Membayar Zakat Fitrah Setelah Shalat ‘Ied

Membayar Zakat Fitrah Setelah Shalat 'Ied

Membayar Zakat Fitrah Setelah Shalat ‘Ied

Membayar Zakat Fitrah Setelah Shalat ‘Ied

Pertanyaan:

Apa hukumnya orang yang sengaja atau lupa membayar zakat fitrah hingga shalat idul fitri selesai ?

Jawab:

Apabila seseorang sengaja membayar zakat ini setelah shalat idul fitri tanpa ada udzur atau alasan syar’i maka ia berdosa, dan zakat yang dibayarnya tersebut sama sekali tidaklah bernilai zakat fitrah namun hanya bernilai sedekah biasa. Adapun bila ia melakukan itu karena ada alasan syar’i seperti lupa atau tidak mendapatkan fakir miskin sebelum shalat idul fitri, maka zakatnya tetap dianggap sah. Ini sesuai hadis Ibnu Abbas:

“Barangsiapa yang membayarnya (zakat fitrah) sebelum shalat (idul fitri) maka ia adalah zakat  yang diterima (sah), dan barangsiapa yang membayarnya setelah shalat (tanpa alasan syar’i) maka ia hanyalah dianggap sebagai sedekah seperti sedekah-sedekah biasanya” (HR Abu Daud: 1609, dan Ibnu Majah: 1827, hadisnya hasan)[Syarh Arkaan Al-Islam: hal. 128-129].

[sym].

Waktu Yang Tepat Mengeluarkan Zakat Fitrah

 

Waktu Yang Tepat Mengeluarkan Zakat Fitrah

Pertanyaan:

Saya mengeluarkan zakat fitrahku dan zakat fitrah pembantuku pada  tanggal 26 Ramadhan Apakah hal ini dibolehkan?

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga tercurah Rasulullah, amma ba’du;

Boleh mengeluarkan zakat fitrah pembantu bila hal itu seidzin dan sepengatahuaannya.

Waktu  wajib mengeluarkan zakat fitrah adalah setelah terbenam matahari pada malam ‘ied, dan boleh mendahulukannya sehari atau dua hari  saja. Adapun mengeluarkannya sebelum itu; jika dimaksudkan agar terkumpul pada pihak yang membagikannya, maka tidak masalah. Disebutkan dalam Al-Muwatha bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma mengirikan zakat fitrah kepada (panitia) yang mengumpulkannya dua atau tiga hari sebelum ‘ied.

Adapun bila diserahkan langsung kepada fakir miskin, sebaiknya tidak disegerakan. Karena tujuan dari zakat fitrah adalah memberikan kecukupan dan menghindarkan mereka dari meminta-minta pada hari ‘ied. Sementara jika didahulukan beberapa sebelum ‘ied, boleh jadi luput maksud memberi kecukupan pada hari ‘ied yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Cukupi mereka dan hindarkan dari meminta-minta pada hari ini (‘ied)”. [Sym/wahdahjakarta.com].

  (Sumber: Fatwa Syekh. DR. Ahmad bin Muhammad Al-Khudhairiy).

Tanya Jawab Fiqh Puasa [10]:  Hukum Berbuka Puasa Tanpa Membaca Do’a Buka Puasa

Hukum Berbuka Puasa Tanpa Membaca Do’a Buka Puasa

Hukum Berbuka Puasa Tanpa Membaca Do’a Buka Puasa

Tanya Jawab Fiqh Puasa [10]:  Hukum Berbuka Puasa Tanpa Membaca Do’a Buka Puasa

Pertanyaan:

Saya berbuka puasa pada bulan Ramadhan tanpa mengucapkan Bismillah karena saya sedang berada di kamar kecil (toilet). Apa hukumnya?

Jawaban:

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan sahabatnya, amma ba’du.

Siapa yang berbuka puasa atau berniat buka puasa tanpa membaca dzikir-dzikir buka puasa dan baik basmalah dan yang lainnya maka puasanya tetap sah dan tiada dosa baginya. Namun disunnahkan bagi orang yang berpuasa atau yang lainnya membaca bismillahirrahmanirrahim sebelum menyantap makanan. Jika ia berbuka puasa, maka setelah berbuka hendaknya ia mengucapkan;

“ذهب الظمأ وابتلت العروق، وثبت الأجر إن شاء الله”

Dahaga telah hilang, kerongkongan telah basah, dan tetaplah pahala insya Allah” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud).

Atau membaca do’a;

“اللهم إني أسألك برحمتك التي وسعت كل شيء أن تغفر لي” رواه ابن ماجه، وحسنه الحافظ ابن حجر في تخريج الأذكار

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, semoga Engkau mengampuniku”. (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Hafidz Ibn Hajar dalam Takhrij al-Adzkar). [sym].

Sumber:http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=7428, Terjemah Oleh Syamsuddin Al-Munawiy).

Tanya Jawab Fiqh Puasa [08] : Membatalkan Puasa Untuk Mensiasati Hubungan Intim Pada Siang Hari Ramadhan

Tanya Jawab Fiqh Puasa [07] : Membatalkan Puasa Untuk Mensiasati Hubungan Intim Pada Siang Hari Ramadhan

Membatalkan Puasa Untuk Mensiasati Hubungan Intim Pada Siang Hari Ramadhan

Tanya Jawab Fiqh Puasa [08] : Membatalkan Puasa Untuk Mensiasati Hubungan Intim Pada Siang Hari Ramadhan

PERTANYAAN:

Apa hukumnya orang yang berbuka (membatalkan puasa) pada siang hari Ramadhan dengan maksud setelah itu menggauli istrinya? Apakah ia dianggap melakukan siasat tipudaya sehingga ia harus berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai hukuman baginya? atau ia dianggap berdosa atas siasat itu dan hanya berkewajiban mengqadha satu hari saja, ataukah perbuatannya tersebut tanpa kaffarat?

Taqabbalallahu minna wa minkum shalihal a’mal

JAWABAN:

Taqabbalallahu minkum shalihal a’mal

Orang puasa yang membuat hilah (siasat) untuk menghindari kafarat jima (hubungan suami istri) pada siang hari Ramadhan dengan makan terlebih dahulu tidak dapat merubah hukum syariat sama sekali. Karena pada asalnya dia bermaksud melakukan jima’ dan ia tidak termasuk orang yang boleh berbuka pada siang hari Ramadhan, dan hilah yang dilakukannya adalah batil secara syar’i. Sebab sesungguhnya ia juga harus tetap menahan (tidak makan dan minum) karena ia makan dan minum dengan sengaja tanpa rukshah.

Oleh karena itu, orang yang sengaja makan (membatalkan Pusanya) dengan maksud untuk menggauli istrinya pada siang hari bulan Ramadhan, sementara dia merupakan orang yang wajib berpuasa, maka ia berdosa. Oleh karena itu ia harus bertaubat, beristighfar, melakukan qadha (mengganti puasa), dan membayar kaffarat menggauli istri pada siang hari bulan Ramadhan.

Jika ia hanya makan (membatalkan puasa) dan sebelumnya tidak ada niat untuk berjima’, namun setelah itu ia menggauli istrinya, apakah ia wajib bayar kafarat? Ada dua pendapat yang masyhur di kalangan ulama. Mayoritas ulama bependapat bahwa dalam masalah seperti ini ia tetap wajib bayar kaffarat. [sym/wahdahjakarta.com].

(Sumber: Fatwa Syekh Sulaiman bin Abdullah al-Majid (Hakim Mahkamah Agung Riyadh); http://www.islamtoday.net/fatawa/quesshow-60-232807.htm).

Tanya Jawab Fiqh Puasa [07]: Suci dari Haidh Jelang Subuh, Bagaimana Puasa Pada Hari Tersebut?

Suci dari Haidh Jelang Subuh, Bagaimana Puasa Pada Hari Tersebut

Suci dari Haidh Jelang Subuh, Bagaimana Puasa Pada Hari Tersebut ?

Tanya Jawab Fiqh Puasa [07]: Suci dari Haidh Jelang Subuh, Bagaimana Puasa Pada Hari Tersebut?

Pertanyaan:

Jika seorang wanita suci dari haidh persis setelah terbit Fajar, apakah ia ber-imsak (menahan diri dari makan-minum) dan berpuasa pada hari tersebut, sehingga ia terhitung berpuasa pada hari itu? Ataukan ia wajib mengqadha puasanya hari itu?

Jawaban:

Jika seorang wanita suci dari haidh setelah terbit fajar, maka terkait masalah ber-imsak (menahan) atau tidak pada hari itu para ulama berbeda pendapat dalam dua pendapat.

Pertama;

Pendapat yang mengatakan, ia harus menahan diri dari makan dan minum (tidak boleh makan-minum) pada hari tersebut, tapi tidak terhitung berpuasa. Bahkan ia wajib meng-qadha. Ini pendapat yang masyhur dalam madzhab Imam Ahmad rahimahullah.

Kedua;

Pendapat yang mengatakan bahwa Ia tidak wajib menahan diri dari makan dan minum pada hari tersebut (artinya;ia boleh makan-minum). Karena tidak ada faidahnya ia menahan diri dari makan dan minum. Sebab ia diperintahkan untuk tetap makan dan minum sejak pagi. Bahkan haram baginya berpuasa pada hari itu. Sementara puasa secara syar’i adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dalam dengan niat ibadah kepada Allah sejak terbit Fajar sampai terbenam matahari.

Inilah pendapat yang kami pandang lebih rajih (kuat) tinimbang pendapat yang mengharuskan imsak (tidak makan-minum pada sisa waktu di hari itu). Selain itu, kedua pendapat tetap sepakat bahwa ia wajib meng-qadha hari tersebut. (sym).

Sumber: 52 Sualan ‘an Ahkamil Haidh (52 Soal-Jawab Seputar Hukum Haidh) Oleh Syekh al-‘Utsaimin, hal. 9-10)

Tanya Jawab Fiqh Puasa [ 06]: Mandi Junub Setelah Adzan Subuh

“Siapa yang junub pada malam hari lalu bangun pagi dan tidak mandi melainkan setelah terbit fajar, maka puasanya sah”.

Tanya Jawab Fiqh Puasa [ 06]: Mandi Junub Setelah Adzan Subuh

Pertanyaan:

Apa hukum puasa qadha orang yang tidur malam dalam keadaan junub dan mandi junub setelah adzan subuh. Sahkah puasanya?

Jawaban:

Siapa yang junub pada malam hari lalu bangun pagi dan tidak mandi melainkan setelah terbit fajar, maka puasanya sah. Hal ini telah ditunjukan oleh hadits-hadits yang banyak, diantaranya;

فعن عائشة: أن رجلاً قال: يا رسول الله تدركني الصلاة وأنا جنب فأصوم، فقال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: وأنا تدركني الصلاة وأنا جنب فأصوم، فقال: لست مثلنا يا رسول الله قد غفر الله لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر، فقال: والله إني لأرجو أن أكون أخشاكم لله وأعلمكم بما أتقي. رواه أحمد ومسلم وأبو داود

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah saya memasuki waktu shalat dalam keadaan junub, bolehkah saya berpuasa? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku juga –kadang- memasuki waktu shalat dalam keadaan junub dan saya tetap berpuasa”. Penanya tersebut berkata, “engkau bukan seperti kami, Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan akan datang“. Rasul berkata, “Demi Allah, saya beraharap akulah yang paling takut kepada Allah diantara kalian dan paling tahu apa yang harus dihindari”. (HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).

‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma juga mengatakan bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu pagi dalam keadaan junub, kemudian beliau berpuasa ramadhan”. (Muttafaq ‘alaihi).

Dalam riwayat Muslim Ummu Salamah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu pagi dalam keadaan junub, beliau tetap puasa dan tidak mengqadha”. (HR. Muslim)

Imam Syaukani rahimahullah berkata dalam mengomentari hadits-hadits tersebut, “Hadits-hadits ini dijadikan dalil oleh Ulama yang berpendapat bahwa yang bangun pagi dalam keadaan junub puasanya tetap sah tanpa ada perbedaan apakah junub tersebut karena jima’ atau sebab yang lain. Ini adalah pendapat Jumhur (mayoritas). Imam Nawawi menegaskan bahwa hal tersebut merupakan ijma’. Ibnu Daqiq al ‘Ied mengatkan bahwa hal tersebut meruapakan ijma’ atau seperti ijma’.” Hukum ini sama baik puasa ada’ (ditunaikan pada waktunya), qadha, maupun puasa sunnah. Wallahu a’lam. [sym].

(Sumber:http://fatwa.islamweb.com/).

Kesimpulan: Orang yang bangun tidur dalam keadaan junub dan terlambat mandi junub setelah terbit fajar, puasanya sah. Hal ini berlaku dalam puasa wajib, sunnah, dan qadha. (Terjemah oleh Syamsuddin Al-Munawiy)

Tanya Jawab Fiqh Puasa [05]: Memiliki Hutang Puasa, Tetapi Lupa Bilangannya

Tanya Jawab Fiqh Puasa [05]: Memiliki Hutang Puasa, Tetapi Lupa Bilangannya

Pertanyaan:

Istriku memiliki kewajiban mengqadha hutang puasa beberapa hari (pada bulan Ramadan lalu), akan tetapi lupa bilangannya berapa hari persisnya. Apa yang harus dia lakukan?

Jawaban:

Alhamdulillah

Orang yang berbuka beberapa hari di bulan Ramadan karena uzur safar, sakit, haid, dan nifas diharuskan mengqadhanya.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala :

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ (سورة البقرة: (184

 

‘Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.’ (QS. Al-Baqarah: 184)

Dan diriwayatkan oleh Muslim, 335 sesungguhnya Aisyah radhiallahu anha di tanya, ‘Mengapa orang haid mengqada puasa dan tidak mengqadha shalat, beliau menjawab, “Dahulu kami mengalami hal itu, maka kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat.”

Kalau istri anda lupa bilangan hari yang menjadi tanggungannya, ragu apakah enam atau tujuh hari contohnya. Maka dia hanya wajib melakukannya enam hari. Karena asalnya seseorang tidak terkena beban kewajiban. Jika dia puasa tujuh hari sebagai kehati-hatian, maka hal itu lebih utama agar terbebas dari kewajibannya secara yakin. Kalau tidak ingat sama sekali bilangan harinya, maka dia berpuasa yang menjadi persangkaan kuat dapat membebaskan kewajibannya.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya tentang wanita mempunyai tanggungan qadha puasa Ramadan, akan tetapi dia ragu apakah empat atau tiga hari. Sekarang dia berpuasa tiga hari, apa yang harus dia lakukan?

Beliau menjawab,

“Kalau seseorang ragu mempunyai tanggungan kewajiban mengqadha, maka dia mengambil yang paling sedikit. Kalau seorang wanita atau lelaki ragu, apakah dia ada kewajiban mengqadha, tiga atau empat hari? Maka dia mengambil yang terkecil, karena yang terkecil itu yakin, sementara tambahannya itu masih meragukan. Karena pada asalnya seseorang terbebas dari (kewajiban). Akan tetapi meskipun begitu, yang lebih hati-hati hendaknya dia mengqadha hari yang meragukan ini. Jika ternyata itu memang kewajibannya, maka dia telah terbebaskan dari tanggungan dengan yakin, kalau tidak wajib, maka itu sebagai sunnah. Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang melakukan amalan kebaikan.”

[Fatawa Nurun Ala Ad-Darbi]

Tanya Jawab Fiqh Puasa [04]: Antara Niat Puasa Qadha dan Puasa Sunnah

Tanya Jawab Fiqh Puasa [04]: Antara Niat Puasa Qadha  dan Puasa Sunnah

Pertanyaan:

Suatu ketika saya sedang berpuasa qadha’ Ramadhan, akan tetapi pada siang harinya saya merasa ragu, apakah tadi saya berniat sebelum subuh atau setelah subuh ?, lalu saya rubah niat puasa pada hari itu menjadi puasa sunnah karena Allah, apakah yang saya lakukan tersebut benar atau tidak boleh ?, dan jika tidak boleh, apakah ada kaffarat atau amalan tertentu yang harus saya lakukan ?, saya berharap anda segera menjawabnya mengingat saya sangat bingung dalam masalah ini ?

Jawaban:

Alhamdulillah

Pertama:

Jika seseorang ragu-ragu dalam niatnya untuk puasa qadha, apakah dia sudah berniat sebelum subuh atau setelah subuh, maka hukum asalnya pada kondisi tersebut adalah sama saja dengan tidak ada niat, hukumnya tetap sesuai dengan hukum awalnya; karena inilah kondisi yang diyakini; karena dia meragukan keberadaan niat sebelum fajar. Jadi  yang pokok dan yang diyakininya adalah tidak adanya niat, sementara keyakinan itu tidak bisa dihilangkan oleh karagu-raguan.

Akan tetapi jika penanya di atas mengalami was was (sering ragu-ragu), maka hendaknya ia melanjutkan puasanya dengan niat puasa qadha; karena keragu-raguan jika sering terulang tidak dianggap; karena wajib hukumnya untuk tidak memperturutkan rasa was-was dan keragu-raguan, untuk menghindari kesulitan yang akan ditimbulkanya. Dan kesulitan ini bertentangan dengan syari’at Islam yang lurus dan toleran.

Seperti itu juga halnya jika keraguan itu merupakan sebuah kerisauan yang mendadak, disertai dengan dugaan kuat bahwa niatnya masih sah, atau ada indikasi bahwa anda sedang puasa qadha’ bukan lainnya, yang pada hari tersebut tidak menunjukkan adanya puasa lainnya kecuali untuk puasa qadha’.

Oleh karenanya para ulama berkata:

والشك بعد الفعل لا يؤثر * وهكذا إذا الشكوك تكثر

Keraguan setelah adanya perbuatan tidak berpengaruh apa-apa, demikian juga jika keragu-raguan itu sering dirasakan”.

Kedua:

Barang siapa yang telah memasuki puasa wajib, seperti; puasa qadha’ Ramadhan, maka tidak dibolehkan baginya untuk membatalkannya tanpa ada udzur (alasan) yang dibenarkan, seperti; karena sakit atau bepergian.

Jika dia membatalkannya –dengan adanya udzur atau tanpa udzur- maka dia wajib mengqadha’ puasa pada hari itu dengan berpuasa pada hari lain untuk mengganti hari tersebut.

Dan tidak ada kaffarat (denda) apapun dari pembatalan puasanya, baik pembatalannya karena udzur atau tidak ada udzur; karena kaffarat itu tidak diwajibkan kecuali karena berjima’ di siang hari pada bulan Ramadhan. Baca juga jawaban soal nomor: 49750

Jika seorang muslim telah merubah niatnya dari puasa qadha’ menjadi puasa sunnah muthlak (umum), maka tidak ada kaffarat apapun baginya, hanya saja dia wajib beristigfar dan bertaubat kepada Allah.

Kesimpulan:

Jika niatnya sudah ditetapkan sebelumnya untuk puasa qadha’, maka tidak boleh membatalkannya.

Akan tetapi jika hal itu dahulu sudah pernah dilakukan, maka dia wajib beristigfar dan bertaubat dan tidak ada denda apapun karenanya.

Namun jika anda ragu-ragu apakah sudah berniat untuk puasa qadha’ tadi malam atau belum, maka hukum asalnya berarti tidak ada niat sebelumnya, dan kita mengamalkan yang diyakini bahwa puasanya dianggap berniat setelah fajar, maka tetap sah sebagai puasa sunnah, hal ini jika keragu-raguan tersebut dianggap berlaku.

Adapun jika niatnya tercampuri oleh rasa was-was (sering ragu-ragu), maka hal itu merupakan keraguan yang tidak berdasar, puasa tersebut adalah puasa wajib yang tidak terpengaruh karena keragu-raguan, maka tidak boleh membatalkannya.

Dan karena anda telah membatalkannya, maka gantilah dengan berpuasa pada hari lain, jangan pernah diulangi lagi dan tidak ada denda apapun. Wallahu A’lam.

[Sumber: https://islamqa.info].

Memejamkan Mata dalam Shalat

Memejamkan  Mata dalam Shalat

Pertanyaan:
Apa hukum memjamkan mata dalam shalat?

Jawaban:
Alhamdulillah

Para ulama sepakat makruh memejamkan  mata dalam shalat tanpa ada kebutuhan. Pemilik kitab ‘Roud’ menegaskan akan makruhnya karena hal itu termasuk prilaku orangYahudi. (Roudul Murbi’, (1/95). Begitu juga pemilik kitab Manarus sabil dan Kafi serta Zad karena hal itu mengarah untuk tidur. Manarus Sabil, (1/66) Kafi, (1/285). Pemilik kitab ‘Al-Iqna’ menegaskan akan makruhnya kecuali kalau ada kebutuhan seperti takut (sesuatu) yang dilarang. Melihat budak wanita, istri atau orang asing telanjang, (Al-iqna’, 1/127) begitu juga pemilik Al-Mugni, Al-Mugni, 2/30).

Apa yang ditegaskan oleh pemilik Tuhfatul Muluk akan makruhnya tanpa melihat adanya kebutuhan atau tidak (Tuhfatul Muluk, 1/84). Kasani mengatakan,

Dimakruhkan karena menyalahi sunah. Dimana (dalam sunah) dianjurkan kedua mata memandang ke tempat sujud. Juga karena setiap anggota badan mendapatkan bagian dalam ibadah begitu juga dua mata. (Badai’ Sonai’, (1/503).

Pemilik Maroqi Falah menegaskan kemakruhannya kecuali kalau ada maslahah. Seraya mengatakan,

Terkadang memejamkan mata itu lebih utama dibanding dengan melihat. Maroqi Falah, (1/343).

Imam Al-Izz bin Abdussalam mengatakan dalam fatwanya memperbolehkan ketika ada kebutuhan. Jikalau hal itu lebih khusu’ dalam shalatnya. Sementara Ibnu Qoyim menegaskan dalam Zadul Maad bahwa seseorang kalau lebih khusu’ dengan membuka kedua matanya itu lebih utama. Kalau sekiranya memejamkan kedua mata itu lebih khusu’ karena ada gangguan yang mengganggu shalat dari ukiran dan hiasan maka tentu hal itu tidak dimakruhkan bahkan pendapat dengan anjuran menutup mata itu lebih dekat tujuan syariat serta pokok dibandingkan dengan pendapat memakruhkan. Zadul Ma’ad, (1/283) . [Sumber:https://islamqa.info/id/22174].

Tanya Jawab Fiqh Puasa [03]:  Bolehkah Puasa Qadha Pada Hari Syak?

Qadha Puasa

Tanya Jawab Fiqh Puasa [03]:  Bolehkah Puasa Qadha Pada Hari Syak?

Pertanyaan:

Saya mengetahui bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang puasa pada hari syak (meragukan, yaitu akhir bulan Sya’ban, atau sehari dua hari sebelum Ramadhan). Beliau melarang melarang puasa pada dua hari sebelum Ramadhan. Tapi, apakah boleh bagi saya melakukan puasa qadha untuk mengqadha hutang puasa Ramadhan yang lalu pada hari-hari tersebut?

Jawaban:

Alhamdulillah

Ya, dibolehkan mengqadha puasa Ramadhan yang lalu pada hari syak sehari atau dua hari sebelum Ramadhan.

Terdapat riwayat shahih bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang puasa pada hari syak dan beliau melarang berpuasa pada sehari dan dua hari sebelum Ramadan. Akan tetapi, larangan tersebut berlaku jika hari itu bukan hari yang menjadi kebiasaan seseorang berpuasa. Berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلا يَوْمَيْنِ إِلا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ  ) رواه البخاري، رقم 1914، ومسلم، رقم 1082)

Jangan dahulukan Ramadan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali seseorang yang pada hari itu dia biasanya berpuasa. Maka berpuasalah pada hari itu.” (HR. Bukhari, no. 1914 dan Muslim, no. 1082)

Apabila dibolehkan baginya puasa sunnah yang biasa dia lakukan, maka kebolehan puasa qadha Ramadhan lebih utama lagi, karena dia wajib, dan tidak boleh baginya menunda meng-qadha puasanya hingga setelah Ramadhan berikutnya.

Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab Al-Majmu’ (6/399)

“Ulama di kalangan mazhab kami berkata, ‘Tidak sah berpuasa pada hari syak (meragukan) sebelum Ramadhan. Tapi jika dia berpuasa pada hari itu untuk  puasa qadha, atau nazar, atau kaffarat, maka semua puasa itu sah. Karena, kalau  diperbolehkan baginya berpuasa sunnah pada hari itu jika memiliki sebabnya, maka puasa wajib lebih utama dibolehkan. Seperti waktu yang dilarang untuk shalat. Demikian juga, apabila dia memiliki hutang puasa Ramadan lalu, maka justeru diwajibkan baginya ketika itu, karena waktu pelaksanaan puasa qadha baginya telah sempit.”

[Sumber: https://islamqa.info]