Asmaul Husna [10]: Al-Mutakabbir (Yang Maha Memiliki Keagungan)

Asmaul Husna [10] Al-Mutakabbir

Al-Mutakabbir artinya Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat yang memiliki kesombongan dan kebesaran. Kedua hal tersebut tidak dimiliki oleh yang lain, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala pun diatas segalanya.

Dengan nama ini, maka kebesaran hanya milik-Nya. Seluruh ciptaan-Nya tunduk patuh terhadap kekuasaan dan keagungan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ

Yang artinya: “Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan.” (Al-Hasyr: 23)

Dalam hadits Qudsi disebutkan, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,Kesombongan adalah pakaian atas-Ku dan kebesaran adalah pakaian bawah-Ku. Barangsiapa mengambil salah satu dari dua hal ini, maka akan Aku lemparkan ke dalam neraka.”

Karena itu, kesombongan Allah subhanahu wa ta’ala adalah tidak terbatas, dan kebesaran-Nya juga tidak ada batasnya.
Allah subhanahu wa ta’ala Maha Esa dalam kebesaran dan memiliki kerajaan-Nya; Maha Esa dalam memiliki keagungan dan kekuasaan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الْأَرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٣٦﴾ وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٣٧

Yang artinya: “Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam. Dan bagi-Nya lah keagungan dilangit dan di bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Jatsiyah: 36-37)

Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sangat membenci orang yang berlaku sombong, dan mengancam mereka dengan neraka Jahanam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

Yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” (An-Nahl: 23)

وَيْلٌ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ ﴿٧﴾ يَسْمَعُ آيَاتِ اللَّهِ تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَن لَّمْ يَسْمَعْهَا ۖ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿٨﴾

Yang artinya: “Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.” (Al-Jatsiyah: 7-8)

Dengan mempelajari nama ‘Al-Mutakabbir’, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil:
1. Kita hendaknya bersikap tawadhu’ terhadap orang lain, walaupun kedudukan kita tinggi, dan perkataan kita biasa ditaati.
2. Kita hendaknya selalu membersihkan hati kita dari sifat takabbur. Allah subhanahu wa ta’ala sangat membenci orang yang bersifat dengan sifat Allah subhanahu wa ta’ala yang satu ini.

Asmaul Husna (09): Al-Jabbar (Maha Kuasa)

Asmaul Husna; Al-Jabbar (Maha Kuasa)

Asmaul Husna (09): Al-Jabbar (Maha Kuasa)

Al – Jabbar berarti berkuasa untuk memaksakan keinginan-Nya kepada hamba-Nya, berkuasa untuk memerintah dan melarang, sehingga hamba-hamba-Nya hanya bisa berkata sami’na wa atha’na saja.

Al– Jabbar juga berarti yang kuat dan tahan, sehingga tidak ada yang bisa berbuat buruk dan membahayakan-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ 

Dia-Lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhhak disembah) selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa.” (Al-Hasyr:23)

Nama Al-Jabbar  mempunyai tiga makna; Kuasa Kekuatan, Kuasa Kasih Sayang, dan Kuasa Ketinggian.

Kuasa Kekuatan, maksudnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Kuasa atas segala penguasa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengalahkan mereka semua dengan kekuasaan dan kekuatan-Nya.

Kuasa Kasih Sayang, maksudnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyayangi orang lemah, memperbaiki keadaannya dengan cara memberi mereka kekayaan dan kekuatan.

Sedangkan Kuasa Ketinggian, maksudnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Mahatinggi diatas seluruh ciptaan-Nya, tidak ada makhluk yang bisa mencapai-Nya.
Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdoa, “Maha Suci Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang memiliki Kekuasaa, Kerajaan, Keangkuhan, dan Keagungan.”

Dari memahami makna-makna diatas, dapat diambil pelajaran bahwa;
a. Sudah selayaknya seorang mukmin meminta pertolongan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Baik dalam menguatkan yang lemah, ataupun dalam mengalahkan seorang yang dzalim.

b. Seorang mukmin hendaknya selalu menyerahkan segala urusan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena kehendak-Nya pasti terlaksana, dalam hal apapun dan kepada siapapun.

