Suami Mengancam Cerai dan Menyuruh Istri Melakukan Perbuatan Haram, Apa Sikap Istri?

Suami Mengancam Cerai dan Menyuruh Istri Melakukan Perbuatan Haram, Apa Sikap Istri?

“Tidak ada ketaatan kepada makhluq jika mengandung maksiat kepada Khaliq (Pencita)”

Suami Mengancam Cerai dan Menyuruh Istri Melakukan Perbuatan Haram, Apa Sikap Istri?

Pertanyaan

Apa yang dilakukan seorang istri ketika suaminya mengancam menceraikannya kalau dia tidak melakukan perkara yang haram?

Jawaban

Bismillah,

Istri wajib taat dan patuh pada suami. Namun ketaatan yang dimaksud adalah dalam urusan kebaikan, ketaatan atau hal-hal yang boleh dan tidak melanggar syariat.

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam berbuat kemaksiatan kepada pencipta (Allah). sebagaimana sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

  إنما الطاعة في المعروف

Sesungguhnya ketaatan itu dalam kebaikan.”

Bukan merupakan suatu kebaikan kalau melakukan sesuatu yang haram. Bahkan ini termasuk suatu kemungkaran. Bagi seorang istri kalau diancam suaminya melakukan sesuatu yang haram. Kalau dia tidak melakukan akan diceraikannya. Hendaknya dia memberi nasehat dengan menakut-nakuti serta menjelaskan bahwa hal ini diharamkan dan tidak diperbolehkan disertai dengan penjelasan dalil akan hal itu. Penanya tidak merinci sesuatu yang haram ini, apa itu dan sejauh mana derajat keharamannya. Yang terbaik adalah menjelaskan apa itu yang diharamkan agar jawabannya lebih terang. Akan tetapi asalnya hal itu tidak boleh dilakukan dan tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam berbuat kemaksiatan kepada Pencipta (Allah).

Hendaknya bagi wanita ini menolak melakukan perbuatan yang haram. Karena ketaatan kepada Allah itu didahulukan terhadap ketaatan kepada suami. Hendaknya dia bersungguh-sungguh dan mengharap (pahala). Kembali kepada Allah Azza wa jallah. Memperbanyak berdoa dan merendah (kepada Allah) semoga Allah memberikan petunjuk kepada suaminya. Dan memalingkan dari perbuatan semacam ini. Karena doa adalah senjata yang agung. Allah Azza Wajallah tidak akan mengecewakan orang yang meminta ketika dia meminta.

Begitu juga kalau (istri) memungkinkan beli kitab atau kaset, meminta setelah Allah kepada salah satu kerabatnya atau dari pencari ilmu di kotanya. Atau imam masjid dan semisalnya untuk menasehati suaminya, memberi arahan dan menakut-nakuti kepada Allah serta menganjurkan (kebaikan). Bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, akan diganti kebaikan lebih baik lagi oleh Allah. (Sumber: Islamqa.info.id).

Merasa Tidak Mampu Menghadapi Berbagai Persoalan Hidup, Bolehkah Berharap Kematian?

Merasa Tidak Mampu Menghadapi Berbagai Persoalan Hidup, Bolehkah Berharap Kematian?

Pertanyaan

Kalau seorang muslim menghadapi berbagai macam permasalahan dalam kehidupannya, tidak mendapatkan solusi, apakah dia dibolehkan berdoa dan berharap kematian untuk dirinya agar selesai dari berbagai permasalahan ini?

 Jawaban

Bismillah,

Pertama: umur panjang bagi orang mukmin disertai dengan amalan saleh itu lebih baik dari kematian. Nabi -sallallahu alaihi wa sallam- bersabda ketika ditanya siapakah orang yang paling baik,

 خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

 “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umur dan baik amalannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, no. 110, dinyatakan shahih oleh Albani  dalam Shahih Tirmidzi)

Sabda beliau -sallallahu alaihi wa sallam– lainnya:

  طُوْبَى لِمَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

 “Beruntunglah orang yang panjang umur dan baik amalannya.” (HR. Thabrani dan Abu Nu’aim. Dinyatakan shahih oleh Albani di Shahih Al-Jami’, no. 3928)

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, (8195) dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata:

كَانَ رَجُلَانِ أَسْلَمَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتُشْهِدَ أَحَدُهُمَا وَأُخِّرَ الْآخَرُ سَنَةً . قَالَ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ : فَأُرِيتُ الْجَنَّةَ ، فَرَأَيْتُ فِيهَا الْمُؤَخَّرَ مِنْهُمَا أُدْخِلَ قَبْلَ الشَّهِيدِ ، فَعَجِبْتُ لِذَلِكَ ، فَأَصْبَحْتُ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَلَيْسَ قَدْ صَامَ بَعْدَهُ رَمَضَانَ ! وَصَلَّى سِتَّةَ آلافِ رَكْعَةٍ أَوْ كَذَا وَكَذَا رَكْعَةً ! صَلاةَ السَّنَةِ

“Ada dua orang masuk Islam di hadapan Nabi sallallahu alaihi wa sallam, salah satunya mati syahid dan yang lainnya (wafat) setahun lagi. Tholhah bin Ubaidillah mengatakan, “Saya diperlihatkan surga (dalam mimpi), maka saya melihat yang (wafat) terakhir dimasukkan surga sebelum orang yang mati syahid. Saya heran akan hal itu. Ketika pagi hari, saya ceritakan hal itu kepada Rasulullah -sallallahu alaihi wa sallam-, maka Rasulullah -sallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Tidakkah dia telah berpuasa Ramadan setelahnya! Telah menunaikan shalat enam ribu rakaat atau ini dan ini rakaat! (juga menunaikan) shalat sunnah.” (Dinyatakan shahih oleh Albani di Silsilah Shahihah, (2591) Ajluni mengomentari dalam kitab ‘Kasyful Khofa’’ sanadnya hasan)

