Dua Kata yang Ringan di Lisan Namun Berat dalam Timbangan dan Dicintai oleh Allah Ta’ala

Dua Kata yang Ringan di Lisan Namun Berat dalam Timbangan dan Dicintai oleh Allah  Ta’ala

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

” كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ 

Ada dua kata yang dicintai oleh Allah yang maha pengasih yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan; Subhanallahi Wa Bihamdihi Subhanallahil ‘Adzim (Maha  suci Allah dan dengan memujinya maha suci Allah yang Maha Agung)”.

Penjelasan

Imam Bukhari menutup kitab shahihnya Dengan hadis ini, dan beliau meriwayatkannya dari jalur Ahmad bin Muhammad bin ubaid telah menceritakan kepada kami dari umamah al kok jadi abu zur’ah Dari Abu Hurairah radhiallahu Anhu dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sama dengan lafadz hadits yang dibawakan oleh penulis al-hafidz Ibnu Hajar.

Dan  beliau Imam Bukhari juga memuatnya di dalam Kitab adda’a wat Seraya berkata; telah menceritakan kepada kami info telah menceritakan kepada kami dari Umamah dari Abu zur’ah Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda;

” كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ “

Ada dua kalimat yang sangat ringan di lisan namun berat di dalam Timbangan dan dicintai oleh Allah yang maha pengasih maha suci Allah yang Maha Agung maha suci Allah dengan memujinya”.

Sedangkan  Imam Muslim mengatakan bahwa Muhammad bin Abdullah bin Umar Bin Khattab dan Abu kuraib serta Muhammad bin Farid Al Ghazali telah menceritakan kepada kami mereka berkata ini foto yang telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Umar bin al-khattab dari Abu zur’ah Dari Abu Hurairah Dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

كلمتان خفيفتان على اللسان، ثقيلتان في الميزان، حبيبتان إلى الرحمن: سبحان الله وبحمده، سبحان الله العظيم))؛ متفق عليه))

“Ada dua kalimat yang sangat ringan di lisan namun berat di dalam Timbangan dan dicintai tapi yang maha pengasih maha suci Allah Maha Suci Allah dan dengan memujinya maha suci Allah yang Maha Agung”.

Kesimpulan;

  1. Keutamaan bertasbih dan bertahmid.
  2. Betapa mudahnya Jalan berdzikir dan mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  3. Allah mencurah kan karunianya dengan memberikan pahala yang sangat besar atas ucapan yang sangat sedikit.
  4. Seruan kepada manusia untuk menghimpun segala faktor yang dapat menyebabkan masuk surga negeri yang penuh dengan Kedamaian.

( Fiqhul Islam Syarah Bulughul Maram, Kitabul Jami’, Hadits ke-27).

Doa Ketika Turun Hujan

Doa Ketika Turun Hujan

Doa Ketika Turun Hujan

Dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”. (HR. Bukhari no. 1032).

Penjelasan:

Pada asalnya hujan merupakan rahmat dan karunia Allah pada makhluqNya. Namun kadang berubah musibah dan malapetaka bagi manusia. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat hujan turun, beliau berdo’a kepada Allah agar hujan yang turun membawa manfaat bagi penduduk bumi.

Hadits ini memunjukan bahwa dianjurkan membaca do’a ketika turun hujan. Do’ yang dianjurkan adalah memohon kebaikan dan manfaat dari hujan yang sedang turun tersebut.

Diantara contoh hujan yang membawa kebaikan dan manfaat adalah menyuburkan tanaman dan tumbuh-tumbuhan [Qs. 2:22], menambah ketersediaan air di dalam tanah, mengisi dan memenuhi sungai-sungai dan sumur yang kering, sebagai sumber minuman bagi manusia dan hewan ternak, dan sebagainya. Wallahu a’lam. [sym].