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]

Pertanyaan:

Di dalam Shahih Bukhari disebutkan hadits bahwa 700.000 orang akan masuk surga, sedangkan generasi awal saja mungkin jumlah mereka sudah mencapi 700.000. Apakah ada tafsir lain tentang hadits ini?

Jawaban:

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.
Barangkali maksud anda wahai penanya adalah hadits tentang 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ahmad serta yang lainnya dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Kalau anda memperhatikan hadits ini, akan hilanglah -insya Allah- ketidakjelasan yang tercermin dalam pertanyaan anda.

Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau berkata:

Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang nabi atau dua orang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: ‘Ini adalah Musa dan kaumnya,’ lalu dikatakan, ‘Perhatikanlah ke ufuk.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, ‘Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk surga tanpa hisab sejumlah 70.000 orang. Kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam masuk tanpa menjelaskan hal itu kepada para shahabat. Maka para shahabat pun membicarakan tentang 70.000 orang itu. Mereka berkata, ‘Kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya maka kitalah mereka itu atau anak-anak kita yang dilahirkan dalam Islam, sedangkan kita dilahirkan di masa jahiliyah.’ Maka sampailah hal itu kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau keluar dan berkata, ‘mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah (dimanterai), tidak meramal nasib dan tidak mita di-kai, dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal.” [HR. Bukhari 8270].

Maksud hadits ini menjelaskan bahwa ada satu kelompok dari ummat ini akan masuk surga tanpa dihisab, bukan berarti bahwa jumlah ahli surga dari ummat ini hanya 70.000 orang. Maka mereka yang 70.000 orang yang diterangkan dalam hadits ini adalah mereka yang memiliki kedudukan yang tinggi dari kalangan ummat ini karena mereka memiliki keistimewaan khusus yang disebutkan oleh hadits ini, yaitu mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak meramal nasib, dan tidak minta di-kai, serta hanya kepada Allah mereka bertawakkal.

 

Ada lagi hadits yang menjelaskan penyebab mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab di dalam riwayat lain bagi Imam Bukhari rahimahullah, dari Abbas radhiallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Ditampakkan kepadaku beberapa ummat. Maka ada seorang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh satu ummat, ada pula seorang nabi yang diikuti oleh beberapa orang, ada juga nabi yang diikuti oleh sepuluh orang. Ada juga nabi yang diikuti lima orang, bahkan ada seorang nabi yang berjalan sendiri. Aku pun memperhatikan maka tiba-tiba ada sejumlah besar orang, aku berkata, ‘Wahai Jibril, apakah mereka itu ummatku? Jibril menjawab, ‘Bukan, tapi lihatlah ke ufuk!’ Maka aku pun melihat ternyata ada sejumlah besar manusia. Jibril berkata, ‘Mereka adalah ummatmu, dan mereka yang di depan, 70.000 orang tidak akan dihisab dan tidak akan diadzab.’ Aku berkata, ‘Kenapa?’ Dia menjawab, ‘Mereka tidak minta di-kai, tidak minta diruqyah, dan tidak meramal nasib serta hanya kepada Allah mereka bertawakal.’Maka berdirilah Ukasyah bin Mihshan, lalu berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan salah satu seorang di antara mereka.’ Nabi pun berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah dia salah seorang di antara mereka.’Lalu ada orang lain yang berdiri dan berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku salah seorang di antara mereka.’ Nabi Shalalahu ‘alaihi wasslam menjawab, ‘Kamu telah didahului oleh Ukasyah’.” [HR. Bukhari 6059]

Tentang sifat mereka pun dijelaskan di dalam hadits Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata,

Pasti ada 70.000 orang dari ummatku atau 700.000 orang (salah seorang periwayat hadits ini ragu) akan masuk surga orang pertama di antara mereka, tidak memasukinya sebelum masuk pula orang terakhir dari mereka. Wajah-wajah mereka seperti bulan pada bulan purnama.” [HR. Bukhari]
Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]

Tentang sifat mereka diterangkan pula di dalam riwayat Muslim dalam shahihnya dari hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu,

“…, kemudian selamatlah orang-orang mukmin, selamat pulalah kelompok pertama dari mereka yang wajah-wajah mereka seperti bulan pada malam purnama sejumlah 70.000 orang. Mereka tidak dihisab kemudian orang-orang setelah seperti cahaya bintang di langit, kemudian yang seperti mereka.”

Bagi kita semua kaum muslimin ada kabar gembira dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam di dalam hadits ini dan hadits-hadits lainnya. Adapun kabar gembira dalam hadits ini karena ada riwayat yang lain dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah dari hadits Abu Umamah dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata,

Rabbku ‘Azza wa Jalla telah menjanjikan kepadaku bahwa ada dari ummatku yang akan masuk surga sebanyak 70.000 orang tanpa hisab ataupun adzab beserta setiap ribu orang ada 70.000 orang lagi dan tiga hatsiyah dari hatsiyah-hatsiyah Allah ‘Azza wa Jalla.”

Kita memohon kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar Dia menjadikan kita termasuk golongan mereka. Bila anda hitung 70.000 orang menyertai setiap seribu orang dari yang 70.000 itu, berapakah jumlah seluruhnya bagi orang yang masuk surga tanpa hisab?!?

Dan berapa jumlah seluruh hatsiyah dari hatsiyah Allah yang Agung dan Mulia, Yang Penyayang dan Pengasih?
Adapun berita gembira yang kedua adalah bahwa jumlah ahli surga dari ummat ini dua pertiga (2/3) dari seluruh jumlah ahli surga, maka jumlah ummat Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang masuk surga lebih banyak dibanding jumlah seluruh ummat yang lalu. Berita gembira ini datang dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sebuah hadits ketika beliau bersabada kepada para sahabatnya pada suatu hari,

“Ridhakah kalian, kalau kalian menjadi seperempat (1/4) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, ‘Ridhakah kalian menjadi sepertiga (1/3) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, ‘Ridhakah kalian menjadi setengah (1/2) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, “Demi Allah yang jiwaku ada dalam tangan-Nya, sesungguhnya aku berharap kalian menjadi setengah (1/2) dari penduduk surga karena surga tidak akan dimasuki kecuali oleh jiwa yang muslim dan tidaklah jumlah kalian dibanding ahli syirik kecuali seperti jumlah bulu putih pada kulit sapi hitam atau seperti bulu hitam pada kulit sapi merah.” [HR. Bukhari 6047]

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyempurnakan berita gembiranya kepada kita dalam hadits shahih yang lain. Beliau berkata,

“…, Ahli surga 120 shaf, 80 shaf di antaranya dari ummatku, dan 40 shaf lagi dari ummat lainnya.” [HR. Tirmidzi 3469,lalu Tirmidzi berkata, “Ini hadits hasan.”]

Maka kita memuji Allah atas nikmatnya dan kita memohon karunia dan rahmat-Nya, dan semoga Dia menempatkan kita di surga dengan upaya dan anugrah-Nya, dan semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi kita Muhammad. [sym].
(Sumber: Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid//http://islamqa.info/id/4203).

Kunci Surga ; Syarat La Ilaha Illallah (2)

Kunci Surga; La Ilaha Illallah

Kunci Surga ; Syarat La Ilaha Illallah (2)

Kita sering mendengar ungkapan ‘’Laa Ilaaha Illallaah adalah kunci surga”. Tetapi sebagian orang salah kaprah memahami ungkapan dia atas. Seolah sekadar mengucapkan sudah cukup. Padahal Laa Ilaaha Illallaah belum cukup sekadar diucapkan. Karena ia memiliki makna yang harus dipahami serta rukun dan syarat yang harus dipenuhi.

Kalau Kalimat Laa Ilaaha Illallaah merupakan kunci maka syarat-syarat syahadat Laa Ilaaha Illallaah adalah gigi-giginya. Setiap kunci akan berfungsi dengan baik jika memiliki gigi. Wahab bin Munabbih pernah ditanya, “Bukankah Laa Ilahaa Illallaah kunci surga?” Ia menjawab, “Betul.Tetapi, tiada satu kunci pun kecuali ia memiliki gigi-gigi, jika kamu membawa kunci yang memiliki gigi-gigi, pasti engkau dapat membuka pintu, namun jika engkau membawa kunci yang tidak ada gigi-giginya pasti pintu itu tak akan terbuka.” (HR. Bukhari).

Melalui pembacaan (istiqra) terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabawi, para Ulama menyimpulkan bahwa syarat kalimat syahadat La Ilaha Illallah ada delapan, yakni; ilmu, yakin, ikhlas, shidiq, mahabbah, inqiyad, qabul, dan kufur (inkar) terhadap thaghut. Syekh Abdul Aziz ibn Abdillah ibn ‘Abdirrahman ibn Baz rahimahullah merangkumnya dalam dua bait singkat:

علم يقين وإخلاص وصدقك                                 مع محبّة وانقياد والقبول لها
وزد ثامنها الكفران منك                             بما سوى الإله من الأوثان قد ألها

 

Syarat ilmu, yakin, dan ikhlas telah diterangkan pada tulisan sebelumnya. Pada tulisan ini akan diuraikan syarat shidiq dan mahabbah. Semoga Allah menunjuki kita semua ke jalan yang diridhai-Nya.

4. Shidq (Jujur) Lawan dari Dusta

Yaitu mengucapkan syahadat, dengan disertai pembenaran dalam hati. Allah Ta’ala berfirman dalam surah al-‘Ankabut ayat 1-3:

الم [٢٩:١] أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ [٢٩:٢]وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ [٢٩:٣]

Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Manakala lisan mengucapkan, tetapi hati mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 8-10.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepa-da Allah dan Hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS.Al-Baqarah: 8-10)

Oleh karena itu hendaknya seseorang mengucapkan kalimat ini dengan jujur dan tidak dusta. Sebab kejujuran merupakan syarat mendapatkan manfaat dari kalimat Laa Ilaaha Illallaah ini. Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya);

ما من أحد يشهد أن لا إله إلا الله وأنّ محمداً عبده ورسوله صادقاً من قلبه إلاّ حرّمه الله على النار

Tidak lah seseorang bersyahadat Laa Ilaaha Illallaah Muhammad ‘Abduhu Wa Rasuluh jujur dari lubuk hatinya melainkan Allah haramkan dirinya atas neraka.’’ (HR Bukhari).

Diharamkan masuk neraka artinya dimasukkan ke dalam surga. Karena di akhirat kelak hanya ada dua tempat kembali. Fariyqun fil jannati wa fariyqun fis sa’ir. Karena itu dalam riwayat Imam Ahmad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من قال لا إله إلا الله صادقا من قلبه دخل الجنة

Barangsiapa yang mengucapkan la ilaha illallah dan benar-benar keluar dari lubuk hatinya, niscaya masuk surga”. (HR: Ahmad).

5. Mahabbah (Cinta), Lawan dari Benci

Seorang yang bersyahadat dituntut untuk mencintai kalimat ini. Juga mencintai seluruh amal perbuatan yang merupakan konsekuensi dari kalimat ini. Mencintai Allah dan Rasul-Nya serta mencintai setiap manusia mu’min yang telah bersyahadat mengucapkan kalimat tauhid ini. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al Baqarah[2] ayat 165:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبّاً لِلَّه

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”. (QS.Al-Baqarah: 165).

