Ustadz Zaitun: Sebelum Merdeka Saja Siap Mati, Apalagi Setelah Merdeka

Ustadz Zaitun pada tabligh Akbar Merawat NKRI yang digelar Wahdah Islamiyah jambi, Ahad (11/11/2018)

Ustadz Zaitun pada tabligh Akbar Merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan yang digelar Wahdah Islamiyah Jambi, Ahad (11/11/2018)

(Jambi) wahdahjakarta.com – Wahdah Islamiyah Jambi menyelenggarakan tabligh akbar dengan tema “Merawat NKRI dalam Bingkai Ukhuwah dan Persatuan”. Bertempat di Masjid Agung Al-Falah, Ahad (11/2018). Hadir sebagai pembicara Ketua Umum Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin.

Ustadz Zaitun Rasmin mengingatkan besarnya karunia Allah kepada bangsa Indonesia. Ditambah lagi pertolongan Allah dengan kemerdekaan bangsa tercinta ini. Tidak berlebihan memang, karena hal ini juga termaktub dalam Pembukaan UUD 45.

Bahkan dengan jelas bisa dilihat dalam fakta sejarah bahwa kemerdekaan bangsa ini diperjuangkan dan dipertahankan dengan kalimat takbir.

Beliau menjelaskan, “Kalimat takbir Bung Tomo mengabadi hingga kini. Bukan saja bergema di angkasa, namun juga bergema di relung dada para pejuang. Kalimat ini bukan kalimat sembarangan. Tidak bisa tergantikan dengan kalimat yang lain. Bagi yang tidak faham maknanya saja akan bergetar, apalagi yang faham maknanya.”

Sebagaimana diketahui, pertempuran 10 November di Surabaya terjadi setelah Indonesia merdeka. “Para pendahulu bangsa ini siap mati dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tentu mereka lebih siap mati setelah kemerdekaan itu ada di tangan,” tegas beliau.

Ketua Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara ini juga menjelaskan bagaimana besarnya peran umat Islam dalam perjuangan bangsa. Salah satu contohnya adalah ketika para ulama Nahdhatul Ulama mengeluarkan fatwa wajibnya jihad melawan para penjajah.

Ustadz Zaitun yang juga Wakil Sekjen MUI ini kemudian menjelaskan bagaimana cara merawat anugerah Allah berupa NKRI. Menurut beliau, setidaknya ada 3 langkah utama, antara lain:

Pertama, pembangunan SDM harus diutamakan sebelum pembangunan fisik. “Dibangun jiwanya sebelum badannya. Indonesia cukup membanggakan dari sisi fisik. Termasuk cepat pulih pada krisis global tahun 1998 dan 2008. Namun saat ini harus kita akui, masih belum berimbang antara pembangunan fisik dengan pembangunan ruhiyah,” terang beliau.

Kedua, melalui dakwah dan tarbiyah (pendidikan/pembinaan yang efektif). Beliau juga memandang bahwa ini adalah medan jihad paling utama saat ini.

Yang ketiga, dengan menghidupkan “amar ma’ruf nahi munkar”. “Amar ma’ruf nahi munkar juga perlu diorganisir dengan baik, karena di luar sana banyak kemaksiatan yang diback up secara struktural,” pungkasnya.

Acara ini didukung berbagai elemen umat seperti FPI Jambi, Komunitas Hijrah Youth Move Up, dll. (Ibawi)

Umat Islam Bogor Gelar Aksi Tolak LGBT Jumat Besok

Aksi Tolak LGBT

Flyr Aksi Damai Tolak LGBT yang akan digelar gabungan ormas Islam Bogor pada Jum’at (9/11/2018) besok

(Bogor) wahdahjakarta.com – Berbagai organisasi massa yang tergabung dalam Forum Masyarakat Bogor Anti LGBT akan menggelar Aksi #TolakLGBT (Lesbian Gay Biseks Transgender) di Kota Bogor pada Jumat (9/11/2018).

Ketua Forum Masyarakat Bogor Anti LGBT Abdul Halim mengatakan, aksi ini diadakan sebagai respon maraknya LGBT di Bogor.

Kegiatan ini untuk mengingatkan semua pihak akan bahaya LGBT yang bisa mengundang azab dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Selain itu aksi yang akan kita laksanakan besok ini sebagai wujud keprihatinan kita akan bahaya LGBT sesuai dengan hasil temuan Komisi Penanggulangan AIDS bahwa penularan AIDS tertinggi di kota Bogor itu karena LGBT,” ujarnya, Kamis (7/11/2018).

