Panjang Umur dan Rezki Lancar Berkat Silaturrahim


Panjang Umur dan Lancar Rezki Berkat Silaturrahim

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

((مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وأن يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ)) أخرجه البخاري

“Siapa yang ingin dilapangkan rezkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia bersilaturahim” (Dikeluarkan oleh Bukhari).

Pelajaran Hadits:

Hadits ini mengandung anjuran untuk menyambung silaturrahim. Dalam hadits ini dikabarkan pula bahwa silaturrahim dapat mendatangkan keluasan rezki dan menambah umur bagi yang melakukannya. Hadits ini tentu saja tidak bertentangan dengan firman Allah Ta’ala dalam surah al-A’raf ayat 34. Karena pertambahan yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah kinayah (kiasan) dari berkah pada umur dengan banyaknya ketaatan serta memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang bermanfaat di akhirat dan meninggalkan kenangan baik setelah meninggal.

Sebagian ulama berkata; penambahan yang dimaksud adalah hakiki. Hal ini bila dilihat dari sisi ilmu/pengetahuan Malaikat yang ditugaskan mencatat umur manusia semetara dalam ayat yang dimakud adalah umur manusia dalam ilmu Allah Ta’ala yang tidak dapat dimajukan dan diakhirkan.

Sementara menurut Ibnul Qayyim, makna penambahan umur dalam hadits tersebut adalah karunia berupa taufiq melakukan dzikrullah dan sibuk dengan ibadah.

Namun yang paling tepat adalah membawa makna hadits ini pada makna hakiki. Karena Allah telah mentakdirkan sebab dan penyebabnya.

Sehingga jika Dia mentakdirkan memanjangkan umur manusia, maka Dia juga menyediakan untuknya berbagai sebab maknawaiyah maupun hissiyah sebagai faktor memperpanjang umurnya, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama yang lain. [sym].

(Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Al-Birr was-Shilah, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab, Siapa Saja Mereka?

Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]

Pertanyaan:

Di dalam Shahih Bukhari disebutkan hadits bahwa 700.000 orang akan masuk surga, sedangkan generasi awal saja mungkin jumlah mereka sudah mencapi 700.000. Apakah ada tafsir lain tentang hadits ini?

Jawaban:

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.
Barangkali maksud anda wahai penanya adalah hadits tentang 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ahmad serta yang lainnya dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Kalau anda memperhatikan hadits ini, akan hilanglah -insya Allah- ketidakjelasan yang tercermin dalam pertanyaan anda.

Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau berkata:

Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang nabi atau dua orang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: ‘Ini adalah Musa dan kaumnya,’ lalu dikatakan, ‘Perhatikanlah ke ufuk.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, ‘Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk surga tanpa hisab sejumlah 70.000 orang. Kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam masuk tanpa menjelaskan hal itu kepada para shahabat. Maka para shahabat pun membicarakan tentang 70.000 orang itu. Mereka berkata, ‘Kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya maka kitalah mereka itu atau anak-anak kita yang dilahirkan dalam Islam, sedangkan kita dilahirkan di masa jahiliyah.’ Maka sampailah hal itu kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau keluar dan berkata, ‘mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah (dimanterai), tidak meramal nasib dan tidak mita di-kai, dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal.” [HR. Bukhari 8270].

Maksud hadits ini menjelaskan bahwa ada satu kelompok dari ummat ini akan masuk surga tanpa dihisab, bukan berarti bahwa jumlah ahli surga dari ummat ini hanya 70.000 orang. Maka mereka yang 70.000 orang yang diterangkan dalam hadits ini adalah mereka yang memiliki kedudukan yang tinggi dari kalangan ummat ini karena mereka memiliki keistimewaan khusus yang disebutkan oleh hadits ini, yaitu mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak meramal nasib, dan tidak minta di-kai, serta hanya kepada Allah mereka bertawakkal.

