Asmaul Husna [29]: Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)

 Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)

Asmaul Husna 29 Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)

Asmaul Husna [29]: Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا

maka patutkah aku mencari Hakim selain daripada Allah”. (Qs. Al-An’am: 114)

Allah juga berfirman;

لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan baginya lah segala penentuan dan hanya kepadamu lah kamu dikembalikan”. (Qs.  Al- Qashash: 77).

Rasulullah shallallahu Allah u Alaihi Wasallam bersabda;

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah yang menetapkan”.

Al-Hakam artinya Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan sesuatu sangat rapi dan kuat. Tetapi juga bisa diartikan Hakim yang memutuskan sebuah perkara yang terjadi di antara hamba-hamba-nya baik di dunia maupun di akhirat.

Selain itu Al Hakam juga berarti yang mempunyai hak membuat hukum dan syariat,  sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Allah yang mengetahui apakah seorang hamba berhak mendapatkan balasan baik ataupun balasan buruk. Hanya  Allah subhanahu wa ta’ala yang berhak membuat dan menetapkan hukum dan tidak ada seorang hamba yang bisa menyanggahnya.

Dengan  menghayati nama Al Hakam ini kita bisa mengambil beberapa pelajaran;

  1. Terdorong untuk menjadikan hukum Allah subhanahu wa ta’ala sebagai sumber memutuskan segala masalah itu hal kecil ataupun Besar.
  2. Merasa yakin bahwa segala yang kita terima adalah baik untuk kita dan akan membawa kita kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat walaupun keadaan awalnya terlihat sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan.

(Syarh Singkat  Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

Asmaul Husna [28]: Al-Bashir (Yang Maha Melihat)

 

“Al-Bashir  (Yang Maha Melihat) artinya Allah Ta’ala melihat dan menyaksikan segala sesuatu, baik yang nampak dengan nyata ataupun yang tersembunyi”.

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [٤٢:١١

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat”. (Qs.Asyura:11).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman;

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [١٧:١

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Qs. Al-Isra: 1).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

إنكم لا تدعون أصم ولا غائباً، إنما تدعون سميعاً بصيراً قريباً

“Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada yang tidak bisa mendengar atau kepada yang tidak ada kalian ini sedang berdoa kepada Allah yang Maha mendengar dan maha melihat serta dekat”.

Al-Bashir  (yang Maha Melihat) artinya Allah subhanahu wa ta’ala melihat dan menyaksikan segala sesuatu, baik yang nampak dengan nyata ataupun yang tersembunyi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala bisa melihat yang  ada di atas bumi melihat yang ada di siang hari ataupun di malam hari. [sym].

Asmaul Husna [27]: As-Sami (Yang Maha Mendengar)

Asmaul Husna As-Sami (Yang Maha Mendengar)

Asmaul Husna As-Sami (Yang Maha Mendengar)

As-Sami artinya Allah subhanahu wa ta’ala mendengar. Maksudnya  mendengar sesuatu yang rahasia dan suara yang disembunyikan.

As-Sami’ adalah yang pendengaran-Nya melingkupi segala sesuatu yang bersifat dapat didengar. Baginya tidaklah berbeda antara suara yang keras, pelan, diucapkan, dan tidak diucapkan.

Karena  itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa dalam keadaan terpaksa, dan memaklumi kesalahan hamba-hambaNya ketika mereka mengakuinya.

Maha  suci Allah yang mendengar doa dalam satu kesempatan. Maha suci Allah yang mengabulkan beberapa doa dalam satu kesempatan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

“Ya Tuhan kami Terimalah dari kami amalan kami sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi maha mengetahui”. (Al-Baqarah: 127).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

“Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada yang tidak bisa mendengar atau kepada yang tidak ada kalian ini sedang berdoa kepada Allah yang Maha mendengar dan melihat”. (Sumber: Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustofa Warbah).

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [٣:٢٦]

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs. Ali Imran:26).

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya”. (Fathir:10).

Allah Ta’ala lah yang memuliakan dan menghinakan. Orang yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala niscaya akan menjadi benar-benar mulia. Dia akan mempunyai kemuliaan, kekuatan, kemenangan atas hawa nafsunya dan atas musuh-musuhnya.

Orang-orang yang beriman akan dicintai Allah subhanahu wa Ta’ala dengan mengaruniai mereka kemiaan yang berasal dari kemuliaan Allah Subhanahu Wa  Ta’ala

Adapun orang-orang kafir, mereka akan dihinakan Allah di dunia, sehingga hidup mereka akan terhina dan matipun dalam keadaan hina. Sehingga kehidupan mereka di akhirat juga akan hina,  yakni dimasukkan ke dalam neraka.

Setiap orang yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala akan merasa cukup hanya dengan Allah Subhanahu Wa ta’ala dan dia tidak merasakan kebutuhan kepada manusia. Mereka juga merasa ridha dengan ketentuan Allah Subhanahu Wa ta’ala atas diri mereka.

Sedangkan orang-orang yang dihinakan oleh Allah akan dibuat selalu mengikuti hawa nafsu, perbuatan, dan pemikiran yang buruk. Mereka juga akan selalu tunduk dan menuruti segala perintah manusia, demi mendapatkan sesuatu dari mereka.

Dua nama ini juga seringkali disebutkan bersamaan untuk menunjukkan betapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuliakan dan menghinakan manusia berdasarkan hikmah-Nya.  (Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah )

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ [٥٨:١١[

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al Mujadilah: 11)

Allah Ta’ala juga berfirman;

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ [ ٥٦:١] لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ [٥٦:٢] خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ [٥٦:٣]

Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya.  (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain)”. (Qs. Al Waqiah 1-3).

 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak tidur dan tidak selayaknya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidur. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan meninggikan dan menurunkan timbangan orang banyak. maksud Al-Khafidz adalah yang menurunkan kesombongan dan kecongkakan para penguasa sehingga kedudukan mereka menjadi rendah dan hina. Bisa juga dimaksudkan dengan merendahkan orang-orang kafir dan musyrik dengan menjatuhkan mereka ke dalam neraka Jahannam.

Maksud Al-Khafidh adalah meninggikan para Wali Allah subhanahu wa ta’ala dan menolong mereka dalam melawan musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ar-Rafi’ juga berarti yang meninggikan kedudukan hamba-hamba yang dikehendakiNya di dunia sebelum mereka ditinggikan di akhirat dengan memasukkan mereka ke dalam surga pada derajat yang sangat tinggi. Seringkali  Al-Khafidh disebutkan bersamaan dengan Ar-Rafi’ sehingga terlihat dengan jelas bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala meninggikan dan merendahkan hamba-hambaNya sesuai dengan hikmahNya . (Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh danAl-Basith  (Maha Menyempitkan dan Maha Melapangkan)

Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh Al-Basith  (Maha Menyempitkan dan maha melapangkan)

Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh Al-Basith  (Maha Menyempitkan dan maha melapangkan)

Dalam  Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menerangkan maksud kedua nama ini (Al-Qabidh dan Al-Basith), misalnya dalam Surah  Al Baqarah ayat 245 dan Surah As-Syura ayat 27;

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ [٢:٢٤٥

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”. (Qs. Al-Baqarah:245)

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ [٤٢:٢٧

Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala itu adalah pencipta yang menyempitkan melapangkan memberi rezeki dan memberi kemuliaan. Aku  sangat berharap ketika bertemu Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak ada yang menuntut hak orang lain yang tidak kutunaikkan baik dalam masalah nyawa ataupun harta”.

Al-Qabidh adalah yang menahan dan tidak memberi rezeki atau sejenisnya kepada hamba-Nya demi kemaslahatan hamba itu sendiri. Bisa juga dimaksudkan dengan yang mencabut nyawa ketika seorang hamba meninggal dunia.