Sebagai konsekwensi dari syarat ini adalah mencintai membenci segala yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, berupa perkatan dan perbuatan serta pelakunya. Yakni membenci kekufuran, kesyirikan, perbuatan dosa dan pelakunya. Hal ini merupakan bagian dari iman, bahkan merupakan ikatan iman yang paling kuat dan tanda kesempurnaan iman. (bersambung insya Allah) –sym-

Asmaul Husna [8] Al-Muhaimin (Yang Maha Pemelihara)

Asmaul Husna [8]: Al-Muhaimin (Yang Maha Pemelihara)

AL Muhaimin artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengawasi dan menyaksikan seluruh makhluk-Nya, berkuasa atas diri mereka dengan penuh perhatian dan kekuasaan, memberi mereka rezeki dan kehidupan.

Dengan nama ini, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengetahui seluruh perbuatan kita, baik itu yang kita tampakkan ataupun kita sembunyikan, di siang hari ataupun malam hari. Tidak ada sesuatupun dilangit dan di bumi yang tersembunyi dari penglihatan-Nya. Bahkan gerakan mata yang cepat dan lintasan niat dalam hati, dapat diketahui-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

الْمُهَيْمِنُ مُؤْمِنُ ا لسَّلَامُ ا لْقُدُّوسُ ا الْمَلِكُ هُوَ لَّا إِلَٰهَ لَا ي الَّذِ اللَّهُ هُوَ

Dia Lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selainDia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara.” (Al Hasyr ; 23)

شُهُودًا عَلَيْكُمْ كُنَّا إِلَّا عَمَلٍ مِنْ تَعْمَلُونَ وَلَا

Dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya.” (Yunus:61)

Kekuasaan dan keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sangat sempurna. Dengan kesempurnaan itu, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala mendengar segala suara yang disamarkan dan dibisikkan; mendengar rasa syukur dan keluh kesah; hingga akhirnya menolak bahaya dan musibah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala lah yang melimpahkan kepada makhluk-Nya nikmat-nikmat yang amat banyak.

Penghayatan kita terhadap nama ini akan membuat kita merasa malu kepada Allah Subhanahu wa ta’ala  dengan  sebenar-benarnya. Kita mearasa selalu diawasi Allah Subhanahu Wa Ta’ala disetiap tempat dan waktu. Maka dengan itu, kita tidak akan berbuat maksiat. Syiar kita setiap saaat adalah “Allah Subhanahu Wa Ta’ala melihat dan mengawasiku, bagaimana mungkin aku mendurhakai-Nya.”

Kunci Surga; La Ilaha Illallah (1)

Kunci Surga; La Ilaha IllallahKita sering mendengar ungkapan ‘’Laa Ilaaha Illallaah adalah kunci surga”. Ungkapan ini memang benar, tetapi sebagian orang salah kaprah memahami masalah ini. Mereka merasa bahwa sekadar mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah sudah cukup. Mereka menganggap diri telah memegang kunci pintu surga. Padahal Laa Ilaaha Illallaah memiliki makna yang harus dipahami dan syarat yang harus dipenuhi. Kalau Kalimat Laa Ilaaha Illallaah merupakan kunci maka syarat-syarat syahadat Laa Ilaaha Illallaah adalah gigi-giginya.

Setiap kunci akan berfungsi dengan baik jika memiliki gigi. Wahab bin Munabbih pernah ditanya, “Bukankah Laa Ilahaa Illallaah kunci surga?” Ia menjawab, “Betul.” “Tetapi, tiada satu kunci pun kecuali ia memiliki gigi-gigi, jika kamu membawa kunci yang memiliki gigi-gigi, pasti engkau dapat membuka pintu, namun jika engkau membawa kunci yang tidak ada gigi-giginya pasti pintu itu tak akan terbuka.” (HR. Bukhari).

Berikut syarat-syarat kalimat agung ini:

1. Ilmu sebagai lawan dari kejahilan

Maksudnya, seorang yang mengucakan syahadat Laa Ilaaha Illallaah harus mengetahui makna kalimat tesebut. Dia harus mengetahui bahwa makna dari kalimat itu adalah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan semua yang disembah selain Allah adalah sesembahan yang bathil. Pentingnya ilmu sebagai syarat Laa Ilaaha Illallaah diterangkan dalam beberapa ayat al-Quran, di antaranya surah Muhammad ayat 19 di atas dan Surat Az Zukhruf ayat 86:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS.Muhammad[47]:19).

