Celakalah Budak Dunia

Celakalah Budak Dunia

Celakalah Budak Dunia

Celakalah Budak Dunia

Abu Hurairah radhiyallahu ‘Anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

تعس عبد الدينار والدرهم والقطيفة ، إن أُعطي رضي وإن لم يُعطَ لم يرضَ

“Celakalah pemburu Dinar, dirham, dan Qothifah,  Jika  diberi maka dia ridha,  jika tidak diberi maka ia tidak ridha” (HR. Bukhari).

Pelajaran  Hadits:

  1. Tidak sepantasnya seorang Muslim menjadikan dunia sebagai obsesi terbesarnya dan cita-cita tertingginya serta puncak tujuan dari ilmunya. Tetapi hendaknya dia menjadikan seluruh amalannya dalam rangka mengharap wajah Allah serta kebahagiaan dan keselamatan di negeri akhirat. Sehingga  dengan demikian seluruh aktivitasnya siang  dan malamnya bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab tidak mengapa seseorang mencari dunia dengan tujuan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yakni melakukan hal itu demi mengharap wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Yang  tercela adalah jika upaya mencari dunia atau kesibukan mencari dunia menjauhkan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan menyibukkan serta memalingkan dari melaksanakan kewajiban ibadah kepadanya.
  2. Orang  beriman yang sempurna imannya jika diberi dia bersyukur, jika tidak memperoleh apa-apa maka dia bersabar. Dia  senantiasa ridha terhadap Qadha dan takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Mau Selamat, Jauhi Syubhat dan Tinggalkan yang Meragukan

 

Mau Selamat, Jauhi Syubhat dan Tinggalkan yang Meragukan 

عن النعمان بن بشيرٍ رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ((إن الحلال بينٌ وإن الحرام بينٌ، وبينهما أمور مشتبهاتٌ لا يعلمهن كثيرٌ من الناس، فمن اتقى الشبهات استبرأ لدِينه وعِرضه، ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام، كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه، ألا وإن لكل ملكٍ حمًى، ألا وإن حمى الله محارمُه، ألا وإن في الجسد مضغةً إذا صلَحت صلَح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب))؛  متفق عليه

 

Dari  Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhuma,  Beliau berkata,  saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan sesungguhnya yang haram juga jelas. Dan  di antara keduanya terdapat perkara yang musytabihat (samar-samar)  yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia.  Maka  barangsiapa yang menjauhi syubhat (perkara yang samar), maka dia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya. (Sebaliknya) barangsiapa yang terjatuh ke dalam syubhat (samar) maka dia telah terjatuh ke dalam perkara yang haram. Seperti  penggembala yang menggembala di sekitar daerah terlarang, tentu dikawatirkan dia akan terjatuh kedalam yang haram. Ketahuilah, setiap raja memiliki daerah terlarang. Dan ingatlah daerah larangan-Nya Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya.  Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging, kalau dia baik maka baiklah seluruh tubuh, jika dia rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah  bahwa segumpal daging tersebut adalah qolbu (hati)”. (Muttafaq ‘alaih)

 

Pelajaran Hadits

  1. Hadits ini merupakan sepertiga atau seperempat dari poros ajaran Islam, karena dia termasuk salah satu dari tiga atau empat hadits yang merupakan poros ajaran Islam.
  2. Anjuran untuk memakan yang halal dan Thoyib (baik). Sesuatu  yang baik dan belum ada keterangan tentang keharamannya maka dia halal, dan semua yang khabis (buruk) adalah haram.
  3. Barang siapa yang ingin menyelamatkan dirinya hendaknya dia menjauhi syubhat. Siapa yang melakukan hal ini (meninggalkan syubhat) maka dia telah menjaga kehormatan agamanya dan dirinya.
  4. Makanan berdampak dan berpengaruh terhadap hati dan perilaku. Sedangkan hati merupakan pemimpin dan raja bagi seluruh anggota tubuh. seluruh anggota tubuh merupakan rakyat dan pasukannya. sehingga hanya seorang bedaknya berusaha untuk menjaga hatinya, dan menjauhkan hatinya dari segala pengaruh yang buruk. Dianjurkan  juga untuk senantiasa mengkondisikan hati agar menerima kebaikan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. [sym].

Sumber: Tuhfatul Kiram Syarah Bulughul Maram, Syaikh Doktor Muhammad Lukman As-Salafi.

