiki niat kita, barangkali ada ibadah-ibadah yang selama ini kita anggap enteng niatnya karena sudah kebiasaan, misalnya shalat, karena malu sama orang tua, suami, atau tetangga, jadi kita shalat karena malu nanti diomongin tetangga karena ga shalat, atau malu karena beragama islam tapi ga shalat, ubah niat yang begitu, jadikan shalat adalah kebutuhan kita, jadikan shalat menjadi tempat curhat kita sama Allah, apalagi di sepertiga malam, enak banget tuh buat curhat sama Allah, karena ga ada yang dengar kecuali Allah.

  1. Konsistensi Emosional

Setiap manusia pasti punya perasaan atau emosi dan akal sehat, kecuali manusia yang udah dicabut sama Allah kewarasannya, tapi kadang manusia itu sebagian tenggelam dalam lautan emosi sampai tidak memiliki sikap bijaksana yang menyebabkan kebuntuan dalam berfikir, kondisi seperti ini yang menyebabkan seseorang mudah melakukan kesalahan dan meninggalkan kebenaran. Artinya kalau kita lagi emosi pasti kita bakal gampang mengambil suatu tindakan yang gegabah, makanya Rasulullah melarang kita membuat keputusan kalau kita berada dalam puncak emosi atau sedang dalam keadaan marah dan memberi petunjuk kepada kita ketika menghadapi kemarahan, salah satunya dengan diam.

وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.

(HR. Ahmad)

Karena manusia cenderung mengambil keputusan yang kurang tepat kalau dia sedang dalam keadaan marah. Inilah kondisi yang dialami oleh sebagian orang yang bersikap konsisten secara emosional (perasaan) yang bukan karena keinginannya sendiri atau kesadaran, orang ga bakal sadar kalau sedang mengambil keputusan yang salah kalau sedang marah, yang ada di fikirannya hanya bagaimana menghancurkan musuhnya, bagaimana caranya agar hal yang membuatnya marah tersebut segera hancur.

Terkadang sikap konsisten semacam ini timbul karena dipengaruhi suatu nasihat atau sugesti yang ia dengar sehingga hal tersebut mampu mempengaruhi dirinya baik secara mental maupun fisik. Dan pengaruh semacam itu bersifat sementara serta mudah hilang, biasanya akan diikuti oleh penyesalan karena sudah mengambil tindakan yang salah.

  1. Kecenderungan Kepada Apa Yang Telah Berlalu

Kadang kita suka iri sama apa yang didapatkan oleh teman kita yang jalan hidupnya tidak sama dengan yang kita lalui saat ini,  yang dahulunya merupakan orang yang sama-sama dengan kita dikala kita belum hijrah, dan ketika kita sudah hijrah serta sudah tahu mana yang haram dan dilarang agama, maka kita melihat adanya “kebebasan” yang didapatkan oleh teman kita tersebut disebabkan ketidaktahuannya dalam syariat, terlihat seperti hidupnya lebih bebas, karena masa bodoh dengan syariat Allah. Tapi pada dasarnya bukan begitu, justru kita yang lebih bebas, kenapa? karena dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah kepada kita, dengan pengetahuan kita terhadap hukum-hukum yang ditetapkan Allah kepada kita sebagai umat muslim, maka semakin bebas pula kita dari dosa, maksiat, dll. Dan semakin bebas pula kita dalam berjalan lurus ke arah ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketika seseorang hendak bersikap konsisten, pasti tiba-tiba ia merasakan suatu perpindahan dalam hidupnya, dimana pada masa lalu ia hidup dengan penuh maksiat kepada Rabb-nya, dipermainkan setan dan penuh keguncangan dalam hidupnya, kemudian ia berpindah (hijrah) menuju kestabilan rohani dan ketentraman. Keguncangan itu wajar, karena Rasulullah saja sering dicegat oleh kamu kafir Quraisy ketika hendak hijrah ke madinah, tidak sedikit umat Rasulullah yang disiksa bahkan dibunuh ketika diketahui bahwa ia akan meninggalkan kota Mekah bersama Rasulullah, makanya Rasulullah terpaksa mengambil jalan memutar dari pintu Mekkah yang terdekat dengan Madinah, karena pintu tersebut dikawal oleh kaum kadir Quraisy. Begitu dengan kita sekarang, pasti ada hambatan, pasti ada pemikiran bahwa ada perbedaan yang amat jauh antara kehidupan kita di masa lalu yang penuh dengan maksiat dengan kehidupan kita yang sekarang.

