Relawan Wahdah Peduli Evakuasi Korban Gempa di Daerah Pantai Tak Terjamah

Tim Evakuasi Wahdah Peduli Sisir di Daerah Pantai Tak Terjamah

Tim Evakuasi Relawan Wahdah Islamiyah kembali melakukan evakuasi dari korban meninggal dunia Gempa Palu dan Donggala, di pesisir Kampung Lere, Kecamatan Palu Barat.

(Palu) wahdahjakarta.com- Sebanyak 16 Relawan Wahdah Islamiyah yang merupakan gabungan dari LAZIS Wahdah dan Wahdah Peduli kembali melakukan evakuasi dari korban meninggal dunia Gempa Palu dan Donggala, di pesisir Kampung Lere, Kecamatan Palu Barat, Selasa (2/10/2018).

Korban yang dievakuasi diantaranya atas nama Baharuddin, berdasarkan pengakuan dari warga yang berada di lokasi.

Menurut Thomas Alfa Satrianto selaku tim Evakuasi, kondisi mayat sudah rusak, yang ditandai dengan hadirnya belatung dan tubuh yang membengkak.

“Kondisi mayat seperti ini karena telah berhari-hari sebagian anggota tubuhnya terendam oleh air laut dan terjepit diantara puing-puing rumah,” ujarnya.

Relawan Wahdah Peduli Rustam Hafid mengatakan, evakuasi dilakukan setelah sebelumnya mendapat laporan dari keluarga korban.

“Lokasi berada di bibir pantai, dan semua perumahannya porak poranda akibat terjangan gelombang tsunami,” tuturmya.

Dia menambahkan, masih ada beberapa korban yang berada dibawah reruntuhan rumahnya, dideteksi dari menyebarnya bau kurang sedap disekitaran lokasi.

“Sayang sekali belum ada kegiatan evakuasi di lokasi ini, padahal wilayah terdampaknya begitu luas,” imbuhnya.

Tim SAR Wadah Islamiyah masih akan terus melakukan kegiatan evakuasi, sambil meninjau lokasi-lokasi terdampak yang belum terjamah oleh kegiatan evakuasi. [fry/aha]

Hukum Menguburkan Jenazah Pada Malam Hari

Menguburkan Jenazah Pada Malam Hari

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukumnya apabila seorang Muslim meninggal pada malam hari apakah ia boleh dikebumikan pada malam tersebut untuk penguburannya ditunda sampai esok hari?

Jawaban:

Yang utama adalah menyegerakan penguburan nya Hal ini berdasarkan Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam;

لا ينبغي لجيفة مسلم أن تحبس بين ظهراني أهله

“Tidak pantas bagi jenazah seorang Muslim ditahan diantara keluarganya”.

Disebutkan juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda;

ثلاث لا يؤخرن

Tiga perkara yang dilarang untuk  ditunda pelaksanaannya kemudian boleh menyebutkan diantaranya adalah penguburan jenazah”. ( HR. Bukhari, Imam Ahmad Tirmidzi, dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih).

Seandainya tidak ada orang yang mengurusi jenazah tersebut atau tidak ada orang yang menggali kuburnya atau pula karena menunggu salah satu kerabat dekatnya untuk menshalatkannya, dan mereka yakin bahwa jenazah tersebut tidak berubah atau atau tidak mengeluarkan bau tidak sedap maka saat itu maka pada saat itu boleh ditunda penguburannya dengan alasan-alasan tersebut di atas.

Namun jika tidak ada alasan untuk menunda-Nya, maka yang utama adalah menyegerakan penguburannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasalla;

أسرعوا بالجنازة؛ فإن تك صالحة فخير تقدمونها إليه، وإن تك سوى ذلك فشر تضعونه عن رقابكم

Bersegeralah kalian menguburkan jenazah! Jika ia orang sholeh maka kebaikan yang kamu segera kan kepada-nya, dan jika tidak baik maka keburukan yang kalian lepaskan dari bahu bahu kalian”. (Muttafaq ‘alaih).

Sumber: Tanya Jawab Seputar Jenazah, Syaikh Abdul Azizz bin Muhammad Al-Arifi

Baru Mengetahui Bahwa Hari Asyura’ (10 Muharram) Pada Siang Hari

Baru Mengetahui Hari Asyura Siang Hari

Pertanyaan:

Jika pada tanggal 10 Muharram (hari Asyura’) ada salah seorang dari kami sudah makan, lalu setelah itu ia baru sadar bahwa pada hari tersebut adalah hari ‘Asyura’, maka apakah dibolehkan baginya untuk berpuasa pada sisa hari tersebut berdasarkan hadits berikut ini:

Penyeru Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– telah menyeru pada hari ‘Asyura’: “Barang siapa yang bangun di pagi hari dengan berniat puasa, maka hendaknya menyempurnakan puasanya dan barang siapa yang sudah makan maka janganlah makan pada sisa harinya.

Apakah di antara kalian sudah makan?, ia berkata: “Di antara kami ada yang sudah makan dan ada yang belum makan. Beliau bersabda: “Lanjutkanlah pada sisa harinya bagi yang sudah makan dan bagi yang belum makan, sampaikanlah kepada penduduk sekitar agar mereka menyempurnakan hari mereka, agar mereka semuanya berpuasa pada hari ‘Asyura’, barang siapa anda mendapatkan di antara mereka telah makan pada tengah hari maka hendaknya berpuasa pada akhir harinya”.

Jawaban:

Alhamdulillah

Dibolehkan bagi yang ingin berpuasa sunnah untuk berniat puasa pada pada tengah hari, berbeda dengan puasa wajib yang disyaratkan adanya niat pada malam harinya.

“Dan yang menjadi syarat sahnya puasa sunnah yang berniat pada siang hari adalah tidak adanya penghalang puasa sebelum berniat, seperti; makan, minum dan yang lainnya. Jika sebelum niat telah melakukan hal yang membatalkan puasa, maka puasanya tidak sah sebagaimana yang telah disepakati”. (Al Mulakhkhos Al Fiqhi: 1/393)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata:

Jika hal tersebut ditetapkan (puasa sunnah dengan niat pada siang hari), maka yang menjadi syaratnya adalah agar tidak makan sebelum berniat dan tidak mengerjakan hal yang membatalkan puasa, jika telah mengerjakan hal-hal yang membatalkan maka tidak sah puasanya, tanpa ada perbedaan dalam masalah ini sepengetahuan kami”. (Al Mughni: 3/115)

Adapun beberapa hadits yang ada tentang kondisi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang menyampaikan kepada masyarakat untuk menyempurnakan puasa ‘Asyura’, baik bagi mereka yang sudah makan atau yang belum makan sebelum berniat; karena pada saat itu puasa ‘Asyura’ hukumnya masih wajib bagi mereka.

Dan pada puasa wajib, diwajibkan bagi yang mengetahuinya pada tengah hari agar menahan makan dan minum sesaat setelah ia mengetahuinya.

Al ‘Aini berkata tentang puasa ‘Asyura’: “Dahulu (puasa ‘Asyura’) masih wajib”. (‘Umdatul Qari: 10/304)

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata:

“Dapat disimpulkan dari banyak hadits bahwa dahulu puasa ‘Asyura’ hukumnya wajib; karena adanya perintah untuk berpuasa, lalu dikuatkan perintahnya, kemudian ditambahkan lagi penguat pada ajakan berpuasa secara umum, kemudian ditambah lagi dengan adanya perintah bagi siapa saja yang sudah makan agar tetap menahan, kemudian ada perintah lagi kepada para ibu agar tidak menyusui anak-anak pada hari itu. Dan dengan ucapan Ibnu Mas’ud yang tertera dalam riwayat Muslim: “Pada saat diwajibkan puasa Ramadhan maka beliau meninggalkan puasa ‘Asyura’, sebagaimana diketahui bahwa yang ditinggalkan bukan sunnahnya, puasa ‘Asyura’ tetap ada, maka hal ini menunjukkan bahwa yang ditinggalkan adalah kewajiban puasa ‘Asyura’nya”. (Fathul Baari: 4/247)

Imam Nawawi berkata:

( مَنْ كَانَ لَمْ يَصُمْ فَلْيَصُمْ ، وَمَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيُتِمَّ صِيَامَهُ إِلَى اللَّيْلِ)

“Barang siapa yang tidak berpuasa maka berpuasalah, dan barang siapa yang sudah makan maka hendaknya menyempurnakan puasanya sampai malam tiba”.

Dan dalam riwayat yang lain:

( مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ )

Barang siapa yang pada pagi harinya berpuasa maka sempurnakanlah puasanya, dan barang siapa yang tidak berpuasa maka sempurnakanlah (puasanya) pada sisa harinya”.

Maksud dari kedua riwayat di atas adalah bahwa barang siapa yang sudah berniat untuk berpuasa maka sempurnakanlah, dan bagi siapa saja yang belum berniat dan belum sarapan atau sudah sarapan maka hendaknya menahan sepanjang sisa harinya untuk menghormati hari tersebut, sebagaimana seseorang yang tidak berpuasa pada hari ragu (H -1 hari raya idul fitri), lalu ternyata hari itu sebagai bulan Ramadhan, maka dia wajib menahan pada sisa harinya untuk menghormati hari Ramadhan tersebut”. (Syarah Shohih Muslim: 8/13)

Al Baaji berkata:

Hal ini sama kedudukannya dengan orang yang baru saja dapat kabar kepastian berpuasa, dan pada hari itu ditetapkan Ramadhan, maka dia wajib untuk menahan, baik sudah makan atau belum makan”. (Al Muntaqa Syarah Muwattha’: 2/58)

Adapun setelah diwajibkan puasa Ramadhan, dan puasa ‘Asyura’ menjadi sunnah, maka hukum tersebut tidak berlaku lagi, akan tetapi hukumnya seperti halnya puasa sunnah lainnya, boleh berpuasa sunnah dengan niat pada siang hari, namun disyaratkan agar tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang tidak ingat dengan ‘Asyura’ kecuali pada tengah hari, apakah boleh tetap menahan pada sisa harinya, padahal dia juga sudah sarapan ?

Beliau –rahimahullah– menjawab:

Jika dia tetap menahan pada sisa hari itu, maka puasanya tidak sah; karena dia sudah sarapan sebelumnya. Puasa sunnah itu akan sah mulainya di tengah hari bagi siapa saja yang belum sarapan sebelumnya. Adapun bagi mereka yang sudah sarapan sebelumnya maka tidak sah niat puasanya dengan menahan pada sisa harinya, dan karenanya upaya menahan tersebut tidak bermanfaat apa-apa kalau dia sudah makan dan minum atau perbuatan lainnya yang membatalkan puasa sebelumnya”. (Fatawa Nur ‘Ala Darb: 11/2 Sesuai dengan Maktabah Syamilah)

Wallahu A’lam .

Puasa Sembilan Hari di Bulan Dzulhijjah Termasuk Sunnah?

Puasa Sembilan Hari di awal Bulan Dzulhijjah Termasuk Sunnah?

Pertanyaan:

Apakah puasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk sunnah

Jawaban:

Puasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk sunnah berdasarkan hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dari Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu anh;  Beliau mengatakan bahwa;

أربع لم يكن يدعهن رسول الله صلى الله عليه وسلم صيام يوم عاشوراء والعشر وثلاثة أيام من كل شهر والركعتين قبل الغداة.

Ada empat amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam (yaitu) puasa Asyura puasa puasa ‘asyar (di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah), puasa tiga hari setiap bulan, dan shalat dua rakaat sebelum subuh”. (HR Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Hibban).

Dalam hadits laim dari  Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya…” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Hadits  ini merupakan dalil tentang disunnahkannya puasa pada 10 hari pertama bulan dzulhijjah.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari  ‘Aisyah radhiyallahu anha yang  mengatakan bahwa,  “Saya tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah”, telah dijelaskan oleh para ulama.

Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah beliau tidak puasa karena suatu sebab seperti sakit atau safar (perjalanan) atau sebab yang lainnya.

Selain itu tidak terlihatnya bepuasa tidak menunjukkan bahwa beliau tidak berpuasa sama sekali. Karena  Puasa merupakan amalan yang tidak nampak.  kemudian di satu sisi puasa merupakan amal shaleh yang sangat ditekankan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Karena pada hari-hari ini (sepuluh awal bulan Dzulhijjah) amal shaleh lebih utama dan lebih dicintai Allah. Oleh karena itu jelaslah bahwa puasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan sunnah. [sym].

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/ 

Istri Tidak Shalat dan Selalu Membantah

Istri Tidak Shalat dan Selalu Membantah

Pertanyaan;

Istriku selalu menyelisihiku dalam banyak hal seperti pendidikan anak, hubungan dengan kerabat, dan urusan rumah tangga lainnya. Apa yang harus saya lakukan? Saya juga sudah menyuruhnya untuk shalat membaca Al-Qur’an. Tetapi dia tidak nurut, mohon do’anya agar dia mendapat hidayah (petunjuk)

Jawaban:

Pertama,

Rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga yang dibangun di atas prinsip tafahum (saling memahami) dan saling mencintai, yang kemudian disempurnakan dengan saling mengasihi dan menyayangi (Mawaddah wa Rahmah) antara suami dan istri. Semua ini tidak akan terwujud dengan sempurna melainkan jika masing-masing menunaikan kewajibannya. Diantaranya kewajiban suami memberikan nafkah istri dan anak-anaknya, kewajiban istri untuk taat pada suami.

Jika istri mau merebut wewenang kepemimpinan rumah tangga (qawwamah) dari suami, atau melakukan tindakan nusyuz dan menolak untuk taat pada suami, maka sesungguhnya istri seperti ini telah merintuhkan bangunan rumah tangga dengan tangannya dan mengabaikan anak-anaknya dengan perbuatan buruknya tersebut.

Para istri hendaknya menyadari dan memahami bahwa ketaatan pada suaminya merupakan kewajiban syar’i. Dan para suami menempatkan kewenangan mereka sebagai pemimpin rumah tangga (qawwam) secara baik dalam membimbing, membina, dan membahagiakan istri dan keluarganya. Allah Ta’ala berfirman;

( الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِم ) النساء/34

Para istri juga hendaknya merenungkan hadits-hadit Nabi berikut;

 

  1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

’Andaikan saya boleh menyuruh seseorang sujud kepada orang lain, niscaya akan saya perintahkan wanita sujud kepada suaminya”. (HR.Tirmidzi, No. 1159 dan dishahihkan oleh Syekh Al-Albani)

  1. Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 ( ثَلَاثَةٌ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ آذَانَهُمُ : الْعَبْدُ الْآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ ، وَامْرَأَةٌ بَاَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ ، وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ )

Ada tiga orang yang shalatnya tidak  . . . .(1) Budak (hamba sahayaz) yang melarikan diri dari tuannya hingga dia kembali, (2) Istri yang tidur malam dalam keadaan suaminya murka padanya, dan (3) Pemimpin kaum yang dibenci oleh kaumnya (rakyatnya)”. (HR. Tirmidzi)

  1. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

( لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ لَا تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا ) . رواه الترمذي ( 1174 ) ، وصححه الألباني في ” صحيح الترمذي “

”Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari surga mengatakan, ‘janganlah engkau menyakitinya semoga Allah membinasakanmu, dia hanya sementara bersamamu, dia akan segera meninggalkanmu dan datang kepadaku”. (HR.Tirmidzi. No.1174 dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

  1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam brsabda;

 ( لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

 ‘’Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (di rumah) tanpa seidzin (suami) nya dan tidak boleh mengidzinkan orang lain masuk ke rumahnya tanpa seidzin suaminya”. (HR. Bukhari, No.4899 dan Muslim, No. 1026)

Syaikh Al-Albani rahimahullah mengomentasri hadits ini dengan mengatakan;

Jika seorang istri wajib mentaati suami dalam urusan menyalurkan syahwatnya, maka dalam urusan yang lebih penting dan lebih urgent tentu lebih wajib untuk taat pada suaminya, seperti dalam masalah pendidikan anak, pembinaan keluarga dan perbaikan rumah tangga dan hak-hak wajib lainnya”.

Selanjutnya Syekh Al-Albani mebgutip perkataan Ibn Hajar dalam Fathul Bari;

Hadits ini menunjukan bahwa hak suami atas istri lebih utama dari ibadah kebaikan yang sifatnya tathawwu’ (tambahan/sunnah), karena hak suami hukumnya wajib, sedangkan menunaikan yang wajib lebih didahulukan dari tathawwu’ (sunnah/tambahan)”. (Adab Zafaf, hlm. 210)

Kedua,

Suami hendaknya mencaritahu sebab-sebab pembangkangan (nusyuz) istrinya. Dengan mengenali dan mengetahui sebab-sebabnya akan memudahkan menemukan solusi untuk memperbaikinya, agar masing-masing aman dan selamat dari murka Allah. Kadang diantara faktor yang kadang menyebabkan istri berbuat nusyuz adalah suami sendiri. Misalnya maksiat atau kedurhakaan suami kepada Allah. Sebagian orang saleh zaman dahulu (Salafus Shaleh) ada yang mengatakan;

Kadang saya menemukan dampak dari kemaksiatanku pada hewan tunggangan (kendaraan) ku dan istriku”. Dampak tersebut berupa buruknya akhalaq istri dan keenggananan untuk menantaati suami. Artinya sikap buruk istri pada suami merupakan reaksi dan balasan dari akhlaq buruk suami kepada istrinya.

Diantara sebab lain adalah campurtangan keluarga, kerabat, tetangga atau teman-teman istri yang turut andil bersama Iblis dalam memisahkan pasangan suami-istri.

Jika sebabnya adalah dari istri seperti lemah iman, maka suami harus membantu mengingatkan untuk selalu ingat Allah. Suami hendaknya membantu istri dalam merawat dan menguatkan imannya. Suami juga hendaknya mengajari istri bagaimana seharusnya seorang istri menunaikan kewajiban terhada suaminya.

Jika istri belum berubah maka suami boleh memukul degan pukulan yang mendidik tanpa menyakiti. Jika belum berubah juga, maka pisah ranjang. Jika suami telah berusaha menempuh tahapan-tahapan untuk memperbaiki namun itsri tidak juga mengalami perubahan, maka tidak mengapa menceraikannya dengan talak satu. Kadang hal itu membuat istri sadar sehingga mau berubah dan kembali (rujuk) pada suaminya.

Dasar hukum tahapan-tahapan perbaikan masalah hubungan suami istri dan problem rumah tangga adalah firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 34;

( وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً ) النساء/34

Artinya, “

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (Qs. An-Nisa:34).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya”, yakni istri yang tidak taat pada suaminya atau durhaka kepada suami dengan perkataan dan perbuatan, maka suami hendaknya mendidiknya secara perlahan-lahan”.

maka nasehatilah mereka”, yakni jelaskan kepada mereka hukum-hukum Allah tentang kewajiban itsri untuk taat pada suami serta larangan durhaka kepadanya, diserati dengan motivasi untuk melakukan ketaatan dan peringatan dari perbuatan maksiat. Jika dia berhenti (dari sikal nusyuznya) maka inilah yang diharapkan . Jika tidak maka suami dapat memboikotnya di tempat tidur dengan tidak menidurinya dan tidak menggaulinya. Jika belum berubah juga maka suami boleh memukul dengan pukulan yang tidak melukai. Jika maksud dan tujuan telah tercapai dengan salah satu dari langkah-langkah perbaikan ini dan istri telah taat pada suami”, maka

“janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya”, maksudnya jika yang kalian inginkan telah tercapai maka lupakanlah apa yang telah terjadi sebelumnya, janganlah mencela, dan janganlah menyebut-nyebut aib yang telah lalu,karena hal itu dapat menyebabkan keburukan yang baru”. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 142).

Yang pasti seorang suami adalah orang paling tahu tentang istrinya, jika dia mengetahui sebab nusyuznya istrinya berupa sesuatu yang dapat diperbaiki, maka hendaknya dia berusaha memperbaikinya. Jika tidak berhasil maka hendaknya melibatkan kelurga masing-masing sebagai mediator.  Sebab kadang pihak luar (keluarga/kerabat) lebih berpengaruh dari nasehat suami sendiri.

Ketiga,

Jika istri tidak  mengerjakan shalat, maka suami wajib untuk memulai penyelesaian problem rumah tangga dengan masalah sahalat. Karena shalat merupakan identitas uatama seorang Muslim (ah) sekaligus pembeda antara Muslim dengan orang kafir dan musyrik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 ( إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ ) . رواه مسلم ( 116

Pembeda seorang Muslim dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. (HR. Muslim, No.116).

Dalam hadits riwayat Tirmidzi beliau bersabda;

( إِنَّ الْعَهْدَ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ (

Perjanjian antara kami dengan mereka (orang kafir) adalah Shalat, siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja maka ia telah kafir” (HR. Tirmidzi, No.2621, Nasai No. 463, dan Ibnu Majah, No.1079 serta dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

Oleh karena itu anda hendaknya mendidik dan membimbingnya untuk mengerjakan shalat dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan. Anda harus mengingatkannya bahwa meninggalkan shalat dapat menyebabkan kekufuran. Jika dia nurut, maka alhamdulillah. Namun jika dia tidak patuh (tidak mau shalat) maka tidak solusi lain untuk menyelasaikan masalah nusyuznya. Semoga Allah memberikan hidayah kepadanya untuk mengerjakan shalat serta membimbing hatinya kepada kebaikan dan mengurunianya syukur nikmat. [sym]

Sumber: https://islamqa.info/ar/98624

Berbakti Kepada Ayahanda Yang Telah Meninggal Dunia, Bagaimana Caranya?

Berbakti Kepada Ayahanda Yang Telah Meninggal Dunia, Bagaimana Caranya?

 Pertanyaan:

Saya menyampaikan pertanyaan ini di tengah perasaan galau pasca meninggalnya ayah saya sejak dua tahun yang lalu. Sementara ayah saya termasuk yang agak teledor akan kewajibannya kepada Allah, di antaranya adalah:

Beliau tidak selalu menjaga shalat lima waktu, terkadang beliau shalat dan terkadang beliau tidak shalat karena malas, bukan karena mengingkari wajibnya shalat.

Beliau jarang berpuasa Ramadhan dengan alasan karena sakit, dan selalu mengkonsumsi obat jantung, atau karena lemah tidak mampu melaksakan, akan tetapi beliau termasuk perokok, saya mengira penyebab beliau tidak berpuasa adalah karena sulitnya meninggalkan rokok.

Dahulu kami mempunyai toko, dan menurut sepengetahuan saya beliau tidak mengeluarkan zakat dari barang-barang yang ada di toko tersebut, secara ekonomi kami mengalami kesulitan, bisnis kami juga tidak mendapatkan keuntungan, toko pun akhirnya terjual.

Sepertinya beliau pernah mempunyai sejumlah harta yang memungkinkannya untuk pergi haji, namun beliau tidak melaksanakannya. Beliau selalu menyampaikan kepada saya bahwa beliau ingin pergi haji akan tetapi beliau tidak bisa. Beliau mempunyai banyak masalah dan berbahaya di kedua matanya, beliau sangat menghindari sinar matahari langsung dan kecapean. Namun setelah beliau meninggal dunia ada sebagian orang yang menghajikan beliau sepertinya ada tiga orang dan bukan berasal dari kerabatnya.

Saya sangat mencintai ayah saya, semua yang mengenalnya juga mencintainya.

Oleh karenanya saya berharap kepada anda agar menjelaskan kepada saya tentang apa yang memungkinkan saya kerjakan sebagai bakti saya kepada ayah saya, saya mencintainya dan mengkhawatirkan beliau tertimpa adzab kubur dan adzab pada hari kiamat. Saya ingin berbakti kepada ayahanda setelah beliau wafat.

Jawaban:

Alhamdulillah

Jika anda ingin berbakti dan memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada ayah anda setelah beliau meninggal dunia, maka anda bisa melakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Mendoakannya dengan tulus, Allah –Ta’ala- berfirman:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ . رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (سورة إبراهيم: 40-41

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do`aku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (QS. Ibrahim: 40-41)

 Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ) رواه مسلم، رقم 1631

Jika seorang manusia meninggal dunia terputuslah semua amalnya kecuali 3 perkara: 1) shadaqah jariyah, 2). Atau ilmu yang bermanfaat, 3) atau anak shaleh yang mendoakannya”. (HR. Muslim: 1631)

Dalam hadits lain Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– juga bersabda:

 إِنَّ الله تَبَارَكَ وتَعالى لَيَرْفَعُ لِلرَّجُلِ الدَّرَجَةَ ، فَيَقُولُ : أَنَّى لِي هَذِهِ ؟ فَيَقُولُ : بِدُعَاءِ وَلَدِكَ لك (رواه الطبراني، ص: 375 وعزاه الهيثمي في مجمع الزوائد، 10/234 للبزار، ورواه البيهقي في السنن الكبرى، 7/78

Sesungguhnya Allah –Tabaraka wa Ta’ala- akan mengangkat derajat seseorang. Maka orang itu bertanya, “Dari mana saya mendapatkan semua ini?” Maka Allah berfirman: “Dari doa anakmu”. (HR. Thabrani pada bab doa: 375, disebutkan juga oleh Al Haitsami dalam Majma’ Zawaid (10/234) karya Al Bazzar, dan Baihaqi di dalam As Sunan Al Kubro (7/78)

  1. Bershadaqah atas nama beliau,
  2. Melaksanakan haji dan umrah atas nama beliau, menghadiahkan pahala keduanya untuk beliau, untuk masalah ini telah kami rinci pembahasannya.
  3. Melunasi hutangnya, sebagaimana telah dilakukan oleh Jabir dengan hutang ayahandanya Abdullah bin Haram –radhiyallahu ‘anhuma– setelah diperintah oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari: 2781.

Adapun puasa Ramadhan yang telah beliau tinggalkan dan pembayaran zakat maka hal ini termasuk yang tidak mungkin dikerjakan oleh anaknya, jika seorang muslim bersengaja teledor pada dua kewajiban tersebut, maka dia harus menanggung dosanya, tidak bisa seseorang menanggung orang lain, seperti halnya juga shalat maka tidak bisa shalat seseorang menggantikan shalat orang lain.

Allah –‘azza wa jalla– telah mengabarkan kepada kita bahwa seorang muslim akan diberi balasan dari perbuatannya, jika baik maka akan mendapatkan balasan kebaikan, dan jika buruk maka akan mendapatkan balasan keburukan. Allah –Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (سورة الزلزلة: 7-8

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Kecuali jika Allah mengampuni keburukan dengan rahmat dan karunia-Nya.

Hanya saja zakat itu mirip dengam hutang, nah zakat ini menjadi hak para mustahik zakat, maka anda wajib mengira-ngira seberapa banyak zakat beliau yang belum dibayarkan selama masa hidupnya, lalu anda yang membayarkannya, semoga hal itu akan menjadi sebab yang meringankan di alam kubur.

Semoga Allah memberikan balasan yang baik kepada anda yang telah mencintai ayah anda dan upaya untuk berbakti kepadanya dan berharap agar Allah mengampuninya. Wallahu A’lam.

[Sumber: https://islamqa.info/id]

Bertaubat Tapi Tidak Menyesal, Sahkah Taubatnya?

Bertaubat Tapi Tidak Menyesal, Sahkah Taubatnya?

Pertanyaan:

Sahkah Taubat tanpa disertai dengan penyesalan atas dosa pada masa lalu? apa makna penyesalan sebagai syarat diterimanya taubat?

Jawaban:

Pertama,

Syarat Taubat yang benar adalah;

  1. Meninggalkan
  2. Menyesali dosa yang telah Lalu.
  3. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut

Jika Taubat dari kezaliman kepada sesama hamba berupa kezaliman dalam harta, kehormatan, atau jiwa maka dipersyaratkan syarat yang keempat yaitu meminta kehalalan dari pemilik hak atau mengembalikan hak kepada pemiliknya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada hambaNya untuk melakukan taubat nasuha;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). (QS.At-Tahrim ayat 8).

Imam Al-Baghawai berkata, “Para ulama berbeda pendapat tentang makna taubat nasuha”.

Menurut Umar Bin Khattab Ali bin ka’ab bin Muadz Bin Jabal radhiyallahu ‘anhum,

Bahwa taubat nasuha adalah seseorang bertaubat kemudian tidak kembali kepada perbuatan dosa tersebut sebagaimana susu tidak kembali kepada sebagaimana air susu tidak kembali kepada asalnya”.

Hasan Al Bashri berkata,

Taubat nasuha adalah seseorang menyesali dosa yang telah lalu disertai Azzam tekad untuk tidak mengulanginya”.

Al-Kalbi berkata;

Taubat nasuha adalah beristighfar dengan lisan menyesali dengan hati dan menahan anggota badan dari mengulangi perbuatan dosa”.

Said bin Musayyib berkata;

Taubat Nasuha adalah Taubat yang tulus dari jiwa kalian yang paling mendalam”.

Al-Qurthubi taubat nasuha harus mencakup empat hal, (1) Istighfar dengan lisan (perkataan), (2) Meninggalkan dengan anggota badan, (3) Hati bertekad untuk tidak mengulangi dosa, dan (4) Menjauhi teman-teman yang buruk. (Tafsir Al-Baghawi, 4/430-431).

Kedua

Penyesalan merupakan syarat utama atau rukun taubat yang paling agung dari Abdullah bin Muhsin bin Muqrin dari Ayahnya, dari  Abdullah Bin Masud radhiyallahu Anhu, beliau berkata, saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

“النَّدَمُ تَوْبَةٌ”

Sesal Itu Taubat” (HR Ahmad 4012 dan dishahihkan oleh al-Albani).

Sebagian ahli ilmu berkata cukuplah seseorang itu dianggap bertaubat Jika dia menyesal karena Penyesalan akan membuat seseorang meninggalkan dosa dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa sebab meninggalkan dosa dan bertekad untuk tidak mengulangi nya muncul dari penyesalan Bukan dari yang lainnya Fathul Bari 13471

Al-qari rahimahullahu berkata Sesal Itu Taubat karena dia mengandung konsekuensi yang lain yaitu meninggalkan dosa dan berazam atau bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa serta mengembalikan hak-hak sesama manusia

Maksudnya menyesali menyesali dosa karena menganggap dosa tersebut sebagai maksudnya menyesali perbuatan maksiat karena dia merupakan kedurhakaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. [sym].

Sumber: https://islamqa.info/ar/289765

 

Cara Memilih Calon Istri

Cara Memilih Calon Istri

Cara  Memilih Calon  Istri

Pertanyaan:

Bagaimanakah caranya memilih calon istri dari sisi kecantikannya, keturunan dan agamanya ?  Terima kasih.

Jawaban:

Sunnah Nabi telah menjelaskan sifat-sifat seorang wanita yang seharusnya diupayakan oleh setiap laki-laki, sifat-sifat tersebut bisa disimpulkan sebagai berikut: perawan, baik agamanya, keturunannya, cantik dan kaya, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ ) رواه البخاري (4802) ومسلم (1466

Wanita itu dinikahi karena empat hal: kaya, berasal dari keturunan yang baik, cantik dan karena agamanya. Maka beruntunglah dengan yang agamanya baik, maka akan menjadikanmu tenang”. (HR. Bukhori: 4802 dan Muslim: 1466)

Jika telah berkumpul semua sifat itu pada diri seorang wanita, maka dialah yang baik dan sempurna, kalau tidak maka hendaknya lebih mengutamakan yang lebih penting dan lebih utama. Dan yang terpenting adalah yang baik agamanya dan shalihah, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا : الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ) رواه مسلم (1467

Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah”. (HR. Muslim: 1467)

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah ditanya: wanita yang bagaimanakah yang paling baik ?, beliau menjawab:

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ ) رواه النسائي (7373) . وحسنه الألباني في “السلسلة الصحيحة” (1838

Adalah wanita yang menyenangkan jika dipandang, mentaatinya jika disuruh, dan tidak menyelisihinya dalam diri dan hartanya dengan apa yang tidak disenangi olehnya”. (HR Nasa’i: 7373 dan dihasankan oleh al Baani dalam Silsilah ash Shahihah: 1838).

Bolehkah Nadzor (Melihat) Tunangan Lebih Dari Satu Kali dan Ngobrol Bersama

Nadzor

 Nadzor (Melihat) Tunangan Lebih Dari Satu Kali dan Ngobrol Bersama?

Pertanyaan:

Saya telah meminang seorang wanita, namun pada saat prosesi nadzo r (melihat) dia terlihat sangat malu, sampai-sampai saya tidak bisa melihat dengan jelas karena dia sangat tersipu malu.

Pertanyaannya adalah Apakah saya boleh minta izin kepada keluarganya untuk melihatnya lagi, dan duduk bersama untuk bercakap-cakap dengannya sebelum adanya kesepakatan dan proses pinangan selesai ?

Terima kasih

Jawaban:

Alhamdulillah

Bagi seorang peminang boleh melihat wanita pinangannya, duduk bersama dan bercakap-cakap dengannya, meskipun terjadi lebih dari satu kali, selama masih ada keraguan dalam dirinya hingga benar-benar yakin dan masing-masing saling menerima, namun dengan syarat tidak terjadi kholwat (berduaan), dan dalam batasan pembicaraan yang wajar dan semestinya.

Jika telah terjadi khitbah (pinangan) atau sebaliknya, maka hukum kembali kepada asalnya, yaitu; haram melihatnya kembali; karena sebab yang membolehkannya sudah berlalu.

Yang mendasari hukum di atas adalah sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ ، فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا ، فَلْيَفْعَلْ). رواه أبو داود (2082) وحسنه الحافظ ابن حجر في “فتح الباري” (9/181(

 “Jika salah seorang dari kalian meminang seorang wanita, maka apabila dia bisa melihatnya hingga memiliki hasrat untuk menikahinya, maka hendaknya dia melakukannya”. (HR. Abu Daud (2082) dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari: 9/181)

Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah– berkata: “Dibolehkan mengulangi untuk melihatnya… Jika pada prosesi melihat yang pertama belum ada hasrat untuk menikahinya, maka hendaknya melihatnya yang kedua kali dan ketiga kalinya”. (Asy Syarhul Mumti’: 12/21)

Syeikh Ibnu Baaz berkata: “Dibolehkan bagi seseorang yang mau meminang seorang wanita untuk bercakap-cakap dengannya dan melihatnya namun tidak dengan khalwat (berduaan)…., jika percakapannya seputar pernikahan, tempat tinggal dan latar belakangnya, apakah dia mengetahui ini dan itu, maka hal itu tidak masalah jika dia memang mau meminangnya”. (Majmu’ Fatawa: 20/429).

Dan di dalam al Mausu’ah al Fiqhiyah (22/17) disebutkan:

Dibolehkan mengulangi prosesi nadzor (melihatnya) jika dibutuhkan agar menjadi jelas semuanya, dan tidak menyesal setelah menikahinya; karena biasanya tujuannya tidak tercapai hanya dengan melihatnya satu kali”.

Sumber: Islamqa.id.info

Da’i Ikut Nyaleg dan Masuk Parlemen, Ini Fatwa Syaikh bin Baz

Anggota Dewan

Da’i Ikut Nyaleg dan Masuk Parlemen, Ini Fatwa Syaikh bin Baz

 Da’i koq nyaleg dan masuk parlemen”. Begitu komentar sebagian orang ketika ada aktivis dakwah yang terjun ke kancah politik praktis dengan ikut mencalonkan diri sebagai anggota dewan atau nyaleg.

Masalah ini pernah ditanyakan kepada Mufti Kerajaan Saudi Arabia yang lalu  Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah. Menurut beliau orang yang memiliki pijakan yan kuat dan landasan ilmu boleh masuk ke dalamnya, dengan syarat tujuan dan motivasinya untuk menegakkan kebenaran dan mengarahkan manusia kepada kebaikan serta menghambat kebatilan.

“Tujuan utamanya bukan untuk kepentingan dunia atau ketamakan terhadap harta, ia masuk benar-benar hanya untuk menolong agama Allah, memperjuangkan yang haq dan mencegah kebatilan, dengan niat baik seperti ini, maka saya memandang tidak mengapa melakukan hal itu”, terangnya.

“Bahkan seyogyanya dilakukan agar dewan dan majelis seperti itu tidak kosong dari kebaikan dan pendukung-pendukungnya”, tegasnya.

Berikut fatwa beliau selengkapnya;

***

Pertanyaan:

Banyak penuntut ilmu syar’i yang bertanya-tanya tentang hukum masuknya para du’at dan ulama ke dalam dewan legislatif dan parlemen, serta turut serta dalam pemilihan umum di negara yang tidak menjalankan syari’at Allah. Maka apakah batasan untuk hal ini ?

Jawaban :

Masuk ke dalam parlemen dan dewan legislatif adalah sangat berbahaya.  Masuk ke dalamnya sangatlah berbahaya. Akan tetapi barang siapa yang masuk ke dalamnya dengan landasan ilmu dan pijakan yang kuat, bertujuan menegakkan yang haq dan mengarahkan manusia kepada kebaikan serta menghambat kebatilan, tujuan utamanya bukan untuk kepentingan dunia atau ketamakan terhadap harta, ia masuk benar-benar hanya untuk menolong agama Allah, memperjuangkan yang haq dan mencegah kebatilan, dengan niat baik seperti ini, maka saya memandang tidak mengapa melakukan hal itu, bahkan seyogyanya dilakukan agar dewan dan majelis seperti itu tidak kosong dari kebaikan dan pendukung-pendukungnya. (Ini) bila ia masuk (dalam perlemen) dengan niat seperti ini dan ia mempunyai pijakan yang kuat agar ia dapat memperjuangkan dan mempertahankan yang haq serta menyerukan untuk meninggalkan kebatilan. Mudah-mudahan Allah memberikan manfa’at dengannya hingga (dewan) itu dapat menerapkan syari’at (Allah).  Dengan niat dan maksud seperti ini disertai ilmu dan pijakan yang kuat, maka Allah Jalla wa ‘Ala akan memberinya balasan atas usaha ini.

Akan tetapi jika ia masuk ke dalamnya dengan tujuan duniawi atau ketamakan untuk mendapatkan kedudukan, maka tidak diperbolehkan. Sebab ia harus masuk dengan niat mengharapkan Wajah Allah dan negeri Akhirat, memperjuangkan dan menjelaskan yang haq dengan dalil-dalilnya agar semoga saja dewan dan majelis itu mau kembali dan bertaubat kepada Allah.

(Fatwa ini dimuat dalam majalah Al Ishlah edisi 242-27 Dzulhijjah 1413 H/23 Juni 1993 M. Adapun terjemahan ini dinukil dari buku Ash Shulhu Khair terbitan Jama’ah Anshar As Sunnah Al Muhammadiyah di Sudan).