وقال رجل : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ ؟ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ : فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ ؟ قَالَ : مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

 “Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang terbaik? Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Berkata, “Siapakah yang orang paling jelek? Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, no. 2330. Dinyatakan shahih oleh Albani di Shahih Tirmidzi)

Ath-Thayiby rahimahullah mengatakan,

 “Sesungguhnya waktu dan jam seperti modal harta bagi pedagang. Selayaknya dia berniaga agar beruntung. Setiap kali modal hartanya banyak, maka keuntungannya akan lebih banyak. Siapa yang dapat memanfaatkan umurnya dengan memperbaiki amalannya. Maka dia akan beruntung dan bahagia. Siapa yang menyia-nyakan modal hartanya, tidak beruntung dan rugi, maka dia rugi yang nyata.”

Oleh karena itu ketika dikatakan kepada sebagian ulama salaf,

“Alangkah indahnya kematian!! Maka beliau mengatakan, “Wahai anak saudaraku, jangan melakukan hal itu, satu waktu anda hidup dapat beristigfar kepada Allah, itu lebih baik bagi anda dibandingkan kematian!!.

Dikatakan kepada Syeikh yang tua dikalangan mereka, “Apakah anda senang kematian? Beliau menjawab, “Tidak. Telah lewat masa muda dengan keburukannya. Dan telah datang masa tua dengan kebaikannya. Kalau anda berdiri mengucapkan ‘Bismillah. Ketika anda duduk mengucapkan ‘Alhamdulillah. Dan saya senang tetap seperti ini.

Banyak dari ulama salaf menangis ketika akan meninggal dunia menyayangkan keterputusan amal kebaikan. Oleh karena itu, Nabi sallallahu alaihi wa sallam melarang berangan-angan kematian. Karena orang mukmin terhalangi dari kebaikan kataatan, nikmatnya ibadah, kesempatan bertaubat dan mendapatkan apa yang terlewatkan.

Dari Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu– dari Rasulullah sallallahu aliahi wa sallam bersabda:

لا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ , وَلا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ ، إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ انْقَطَعَ عَمَلُهُ ، وَإِنَّهُ لا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلا خَيْرًا

“Janganlah salah seorang diantara kamu berangan-angan untuk mati. Jangan berdoa dengannya sebelum waktunya. Sesungguhnya ketika salah seorang diantara kamu ketika meninggal dunia, maka akan terputus amalannya. Bahwa orang mukmin tidak bertambah umurnya melainkan ada kebaikan.” (HR. Muslim, 2682)

Maka terkumpul larangan berangan-angan kematian dan larangan berdoa kejelekan untuk dirinya. Dalam Bukhori, (7235) dengan redaksi, “Salah seorang diantara kamu jangan berangan-angan kematian. Karena bisa menambah kebaikan atau perasaan bersalah terhadap keburukan.

Imam Nawawi rahimahullah mengomentari, “Dalam hadits jelas melarang berangan-angan kematian karena kesusahan yang menimpahnya baik kekurangan, ujian musuh atau kesusahan dunia lainnya. Sementara kalau dia takut kesusahan atau fitnah terhadap agamanya, maka tidak dilarang sesuai dengan pemahaman hadits ini. Hal itu telah dilakukan banyak dari ulama salaf.

Kata ‘Yasta’tib’ artinya adalah ridho kepada Allah dengan meninggalkan (dosa) dan beristigfar

Ada arti lain larangan berangan-angan kematian yaitu:

Bahwa sakaratul maut sangat berat dan kegentingannya sangat mengerikan. Tidak ada seorangpun seperti itu. Kemudian seseorang tidak mengetahui apa yang dia tungguh setelah kematian. Kita memohon keselamatan kepada Allah. Maka berangan-angan kematian adalah meminta sesuatu dimana tidak ada seorangpun mendapatkannya. Dan menipu pada dirinya. Khawatir angan-angan kematian menjadi sebab musibah besar seperti orang yang meminta perlindungan dari panasnya neraka. Khawatir setelah mendapatkan kematian, terjadi yang lebih besar dan lebih berat lagi. Maka berangan-angan kematian termasuk salah satu bentuk mempercepat cobaan sebelum menimpanya. Sehingga tidak layak bagi orang berakal melakukan hal itu. Sebagaimana sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

لا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ ، وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ

“Jangan berangan-angan bertemu musuh, dan mintalah kesehatan (kebaikan) kepada Allah.” (HR. Muttafaq ‘alaihi)

Dari Jabir bin Abdullah radhillahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لا تَمَنَّوْا الْمَوْتَ ، فَإِنَّ هَوْلَ الْمَطَّلَع شَدِيدٌ ، وَإِنَّ مِنْ السَّعَادَةِ أَنْ يَطُولَ عُمْرُ الْعَبْدِ وَيَرْزُقَهُ اللَّهُ الإِنَابَةَ

 “Jangan berangan-angan kematian, karena kegentingan sangat mengerikan. Sesungguhnya diantara kebahagiaan seorang hamba adalah berumur panjang dan dikarunia taubat kepada Allah.” (HR. Ahmad, dilemahkan oleh Albani di Silsilah Ahadits Dhoifah, no. 885)

Ibnu Umar radhiallahu anhuma mendengarkan seseorang berangan-angan kematian, maka beliau mengatakan, “Jangan anda berangan-angan kematian. Memohonlah kepada Allah kesehatan. Karena kematian dapat menyingkap ngerinya kegentingannya.

Ibnu Rojab rahimahullah mengatakan, “Dahulu banyak dari kalangan orang-orang saleh berangan-angan kematian waktu sehatnya. Ketika mendapatkannya, mereka tidak menyukainya karena kedahsyatannya. Diantara mereka ada Abu Darda’, Sofyan Tsauri. Bagaimana lagi dengan lainnya?

Larangan beranga-angan kematian sesungguhnya disebabkan karena seseorang mendapatkan kesusahan dalam masalah dunianya. Karena berangan-angan kematian menunjukkan keluhan terhadap apa yang menimpanya.

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ , فَإِنْ كَانَ لا بُدَّ فَاعِلا فَلْيَقُلْ : اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي , وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

“Jangan salah seorang diantara kamu berangan-angan kematian karena kesusahan yang menimpanya. Kalau memang harus dilakukan, hendaknya dia berdoa ‘Ya Allah hidupkan diriku selagi kehidupan itu baik bagi diriku. Dan wafatkan diriku selagi kematian itu baik bagi diriku.” (Muttafaq alaih)

Ungkapan ‘Kesusahan yang menimpanya’ maksudnya kesusahan dunia seperti sakit, cobaan pada harta dan anak-anak dan semisal itu. Sementara kalau takut kesusahan dalam agamnya seperti fitnah, maka tidak mengapa berangan-angan kematian sebagaimana yang akan kita jelaskan.

Kemungkinan permintaan kematian ini agar dapat terlepas dari kesusahan. Bisa jadi semakin bertambah payah dan kesakitannya terus berlangsung sementara dia belum mengetahuinya. Dari Aisyah radhiallahu anha berkata, dikatakan, “Wahai Rasulullah, si fulanah telah meninggal dunia dan istirahat. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam marah seraya bersabda, “Sesungguhnya (hakekat) istirahat itu orang yang telah diampuni. HR. Ahmad, 24192 dinyatakan shahih oleh Albani di Silsilah Shahihah, 1710.

Kedua: Beberapa kondisi dianjurkan berangan-angan kematian diantaranya adalah:

  1. Khawatir terhadap fitnah yang menimpa agamanya

Tidak diragukan lagi bahwa kematian seseorang jauh dari fitnah meskipun amalannya sedikit itu lebih baik daripada mendapatkan fitnah dalam agamanya. Kita memohon kepada Allah keselamatan.

Dari Mahmud bin Labid sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ : الْمَوْتُ ، وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنْ الْفِتْنَةِ ، وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ ، وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ

“Dua hal yang tidak disukai Bani Adam, kematian. Kematian lebih baik bagi orang mukmin dibandingkan dengan fitnah. Dan tidak menyukai sedikit harta, padahal sedikit harta itu sedikit hisabnya.”(HR. Ahmad dinyatakan shahih oleh Albani di Silsilah Shahihah, no. 813)

Telah ada anjuran berangan-angan kematian pada kondisi seperti ini juga. Sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam doanya:

 وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِيْ إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُوْنٍ

“Kalau Engkau menginginkan hamba-Mu fitnah, maka cabutlah (nyawa) diriku tanpa terkena fitnah.” (HR. Tirmidzi, 3233 dinyatakan shahih oleh Albani di Shahih Tirmidzi)

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hal ini dibolehkan menurut mayoritas ulama.”

Hal ini yang ada dari salaf terkait dengan berangan-angan kematian. Mereka berangan-angan kematian karena takut fitnah.

Diriwayatkan Malik dari Said bin Musayyab beliau berkata, ketika Umar bin Khotob kembali dari Mina, tinggal di Abtoh kemudian mengumpulkan tumpukan di Batha dan melepas selendang kemudian terlentang sambil menjulurkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa:

اللَّهُمَّ كَبِرَتْ سِنِّي ، وَضَعُفَتْ قُوَّتِي ، وَانْتَشَرَتْ رَعِيَّتِي ، فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مُضَيِّعٍ وَلا مُفَرِّطٍ

“Ya Allah usiaku telah tua, lemah kekuatanku, rakyatku telah tersebar, maka tolong cabut diriku (menghadap kepada-Mu) tanpa sia-sia dan melampaui batas.”

Said berkomentar, tidak lama setelah bulan Dzulhijjah, sampai Umar radhiallahu anhu terbunuh.

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, “Siapa yang melihat kematian dijual, tolong belikan untukku !. (‘Tsabat ‘Indal Mamat, karangan Ibnul Jauzi, hal. 45).

  1. Jika kematiannya berupa syahid di jalan Allah Azza Wajalla

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَوْلا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي مَا قَعَدْتُ خَلْفَ سَرِيَّةٍ ، وَلَوَدِدْتُ أَنِّي أُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ ، ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ   )متفق عليه

“Kalau sekiranya tidak memberatkan kepada umatku, maka aku tidak akan pernah meninggalkan dibelakang peperangan. Saya ingin terbunuh di jalan Allah kemudian dihidupkan kemudian dibunuh lagi, kemudian dihidupkan kemudian dibunuh.” (HR. Muttafaq ‘alaihi)

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berangan-angan dibunuh di jalan Allah tiada lain karena agungnya keutamaan mati syahid.

Diriwayatkan Muslim, no. 1909 sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

Siapa yang memohon kepada Allah mati syahid dengan jujur, Allah akan sampaikan ke posisi orang-orang yang mati syahid meskipun meninggal di atas ranjangnya.)

Para ulama salaf mencintai mati di jalan Allah

Abu bakar radhiallahu anhu berkomentar terkait Musailamah Al-Kadzab ketika mengaku menjadi Nabi,

“Demi Allah. saya akan memeranginya dengan suatu kaum yang mencintai kematian sebagaimana dia mencintai kehidupan.

Kholid bin Walid radhiallahu anhu pernah menulis surat kepada penduduk Persia ‘Demi Zat yang tiada Tuhan selainnya. Pasti saya akan utus kepada kamu semua suatu kaum yang mencintai kematian sebagaimana anda mencintai kehidupan.

Karena posisi ini diinginkan –semoga Allah tidak menghalangi kami untuk mendapatkannya- dan mencarinya sangat dipuji dari semua sisi. Karena orang yang dikarunianya tidak akan terhalangi dari pahala amal saleh yang menjadi kebaikan dalam kehidupan. Sehingga kematian itu lebih baik bagi seseorang. Kemudian Allah juga akan menjaga kedudukan orangnya dari fitnah kubur.

Dari Salman radhiallahu anhu berkata, saya mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ

“Ribath (menjaga) sehari semalam itu lebih baik daripada puasa dan qiyam sebulan. Kalau dia meninggal dunia, maka amalannya tetap mengalir yang dilakukannya, dialirkan rezkinya dan aman dari fitnah.”(HR. Muslim, no. 1913)

Kesimpulan

Dimakruhkan bagi seorang muslim berangan-angan kematian kalau disebabkan bencana dunia yang menimpanya. Bahkan hendaknya dia bersabar dan memohon bantuan kepada Allah. kita memohon kepada Allah agar anda dibebaskan dari kegalauan yang menimpa anda. silahkan merujuk soal no. 22880.

Wallahu a’lam.

Sumber: Islamqa.info.id

Setelah Hafal Lupa Lagi, Apa Solusinya?

Ilustrasi: Santri penghafal Al-Qur’an sedang memperdengarkan (tasmi’) hafalannya

Setelah Hafal Lupa Lagi, Apa Solusinya?

Pertanyaan:

Apa hukumnya jika seseorang menghapal suatu surat namun cepat lupa. Apakah lebih baik dia merutinkan bacaan dengan melihat mushaf saja atau bagaimana?

Jawaban:

Orang yang sering lupa hendaknya memiliki wirid rutin berupa bacaan Istighfar yang dapat menghindarkannya dari sifat lupa. Karena Allah Ta’ala berfirman;

{واذكر ربك إذا نسيت وقل عسى أن يهدين ربي لأقرب من هذا رشداً}،

Orang yang senantiasa memperbanyak istighfar akan ditolong oleh Allah dengan dikaruniai ingatan yang baik yang membantunya menyimpan apa yang telah dihafalkannya. Demikian pula  orang yang selalu shalat dengan membaca apa yang telah dihafalaknnya. Misalnya apa yang dihafalkannya pada siang hari dia baca pada shalat di malam hari, maka hafalannya akan tetap tinggal.

Demikian pula halnya dengan shalat fardhu, jika seseorang selalu membaca hafalan (baru) nya dalam shalat fardhu, maka hal itu akan menguatkan hafalannya.

Adapun bacaan melalui mushaf, jika sekadar membaca dan membolak-balik lembaran mushaf tanpa diserta tadabbur (perenungan) dan tafahhum (pemahaman), maka hal itu juga tidak akan membantu dalam menghafal. Yang membantu dan memudahkan dalam menghafal Al-Qur’an adalah bacaan yang tenang dan perlahan-lahan, dimana seseorang memahami apa yang dibacanya. (Syekh Muhammad Hasan Dadew Asy-Syinqithi).

Waktu Shalat Dhuha yang Paling Utama

Waktu Shalat Dhuha

Waktu Paling Utama Melaksanakan Shalat Dhuha (Gambar diambil dari mauhijrah.com)

Pertanyaan:

Pertanyaan saya tentang waktu shalat Dhuha, Bolehkah melaksanakan shalat Dhuha setelah terbit mata hari, ataukah satu dua jam pasca terbitnya matahari, misalnya jam delapan atau sembilan? Bolehkah mengerjakan shalat Dhuha menjelang Dzuhur?

Jawaban:

Waktu shalat Dhuha dimulai setelah terbit mata hari setinggi satu tombak. Kira-kira 15 menit setelah terbit matahari. Adapun waktu akhirnya yakni menjelang Dzuhur (qubaila dzuhur). Kira-kira lebih kurang 10 menit menjelang masuk waktu dzuhur. Oleh karena itu memungkinkan dilaksanakan di antara waktu tersebut.

Akan tetapi waktu yang paling afdhal adalah ketika matahari mulai meninggi atau saat panasnya mulai menyengat, sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya;

صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

 “(Waktu terbaik) shalat awwabin (shalat Dhuha) adalah ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim ).

Imam Nawawi mengatakan dalam Syarh Shahih Muslim, “Inilah waktu paling utama untuk melaksanakan shalat Dhuha. Begitu pula para sahabat kami (ulama Syafi’iyah) mengatakan bahwa ini merupakan waktu terbaik untuk shalat Dhuha. Walaupun boleh pula dilaksanakan ketika matahari terbit hingga waktu zawal (tergelincir matahari).

“Tarmadhul fishal” artinya ketika kuku-kuku anak unta mulai kepanasan karena pasir terpapar oleh terik panas matahari sehingga anak unta mulai mencari tempat yang teduh untuk bernaung. Inilah waktu yang utama melakukan shalat Dhuha.

Imam Ash-Shan’ani mengutip perkataan Ibnul Atsir dalam Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir, “Maksudnya, waktu Shalat Dhuha adalah ketika matahari mulai meninggi dan panasnya menyengat. Beliau berdalil dengan hadits ini tentang keutamaan mengakhirkan Shalat Dhuha sampai terik mata hari mulai menyengat.”

Beliau (Ibnul Atsir) juga menjelaskan tentang sebab penamaan Shalatul Awwabin untuk shalat Dhuha karena pada waktu tersebut cenderung untuk santai, mencari ketenangan, dan istirahat, sehingga mengisi waktu tersebut dengan  shalat merupakan adab mulia bagi jiwa yang menghendaki keridhaan Allah. Wallahu ‘alam.

Hukum Mengambil Upah dari Mengajarkan Agama dan Al-Qur’an

Keutamaan Membaca Al-Qur'an

Ilustarsi: Seorang santri sedang membaca Al-Qur’an

Hukum Mengambil Upah dari Mengajarkan Agama dan Al-Qur’an

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum, mohon penjelasan tentang hukum mengambil upah atau gaji dari mengajarkan Agama atau Al-Qur’an.

Jawaban:

Pertama:

Asal dalam ibadah, seorang muslim tidak boleh mengambil gaji sebagai pengganti apa yang dia lakukan. Siapa yang berkeinginan ketaatannya untuk (mendapatkan) dunia. Maka dia tidak mendapatkan pahala di sisi Allah sebagaimana Firman Ta’ala:

( مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ) هود/ 15 ، 16

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” QS. Hud: 15-16.

Kedua:

Kalau ibadah itu manfaatnya untuk orang lain dimana orang selain pelakukanya dapat mengambil manfaat seperti ruqyah dengan Qur’an atau mengajarkannya. Atau mengajarkan hadits, maka dia diperbolehkan mengambil upah atasnya menurut jumhur ulama. Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

فعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ نَفَراً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مَرُّوا بِمَاءٍ فِيهِمْ لَدِيغٌ ، فَعَرَضَ لَهُمْ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَاءِ فَقَالَ : هَلْ فِيكُمْ مِنْ رَاقٍ إنَّ فِي الْمَاءِ رَجُلاً لَدِيغًا ؟ فَانْطَلَقَ رَجُلٌ مِنْهُمْ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ عَلَى شَاءٍ [أي : مجموعة من الغنم]، فَبَرَأَ ، فَجَاءَ بِالشَّاءِ إِلَى أَصْحَابِهِ ، فَكَرِهُوا ذَلِكَ ، وَقَالُوا : أَخَذْتَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَجْراً ؟ حَتَّى قَدِمُوا الْمَدِينَةَ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَخَذَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَجْراً ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : (إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ) رواه البخاري ( 5405 ) .

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwa sekelompok dari para shahabat Nabi sallallahu alaihi wa sallam melewati perkampungan yang terkena sengatan. Maka salah seorang penduduk perkampungan menawarkan seraya mengatakan, “Apa ada diantara kamu semua orang yang meruqyah. Sesungguhnya ada seseorang terkena sengatan di perkampungan? Maka ada salah seorang diantara mereka pergi dan dibacakan Fatihatul Kitab (dengan imbalan) sejumlah kambing dan sembuh. Maka beliau sambil membawa kambing kembali ke teman-temannya. Sementara mereka tidak menyukainya. Seraya mengatakan, “Apakah kamu mengambil upah dari kitabullah? Sampai mereka di Madinah. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, mengambil upah dari Kitabullah. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling berhak anda mengambil upah itu dari kitabullah.” (HR. Bukhari, (5405).

Dikeluarkan oleh Bukhori, (2156) dan Muslim, (2201) dari hadits Abu Said Al-Khudri. Nawawi rahimahullah membuat bab dalam penjelasan Muslim seraya mengatakan, “Bab Jawaz Akhdil Ujroh Alar Ruqyah Bil Quran Wal Adzkar (Bab diperbolehkan mengambil upah atas Ruqyah dengan Quran dan Zikir).

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan dalam menjelaskan hadits,

Ini jelas diperbolehkan mengambil upah atas ruqyah dengan Al-Fatihah dan zikir. Dan itu halal tidak makruh di dalamnya. Bagitu juga upah dalam mengajarkan Qur’an. Dan ini mazhab Syafi’I, Malik, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan ulama salaf lainnya dan ulama setelahnya. (Syarkh Nawawi, (14/188)

Para ulama Lajnah Daimah Lil Ifta’ mengatakan,

 “Anda diperbolehkan mengambil upah dari pengajaran Qur’an. Karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam menikahkan seseorang dengan wanita dengan mengajarkannya kepadanya apa yang dia punya dari Qur’an. Dan hal itu sebagai maharnya. Dan shabat yang mengambil upah atas kesembuhan orang kafir sakit disebabkan ruqyah kepadanya dengan Fatihatul Kitab. Dan Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda akan hal itu, “Sesungguhnya yang paling berhak untuk anda ambil upahnya adalah Kitab Allah.” HR. Bukhori dan Muslim. Sesungguhnya yang dilarang adalah mengambil upah atas bacaan Qur’an itu sendiri dan meminta orang dengan bacaannya.”  (Fatawa Lajnah Daimah, 15/96).

(Sumber: Jawaban dikuti dari islamqa.info.id)

Hukum Bershalawat Saat Khutbah Jum’at Sedang Berlangsung  

 

Hukum Bershalawat Saat Khutbah Jum’at Sedang Berlangsung  

Pertanyaan:

Kita wajib mengucapkan shallallahu ‘alaihi wa sallam (bershalawat) saat mendengar nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut. Tetapi pada saat khutbah kita wajib tidak berbicara, karena jika berbicara saat khutbah pahala kita akan hilang. Lalu apakah ketika khatib menyebut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kita tetap bershalawat?

Jawaban:

Alhamdulillah, Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, wa ba’d;

Masalah ini meruapakan perkara khilafiyah (perbedaan pendapat) di kalangan ulama. Ada yang memandang keharusan untuk diam secara mutlak, berdasarkan hadits-hadits tentang perintah diam (inshat) saat khutbah. Dan ada pula yang berpendapat disyariatkannya ta’min (mengaminkan do’a) dan bershalawat kepada Nabi. Mereka berdalil dengan anjuran mengaminkan do’a seperti pada khutbah Istisqa (minta hujan). Demikian pula berdalil dengan mengangkat tangan saat berdo’a pada khutbah shalat istisqa, yang mana mengangkat tangan melebihi shalawat (karena mengangkat tangan berupa gerakan sedangkan shalawat sekadar ucapan yang dapat pula disirrkan). Sedangkan shalawat lebih penting dari ta’min. Karena shalawat hukumnya wajib, berdasarkan firman Allah;

“إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً” (الأحزاب:56)،

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

“رغم أنف امرئ ذكرت عنده فلم يصلِّ عليّ” رواه الترمذي

Celakalah seseorang yang mendengar aku disebutkan dihadapannya lalu ia tidak bershalawat kepadaku”. (HR. Tirmidziy).

Inilah pendapat yang rajih dalam masalah ini. Oleh karena itu saya wasiatkan kepada para imam dan khatib untuk memperhatikan keadaan manusia dalam masalah ini, selama ia merupakan persoalan yang ada kelonggaran di dalamnya, dengan tidak mengharuskan orang-orang bershalawat secara jahr. Cukup mereka bershalawat secara sirr (lirih) agar tidak mengganggu orang di sekitarnya dan tidak menimbulkan fitnah.

Inilah sikap hikmah  dan manhaj Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dan para Imam Islam lainnya. Mereka sangat memperhatikan keadaan manusia dalam persoalan yang tidak termasuk bid’ah atau amalan haram. Karena ia sebatas perkara fadhilah amal dan masalah khilafiyah yang mu’tabarah, seperti halnya masalah jahr dan sirr dalam Bismillahirrahmanirrahim dan yang lainnya. Sebab perbedaan (khilaf) merupakan sesuatu yang buruk, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.  Wallahu a’lam.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Sumber: http://www.almoslim.net/node/62918#

Kesimpulan:

Boleh bershalawat secara sirr  saat khutbah bila mendengar khatib menyebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bolehkah, Membaca Al-Qur’an Tanpa Memahami Maknanya?

Keutamaan Membaca Al-Qur'an

Ilustarsi: Seorang santri sedang membaca Al-Qur’an

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum ustadz, saya ingin bertanya tentang hukum membaca Al-Qur’an tanpa memahami maknanya. Karena saya tidak dapat berbhasa Arab dan tidak dapat membaca kitab gundul.

Jawaban

Dibolehkan membaca Al-Qur’an meskipun tidak memahami maknanya. Akan tetapi lebih dianjurkan mentadaburi dan memikirkan sampai memahami maknanya.  Caranya dengan merujuk ke kitab-kitab Tafsir jika dapat memahami kitab-kitab tersebut.

Cara lain dengan menanyakan kepada ahli ilmu jika mengalami kendala dan masalah dalam tadabbur. Karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ (سورة ص: 29)

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)

Seorang mukmin hendaknya mentadaburi, maksudnya memperhatikan bacaan dan memikirkan maknanya. Dan memahami maknanya, dengan begitu, dia dapat mengambil manfaatnya. Jika tidak dapat mengambil manfaat makna secara sempurna, dia telah mengambil manfaat makna yang banyak.

Maka perlu membaca dengan tadabur dan memahami. Bagitu juga bagi seorang wanita. Mentadabburi Al-Quran agar dapat mengambil manfaat dari firman Tuhannya serta mengetahui maksudnya dan mengamalkannya. Allah subhanahu  wa ta’ala berfirman:

(أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (سورة محمد: 24)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?.” (QS. Muhammad: 24)

Allah  Azza Wajalla menganjurkan dan mengajak untuk memahami dan mentadaburi Kalam-Nya Subhanahu. Kalau seorang mukmin membaca Kitabullah  , maka dianjurkan keduanya untuk mentadaburi dan memahaminya serta memperhatikan apa yang dibacanya. Agar dapat mengambil manfaat dan memahami Kalam Allah. Dan mengamalkan dengan apa yang diketahui dari Kalam Allah. Dalam hal ini, dapat meminta memanfaatkan kitab-kitab tafsir yang dikarang para ulama seperti tafsir Ibnu Katsir, tafsir Ibnu Jarir, tafsir Al-Baghowi, Tafsir Syaukani dan kitab tafsir lainnya.. Begitu juga bertanya kepada ulama  yang dikenal mempunyai ilmu dan memiliki keutamaan untuk menanyakan berbagai masalah.”

Sumber: Fatwa Samahatus Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah .

Suami Meninggal Setelah Akad Nikah,  Istri Berhak Mewarisi Hartanya?

Pertanyaan: 

Jika seorang laki-laki telah melakukan akad nikah dengan wanita dan belum berhubungan suami istri, lalu salah satu dari keduanya meninggal dunia, maka apakah mereka berdua sudah bisa saling mewarisi hartanya ?

Jawaban

Jika akad nikah sudah dilaksanakan dengan syarat dan rukunnya yang lengkap, kemudian salah satu dari suami istri meninggal dunia sebelum terjadinya hubungan suami istri, maka akad nikahnya tetap ada dan masing-masing saling mewarisi hartanya berdasarkan keumuman firman Allah –Ta’ala-:

 وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّهُنَّ وَلَدٌ فَإِن كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِن بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّكُمْ وَلَدٌ فَإِن كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُم مِّن بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ  سورة النساء /12

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu”. (QS. An Nisa’: 12)

Ayat ini umum bagi siapa saja yang meninggal dunia meninggalkan istri, baik sebelum berhubungan suami istri maupun sudah melakukannya. Jika akad nikah sudah sempurna lalu salah satu dari suami istri meninggal dunia sebelum melakukan hubungan suami istri, maka hukum pernikahan tetap ada dan masing-masing dari keduanya sudah bisa saling mewarisi sesuai dengan keumuman ayat yang mulia di atas.

Demikian pula jika mahar belum diserahkan maka istri berhak memperoleh mahar yang telah disepakati dan disebutkan dalam akad nikah.

Abu Daud meriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu– pernah ditanya tentang seorang wanita yang suaminya meninggal dunia sebelum terjadinya hubungan suami istri antar keduanya dan belum dipastikan pembayaran maharnya. Beliau menjawab:

  لَهَا الصَّدَاقُ كَامِلًا ، كصداق نسائها ، وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ وَلَهَا الْمِيرَاثُ

Ia berhak menerima mahar sepenuhnya, seperti mahar para wanita sekitarnya, ia juga mempunyai masa iddah dan berhak menerima warisan juga”.

Ma’qil bin Sanan –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Saya pernah mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah memutuskan Birwa’ binti Wasyiq seorang wanita di daerah kami, sama dengan apa yang engkau putuskan”. (Dishahihkan oleh Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 1939).

Sumber: Islamqa.info.id

Istri Mengambil Harta Suami Untuk Putranya Tanpa Sepengetahuannya

Bolehkah Istri Mengambil Harta Suami

Bolehkah Istri Mengambil Harta Suami ?

Pertanyaan: 

saya telah melangsungkan pernikahan putra saya setahun yang lalu, dan biaya yang dihabiskan untuk acara itu amatlah banyak, sungguh saya telah membelanjakan banyak uang padahal suami saya bersumpah bahwa dia tidak akan membayarkan sisa uang yang telah dipakai. Saya sendiri belum melunasi semua tanggungan yang dibutuhkan saat pernikahan, padahal sayalah yang menyimpan uang suami akan tetapi saya tidak mempunyai uang yang khusus milik saya. Maka saya terpaksa mengambil sejumlah uang suami yang saya simpan tanpa sepengetahuannya, dan saya tidak bisa mengungkapkannya kepada suami. Akan tetapi demi Allah semua yang saya ambil untuk kebutuhan beban biaya pernikahan, dan sekarang saya tidak tahu apa yang akan saya perbuat? Apakah saya telah berdosa?

Jawaban:

Pertama:

Wajib atas seorang ayah menjaga kehormatan putranya dengan pernikahan, khususnya apabila hal tersebut diminta olehnya dan dia memang sangat menginginkan pernikahan  sebagai benteng dari segala macam fitnah dan untuk menjaga kemaluannya. Lihat jawaban soal no. 83191, dan no. 87983.

Kedua:

Sudah selayaknya berhemat dalam pembiayaan pernikahan, dan tidak sampai melampaui batas-batas kesederhanaan. Jangan sampai membelanjakan sesuatu yang berlebihan dan sia-sia atau mubazir sebagaimana yang saat ini dilakukan oleh kebanyakan orang.

Ulama Al Lajnah Ad Daaimah berargumen: “Pembiayaan dan dana yang anda belanjakan untuk pernikahan putra anda yang mencapai setengah juta real termasuk pemborosan yang dilarang. Dikhawatirkan karena anda melakukan hal demikian anda akan mendapatkan  siksa. Kecuali apabila anda bertaubat kepada Allah Ta’ala dan anda tidak lagi melakukan perbuatan tersebut, karena sesungguhnya harta tersebut adalah harta Allah Ta’ala, dan makhluk ini hanya diberikan wewenang untuk mengelolanya, syariat islam yang suci telah menegaskan tentang bagaimana mestinya kita mengelola harta benda ini, maka syariat melarang pemborosan  dan mubadzir, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

والذين إذا أنفقوا لم يسرفوا ولم يقتروا وكان بين ذلك قواما (سورة الفرقان: 67)

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian ”. (QS Al Furqan: 67)

Maksudnya adalah: Mereka tidak berlebih-lebihan dengan melampaui batas dalam kedermawanan dan membelanjakan harta dalam kemaksiatan, dan mereka juga tidak kikir dengan sangat membatasi pembelanjaan sebagaimana prilaku orang-orang yang pelit. Akan tetapi sifatnya antara yang demikian, yaitu; tidak berlebih-lebihan dan tidak pelit. Maksud dari tengah-tengah ialah; Seimbang dan bijaksana.” (Diringkas dari: Fatawa Al Lajnah Ad Daaimah  secara ringkas, 16/220-221).

Ketiga:

Seorang istri tidak boleh membelanjakan harta suaminya melainkan dengan persetujuannya, kecuali bila suami sangat kikir terhadap istri dan anak-anaknya serta tidak menunaikan kewajiban terhadap Allah dengan membelanjakan dan memberikan nafkah yang wajib atas mereka. Pada kondisi seperti itu barulah sang istri boleh mengambil dari harta suami secara wajar dan sebatas untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Adapun apabila suami tidak berlaku bakhil terhadap putranya dan membelanjakan dalam pernikahannya  secara wajar dan tidak kikir, bahkan ia membelanjakan untuk keperluannya sesuai dengan kelapangan kondisinya, maka tidak diperkenankan bagi anda mengambil sesuatu pun dari harta bendanya meskipun hal itu untuk pembiayaan keperluan pernikahan putra anda. Anda telah menyebutkan bahwa kalian telah membelanjakan dan mengeluarkan biaya yang banyak dalam pernikahan ini. Maka jika pembiayaannya telah lunas dari apa yang dianggap cukup menurut kebiasaannya sebagaimana kasus putra anda ini, dan tidak ada lagi biaya yang dibutuhkan lebih banyak dari itu. Maka apa yang telah anda ambil dari harta benda suami anda termasuk melampaui batas atas harta suami anda.

Apabila memang beban pembiayaan ini sudah menjadi suatu yang lumrah untuk sebuah pernikahan di negara kalian, dan siapa saja yang kondisinya  sama dengan kondisi kalian ; maka hendaklah anda melunasi beban pembiayaan atas pernikahan putra anda dengan sesuatu yang tidak merugikan harta ayahnya dan membebaninya.

Seharusnya anda memelihara dan menjaga hak Allah dalam harta benda ini dan menjaga hak-hak suami sebagai pemilik harta. Serta menjaga kemuliaan sumpah yang telah diucapkan serta menjaga kemashlahatan putra-putra anda yang lain. Maka hendaknya anda bertaubat dan beristighfar. Wajib atas anda meminta kehalalan dari suami dengan memberitahukannya tentang apa yang telah anda perbuat. Anda juga harus memita maaf kepadanya serta meminta kerelaannya.

Keempat:

Akan tetapi apabila anda menganggap jika berterus terang kepada suami akan berdampak negatif bagi hubungan di antara kalian. Jika hal tersebut membuat suami anda akan murka kepada anda, dan memperburuk kehidupan rumah tangga antara kalian berdua. Maka tidak wajib bagi anda memberitahukannya apa yang telah terjadi berupa apa yang telah anda belanjakan dari kekurangan biaya pernikahan. Jika anda telah memiliki uang dari gaji bulanan anda atau dari harta warisan atau semacamnya. Maka kembalikanlah harta suami anda sebagai ganti dari hartanya yang telah anda ambil tanpa sepengetahuannya. Akan tetapi jika anda tidak memiliki harta benda apapun. Maka bertaubatlah kepada Allah dan memohon ampunan-Nya dari apa yang telah anda perbuat. Tetaplah berusaha untuk senantiasa berbuat baik kepada suami anda semampu apa yang bisa anda lakukan serta jagalah hak-haknya. Semoga Allah mengampuni anda dan memperbaiki hubungan kalian berdua.

Wallahu A’lam.

Relawan Wahdah Peduli Evakuasi Korban Gempa di Daerah Pantai Tak Terjamah

Tim Evakuasi Wahdah Peduli Sisir di Daerah Pantai Tak Terjamah

Tim Evakuasi Relawan Wahdah Islamiyah kembali melakukan evakuasi dari korban meninggal dunia Gempa Palu dan Donggala, di pesisir Kampung Lere, Kecamatan Palu Barat.

(Palu) wahdahjakarta.com- Sebanyak 16 Relawan Wahdah Islamiyah yang merupakan gabungan dari LAZIS Wahdah dan Wahdah Peduli kembali melakukan evakuasi dari korban meninggal dunia Gempa Palu dan Donggala, di pesisir Kampung Lere, Kecamatan Palu Barat, Selasa (2/10/2018).

Korban yang dievakuasi diantaranya atas nama Baharuddin, berdasarkan pengakuan dari warga yang berada di lokasi.

Menurut Thomas Alfa Satrianto selaku tim Evakuasi, kondisi mayat sudah rusak, yang ditandai dengan hadirnya belatung dan tubuh yang membengkak.

“Kondisi mayat seperti ini karena telah berhari-hari sebagian anggota tubuhnya terendam oleh air laut dan terjepit diantara puing-puing rumah,” ujarnya.

Relawan Wahdah Peduli Rustam Hafid mengatakan, evakuasi dilakukan setelah sebelumnya mendapat laporan dari keluarga korban.

“Lokasi berada di bibir pantai, dan semua perumahannya porak poranda akibat terjangan gelombang tsunami,” tuturmya.

Dia menambahkan, masih ada beberapa korban yang berada dibawah reruntuhan rumahnya, dideteksi dari menyebarnya bau kurang sedap disekitaran lokasi.

“Sayang sekali belum ada kegiatan evakuasi di lokasi ini, padahal wilayah terdampaknya begitu luas,” imbuhnya.

Tim SAR Wadah Islamiyah masih akan terus melakukan kegiatan evakuasi, sambil meninjau lokasi-lokasi terdampak yang belum terjamah oleh kegiatan evakuasi. [fry/aha]