Ketika pada suatu masa, kita teringat pada masa lalu tersebut, sahabat-sahabat kita dan berbagai prilaku kita yang terbilang “bebas” ketika bersama mereka, dan kemudian kita mencoba melepaskan tali kekang pikiran kita untuk menelusuri dan mencoba mengilang masa lalu yang kita bilang “indah” tersebut, disinilah iman kita diuji, karena sikap semacam ini bisa saja membahayakan iman kita dan mengancam keistiqamahan kita dalam proses perubahan dan secara tidak langsung telah memberi peluang kepada syaitan untuk melancarkan serangannya kepada kita berupa tipu daya serta permainan sampai kita berfikir untuk meninggalkan proses hijrah kita tersebut. Inilah yang patut kita waspadai karena hal ini sangat rawan terjadi dalam proses-proses hijrah kita hari ini, maka dari itu, kurangi melihat apa yang dimiliki orang lain.

Rasulullah bersabda dalam hadits kitabul jami’ hadits ke-2 :

أُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ عَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada yang dibawah kalian dan janganlah kalian melihat yang diatas kalian sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kalian”.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Maka, kurangi memandang indah dosa-dosa yang sudah kita buat pada masa lampau, perbanyak istighfar ketika kita melihat bahwa kita pernah melakukan dosa tersebut di masa lalu, dan bersyukurlah terhadap apa yang sudah kita milik saat ini, karena hidayah itu mahal, dan hanya diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman dan mampu mempertahankan keimanannya.

Asmaul Husna [31]: Al-Lathif (Yang Maha Lembut)

Al-Lathif (Yang Maha Lembut)

Asmaul Husna [31]: Al-Lathif (Yang Maha Lembut)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Sesungguhnya tuhanku maha lembut terhadap apa yang dia khendaki. Sesungguhnya dialah yang maha mengetahui lagi maha bijaksana” (QS. Yusuf : 100)

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ ﴿ ١٠٣

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang dia tidak dapat melihat segala penglihatan itu dan dialah yang maha halus lagi maha mengetahui” (Al-An’am : 103)

Al-lathif artinya Allah Subahanu wa Ta’ala sangat baik dan lembut perbuatannya. Atau yang mengethaui kemaslahatan-kemaslahatan bagi manusia, karena manusia kadang sulit mengetahui hal yang mengandung maslahat baginya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala  mewujudkan kemaslahatan itu dengan cara yang lembut tanpa kekasaran.

Nama ini juga bisa bermakna yang berlaku sangat baik dan lembut kempda hambanya tanpa mereka ketahui , dan menyediankan segala kebutuhan hamba-hambanya tanpa mereka rasakan.

Dalam kehidupan dunia, perlakuakn lembut Allah Subhanahu wa Ta’ala ini dinikmatisemua makhluknya. Mereka diciptakan dari ketiadaan,  kemudian ditentukan rezeki dan perbuatan mereka.

Sedangkan dalam kehidupan akhirat , Allah Subhanahu Wa ta’ala pengkuhususan orang-orang beriman dengan perlakualan lembutnya. Maha suci Allah yang mahamulia.

Dengan menyebut nama Al-Lathif, kita dituntut untuk bersikap lembut dan sayang kepada hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam kelembutan yang paling nampak adalah kelembutan dalam berbicara. (Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

 Asmaul Husna (30):  Al-‘Adlu (Yang Maha Adil)

 Asmaul Husna (30):  Al-‘Adlu (Yang Maha Adil)

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala;

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil”. (Qs.Al-An’am:115).