 

Ada lagi hadits yang menjelaskan penyebab mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab di dalam riwayat lain bagi Imam Bukhari rahimahullah, dari Abbas radhiallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Ditampakkan kepadaku beberapa ummat. Maka ada seorang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh satu ummat, ada pula seorang nabi yang diikuti oleh beberapa orang, ada juga nabi yang diikuti oleh sepuluh orang. Ada juga nabi yang diikuti lima orang, bahkan ada seorang nabi yang berjalan sendiri. Aku pun memperhatikan maka tiba-tiba ada sejumlah besar orang, aku berkata, ‘Wahai Jibril, apakah mereka itu ummatku? Jibril menjawab, ‘Bukan, tapi lihatlah ke ufuk!’ Maka aku pun melihat ternyata ada sejumlah besar manusia. Jibril berkata, ‘Mereka adalah ummatmu, dan mereka yang di depan, 70.000 orang tidak akan dihisab dan tidak akan diadzab.’ Aku berkata, ‘Kenapa?’ Dia menjawab, ‘Mereka tidak minta di-kai, tidak minta diruqyah, dan tidak meramal nasib serta hanya kepada Allah mereka bertawakal.’Maka berdirilah Ukasyah bin Mihshan, lalu berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan salah satu seorang di antara mereka.’ Nabi pun berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah dia salah seorang di antara mereka.’Lalu ada orang lain yang berdiri dan berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku salah seorang di antara mereka.’ Nabi Shalalahu ‘alaihi wasslam menjawab, ‘Kamu telah didahului oleh Ukasyah’.” [HR. Bukhari 6059]

Tentang sifat mereka pun dijelaskan di dalam hadits Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata,

Pasti ada 70.000 orang dari ummatku atau 700.000 orang (salah seorang periwayat hadits ini ragu) akan masuk surga orang pertama di antara mereka, tidak memasukinya sebelum masuk pula orang terakhir dari mereka. Wajah-wajah mereka seperti bulan pada bulan purnama.” [HR. Bukhari]
Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]

Tentang sifat mereka diterangkan pula di dalam riwayat Muslim dalam shahihnya dari hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu,

“…, kemudian selamatlah orang-orang mukmin, selamat pulalah kelompok pertama dari mereka yang wajah-wajah mereka seperti bulan pada malam purnama sejumlah 70.000 orang. Mereka tidak dihisab kemudian orang-orang setelah seperti cahaya bintang di langit, kemudian yang seperti mereka.”

Bagi kita semua kaum muslimin ada kabar gembira dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam di dalam hadits ini dan hadits-hadits lainnya. Adapun kabar gembira dalam hadits ini karena ada riwayat yang lain dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah dari hadits Abu Umamah dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata,

Rabbku ‘Azza wa Jalla telah menjanjikan kepadaku bahwa ada dari ummatku yang akan masuk surga sebanyak 70.000 orang tanpa hisab ataupun adzab beserta setiap ribu orang ada 70.000 orang lagi dan tiga hatsiyah dari hatsiyah-hatsiyah Allah ‘Azza wa Jalla.”

Kita memohon kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar Dia menjadikan kita termasuk golongan mereka. Bila anda hitung 70.000 orang menyertai setiap seribu orang dari yang 70.000 itu, berapakah jumlah seluruhnya bagi orang yang masuk surga tanpa hisab?!?

Dan berapa jumlah seluruh hatsiyah dari hatsiyah Allah yang Agung dan Mulia, Yang Penyayang dan Pengasih?
Adapun berita gembira yang kedua adalah bahwa jumlah ahli surga dari ummat ini dua pertiga (2/3) dari seluruh jumlah ahli surga, maka jumlah ummat Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang masuk surga lebih banyak dibanding jumlah seluruh ummat yang lalu. Berita gembira ini datang dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sebuah hadits ketika beliau bersabada kepada para sahabatnya pada suatu hari,

“Ridhakah kalian, kalau kalian menjadi seperempat (1/4) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, ‘Ridhakah kalian menjadi sepertiga (1/3) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, ‘Ridhakah kalian menjadi setengah (1/2) dari penduduk surga?”Kami menjawab, “Ya.”Beliau berkata lagi, “Demi Allah yang jiwaku ada dalam tangan-Nya, sesungguhnya aku berharap kalian menjadi setengah (1/2) dari penduduk surga karena surga tidak akan dimasuki kecuali oleh jiwa yang muslim dan tidaklah jumlah kalian dibanding ahli syirik kecuali seperti jumlah bulu putih pada kulit sapi hitam atau seperti bulu hitam pada kulit sapi merah.” [HR. Bukhari 6047]

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyempurnakan berita gembiranya kepada kita dalam hadits shahih yang lain. Beliau berkata,

“…, Ahli surga 120 shaf, 80 shaf di antaranya dari ummatku, dan 40 shaf lagi dari ummat lainnya.” [HR. Tirmidzi 3469,lalu Tirmidzi berkata, “Ini hadits hasan.”]