Pemberian  rezeki kepada seorang hamba dengan jumlah tertentu baik sedikit ataupun banyak adalah sebuah Rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala. Seandainya saja Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan rezeki sebanyak yang diinginkan hawa nafsu hamba-Nya tentu hal itu bisa membuatnya menjadi sombong, dzalim, dan berbuat kerusakan di atas bumi. Maka  dari itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan rezeki sesuai dengan yang diinginkan menurut ilmu dan hikmah-Nya.

Sedangkan Al-Basith adalah yang melapangkan rezeki hamba-nya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersifat Pemurah dan penyayang. Bisa juga dimaksudkan dengan yang membentangkan nyawa dalam tubuh manusia sehingga tubuh itu bisa mendapatkan kehidupan.

Oleh karena itu Al-Basith adalah kebalikan al-Qabadhu. Kalimat  basatha asy Syaia adalah membentang sesuatu. Hal  terbesar yang dibentangkan dan diluaskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah rasa kasih dan cinta kepada kebaikan yang diletakkan dalam hati-hati manusia.

Karena merupakan dua hal yang berlawanan maka keduanya hendaknya disebutkan secara beriringan sehingga kita dapat merasakan dan meyakini bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan baik kelapangan maupun kesempitan adalah berdasarkan ilmu dan hikmah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 (Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah hal 57-58)

Asmaul Husna [20]:  Al-‘Alim (Maha Mengetahui)

Asmaul Husna [20]:  Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui)

Al-‘Alim artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengetahui segala sesuatu sebelum dan sesudah sesuatu itu ada. Tidak  ada sesuatupun di bumi dan di langit yang tersembunyi dari penglihatan Allah. Segala sesuatu baik yang dekat maupun yang jauh dapat dilihatNya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

Katakanlah Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua Kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar dan dialah Maha Pemberi Keputusan lagi maha mengetahui”. (Qs. Saba: 26).

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang Maha Pencipta lagi maha mengetahui”. (Qs. Al-Hijr: 86).

Maha Suci engkau tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang engkau ajarkan kepada kami sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi maha bijaksana”. (Qs.Al-Baqarah:32).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

Setiap hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang mengucapkan setiap pagi dan petang Dengan nama Allah yang karenanya yang karena namanya tidak ada sesuatupun yang membahayakan baik di bumi dan di langit dan Allah Maha Mengetahui mendengar dan maha mengetahui sebanyak 3 kali maka tidak ada sesuatupun yang dapat membahayakan nya”.

Kadang-kadang ada juga hambaNya yang mempunyai sifat mengetahui. Orang  seperti itu dinamakan Alim, dan dalam bentuk jamak disebut ulama. Namun  sungguh jauh perbedaan antara ilmu Allah subhanahu wa ta’ala dan ilmu hambaNya. Ilmu  seorang makhluk sangat terbatas. Sedangkan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala melingkupi segala sesuatu dan tidak ada batasnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha meliputi segala sesuatu”. (Qs. Fushilat: 54).

Letak perbedaan yang lain adalah karena ilmu manusia sangat tergantung dengan sarana, prasarana, penelitian dan lain sebagainya. Semua  itu sangat memungkinkan terjadinya perubahan pada ilmu tersebut sedangkan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala bersifat tetap dan tidak akan berubah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

Dan tidaklah Tuhanmu lupa”. (Qs. Maryam:64).

Kemudian  semua ilmu yang kita miliki tidak lain adalah pemberian dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya”. (Qs. Al-Baqarah: 255).

 “Dan juga Karena Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepada mu apa yang belum kamu ketahui”. (Qs. an-Nisa: 113).

 Agar  manusia yang berilmu tidak merasa bangga dengan ilmunya sehingga membuatnya sombong. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan mereka bahwa;

Dan di atas tiap-tiap Orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui”. (Qs.Yusuf:76).

Dahsyatnya Bismillah

Dahsyatnya Bismillah

Bismillah (Dengan menyebut nama Allah)

 

Bismillah sebuah kata yang tak asing bagi telinga seorang muslim. Sebuah kata yang ringkas namun begitu agung di sisi Allah Azza Wajala. Bismillah sebuah kata yang menyatakan peneguhan, sekaligus menjadi bukti nyata dari kesungguhan kita.

