Asmaul Husna [29]: Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)

 Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)

Asmaul Husna 29 Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)

Asmaul Husna [29]: Al-Hakam (Yang Maha Menetapkan)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا

maka patutkah aku mencari Hakim selain daripada Allah”. (Qs. Al-An’am: 114)

Allah juga berfirman;

لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan baginya lah segala penentuan dan hanya kepadamu lah kamu dikembalikan”. (Qs.  Al- Qashash: 77).

Rasulullah shallallahu Allah u Alaihi Wasallam bersabda;

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah yang menetapkan”.

Al-Hakam artinya Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan sesuatu sangat rapi dan kuat. Tetapi juga bisa diartikan Hakim yang memutuskan sebuah perkara yang terjadi di antara hamba-hamba-nya baik di dunia maupun di akhirat.

Selain itu Al Hakam juga berarti yang mempunyai hak membuat hukum dan syariat,  sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala Allah yang mengetahui apakah seorang hamba berhak mendapatkan balasan baik ataupun balasan buruk. Hanya  Allah subhanahu wa ta’ala yang berhak membuat dan menetapkan hukum dan tidak ada seorang hamba yang bisa menyanggahnya.

Dengan  menghayati nama Al Hakam ini kita bisa mengambil beberapa pelajaran;

  1. Terdorong untuk menjadikan hukum Allah subhanahu wa ta’ala sebagai sumber memutuskan segala masalah itu hal kecil ataupun Besar.
  2. Merasa yakin bahwa segala yang kita terima adalah baik untuk kita dan akan membawa kita kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat walaupun keadaan awalnya terlihat sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan.

(Syarh Singkat  Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

Asmaul Husna [27]: As-Sami (Yang Maha Mendengar)

Asmaul Husna As-Sami (Yang Maha Mendengar)

Asmaul Husna As-Sami (Yang Maha Mendengar)

As-Sami artinya Allah subhanahu wa ta’ala mendengar. Maksudnya  mendengar sesuatu yang rahasia dan suara yang disembunyikan.

As-Sami’ adalah yang pendengaran-Nya melingkupi segala sesuatu yang bersifat dapat didengar. Baginya tidaklah berbeda antara suara yang keras, pelan, diucapkan, dan tidak diucapkan.

Karena  itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa dalam keadaan terpaksa, dan memaklumi kesalahan hamba-hambaNya ketika mereka mengakuinya.

Maha  suci Allah yang mendengar doa dalam satu kesempatan. Maha suci Allah yang mengabulkan beberapa doa dalam satu kesempatan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

“Ya Tuhan kami Terimalah dari kami amalan kami sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi maha mengetahui”. (Al-Baqarah: 127).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

“Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada yang tidak bisa mendengar atau kepada yang tidak ada kalian ini sedang berdoa kepada Allah yang Maha mendengar dan melihat”. (Sumber: Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustofa Warbah).

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Asmaul Husna [25,26]: Al-Mu’idz dan Al-Mudzil (Yang Maha Memuliakan dan Maha Menghinakan)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [٣:٢٦]

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs. Ali Imran:26).

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya”. (Fathir:10).

Allah Ta’ala lah yang memuliakan dan menghinakan. Orang yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala niscaya akan menjadi benar-benar mulia. Dia akan mempunyai kemuliaan, kekuatan, kemenangan atas hawa nafsunya dan atas musuh-musuhnya.

Orang-orang yang beriman akan dicintai Allah subhanahu wa Ta’ala dengan mengaruniai mereka kemiaan yang berasal dari kemuliaan Allah Subhanahu Wa  Ta’ala

Adapun orang-orang kafir, mereka akan dihinakan Allah di dunia, sehingga hidup mereka akan terhina dan matipun dalam keadaan hina. Sehingga kehidupan mereka di akhirat juga akan hina,  yakni dimasukkan ke dalam neraka.

Setiap orang yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala akan merasa cukup hanya dengan Allah Subhanahu Wa ta’ala dan dia tidak merasakan kebutuhan kepada manusia. Mereka juga merasa ridha dengan ketentuan Allah Subhanahu Wa ta’ala atas diri mereka.

Sedangkan orang-orang yang dihinakan oleh Allah akan dibuat selalu mengikuti hawa nafsu, perbuatan, dan pemikiran yang buruk. Mereka juga akan selalu tunduk dan menuruti segala perintah manusia, demi mendapatkan sesuatu dari mereka.

Dua nama ini juga seringkali disebutkan bersamaan untuk menunjukkan betapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuliakan dan menghinakan manusia berdasarkan hikmah-Nya.  (Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah )

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

Asmaul Husna [23 & 24]: Al-Khafidh dan Ar-Rafi’ (Yang Maha Merendahkan dan Maha Meninggikan)

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ [٥٨:١١[

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al Mujadilah: 11)

Allah Ta’ala juga berfirman;

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ [ ٥٦:١] لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ [٥٦:٢] خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ [٥٦:٣]

Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya.  (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain)”. (Qs. Al Waqiah 1-3).

 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak tidur dan tidak selayaknya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidur. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan meninggikan dan menurunkan timbangan orang banyak. maksud Al-Khafidz adalah yang menurunkan kesombongan dan kecongkakan para penguasa sehingga kedudukan mereka menjadi rendah dan hina. Bisa juga dimaksudkan dengan merendahkan orang-orang kafir dan musyrik dengan menjatuhkan mereka ke dalam neraka Jahannam.

Maksud Al-Khafidh adalah meninggikan para Wali Allah subhanahu wa ta’ala dan menolong mereka dalam melawan musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ar-Rafi’ juga berarti yang meninggikan kedudukan hamba-hamba yang dikehendakiNya di dunia sebelum mereka ditinggikan di akhirat dengan memasukkan mereka ke dalam surga pada derajat yang sangat tinggi. Seringkali  Al-Khafidh disebutkan bersamaan dengan Ar-Rafi’ sehingga terlihat dengan jelas bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala meninggikan dan merendahkan hamba-hambaNya sesuai dengan hikmahNya . (Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah).

Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh danAl-Basith  (Maha Menyempitkan dan Maha Melapangkan)

Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh Al-Basith  (Maha Menyempitkan dan maha melapangkan)

Asmaul Husna [21 & 22]:  Al-Qabidh Al-Basith  (Maha Menyempitkan dan maha melapangkan)

Dalam  Al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menerangkan maksud kedua nama ini (Al-Qabidh dan Al-Basith), misalnya dalam Surah  Al Baqarah ayat 245 dan Surah As-Syura ayat 27;

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ [٢:٢٤٥

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”. (Qs. Al-Baqarah:245)

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ [٤٢:٢٧

Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala itu adalah pencipta yang menyempitkan melapangkan memberi rezeki dan memberi kemuliaan. Aku  sangat berharap ketika bertemu Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak ada yang menuntut hak orang lain yang tidak kutunaikkan baik dalam masalah nyawa ataupun harta”.

Al-Qabidh adalah yang menahan dan tidak memberi rezeki atau sejenisnya kepada hamba-Nya demi kemaslahatan hamba itu sendiri. Bisa juga dimaksudkan dengan yang mencabut nyawa ketika seorang hamba meninggal dunia.

Pemberian  rezeki kepada seorang hamba dengan jumlah tertentu baik sedikit ataupun banyak adalah sebuah Rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala. Seandainya saja Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan rezeki sebanyak yang diinginkan hawa nafsu hamba-Nya tentu hal itu bisa membuatnya menjadi sombong, dzalim, dan berbuat kerusakan di atas bumi. Maka  dari itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan rezeki sesuai dengan yang diinginkan menurut ilmu dan hikmah-Nya.

Sedangkan Al-Basith adalah yang melapangkan rezeki hamba-nya karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersifat Pemurah dan penyayang. Bisa juga dimaksudkan dengan yang membentangkan nyawa dalam tubuh manusia sehingga tubuh itu bisa mendapatkan kehidupan.

Oleh karena itu Al-Basith adalah kebalikan al-Qabadhu. Kalimat  basatha asy Syaia adalah membentang sesuatu. Hal  terbesar yang dibentangkan dan diluaskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah rasa kasih dan cinta kepada kebaikan yang diletakkan dalam hati-hati manusia.

Karena merupakan dua hal yang berlawanan maka keduanya hendaknya disebutkan secara beriringan sehingga kita dapat merasakan dan meyakini bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan baik kelapangan maupun kesempitan adalah berdasarkan ilmu dan hikmah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 (Syarah Singkat Asmaul Husna, Mustafa Wahbah hal 57-58)

Al-Qahhar (Yang Maha Memaksa)

Asmaul Husna; Al-Qahhar (Yang Maha Memaksa)

Asmaul Husna; Al-Qahhar (Yang Maha Memaksa)

Al- Qahhar artinya Allah subhanahu wa ta’ala   memiliki kekuasaan penuh dalam mengungguli dan memaksa orang-orang yang kuat dan berkuasa.
Sesuai nama ini, berarti segala hal yang diinginkan Allah subhanahu wa ta’ala. pada diri makhluk-Nya pasti akan terjadi. Baik mereka mau atau tidak, senang atau benci. Karena segala sesuatu yang ada, baik makhluk hidup atau mati semuanya berada di bawah kendali Allah subhanahu wa ta’ala.

Kendali Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya bermacammacam bentuknya. Hal itu karena tidak terbatasnya kekuasaan, kebijaksanaan, dan ilmu Allah swt. Bisa saja berbentuk membuat diri lemah, sakit, bahkan mati. Allah  subhanahu wa ta’ala berfirman,

هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Dia-lah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan ” (Qs. Az-Zumar: 4)

قُلْ إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ ۖ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Katakanlah (ya Muhammad): “Sesungguhnya aku. hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan.” (Qs. Shad: 65)

Dengan memahami dan menghayati nama Al-Qahhar, kita terdorong untuk selalu memaksa dan menguasai jiwa kita, sehingga jiwa kita tidak jahat dan melampaui batas-batas agama. Hal ini merupakan awal perjalanan menuju keselamatan kita dari marabahaya. [sym].

Asmaul Husna: Al-Ghaffar (Yang Maha Pengampun)

Al-Ghaffar (maha pengampun) artinya Allah subhanahu wa ta’ala sangat senang dalam menutupi dosa hamba-Nya, dan mengabaikan kesalahan-kesalahan hamba-Nya.

Al-Ghaffar berasal dari al-ghafru, yang berani menutupi. Nama Allah subhanahu wa ta’ala Al-Ghaffar menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menutupi dosa-dosa hamba-Nya, dan tidak menampakkannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَلَا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفَّٰرُ

Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. ” (Qs. Az-Zumar: 5)

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ

Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Qs. Shad: 66)

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Pada hari kiamat, seorang mukmin akan didekatkan kepada Allah swt., kemudian dia diberitahu akan dosa-dosanya. Allah subhanahu wa ta’ala bertanya kepadanya, “Apakah engkau tahu dosa ini?” Sang mukmin menjawab, “Benar, wahai Tuhanku Aku mengetahuinya. ” Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berkata kepadanya, “Sesungguhnya Aku telah menutupinya di dunia, karena itu Aku pun akan menutupinya sekarang ini.” Maka setelah itu, sang mukmin memperoleh buku kebaikan.”

Dalam hadits Qudsi yang lain, juga disebutkan firman Allah subhanahu wa ta’ala ;
Wahai hamba-hambaKu, kalian berbuat kesalahan siang-malam, tapi Aku akan mengampuni semua dosa kalian. Maka mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni. ”

Dapat disimpulkan bahwa pelajaran yang bisa diambil dari menghayati nama Allah subhanahu wa ta’ala Al’Ghaffar ini adalah agar kita banyak beristighfar, memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala. [sym].

Asmaul Husna (09): Al-Jabbar (Maha Kuasa)

Asmaul Husna (09): Al-Jabbar (Maha Kuasa)

Al-Jabbar  (maha kuasa) berarti berkuasa untuk memaksakan keinginan-Nya kepada hamba-Nya, berkuasa untuk memerintah dan melarang, sehingga hamba-hamba-Nya hanya bisa berkata sami’na wa atha’na saja.

Al– Jabbar juga berarti yang kuat dan tahan, sehingga tidak ada yang bisa berbuat buruk dan membahayakan-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ 

Dia-Lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhhak disembah) selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa.” (Al-Hasyr:23)

Nama Al-Jabbar  mempunyai tiga makna; Kuasa Kekuatan, Kuasa Kasih Sayang, dan Kuasa Ketinggian.

Kuasa Kekuatan, maksudnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Kuasa atas segala penguasa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengalahkan mereka semua dengan kekuasaan dan kekuatan-Nya.

Kuasa Kasih Sayang, maksudnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyayangi orang lemah, memperbaiki keadaannya dengan cara memberi mereka kekayaan dan kekuatan.

Sedangkan Kuasa Ketinggian, maksudnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Mahatinggi diatas seluruh ciptaan-Nya, tidak ada makhluk yang bisa mencapai-Nya.
Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berdoa, “Maha Suci Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang memiliki Kekuasaa, Kerajaan, Keangkuhan, dan Keagungan.”

Dari memahami makna-makna diatas, dapat diambil pelajaran bahwa;
a. Sudah selayaknya seorang mukmin meminta pertolongan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Baik dalam menguatkan yang lemah, ataupun dalam mengalahkan seorang yang dzalim.

b. Seorang mukmin hendaknya selalu menyerahkan segala urusan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena kehendak-Nya pasti terlaksana, dalam hal apapun dan kepada siapapun.