Waktu Shalat Dhuha yang Paling Utama

Waktu Shalat Dhuha

Waktu Paling Utama Melaksanakan Shalat Dhuha (Gambar diambil dari mauhijrah.com)

Pertanyaan:

Pertanyaan saya tentang waktu shalat Dhuha, Bolehkah melaksanakan shalat Dhuha setelah terbit mata hari, ataukah satu dua jam pasca terbitnya matahari, misalnya jam delapan atau sembilan? Bolehkah mengerjakan shalat Dhuha menjelang Dzuhur?

Jawaban:

Waktu shalat Dhuha dimulai setelah terbit mata hari setinggi satu tombak. Kira-kira 15 menit setelah terbit matahari. Adapun waktu akhirnya yakni menjelang Dzuhur (qubaila dzuhur). Kira-kira lebih kurang 10 menit menjelang masuk waktu dzuhur. Oleh karena itu memungkinkan dilaksanakan di antara waktu tersebut.

Akan tetapi waktu yang paling afdhal adalah ketika matahari mulai meninggi atau saat panasnya mulai menyengat, sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya;

صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

 “(Waktu terbaik) shalat awwabin (shalat Dhuha) adalah ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim ).

Imam Nawawi mengatakan dalam Syarh Shahih Muslim, “Inilah waktu paling utama untuk melaksanakan shalat Dhuha. Begitu pula para sahabat kami (ulama Syafi’iyah) mengatakan bahwa ini merupakan waktu terbaik untuk shalat Dhuha. Walaupun boleh pula dilaksanakan ketika matahari terbit hingga waktu zawal (tergelincir matahari).

“Tarmadhul fishal” artinya ketika kuku-kuku anak unta mulai kepanasan karena pasir terpapar oleh terik panas matahari sehingga anak unta mulai mencari tempat yang teduh untuk bernaung. Inilah waktu yang utama melakukan shalat Dhuha.

Imam Ash-Shan’ani mengutip perkataan Ibnul Atsir dalam Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir, “Maksudnya, waktu Shalat Dhuha adalah ketika matahari mulai meninggi dan panasnya menyengat. Beliau berdalil dengan hadits ini tentang keutamaan mengakhirkan Shalat Dhuha sampai terik mata hari mulai menyengat.”

Beliau (Ibnul Atsir) juga menjelaskan tentang sebab penamaan Shalatul Awwabin untuk shalat Dhuha karena pada waktu tersebut cenderung untuk santai, mencari ketenangan, dan istirahat, sehingga mengisi waktu tersebut dengan  shalat merupakan adab mulia bagi jiwa yang menghendaki keridhaan Allah. Wallahu ‘alam.

Suami Meninggal Setelah Akad Nikah,  Istri Berhak Mewarisi Hartanya?

Pertanyaan: 

Jika seorang laki-laki telah melakukan akad nikah dengan wanita dan belum berhubungan suami istri, lalu salah satu dari keduanya meninggal dunia, maka apakah mereka berdua sudah bisa saling mewarisi hartanya ?

Jawaban

Jika akad nikah sudah dilaksanakan dengan syarat dan rukunnya yang lengkap, kemudian salah satu dari suami istri meninggal dunia sebelum terjadinya hubungan suami istri, maka akad nikahnya tetap ada dan masing-masing saling mewarisi hartanya berdasarkan keumuman firman Allah –Ta’ala-:

 وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّهُنَّ وَلَدٌ فَإِن كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِن بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّكُمْ وَلَدٌ فَإِن كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُم مِّن بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ  سورة النساء /12

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu”. (QS. An Nisa’: 12)

Ayat ini umum bagi siapa saja yang meninggal dunia meninggalkan istri, baik sebelum berhubungan suami istri maupun sudah melakukannya. Jika akad nikah sudah sempurna lalu salah satu dari suami istri meninggal dunia sebelum melakukan hubungan suami istri, maka hukum pernikahan tetap ada dan masing-masing dari keduanya sudah bisa saling mewarisi sesuai dengan keumuman ayat yang mulia di atas.

Demikian pula jika mahar belum diserahkan maka istri berhak memperoleh mahar yang telah disepakati dan disebutkan dalam akad nikah.

Abu Daud meriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu– pernah ditanya tentang seorang wanita yang suaminya meninggal dunia sebelum terjadinya hubungan suami istri antar keduanya dan belum dipastikan pembayaran maharnya. Beliau menjawab:

  لَهَا الصَّدَاقُ كَامِلًا ، كصداق نسائها ، وَعَلَيْهَا الْعِدَّةُ وَلَهَا الْمِيرَاثُ

Ia berhak menerima mahar sepenuhnya, seperti mahar para wanita sekitarnya, ia juga mempunyai masa iddah dan berhak menerima warisan juga”.

Ma’qil bin Sanan –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Saya pernah mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah memutuskan Birwa’ binti Wasyiq seorang wanita di daerah kami, sama dengan apa yang engkau putuskan”. (Dishahihkan oleh Albani dalam Irwa’ul Ghalil: 1939).

Sumber: Islamqa.info.id

Fiqh Praktis Shalat Istikharah

 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan shalat istikharah kepada kami dalam segala urusan, sebagaimana beliau mengajari kami surat dari Al-Qur’an.” (Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu).

 

Salah satu tabiat manusia adalah selalu ragu ketika dihadapkan pada dua pilihan. Bahkan saat berhadapan dengan satu pilihan pun masih ragu untuk meneruskan pilihan tersebut atau tidak. Sebabnya adalah karena manusia tidak memiliki kemampuan untuk melihat keghaiban di masa yang akan datang. Sebagian orang justru mencari jalan keluar untuk memastikan pilihannya kepada para dukun, tukang ramal, dan semacamnya. Padahal hal ini bertentangan dengan aqidah Islam. Karena tidak ada yang mengetahui peristiwa hari esok kecuali Allah.

Oleh karena itu dalam Islam disyariatkan shalat Istikharah. Istikharah dilakukan untuk memastikan pilihan kita atau meminta kemantapan dari Allah saat dihadapkan pada dua pilihan, lalu kita memilih salah satunya namun kita tidak mengetahui  mana yang terbaik dari dua pilihan tersebut. Berkaitan dengan ini Syekh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul mengatakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mensyariatkan kepada umatnya agar mereka memohon pengetahuan kepada Allah Ta’ala dalam segala urusan yang mereka alami dalam kehidupan dan suapaya mereka memohon kebaikan di dalamnya. Yaitu dengan mengajarkan kepada mereka shalat istikharah sebagai pengganti dari apa yang biasa dilakukan pada masa jahiliyah beruapa ramal-meramal, memohon kepada berhala, dan melihat peruntungan. (Meneladanai Shalat-shalat Sunnah Rasulullah, hlm.125)

Bekaitan dengan hukum, kaifiyat, dan hal lain tentang Istikharah dapat ditemukan dalam hadits Shahih yang diriwayatkan oleh jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu. Jabir menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan shalat istikharah kepada kami dalam segala urusan, sebagaimana beliau mengajari kami surat dari Al-Qur’an. Beliau bersabda; “Jika salah seorang diantara kalian bertekad untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah ia shalat dua raka’at di luar shalat wajib, kemudian hendaklah ia mengucapkan”:

اللهم إني أستخيرك بعلمك وأستقدرك بقدرتك وأسالك من فضلك العظيم، فإنك تقدر ولا أقدر وتعلم ولا أعلم وأنت علام الغيوب. اللهم إن كنت تعلم أن هذا الأمر خير لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري – أو قال عاجل أمري و آجله – فاقدره لي ويسره لي ثم بارك لي فيه. وإن كنت تعلم أن هذا الأمر شر لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري – أو قال في عاجل أمري وآجله – فاصرفه عني واصرفني عنه، واقدر لي الخير حيث كان ثم أرضني به. قال ويسمي حاجته

Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, dan meminta keputusan dengan kekuasaan-Mu, Aku meminta karunia-Mu yang sangat agung, Karena sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa dan memiliki kuasa samasekali, Engkaulah yang mengetahui dan aku tidaklah tahu apa-apa, Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara ghaib. Ya Allah sekiranya Engkau mengetahui bahwa perkara ini (lalu menyebutkan masalahnya) adalah baik bagiku,  dalam agamaku dan kehidupanku serta kesudahan urusanku”, atau mengucapkan; “Baik dalam waktu dekat maupun akan datang-, maka tetapkanlah ia bagiku  dan mudahkanlah ia untukku lalu berkatilah. Ya Allah apabila Engkau mengetahui bahwa perkara itu buruk bagiku untuk agamaku dan kehidupanku dan kesudahan urusanku, atau mengucapkan; “baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang-, maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah ia dariku, lalu Putuskanlah yang baik bagiku perkara yang lebih baik darinya, apapun yang terjadi, lalu ridlailah ia untukku”. Beliau bersabda;”Hendaklah ia menyebutkan keperluannya”. (HR. Bukhari)

Dari hadits tersebut terdapat beberapa pelajaran terkait shalat Istikharah, diantaranya:

  1. Disyariatkan dalam Segala Urusan

Selama ini kita terbiasa menunaikan shalat Istikharah untuk urusan-urusan tertentu saja, seperti urusan jodoh, memilih tempat sekolah atau kuliah, dan pekerjaan. Padahal Shalat Istikarah disunnahkan dalam segala urusan, sebagaimana yang secara jelas disampaikaan oleh

Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan istikharah kepada kami dalam segala urusan”. Hal ini bermakna pula bahwa shalat istikharah mencakup urusan-urusan besar maupun kecil. Sebab, berapa banyak masalah yang dianggap kecil berubah menjadi sumber masalah. Akan tetapi perlu ditegaskan bahwa mengerjakan kewajiban  dan perkara sunnah serta meninggalkan yang diharamkan dan dimakruhkan tidak memerlukan shalat Istikharah.

  1. Jumlah Raka’at Shalat Istikharah

Di dalam hadits tersebut terdapat pelajaran bahwa shalat istikharah terdiri atas dua raka’at selain shalat wajib. Frasa ‘selain shalat wajib’ menyiratkan pesan bahwa, istikharah juga dapat dilakukan bersamaan dengan sahalat sunnah lainnya, seperti shalat sunnah rawatib. Misalnya, seseorang mengerjakan shalat sunnah rawatib atau shalat sunnah yang lain, lalu setelah shalat ia membaca do’a istikharah seperti dalam hadits tersebut. Karena yang dimaksud dengan shalat istikharah adalah dikerjakannya shalat yang disertai dengan bacaan do’a setelahnya atau pada saat shalat dikerjakan. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa Istikaharah yang akan disertakan bersama shalat sunnah rawatib tersebut harus dniyatkan sejak awal. Adapun jika keinginan beristikharah muncul setelah Shalat, maka hal itu tidak boleh.

  1. Tidak dilakukan Pada Saat Ragu

Dalam kehidupan sehari-hari, kita biasa beristikhaarah tatkala ragu dan dihadapkan pada dua pilihan atau lebih. Lalu kita shalat dan/meminta dipilihkan oleh Allah. Cara seperti ini kurang tepat, karena dalam hadits tersebut Nabi mengatakan, “Idza hamma ahadukum bil amri, Jika salah seorang dari kalian berniat akan melakukan sesuatu”. Hamma, artinya berkehendak, menyukai, dan berniat akan. Oleh karena itu Imam Bukhari selalu beristikharah sebelum menghukumi keshahihan suatu hadits.

Lalu bagaimana jika seseorang merasa ragu dan ingin melarikan keraguannya tersebut kepada istikharah? Jika ia ingin istikharah, maka hendaknya sebelum istikharah ia memilih salah satu dari dua hal yang meragukan tersebut lalu memohon petunjuk dalam menentukan pilihan tersebut (melalui istikharah). Setelah istikharah, dia biarkan semuanya berjalan apa adanya. Jika baik, semoga Allah menetapkan pilihannya tersebut dan memberikan kemudahan dalam melakukannya, serta memberkahinya. Sebaliknya, jika pilihan tersebut buruk, maka semoga Allah memalingkan dirinya dari hal itu lalu menetapkan untuknya yang lebih baik dengan idzin- Nya.

Hal ini menunjukan pentingan memadukan istikharah dan musyawarah. Maksudnya,  tatkala seseorang sedang ragu, tak ada salahnya dia bermusyawarah dengan orang lain, meminta masukan dari saudara atau teman. Lalu hasil musyawarah situ dibawa ke dalam istikharah. Ibn Taimiyah rahimahullah mengatakan “Tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah dengan sesama makhluk dan beristikharah kepada Allah

  1. Tidak Ada Bacaan Surat Khusus

Dalam hadits tersebut terkandung pengertian, tidak ada penetapan bacaan surat atau ayat khusus dalam shalat Istikarah. Artinya boleh membaca surah  atau ayat apa saja setelah membaca al-Fatihah. Hal ini berbeda dengan shalat  yang lain seperti shalat witir (disunnahkan membaca surah Al-a’la, al-Kafirun, dan al-Ikhash), shalat sunnah qabliyah subuh (surah al-Kafirun dan al-Ikhlash), dan sahalat ‘Ied (Surah al-A’la dan al-Ghasyiyah).

  1. Jawaban Istikharah

Dalam hadist tersebut terkandung pengertian bahwa jawaban Istikharah terlihat dengan dimudahkannya urusan yang diminta dalam Istikharah. Selain itu para Ulama menasihatkan, agar seseorang  melakukan apa yang tampak sesuai keyakinannya. Hendaknya ia memutuskan pilihan yang diyakininya dengan pasti, baik itu disenangi oleh hatinya atau tidak.

Sebagian orang menanti jawaban istikharah melalui mimpi, atau melalui membuka Quran secara acak lalu mencoba mencari jawabannya melalui ayat yang tak sengaja terbuka, atau dengan butiran-butiran tasbih dan lain-lain. Semua ini tidak mempunyai landasan dalil dan hadist.