 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan”. (Qs. An-Nahl: 90).

Al-‘adlu artinya Allah subhanahu wa ta’ala hanya melakukan sesuatu yang pantas dan sudah seharusnya dilakukan. Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala menghukumi dengan kebenaran, tidak condong, sehingga berlaku zalim kepada hambaNya.

Allah subhanahu Wa Ta’ala memberi hambaNya sebagian dari kandungan nama al-‘adlu ini. Yaitu  ketika menciptakan, menyempurnakan, dan membentuk manusia dalam bentuk yang paling baik. Kemudian memerintahkannya untuk merenungi penciptaan dirinya dan penciptaan langit dan bumi supaya mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala benar-benar telah menciptakan manusia dengan keadilan dan kebenaran.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ ﴿ ٢١

Dan juga pada dirimu sendiri maka Apakah kamu tiada memperhatikan”. (Qs. Adz-Dzariat: 21).

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ ﴿ ١٠١

“Katakanlah; perhatikanlah apa yang ada dilangit dan dibumi tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (Qs. Yunus: 101).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda setiap kali seorang hamba dirundung sebuah masalah dan kesedihan kemudian dia berdoa;

اللهم إني عبدك وابن عبدك وابن أمتك ناصيتي بيدك ماض في حكمك عدل في قضاؤك ، أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو أنزلته في كتابك أو علمته أحدا من خلقك أو استأثرت به في علم الغيب عندك أن تجعل القرآن ربيع قلبي و نور صدري وجلاء حزني وذهاب همّي وغمّي

“Ya Allah Sesungguhnya aku adalah hambaMu anak hambaMu cucu hambaMu umbul-umbul ku ada ditanganmu keputusanmu berlaku pada ketetapan-mu adil padaku aku memohon dengan semua asmamu yang engkau bubuhkan kepada satu atau engkau turunkan dalam kitab MU atau yang Kau ajarkan kepada orang hambaMu Apa yang kau simpan sendiri pada pengetahuan Ghaib Mu ya Allah jadikanlah Alquran penyejuk hatiku cahaya dadaku menghilang kesedihanku dan pengusir duka dan nestapa”.

Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala pasti akan menghilangkan masalah dan kesedihan yaitu diganti dengan rasa bahagia.

Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga mengajarkan kita sebuah doa;

اللهم أرنا الحق حقاً وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلاً وارزقنا اجتنابه اللهم إني أعوذ بك من الظلم والظلمات, الله إني أسألك العدل في الغضب والرضا

Ya Allah tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai sebuah kebenaran kemudian karuniakan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya dan tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai sebuah kebatilan kemudian karuniakan kepada kami kemampuan untuk meninggalkannya Ya Allah aku berlindung kepadamu dari dan kegelapan Ya Allah berikan aku keadilan dalam kondisi marah dan tidak marah”.

(Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

Keutamaan dan Keagungan Kalimat Tauhid

Keagungan Kalimat Tauhid

Di tengah viralnya pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid  LA ILAHA ILLALLAH, dan memancing kemarahan umat, saya justru memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan kepada kita semua keutamaan dan keagungan kalimat Tauhid.

Pada kalimat inilah dakwah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berpusar.

