Fiqh Praktis Shalat Istikharah

 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan shalat istikharah kepada kami dalam segala urusan, sebagaimana beliau mengajari kami surat dari Al-Qur’an.” (Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu).

 

Salah satu tabiat manusia adalah selalu ragu ketika dihadapkan pada dua pilihan. Bahkan saat berhadapan dengan satu pilihan pun masih ragu untuk meneruskan pilihan tersebut atau tidak. Sebabnya adalah karena manusia tidak memiliki kemampuan untuk melihat keghaiban di masa yang akan datang. Sebagian orang justru mencari jalan keluar untuk memastikan pilihannya kepada para dukun, tukang ramal, dan semacamnya. Padahal hal ini bertentangan dengan aqidah Islam. Karena tidak ada yang mengetahui peristiwa hari esok kecuali Allah.

Oleh karena itu dalam Islam disyariatkan shalat Istikharah. Istikharah dilakukan untuk memastikan pilihan kita atau meminta kemantapan dari Allah saat dihadapkan pada dua pilihan, lalu kita memilih salah satunya namun kita tidak mengetahui  mana yang terbaik dari dua pilihan tersebut. Berkaitan dengan ini Syekh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul mengatakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mensyariatkan kepada umatnya agar mereka memohon pengetahuan kepada Allah Ta’ala dalam segala urusan yang mereka alami dalam kehidupan dan suapaya mereka memohon kebaikan di dalamnya. Yaitu dengan mengajarkan kepada mereka shalat istikharah sebagai pengganti dari apa yang biasa dilakukan pada masa jahiliyah beruapa ramal-meramal, memohon kepada berhala, dan melihat peruntungan. (Meneladanai Shalat-shalat Sunnah Rasulullah, hlm.125)

Bekaitan dengan hukum, kaifiyat, dan hal lain tentang Istikharah dapat ditemukan dalam hadits Shahih yang diriwayatkan oleh jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu. Jabir menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan shalat istikharah kepada kami dalam segala urusan, sebagaimana beliau mengajari kami surat dari Al-Qur’an. Beliau bersabda; “Jika salah seorang diantara kalian bertekad untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah ia shalat dua raka’at di luar shalat wajib, kemudian hendaklah ia mengucapkan”:

اللهم إني أستخيرك بعلمك وأستقدرك بقدرتك وأسالك من فضلك العظيم، فإنك تقدر ولا أقدر وتعلم ولا أعلم وأنت علام الغيوب. اللهم إن كنت تعلم أن هذا الأمر خير لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري – أو قال عاجل أمري و آجله – فاقدره لي ويسره لي ثم بارك لي فيه. وإن كنت تعلم أن هذا الأمر شر لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري – أو قال في عاجل أمري وآجله – فاصرفه عني واصرفني عنه، واقدر لي الخير حيث كان ثم أرضني به. قال ويسمي حاجته

Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, dan meminta keputusan dengan kekuasaan-Mu, Aku meminta karunia-Mu yang sangat agung, Karena sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa dan memiliki kuasa samasekali, Engkaulah yang mengetahui dan aku tidaklah tahu apa-apa, Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara ghaib. Ya Allah sekiranya Engkau mengetahui bahwa perkara ini (lalu menyebutkan masalahnya) adalah baik bagiku,  dalam agamaku dan kehidupanku serta kesudahan urusanku”, atau mengucapkan; “Baik dalam waktu dekat maupun akan datang-, maka tetapkanlah ia bagiku  dan mudahkanlah ia untukku lalu berkatilah. Ya Allah apabila Engkau mengetahui bahwa perkara itu buruk bagiku untuk agamaku dan kehidupanku dan kesudahan urusanku, atau mengucapkan; “baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang-, maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah ia dariku, lalu Putuskanlah yang baik bagiku perkara yang lebih baik darinya, apapun yang terjadi, lalu ridlailah ia untukku”. Beliau bersabda;”Hendaklah ia menyebutkan keperluannya”. (HR. Bukhari)

Dari hadits tersebut terdapat beberapa pelajaran terkait shalat Istikharah, diantaranya:

  1. Disyariatkan dalam Segala Urusan

Selama ini kita terbiasa menunaikan shalat Istikharah untuk urusan-urusan tertentu saja, seperti urusan jodoh, memilih tempat sekolah atau kuliah, dan pekerjaan. Padahal Shalat Istikarah disunnahkan dalam segala urusan, sebagaimana yang secara jelas disampaikaan oleh

Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan istikharah kepada kami dalam segala urusan”. Hal ini bermakna pula bahwa shalat istikharah mencakup urusan-urusan besar maupun kecil. Sebab, berapa banyak masalah yang dianggap kecil berubah menjadi sumber masalah. Akan tetapi perlu ditegaskan bahwa mengerjakan kewajiban  dan perkara sunnah serta meninggalkan yang diharamkan dan dimakruhkan tidak memerlukan shalat Istikharah.

  1. Jumlah Raka’at Shalat Istikharah

Di dalam hadits tersebut terdapat pelajaran bahwa shalat istikharah terdiri atas dua raka’at selain shalat wajib. Frasa ‘selain shalat wajib’ menyiratkan pesan bahwa, istikharah juga dapat dilakukan bersamaan dengan sahalat sunnah lainnya, seperti shalat sunnah rawatib. Misalnya, seseorang mengerjakan shalat sunnah rawatib atau shalat sunnah yang lain, lalu setelah shalat ia membaca do’a istikharah seperti dalam hadits tersebut. Karena yang dimaksud dengan shalat istikharah adalah dikerjakannya shalat yang disertai dengan bacaan do’a setelahnya atau pada saat shalat dikerjakan. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa Istikaharah yang akan disertakan bersama shalat sunnah rawatib tersebut harus dniyatkan sejak awal. Adapun jika keinginan beristikharah muncul setelah Shalat, maka hal itu tidak boleh.

  1. Tidak dilakukan Pada Saat Ragu

Dalam kehidupan sehari-hari, kita biasa beristikhaarah tatkala ragu dan dihadapkan pada dua pilihan atau lebih. Lalu kita shalat dan/meminta dipilihkan oleh Allah. Cara seperti ini kurang tepat, karena dalam hadits tersebut Nabi mengatakan, “Idza hamma ahadukum bil amri, Jika salah seorang dari kalian berniat akan melakukan sesuatu”. Hamma, artinya berkehendak, menyukai, dan berniat akan. Oleh karena itu Imam Bukhari selalu beristikharah sebelum menghukumi keshahihan suatu hadits.

Lalu bagaimana jika seseorang merasa ragu dan ingin melarikan keraguannya tersebut kepada istikharah? Jika ia ingin istikharah, maka hendaknya sebelum istikharah ia memilih salah satu dari dua hal yang meragukan tersebut lalu memohon petunjuk dalam menentukan pilihan tersebut (melalui istikharah). Setelah istikharah, dia biarkan semuanya berjalan apa adanya. Jika baik, semoga Allah menetapkan pilihannya tersebut dan memberikan kemudahan dalam melakukannya, serta memberkahinya. Sebaliknya, jika pilihan tersebut buruk, maka semoga Allah memalingkan dirinya dari hal itu lalu menetapkan untuknya yang lebih baik dengan idzin- Nya.

Hal ini menunjukan pentingan memadukan istikharah dan musyawarah. Maksudnya,  tatkala seseorang sedang ragu, tak ada salahnya dia bermusyawarah dengan orang lain, meminta masukan dari saudara atau teman. Lalu hasil musyawarah situ dibawa ke dalam istikharah. Ibn Taimiyah rahimahullah mengatakan “Tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah dengan sesama makhluk dan beristikharah kepada Allah

  1. Tidak Ada Bacaan Surat Khusus

Dalam hadits tersebut terkandung pengertian, tidak ada penetapan bacaan surat atau ayat khusus dalam shalat Istikarah. Artinya boleh membaca surah  atau ayat apa saja setelah membaca al-Fatihah. Hal ini berbeda dengan shalat  yang lain seperti shalat witir (disunnahkan membaca surah Al-a’la, al-Kafirun, dan al-Ikhash), shalat sunnah qabliyah subuh (surah al-Kafirun dan al-Ikhlash), dan sahalat ‘Ied (Surah al-A’la dan al-Ghasyiyah).

  1. Jawaban Istikharah

Dalam hadist tersebut terkandung pengertian bahwa jawaban Istikharah terlihat dengan dimudahkannya urusan yang diminta dalam Istikharah. Selain itu para Ulama menasihatkan, agar seseorang  melakukan apa yang tampak sesuai keyakinannya. Hendaknya ia memutuskan pilihan yang diyakininya dengan pasti, baik itu disenangi oleh hatinya atau tidak.

Sebagian orang menanti jawaban istikharah melalui mimpi, atau melalui membuka Quran secara acak lalu mencoba mencari jawabannya melalui ayat yang tak sengaja terbuka, atau dengan butiran-butiran tasbih dan lain-lain. Semua ini tidak mempunyai landasan dalil dan hadist.

  1. Do’a Dipanjatkan Ba’da Salam

Hadits tersebut menunjukan bahwa do’a Istikharah dipanjatkan setelah salam, sebab, dalam hadist Jabir di atas dikatakan; “Jika salah seorang diantara kalian bertekad untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah ia shalat dua raka’at di luar shalat wajib, kemudian hendaklah ia mengucapkan; . . . (do’a istikharah). Dzahir hadits tersebut menunjukan bahwa do’a diucapkan setelah shalat.

7. Beberapa Catatan Tambahan tentang istikharah:

  •  Biasakan beristikahrah dalam segala urusan
  • Selalulah berhusnudzan kepada Allah. Yakinlah bahwa yang terbaik adalah apa yang ditakdirkan oleh Allah. Percayalah bahwa ketika anda beristikharah maka Allah akan menuntun dan mengarahkan kepada kebaikan.
  • Tidak boleh beristikharah dalam shalat fardhu.
  • Jika anda dalam kondisi tidak boleh shalat (seperti sedang haidh bagi wanita) dan anda butuh istikharah, maka bersabarlah sampai masa haidh berlalu. Tetapi, jika perkara yang membutuhkan istikharah sangat penting dan mendesak, maka cukuplah anda membaca do’a istikahrah tanpa melakukan shalat. Karena wanita haidh tidak boleh shalat, tetapi boleh membaca do’a dan wirid.
  • Boleh membaca do’a istikaharah sebelum atau setelah salam.

      Jika anda tidak hafal do’a istikharah, maka berusahalah untuk menghafalnya terlebih dahulu. Tetapi jika perkara      yang membutuhkan istikharah sangat mendesak, maka boleh membacanya melalui catatan di secarik ketas.     Dalam kondisi seperti ini sebaiknya do’a dibaca setelah salam

  • Jika belum jelas pilihan yang terbaik, maka boleh mengulangi istikaharah (Menurut Syekh al-Utsaimin sampai tiga kali).
  • Jangan menambah dan mengurangi lafadz do’a yan terdapat dalam hadits.
  • Jangan jadikan hawa nafsumu menghakimi dan menghukumi hasil istikharah.

Wallahu a’lam (Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Remaja Islam Al-Firdaus edisi 12)

Bahan Bacaan :

  1. Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul, Meneladani Shalat-shalat Sunnah Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam.
  2. http://www.saaid.net/bahoth/41.htm

Ternyata Palu Pernah Diterjang Gempa dan Tsunami 100 Tahun Lalu

Relawan sedang mengevakuasi Korban Gempa dan tsunami Palu.

“Ternyata Palu pernah diterjang gempa 100 tahun lalu, yakni awal tahun 1900an dan sekitar 1937, namun tidak diketahui apakah disertai tsunami atau tidak”

Menurut Hamza Latief dari Institut Teknologi Bandung, tsunami bukanlah yang pertama kali menghantam area (Palu dan sekitarnya) tersebut. Berdasarkan catatan sejarah, pada 1927, gelombang setinggi 3-4 meter bergerak di mulut teluk, namun meningkat hingga 8 meter ketika mendekati daratan.

***

Para ahli dan pakar di bidang geofisika, khususnya seismologi, masih mempelajari penyebab pasti terjadinya tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Phil Cummins, seorang profesor bencana alam dari Australian National University menyebut dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memastikan penyebab tsunami di Sulteng.

Cummins menjelaskan, gempa di Sulteng pekan lalu bukan berjenis thrust earthquake, yakni jenis gempa yang kerap menyebabkan tsunami. Dalam kondisi gempa seperti ini, lempeng tektonik bergerak secara vertikal naik dan turun serta memindahkan air.

Sebaliknya, gempa Sulteng disebabkan oleh lempeng tektonik yang bergerak secara horizontal. Gempa tersebut, menurut Cummins, biasanya hanya menyebabkan tsunami kecil atau lemah. Tak hanya itu, ia menjelaskan, tsunami kerap disebabkan oleh gempa yang jaraknya ratusan mil dari pantai dan goncangan jarang dirasakan di darat.

Sementara di Sulteng, gempa terjadi tak jauh dari pantai. “Adalah tidak biasa melihat bencana ganda seperti ini,” kata Cummins, dikutip laman the Guardian pada Selasa (2/10). Disebutkan bahwa dibutuhkan beberapa bulan penelitian lapangan dan eksplorasi bahwa laut untuk menentukan penyebabnya.

Chairman of the Asian School of Environment di Nanyang Technological University, Singapura, Adam Switzer menyoroti tentang pertanyaan apakah gempa bumi dan tsunami di Sulteng tak terprediksi. Ia mengatakan, terdapat sistem gangguan besar dan terdokumentasi dengan baik yang berjalan melalui Palu dan panjangnya sekitar 200 kilometer.

Ia mengungkapkan terdapat peristiwa serupa pada awal 1900-an dan sekitar 1937, walaupun tidak diketahui apakah hal itu menyebabkan tsunami.

 “Dan ada sebuah makalah yang diterbitkan pada 2013, di mana disarankan sesar Palu, yang sangat lurus dan panjang, berpotensi menyebabkan gempa bumi dan tsunami yang sangat merusak,” katanya.

Jadi menurutnya, telah terdapat bahan untuk dipelajari guna mengantisipasi terjadinya gempa dan tsunami di Sulteng. “Tapi pertanyaannya adalah, apakah kita belajar sesuatu dari insiden masa lalu? Sepertinya tidak demikian,” ujar Switzer.

Hamza Latief dari Institut Teknologi Bandung yang telah meneliti garis patahan itu sejak 1995 mengatakan, tsunami bukanlah yang pertama kali menghantam area tersebut. Berdasarkan catatan sejarah, pada 1927, gelombang setinggi 3-4 meter bergerak di mulut teluk, namun meningkat hingga 8 meter ketika mendekati daratan.

Sumber: Republika.co.id

Wasekjen MUI : Tarbiyah Membangun Pemahaman Islam yang Benar

Wasekjen MUI : Tarbiyah Membangun Pemahaman Islam yang Benar

Wasekjen MUI sekaligus Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah, Muhammad Zaitun Rasmin pada hari Jum’at, 28 September 2018 mengadakan kunjungan dalam majelis ta’lim umum pekanan Wahdah Islamiyah di Masjid Al Hijaz Depok.

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Wasekjen MUI sekaligus Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah, Muhammad Zaitun Rasmin pada hari Jum’at, 28 September 2018 mengadakan kunjungan dalam majelis ta’lim umum pekanan Wahdah Islamiyah di Masjid Al Hijaz Depok.

Dalam kunjungan itu beliau berpesan agar tidak meninggalkan kegiatan ta’lim sebagai bentuk syiar dakwah islam dalam materi yang berjudul “Pentingnya Mengikuti Majelis Ilmu”.

Materi tersebut diberikan supaya semangat para peserta tidak mudah kendor ketika mengikuti majelis ilmu karena kebanyakan orang yang mengikuti majelis ilmu hanya karena pemateri yang mengisi kajian merupakan pemateri yang terkenal, sedangkan untuk pemateri-pemateri yang kurang terkenal justru terabaikan.

Dalam materi tersebut, beliau juga menyebutkan bahwa pentingnya kegiatan Kelompok Belajar Islam Intensif (KKI) atau lebih dikenal dengan nama Tarbiyah. Menurut beliau, metode ini sangat cocok untuk kalangan awam yang baru ingin mendalami ilmu agama maupun pembinaan karakter islam sesuai tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah karena materi tarbiyah merupakan materi-materi dasar sekaligus pengenalan terhadap agama Islam secara ringan agar ummat tidak kaget akibat langsung diberi materi yang sangat dalam pembahasannya dalm proses awal hijrah.

“In syaa Allah dengan menghidupkan Tarbiyah, kita akan membangun pemahaman yang benar, dan kalau dasar-dasarnya sudah bagus kedepannya nanti akan jadi lebih mudah dalam memahami kitab-kitab sunnah yang ada. Dan jika dasar yang dimiliki sudah cukup kuat, tentu orang akan lebih mudah membaca maupun memahami sendiri apa saja ajaran islam yang ada dalam kitab tersebut.” Ujar beliau dalam kesempatan tersebut.

Merupakan tindakan yang kurang tepat apabila seseorang ingin mendapatkan ilmu dasar dari kitab dengan membacanya sendiri tanpa binaan langsung dari dasar oleh yang sudah punya ilmu tentang hal tersebut.

“Lebih mudah memahami dasar ilmu agama dari yang sudah menguasainya walaupun murabbi(pengajar) tersebut juga masih dalam proses belajar juga.” Ujar beliau.

Lagipula, apabila kita mempelajari dasar ilmu kepada ulama besar tentu tidak akan lebih intensif daripada kepada murabbi, karena waktu yang dimiliki oleh seorang ustadz besar akan lebih sedikit untuk pembinaan khusus dan karakter daripada seorang murabbi yang cenderung belum terlalu banyak kesibukan, namun hasil yang didapat akan sama saja. (fry)

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (3) 

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (3) 

(Lanjutan dari Tulisan Sebelumnya)

Pada tulisan pertama dan kedua    telah  dijelaskan beberapa adab mendatangi dan memasuki masjid diantaranya bergegas ke Masjid saat masuk waktu shalat atau adzan berkumandang, berangkat ke masjid (lebih afdhal) dengan berjalan kaki, berjalan ke masjid dengan khusyuk dan tenang serta tidak tergesa-gesa, mengenakan pakaian terbaik, dan sebagainya. Pada tulisan ini insya llah akan dialnjutkan dengan adab yang berikutnya. Selamat membaca.

 

  1. Berdo’a Ketika Masuk dan Keluar Masjid

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dan Imam Abu Daud dalam Sunannya dari Abu Hamid radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيُسَلِّمْ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ لِيَقُلْ: اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ”

Jika salah seorang diantara kalian masuk masjid hendaknya mengucapkan salam kepada nabi shallallahu alaihi wasallam kemudian hedaknya mengucapkan : Ya allah bukakanlah untukku pintu-pintu rahmatmu. Dan jika ia keluar hendaknya mengucapkan : Ya allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keutamaan-Mu“. [Shohih muslim nomor 713 dan Abu Daud nomor 465]

Imam Abu Daud juga meriwayatkan dalam sunannya dari Abdullah bin Amr bin ‘ash radhiyallahu anhuma, bahwa ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam masuk masjid berdo’a:

“أَعُوذُ بِاللَّه الْعَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ…فإذا قال ذلك قال الشيطان: حفظ مني سائر اليوم”

“Aku memohon dengan nama allah yang maha Agung, dan dengan wajahnya yang mulia, dan dengan kerajaannya yang kekal, dari syaitan yang terkutuk. Ketika ia mengucapkan itu maka syaitan membalas : dia telah terjaga dari ku seluruh hari ini“. [Lihat sunan abu daud nomor 466]

  1. Mengikuti dan Menjawab Bacaan Muadzin Saat Adzan

Disunnahkan menjawab dan mengikuti muuadzin saat mengumandagkan adzan. Akan tetapi ketika muadzin mengucapkan hayya ‘alas sholah dan hayya ‘alal falah maka dia mengucapkan Laa haula wala quwwata illaa billah.  Sebagaimana dalam sebuah hadits:

 “فَإِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ”

Apabila seorang muadzin mengumandangkan Allaahu akbar, Allaahu akbar’ maka salah seorang dari kalian mengucapkan, Allaahu akbar, allaahu akbar’ lalu muadzin mengumandangkan, Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah’, seseorang mengucapkan, Asyhadu Allaa ilaaha Illallaah’ lalu muadzin mengumandangkan, Asyhadu Anna Muhammadar-Rasulullah’ seseorang mengucakan, Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah’, kemudian muadzin mengumandang, ‘Hayya Alashalah’ lalu seseorang mengucapkan, ‘Laa haula walaa quwwala illa billaah’, lalu muadzin mengumandangkan, ‘Hayya alal falaah.’ Seseorang mengucapkan, ‘Laa haula walaa quwwata illa billah’ kemudian muadzin mengumandangkan, Allaahu akbar; Allaahu akbar’ seseorang berkata, ‘Allaahu akbar, Allaahu Akbar’ kemudian muadzin mengumandangkan, ‘Laa ilaaha illallaah’ lalu seseorang berkata, Laa Ilaaha Illallaah’ dari hatinya, maka ia pasti masuk surga.” [Shohih muslim nomor 385]

Dan saat mu’adzin mengucapkan syahadatain hendaknya dia mengucapkan Radhitu Billahi Rabba[n], Wa Bimuhammad[in] Rasula[n] Wabil Islami Dina[n], sebagaimana hadits Sa’ad bin Abi waqqash radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda:

“مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللَّه رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ”

Barangsiapa yang mengucapkan ketika mendengar muadzin : saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali allah semata dan tidak ada sekutu bagi-nya, dan bahwasanya Muhammad adalah rasulul-Nya, saya telah Ridho allah sebagai rabku dn Muhammad sebagai nabiku dan islam sebagai agamaku maka diampuni dosa-dosanya“. [Shohih muslim nomor 386]

Kemudian berdo’a setelah adzan sebagaimana hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ”

Barangsiapa membaca ketika telah mendengar adzan : Ya allah Rab pemilik seruan yang sempurna ini dan sholat yang didirikan pemberi berilah wasilah (derajat disurga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tidak pernah mengingkari janji, maka halal baginya syafa’atku pada hari kiamat.  [Lihat Shohih bukhori nomor 614]

disyariatkan   juga berdo’a antara adzan dan iqamah sebagaimana yang diriwayatkan  oleh Abu Daud yang terdapat dalam Sunan beliau dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhu bahwasanya ada seorang laki-laki yang bertanya :

يا رسول الله، إن المؤذنين يفضلوننا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “قُلْ كَمَا يَقُولُونَ، فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ”

Wahai Rasulullah sesungguhnya para muadzin mengungguli kami, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: katakanlah apa yang dikatakan para muadzin, maka apabila engkau selesai mintalah (kepada Allah) engaku akan diberi“. [Lihat sunan abu daud nomor 524]

  1. Memperbanyak Dzikir

Disunnahkan di dalam masjid memperbanyak dzikir kepada Allah. Baik dengan tasbih, tahlil, tahmid, takbir ataupun  dzikir-dzikir yang lain. Dianjurkan juga memperbanyak membaca al-qur’an. Disunnahkn pula membaca hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam dan mengajarkan fiqih serta ilmu ilmu syar’i yang lainnya. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

  ﴿ فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ ﴾ [النور: 36

“(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang”. (Q.S. an-nur : 36)

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Buraidah radhiyallahu anhu,  bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“إِنَّمَا بُنِيَتِ الْمَسَاجِدُ لِمَا بُنِيَتْ لَهُ”

Hanyalah (tujuan) dibangun masjid-masjid itu sebagai mana tujuannya (tempat sujud)”.[Lihat hadits nomor 569]

Dan diriwayatkan pada hadits yang lain :

 “إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّه عَزَّ وَجَلَّ، وَالصَّلَاةِ، وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ”

“Hanyalah dia (masjid itu) untuk mengingat Allah azza wajalla, sholat dan membaca al-qur’an”. [Lihat shohih muslim nomor 285]

Dan hendakanya ketika didalam masjid menjauhi perkataan yang sia-sia dan melampaui batas, membicarakan manusia, dan banyak ngobrol tentang perkara dunia yang bisa mengeraskan hati dan jauh dari Allah.

Manusia yang Dibenci Oleh Allah dalam Al-Qur’an

Manusia yang Dibenci  Oleh Allah dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Quran selain disebutkan tentang ciri dan sifat orang-orang yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, disebutkan pula ciri dan sifat manusia yang dibenci oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tulisan  ini akan menjelaskan 11 golongan manusia  yang dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana termaktub dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Pertama, Al-Kafirun (Orang orang Kafir)

Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Ali Imran ayat    32, Al- Baqarah ayat 276, dan Ar-Rum ayat 45,

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ [٢:٢٧٦

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ [٣:٣٢

Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir“.

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ [٣٠:٤٥

Agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar.

 

Kedua, Al-Mu’tadun (Orang-orang yang Melampaui Batas)

Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 190 dan al-a’raf ayat 55, dan Al-Maidah ayat 87;

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ [٢:١٩٠

karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ [٧:٥٥

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ [٥:٨٧

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al-Maidah:87).

 

 Ketiga, Al-Mufsidun (Orang-orang yang berbuat kerusakan)

Sebagaimana  firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-Maidah ayat 64 dan Al-Qashash ayat 77;

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ [٥:٦٤

Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan”.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ [٢٨:٧٧

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Keempat, Adz-Dzalimun (Orang-orang yang dzalim),

Sebagaimana  firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 57 dan 140 serta Asy-syura ayat 40;

وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ [٣:٥٧

“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim”. (Qs. Ali Imran:57).

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ [٣:١٤٠

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.(Qs. Ali Imran:140).

 

Kelima dan Keenam, Al-Mukhtalun Wal Mutakabbirun (Orang yang Sombong dan Membanggakan Diri)

Sebagaimana  firman Allah Ta’ala  dalam surah An-Nisa ayat 36, Luqman ayat 18 dan An-Nahl ayat 23;

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا [٤:٣٦

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ [٣١:١٨

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

  إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ [١٦:٢٣

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.

Ketujuh, Al-Khanun (Pengkhianat)

Sebagaimana  firman Allah subhanahu wa taala dalam surah Al-Anfal ayat 58 dan an-Nisa ayat 107;

وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَىٰ سَوَاءٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ [٨:٥٨

Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.

وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا [٤:١٠٧

Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,

 

Kedelapan, Al-Mujahir Bis Suu ‘ (Orang-orang yang Menampakan Keburukan)

 Sebagaimana  firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surah An-Nisa ayat 148;

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا [٤:١٤٨

Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Kesembilan, Al-Atsim (Orang yang Bergelimang Dosa)

Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al- Baqarah ayat 276, dan An-Nisa ayat 107;

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ [٢:٢٧٦

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا [٤:١٠٧

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,

Kesepuluh, Al-Musrifun (Para pemboros)

Sebagaimana  firman Allah Ta’ala dalam surah Al-An’am ayat 141 dan Al-A’raf ayat 31;

وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ [٦:١٤١

dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. Al-An’am: 141).

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ [٧:٣١

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Qs. Al-A’raf:31).

Kesebelas, Al-Farihun bil Ma’ashi (Orang yang Senang dan Bangga dengan Maksiat)

Sebagaimana dalam surat Al-Qashas ayat 76;

 إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ [٢٨:٧٦[

Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri“. (Qs. Al-Qashash:76).

Semoga kita terhindari dari sifat-sifat buruk tersebut agar selamat dari murka Allah Subhanahu Wa Ta’ala. [sym].

Sejarah Puasa ‘Asyura

Sejarah Puasa ‘Asyura

‘Asyura adalah hari kesepuluh dalam bulan Muharram. Ia merupakan hari agung pada bulan suci Muharram. Keagungan hari ini disamping karena termasuk salah satu hari dari bulan Muharram yang merupakan asyhurul hurum, ia juga merupakan hari bersejarah. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim menuturkan bahwa ketika tiba di Madinah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati orang-orang Yahudi berpuasa. “Puasa apa ini?”, tanya sang Nabi. Mereka menjawab, “Ini adalah hari baik dan agung, hari dimana Allah menyelamatkan nabi dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya. Maka nabi Musa berpusa pada hari ini sebagai tanda syukurnya kepada Allah. Sehingga kamipun berpuasa sebagai pengagungan kepada hari ini dan nabi Musa”. Nabi bekara, “Kami lebih berhak atas Musa dari kalian”. Oleh karena itu nabi berpuasa pada hari ‘Asyura tersebut dan menyuruh para sahabat untuk turut berpuasa. Beliau mengatakan kepada para sahabat, “Kalian lebih berhak atas Musa dari mereka”.

Puasa ‘Asyura dalam Kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi Wa sallam

Ada empat fase atau tahapan puasa ‘Asyura dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Muslimin. Satu fase di Makkah dan tiga fase berkutnya di Madinah setelah hijrah. Penjelasan singkatnya dapat dikemukakan sebagai berikut;

Pertama, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  melakukan puasa Asyura bersama orang Musyrikin Mekah, tanpa memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa.

Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: “Dahulu orang Quraisy berpuasa A’syura pada masa Jahiliyyah. Dan Nabi-pun berpuasa ‘Asyura pada masa jahiliyyah. Ketika hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa ‘Asyura dan memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa juga. Ketika puasa Ramadhan diwajibkan, beliau berkata: “Bagi yang hendak puasa silahkan, bagi yang tidak puasa, juga tidak mengapa”. (HR.Bukhari dan Muslim).

Kedua, Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa Asyura, akhirnya beliaupun berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas di atas.

Saat itu puasa ‘Asyura menjadi kewajiban dimana Rasulullah menguatkan perintahnya dan sangat menganjurkan sampai-sampai para sahabat melatih anak-anak mereka untuk puasa ‘Asyura. Imam Bukhari meriwayatkan tentang hal tersebut dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz radliallahu ‘anha. Beliau mengatakan:

Suatu ketika, di pagi hari Asyura’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang mendatangi salah satu kampung penduduk Madinah untuk menyampaikan pesan: “Siapa yang di pagi hari sudah makan maka hendaknya dia puasa sampai Maghrib. Dan siapa yang sudah puasa, hendaknya dia melanjutkan puasanya.” Rubayyi’ mengatakan: “Kemudian setelah itu kami puasa, dan kami mengajak anak-anak untuk berpuasa. Kami buatkan mereka mainan dari kain. Jika ada yang menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu. Begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka”. (HR. Bukhari).

Ketiga, Ketika puasa Ramadhan diwajibkan, hukum puasa Asyura menjadi anjuran (sunnah) dan tidak wajib, sebagaimana dikatakan oleh A’isyah radhiyallahu ‘anha di atas.

Keempat, Pada akhir hayat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau ingin puasa tasu’a (9 muharram) serta memerintahkan para sahabat untuk melakukan puasa tanggal 9 dan tanggal 10 Muharam, sebagai bentuk sikap menyelisihi orang Yahudi. Sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata:

Ketika Nabi puasa A’syura dan beliau juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashara!! Maka Rasulullah berkata: “Kalau begitu, tahun depan Insya Allah kita puasa bersama tanggal sembelilannya juga”. Ibnu Abbas berkata: “Belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu”. (HR. Muslim). Wallahu a’lam [sym].

Keutamaan puasa ‘Asyura

Puasa ‘Asyura adalah puasa yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram

‘Asyura  atau hari kesepuluh dalam bulan Muharram merupakan hari agung. Keagungan hari ini disamping karena merupakan salah satu hari dari bulan Muharram yang termasuk salah satu  asyhurul hurum, ia juga merupakan hari bersejarah. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menuturkan bahwa ketika tiba di Madinah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati orang-orang Yahudi berpuasa. “Puasa apa ini?”, tanya Nabi. Mereka menjawa, “Ini adalah hari baik dan agung, hari dimana Allah menyelamatkan nabi dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya. Maka nabi Musa berpusa pada hari ini sebagai tanda syukurnya kepada Allah. Sehingga kamipun berpuasa sebagai pengagungan kepada hari ini dan nabi Musa”. Nabi bekata, “Kami lebih berhak atas Musa dari kalian”. Oleh karena itu Nabi berpuasa pada hari ‘Asyura tersebut dan menyuruh para sahabat untuk turut berpuasa. Beliau mengatakan kepada para sahabat, “Kalian lebih berhak atas Musa dari mereka”.

Puasa paling Afdhal Setelah Ramadhan

Puasa ‘Asyura merupakan puasa paling afdhal atau paling utama berdasarkan keumuman hadits riwayat Muslim yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Puasa yang paling afdhal setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (yakni buan) Muharram. (HR. Muslim).

Menurut sebagian Ulama bahwa yang dimaksud dengan puasa pada bulan Muharram ddalam hadits tersebut adalah puasa ‘Asyura.

Puasa yang Diwajibkan sebelum Perintah Puasa Ramadhan

Sebelum turunnya kewajiban puasa Ramadhan, puasa yang diwajibkan kepada Rasululah dan kaum Muslimin adalah puasa Ramadhan. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

Nabi dahulu puasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia agar berpuasa pula. Ketika turun kewajiban puasa Ramadhan, puasa ‘Asyura ditinggalkan”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Maksudnya tidak wajib, namun hukumnya berubah menjadi sunnah. Seperti halnya Shalat Lail yang menjadi kewajiban sebelum diwajibkannya Shalat lima waktu.

Puasa Sunah yang Sangat Diperhatikan Oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Puasa ‘Asyura merupakan puasa Sunnah yang sangat dijaga dan diperhatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sebagaimana dituturkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma;

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ . ” رواه البخاري

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar perhatian untuk berpuasa pada suatu hari yang beliau utamakan dari hari lain melebihi puasa ‘Asyura ini dan bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari).

Menghapus Dosa Selama Setahun

Keutamaan puasa ‘Asyura dapat menghapuskan dosa selama setahun, yakni dosa setahun sebelumnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda;

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ” رواه مسلم

“, . . dan puasa ‘Asyura saya  berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang sebelumnya”. (HR. Muslim).

Dianjurkan Mendahului Pusa ‘Asyura dengan Puasa Tasu’a

Untuk kesempurnaan puasa ‘Asyura maka dianjurkan pula melaksanakan puasa ‘Asyura dengan berpuasa tasu’a atau sehari sebelumnya, yakni pada tanggal 9 Muharram. Pusa Tasu’a dianjurkan oleh Nabi dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi yang juga berpuasa pada hari ‘Asyura.  Sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata:

“Ketika Nabi puasa A’syura dan beliau memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani!! Maka Rasulullah berkata: “Kalau begitu, tahun depan Insya Allah kita puasa bersama tanggal sembelilannya juga”. Ibnu Abbas berkata: “Belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu”. (HR. Muslim).

Riwayat  Ibnu Abbas inilah yang menjadi dasar hukum anjuran menyempurnakan puasa ‘Asyura dengan puasa Tasu’a atau sehari sebelumnya. [sym].

Puasa Muharram, Puasa Paling Utama Setelah Puasa Ramadhan  

Puasa Muharram menjadi puasa paling utama setelah Puasa Ramadhan karena merupakan salah satu  puasa yang biasa dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum disyariatkannya puasa Ramadhan. 

Bulan muharram merupakan bulan yang agung dan penuh berkah.  Bulan pertama dalam penanggalan hjiriah ini termasuk salah satu bulan haram yang disebutkan oleh Allah dalam surat At-Taubah ayat 36.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram.” (Q.S. at Taubah :36).

Yang dimaksud dengan empat bulan haram dalam ayat di atas adalah bulan Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan bulan Muharram. Hal ini dijelaskan  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sabdanya, “Setahun itu ada dua belas bulan,  diantaranya terdapat empat bulan  haram yang dihormati: tigabulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharra  m dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Bulan Muharram juga disebut oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alihi wa sallam sebagai bulan Allah.  Sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Muslim,  bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أفضل الصيام بعد رمضان شهرالله المحرم

Puasa paling utama setelah puasa (wajib pada bulan)  Ramadhan adalah puasa pada bulan (Nya)  Allah (yakni)  bulan Muharram” (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukan dua hal tentang bulan Muharram. Pertama,  Bulan Muharram merupakan bulan mulia dan istimewa,  karena dalam hadits tersebut bulan Muharram disandarkan secara khusus kepada Allah.  Penyandaran tersebut menunjukkan kemuliaan bulan Muharram.

Kedua,  Keutamaan berpuasa pada bulan Muharram. Dimana dalam hadits tersebut dinyatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa puasa pada bulan muharram merupakan puasa paling afdhal setelah puasa wajib pada bulan Ramadhan.

Yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah memperbanyak puasa suannah pada bulan Muharram,  bukan berpuasa sepanjang bulan Muharram. Karena Nabi tidak pernah berpuasa sebulan penuh melainkan pada bulan Ramadhan. Hal itu menunjukan bahwa yang dimaksud dengan “puasa pada bulan (Nya)  Allah (yakni) bulan Muharram” adalah motivasi dan anjuran memperbanyak puasa sunnah.

Sebagian ulama yang lain memandang bahwa yang dimaksud adalah pada tanggal 9 dan 10 Muharram yang dikenal dengan Puasa Tasu’a dan puasa ‘Asyura.

Puasa ‘Asyura pada tanggal 10 Muharram merupakan salah satu puasa Sunnah yang biasa dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum turunnya perintah puasa Ramadhan.

Puasa ‘Asyura memiliki keutamaan menghapuskan dosa setahun, sebagaimana dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah bersabda, “Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Mari raih keutamaan bulan Muharram dengan puasa sunnah, khususnya puasa ‘Asyura. [sym].

 

Bulan Muharram Bulan Sial?

Bulan Muharram Bulan Sial?

Bulan Muharram Bulan Sial?

Bulan Muharram Bulan Sial?

 

Pertanyaan:

Bismillah.. Assalamualaikum utadz, saya  mau tanya.. Sekarang kan kita sedang berada di bulan Muharram atau Suro.  Di daerah saya sebagian orang enggan mengadakan hajatan pada bulan muharram. Karena menganggap Muharram sebagai bulan sial.  Benarkah demikian ustadz?  Karena ana juga pernah dengar dan baca bahwa bulan Muharram merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam.  Bagaimana seharusnya kita memuliakan bulan Muharram? (Fadli, Jakarta).

Jawaban:

Wa ‘alikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan mulia (asyhurul hurum)  yang diistimewakan oleh Allah. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam surat At-Taubah ayat 36.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram.  (Qs. at Taubah :36).

Yang dimaksud dengan empat bulan haram dalam ayat di atas adalah bulan Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Hal ini dijelaskan oleh Nabi dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati: tigabulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharra  m dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.” (terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Bulan Muharram juga disebut oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai syahrullah (Bulan Nya Allah).  Sebagaimana dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim,  Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

أفضل الصيام بعد رمضان شهرالله المحرم

Puasa paling afdhal setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulanNya Allah (yakni)  bulan Muharram“. (HR. Muslim)

Penyebutan ini memberi makna bahwa bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandarkan pada lafdzul Jalalah (Allah). Menurut Para Ulama penyandaran sesuatu pada lafdzul Jalalah menunjukan tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah Baitullah (Rumah Allah/Masjid), Rasulullah, Saifullah (Pedang Allah, gelar bagi Sahabat Nabi Hamzah bin Abdul Muthalib) dan sebagainya. Menurut Imam Ibnu Rajab al-Hambali  rahimahullah, “Muharram disebut dengan syahrullah (bulan-Nya Allah) karena [1]  untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan Muharram, serta [2] untuk menunjukkan otoritas Allah Ta’ala dalam mensucikankan dan memuliakan bulan Muharram”.

Oleh karena itu kurang tepat jika menganggap bulan Muharram sebagai bulan sial. Sebab pada dasarnya tidak ada hari atau bulan sial. Bahkan keyakinan adanya waktu tertentu yang dianggap sial dapat menyebabkan syirik. Justru sebaliknya. Bulan Muharram merupakan bulanNya Allah yang mulia yang hendaknya dimuliakan dan dihormati. Tentu saja memuliakan dan menghormati bulan Muharram bukan dengan men-sial-kannya atau mengkeramatkannya. Tetapi dengan mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah dalam memuliakan bulan ini. Yakni dengan meninggalkan kezaliman dan memperbanyak puasa suannah. Wallahu a’lam. [sym].

Adab-Adab Shalat [04]

Adab-Adab Shalat [04]

Sambungan dari Tulisan Sebelumnya

 Diantara adab-adab Shalat yang hendaknya diperhatikan dan dijaga adalah;  menunggu shalat setelah selesai Shalat dan menjaga Shalat sunnah Rawatib

  1. Menunggu Shalat Setelah  Selesai Shalat

Dianjurkan menunggu Shalat setelah  selesai Shalat, seperti menunggu Shalat  Isya  setelah Shalat  Maghrib,  sambil diisi dengan dzikir,  membaca atau menghafal Al-Qur’an, mempelajari ilmu,  dan menghadiri majelis ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Setelah Shalat duduk di Masjid membaca Al-Qur’an dan menunggu Shalat berikutnya

Para Malaikat senantiasa mendoakan salah seorang dari kalian selama ia di tempat Shalatnya (menunggu Shalat berikutnya), dan selama tidak berhadats (batal wudhu). Para Malaikat itu berdo’a: Ya Allah ampunila dia, ya Allah rahmatilah dia. Salah seorang dari kalian senantiasa mendapatkan pahala Shalat selama Shalat (berikutnya) yang menahannya (untuk tetap di tempat shalatnya). Tidak ada yang menahannya untuk pulang dahulu kepada keluargnya (di rumah)  kecuali shalat (yang dia tunggu). (Muttafaq ‘alaih).

  1. Menjaga Shalat Sunnah Rawatib

Menjaga Shalat Sunnah Rawatib, tidak menyepelekan,  dan merasa ringan meninggalkannya,  karena melaksanakan shalat rawatib menambah kedekatan kepada Allah dan menambal kekurangan yang terdapat dalam pelaksanaan Shalat Fardhu seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim shalat sunnah 12 raka’at selain shalat fardhu melainkan Allah bangunkan untuknya sebuah rumah di surga“. (HR. Muslim).

Dua belas rakaat yang dimaksud dalam hadits ini adalah shalat sunnah rawatib sebelum dan setelah shalat Fardhu yang terdiri atas;  empat raka’at sebelum dzuhur,  dua raka’at setelah Dzuhur, dua raka’at setelah Maghrib,  dua raka’at setelah Isya,  dan dua raka’at sebelum Subuh.

Ummu Habibah radhiallahu anha mengatakan Aku tidak pernah meninggalkan shalat rawatib sejak Ibu sejak mendengar sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang hal tersebut demikian pula kamar dan Norman mengatakan hal yang sama

  1. Tekun Melaksanakan Shalat Sunnah Qabliyah Subuh

Khusus Rawatib qabliyah Subuh hendaknya lebih diperhatikan karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat tekun melaksanakannya, berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu anha berkata,  “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menekuni suatu shalat sunnah pun setekun  beliau melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh”. (Muttafaq alaih).

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menjelaskan keutamaanya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu Anha bahwa beliau bersabda;

 “Dua  rakaat salat sunnah sebelum subuh lebih baik daripada dunia beserta isinya”.  (HR. Muslim).

Bersambung ke tulisan berikutnya. [sym].

Sumber: Panduan Adab-Adab Shalat Untuk Meraih Kesempurnaan Shalat, Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.