Halim juga mengatakan target aksi damai tersebut adalah lahirnya aturan pelarangan LGBT di Bogor.

 

 

“Kita minta pemerintah agar mengeluarkan semacam SK atau Perda Anti LGBT, yang dengan payung hukum tersebut harapannya bisa melarang secara tegas kegiatan LGBT di Bogor,” tutur Halim.

Rencananya, aksi dimulai dengan konvoi dari Masjid Amaliyah Ciawi menuju Masjid Raya Bogor untuk melaksanakan shalat Jumat, setelah shalat Jumat massa akan longmarch menuju Balaikota Bogor.

“Di balaikota kita akan temui Walikota dan para anggota DPRD, kita akan minta mereka agar lebih peduli dengan kasus LGBT ini dan bisa mengeluarkan kebijakan yang tegas untuk mengatasi penyakit masyarakat ini,” jelas Halim.

Untuk itu, ia mengajak seluruh pihak yang peduli akan masalah ini bisa meluangkan waktunya untuk berjuang bersama-sama para ulama, pimpinan ormas Islam, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan berbagai pihak lainnya dalam Aksi Damai Tolak LGBT pada Jumat 9 November 2018. [ ]

 Sehatkan Diri dan Keluarga dengan Al-Qur’an

Qur'anic Holiday Terapi Qur'ani Sehatkan Diri dan Keluarga  

Sehatkan Diri dan Keluarga dengan Al-Qur’an

(Depok) wahdahjakarta.com-, Salah satu fungsi Al-Qur’an adalah sebagai syifa (penawar dan penyembuh). Sebagaimana diterangkan dalam surat Yunus ayat 57:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٧

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Qs. Yunus: 58).

Menurut para Ulama, syifa yang dikandung oleh Al-Qur’an meliputi kesembuhan bagi (penyakit) hati berupa syubhat, jahalah (kebodohan), pendapat atau pandangan yang keliru (al-ara al-fasidah), penyimpangan yang buruk, serta maksud dan tujuan yang jelek.

Al-Qur’an adalah obat semua penyakit hati tersebut. “Karena Al-Qur’an mengandung ilmu yang meyakinkan yang menghapuskan setiap kerancuan (syubhat) dan kebodohan (jahalah). Selain itu al-Qur’an juga mengandung nasehat dan peringatan yang menghapuskan setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah”.

Kata  ‘’syifa lima fis Shudur” mencakup makna bahwa al-Qur’an adalah penyembuh bagi apa yang ada di dalam hati dan jiwa manusia berupa penyakit syahwat dan syubhat yang merupakan bibit utama penyakit hati. Buya Hamka mengistilahkannya dengan, “Sesuatu kumpulan dari resep-resep rohani”, (Tafsir Al-Azhar, 11/237).

Tapi bagaimana memfungsikan Al-Qur’an sebagai resep-resep rohani dan penawar bagi berbagai penyakit?

Untuk menjawab ini  Qur`anic Living Service (QALS) bekerjasama dengan Ma’had Bina Tahfidz (MABIT) dan Lazis wahdah menggelar event “Qur’anic Holiday” dengan tema;

“TERAPI QUR’ANI, SEHATKAN DIRI DAN KELUARGA”

Acara ini insya Allah akan digelar pada hari Sabtu, 10 November 2018, jam 08.00-12.00 bertempat di Masjid Balaikota Depok.

Panitia menghadirkan  pakar Ruqyah dari Makkah, Syaikh Yusen bin Sulaiman Hafizhahullah. Beliau adalah seorang da’i, imam, dan khatib di Makkah Saudi Arabia.Merupakan salah satu pengemban sanad Qur’an Qiro’ah Sab’ah.

“Di tengah kesibukannya telah menulis 4 buah buku Aqidah, putera beliau yang berusia kurang dari 10 tahun telah hafal Alqur’an, dan dalam kesehariannya beliau banyak membantu orang-orang di sekitarnya untuk berobat dan belajar terapi dengan Alqur’an Pengemban Sanad Qur’an Qiro’ah Sab’ah”, ujar Ketua Lazis Wahdah Jakarta dalam keterangan tertulis kepada wahdahjakarta.com, Senin (5/11/2018).

Selain itu acara ini juga akan diisi oleh  Ustadz Muhammad Nur Hasan Palogai, Lc. Beliau dikenal sebagai penggiat pendidikan Al-Qur’an.

“Ustadz  Nur juga telah menyusun 2 buah buku dalam pembelajaran Alqur’an  yakni 2 Langkah Mudah Belajar Tajwid dan 3 Langkah Mudah Menerjemah, dan  telah mengisi ratusan training yang telah meluluskan ribuan orang alumni”, kata Yudi menambahkan.

Ada beberpa materi yang akan disajikan dalam acara ini, yaitu:

  • Apa itu Terapi dengan Alqur’an?

  • Bagaimana terapi dengan Alqur’an?

  • Praktek Terapi Sehat dengan Alqur’an

  • Konsultasi Terapi Qur’ani

  • Apa dan Bagaimana Agar Alqur’an bersemayam di dalam diri dan Keluarga?

Informasi dan pendaftaran melalui 08111162262 / 08111768900 (wa/sms/telp) dengan format:

Ketik, NamaLengkap_Alamat_NomerHape_Email, kirim ke,

08111162262 / 08111768900 (wa/sms/telp)

 

Buruan Daftar, Peserta TERBATAS!

 

“Siapkan Infak Terbaik untuk Dakwah Qur`an di Palu dan Sekitarnya”


Generasi Qur’ani di Era Milenial

Generasi Qur'ani di Era Millenial

Daurah Sehari Wahdah Islamiyah Banten “Generasi Qur’ani di Era Millenial”

Generasi Qur’ani di Era Milenial

Wahdah Islamiyah (WI) Banten mempersembahkan Daurah Al-Qur’an Satu Hari, dengan tema;

“GENERASI QUR’ANI DI ERA MILENIAL”

Menyajikan materi

  1. Mulia dengan Al-Qur’an, Oleh Ustadz. Wahyuniswaru, SH (Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar
  2. Hakikat Kehidupan, Oleh Ustadz Andi Aris, SH, Al-Hafidz (Alumni STIBA Makassar)
  3. Akibat Menjauhi Al-Qur’an dan Solusinya Oleh Ustadz Ginanjar Setiawan (Alumi Sekolah Ilmu Bahasa Arab (STIBA) Ar Rayah Sukabumi)
  4. Perbaikan Bacaan (tahsin) Al-Fatihah sesuai standar matan jazariyah dan bersanad, Oleh Ustadz Jumardan, M.Pd (Dosen UNMA Banten) dan Ustadz Ayub Syahrul (Alumni STIBA Ar Rayah Sukabumi)

Hari/tanggal   : Ahad/11 November 2018

Waktu              : 08.00-15.00 WIB

Tempat            :

                           1. Masjid Al-Ikhlas D’ Griya Benggala, Kota Serang (Sebelah tenggara lampu merah Kebon jahe)

                           2. Masjid Darussalam, Jln. Ciptayasa, Kp.Tegal Jetak 02/03, Ciruas, kab. Serang

Informasi dan Pendaftaran: 0838 0584 7029 (Prayoga)

#DonggalaBangkit dengan Spirit Hijrah

#DonggalaBangkit dengan Spirit Hijrah

Tabligh Akbar “Donggala Bangkit” yang digelar Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah (DPD WI) Donggala, Ahad (04/11/2018) Photo:Rustam

#DonggalaBangkit dengan Spirit Hijrah

(Donggala) wahdahjakarta.com – Spirit hijrah menjadi modal utama bagi warga Donggala Sulawesi Tengah untuk kembali bangkit pasca bencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi yang menimpa beberapa daerah di Sulteng pada penghujung bulan September 2018 lalu.

Dewan Pimpinan Daerah Wahdah Islamiyah (DPD WI) Kabupaten Donggala menggelar Tabligh Akbar dengan tema “Donggala Berhijrah” di Masjid Al-Istiqomah Labuan Bajo Kabupaten Donggala, Sul-Teng, Ahad (4/11/2018).

Menurut, ketua Pengurus Masjid Al-Istiqomah Roni Jalaluddin  kegiatan tabligh akbar ini merupakan satu cara Trauma Healing untuk masyarakat pasca bencana.

Ketua Pengurus Masji Istiqamah Donggala Roni Jalaluddin menyampaikan sambutan pada Tabligh Akbar “Donggala Berhijrah”, Ahad (04/11/2018). Photo:Rustam

Roni optimis, Donggala akan bangkit dengan spirit hijrah insya Allah.

“Sebagaimana pada tema kegiatan, kita bersama membangun Donggala kembali untuk hijrah ke arah yang lebih baik ,” ujarnya.

Senada dengan Roni harapan dan optimisme #Donggalabangkit juga diungkapkan Wakapolres Donggala Komisaris Polisi Hedi Abu Djafar yang turut hadir menyampaikan sambutan dalam Tabligh Akbar “Donggala Berhijrah” ini.

Wakapolres Donggala Ajak Masyarakat Berhijrah ke Arah yang Lebih Baik

Wakapolres Donggala Ajak Masyarakat Berhijrah ke Arah yang Lebih Baik

 “Alhamdulillah saat ini kita akan mendengarkan Tabligh Akbar, maka mari kita memaksimalkan diri untuk benar-benar membuat daerah kita, Donggala, berhijrah ke arah yang lebih baik,” ujar kompol Hedi.

Tabligh akbar yang dipadati ratusan jama’ah ini menghadirkan Ketua Dewan Syari’ah Wahdah Islamiyah, Ustadz. DR. Muhammad Yusran Anshar sebagai penceramah.

Spirit Hijrah

Jama’ah antusias mengikuti dan menyimak taushiyah Tabligh Akbar “Donggala Berhijrah” yang digelar Wahdah Islamiyah Donggala, Ahad (04/11/2018). Photo:Rustam

Dalam taushiyahnya Ustadz Yusran mengajak hadirin Tabligh Akbar “Donggala Berhijrah” untuk bangkit dengan semangat dan spirit  hijrah, semangat perbaikan diri dan keluarga.

“Mari kita berhijrah, berhijrah dari apa? Berpindah dari manusia yang banyak bermaksiat menuju manusia yang banyak berdzikir kepada Allah Taala,” tuturnya.

Salah satu cara menyelamatkan diri dari bala, lanjut ustad Yusran, adalah dengan melakukan perbaikan-perbaikan. Inilah cara yang telah ditempuh oleh Rasulullah. Sebagaimana ditegaskan Allah dalam Alquran, bahwa Allah tidak akan menyiksa suatu kaum dengan kezaliman yang mereka lakukan, selama mereka adalah orang selalu mengadakan perbaikan, saling menasehati dari kesalahan.

Ustadz Muhammad Yusran Anshar

 “Bagaimana kita berhijrah? Kita mulai dari diri dan keluarga kita. Arahkan diri untuk rajin ke Masjid, sembari mengajak anggota keluarga kita juga ikut menyejahterakan Masjid. Sehingga tercipta keluarga yang shalih, dan terkonversi menjadi Masyarakat yang taat kepada Allah taala. Dari kondisi ini, niscaya akan tercipta Donggala yang mendapatkan Rahmat dan Keberkahan dari Allah Subhana wa taala,” jelasnya.

Anak-anak korban gempa Donggala sedang menenteng bantun sembako pasca Tabligh Akbar “Donggala Berhijrah”, Ahad (04/11/2018)

Tabligh Akbar “Dongga Berhijrah” juga dirangkaikan dengan pembagian paket sembako kepada ratusan warga yang hadir, yang terdiri dari jemaah laki-laki, Ibu-ibu, para pemuda serta anak-anak. (Rustam/Sym).

Wahdah Islamiyah Kukuhkan Pengurus Wilayah Sumatera Selatan

Pengukuhan Pengurus DPW Wahdah Islamiyah Sumatera Selatan

(PALEMBANG)  wahdahjakarta.com – Wahdah Islamiyah (WI) terus melebarkan sayapnya ke seluruh wilayah Indonesia. Hari ini, Sabtu (27/10/2018) dilakukan peresmian dan Pengukuhan Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) di Sumatera Selatan  (Sumsel) di Hotel Grand Duta Syariah Kota Palembang.

Pengukuhan pengurus DPW WI Sumsel juga dirangkaian dengan pengukuhan pengurus 3 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah,  yakni DPD WI Palembang, Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin.

Surat Keputusan pengangkatan pengurus dibacakan oleh  ketua Bidang I  DPP WI ustadz Ir. Nursalam Sirajuddin

Acara  pengukuhan juga dihadiri unsur pemerintahan, ormas Islam, organisasi kemahasiswaan, tokoh-tokoh Islam, majelis taklim dan majelis Dirosa dari Majelis Dirosa Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin dan Palembang.

Pemerintah, masyarakat, dan ormas Islam Sumsel menyambut baik kehadiran Wahdah Islamiyah di Sumsel.

Pemrov Sumsel  yang diwakili Kepala Dinas Sosial  Dr. H. Rosidin, M.Pd.I, dalam sambutannya mengharapkan Wahdah Islamiyah membangun dakwah secara umum dan lebih khusus kepada tahanan wanita muslimah di lembaga pemasyarakatan.

Ia menganjurkan agar para tahanan diajar mengaji dan dibina keislamannya dengan sistem tarbiyah islamiyah dengan harapan setelah keluar dari penjara telah menjadi orang yang baik.

Senada dengan Pemprov, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumsel juga mengajak WI untuk bersinergi dengan MUI dan ormas Islam lainnya.

“MUI menyambut baik dan mendukung kehadiran Wahdah Islamiyah di Sumatera Selatan, dan meminta WI ikut terlibat menjadi pengurus MUI Sumatera Selatan”, ujarnya sebagaimana dilansir dari wahdah.or.id.

Wahdah Islamiyah menyambut baik ajakan ini. Dalam sesi makan siang Ustadz Nur  banyak berdiskusi dengan Pak Rosidin terkait kemajuan dakwah Islam khususnya di Sumatera Selatan.[]

Sumber: wahdah.or.id

 

Gelar Rapat Pleno 32, Wantim MUI Tegaskan 10 Kaidah Berukhuwah 

 

Gelar Rapat Pleno 32, Wantim MUI Tegaskan 10 Kaidah Berukhuwah 

Rapat Pleno Ke.32 Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Kamis 15 Rajab 1440 H

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI)  menggelar rapat pleno ke-32 dengan tema “Bencana Dusta dan benci, Apa Solusinya?” di Kantor MUI, Jakarta pada hari Rabu, 24 Oktober 2018.

Rapat ini  dihadiri  oleh Anggota Pleno Dewan Pertimbangan MUI yang merupakan utusan  berbagai unsur pimpinan dan perwakilan ormas-ormas Islam.

MUI memandang bahwa sesungguhnya Islam adalah dasar kesatuan dan penyatuan bagi seluruh umat Islam dari latar belakang ras, bangsa, suku, dan bahasa yang terikat dalam persaudaraan keimanan (Ukhuwah Imaniyah atau Ukhuwah Islamiyah)”.

Persaudaraan ini seyogyanya membawa umat Islam kepada solidaritas dan kerjasama untuk membangun peradaban utama guna menampilkan umat Islam sebagai umat berkemajuan dan ber-keunggulan (Khaira Ummah). (ibawi).

Untuk membentengi umat sehingga kokoh dalam ber-ukhuwah, Wantim MUI menyampaikan 10 kaidah (ethical code of conduct ) dalam berukhuwah sebagai berikut:

Pertama, setiap Muslim memandang sesama Muslim sebagai saudara seiman,  karenanya dia memperlakukan saudara seimannya dengan penuh kasihsayang, kejujuran, empati dan solidaritas bukan dengan rasa benci, antipati dan cenderung melukainya.

Kedua, setiap Muslim merasa wajib mengambangkan persaudaraan keimanan, kearah sikap dan budaya saling membantu dan melindungi.

Ketiga, setiap Muslim mengutamakan kehidupan berjamaah dan dapat mendayagunakan organisasi sebagai alat dakwah dan perjuanagn. Dalam hal ini, organsasi hanyalah alat bukan tujuan.

Keempat, setiap organisasi/lembaga Islam memandang organisasi/lembaga Islam lain sebagai mitra perjuangan, karenanya hendaknya dikembangkan budaya kerjasama dan perlombaan meraih kebaikan bukan budaya pertentangan, permusuhan, dan persaingan tidak sehat.

Kelima, dalam kehidupan politik, seperti pada pemilihan untuk jabatan politis, setiap muslim dan organisasi/lembaga Islam mengedepankan kebersamaan dan kepentingan bersama umat Islam dan meletakannya diatas kepentingan kelompok/organisasi.

Keenam, sesama pemimpin dan tokoh umat Islam wajib menghidupkan silaturrahim tanpa memandang perbedaan suku, etnik, organisasi, kelompok atau aliran politik.

Ketujuh, setiap pemimpin dan tokoh umat Islam perlu menahan diri untuk tidak mempertajam dan mempertentangkan masalah-masalah khilafiyah, keragaman ijtihad dan perbedaan madzhab di dalam forum khutbah, pengajian dan sebagainya, apalagi dengan mengklaim pendapat atau kelompok tertentu yang paling benar dan menyalahkan pendapat atau kelompok lain.

Kedelapan, hubungan antara sesama organisasi Islam haruslah dilandasi pandangan positif (husnudzon) dan selalu mengedepankan sikap saling menghargai peran dan kontribusi masing-masing dalam pembangunan umat.

Kesembilan, setiap amal dan prestasi suatu organisasi Islam haruslah dipandang sebagai bagian dari karya dan prestasi umat Islam secara keseluruhan, dalam arti organisasi Islam yang lain wajib menghormati, menjaga serta melindunginya.

Kesepuluh, setiap kaum muslimin harus memandang sesama muslim lain di berbagai negara dan belahan dunia, sebagai bagian dari dirinya dan berkewajiban untuk membangun solidaritas dan tolong menolong dalam berbagai bidang kehidupan. [ibw]

 

 

Wantim MUI: Ukhuwah Akan Mengantar Umat Menjadi “Khaira Ummah”

Wantim MUI Ukhuwah Akan Mengantar Umat Menjadi “Khaira Ummah”

Rapat Pleno Ke.32 Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Kamis 15 Rajab 1440 H

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI)  menggelar rapat pleno ke-32 dengan tema “Bencana Dusta dan benci, Apa Solusinya?” di Kantor Majelis Ulama Indonesia, Jakarta pada hari Rabu, 24 Oktober 2018.

Rapat ini menghadirkan Anggota Pleno Dewan Pertimbangan MUI yang berisikan berbagai unsur pimpinan dan perwakilan ormas-ormas Islam.

Salah satu peserta rapat, Ustadz Ridwan Hamidi dari Wahdah Islamiyah (WI) menuturkan bahwa rapat ini diadakan untuk merespon maraknya berita palsu (hoax) di berbagai media yang berpotensi memecah belah kerukunan dan persatuan umat. ‘Hoax’ dipandang bukan hanya membahayakan kehidupan umat dan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“MUI memandang bahwa sesungguhnya Islam adalah dasar kesatuan dan penyatuan bagi seluruh umat Islam dari latar belakang ras, bangsa, suku, dan bahasa yang terikat dalam persaudaraan keimanan (Ukhuwah Imaniyah atau Ukhuwah Islamiyah)”, jelasnya.

Persaudaraan ini seyogyanya membawa umat Islam kepada solidaritas dan kerjasama untuk membangun peradaban utama guna menampilkan umat Islam sebagai umat berkemajuan dan ber-keunggulan (Khaira Ummah). (ibawi).

Pembakaran Kalimat Tauhid, MUI Minta Polri Tegakkan Hukum Secara Adil

Pembakaran Kalimat Tauhid, MUI Minta Polri Tegakkan Hukum

Buya Yunahar Ilyas menyampaikan, bendera bertuliskan kalimat tauhid yang dibakar di Garut bukan bendera HTI. Photo: Dio

(Jakarta) wahdahjakarta.com — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menyatakan bahwa bendera bertuliskan kalimat tauhid yang dibakar oknum anggota Barisan Serba Guna (Banser) di Garut Jawa Barat pada Senin (22/10/2018) lalu bukan bendera Hizbut Tahrir Indonesia.

“Oleh sebab itu meminta kepada Polri untuk menyidiknya, memproses secar hukum, dan polri tadi sudah memberi penjelasan,  sudah disidik secara hukum, dan diminta kepada semu pihak untuk sabar menunggu prossnya”, ujar Ketua MUI KH. Yunahar Ilyas di kantor MUI Pusat, Jln. Proklamasi, Jakarta pada Selasa (23/10/2018).

Buya Yunahar memastikan bahwa bendera yang dibakar bukan identitas kelompok tertentu, tapi kalimat tauhid.

“Dalam perspektif umat Islam Indonesia, yang dibakar itu adalah kalimat tauhid, bukan bendera kelompok tertentu, tapi dalam keterangan Polri bahwa mereka tidak membakar kalimat tauhid, tapi membakar bendera Hizbut Tahrir Indonesia”, jelasnya.

Oleh karena itu menurut Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini, MUI juga meminta  kepada oknum yang bersangkutan untuk meminta maaf kepada ummat Islam.

Selain itu imbauan untuk meminta maaf juga disampaikan Wakil Sekjen MUI KH. Muhammad Zaitun Rasmin.

“Dari pihak banser menganggap (yang dibakar) itu bendera HTI, Kalau ternyata itu salah, maka tinggal meminta maaf saja, dan kalau ada proses hukum maka proses hukum berjalan, memang untuk menyelesaikan ini dengan proses hukum”, pungkasnya.

Oleh karena itu MUI  mendorong dan mengimbau kepada semua pihak untuk menyerahkan masalah ini kepada proses hukum dan meminta kepada pihak kepolisian untuk bertindak cepat, adil dan profesional.

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan Sekjen MUI Anwar Abbas, MUI juga  memohon kepada semua pihak untuk dapat menahan diri, tidak terpancing dan tidak terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu agar ukhuwah islamiyah dan persaudaraan di kalangan umat serta bangsa tetap terjaga dan terpelihara.  [sym].

Tolak LGBT, Ormas Islam Sebogor Raya Akan Gelar Aksi Damai

Tolak LGBT, Ormas Islam Sebogor Raya Akan Gelar Aksi Damai

Tokoh Ormas Islam Sebogor Raya usai silaturrahim dan konsolidasi di Masjid Ijtihadul Walidan Bogor , Kamis (18/10/2018) sore. Direncanakan ormas Islam sebogor raya akan menggelar aksi Aksi Damai #TolakLBGT 2November 2018 mendatang.

(Bogor) wahdahjakarta.com – Tolak LGBT, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Bogor menggelar acara silaturahim para pimpinan ormas dan lembaga Islam se-Bogor Raya pada Kamis (18/10/2018). Para tokoh umat tersebut diantaranya dari Majelis Az Zikra, PERSIS, FPI, HASMI, ICMI, FMB, DDII, Salimah, BKsPPI, Wahdah Islamiyyah, Giga Indonesia, PPPA Darul Qur’an, Teman Hijrah, LDK, Dewan Pendidikan Kota Bogor, DKM Masjid di Bogor dan lainnya.

Pertemuan yang diadakan di aula Masjid Ijtihad Walidain Bogor itu untuk menyikapi masalah LGBT (lesbian gay biseks dan transgender) khususnya di Bogor.

Iwan Suryawan dari Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Bogor yang hadir dalam pertemuan tersebut menerangkan bahwa keberadaan LGBT di Bogor sudah cukup mengkhawatirkan. Salahsatunya ia mengungkapkan jumlah gay yang tercatat di Dinas Kesehatan Kota Bogor per Desember 2017 saja itu sudah 2.495 orang, dan diantara mereka sudah positif HIV-AIDS. “Dan penularan HIV nomor satu di Kota Bogor itu melalui kaum gay, jauh lebih banyak dari penularan melalui praktek prostitusi WTS,” ungkapnya.

Dengan kondisi itulah, para pimpinan ormas Islam bersepakat untuk melakukan gerakan bersama untuk mencari solusi bagaimana mengatasi masalah LGBT ini.

Pada pertemuan tersebut, para tokoh umat juga menyepakati membentuk Forum Masyarakat Anti LGBT dengan koordinatornya Ustaz Abdul Halim dari Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) Kota Bogor. Dan sebagai gerakannya, disepakati pula Forum tersebut akan menggelar Aksi Damai Tolak LGBT pada Jumat 2 November 2018 bertempat di Balaikota Bogor.

“Aksi ini dalam rangka mengingatkan semua pihak akan bahaya LGBT yang bisa mengundang azab dari Allah SWT. Selain itu kita juga berharap aksi ini bisa mengingatkan pemerintah daerah Bogor agar lebih peduli dalam menyelesaikan masalah ini,” ujar Ustaz Halim.

Ia mengatakan, target aksi damai tersebut adalah lahirnya aturan pelarangan LGBT di Bogor. “Kita minta pemerintah agar mengeluarkan semacam SK atau Perda Anti LGBT, yang dengan payung hukum tersebut harapannya bisa melarang secara tegas kegiatan LGBT di Bogor,” jelas Ustaz Halim.

Untuk itu, ia mengajak seluruh pihak yang peduli akan masalah ini bisa meluangkan waktunya untuk berjuang bersama-sama para ulama, pimpinan ormas Islam, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan berbagai pihak lainnya dalam Aksi Damai Tolak LGBT pada 2 November 2018 mendatang. [ ]