Tanda Lurusnya Iman

Tanda Lurusnya Iman

Tanda Lurusnya Iman

Salah satu tanda lurusnya Iman adalah Istiqamahnya hati dan lisan. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda tentang hal ini;

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

 

Iman seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga hatinya istiqamah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga lisannya istiqamah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk surga. (H.R. Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/13).

Pelajaran Hadits:

  1. Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, perbuatan hati dan perkataan lisan.
  2. Tanda dan bukti istiqamah (lurusnya) iman adalah lurus (istiqamah) nya hati, dan tanda istiqamahnya hati adalah istiqamhnya lisan. Artinya terjaganya lisan dari perkataan yang tidak benar dan tidak bermanfaat.
  3. Keutamaan menjaga lisan sebagai tanda istiqamahnya hati dan iman.
  4. Menghoramati tetangga merupakan bagian dari iman. Dalam hadits ini Allah menafikan Iman (yang sempurna) orang yang tidak menjaga lisannya dari mengganggu dan menyakiti tetangganya. Sebagaimana dalam hadits lain Nabi bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia memuliakan tetangganya”. 

Wallahu a’lam. [sym].

Hadits Puasa [14]: Makan dan Minum Karena Lupa

Hadits Puasa [14]: Makan dan Minum Karena Lupa

وعنْ أَبي هريرة – رضي الله عنه – قال: قالَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -: “مَنْ نَسِيَ وهُو صَائمٌ فَأَكلَ أَوْ شَرِبَ فليُتِمَّ صَوْمَهُ فإنّما أَطعمهُ اللَّهُ وسقاهُ” مُتّفقٌ عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Barangsiapa yang lupa lalu makan atau minum maka hendaknya melanjutkan puasanya karena sesungguhnya dia diberi makan dan minum oleh Allah”. (Muttafaq ‘alaih).

Dalam riwayat Imam Hakim berbunyi;

من أفطر في رمضان ناسياً فلا قضاء عليه ولا كفارة وهو صحيح

“Siapa yang membatalkan puasa Ramadhan karena lupa maka ia tidak wajib mengqadha dan membayar kaffarat serta puasanya tetap sah”.

Pelajaran Hadits

Hadits ini menunjukan bahwa orang makan atau minum karena lupa puasanya tidak batal dan tetap sah. Oleh karena itu dia tidak memiliki kewajiban qadha dan bayar kaffarat. Akan tetapi orang yang puasa lalu s makan  atau minum karena lupa, lalu teringat bahwa ia sedang puasa maka wajib segera menghentikan makan atau minumnya saat itu juga. Jika ia tetap melanjutkan makan atau minumnya setelah ingat bahwa dia puasa, maka puasanya batal dan wajib qadha. Demikian pula jika memelihat orang yang puasa makan atau minum karena lupa, maka yang melihat wajib mengingatkan dan menghentikan. Wallahu a’lam. [sym].

Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan

Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan

Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan

wahdahjakarta.com| Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh (malam) terakhir Ramadhan dengan kesungguhan yang tidak beliau lakukan sebelumnya. Salahsatu wujud kesungguhan beliau adalah dengan ber i’tikaf dan mencari malam lailatul qadri pada malam –malam tersebut.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha diterangkan bahwa;

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

Apabila telah masuk sepuluh terakhir Ramadhan Nabi shallalahu alaihi wasallam mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keuarganya,. Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan “beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya”.

Maksud dari syadda mi’zarahu (mengencankan sarungnya); begadang dan fokus beribadah.

Dikatakan pula bahwa ungkapan di atas merupakan kinayah (kiasan) dari menjauhi dan tidak menggauli istri-istrinya. Inilah makna yang lebih dekat, karena kiasan yang seperti ini ma’ruf di kalangan orang Arab, sebagaimana dalam sebuah sya’ir:

قومٌ إِذَا حَارَبُوا شَدُّوا مآزرهم

دُون النساء ولو بَاتَتْ بأطْهارِ

Kaum yang jika berperang maka mengencangkan kain-kain sarungnya

Tanpa menggauli istri ,meski istrinya dalam keadaan suci

Perkataan ‘Aisyah:”Ahyaa lailahu/Nabi menghidupkan seluruh malamnya”,maksudnya menghabiskan malamnya dengan begadang mengerjkan shalat dan ibadah yang lain. Dan dalam hadits ‘Aisyah yang lain dia mengatakan; ”Saya tidak mengetahui Rasululah membaca seluruh Al qur’an dalam semalam, shalat malam sampai subuh, berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan’’(HR. Nasai).