Keutamaan dan keagungan kalimat tauhid (لا إله إلا الله) :

  1. Sangat Berat Dalam Timbangan

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

قال موسى يا رب، علمني شيئا أذكرك وأدعوك به، قال : قل يا موسى : لا إله إلا الله، قال : يا رب كل عبادك يقولون هذا، قال موسى : لو أن السموات السبع وعامرهن – غيري – والأرضين السبع في كفة، ولا إله إلا الله في كفـة، مالت بهـن لا إله إلا الله

Musa berkata : “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu”. Allah berfirman, ”Ucapkan hai Musa laa ilaha illallah”. Musa berkata, “Ya Rabb, semua hamba-Mu mengucapkan itu”. Allah berfirman, ” Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya -selain Aku- dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan dan kalimat laa ilaha illallah diletakkan dalam timbangan yang lain, niscaya kalimat laa ilaha illallah  lebih berat timbangannya.”  (HR. Ibnu Hibban no. 6218)

  1. Kalimat Berbuah Jannah/Surga

Suatu saat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mendengar muadzin mengucapkan ’Asyhadu alla ilaha illallah’. Lalu beliau mengatakan pada muadzin tadi,

خَرَجْتَ مِنَ النَّارِ

“Engkau terbebas dari neraka” (HR. Muslim)

Dalam hadis lain disebutkan:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah laa ilaha illallah, maka dia akan masuk surga”  (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh al-Albani)

  1. Kebaikan Yang Paling Utama

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata:

قُلْتُ ياَ رَسُوْلَ اللهِ كَلِّمْنِي بِعَمَلٍ يُقَرِّبُنِي مِنَ الجَنَّةِ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ، قَالَ إِذاَ عَمَلْتَ سَيِّئَةً فَاعْمَلْ حَسَنَةً فَإِنَّهَا عَشْرَ أَمْثَالِهَا، قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنَ الْحَسَنَاتِ ، قَالَ هِيَ أَحْسَنُ الحَسَنَاتِ وَهِيَ تَمْحُوْ الذُّنُوْبَ وَالْخَطَايَا

Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka.” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal.” Lalu Abu Dzar berkata lagi, ”Wahai Rasulullah, apakah laa ilaha illallah merupakan kebaikan?” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Kalimat itu (laa ilaha illallah) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.”  (Dihasankan Syaikh al-Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas)

  1. Dzikir Paling Utama

Berdzkir dengan kalimat tauhid La Ilaha Illallah merupakan dzikir yang paling utama, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersada;

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

Dzikir yang paling utama adalah bacaan laa ilaha illallah.”  (Dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 62)

  1. Kalimat “laa ilaha illallah” adalah amal yang paling utama
  2. Paling banyak ganjarannya, menyamai pahala memerdekakan budak
  3. Merupakan pelindung dari setan

Hal ini disebutkan dalam hadis Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam;

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِىَ ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ ، إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

Barangsiapa mengucapkan ’laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syay-in qodiir’ [tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu] dalam sehari sebanyak 100 kali, maka baginya sama dengan sepuluh budak (yang dimerdekakan, pen), dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan pada siang hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu.”  (HR. Bukhari & Muslim)

  1. Kalimat “laa ilaha illallah” adalah kunci 8 pintu surga dan orang yang mengucapkannya bisa masuk surga dari pintu mana saja

Dari ’Ubadah bin Shomit radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ

Barangsiapa mengucapkan saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa ’Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.”  (HR. Muslim no. 149)

Ustadz Ishak Abd. Razak Bakari, Lc., M.Phil. [Anggota Pleno Dewan Syariah Wahdah Islamiyah]

Kedudukan  dan Urgensi Tauhid

Kalimat Tauhid

Urgensi Tauhid sebagai tujuan hidup manusia, inti dakwah seluruh Nabi dan Rasul, perintah Allah yang paling utama, dan hak Allah atas hamba-Nya.

Tauhid adalah meyakini sepenuh hati kemahaesaan Allah dalam segala aspek yang merupakan kekhususan bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, baik Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma Wa Shifat.

Tauhid Rububiyah adalah meyakini kemahaesaan Allah sebagai satu-satunya Rabb (Tuhan) yang menciptakan, memiliki, memelihara, mengatur, dan mengendalikan alam semesta beserta isinya.

Tauhid uluhiyah atau Ilahiyah artinya mengimani atau meyakini kemahaesaan Allah sebagai satu-satunya Ilah (sesembahan) yang patut dan berhak untuk diibadahi (disembah). Tauhid Uluhiyah/ilahiyah dikenal pula dengan tauhid ibadah. Karena inti dari tauhid adalah memurnikan ibadah kepada Allah semata.

Sedangkan tauhid Asma’ was Shifat adalah meyakini kemahaesaan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya; tiada yang serupa dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya yang mulia.

Tauhid merupakan perkara paling penting dalam kehidupan manusia. Karena tauhid merupakan tujuan hidup manusia, inti dakwah seluruh Nabi dan Rasul, perintah Allah yang paling utama, dan hak Allah atas hamba-Nya.

  1. Tauhid adalah tujuan Penciptaan Jin dan Manusia

Pada hakekatnya tauhid merupakan tujuan penciptaan jin dan manusia oleh Allah Ta’ala. Sebab manusia dan jin diciptakan oleh Allah untuk men-tauhid-kan-Nya melalui ibadah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadKu.” (QS. adz-Dzaariyat [51]: 56)

Makna liya’budun dalam ayat tersebut adalah liyuwahhiduun (untuk men-tauhid-kan Aku). Karena perintah Allah yang paling agung adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah. Sedangkan larangan Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu menyembah kepada selain-Nya disamping menyembah Allah. (Al-Ushul ats-Tslatsah, hlm. 7).

Jadi, esensi dari ayat tersebut adalah tauhid. Sebab para ulama salaf menafsirkan kata Illa Liya’budun (supaya mereka beribadah kepada-Ku) dengan Illa Liyuwahhidun (supaya mereka men-tauhid-kan Aku). Karena setiap ibadah harus dikerjakan semata-mata karena Allah. Sementara pemurnian ibadah kepada Allah merupakan inti dari tauhid itu sendiri. Penafsiran ini berpijak pada tugas utama para Rasul, yaitu mengajak manusia untuk men-tauhid-kan Allah dalam ibadah.

Oleh karena itu barangsiapa yang belum meralisasikan tauhid dalam hidupnya, maka sesungguhnya ia belum menghambakan diri kepada Allah. Ini makna sebenarnya dari firman Allah, “dan sekali-kali kalian (hai orang kafir) bukanlah penyembah Tuhan yang aku sembah”. (terj. Qs. Al-Kafirun:3). (Kitabut Tauhid).

  1. Tauhid Merupakan Inti Dakwah para Rasul

Tauhid merupakan misi dan inti da’wah para Rasul utusan Allah. Semua Rasul diutus oleh Allah untuk mengesakan Allah melalui ibadah dan meninggalkan segala bentuk ibadah kepada selain Allah yang merupakan lawan dari tauhid. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut”. (QS. an-Nahl [16]: 36)

Dalam ayat tersebut Allah menerangkan, Dia mengutus Rasul pada setiap ummat untuk menyeru dan menda’wahi ummatnya agar beribadah kepada Allah (u’budullah) dan menjauhi thaghut. Kedua seruan ini mengandung tauhid. Artinya para Nabi dan Rasul tersebut diperintahkan oleh Allah untuk mengajak ummatnya men-tauhid-kan Allah. Sebab dalam kata u’budullah (sembahlah Allah/beribadahlah kepada Allah) terdapat ajakan untuk ber-tauhid. Sedangkan dalam kata wajtanibut Thaghut terkandung perintah untuk meninggalkan syirik yang merupakan lawan dari tauhid. Karena diantara makna thaghut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah Ta’ala.2

Di dalam ayat tersebut juga terkandung pesan, Allah subhanahu wa ta’ala menegakkan hujjah-Nya telah kepada setiap umat manusia, baik itu umat terdahulu maupun umat di zaman sekarang. Yaitu bahwasanya telah diutus kepada setiap mereka seorang Rasul yang seluruhnya menyeru umatnya kepada satu hal yaitu: (seruan untuk) beribadah hanya kepada Allah saja tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Di dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku”.” (QS. al-Anbiyaa [21]: 25).

Ayat tersebut mengabarkan bahwa setiap Rasul mendapatkan wahyu (perintah) dari Allah untuk menyampaikan kepada ummat mereka Tidak ada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah dan diibadahi kecuali Allah. Oleh karena mereka diperintahkan untuk beibadah kepada Allah semata.

  1. Tauhid Merupakan Perkara Yang Pertama diperintahkan oleh Allah kepada hambaNya Sebelum Kewajiban Yang Lain

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. al-Isra [17]: 23)

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk bertauhid terlebih dahulu yaitu dengan berfirman: “Jangan menyembah selain Dia”. Baru setelah itu Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua kita.

Dalam klimat “La ta’budu Illa Iyyahu” (Jangan kalian beribadah kepada selain-Nya) terkandung perintah untuk memurnikan ibadah kepada Allah Ta’ala semata. Hal ini semakna dengan kalimat tauhid La Ilaha Illallah. Sebab pemurnian ibadah hanya kepada Allah merupakan realisasi dan pembuktian dari kalimat tauhid La Ilaha Illallah.

Ayat lain yang semakna dengan ayat di atas adalah firman Allah dalam surah Al-An’am ayat 151, “Katakanlah (wahai Muhammad) marilah aku bacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya”. (terj. Qs. Al-An’am:151). Ayat tersebut menyebutkan beberapa hal yang diharamkan oleh Allah. Pertama adalah syirik yang merupakan lawan dari tauhid, bahkan perusak tauhid nomor wahid. Larangan berbuat syirik berarti perintah untuk men-tauhid-kan Allah Ta’ala.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata tentang ayat 251 surah Al-An’am di atas, “Siapa yang ingin melihat wasiat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diatasnya terstempel oleh cincin beliau, maka hendaknya ia membaca firman Allah; “Katakanlah (hai Muhammad), mari kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, dan (kubacakan), sampai . . . Sungguh inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain”.

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman, “Beribadahlah kepada Allah, dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (Terj. Qs. An-Nisa:36). Ayat ini disebut dengan ayat tentang sepuluh hak. Karena dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan sepuluh hal yang diawali dengan perintah beribadah kepada Allah dan larangan berbuat syirik. Sementara beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan syirik mer upakan realisasi dari tauhid.

  1. Tauhid adalah Hak Allah atas HambaNya

Tauhid merupakan hak Allah dari setiap hamba-Nya, sebagaimana penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ketika beliau bertanya kepada sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu: ”Apakah hak Allah atas hambaNya?”, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahuinya”, jawab Mu’adz. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Hak Allah atas hambanya adalah agar mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).3

Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa hak Allah dari setiap hamba-Nya adalah ibadah yang tidak dinodai kesyirikan. Artinya tauhid. Karena pemurnian ibadah kepada Allah merupakan inti dari tauhid. Sehingga dalam kalimat “mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” tersurat pesan bahwa hak Allah atas hamba dan kewajiban hamba kepada Allah adalah, “mereka men-tauhid-kan-Nya melalui ibadah”.

Demikian penjelasan tentang hakikat dan keutamaan tauhid. Semoga Allah Ta’ala memberi kemudahan untuk merealisasikannya dalam seluruh aspek kehidupan. Semoga Allah menghidupkan dan mematikan kita di atas kalimat tauhid. (Al-Faqir lla ‘afwi Rabbihi, Abu Muhammad Syamsuddin Al-Munawiy).

Sumber Utama: Kitabut Tauhid, karya al-Imam al-Mujaddid Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah disertai tambahan penjelasan dari Ghoyatul Murid Fi Syarhi Kitabit Tauhid, Karya Syekh Shaleh bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syekh.

