Tanya Jawab Fiqh Puasa [02]:  Mengkonsumsi Pil Pencegah Haid Agar Dapat Berpuasa, Bolehkah?

Tanya Jawab Fiqh Puasa [02]:  Mengkonsumsi Pil Pencegah Haid Agar Dapat Berpuasa, Bolehkah?

Pertanyaan:

Saya ingin bertanya jika seorang perempuan menahan datangnya haid di bulan puasa (dengan sengaja menghentikan agar haid tidak keluar) agar bisa berpuasa penuh di bulan Romadhon. Dosakah cara yang dilakukan itu? Mohon jawabannya. (Solichah Munari).

Jawaban:

Pertama,

Pada dasarnya haid merupakan  ketentuan Allah yang ditetapkan kepada wanita, sebagaimana di dalam hadits,

هَذَا شَيْءٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ

Ini adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah pada anak-anak wanita Adam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, maka hendaknya setiap wanita  muslimah menerima kenyataan dan ketetapan tersebut  sepenuh hati. Adapun ibadah dan amal shaleh  yang tidak terlaksana karena haid maka Allah yang maha pengasih dan penyayang serta maha adil telah menetapkan rukhshah (keringanan) bagi wanita untuk meninggalkan ibadah-ibadah tertentu saat haid.

Sehingga tidak perlu merasa berdosa jika luput dari suatu amalan karena sebab yang telah ditetapkan oleh Allah berupa rukhshah. Karena rukhshah tersebut merupakan sedekah dari Allah Ta’ala.  Sebagaimana dalam hadits;

“(Rukhsah) itu adalah sedekah yang diberikan Allah Subhanahu WaTa’ala kepada kalian. Maka terimalah sedekah-Nya.” (HR Muslim).

Dengan  menjalankan rukhsah berarti menerima hadiah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala berupa kemudahan yang diberikan kepada kaum wanita.

Kedua,

Adapun mengkonsumsi obat atau pil penunda haid agar dapat berpuasa Ramadhan beberapa ulama membolehkan jika hal itu tidak menimbulkan mudharat, resiko, dan gannguan bagi kesehatan dan alat reproduksi baik sementara maupun permanen.

Syaikh Bin Baz rahimahullah mengatakan;

“Tidak masalah bagi wanita untuk menggunakan obat pencegah haid, menghalangi datang bulan selama bulan Ramadhan, agar dia dapat   berpuasa bersama kaum muslimin lainnya… dan jika ada cara lain selain konsumsi obat untuk menghalangi terjadinya haid, hukumnya boleh, selama tidak ada hal yang dilarang syariat dan tidak berbahaya.”

Artinya mempertimbangkan aspek maslahat dan manfaatnya serta aman dari mudharat dan resiko sangat dianjurkan.  Sehingga jika mengandung mudharat bagi tubuh wanita, mengkonsumsi obat pencegah haid sebaiknya tidak dilakukan.

Karena pil tersebut bersifat hormonal yang mungkin memengaruhi hormon yang  membuat siklus haid tidak teratur dan dikhawatirkan merusak sistim reproduksi serta efek samping lainnya seperti; Insomnia, rontok rambut, menambah berat badan, depresi, pusing,  perubahan libido, perubahan siklus menstruasi, sakit kepala dan mual, bahkan bisa menyebabkan kemandulan.

Oleh karena itu sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli guna menghindari mudharat dan resiko yang mungkin timbul akibat mengkonsumsi pil pencegah haid tersebut.

Ketiga,

Meskipun wanita tidak berpuasa pada bulan Ramadhan karena haidh, namun masih banyak pintu kebaikan lain yang dapat dimasuki  untuk tetap  beribadah dan menuai pahala di bulan Ramadhan. Di antaranya :

  • Memperbanyak  do’a dan dzikir.
  • Memperbanyak shadaqah dan infak,
  • Memberi makan dan minum serta suguhan buka puasa,
  • Membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf,  boleh dengan menggunakan media elektronik seperti ponsel, tablet, komputer, atau Al-Qur’an digital lainnya.
  • Mengikuti kajian keislaman dan membaca buku-buku islami.
  • Berbakti kepada kedua orangtua dan suami, Dan sebagaianya. [sym].

Tanya Jawab Fiqh Puasa [01]: Qadha Puasa Dua Hari Sebelum Ramadhan

Qadha Puasa

Tanya Jawab Fiqh Puasa [01]: Qadha Puasa Dua Hari Sebelum Ramadhan

Pertanyaan:

Saya ingin meminta penjelasan, saya pernah membatalkan puasa pada Ramadhan yang lalu. Saya berbuka sehari dan mengqadhanya dua hari sebelum Ramadhan tahun ini. Apakah hal ini boleh atau tidak?

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد

Bila anda berbuka (membatalkan puasa) tanpa udzur, maka anda telah melakukan satu dosa besar yang mengharuskan anda bertaubat nashuha kepada Allah dan menyesali dosa yang buruk tersebut serta berazam untuk tidak mengulanginya, karena berbuka (membatalkan puasa) pada bulan Ramadhan tanpa ‘udzur merupakan dosa besar. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berkata, “Siapa yang sengaja membatalkan puasanya tanpa udzur, maka hal itu termasuk dosa besar”. Bahkan Imam Adz-Dzahabi secara tegas mengatakan bahwa orang yang meninggalkan puasa Ramadhan tanpa udzur, sakit, atau sebab lain, maka ia lebih buruk dari pezina, penipu, dan peminum khamar, bahkan diragukan keislamannya.

Selain itu anda wajib meng-qadha (ganti) puasa yang batal tersebut. Jika anda batal dengan berhubungan suami istri, maka selain qadha anda juga harus membayar kaffarat. Kaffaratnya adalah memerdekakan seorang budak. Bila tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu maka memberi makan kepada 60 orang miskin.

Adapun bila anda berbuka (membatalkan puasa) karena udzur yang dibenarkan syariat seperti safar atau sakit maka aanda tidak berdosa. Tapi anda harus meng-qadha sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Bila anda telah melakukan hal itu maka beban anda telah selesai dan tidak ada kewajiban yang lain (selan qadha). Dan tidak masalah bila meng-qadhanya dua hari sebelum Ramadhan, dan hal ini bertentangan dengan larangan Nabi mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari dan atau dua hari sebelumnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan (rukhshah); boleh berpuasa bagi yang melakukan puasa dengan alasan atau sebab yang jelas seperti yang terbiasa puasa sunnah. Karena tidak boleh berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan, “Kecuali bagi yang terbiasa puasa, hendaknya ia tetap berpuasa”. (Muttafaq ‘alaihi).

Bila boleh berpuasa tathawwu’ (sunnah), maka puasa Fardhu lebih boleh lagi. Ibn Hajar berakata dalam Fathul Bari, “Makna pengecualian (dalam hadits tersebut) bahwa siapa yang memiliki kebiasaan rutin dibolehkan berpuasa kaerena ia telah terbiasa berpuasa, sehingga puasanya tidak dianggap mendahului puasa Ramadhan. Disamakan dengan hal itu puasa Qadha dan nadzar karena hukumnya wajib. Sebagian ulama berkata, “Dikecualikan (boleh puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan) puasa qadha dan nadzar. Kebolehan hal itu berdasarka dalil-dalil qath’i tentang wajibnya menunaikan keduanya. Sehingga dalil qath’i tidak dibatalkan oleh dalil dzan”. (sym).
Sumber: http://fatwa.islamweb.net/, Fatwa No. 126807, 120929, & 1104

Puasa Senin  dan Kamis Pada Bulan Rajab

Puasa Senin dan Kamis Pada Bulan Rajab

Pertanyaan:

Apa hukum puasa Senin dan Kamis pada bulan Rajab?

Jawaban:

Al-hamdulillah, was Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi, amma ba’d;

Hukum puasa Senin dan Kamis pada bulan Rajab dianjurkan (istihbab). Hal itu dilihat dari dua sisi;

Pertama, Rajab merupakan salah satu bulan suci (asyhurul hurum) dimana puasa pada bulan-bulan Haram mustahab (dianjurkan).

Kedua, Puasa pada hari tersebut (Senin dan Kamis) dianjurkan dan disunnahkan pada seluruh bulan baik pada bulan Rajab maupun di bulan lain, sebagaimana hal itu ditunjukan dalam hadits shahih, “Hari itu (Senin dan Kamis) adalah hari diangkatnya amalan kepada Allah Rabbul ‘alamin, sehingga saya senang bila amalan saya diangkat dalam keadaan puasa”. Hadits ini shahih sebagaimana disebutkan oleh Syekh al-Albani rahimahullahu Ta’ala.

(Sumber: Fatwa No. 98354 dalam Rubrik Fatwa islamweb.net: http://www.islamweb.net/ramadan/index.php?page=ShowFatwa&lang=A&Id=98354&Option=FatwaId). [sym].

Berwasiat Untuk Dimakamkan di Suatu Tempat, Tapi . . .

Berwasiat Untuk Dimakamkan di Suatu Tempat, Tapi . . .

Pertanyaan:

Seorang pemuda menikah dengan sepupunya dari jalur ibu. Ia meminta (berwasiat, jika meninggal) untuk dikuburkan di pemakaman kakeknya dari jalur ibu. Tapi paman-pamannya dan para sepupunya dari jalur ibu menolak. Mereka menyuruh agar jenazah pemuda tersebut dimakamkan di pekuburan/pemakaman keluarga ayahnya. Apakah ia berhak meminta dikuburkan di pemakaman keluarga ibunya? Apakah para pamannya tersebut berhak melarang dikuburkan di pemakaman keluarga mereka?

Jawab:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد

Pertama kita tekankan bahwa tidak mengapa (tidak berdosa) seseorang meminta (berwasiat) untuk dikuburkan di suatu tempat tertentu, dan permintaan [wasiat] nya harus ditunaikan. Tentu selama hal itu tidak mengandung masyaqqah (kesulitan). Syekh Ibnu Baz berkata, “Tidak apa-apa seseorang berwasiat untuk dikuburkan di pemakaman tertentu atau di samping (kuburan) seseorang. Karena hal itu kadang di suatu pekuburan terdapat kuburan orang-orang saleh, sehingga ia berharap dikuburkan bersama orang-orang saleh dan baik. Jika seseorang berwasiat seperti itu, maka hal itu tidak mengapa. Dan penerima wasiat harus melaksanakan wasiat tersebut jika mampu melaksanakannya. Namun jika sulit atau tidak mudah merealisasikan wasiat tersebut, karena tidak mampu, atau karena jarak yang jauh dijangkau atau sebab lain, maka tidak perlu menunaikan wasiat tersebut. Hendaknya dikuburkan di pemakaman kaum Muslimin yang ada”.

Adapun masalah khusus seperti yang ditanyakan, maka kembali kepada pengetahuan tentang kondisi pemakaman yang diminta oleh pewasiat. Jika pekuburan tersebut penuh dengan makam paman-pamannya (sebagaimana yang tersirat dari penolakan tersebut), dan paman-pamannya menolak karena sebab tersebut, maka mereka berhak menolak. Sehingga sipewasiat tidak boleh dikuburkan di pemakaman tersebut melainkan dengan idzin para pamannya (dari pihak ibu). Namun jika pemakaman tersebut merupakan Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang merupakan wakaf kepada kaum Muslimin maka mereka tidak berhak menolak dan melarang dikuburkan di tempat tersebut.

Di samping itu ahli waris tidak wajib menunaikan wasiat tersebut, tetapi sifatnya mandub saja sebagai bentuk ihsan (berbuat baik) kepada simayit.

Sumber: http://fatwa.islamweb.com/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=295222. [sym].

Membatasi dan Mengatur Jarak Kelahiran, Bolehkah?

 

Mengatur Jarak Kelahiran

Membatasi dan Mengatur Jarak Kelahiran, Bolehkah?

Pertanyaan:

Saya dan istri bersepakat untuk mengatur keturunan (kelahiran). Kami tidak memiliki maksud apa-apa melainkan sekadar mengatur jarak (kelahiran), yakni dengan cara istri saya mengkonsumsi pil pencegah kehamilan. Apa hukumnya mengatur keturunan?

Jawaban:
Alhamdulillahi wahdah, Was Shalatu Was Salamu ‘ala Man La Nabiyya ba’dah, amma ba’d;

Pengaturan keturunan (kelahiran) jika untuk maksud yang baik dan dilandasi udzur sya’ri, seperti istri tidak kuat menjalani kehamilan dan persalinan yang jaraknya terlalu rapat, atau istri mengidap suatu penyakit, maka hal itu (mengatur kelahiran) tidak apa-apa (boleh). Namun, bila dilakukan tanpa udzur udzur syar’i, maka kami memandang hendaknya seseorang menyerahkan hal itu kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Karena Dialah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan anak keturunan dan Dia pulalah yang menjamin rezkinya, men-tarbiy-ahnya, dan sebagainya. Oleh karena itu tidak boleh bagai pasangan suami istri mengakhirkan kelahiran tanpa adanya mudharat (yang mengancam) dan tanpa udzur syar’i.

Meskipun sebagian ulama tasahul (bermudah-mudahan) dalam masalah seperti ini, tapi sebenarnya jika ditelusuri lebih jauh tersingkap, bahwa target jangka panjang dari program ini adalah ditujukan kepada ummat Islam, yang pada hakikatnya pembatasan keturunan (Tahdidun Nasl). Kadang tujuan itu dilakukan dengan cara mengatasnamakan pengaturan (jarak kelahiran) dan semacamnya.

Adapun pengaturan tanpa obat-obatan, seperti memilih waktu-waktu tertentu (misal di luar masa subur) untuk bercampur suami-istri, selama tidak menimbulkan mudharat bagi masing-masing; suami atau sitri. Hal ini boleh selama tidak ada maksud membatasi keturunan. Dan seorang istri tidak boleh menolak untuk hamil tanpa udzur syar’i. Wallahu Ta’ala a’la wa a’lam, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhamma wa alihi wa shahbihi ajma’im.

Kesimpulan:

1. Membatasi keturunan hukumya haram, kecuali darurat, seperti istri mengidap penyakit yang membahayakan jiwanya bila hamil dan melahirkan
2. Mengatur kelahiran dibolehkan bila ada udzur syar’i, seperti fisik istri yang tidak kuat bila menjalani kehamilan dengan jarak yang dekat, atau mengidap penyakit tertentu. [sym].

(Sumber: Fatwa Syekh DR. Abdurrhaman al-Mahmud, dalam http://www.almoslim.net/node/52850, diakses tanggal 22 Maret 2016).

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]

Pertanyaan:

Di dalam Shahih Bukhari disebutkan hadits bahwa 700.000 orang akan masuk surga, sedangkan generasi awal saja mungkin jumlah mereka sudah mencapi 700.000. Apakah ada tafsir lain tentang hadits ini?

Jawaban:

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.
Barangkali maksud anda wahai penanya adalah hadits tentang 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ahmad serta yang lainnya dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Kalau anda memperhatikan hadits ini, akan hilanglah -insya Allah- ketidakjelasan yang tercermin dalam pertanyaan anda.

Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau berkata:

Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang nabi atau dua orang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: ‘Ini adalah Musa dan kaumnya,’ lalu dikatakan, ‘Perhatikanlah ke ufuk.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, ‘Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk surga tanpa hisab sejumlah 70.000 orang. Kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam masuk tanpa menjelaskan hal itu kepada para shahabat. Maka para shahabat pun membicarakan tentang 70.000 orang itu. Mereka berkata, ‘Kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya maka kitalah mereka itu atau anak-anak kita yang dilahirkan dalam Islam, sedangkan kita dilahirkan di masa jahiliyah.’ Maka sampailah hal itu kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau keluar dan berkata, ‘mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah (dimanterai), tidak meramal nasib dan tidak mita di-kai, dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal.” [HR. Bukhari 8270].

Maksud hadits ini menjelaskan bahwa ada satu kelompok dari ummat ini akan masuk surga tanpa dihisab, bukan berarti bahwa jumlah ahli surga dari ummat ini hanya 70.000 orang. Maka mereka yang 70.000 orang yang diterangkan dalam hadits ini adalah mereka yang memiliki kedudukan yang tinggi dari kalangan ummat ini karena mereka memiliki keistimewaan khusus yang disebutkan oleh hadits ini, yaitu mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak meramal nasib, dan tidak minta di-kai, serta hanya kepada Allah mereka bertawakkal.

 

Ada lagi hadits yang menjelaskan penyebab mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab di dalam riwayat lain bagi Imam Bukhari rahimahullah, dari Abbas radhiallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Ditampakkan kepadaku beberapa ummat. Maka ada seorang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh satu ummat, ada pula seorang nabi yang diikuti oleh beberapa orang, ada juga nabi yang diikuti oleh sepuluh orang. Ada juga nabi yang diikuti lima orang, bahkan ada seorang nabi yang berjalan sendiri. Aku pun memperhatikan maka tiba-tiba ada sejumlah besar orang, aku berkata, ‘Wahai Jibril, apakah mereka itu ummatku? Jibril menjawab, ‘Bukan, tapi lihatlah ke ufuk!’ Maka aku pun melihat ternyata ada sejumlah besar manusia. Jibril berkata, ‘Mereka adalah ummatmu, dan mereka yang di depan, 70.000 orang tidak akan dihisab dan tidak akan diadzab.’ Aku berkata, ‘Kenapa?’ Dia menjawab, ‘Mereka tidak minta di-kai, tidak minta diruqyah, dan tidak meramal nasib serta hanya kepada Allah mereka bertawakal.’Maka berdirilah Ukasyah bin Mihshan, lalu berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan salah satu seorang di antara mereka.’ Nabi pun berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah dia salah seorang di antara mereka.’Lalu ada orang lain yang berdiri dan berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku salah seorang di antara mereka.’ Nabi Shalalahu ‘alaihi wasslam menjawab, ‘Kamu telah didahului oleh Ukasyah’.” [HR. Bukhari 6059]

Tentang sifat mereka pun dijelaskan di dalam hadits Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata,

Pasti ada 70.000 orang dari ummatku atau 700.000 orang (salah seorang periwayat hadits ini ragu) akan masuk surga orang pertama di antara mereka, tidak memasukinya sebelum masuk pula orang terakhir dari mereka. Wajah-wajah mereka seperti bulan pada bulan purnama.” [HR. Bukhari]
Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]

Tentang sifat mereka diterangkan pula di dalam riwayat Muslim dalam shahihnya dari hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu,

“…, kemudian selamatlah orang-orang mukmin, selamat pulalah kelompok pertama dari mereka yang wajah-wajah mereka seperti bulan pada malam purnama sejumlah 70.000 orang. Mereka tidak dihisab kemudian orang-orang setelah seperti cahaya bintang di langit, kemudian yang seperti mereka.”

Bagi kita semua kaum muslimin ada kabar gembira dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam di dalam hadits ini dan hadits-hadits lainnya. Adapun kabar gembira dalam hadits ini karena ada riwayat yang lain dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah dari hadits Abu Umamah dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata,

Rabbku ‘Azza wa Jalla telah menjanjikan kepadaku bahwa ada dari ummatku yang akan masuk surga sebanyak 70.000 orang tanpa hisab ataupun adzab beserta setiap ribu orang ada 70.000 orang lagi dan tiga hatsiyah dari hatsiyah-hatsiyah Allah ‘Azza wa Jalla.”

Kita memohon kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar Dia menjadikan kita termasuk golongan mereka. Bila anda hitung 70.000 orang menyertai setiap seribu orang dari yang 70.000 itu, berapakah jumlah seluruhnya bagi orang yang masuk surga tanpa hisab?!?

Dan berapa jumlah seluruh hatsiyah dari hatsiyah Allah yang Agung dan Mulia, Yang Penyayang dan Pengasih?
Adapun berita gembira yang kedua adalah bahwa jumlah ahli surga dari ummat ini dua pertiga (2/3) dari seluruh jumlah ahli surga, maka jumlah ummat Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang masuk surga lebih banyak dibanding jumlah seluruh ummat yang lalu. Berita gembira ini datang dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sebuah hadits ketika beliau bersabada kepada para sahabatnya pada suatu hari,

“Ridhakah kalian, kalau kalian menjadi seperempat (1/4) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, ‘Ridhakah kalian menjadi sepertiga (1/3) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, ‘Ridhakah kalian menjadi setengah (1/2) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, “Demi Allah yang jiwaku ada dalam tangan-Nya, sesungguhnya aku berharap kalian menjadi setengah (1/2) dari penduduk surga karena surga tidak akan dimasuki kecuali oleh jiwa yang muslim dan tidaklah jumlah kalian dibanding ahli syirik kecuali seperti jumlah bulu putih pada kulit sapi hitam atau seperti bulu hitam pada kulit sapi merah.” [HR. Bukhari 6047]

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyempurnakan berita gembiranya kepada kita dalam hadits shahih yang lain. Beliau berkata,

“…, Ahli surga 120 shaf, 80 shaf di antaranya dari ummatku, dan 40 shaf lagi dari ummat lainnya.” [HR. Tirmidzi 3469,lalu Tirmidzi berkata, “Ini hadits hasan.”]

Maka kita memuji Allah atas nikmatnya dan kita memohon karunia dan rahmat-Nya, dan semoga Dia menempatkan kita di surga dengan upaya dan anugrah-Nya, dan semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi kita Muhammad. [sym].
(Sumber: Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid//http://islamqa.info/id/4203).

Shalat Berjamaah di Rumah, Sama dengan Shalat di Masjid?

 

Shalat Berjamaah di Masjid, Gambar: Wahdah.or.id

Shalat Berjamaah di Masjid, Gambar: Wahdah.or.id

Shalat Berjamaah di Rumah, Sama dengan Berjamaah di Masjid?

Pertanyaan:

Saya sering shalat berjamaah di rumahku, apakah shalat di rumah secara berjama’ah pahalanya 27 derajat (juga)?

Jawaban:

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang tidak ada Nabi setelahnya. Wa ba’d.

Jika seseorang memiliki udzur yang menghalanginya shalat di Masjid dibolehkan ia shalat di rumah. Jika tidak memiliki udzur, maka tidak boleh. Karena shalat berjamaah wajib ditunaikan di masjid, kecuali bagi yang memiliki udzur, berdasarkan hadits;

من سمع النداء فلم يُجب ، فلا صلاة له إلاّ من عذر

Siapa yang mendengarkan panggilan adzan lalu tidak memenuhinya (Tidak menghadiri shalat jama’ah) maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur”. (terj. HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Hakim dengan sanad Shahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma).

Maksudnya shalatnya tidak sempurna, sebagaimana disebutkan oleh para Ulama. Hal ini menunjukan bahwa ia (yang shalat di rumah) tidak mendapatkan pahala yang sempurna. Wallahu a’lam, Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad Wa ‘ala Alihi Wa Shahbihi Ajma’in.(Sym)

(Sumber: Fatwa Syekh. Prof. DR. Nashir al-Umar hafidzahullah http://www.almoslim.net/node/53190).

Wanita Haid Masuk Masjid Untuk Mendengarkan Ta’lim, Bolehkah?

Wanita Haid Boleh Masuk Masjid?

Wanita Haid  Masuk Masjid Untuk Mendengarkan Ta’lim, Bolehkah?

Pertanyaan:

Bolehkah menyediakan tempat khusus dalam masjid untuk tempat belajar, agar wanita haid masuk masjid untuk belajar atau mengikuti ta’lim?

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Wanita haid tidak boleh masuk masjid dan berdiam di dalamnya, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata, “Kami diperintahkan (oleh Nabi) untuk menguarkan para wanita dan gadis pingitan pada hari Ied agar mereka menyaksikan kebaikan dan yang sedang haid memisah dari tempat shalat”. (Terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Jika pelajaran/ kajian berlangsung di dalam masjid, maka tidak boleh sama sekali bagi wanita haidh masuk ke dalamnya, baik untuk mengajar maupun belajar. Sebaiknya disediakan ruangan atau bangunan khusus untuk tempat wanita haid di luar Masjid. Wallahu a’lam. (Sumber: Fatwa Syekh Dr. Abdul Karim al Khudhair dalam http://www.almoslim.net/node/52127). [sym].

berwasiat

Berwasiat Untuk Dikuburkan di Suatu Tempat, Tapi Ditolak Oleh Pengelola Pemakaman

Pertanyaan:

Seorang pemuda menikah dengan sepupunya dari jalur ibu. Ia meminta (berwasiat, jika meninggal) untuk dikuburkan di pemakaman kakeknya dari jalur ibu. Tapi paman-pamannya dan para sepupunya dari jalur ibu menolak. Mereka menyuruh agar jenazah pemuda tersebut dimakamkan di pekuburan/pemakaman keluarga ayahnya. Apakah ia berhak meminta dikuburkan di pemakaman keluarga ibunya? Apakah para pamannya tersebut berhak melarang dikuburkan di pemakaman keluarga mereka?

Jawab:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بع

Pertama kita tekankan bahwa tidak mengapa (tidak berdosa) seseorang meminta (berwasiat) untuk dikuburkan di suatu tempat tertentu, dan permintaan [wasiat] nya harus ditunaikan. Tentu selama hal itu tidak mengandung masyaqqah (kesulitan). Syekh Ibnu Baz berkata, “Tidak apa-apa seseorang berwasiat untuk dikuburkan di pemakaman tertentu atau di samping (kuburan) seseorang. Karena hal itu kadang di suatu pekuburan terdapat kuburan orang-orang saleh, sehingga ia berharap dikuburkan bersama orang-orang saleh dan baik. Jika seseorang berwasiat seperti itu, maka hal itu tidak mengapa. Dan penerima wasiat harus melaksanakan wasiat tersebut jika mampu melaksanakannya. Namun jika sulit atau tidak mudah merealisasikan wasiat tersebut, karena tidak mampu, atau karena jarak yang jauh dijangkau atau sebab lain, maka tidak perlu menunaikan wasiat tersebut. Hendaknya dikuburkan di pemakaman kaum Muslimin yang ada”.

Adapun masalah khusus seperti yang ditanyakan, maka kembali kepada pengetahuan tentang kondisi pemakaman yang diminta oleh pewasiat. Jika pekuburan tersebut penuh dengan makam paman-pamannya (sebagaimana yang tersirat dari penolakan tersebut), dan paman-pamannya menolak karena sebab tersebut, maka mereka berhak menolak. Sehingga sipewasiat tidak boleh dikuburkan di pemakaman tersebut melainkan dengan idzin para pamannya (dari pihak ibu). Namun jika pemakaman tersebut merupakan Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang merupakan wakaf kepada kaum Muslimin maka mereka tidak berhak menolak dan melarang dikuburkan di tempat tersebut.
Di samping itu ahli waris tidak wajib menunaikan wasiat tersebut, tetapi sifatnya mandub saja sebagai bentuk ihsan (berbuat baik) kepada simayit. (sym)

Sumber: http://fatwa.islamweb.com/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=295222