Boleh jadi maksud perkataan ‘Aisyah “Nabi menghidupkan malamnya” adalah qiyamullail pada separuh malam. Atau maknanya, beliau melakukan qiyamullail sepanjang malam, tetapi diselingi oleh makan malam, sahur dan sebagainya. Sehingga maksudnya beliau menghidupkan sebagian besar waktu malam (dengan ibadah).

Perkatan ‘Aisyah:”Membangunkan keluarganya”. Maksudnya beliau membangunkan istri-istrinya untuk shalat. Dan sebagaimana sudah dimaklumi bahwa beliau membangunakan istrinya sepanjang tahun, tetapi beliau hanya membangunkan mereka pada sebagian malam. Dalam shahih Bukhariy dijelaskan bahwa nabi bangun pada suatu malam lantas mengatakan:

سبحان الله ماذا أنزل الله من الخزائن وماذا أنزل من الفتن من يوقظ صواحب الحجرات يريد أزواجه لكي يصلين رب كاسية في الدنيا عارية في الآخرة

Subhanallaah, Maha suci Allah, apa yang fitnah apa yang Allah turunkan malam ini? Perbendaharaan apa lagi yang akan Dia turunkan? siapa yang membangunkan penghuni kamar-kamar ini (istrinya). Duhai, Betapa banyak orang berpakaian di dunia tetapi telanjang di akhirat” (HR Bukhari).

Diterangkan pula bahwa jika hendak witir beliau membangunkan ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha (HR Bukhari). Tetapi yang paling menonjol sepanjang tahun adalah beliau membangunkan istri-istrinya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. [sym].

Sumber:  Durus Ramadhan; Waqafat Lish Shaim, Karya Syekh. DR. Salman bin Fahd al-‘Audah hafidzahullah.

Artikel: wahdah.or.id

Hadits Puasa [12]: Berbekam Saat Puasa

Hadits Puasa [12]: Berbekam Saat Puasa

Terdapat beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berbekam saat puasa. Penulis Bulughul Maram Ibn Hajar dalam Kitab Shiyam mengemukakan setidaknya tiga hadits tentang berbekam pada bulan Ramadhan atau saat berpuasa,

Pertama

وعن ابنِ عَبّاسٍ – رضي الله عنهما -: “أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – احْتجمَ وهُوَ مُحْرمٌ واحْتَجَمَ وهُو صَائمٌ” رَوَاه البُخاريُّ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Nabi Muhammad shalllalahu ‘alaihi wa sallam berbekam saat beliau muhrim, dan berbekam saat beliau sedanhg puasa (shaim)”. (HR. Bukhari).

Hadits ini menunjukan bahwa berbekam (hijamah) tidak membatalkan puasa. Ini merupakan pendapat kebanyakan ulama.

Kedua

– وعَنْ شدَّاد بن أَوْسٍ – رضي الله عنه – أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – أَتى على رجُلٍ بالبقيع وهُو يحتجم في رمضان فقال: “أَفْطرَ الحاجِمُ والمحجومُ” رواهُ الخمسةُ إلا التّرْمذي، وصَحَّحَهُ أَحْمَدُ وابْنُ خُزَيْمَةَ وابْنُ حِبَّانَ.

Dari Syaddad radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam  datang ke Baqi’ dan melihat seseorang yang sedang berbekam pada bulan Ramadhan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Yang membekam dan dibekam batal puasanya”.

