Hadits Puasa [14]: Makan dan Minum Karena Lupa

Hadits Puasa [14]: Makan dan Minum Karena Lupa

وعنْ أَبي هريرة – رضي الله عنه – قال: قالَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -: “مَنْ نَسِيَ وهُو صَائمٌ فَأَكلَ أَوْ شَرِبَ فليُتِمَّ صَوْمَهُ فإنّما أَطعمهُ اللَّهُ وسقاهُ” مُتّفقٌ عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Barangsiapa yang lupa lalu makan atau minum maka hendaknya melanjutkan puasanya karena sesungguhnya dia diberi makan dan minum oleh Allah”. (Muttafaq ‘alaih).

Dalam riwayat Imam Hakim berbunyi;

من أفطر في رمضان ناسياً فلا قضاء عليه ولا كفارة وهو صحيح

“Siapa yang membatalkan puasa Ramadhan karena lupa maka ia tidak wajib mengqadha dan membayar kaffarat serta puasanya tetap sah”.

Pelajaran Hadits

Hadits ini menunjukan bahwa orang makan atau minum karena lupa puasanya tidak batal dan tetap sah. Oleh karena itu dia tidak memiliki kewajiban qadha dan bayar kaffarat. Akan tetapi orang yang puasa lalu s makan  atau minum karena lupa, lalu teringat bahwa ia sedang puasa maka wajib segera menghentikan makan atau minumnya saat itu juga. Jika ia tetap melanjutkan makan atau minumnya setelah ingat bahwa dia puasa, maka puasanya batal dan wajib qadha. Demikian pula jika memelihat orang yang puasa makan atau minum karena lupa, maka yang melihat wajib mengingatkan dan menghentikan. Wallahu a’lam. [sym].

Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan

Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan

Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan

wahdahjakarta.com| Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh (malam) terakhir Ramadhan dengan kesungguhan yang tidak beliau lakukan sebelumnya. Salahsatu wujud kesungguhan beliau adalah dengan ber i’tikaf dan mencari malam lailatul qadri pada malam –malam tersebut.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha diterangkan bahwa;

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

Apabila telah masuk sepuluh terakhir Ramadhan Nabi shallalahu alaihi wasallam mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keuarganya,. Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan “beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya”.

Maksud dari syadda mi’zarahu (mengencankan sarungnya); begadang dan fokus beribadah.

Dikatakan pula bahwa ungkapan di atas merupakan kinayah (kiasan) dari menjauhi dan tidak menggauli istri-istrinya. Inilah makna yang lebih dekat, karena kiasan yang seperti ini ma’ruf di kalangan orang Arab, sebagaimana dalam sebuah sya’ir:

قومٌ إِذَا حَارَبُوا شَدُّوا مآزرهم

دُون النساء ولو بَاتَتْ بأطْهارِ

Kaum yang jika berperang maka mengencangkan kain-kain sarungnya

Tanpa menggauli istri ,meski istrinya dalam keadaan suci

Perkataan ‘Aisyah:”Ahyaa lailahu/Nabi menghidupkan seluruh malamnya”,maksudnya menghabiskan malamnya dengan begadang mengerjkan shalat dan ibadah yang lain. Dan dalam hadits ‘Aisyah yang lain dia mengatakan; ”Saya tidak mengetahui Rasululah membaca seluruh Al qur’an dalam semalam, shalat malam sampai subuh, berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan’’(HR. Nasai).

Boleh jadi maksud perkataan ‘Aisyah “Nabi menghidupkan malamnya” adalah qiyamullail pada separuh malam. Atau maknanya, beliau melakukan qiyamullail sepanjang malam, tetapi diselingi oleh makan malam, sahur dan sebagainya. Sehingga maksudnya beliau menghidupkan sebagian besar waktu malam (dengan ibadah).