  1. Do’a Dipanjatkan Ba’da Salam

Hadits tersebut menunjukan bahwa do’a Istikharah dipanjatkan setelah salam, sebab, dalam hadist Jabir di atas dikatakan; “Jika salah seorang diantara kalian bertekad untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah ia shalat dua raka’at di luar shalat wajib, kemudian hendaklah ia mengucapkan; . . . (do’a istikharah). Dzahir hadits tersebut menunjukan bahwa do’a diucapkan setelah shalat.

7. Beberapa Catatan Tambahan tentang istikharah:

  •  Biasakan beristikahrah dalam segala urusan
  • Selalulah berhusnudzan kepada Allah. Yakinlah bahwa yang terbaik adalah apa yang ditakdirkan oleh Allah. Percayalah bahwa ketika anda beristikharah maka Allah akan menuntun dan mengarahkan kepada kebaikan.
  • Tidak boleh beristikharah dalam shalat fardhu.
  • Jika anda dalam kondisi tidak boleh shalat (seperti sedang haidh bagi wanita) dan anda butuh istikharah, maka bersabarlah sampai masa haidh berlalu. Tetapi, jika perkara yang membutuhkan istikharah sangat penting dan mendesak, maka cukuplah anda membaca do’a istikahrah tanpa melakukan shalat. Karena wanita haidh tidak boleh shalat, tetapi boleh membaca do’a dan wirid.
  • Boleh membaca do’a istikaharah sebelum atau setelah salam.

      Jika anda tidak hafal do’a istikharah, maka berusahalah untuk menghafalnya terlebih dahulu. Tetapi jika perkara      yang membutuhkan istikharah sangat mendesak, maka boleh membacanya melalui catatan di secarik ketas.     Dalam kondisi seperti ini sebaiknya do’a dibaca setelah salam

  • Jika belum jelas pilihan yang terbaik, maka boleh mengulangi istikaharah (Menurut Syekh al-Utsaimin sampai tiga kali).
  • Jangan menambah dan mengurangi lafadz do’a yan terdapat dalam hadits.
  • Jangan jadikan hawa nafsumu menghakimi dan menghukumi hasil istikharah.

Wallahu a’lam (Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Remaja Islam Al-Firdaus edisi 12)

Bahan Bacaan :

  1. Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul, Meneladani Shalat-shalat Sunnah Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam.
  2. http://www.saaid.net/bahoth/41.htm

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (3) 

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (3) 

(Lanjutan dari Tulisan Sebelumnya)

Pada tulisan pertama dan kedua    telah  dijelaskan beberapa adab mendatangi dan memasuki masjid diantaranya bergegas ke Masjid saat masuk waktu shalat atau adzan berkumandang, berangkat ke masjid (lebih afdhal) dengan berjalan kaki, berjalan ke masjid dengan khusyuk dan tenang serta tidak tergesa-gesa, mengenakan pakaian terbaik, dan sebagainya. Pada tulisan ini insya llah akan dialnjutkan dengan adab yang berikutnya. Selamat membaca.

 

  1. Berdo’a Ketika Masuk dan Keluar Masjid

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dan Imam Abu Daud dalam Sunannya dari Abu Hamid radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيُسَلِّمْ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ لِيَقُلْ: اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ”

Jika salah seorang diantara kalian masuk masjid hendaknya mengucapkan salam kepada nabi shallallahu alaihi wasallam kemudian hedaknya mengucapkan : Ya allah bukakanlah untukku pintu-pintu rahmatmu. Dan jika ia keluar hendaknya mengucapkan : Ya allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keutamaan-Mu“. [Shohih muslim nomor 713 dan Abu Daud nomor 465]

Imam Abu Daud juga meriwayatkan dalam sunannya dari Abdullah bin Amr bin ‘ash radhiyallahu anhuma, bahwa ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam masuk masjid berdo’a:

“أَعُوذُ بِاللَّه الْعَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ…فإذا قال ذلك قال الشيطان: حفظ مني سائر اليوم”

“Aku memohon dengan nama allah yang maha Agung, dan dengan wajahnya yang mulia, dan dengan kerajaannya yang kekal, dari syaitan yang terkutuk. Ketika ia mengucapkan itu maka syaitan membalas : dia telah terjaga dari ku seluruh hari ini“. [Lihat sunan abu daud nomor 466]

  1. Mengikuti dan Menjawab Bacaan Muadzin Saat Adzan

Disunnahkan menjawab dan mengikuti muuadzin saat mengumandagkan adzan. Akan tetapi ketika muadzin mengucapkan hayya ‘alas sholah dan hayya ‘alal falah maka dia mengucapkan Laa haula wala quwwata illaa billah.  Sebagaimana dalam sebuah hadits:

 “فَإِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ”

Apabila seorang muadzin mengumandangkan Allaahu akbar, Allaahu akbar’ maka salah seorang dari kalian mengucapkan, Allaahu akbar, allaahu akbar’ lalu muadzin mengumandangkan, Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah’, seseorang mengucapkan, Asyhadu Allaa ilaaha Illallaah’ lalu muadzin mengumandangkan, Asyhadu Anna Muhammadar-Rasulullah’ seseorang mengucakan, Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah’, kemudian muadzin mengumandang, ‘Hayya Alashalah’ lalu seseorang mengucapkan, ‘Laa haula walaa quwwala illa billaah’, lalu muadzin mengumandangkan, ‘Hayya alal falaah.’ Seseorang mengucapkan, ‘Laa haula walaa quwwata illa billah’ kemudian muadzin mengumandangkan, Allaahu akbar; Allaahu akbar’ seseorang berkata, ‘Allaahu akbar, Allaahu Akbar’ kemudian muadzin mengumandangkan, ‘Laa ilaaha illallaah’ lalu seseorang berkata, Laa Ilaaha Illallaah’ dari hatinya, maka ia pasti masuk surga.” [Shohih muslim nomor 385]

Dan saat mu’adzin mengucapkan syahadatain hendaknya dia mengucapkan Radhitu Billahi Rabba[n], Wa Bimuhammad[in] Rasula[n] Wabil Islami Dina[n], sebagaimana hadits Sa’ad bin Abi waqqash radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda:

“مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللَّه رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ”

Barangsiapa yang mengucapkan ketika mendengar muadzin : saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali allah semata dan tidak ada sekutu bagi-nya, dan bahwasanya Muhammad adalah rasulul-Nya, saya telah Ridho allah sebagai rabku dn Muhammad sebagai nabiku dan islam sebagai agamaku maka diampuni dosa-dosanya“. [Shohih muslim nomor 386]

Kemudian berdo’a setelah adzan sebagaimana hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ”

Barangsiapa membaca ketika telah mendengar adzan : Ya allah Rab pemilik seruan yang sempurna ini dan sholat yang didirikan pemberi berilah wasilah (derajat disurga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tidak pernah mengingkari janji, maka halal baginya syafa’atku pada hari kiamat.  [Lihat Shohih bukhori nomor 614]

disyariatkan   juga berdo’a antara adzan dan iqamah sebagaimana yang diriwayatkan  oleh Abu Daud yang terdapat dalam Sunan beliau dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhu bahwasanya ada seorang laki-laki yang bertanya :

يا رسول الله، إن المؤذنين يفضلوننا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “قُلْ كَمَا يَقُولُونَ، فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ”

Wahai Rasulullah sesungguhnya para muadzin mengungguli kami, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: katakanlah apa yang dikatakan para muadzin, maka apabila engkau selesai mintalah (kepada Allah) engaku akan diberi“. [Lihat sunan abu daud nomor 524]

  1. Memperbanyak Dzikir

Disunnahkan di dalam masjid memperbanyak dzikir kepada Allah. Baik dengan tasbih, tahlil, tahmid, takbir ataupun  dzikir-dzikir yang lain. Dianjurkan juga memperbanyak membaca al-qur’an. Disunnahkn pula membaca hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam dan mengajarkan fiqih serta ilmu ilmu syar’i yang lainnya. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

  ﴿ فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ ﴾ [النور: 36

“(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang”. (Q.S. an-nur : 36)

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Buraidah radhiyallahu anhu,  bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“إِنَّمَا بُنِيَتِ الْمَسَاجِدُ لِمَا بُنِيَتْ لَهُ”

Hanyalah (tujuan) dibangun masjid-masjid itu sebagai mana tujuannya (tempat sujud)”.[Lihat hadits nomor 569]

Dan diriwayatkan pada hadits yang lain :

 “إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّه عَزَّ وَجَلَّ، وَالصَّلَاةِ، وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ”

“Hanyalah dia (masjid itu) untuk mengingat Allah azza wajalla, sholat dan membaca al-qur’an”. [Lihat shohih muslim nomor 285]

Dan hendakanya ketika didalam masjid menjauhi perkataan yang sia-sia dan melampaui batas, membicarakan manusia, dan banyak ngobrol tentang perkara dunia yang bisa mengeraskan hati dan jauh dari Allah.

Hukum Menguburkan Jenazah Pada Malam Hari

Menguburkan Jenazah Pada Malam Hari

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukumnya apabila seorang Muslim meninggal pada malam hari apakah ia boleh dikebumikan pada malam tersebut untuk penguburannya ditunda sampai esok hari?

Jawaban:

Yang utama adalah menyegerakan penguburan nya Hal ini berdasarkan Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam;

لا ينبغي لجيفة مسلم أن تحبس بين ظهراني أهله

“Tidak pantas bagi jenazah seorang Muslim ditahan diantara keluarganya”.

Disebutkan juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda;

ثلاث لا يؤخرن

Tiga perkara yang dilarang untuk  ditunda pelaksanaannya kemudian boleh menyebutkan diantaranya adalah penguburan jenazah”. ( HR. Bukhari, Imam Ahmad Tirmidzi, dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih).

Seandainya tidak ada orang yang mengurusi jenazah tersebut atau tidak ada orang yang menggali kuburnya atau pula karena menunggu salah satu kerabat dekatnya untuk menshalatkannya, dan mereka yakin bahwa jenazah tersebut tidak berubah atau atau tidak mengeluarkan bau tidak sedap maka saat itu maka pada saat itu boleh ditunda penguburannya dengan alasan-alasan tersebut di atas.

Namun jika tidak ada alasan untuk menunda-Nya, maka yang utama adalah menyegerakan penguburannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasalla;

أسرعوا بالجنازة؛ فإن تك صالحة فخير تقدمونها إليه، وإن تك سوى ذلك فشر تضعونه عن رقابكم

Bersegeralah kalian menguburkan jenazah! Jika ia orang sholeh maka kebaikan yang kamu segera kan kepada-nya, dan jika tidak baik maka keburukan yang kalian lepaskan dari bahu bahu kalian”. (Muttafaq ‘alaih).

Sumber: Tanya Jawab Seputar Jenazah, Syaikh Abdul Azizz bin Muhammad Al-Arifi

Adab-Adab Shalat (5)

Adab-Adab Shalat (5)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang adab-adab  shalat.

  1. Memelihara Shalat Berjamaah di Masjid Terdekat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

ليس صلاة أثقل على المنافقين من الفجر والعشاء، ولو يعلمون ما فيهما لأتوهما ولو حبوًا لقد هممت أن آمر الملؤذِن فيقيم  ، ثم آمر رجلا يؤم الناس ، ثم آخذ شعلا من النار فأحرق على من لا يخرج إلى الصلاة بعد

 “Tidak ada shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik kecuali shalat Subuh dan shalat Isya. Seandainya mereka mengetahui pahala pada kedua shalat itu niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak. Sungguh  aku pernah berpikiran kuat untuk memerintahkan muadzin agar mengumandangkan iqamah lalu aku menyuruh seseorang untuk mengimani manusia kemudian aku membawa Suluh api, lalu aku bakar rumah orang yang tidak keluar untuk shalat berjamaah setelah itu (setelah dikumandangkan informasi atau setelah mendengar ancaman beliau Shallallahu Alaihi Wasallam). (HR. Bukhari)

  1. Merealisasikan Buah Shalat

Yakni senantiasa ingat dan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, selalu merasa diawasi dan takut kepadaNya dalam setiap keadaan. Berhenti  dari perkataan kotor dan perbuatan yang munkar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman;

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي [١٤

Sesungguhnya aku ini adalah Allah tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar saat melakukan langkah dan Dirikanlah shalat untuk menginngatKu”. (QS.  Thaha:14).

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ [٢٩:٤٥

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu kitab al-qur’an dan Dirikanlah shalat shalat itu mencegah dari perbuatan perbuatan keji dan mungkar sesungguhnya mengingat Allah salah adalah lebih besar keutamaannya daripada ibadah kepada yang lain untuk mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Ankabut: 45).  Bersambung insya Allah.

 Sumber: Panduan Adab-Adab Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.

Baru Mengetahui Bahwa Hari Asyura’ (10 Muharram) Pada Siang Hari

Baru Mengetahui Hari Asyura Siang Hari

Pertanyaan:

Jika pada tanggal 10 Muharram (hari Asyura’) ada salah seorang dari kami sudah makan, lalu setelah itu ia baru sadar bahwa pada hari tersebut adalah hari ‘Asyura’, maka apakah dibolehkan baginya untuk berpuasa pada sisa hari tersebut berdasarkan hadits berikut ini:

Penyeru Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– telah menyeru pada hari ‘Asyura’: “Barang siapa yang bangun di pagi hari dengan berniat puasa, maka hendaknya menyempurnakan puasanya dan barang siapa yang sudah makan maka janganlah makan pada sisa harinya.

Apakah di antara kalian sudah makan?, ia berkata: “Di antara kami ada yang sudah makan dan ada yang belum makan. Beliau bersabda: “Lanjutkanlah pada sisa harinya bagi yang sudah makan dan bagi yang belum makan, sampaikanlah kepada penduduk sekitar agar mereka menyempurnakan hari mereka, agar mereka semuanya berpuasa pada hari ‘Asyura’, barang siapa anda mendapatkan di antara mereka telah makan pada tengah hari maka hendaknya berpuasa pada akhir harinya”.

Jawaban:

Alhamdulillah

Dibolehkan bagi yang ingin berpuasa sunnah untuk berniat puasa pada pada tengah hari, berbeda dengan puasa wajib yang disyaratkan adanya niat pada malam harinya.

“Dan yang menjadi syarat sahnya puasa sunnah yang berniat pada siang hari adalah tidak adanya penghalang puasa sebelum berniat, seperti; makan, minum dan yang lainnya. Jika sebelum niat telah melakukan hal yang membatalkan puasa, maka puasanya tidak sah sebagaimana yang telah disepakati”. (Al Mulakhkhos Al Fiqhi: 1/393)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata:

Jika hal tersebut ditetapkan (puasa sunnah dengan niat pada siang hari), maka yang menjadi syaratnya adalah agar tidak makan sebelum berniat dan tidak mengerjakan hal yang membatalkan puasa, jika telah mengerjakan hal-hal yang membatalkan maka tidak sah puasanya, tanpa ada perbedaan dalam masalah ini sepengetahuan kami”. (Al Mughni: 3/115)

Adapun beberapa hadits yang ada tentang kondisi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang menyampaikan kepada masyarakat untuk menyempurnakan puasa ‘Asyura’, baik bagi mereka yang sudah makan atau yang belum makan sebelum berniat; karena pada saat itu puasa ‘Asyura’ hukumnya masih wajib bagi mereka.

Dan pada puasa wajib, diwajibkan bagi yang mengetahuinya pada tengah hari agar menahan makan dan minum sesaat setelah ia mengetahuinya.

Al ‘Aini berkata tentang puasa ‘Asyura’: “Dahulu (puasa ‘Asyura’) masih wajib”. (‘Umdatul Qari: 10/304)

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata:

“Dapat disimpulkan dari banyak hadits bahwa dahulu puasa ‘Asyura’ hukumnya wajib; karena adanya perintah untuk berpuasa, lalu dikuatkan perintahnya, kemudian ditambahkan lagi penguat pada ajakan berpuasa secara umum, kemudian ditambah lagi dengan adanya perintah bagi siapa saja yang sudah makan agar tetap menahan, kemudian ada perintah lagi kepada para ibu agar tidak menyusui anak-anak pada hari itu. Dan dengan ucapan Ibnu Mas’ud yang tertera dalam riwayat Muslim: “Pada saat diwajibkan puasa Ramadhan maka beliau meninggalkan puasa ‘Asyura’, sebagaimana diketahui bahwa yang ditinggalkan bukan sunnahnya, puasa ‘Asyura’ tetap ada, maka hal ini menunjukkan bahwa yang ditinggalkan adalah kewajiban puasa ‘Asyura’nya”. (Fathul Baari: 4/247)

Imam Nawawi berkata:

( مَنْ كَانَ لَمْ يَصُمْ فَلْيَصُمْ ، وَمَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيُتِمَّ صِيَامَهُ إِلَى اللَّيْلِ)

“Barang siapa yang tidak berpuasa maka berpuasalah, dan barang siapa yang sudah makan maka hendaknya menyempurnakan puasanya sampai malam tiba”.

Dan dalam riwayat yang lain:

( مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ )

Barang siapa yang pada pagi harinya berpuasa maka sempurnakanlah puasanya, dan barang siapa yang tidak berpuasa maka sempurnakanlah (puasanya) pada sisa harinya”.

Maksud dari kedua riwayat di atas adalah bahwa barang siapa yang sudah berniat untuk berpuasa maka sempurnakanlah, dan bagi siapa saja yang belum berniat dan belum sarapan atau sudah sarapan maka hendaknya menahan sepanjang sisa harinya untuk menghormati hari tersebut, sebagaimana seseorang yang tidak berpuasa pada hari ragu (H -1 hari raya idul fitri), lalu ternyata hari itu sebagai bulan Ramadhan, maka dia wajib menahan pada sisa harinya untuk menghormati hari Ramadhan tersebut”. (Syarah Shohih Muslim: 8/13)

Al Baaji berkata:

Hal ini sama kedudukannya dengan orang yang baru saja dapat kabar kepastian berpuasa, dan pada hari itu ditetapkan Ramadhan, maka dia wajib untuk menahan, baik sudah makan atau belum makan”. (Al Muntaqa Syarah Muwattha’: 2/58)

Adapun setelah diwajibkan puasa Ramadhan, dan puasa ‘Asyura’ menjadi sunnah, maka hukum tersebut tidak berlaku lagi, akan tetapi hukumnya seperti halnya puasa sunnah lainnya, boleh berpuasa sunnah dengan niat pada siang hari, namun disyaratkan agar tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang tidak ingat dengan ‘Asyura’ kecuali pada tengah hari, apakah boleh tetap menahan pada sisa harinya, padahal dia juga sudah sarapan ?

Beliau –rahimahullah– menjawab:

Jika dia tetap menahan pada sisa hari itu, maka puasanya tidak sah; karena dia sudah sarapan sebelumnya. Puasa sunnah itu akan sah mulainya di tengah hari bagi siapa saja yang belum sarapan sebelumnya. Adapun bagi mereka yang sudah sarapan sebelumnya maka tidak sah niat puasanya dengan menahan pada sisa harinya, dan karenanya upaya menahan tersebut tidak bermanfaat apa-apa kalau dia sudah makan dan minum atau perbuatan lainnya yang membatalkan puasa sebelumnya”. (Fatawa Nur ‘Ala Darb: 11/2 Sesuai dengan Maktabah Syamilah)

Wallahu A’lam .

Hukum Puasa Asyura Tanpa Puasa Sehari Sebelum dan Setelahnya

Hukum Puasa Asyura Tanpa Puasa Sehari Sebelum dan Setelahnya

Hukum Puasa Asyura Tanpa Puasa Sehari Sebelum dan Setelahnya

Pertanyaan:

Apakah diperbolehkan saya berpuasa hanya aysura’ saja tanpa puasa sehari sebelumnya (tasua’) atau sehari setelahnya?

Jawaban:

Alhamdulillah

Syeikhul Islam mengatakan, “Puasa Asyura’ dapat menghapus (dosa) satu tahun. Dan tidak dimakruhkan menyendirikan dalam berpuasa.” (Fatawa Kubro juz. 5).

Dalam ‘Tuhfatul Muhtaj karangan Ibnu Hajar Al-Haitsami, “Tidak mengapa puasa asyura’ disendirikan.”  (Tuhfatul Muhtaj, Juz. 3 Bab Shaum Tathwwu’(Puasa Sunah)

Lajnah Daimah ditanya dengan pertanyaan ini dan dijawab berikut ini, “Diperbolehkan puasa Asyura’ hanya satu hari saja. Akan tetapi yang lebih utama adalah puasa sebelumnya atau puasa setelahnya. Hal ini merupakan sunah yang telah ada ketetapan dari Nabi shallallahu ;alaihi wa sallam dalam sabdanya:

” لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع ” رواه مسلم (1134

 

Kalau sekiranya tahun depan saya masih hidup, saya akan berpuasa hari kesembilan (Tasua’).” HR. Muslim, 1134.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Maksudnya bersamaan dengan hari kesepuluh (Asyura). Wabillahit taufiq.  Lajnah Daimah Lil Bukhuts Ilmiyah Wal Ifta’, (11/401).

Sumber: https://islamqa.info/id/

Keagungan dan Keutamaan Hari Arafah

Keagungan dan Keutamaan  Hari Arafah

Hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) saat jama’ah haji wuquf di padang Arafah merupakan hari agung dan mulia. Sebab dia merupakan puncak dari ritul ibadah haji, hari disempurnakannya nikmat Islam, dan hari Raya bagi Jama’ah haji serta hari pengampunan dosa dan pembebasan dari Neraka. Saking agung dan mulianya Allah bersumpah dengannya.

Keagungan dan keutamaan hari Arafah seperti disebutkan di atas berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam yang akan dijelaskan secara singkat berikut ini.

  1. Hari ‘Arafah merupakan hari disempurnakannya Agama dan Nikmat Allah

Dalam shahihain terdapat satu hadits, Ada orang Yahudi mengatakan kepada Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu, wahai Amirul Mukmin. Ada satu ayat di Kitab yang kamu baca. Kalau diturunkan kepada kami, pasti kami jadikan hari itu sebagai hari raya. ”Ayat apa itu?” tanya Umar. Dia menjawab (membaca surat Al-Maidah ayat 3);

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا (سورة المائدة :3)

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” QS. Al-Maidah: 3

Umar mengatakan, “Sungguh kami telah mengetahui hari itu, dan tempat dimana diturunkan kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam saat beliau sedang wukuf di Arafah pada hari Jumat”. (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Hari Arafah Adalah Hari Raya Bagi Jama’ah Haji Yang Berwukuf

Bagi jama’ah haji hari ‘Arafah yang merupakan puncak ibada haji sekaligus hari raya. Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

(وم عرفة ويوم النحر وأيام التشريق عيدنا أهل الإسلام ، وهي أيام أكل وشرب  (رواه أهل السنن

Hari Arafah, hari nahr dan hari-hari tasyriq adalah hari raya kami orang Islam, ia adalah hari makan dan minum.” (HR. Ahlis sunan).

Diriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa beliau mengatakan, “Ayat ini (Al-Maidah:3) diturunkan pada hari Jumat di hari Arafah. Keduanya menjadi hari raya bagi kami alhamdulillah”.

  1. Allah Bersumpah dengan Hari Arafah

Allah bersumpah dengan hari ‘Arafah. Ini menunjukan kemuliaan dan keutamaan hari Arafah. Karena Allah tidak bersumpah kecuali dengan yang agung dan mulia. Dalam Al-Qur’an Allah menyebut hari ‘Arafah sebagai hari yang disaksikan, Allah Ta’ala berfirman;

وشاهد ومشهود (سورة البروج :3

Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (QS. Al-Buruj: 3)

Abu Hurairah radhiyallahu anhu  mengatakan bahwa Nabi shallallahu aliahi wa sallam bersabda: “Hari yang dijanjikan adalah hari kiamat, dan hari yang disaksikan adalah hari Arafah. Yang menjadi saksi adalah hari Jumah.” (HR. Tirmizi dihasankan oleh Albani)

Sumpah Allah dengan hari Arafah juga terdapat dalam surah Al-Fajr ayat 3;

والشفع والوتر (سورة الفجر :3

“Dan yang genap dan yang ganjil.” (QS. Al-Fajr: 3)

Ibnu Abbas mengatakan, “Yang genap adalah hari Idul Adha dan yang ganjil adalah hari Arafah”.

  1. Puasa Pada Hari ‘Arafah Menghapus Dosa Dua Tahun

Salah satu amalan yang disunnahkan pada hari ‘Arafah adalah berpuasa, yang dikenal dengan nama puasa ‘Arafah. Puasa Arafah memiliki keutamaan yang besar, yakni menghapus dosa dua tahun.

Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau bersabda:

يكفر السنة الماضية والسنة القابلة  (رواه مسلم

“ Menghapus dosa tahun lalu dan tahun depan.” (HR. Muslim)

Puasa ini dianjurkan bagi selain jamaah haji. Bagi jamaah haji tidak dianjurkan berpuasa di hari Arafah. Karena Nabi shallallahu alaihiwa sallam tidak puasa di Arafah dan melarang berpuasa di hari tersebut.

  1. Allah Mengambil Sumpah Janji Kepada Keturunan Adam Pada Hari Arafah

Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إن الله أخذ الميثاق من ظهر آدم بنعمان – يعني عرفة – وأخرج من صلبه كل ذرية ذرأها ، فنثرهم بين يديه كالذر ، ثم كلمهم قبلا ، قال : ” ألست بربكم قالوا بلى شهدنا أن تقولوا يوم القيامة إنا كنا عن هذا غافلين (172) أو تقولوا إنما أشرك آباؤنا من قبل وكنا ذرية من يعدهم أفتهلكنا بما فعل المبطلون (سورة الأعراف :172-173 ، رواه أحمد وصححه الألباني)

Sesungguhnya Allah mengambil janji setia dari punggung Adam di Nikman (yakni Arafah)  dan mengeluarkan dari tulang rusuknya semua keturunan yang melanjutkannya. Dan disebarkan diantara kedua tangannya seperti biji. Kemudian semua ditanya seraya mengatakan: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.” (QS. Al-A’raf: 172-173, HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albany)

  1. Hari Arafah Merupakan Hari Pengampunan Dosa dan Pembebasan dari Neraka

Hari Arafah merupakan hari Pengampunan dosa dan pembebasan dari Neraka, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Ummul Mukmiminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ما من يوم أكثر من أن يعتق الله فيه عبدا من النار من يوم عرفة ، وإنه ليدنو ثم يباهي بهم الملائكة فيقول : ما أراد هؤلاء ؟  (رواه مسلم

“Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan seorang hamba dari neraka  di banding pada hari Arafah. Sesungguhnya Dia mendekat dan membanggakannya (di hadapan) para malaikat, seraya bertanya, “Apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim)

  1.  Pada Hari Arafah Allah Membangga-banggakan Penduduk Arafah

Pada hari Arafah Allah membangga-banggakan  jama’ah haji yang berkumpul untuk wuquf di  Arafah di hadapan para Malaikat.  Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إن الله تعالى يباهي ملائكته عشية عرفة بأهل عرفة ، فيقول : انظروا إلى عبادي أتوني شعثا غبرا (رواه أحمد وصححه الألباني)

Sesungguhnya Allah membanggakan penduduk Arafah kepada malaikat-Nya pada siang Arafah, Seraya berfirman, “Lihatlah kepada hamba-Ku mereka datang dalam kondisi lusuh dan berdebu.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Albani).

Semoga kita memperoleh keberkahan hari yang mulia dan agung ini. Semoga kita memperoleh ampunanNya dan pembebasan dari neraka.  Wallahu a’lam. [sym].

Sunnah dan Adab-Adab Jum’at

Jumat merupakan hari  paling mulia dalam sepekan hari yang disebut sebagai sayyidul ayyam. Sehingga hendaknya malam dan harinya diisi dengan berbagai ibadah kebaikan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ada beberapa sunnah dan adab Jum’at yang harus diperhatikan pada hari Jumat.

Pertama,  Memperbanyak Bershalawat Kepada Rasulullah

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan memperbanyak shalawat kepada beliau pada malam dan hari Jum’at. Shalawat yang diucapkan akan diperlihatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda tentang hal ini;

مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمُ الْجمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ عليه السلام، وَفِيهِ قُبِضَ، وَفِيهِ النَّفْخَةُ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ، فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَليَّ”. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟! أَيْ يَقُولُونَ: قَدْ بَلِيتَ. قَالَ: “إِنَّ اللهَ – عز وجل – قَدْ حَرَّمَ عَلَى الأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الأَنْبِيَاءِ عليهم السلام”

 “Sesungguhnya hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat, pada hari ini Nabi Adam diciptakan, dan pada hari ini pula  beliau dimatikan, pada hari ini ditiup sangkakala dan pada hari ini pula manusia dibangkitkan kembali, maka Perbanyaklah kalian bershalawat kepadaku karena shalawat kalian diperlihatkan kepadaku,” para sahabat bertanya bagaimana shalawat kami diperlihatkan kepadamu Sedangkan engkau telah menjadi tanah, beliau  mengatakan, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan kepada bumi untuk memakan jasad para Nabi ‘alaihimussalam. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Nasa’i).

Imam Baihaqi meriwayatkan dalam sunannya dari Anas bin Malik radhiyallahu Anhu, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengabarkan bahwa setiap satu shalawat yang diucapkan akan dibalas oleh oleh Allah dengan rahmat-Nya sepuluh kali lipat. Beliau bersabda;

“أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا”

 “Perbanyaklah kalian bershalawat kepadaku pada hari dan malam Jumat Karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah bershalawat kepada Nya sepuluh kali”. (HR. Baihaqi, No.5790 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Makna  shalawat Allah kepada makhluk adalah adalah rahmat dan ampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kedua, Membaca Surat Al Kahfi

Diantara amalan yang dianjurkan pada malam dan hari Jum’at adalah membca surat Al-Kahfi.  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang keutamaan membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat,

من قرأ سورة الكهف في يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين “

Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka dia akan diterangi cahaya antara dua Jumat”.

Ketiga, Membaca Surat Alif Lam Mim Tanzil (Qs. As-Sajdah) dan Hal Ata Alal Insan al-insan dalam shalat Subuh pada hari Jumat

Imam  Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma bahwa;

أَنَّ النبي صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ﴿ الم * تَنْزِيلُ ﴾ [السجدة: 1، 2]، وَ﴿ هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ ﴾ [الإنسان: 1

Bahwa Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam biasa membaca pada shalat subuh di hari Jumat Alif Lam Mim Tanzil  [Surat As-Sajdah] dan hal Ata Alal Insani hinum minad Dahr [Al-Insan]”. (HR. Muslim, No. 879).

Kempat Mandi dan Membersihkan diri

Dianjurkan  mandi pada hari Jumat, bahkan Sebagian ulama memandang bahwa hukumnya wajib. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih mereka dari sahabat Abu Sa’id Al khudri radhiyallahu anhu;

“الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ، “

M andi pada hari Jumat wajib bagi setiap muslim yang telah baligh,”. (HR. Bukhari, No.880 dan Muslim, No. 846).

Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma beliau juga bersabda; “Jika salah seorang diantara kalian mendatangi shalat Jum’at maka hendaknya dia mandi”. (Muttafaq ‘alaihi).

Imam Bukhari rahimahullah menempatkan hadits ini dalam Kitab Al-Jumu’ah Bab Fadhl al-Ghusl yaum al-Jumu’ah (Bab Keutamaan Mandi Pada Hari Jum’at).

Hal ini menunjukan bahwa hukum mandi Jum’at adalah Sunnah. Adapun makna wajib dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri di atas adalah wujub ikhiyar (pilihan) karena sifatnya afdhal (lebih uatama) sebagaimana diperjelas oleh hadits Samurah radhiyallahu ‘anhu, “  . . . Siapa yang mandi (pada hari Jum’at) maka mandi lebih afdhal”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Kelima, Bersiwak

Dianjurkan bersiwak atau membersihkan gigi saat hendak mendatangi shalat Jum’at. Hal ini berdasarkan hadits umum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang motivasi bersiwak setiap akan shalat.

 عن أبي هريرة رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ” لولا أشق على أمتي – أو على الناس – لأمرتهم بالسواك مع كل صلاة “

Andaikan tidak khawatir aku menyulitkan ummatku niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap akan (menunaikan) shalat”. (HR. Bukhari, no.887).

Hadits di atas berlaku umum pada semua shalat, dan pada shalat Jum’at tentu lebih ditekankan untuk bersiwak karena merupakan hari istimewa. Dan penekanan anjuran bersiwak pada hari Jum’at juga ditunjukan oleh hadits lain yang secara khusus menganjurkan untuk bersiwak, sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

” غسل يوم الجمعة على كل محتلم. وسواك . ويمس الطيب ما قدر عليه “

Mandi Jum’at wajib bagi setiap Muslim dan (dianjurkan) bersiwak serta memakai parfum sesuai kemampuan”. (HR. Muslim,7/846).

Keenam, Memakai Parfum

Dianjurkan memakai parfum dan wewangian dan Mengenakan Pakaian Terbaik. Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya dari Abu Sa’id Al khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu anhuma bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

“مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاسْتَاكَ وَمَسَّ مِنْ طِيبٍ إِنْ كَانَ عِنْدَهُ، وَلَبِسَ مِنْ أَحْسَنِ ثِيَابِهِ ثُمَّ خَرَجَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَسْجِدَ فَلَمْ يَتَخَطَّ رِقَابَ النَّاسِ حَتَّى رَكَعَ مَا شَاءَ أَنْ يَرْكَعَ، ثُمَّ أَنْصَتَ إِذَا خَرَجَ الإِمَامُ فَلَمْ يَتَكَلَّمْ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ صَلاَتِهِ، كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الَّتِي قَبْلَهَا

Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat serta bersiwak dan memakai parfum Jika dia memiliki serta mengenakan pakaian terbaiknya kemudian keluar menuju masjid dan setelah sampai di masjid dia tidak melangkahi punggung-punggung manusia lalu Shalat sebanyak yang dia kehendaki kemudian dia diam saat Imam keluar menyampaikan khutbah serta tidak berkata-kata sampai selesai dari shalatnya maka itu menjadi kafarat baginya penghapus dosa baginya antara jihad setelahnya dengan Jumat sebelumnya”. (HR. Ahmad, no.11768)

Keenam, Bersegera Menuju Masjid

Dianjurkan  bersegera menuju masjid untuk menunaikan shalat Jumat.  Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Aus bin Abil Aus radhiyallahu ‘anhu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

إِذَا كَانَ يَوْمُ الجُمُعةِ، فَغَسَلَ أحَدُكُمْ رأسهُ واغْتَسَلَ ثم غدا أو ابتكرَ، ثم دنَا فاسْتَمَعَ وأنْصَتَ كانَ له بكلِّ خُطْوة خَطاها كَصِيام سنةٍ وقيامِ سَنَةٍ

“Jika pada hari Jumat salah seorang diantara kalian membasuh kepalanya (keramasa) dan mandi kemudian dia bersegera berangkat menuju masjid kemudian mendekat kepa Imam lalu diam menyimak khutbah maka baginya pahala setiap langkah yang diayunkannya seperti puasa dan shalat setahun’’. (HR. Ahmad, No.16161).

Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari  Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ”

“Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat seperti mandi junub kemudian dia pergi menuju masjid pada saat yang pertama maka dia seperti berkurban Onta. Barangsiapa  yang pergi ke masjid pada saat yang kedua maka seperti berkurban Sapi. Barangsiapa  yang pergi pada saat yang ketiga akan akan berkurban seekor Kambing yang bertanduk.  Barangsiapa  yang pergi pada saat yang keempat maka seperti berkurban Ayam. Dan barangsiapa yang pergi pada saat yang kelima maka seakan-akan dia berkurban sebutir telur. Dan  jika Imam telah keluar naik mimbar maka para Malaikat (pencatat) mendengarkan Khutbah”. (HR. Bukhari, No. 881 dan Muslim No. 850)

Ketujuh, Menyimak Khutbah dengan Khidmat dan Tenang

Dianjurkan menyimak khutbah dengan tengan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لا يغتسل رجل يوم الجمعة، ويتطهر ما استطاع من طهر، ويدهن من دهنه، أو يمس من طيب بيته، ثم يخرج فلا يفرق بين اثنين، ثم يصلي ما كتب له، ثم ينصت إذا تكلم الإمام، إلا غفر له ما بينه وبين الجمعة الأخرى ” [ صحيح البخاري، 833

Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat serta bersuci semampunya, memakai minyak rambut,  memakai parfum kemudian keluar menuju masjid dan setelah sampai di masjid tidak memisahkan diantara dua orang (yang duduk berdampigan) lalu Shalat sebanyak yang dia kehendaki kemudian dia diam (tidak berkata-kata)  saat Imam (khatib) berkhutbah melainkan diampuni dosanya antara Jum’at tersebut dengan Jumat sebelumnya”. (HR. Bukhari, no. 833).

Anjuran untuk diam dan tenang saat khutbah Jum’at berlangsung juga disertai dengan larangan untuk berkata-kata dan berbuat sia-sia ketika imam (khatib) sedang menyampaikan khutbah.

“إذا قلت لصاحبك، أنصت يوم الجمعة والإمام يخطب فقد لغوت” متفق عليه وزاد أحمد في روايته : “ومن لغا فليس له في جمعته تلك شيء” .

Jika kamu mengatakan kepada temanmu, ‘diamlah’ pada saat Imam (khatib) sedang berkhutbah, maka kamu telah berbuat sia-sia”. (Muttafaq ‘alaihi).

Dalam riwayat Imam Ahmad terdapat tambahan, “Dan barangsiapa yang berbuat sia-sia maka dia tidak mendapatkan apa-apa sama sekali dari ibadah Jum’atnya”. (HR. Ahmad).

Perkara sia-sia juga berupa perbuatan, sebagaimana dalam hadits, “

Hal ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim;

وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

Barangsiapa menyentuh kerikil, maka sia-sialah Jum’atnya” (HR. Muslim)

Dalam Syarh Shahih Muslim Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa memegang (bermain-main) kerikil  dan lainnya merupakan saat khutbah merupakan salah satu perbuatan yang sia-sia. Selain itu juga terdapat isyarat untuk menghadapkan hati dan anggota badan saat  khutbah Jum’at berlangsung.

Jika menyentuh kerikil dan mendiamkan orang yang berisik dengan satu kata saja ‘diam!’ dianggap sebagai perbuatan sia-sia yang dapat mengugugurkan pahala jum’at, lalu bagaimana dengan perkataan dan gerakan yang lebih banyak dari itu, seperti ngobrol, main hp, membalas dan mengirim pesan whatsapp, dan sebagaianya. Tidak diragukan lagi bahwa hal itu termasuk perbuatan sia-sia yang dapat menggugurkan pahala Jum’at.

Kedelapan, Melakukan Shalat Sunnah Ba’diyah Jum’at

Setelah menunaikan shalat Jum’at dianjurkan melakukan shalat sunnah ba’diyah dua atau empat raka’at. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا

“Jika salah seorang di antara kalian shalat Jum’at, maka hendaknya dia melakukan shalat setelahnya empat raka’at.” (HR. Muslim no. 881).

Melalui hadits di atas Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk melaksanakan shalat sunnah ba’diyah Jum’at empat raka’at. Adapun riwayat tentang dua raka’at ba’diyah jum’at diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadits lain tentang Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma;

أَنَّهُ كَانَ إِذَا صَلَّى الْجُمُعَةَ انْصَرَفَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْنَعُ ذَلِكَ

Jika Ibnu ‘Umar melaksanakan shalat Jum’at, setelahnya ia melaksanakan shalat dua raka’at di rumahnya. Lalu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan seperti itu.” (HR. Muslim no. 882)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits-hadits ini menunjukkan disunnahkannya shalat sunnah ba’diyah Jum’at dan anjuran untuk melakukannya, minimalnya adalah dua raka’at, sempurnanya adalah empat raka’at.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 169)

Kesembilan, Memperbanyak Do’a

Salah satu keistimewaan hari Jum’at adalah, pada hari Jum’at terdapat satu waktu istijabah (terkabulnya do’a).  Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika membicarakan mengenai hari Jum’at.  Beliau bersabda,

فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

Di dalamnya terdapat suatu waktu. Jika seorang muslim berdoa saat itu, pasti diberikan apa yang dia minta” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut. (HR. HR. Bukhari no. 935 dan Muslim no. 852).

Menurut pendapat terkuat diantara pendapat ulama tentang waktu yang dimaksud adalah sejam Imam/khatib naik mimbar hingga shalat Jum’at selesai dan setelah shalat ashar hingga jelang maghrib.  Sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim dan riwayat Abu Daud:

هي ما بين أن يجلس الإمام إلى أن تقضى الصلاة

Waktu tersebut adalah ketika imam naik mimbar sampai shalat Jum’at selesai”. (HR. Muslim, No.853).

Dalam hadits riwayat Abu Daud berbunyi:

يوم الجمعة ثنتا عشرة يريد ساعة لا يوجد مسلم يسأل الله عز وجل شيئا إلا أتاه الله عز وجل فالتمسوها آخر ساعة بعد العصر

“Dalam 12 jam hari Jum’at ada satu waktu, jika seorang muslim meminta sesuatu kepada Allah Azza Wa Jalla pasti akan dikabulkan. Carilah waktu itu di waktu setelah ashar”. (HR. Abu Daud, No. 1048).

Namun Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari  menggabungkan kedua hadits tersebut. Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa pada dua waktu yang disebutkan”. Wallahu a’lam [sym].