Sumber dari: wahdah.or.id

Keutamaan  Kalimat Tauhid La Ilaha Illallah

Kalimat Tauhid

Seseorang yang telah mengucapkan kalimat tauhid La Ilaha Ilallah dan mengamalkan kandungannya dengan cara melaksanakan segala perintah Allah ‘Azza wajalla dan menjauhi larangan-Nya, maka dia akan mendapat keutamaan-keutamaan yang sangat agung, diantaranya:

Hartanya dan darahnya dilindungi  oleh Allah ‘Azza wajalla, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

مَنْ قَالَ لاَإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَكَفَرَ بـــِمَا يُعْبـَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابــُهُ عَلَى اللهِ

Barang siapa yang mengucapkan La Ilaha Illallah (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah) dan ia mengkufuri sesembahan selain Allah maka haramlah (diganggu) hartanya dan darahnya dan perhitungannya atas Allah” (HR.Bukhari)

Tubuhnya tidak akan disentuh oleh api Neraka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلـِصًا مِنْ قَلْبِــهِ لَمْ تــَمَسَّهُ النـــَّارُ .

Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dengan tulus ikhlas dari hatinya, maka ia tidak akan disentuh oleh api Neraka” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Abu Nu’aim)

Kalimat Tauhid Laa ilaaha illallah merupakan kunci Syurga, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

مَنْ كَانَ آخِرُ كَـلاَمــِـهِ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَــنـــَّةَ .

Barangsiapa yang akhir dari perkataan-nya Laa Ilaaha Illallah maka ia akan masuk surga”. (HHR. Ahmad dan Hakim).

Orang yang mengucapkan kalimat tauhid Laa ilaaha illallah akan dikeluarkan oleh Allah dari Neraka dan dimasukkan kedalam Syurga,

Sebagaimana dalam hadits Qudsi Allah berfirman :

وَعِزَّتـــِيْ وَجَلاَلِيْ لأُخْرِجَنَّ مِنَ النــَّارِ مَنْ قَالَ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ . رواه البخاري و مسلم

Demi kemuliaan dan keagungan-Ku sungguh Aku akan mengeluarkan dari api Neraka orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah” (Muttafaqun ‘Alaih).

Dengan mengetahui keutamaan kalimat tauhid tersebut, maka sepantasnya bagi orang beriman dan bertaqwa kepada Allah untuk merealisasikan makna kalimat tauhid ini dalam kehidupannya, sehingga menumbuhkan perasaan cinta yang besar kepada Allah. Dan  bukti dari kecintaan tersebut adalah tunduk dan patuh pada perintah Allah dan meninggalkan larangan Nya. [sym].

Asmaul Husna [29]: Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)

 Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)

Asmaul Husna 29 Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)

Asmaul Husna [29]: Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا

maka patutkah aku mencari Hakim selain daripada Allah”. (Qs. Al-An’am: 114)

Allah juga berfirman;

لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan baginya lah segala penentuan dan hanya kepadamu lah kamu dikembalikan”. (Qs.  Al- Qashash: 77).

Rasulullah shallallahu Allah u Alaihi Wasallam bersabda;

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah yang menetapkan”.

Al-Hakam artinya Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan sesuatu sangat rapi dan kuat. Tetapi juga bisa diartikan Hakim yang memutuskan sebuah perkara yang terjadi di antara hamba-hamba-nya baik di dunia maupun di akhirat.

Selain itu Al Hakam juga berarti yang mempunyai hak membuat hukum dan syariat,  sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Allah yang mengetahui apakah seorang hamba berhak mendapatkan balasan baik ataupun balasan buruk. Hanya  Allah subhanahu wa ta’ala yang berhak membuat dan menetapkan hukum dan tidak ada seorang hamba yang bisa menyanggahnya.

Dengan  menghayati nama Al Hakam ini kita bisa mengambil beberapa pelajaran;

  1. Terdorong untuk menjadikan hukum Allah subhanahu wa ta’ala sebagai sumber memutuskan segala masalah itu hal kecil ataupun Besar.
  2. Merasa yakin bahwa segala yang kita terima adalah baik untuk kita dan akan membawa kita kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat walaupun keadaan awalnya terlihat sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan.

