Ulama dan Da’i Asia Tenggara Serukan Umat Jaga Haramain dan Baitul Maqdis

ustadz zaitun

Ulama dan Da’i Asia Tenggara Serukan Umat Jaga Haramain dan Baitul Maqdis

Jakarta (wahdahjakarta.com) – Ikatan (Rabithah) Ulama dan Da’i Asia Tenggara menggelar Seminar Internasional Pembelaan Terhadap Kota Suci Umat Islam, di Grand Hotel Cempaka, Jakarta Pusat, Jumat,  (6/7/2018).

Ketua Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara KH Muhammad Zaitun Rasmin, menyerukan kaum Muslimin agar melakukan pembelaan terhadap Baitul Maqdis. Menurut dia, kaum Muslimin, terutama para pemimpin dan ulama, harus menyikapi persoalan tanah suci secara adil dan seimbang.

“Perjuangan membebaskan Baitul Maqdis dari cengkeraman Zionis Yahudi sama pentingnya dengan menjaga dan melindungi Haramain dari usaha mengacaukan dan mencabutnya dari pelayannya yang sah,” ungkap Ustadz Zaitun saat membacakan pernyataan sikap usai Seminar Internasional yang dihadiri seratusan peserta.

Menurut Ustadz Zaitun, tidaklah adil jika kaum Muslimin hanya menjaga kemuliaan Haramain sementara penderitaan Baitul Maqdis dibiarkan tanpa ada yang memperdulikannya. Padahal, jelas dia, keberadaan tanah suci seperti Mekah, Madinah dan Baitul Maqdis tidak dapat dipisahkan dari akidah kaum Muslimin.

Ketua Umum Wahdah Islamiyah (WI) ini mengungkapkan, kaum muslimin di seluruh dunia wajib bersyukur atas terpeliharanya dua kota suci utama, yaitu Mekah dan Madinah (haramain), dalam penjagaan dan pemeliharaan penuh kaum muslimin di bawah kepemimpinan Raja Saudi Arabia sebagai pelayan dua kota suci (khadimul haramain).

“Namun demikian, kaum muslimin tidak boleh lupa dengan kondisi kota suci yang ketiga, yaitu Baitul Maqdis yang sudah lebih dari tujuh puluh tahun dalam cengkeraman penjajahan Zionis Israel hingga saat ini,” ungkap Zaitun.

Seharusnya, lanjut  ustadz Zaitun, semua kota suci itu harus berada dalam penguasaan, pemeliharaan, dan penjagaan umat Islam sendiri. Alasannya hakikat kota suci itulah adalah keberadaan “Rumah Allah”, yaitu mesjid-mesjid suci, dan Allah hanya mengizinkan penjaga dan pemakmur mesjid-mesjid Allah itu adalah orang-orang yang beriman, bukan orang-orang yang kafir dan menyekutukan-Nya.

Seminar internasional “Pembelaan terhadap Tanah Suci Umat Islam” diikuti oleh sekiar seratus ulama dan da’i dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka adalah sebagian dari peserta Pertemuan Ilmiah Internasional ke-5 yang digelar sejak Selasa, 3 Juli lalu. Bertindak sebagai narasumber Syekh Dr Murawih Nassar.

Saat konferensi pers, selain dua narasumber utama, Zaitun Rasmin juga didampingi oleh Sekjen MIUMI sekaligus Ketua Umum Spirit of Aqsa Ustaz Bachtiar Nasir, Mudir Aam JATMAN KH Wahfiudin, dan beberapa ulama dari negara lain. []

Sumber:Suaraislam.online.com

Multaqa Ulama dan Da’i se Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa Resmi Ditutup

Multaqa Ulama dan Da’i se Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa Resmi Ditutup

(Jakarta) wahdahjakarta.coom-,  Multaqa (Pertemuan) Ulama dan Da’i se Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa ke.V resmi ditutup pada Jum’at (06/07/2018).

Penutupan  agenda tahunan Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara ini dihadiri Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan  yang  menutup resmi gelaran Multaqo ini secara resmi.

Menurut Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin multaqa kali ini mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya.

“Alhamdulillah multaqa tahun ini mengalami peningkatan dari sebelumnya, baik dari sisi pelaksanaan maupun kepesertaan”, ucapnya.