Perkatan ‘Aisyah:”Membangunkan keluarganya”. Maksudnya beliau membangunkan istri-istrinya untuk shalat. Dan sebagaimana sudah dimaklumi bahwa beliau membangunakan istrinya sepanjang tahun, tetapi beliau hanya membangunkan mereka pada sebagian malam. Dalam shahih Bukhariy dijelaskan bahwa nabi bangun pada suatu malam lantas mengatakan:

سبحان الله ماذا أنزل الله من الخزائن وماذا أنزل من الفتن من يوقظ صواحب الحجرات يريد أزواجه لكي يصلين رب كاسية في الدنيا عارية في الآخرة

Subhanallaah, Maha suci Allah, apa yang fitnah apa yang Allah turunkan malam ini? Perbendaharaan apa lagi yang akan Dia turunkan? siapa yang membangunkan penghuni kamar-kamar ini (istrinya). Duhai, Betapa banyak orang berpakaian di dunia tetapi telanjang di akhirat” (HR Bukhari).

Diterangkan pula bahwa jika hendak witir beliau membangunkan ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha (HR Bukhari). Tetapi yang paling menonjol sepanjang tahun adalah beliau membangunkan istri-istrinya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. [sym].

Sumber:  Durus Ramadhan; Waqafat Lish Shaim, Karya Syekh. DR. Salman bin Fahd al-‘Audah hafidzahullah.

Artikel: wahdah.or.id

Hadits Puasa [12]: Berbekam Saat Puasa

Hadits Puasa [12]: Berbekam Saat Puasa

Terdapat beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berbekam saat puasa. Penulis Bulughul Maram Ibn Hajar dalam Kitab Shiyam mengemukakan setidaknya tiga hadits tentang berbekam pada bulan Ramadhan atau saat berpuasa,

Pertama

وعن ابنِ عَبّاسٍ – رضي الله عنهما -: “أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – احْتجمَ وهُوَ مُحْرمٌ واحْتَجَمَ وهُو صَائمٌ” رَوَاه البُخاريُّ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Nabi Muhammad shalllalahu ‘alaihi wa sallam berbekam saat beliau muhrim, dan berbekam saat beliau sedanhg puasa (shaim)”. (HR. Bukhari).

Hadits ini menunjukan bahwa berbekam (hijamah) tidak membatalkan puasa. Ini merupakan pendapat kebanyakan ulama.

Kedua

– وعَنْ شدَّاد بن أَوْسٍ – رضي الله عنه – أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – أَتى على رجُلٍ بالبقيع وهُو يحتجم في رمضان فقال: “أَفْطرَ الحاجِمُ والمحجومُ” رواهُ الخمسةُ إلا التّرْمذي، وصَحَّحَهُ أَحْمَدُ وابْنُ خُزَيْمَةَ وابْنُ حِبَّانَ.

Dari Syaddad radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam  datang ke Baqi’ dan melihat seseorang yang sedang berbekam pada bulan Ramadhan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Yang membekam dan dibekam batal puasanya”.

Hadits ini menunjukan bahwa berbekam membatalkan puasa, baik dibekam maupun membekam. Dikatakan pula bahwa hadits ini dinasakh (dianulir) oleh hadits Ibnu Abbas di atas.

Ketiga

 وعَنْ أَنَس بن مالك – رضي الله عنه – قال: “أَوَّلُ ما كُرِهَتْ الحِجَامةُ للصائمِ: أَنَّ جعَفْر بن أبي طالب احْتجمَ وَهُوَ صائمٌ فَمَرّ بهِ النّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – فقال: “أَفَطَر هذان” ثمَّ رخّص النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – بَعْدُ في الحِجَامةِ للصائمِ، وكان أنس يحتجِمُ وهُو صائم”. رواه الدارقطني وقواه.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Awal mula berbekam dimakruhkan bagi orang yang berpuasa adalah ketika Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaiahi wa sallam melewati beliau, maka Nabi bersabda, “Dua orang ini telah batal puasanya”. Kemudian setelah itu diberikan rukhsah (keringanan) berbekam saat puasa. Dan Anas pernah berbekam saat diapuasa. (HR. Daruquthni).

Pelajaran dan Kesimpulan

Menurut para Ulama ketiga hadits di atas dapat dikompromikan dan ditemukan titik temunya. Bahwa hukum hijamah (berbekam) bagi orang yang berpuasa tergantung keadaan dan kondisi fisik seseorang. Jika berbekam menjadikan seseorang lemas dan lemah secara fisik maka hukumnya makruh bagi orang tersebut. Dan lebih makruh lagi jika kelemahan tersebut menyebabkan ia berbuka atau membatalkan puasanya.

Namun tidak makruh bagi orang yang tetap kuat dan tidak melemah fisiknya meskipun berbekam. Akan tetapi dalam kondisi apapun lebih afdhal jika tidak berbekam saat puasa. [sym]

Hadits Puasa [11]: Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

 Bermesraan dan Bercumbu Saat Puasa

وعَنْ عائشةَ – رضي الله عنها – قالتْ: “كانَ النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُ وَهُو صائمٌ ويُباشرُ وهُوَ صائمٌ، ولكنه أَمْلَكَكُمْ لإرْبِهِ” مُتّفقٌ عليه واللفظٌ لمسلم، وزاد في روايةٍ “في رَمَضَان”

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa, dan beliau juga mencumbui (istrinya) saat puasa, tapi beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan hasratnya”. (Muttafaq ‘alaih). Dalam redaksi lain, “Pada bulan Ramadhan”.

Hadits ini merupakan dalil bolehnya mencium istri atau bermesraan dan bercumbu saat berpuasa, dengan syarat ciuman dan cumbuan tersebut tidak sampai menggerakkan syahwat. Artinya kebolehan ini tidak berlaku secar mutlak. Boleh bagi yang dapat mengendalikan nafsunya seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapaun bagi mereka yang mudah bergejolak syahwatnya atau masih muda, hendaknya tidak melakukan hal tersebut.  Karena dikhawatirkan berlanjut kepada hubungan badan yang membatalkan puasa. [sym].

Sumber: Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, Kitab Shiyam.

Hadits Puasa [10]: Larangan Berkata dan Berbuat Dusta Ketika Puasa

Salah satu perbuatan yang dapat menggugurkan paha puasa dan atau mengurangi kesempurnaannya adalah berkata dan berbuat dusta

wahdahjakarta.com| Orang yang berpuasa hendaknya tidak hanya meninggalkan pembatal puasa. Tapi seyogyanya juga meninggalkan perkataan dan perbuatan yang mengurangi kesempurnaan bahkan menggugurkan pahala puasa. Salah satu perbuatan yang dapat menggugurkan paha puasa dan atau mengurangi kesempurnaannya adalah berkata dan berbuat dusta. Sebagaimana dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ;

  قال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: “مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ بهِ والجهْلَ فَلَيْسَ للَّهِ حَاجةٌ في أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وشرابَهُ” رواهُ البُخاريُّ وأبو دود واللفظ له

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Baragsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak sudi sedikitpun menerima puasanya, meskipun dia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Bukhari dan Abu Daud).

Hadits ini merupakan dalil tentang haramnya pekataan dan perbuatan dusta serta perbuatan sia-sia saat berpuasa. Hadits ini juga menunjukan bahwa dusta menyebabkan puasa ditolak dan tidak diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. [sym].

Sumber: Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, Kitab Ash Shiyam Hadits Nomor: 631.

Hadits Puasa [8]: Anjuran Makan Sahur

Hadits Puasa [8]: Anjuran Makan Sahur

Wahdahjakarta.com|  Salah satu sunnah dalam puasa adalah anjuran makan sahur. Dalam satu sabdanya Nabi menganjurkan untuk makan sahur karena dalam makan sahur terdapat berkah.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

وعنْ أَنس بنِ مَالكٍ – رضي الله عنه – قال: قال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: “تَسَحَّرُوا فإن في السَّحُورِ بركةً” مُتّفقٌ عَلَيه.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Makan sahurlah kalian, karena dalam makan sahur itu terdapat berkah”. (Muttafaq ‘alaihi).

Hadits ini menunjukkan anjuran makan sahur sebagai bentuk mengikuti tuntunan Sunnah Nabi dan menyelisihi ahli kitab serta memperkuat fisik dalam beribadah serta melakukan aktivitas lainnya saat menjalani puasa.

Makan sahur merupakan satu Sunnah dan kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makan sahur juga sekaligus merupakan bentuk mukhalafah terhadap ahli kitab yang berpuasa tanpa makan sahur. Dalam salah satu hadistnya Nabi mengabarkan bahwa diantara pembeda antara puasa kita dengan puasa kalangan ahli kitab adalah makan sahur.

Keberkahan makan sahur juga berupa do’a Malaikat dan rahmat Allah kepada orang yang makan sahur. Sebagaimana dikabarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits lain bahwa:

Sesungguhnya Allah dan para Malaikat bershalawat untuk orang-orang yang makan sahur.”

Shalawatnya Allah bermakna pujian dan rahmat. Artinya Allah memuji dan merahmati orang-orang yang makan sahur. Sedangkan shalawatnya Malaikat berarti do’a dan permohonan ampun. Maknanya Malaikat mendoakan kebaikan dan memohonkan ampunan untuk orang yang makan sahur.

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewanti-wanti agar santap sahur ini tidak ditinggalkan sama sekali. Minimal memakan sebutir kurma dan atau meminum seteguk air. [sym].

Hadits Puasa [7]: Anjuran Menyegerakan Berbuka

Anjuran Menyegerakan Berbuka

Kitab Shiyam Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam
Hadits ke-7 & 8 [626 & 627]: Anjuran Menyegerakan Berbuka

626- وعن سهِل بنِ سَعْدٍ – رضي الله عنه – أَنْ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قال: “لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما عجّلوا الْفِطْر” مُتّفَقٌ عَلَيْهِ

627- وللتِّرْمذي مِنْ حديث أَبي هُريْرة – رضي الله عنه – عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – قالَ: “قالَ الله عَزَّ وجلَّ: أَحبُّ عِبادي إليَّ أَعْجَلُهُمْ فطْراً”

 

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (Muttafaq ‘alaihi)

Dalam riwayat Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Allah Ta’ala berfirman: HambaKu yang paling Aku cintai adalah yang paling menyegerakan berbuka“. (HR. Tirmidzi)

Kesimpulan:

Hadits ini merupakan dalil tentang anjuran menyegerakan untuk berbuka (takjil) jika sudah jelas bahwa mata hari telah terbenam. Dalam riwayat Imam Ahmad haditsnya berbunyi,

Manusia senantiasa dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur”. 

Imam Abu Daud menambahkan lafal,

Karena orang-orang Yahudi mengakhirkan berbuka hingga bintang-bintang mulai terbit (larut malam)“.

[sym/wahdahjakarta.c0m].

 

Hadits Puasa [4]: Niat Puasa

Niat puasa wajib sebelum terbit fajar

Kitab Shiyam Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam
Hadits ke-6 [624] 
Niat Puasa

 624- وعن حَفْصةَ أُمِّ المُؤمنين – رضي الله عنها – أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – قال: “منْ لَمْ يُبَيّت الصِّيامَ قَبْلَ الفجر فلا صِيامَ لـهُ” رواهُ الخمْسةُ ومَالَ التِّرمذيُّ والنسائي إلى ترجيح وَقْفِهِ، وصحَّحَهُ مرفوعاً ابنُ خزيمةَ وابنُ حِبَّانَ.

وللدارقطني: “لا صِيامَ لمن لَم يَفْرِضْهُ منَ الليل”

 

Dari Hafshah Ummul Mu’minn radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Muhammad shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Siapa yang tidak berniat puasa sejak malam sebelum terbit fajar maka tidak sah puasa baginya”. (Diriwayatkan oleh lima perawi hadits, Imam Tirmidzi dan Imam Nasai cenderung pada pendapat bahwa hadits ini mauquf, sementara Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menhsahihkannya sebagai hadits marfu’).

Dalam riwayat Imam Daruquthni lafadznya berbunyi, “Tidak ada puasa (tidak sah) bagi orang yang tidak berniat sejak malam”.

Pelajaran Hadits

Hadits ini merupakan dalil bahwa puasa tidak sah tanpa didahului niat sejak malam. Batas akhir berniat adalah sebelum terbit fajar. Niat puasa dapat dilakukan sejak terbenam mata hari meskipun setelahnya melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, berhubungan intim dan sebagainya.

Hal tersebut (niat puasa sejak malam) wajib dilakukan dalam puasa wajib dan puasa qadha. Adapun puasa sunnah boleh berniat setelah terbit fajar sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikutnya di bawah ini.

Hadits ke-7 [625]

625- وعنْ عائشة – رضي الله عنها – قالت: دخل عليَّ النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – ذات يومٍ فقال: “هلْ عندكمْ شيءٌ؟” قُلنا: لا، قال: “فإني إذا صائمٌ” ثمَّ أَتانا يوْماً آخر، فقلنا أُهديَ لنا حَيْسٌ، فقال: “أرِينِيهِ فَلَقد أَصبحْتُ صائماً” فَأَكل، رواهُ مسلمٌ.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Beliau berkata, Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke kamarku, “Apakah kalian memiliki sesuatu (yang dapat disantap)“? “Tidak”,Kalau begitu saya puasa“. Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain, saya kataan kepada beliau, “Dihadiahkan kepada kita hiss“. Maka Belia berkata, “Perlihatkan padaku, (meskipun) sebenarnya hari ini saya puasa”, lalu Beliau makan“. (HR. Muslim)

Hadits ini merupakan dalil tentang sahnya puasa sunnah tanpa didahului niat sejak malam, artinya boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar, bahkan setelah terbit mata hari sekalipun, selama seseorang belum makan dan minum atau melakukan pembatal puasa lainnya.

Hadits ini juga menjadi dalil bahwa puasa sunnah boleh dibatalkan atau tidak dilanjutkan. Ibnu Umar mengatakan, “Hal itu tidak mengapa selama puasa yang dilakukan bukan puasa nazar atau qadha puasa Ramadhan”. Wallahu a’lam. [sym/wahdahjakarta.c0m].

Penjelasan Singkat Hadits Puasa [03]: Menetapkan Awal Mulai Puasa dengan Ru’yatul Hilal

Ilustrasi Hilal

Penjelasan Singkat Hadits Puasa [03]: Menetapkan Awal Mulai Puasa dengan Ru’yatul Hilal

Kitab Shiyam Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam
Hadits ke-3 dan ke-4 [618]

 620 وعنْ ابنِ عُمُر – رضي الله عنهما – قال: سمعتُ رسولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يقول: “إذا رأيتموهُ فصُوموا وإذا رأَيتموهُ فأَفِطروا، فإن غُمَّ عليكمْ فاقْدرُوا لـه” متّفقٌ عليه

ولمسلمٌ: “فإن أُغْمِيَ عليكم فاقُدُرُوا لـه ثلاثين” وللبخاري ” فأَكْملوا العِدة ثلاثين”.

621- ولهُ في حديث أَبي هُريرةَ – رضي الله عنه -: “فأَكْمِلُوا عِدّةَ شعْبان ثلاثين”.

 

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Jika kalian telah melihatnya (hilal) maka berpuasalah, dan jika kalian telah melihatnya (hilal syawal) maka beridul fitrilah, dan jika kalian terhalangi awan maka perkirakanlah” (Muttafaq ‘alaihi)

Dalam riwayat Imam Muslim berbunyi, “Jika kalian terhalangi awan maka perkiraanlah bulan (berjalan;sya’ban atau Ramadhan) tiga puluh hari”.

Dalam riwayat Bukhari berbunyi, “Sempurnakanlah tiga puluh hari”.

Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari”

Pelajaran Hadits:

Hadits ini merupakan dalil tentang wajibnya menetapkan awal masuknya bulan Ramadhan dan idul fitri (syawal) dengan terlihatnya hilal. Jika hilal 1 Ramadan tidak terlihat maka bulan Sya’ban dicukupkan tiga puluh hari, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari”.

 

Hadits ke-5[622]

 622- وَعَنْ ابْن عُمَرَ – رضي الله عنهما – قال: “تراءَى النّاسُ الهِلالَ فأَخبَرتُ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – أَنِّي رأَيْتُهُ فصامَ وأَمَرَ النّاس بصيامِهِ” رواهُ أبو داود، وصَحَّحَهُ الحَاكِمُ وابْنُ حِبَّانَ

 

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Orang-orang melihat hilal (1 Ramadan), maka aku sampaikan kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku melihatnya (hilal), maka Beliau berpuasa dan menyuruh orang-orang untuk berpuasa”. (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Hakim dan Ibnu Hibban”.

Hadits ini meruapakan dalil bahwa kesaksian satu orang yang terpercaya yang melihat hilal dapat diterima dan sah sebagai dasar menetapkan masukanya 1 Ramadan. Hadits ini juga menjadi dalil absahnya beramal dengan khabar ahad (informasi yang disampaikan oleh satu orang) yang kredibel (‘adil) dalam masalah puasa.

Hadits ke-6 [623]

 وعن ابنِ عَبّاسٍ – رضي الله عنهما – أَنَّ أَعرابياً جاءَ إلى النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – فقال: إنِّي رَأَيْتُ الهِلال، فقال: “أَتشهدُ أَنْ لا إله إلا الله؟” قال: نعم، قال: “أَتَشْهَدُ أنَّ محمداً رسول الله؟” قال: نعمْ، قال: “فَأَذِّنْ في النَّاس يا بلالُ أَنْ يَصُوموا غداً” رواهُ الخمسةُ وصحَّحَهُ ابن خزيمةَ وابن حِبَّانَ ورجَّح النسائي إرساله.

 

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, seorang Arab Badui datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan, “Sungguh saya melihat hilal”. Nabi beratnya kepadanya, “Apakah kamu bersayahadat La Ilaha Illallah”? “Iya”, jawabnya. “Apakah kamu bersyahadat Muhammad Rasulullah?”, lanjut Nabi.  “Iya”, jawabnya lagi. Lalu Nabi berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, Umumkan kepada manusia untuk berpuasa besok”. (Diriwayatkan oleh lima perawi hadits dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, Imam Nasai menguatkan bahwa hadits ini mursal).

Hadits ini juga merupakan dalil diterimanya hadits ahad dalam urusan puasa.

[sym]

Penjelasan Hadits Puasa [02]: Larangan Berpuasa Pada Hari Syak

Hukum Puasa Pada Hari Syak

Dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata:

(من صام اليوم الذي يشك فيه فقد عصى أبا القاسم صلى الله عليه وسلم)

“Barangsiapa berpuasa pada hari syak (yang diragukan),maka ia telah bermaksiat (durhaka) kepada Abul Qasim shallallaahu ‘alaihi wasallam.

(Hadits ini disebutkan oleh Imam Bukhari secara mu’allaq,dan dinilai maushul oleh lima Ahli hadits, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Pelajaran Hadits

Abul Qasim adalah  gelar atau panggilan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Al Qasim adalah nama putra beliau dari istri beliau Khadijah radhiyallaahu ‘anha.

Yang dimaksud dengan hari yang diragukan dalam hadits dia atas adalah hari setelah 29 Sya’ban Disebut yaum asy Syak jika belum dapat dipastikan; apakah 1 Ramadhan telah masuk dengan terlihatnya hilal ataukah  Sya’ban dicukupkan 30 hari.

Keharaman berpuasa pada hari syak (meragukan) tersebut, disebabkan menjadi bentuk kedurhakaan kepada Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam. Karena Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa Ramadhan melainkan setelah jelas bahwa 1 Ramadhan telah masuk dengan ru’yatul hilal atau menggenapkan Sya’ban menjadi 30 hari.

Hadits di atas menunjukkan satu kaidah hukum yang menyatakan, Yang berlaku atau kuat tetap berlakunya hukum yang ada menurut keadaanya semula. Implementasi kaidah ini adalah tetapnya bulan sya’ban dan belum masuknya bulan ramadhan.  Selama  kita meyakini masih berlangsungnya bulan sya’ban dan belum adanya tanda-tanda masuknya bulan Ramadhan, artinya selama belum ada kepastian masuknya bulan Ramadhan, maka malam/hari itu masih bulan Sya’ban. Dalam hadits lain ada larangan sehari/dua hari sebelum ramadhan.

Akan tetapi boleh berpuasa pada hari tersebut (30 Sya’ban) dengan sebab dan niat yang jelas, seperti puasa Qadha, puasa Sunnah Senin dan kamis  serta puasa Daud bagi yang terbiasa melakukannya padwa bulan-bulan sebelumnya. [sym]

(Sumber: Taudhiyhul Ahkam Min Bulughil Maram dengan sedikit modifikasi ).