Dengan mengawali semua aktivitas dengan mengucap bismillah, berarti kita sudah menyadari bahwa semua aktivitas kita tidak luput dari pengawasan Allah Ta’ala. Kesungguhan untuk melibatkan Allah dari awal ikhtiar. Bismillah berarti atas nama Allah, tidak untuk selain-Nya. Ini artinya menjadi titik awal tawakal, berserah diri sedari awal, dan meyakini bahwa ada kekuasaan yang lebih besar dari kuasa kita sebagai manusia biasa.
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3)

Allah yang melindungi dan terus memberikan pengawasan. Bila nantinya kita melenceng, Allah akan mengetuk hati kita agar mau kembali ke jalan yang diridhai-Nya. Saat kita mengucap bismillah, itu seumpama kita sedang memasang alarm (pengingat). Bila ada yang tidak beres dengan proses (action, ikhtiar) kita, alarm itu akan berbunyi dan segera mengingatkan kita. Pada tingkatan inilah, kedekatan kita dengan Allah benar-benar di uji. Sebab hanya hati yang tulus – ikhlas dan dekat dengan Allah yang bisa peka merasakan peringatan dan teguran dari Allah Subhanahu wa ta’ala.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (Q.S. Al-baqarah: 186)

Bismillah adalah Doa, tidak lain dan tidak bukan ialah doa kelancaran. Kita meyakini bahwa dengan mengucapkan bismillah akan menjadikan jalan yang sukar menjadi mudah, urusan yang sulit menjadi gampang, doa dijauhkan dari gangguan setan dan gangguan orang jahat. Kita pun menjadi bersemangat (positive thinking) untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, terus berjuang, dan tidak mudah menyerah.
“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu. Tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolong setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.”

[jundi/aha]

Makna Islam

Makna Islam

Islam merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada manusia. Sebab Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan Allah sebagai pedoman hidup bagi manusia. Islam merupakan agama yang dicintai, diridhai, dan diterima oleh Allah. Islam juga merupakan satu-satunya jalan yang lurus menuju Allah Ta’ala.

Sayangnya sebagian Muslim belum memandang dan menganggap Islam sebagai karunia Allah yang patut dijaga dan disyukuri. Atau sebagian yang mengaku Muslim belum merealisasikan keislamanyya secara benar dan sungguh-sungguh sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Hal itu boleh jadi disebabkan oleh ketidaktahun mereka terhadap hakikat dan karakter Islam itu sendiri.

Oleh karena itu tulisan ini akan menguraikan makna dan karakteristik khas Islam. Dengan harapan menumbuhkan kesadaran berislam serta meningkatkan sikap bangga (i’tizaz) dalam berislam.

Secara bahasa Islam bermakna; Penyerahan diri, ketundukan dan kepatuhan, keselamatan, serta kedamaian dan perdamaian. Makna Islam menurut bahasa yang berarti penyerahan diri, ketundukan, dan kepatuhan dapat ditemui dalam ayat- ayat-ayat al-Qur’an dan hadits, diantaranya; surah Al-Baqarah [2] ayat 128, 131 dan 133, Al…. [27] ayat 44, Maryam [19] ayat 39, Az-zumar [39] ayat 73, al Anbiya [21] ayat 69:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ

Wahai Tuhan kami, jadikanlan kami (Ibrahim dan Isma’il) sebagai orang yang tunduk dan berserah diri padamu (muslimaini laka), dan jadikan pula anak keturunan (dzurriyah) kami sebagai ummat yang tunduk dan berserah diri padamu, . . . “ (Terj. Qs. Al-Baqarah [2]: 128).