“Multaqa kali dihadiri oleh utusan dan perwakilan berbagai ormas dan lembaga Islam di Indonesia seperti; Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama (NU), Persis, dan sebagainya”, imbuhnya.

Sementara Gubernus Anies dalam sambutannya menyampaikan harapan agar Multaqa ini dapat terus berlangsung dan berharap agar penyelenggaraan berikutnya semakin lebih baik lagi.

Menurutnya, pertemuan itu penting karena dihadiri oleh para ulama dari banyak negara.

“Kita bisa merasakan dari dekat kehadiran ulama dari berbagai belahan dunia ini,” ujarnya.

Secara khusus, Anies juga menyampaikan apresiasinya kepada utusan da’i dan ulama dari Indonesia yang telah memberikan warna di kancah dunia.

“Saya ucapkan terima kasih telah ikut membawa nama umat Islam Indonesia,” terangnya.

Multaqa tersebut juga menghasilkan 10 poin rekomendasi. Diantaranya adalah bagaimana memperkuat Jakarta sebagai salah satu pusat peradaban dalam konteks nasional dan internasional.

Untuk merealisasikan seluruh keputusan dan rekomendasi  forum multaqa ini Multaqa mengamanahkan dibentuk panitia khusus untuk merealisasikan seluruh keputusan forum multaqa ini dengan melibatkan semua unsur-unsur terkait.

Pertemuan yang digelar selama empat hari sejak Selasa (3/8/2018) dihadiri oleh sebanyak 600 ulama dan da’i dari Indonesia , Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. []

Inilah 10 Rekomendasi Pertemuan Ulama dan Da’i Asia Tenggara, Arika, dan Eropa

Pertemuan Ulama dan Da'i Internasional

Sambutan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada Penutupan Pertemuan Ulama dan Da’i Internasional

Inilah 10 Rekomendasi Pertemuan Ulama dan Da’i Asia Tenggara, Arika, dan Eropa

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Pertemuan Ulama dan Da’i se-Asia Tenggara, Afrika ke.V yang digelar selama empat hari resmi ditutup hari ini, Jum’at (06/07/2018) oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Forum Ilmiah Internasional ini menghasilkan sepuluh rekomendasi strategis terkait persoalan dakwah dan problematika umat Islam. Berikut poin-poin penting rekomendasi multaqa sebagaimana dibacakan Sekjen Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara Jeje Zainuddin.

***

REKOMENDASI

PERTEMUAN ULAMA DAN DA’I ASIA TENGGARA, AFRIKA DAN EROPA

DENGAN TEMA: “BERPEGANG TEGUHLAH DENGAN TALI ALLAH, SINERGI UNTUK HARMONI”

JAKARTA, 19-22 SYAWAL 1439 H/ 3-6 JULI 2018

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan semoga Allah memberkati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi yang terpercaya, dan semua saudara-saudaranya para Nabi dan Rasul, keluarga beliau yang baik dan suci, serta sahabat-sahabat beliau.

Pada tanggal 19-22 Syawal 1439 H. bertepatan dengan 3-6 Juli 2018, bertempat di Jakarta, telah berlangsung Forum Ilmiah Internasional Kelima ulama dan da’I se-Asia Tenggara, Afrika dan Eropa dengan tema “Bersatulah”. Forum tersebut merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya, yang merupakan hasil kerjasama antara Yayasan Al-Manara dan Pemerintah Jakarta dan dihadiri oleh kurang lebih 600 Ulama, Dai’, peneliti dan aktivis di bidang dakwah yang berasal dari berbagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan yang berpegang pada moderasi Islam.

Setelah para peserta membahas kondisi bangsa dan peran dakwah dan da’i dalam proses reformasi dan kebangkitan bangsa dalam situasi kondisi ketika umat Islam tengah menghadapi serangan-serangan keji dari luar dan aliran-aliran radikal dari dalam, yang mengharuskan para aktivis di bidang dakwah untuk mengerahkan energi dalam mengimplementasikan dan menerjemahkan konsep-konsep Islam yang bersifat teoritis ke dalam tataran praktis dan implementatif. Dalam rangka untuk menyelamatkan umat Islam dari krisis yang menyelimutinya. Maka para peserta forum ini menyepakati untuk mendeklarasikan keputusan-keputusan dan rekomendasi sebagai berikut:

  1. Menekankan pentingnya rahmat dalam Islam dan hidup berdampingan secara damai dan harmoni antara Muslim dan non-muslim dan bahwa cinta terhadap kebaikan antar sesama merupakan hal yang baik, maka seharusnya tidak menginginkan keburukan untuk dirinya sendiri dan orang lain

  2. Untuk mencapai persatuan dan kesatuan di antara umat. Perlu berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang komprehensif dan terintegrasi yang sejalan dengan kaidah-kaidah ilmiah dan praktis yang telah disusun oleh para ulama otoritatif dari masa ke masa.