Keagungan dan Keutamaan Hari Arafah

Keagungan dan Keutamaan  Hari Arafah

Hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) saat jama’ah haji wuquf di padang Arafah merupakan hari agung dan mulia. Sebab dia merupakan puncak dari ritul ibadah haji, hari disempurnakannya nikmat Islam, dan hari Raya bagi Jama’ah haji serta hari pengampunan dosa dan pembebasan dari Neraka. Saking agung dan mulianya Allah bersumpah dengannya.

Keagungan dan keutamaan hari Arafah seperti disebutkan di atas berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam yang akan dijelaskan secara singkat berikut ini.

  1. Hari ‘Arafah merupakan hari disempurnakannya Agama dan Nikmat Allah

Dalam shahihain terdapat satu hadits, Ada orang Yahudi mengatakan kepada Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu, wahai Amirul Mukmin. Ada satu ayat di Kitab yang kamu baca. Kalau diturunkan kepada kami, pasti kami jadikan hari itu sebagai hari raya. ”Ayat apa itu?” tanya Umar. Dia menjawab (membaca surat Al-Maidah ayat 3);

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا (سورة المائدة :3)

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” QS. Al-Maidah: 3

Umar mengatakan, “Sungguh kami telah mengetahui hari itu, dan tempat dimana diturunkan kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam saat beliau sedang wukuf di Arafah pada hari Jumat”. (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Hari Arafah Adalah Hari Raya Bagi Jama’ah Haji Yang Berwukuf

Bagi jama’ah haji hari ‘Arafah yang merupakan puncak ibada haji sekaligus hari raya. Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

(وم عرفة ويوم النحر وأيام التشريق عيدنا أهل الإسلام ، وهي أيام أكل وشرب  (رواه أهل السنن

Hari Arafah, hari nahr dan hari-hari tasyriq adalah hari raya kami orang Islam, ia adalah hari makan dan minum.” (HR. Ahlis sunan).

Diriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa beliau mengatakan, “Ayat ini (Al-Maidah:3) diturunkan pada hari Jumat di hari Arafah. Keduanya menjadi hari raya bagi kami alhamdulillah”.

  1. Allah Bersumpah dengan Hari Arafah

Allah bersumpah dengan hari ‘Arafah. Ini menunjukan kemuliaan dan keutamaan hari Arafah. Karena Allah tidak bersumpah kecuali dengan yang agung dan mulia. Dalam Al-Qur’an Allah menyebut hari ‘Arafah sebagai hari yang disaksikan, Allah Ta’ala berfirman;

وشاهد ومشهود (سورة البروج :3

Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (QS. Al-Buruj: 3)

Abu Hurairah radhiyallahu anhu  mengatakan bahwa Nabi shallallahu aliahi wa sallam bersabda: “Hari yang dijanjikan adalah hari kiamat, dan hari yang disaksikan adalah hari Arafah. Yang menjadi saksi adalah hari Jumah.” (HR. Tirmizi dihasankan oleh Albani)

Sumpah Allah dengan hari Arafah juga terdapat dalam surah Al-Fajr ayat 3;

والشفع والوتر (سورة الفجر :3

“Dan yang genap dan yang ganjil.” (QS. Al-Fajr: 3)

Ibnu Abbas mengatakan, “Yang genap adalah hari Idul Adha dan yang ganjil adalah hari Arafah”.

  1. Puasa Pada Hari ‘Arafah Menghapus Dosa Dua Tahun

Salah satu amalan yang disunnahkan pada hari ‘Arafah adalah berpuasa, yang dikenal dengan nama puasa ‘Arafah. Puasa Arafah memiliki keutamaan yang besar, yakni menghapus dosa dua tahun.

Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau bersabda:

يكفر السنة الماضية والسنة القابلة  (رواه مسلم

“ Menghapus dosa tahun lalu dan tahun depan.” (HR. Muslim)

Puasa ini dianjurkan bagi selain jamaah haji. Bagi jamaah haji tidak dianjurkan berpuasa di hari Arafah. Karena Nabi shallallahu alaihiwa sallam tidak puasa di Arafah dan melarang berpuasa di hari tersebut.

  1. Allah Mengambil Sumpah Janji Kepada Keturunan Adam Pada Hari Arafah

Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إن الله أخذ الميثاق من ظهر آدم بنعمان – يعني عرفة – وأخرج من صلبه كل ذرية ذرأها ، فنثرهم بين يديه كالذر ، ثم كلمهم قبلا ، قال : ” ألست بربكم قالوا بلى شهدنا أن تقولوا يوم القيامة إنا كنا عن هذا غافلين (172) أو تقولوا إنما أشرك آباؤنا من قبل وكنا ذرية من يعدهم أفتهلكنا بما فعل المبطلون (سورة الأعراف :172-173 ، رواه أحمد وصححه الألباني)

Sesungguhnya Allah mengambil janji setia dari punggung Adam di Nikman (yakni Arafah)  dan mengeluarkan dari tulang rusuknya semua keturunan yang melanjutkannya. Dan disebarkan diantara kedua tangannya seperti biji. Kemudian semua ditanya seraya mengatakan: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.” (QS. Al-A’raf: 172-173, HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albany)

  1. Hari Arafah Merupakan Hari Pengampunan Dosa dan Pembebasan dari Neraka

Hari Arafah merupakan hari Pengampunan dosa dan pembebasan dari Neraka, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Ummul Mukmiminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ما من يوم أكثر من أن يعتق الله فيه عبدا من النار من يوم عرفة ، وإنه ليدنو ثم يباهي بهم الملائكة فيقول : ما أراد هؤلاء ؟  (رواه مسلم

“Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan seorang hamba dari neraka  di banding pada hari Arafah. Sesungguhnya Dia mendekat dan membanggakannya (di hadapan) para malaikat, seraya bertanya, “Apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim)

  1.  Pada Hari Arafah Allah Membangga-banggakan Penduduk Arafah

Pada hari Arafah Allah membangga-banggakan  jama’ah haji yang berkumpul untuk wuquf di  Arafah di hadapan para Malaikat.  Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إن الله تعالى يباهي ملائكته عشية عرفة بأهل عرفة ، فيقول : انظروا إلى عبادي أتوني شعثا غبرا (رواه أحمد وصححه الألباني)

Sesungguhnya Allah membanggakan penduduk Arafah kepada malaikat-Nya pada siang Arafah, Seraya berfirman, “Lihatlah kepada hamba-Ku mereka datang dalam kondisi lusuh dan berdebu.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Albani).

Semoga kita memperoleh keberkahan hari yang mulia dan agung ini. Semoga kita memperoleh ampunanNya dan pembebasan dari neraka.  Wallahu a’lam. [sym].

Dua Kata yang Ringan di Lisan Namun Berat dalam Timbangan dan Dicintai oleh Allah Ta’ala

Dua Kata yang Ringan di Lisan Namun Berat dalam Timbangan dan Dicintai oleh Allah  Ta’ala

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

” كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ 

Ada dua kata yang dicintai oleh Allah yang maha pengasih yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan; Subhanallahi Wa Bihamdihi Subhanallahil ‘Adzim (Maha  suci Allah dan dengan memujinya maha suci Allah yang Maha Agung)”.

Penjelasan

Imam Bukhari menutup kitab shahihnya Dengan hadis ini, dan beliau meriwayatkannya dari jalur Ahmad bin Muhammad bin ubaid telah menceritakan kepada kami dari umamah al kok jadi abu zur’ah Dari Abu Hurairah radhiallahu Anhu dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sama dengan lafadz hadits yang dibawakan oleh penulis al-hafidz Ibnu Hajar.

Dan  beliau Imam Bukhari juga memuatnya di dalam Kitab adda’a wat Seraya berkata; telah menceritakan kepada kami info telah menceritakan kepada kami dari Umamah dari Abu zur’ah Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda;

” كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ “

Ada dua kalimat yang sangat ringan di lisan namun berat di dalam Timbangan dan dicintai oleh Allah yang maha pengasih maha suci Allah yang Maha Agung maha suci Allah dengan memujinya”.

Sedangkan  Imam Muslim mengatakan bahwa Muhammad bin Abdullah bin Umar Bin Khattab dan Abu kuraib serta Muhammad bin Farid Al Ghazali telah menceritakan kepada kami mereka berkata ini foto yang telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Umar bin al-khattab dari Abu zur’ah Dari Abu Hurairah Dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

كلمتان خفيفتان على اللسان، ثقيلتان في الميزان، حبيبتان إلى الرحمن: سبحان الله وبحمده، سبحان الله العظيم))؛ متفق عليه))

“Ada dua kalimat yang sangat ringan di lisan namun berat di dalam Timbangan dan dicintai tapi yang maha pengasih maha suci Allah Maha Suci Allah dan dengan memujinya maha suci Allah yang Maha Agung”.

Kesimpulan;

  1. Keutamaan bertasbih dan bertahmid.
  2. Betapa mudahnya Jalan berdzikir dan mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  3. Allah mencurah kan karunianya dengan memberikan pahala yang sangat besar atas ucapan yang sangat sedikit.
  4. Seruan kepada manusia untuk menghimpun segala faktor yang dapat menyebabkan masuk surga negeri yang penuh dengan Kedamaian.

( Fiqhul Islam Syarah Bulughul Maram, Kitabul Jami’, Hadits ke-27).

Doa Ketika Turun Hujan

Doa Ketika Turun Hujan

Doa Ketika Turun Hujan

Dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”. (HR. Bukhari no. 1032).

Penjelasan:

Pada asalnya hujan merupakan rahmat dan karunia Allah pada makhluqNya. Namun kadang berubah musibah dan malapetaka bagi manusia. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat hujan turun, beliau berdo’a kepada Allah agar hujan yang turun membawa manfaat bagi penduduk bumi.

Hadits ini memunjukan bahwa dianjurkan membaca do’a ketika turun hujan. Do’ yang dianjurkan adalah memohon kebaikan dan manfaat dari hujan yang sedang turun tersebut.

Diantara contoh hujan yang membawa kebaikan dan manfaat adalah menyuburkan tanaman dan tumbuh-tumbuhan [Qs. 2:22], menambah ketersediaan air di dalam tanah, mengisi dan memenuhi sungai-sungai dan sumur yang kering, sebagai sumber minuman bagi manusia dan hewan ternak, dan sebagainya. Wallahu a’lam. [sym].

Tanda Lurusnya Iman

Tanda Lurusnya Iman

Tanda Lurusnya Iman

Salah satu tanda lurusnya Iman adalah Istiqamahnya hati dan lisan. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda tentang hal ini;

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

 

Iman seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga hatinya istiqamah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga lisannya istiqamah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk surga. (H.R. Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/13).

Pelajaran Hadits:

  1. Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, perbuatan hati dan perkataan lisan.
  2. Tanda dan bukti istiqamah (lurusnya) iman adalah lurus (istiqamah) nya hati, dan tanda istiqamahnya hati adalah istiqamhnya lisan. Artinya terjaganya lisan dari perkataan yang tidak benar dan tidak bermanfaat.
  3. Keutamaan menjaga lisan sebagai tanda istiqamahnya hati dan iman.
  4. Menghoramati tetangga merupakan bagian dari iman. Dalam hadits ini Allah menafikan Iman (yang sempurna) orang yang tidak menjaga lisannya dari mengganggu dan menyakiti tetangganya. Sebagaimana dalam hadits lain Nabi bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia memuliakan tetangganya”. 

Wallahu a’lam. [sym].

Hadits Puasa [14]: Makan dan Minum Karena Lupa

Hadits Puasa [14]: Makan dan Minum Karena Lupa

وعنْ أَبي هريرة – رضي الله عنه – قال: قالَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -: “مَنْ نَسِيَ وهُو صَائمٌ فَأَكلَ أَوْ شَرِبَ فليُتِمَّ صَوْمَهُ فإنّما أَطعمهُ اللَّهُ وسقاهُ” مُتّفقٌ عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Barangsiapa yang lupa lalu makan atau minum maka hendaknya melanjutkan puasanya karena sesungguhnya dia diberi makan dan minum oleh Allah”. (Muttafaq ‘alaih).

Dalam riwayat Imam Hakim berbunyi;

من أفطر في رمضان ناسياً فلا قضاء عليه ولا كفارة وهو صحيح

“Siapa yang membatalkan puasa Ramadhan karena lupa maka ia tidak wajib mengqadha dan membayar kaffarat serta puasanya tetap sah”.

Pelajaran Hadits

Hadits ini menunjukan bahwa orang makan atau minum karena lupa puasanya tidak batal dan tetap sah. Oleh karena itu dia tidak memiliki kewajiban qadha dan bayar kaffarat. Akan tetapi orang yang puasa lalu s makan  atau minum karena lupa, lalu teringat bahwa ia sedang puasa maka wajib segera menghentikan makan atau minumnya saat itu juga. Jika ia tetap melanjutkan makan atau minumnya setelah ingat bahwa dia puasa, maka puasanya batal dan wajib qadha. Demikian pula jika memelihat orang yang puasa makan atau minum karena lupa, maka yang melihat wajib mengingatkan dan menghentikan. Wallahu a’lam. [sym].

Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan

Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan

Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan

wahdahjakarta.com| Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh (malam) terakhir Ramadhan dengan kesungguhan yang tidak beliau lakukan sebelumnya. Salahsatu wujud kesungguhan beliau adalah dengan ber i’tikaf dan mencari malam lailatul qadri pada malam –malam tersebut.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha diterangkan bahwa;

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

Apabila telah masuk sepuluh terakhir Ramadhan Nabi shallalahu alaihi wasallam mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keuarganya,. Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan “beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya”.

Maksud dari syadda mi’zarahu (mengencankan sarungnya); begadang dan fokus beribadah.

Dikatakan pula bahwa ungkapan di atas merupakan kinayah (kiasan) dari menjauhi dan tidak menggauli istri-istrinya. Inilah makna yang lebih dekat, karena kiasan yang seperti ini ma’ruf di kalangan orang Arab, sebagaimana dalam sebuah sya’ir:

قومٌ إِذَا حَارَبُوا شَدُّوا مآزرهم

دُون النساء ولو بَاتَتْ بأطْهارِ

Kaum yang jika berperang maka mengencangkan kain-kain sarungnya

Tanpa menggauli istri ,meski istrinya dalam keadaan suci

Perkataan ‘Aisyah:”Ahyaa lailahu/Nabi menghidupkan seluruh malamnya”,maksudnya menghabiskan malamnya dengan begadang mengerjkan shalat dan ibadah yang lain. Dan dalam hadits ‘Aisyah yang lain dia mengatakan; ”Saya tidak mengetahui Rasululah membaca seluruh Al qur’an dalam semalam, shalat malam sampai subuh, berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan’’(HR. Nasai).

Boleh jadi maksud perkataan ‘Aisyah “Nabi menghidupkan malamnya” adalah qiyamullail pada separuh malam. Atau maknanya, beliau melakukan qiyamullail sepanjang malam, tetapi diselingi oleh makan malam, sahur dan sebagainya. Sehingga maksudnya beliau menghidupkan sebagian besar waktu malam (dengan ibadah).

Perkatan ‘Aisyah:”Membangunkan keluarganya”. Maksudnya beliau membangunkan istri-istrinya untuk shalat. Dan sebagaimana sudah dimaklumi bahwa beliau membangunakan istrinya sepanjang tahun, tetapi beliau hanya membangunkan mereka pada sebagian malam. Dalam shahih Bukhariy dijelaskan bahwa nabi bangun pada suatu malam lantas mengatakan:

سبحان الله ماذا أنزل الله من الخزائن وماذا أنزل من الفتن من يوقظ صواحب الحجرات يريد أزواجه لكي يصلين رب كاسية في الدنيا عارية في الآخرة

Subhanallaah, Maha suci Allah, apa yang fitnah apa yang Allah turunkan malam ini? Perbendaharaan apa lagi yang akan Dia turunkan? siapa yang membangunkan penghuni kamar-kamar ini (istrinya). Duhai, Betapa banyak orang berpakaian di dunia tetapi telanjang di akhirat” (HR Bukhari).

Diterangkan pula bahwa jika hendak witir beliau membangunkan ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha (HR Bukhari). Tetapi yang paling menonjol sepanjang tahun adalah beliau membangunkan istri-istrinya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. [sym].

Sumber:  Durus Ramadhan; Waqafat Lish Shaim, Karya Syekh. DR. Salman bin Fahd al-‘Audah hafidzahullah.

Artikel: wahdah.or.id

Hadits Puasa [12]: Berbekam Saat Puasa

Hadits Puasa [12]: Berbekam Saat Puasa

Terdapat beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berbekam saat puasa. Penulis Bulughul Maram Ibn Hajar dalam Kitab Shiyam mengemukakan setidaknya tiga hadits tentang berbekam pada bulan Ramadhan atau saat berpuasa,

Pertama

وعن ابنِ عَبّاسٍ – رضي الله عنهما -: “أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – احْتجمَ وهُوَ مُحْرمٌ واحْتَجَمَ وهُو صَائمٌ” رَوَاه البُخاريُّ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Nabi Muhammad shalllalahu ‘alaihi wa sallam berbekam saat beliau muhrim, dan berbekam saat beliau sedanhg puasa (shaim)”. (HR. Bukhari).

Hadits ini menunjukan bahwa berbekam (hijamah) tidak membatalkan puasa. Ini merupakan pendapat kebanyakan ulama.

Kedua

– وعَنْ شدَّاد بن أَوْسٍ – رضي الله عنه – أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – أَتى على رجُلٍ بالبقيع وهُو يحتجم في رمضان فقال: “أَفْطرَ الحاجِمُ والمحجومُ” رواهُ الخمسةُ إلا التّرْمذي، وصَحَّحَهُ أَحْمَدُ وابْنُ خُزَيْمَةَ وابْنُ حِبَّانَ.

Dari Syaddad radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam  datang ke Baqi’ dan melihat seseorang yang sedang berbekam pada bulan Ramadhan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Yang membekam dan dibekam batal puasanya”.

Hadits ini menunjukan bahwa berbekam membatalkan puasa, baik dibekam maupun membekam. Dikatakan pula bahwa hadits ini dinasakh (dianulir) oleh hadits Ibnu Abbas di atas.

Ketiga

 وعَنْ أَنَس بن مالك – رضي الله عنه – قال: “أَوَّلُ ما كُرِهَتْ الحِجَامةُ للصائمِ: أَنَّ جعَفْر بن أبي طالب احْتجمَ وَهُوَ صائمٌ فَمَرّ بهِ النّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – فقال: “أَفَطَر هذان” ثمَّ رخّص النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – بَعْدُ في الحِجَامةِ للصائمِ، وكان أنس يحتجِمُ وهُو صائم”. رواه الدارقطني وقواه.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Awal mula berbekam dimakruhkan bagi orang yang berpuasa adalah ketika Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaiahi wa sallam melewati beliau, maka Nabi bersabda, “Dua orang ini telah batal puasanya”. Kemudian setelah itu diberikan rukhsah (keringanan) berbekam saat puasa. Dan Anas pernah berbekam saat diapuasa. (HR. Daruquthni).

Pelajaran dan Kesimpulan

Menurut para Ulama ketiga hadits di atas dapat dikompromikan dan ditemukan titik temunya. Bahwa hukum hijamah (berbekam) bagi orang yang berpuasa tergantung keadaan dan kondisi fisik seseorang. Jika berbekam menjadikan seseorang lemas dan lemah secara fisik maka hukumnya makruh bagi orang tersebut. Dan lebih makruh lagi jika kelemahan tersebut menyebabkan ia berbuka atau membatalkan puasanya.

Namun tidak makruh bagi orang yang tetap kuat dan tidak melemah fisiknya meskipun berbekam. Akan tetapi dalam kondisi apapun lebih afdhal jika tidak berbekam saat puasa. [sym]

Hadits Puasa [11]: Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

 Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

وعَنْ عائشةَ – رضي الله عنها – قالتْ: “كانَ النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُ وَهُو صائمٌ ويُباشرُ وهُوَ صائمٌ، ولكنه أَمْلَكَكُمْ لإرْبِهِ” مُتّفقٌ عليه واللفظٌ لمسلم، وزاد في روايةٍ “في رَمَضَان”

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa, dan beliau juga mencumbui (istrinya) saat puasa, tapi beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan hasratnya”. (Muttafaq ‘alaih). Dalam redaksi lain, “Pada bulan Ramadhan”.

Hadits ini merupakan dalil bolehnya mencium istri atau bermesraan dan bercumbu saat berpuasa, dengan syarat ciuman dan cumbuan tersebut tidak sampai menggerakkan syahwat. Artinya kebolehan ini tidak berlaku secar mutlak. Boleh bagi yang dapat mengendalikan nafsunya seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapaun bagi mereka yang mudah bergejolak syahwatnya atau masih muda, hendaknya tidak melakukan hal tersebut.  Karena dikhawatirkan berlanjut kepada hubungan badan yang membatalkan puasa. [sym].

Sumber: Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, Kitab Shiyam.