Do’a di atas di atas dipanjatkan oleh Ibrahim dan putranya Isma’il ‘alaihimassaalam usai membangun Kaa’bah, sebagaimana dijelaskan pada ayat sebelumnya. Keduanya memohon beberapa hal. Diantaranya memohon dijadikan sebagai orang yang ber-Islam kepada Allah. Menurut Ibnu Jarir sebagaimana dikutip Imam Ibnu Katsir, makna Islam dalam ayat tersebut adalah berserah diri kepada ketentuan dan perintah Allah, tunduk dengan melakukan ketaatan pada-Nya, serta tidak tidak syirik dalam melakukan ketaatan dan ibadah.

Pada ayat selanjutnya (131) Allah menyuruh Ibrahim, “Tatkala Tuhanya berkata kepadanya berserah dirilah (aslim), ia berkata aku telaah berserah diri dan tunduk (aslamtu) kepada Rabb semesta alam” (Terj. Qs. Al-Baqarah [2]: 131).

Maksudnya Allah menyuruh beliau untuk ikhlas, berserah diri (istislam) dan tunduk kepada-Nya.

Sedangkan makna Islam yang berarti keselamatan terdapat dalam hadits;

الْمُسلمُ مَن سلِمَ الْمُسلِمُوْن منْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Orang Islam (Muslim) adalah yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.

Adapaun secara istilah Islam bermakna penyerahan diri kepada Allah dengan tauhid dan ketundukan pada-Nya dengan melakukan ketaatan serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. (Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, Ushul Tsalatsah).

Dari pengertian ini nampak bahwa hakikat dari Islam adalah penyerahan diri dan ketundukan kepada Allah serta berlepas diri dari kesyirikan dan orang musyrik. Penyerahan diri kepada Allah yang merupakan inti Islam mengejawantah dalam tauhid. Yakni mengimani kemahaesaan Allah Ta’ala sebagai satu-satu-Nya Dzat yang berhak disembah dan diibadahi. Sedangkan ketundukan pada-Nya diwujudkan dalam bentuk ketaatan kepada Allah. Yakni dengan menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Selain itu ketundukan dan ketaatan kepada Allah juga harus nampak pada pengamalan rukun Islam yang lima. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendefinisikan Islam dengan rukun-rukunnya yang lima. Sebagaimana jawaban beliau ketika ditanya oleh malaikat Jibril ‘alaihis salam, “Kabarkan kepadaku tentang Islam”. Rasul menjawab, “Islam adalah anda bersyahadat La Ilaha Illallah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menuanikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan berhaji ke baitullah jika anda mampu”. (Terj. Muslim, Tirmidziy, Nasai, Abu Daud, dan Ibnu Majah).

Jadi, makna Islam yang berarti pasrah, tunduk, dan patuh kepada Allah adalah tunduk, pasrah, dan patuh kepada Allah dengan mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. [sym].

Asmaul Husna; Al-Fattah (Maha Pembuka Rahmat)

Asmaul Husna Al-Fattah (Maha Pembuka Rahmat)

 Al-Fattah berasal dari kata al-fathu, yang berarti menghakimi. Oleh Karena itu, Al-fattah berarti yang menghakimi, Karena Allah subhanahu wa ta’ala adalah yang menghakimi di antara makhluk-makhluk-Nya. Dialah yang memisahkan antara yang benar dan yang salah. Halal dan haram Allah subhanahu wa ta’ala jelaskan, sehingga yang benar bisa dimenangkan, dan yang salah bisa dikalahkan.

Al-Fattah juga berarti yang membuka pintu rezeki dan rahmat untuk hamba-hamba-Nya. Karena Allah subhanahu wa ta’ala juga mempermudah jalan-jalan yang sulit, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

Katakanlah: “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui” (saba’ : 26)

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya,”( Fathir: 2)

Mengingat bahwa pintu kebaikan kadang dibuka oleh manusia pilihan Allah subhanahu wa ta’ala, maka untuk membedakan mereka dengan Allah subhanahu wa ta’ala banyak ayat yang menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pembuka rahmat yang paling baik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۚ عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا ۚ رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

“Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya,”( Al-A’raf: 89).

(Syarh Singkat Asmaul Husna, hlm. 50-51). [sym/wahdahjakarta.com].