  3. Pentingnya membangun kemitraan kerja sama antara lembaga-lembaga dakwah dengan berbagai lembaga-lembaga ilmiah dan pendidikan baik pemerintah atau swasta, dalam rangka mencapai perdamaian, stabilitas, kemajuan, pembangunan dan kemakmuran dalam naungan ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

  4. Meningkatkan peran strategis lembaga-lembaga dakwah dan kontribusinya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Muslim di berbagai bidang dan disiplin ilmu dalam rangka mewujudkan misi “khairu ummah” dan “ummatan wasatha”.

  5. Memperkuat posisi keluarga sebagai institusi terkecil dan pondasi dasar bangsa dan negara, melalui pendidikan dan pengembangan karakter yang mulia yagn sejalan dengan ajaran Islam yang hanif.

  6. Mendorong para ulama dan da’i untuk melakukan revolusi penyampaian dakwah yang cepat dengan memanfaatkan teknologi informasi (IT) dan media sosial sebagai media untuk menyampaikan dakwah Islam yang berorientasi kepada budaya literasi.

  7. Mengingat Indonesia adalah negara Muslim terbesar dalam hal jumlah penduduk, ia harus memainkan peran utama dalam menciptakan perdamaian dunia melalui dakwah dan pendidikan yang didukung oleh kebijakan pemerintah yang benar

  8. Karena Jakarta sebagai Ibu Kota Negara memiliki berbagai keragaman agama, etnis, sosial, budaya dan lain-lain, maka setiap orang yang bekerja di bidang dakwah Islam harus mengambil metode dan strategi yang dapat membina dan mempertahankan kohesi sosial.

  9. Memperkuat kedudukan kota Jakarta sebagai pusat Peradaban berbasis Dakwah dan Pendidikan Islam di konteks nasional dan internasional.

  10. Membentuk panitia khusus untuk merealisasikan seluruh keputusan forum multaqa ini dengan melibatkan semua unsur-unsur terkait.

[ed:sym]

Ketiga Ustadz Ini Sepanggung dan Ceramah di Forum  Ulama dan Da’i Internasional

Ustadz Zaitun

Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin memandu Talkshow tiga Ulama Muda Indonesia, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Bachtira Nasir, dan Ustadz Abdul Shomad

Ketiga Ustadz Ini Sepanggung dan Ceramah di Forum  Ulama dan Da’i Internasional

 

(Jakarta) Wahdahjakarta.com-, Pada Kamis (05/07/2018) yang merupakan malam puncak acara Pertemuan (Multaqa) Ulama dan Da’i se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa ke-5, para peserta menanti suatu momen yang ditunggu-tunggu. Yakni Talkshow tiga Ulama Muda Indonesia; Ustadz Bachtiar Nasir (Sekjen MIUMI Pusat), Ustadz Abdul Shomad, Ustadz Adi Hidayat.

Para ustadz masyhur yang selama ini memenuhi ruang-ruang di media sosial, pada malam itu duduk di satu meja, bergantian berceramah di hadapan para ulama dan masyayekh dari berbagai negara, dan dengan intensif berbahasa Arab.

Dimoderatori Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, para ustadz yang ketika itu dipanggil dengan gelar “syekh” itu pun satu per satu menyampaikan risalah Islam dengan kekhasannya masing-masing.

“Syekh Bachtiar Nasir, Syekh Abdul Somad, dan Syekh Adi Hidayat,” Ustadz Zaitun Rasmin memanggil satu per satu ketiganya ke atas panggung.

Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) diberi giliran pertama dan berbicara tentang persatuan dan lemahnya kondisi umat Islam saat ini dalam politik, ekonomi, dan bidang strategis lainnya.