Hadits ini menunjukan bahwa berbekam membatalkan puasa, baik dibekam maupun membekam. Dikatakan pula bahwa hadits ini dinasakh (dianulir) oleh hadits Ibnu Abbas di atas.

Ketiga

 وعَنْ أَنَس بن مالك – رضي الله عنه – قال: “أَوَّلُ ما كُرِهَتْ الحِجَامةُ للصائمِ: أَنَّ جعَفْر بن أبي طالب احْتجمَ وَهُوَ صائمٌ فَمَرّ بهِ النّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – فقال: “أَفَطَر هذان” ثمَّ رخّص النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – بَعْدُ في الحِجَامةِ للصائمِ، وكان أنس يحتجِمُ وهُو صائم”. رواه الدارقطني وقواه.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Awal mula berbekam dimakruhkan bagi orang yang berpuasa adalah ketika Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaiahi wa sallam melewati beliau, maka Nabi bersabda, “Dua orang ini telah batal puasanya”. Kemudian setelah itu diberikan rukhsah (keringanan) berbekam saat puasa. Dan Anas pernah berbekam saat diapuasa. (HR. Daruquthni).

Pelajaran dan Kesimpulan

Menurut para Ulama ketiga hadits di atas dapat dikompromikan dan ditemukan titik temunya. Bahwa hukum hijamah (berbekam) bagi orang yang berpuasa tergantung keadaan dan kondisi fisik seseorang. Jika berbekam menjadikan seseorang lemas dan lemah secara fisik maka hukumnya makruh bagi orang tersebut. Dan lebih makruh lagi jika kelemahan tersebut menyebabkan ia berbuka atau membatalkan puasanya.

Namun tidak makruh bagi orang yang tetap kuat dan tidak melemah fisiknya meskipun berbekam. Akan tetapi dalam kondisi apapun lebih afdhal jika tidak berbekam saat puasa. [sym]

Hadits Puasa [11]: Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

 Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

وعَنْ عائشةَ – رضي الله عنها – قالتْ: “كانَ النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُ وَهُو صائمٌ ويُباشرُ وهُوَ صائمٌ، ولكنه أَمْلَكَكُمْ لإرْبِهِ” مُتّفقٌ عليه واللفظٌ لمسلم، وزاد في روايةٍ “في رَمَضَان”

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa, dan beliau juga mencumbui (istrinya) saat puasa, tapi beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan hasratnya”. (Muttafaq ‘alaih). Dalam redaksi lain, “Pada bulan Ramadhan”.

Hadits ini merupakan dalil bolehnya mencium istri atau bermesraan dan bercumbu saat berpuasa, dengan syarat ciuman dan cumbuan tersebut tidak sampai menggerakkan syahwat. Artinya kebolehan ini tidak berlaku secar mutlak. Boleh bagi yang dapat mengendalikan nafsunya seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapaun bagi mereka yang mudah bergejolak syahwatnya atau masih muda, hendaknya tidak melakukan hal tersebut.  Karena dikhawatirkan berlanjut kepada hubungan badan yang membatalkan puasa. [sym].

Sumber: Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, Kitab Shiyam.

Hadits Puasa [10]: Larangan Berkata dan Berbuat Dusta Ketika Puasa

Salah satu perbuatan yang dapat menggugurkan paha puasa dan atau mengurangi kesempurnaannya adalah berkata dan berbuat dusta

wahdahjakarta.com| Orang yang berpuasa hendaknya tidak hanya meninggalkan pembatal puasa. Tapi seyogyanya juga meninggalkan perkataan dan perbuatan yang mengurangi kesempurnaan bahkan menggugurkan pahala puasa. Salah satu perbuatan yang dapat menggugurkan paha puasa dan atau mengurangi kesempurnaannya adalah berkata dan berbuat dusta. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ;

  قال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: “مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ بهِ والجهْلَ فَلَيْسَ للَّهِ حَاجةٌ في أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وشرابَهُ” رواهُ البُخاريُّ وأبو دود واللفظ له

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Baragsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak sudi sedikitpun menerima puasanya, meskipun dia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Bukhari dan Abu Daud).

Hadits ini merupakan dalil tentang haramnya pekataan dan perbuatan dusta serta perbuatan sia-sia saat berpuasa. Hadits ini juga menunjukan bahwa dusta menyebabkan puasa ditolak dan tidak diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. [sym].

Sumber: Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, Kitab Ash Shiyam Hadits Nomor: 631.

Hadits Puasa [8]: Anjuran Makan Sahur

Hadits Puasa [8]: Anjuran Makan Sahur

Wahdahjakarta.com|  Salah satu sunnah dalam puasa adalah anjuran makan sahur. Dalam satu sabdanya Nabi menganjurkan untuk makan sahur karena dalam makan sahur terdapat berkah.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

وعنْ أَنس بنِ مَالكٍ – رضي الله عنه – قال: قال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: “تَسَحَّرُوا فإن في السَّحُورِ بركةً” مُتّفقٌ عَلَيه.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Makan sahurlah kalian, karena dalam makan sahur itu terdapat berkah”. (Muttafaq ‘alaihi).

Hadits ini menunjukkan anjuran makan sahur sebagai bentuk mengikuti tuntunan Sunnah Nabi dan menyelisihi ahli kitab serta memperkuat fisik dalam beribadah serta melakukan aktivitas lainnya saat menjalani puasa.

Makan sahur merupakan satu Sunnah dan kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makan sahur juga sekaligus merupakan bentuk mukhalafah terhadap ahli kitab yang berpuasa tanpa makan sahur. Dalam salah satu hadistnya Nabi mengabarkan bahwa diantara pembeda antara puasa kita dengan puasa kalangan ahli kitab adalah makan sahur.

Keberkahan makan sahur juga berupa do’a Malaikat dan rahmat Allah kepada orang yang makan sahur. Sebagaimana dikabarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits lain bahwa:

Sesungguhnya Allah dan para Malaikat bershalawat untuk orang-orang yang makan sahur.”

Shalawatnya Allah bermakna pujian dan rahmat. Artinya Allah memuji dan merahmati orang-orang yang makan sahur. Sedangkan shalawatnya Malaikat berarti do’a dan permohonan ampun. Maknanya Malaikat mendoakan kebaikan dan memohonkan ampunan untuk orang yang makan sahur.

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewanti-wanti agar santap sahur ini tidak ditinggalkan sama sekali. Minimal memakan sebutir kurma dan atau meminum seteguk air. [sym].

Hadits Puasa [7]: Anjuran Menyegerakan Berbuka

Anjuran Menyegerakan Berbuka

Kitab Shiyam Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam
Hadits ke-7 & 8 [626 & 627]: Anjuran Menyegerakan Berbuka

626- وعن سهِل بنِ سَعْدٍ – رضي الله عنه – أَنْ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قال: “لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما عجّلوا الْفِطْر” مُتّفَقٌ عَلَيْهِ

627- وللتِّرْمذي مِنْ حديث أَبي هُريْرة – رضي الله عنه – عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – قالَ: “قالَ الله عَزَّ وجلَّ: أَحبُّ عِبادي إليَّ أَعْجَلُهُمْ فطْراً”

 

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (Muttafaq ‘alaihi)

Dalam riwayat Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Allah Ta’ala berfirman: HambaKu yang paling Aku cintai adalah yang paling menyegerakan berbuka“. (HR. Tirmidzi)

Kesimpulan:

Hadits ini merupakan dalil tentang anjuran menyegerakan untuk berbuka (takjil) jika sudah jelas bahwa mata hari telah terbenam. Dalam riwayat Imam Ahmad haditsnya berbunyi,

Manusia senantiasa dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur”. 

Imam Abu Daud menambahkan lafal,

Karena orang-orang Yahudi mengakhirkan berbuka hingga bintang-bintang mulai terbit (larut malam)“.

[sym/wahdahjakarta.c0m].