Adab-Adab Shalat [03]

 

Adab Shalat

Adab-Adab Shalat [03]

Sambungan dari Tulisan Sebelumnya

  1. Tenang dan Thuma’ninah dalam melakukan setiap Gerakan dan Rukun-rukun Shalat; Tidak Cepat- cepat atau Terburu-buru

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

Tidaklah seorang muslim yang apabila hadir waktu shalat fardhu ia membaguskan wudhunya, khusy’unya, dan ruku’nya kecuali shalatnya akan menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama tidak melakukan dosa besar dan yang demikian itu berlaku selamanya”.  (HR Muslim).

  1. Berusaha Menahan Diri Sekuat Mungkin Untuk Tidak Menguap atau bersendawa ketika sholat dan Rendahkanlah Suara Apabila Terpaksa atau Tidak Tertahankan

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

 إنّ التثاؤب  في الصلاة من الشيطان ، فإذا وجد أحدكم ذلك فليكظم

Sesungguhnya menguap ketika salat adalah dari setan jika salah seorang dari kalian ingin menguap maka tahanalah (HR.  Ibnu Hibban).

  1. Bersegeralah Untuk Melakukan Shalat di Awal waktu dan Tidak Mengalirkannya Tanpa Udzur.

Jangan malas karena hal itu merupakan ciri-ciri orang munafik sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala;

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ [٩:٥٤

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. (QS. At-Taubah: 54).

 12. Duduk   di Tempat Shalat Setelah Selesai Setiap Shalat Fardhu untuk Istighfar Berdzikir dan Berdo’a

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;

Barangsiapa bertasbih setelah selesai setiap salat fardhu 33 kali, bertahmid 33 kali, bertakbir 33 kali, total berjumlah 99 Kali, dan Ia sempurnakan seratus  dengan mengucapkan Laa ilaha illallahu Wahdahu Laa Syariikalahu  Lahul Mulku Walahul Hamdu Wa huwa ‘ala Kulli syai-in Qadir (Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata yang tidak ada sekutu baginya hanya miliknya kerajaan dan hanya miliknya Segala pujian dan dia maha kuasa segala sesuatu) maka dosa-dosanya diampuni  sekalipun seperti buih di lautan“. (HR.  Muslim).

Bersambung insya Allah. [sym].

Sumber: Panduan Adab-Adab Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.

Cara Memilih Calon Istri

Cara Memilih Calon Istri

Cara  Memilih Calon  Istri

Pertanyaan:

Bagaimanakah caranya memilih calon istri dari sisi kecantikannya, keturunan dan agamanya ?  Terima kasih.

Jawaban:

Sunnah Nabi telah menjelaskan sifat-sifat seorang wanita yang seharusnya diupayakan oleh setiap laki-laki, sifat-sifat tersebut bisa disimpulkan sebagai berikut: perawan, baik agamanya, keturunannya, cantik dan kaya, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ ) رواه البخاري (4802) ومسلم (1466

Wanita itu dinikahi karena empat hal: kaya, berasal dari keturunan yang baik, cantik dan karena agamanya. Maka beruntunglah dengan yang agamanya baik, maka akan menjadikanmu tenang”. (HR. Bukhori: 4802 dan Muslim: 1466)

Jika telah berkumpul semua sifat itu pada diri seorang wanita, maka dialah yang baik dan sempurna, kalau tidak maka hendaknya lebih mengutamakan yang lebih penting dan lebih utama. Dan yang terpenting adalah yang baik agamanya dan shalihah, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا : الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ) رواه مسلم (1467

Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah”. (HR. Muslim: 1467)

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah ditanya: wanita yang bagaimanakah yang paling baik ?, beliau menjawab:

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ ) رواه النسائي (7373) . وحسنه الألباني في “السلسلة الصحيحة” (1838

Adalah wanita yang menyenangkan jika dipandang, mentaatinya jika disuruh, dan tidak menyelisihinya dalam diri dan hartanya dengan apa yang tidak disenangi olehnya”. (HR Nasa’i: 7373 dan dihasankan oleh al Baani dalam Silsilah ash Shahihah: 1838).

Adab-Adab dalam Shalat (2)

Adab dalam Shalat

Adab-Adab dalam Shalat (2)

Sambungan dari tulisan sebelumnya

Ke.5 lima, Memasuki shalat dengan tenang dengan menghadapkan hati kepada Allah Azza wa Jalla dan dengan anggota badan yang tenang tawadhu rendah hati dan khusyu’ Di hadapan-Nya. Juga  dengan penuh rasa hina diri ketundukan dan haibah (takut kepada kebesaran Allah).

Allah Ta’ala berfirman;

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ [٢٣:١]  الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ [٢٣

Sungguh beruntung orang orang mukmin, yakni mereka yang khusyuk dalam shalatnya (Qs. al-Mu’minun 1-2).

Ke.6, Tidak Menolehkan Muka, Tertawa atau Mempermainkan Pakaian dengan Tangan Ketika shalat

Aisyah radhiyallahu anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah ditanya mengenai berpaling dalam shalat maka beliau bersabda; “Itu (berpaling dalam shalat) merupakan pencurian yang dilakukan oleh setan dari shalat seorang hamba”. (HR Bukhari).

Ke.7. Memandang ke Tempat Sujud dan Menghindari Pandangan ke Langit (diatas)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Mengapa suatu Mengapa suatu kaum menengadahkan pandangan matanya ke langit ketika shalat Rasulullah mengatakan hal itu dengan penuh penekanan hingga beliau bersabda mereka harus benar-benar berhenti maka mata mereka akan benar-benar disambar”. (HR. Bukhari).

Ke. 8 Memelihara Kesadaran (bertafakur) dan Merenungkan Makna Ayat-ayat dan Dzikir- dzikir yang Dibaca.  Hindari  kelalaian dan lupa dalam shalat.

Allah Ta’ala berfirman;

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ [١٠٧:٤]﴿٤﴾  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ [١

“Maka kecelakaan lah bagi orang-orang yang salat yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya” (Qs. al-Maun 4-5).

Al-Wail adalah siksaan di neraka bagi orang-orang yang menghasilkan salatnya hingga keluar dari waktunya dan Siksa ini disediakan pula bagi orang yang melakukan salat dengan tubuh dan lisannya saja, sedangkan hatinya tidak khusyu’,  tidak merenungkan apa apa yang mereka baca.  Maka shalat mereka tidak berpengaruh bagi jiwa dan amal perbuatannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

Sesungguhnya seseorang ada yang selesai dari shalatnya akan tetapi tidak dicatat baginya dari shalatnya kecuali hanya sepersepuluhnya, sepersembila nya, seperdelapannya, Sepertujuhnya,  seperenamnya seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya,  atau seperdua nya”. [Bersambung insya Allah]

(Panduan Adab-Adab dalam Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah, hlm. 20-24).

Sahkah Jika Jama’ah Wanita Shalat disamping Jama’ah Laki-Laki dengan Pembatas?

Sahkah Jika Jama'ah Wanita Shalat disamping Jama'ah Laki-Laki dengan Pembatas

Sahkah Jika Jama’ah Wanita Shalat disamping Jama’ah Laki-Laki dengan Pembatas

Sahkah Shalat Jama’ah Wanita disamping Jama’ah Laki-Laki dengan Pembatas?

Pertanyaan:

Di negara kami ada masjid, wanitanya shalat di samping laki-laki tapi diantara keduanya ada pembatas tembok. Apakah prilaku ini sah ataukah wanita shalatnya harus dibelakang laki-laki?

Jawaban:

Alhamdulillah

Pertama, kalau jama’ah wanita shalat sejajar (disamping) laki-laki dan diantara keduanya ada pembatas baik dinding atau tempat kosong memungkinkan untuk shalat, maka shalatnya sah menurut kebanyakan ahli ilmu dari Madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyyah dan Hanabilah. Adanya perbedaan diantara mereka manakala shalat di sampingnya tanpa ada pembatas. Pendapat Hanafiyah (mengatakan), bahwa batal shalatnya tiga orang laki-laki. Satu disamping kanan, yang lain samping kiri dan ketiga dibelakangnya. Dengan syarat-syarat yang telah mereka sebutkan. Hasilnya adalah wanita itu sudah ‘Musytaha’ yaitu telah berumur tujuh tahun atau yang sudah layak untuk digauli, menurut perbedaan dalam madzhab. Dan ikut dengan laki-laki dalam shalat mutlak yaitu yang ada ruku’ dan sujud. Sama-sama dalam larangan dan pelaksanaan. Dan hendaklah imam telah berniat untuk mengimami (wanita) atau menjadi imam kalangan wanita secara umum. Dengan perincian lainnya, dapat diketahui dengan merujuk ke kitab-kitab mereka. Silahkan melihat kitab AL-Mabsut, 1/183. Badai’ sonai’, 1/239. Tabyinul Haqaiq, 1/ 136-139.

An-Nawawi rahimahullah berkata dalam menjelaskan perbedaan dalam masalah, kesimpulan madzhab Hanafiyah adalah kalau laki-laki shalat sementara disampingnya ada wanita. Shalatnya tidak batal (baik) laki-laki maupun wanita. Baik dia sebagai imam atau makmum. Ini adalah madzhab kami (Syafiiyyah), dan juga pendapat Imam Malik dan kebanyakan (ulama’). Abu Hanifah mengatakan, kalau wanita (dalam kondisi) tidak shalat atau dalam kondisi shalat tapi tidak bersama shalat dengan dia. Maka shalatnya sah baik laki-laki maupun wanita. Kalau (wanita) dalam kondisi shalat ikut bersama dengan (laki-laki) –tidak dikatakan kebersamaan menurut Abu Hanifah kecuali kalau imamnya berniat menjadi imam para wanita- kalau wanita ikut bersamanya, jika ada laki-laki berdiri disampingnya. Maka shalatnya batal orang yang (berdiri) disamping wanita. Sementara shalat wanita tersebut tidak batal. Bagitu juga (tidak batal) orang yang shalat disela setelah selanya. Karena antara (wanita) dengan laki-laki ada penghalang. Kalau wanita di shaf diantara yakni imamnya, maka shalat orang yang sejajar dibelakangnya batal, dan tidak batal orang yang shalat sejajar dengan jajaran wanita. Karena ada penghalang. Kalau para wanita membuat shaf dibelakang imam, sementara dibelakang mereka ada shaf laki-laki. Maka shalat yang ada dishaf setelah (shaf para wanita) batal. Berkata, sebenarnya qiyas (analoginya) tidak batal shalat yang ada dibelakang shaf diantara shaf-shaf karena ada penghalang. Akan tetapi kami katakan, shaf para laki-laki dibelakangnya batal meskipun ada seratus shaf karena istihsan. Kalau wanita berdiri di samping imam, maka shalat imam batal karena wanita ada di sampingnya. Dan madzhabnya, kalau shalat imam batal, maka shalat para makmum juga batal. Dan shalat (wanita) itu juga batal karena dia termasuk bagian dari makmum.

Madzhab ini lemah hujjahnya. Nampak berpegang teguh dengan perincian yang tidak ada asalnya. Pegangan kami bahwa shalatnya sah sampai ada dalil shoheh syar’i yang menjelaskan batalnya (shalat) padahal mereka tidak punya (dalil). Teman-teman kami (semadzhab) mengkiyaskan berdirinya (wanita) dengan berdirinya dalam shalat jenazah, (maka shalatnya) tidak batal menurut mereka. (Al-Majmu’, 3/331 Dengan sedikit ringkasan).

Sementara kalau ada penghalang, madzhab Hanafi dan mayoritas ulama’ bersepakat bahwa shalatnya tidak ada yang batal salah satu diantara keduanya, sebagaimana di kitab ‘Tabyinul Haqoiq, 1/138.

Kedua, tidak diragukan bahwa yang sesuai sunnah adalah shaf para wanita dibelakang para lelaki. Sebagaimana kondisi zaman Nabi sallallahu’alaihi wa sallam. Telah diriwayatkan oleh Bukhori, 380 dan Muslim, 658. Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu bahwa neneknya Mulaikah mengundang Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam untuk makan-makan yang telah dibuatnya. Kemudian (beliau) mengatakan, berdirilah kamu semua untuk menunaikan shalat bersama kami. Anas berkata: ”Saya berdiri ke tikar yang kami punya sudah menghitam dikarenakan lama dipakai, dan kami percikkan air. Maka Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam berdiri sementara saya dan anak yatim membuat shaf dibelakangnya. Dan orang tua (nenek) dibelakang kami. Maka Rasulullah sallallahu’alaih wa sallam shalat bersama kami dua rakaat kemudian pulang.

Al-Hafidz (Ibnu Hajar) mengomentari dalam kitab Fath, ‘’dalam hadits ini banyak  faedahnya… (Shaf) wanita berada di belakang shaf para lelaki. Dan berdirinya wanita sendirian dalam shaf dikala tidak ada wanita lainnya”.

Akan tetapi kalau terjadi seperti apa yang anda sebutkan bahwa para wanita sejajar dengan para lelaki, maka shalatnya sah wal hamdulillah.

Wallahu’alam . [islamqa.info.id].

Sujud Sahwi, Sebelum Salam Atau Setelah Salam?

Sujud Sahwi

 

Sujud Sahwi, Sebelum Salam Atau Setelah Salam?

Pertanyaan:

Assalamu alaikum ustadz mohon penjelasan tentang sujud sahwi. Apakah dilakukan setelah salam atau sebelum salam? Karena saya pernah lihat ada yang sujud setelah salam, ada juga pernah saya lihat sujud sebelum salam. Terima kasih. (Abu Abdillah, Sulawesi Selatan)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Sujud sahwi adalah dua kali sujud yang dilakukan orang shalat untuk menambal kekurang sempurnaan shalatnya lantaran karena  lupa. Sebab kelupaan ada tiga; kelebihan, kekurangan dan keraguan.

Kelebihan (tambah): Jika yang shalat sengaja menambahkan berdiri, duduk, ruku’ atau sujud, batallah shalatnya.

Jika ia lupa akan kelebihannya dan baru sadar ketika sudah selesai, maka ia wajib sujud sahwi. Jika sadarnya itu terjadi di tengah-tengah shalat, hendaklah ia kembali ke shalatnya lalu sujud sahwi. Contohnya, jika ia lupa shalat Zuhur lima raka’at dan baru ingat sedang tasyahud, hendaklah ia sujud sahwi dan salam. Jika ingatnya itu di tengah-tengah raka’at kelima, hendaklah langsung duduk tasyahud dan salam, setelah itu sujud sahwi dan salam.

Cara di atas bersumber kepada hadits dari Abdullah bin Mas’ud yang menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah shalat Zhuhur lima rakaat. Lalu ditanyakan apakah ia menambahkan raka’at shalat? Maka setelah para sahabat menjelaskan bahwa beliau shalat lima raka’at, beliau langsung bersujud dua kali setelah salam (shalat). Riwayat lain menjelaskan bahwa ketika itu beliau berdiri membelahkan kedua kakinya sambil menghadap kiblat lalu sujud dua kali dan salam.

Sujud sahwi dilakukan sebelum salam dalam dua kondisi;

Pertama

Jika seseorang kekurangan dalam shalatnya, berdasarkan hadits Abdullah bin Buhainah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud sahwi sebelum salam ketika lupa tasyahud awal.

Kedua

Ketika yang shalat ragu-ragu atas dua hal dan tak mampu mengambil yang lebih diyakininya, seperti yang dijelaskan oleh hadits Abi Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu tentang orang yang ragu-ragu dalam shalatnya, apakah tiga atau empat raka’at. Ketika itu, orang tersebut disuruh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar sujud dua kali sebelum salam. Hadits-hadits yang barusan telah dikemukakan lafaznya dalam bahasan sebelumnya.

Sedangkan sujud sahwi sesudah salam, dilakukan dalam dua keadaan:

Pertama

Ketika kelebihan sesuatu dalam shalat sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abdullah bin Mas’ud tentang shalat Zuhur lima raka’at yang dialami Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sujud sahwi dua kali ketika sudah diberitahu oleh para sahabat. Ketika itu beliau tidak menjelaskan bahwa sujud sahwinya dilakukan setelah salam (selesai) karena beliau tidak tahu kelebihan. Maka hal ini menunjukkan bahwa sujud sahwi karena kelebihan dalam shalat dilaksanakan setelah salam shalat, baik kelebihannya itu diketahui sebelum atau sesudah salam.

Contoh lain, jika orang lupa membaca salam padahal shalatnya belum sempurna, lalu ia sadar dan menyempurnakannya, berarti ia telah menambahkan salam di tengah-tengah shalatnya. Karena itu, ia wajib sujud sahwi setelah salam berdasarkan hadits Abu Hurairah yang menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Zuhur atau Ashar sebanyak dua raka’at. Maka setelah diberitahukan, beliau menyempurnakan shalatnya dan salam. Dan setelah itu sujud sahwi dan salam.

Kedua

Jika ragu-ragu atas dua hal namun salah satunya diyakini. Hal ini telah dicontohkan dalam hadits Ibnu Mas’ud sebelumnya. Jika terjadi dua kelupaan, yang satu terjadi sebelum salam dan yang kedua sesudah salam, maka menurut ulama, yang terjadi sebelum salamlah yang diperhatikan lalu sujud sahwi sebelum salam.

Contohnya, misalnya seseorang shalat Zuhur lalu berdiri menuju raka’at ketiga tanpa tasyahud awal. Kemudian pada raka’at ketiga itu ia duduk tasyahud karena dikiranya raka’at kedua dan ketika itu ia baru ingat bahwa ia berada pada raka’at ketiga, maka hendaklah ia bediri menambah satu rakaat lagi, lalu sujud sahwi serta salam.

Yakni dari contoh di atas diketahui bahwa lelaki tersebut telah tertinggal tasyahud awal dan sujud sebelum salam. Ia pun kelebihan duduk pada raka’at ketiga dan hendaknya sujud (sahwi) sesudah salam. Oleh sebab itu, apa yang terjadi sebelum salam diunggulkan. Wallahu ‘alam.

Dari uraian di atas disimpulkan bahwa sujud sahwi ada yang dilakukan sebelum salam dan ada yang dilakukan setelah salam.

[sym]

Sumber: 257 Tanya Jawab, Fatwa-Fatwa Al-‘Ustaimin, hal 146-148 Gema Risalah Press

Hukum Shalat Berjama’ah

Hukum Shalat Berjama’ah

Shalat Berjama’ah di Masjid Anas bin Malik Kampus STIBA Makassar

Hukum Shalat Berjama’ah

Shalat berjama’ah  merupakan salah satu syi’ar yang agung di dalam Islam. Kaum Muslimin telah bersepakat bahwa, shalat berjamaah termasuk ketaatan yang sangat ditekankan dan taqarrub yang paling agung bahkan merupkan syi’ar islam yang paling Nampak. Ia juga termasuk dari sunnah Rasulullah dan para shahabatnya. Rasulullah dan para shahabatnya selalu melaksanakannya, tidak pernah meninggalkannya kecuali jika ada ‘udzur yang syar’i. Bahkan  dalam kondisi takut (perang) pun  mereka tetap melaksanakan shalat berjama’ah. Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri  ketika sakit parah, beliau tetap menghadiri shalat berjamaah di masjid dan ketika sakitnya semakin parah beliau memerintahkan Abu Bakar  ash Shiddiyq radhiyallaahu ‘anhu  untuk mengimami para shahabatnya.  Diantara para sahabat pun bahkan ada yang dipapah oleh dua orang (karena sakit) untuk melaksanakan shalat berjama’ah di masjid.

Kalau kita membaca dan memperhatikan dengan seksama dalil-dali dari al-Qur`an, as-Sunnah serta pendapat dan amalan para salafush shalih maka kita akan sampai pada kesimpulan  bahwa dalil-dalil tersebut menunjukkan kepada kita bahwa  shalat berjama’ah di masjid hukumnya  wajib. Di antara dalil-dalil tersebut adalah:

  1. Dalil–dalil dari al-Quranul Karim.

Firman Allah Ta’ala:

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat serta ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (al-Baqarah:43).

Dalam ayat yang mulia ini Allah memerintahkan tiga hal:  Mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan Ruku’ bersama orang-orang yang ruku’. Dan yang dimaksudkan dengan ruku bersama orang-orang yang ruku’ dalam ayat ini adalah shalat berjamaah, sebagaimana penjelasan para ahli tafsir.

Al Imam Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Dan kebanyakan ‘ulama telah berdalil dengan ayat ini untuk (menunjukkan) wajibnya shalat berjamaah”. (Al Mishbaahul Muniir Fii Tahdziibi tafsiir Ibni Katsiir, hal: 58).

Syaikh As Sa’diy rahimahullah berkata: (Dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’) maksudnya shalatlah bersama orang-orang yang shalat. Di dalam ayat ini terdapat perintah dan kewajiban (shalat) berjama’ah… (Taisirul kariimirrahman Fii Tafsiiril Kalaamil Mannaan,1/84).

Al Qaadhi Al baidhawiy menafsirkan  kalimat“Ruku’lah bersama orang-orang yang ruku” maksudnya fiy jamaa’atihim (dalam jamaah mereka).

Al-Imam Abu Bakr Al-Kasaniy Al-Hanafiy ketika menjelaskan wajibnya melaksanakan shalat berjama’ah mengatakan:

 “Adapun (dalil) dari al-Kitab adalah firman-Nya (yang artinya): “Dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (al-Baqarah:43), Allah Ta’ala memerintahkan ruku’ bersama-sama orang-orang yang ruku’, yang demikian itu dengan bergabung dalam ruku’ maka ini merupakan perintah menegakkan shalat berjama’ah. Muthlaqnya perintah menunjukkan wajibnya mengamalkannya.” (Bada`i’ush-shana`i’ fi Tartibisy-Syara`i’ 1/155 dan Kitabush-Shalah hal. 66).

  1. Firman Allah Ta’ala dalam surah an-Nisaa ayat 102

Artinya: “dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), Maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu. (QS An Nisa: 102).

Ayat yang mulia ini menjelaskan tatacara shalat khauf yang dilaksanakan secara berjamaa’ah. Hal ini menunjukkan bahwa Shalat berjamaa’ah itu hukumnya wajib. Wajhul istidlaal (sisi pendalilan) yang menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan wajibnya shalat berjamaa’ah ada dua:

  1. Apabila Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk melaksanakan shalat berjama’ah dalalam keadaan takut maka dalam keadaan aman lebih ditekankan lagi (kewajibannya). Dalam masalah ini berkata al-Imam Ibnul Mundzir: “Ketika Allah memerintahkan shalat berjama’ah dalam keadaan takut menunjukkan dalam keadaan aman lebih wajib lagi.” (Al-Ausath fis Sunan Wal Ijma’ Wal Ikhtilaf 4/135; Ma’alimus Sunan karya Al-Khithabiy 1/160 dan Al-Mughniy 3/5).
  2. Shalat khauf yang dikerjakan secara berjama’ah menyelisihi aturan dan tata cara shalat berjamaah. Dalam shalat berjamaah wajib mengikuti imam. Namun demikian dalam shalat khauf  mutaaba’atul Imam ditinggalkan (ketika Imam ruku’ sebagian jamaah ada yang tetap berdiri dan tidak ruku’). Meninggalkan Mutaaba’atul Imam (yang hukumnya wajib) sekedar untuk mendapatkan pahala amalan sunnah tidak mungkin. Sehingga jelaslah bahwa hal ini menunjukkan wajibnya shalat berjamaah.
  1. Firman Allah Ta’ala :

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud maka mereka tidak mampu (untuk sujud). (Dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (al-Qalam: 42-43).

Menurut para Ahli Tafsir bahwa yang dimaksudkan dengan “diseru untuk bersujud” adalah  shalat berjamaah. Berkata Al-Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah rahimahullah: “Dan telah berkata lebih dari satu dari salafush shalih tentang firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh mereka pada waktu di dunia telah diseru untuk sujud sedang mereka dalam keadaan sejahtera.” (al-Qalam:43), yaitu ucapan mu`adzdzin: “hayya ‘alash-shalaah hayya ‘alal-falaah”.

Berkata Turjumanul Qur`an ‘Abdullah bin ‘Abbas  radhiyallaahu ‘anhuma dalam menafsirkan ayat  di atas: “Mereka mendengar adzan dan panggilan untuk shalat tetapi mereka tidak menjawabnya” (Ruhul Ma’ani 29/36).

Berkata Ka’ab Al-Ahbar rahimahullah: “Demi Allah tidaklah ayat ini diturunkan kecuali terhadap orang-orang yang menyelisihi dari (shalat) berjama’ah.” (Tafsir Al-Baghawiy 4/283, Zadul Masir 8/342 dan Tafsir Al-Qurthubiy 18/251).

  1. Dalil-Dali dari Hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam

Kewajiban Shalat berjamaah juga telah ditunjukkan oleh hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam diantaranya:

  1. Hadits Pertama:

Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata: Seorang laki-laki buta (‘Abdullah bin Ummi Maktum) mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam  lalu berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku  tidak memiliki  seorang penuntun yang mengantarkanku ke masjid”. Lalu beliau meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  agar memberi keringanan kepadanya untuk shalat di rumahnya. Maka  Rasulullah memberikannya keringanan. Namun ketika Ibnu Ummi Maktum hendak kembali, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggilnya serakaya berkata: “Apakah Engkau mendengar panggilan (adzan) untuk shalat?” ia menjawab “benar”, maka Rasulullah bersabda: “Penuhilah panggilan tersebut.

Dalam hadits ini  Nabi yang mulia tidak memberikan keringanan kepada ‘Abdullah Ibnu Ummi Maktum untuk meninggalkan shalat berjama’ah dan melaksanakannya di rumah, padahal Ibnu Ummi Maktum mempunyai beberapa ‘udzur  diantaranya:

  1. Matanya Buta,
  2. Tidak memiliki penuntun yang mengantarkannya ke masjid,
  3. Rumahnya jauh dari masjid,
  4. Umurnya yang sudah tua dan tulang-tulangnya sudah rapuh.
  5. Adanya pohon kurma dan pohon-pohon lainnya yang menghalanginya antara rumahnya dan masjid,
  6. Adanya binatang buas yang banyak di Madinah .
  1. Hadits kedua

Al-Imam Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Malik bin Al-Huwairits: Saya mendatangi Nabi dalam suatu rombongan dari kaumku, maka kami tinggal bersamanya selama 20 hari, dan Nabi adalah seorang yang penyayang dan lemah lembut terhadap sahabatnya, maka ketika beliau melihat kerinduan kami kepada keluarga kami, beliau bersabda (yang artinya):

Kembalilah kalian dan tinggallah bersama mereka serta ajarilah mereka dan shalatlah kalian, apabila telah datang waktu shalat hendaklah salah seorang di antara kalian adzan dan hendaklah orang yang paling tua (berilmu tentang al-Kitab & as-Sunnah dan paling banyak hafalan al-Qur`annya) di antara kalian mengimami kalian.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 628, 2/110 dan Muslim semakna dengannya no. 674, 1/465-466).

Berdasakan dalil -dalil di atas disimpulkan bahwa shalat berjamaa’ah  di masjid hukumnya wajib bagi laki-laki .

Shalat Berjamaah Bagi Wanita

Adapun bagi wanita maka  mereka tidak diwajibkan untuk shalat berjama’ah di masjid, rumah mereka lebih afdhal.Namun jika mereka hendak melaksanakan shalat berjamaah di masjid tidak boleh dilarang. Mereka boleh keluar ke masjid untuk shalat berjamaah   dengan beberapa syarat.

Adakah Shalat Sunnah Sebelum Maghrib (Qabliyah Maghrib)?

Adakah Shalat Sunnah Sebelum Maghrib (Qabliyah Maghrib)?

Pertanyaan :

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Sebelumnya saya ingin menyampaikan syukur alhamdulillah dengan keberadaan rubrik konsultasi syari’ah di web ini. Adapun yang mau saya tanyakan adalah :

  1. Adakah shalat sunnah qabliyah sebelum magrib?
  2. Apa sesungguhnya hukum shalat berjamaah? Wajib ataukah Sunnah? Adakah perbedaan antara pria dan wanita dalam hal shalat berjamaah di masjid?

terimaksih atas jawabannya.

(Udin Mas K, Makassar, HP 085 255 578 xxx)

Jawaban:

Bismillah, alhamdulillah washalaatu wassalamu ‘alaa Rasulillah , ammaa ba’d.

Para ‘Ulama rahimahumullaha membagi shalat sunnah  rawatib menjadi dua:

  1. Ar Rawaatib Al Muakkadah. Yang terdiri atas 12 raka’at selama sehari semalam. Inilah yang dijelaskan keutamaanya dalam satu hadits tersendiri, yaitu hadits Ummul Mu’miniin Ummu Habibah radhiyallaahu ‘anha beliau berkata bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang muslim shalat sunnah setiap hari dua belas raka’at selain shalat wajib, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga” (HR. Muslim).

Perinciannya adalah sebagai berikut: Empat rakaat sebelum dzuhur dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah ‘isya, dan dua rakaat sebelum shubuh.

  1. Ar Rawaatib Ghairu Muakkadah,Yaitu:
  2. Shalat sunnah antara adzan dan iqamat berdasarkan hadits Bukhariy “Antara dua adzan (adzan & iqamat) terdapat shalat (sunnah) (HR. Bukhari).
  3. Empat Rakaat sebelum ‘Ashar, berdasarkan hadits Ibnu, Umar radhiyallaahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat (sunnah) empat rakaat sebelum ‘ashar”. (HR Abu Daud dan Tirmidziy dan dishahihkan oleh Syaikh al-AlBaani).
  4. Dua rakaat sebelum Maghrib berdasarkan hadits ‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Shalatlah sebelum maghrib dua rakaat,shalatlah sebelum maghrib dua rakaat,shalatlah sebelum maghrib dua rakaat  (beliau berkata pada kali yang ketiga) Bagi siapa yang mau “.(HR Bukhari).

Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa shalat sunnah qabliyah maghrib disunnahkan (termasuk Rawatib ghairu muakkadah). Berikut ini kami akan rincikan dan tambahkan beberapa dalil lain yang menunjukkan  disunnahkannya shalat sunnah dua rakaat sebelum maghrib:

  1. Hadits Bukhari di atas bahwa “Antara dua adzan (adzan & iqamat) terdapat shalat (sunnah) (HR Bukhari).
  2. Hadits ‘Abdullah bin Mughaffal di atas: Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalatlah sebelum maghrib dua rakaat,shalatlah sebelum maghrib dua rakaat, shalatlah sebelum maghrib dua rakaat (beliau berkata pada kali yang ketiga) Bagi siapa yang mau”. (HR Bukhari).

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi shallalaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada para shahabat untuk shalat sunnah dua rakaat sebelum maghrib. Bahkan beliau sampai mengulangi perintahnya sebanyak tiga kalai, hanya saja pada kali yang ketiga beliau memberikan pilihan bagi yang mau.Sebagian perawi menambahkan di ujung hadits tersebut “Beliau tidak suka kalau manusia menganggap  hal itu (shalat dua rakaat sebelum maghrib) sunnah (“karaahiyata an yattakhidzahaannaasu sunnah”).

Menurut al-Muhib ath-Thabari,(tambahan)  sabda Nabi dengan lafadz: “karaa hiyata an yattakhidzahaannaasu sunnah” tidaklah berarti bahwa dua rakaat sebelum maghrib itu tidak sunnah hukumnya. Hal ini karena Nabi tidak mungkin memerintahkan sesuatu yang beliau sendiri tidak menyukainya. Bahkan hadits inilah yang menunjukan sunnahnya  dua rakaat sebelum maghrib. Sedangkan makna dari ucapan Nabi diatas adalah: “Beliau tidak mau kalau nanti dia dijadikan sebagai “syarii’atan wa thariqatan laazimatan” yakni syari’at dan jalan yang wajib hukumnya”. Ucapan beliau itu bisa juga menunjukan bahwa derajat shalat maghrib lebih rendah dibanding sunnat-sunnat rawatib lainnya. Karena itulah maka mayoritas ulama syafi’iyah tidak memasukannya ke dalam shalat-shalat sunat rawatib”. Demikian keterangan Imam Syaukani dalam Nailul authar jilid II halaman 8.

  1. Hadist Riwayat Imam Muslim.

Dari Mukhtar bin Fulful  radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata:

“Aku bertanya kepada Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu  tentang tathawwu’ (shalat sunnah) setelah ‘ashar? Beliau berkata; Dahulu ‘Umar memukul tangan orang yang shalat setelah shalat ‘ashar. Dan kami shalat di zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dua rakaat setelah terbenam matahari sebelum shalat maghrib, Aku tanyakan kepadanya; apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukannya? Anas menjawab; Beliau melihat kami melakukannya, namun beliau tidak menyuruh kami dan tidak pula melarang kami  (HR Muslim No. 836).

Hadist ini  menunjukan taqrir (persetujuan) Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ketika beliau melihat para shahabat melakukannya, beliau membiarkan dan tidak melarang.

Dari dalil-dalil diatas dapat disimpulkan bahwa disunnahkan shalat 2 dua rakaat sebelum (qabliyah) maghrib, wallaahu a’lam.

Bolehkah Wanita Shalat dalam Keadaan Telapak Tangan Terlihat ???

Bolehkah Wanita Shalat dalam Keadaan Telapak Tangan Terlihat ???

oleh : Samsul Basri

Para Ulama berbeda dalam menetapkan hukumnya apakah boleh atau tidaknya telapak tangan tersingkap di dalam Shalat.

Kedua Tangan Wajib ditutup Ketika shalat

Imam Asy-Syaukani rahimahullahu  menyebutkan dalam kitab “Nailu al-Authaar” juz 3 hlm.330 bahwa al-Imam al-Muhaddits, Imam Abu Daud dan Imam Ahmad berkata,

أنه لا يجوز للمرأة الحرة أن تكشف كفيها وقدميها في الصلاة. ويجب عليها ستر جميع بدنها إلا الوجه

“Mengenai hal ini tidak boleh bagi seorang wanita merdeka menampakkan kedua telapak tangan demikian pula kedua kakinya ketika shalat.  wajib baginya menutup semua badannya kecuali wajah.”

Kedua Tangan Tidak Wajib ditutup dan  Boleh Terlihat

Pendapat  ini dipilih oleh Imam Malik dan Imam Asy-Syafi’i, sebagaimana dinukil oleh Abu al-Qashim bin al-Jilaabi al-Bashriy al-Maalikiy dalam kitab “at-Tafrii’u” juz 1 hlm.239.

والمرأة الحرة كلها عورة إلا وجهها ويديها وعليها أن تستر في الصلاة سائر جسدها ولا تبدي منه شيئا الا الوجه واليدين

Dan seorang wanita merdeka, seluruh tubuhnya adalah aurat, kecuali wajah dan kedua tangannya, maka wajib baginya menutup seluruh tubuhnya dalam shalat, dan tidak menampakkan bagian dari tubuhnya sedikitpun ketika shalat kecuali wajah dan kedua tangannya.

Bagaimana sebaiknya???

Sebaiknya dengan menggabungkan dua pendapat,

Fatwa Majelis Ulama al-Mamlakah as-Su’udiyyah

إن غطتهما فأفضل ، وإلا فليس بلازم ، لا بأس بكشفهما ، والوجه يشرع كشفه في الصلاة ، المرأة تكشف وجهها في الصلاة ، إلا إذا كان عندها أجنبي تغطي وجهها ، أما إذا كان ما عندها إلا زوج أو نساء ، السنة أن يكون الوجه مكشوفا ، أما اليدان فإن شاءت كشفتهما على الصحيح ، وإن شاءت سترتهما وهو أفضل خروجا من خلاف من قال بوجوب سترهما ، أما القدمان فيستران .

Sekiranya muslimah menutup kedua tangan ketika shalat, maka hal itulah yang lebih utama. namun sekiranya tidak, maka bukan suatu keharusan. yaitu tidak mengapa tampak kedua tangan. adapun wajah, disyariatkan tersingkap ketika shalat, maksudnya seorang wanita menyingkap wajahnya dalam shalat, kecuali disekitarnya lelaki asing yang memungkinkan secara leluasa melihatnya, maka ia menutupnya. adapun jika yang memungkinkan melihatnya hanya suami atau wanita muslimah, maka yang sunnah adalah membiarkan wajah tersingkap. adapun kedua tangan jika ia mau, boleh menampakkan kedua tangan, dan jika mau ia menutup kedua tangannya dan tentu inilah yang lebih afdhal (lebih utama), lebih selamat, menghindari khilaf dari yang mengatakan bahwa menutup kedua tangan adalah wajib. adapun kedua kaki, maka keduanya wajib ditutup bagi wanita. (http://www.alifta.net/Fatawa).

 

Fatwa Syaikh Bin Baz rahimahulla

المرأة عورة كلها عورة، يجب أن تستر بدنها في الصلاة، ولو ما عندها أحد، إلا الوجه، فالسنة كشفه، أما بقية بدنها فالمشروع ستره، بل يجب ستره إلا الكفين بعض أهل العلم أجاز كشفهما، والأفضل سترهما والأحوط سترهما، فإذا صلَّت وقدماها مكشوفتان أو رأسها أو ذراعها، أو صدرها لم تصح صلاتها، فالواجب على المرأة أن تستتر إلا الوجه، وهكذا الكفان الأحوط سترهما؛ لأنها عورةٌ كلها ولو ما حضرها أجنبي.

Seorang wanita seluruh tubuhnya adalah aurat. wajib baginya menutup seluruh tubuhnya di dalam shalatnya, meski tak seorang pun melihatnya, kecuali wajahnya. karena sunnahnya wajah memang ditampakkan, adapun anggota tubuh yang lainnya disyariatkan untuk ditutup. bahkan wajib ditutup kecuali kedua telapak tangan, karena sebagian ulama membolehkan keduanya tersingkap. dan yang lebih utama adalah menutup keduanya, dan yang lebih berhati -hati  adalah menutupnya. jika seorang wanita shalat, sedang kedua kakinya tersingkap atau rambutnya, atau lengannya, atau dadanya maka shalatnya tidak sah. maka wajib bagi wanita menutup badannya kecuali wajahnya. demikian pula kedua tangan, yang lebih berhati-hati adalah dengan menutupnya. karena wanita adalah aurat seluruhnya meskipun tidak ada lelaki asing yang melihatnya. (http://www.binbaz.org.sa/node/14749).

 

Apakah Memasukkan Uang Ke Dalam Kotak Amal Saat Khutbah Jum’at Termasuk Lagha?

Kotak Amal

Kotak Amal

Apakah Memasukkan Uang Ke Dalam Kotak Amal Saat Khutbah Jum’at Termasuk Lagha?

Pertanyaan:

Bismillah.. Assalamualaikum ustadz,

Afwan.. Ana mau tanya..

Ketika khatib sedang berkhutbah itu kita wajib untuk tenang dan tidak melakukan gerakan yang sia2..

Kira2 yang dimaksud gerakan yg sia2 itu seperti apa saja ya ust? Apakah memasukkan uang kedalam kotak amal dan mendorong kotak amal juga termasuk gerakan yang sia-sia? (Fadhel/Group Wa Konsultasi Islami).

 

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Khutbah Jum’at merupakan salah satu syarat sah pelaksanaan Shalat Jum’at. Dalam Khutbah Jum’at sendiri juga terdapat rukun-rukun khutbah yang harus terpenuhi, seperti  membaca hamdalah, membaca shalawat dan lain-lain. Oleh karena khutbah merupakan syarat sah shalat Jum’at maka menyimak dan mendengarkan khutbah Jum’at hukumnya wajib.

Oleh sebab itu ketika khutbah Jum’at berlangsung para jama’ah dianjurkan menghadap ke arah kiblat, memperhatikan, mendengarkan, dan menyimak khutbah dengan serius dan sungguh-sungguh serta tidak melakukan sesuatu yang sia-sia yang dapat mengurangi bahkan menggugurkan pahala jum’atnya. Hal ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim;

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

Barangsiapa berwudhu, lalu memperbagus (menyempurnakan) wudhunya, kemudian mendatangi shalat Jum’at lalu mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka dia akan diampuni dosa-dosanya antara  hari itu sampai dengan hari Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya. Barangsiapa menyentuh kerikil, maka sia-sialah Jum’atnya” (HR. Muslim)

Dalam Syarh Shahih Muslim Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa memegang (bermain-main) kerikil  dan lainnya merupakan saat khutbah merupakan salah satu perbuatan yang sia-sia. Selain itu juga terdapat isyarat untuk menghadapkan hati dan anggota badan saat  khutbah Jum’at berlangsung.

Selian itu perbuatan sia-sia (lagha) juga dapat berupa ucapan atau perkataan sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah dalam sabdanya,

Apabila engkau berkata kepada temanmu “diamlah” pada hari Jum’at sedang imam sedang berkhutbah, maka engkau telah berbuat lagha (sia-sia).” (HR al-Bukhari).

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulus-Salam Syarh Bulughil Maram menjelaskan: “Apabila engkau berkata kepada temanmu: ‘diamlah’ ketika khatib berkhutbah, maka engkau telah berbuat lagha” merupakan penguat larangan berbicara. Apabila hal tersebut (berkata ‘diamlah’) dikategorikan sebagai pebuatan laghapadahal perkataan hal tersebut termasuk pada amar ma’ruf, maka orang yang berbicara lebih berat hukumnya. Dengan pengertian tersebut, maka wajib bagi orang yang akan menegur dengan menggunakan isyarat apabila memungkinkan.

Artinya jika perkataan “diam”! yang dimaksudkan mengingatkan orang berbuat lagha tergolong lagha juga, maka perkataan lain seperti mengobrol lebih terlarang lagi.

Lalu bagaimana dengan memasukan uang ke kotak amal dan menggeser kotak amal?

Jika mengucapkan satu kata ‘’diam’’ dan menyentuh/mempermainkan kerikil yang merupakan gerakan paling ringan termasuk lagha (sia-sia) yang dilarang, maka perkataan dan perbuatan atau gerakan yang lebih banyak lebih terlarang. Apalagi saat pengedaran kotak infaq ketika khutbah terdapat enam gerakan yang tidak dapat dielakkan:

  • Mengambil dompet dari saku/tas
  • Memilih uang dalam dompet
  • Melipat-lipat uang sebelum memasukannya ke dalam kotak infaq
  • Memasukkan uang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri menutupinya
  • Menggeser kotak infaq, sebelum maupun setelah memasukkan uang kedalam kotak infaq.
  • Jika tidak berinfaq minimal sekedar menggeser.

Illat (sebab)  yang menjadi alasan larangan memainkan kerikil, mengatakan ‘’diam”! atau yang lainnya karena dapat memalingkan dari berdzikir dan menyimak khutbah.

Oleh karena itu sebaiknya tidak mengedarkan kotak amal atau infaq saat Khutbah Jum’at sedang berlangsung. Hal ini demi menjaga suasana khusyu’ dan khidmatnya pelaksanaan shalat dan khutbah Jum’at. Sebagai solusi dapat diusahakan alternatif lain, seperti;

  1. Menyiapkan kotak amal/infaq di setiap pintu masuk,
  2. Mengedarkan kotak amal/infaq sebelum khutbah dimulai, misalnya saat penyampaian pengumuman atau maklumat oleh pengurus masjid jelang masuk waktu jum’at (jika ada).
  3. Mengedarkan kotak amal/infaq setelah shalat Jum’at sebelum menunaikan shalat ba’diyah jum’at.

Tentu bagi pengurus masjid perlu mensosialisasikan hal ini secara bijak kepada jama’ah, sebagai bentuk edukasi kepada para jama’ah. Walahu a’lam bish Shawab. [sym].

Keutamaan dan Manfaat Puasa Syawal

Manfaat Puasa Syawal

Keutamaan dan Manfaat Puasa Syawal

Abu Ayyub al-Anshari radhiallaahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim)

Imam Ahmad dan an-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallalla ahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa Ramadhan ganjarannya sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam “Shahih” mereka)

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun.” (HR. al-Bazzar)

Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa setahun penuh, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali kelipatannya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan seperti puasa syawal memiliki banyak manfa’at, di antaranya:

  1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa Ramadhan.
  2. Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawathib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, oleh karena itu dibutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.
  3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan. Karena apabila Allah Ta’ala menerima amal seseorang hamba, maka Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan, “Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.”

Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan sesuatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk, maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.

  1. Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah (ampnan) atas dosa-dosa masa lalu. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya Iedul Fithri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.

oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampuan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia justru mengggantinya dengan perbuatan maksiat, maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai lagi.” (Terj. QS. an-Nahl: 92)

  1. Dan di antara manfa’at puasa Syawal adalah sebagai lanjutan dari amalan yang dikerjakan Pada bulan Ramadhan. Amalan    yang dikerjakan untuk mendekatkan diri kepada Allah pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup. Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan, sebab mereka merasa berat, jenuh dan lama berpuasa Ramadhan.

Barangsiapa yang mereka demikian maka sulit baginya untuk bersegera kembali melaksanakan puasa, padahal orang yang bersegera kembali melaksanakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tidak merasa bosan dan berat apalagi benci.

Seorang ulama Salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya di bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah Ta’ala secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shalih adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh di sepanjang tahun.”

Oleh karena itu sebaiknya orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu akan mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan hutangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal. Dengan demikian telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.

Ketahuilah mal perbuatan seorang mukmin itu tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah Ta.a’a berfirman, “Dan sembahlah Tuhan-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. al-Hijr: 99)

Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa serta shadaqah yang dilakukan  seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala pada bulan Ramadhan adalah disyari’atkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai manfaat, diantaranya; ia sebagai pelengkap dari kekuarangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada Hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapuskannya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.

Sumber, Risalah Ramadhan, Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah.

Artikel: http://wahdah.or.id/