Israel Kembali Serang Gaza : 3 Orang Tewas dan Gedung Hamas TV Hancur

Serangan yang dilakukan Israel ke jalur gaza pada dini hari tadi, Selasa(13/11) menewaskan 3 orang warfa palestina

(Gaza) wahdahjakarta.com, – Israel kembali meluncurkan serangan udara di Jalur Gaza dan menewaskan 3 orang warga Palestina pada Selasa dini hari (13/11). Serentetan tembakan roket ini juga menghancurkan studio stasiun televisi Hamas.

Dilansir AFP dan Reuters, Selasa (13/11/2018), militer Israel menyatakan serangan tersebut mengenai 70 titik militan.

Pesawat-pesawat tempur Israel membom studio TV Hamas. Tak ada keterangan soal korban dalam serangan udara di Al-Aqsa televisi.

Al-Aqsa Televisi–dinamai dari masjid bersejarah di Yerusalem–mengatakan akan segera melanjutkan siaran.

Serangan ini juga menghancurkan bangunan di sekitar studio. Banyak penduduk setempat melarikan diri setelah Israel mengeluarkan peringatan.

Serangan udara Israel ini dilakukan setelah 200 roket ditembakkan dari wilayah Hamas pada Senin (12/11) sore hingga malam hari.

Sebanyak 60 roket dicegat pertahanan rudal dan kebanyakan jatuh di daerah terbuka. Meski begitu ada permukiman yang terkena. Petugas medis melaporkan setidaknya tujuh warga Israel terbuka.

Militer Israel juga mengatakan sebuah bus dihantam rudal anti-tank di Jalur Gaza di wilayah Kfar Aza Kibbutz. Akibatnya beberapa orang terluka dan seorang tentara terluka parah.

Kelompok-kelompok militan Palestina di Gaza, termasuk Hamas, mengaku bertanggung jawab atas serangan roket dan rudal di bus. Mereka menyebut bus tersebut digunakan tentara Israel.

Serangan ini dilakukan kelompok tersebut sebagai balasan operasi mematikan Israel yang dilakukan Minggu (11/11). Saat itu bentrokan meletus selama operasi rahasia di Jalur Gaza yang menewaskan tujuh militan Palestina termasuk seorang komandan lokal Hamas. Seorang perwira Israel juga tewas dalam peristiwa tersebut.

PM Israel Benjamin Netanyahu mempersingkat perjalanan ke Paris dan bergegas pulang ketika ketegangan meningkat. Pada Senin (12/11) dia langsung mengadakan pertemuan dengan kepala keamanan Israel.

Sumber : detik.com

Buku Nikah Diganti Jadi Kartu Nikah, Ini Tanggapan MUI

Buku Nikah

Buku Nikah

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung upaya pemerintah dalam memberikan pelayanan dan kemudahan untuk masyarakat. Termasuk inovasi pemerintah mengganti buku nikah menjadi kartu nikah yang berbasis website.

“Sepanjang hal tersebut dimaksudkan untuk memudahkan, memberikan nilai manfaat dan utamanya adalah dapat mencegah praktik penipuan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujar Wakil Ketua MUI Zainuttauhid di Jakarta, Senin (12/11/2018).

Menurutnya, tujuan utama dari adanya buku nikah atau kartu nikah itu adalah untuk mendokumentasikan tentang informasi pernikahan yang bersangkutan seperti nama, nomor akta nikah, nomor perforasi buku nikah, tempat dan tanggal nikah.

“Jadi sepanjang hal tersebut sudah dilaksanakan dengan baik, maka tidak ada masalah apakah bentuknya itu buku atau kartu. Apalagi kalau hal itu dinilai lebih praktis, ekonomis, efektif dan efisien, maka inovasi tersebut patut didukung,” ujarnya.

Ia mengatakan, kalau dengan model kartu nikah dengan berbasis website sudah berjalan baik dan diterapkan di seluruh Indonesia, maka buku nikah tidak diperlukan lagi. “Jadi bisa dihapuskan,” imbuhnya.

Memang menurutnya ada pemikiran kalau misalnya di samping pasangan suami istri memiliki kartu nikah, juga diberikan semacam piagam atau sertifikat pernikahan akan lebih bagus.

Diketahui, Kementerian Agama secara resmi meluncurkan kartu nikah sebagai pengganti buku nikah pada 8 November 2018.

Menurut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, kartu nikah dibuat agar dokumen administrasi pernikahan bisa lebih simpel disimpan, jika dibandingkan buku nikah yang tebal.

Pihaknya ingin lebih simpel seperti KTP atau ATM yang lain, sehingga bisa dimasukkan ke dalam saku bisa disimpan di dalam dompet, kata Lukman di Bekasi, Jawa Barat, Ahad (11/11/2018).

Menurut Lukman, kartu nikah itu juga dapat memudahkan masyarakat jika ingin mendaftarkan sesuatu yang diperlukan dalam catatan pernikahan. Menurut dia, model kartu nikah bisa dibawa ke mana-mana dibanding buku nikah.

Kementerian Agama menargetkan satu juta kartu nikah bisa disebarkan untuk pasangan yang baru menikah pada tahun 2018. Untuk pasangan yang sudah menikah, suplai kartu nikah dilakukan bertahap.

(Sumber: Hidayatullah.com)

Di Hijrah Fest 2018, Tere Pardede Bercerita Soal Hidayah

Pengunjung Hijrah Fest 2018

(JAKARTA) wahdahjakarta.com — Perjalanan menemukan hidayah cukup panjang bagi penyanyi, Tere Pardede. Tere lahir dan tumbuh dalam keluarga non-Muslim.

Hanya sebagian kecil keluarga jauhnya beragama Islam. Keluarga inti menyebut mereka sebagai saudara yang tersesat.

“Itu yang ditanamkan sejak kecil pada saya, mereka (keluarga yang beragama Islam) adalah domba tersesat,” kata dia dalam acara Hijrah Fest 2018 di Senayan JCC, Jakarta, Ahad (11/11).

Muslimah bernama bernama lengkap Theresia Ebenna Ezeria Pardede ini mulai terbuka ketika duduk di jenjang SMA. Dia tidak lagi menempuh pendidikan di sekolah homogen. “Pas SMA saya lihat manusia macem-macam. Ada pelajaran Islam, dan yang non-Muslim dipersilahkan keluar,” kata Tere.

Saat duduk di bangku kuliah, dia berada di masa kebebasan berpendapat mulai menjadi hal awam. Dia berbincang dengan nenek teman dekatnya, yang mana seorang mualaf. Pembahasan berbagai topik dilakukan mulai dari ideologi hingga agama.

Dari pembahasan itu, dia mengetahui bahwa Islam juga mengenal Isa Al-Masih. Namun, Islam menganggapnya bukan Tuhan, melainkan nabi. Kemudian, Tere mulai tertarik membaca Alquran.

Tere mengaku beruntung karena mengambil jurusan komunikasi. Salah satu mata pelajarannya, yakni ilmu cek info sebagai hoaks atau bukan. Dia mempertanyakan ihwal adanya tiga agama yang mengaku pewaris Ibrahim AS.

Menurur Tere, tidak mungkin ada tiga, pasti ada satu yang paling utama. Kemudian Tere kembali mempelajar Alkitab dan Alquran lagi. Hingga akhirnya menemukan hidayah dari Alquran.

“Saya sempat agnostik 1,5 tahun. Banyak info yang saya pertanyakan tentang ajaran agama saya sebelumnya. Tapi kalau tanya dibilang kurang beriman. Namun jelas sekali tak ada keraguan di Alquran,” tutur dia.

Menurur Tere proses mendapatkan hidayah tidaklah mudah. Sebab, Tere harus berjihad dengan diri sendiri dari keraguan menjadi tak ada keraguan sama sekali.

“Proses hanya proses kalau tak ada effort (upaya). Jangan berubah. Tetap istiqamah dengan kalimat tauhid,” kata Tere.

Sumber:Republika.co.id

DIROSA, Metode Milenial Berantas Buta Aksara Al-Qur’an

DIROSA

Tabligh Akbar Pengukuhan Pengurus DIROSA yang dirangkaikan dengan Tasyakuran alumni DIROSA, Ahad (11/11/2018)

(Makassar) wahdahjakarta.com-, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah (WI) menggelara tasyakuran alumni DIROSA (Pendidikan Al-Qur’an Orang Dewasa), di Masjid Al-Markaz Al-Islami, Makassar, Ahad (11/11/2018).

Program pembelajaran Al-Qur’an dengan metode DIROSA telah dijalankan oleh Wahdah Islamiyah sejak bertahun-tahun. Sudah tidak terhitung jumlah orang dewasa yang merasakan manfaatnya. Mereka yang belum pernah belajar Alquran sejak kecil, akhirnya bisa lancar membaca kitab suci.

Metodenya yang mudah dan hanya dalam 20 kali pertemuan membuat program ini sangat menarik. Orang dewasa bahkan orang tua sekalipun tidak kesulitan mengikuti proses pembelajaran.

Banyak di antara peserta yang merasa sudah lancar mengaji. Setelah ikut Dirosa, mereka baru sadar bahwa cara mengaji mereka selama ini belum sesuai tajwid. Bukan hanya pahalanya yang tidak sempurna, maka ayat yang dibaca bisa salah jika cara penyebutan hurufnya salah.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia  (RI), AM Iqbal Parewangi memuji program ini.  Menurutnya program ini nyata telah membantu banyak orang untuk melek Alquran.

“Salut saya dengan Wahdah Islamiyah. Program Dirosa bagi masyarakat masyaa Allah. Ada orang menggunakan metode milenial untuk membebaskan buta huruf Alquran,” kata Iqbal saat menghadiri tasyakuran 130 peserta Dirosa yang dirangkaikan pengukuhan pengurus DPD Wahdah Islamiyah Makassar periode 2018-2023 di Masjid Al Markaz Al Islami, Makassar, Minggu (11/11/2018).

Dalam acara ini, pengurus DPD dan DPC Muslimah Wahdah Islamiyah Makassar turut dikukuhkan. Selain Iqbal Parewangi, acara ini juga dihadiri Kepala Bagian Kesra Kota Makassar Azis Badwi yang mewakili wali kota, Ketua Harian DPP Wahdah Islamiyah Dr Rahmat Abdul Rahman dan Kepala Bank Muamalat Wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua, Ahmad Safril Ilham.

DPD Wahdah Islamiyah Makassar periode 2018-2023 dipimpin Ustaz Gishar Hamka didampingi Sekretaris Ustaz Zulkifli.

Sementara Ketua Harian DPP Wahdah Islamiyah, Ustaz Rahmat Abdul Rahman berharap DPD Makassar menjadi lokomotif untuk mengembangkan dakwah Islam. Mereka diminta membuat strategi baru agar bisa menyentuh semua segmen mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. (Sym).

Sumber: rakyatku.com

Tiga Langkah Utama Merawat NKRI Menurut Ustadz Zaitun 

 

Ustadz Muhammad Zaitun pada Tabligh Akbar merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan yang digelar Wahdah Jambi, Ahad (11/11/2018)

(Jambi) wahdahjakarta.com – Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKR) merupakan karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang harus dijaga dan dirawat dengan baik.

Demikian dinyatakan Ketua Umum Wahdah Islamiyah, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin saat menyampaikan Tabligh Akbar dengan tema “Merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan”, yang digelar Wahdah Islamiyah Jambi, Ahad (11/11/2018) di Masjid Agung Al-Falah Jambi.

Dalam ceramahnya Ustadz Zaitun mengingatkan besarnya karunia Allah kepada bangsa Indonesia. Ditambah lagi pertolongan Allah dengan kemerdekaan bangsa tercinta ini. Hal  ini juga termaktub dalam Pembukaan UUD 45.

Beliau menjelaskan, “Kalimat takbir Bung Tomo mengabadi hingga kini. Bukan saja bergema di angkasa, namun juga bergema di relung dada para pejuang. Kalimat ini bukan kalimat sembarangan. Tidak bisa tergantikan dengan kalimat yang lain. Bagi yang tidak faham maknanya saja akan bergetar, apalagi yang faham maknanya.”

Ustadz Zaitun yang juga Wakil Sekjen MUI ini kemudian menjelaskan bagaimana cara merawat NKRI yang merupakan anugrah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Menurut beliau, setidaknya ada 3 langkah utama, antara lain:

Pertama, pembangunan SDM harus diutamakan sebelum pembangunan fisik. “Dibangun jiwanya sebelum badannya. Indonesia cukup membanggakan dari sisi fisik. Termasuk cepat pulih pada krisis global tahun 1998 dan 2008. Namun saat ini harus kita akui, masih belum berimbang antara pembangunan fisik dengan pembangunan ruhiyah,” terangnya.

Kedua, melalui dakwah dan tarbiyah (pendidikan/pembinaan yang efektif). Ia juga memandang bahwa ini adalah medan jihad paling utama saat ini.

Yang ketiga, dengan menghidupkan “amar ma’ruf nahi munkar”. “Amar ma’ruf nahi munkar juga perlu diorganisir dengan baik, karena di luar sana banyak kemaksiatan yang diback up secara struktural,” pungkasnya.  (Ibawi/sym)

Video lengkapnya dapat ditonton di sini

Ustadz Zaitun: Sebelum Merdeka Saja Siap Mati, Apalagi Setelah Merdeka

Ustadz Zaitun pada tabligh Akbar Merawat NKRI yang digelar Wahdah Islamiyah jambi, Ahad (11/11/2018)

Ustadz Zaitun pada tabligh Akbar Merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan yang digelar Wahdah Islamiyah Jambi, Ahad (11/11/2018)

(Jambi) wahdahjakarta.com – Wahdah Islamiyah Jambi menyelenggarakan tabligh akbar dengan tema “Merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan”. Bertempat di Masjid Agung Al-Falah, Ahad (11/2018). Hadir sebagai pembicara Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin.

Ustadz Zaitun Rasmin mengingatkan besarnya karunia Allah kepada bangsa Indonesia. Ditambah lagi pertolongan Allah dengan kemerdekaan bangsa tercinta ini. Tidak berlebihan memang, karena hal ini juga termaktub dalam Pembukaan UUD 45.

Bahkan dengan jelas bisa dilihat dalam fakta sejarah bahwa kemerdekaan bangsa ini diperjuangkan dan dipertahankan dengan kalimat takbir.

Beliau menjelaskan, “Kalimat takbir Bung Tomo mengabadi hingga kini. Bukan saja bergema di angkasa, namun juga bergema di relung dada para pejuang. Kalimat ini bukan kalimat sembarangan. Tidak bisa tergantikan dengan kalimat yang lain. Bagi yang tidak faham maknanya saja akan bergetar, apalagi yang faham maknanya.”

Sebagaimana diketahui, pertempuran 10 November di Surabaya terjadi setelah Indonesia merdeka. “Para pendahulu bangsa ini siap mati dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tentu mereka lebih siap mati setelah kemerdekaan itu ada di tangan,” tegas beliau.

Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara ini juga menjelaskan bagaimana besarnya peran umat Islam dalam perjuangan bangsa. Salah satu contohnya adalah ketika para ulama Nahdhatul Ulama mengeluarkan fatwa wajibnya jihad melawan para penjajah.

Ustadz Zaitun yang juga Wakil Sekjen MUI ini kemudian menjelaskan bagaimana cara merawat anugerah Allah berupa NKRI. Menurut beliau, setidaknya ada 3 langkah utama, antara lain:

Pertama, pembangunan SDM harus diutamakan sebelum pembangunan fisik. “Dibangun jiwanya sebelum badannya. Indonesia cukup membanggakan dari sisi fisik. Termasuk cepat pulih pada krisis global tahun 1998 dan 2008. Namun saat ini harus kita akui, masih belum berimbang antara pembangunan fisik dengan pembangunan ruhiyah,” terang beliau.

Kedua, melalui dakwah dan tarbiyah (pendidikan/pembinaan yang efektif). Beliau juga memandang bahwa ini adalah medan jihad paling utama saat ini.

Yang ketiga, dengan menghidupkan “amar ma’ruf nahi munkar”. “Amar ma’ruf nahi munkar juga perlu diorganisir dengan baik, karena di luar sana banyak kemaksiatan yang diback up secara struktural,” pungkasnya.

Acara ini didukung berbagai elemen umat seperti FPI Jambi, Komunitas Hijrah Youth Move Up, dll. (Ibawi)

Layanan Hapus Tato Gratis Hadir di Hijrah Fest 2018

Founder komunitas Gerak Bareng, Ahamad Zaki

(Jakarta) wahdahjakarta.com– Hadir di Hijrah Fest 2018, Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, komunitas Gerak Bareng dan Islamic Medical Service (IMS) kembali menawarkan layanan hapus tato gratis.

Founder Komunitas Gerak Bareng, Ahmad Zaki menjelaskan, pengunjung yang ingin menghapus tato tak perlu membayar. Melainkan cukup menyetorkan hapalan Alquran dan surat medical check up HIV, diabetes dan hepatitis.

“Sudah lebih dari 20 orang yang minta dihapus tatonya, selama dua hari ini. Di hari terakhir, kemungkinan besar lebih banyak lagi. Kita kemampuannya di sini, sehari bisa tigapuluh. Tapi kan mereka yang datang ke sini juga ada yang gak bawa medical chek up, jadi mereka gak bisa dilayanin,” ungkapnya, Sabtu (11/10/2018).

Zaki menambahkan, kegiatan hapus tato ini pertama kali digelar di Jakarta pada Ramadhan 2017. Di mana, kegiatan ini berawal dari kegelisahan orang-orang bertato yang sudah hijrah. Pasalnya, meski sudah berhijrah mereka masih sulit diterima di masyarakat karana stigma buruk pengguna tato.

Stand salah satu peserta pameran Hijrah Fest 2018

“Makannya, mereka yang sudah berhijrah dan bertato pasti memiliki kesulitan. Kesulitan pertama, dapatin pekerjaan. Kedua, kesulitan berinteraksi sosial di masyarakat. Yang ketiga kesulitan mendapatkan jodoh. Tiga hal ini yang akhirnya membuat kita berpikir, yuk kita bikin program hapus tato buat mereka yang hijrah. Makannya jadilah acara ini,” ungkapnya.

Satu setengah tahun berjalan, kini kegiatan hapus tato gratis sudah tersebar di 13 kota di Indonesia. Selain itu, sudah lebih dari tiga ribu orang yang merasakan manfaat dari hapus tato gratis ini. Ahmad Zaki berharap dengan kegiatan ini, orang-orang yang sudah berhijrah selalu istiqomah.

“Ya istiqomahlah hijrahnya. Memang program ini kita rancang untuk mereka yang benar-benar mau hijrah. Bukan yang setengah-setengah doang. Jadi kalau misalnya, cum buat main-main ya gak bisa,” tukasnya. (Sumber: Kiblat.net).

Santri Wahdah  Bogor Raih Juara Karate Se-Kabupaten Bogor

Tiga santri Tahfizh Wahdah Islamiyah Bogor berhasil meraih juara dalam Kejuaraan karate festival series 2 sekabupaten Bogor, Sabtu (10/11/2018). Dari kiri ke kanan, Zaid Ilmi (juara 2), M.Adlan (juara 1), dan M. Dafi (juara 3).

(Bogor) wahdahjakarta.com-, Ponpes Tahfizh Al-Qur’an Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor berhasil meraih prestasi juara dalam kejuaran karate se-Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (10/11/2018)

“Al-hamdulillah 3 santri kita (SMA Al-Qur’an Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor), meraih kejuaran dalam Federasi Olah Raga Karate, Festival Series 2 Se-Kabupaten Bogor”, ujar Hamka Abu Thalhah selaku Kepala SMA-Qu Wahdah Islamiyah Cibinong Bogor kepada wahdahjakarta.com

Ketiga santri Wahdah yang berhasil meraih juara dalam turnamen yang diikuti 625 atlit ini adalah Muhammad Adlan Al-Fakhri (Kelas XI) meraih juara pertama (medali emas), Zaid Ilmi Arrizqi Ramadhan (Kelas XI) meraih juara dua (medali perak), dan Muhammad Dafi Syahwan Savendri (kelas X) meraih juara tiga (medali perunggu).

Ponpes Tahfizh Al-Qur’an Wahdah Islamiyah berlokasi di Kampung Cikempong, RT 03/RW 09 Kelurahan Pakansari Kabupaten Bogor Jawa Barat.
Berdiri sejak tahun 2015 dibawa kepemimpinan Ustadz Samsuddin, dan KH. Muhammad Zaitun Rasmin sebagai pembina, dibawa naungan Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI) (pusat) Makassar, Tahfizh Wahdah membina dua unit pendidikan formal; SMP Al-Qur’an dan SMA Al-Qur’an dengan kurikulm Tahfizh Al-Qur’an sebagai program utama.

Dewan Pers Berharap Tidak Ada Lagi Kriminalisasi Terhadap Pers

Wakil Ketua Dewan Pers Ahmad Djauhar di Pelatihan Jurnalistik Dakwah OMOJ Angk.8 yang digelar Forjim, Sabtu (10/11/2018. 

(Jakarta) wahdahjakarta.com — Wakil Ketua Dewan Pers Ahmad Djauhar, jadi pembicara tamu di pelatihan One Masjid One Journalist (OMOJ) Angkatan kedelapan di Masjid Darussalam, Kota Wisata Cibubur, Jakarta, Sabtu (10/11). Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Forum Jurnalis Muslim (Forjim) dengan Yayasan Darussalam Kota Wisata Cibubur.

Dalam kesempatan tersebut, Djauhar mengatakan bahwa kerja-kerja jurnalistik merupakan kerja mulia dengan menyampaikan informasi berita kepada masyarakat. Karena itu, kata dia, wartawan harus memahami dan dibekali kode etik jurnalistik (KEJ).

Kode etik mengatur 11 ketentuan menjadi wartawan. Seluruh point tersebut merupakan kesepakatan bersama (konsensus) lebih dari 50 asosiasi profesi jurnalis se-Indonesia. Maka itu, wartawan diwajibkan untuk mengikuti uji kompetensi wartawan (UKW).

“Karena pasca reformasi berita-berita yang tidak jelas kebenarannya sangat berseliweran. Dan banyak sekali yang langsung percaya. Penyakit ini bukan hanya di Indonesia, tapi juga seluruh dunia mengalami hal yang sama,” ujarnya.

“Kita harus berusaha mengambil dan menyebarkan informasi yang baik dan bermanfaat. Bekerja sebagai wartawan, tidak lepas dari kode etik jurnalistik. Nah, jika ada wartawan yang bermasalah dengan kode etik, maka kami yang akan memediasi dengan pihak terkait,” sambungnya.

Ia menjelaskan, Dewan Pers memiliki peran untuk mediasi antara media yang bersangkutan dengan pihak yang merasa dirugikan. Proses penyelesaian masalah tersebut dinamakan ajudikasi dan mediasi.

“Kami selalu berharap diantara kerja kami ada manfaatnya. Kita berharap kerja jurnalistik tidak mengandung fitnah, agitasi dan mengadu-domba masyarakat,” ujar dia.

Menurut dia, kelemahan wartawan saat ini yaitu tidak mengedepankan verifikasi faktual. “Wartawan harusnya tidak langsung percaya omongan orang. Wartawan harus skeptis. Apalagi kalau menyangkut pihak ketiga,” katanya.

Ia menandaskan, keberadaan Dewan Pers adalah menjaga kemerdekaan Pers di Indonesia terjamin. Karena penguasa yang berkuasa dimanapun keinginannya sama, dapat mengendalikan media. Menurutnya, dari 11 Negara se-Asean, hanya Indonesia saat ini yang menjamin kemerdekaan pers.

“Kami pernah mengalami represifitas pemerintah di Orde Baru. Itu ngeri sekali. Sangat menakutkan. Media yang dianggap berbahaya, langsung disikat. Saya berharap, tidak ada lagi kriminalisasi terhadap pers,” tandasnya.*

Bendera Tauhid Tidak Dilarang

Ketua Front santri Indonesia (FSI), Habib Hanif Alatas menunjukkan perbedaan bendera tauhid dan bendera HTI

Jakarta (wahdahjakarta.com)-,Kementrian Koordinator  Bidang Politik Hukum dan  Keamanan (Kemenko Polhukam) menggelar Dialog Kebangsaan bersama Tokoh-tokoh Ormas Islam di kantor Kemenko Polhukam, di Jakarta, Jum’at (09/11/2018).

Dalam pertemua tersebut Ormas-ormas Islam bersepakat untuk menjaga persatuan, kesatuan, dan mengedepankan dialog dalam segala hal, pasca kasus pembakaran bendera bertulisan kalimat tauhid di Garut, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

“Kita sepakat kita akan menjaga persatuan, kesatuan, mengedepankan dialog dalam segala hal dan terpenting terkait masalah bendera, tadi sudah dijelaskan,” ujar Ketua Umum Front Santri Indonesia (FSI) Habib Hanif Alatas.

Pada pertemuan antara pemerintah dan ormas Islam itu ia menjelaskan perbedaan antara bendera bertulisan kalimat tauhid –seperti yang dibakar di Garut tersebut– dengan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Hanif bahkan membawakan contoh dua jenis bendera dimaksud dan memperlihatkannya kepada para peserta dialog, antara lain Menko Polhukam Wiranto, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, perwakilan PBNU, GP Ansor, dan ormas-ormas Islam lainnya.

“Bahwasanya yang tidak boleh ini bendera ini,” jelas Hanif seraya mengangkat contoh bendera hitam yang disertai tulisan “Hizbut Tahrir Indonesia”. “Ini bendera HTI ini, tadi sudah dijelaskan secara gamblang,” imbuhnya usai pertemuan.

Sedangkan yang satunya, yaitu bendera mirip yang dibakar di Garut, “Yang ini tidak pernah dilarang,” tegasnya seraya memperlihatkan contoh bendera hitam bertulisan putih kalimat tauhid dalam lafadz Arab “La ilaha illallah Muhammad Rasulullah”. “Tadi sudah dijelaskan dan disepakati oleh beberapa (ormas)…” sambungnya.

“Artinya,” lanjut Hanif, “ke depan bendera tauhid yang seperti ini dan dengan warna apapun tidak boleh di-sweeping lagi, tidak boleh dilarang lagi, tidak boleh dikucilkan lagi. Ini sudah menjadi kesepakatan di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia….

Mudah-mudahan dengan adanya kesepakatan ini bendera ini wajib untuk dihormati, wajib dimuliakan. Dari PBNU tadi juga sudah minta maaf, dari Banser juga sudah minta maaf.”

Pertemuan itu digelar terkait kasus pembakaran “bendera tauhid” oleh oknum Barisan Ansor Serbaguna (Banser) tersebut. Pada dialog bertema “Dengan Semangat Ukhuwah Islamiyah, Kita Jaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa” ini, pihak yang bertemu dari pemerintah antara lain Menko Polhukam Wiranto dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, serta dari tokoh-tokoh agama Islam, para ulama, para habaib, dan pimpinan ormas Islam di antaranya dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan PBNU.

Wiranto mengatakan, dalam dialog tersebut telah terjadi kesepakatan bahwa ada kesalahpahaman yang tidak lagi boleh terjadi di masa ke depan.

GP Ansor menyampaikan, sangat menyesalkan terjadinya pembakaran bendera bertulisan kalimat tauhid oleh oknum Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Garut, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

“Kami sangat menyesal dengan peristiwa ini, aturan organisasi juga sudah diterapkan, untuk hukum dipasrahkan oleh penegak hukum. Jangan sampai hal ini (pembakaran, Red) terjadi lagi dan sudah ditegaskan kepada anggota kami. Jika ada hal itu terulang maka akan ada tindakan tegas. Kami memohon maaf karena peristiwa ini menjadi gaduh,” kata Perwakilan GP Ansor Khairul Anwar.

Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini menyesalkan peristiwa yang terjadi di Garut.

Sumber: Hidayatullah.com