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ [٤٣:٨٦

Dan orang-orang yang menyeru kepada selain Allah tidak dapat memberi syafaat (pertolongan di akhirat), kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka menyakini.”

Yang dimaksud dengan al-haq dalam ayat diatas adalah kalimat La Ilaha Illallah. Artinya, orang yang dapat memberi syafaat pada hari kiamat nanti hanyalah orang yang bersyahadat Laa Ilaaha Illallaah .

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjanjikan surga bagi orang yang meninggal dunia dalam keadaan mengetahui makna kalimat Laa Ilaaha Illallaah.

مَن مات وهو يعلم أنّه لا إله إلا الله دخل الجنّة

Barangsiapa yang meninggal dunia sedang ia mengetahui, Tidak ada Ilaah yang berhak disembah kecuali Allah , maka ia akan masuk surga.” (HR Muslim).

Akan tetapi sangat disayangkan sebagaian orang mengucapkan kalimat yang mulia ini tanpa mengetahui maknanya. Sehingga mereka melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kalimat ini.

2. Yakin, Lawan dari Keraguan

Maksudnya orang yang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Illallaah harus meyakini bahwa hanya Allah yang berhak untuk disembah dan meyakini pula bahwa semua yang disembah selain Allah adalah bathil. Adapun orang yang mengucapkan syahadat tanpa disertai oleh keyakinan maka ucapan syahadatnya tidak akan bermanfaat samasekali.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ [٤٩:١٥

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al Hujurat:15).

Dalam ayat di atas Allah mensyaratkan agar keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya dikatakan sebagai iman sejati, seseorang tidak boleh ragu dalam keimanannya. Karena ragu dalam keimanan merupakan ciri orang munafik.

Dalam haditsnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menjadikan keyakinan sebagai syarat masuk surga bagi orang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Illallaah. Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Aku bersyahadat, Tidak ada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah Rasulullah. Tidak lah seoang hamba menemui Allah (meninggal) dalam keadaan tidak ragu tentang dua hal ini melainkan ia kan masuk surga.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain dikatakan;

لا يلقى الله بهما عبدٌ غير شاكٍّ فيهما فيحجب عن الجنة

Tidak ada seorang hamba yang bejumpa dengan Allah (meninggal dunia) tanpa meragukan dua kalimat tersebut (yakin terhadap syahadat) yang terhalang masuk surga

Dalam hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu, Rasulullah berkata kepada beliau:

مَنْ لَقِيتُ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهِ قَلْبُهُ بَشَّرْتُهُ بِالْجَنَّةَ

Siapapun yang anda temui di balik tembok ini bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah disertai keyakinan hatinya terhadap kalimat tersebut, maka sampaikanlah kabar gembira kepadanya (bahwa ia akan masuk) surga”. (HR. Muslim)

3. Ikhlas Lawan dari Kesyirikan

Orang yang bersyahadat hendaknya mengucapkan kalimat itu dengan ikhlas semata-semata karena Allah. Kalimat yang agung ini tidak akan memberikan manfaat apa-apa kepada pengucapnya jika tidak diucapkan dengan ikhlas. Allah berfirman dalam surah Az-Zumar ayat 3:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

Ketahuilah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik)” (39:3)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, “Siapa orang yang paling berbahagia dengan syafa’atmu pada hari kiamat kelak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab;

أسعد الناس بشفاعتي من قال لا إله إلا الله خالصاً من قلبه أونفسه

“Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku adalah orang yang mengucapkan La Ilaha Illallah dengan ikhlas dari lubuk hatinya atau jiwanya” (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari ‘Utban Radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda;

إِنَّ اللهَ حَرّمَ عَلَى النَّارِ مَن قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله عزّوجلّ

Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah, ia lakukan hal itu karena mengharapkan wajah Allah ‘Azza wa jalla (Ikhlas).” (HR Bukhari).

Berbagai dalil al-Qur’an dan hadits di atas menunjukan bahwa kalimat La Ilaha Illallah tidak cukup sekadar diucapkan. Tapi harus diilmui, diyakini, dan disertai keikhlasan. –sym– (Bersambung insya Allah).

Asmaul Husna [7]: Al-Mukmin (Yang Maha Memberi Keamanan)

Asmaul Husna Al-Mukmin (Yang Maha Memberi Kemanan), Gambar:Tadabburdaily.com

Asmaul Husna [7]: Al-Mukmin (Yang Maha Memberi Keamanan)

Al- Mukmin artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Dzat yang menjadi tempat pelarian dan perlindungan orang-orang yang merasa ketakutan, sehingga kemudian mereka mendapat keamanan. Karena sesungguhnya keamanan itu hanya berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dia-lah Allah Yang Tiada Tuhan(yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan Keamanan.’’ ( Qs. Al- Hasyr:23 )

Nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala inilah yang menjadi asal kata aman, Amanah,dan Mukmin Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfiman :

فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ

“Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya). ‘’ ( Qs. Al- Baqarah: 283).

وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ

Budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu.” (Qs. Al-Baqarah:221 )

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bersabda: “Seorang mukmin adalah orang yang dirasakan tidak membahayakan orang lain dalam nyawa dan harta mereka.’’

Dari namanya, seorang mukmin seharusnya merasakan sebuah keamanan dalam nyawa dan harta mereka;bisa memegang amanah, jujur, dan sama sekali tidak bohong. Nama ini sangat baik untuk dijadikan sebagai Dzikir orang yang sedang merasa ketakutan, karena dengan menyebutkannya sepenuh hati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, akan memberinya rasa aman dari segala marabahaya. [sym]

Sumber: Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah.

Asmaul Husna [6]: As-Salam (Yang Maha Memberi Kesejahteraan)

Asmaul Husna [6] As-Salam (Yang Maha Memberi Kesejahteran)

Asmaul Husna [6]: As-Salâm ( Maha Memberi Kesejahteraan )

As- Salam artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala terbebas dari kekurangan ,cacat , dan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan Keagungan dan Kesempurnaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala .
Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :

 

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

 

Dia-lah Allah  Yang tiada Tuhan (yang berhak di sembah) selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera.” (Al- Hasyr:23).

Dari nama ini juga asal kata nama agama kita,islam. Satu-satunya agama yang mendapat ridha dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala .

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

 

Sesungguhnya agama(yang di ridhai) di sisi Allah hanya Islam.” ( Ali Imran: 190 )

Kemudian, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menjadikan nam- Nya ini sebagai sebuah penghormatan kepada hamba-Nya.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala ,

تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ ۚ وَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيمًا

Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah : “salam” ; dan Dia Menyediakan Pahala yang mulia bagi mereka.’ (Qs.  Al- Azhab : 44)

Ketika memasuki pintu surga, orang-orang yang beriman akan mendapat penghormatan dari pada malaikat berupa “ salam “

ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ

“(Dikatakan kepada mereka): ‘Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman”. ( Al- Hiijr: 46)

Dan Terakhir, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan para muslimin untuk selalu mengulang-ulang kata salam dalam ibadah dan shalat mereka. Seperti yang selalu kita ucapkan saat tasyahhud.

السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

“Semoga kesejahteraan , rahmat, dan berkah dari Allah diperuntukkan bagimu, wahai Nabi Allah. Semoga kesejahteraan juga diperuntukkan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang shalih.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Kalian semua tidak masuk surga kecuali kalian beriman. Dan kalian juga tidak akan beriman kecuali setelah saling mencintai sesama kalian. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang bisa membuat kalian saling mencintai? Tebarkan salam diantara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai”.

Asmaul Husna [5] Al-Quddus (Yang Maha Suci)

Asmaul Husna [5]: Al-Quddus (Yang Maha Suci). Gambar: Tadabburdaily.com.

Asmaul Husna [5]: Al-Quddus (Maha Suci)

Al-Quddus artinya Allah subhanahu wa ta’ala suci dari segala sesuatu yang bersifat kurang dan cacat. Sebaliknya, Al-Quddus adalah sebuah nama yang mengandung segala sifat kesempurnaan, yang terpuji dengan segala kebaikan dan keutamaan.

Nama ini berasal dari bahasa Arab. Al-Qudsu, yang berarti kesucian. Oleh karena itu, Masjidil Aqsha dinamakan Al-Baitul Muqaddas yang berarti masjid yang dibersihkan dari segala macam dosa.

Malaikat Jibril Alaihis Salam juga dinamakan Ruhul Qudus, karena beliau sangat suci dan bersih dari kesalahan, terutama saat menyampaikan wahyu kepada para Rasul .

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ

Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera.” (Qs. Al-Hasyr:23)

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Al-Jumu’ah: 1)

Setiap sujud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

سبوح قدوس ربّ الملائكة والروح

“Maha Suci Allah, Rabb para malaikat dan ruh.”

Yang dimaksud dengan ‘Subbuhun’ dan ‘Quddusun’ dalam doa tersebut adalah Dzat yang dibersihkan dan disucikan.

Dengan mengetahui dan merenungkan nama Allah subhanahu wa ta’ala yang satu ini, hendaknya kita selalu menyucikan diri kita dari segala keburukan, selalu menghiasi diri dengan perbuatan-perbuatan baik, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang membuat kita terhina. [sym].
(Sumber: Syarh Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah, hlm. 18-19.

Asmaul Husna [4]: Al-Malik (Maha Merajai)

Asmaul Husna [4]: Al-Malik (Maha Merajai)

Al-malik (raja) artinya allh swt. Berkuasa atas segala suatu, baik dalam hal memerintah ataupun melarang. Selain itu, Al-malik juga bermakna yang memiliki segala sesuatu. Dia tidak membutuhkan kepada sesuatupun, tapi baliknya, segala sesuatu membutuhkan-Nya
Allah swt. Berfirman

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ

Dia-lah allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang maha Suci, Yang Maha Sejahtera.”  (Al-Hasyr: 23).

 

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۖ لَاإِلَٰهَ إِلَّاهُوَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang Sebenermya; tidak ada tuhan (yang Berhak disembah) selain Dia. Tuhan (Yang mempunyai) Arasy yang mulia.” (Al-Mukminun: 116).

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّمَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّمَ نْتَشَاءُۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُۖإِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau hendaki. Di tangan Engkau Maha Kuasa atas segala kebaikan Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali Imran: 26)

Dan Rasulullah saw. Bersabda “Di hari kiamat kelak Allah swt. Akan mencengkram bumi, kemudian melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Saat itu Dia berkata “Akulah Raja, di manakah orang-orang yang mengaku dirinya raja?”

Setelah mengetahui makna nama Allah subhanahu wata’ala  Al-Malik ini;

  • Tidak selayaknya kita merendahkan diri kita di depan salah satu makhluk-Nya,
  • Kita juga seharusnya meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di tangan Allah swt. Lebih terjaga daripada apa yang ada di tangan kita, karena Allah subhanahu wa ta’ala lah yang memiliki segala sesuatu,
  • Hendaknya kita merasa cukup dengan Allah subhanahu wa ta’ala Dan tidak merasa butuk kepada yang lain,
  • Hendaknya kita meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di tangan kita sejatinya adalah milik Allah subhanahu wa ta’ala, kapan saja dan dengan cara bagaimanapun Dia bisa mengambilnya kembali. Dari satu kita tidak perlu merasa khawatir, tapi hendaknya berdoa seperti yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.,

سبحان ذي الجبروت والملكوت والكبرياء والعظمة

Mahasuci Allah swt. Yang memiliki kekuasaan, kerajaan, keangkuhan, dan keagungan.”

Sumber: Syarh Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah, hlm. 15-17