Dalam penjelasaannya, UBN mengutip kisah terkenal ulama Mesir Syekh Mutawalli As-Sya’rawi yang menjawab pertanyaan seorang orientalis mengenai kebenaran Al-Quran. Cukup singkat ceramah UBN pada malam itu.

“Saya meyakini persatuan di antara kita, tidak akan pernah terjadi sebelum kita meng-upgrade status dari sekedar Muslimin menjadi Mu’minin,” ujar UBN, melansir Islamic News Agency (INA) kantor berita yang diinisiasi Jurnaslis Islam Bersatu (JITU).

Selanjutnya, Ustadz Abdul Somad (UAS) mengawali ceramahnya dengan memperkenalkan diri kepada para masyayekh mengenai latar belakang pendidikan dan asal-usulnya.

Dalam ceramahnya, UAS membawa masalah perbedaan madzhab fikih dengan pembawaan yang ringan. Dia bahkan terkadang menyelipkan humor yang tak jarang membuat para peserta dan para ulama yang lengkap dengan gamis dan kefiyyehnya itu tak mampu menahan tawa.

“PERSIS, NU, Muhammadiyah semuanya adalah saudara kami. Perbedaan-perbedaan yang ada hanyalah bersifat furu’iyah (cabang) bukan ushuliyah (landasan atau dasar-dasar agama),” ucap UAS.

Sementara Ustadz Adi Hidayat (UAH), dengan gaya bahasa yang puitis, yang didukung dengan penyebutan ayat-ayat Al-Quran yang dikontekstualisasikan dengan sejarah Islam di Nusantara berkali-kali membuat para peserta berdecak kagum.

Seakan dia ingin berpesan, bahwa datangnya rahmat Allah ke Indonesia tidak dapat dilepaskan begitu saja dari peran para ulama terdahulu yang telah menyebarkan agama Islam ke berbagai penjuru Tanah Air.

UAH, yang memiliki latar belakang Muhammadiyah, secara fasih dapat menyebutkan silsilah pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. “Keduanya merupakan dua bersaudara dari kakek buyut yang sama”, tegasnya.

Selain dihadiri ulama, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga tak ingin melewatkan momen tersebut. Tidak seperti biasanya, Anies hadir tanpa berbicara di hadapan umum dan mengaku hanya ingin menikmati ceramah para ustadz. [ed:sym].

200 Da’iyah Hadiri Pertemuan Internasional Ulama dan Da’i di Jakarta

Muslimah Wahdah

Syeikhah Ahlam Najii (Ketua lLembaga Tahfidzul Quran ), dan Ustadzah KarimatunNisa, Lc (Mulimah Wahdah Jakarta)

200 Da’iyah Hadiri Pertemuan Internasional Ulama dan Da’i di Jakarta

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Pada Rabu (04/07/2018) yang merupakan hari kedua Pertemuan (Multaqa) Internasional ke-5 Ulama dan Da’i,  panitia menggelar pertemuan Da’iyah dan Pimpinan Pesantren seindonesia yang kedua.

Acara ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta ustadzah dan daiyah dari berbagai ormas Islam, seperti ‘Aisyiyah, Muslimat Nahdatul Ulama, Muslimah Al Irsyad, Muslimah Wahdah Islamiyah (Muslimah Wahdah), BKMM, FKMT  SE-DKI Jakarta.

Muslimah Wahdah Islamiyah diwakili oleh Ketuanya Ustadzah Harisa Tipa Abidin  bersama beberapa pengurus Muslimah Wahdah Wilayah Jakarta.

Kegiatan ini menghadirkan tiga pembicara, Syeikh Abdullah Kamil, Syeikhah Ahlam Najii (ketua lembaga tahfidzul quran ), dan Prof. DR. Masyitah Chusnan, (Pimpinan Pusat Aisyiyah), Ustadzah Munirah Al-Muhaibi (sambutan), dan Ustadzah KarimatunNisa, Lc (Mulimah Wahdah Jakarta) selagai translator ceramah Syeikhah Ahlam.

Syeikh Abdullah menyampaikan materi Peran Wanita Islam dalam Melahirkan Generasi dan Mengukir Sejarah. Sementara Syeikhah Ahlam Najii berbicara tentang Al-Quran dalam kehidupan.  Prof. Masyitah yang juga rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menyampaikan topik tentang Peranan Wanita Muslimah di Indonesia.

Pertemuan (Multaqa) ini digelar setiap tahun sejak tahun 2014 yang dirangkaikan dengan Deklarasi Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara. Selanjutnya Multaqa Ulama dan Da’i ini menjadi agenda tahunan lembaga yang dipimpin Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin ini.  pertama yang digelar di Depok Tahun 2014 sebagai tahun pembentukan Rabithah.

 Multaqa yang kedua tahun 2015 diselenggarakan di Lembang Jawa Barat dengan tema “Waman Ahsanu Qaulan..”. Multaqa yang ketiga diselenggarakan di Sentul-Bogor dengan tema Ummatan Wasatha. Multaqa ke empat tahun 2017 diselenggarakan di Kota padang dengan Tema “Wihdatul Ummah”.

Sejak Multaqa ke.4 yang digelar di Padang (2017) lalu diagendakan pula pertemuan Ulama Wanita, Da’iyah, dan Ustadzah serta pimpinan Pesantren dan aktivis dakwah Muslimah. (U2/ed:sym).

Di Pertemuan Ulama Anies Baswedan Beberkan Keunikan Indonesia Jaga Persatuan

Anies Baswedan

Gubernur DKI Jakarta Anies BaswedanAnies Baswedan menyampaikan sambutan pada Pembukaan Multaqa Pertemuan Ulama dan Da’i Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa ke.5 di Jakarta, Selasa (03/07/2018).

Di Pertemuan Ulama Anies Baswedan Beberkan Keunikan Indonesia Jaga Persatuan

(Jakarta) wahdahjakarta.com-,  Selasa (03/07/2018) Ikatan Ulama dan Asia Tenggara bekerjasama dengan Yayasan Al-Manarah al-Islamiyah menggelar Multaqa (Pertemuan) Ulama dan Da’i Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa di Jakarta pada Selasa (03/07/2018).

Acara ini didukung pula oleh Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (Pemprov DKI) Jakarta. Dalam sambutannya Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan bahwa pertemuan ulama dan da’i adalah momen untuk menggaungkan dan menunjukkan persatuan di Indonesia di mana para hadirin dapat belajar dari persatuan di Indonesia.

Sebab menurutnya Indonesia bangsa yang unik dalam menjaga persatuan dan mengelola keragaman. “Indonesia negeri yang amat bhineka, 700 bahasa 400 suku bangsa  namun yang unik dari Indonesia bukan keberagamannya saja, yang unik dari Indonesia adalah persatuan di dalam keberagaman”, ungkapnya. “Bersatu di dalam keberagaman, di situ letak keunikannya”, imbuhnya.

Penggagas Gerakan Indonesia mengajar ini mengatakan bahwa selama ini kita fokus kita banggakan adalah keberagaman, kita lupa bahwa yang harus kita rayakan bukan hanya keberagaman, yang harus dirayakan adalah persatuan.

Oleh karena itu sebagai Gubernur DKI mengaku bangga dan bersyukur, Jakarta dipilih sebagai tuan rumah penyelenggara Multaqa ini.   Beliau  berharap dari Indonesia terbit perdamaian dan menyebar ke seluruh tempat. Khususnya negeri  yang saat ini belum merasakan perdamaian.

“Membangun persatuan di Indonesia bukan berarti kita menghilangkan masalah tetapi dari waktu ke waktu kita sebagai bangsa selalu bisa menyelesaikan masalah dan menjaga persatuan, dan mungkin dunia Islam bisa belajar banyak dari bagaimana persatuan di Indonesia bisa dibangun,” ucap Anies.

Gubernur Anies juga mengucapkan terima kasih atas kesediaan Wapres RI Muhammad Jusuf Kalla yang hadir menyampaikan sambutan dan membuka acara ini. Menurutnya kedatangan Wapres RI makin menyiratkan pesan perdamaian kepada para hadirin, terlebih Wapres RI telah banyak berjasa dalam upaya perdamaian di banyak tempat. “Pak Wapres juga seorang yang banyak bekerja membangun perdamaian banyak persoalan konflik di Indonesia di mana beliau terlibat, termasuk juga konflik di berbagai wilayah di Asia Tenggara dan bahkan bulan lalu sempat dengan pihak Afganistan untuk merancang solusi perdamaian, ” tandasnya. [sym].

 

Wapres JK: Konflik di Negara Islam Tak Lepas dari Peran Negara Besar

Wapres RI JK

Wapres JK: Konflik di  Negara Islam Tak Lepas dari Peran Negara Besar

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Ikatan Ulama dan Asia Tenggara bekerjasama dengan Yayasan Manarah al-Islamiyah dan Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (Pemprov DKI) Jakarta menggelar Pertemuan Ulama dan Da’i Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa di Jakarta pada Selasa (03/07/2018).

Forum Ulama dan Da’i Internasional ke.5 ini dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI) Muhammad Jusuf Kalla (JK). Dalam sambutannya, JK menyinggung soal konflik yang dialami umat Islam di beberapa negara kawasan Asia Tenggara dan dunia Islam seperti Myanmar hingga Suriah.

“Di Asia Tenggara ada konflik melibatkan umat Islam di Myanmar, Filipina. Di TV, kita melihat kesedihan seperti di Suriah, Afghanistan. Semoga negara-negara umat islam  tersebut segera mencapai perdamaian,” unjar JK yang dikenal sebagai tokoh perdamaian.

JK mengatakan, selama ini, Indonesia telah terlibat dalam membantu perdamaian di Myanmar saat konflik Rohingya. Tak hanya itu, Indonesia juga memberikan sumbangan pikiran untuk perdamaian Afghanistan dengan Taliban.

“Jadi juga perlu kita pelajari mungkin pertemuan seperti ini secara khusus kenapa, terjadi konflik di negara Islam, di banyak negara, tak lepas dari pengaruh negara besar,” jelasnya.

Sementara Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengucapkan terima kasih atas kesediaan Wapres RI membuka acara tersebut. Menurut Anis kedatangan Wapres RI makin menyiratkan pesan perdamaian yang merupakan spirit dari tema Multaqa ini. Terlebih  Wapres RI telah banyak berjasa dalam upaya perdamaian di banyak tempat.

“Pak Wapres juga seorang yang banyak bekerja membangun perdamaian, banyak persoalan konflik di Indonesia di mana beliau terlibat, termasuk juga konflik di berbagai wilayah di Asia Tenggara dan bahkan bulan lalu sempat dengan pihak Afganistan untuk merancang solusi perdamaian, ” pumgkasnya.

Forum internasional ini  dihadiri lebih dari 500 peserta  yang didominasi oleh para undangan dalam negeri yang terdiri dari para ulama, cendekiawan, dai, dan para utusan pimpinan ormas Islam seperti Majeli Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama (NU),  Persatuan Islam (PERSIS), Wahdah Islamiyah (WI), Dewan Dakwah Islamiyah (DDII), Front Pembela Islam (FPI),  Al Irsyad, Syarikat Islam, An Najat al Islamiyah, PUI,  Al Washliyah,  Hidayatullah,  GP Anshar DKI,  dan ormas-ormas lainnya.  Demikian  juga lebih dari seratus ulama dan dai datang sebagai undangan dari negara-negara Asia Tenggara dan beberapa ulama dan tokoh utusan dari negara-negara Afrika dan Eropa serta belasan duta besar negara-negara Islam untuk Indonesia.

Acara ini diselenggarakan di Grand Cempaka Hotel dan  dijadwalkan akan berlangsung selama tiga hari, mulai dari hari Selasa 19 Syawal 1439 H (03/07/2018) s/d 22 Syawal 1439 H (06/07/2018).  [sym].

Da’i Ikut Nyaleg dan Masuk Parlemen, Ini Fatwa Syaikh bin Baz

Anggota Dewan

Da’i Ikut Nyaleg dan Masuk Parlemen, Ini Fatwa Syaikh bin Baz

 Da’i koq nyaleg dan masuk parlemen”. Begitu komentar sebagian orang ketika ada aktivis dakwah yang terjun ke kancah politik praktis dengan ikut mencalonkan diri sebagai anggota dewan atau nyaleg.

Masalah ini pernah ditanyakan kepada Mufti Kerajaan Saudi Arabia yang lalu  Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah. Menurut beliau orang yang memiliki pijakan yan kuat dan landasan ilmu boleh masuk ke dalamnya, dengan syarat tujuan dan motivasinya untuk menegakkan kebenaran dan mengarahkan manusia kepada kebaikan serta menghambat kebatilan.

“Tujuan utamanya bukan untuk kepentingan dunia atau ketamakan terhadap harta, ia masuk benar-benar hanya untuk menolong agama Allah, memperjuangkan yang haq dan mencegah kebatilan, dengan niat baik seperti ini, maka saya memandang tidak mengapa melakukan hal itu”, terangnya.

“Bahkan seyogyanya dilakukan agar dewan dan majelis seperti itu tidak kosong dari kebaikan dan pendukung-pendukungnya”, tegasnya.

Berikut fatwa beliau selengkapnya;

***

Pertanyaan:

Banyak penuntut ilmu syar’i yang bertanya-tanya tentang hukum masuknya para du’at dan ulama ke dalam dewan legislatif dan parlemen, serta turut serta dalam pemilihan umum di negara yang tidak menjalankan syari’at Allah. Maka apakah batasan untuk hal ini ?

Jawaban :

Masuk ke dalam parlemen dan dewan legislatif adalah sangat berbahaya.  Masuk ke dalamnya sangatlah berbahaya. Akan tetapi barang siapa yang masuk ke dalamnya dengan landasan ilmu dan pijakan yang kuat, bertujuan menegakkan yang haq dan mengarahkan manusia kepada kebaikan serta menghambat kebatilan, tujuan utamanya bukan untuk kepentingan dunia atau ketamakan terhadap harta, ia masuk benar-benar hanya untuk menolong agama Allah, memperjuangkan yang haq dan mencegah kebatilan, dengan niat baik seperti ini, maka saya memandang tidak mengapa melakukan hal itu, bahkan seyogyanya dilakukan agar dewan dan majelis seperti itu tidak kosong dari kebaikan dan pendukung-pendukungnya. (Ini) bila ia masuk (dalam perlemen) dengan niat seperti ini dan ia mempunyai pijakan yang kuat agar ia dapat memperjuangkan dan mempertahankan yang haq serta menyerukan untuk meninggalkan kebatilan. Mudah-mudahan Allah memberikan manfa’at dengannya hingga (dewan) itu dapat menerapkan syari’at (Allah).  Dengan niat dan maksud seperti ini disertai ilmu dan pijakan yang kuat, maka Allah Jalla wa ‘Ala akan memberinya balasan atas usaha ini.

Akan tetapi jika ia masuk ke dalamnya dengan tujuan duniawi atau ketamakan untuk mendapatkan kedudukan, maka tidak diperbolehkan. Sebab ia harus masuk dengan niat mengharapkan Wajah Allah dan negeri Akhirat, memperjuangkan dan menjelaskan yang haq dengan dalil-dalilnya agar semoga saja dewan dan majelis itu mau kembali dan bertaubat kepada Allah.

(Fatwa ini dimuat dalam majalah Al Ishlah edisi 242-27 Dzulhijjah 1413 H/23 Juni 1993 M. Adapun terjemahan ini dinukil dari buku Ash Shulhu Khair terbitan Jama’ah Anshar As Sunnah Al Muhammadiyah di Sudan).

Muslimah Wahdah Depok Berbagi Takjil Bersama Yatim dan Dhuafa

Muslimah Wahdah Depok

Muslimah Wahdah Depok Berbagi Takjil Bersama Yatim dan Dhuafa

(Depok) wahdahjakarta.com| Sabtu (2/06/2018) lalu Muslimah Wahdah Depok (MWD) Depok menggelar kegiatan tebar takjil dan pembagian sembako. Sebanyak 100 paket ifhtar 20 paket Sedekah anak yatim dibagikan di  Mesjid Azmidiniyah , Jl Kober Gg kesadaran Pd Cina, Beiji Depok.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program #TebarIftharNusantara yang dihelat oleh ormas Wahdah Islamiyah secara nasional. Menurut pengurus MWD Depok, kegitan yang tebar takjil yang dilaksanakan di Pondok Cina merupakan tahan yang kedua.

“Ini tahap kedua yang beralangsung di Depok setelah sebelumnya berlangsung di Perkampungan pemulung 2 lokasi di kec, Sukmajaya, Depok dengan Tebar Ifthar (takjil) sebanyak 100 paket”, ujarnya.

Kegiatan yang merupakan rangkaian dari #SalamRamadhan ini menghadirkan Ustadzah Ellis yang memberikan tausiah seputar keutamaan puasa. Sebagian peserta yang hadir juga berkomitmen untuk belajar Islam secara instensif dan belajar Al-Qur’an setiap Jum’at pagi. Semoga kedepan jalinan ukhuwah antar para pengurus dakwah dengan masyarakat senantiasa terjalin dengan erat.

Kegatan ini merupakan salah satu dari program #TebarIftharNusantara dan Ramadhan Ukhuwah yang digelar Wahdah Islamiyah secara nasional. Program lainnya adalah Tebar Sembako Nusantara, Tebar Al Quran Nusantara, Kado lebaran Yatim, Bingkisan Lebaran Dai, dan Tebar Mukena Nusantara.

Khusus program tebar takjil (ifthar) Wahdah  Islamiyah menargetkan 100.000 paket secara nasional.  Menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah  Wahdah Islamiyah Depok, WI Depok  menargetkan 2000 paket insyaAllah”. [sym].

LAZIS Wahdah Gelar Buka Puasa Bersama Pengungsi Rohingya

LAZIS-Wahdah-Gelar-Buka-Puasa-Bersama-Pengungsi-Rohingya

(Bangladesh) wahdahjakarta.com| Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Wahdah Islamiyah (LAZIS Wahdah) menggelar buka puasa bersama pengungsi Rohingya di Masjid Wihdatul Ummah, Jadimora, Nay Para, Tekhnaf-HWY, Coxs Bazar, Bangladesh, pada Jumat (25/5/2018 ).

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh ribuan pengungsi Rohingya ini LAZIS Wahdah menyalurkan 2.500 paket hidangan buka puasa.

Masjid Wihdatul Ummah merupakan salah satu masjid terbesar yang dibangun oleh Wahdah Islamiyah di sisi kamp pengungsian dengan tanah wakaf dari penduduk setempat.

Masjid dengan luas 48 x 60 meter persegi tersebut mulai dibangun pada Desember tahun 2017 dan telah rampung serta resmi dimanfaatkan oleh pengungsi pada hari Jumat 2 Maret 2018 lalu.

Selain Masjid Wihdatul Ummah, Wahdah Islamiyah juga telah merampungkan lima masjid di kawasan kamp pengungsian lainnya.

”Alhamdulillah, berkat doa dan dukungan dari masyarakat Indonesia akhirnya Wahdah Islamiyah bisa merampungkan enam Masjid untuk para pengungsi Rohingya di Bangladesh,” ucap ustadz Syahruddin C Asho, Sabtu (26/5).

Selain di masjid Wihdatul Ummah, LAZIS Wahdah juga menyalurkan paket buka puasa untuk pengungsi Rohingya di lokasi yang lain.

LAZIS-Wahdah-Gelar-Buka-Puasa-Bersama-Pengungsi-Rohingya

“Penyaluran buka puasa ada 7 lokasi, 1 titik di masjid jami Wihdatul Ummah, 4 titik di masjid dalam kamp yang kita bangun untuk pengungsi, 1 titik di kompleks sekolah tahfizh Ummatan Wahidah, dan juga di salah satu masjid yang kita bantu renovasinya dulu.” Jelas Syahruddin.

Ramadhan tahun ini, Wahdah Islamiyah melalui LAZIS Wahdah menjalankan berbagai macam program untuk pengungsi Rohingya di Bangladesh. Selain Program pendidikan lewat sekolah permanen dan madrasah masjid yang LAZIS Wahdah bangun sebelumnya, program Tebar Ifthar juga sampai ke kamp pengungsian, juga ada program Tebar Al-Qur’an dan bantuan bahan kebutuhan pokok di kamp pengungsian.

LAZIS Wahdah akan terus berkomitmen untuk membantu masyarakat Rohingya yang telah bertahun-tahun merasakan penindasan dan terusir dari negerinya sendiri.

Ayo, terus kirimkan doa dan donasi wujud Peduli Rohingya. Donasi Peduli Rohingya dapat disalurkan melalui Bank Syariah Mandiri , No Rekening: 799.900900.4 a/n LAZIS Wahdah Care, konfirmasi: 085315900900.[]