(Syarh Singkat  Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

Asmaul Husna [28]: Al-Bashir (Yang Maha Melihat)

 

“Al-Bashir  (Yang Maha Melihat) artinya Allah Ta’ala melihat dan menyaksikan segala sesuatu, baik yang nampak dengan nyata ataupun yang tersembunyi”.

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [٤٢:١١

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat”. (Qs.Asyura:11).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman;

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [١٧:١

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Qs. Al-Isra: 1).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

إنكم لا تدعون أصم ولا غائباً، إنما تدعون سميعاً بصيراً قريباً

“Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada yang tidak bisa mendengar atau kepada yang tidak ada kalian ini sedang berdoa kepada Allah yang Maha mendengar dan maha melihat serta dekat”.

Al-Bashir  (yang Maha Melihat) artinya Allah subhanahu wa ta’ala melihat dan menyaksikan segala sesuatu, baik yang nampak dengan nyata ataupun yang tersembunyi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala bisa melihat yang  ada di atas bumi melihat yang ada di siang hari ataupun di malam hari. [sym].

Asmaul Husna [27]: As-Sami (Yang Maha Mendengar)

Asmaul Husna As-Sami (Yang Maha Mendengar)

Asmaul Husna As-Sami (Yang Maha Mendengar)

As-Sami artinya Allah subhanahu wa ta’ala mendengar. Maksudnya  mendengar sesuatu yang rahasia dan suara yang disembunyikan.

As-Sami’ adalah yang pendengaran-Nya melingkupi segala sesuatu yang bersifat dapat didengar. Baginya tidaklah berbeda antara suara yang keras, pelan, diucapkan, dan tidak diucapkan.

Karena  itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa dalam keadaan terpaksa, dan memaklumi kesalahan hamba-hambaNya ketika mereka mengakuinya.

Maha  suci Allah yang mendengar doa dalam satu kesempatan. Maha suci Allah yang mengabulkan beberapa doa dalam satu kesempatan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

“Ya Tuhan kami Terimalah dari kami amalan kami sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi maha mengetahui”. (Al-Baqarah: 127).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

“Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada yang tidak bisa mendengar atau kepada yang tidak ada kalian ini sedang berdoa kepada Allah yang Maha mendengar dan melihat”. (Sumber: Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustofa Warbah).

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [٣:٢٦]

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs. Ali Imran:26).

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya”. (Fathir:10).

Allah Ta’ala lah yang memuliakan dan menghinakan. Orang yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala niscaya akan menjadi benar-benar mulia. Dia akan mempunyai kemuliaan, kekuatan, kemenangan atas hawa nafsunya dan atas musuh-musuhnya.

Orang-orang yang beriman akan dicintai Allah subhanahu wa Ta’ala dengan mengaruniai mereka kemiaan yang berasal dari kemuliaan Allah Subhanahu Wa  Ta’ala

Adapun orang-orang kafir, mereka akan dihinakan Allah di dunia, sehingga hidup mereka akan terhina dan matipun dalam keadaan hina. Sehingga kehidupan mereka di akhirat juga akan hina,  yakni dimasukkan ke dalam neraka.

Setiap orang yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala akan merasa cukup hanya dengan Allah Subhanahu Wa ta’ala dan dia tidak merasakan kebutuhan kepada manusia. Mereka juga merasa ridha dengan ketentuan Allah Subhanahu Wa ta’ala atas diri mereka.

Sedangkan orang-orang yang dihinakan oleh Allah akan dibuat selalu mengikuti hawa nafsu, perbuatan, dan pemikiran yang buruk. Mereka juga akan selalu tunduk dan menuruti segala perintah manusia, demi mendapatkan sesuatu dari mereka.

Dua nama ini juga seringkali disebutkan bersamaan untuk menunjukkan betapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuliakan dan menghinakan manusia berdasarkan hikmah-Nya.  (Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah )