Puasa Sembilan Hari di Bulan Dzulhijjah Termasuk Sunnah?

Puasa Sembilan Hari di awal Bulan Dzulhijjah Termasuk Sunnah?

Pertanyaan:

Apakah puasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk sunnah

Jawaban:

Puasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk sunnah berdasarkan hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dari Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu anh;  Beliau mengatakan bahwa;

أربع لم يكن يدعهن رسول الله صلى الله عليه وسلم صيام يوم عاشوراء والعشر وثلاثة أيام من كل شهر والركعتين قبل الغداة.

Ada empat amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam (yaitu) puasa Asyura puasa puasa ‘asyar (di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah), puasa tiga hari setiap bulan, dan shalat dua rakaat sebelum subuh”. (HR Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Hibban).

Dalam hadits laim dari  Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya…” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Hadits  ini merupakan dalil tentang disunnahkannya puasa pada 10 hari pertama bulan dzulhijjah.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari  ‘Aisyah radhiyallahu anha yang  mengatakan bahwa,  “Saya tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah”, telah dijelaskan oleh para ulama.

Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah beliau tidak puasa karena suatu sebab seperti sakit atau safar (perjalanan) atau sebab yang lainnya.

Selain itu tidak terlihatnya bepuasa tidak menunjukkan bahwa beliau tidak berpuasa sama sekali. Karena  Puasa merupakan amalan yang tidak nampak.  kemudian di satu sisi puasa merupakan amal shaleh yang sangat ditekankan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Karena pada hari-hari ini (sepuluh awal bulan Dzulhijjah) amal shaleh lebih utama dan lebih dicintai Allah. Oleh karena itu jelaslah bahwa puasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan sunnah. [sym].

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/ 

Istri Tidak Shalat dan Selalu Membantah

Istri Tidak Shalat dan Selalu Membantah

Pertanyaan;

Istriku selalu menyelisihiku dalam banyak hal seperti pendidikan anak, hubungan dengan kerabat, dan urusan rumah tangga lainnya. Apa yang harus saya lakukan? Saya juga sudah menyuruhnya untuk shalat membaca Al-Qur’an. Tetapi dia tidak nurut, mohon do’anya agar dia mendapat hidayah (petunjuk)

Jawaban:

Pertama,

Rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga yang dibangun di atas prinsip tafahum (saling memahami) dan saling mencintai, yang kemudian disempurnakan dengan saling mengasihi dan menyayangi (Mawaddah wa Rahmah) antara suami dan istri. Semua ini tidak akan terwujud dengan sempurna melainkan jika masing-masing menunaikan kewajibannya. Diantaranya kewajiban suami memberikan nafkah istri dan anak-anaknya, kewajiban istri untuk taat pada suami.

Jika istri mau merebut wewenang kepemimpinan rumah tangga (qawwamah) dari suami, atau melakukan tindakan nusyuz dan menolak untuk taat pada suami, maka sesungguhnya istri seperti ini telah merintuhkan bangunan rumah tangga dengan tangannya dan mengabaikan anak-anaknya dengan perbuatan buruknya tersebut.

Para istri hendaknya menyadari dan memahami bahwa ketaatan pada suaminya merupakan kewajiban syar’i. Dan para suami menempatkan kewenangan mereka sebagai pemimpin rumah tangga (qawwam) secara baik dalam membimbing, membina, dan membahagiakan istri dan keluarganya. Allah Ta’ala berfirman;

( الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِم ) النساء/34

Para istri juga hendaknya merenungkan hadits-hadit Nabi berikut;

 

  1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

’Andaikan saya boleh menyuruh seseorang sujud kepada orang lain, niscaya akan saya perintahkan wanita sujud kepada suaminya”. (HR.Tirmidzi, No. 1159 dan dishahihkan oleh Syekh Al-Albani)

  1. Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 ( ثَلَاثَةٌ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ آذَانَهُمُ : الْعَبْدُ الْآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ ، وَامْرَأَةٌ بَاَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ ، وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ )

Ada tiga orang yang shalatnya tidak  . . . .(1) Budak (hamba sahayaz) yang melarikan diri dari tuannya hingga dia kembali, (2) Istri yang tidur malam dalam keadaan suaminya murka padanya, dan (3) Pemimpin kaum yang dibenci oleh kaumnya (rakyatnya)”. (HR. Tirmidzi)

  1. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

( لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ لَا تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا ) . رواه الترمذي ( 1174 ) ، وصححه الألباني في ” صحيح الترمذي “

”Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari surga mengatakan, ‘janganlah engkau menyakitinya semoga Allah membinasakanmu, dia hanya sementara bersamamu, dia akan segera meninggalkanmu dan datang kepadaku”. (HR.Tirmidzi. No.1174 dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

  1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam brsabda;

 ( لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

 ‘’Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (di rumah) tanpa seidzin (suami) nya dan tidak boleh mengidzinkan orang lain masuk ke rumahnya tanpa seidzin suaminya”. (HR. Bukhari, No.4899 dan Muslim, No. 1026)

Syaikh Al-Albani rahimahullah mengomentasri hadits ini dengan mengatakan;

Jika seorang istri wajib mentaati suami dalam urusan menyalurkan syahwatnya, maka dalam urusan yang lebih penting dan lebih urgent tentu lebih wajib untuk taat pada suaminya, seperti dalam masalah pendidikan anak, pembinaan keluarga dan perbaikan rumah tangga dan hak-hak wajib lainnya”.

Selanjutnya Syekh Al-Albani mebgutip perkataan Ibn Hajar dalam Fathul Bari;

Hadits ini menunjukan bahwa hak suami atas istri lebih utama dari ibadah kebaikan yang sifatnya tathawwu’ (tambahan/sunnah), karena hak suami hukumnya wajib, sedangkan menunaikan yang wajib lebih didahulukan dari tathawwu’ (sunnah/tambahan)”. (Adab Zafaf, hlm. 210)

Kedua,

Suami hendaknya mencaritahu sebab-sebab pembangkangan (nusyuz) istrinya. Dengan mengenali dan mengetahui sebab-sebabnya akan memudahkan menemukan solusi untuk memperbaikinya, agar masing-masing aman dan selamat dari murka Allah. Kadang diantara faktor yang kadang menyebabkan istri berbuat nusyuz adalah suami sendiri. Misalnya maksiat atau kedurhakaan suami kepada Allah. Sebagian orang saleh zaman dahulu (Salafus Shaleh) ada yang mengatakan;

Kadang saya menemukan dampak dari kemaksiatanku pada hewan tunggangan (kendaraan) ku dan istriku”. Dampak tersebut berupa buruknya akhalaq istri dan keenggananan untuk menantaati suami. Artinya sikap buruk istri pada suami merupakan reaksi dan balasan dari akhlaq buruk suami kepada istrinya.

Diantara sebab lain adalah campurtangan keluarga, kerabat, tetangga atau teman-teman istri yang turut andil bersama Iblis dalam memisahkan pasangan suami-istri.

Jika sebabnya adalah dari istri seperti lemah iman, maka suami harus membantu mengingatkan untuk selalu ingat Allah. Suami hendaknya membantu istri dalam merawat dan menguatkan imannya. Suami juga hendaknya mengajari istri bagaimana seharusnya seorang istri menunaikan kewajiban terhada suaminya.

Jika istri belum berubah maka suami boleh memukul degan pukulan yang mendidik tanpa menyakiti. Jika belum berubah juga, maka pisah ranjang. Jika suami telah berusaha menempuh tahapan-tahapan untuk memperbaiki namun itsri tidak juga mengalami perubahan, maka tidak mengapa menceraikannya dengan talak satu. Kadang hal itu membuat istri sadar sehingga mau berubah dan kembali (rujuk) pada suaminya.

Dasar hukum tahapan-tahapan perbaikan masalah hubungan suami istri dan problem rumah tangga adalah firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 34;

( وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً ) النساء/34

Artinya, “

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (Qs. An-Nisa:34).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya”, yakni istri yang tidak taat pada suaminya atau durhaka kepada suami dengan perkataan dan perbuatan, maka suami hendaknya mendidiknya secara perlahan-lahan”.

maka nasehatilah mereka”, yakni jelaskan kepada mereka hukum-hukum Allah tentang kewajiban itsri untuk taat pada suami serta larangan durhaka kepadanya, diserati dengan motivasi untuk melakukan ketaatan dan peringatan dari perbuatan maksiat. Jika dia berhenti (dari sikal nusyuznya) maka inilah yang diharapkan . Jika tidak maka suami dapat memboikotnya di tempat tidur dengan tidak menidurinya dan tidak menggaulinya. Jika belum berubah juga maka suami boleh memukul dengan pukulan yang tidak melukai. Jika maksud dan tujuan telah tercapai dengan salah satu dari langkah-langkah perbaikan ini dan istri telah taat pada suami”, maka

“janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya”, maksudnya jika yang kalian inginkan telah tercapai maka lupakanlah apa yang telah terjadi sebelumnya, janganlah mencela, dan janganlah menyebut-nyebut aib yang telah lalu,karena hal itu dapat menyebabkan keburukan yang baru”. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 142).

Yang pasti seorang suami adalah orang paling tahu tentang istrinya, jika dia mengetahui sebab nusyuznya istrinya berupa sesuatu yang dapat diperbaiki, maka hendaknya dia berusaha memperbaikinya. Jika tidak berhasil maka hendaknya melibatkan kelurga masing-masing sebagai mediator.  Sebab kadang pihak luar (keluarga/kerabat) lebih berpengaruh dari nasehat suami sendiri.

Ketiga,

Jika istri tidak  mengerjakan shalat, maka suami wajib untuk memulai penyelesaian problem rumah tangga dengan masalah sahalat. Karena shalat merupakan identitas uatama seorang Muslim (ah) sekaligus pembeda antara Muslim dengan orang kafir dan musyrik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 ( إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ ) . رواه مسلم ( 116

Pembeda seorang Muslim dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. (HR. Muslim, No.116).

Dalam hadits riwayat Tirmidzi beliau bersabda;

( إِنَّ الْعَهْدَ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ (

Perjanjian antara kami dengan mereka (orang kafir) adalah Shalat, siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja maka ia telah kafir” (HR. Tirmidzi, No.2621, Nasai No. 463, dan Ibnu Majah, No.1079 serta dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

Oleh karena itu anda hendaknya mendidik dan membimbingnya untuk mengerjakan shalat dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan. Anda harus mengingatkannya bahwa meninggalkan shalat dapat menyebabkan kekufuran. Jika dia nurut, maka alhamdulillah. Namun jika dia tidak patuh (tidak mau shalat) maka tidak solusi lain untuk menyelasaikan masalah nusyuznya. Semoga Allah memberikan hidayah kepadanya untuk mengerjakan shalat serta membimbing hatinya kepada kebaikan dan mengurunianya syukur nikmat. [sym]

Sumber: https://islamqa.info/ar/98624

Berbakti Kepada Ayahanda Yang Telah Meninggal Dunia, Bagaimana Caranya?

Berbakti Kepada Ayahanda Yang Telah Meninggal Dunia, Bagaimana Caranya?

 Pertanyaan:

Saya menyampaikan pertanyaan ini di tengah perasaan galau pasca meninggalnya ayah saya sejak dua tahun yang lalu. Sementara ayah saya termasuk yang agak teledor akan kewajibannya kepada Allah, di antaranya adalah:

Beliau tidak selalu menjaga shalat lima waktu, terkadang beliau shalat dan terkadang beliau tidak shalat karena malas, bukan karena mengingkari wajibnya shalat.

Beliau jarang berpuasa Ramadhan dengan alasan karena sakit, dan selalu mengkonsumsi obat jantung, atau karena lemah tidak mampu melaksakan, akan tetapi beliau termasuk perokok, saya mengira penyebab beliau tidak berpuasa adalah karena sulitnya meninggalkan rokok.

Dahulu kami mempunyai toko, dan menurut sepengetahuan saya beliau tidak mengeluarkan zakat dari barang-barang yang ada di toko tersebut, secara ekonomi kami mengalami kesulitan, bisnis kami juga tidak mendapatkan keuntungan, toko pun akhirnya terjual.

Sepertinya beliau pernah mempunyai sejumlah harta yang memungkinkannya untuk pergi haji, namun beliau tidak melaksanakannya. Beliau selalu menyampaikan kepada saya bahwa beliau ingin pergi haji akan tetapi beliau tidak bisa. Beliau mempunyai banyak masalah dan berbahaya di kedua matanya, beliau sangat menghindari sinar matahari langsung dan kecapean. Namun setelah beliau meninggal dunia ada sebagian orang yang menghajikan beliau sepertinya ada tiga orang dan bukan berasal dari kerabatnya.

Saya sangat mencintai ayah saya, semua yang mengenalnya juga mencintainya.

Oleh karenanya saya berharap kepada anda agar menjelaskan kepada saya tentang apa yang memungkinkan saya kerjakan sebagai bakti saya kepada ayah saya, saya mencintainya dan mengkhawatirkan beliau tertimpa adzab kubur dan adzab pada hari kiamat. Saya ingin berbakti kepada ayahanda setelah beliau wafat.

Jawaban:

Alhamdulillah

Jika anda ingin berbakti dan memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada ayah anda setelah beliau meninggal dunia, maka anda bisa melakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Mendoakannya dengan tulus, Allah –Ta’ala- berfirman:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ . رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (سورة إبراهيم: 40-41

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do`aku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (QS. Ibrahim: 40-41)

 Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ) رواه مسلم، رقم 1631

Jika seorang manusia meninggal dunia terputuslah semua amalnya kecuali 3 perkara: 1) shadaqah jariyah, 2). Atau ilmu yang bermanfaat, 3) atau anak shaleh yang mendoakannya”. (HR. Muslim: 1631)

Dalam hadits lain Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– juga bersabda:

 إِنَّ الله تَبَارَكَ وتَعالى لَيَرْفَعُ لِلرَّجُلِ الدَّرَجَةَ ، فَيَقُولُ : أَنَّى لِي هَذِهِ ؟ فَيَقُولُ : بِدُعَاءِ وَلَدِكَ لك (رواه الطبراني، ص: 375 وعزاه الهيثمي في مجمع الزوائد، 10/234 للبزار، ورواه البيهقي في السنن الكبرى، 7/78

Sesungguhnya Allah –Tabaraka wa Ta’ala- akan mengangkat derajat seseorang. Maka orang itu bertanya, “Dari mana saya mendapatkan semua ini?” Maka Allah berfirman: “Dari doa anakmu”. (HR. Thabrani pada bab doa: 375, disebutkan juga oleh Al Haitsami dalam Majma’ Zawaid (10/234) karya Al Bazzar, dan Baihaqi di dalam As Sunan Al Kubro (7/78)

  1. Bershadaqah atas nama beliau,
  2. Melaksanakan haji dan umrah atas nama beliau, menghadiahkan pahala keduanya untuk beliau, untuk masalah ini telah kami rinci pembahasannya.
  3. Melunasi hutangnya, sebagaimana telah dilakukan oleh Jabir dengan hutang ayahandanya Abdullah bin Haram –radhiyallahu ‘anhuma– setelah diperintah oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari: 2781.

Adapun puasa Ramadhan yang telah beliau tinggalkan dan pembayaran zakat maka hal ini termasuk yang tidak mungkin dikerjakan oleh anaknya, jika seorang muslim bersengaja teledor pada dua kewajiban tersebut, maka dia harus menanggung dosanya, tidak bisa seseorang menanggung orang lain, seperti halnya juga shalat maka tidak bisa shalat seseorang menggantikan shalat orang lain.

Allah –‘azza wa jalla– telah mengabarkan kepada kita bahwa seorang muslim akan diberi balasan dari perbuatannya, jika baik maka akan mendapatkan balasan kebaikan, dan jika buruk maka akan mendapatkan balasan keburukan. Allah –Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (سورة الزلزلة: 7-8

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Kecuali jika Allah mengampuni keburukan dengan rahmat dan karunia-Nya.

Hanya saja zakat itu mirip dengam hutang, nah zakat ini menjadi hak para mustahik zakat, maka anda wajib mengira-ngira seberapa banyak zakat beliau yang belum dibayarkan selama masa hidupnya, lalu anda yang membayarkannya, semoga hal itu akan menjadi sebab yang meringankan di alam kubur.

Semoga Allah memberikan balasan yang baik kepada anda yang telah mencintai ayah anda dan upaya untuk berbakti kepadanya dan berharap agar Allah mengampuninya. Wallahu A’lam.

[Sumber: https://islamqa.info/id]

Bertaubat Tapi Tidak Menyesal, Sahkah Taubatnya?

Bertaubat Tapi Tidak Menyesal, Sahkah Taubatnya?

Pertanyaan:

Sahkah Taubat tanpa disertai dengan penyesalan atas dosa pada masa lalu? apa makna penyesalan sebagai syarat diterimanya taubat?

Jawaban:

Pertama,

Syarat Taubat yang benar adalah;

  1. Meninggalkan
  2. Menyesali dosa yang telah Lalu.
  3. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut

Jika Taubat dari kezaliman kepada sesama hamba berupa kezaliman dalam harta, kehormatan, atau jiwa maka dipersyaratkan syarat yang keempat yaitu meminta kehalalan dari pemilik hak atau mengembalikan hak kepada pemiliknya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada hambaNya untuk melakukan taubat nasuha;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). (QS.At-Tahrim ayat 8).

Imam Al-Baghawai berkata, “Para ulama berbeda pendapat tentang makna taubat nasuha”.

Menurut Umar Bin Khattab Ali bin ka’ab bin Muadz Bin Jabal radhiyallahu ‘anhum,

Bahwa taubat nasuha adalah seseorang bertaubat kemudian tidak kembali kepada perbuatan dosa tersebut sebagaimana susu tidak kembali kepada sebagaimana air susu tidak kembali kepada asalnya”.

Hasan Al Bashri berkata,

Taubat nasuha adalah seseorang menyesali dosa yang telah lalu disertai Azzam tekad untuk tidak mengulanginya”.

Al-Kalbi berkata;

Taubat nasuha adalah beristighfar dengan lisan menyesali dengan hati dan menahan anggota badan dari mengulangi perbuatan dosa”.

Said bin Musayyib berkata;

Taubat Nasuha adalah Taubat yang tulus dari jiwa kalian yang paling mendalam”.

Al-Qurthubi taubat nasuha harus mencakup empat hal, (1) Istighfar dengan lisan (perkataan), (2) Meninggalkan dengan anggota badan, (3) Hati bertekad untuk tidak mengulangi dosa, dan (4) Menjauhi teman-teman yang buruk. (Tafsir Al-Baghawi, 4/430-431).

Kedua

Penyesalan merupakan syarat utama atau rukun taubat yang paling agung dari Abdullah bin Muhsin bin Muqrin dari Ayahnya, dari  Abdullah Bin Masud radhiyallahu Anhu, beliau berkata, saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

“النَّدَمُ تَوْبَةٌ”

Sesal Itu Taubat” (HR Ahmad 4012 dan dishahihkan oleh al-Albani).

Sebagian ahli ilmu berkata cukuplah seseorang itu dianggap bertaubat Jika dia menyesal karena Penyesalan akan membuat seseorang meninggalkan dosa dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa sebab meninggalkan dosa dan bertekad untuk tidak mengulangi nya muncul dari penyesalan Bukan dari yang lainnya Fathul Bari 13471

Al-qari rahimahullahu berkata Sesal Itu Taubat karena dia mengandung konsekuensi yang lain yaitu meninggalkan dosa dan berazam atau bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa serta mengembalikan hak-hak sesama manusia

Maksudnya menyesali menyesali dosa karena menganggap dosa tersebut sebagai maksudnya menyesali perbuatan maksiat karena dia merupakan kedurhakaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. [sym].

Sumber: https://islamqa.info/ar/289765

 

Cara Memilih Calon Istri

Cara Memilih Calon Istri

Cara  Memilih Calon  Istri

Pertanyaan:

Bagaimanakah caranya memilih calon istri dari sisi kecantikannya, keturunan dan agamanya ?  Terima kasih.

Jawaban:

Sunnah Nabi telah menjelaskan sifat-sifat seorang wanita yang seharusnya diupayakan oleh setiap laki-laki, sifat-sifat tersebut bisa disimpulkan sebagai berikut: perawan, baik agamanya, keturunannya, cantik dan kaya, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ ) رواه البخاري (4802) ومسلم (1466

Wanita itu dinikahi karena empat hal: kaya, berasal dari keturunan yang baik, cantik dan karena agamanya. Maka beruntunglah dengan yang agamanya baik, maka akan menjadikanmu tenang”. (HR. Bukhori: 4802 dan Muslim: 1466)

Jika telah berkumpul semua sifat itu pada diri seorang wanita, maka dialah yang baik dan sempurna, kalau tidak maka hendaknya lebih mengutamakan yang lebih penting dan lebih utama. Dan yang terpenting adalah yang baik agamanya dan shalihah, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا : الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ) رواه مسلم (1467

Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah”. (HR. Muslim: 1467)

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah ditanya: wanita yang bagaimanakah yang paling baik ?, beliau menjawab:

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ ) رواه النسائي (7373) . وحسنه الألباني في “السلسلة الصحيحة” (1838

Adalah wanita yang menyenangkan jika dipandang, mentaatinya jika disuruh, dan tidak menyelisihinya dalam diri dan hartanya dengan apa yang tidak disenangi olehnya”. (HR Nasa’i: 7373 dan dihasankan oleh al Baani dalam Silsilah ash Shahihah: 1838).

Bolehkah Nadzor (Melihat) Tunangan Lebih Dari Satu Kali dan Ngobrol Bersama

Nadzor

 Nadzor (Melihat) Tunangan Lebih Dari Satu Kali dan Ngobrol Bersama?

Pertanyaan:

Saya telah meminang seorang wanita, namun pada saat prosesi nadzo r (melihat) dia terlihat sangat malu, sampai-sampai saya tidak bisa melihat dengan jelas karena dia sangat tersipu malu.

Pertanyaannya adalah Apakah saya boleh minta izin kepada keluarganya untuk melihatnya lagi, dan duduk bersama untuk bercakap-cakap dengannya sebelum adanya kesepakatan dan proses pinangan selesai ?

Terima kasih

Jawaban:

Alhamdulillah

Bagi seorang peminang boleh melihat wanita pinangannya, duduk bersama dan bercakap-cakap dengannya, meskipun terjadi lebih dari satu kali, selama masih ada keraguan dalam dirinya hingga benar-benar yakin dan masing-masing saling menerima, namun dengan syarat tidak terjadi kholwat (berduaan), dan dalam batasan pembicaraan yang wajar dan semestinya.

Jika telah terjadi khitbah (pinangan) atau sebaliknya, maka hukum kembali kepada asalnya, yaitu; haram melihatnya kembali; karena sebab yang membolehkannya sudah berlalu.

Yang mendasari hukum di atas adalah sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ ، فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا ، فَلْيَفْعَلْ). رواه أبو داود (2082) وحسنه الحافظ ابن حجر في “فتح الباري” (9/181(

 “Jika salah seorang dari kalian meminang seorang wanita, maka apabila dia bisa melihatnya hingga memiliki hasrat untuk menikahinya, maka hendaknya dia melakukannya”. (HR. Abu Daud (2082) dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari: 9/181)

Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah– berkata: “Dibolehkan mengulangi untuk melihatnya… Jika pada prosesi melihat yang pertama belum ada hasrat untuk menikahinya, maka hendaknya melihatnya yang kedua kali dan ketiga kalinya”. (Asy Syarhul Mumti’: 12/21)

Syeikh Ibnu Baaz berkata: “Dibolehkan bagi seseorang yang mau meminang seorang wanita untuk bercakap-cakap dengannya dan melihatnya namun tidak dengan khalwat (berduaan)…., jika percakapannya seputar pernikahan, tempat tinggal dan latar belakangnya, apakah dia mengetahui ini dan itu, maka hal itu tidak masalah jika dia memang mau meminangnya”. (Majmu’ Fatawa: 20/429).

Dan di dalam al Mausu’ah al Fiqhiyah (22/17) disebutkan:

Dibolehkan mengulangi prosesi nadzor (melihatnya) jika dibutuhkan agar menjadi jelas semuanya, dan tidak menyesal setelah menikahinya; karena biasanya tujuannya tidak tercapai hanya dengan melihatnya satu kali”.

Sumber: Islamqa.id.info

Da’i Ikut Nyaleg dan Masuk Parlemen, Ini Fatwa Syaikh bin Baz

Anggota Dewan

Da’i Ikut Nyaleg dan Masuk Parlemen, Ini Fatwa Syaikh bin Baz

 Da’i koq nyaleg dan masuk parlemen”. Begitu komentar sebagian orang ketika ada aktivis dakwah yang terjun ke kancah politik praktis dengan ikut mencalonkan diri sebagai anggota dewan atau nyaleg.

Masalah ini pernah ditanyakan kepada Mufti Kerajaan Saudi Arabia yang lalu  Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah. Menurut beliau orang yang memiliki pijakan yan kuat dan landasan ilmu boleh masuk ke dalamnya, dengan syarat tujuan dan motivasinya untuk menegakkan kebenaran dan mengarahkan manusia kepada kebaikan serta menghambat kebatilan.

“Tujuan utamanya bukan untuk kepentingan dunia atau ketamakan terhadap harta, ia masuk benar-benar hanya untuk menolong agama Allah, memperjuangkan yang haq dan mencegah kebatilan, dengan niat baik seperti ini, maka saya memandang tidak mengapa melakukan hal itu”, terangnya.

“Bahkan seyogyanya dilakukan agar dewan dan majelis seperti itu tidak kosong dari kebaikan dan pendukung-pendukungnya”, tegasnya.

Berikut fatwa beliau selengkapnya;

***

Pertanyaan:

Banyak penuntut ilmu syar’i yang bertanya-tanya tentang hukum masuknya para du’at dan ulama ke dalam dewan legislatif dan parlemen, serta turut serta dalam pemilihan umum di negara yang tidak menjalankan syari’at Allah. Maka apakah batasan untuk hal ini ?

Jawaban :

Masuk ke dalam parlemen dan dewan legislatif adalah sangat berbahaya.  Masuk ke dalamnya sangatlah berbahaya. Akan tetapi barang siapa yang masuk ke dalamnya dengan landasan ilmu dan pijakan yang kuat, bertujuan menegakkan yang haq dan mengarahkan manusia kepada kebaikan serta menghambat kebatilan, tujuan utamanya bukan untuk kepentingan dunia atau ketamakan terhadap harta, ia masuk benar-benar hanya untuk menolong agama Allah, memperjuangkan yang haq dan mencegah kebatilan, dengan niat baik seperti ini, maka saya memandang tidak mengapa melakukan hal itu, bahkan seyogyanya dilakukan agar dewan dan majelis seperti itu tidak kosong dari kebaikan dan pendukung-pendukungnya. (Ini) bila ia masuk (dalam perlemen) dengan niat seperti ini dan ia mempunyai pijakan yang kuat agar ia dapat memperjuangkan dan mempertahankan yang haq serta menyerukan untuk meninggalkan kebatilan. Mudah-mudahan Allah memberikan manfa’at dengannya hingga (dewan) itu dapat menerapkan syari’at (Allah).  Dengan niat dan maksud seperti ini disertai ilmu dan pijakan yang kuat, maka Allah Jalla wa ‘Ala akan memberinya balasan atas usaha ini.

Akan tetapi jika ia masuk ke dalamnya dengan tujuan duniawi atau ketamakan untuk mendapatkan kedudukan, maka tidak diperbolehkan. Sebab ia harus masuk dengan niat mengharapkan Wajah Allah dan negeri Akhirat, memperjuangkan dan menjelaskan yang haq dengan dalil-dalilnya agar semoga saja dewan dan majelis itu mau kembali dan bertaubat kepada Allah.

(Fatwa ini dimuat dalam majalah Al Ishlah edisi 242-27 Dzulhijjah 1413 H/23 Juni 1993 M. Adapun terjemahan ini dinukil dari buku Ash Shulhu Khair terbitan Jama’ah Anshar As Sunnah Al Muhammadiyah di Sudan).

Fatwa-Fatwa Para Ulama Ahlussunnah Kontemporer Seputar Hukum Ikut Serta dalam Pemilihan Umum dan Menjadi Anggota Parlemen

FATWA-FATWA PARA ULAMA AHLUSSUNNAH KONTEMPORER SEPUTAR HUKUM IKUT SERTA DALAM PEMILIHAN UMUM DAN MENJADI ANGGOTA PARLEMEN

Fatwa Lajnah Daimah Tentang Sikap Seorang Muslim Terhadap Partai-partai Politik     (no. 6290)

Soal : Sebagian orang mengaku dirinya muslim namun tenggelam dalam partai-partai politik, sementara di antara partai-partai itu ada yang mengikuti Rusia dan ada yang mengikuti Amerika. Dan partai-partai ini juga terbagi-bagi menjadi begitu banyak, seperti Partai Kemajuan dan Sosialis, Partai Kemerdekaan, Partai Orang-orang Merdeka –Partai Al Ummah-, Partai Asy Syabibah Al Istiqlaliyyah dan Partai Demokrasi…serta partai-partai lainnya yang saling mendekati satu sama lain.

Bagaimanakah sikap Islam terhadap partai-partai tersebut, serta terhadap seorang muslim yang tenggelam dalam partai-partai itu ? Apakah keislamannya masih sah ?

Jawaban: Barang siapa yang memiliki pemahaman yang dalam tentang Islam, iman yang kuat, keislaman yang terbentengi, pandangan yang jauh ke depan, kemampuan retorika yang baik serta mampu memberikan pengaruh terhadap kebijakan partai hingga ia dapat mengarahkannya ke arah yang Islamy, maka ia boleh berbaur dengan partai-partai tersebut atau bergabung dengan partai yang paling dekat dengan al haq, semoga saja Allah memberikan manfa’at dan hidayah dengannya, sehingga ada yang mendapatkan hidayah untuk meninggalkan gelombang politik yang menyimpang menuju politik yang syar’i dan adil yang dapat menyatukan barisan ummat, menempuh jalan yang lurus dan benar. Akan tetapi jangan sampai ia justru mengikuti prinsip-prinsip mereka yang menyimpang.

Dan adapun orang yang tidak memiliki iman dan pertahanan seperti itu serta dikhwatirkan ia akan terpengaruh bukan memberi pengaruh, maka hendaknya ia meninggalkan partai-partai tersebut demi melindunginya dari fitnah dan menjaga agamanya agar tidak tertimpa seperti yang telah menimpa mereka (para aktifis partai itu) dan mengalami penyimpangan dan kerusakan seperti mereka.

Wabillahittaufiq, Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Ketua                : Abdul Aziz ibn Abdillah ibn Baz.

Wakil Ketua     : Abdurrazzaq ‘Afifi

Anggota            : Abdullah ibn Ghudayyan

Anggota           : Abdullah ibn Qu’ud

( Lih. Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah vol.12, hal.384 )

 

Fatwa Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah Tentang Keikutsertaan Dalam Pemilu

Soal Kedua : Apakah hukum syar’i memberikan dukungan dan sokongan berkaitan dengan masalah yang telah disebutkan terdahulu (maksudnya: pemilihan umum) ?

Jawaban : Pada saat ini kami tidak menasehati seorangpun dari saudara-saudara kami kaum muslimin untuk mencalonkan dirinya menjadi anggota parlemen yang tidak berhukum kepada hukum Allah, walaupun (negara) itu telah mencantumkan dalam undang-undangnya “agama negara adalah Islam” sebab teks semacam ini telah terbukti bahwa ia dicantumkan hanya untuk ‘meninabobokkan’ para anggota parlemen yang masih baik hatinya !! Hal itu disebabkan karena ia tidak mampu untuk mengubah satupun pasal-pasal yang terdapat dalam undang-undang itu yang menyelisihi Islam, sebagaimana telah terbukti di beberapa negara yang undang-undangnya memuat teks tersebut (bahwa “agama negara adalah Islam”-pen).

Ditambah lagi jika seiring dengan perjalanan waktu, ia kemudian turut pula menyetujui beberapa hukum yang menyelisihi Islam dengan alasan belum tiba/tepat waktunya untuk melakukan perubahan. Sebagaimana yang kita saksikan di beberapa negara, sang anggota parlemen mengubah gaya penampilannya yang Islami dengan mengikuti gaya barat agar dapat sejalan dengan (gaya) para anggota parlemen lainnya ! Maka ia masuk ke dalam parlemen dengan tujuan memperbaiki orang lain, malah justru ia telah merusak dirinya sendiri. (Seperti kata pepatah) hujan itu mulanya hanya setetes namun kemudian menjadi banjir ! Oleh sebab itu kami tidak menyarankan seorangpun untuk mencalonkan dirinya (sebagai anggota parlemen). Akan tetapi saya memandang tidak ada halangan bagi rakyat muslim bila dalam daftar calon anggota legsilatif itu terdapat orang-orang yang memusuhi Islam dan terdapat pula calon-calon anggota legislatif muslim dari partai yang memiliki manhaj yang berbeda-beda, maka -dalam kondisi seperti ini- kami menasehatkan agar setiap muslim memilih (calon anggota legislatif) dari kalangan Islam saja dan orang yang paling dekat dengan manhaj yang shahih sebagaimana telah dijelaskan (manhaj salaf-pen).

Saya mengatakan ini -walaupun saya yakin bahwa pencalonan dan pemilihan ini tidak dapat merealisasikan tujuan yang diharapkan seperti telah dijelaskan terdahulu- sebagai suatu upaya untuk meminimalisir kejahatan atau sebagai suatu bentuk usaha untuk menolak kemafsadatan yang lebih besar dengan menempuh kemafsadatan yang lebih kecil sebagaimana yang dikatakan oleh para fuqaha’.

Soal ketiga : Apakah hukum keluarnya kaum wanita untuk turut serta dalam pemilihan umum ?

Jawaban : Dibolehkan bagi mereka untuk keluar dengan syarat yang telah diketahui bersama yang harus mereka penuhi, yaitu mengenakan jilbab yang syar’i dan tidak bercampur baur (ikhtilath) dengan kaum pria. Ini yang pertama.

Kemudian mereka hendaknya memilih orang yang paling dekat kepada manhaj ilmu yang shahih sebagai suatu upaya untuk menolak kemafsadatan yang lebih besar dengan menempuh kemafsadatan yang lebih kecil sebagaimana telah dijelaskan.

(Fatwa ini adalah bagian dari faksimili yang dikirimkan oleh Syekh Muhammad Nashiruddin Al Albany kepada Partai FIS Aljazair, tertanggal 19 Jumadil Akhirah 1412 H. Dimuat di majalah Al Ashalah edisi 4 hal 15-22. Sedangkan terjemahan ini diambil dari kitab Madarik An Nazhar Fi As Siyasah hal. 340-341 )

Fatwa Syekh ‘Abdul ‘Aziz ibn Baz rahimahullah Tentang Dewan/Majelis Legislatif

Soal     : Banyak penuntut ilmu syar’i yang bertanya-tanya tentang hukum masuknya para du’at dan ulama ke dalam dewan legislatif dan parlemen, serta turut serta dalam pemilihan umum di negara yang tidak menjalankan syari’at Allah. Maka apakah batasan untuk hal ini ?

Jawab : Masuk ke dalam parlemen dan dewan legislatif adalah sangat berbahaya.  Masuk ke dalamnya sangatlah berbahaya. Akan tetapi barang siapa yang masuk ke dalamnya dengan landasan ilmu dan pijakan yang kuat, bertujuan menegakkan yang haq dan mengarahkan manusia kepada kebaikan serta menghambat kebatilan, tujuan utamanya bukan untuk kepentingan dunia atau ketamakan terhadap harta, ia masuk benar-benar hanya untuk menolong agama Allah, memperjuangkan yang haq dan mencegah kebatilan, dengan niat baik seperti ini, maka saya memandang tidak mengapa melakukan hal itu, bahkan seyogyanya dilakukan agar dewan dan majelis seperti itu tidak kosong dari kebaikan dan pendukung-pendukungnya. (Ini) bila ia masuk (dalam perlemen) dengan niat seperti ini dan ia mempunyai pijakan yang kuat agar ia dapat memperjuangkan dan meMpertahankan yang haq serta menyerukan untuk meninggalkan kebatilan. Mudah-mudahan Allah memberikan manfa’at dengannya hingga (dewan) itu dapat menerapkan syari’at (Allah).  Dengan niat dan maksud seperti ini disertai ilmu dan pijakan yang kuat, maka Allah Jalla wa ‘Ala akan memberinya balasan atas usaha ini.

Akan tetapi jika ia masuk ke dalamnya dengan tujuan duniawi atau ketamakan untuk mendapatkan kedudukan, maka tidak diperbolehkan. Sebab ia harus masuk dengan niat mengharapkan Wajah Allah dan negeri Akhirat, memperjuangkan dan menjelaskan yang haq dengan dalil-dalilnya agar semoga saja dewan dan majelis itu mau kembali dan bertaubat kepada Allah.

(Fatwa ini dimuat dalam majalah Al Ishlah edisi 242-27 Dzulhijjah 1413 H/23 Juni 1993 M. Adapun terjemahan ini dinukil dari buku Ash Shulhu Khair terbitan Jama’ah Anshar As Sunnah Al Muhammadiyah di Sudan).

Fatwa Syekh Muhammad Ibn Shaleih Al ‘Utsaimin rahimahullah Tentang Hukum Masuk Ke Dalam Parlemen

Soal     : Fadhilah Asy Syekh -semoga Allah senantiasa menjaga Anda-, tentang masuk ke dalam majelis legislatif padahal negara itu tidak menerapkan syari’at Allah dengan sempurna, bagaimana pandangan Anda tentang masalah ini -semoga Allah senantiasa menjaga Anda- ?

Jawaban : Kami telah pernah menjawab pertanyaan serupa beberapa waktu lalu, yaitu bahwa sudah seharusnya (ada yang) masuk dan turut serta dalam pemerintahan. Dan hendaknya seseorang dengan masuknya ia ke dalam pemerintahan meniatkannya untuk melakukan perbaikan bukan untuk menyetujui setiap keputusan yang dikeluarkan. Dan dalam kondisi seperti ini, bila ia menemukan sesuatu yang menyelisihi syari’at maka ia berusaha menolak/membantahnya. Walaupun pada kali pertama dia  tidak banyak orang yang mengikuti dan mendukungnya, maka (ia mencoba terus) untuk kedua kalinya, atau (bila tidak berhasil pada) bulan pertama, (maka ia mencoba lagi) pada kedua dan ketiga, atau (bila tidak berhasil) pada tahun pertama, (maka ia mencoba lagi) pada tahun kedua…maka di masa yang akan datang akan ada pengaruh yang baik.

Namun jika (pemerintahan) itu dibiarkan lalu kesempatan itu diberikan kepada orang-orang yang jauh dari (cita-cita) penerapan syari’at maka ini adalah sebuah kelalaian yang besar yang tidak seharusnya seseorang itu memiliki/melakukannya.

(Fatwa ini dimuat dalam majalah Al Furqan edisi 42-Rabi’ Ats Tsani 1414 H/Oktober 1993 M. Adapun terjemahan ini diambil dari buku Ash Shulhu Khair terbitan Jama’ah Anshar As Sunnah Al Muhammadiyah di Sudan).

 

Fatwa Syekh Shalih Al Fauzan hafizhahullah Seputar Menjadi Anggota Parlemen

Soal     : Bagaimana hukum menjadi anggota parlemen ?

Jawaban          : Apa yang akan terealisasi dengan masuknya ia menjadi anggota parlemen ? Kemashlahatan bagi kaum muslimin ? Bila hal itu berdampak bagi kemashlahatan kaum muslimin dan mengupayakan perubahan terhadap parlemen itu menuju Islam, maka ini adalah perkara yang baik. Setidak-tidaknya mengurangi bahaya/kemudharatan bagi kaum muslimin dan mendapatkan sebagian kemashlahatan jika tidak memungkinkan meraih semua kemashlahatan, walaupun hanya sebagian saja.

Soal : Tapi hal itu terkadang mengharuskan seseorang untuk mengorbankan beberapa hal yang ia yakini ?

Jawaban : Mengorbankan maksudnya melakukan tindakan kufur kepada Allah atau apa ?

(Yang hadir menjawab ) : Mengakuinya.

Jawaban : Tidak, pengakuan ini tidak boleh dilakukan. Yakni ia meninggalkan agamanya dengan alasan untuk berda’wah ke jalan Allah, ini tidak benar. Bila mereka tidak mempersyaratkan ia harus mengakui hal-hal (yang kufur) itu dan ia tetap berada di atas keislamannya, aqidah dan diennya, lalu dengan masuknya ia (dalam parlemen) terdapat kemashlahatan bagi kaum muslimin, dan bila mereka tidak mau menerimanya, ia pun meninggalkan mereka; apa yang akan ia lakukan ? Memaksa mereka ? Tidak mungkin memaksa mereka. Yusuf alaihissalam masuk ke dalam jajaran kementrian seorang raja di zamannya, lalu apa yang terjadi ? Anda sekalian tahu atau tidak  apa yang terjadi pada Nabi Yusuf  alaihissalam ?  Apa yang dilakukan Yusuf ketika beliau masuk ? Ketika sang raja mengatakan bahwa engkau hari ini telah menjadi orang  yang terpercaya dan memiliki posisi kuat dalam pandangan kami, maka beliau mengatakan : “Angkatlah aku sebagai bendaharawan negara, sebab saya adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” Lalu kemudian beliaupun masuk (ke pemerintahan) hingga akhirnya kekuasaanpun berada di tangan Yusuf alaihissalam. Beliau kemudian menjadi raja Mesir. Salah seorang nabi Allah menjadi raja Mesir.

Maka bila masuknya ia akan mendatangkan hasil yang baik maka ia hendaknya masuk. Namun jika hanya sekedar untuk menerima dan tunduk kepada apa yang mereka inginkan, dan tidak ada kemashlahatan bagi kaum muslimin dengan masuknya ia maka ia tidak dibolehkan untuk menjadi anggota parlemen. Para ulama mengatakan: mendatangkan maslahat atau menyempurnakannya, artinya bila maslahat itu tidak dapat diraih seluruhnya, maka tidak apa-apa walaupun hanya sebagian yang dapat dicapai, dengan syarat tidak menyebabkan terjadinya kemafsadatan yang lebih besar.

(Para ulama) mengatakan bahwa Islam datang untuk meraih kemashlahatan dan menyempurnakanya, serta menolak kemafsadatan dan menguranginya. Artinya bila kemafsadatan itu tidak dapat ditolak seluruhnya, maka setidaknya ia berkurang dan lebih ringan. (Dengan kata lain) menempuh kemudharatan yang paling ringan di antara dua kemudharatan demi mencegah terjadinya kemudharatan yang lebih besar.

Ini semua bergantung pada maksud dan niatnya serta hasil yang akan dicapai. Dan bila masuknya ia sebagai anggota parlemen hanya karena ketamakan pada kekuasaan dan harta, lalu kemudian mendiamkan (kebatilan) dan menyetujui (kebatilan) yang mereka  kerjakan maka ini tidak diperbolehkan. Dan bila masuknya mereka demi kemashlahatan kaum muslmin dan da’wah ke jalan Allah sehingga semuanya dapat berpangkal pada kebaikan kaum muslimin maka ini adalah perkara yang harus dilakukan, tentu saja bila tidak mengakibatkan ia harus mengakui kekufuran. Sebab bila demikian maka ini tidak dibolehkan. Tidak dibenarkan mengakui kekufuran walaupun dengan tujuan yang mulia. Seseorang tidak boleh menjadi kafir lalu mengatakan bahwa tujuan saya adalah mulia, saya ingin berda’wah ke jalan Allah; ini tidak diperbolehkan.

(Fatwa ini berasal dari sebuah kaset yang direkam dari Syekh, lalu dimuat dalam buku Ash Shulhu Khair terbitan Jama’ah Anshar As Sunnah Al Muhammadiyah di Sudan).

Sumber dari: http://wahdah.or.id/penjelasan-dewan-syariah-wahdah-islamiyah-tentang-pemilihan-umum/

Penjelasan Dewan Syari’ah Wahdah Islamiyah Tentang Pemilihan Umum (Pemilu)

pemilu

PENJELASAN DEWAN SYARI’AH WAHDAH ISLAMIYAH TENTANG PEMILIHAN UMUM (PEMILU)

Dewan Syariah Wahdah Islamiyah dengan berpedoman pada:

  1. Firman Allah Ta’ala pada Qs. Ali Imran (03): 110

{ كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ }

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah

  1. Firman Allah Ta’ala pada Qs. Hud (11): 117

{ وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ }

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan

  1. Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.:

عَنْ أَبِى سعيد الخدري رضي الله عنه قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ »

Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu. berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran hendaknya ia cegah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan mulutnya, jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya iman. HR. Muslim (no. 186)

  1. Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَضَى أَنْ « لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ »

Dari Ubadah ibn as-Shamit ra. bahwa Rasulullah saw. menetapkan: Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain. HR. Ibnu Majah (no. 2430) dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits as-Shahihah no. 250.

  1. Kaidah Ushul Fiqh yang berbunyi;

مَا لاَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ كُلُّهُ

Segala yang tidak dapat diwujudkan seluruhnya maka juga tidak ditinggalkan seluruhnya” Disebut di antaranya oleh Imam al-Mulla Ali al-Qari dalam kitabnya Mirqatul Mafatih Syarhu Misykatul Mashabih dalam banyak bab seperti al-Qashdu dan at-Tanzhif.

Keterangan: Idealisme pada sesuatu jika belum dapat terwujud seluruhnya maka tidak semestinya meninggalkan hal tersebut secara keseluruhan pula. Demikian halnya pada perubahan kondisi umat Islam di Indonesia saat ini, jika belum dapat diwujudkan dengan sistem yang sesuai harapan maka juga tidak berarti meninggalkannya secara keseluruhan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَالرُّسُلُ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِمْ بُعِثُوْا بِتَحْصِيْلِ الْمَصَالِحِ وَ تَكْمِيْلِهَا وَ تَعْطِيْلِ الْمَفَاسِدِ وَ تَقْلِيْلِهَا بِحَسَبِ اْلإِمْكَانِ

Dan para Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus untuk mewujudkan segala maslahat atau menyempurnakannya dan menolak segala mafsadat atau menguranginya sesuai kemampuan”. Majmu’ al-Fatawa VIII/93-94.

  1. Kaidah Fiqh yang berbunyi:

يُتَحَمَّلُ الضَّرَرُ الْخَاصُ لِدَفْعِ الضَّرَرِ الْعَامِ

Mencegah kemudharatan yang bersifat umum dengan menanggung kemudharatan yang bersifat khusus (adalah boleh)”

  1. Kaidah Fiqh yang berbunyi:

إِذَا تَعَارَضَتْ مَفْسَدَتَانِ رُوْعِيَ أَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفّهِمَا

Jika dua mafsadat saling berlawanan maka yang terbesar hendaknya dicegah dengan melakukan yang terkecil”. Kedua kaidah ini disebut oleh Syaikh Ahmad ibn Muhamad az-Zarqa’ dalam kitabnya Syarhul Qawaid al-Fiqhiyah no. 26 dan 28.

Maka Dewan Syariah Wahdah Islamiyah menyampaikan dengan menyebut segala puji bagi Allah Azza wa Jalla yang telah menyempurnakan Islam dengan mengutus Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. yang membawa manhaj dan jalan hidup yang haq, sehingga tidak ada lagi pilihan bagi kaum beriman selain mengikuti manhaj beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh aspek kehidupan; dalam beribadah, bermu’amalah, berakhlaq, berda’wah dan berpolitik.

Menegakkan agama Allah di atas muka bumi ini tidak akan mungkin ditempuh dan dicapai kecuali dengan manhaj yang digariskan dan dijalani oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama para sahabatnya. Begitu juga dengan upaya melakukan perubahan menuju kehidupan yang diridhai Allah, ia tidak dapat diwujudkan kecuali dengan menempuh manhaj perubahan yang ditempuh Sang Rasul penutup itu bersama dengan para sahabatnya. Dan manhaj penegakan Islam dan perubahan menuju kehidupan yang diridhai Allah itu tersimpul pada dua kata; da’wah dan tarbiyah yang dibangun atas dasar ajaran Islam yang shahih dan murni. Inilah jalan pilihan bagi siapapun yang ingin melihat tegaknya Islam di muka bumi ini dan ingin menyaksikan terjadinya perubahan menuju kehidupan yang diridhai Allah Azza wa Jalla.

Oleh karena itu, kami meyakini bahwa seluruh perhatian, usaha dan upaya keras seharusnya ditujukan untuk membangun gerakan yang berkonsentrasi pada jalan da’wah dan tarbiyah tersebut. Itu pula sebabnya, kami meyakini bahwa sudah seharusnya kaum muslimin tidak berpaling dan mencari jalan atau metode lain yang dianggap dapat menegakkan agama Allah di atas muka bumi. Sebab pastilah jalan atau metode itu tidak akan berhasil mengantarkan kita kepada tujuan yang dicita-citakan; menegakkan hukum Allah Ta’ala di muka bumi.

Akan tetapi, dalam perjalanan menempuh jalan da’wah dan tarbiyah itu, kita terkadang diperhadapkan pada sebuah pilihan yang sesungguhnya tidak sejalan dengan prinsip dan keyakinan yang haq. Namun kita terpaksa memilih demi mencegah atau mengurangi kemafsadatan yang lebih besar. Dalam istilah para ulama langkah ini dikenal dengan kaidah irtikab al-mafsadah as-shughra li daf’i al-mafsadah al-kubra -menempuh kemafsadatan yang kecil demi mencegah terjadinya kemafsadatan yang lebih besar- (semakna dengan kaidah no. 6 di atas).

Mengikuti pemilu adalah salah satu contohnya. Kami berkeyakinan bahwa mengikuti pemilu dan masuk ke dalam parlemen bukanlah jalan yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, para sahabatnya serta generasi as-Salaf as-Shaleh dalam menegakkan dien ini dan melakukan perubahan menuju kehidupan yang diridhai Allah Ta’ala. Akan tetapi, saat ini khususnya kita di Indonesia tengah diperhadapkan pada sebuah realitas bahwa sebuah kekuatan besar secara terbuka maupun tersembunyi tengah merencanakan upaya besar untuk  menghalangi da’wah Islam dan mendatangkan kerugian bagi kaum muslimin. Dan salah satu celah yang mereka tempuh adalah melalui berbagai kebijakan dan keputusan yang bersifat politis. Dengan kata lain, perlu ada dari kaum muslimin yang dapat menghalangi berbagai upaya tersebut, yang tentu saja salah satunya -secara terpaksa- dengan menempuh jalur politis.

Masalah pemilihan umum dengan mekanisme yang dikenal pada hari ini memang adalah masalah kontemporer yang belum dikenal di masa as-Salaf as-Shaleh. Itulah sebabnya, kita akan sulit menemukan nash yang sharih menjelaskan tentang hukum masalah ini. Oleh karena itu, para ulama Ahlussunnah yang menjelaskan masalah inipun mempunyai pandangan yang berbeda. Sebagian mengharamkan untuk ikut serta secara mutlak. Dan sebagian yang lain membolehkan dengan berbagai syarat dan batasan.

Siapapun yang mencermati dengan baik dan hati jernih tanpa didasari oleh sikap fanatik buta kepada ulama tertentu akan dapat menyimpulkan bahwa perbedaan para ulama Ahlussunnah dalam menyingkapi masalah ini sepenuhnya disebabkan perbedaan mereka dalam menimbang mashalahat dan mafsadat -suatu hal yang sering terjadi dalam masalah yang tidak didukung oleh nash yang sharih- yang ada dalam kasus ini. Walaupun beberapa ulama besar Ahlussunnah kontemporer (lih. Fatwa-fatwa terlampir) memandang bahwa ikut pemilu -bahkan menjadi anggota parlemen- dibolehkan demi mencegah kemafsadatan yang lebih besar. Dengan kata lain, kita terpaksa menempuh sebuah kemafsadatan yang lebih kecil (pemilu dan segala yang menjadi konsekwensinya) demi mencegah atau mengurangi kemafsadatan yang lebih besar.

Penjelasan ini juga menunjukkan bahwa pemilu oleh para ulama digolongkan sebagai sebuah kemafsadatan yang terpaksa ditempuh. Karenanya ia tidak dapat diklaim sebagai metode pilihan untuk menegakkan dien ini, apalagi jika dianggap sebagai tujuan. Oleh karena itu, seyogyanya kaum muslimin tetap mengkonsentrasikan diri untuk melanjutkan gerakan da’wah dan tarbiyah yang berkesinambungan.

Demikianlah penjelasan ini, semoga kita semua senantiasa mendapatkan inayah dan taufiq dari Allah Azza wa Jalla. Amin.

Makassar,  20 Dzulhijjah 1424 H/11 Februari 2004 M

A.n Ketua Dewan Syari’ah Wahdah Islamiyah

 

Bahrun Nida Muh. Amin, Lc

 

Wakil Ketua

 

Diperbaharui dengan tambahan dalil pada:

Makassar, 18 Rabiul Awal 1430 H/15 Maret 2009 M

 

Dewan Syariah Wahdah Islamiyah

 

Said Abd. Shamad, Lc                                                                   H. Rahmat A. Rahman, Lc

        K e t u a                                                                                         Sekretaris

 

Lampiran: Fatwa-Fatwa Para Ulama Ahlussunnah Kontemporer Seputar Hukum Ikut Serta dalam Pemilihan Umum dan Menjadi Anggota Parlemen (silahkan klik di sini)

Sumber dari: http://wahdah.or.id/

Ingin Tobat dari Riba, Tapi?

Riba

Bunga Bank=Riba

Ingin Tobat dari Riba, Tapi?

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad,

Saya mau tanya tentang riba,,,saya dulu hutang di bank sampai skrng, pada waktu sy htng d bank sy tdk tau klu itu riba, setelah sy tau sy n suami berusaha untuk cepat2 melunasinya ,,tp blm lunas suami sy pindah kerja n gajinya cuma cukup untuk kebutuhan keluarga kami,,,kata pihak bank angsran hutang kami bisa dikecilkan tp jangka waktu pembayarannya jdi lama,,, rasanya hati sy berat untuk memperpanjang angsran krn sy takut dosanya,,tp klu angsran hut bank tdk kami kecil kan untuk keperluan keluarga kami tdk cukup ,,,,saya punya rumah pemberian dari orang tua, apakah saya harus menjualnya ustad tapi sy takut mengecewakan orang tua sy,,,,sy hrs bgmn y ustad,,, tolong sy ustad sy minta solusinya,,,,,terima kasih . [Lia].

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalam,

Pertama,  Kami ucapkan selamat kepada ibu dan suami yang telah bertaubat dari dosa riba dan sedang berjuang keluar dari lilitan hutang riba.

Kedua,  Kami doakan semoga ibu dan suami diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala.

Ketiga,  Solusi yang kami tawarkan adalah: Jika nilai jual dari rumah yang ibu tempati saat ini cukup untuk melunasi hutang atau mempercepat proses melunasi hutang tersebut, maka solusi yang kami sarankan kepada ibu adalah menjual rumah tersebut.  Syukur jika masih ada sisa untuk membeli rumah yang sederhana atau ngontrak+modal usaha sambilan.

Namun karena rumah tersebut merupakn pemberian dari orang tua,  maka secara etika sebaiknya tetap menyampaikan kepada orang tua bahwa rumah tersebut akan dijual. Tentu dengan menyampaikan alasan bahwa rumah dijual sebagai satu-satunya solusi dan jalan keluar dari dosa riba.  Semoga orang tua ibu tergerak.  Saya kira tak ada satupun orang tua yang tega membiarkan anakny terjatuh dalam dosa.  Tentu ibu perlu meyakinkan orang tua dengan penuh adab dan sopan santun ttg bahaya riba.  Tetap jaga adab dan sopan santun dalam membicarakn masalah ini.  Agar orang tua tidak salah paham dan tersinggung.

Keempat,  jangan lupa bersedekah (walau sedikit)  dan banyak berdo’a,  khususnya do’a memohon perlindungan dari lilitan hutang.  Diantaranya;

اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن والعجز والكسل  والجبن والبخل وضلع الدين وغلبة الرجال

Allahumma Inniy a ‘udzu bika minal hammi wal hazani wal ‘ajzi wal kasali wal jubi wal bukhli wa dhal ‘id Daini wa ghalabatir Rijal

“Ya Allah,  sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari rasa bimbang dan sedih,  lemah dan malasa,  kikir dan pengecut lilitan hutang dan penguasa yng semena-mena“.

Semoga ibu diberi kemudahan dan jalan keluar. [sym].