Maka kita memuji Allah atas nikmatnya dan kita memohon karunia dan rahmat-Nya, dan semoga Dia menempatkan kita di surga dengan upaya dan anugrah-Nya, dan semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi kita Muhammad. [sym].
(Sumber: Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid//http://islamqa.info/id/4203).

Kebaikan dan Dosa

Kebaikan dan Dosa. Gambar:Laziswahdah.com

Kebaikan dan Dosa

Dari Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, beliau berakata, aku bertanya kepadan Nabi shallallahu ‘aihi wa sallam tentang kebaikan dan dosa  (al-birr wal itsm). Beliau bersabda;

البر حسن الخلق , و الإثم ما حاك في صدرك و كرهت أن يطلع عليه الناس

Kebaikan itu akhlaq yang baik, sedangkan dosa dalah apa yang berkecamuk dalam dadamu dan engkau tidak suka diketahui oleh manusia” (HR. Muslim).

Pelajaran Hadits:

1. Anjuran terhadap husnul khuluq (akhlaq yang baik). Husnul khuluq dapat berupa wajah yang berseri ketika bertemu, menahan diri dari mengganggu orang lain, dan bersabar menahan gangguan, mempersembahkan kebikan, serta berhias diri dengan adab islami. Akhlaq ada yang berupa gharizah dan ada pula mukatasab (diusahakan).

2. Anjuran meninggalkan sesuatu yang meragukan kebolehannya, dan Allah telah mengaruniakan kepada setiap orang kemampuan untuk mengenali keburukan tersebut. [sym]

(Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Adab, halaman: 586-587, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)

Jagalah Allah, Dia Akan Menjagamu

Jagalah Allah, Dia Akan Menjagamu

Wahai anak kecil, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat; jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu”, demikian pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sebagaimana dalam hadits Riwayat Imam Tirmidzi.

Alinea di atas merupakan pembuka dan wasiat pertama dari rangakaian wasiat penting Nabi kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Teks hadits selengkapnya berbunyi;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ: يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ)) رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح]
وفي رواية غير الترمذي ((احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ تَعَرَّفْ إِلَيْهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ واعلم أن ما أخطأك لم يكن ليصيبك، وما أصابك لم يكن ليخطئك,وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا))

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma merawikan, Aku pernah dibonceng oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, Beliau berkata, “Wahai anak kecil, sesungguhnya aku hendak mengajarimu beberapa kalimat, Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau akan mendapatiNya di hadapanmu. Jika kamu meminta mintalalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan (isti’anah) mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah!bahwa andaikan seluruh ummat manusia berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, merekan takkan dapat memberimu manfaat melainkan apa yang telah tetapkan untukmu. Andaikan mereka berkumpul untuk menimpakan mudharat kepadamu, niscaya mereka takkan dapat menimpakan mudharat tersebut melainkan apa yang telah ditetapkan Allah akan menimpamu. Pena telah diangkat dan tinta telah mengering”. (HR. Tirmidzi, belau berkata hadits ini hasan shahih).

Dalam riwayat lain selain Imam Tirmidzi berbunyi; ”Jagalah Allah niscaya kamu akan menemukanNya di depanmu, kenalkan dirimu kepada Allah di saat lapang niscaya Dia akan mengenalimu di saat susah. Ketahuilah bahwa apa yang meleset darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang (telah ditetapkan) akan menimpamu tidak akan meleset darimu. Ketahuilah, bahwa prtolongan bersama kesabaran, jalan keluar bersama kesusahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan”.

Jagalah Allah! Maksudnya?
Para Ulama mengatakan bahwa perintah menjaga Allah dalam hadits ini bermakna menjaga hak-hak –Nya, batasan-batasan-Nya dan syariat-syariat-Nya dengan mentaati perintah-printah-Nya dan me njauhi larangan-larangan-Nya.
“Sabdanya, “Jagalah Allah, Allah menjagamu”, yakni, jagalah perintah-perintah-Nya dan taatilah, serta hindarilah larangan-larangan-Nya, maka ia menjagamu dalam berbagai kadaanmu di duniamu dan akhiratmu”, demikian penjelasan Imam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah.

Senada dengan an-Nawawi rahimahullah, Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Daqiq al-‘Id rahimahullah mengatakan, “Jagalah Allah, Allah menjagamu”, artinya, jadilah kamu orang yang patuh pada Tuhanmu, yang melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya”.

Ibnu Utsaimin rahimahullah menyebutkan makna yang lebih umum ari apa yang ikatakan olh Imam Nawai an Ibnu aqiq al-id. Beliau mengatakan, “kalimat, “jagalah Allah”, artinya jagalah batasan–batasanNya dan syariat–syariatNya, dengan mengerjakan perintah– perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya”.

Ulama lain yang juga menyebutkan makna yang lebih umum adalah Syekh Shalih bin Abul Aziz bin Muhammad Alu Syaikh dan Syekh. DR. Muhammad Yusri. Syekh Alu Syekh menafsirkan perintah menjaga Allah dengan menjaga hak-hak Allah ‘azza wajalla. Sedangkan syekh Muhammad Yusri menafsirkan jagalah Allah dengan menjaga Agama-Nya. Dan Agama Allah mencakup aqidah, hudud (batasan-batasan), huquq (hak-hak Allah), perintah, larangan, dan adab.

Dia Akan Menjagamu
Dia akan menjagamu”. Inilah balasan yang dijanjikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang menjaga Agama, perintah, syari’at, batasan, dan hak-hak Allah Ta’ala.

Lalu, apa dan bagaimana bentuk penjagaan Allah terhadap seorang hambaNya?

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad Alu Syaikh mengatakan, penjaga Allah terhadap seorang hamba pada dua aspek, yakni dunia dan Dien (Agama). Orang yang menjaga syariat Allah akan dijaga oleh Allah masalahat dunianya, seperti kesehatan badannya, dimudahkan hajat hidupnya, diluaskan rezkinya, dijaga anak-anak dan keluarganya dan sebagainya. Singkatnya semua maslahat dunianya dijamin oleh Allah dan dihindarkan dari berbagai mudharat dalam urusan dunianya.

Yang kedua, dijaga dalam urusan Agama (Dien) nya. Yakni dijaga hatinya dari berbagai ujian syahwat dan syubhat yang menimpa Agamanya. Hatinya terlindungi dari pengaruh syahwat mapun syubhat. Hal ini semakna dengan janji Allah dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahihnya, “Tidaklah hambaKu mendekatkan diri dengan ibadah-ibadah tambahan (nafilah/sunnah) melainkan aku pasti mencintainya, jika aku telah mencintainya maka Akulah pendengarannya yang dengannuya dia mendengar, akulah penghilahatannya yang dengannya dia melihat, Akulah tangannya yang dengan-Nya dia menggenggam, Akulah kakinya yangdengan-Nya Dia berjalan. Jika dia meminta (berdo’a) aku pasti beri, dan jika memohon pertolongan aku pasti menolongnya”.

Artinya orang yang menjaga hak dan syariat Allah dengan menjaga kontiniuitas ibadah-ibadah Sunnah akan selalu dijaga, dibimbing, dan diarahkan oleh Allah. Penglihatan, pendengaran, tangan dan kakinya akan selalu dijaga dan dibimbing oleh Allah. Sehingga Dia hanya memandang dan mendengarkan yang baik serta diridhai Allah. Tangan dan kakinya akan senantiasa dibimbing oleh Allah. [sym]

Adab Menguap Dalam Islam

Adab Menguap

“Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi I/116-117 no. 304)

Islam adalah agama yang telah Allah sempurnakan bagi ummat manusia. Begitu pula dengan ajarannya, di dalamnya telah dijelaskan dengan sangat detail, di antaranya adalah adab ketika menguap.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan adab tersebut. Namun sangat disayangkan sebagian kaum muslimin tidak memperhatikan adab tersebut. Bahkan sebaliknya, mereka malah mengikuti cara-cara tidak Islami ketika menguap. Mulut mereka dibuka lebar-lebar dan tidak ditutup, bahkan terkadang di iringi dengan suara yang keras.

Menguap dibenci oleh Allah Jalla wa A’laa, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan benci terhadap menguap, maka apabila ia bersin hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucapkan Alahamdulillah). Dan kewajiban bagi setiap muslim yang mendengar untuk mendoakannya. Adapun menguap berasal dari syaitan, hendaklah setiap muslim berusaha untuk menahannya sebisa mungkin. Dan bila mengeluarkan suara ‘ha’, maka saat itu syaitan menertawakannya.” (HR. Bukhari).

Maka dari itu selayaknya seorang muslim benci menguap sebagaimana Allah membencinya. Dan yang menyebabkan dimakruhkannya menguap adalah karena hal ini berasal dari syaitan, dan syaitan tidak akan menghinggapi sesuatu kecuali pada hal-hal yang jelek dan yang dibenci. Lagi pula, menguap membuat seseorang banyak makan yang pada akhirnya membawa kemalasan dalam beribadah.

Terlebih pada saat shalat, seorang muslim disunahkan untuk menahannnya sekuat mungkin karena itu dari syaithan, sebagaimana yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi I/116-117 no. 304)

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa hendaklah seorang muslim jika menguap berusaha untuk menahannya sedapat mungkin. Jika ia tidak dapat menahan mulutnya tetap dalam keadaan tertutup, maka hendaklah ia menutupinya dengan tangannya. Dan lebih utama menutup mulut dengan tangan kiri karena menguap merupakan perbuatan yang buruk.

Wallahu a’lam
Tri Afrianti

Sumber:
Buku Adab Menguap dan Bersin (Adaabut Tatsaa’ub wal ‘Uthaas) Syaikh Isma’il bin Marsyud Ar Rumaih

etika bertetangga

Etika Bertetangga

Etika Bertetangga

  1. Menghormati Tetangga dan Bersikap Baik terhadap mereka
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,sebagaimana di dalam hadist Abu Hurairah radiallahu anhu,”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dalam riwayat lain disebutkan, ”Hendaklah ia berprilaku baik terhadap tetangganya.”(Muttafaq’alaihi).
  2. Tidak Mendirikan Bangunan yang Mengganggu Tetangga
    Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar matahari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, baik merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.
  3. Memelihara Hak-hak Tetangga
    Hendaknya kita memelihara hak-haknya disaat mereka tidak di rumah.Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan jahil; dan hendaknya kita ulurkan tangan, bantuan dan pertolongan kepada mereka membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.
  4. Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan pergi mereka.
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah,tidak beriman!” Nabi ditanya, “siapa, wahai Rasulullah? “Nabi menjawab, “orang yang tetangganya tidak merasa tentram karna perbuatannya.(muttafaq’alaihi).
  5. Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.
  6. Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abu Dzar radiallahu anhu,”wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur (daging kuah) maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu.”(HR.muslim)
  7. Hendaknya kita turut bersuka cita didalam kebahagiaan mereka dan berduka cita didalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit; kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka lunak dan sayang kepada kita.
  8. Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan dan kekeliruan mereka, dan jangan pula senang bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memanfaatkan kekeliruan dan kelupaan mereka.
  9. Hendaknya kita sabar atas perilaku kurang baik mereka terhadap kita.Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ”Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah disebutkan diantaranya seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu, hingga keduanya dipisahkan oleh kematian atau kepergiaannya.”(HR. Ahmad)

Sumber:
– Etika Seorang Muslim, Ilmiah Darul Wathan, (hlm.137-141).
http://wahdah.or.id.

Wastaghfirullah (Ber-Istighfar-lah Kepada Allah)

Istighfar

Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalin berbuat salah siang dan malam, dan aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Oleh karena itu bertighfar [mohon ampun] lah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian”. Demikian penggalan penggalan Firman Allah dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Abu Dzar al-Ghifari radhiyallhu ‘anhu serta dikeluarkan oleh Imam Muslim, Ibnu Hibban, al-Baihaqiy, Ath-Thayalisi dan yang lainnya.

Hadits Qudsi tersebut mengisyaratkan bahwa sebagai manusia biasa kita tak luput dari salah dan dosa. Makna ‘salah’ dalam hadits di atas adalah dosa, sebagaimana dikatakan Syekh Shaleh bin Abdul Aziz Aalu Syaikh hafidzahullah. “Kesalahan di sini bermakna dosa (itsm)”, jelas Syekh Aalu Syaikh ketika mensyarah hadits ke-24 Al-Arba’in An Nawawiyah. “Karena kesalahan dalam arti tersalah atau tidak sengaja termasuk perkara yang dimaafkan”, lanjutnya. Jadi makna kalimat “kalian berbuat salah siang dan malam” adalah kalian berdosa atau berbuat dosa.

Namun pada kalimat berikutnya Allah mengatakan, “dan Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya”. Tentu saja selain syirik, karena syirik tidak diampuni kecuali dengan Islam dan taubat. Oleh karena itu pula Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk beristighfar. Allah berfirman, “Oleh karena itu mohon ampun [beristighfar] lah kalian kepada-Ku niscaya Aku ampuni kalian”.

Hadits di atas juga menunjukkan pentingnya istighfar dalam kehidupan seorang hamba Allah. Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal sangat banyak beristighfar kepada Allah. Dalam haditsnya beliau mengabarkan bahwa beliau beristighfar lebih tujuh puluh kali (70x) bahkan sampai seratus kali (100x) dalam sehari. Tentu saja hal ini menunjukan betapa urgennya kedudukan istighfar dalam kehidupan seorang Muslim. Selanjutnya dalam tulisan ini akan disebutkan beberapa poin penting yang menunjukan urgensi dan kedudukan istighfar.

1. Perintah Allah

Istighfar merupakan perintah Allah Ta’ala, bahkan perintah beristighfar setelah perintah melakukan kebaikan dan ketaatan, sebagaimana termaktub dalam beberapa ayat al-Qur’an, diantaranya; Surat Al-Baqarah [2] ayat 199, Surat An-Nisa [4] ayat 106, dan Al-Muzammil [73] ayat 20;

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿١٩٩﴾
Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun (beristighfarlah) kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Baqarah [2]: 199).
وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا ﴿١٠٦﴾
dan mohonlah ampun (beristighfarlah) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. An-Nisa [4]:106).

ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٢٠﴾
Dan mohonlah ampunan (beristighfarlah) kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Muzammil [73]:20).

Dalam ketiga ayat di atas terdapat perintah Allah untuk beristighfar (memohon ampun) kepada-Nya. Ayat yang disebut pertama (Qs. 2:199) dalam konteks ibadah haji. Setelah wukuf Arafah yang merupakan puncak ibadah Haji, Allah menyuruh para Jama’ah Haji untuk bertolak dari Arafah menuju Muzdalifah dan beristighfar kepada Allah. Perhatikan! Setelah menyelesaikan puncak manasik haji para jama’ah haji diperintahkan untuk beristighfar (memohon ampun). Sebab boleh jadi dalam ibadah tersebut masih terdapat kekurangan dan kelalaian.

Perintah Allah untuk beristighfar setelah menunaikan suatu ibadah, bukan hanya pada ibadah Haji. Dalam Ayat yang disebut terakhir di atas (Qs. 73:20), perintah beristigfar berkenaan dengan shalat malam. Untuk lebih jelasnya perhatikan terjemahan ayat tersebut secara utuh, “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan (beristigfarlah) kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Muzammil [73]:20).

Dalam ayat di atas Allah menyuruh Nabi dan orang-orang beriman untuk bangun malam melakukan shalat Lail, membaca al-Qur’an, dan menunaikan zakat. Setelah itu Allah memerintahkan untuk beristigfar (memohon ampun) pada-Nya. Tentu saja perintah istighfar pasca melakukan kebaikan dan ibadah merupakan bukti betapa urgent dan pentingnya Istighfar dalam kehidupan seorang Muslim. Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan, “Perintah Allah untuk beristighfar setelah anjuran melakukan ketaatan dan berbuat baik mengandung faidah yang besar. Hal itu dikarenakan oleh alasan bahwa seorang hamba tidak luput dari kelalaian dalam menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya; entah tidak melakukannya sama sekali, atau melakukannya secara tidak sempurna sehingga ia diperintahkan untuk menambal dan memperbaiki kekurangan tersebut dengan Istiighfar. Karena sesungguhnya seorang hamba berdosa siang dan malam, sehingga bila Allah tidak meliputinya dengan Rahmat-Nya, maka sungguh ia akan binasa”. (Taisir Karimirrahman fiy Tafsir Kalamil Mannan, hlm. 895).

Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada ummatnya bagaimana melengkapi suatu ibadah dengan melakukan istigfar setelahnya. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwa setelah selesai Shalat Wajib beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam beristighfar tiga kali. Demikian pula pada hari Arafah. Diriwayatkan dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa pada sore hari Arafah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan ampun untuk ummatnya.

Adapun perintah beristighfar yang terdapat dalam ayat yang disebut kedua (Qs. 4:106) justru setelah anjuran melakukan beberapa amal. Kalau dalam surah Al-Muzammil ayat 20, perintah beristighfar datang setelah perintah melakukan shalat secara umum dan shalat Lail secara khusus, membaca al-Qur’an,menunaikan zakat, dan ibadah harta lainnya serta kebaikan lainnya secara umum, maka dalam ayat 106 surah An-Nisa perintah beristighfar datang setelah ayat-ayat jihad (ayat 95-96), hijrah (ayat 97-101), shalat Khauf (ayat 101-103), perintah menunaikan shalat pada waktunya (ayat 103), larangan merasa hina dan rendah diri di hadapan kekufuran (ayat 104), kabar tentang diturunkannya kitab al-Qur’an sebagai hakim atas para pengkhianat (105).
Hal itu menunjukkan bahwa istighfar menempati kedudukan yang sangat penting dan urgent di dalam Islam. [sym]

adab makan dan minum

Haramnya Boros dalam Makan dan Minum

Hadits Diharamkannya Makan dan Minum Secara Boros

عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : كل واشرب ، والبس وتصدق ، من غير سرف ولا مخيلة . رواه أحمد وأبو داود ، وعلقه البخاري

Dari ‘Amr bin syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Makan dan minum serta berpakaian dan bersedakahlah tanpa boros dan tidak sombong”. (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Bukhari secara mu’allaq).

Pelajaran Hadits:
Hadits ini menunjukkan haramnya tabdzir (pemborosan) dan israf (berlebih-lebihan) dalam makan dan minum, sedekah, dan berpakaian. Hendaknya seseorang pertengahan dalam bertindak karena diharamkan bersikap sombong dan takabbur.
Hadit ini juga menunjukkan perhatian Islam terhadap kemaslahatan jiwa dan tubuh serta menjauhkannya dari hal-hal yang membahayakan bagi keduanya di dunia dan di akhirat. [sym]
(Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Adab, halaman: 590-591, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India)

Artikel:http://wahdah.or.id

Ternyata Ini Dua Puluh Tujuh Keutamaan Shalat Berjama’ah dari Shalat Sendirian

Shalat berjama’ah
Shalat berjama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian. Dalam riwayat lain dua puluh lima derajat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
صلاة الجماعة تفضل صلاة الفذ بس بع وعشرين درجة
Shalat berjama’ah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian”. (HR. Bukhari, No. 645 dan Muslim, No. 650).
Dalam hadits lain disebutkan;
بخمس وعشرين درجة
Lebih utama dua puluh lima derajat”. (HR. Bukhari, No.646, dan Muslim, No.649).
Apa yang menjadikan shalat berjama’ah lebih utama dua puluh lima derajat dan atau dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian? Para ulama telah melakukan pendekatan makna antara kedua riwayat tersebut dan mereka menjelaskan sebab-sebab perbedaan derajat yang disebutkan di atas. Diantaranya Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani rahimahullah. Penulis kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari ini berkata, “Saya telah mengintisarikan apa-apa yang saya dapatkan mengenai hal ini. Yaitu hal-hal yang menjadikan shalat jama’ah lebih utama dua puluh lima tau dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian’’, yaitu:
Pertama, Memenuhi panggilan muadzin dengan niat shalat berjama’ah,
Kedua, Berangkat pada awal waktu menuju shalat berjama’ah,
Ketiga, Berjalan dengan tenang ke masjid,
Keempat, Masuk masjid sambil berdo’a,
Kelima, Shalat tahiyatul masjid ketika masuk masjid,
Keenam, Menunggu jama’ah,
Ketujuh, Do’a permohonan ampunan oleh para Malaikat untuk mereka yang menghadiri shalat jama’ah,
Kedelapan, Kesaksian para Malaikat akan membela mereka,
Kesembilan, Menjawab iqamah,
Kesepuluh, Selamat dari setan ketika setan lari mendengar iqamah,
Kesebelas, Berdiri menunggu takbiratul ihram imam, atau masuk bersama imam dalam keadaan apa saja dia mendapatkan imam,
Keduabelas, Mendapatkan takbiratul ihram,
Ketiga belas, Meluruskan dan menutup celah-celah shaf,
Keempat belas, Menjawab ucapan Imam, “Sami’allahu liman hamidah”,
Kelima belas, Terhindari dari lupa pada umumnya dan mengingatkan imam apabila lupa atau memulai untuknya,
Keenam belas, Meraih shalat khusyu’ dan terhindar dari apa-apa yang membuat lalai pada umumnya,
Ketujuh belas, Pada umumnya dengan berjama’ah setiap jama’ah dapat memperbaiki tatacara shalatnya,
Kedelapan belas, Para Malaikat mengitari orang-orang yang shalat berjama’ah dengan sayap-sayap mereka,
Kesembilan belas, Melatih diri memperbaiki bacaan Al-Qur’an dan mempelajari rukun-rukun Shalat dan bagian-bagian lainnya,
Kedua puluh, Menampakkan syi’ar Islam,
Kedua puluh satu, Menghinakan setan dengan berjama’ah dalam beribadah serta saling tolong menolong dalam ketaatan dan yang malas menjadi bersemangat,
Kedua puluh dua, Selamat dari penyakit kemunafikan dan terhindar dari buruk sangka orang bahwa ia meninggalkan shalat,
Kedua puluh tiga, Menjawab salam Imam,
Kedua puluh empat, Meraih keutamman dengan berkumpul dalam keadaan berdo’a dan berdzikir sehingga berkah yang sempurna dapat juga menyempurnakan yang kurang,
Kedua puluh lima, Tegaknya rasa saling kasih antara tetangga dan saling bertemu dalam waktu-waktu shalat,

Ini adalah dua puluh lima poin yang merupakan keutamaan shalat berjama’ah dibanding shalat sendirian, dan tersisa dua keutamaan yang terkait dengan shalat jahriyah, yaitu;

Kedua puluh enam, Mendengar dan menyimak dengan seksama bacaan Imam, dan
Kedua puluh tujuh, Membaca “Amin” bersamaan dengan bacaan ‘amin” imam agar bersesuaian juga dengan ucapan “amin” para Malakat. (Fathul Bari, 2/133)
(Sumber: 40 manfaat Shalat Berjama’ah, karya Syekh Abu Abdillah Musnid Al-Qahthani)

Setiap Kebaikan Berpahala Sedekah

Sedekah merupakan amalan yang sangat mulia. Sebab sedekah merupakan burhan (bukti) iman seorang Muslim. Sedekah juga memiliki banyak keutamaan, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui hadits-haditsnya.

Sedekah tidak selamanya dengan harta, karena pahala sedekah dapat diraih dengan melakukan kebaikan apapun. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda;
«كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ »
Setiap kebaikan adalah sedekah” (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan manusia dengan niat baik tergolong sedekah yang diganjar pahala oleh Allah Ta’ala. Artinya sedekah tidak terbatas pada apa yang dikeluarkan seseorang berupa harta, sehingga setiap yang mampu berbuat baik terhitung sebagai orang yang bersedekah, baik kaya maupun faqir.

Oleh karena itu dalam hal ini orang kaya dan miskin memiliki peluang yang sama untuk meraup pahala sedekah, yakni dengan melakukan kebaikan walaupun kecil. Seperti tersenyum atau memasukkan perasaan riang dan suka cita ke dalam hati sesama. Sebab, “Senyumanmu kepada saudaramu adalah sedekah”. Dalam hadits lain baginda Rasul juga mewanti-wanti untuk tidak meremehkan suatu kebaikan sama sekali. “Janganlah kamu meremehkan suatu kebaikan sedikitpun, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah berseri-seri”. [sym].

Sumber: Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram Kitabul Jami’ Bab Al-Birr was-Shilah, Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah).