Khotbah Idul Fitri 1440 H: Saatnya Menjadi Umat Pemenang

 

SAATNYA MENJADI UMAT PEMENANG!

(Khutbah Idul Fitri 1440 H DPP Wahdah Islamiyah)

 

إن الحمد لله نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونستهديه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، ومن يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ} .

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا}

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا}

 

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd

Kaum muslimin yang berbahagia!

Betapa besar karunia Allah Azza wa Jalla pada pagi hari ini. Tanpa pernah kita sungguh-sungguh meminta, Dia perkenankan kita semua untuk sampai pada hari kemenangan ini. Dia pilih kita semua untuk tetap bernafas dan hadir merayakan kegembiraan Idul Fitri ini. Sementara kita tahu: ada hamba yang tak dipilihnya untuk sampai di titik ini. Mereka pergi sebelum hari raya ini tiba. Maka segala puji dan segenap syukur kami haturkan tak terkira padaMu, ya Allah…atas kesempatan ini hingga kami dapat tetap bersujud dan bersyukur hanya padaMu.

 

Allahu akbar, Allahu akbar, Walillahil Hamd

Kaum muslimin yang dirahmati Allah!

Akhirnya sampailah kita di sini. Di sebuah episode waktu dimana Ramadhan akhirnya berakhir dan pergi dari lembar kehidupan kita. Ramadhan pergi dengan semua kenangan indahnya. Kenangan indah bagi hamba-hamba yang mengukir kisah romantis bersamanya. Bersama malam-malamnya yang semerbak oleh kisah-kisah penghambaan. Bersama siangnya yang dipenuhi dengan kisah-kisah perjuangan.

Akhirnya sampailah kita di sini. Di hari kemenangan yang kita nantikan di dunia ini, sebelum kelak kita akan merayakan hari puncak kemenangan kita di Akhirat, ketika Allah Azza wa Jalla memperkenankan tapak-tapak kaki kita melangkah memijak Surga yang hanya menyuguhkan kenikmatan dan kebahagiaan, dan tiada lagi kepayahan dan penderitaan!

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Hamba yang berpuasa itu akan mendapatkan 2 kegembiraan: kegembiraan saat ia berbuka, dan kegembiraan saat berjumpa dengan Rabbnya.”  (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Albani)

Karena itu –kaum muslimin yang berbahagia- sejak awal ditetapkannya, bulan Ramadhan hadir untuk mengajarkan jalan kemenangan. Ramadhan mengajarkan bahwa kemenangan bukan jalan yang mudah. Kemenangan harus diukir di atas jejak-jejak kelelahan dan keletihan. Kemenangan harus ditorehkan pada jejak-jejak pengorbanan yang tidak ringan. Tetapi semua pengorbanan dan kepahitan itu akan berujung pada rasa manis kemenangan, yang puncak kelezatannya akan kita kecup di dalam Jannah.

Pena sejarah mencatat: Ramadhan adalah bulan dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin para sahabatnya memenangi Perang Badar. Dan di bulan itu pula, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun ke 8 Hijriyah menaklukkan kota Mekkah yang sebelumnya menjadi markas pusat kaum Musyrikin melancarkan segala bentuk makar untuk menghancurkan dakwah beliau.

Sejarah hari-hari Ramadhan juga akan bercerita kepada kita, tentang bagaimana Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu memimpin dan memenangkan pertempuran Qadisiyah.

Tentang Thariq bin Ziyad rahimahullah yang menaklukkan Semenanjung Andalusia yang hari ini meliputi Spanyol dan Portugal.

Tentang Saifuddin Quthz rahimahullah, bagaimana ia menghempaskan Pasukan Mongolia dalam Perang ‘Ain Jalut.

Juga tentang bagaimana Muhammad al-Fatih rahimahullah menaklukkan ibukota Romawi Timur yang bernama Konstantinopel.

 

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar wa lillahilhamd!

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Kemenangan adalah kata yang telah digariskan oleh Allah Azza wa Jalla kepada para Rasul dan orang-orang beriman. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ (غافر: 51

“Sesungguhnya Kami pasti akan memenangkan Rasul-rasul Kami dan orang-orang beriman di kehidupan dunia dan kelak pada hari (kiamat) dimana para saksi akan berdiri.” (Ghafir: 51)

Kemenangan adalah sebuah kepastian janji Allah Ta’ala untuk kita, orang-orang beriman, selama kita memang pantas, layak dan memenuhi syarat sebagai para pemenang! Maka menjadi kewajiban setiap kita untuk memahami apa saja syarat menjadi pemenang itu. Dan semua syarat kemenangan yang kita butuhkan itu sesungguhnya telah disebutkan oleh Allah Ta’ala di dalam surah yang paling familiar dalam kehidupan kita, yaitu Surah al-‘Ashr:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu pasti dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran.”

Setelah mengawalinya dengan sumpah atas nama waktu sebagai media manusia merangkai dan merebut kemenangan, Allah Ta’ala mengawali rangkaian ayat yang indah ini sebuah ketetapan yang abadi, yaitu bahwa: semua manusia adalah para pecundang yang merugi!

Maka meski pencapaianmu setinggi langit, namamu tersohor begitu rupa, dan kekuasaanmu seolah tanpa tanding, engkau tetaplah manusia pecundang yang merugi, selama 4 syarat kemenangan yang dirangkai oleh Allah Ta’ala dalam Surah ini engkau penuhi.

 

Apa saja 4 syarat untuk mewujud sebagai manusia pemenang -Kaum muslimin yang berbahagia-?

Apa saja 4 syarat untuk mengeluarkan kita, manusia, dari barisan para pecundang abadi?

 

Syarat yang pertama adalah keimanan yang benar dan teguh kokoh menghunjam:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا

“….kecuali orang-orang yang beriman…”

Begitu Allah Azza wa Jalla menyebut syarat yang pertama ini. Keimanan yang benar dan Tauhid yang lurus adalah landasan utama semua bentuk kemenangan. Kemenangan tak pernah layak disebut sebagai “kemenangan”, jika iman dan Tauhid tidak menjadi motivasi dan penggeraknya.

Bahkan saat engkau meneguhkan iman dan Tauhid dalam dirimu dengan sebenar-benarnya, maka engkau telah seorang pemenang, meski tak pernah bersimbah darah dalam pertempuran hebat! Karena menapaki jalan iman dan Tauhid adalah kemenangan itu sendiri.

 

Syarat yang kedua adalah komitmen diri untuk menapaki jalan-jalan keshalihan dan ketaatan:

وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“…dan melakukan amal-amal shalih…”

Karena iman bukan setakat pengakuan belaka. Iman harus dibuktikan wujud nyatanya dengan komitmen diri untuk menyemaikan keshalihan melalui bibit-bibit ketaatan ibadah dan kebajikan pada sesama.

Karena amal shalih adalah pembuktian: apakah pengakuan iman dan Tauhid itu sebenar-benarnya atau tak lebih dari sekedar pemanis bibir?

Namun saat kita berbicara tentang semangat melakukan kebajikan dan amal shalih, penting sekali merenungkan ungkapan salah seorang ulama Salaf, al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah yang mengatakan:

إِنَّ اْلعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَ لَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُوْنَ خَالِصًا وَصَوَابًا، فَالْخَالِصُ أَنْ يَكُوْنَ لِلَّهِ، وَالصَّوَابُ أَنْ يَكُوْنَ عَلَى السُّنَّةِ.

“Jika amal itu dikerjakan dengan ikhlas namun tidak benar, tidak akan diterima. Dan jika ia benar namun tidak ikhlas, ia pun tidak diterima, hingga ia dikerjakan dengan ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika dikerjakan karena Allah, dan benar itu jika dilakukan sesuai Sunnah.”

Kedua syarat yang telah disebutkan ini berkaitan erat dengan pribadi kita masing-masing. Iman dan amal shalih adalah dua syarat yang harus terwujud pada sosok insan pemenang. Iman dan amal shalih adalah dua hal yang harus dipenuhi untuk kemenangan pribadi.

Namun kemenangan pribadi tentu saja tidaklah cukup, sampai kita menyebarkan kemenangan itu kepada sesama manusia, agar kemenangan itu terwujud dalam kehidupan sosial kita. Sebab seorang muslim tidak sudi menikmati kemenangan itu sendiri, hingga ia membaginya kepada orang lain. Kepada sesama manusia.

Karena itu, Syarat kemenangan yang ketiga adalah adanya kesadaran bersama dari kaum beriman dan pecinta amal shalih untuk saling mengingatkan dan menasehati terhadap kebenaran. Tidak diam. Tidak membisu. Tapi selalu lantang menyuarakan kebenaran dan meluruskan yang salah:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ

“…dan mereka saling berpesan dengan kebenaran…”

Kemenangan sejati itu adalah ketika engkau berpegang teguh pada kebenaran, meski manusia menganggapmu kalah, bahkan menyebutmu sebagai pecundang. Sebaliknya engkau adalah pecundang sejati jika hidupmu dipenuhi dengan kesesatan, keculasan dan kecurangan, meski seluruh dunia mengucapkan selamat atas kemenangan semu-mu!

Karena itu, kemenangan sebuah masyarakat takkan pernah terwujud meski teknologi dan infrastrukturnya dahsyat tak terkira, jika masyarakat itu selalu melakukan pembiaran terhadap kebatilan, kemungkaran, keculasan dan kecurangan. Karena itu semua adalah borok busuk kehidupan, yang jika didiamkan dan dibiarkan akan meluluhlantakkan bangunan dan tatanan masyarakat itu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kondisi ini seperti kehidupan para penumpang sebuah bahtera di tengah lautan. Yang ketika para penumpang di dek bagian bawah membutuhkan air bersih harus bolak-balik naik ke atas. Hingga akhirnya karena tidak mau repot dan susah, mereka berencana untuk melobangi bagian bawah kapal itu untuk memudahkan akses mereka mendapatkan air. Tentang itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

فَإِنْ أَخَذُوْا عَلَى يَدَيْهِ أَنْجَوْهُ وَ نَجَّوْا أَنْفُسَهُمْ، وَإِنْ تَرَكُوْهُ أَهْلَكُوْهُ وَأَهْلَكُوْا أَنْفُسَهُمْ

“Maka jika mereka mencegahnya, mereka telah menyelamatkannya dan menyelamatkan diri mereka sendiri. Namun jika mereka membiarkannya, mereka telah membinasakannya dan membinasakan diri mereka sendiri.” (HR. Al-Bukhari)

Kondisi ini berlaku dalam seluruh tatanan kehidupan.

Dalam lingkup keluarga misalnya, jika seorang ayah dan ibu membiarkan anak-anak melakukan kemungkaran: membiarkan mereka tidak shalat, membebaskan mereka bergaul dengan lawan jenis, tidak mengingatkan tentang wajibnya mengenakan hijab bagi muslimah, atau membiarkan mereka menghabiskan waktu dengan bermain game; maka ini pertanda buruk bagi sebuah keluarga! Keluarga seperti ini tidak layak disebut sebagai “keluarga pemenang”, meski di tengah masyarakat sangat dihormati karena capaian-capaian dunianya. Karena dalam sudut pandang akhirat, keluarga ini telah karam-tenggelam.

Begitu pula dalam tataran berbangsa dan bernegara. Jika semua diam dan tidak peduli dengan kezhaliman dan kemaksiatan yang merajalela, maka itu pertanda bangsa dan negara itu sebenarnya telah karam, meski capaian-capaian fisiknya diakui dunia. Jika sebuah bangsa menganggap biasa perilaku durhaka kepada Allah, selalu curang dan culas, menganggap biasa suap-menyuap, perampasan hak milik orang lain, perilaku seksual yang menyimpang dan pelecehan terhadap agama, lalu semuanya diam tak bersuara, maka saat itu sesungguhnya mereka telah karam dan binasa!

Itulah sebabnya, mengapa Islam mewajibkan setiap kita untuk berdakwah. Mewajibkan setiap kita untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, sesuai dengan batas kemampuan kita.

Di titik ini, maka setiap kita harus memahami dengan jernih: bahwa nasihat dan teguran sesungguhnya adalah tanda cinta. Saat kita mencintai seseorang, kita takkan rela ia hancur dan binasa. Maka kita pun menasihati dan menegurnya. Sebaliknya diam dan membiarkan adalah tanda ketidakpedulian. Saat kita tak lagi peduli pada seseorang, maka hancur binasa pun dia, kita takkan peduli apalagi bersedih.

 

Allahu akbar, Allahu akbar wa liLlahil hamd!

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Kemudian yang terakhir, Syarat yang keempat adalah umat pemenang akan selalu saling mengingatkan untuk selalu bersabar dan menguatkan kesabaran.

وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“…dan mereka saling berwasiat dengan kesabaran.”

Karena jalan kemenangan adalah jalan panjang. Jalan dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar tidaklah mudah. Ada banyak tekanan, cibiran, persekusi bahkan intimidasi.

Saat kita meluruskan aqidah dan keyakinan yang salah, sudah pasti kita akan berhadap dengan para fanatisnya yang merasa benar sendiri. Saat kita menasihati kawan seiring bahkan anak dan istri kita untuk memperbaiki diri, seringkali kita akan menghadapi penolakan atau setidak-tidaknya tatapan sinis.

Saat kita –misalnya- berjuang menegakkan kedaulatan bangsa dan negara, sudah pasti musuh-musuh bangsa bersama antek-anteknya akan menghalangi dengan berbagai cara. Bahkan di jalan itu, boleh jadi kita harus mengorbankan jiwa dan raga.

Tapi demikianlah jalan yang harus dilalui…

Maka “sabar” adalah senjata utama kita dalam semua jejak perjuangan. Sabar adalah batu tempat para pemenang berpijak untuk meraih kemenangannya. Tanpa itu, takkan ada kisah kemenangan. Takkan ada kejayaan.

 

Allahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd!

Kaum muslimin yang berbahagia!

Kemenangan itu telah ditetapkan. Allah Azza wa Jalla mengatakan:

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ (171) إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ (172) وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ (173) الصافات

“Telah ada dalam ketetapan Kami bagi hamba-hamba Kami yang diutus: bahwa sungguh mereka itulah sebenar-benarnya kaum yang diberi pertolongan. Dan sungguh tentara Kami pastilah para pemenang itu.”

Maka selama kita telah memastikan diri berada di atas rel kemenangan itu, kita insya Allah telah menjadi pemenang, meski kedua mata kita tak lagi sempat menyaksikan kejayaan di dunia ini.

Renungkanlah kisah seorang anak remaja, al-Ghulam, dalam kisah Ashabul Ukhdud. Seorang remaja penegak Tauhid yang oleh penguasa tertinggi saat itu dianggap akan merongrong kekuasaannya. Berbagai cara ditempuh oleh rezim itu untuk melenyapkannya, tapi tak ada yang berhasil. Dihempas dari puncak gunung tinggi, ditenggelamkan ke perut laut dalam. Tak ada yang dapat melenyapkannya. Hingga akhirnya pemuda itu sendiri yang mengusulkan pada Sang Raja bagaimana cara jitu untuk membunuhnya. Pemuda itu mengatakan (dan kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim):

إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَقْتُلْنِي حَتَّى تَفْعَلَ مَا آمُرُكَ بِهِ فَإِنْ أَنْتَ فَعَلْتَ مَا آمُرُكَ بِهِ قَتَلْتَنِي، وَإِلَّا فَإِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعَ قَتْلِي قَالَ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: تَجْمَعُ النَّاسَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ تَصْلِبُنِي عَلَى جِذْعٍ فَتَأْخُذُ سَهْمًا مِنْ كِنَانَتِي ثُمَّ تَقُولُ: بِسْمِ اللَّهِ رَبِّ الْغُلَامِ ، فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ قَتَلْتَنِي

“Sesungguhnya engkau takkan mampu membunuhku sampai engkau melakukan apa yang aku perintahkan. Jika engkau melakukan apa yang aku suruh, maka engkau akan dapat membunuhku. Jika tidak, engkau takkan mampu membunuhku.”

Sang Raja bertanya: “Cara apa itu?”

Remaja itu menjawab: “Engkau kumpulkan rakyatmu di satu tanah lapang, lalu engkau salib aku di atas sebuah batang kurma, kemudian engkau ambil satu anak panah dari kantung panahku, lalu engkau ucapkan: ‘Bismillah Rabbil ghulam’ (Dengan menyebut nama Allah, Tuhannya anak ini). Jika engkau melakukan ini, maka engkau pasti dapat membunuhku…”

 

Kaum muslimin yang berbahagia!

Remaja muda itu akhirnya gugur, setelah Sang Raja yang kafir itu bersedia mengucapkan: “Bismillah Rabbil ghulam” saat memanahnya.

Apakah remaja itu kalah dengan kematiannya? Sama sekali tidak. Kematiannya justru menjadi puncak kemenangan dunianya. Karena setelah seluruh rakyatnya menyaksikan anak muda itu hanya bisa mati dengan kalimat “Bismillah”, secara serentak seluruh rakyatnya menyakini keMahakuasaan Allah hingga akhirnya mendeklarasikan keimanan mereka.

 

Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd!

Akhirnya, hari-hari ke depan akan menjadi hari-hari pembuktian bagi kita semua sebagai alumni-alumni Ramadhan: apakah kita termasuk alumni pemenang atau alumni pecundang?

Kemenangan kita usai Ramadhan dibuktikan dengan berlanjutnya keshalihan, ketaatan dan kebaikan yang telah kita ukir hingga ke hari-hari paska Ramadhan. Shalat berjamaah, membaca al-Qur’an, tetap bersedekah, konsisten mengenakan hijab menutup aurat, menaklukkan hawa nafsu, menjaga lisan, dan meninggalkan apa saja yang tak berguna di kehidupan akhirat. Termasuk Sunnah menggenapkan kebaikan Ramadhan dengan berpuasa 6 hari di bulan Syawal yang pahalanya setara dengan puasa setahun lamanya.

Maka jangan hentikan ragam keshalihan dan kebajikan itu saat Ramadhan berakhir, karena hidup dan mati kita hanya untuk Allah, dan bukan untuk Ramadhan!

 

Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd!

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Akhirnya, di ujung khutbah ini, marilah kita bersunyi diri, bersenyap jiwa dan hati, menengadah penuh ratap dan harap kepada Allah Azza wa Jalla, memohon dalam doa yang dipenuhi harapan kebaikan dunia dan akhirat kita:

 

Khutbah Kedua

الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على أشرف أنبيائه و أفضل رسله و على آله و صحبه

Rabbana…

Kami-lah sekumpulan hambaMu yang penuh kehinaan. Dalam diri kami tiada apapun yang dapat kami sombongkan. Durhaka kami yang tak henti-henti. Maksiat kami yang terus terjadi siang dan malam. Kelalaian kami padaMu terus berulang. Semuanya tiada yang luput dari pengawasan dan pengetahuanMu, ya Allah…Nafsu kami terus membakar, tapi kami sungguh-sungguh takut pada adzab dan siksa NerakaMu, ya Allah…

Maka kepada siapa lagi kami harus mengadukan dosa dan durhaka diri yang memenuhi diri ini selain kepadaMu, ya Allah? Engkau sajalah Rabb kami. Engkau sajalah Ilah yang kami ibadahi. Engkau sajalah Sang Maha Pengampun. Maka ampunilah, ampunilah segenap kelam dosa dan maksiat kami, ya Allah…

 

Rabbana…

Dalam kehinaan yang tiada tara ini, kami bersimpuh padaMu, ya Allah…kami memohon liputilah ayah-bunda kami dengan keberkahan tiada henti dalam hidup dunia maupun akhirat mereka. Limpahkan kebahagiaan dalam hidup mereka. Berkahi sisa usia mereka dalam ibadah dan ketaatan padaMu, ya Allah.

Sedangkan kami, hamba-hambaMu yang hina ini, ampunilah segala kedurhakaan dan ketidakperhatian kami kepada mereka. Berikan kami kesempatan untuk terus mengukir bakti-bakti terbaik kepada mereka di sepanjang hayat kami, ya Allah…

 

Rabbana…

Indonesia, negeri yang Engkau titipkan kepada kami, sedang mengalami dan melewati hari-hari yang sungguh mengkhawatirkan kami. Negeri yang Engkau merdekakan dengan Rahmat-Mu ini dengan sangat terang-benderang telah menjadi sasaran tangan-tangan khianat yang keji, yang tak segan dan ragu merampas kemerdekaan kami demi memuaskan nafsu rakus dan tamak mereka.

Maka hari ini memohon padaMu, ya Allah, dengan segala keMahaperkasaanMu, dengan segala keMahabesaranMu, atas nama semua hambaMu yang terzhalimi, hancurkan tangan-tangan khianat itu bersama makar-makar mereka…tenggelamkan tangan-tangan khianat itu bersama seluruh pendukungnya…

Rabbana, karuniakan negeri kami dan negeri-negeri kaum muslimin: para pemimpin yang selalu takut hanya padaMu, para pemimpin yang mengasihi kami, yang memimpin kami dengan keadilan, yang dengan izinMu –ya Allah- membawa negeri ini pada kemakmuran yang Kau ridhai.

 

Rabbana…

Dengan kasihMu yang Mahaluas, dengan kuasaMu yang Mahaperkasa, kami memohon dengan sepenuh jiwa, hadirkanlah pertolongan dan kemenanganMu kepada saudara-saudara kami yang sedang berjihad dan berjuang menegakkan kedaulatan mereka di Palestina dan Suriah, serta di wilayah manapun dari bumiMu ini, ya Allah…

 

Rabbana…

Karuniakan rahmat dan keberkahanMu yang tak bertepi kepada para ulama, para ustadz, para guru dan siapa saja yang telah mengantarkan kebaikan dan keshalihan kepada kami. Kepada para ulama dan ustadz yang tak kenal jemu menasihati kami…kepada guru-guru mengaji kami yang menuntun lisan ini mengeja ayat-ayatMu…Kasihi mereka dan keluarga mereka…Pertemukan kami kembali di dalam limpahan karunia dan nikmatMu di dalam Jannatul Firdaus…

 

Rabbana…

Tak ada yang dapat mengabulkan doa-doa dan permohonan hati ini selain Engkau saja satu-satuNya. Maka kabulkanlah, ya Allah…Kabulkanlah, ya Allah…

ربنا آتنا في الدنيا حسنة و في الآخرة حسنة و قنا عذاب النار

و صلى الله و سلم على نبينا و حبيبنا محمد و على آله و صحبه أجمعين

و آخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Khotbah Jum’at: Meraup Berkah Ramadhan

 

 

Meraup Berkah Ramadhan

Khotbah Pertama

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin, jamaah shalat Jum’at yang dirahmati oleh Allah.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, detik-detik yang dilaluinya bisa lebih berharga dibandingkan dengan dunia beserta seluruh isinya, dan jika datang bulan Ramdhan, Rasulullah memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya dan menjelaskan tentang keutamaan dan berkah yang menyertainya, beliau mengatakan:

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya:”Telah tiba dihadapan kalian bulan Ramadhan, bulan penuh dengan berkah, Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di dalamnya, pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka di tutup, dan syetan-syetan di belenggu di bulan Ramadhan. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan”. HR Ahmad.

Sikap Rasulullah ini tentunya menunjukkan dahsyatnya keutamaan bulan Ramadhan, Rasulullah menyebutnya sebagai bulan yang penuh dengan berkah, yang dimaksud dengan berkah adalah untaian-untaian kebaikan dan manfaat. Dan jika di hubungkan dengan bulan Ramadhan, maka berkahnya menghiasinya dalam beberapa hal:

Pertama: Bulan Ampunan dosa

Jika kita mengkaji hadits-hadits yang datang dari Rasulullah, maka kita akan mendapati banyak sekali amalan-amalan yang menjadi faktor diampuninya dosa-dosa hamba, diantaranya yang terkandung dalam sabda Rasulullah:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 

Artinya:”Barang siapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosanya yang telah lalu”. Muttafaqun Alaihi.

Dan sabda Rasulullah:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya:”Barang siapa yang shalat malam dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dari dosanya yang telah lalu”. Muttafaqun Alaihi.

Dan sabda Rasulullah:

 

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya:”Barang siapa yang memakmurkan malam Lailatul Qadr (dengan Ibadah) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosanya yang telah lalu”. Muttafaqun Alaihi.

Tiga redaksi hadits ini menunjukkan bahwa Ramadhan merupakan bulan maghfirah, sebab berkumpul di dalamnya amalan-amalan yang dapat menjadi faktor diampuninya dosa seorang hamba, baik amalan tersebut hukumnya wajib ataupun yang hukumnya sunnah.

Maka jika seorang hamba melaksanakan satu amalan saja dengan penuh keikhlasan dan keimanan, seperti puasa yang merupakan bagian dari rukun islam yang wajib hukumnya untuk dilaksanakan, maka sesungguhnya amalan ini dapat menjadi penghapus dosa yang telah lalu baginya.

Kedua: Bulan Dilipat Gandakannya Pahala Amalan

Ini adalah berkah kedua yang menghiasi bulan Ramadhan, yaitu pahala-pahala amalan dilipat gandakan oleh Allah, jika pada hari biasa, sebuah amalan dapat dilipat gandakan antara sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, maka di dalam bulan Ramadhan, ada amalan yang dilipat gandakan dengan jumlah yang tidak terbatas, Rasulullah bersabda:

كل عمل ابن آدم يضاعف الحسنة عشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف، قال الله عز وجل: إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به

Artinya: ”Setiap Amalan manusia dilipat gandakan, satu kebaikan pahalanya (bila) sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, Allah berfirman: kecuali ibadah puasa (pahalanya tidak terhingga), sesungguhnya (puasa) milikku, dan AKU yang memberi pahalanya”. HR Muslim.

Kaum muslimin, jamaah shalat Jum’at yang dirahmati oleh Allah.

Sesungguhnya hadits ini dapat memberikan motivasi bagi seluruh kaum muslimin untuk melaksanakan ibadah puasa, sebab pahala yang dijanjikan oleh Allah sangat luar biasa, dapat melebihi hitungan-hitungan yang ada di kepala manusia, dan hadits ini juga dapat memberikan dorongan bagi kita untuk senantiasa meningkatkan kwalitas puasa yang kita laksanakan, sebab semakin baik kwalitas puasa kita, maka akan berpengaruh kepada besarnya pahala yang di dapatkan dari Allah.

Ketiga: Bulan Ramadhan mengkondisikan kaum muslimin untuk beramal sholih

Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah diatas:

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya: ”Telah tiba dihadapan kalian bulan Ramadhan, bulan penuh dengan berkah, Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di dalamnya, pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka di tutup, dan syetan-syetan di belenggu di bulan Ramadhan. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan”. HR Ahmad.

Dalam hadits ini, dapat kita simpulkan bahwa bulan Ramadhan telah dikondisikan dengan sedemikian rupa, untuk menjadi bulan Taubat, bulan beramal ibadah, dan bulan yang penuh dengan kebaikan, seakan tidak ada tempat bagi manusia untuk melakukan kemaksiatan. Silahkan di renungkan; di bulan Ramadhan di buka pintu-pintu Surga, ditutup pintu Neraka, di belenggu syaitan-syaitan, serta diwajibkan bagi seluruh kaum muslimin untuk berpuasa. Dan realita dalam kehidupan juga membuktikan, bahwa berapa banyak di kalangan kaum muslimin tidak mampu untuk berpuasa di luar bulan Ramadhan, meskipun puasa-puasa yang sangat dianjurkan dan dijanjikan pahala yang besar seperti puasa ‘Asyura’ dan ‘Arafah, namun ketika bulan Ramadhan datang, maka mereka dapat melaksanakan ibadah puasa tersebut. Dan betapa banyak di kalangan kaum muslimin yang tidak mampu untuk melaksakan qiyamul lail di luar bulan Ramadhan, namun ketika bulan Ramadhan datang menjelang, mereka dapat melaksanakannya dengan penuh semangat.

 

Keempat:  Lailatul Qadr

Ini adalah puncak dari keberkahan di bulan Ramadhan dan puncak keindahannya, yang mana malam ini, lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah:

 

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya:”Laitul Qodar (adalah malam) yang lebih baik daripada seribu bulan”.

 

Kaum muslimin, jamaah shalat Jum’at yang dirahmati oleh Allah.

Inilah berkah yang dikandung oleh bulan Ramadhan, yang hendaknya kita termotivasi untuk meraihnya. Sesungguhnya cara yang terbaik untuk meraup keberkahan Ramadhan adalah dengan memaksimalkan kemampuan dan usaha kita untuk melaksanakan ibadah di dalamnya dengan sebaik dan sebanyak mungkin, sebagaimana ucapan Malaikat sebagaimana yang disabdakan Rasulullah:

يا باغي الخير أقبل

Artinya:”Wahai pencari kebaikan, datanglah”. HR Timidzi dan yang lainnya.

Semoga Allah senantiasa menuntun kita pada jalan kebaikan, dan menjaga kita dari jalan kesesatan.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وجعلني وإياكم من الصالحين.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

 

 

Khotbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين

عِبَادَ اللهِ

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

 

Sumber: Wahdah.or.id

 

 

Khotbah Jum’at: Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan

Ilustrasi: Bulan Ramadhan

Khotbah Pertama

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  أَمَّا بَعْدُ

Hadirin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah

Kita berada di pekan terakhir bulan Sya’ban. Jum’at ini merupakan Jum’at terakhir di bulan ketujuh penanggalan hijriah ini. Lebih kurang dua atau tiga hari lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan di depan mata.

Tentu kita bersyukur kepada Allah atas nikmat ini. Nikmat bertemu kembali dengan bulan Ramadhan di tahun ini. Karena kesempatan bertemu bulan Ramadhan merupakan karunia Allah yang sangat berharga. Ia adalah bulan bertabur fadhilah (keutamaan) dan kemuliaan. Ia juga merupakan mahathah (terminal) chek point dan menambah iman, takwa, dan bekal amal untuk akhirat. Oleh karena itu kedatanganya perlu disambut dengan persiapan yang serius.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah

Penyambutan dan persiapan yang serius merupakan cerminan kerinduan terhadap musim kebaikan serta penentu keberhasilan meraup berkah bulan Ramadhan. Berikut beberapa persiapan penting menyambut bulan Ramadhan.

Pertama, Persiapan Do’a

Do’a merupakan ibadah yang dengannya para hamba mengkomunikasikan hajat dan harapan mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam kaitannya dengan menyongsong dan menyambut bulan Ramadhan, do’a yang dimaksud adalah memohon kepada Allah dikaruniai umur panjang hingga berjumpa dengan bulan Ramadhan. Para salaf dahulu memohon dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya.

Ketika memasuki bulan Rajab dan Sya’ban mereka melantunkan.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

 Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan sya’ban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan”,

Kita tidak menjamin apakah kita akan sampai ke bulan Ramadhan atau tidak. Kalaupun kita masih sampai ke bulan Ramadhan, tidak ada jaminan bahwa kita dapat meraih keutamaan Ramadhan. Oleh karena itu di sisa hari menjelang Ramadhan ini harapan untuk diperjumpakan dengan Ramadhan harus selalu menyertai do’a-do’a kita. Termasuk yang harus kita mohon adalah kekuatan, kemudahan, dan taufiq dari-Nya untuk mengisi Ramadhan dengan berbagai ibadah, amal shaleh, dan ketaatan kepada Allah. Sebab tidak sedikit orang yang menanti dan merindukan Ramadhan. Tapi ketika Ramadhan datang, ia tidak memperoleh manfaat sama sekali dari Ramadhan. Ia tidak dapat memanfaatkan Ramadhan dengan beribadah secara maksimal.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah

Persiapan Kedua, Niat yang Tulus dan Tekad yang Kuat (‘Azam)

Kerinduan dan perasaan  bahagia terhadap kedatangan bulan Ramadhan dapat melahirkan tekad yang kuat (azam) serta niat yang tulus dan jujur untuk memanfaatkan Ramadhan. Selanjutnya tekad yang kuat (azam) dan niat yang tulus tersebut akan membuat seseorang produktif dalam mengisi Ramadhan dengan berbagai ibadah dan amal shaleh.

Selain itu, azam dan niat yang jujur untuk memanfaatkan Ramadhan dengan ibadah dapat menjadi sebab datangnya taufik dan kemudahan dari Allah. Artinya ketika Allah mengetahui bahwa di dalam hati hamba-Nya terhunjam tekad yang kuat dan niat sungguh-sungguh untuk meraih keutamaan Ramadhan, maka Allah akan memberikan kemudahan kep ada hamba tersebut. Allah akan memberikan kemudahan dalam melakukan ketaatan dan berbagai ibadah pada bulan Ramadhan. Berkenaan dengan soal niat dan azam yang sungguh-sungguh ini, Allah Ta’ala berfirman, ‘’Walau shadaqullaha lakana khairan lahum”.

kesunggugan dan keseriusan dalam niat sangat berpengaruh. OlehKarena itu mari tanamkan dalam hati niat yang serius, bahwa kita akan memanfaatkan bulan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah. Moga-moga dengan niat dan tekad yang sungguh-sungguh tersebut, Allah berkenaan memberikan taufiq dan kemudahan dalam mengisi bulan Ramadhan dengan berbagai ibadah.

Persiapan Ketiga, Taubat dan Istighfar

Taubat dari dosa dan maksiat perlu dilakukan dalam meyambut dan menyongsong bulan Ramadhan karena pada bulan Ramadhan nanti, kita akan melakukan berbagai ibadah dan ketaatan kepada Allah. Sementara, dosa dan maksiat dapat menghalangi seseorang dari ketaatan. Sebab, dosa dan maksiat dapat mengotori dan menutupi hati. Pemilik hati yang tertutupi oleh karat dosa dan maksiat biasanya berat melakukan ibadah dan amal shaleh.

Dahulu, para salaf sangat peka dalam soal ini. Diantara mereka ada yang mengatakan, “Saya terhalangi melakukan shalat malam karena satu dosa yang kulakukan”. Imam Hasan al-Bashri rahimahullah pernah ditanya oleh seorang pemuda yang merasa berat bangun malam, padahal ia sudah berusaha. “La ta’shiyhi fin Nahari, yuqidzuka fil Lail; Jangan kau durhakai (Allah) pada siang hari, Dia akan membangunkanmu pada malam hari”, saran Hasan al-Bashri.

Berkenaan dengan kecintaan terhadap al-Qur’an, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُنا ما شَـبِعْنا مِنْ كلامِ رَبِّنا

Andai hati kita bersih, maka ia takkan pernah kenyang meni’mati perkataan Rabb kita (Al-Qur’an)”.

Oleh karena itu mari berusaha bersihkan hati dari noda dosa dan maksiat dengan memperbanyak taubat dan istighfar. Mari teladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertaubat dan beristighfar lebih 70 kali dalam sehari. Taubat yang sebenar-benarnya taubat (nasuha), yakni dengan meninggalkan dan menyesali dosa pada masa lalu serta ber azam untuk tidak lagi mengulangi dosa tersebut. Karena itu mari perbaharui selalu taubat dan istighfar kita. Semoga Allah karuniakan taufiq dan kemudahan melakukan ibadah di bulan Ramadhan.

Jama’ah jum’at rahimakumullah

Persiapan keempat, Persiapan dan Perencanaan Target

Persolan yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan dalam menyambut dan menyongsong Ramadhan adalah persiapan dan perencanaan target. Ini sifatnya teknis tapi penting. Karena gagal menyiapkan dan merencanakan sama dengan menyiapkan dan merencanakan untuk gagal. Agenda ibadah dan amal shaleh pada bulan Ramadhan semisal puasa, shalat tarwih, tilawah al-Qur’an, sedekah, dan ibadah-ibadah lainnya perlu disiapkan dan direncanakan dengan matang. Persiapan dan perencanaan yang baik insya Allah akan sangat membantu memaksimalkan ibadah dan amal shaleh pada bulan Ramadhan yang mulia.

Diantara ibadah yang perlu disiapkan dan direncanakan misalnya target bacaan al-Qur’an. Ini penting, guna memaksimalkan kwalitas dan kwantitas bacaan al-Qur’an kita di bulan yang mulia. Mengingat tilawah al-Qur’an merupakan salah satu amalan utama yang menyertai ibadah shiyam. Ramadhan disebut pula sebagai syahrul Qur’an. Karena Ramadhan merupakan bulan diturunkannya al-Qur’an.

Jika kita ingin memaksimalkan bacaan al-Qur’an pada bulan Ramadhan nanti, hendaknya ada persiapan dan perencanaan target. Misalnya, bila kita menargetkan 10 kali khatam selama Ramadhan, berarti khatam setiap 3 hari atau 10 juz dalam sehari. Bila ingin mengkhatamkan 5 kali selama Ramadhan, berarti setiap enam hari sekali khatam, atau lima juz dalam sehari. Setiap ba’da shalat fardhu membaca 1 juz. Demikian seterusnya. Yang pasti hendakhnya ada target dan perencanaan yang baik. dan masing-masing orang hendaknya menetapkan target sesuai kemampuannya, dan mengatur jadwal sedetail dan serapi mungkin.

Amalan lain yang perlu disiapkan dan direncanakan adalah target sedekah. Sebab sedekah merupakan salah satu amalan utama pada bulan Ramadhan selain puasa, tilawah al-Qur’an, dan amalan-amalan lainnya. Bahkan sedekah pada bulan Ramadhan merupakan seutama-utama sedekah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أفضل الصدقة صدقة في رمضان

Seafdhal-afdhal sedekah adalah pada bulan Ramadhan” (Terj. HR. Tirmidzi).

Salah satu bentuk sedekah pada bulan Ramadhan adalah memberi makan dan memberi suguhan buka puasa (tafthir ash-Shaim). Memberi makan dan suguhan buka puasa memiliki keutamaan yang sangat besar, sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya hadits yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya,

“Siapa saja yang memberi makan saudaranya sesama mu’min yang lapar, niscaya Allah akan memberinya buah-buahan surga. . . . (terj. HR. Tirmidzi)

Sedangkan keutamaan memberi suguhan buka puasa diterangkan dalam beberapa hadits shahih, diantaranya yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu,

Barangsiapa menyediakan suguhan (makanan/minuman) berbuka bagi orang yang berpuasa, niscaya hal itu akan menjadi penghapus dosa-dosanya dan menjadi pembebas dirinya dari neraka. Ia juga akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun”.

Oleh sebab itu seorang Muslim hendaknya merencanakan dan memprogramkan sedekah pada bulan Ramadhan yang mulia ini. Perlu ada persiapan dan perencanaan target, agar dapat bersedekah secara rutin –meski sedikit- pada bulan Ramadhan. Karena amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling dawam (kontiniu) meski sedikit. Agar mendapat do’a Malaikat setiap hari. Misalnya target sedekah Rp 1000/hari, sekardus air mineral/pekan, sekilo (kg) kurma/tiga hari, dan seterusnya.

Hadirin Jama’ah Jum’at rahimakumullah

Persiapan Kelima, Ilmu Tentang Fiqh Ramadhan

Islam sangat mementingkan ilmu sebelum berkata dan beramal. Banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya surah Muhammad ayat 19:

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) yang patut diibadahi kecuali Allah” …. (QS. Muhammad: 19).

Ayat tersebut memerintahkan untuk berilmu terlebih dahulu sebelum beramal. Oleh karena itu Imam Bukhari dalam kitab shahihnya menulis satu bab khusus tentang pentingnya ilmu sebelum beramal. Beliau beri judul Bab al-‘Ilmu Qabla al-Qauli wa al-‘Amal (Bab Tentang Pentingnya Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat). Sebelum mencantumkan hadits-hadits Rasulullah yang berkaitan dengan judul Bab, beliau menempatkan terlebih dahulu surah Muhammad ayat 19 di atas.

Ilmu dipentingkan sebelum beramal, karena syarat diterimannya amal setelah ikhlas adalah mutaba’ah. Yakni amal tersebut harus benar dan bersesuaian dengan syari’at dan sunnah. Oleh karena itu guna menyambut Ramadhan dengan ilmu, perlu kiranya menyegarkan kembali pelajaran tentang fiqh ibadah pada bulan Ramadhan. Semisal fiqh puasa, shalat tarwih, zakat, sedekah, dan ibadah-ibadah lainnya.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Khotbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

Jama’ah Jum’at rahimakumullah

Aspek lain yang tidak kalah pentingnya sebagai persiapan menyambut bulan Ramadhan adalah membersihkan hati dari berbagai sifat dendam dan hasad kepada sesama Muslim

Dendam dan dengki (hasad) merupakan sifat tercela. Sementara terbebas dari sifat tercela tersebut merupakan ciri orang beriman dan bertakwa. Terbebas dari sifat pendendam merupakan tanda penghuni surga, sebagai dijelaskan oleh Allah dalam surah al-A’raf ayat 43 dan al-Hijr ayat 47:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ [٧:٤٢] وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ …. [٧:٤٣

dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai ….”. (QS Al-A’raf:43)

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ [١٥:٤٥]ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ [١٥:٤٦] وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ [١٥:٤٧

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman” Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan”. (QS Al-Hijr: 45-47)

Demikian pula dengan sifat hasad (iri hati dan dengki). Ia merupakan sifat buruk yang sangat berbahaya. Ia dapat menghapuskan amalan kebaikan bagai api yang melahap kayu bakar.

Seorang Muslim hendaknya membersihkan dirinya dari sifat buruk ini sebelum memasuki bulan Ramadhan. Agar ia memasuki bulan mulia tersebut dengan hati yang bersih dan dada yang lapang. Agar dapat melaksanakan amaliah Ramadhan dengan hati tenang. Jangan sampai berbagai kebaikan yang dilakukan berupa shiyam, qiyam, sedekah, tilawah, dan ibadah lainnya menjadi sia-sia karena sifat dengki (hasad). Sebab hasad dapat melahap kebaikan seperti api yang menghanguskan kayu bakar.

Demikian persiapan penting yang perlu diperhatikan seorang Muslim dalam menyambut bulan Ramadhan. Semoga Allah mengaruniakan taufiq dan kemudahan dalam mengisi bulan suci Ramadhan. Sehingga kita dapat meraup keutamaan Ramadhan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Moga-moga kita keluar sebagai alumni Ramadhan yang memperoleh gelar taqwa. Semoga kita dipertemukan dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat. Amin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين

عِبَادَ اللهِ

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

(oleh: Syamsuddin Al-Munawiy)

Musibah di Atas Musibah (Khutbah Jum’at)


Oleh : Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil, Lc. MA

إن الحمد لله نحمده ، و نستعينه ، ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيئات أعمالنا
من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له .وأ شهد أ ن محمداً عبدُه و رسولُه
يَاأَيها الذين آ مَنُوا اتقُوا اللهَ حَق تُقَا ته ولاتموتن إلا وأنتم مُسلمُون
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أ يها الذين آ منوا اتقوا الله وقولوا قَو لاً سَديداً يُصلح لَكُم أَ عما لكم وَ يَغفر لَكُم ذُ نُو بَكُم وَ مَن يُطع الله وَ رَسُولَهُ فَقَد فَازَ فَوزاً عَظيماً

أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وآله وسلم، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

Kaum muslimin rahimakumullah!
apa yang terjadi pada saudara-saudara kita di beberapa tempat di Indonesia hari ini sungguh sangat memilukan

Belum lagi kering air mata kita dengan apa yang terjadi di Lombok kita pun dikejutkan dengan gempa bumi berikut tsunami yang meluluhlantakkan kota Palu.

Tidak ada kata yang patut untuk kita ucapkan atas semua ini kecuali innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepadanya.

Kekuasaan Allah tidak terbatas, yang meliputi segala apa yang ada di alam raya ini, dan itu terbukti dengan apa yang terjadi berupa musibah yang datang beruntun dan berturut-turut ini.

Betapa kecil dan tidak berdaya nya manusia dihadapan kemahakuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita ini ibarat sebutir debu di Padang Sahara atau Setetes Air di tujuh lautan benua.

Semua doa kita panjatkan untuk para korban , semoga yang wafat mendapatkan syahid di sisi Allah , dan yang terluka segera disembuhkanNya,

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنُ وَالْمَبْطُوْنُ وَالْغَرِيْقُوَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

Para syuhada itu ada lima golongan: yang terkena tha’un , mabthun ( sakit perut) ,tenggelam, terkena reruntuhan, dan yang syahid di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.” ( HR.Al Bukhari & Muslim)

Kitapun berharap agar kondisi segera pulih dengan keimanan yang bertambah serta ketakwaan yang semakin mantap kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dibutuhkan kontribusi kita semua moril dan materil sebagai wujud persaudaraan dan keimanan,, untuk menghadapi musibah yang sangat besar ini.

Namun ……
Jamaah Jum’at
Yang dimuliakan Allah

Tahukah kita akan musibah yang lebih besar daripada itu semua ?

Lebih besar daripada gempa bumi yang meluluhlantakkan kota

Lebih besar daripada banjir tsunami yang menyapu rata.

lebih dahsyat dari angin puyuh yang menerbangkan semua yang ada

Allah subhanahu Allah berfirman :

ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (Surat An-Nur, Ayat 63)

Menyelisihi Jalan Kebenaran jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelisihi syariat Islam, menyelisihi petunjuk nabi, menyelisihi Al Quran , itulah semua yang mengundang bencana.

Saat kita diuji dengan bencana alam gempa bumi ,tsunami dan lain sebagainya lantas kemudian kita kembali kepada Allah menjadikannya sebagai pemicu untuk bertaubat kepada Allah sebagai jalan untuk taat dan kembali meniti jalan kesolehan maka sungguh musibah itu akan membuka lembaran-lembaran kebaikan bagi kehidupan kita.

Namun jika kekuasaan Allah yang mutlak itu telah ditunjukkannya dalam bentuk musibah yang datang silih berganti lantas kemudian kita tidak mengambil pelajaran ,kita tidak kembali kepada jalannya, kita tidak bertaubat, bahkan justru semakin sombong ,semakin ponggah dengan kesyirikan dan kemaksiatan ,maka azab Allah yang paling besar akan menimpa kita berupa kesesatan, berupa kekufuran, berupa jauhnya dan semakin jauh nya kita dari jalan Allah inilah musibah di atas musibah .
Musibah terbesar saat Allah jauhkan kita dariNya.
Wallahu l Musta’an

Bumi Langit dan seluruh semesta sejatinya adalah makhluk yang taat kepada Allah , maka Tidak sepantasnya manusia saat diberikan Wahyu oleh Allah untuk hidup di atas bimbingan Wahyu itu lantas kemudian menjauhkan diri dan bahkan menistakan wahyu Allah dan lebih memilih jalan yang dia buat sendiri, aturan yang dia ,karang sendiri, jalan hidup yang mereka rekayasa sendiri . Itulah yang justru akan menjadikan manusia itu terjatuh ke dalam lembah kebinasaan

Allah ta’ala berfirman

ومن اعرض عن ذكري فان له معيشه ضنكا ونحشره يوم القيامه اعمى

Barangsiapa yang berpaling dari peringatanku maka Sungguh aku akan berikan baginya kehidupan yang sempit dan kami bangkit kan dia di hari akhirat dalam keadaan buta

Para orang shaleh yang terdahulu saat mereka mendapatkan musibah , maka takutnya kepada Allah semakin bertambah dan itu mengantarnya lebih dekat kepada Allah.

Manusia sejatinya adalah hamba Allah yang ditugaskan beribadah kepada Allah dengan sebenarnya benarnya, saat kedurhakaan terjadi maka musibah itu akan menerpa semuanya, yang shaleh maupun yg salah , yg bermaksiat maupun yang taat.

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan takutlah atas siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya. (Surat Al-Anfal, Ayat 25)

Disinilah pentingnya kita memahami arti dakwah , amar Ma’ruf nahi mungkar,, tegaknya dakwah , amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar adalah jaring pengaman ilahiah atas adzab dan kemurkaanNya…
Semoga kita semua mendapatkan Ibrahim dan pelajaran

اقول قولي هذا و استغفره انه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمد لله وحده الصلاه و السلام على من لا نبي بعده وعلى اله واصحابه ومن سار على نهجه الى يوم الدين اما بعد

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah

musibah ini sejatinya adalah musibah kita semua, Saat sebagian saudara kita meregang nyawa, bahkan ribuan mayat terhampar di hadapan kita, sementara sebagian yang lainnya masih berada di tenda-tenda pengungsian, bahkan mungkin masih ada di tempat-tempat yang belum terjangkau dengan bantuan yang berarti.

Inilah saatnya kita mengukir kebaikan dalam keimanan kita, Inilah saatnya kita membuktikan persaudaraan kita, Mari kita hadirkan secercah senyum pada anak-anak kita yang ada di Palu di Lombok dan di berbagai belahan nusantara yang saat ini sedang menangis pilu didera bencana tanah ini.
Bersabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam,

 

: ” مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الأعضاء بالحمى والسهر ” متفق عليه .

Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” Muttafaq Alaihi

Selain itu kita berharap bahwa apa yang kita berikan dijalan Allah dengan membantu saudara-saudara kita yang menderita itu Semoga menjadi asbab kita terhindar dari musibah dan berbagai Prahara.

Ingatlah kita bahwa negeri ini adalah karunia Allah yang sangat luar biasa kita dimanja dengan berbagai kekayaan alam, namun hendaknya kita mengingat pula bahwa tak ada sejengkal pun negeri ini dan seluruh bumi ini kecuali milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala olehnya itu tak pantaslah kita menginjakkan kaki di atas bumi milik Allah untuk melakukan kemaksiatan apalagi dengan kemusyrikan dan kekufuran.

Akhirnya marilah kita menundukkan jiwa dan raga kita kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala Seraya bermunajat memohon ampunan nya memohon kasih sayangnya memohon rahmat nya.

Ya Allah Yang Maha pengampun ampunilah kami karena tiada yang dapat memberi ampunan melainkan engkau
Ya Allah, yang maha pengasih engkau maha tahu dosa dan kemaksiatan yang telah kami ukirkan dalam jejak hitam perjalanan hidup kami, tak ada yang dapat menghapuskannya melainkan kasihmu melainkan ampunanmu yang tiada berbatas
Ya Allah Yang Maha Kuasa janganlah kau jadikan dosa segelintir orang di antara kami untuk Kau turunkan azab dan kemurkaan Mu atas kami

Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang dapat belajar dari peringatan mu ini
Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang bersegera menuju ampunan Mu menyambut berkah syariat Mu dan jadikanlah kami orang-orang yang kembali kepadamu dalam ketaatan dalam ketakwaan dalam keimanan

Ya Allah tolonglah kami , Angkatlah musibah ini dari kami dengan kekuasaanMu yang tiada berbatas.

اللهم ادفع عنا الغلاء والوباء والربا والزنا والزلازل والمحن وسوء الفتن ما ظهر منها وما بطن عن بلدنا هذا خاصة وعن سائر بلاد المسلمين عامة يا رب العالمين، اللهم أنت الله لا إله إلا أنت،
اللهم ارحم موتانا و اشف مرضانا و أعد الينا الحياة بالإيمان و التقى العفاف و الغنى
اللهم اقسم لنا من خشيتك ما تحول بيننا وبين معصيتك ومن طاعتك ما تبلغنا به جنتك ومن اليقين ماتهون به علينا مصائب الدنيا اللهم متعنا باسماعنا وابصارنا وقواتنا ما احييتنا واجعله الوارث منا واجعل ثارنا من ظلمنا وانصرنا على من عادانا ولا تجعل مصيبتنا في ديننا ولا تجعل الدنيا اكبر همنا ولا مبلغ علمنا ولا تسلط علينا من لايخافك فينا ولا يرحمنا
سبحان ربك رب العزه عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين

Menggenggam Harapan Meraih Kejayaan (Khutbah Idul Adha 1437 H)

Menggenggam harapan meraih kejayaan

Menggenggam harapan meraih kejayaan

Menggenggam Harapan Meraih Kejayaan

(Khutbah Idul Adha 1437 H)

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍفِي النَّارِ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

Kaum Muslimin a’azzakumullah, semoga Allah memuliakan kita semua.

Hari ini, saat kita menjejakkan kaki di sini, di atas sepenggal bumi Allah, bertakbir membesarkan Allah dengan penuh suka cita, maka di tanah haram sana saudara-saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah haji pun sedang menyempurnakan prosesi ibadah hajinya dan di setiap negeri kaum muslimin terdengar takbir yang bertalu-talu, walau itu dari tenda pengungsian di Palestina, atau dari reruntuhan gedung yang runtuh dihantam bom di Syria, atau bahkan dari jeruji-jeruji besi penjara rezim tirani di Myanmar, takbir masih menggema, dan akan terus menggema biiznillah. Karena kita adalah umat pemenang, bukan umat pecundang.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd…

 

Kaum muslimin rahimakumullah,

 

Perjalanan  waktu demikian cepat, silih berganti generasi demi generasi menghuni bumi milik Allah ini. Peristiwa demi peristiwa menghiasi jalannya sejarah manusia, ada tangis dan tawa, ada suka dan duka, bahkan di tengah terik mentari atau dinginnya malam ada darah dan air mata.

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ . وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

 

“..dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan.” (QS. An Najm : 43-44)

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

Diantara peristiwa penting sejak adanya manusia, adalah apa yang kita peringati hari ini. Peristiwa yang hanya  terjadi pada satu keluarga di bumi  namun ternyata sangat bermakna dalam pandangan Allah Ta’ala Sang Penguasa langit dan bumi. Itulah peristiwa Ibrahim Alaihissalam, beserta anaknya Ismail Alaihissalam dan Istrinya Hajar Alaihassalam. Peristiwa yang agung, yang karenanya Allah perintahkan kita berkumpul hari ini, tentu dengan segala hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik di dalamnya .

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Ummatal Islam, a’aanakumullah…

 

Mari sejenak menengok negeri yang kaya raya ini, yang lautnya membentang hingga tiga benua, gunung-gunungnya yang tinggi menjulang, sawah ladang seluas mata memandang, semua ada di negeri ini, masyaAllah.Namun keindahan dan kekayaan alam karunia Allah ini menjadi terabaikan dengan kegaduhan politik dan kesibukan para elit menduduki pusat-pusat kekuasaan. Jika semua hanya sibuk berebut kekuasaan dan pengaruh maka ujung-ujungnya pasti rakyatlah yang dirugikan dan dikorbankan.

 

Kekuasaan sejatinya adalah titipan Allah untuk mengawal dan mengatur manusia menjadi hamba Allah yang taat, hingga dengan izin-Nya terwujud masyarakat yang aman, sejahtera lahir dan batin. Inilah kekuasaan yang berbasis TAUHID, bahwa negara harus berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Allah Subhanahu wata’ala.Mari tadabburi Firman Allah:

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ. الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

 

“….Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar danp mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Al-Quraisy: 3-4)

 

Perintah bertauhid dan hanya menyembah kepada Allah adalah pembuka segala kebaikan, kesejahteraan dan keamanan yang hakiki.

 

Hal ini juga menjadi konsekwensi untuk memberikan loyalitas kepada orang-orang yang beriman dan bertauhid, termasuk dalam masalah kepemimpinan dan kekuasaan.

وَلِلّٰـهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلٰكِنَّ الْمُنٰفِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

 

“Dan  Izzah / kejayaan itu hanyalah bagi Allah dan Rasul-Nya serta  orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui. “(QS Al-Munafiqun : 8)

 

Umat Islam adalah pewaris sejati negeri ini , jangan sampai tergadaikan pada tangan- tangan yang tidak pernah menengadah berdoa dan mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala .

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُّبِينًا

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS An-Nisa : 144)

 

Allah Ta’ala mengingatkan:

 

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (QS. Al-Maidah : 55)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd ….

Ummmatal Islam, hafizhakumullah….

Kita cinta negeri kita, kita cinta tanah tumpah darah kita, karena ia adalah karunia Allah, olehnya itu cinta kita padanya adalah karena Allah dan hanya untuk Allah. Cinta inilah yang membuat kita akan bertekad menjaganya, memeliharanya, dan mengisi kemerdekaannya dengan iman dan keamanan, dengan kerja keras dan pengkhidmatan. Kemerdekaan negeri ini diraih dan direbut dengan mengorbankan sedemikian banyak darah para syuhada yang meneriakkan takbir yang hingga kini  takbir itu masih terus menggema dalam relung jiwa muslim Indonesia. Alangkah hambarnya nilai  kemerdekaan itu jika  kita hanya memaknainya dengan pesta dan  hura-hura, bahkan dengan sebagian perkara yang menjurus pada pelanggaran ajaran Allah yang telah mengaruniakan kemerdekaan tersebut.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Kaum muslimin rahimakumullah ….

 

Setelah iman kepada Allah, maka persaudaraan karena Allah adalah merupakan salah satu bukti iman itu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

 

Persaudaraan dan ukhuwah ini sangat mutlak untuk dijaga dan dipupuk, karena itulah sumber kekuatan umat untuk membawa rahmat bagi semesta. Rusak dan pecahnya ukhuwah akan menghancurkan umat dari dalam, Firman Allah :

 

وَأَطِيعُوا الله وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّالله مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kalian pada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian saling berselisih yang menyebabkan kalian jadi gentar dan hilanglah kekuatan kalian. Dan bersabarlah kalian, karena sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfal : 46)

Menjaga ukhuwah dan persaudaraan adalah berarti menjaga akhlak dan perilaku serta tutur kata, akhlak yang baik akan berbuah persaudaraan yang manis, sebaliknya akhlak yang buruk akan berbuah pahit berupa kebencian, pertikaian dan perpecahan, wallahul Musta’an.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Kaum Muslimin yang disayangi Allah…

Mencetak manusia beraqidah dan berakhlak mulia ternyata harus dimulai dari keluarga, dimulai dari unit terkecil dari masyarakat kita. Tanpa mengabaikan peran ibu yang sangat sentral, dalam kesempatan ini kami ingin ingatkan kepada para ayah akan tanggung jawabnya dalam membina dan mendidik anak-anaknya, jadilah seperti Ibrahim Alaihissalam, sang ayah teladan, yang membina anak-anaknya dengan tauhid dan berpegang teguh pada Islam. Allah mengabadikan wasiat indah sang ayah agung ini di dalam al-Qur’an,

‎وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. Al-Baqarah : 132).

 

Wahai para ayah…!!!

 

Inilah sebaik-baik wasiat yang kita wariskan pada anak-anak kita. Kita boleh berbangga dengan putra-putri kita yang berhasil mencatatkan namanya di sekolah-sekolah unggulan, di jurusan-jurusan favorit. Namun, sebelum itu semua, ada baiknya kita memeriksa tingkat perhatian dan pengamalan putra-putri kita terhadap agama yang mulia ini. Sebagaimana Nabi Ibrahim memperhatikan keimanan anak-anaknya. Apalah arti pendidikan yang demikian tinggi, jika hanya melahirkan manusia yang enggan merendahkan diri  bersujud pada Sang Ilahi.

 

Wahai para ayah….!!!

 

Kita begitu sedih dengan berita di media tentang seorang anak bersama dengan ayahnya menganiaya gurunya di sekolah. Mari kita mengambil teladan pada Nabi Ibrahim yang membangun budaya dialog dengan anak-anaknya, dengan cara yang begitu bijak dan jauh dari sifat arogansi.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

 

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Shaffat : 102).

 

Kasih sayang ini akan berbuah sikap welas asih dan empati pada anak dan keluarga kita, sebaliknya sikap kasar dan arogan juga akan membentuk mereka  menjadi kasar dan arogan pula. Perhatikan Ibrahim Alaihissalam ketika menyampaikan perintah Allah kepada anaknya dalam nuansa dialog : ” … Bagaimana pendapatmu? “Sekalipun itu perintah Allah yang tidak boleh  ditentang, namun cara menyampaikan yang lembut justru membuat sang anak menjadi yakin dan kuat melaksanakan perintah Allah itu.

 

Wahai para ayah, para Aba… para bapak… yang terhormat…

 

Hadirlah dalam jiwa anak-anak kita, bersamai mereka dalam iman dan perjuangan. Ada isyarat lembut dalam Firman Allah:

 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ

 

Diantara  penafsiran ulama sebagaimana disebutkan Ibnul Jauzy –rahimahullah– dalam kitab Zaadul Masiir, bahwa Ismail Alaihissalam telah sanggup bersama dengan ayahnya Ibrahim Alaihissalam untuk beribadah, padahal kita tahu bahwa Ibrahim Alaihissalam meninggalkan anak dan istrinya demikian jauh, namun ada kata Ma’ahu yang artinya Ismail Alaihissalam bersama dengannya yaitu Ibrahim Alaihissalam walau jarak demikian jauh, medan yang sulit, suasana psikologis antara istri pertama dan kedua, namun hal itu tidak menghalangi Ibrahim Alaihissalam untuk membersamai anaknya Ismail Alaihissalam hingga tumbuh menjadi seorang pemuda shaleh yang sabar dan tangguh.

 

Wahai para ayah …..!!!

 

Jika demikian, apa yang menghalangi anda untuk hadir dalam jiwa para anandamu?, membersamai mereka dalam ibadah dan perjuangan. Alangkah indahnya munajat Ibrahim Alaihissalam dan Ismail Alaihissalam ketika mereka selesai membangun ka’bah .

 

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 127-128)

 

Kebersamaan yang indah di dunia dan berbuah lebih indah di Surga.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Para pemuda Islam yang kami banggakan… hafizhakumullah…

Jadikan dirimu bagaikan Ismail Alaihissalam, Ismailkan dirimu. Tumbuhlah dalam ketaatan dan perjuangan menegakkan kebenaran. Narkoba, pornografi dan sederet perbuatan dosa dan kenakalan hanya akan meletihkan jiwamu dan membinasakan jasadmu. Lihatlah Ismail Alaihissalam yang masih demikian belia namun demikian taat pada Tuhannya, demikian berbakti kepada orangtuanya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Wahai para bunda, para muslimah tangguh yang kami muliakan…

 

Cukuplah Hajar menjadi cermin yang demikian indah mempesona, ketegarannya dalam iman dan tawakkal, usahanya yang tidak mengenal lelah di tanah tandus tiada berpenghuni, kesetiannya pada suami walau harus rela ditinggal pergi, ketekunannya mendidik anak yang kemudian terpilih menjadi nabi.

 

Subhanallah… Sekali lagi, bercerminlah pada wanita mulia nan kuat ini.

 

Merekalah manusia – manusia terpilih, terabadikan oleh Ilahi, kenangan indah perjuangan mereka hingga kitapun hari ini berkumpul di sini, mengenang mereka agar bara iman mereka turut menghangatkan jiwa kita untuk berjuang dan berkorban demi Iman dan Islam.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd…

 

Sebelum mengakhiri khutbah ini, berikut panduan singkat pelaksanaan ibadah kurban.

 

Hewan yang dapat diqurbankan adalah domba yang genap berusia enam bulan, atau kambing yang genap berusia setahun dan sapi yang genap berusia dua tahun, perhitungan hijriyah. Tidak cacat atau berpenyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: mata picak, atau kaki pincang dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut. Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor sapi boleh berserikat untuk tujuh orang, kecuali berserikat pahala maka boleh pada semua jenis tanpa batas. Sebaiknya pemilik kurban yang menyembelih sendiri hewan qurbannya, tetapi bisa diwakilkan kepada penjagal, dengan syarat seorang muslim yang menjaga shalatnya, dan mengetahui hukum-hukum menyembelih, juga upahnya tidak boleh dari salah satu bagian hewan qurban itu sendiri, seperti kulit atau dagingnya, meskipun penjagal atau pengulit bisa mendapat bagian dari hewan qurban sebagai sedekah atau hadiah. Waktu penyembelihan hewan qurban, yaitu seusai pelaksanaan shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya. Hewan qurban yang telah disembelih dapat dibagi menjadi tiga bagian, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin. Pahala dari hewan qurban bergantung kepada niat yang ikhlas orang yang berqurban, oleh karena itu mari menjaga keikhlasan ketika melakukan ibadah mulia ini.

 

Selanjutnya mari kita tundukkan jiwa raga seraya berdoa dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala…

الحمد لله رب العلمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 

Ya Allah, Rabb Yang Maha Pengampun, ampuni dan maafkan segenap dosa kami, yang nampak maupun tersembunyi, jika Engkau tak maafkan kami, kepada siapa kami akan memohon maaf dan ampunan.

 

Wahai Rabb yang Maha Penyayang, sayangi kami dan seluruh hamba-Mu yang beriman, dimanapun mereka berada Ya Allah…

 

Basuhlah air mata kesedihan mereka yang masih berteduh di tenda- tenda pengungsian dengan kasih-Mu yang tiada berbatas. Tolong mereka dari segala kezaliman Ya Rabbana, kuatkan azam mereka, beri mereka gembira di hari ini dan seterusnya ya Rabbana.

 

Ya Allah karuniakan kami keimanan yang sejati, keamanan yang hakiki dan kesejahteraan yang Engkau berkati.

 

Ya Allah berkati keluarga dan anak- anak kami dengan keshalehan dan ketaqwaan, satukan kami di dunia dalam ketaatan pada-Mu dan akhirat dalam Jannah-Mu yang kekal abadi.

 

Wahai Rabb Maha Kuat dan Perkasa, berkati negeri kami dengan pemimpin yang beriman pada-Mu, yang bertaqwa dan berakhlak mulia, serta penuh santun menyayangi kami kerena-Mu Ya Allah.

 

Ya Allah ampuni dan sayangi orangtua kami yang tercinta, izinkan kami berbakti pada mereka saat bersama di dunia ataupun jika mereka telah tiada, ridhakan hati mereka buat kami, agar kamipun menuai keridhaan-Mu.

 

Ya Allah kuatkan azam kami agar terus bersama menegakkan agama-Mu dan menyebarkan risalah-Mu. Satukan jiwa kami dalam cinta pada-Mu dan padukan langkah kami dalam membela syari’at-Mu.

 

Jadikan istri-istri kami bidadari di dunia ini bagi kami dengan keshalehan dan kecantikan jiwanya agar kami dapat membersamai mereka dalam ketaatan pada-Mu, jadikan kami suami yang terbaik bagi mereka dunia dan akhirat.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلِّ اللّهم وَسَلِّمْ على نبينا محمد وعلي آله و صحبه أجمعين

 


 

Sumber: Khutbah Idul Adha 1437 H Wahdah Islamiyah

Pengorbanan Berbuah Surga (Khutbah Idul Adha 1439 Wahdah Islamiyah)

Pengorbanan Berbuah Surga

(Khutbah Idul Adha 1439 Wahdah Islamiyah)

‎إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

‎مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

‎﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

‎‎﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾

‎‎‎﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

‎أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Dipagi hari yang syahdu ini, ditengah gemuruh lantunan takbir, tahmid dan tahlil, diiringi dengan tasbih para makhluk, burung-burung, pepohonan, lautan dan daratan serta seluruh yang ada di langit dan di bumi,

﴿تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا﴾

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (QS. al-Isra’ : 44)

Tasbih berhias suka cita yang terkadang tumpah dalam linangan air mata bahagia, maka kata syukur dan pujianlah yang pantas kita ucapkan dan kita dendangkan sebagai wujud kebahagiaan atas segala nikmat yang tak terhingga dari Zat Yang Maha Memberi. Betapa banyak dosa yang kita angkat kepada-Nya sedang Dia (Allah) membalas dengan limpahan nikmat, rahmat serta ampunan yang tiada batasnya. Kita bersimbah dosa, Dia menutupinya dan senantiasa menyeru kita untuk kembali kepada-Nya..

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ﴾

Katakanlah: “Hai wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”. (QS. az-Zumar : 53-54)

Atas segala nikmat itulah, apakah tidak sepantasnya kita lebih giat beribadah dan menyembah kepada-Nya?

Atas segala karunia itulah, apakah tidak sepantasnya kita semakin menghambakan diri kepada-Nya?

Atas segala pemberian itulah, apakah tidak pantas kita berkorban untuk meraih yang lebih tinggi yang telah dijanjikan-Nya? Itulah Surga Firdaus yang menjadikan lambung-lambung orang-orang shaleh terdahulu jauh dari pembaringan, mereka meninggalkan istirahat sejenak untuk beristirahat selamanya, mereka bersabar dengan payahnya ketaatan sesaat yang akan berganti dengan kenikmatan tiada tara, mereka bersabar meninggalkan maksiat demi diselamatkan dari penderitaan tak berpenghujung yaitu neraka..

﴿تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ﴾

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan”. (QS. as-Sajadah : 16)

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil hamd…

PENGORBANAN BERBUAH SURGA…

Diantara pengorbanan yang tertulis indah dalam tinta sejarah adalah pengorbanan seorang hamba yang disifatkan sebagai ‘ummat’ dalam kesendiriannya..

﴿إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ‘Ummat’”. (QS. an-Nahl : 120)

Diangkat menjadi kekasih Allah ‘khalilullah‘, bapak semua nabi dan rasul, Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam begitu pula putranya Ismail ‘alaihissalam. Keduanya mengajarkan kepada kita arti pengorbanan yang sebenarnya. Pengorbanan dalam melawan hawa nafsu, ajakan setan demi meraih keridhaan Tuhan yang berbuah Surga. Sejarah mengisahkan betapa hati beliau pilu bepuluh-puluh tahun lamanya sampai beliau menginjak usia senja memohon kepada Allah seorang anak, kepiluan seorang hamba yang terbisikkan dan tertumpahkan dalam doa-doa tulus, bisikan lirih namun menembus tujuh lapis langit..

﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴾

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. as-Shaffaat : 100)

Akhirnya, Allah.. Tuhan Yang Maha Mendengar mengabulkan permohonan hamba-Nya, Dia membuktikan kekuasaan-Nya ketika seluruh manusia menganggap bahwa sebuah kemustahilan beliau akan memiliki keturunan dengan usia beliau dan istrinya yang telah senja. Namun, tiada yang mustahil bagi Zat yang Maha Berkehendak…

Lahirlah sang bayi pelipur lara penyejuk jiwa, Ismail yang dikemudian hari diangkat menjadi seorang nabi yang mulia.

Ujian pengorbanan Ibrahim belumlah berhenti, datanglah titah Ilahi dalam mimpi, yang mana mimpi seorang nabi adalah ‘haq’, wahyu dari Allah, perintah untuk menyembelih putra kesayangannya ‘Ismail’… Ya Allah! Ujian apakah ini?! Anak yang lama dinanti, bertahun-tahun dipinta dalam doa, dan di usia yang sudah senja, setelah lahir Allah pun menyuruh beliau untuk menyembelihnya..

Namun Subhanallah! Semua itu dilaksanakan oleh Ibrahim dan putranya. Bisikan jiwa, godaan setan runtuh berhadapan dengan kekokohan iman dan rasa cinta pada Sang Pencipta pemilik langit dan bumi. Dan dengan segala pengorbanan itulah nama beliau diabadikan dalam kitab yang paling mulia (Al-Qur’an) yang terus dibaca hingga akhir zaman, bahkan menjadi qudwah bagi sekalian alam.

Dengan pengorbanan itulah, beliau telah mendahului kita dengan kenikmatan tiada hingga disisi Tuhan pencipta alam semesta..

﴿قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ… ﴾

Sungguh pada diri Ibrahim terdapat suri teladan yang mulia…”. (QS. al-Mumtahanah : 4)

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd..

PENGORBANAN BERBUAH SURGA…

Kisah pengorbanan pun terus berulang, dari hamba-hamba yang shaleh…

Di suatu malam, Aisyah radhiallahu ‘anha terharu melihat kaki Rasulullah yang bengkak karena qiyam sepanjang malam, dengan penuh hiba beliau bertanya,“Ya Rasulullah, buat apa Anda sampai seperti ini, Anda yang telah mendapatkan jaminan ampun dari dosa-dosa masa silam dan yang akan datang, untuk apa semua ini?” Dengan penuh cinta beliau menjawab, “Tidakkah pantas aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan kekasih Allah, pemimpin semua nabi dan rasul melalui ujian demi ujian dalam kehidupannya. Beliau rela berkorban demi membuktikan cinta beliau pada Allah. Beliau terlahir dalam keadaan yatim piatu, selama beliau berada di Makkah beliau mendapatkan intimidasi tak berperi, segala tuduhan keji beliau dapatkan (tukang sihir, tukang syair, gila dsb), beberapa kali percobaan pembunuhan beliau dapatkan, beliau ke Thaif berdakwah namun disambut dengan sambitan batu dan cemohan, sahabatnya disiksa dan dibunuhi di depan matanya dan beliau cuma bisa mendoakannya, sebagaimana doa beliau pada keluarga Yasir (Sabran Ala Yasir fainna mau’idakum Al-Jannah) ‘bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kembali kalian adalah Surga’. Paman beliau Abu Thalib yang merupakan pembela dan pengayom dakwah beliau meninggal, tak berselang lama sang istri tercinta ‘Khadijah’ juga meninggal di tahun yang sama, wanita yang mendampingi perjuangan beliau, wanita yang beriman ketika seluruh manusia mendustakan dakwah beliau, yang berkorban dengan segala jiwa, raga dan harta demi perjuangan dakwah Nabi, sehingga tahun itu dikenal dengan ‘tahun duka cita’, dan puncak ujian pengorbanan beliau ketika beliau dengan sedih meninggalkan kampung halaman, tempat kelahiran beliau, hijrah ke Medinah demi menolong agama Allah. Di perbatasan menuju Medinah dengan penuh kesedihan beliau seakan berbicara dengan Kota Mekah, “Sesungguhnya engkau tahu (wahai kota Mekah) engkaulah tempat yang paling aku cintai, andai pendudukmu tidak mengusirku niscaya aku tak akan meninggalkanmu).”

Setiba di Medinah ujian pun terus mendera, Sahabat-sahabat beliau berguguran di medan jihad, paman beliau Hamzah syahid di medan Uhud dengan dada terkoyak dan jantung terburai. Rumah tangga beliau diguncang fitnah ketika Aisyah dituduh melakukan perbuatan selingkuh oleh orang-orang munafik. Anak-anak beliau, beliau saksikan meninggal kecuali Fatimah yang meninggal beberapa bulan setelah kematian beliau. Sungguh ujian dan pengorbanan yang luar biasa, namun sekarang beliau telah kembali kepada Tuhannya, beristirahat dengan tenang dan di hari kiamat beliau menunggu umatnya di sebuah telaga yang jika seteguk air darinya diminum maka tidak ada rasa haus untuk setelahnya..

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd

Kaum Muslimin dan Muslimat Rahimakumullah..

PENGORBANAN BERBUAH SURGA..

Tak pernah berhenti di sepanjang masa..

Allah memilih diantara hamba-hamba-Nya yang dimuliakan dengan pengorbanan itu..

﴿مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا﴾

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya)”. (QS. al-Ahzab : 23)

Ada yang berkorban dengan nyawa demi mempertahankan akidah yang kokoh seperti Asiah bintu Muzahim istri Fir’aun..

Ada yang berkorban dengan dibantai berjamaah seperti kisah Ashabul Ukhdud..

Ada yang berkorban membeli surga dengan hartanya seperti Abu Bakr, Utsman bin Affan, Khadijah dan Abdurrahman bin Auf..

Ada yang berkorban dengan masa mudanya seperti Mush’ab bin Umair, pemuda kaya raya yang diboikot oleh keluarganya karena mengikuti dakwah tauhid, yang diakhir hidupnya Rasululullah terharu karena tak ada yang menutupi jasadnya kecuali sepotong kain yang jika ditarik ke kepala tersingkap kaki beliau dan jika ditarik ke kaki tersingkap kepala beliau…

Dan masih banyak lagi hamba-hamba pilihan yang mengorbankan segalanya demi membuktikan cinta pada Allah..

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd..

PENGORBANAN BERBUAH NERAKA…

Ketika sejarah menorehkan kisah pengorbanan berbuah surga maka Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa sebagian manusia ada yang berkorban namun pengorbanan mereka berbuah azab yang pedih, kehinaan dan neraka.

Merekalah para pengusung kebatilan, mereka bekerja siang dan malam demi memadamkan cahaya agama Allah, mereka letih, begadang, dihina dan dicerca namun mereka bersabar..

﴿…فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ﴾

“…Betapa sabarnya mereka dengan neraka”.(QS. al-Baqarah : 175)

Dana besar tak ternilai pun mereka gelontorkan untuk memenangkan apa yang mereka serukan demi menyesatkan manusia. Apapun mereka bisa beli namun sungguh, semua itu sia-sia.

﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan”. (QS. al-Anfal : 36)

﴿يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ﴾

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS. as-Shaf: 8)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd

PENGORBANAN BERBUAH SURGA…

Selanjutnya, mari kita melihat diri-diri kita…

Apakah yang sudah kita korbankan untuk sampai di surga Allah?!

Apakah yang sudah kita korbankan demi meraih keridhaan Allah?!

Apakah yang sudah kita korbankan untuk meraih ampunan Allah?!

Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan membuat kita merasa malu pada Allah dan pada diri kita sendiri..

Betapa sulitnya kita berkorban sampai untuk diri kita sendiri..

Shalat lima waktu sering kita lalaikan atau tidak mengerjakannya di awal waktu, Subuh terkadang kesiangan, sedangkan jika kita memiliki perjalanan bisnis dengan pesawat terbang, kita berusaha tidak terlambat untuk hadir di bandara walau waktunya dini hari sekalipun..

Begitu beratnya kita terbangun di malam hari untuk qiyamullail dan tahajjud, sedangkan untuk pertandingan sepakbola kita rela begadang semalam suntuk hanya untuk menyaksikan klub jagoan kita yang merumput di lapangan hijau.

Jika yang dibangun adalah mall-mall, ruko-ruko dan pusat perbelanjaan maka hanya dalam hitungan bulan sudah berdiri megah, namun untuk merampungkan pembangunan sebuah masjid terkadang pengurus harus setiap Jumat meminta sumbangan dari  jamaah, dan terkadang itu sampai bertahun tahun…

Subhanallah!..

Manakah bukti bahwa kita adalah para perindu surga yang rela berkorban dengan segala yang dimiliki untuk meraihnya?

Allahu Akbar,  Allah Akbar, Walillahil hamd…

Fenomena lain…

Hari ini, realita yang memilukan, dari sebagian oknum aktivis dakwah, justru yang dikorbankan adalah kawan sejalan yang sama-sama meniti jalan perjuangan para nabi, menyeru kepada yang makruf serta mencegah dari kemungkaran. Saling melempar tuduhan keji tanpa tabayyun, mencemarkan kehormatan sesama dai secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, saling berbalas hujatan di dunia maya dan nyata, vonis prematur yang keji pada sebagian ulama dan penuntut ilmu, merasa diri dan kelompoknya yang paling benar, menghukumi niat-niat orang yang menyelisihinya tanpa berusaha memberi udzur dan alasan Ukhuwah Islamiyah yang mulialah yang jadi korban, kehormatan sebagian ulama dan dai yang menjadi tumbal, waktu dan tenaga tergerus untuk hal yang sia-sia, padahal musuh-musuh agama semakin solid merapatkan barisan sedang sebagian kita masih berkutat dan berdebat pada masalah-masalah fiqhiyyah dan ijtihadiah atau saling klaim siapa yang berada diatas ‘manhaj yang kokoh.’ La hawla wala quwwata illa billah…

Tidakkah seyogyanya kesemuanya itu kita akhiri? Marilah kita kembali pada tuntunan al-Qur’an dan sunnah. Al-Qur’an memerintahkan kita untuk bersatu, berukhuwah, berbaik sangka, saling membantu antara yang satu dan lain. Al-Qur’an melarang perpecahan, perselisihan, saling memusuhi, mencari-cari aib, ghibah, namimah dan adu domba.

Semua sudah jelas, semua sudah gamblang.

Berbeda pendapat adalah sunnatullah, namun mari kedepankan adab dan nasihat yang bijak dan santun, dahulukan prasangka baik kepada saudara kita sebelum memvonis. Perkara-perkara yang bisa menyatukan kita lebih banyak dari hal-hal sepele yang terkadang membuat kita saling memusuhi antara yang satu dengan yang lain..

Fenomena lain..

Perebutan kekuasaan, kepentingan politik yang menjadikan persaudaraan sebagai korban. Fenomena saling cekal, saling hujat, saling mencurigai menjadi sajian rutin setiap waktu, Hoax berseliweran dimana-mana, rakyat kecil yang ikut menjadi korban yang mana semua  selalu mengatasnamakan ‘rakyat’ demi merebut simpati yang pada kenyataannya hanya untuk keserakahan pribadi dan golongan. Begitu mudahnya persahabatan yang telah terjalin lama menjadi korban demi kepentingan sesaat.Betapa murahnya harga diri dijual hanya untuk mengamankan kantong-kantong pribadi atau perusahaan-perusahaan pribadi.Bahkan betapa gampangnya agama digadaikan, idealisme menjadi tumbal hanya demi meraih sedikit keuntungan duniawi dan secuil kekuasaan semu.

Wallahul musta’an..

Tidakkah sepantasnya ini kita akhiri?

Bukankah harta, pangkat, jabatan bahkan dunia ini adalah sesuatu yang fana?! Dunia terlalu hina untuk membuat kita saling memusuhi antara yang satu dengan yang lain. Hanya karena beda pilihan dalam pilpres atau pilkada kita saling membelakangi, bahkan yang memilukan berita yang kita dengar ada sebuah rumah tangga yang terpaksa harus bubar hanya gara-gara beda pilihan dalam pemilihan kepala desa. Subhanallah..!

Saatnya kita mengorbankan sifat arogansi kita, saatnya kita kuburkan sifat-sifat jahiliah kita, dan sekaranglah saat untuk kita kembali merajut persatuan dan ukhuwah demi mencapai keridhaan Allah.

Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kepada kita kepada jalan-jalan kebenaran dan keistiqamahan dan menjaga kita dari segala fitnah dan ujian, baik yang tersembunyi maupun yang tampak. Amin Ya Rabbal ‘Alamin..

KHUTBAH KEDUA:

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Sebelum kita menutup khotbah ini, sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa hari ini kaum muslimin di seluruh penjuru dunia melaksanakan sebuah ibadah yang mulia yaitu berkurban, oleh karenanya Khatib berpesan beberapa hal, diantaranya; hendaknya yang berkurban senantiasa menjaga keikhlasannya agar diterima disisi Allah. Hewan kurban lebih afdal disembelih sendiri namun boleh diwakilkan kepada orang lain. Daging kurban dibagi menjadi tiga, yaitu untuk dimakan oleh yang berkurban, dihadiahkan, dan disedekahkan kepada fakir miskin. Waktu penyembelihan bisa sampai hari terakhir dari hari-hari tasyriq.

Akhirnya di penghujung khutbah ini marilah kita berdoa seraya menengadahkan jiwa memohon kepada Yang Maha Memiliki Segalanya.

‎الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَا لَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

‎﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ﴾

‎‎﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ﴾

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Gaffar..Ampuni dan maafkan segenap dosa kami, yang tampak maupun yang tersembunyi, jika Engkau tak memaafkan kami, kepada siapa kami akan memohon maaf dan ampunan.

Ya Allah, Ya  Lathif , yang Maha Lembut… Sayangi kami dan seluruh hamba-Mu yang beriman, dimanapun mereka berada.

Ya Allah, Ya Hafizh…Jaga dan berkati keluarga dan anak-anak kami dengan keimanan, keshalehan dan ketakwaan, karuniakan mereka Al-Quran yang berada dalam dadanya, menjadi cahaya menuntun langkah-langkahnya, satukan kami di dunia dalam ketaatan pada-Mu dan perjuangan dibatas Jalan-Mu, serta satukan kami di akhirat dalam Jannah-Mu yang kekal abadi.

Ya Allah,  Ya Rahim… rahmatilah setiap ayah yang senantiasa berkorban demi menuntun istri, anak-anak dan keluarganya diatas jalan-Mu, yang berusaha menyelamatkan mereka dari api neraka-Mu. Rahmatilah setiap ibu yang berkorban dalam merawat dan membesarkan anak-anaknya dengan tak kenal lelah dan peluh. Rahmatilah setiap wanita yang senantiasa mempertahankan keistiqamahannya, menutup aurat dengan hijabnya. Rahmatilah setiap pemuda yang berusaha tumbuh diatas ketaatan kepadamu. Lindungilah mereka semua dari segala keburukan..

Ya Allah… Ampunilah  dosa-dosa  ayah  dan ibu kami, jagalah mereka yang masih hidup dan rahmatilah mereka yang telah meninggal, bantulah kami untuk senantiasa berbakti kepada mereka, demi meraih rahmat dan ridha-Mu.

Ya Allah, wahai Rabb kami, jadikanlah agama-Mu memandu kehidupan hamba-hamba-Mu di negeri ini dan seluruh negeri kaum muslimin. Jadikanlah penduduk negeri ini bahagia dengan tegaknya agama-Mu di atasnya.

Ya Allah!.. Anugerahkanlah kepada kami pemimpin yang saleh, yang senantiasa takut kepada-Mu dan sayang kepada kami, yang pada kebaikan senantiasa mengajak dan bukanlah mengejek, yang senantiasa merangkul dan bukanlah memukul, yang senantiasa membimbing dan bukanlah menggunjing, yang selalu menerima argumen dan bukanlah melemparkan sentimen.

Ya Allah, Ya Karim.. Jagalah negeri kami yang tercinta ini. Barangsiapa yang menginginkan kebaikan untuknya, maka alirkanlah kebaikan itu lewat tangannya. Dan barang siapa yang menyembunyikan niat buruk untuk berbuat kerusakan maka, kembalikanlan makar dan kerusakan itu kepadanya..

‎﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾

‎وَصَلِّ اللّهُمَّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَي آلِهِ وِ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

***

Sumber dari: http://wahdah.or.id/khutbah-idul-adha-1439-h-

Ibrahim -‘alaihissalam’ Pembangun Keluarga Pejuang

Ibrahim -‘alaihissalam’ PEMBANGUN KELUARGA PEJUANG

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..

Laa Ilaha illalllah wallahu Akbar ,

Allahu Akbar walillahil hamd.

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah !

Di pagi hari ini, seiring dengan tasbih semesta alam raya, seiring dengan ketundukan semua makhluk ciptaan Allah, kita kembali melantunkan pujian dan takbir pengagungan kepada Sang Maha Pencipta…Maha Pemelihara…Penguasa Jagad raya,….Dialah Allah tabaraka wata’ala , satu-satunya yang berhak untuk disembah dan ibadahi….

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..

Laa Ilaha illalllah wallahu Akbar ,

Di sana,… di Padang Arafah , ketika berjuta tangan menengadah pada Sang Ilahi, ketika berjuta bibir bergetar menyebut namaNya, maka di pagi hari ini kita menyempurnakan semua itu, maka biarkan gema takbir ini membahana di angkasa, menyatu dengan tasbih semesta, membuang semua yang membuncah di dada,….

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..

Laa Ilaha Illalllah wallahu Akbar ,

Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin a’azzakumullah !

Setiap kita menyebut Haji, Idul Adha dan peristiwa-peristiwa yang mengiringinya, maka ada satu nama yang tak mungkin terlewatkan, dialah Ibrahim –alaihissalam.

Hari ini kembali kita mengenang manusia agung utusan Allah subhanahu wata’ala ini, Nabi Ibrahim alaihissalam beserta anak dan istrinya, Ismail alaihissalam dan Hajar alaihassalam. Keagungan pribadinya yang telah Allah perintahkan agar kita menjadikannya suri tauladan , Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِى اِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS. al-Mumtahanah :4).

Pelajaran demi pelajaran, hikmah demi hikmah selalu dan senantiasa kita petik dari perjalanan hidup pribadi yang agung ini.

Diantara hikmah dan pelajaran terpenting dari perikehidupannya adalah : Perjuangan menegakkan Aqidah dan Tauhid, yang selalu melandasi dan mewarnai segala gerak dan tingkah lakunya, semua sepak terjang dan bahkan derap langkahnya.

Awal kemunculan Ibrahim di tengah kaumnya langsung menohok pada inti permasalahan yang dihadapi kaumnya yaitu penyimpangan dari tauhid, dimana mereka menyembah berhala-berhala yang tidak berdaya apa-apa, perhatikanlah bagaimana Ibrahim dengan piawai mengajak kaumnya beradu argumen tentang siapa yang sebenarnya berhak disembah

وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ . إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ . وَإِنْ تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ ( العنكبوت:16-18(

Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan. (17) Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya”. (18).” (QS. al-‘Ankabut: 16-18)

Jawaban kaumnya bukanlah jawaban yang menyenangkan, bahkan ancaman dan kecaman .. Allah berfirman :

فمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَن قَالُوا اقْتُلُوهُ أَوْ حَرِّقُوهُ فَأَنجَاهُ اللَّـهُ مِنَ النَّارِ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (العنكبوت: 24 )

“Maka tidak ada lagi jawaban kaum Ibrahim selain mengatakan: ‘Bunuhlah atau bakarlah dia!’, lalu Allah menyelamatkannya dari api (yang membakarnya). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.” (QS.al-‘Ankabut: 24)

Demikinlah konsekuensi dakwah yang kadang tidak menyenangkan, bahkan menuntut pengorbanan, namun pertolongan Allah tidak pernah terlambat, Allah berfirman :

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ . وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, (69) mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS.al- Anbiya:69-70)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..

Laa Ilaha illalllah wallahu Akbar ,

Keteguhan prinsip dan ketegaran dalam bertauhid dan beraqidah pada pribadi Ibrahim tidak hanya dimonopoli oleh diri beliau sendiri, namun ternyata seorang Ibrahim alaissalam sangat memperhatikan dakwah pada keluarganya dan karib kerabatnya, bahkan beliau mewujudkan hubungan yang paling indah antara anak dengan ayahnya dengan berwujud dakwah kepada kepada orang tua untuk aqidah dan tauhid :

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا ﴿٤٢﴾ يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا ﴿٤٣﴾ يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَـٰنِ عَصِيًّا ﴿٤٤﴾ يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمَـٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

“Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya: ‘Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tiada dapat mendengar, tiada pula dapat melihat dan menolongmu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian dari ilmu yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka kepada Allah Dzat Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa adzab dari Allah Dzat Yang Maha Pemurah, maka engkau akan menjadi kawan bagi setan.” (QS. Maryam: 42-45)

Keluarga ….sekali lagi keluarga, orang terdekat di sekeliling kita yang kadang luput dari perhatian dan pemenuhan hak atas mereka sebagai amanah Allah Ta’ala.

Ibrahim alaihissalam adalah tipe manusia yang sangat memperhatikan keluarganya, namun… perhatian di sini bukanlah sekedar perhatian untuk pemenuhan kebutuhan duniawi semata, namun yang lebih sejati adalah bagaimana seorang Ibrahim membangun keluarganya dengan pondasi iman dan aqidah …sehingga dengan taufiq dari Allah melahirkan keluarga pejuang yang tangguh, pantang menyerah , tauhid dan aqidah menjadi landasan dari segala tindakannya, ……

Hasil ini bukanlah datang begitu saja tentunya, namun ia adalah buah perjuangan panjang manusia yang diberkati ini…..perhatikanlah doanya yang diabadikan dalam AlQ uran :

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Wahai Tuhanku karuniakanlah padaku dari (keturunan) yang shalih “ (QS.Ash Shaffat;100)

Penantian panjang seorang Ibrahim alaihissalam dengan tidak berputus asa, membuahkan hasil dengan dikaruniakannya seorang anak yang didamba-dambakan, dialah Ismail alaihissalam.

Namun ternyata proses tarbiyah ilahiyah menghendaki lain, seorang Ismail dalam masa kecil ternyata harus berpisah dengan ayahandanya, ditinggal di negeri tandus yang kering kerontang, semuanya adalah lillah wafie sabilillah, dalam menjalankan perintah Allah seorang Ibrahim alaihissalam tidak ada kata tidak, bahkan dengan penuh keyakinan dan harapan serta optimisme ia bertawakkal pada Allah Ta’ala :

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ ۗ وَمَا يَخْفَىٰ عَلَى اللَّـهِ مِن شَيْءٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ ( ابراهيم: (38-37

Wahai Rab kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Wahai Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (37) Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (QS. Ibrahim:37-38)

Semangat ketaatan dan optimisme ini pula yang mengalir kepada istrinya Hajar, perhatikanlah riwayat berikut ini :

Diriwayatkan dari Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Kemudian Ibrahim membawa Hajar dan sang putra Ismail dalam usia susuan menuju Makkah dan ditempatkan di dekat pohon besar, di atas (bakal ) sumur Zamzam di lokasi (bakal) Masjidil Haram. Ketika itu Makkah belum berpenghuni dan tidak memiliki sumber air. Maka Ibrahim menyiapkan satu bungkus kurma dan satu qirbah (kantong) air, kemudian ditinggallah keduanya oleh Ibrahim di tempat tersebut. Hajar, Ibu Ismail pun mengikutinya seraya mengatakan: ‘Wahai Ibrahim, hendak pergi kemana engkau, apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tak berpenghuni ini?’ Diulangnnya kata-kata tersebut, namun Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Hingga berkatalah Hajar: ‘Apakah Allah yang memerintahkanmu berbuat seperti ini?’ Ibrahim menjawab: ‘Ya.’ Maka (dengan serta-merta) Hajar mengatakan: ‘Kalau begitu Dia (Allah) tidak akan menyengsarakan kami.’ Kemudian Hajar kembali ke tempatnya semula.” (Lihat Shahih Al-Bukhari, no. 3364)

Demikianlah kepribadian istimewa dari suami istri ini dengan Rahmat dan Taufiq Allah juga mengalir pada anak keturunan mereka, di saat -saat sejuknya pandangan seorang Ayah melihat anaknya mulai tumbuh besar, ujian Allah pun datang lagi , tidak tanggung-tanggung, perintah untuk mengorbankan anak sendiri :

لَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّـهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.(QS.as-Shaffat :102)

Demikianlah keluarga yang agung ini , meraih keagungan dan ketinggian derajatnya dengan tauhid, pengamalan aqidah dan ketaatan tiada henti atas setiap titah Ilahi.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..

Laa Ilaha illalllah wallahu Akbar ,

Allahu akbar walillahil hamd.

Akan tetapi ternyata Allah Maha Kasih dan Sayang kepada ayah dan anak ini dan mendapat pengakuan Allah sendiri tabaraka wataa’la:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ﴿١٠٣﴾ وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ ﴿١٠٤﴾ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١٠٥﴾ إِنَّ هَـٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ ﴿١٠٦﴾ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ﴿١٠٧﴾ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ ﴿١٠٨﴾ سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ ﴿١٠٩﴾ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (103) Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, (104) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (105) Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (106) Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (107) Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (108) (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. (109) Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. “.(QS.as-Shaffat :103-110)

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allahu akbar walillahil hamd.

Kaum Muslimin yang semoga dimuliakan Allah

Alangkah rindunya kita untuk mewujudkan keluarga seperti keluarga Ibrahim alaihissalam, alangkah rindunya kita dengan istri seperti Hajar alaihassalam, yang dengan tegar menggendong anaknya yang masih bayi, hanya berbekal sekantong korma dan sedikit air, di tanah asing, tiada berpenghuni, tandus tiada tetumbuhan… Namun dengan lugas bertanya kepada suami tercinta AALLAHU AMARAKA BIHADZA ? ketika sang suami menjawab ;Ya, maka saat itu pula iman dan tawakkal itu menyata dengan perkataannya :Idzan la yudlayyi’unaa – jika demikian Ia tak menyia-yiakan kami.

Seorang istri da’i dan pejuang seharusnya selalu menjadikan momentum ini segar di pelupuk matanya, selalu hidup dalam catatan batinnya, bahwa istri pejuang harus tegar setegar Hajar, yang lebih tegar dari batu karang… dan jangan sampai justru menjadi penghalang suami memenuhi panggilan suci berjuang dan berdakwah di jalanNya.

Namun sebelum itu tentunya seorang suami da’i dan pejuang harus pula menorehkan sejarah Ibrahim ini dalam sanubarinya, agar terpatri pada jiwa semangat ketaatan dan optimisme serta qawwamah (kepemimpinan) yang mumpuni dengan izin Allah Ta’ala.

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allahu akbar walillahil hamd.

Kaum Muslimin yang semoga dimuliakan Allah

Mengambil pelajaran dari Ibrahim dan keluarganya adalah berarti belajar untuk taat dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah , dan inilah yang seharusnya menyertai kita setiap saat, semangat selalu mawas diri dari penyimpangan- penyimpangan dalam beragama, tidakkah kita perhatikan parade penyimpangan mulai dari tataran aqidah, hingga moral dan akhlak seakan disambut oleh alam ini dengan parade bencana dan musibah?

Negeri yang indah ini, dengan laut, gunung, sungai dan airnya, tidaklah melainkan makhluk-makhluk Allah yang taat, yang selalu bertasbih dan memuji Allah Tabaraka wata’ala:

سَبَّحَ لِلَّـهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿١﴾

Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS.as-Shaf :1)

Isyarat alam ini seakan memberi kita pesan bahwa bumi makhluk Allah ini enggan berjalan di atasnya manusia-manusia congkak dan durjana.

Sudah tiba masanya kita kembali mengintrospeksi diri, secara individu dan kolektif, sejauhmana kita melangkah jauh dari yang seharusnya….

Namun……

Ketika musibah datang dan sebagian penduduk negeri ini justru semakin merapat kepada kesyirikan dan takhayul,

Ketika musibah datang justru datang pula sokongan dan dukungan pada nabi-nabi palsu dan para pengikutnya seperti Ahmadiyah dan Qadiyaniyah,

Ketika musibah datang justru celaan, kecaman, dan bahkan pengkafiran pada generasi terbaik umat ini (Sahabat Rasulullah )menyelip dan menikam dari belakang oleh kaum Syi’ah Rafidlah

Ketika musibah datang menjelang sebagian kita bahkan dengan bangga memamerkan kedurhakaannya pada Allah, menginjak-injak harga diri dan kehormatannya sendiri.

Sungguh ini adalah musibah di atas musibah !

Wallahul musta’an

Jalan keluar tiada lain dan tiada bukan adalah kembali bertobat, kembali menapak tilasi perjalanan juang Ibrahim dan para keluarganya, menapak tilasi perjuangan Nabi dan Rasul akhir zaman Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yang Ibrahim alaihiissalam berdoa untuk kehadirannya.

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (البقرة: 129)

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seseorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Baqarah:129)

Ya… bertobat, dan Ibrahim sendiri bertobat walau ia seorang khalilullah (kekasih Allah):

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (البقرة: 128)

“Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. al-Baqarah:128).

Mawas diri dari kesyirikan dan penyimpangan aqidah adalah sikap mukmin sejati, bukankah Ibrahim sendiri khawatir dan minta perlindungan Allah dari kesyirikan:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ (ابراهيم:35)

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.(QS.Ibrahim:35)

Kita tidak boleh lengah , setiap saat syaithan dan bala tentaranya siap menggelincirkan dan menjerumuskan kita.

Olehnya itu benteng aqidah harus berwujud pada keluarga kita, panji-panji tauhid harus terpancang dalam dan kuat pada diri, anak dan istri kita….semangat perjuangan harus selalu menggelora pada setiap dada anggota keluarga kita

Wahai para muslimah, ibunda dan saudari kita, bercerminlah selalu pada Hajar-alaihassalam yang tegar setegar hajar (batu), siap untuk berjuang dan mendampingi seorang suami pejuang dalam kondisi apapun, dan semangat perjuangan itu insya Allah akan dibalasi Allah dengan sejuknya mata memandang anak-anak anda berbaris rapi dalam shaf perjuangan

Wahai para pemuda , jadilah “Ismail-ismail” zaman ini, yang ditempa dalam perjuangan, di dalam keluarga pejuang, bahkan anda lahir dari rahim perjuangan…bersiaplah untuk berkorban di jalan perjuangan ini….”korbankanlah” beberapa kesenangan masa muda untuk memmpuh jalan perjuangan ini, percayalah kelezatan berjuang jauh lebih nikmat daripada kenikmatan semu fatamorgana dari hiruk pikuknya dunia kemaksiatan dan penyimpangan….

Munculkan semangat dan kekuatan Ismail di zaman kini. Jadilah generasi pendobrak yang memiliki prinsip hidup yang kokoh di jalan taqwa. Bukan generasi latah yang menjadi korban situasi dan kondisi. Dan bukan generasi yang mudah terombang ambing kemana angin berhembus. Jadilah Ismail baru yang mewarisi semangat tauhid dan keteguhan diri dalam menerima semua titah perintah Allah. Sekalipun nyawa adalah taruhannya.

Dan anda wahai para bapak dan suami, bercerminlah pada Ibrahim bagaimana ia menjadi kepada keluarga teladan, didiklah keluarga anda dengan tidak pantang menyerah, usaha anda yang tidak pantang menyerah adalah bagian dari perjuangan itu sendiri…..lihatlah Nuh alaihissalam, hingga detik terakhir masih saja menyeru anaknya untuk kembali ke jalan yang benar.

وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ

Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”.(QS. Hud:42)

Namun Akhirnya kita kembalikan semuanya kepada Allah yang menggenggam hati semua hambaNya.

Dan kepada para pemimpin negeri yang indah mempesona ini, ingatlah bahwa setiap kita akan dimintai pertanggung jawaban akan apa yang dipimpinnya.

Ingatlah ketika bencana dan musibah datang bergelombang, bahwa semua itu adalah pengingat dari pemilik hakiki negeri ini dan setiap jengkal bumi dan langit untuk kembali bertahkim kepada ajaran yang diturunkanNya,firman Allah Ta’ala

وَبَلَوْنَاهُم بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (الأعراف:168)

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS.al-A’raf:168)

Pertegas keberpihakan anda pada kebenaran, keadilan, dan jangan justru semakin menggandeng penggusung kezaliman dan keangkara murkaan…kami percaya anda sanggup dan mampu untuk itu, dan kami berdoa agar Allah memberikan Hidayah dan InayahNya

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allahu akbar walillahil hamd.

Dalam kesempatan ini pula kita mendoakan saudara-saudara kita yang sedang berjuang menegakkan rukun Islam kelima dengan haji ke Baitullah, agar menjadi haji yang mabrur dan selamat kembali di tanah air, berkumpul kembali dengan sanak saudara..

Dan bagi kita di sini yang melakukan Idul Qurban dan penyembelihan hendaknya senantiasa memperhatikan tuntunan syari’at dalam pelaksanaannya; maka hewan yang sah untuk dikurbankan adalah sapi yang usianya genap dua tahun atau kambing yang genap satu tahun. Jika kambing dengan umur satu tahun sulit didapatkan, maka tidak mengapa berkurban dengan domba yang genap berusia enam bulan. Tidak boleh berkurban dengan hewan yang jelas buta sebelah matanya (picak), atau pincang dengan kepincangan yang jelas, atau sakit yang jelas, atau hewan yang sangat kurus.

Dan seekor sapi atau unta boleh disembelih untuk tujuh orang.

Sebaiknya orang yang berkurban itu menyembelih hewan kurbannya sendiri, namun tidak mengapa mewakilkannya dengan syarat tidak mengupah penjagal itu dari hewan kurban, baik dengan memberikan kulit atau dagingnya. Penyembelihan dimulai setelah khutbah dan berakhir tiga hari sesudah hari Idul Adha. Daging sembelihan dapat dibagi tiga; sepertiga untuk dikonsumsi, sepertiga untuk dihadiahkan dan sepertiga untuk disedekahkan kepada fakir miskin.

Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd

Akhirnya, di penghujung khutbah ini, marilah kita menundukkan jiwa, dan menyerahkan seluruh diri ini untuk memohon dan berdoa kepada Allah azza wa Jalla. Semoga doa kita menjadi catatan akan ketundukan kita pada Allah azza wajalla, dan Dia berkenan menerima dan mengabulkannya.

Rabbana, kami tidak berhenti dan tidak akan berhenti untuk menghadap-Mu, memohon ampunan-Mu, meminta belas kasih-Mu yang luasnya meliputi segala sesuatu.

Ya Allah, dosa kami begitu berlimpah. Rasanya tiada hari yang terlalui tanpa kesalahan pada-Mu. Dosa-dosa kami sudah terlalu banyak. Jika Engkau tak mengampuni kami, maka siapakah lagi yang akan mengampuni dan menutupinya selain Engkau ya Allah, Wahai Sang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun. Maka ampunilah, ampunilah, ampunilah diri-diri ini, ya Allah.

Rabbana, Engkau pasti Maha Tahu betapa banyak salah dan dosa kami kepada kedua orangtua kami. Betapa banyak hak mereka yang tak sempat kami tunaikan. Ya Allah, sungguh kami mohon ampunilah dosa dan kedurhakaan kami kepada mereka. Limpahkanlah Rahmat-Mu tak henti-hentinya untuk mereka. Ampuni segala kekurangan mereka sebagai hamba-Mu. Jika Engkau masih izinkan kami bersama mereka dalam kehidupan ini, beri kami kesangupan untuk berbakti pada mereka bersama menikmati Tauhid dan iltizam di Jalan-Mu, namun jika kematian memisahkan kami jadikanlah pertemuan kami di Jannah-Mu kelak menjadi pertemuan terindah anak dan orangtunya.

Rabbana, berikan kami kekuatan untuk mengubah kondisi kami dengan izin-Mu menjadi jauh lebih baik dan gemilang. Limpahkan kepada kami kekuatan tekad untuk menjadi umat yang kuat dan tegar menegakkan keadilan dan menumbangkan kezhaliman.

Ya Allah, berikanlah pertolonganMu pada saudara-saudara kami para pejuang Islam di Palestina, Irak, Afganistan dan dimana pun mereka berjuang menegakkan kalimat -Mu.

Wahai Rabb kami, limpahkanlah kedamaian dan keamanan untuk negeri kami ini dan seluruh negeri kaum muslimin di penjuru dunia. Lindungilah kami dan semua saudara kami dari makar dan muslihat musuh-musuh-Mu, ya Allah.

Wahai Rabb Penguasa langit dan bumi, pemilik sejati laut dan gunung Raja diraja semesta alam, semua nya dalam genggaman-Mu, lindungilah kami dari segala marabahaya dan bencana, janganlah engkau hukum kami disebakan keponggahan dan kebodohan sebagian dari kami.

Wahai Rabb yang menggenggam segenap hati hamba-hambaNya, satukanlah hati kami dalam ketaatan pada-Mu, persatukan jiwa kami dalam berjuang di jalan-Mu, hilangkanlah segala benci, iri, dengki, dan sangka buruk di antara kami.

Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang bersaudara dan saling mencintai dan mengasihi demi Engkau ya Allah, janganlah dosa menjadi sekat penghalang cinta dan sayang di antara kami.

Rabbana, karuniakan kepada kami para pemimpin yang selalu takut kepadaMu. Jangan Engkau berikan pendamping-pendamping yang berhati busuk kepada mereka yang menyebabkan mereka menzhalimi kami. Ya Allah, limpahkanlah Hidayah-Mu kepada mereka untuk selalu mengambil keputusan yang sesuai dengan Keridhaan-Mu.

Rabbana, Engkaulah yang Maha Mengetahui kapan jiwa ini meninggalkan raga. Jika kelak Engkau menakdirkan usia ini berakhir, maka karuniakanlah ia husnul khatimah dan berakhirnya segala dosa dan kedurhakaan

Ya Allah. Berilah kami kesempatan untuk menutup kehidupan kami di dunia ini dengan kalimat Tauhid-Mu nan suci: La ilaha illallah.

Rabbana inilah doa dan munajat kami-hamba-Mu yang tiada berdaya ini kepada-Mu, dan kami hanya dapat meminta dan berdoa, sedang Engkau adalah Rabb yang Maha Kuasa mengabulkan segala doa dan permintaan, maka kabulkanlah ya Allah Amin. Amin. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Sumber: Khutbah Seragam DPP Wahdah islamiyah

Gerhana Bulan dan Totalitas Penghambaan Pada Sang Pencipta

Gerhana Bulan dan Totalitas Penghambaan Pada Sang Pencipta

Khutbah Shalat Gerhana Bulan (28/07/2018) Dikeluarkan oleh Dewan Syariah Wahdah Islamiyah

‎إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

‎مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

‎يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

‎أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Kaum Muslimin rahimakumullah

Saat cahaya bulan yang gemerlap pudar dan tenggelam pada pekatnya malam

Saat Matahari yang terang benderang tiba  tiba tersungkur dan hilang cahayanya terbalut kegelapan

Sungguh itu semua hanyalah butir – butir makhluk ciptaan Allah Ta’ala yang takluk, tunduk dan takut pada Pencipta yang kuasaNya meliputi semua tanpa batas , Allah Subhanahu wa Ta’ala.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”. ( QS .Al-Hajj : 18 )

Alam semesta seluruh nya adalah ayat -ayat Allah, yang sejatinya adalah petunjuk bagi manusia yang sadar diri untuk kembali kepada ketaatan dan penyerahan diri yang sempurna kepada sang Pencipta.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman , mengingatkan kita semua :

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di semua penjuru semesta dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS. Fushilat :53)

Dan Dia pun menggugah inti kesadaran kehambaan ini dengan firman-Nya :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآَيَاتٍ ِلأُولِي الْأَلْبَابِ(190)الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran 190-191).

Kesadaran kehambaan ini akan mengantar manusia pada tasbih semesta dan ketundukan alam raya hanya kepada Allah Azza wa Jalla.

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Bertasbih ( mensucikan ) Allah segala apa yang di langit dan Bumi dan Dia adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( QS. Al Hadid :1)

Gerhana Bulan yang terjadi ini adalah bukti nyata ketaklukan alam dan istislam ( berserah dirinya ) ia  pada obsolut dan mutlaknya kuasa dan titah Ilahy, sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam:

إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله، لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته، ولكن الله تعالى يخوف بها عباده

Artinya: “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah, tidak terjadi gerhana pada keduanya disebabkan kematian dan kelahiran seseorang, sungguh Allah menjadikan (gerhana) pada keduanya agar hamba-hambaNya merasa takut. (HR. Bukhari No. 1048 dan Muslim No. 911)

Peristiwa ini mengantar kita pada suatu kesadaran diri akan tidak berdayanya manusia di hadapan kuasa mutlak Ilahi Rabbi.

Allahu Akbar

Bagai setetes air di lautn luas ,atau sebutir pasir di padang Sahara,,,

Kaum Muslimin – Rahimakumullah

Kesadaran kehambaan ini akan mengantar sang hamba sejati untuk mematrikan satu rasa yang agung , Al Khauf ,rasa takut yang mencerahkan pada dirinya

Betapa tidak , jika matahari dan bulan saja tunduk, takluk dan takut padaNya, betapa tak tahu diri  dan naifnya seorang manusia yang tiada berdaya di hadapan kekuasaan Allah jika ia demikian sombong ingin mengatur manusia  dengan aturan  yang bertentangan dengan hukum dan aturan Allah.

‎أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? ( QS. Al Maidah :50)

Betapa nistanya seorang hamba, saat semua fasilitas kehidupan telah diberikan oleh Allah Ta’ala , namun justru ia  gunakan untuk bermaksiyat dan durhaka kepada sang Pemberi nikmat itu , Allah Subhanahu wata’alaa

Sepanjang apapun langkah ini, pasti akan berakhir, sejauh apapun pencapaian kita suatu saat akan terhenti, karena dunia ini sementara pasti akan fana dan sirna

Pada saatnya kaki yang kita pakai melangkah ini akan jadi saksi di pengadilan Allah yang akan menentukan akhir abadi kita :

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. Ya-Sin :65)

Semuanya akan sirna dan fana

Tubuh dan jasad yang rupawan akan hancur dimakan tanah

Harta yang melimpah akan sirna dan tak mungkin dibawa mati

Pangkat, jabatan , ketenaran dan semua keluarga dan sanak saudara akan  ditinggalkan atau meninggalkan kita .

Lalu jika demikian, mengapa kita dibuat berlari liar oleh harapan semu dan fatamorgana ini ?!

Mengapa terlalu naif untuk menukar kenikmatan sejati dalam taat dengan nikmat sesaat yang bagai meneguk air laut yang tak pernah menuntaskan dahaga.

‎‫أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’ (tunduk) hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik” [QS. Al-Hadiid : 16].

Ya ,,, sungguh telah tiba saatnya

hati ini ini ditundukkan ,

dielus dan dikendalikan untuk taat kepada Allah .

Dimerdekakan dari gelitik syahwat yang menyengsarakan.

Dituntun untuk berjalan dalam cahaya terang syariatNya .

Sungguh kehidupan yang tertata dengan aturan Ilahi adalah kehidupan yang indah dan bahagia .

Syariat ini diturunkan semata untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia , bukan untuk menyulitkan dan menyengsarakan .

Alangkah indahnya kehidupan yang tertata dalam syari’at Allah , saat Al Qur’an menjadi pegangannya,saat As Sunnah menjadi  petunjuk Nya.

Alangkah indahnya taubat dan kembali kepada Allah itu, saat kening dan dahi merapat tunduk  dalam sujud- sujud yang khusyu’ .

Alangkah indahnya saat- saat tangan menengadah dalam munajat- munajat penuh harap .

Alangkah indahnya saat tangan- tangan dermawan berbagi rezki Allah pada sesama , anda takkan bisa membahasakan bahagiamu saat senyum merekah dari mereka yang selama ini menangis kelaparan saat anda berbagi sesuap nasi pada mereka.

Alangkah indahnya ukhuwah  dalam ikatan iman , saat membersamai dakwah mengajak hamba- hamba Allah ke rumah- rumah Allah , seakan bercengkrama hendak masuk ke pintu- pintu Syurga .

Alangkah indahnya ketaatan , alangkah indahnya ketaqwaan , alankah indahnya hidup dalam bimbinganNya , dalam hidayahNya

Selama hayat masih dikandung badan , jangan terlambat untuk kembali kepadaNya .

Karena Dia , Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang itu telah menyiapkan kebahagian , kemenangan yang sejati di balik rukuk dan sujudmu kepadaNya .

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, ruku`lah kamu, sujudhah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan”. ( QS. Al-Hajj : 77)

أقول قولي هذا و أستغفر الله لي و لكم من كل ذنب إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ

وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ و سلم و بارك عَلَى نبينا و سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و من سار على نهجه الى يوم الدين

أَيـُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. أَمَّا بعد

Sungguh suatu keniscayaan dan keharusan untuk selalu kembali saat kaki telah terlalu jauh melangkah menjauh dari shiratil Mustaqim.

Sekarang saatnya , saat Allah mempertakuti kita dengan Bulan dan Matahari yang semua tunduk dalam kekuasaannya .

Sekarang saatnya untuk kembali , untuk memperbaharui pertaubatan kita .

Sebelum semuanya gelap dan tak ada terang lagi , sebelum mata terpejam dan tak bisa terbuka lagi .

Ya Allah yang Maha Penyayang

Sayangilah kami , rahmati kami yang penuh dosa ini

Ampuni kami yang datang dengan kesalahan yang menggunung, yang bertaburan bagai pasir di pantai

Wahai Rabb Yang Maha Pengampun

Tak sanggup kami menengadah dalam kemurkaanMu

Tak sanggup kami menanggung amarahMu

Sungguh tak sanggup kami berjalan tanpa petunjukMu

Ampuni kami Ya Allah

Runtuhkan bukit – bukit dosa kami yang tinggi menjulang , ratakan dengan ampunanMu yang tiada dapat tertolak bagi hamba yang Engkau Rahmati

Wahai Rabb yang Maha Menatap

Pandanglah kami dengan pandangan Rahmat dan kasih sayangMu

Basuh jiwa kami dengan sejuknya ayat-ayatmu

Bersihkanlah dada kami dari semua kesyirikan, kekufuran dan kefasikan

Bimbing hati kami untuk selalu takut padaMu dan berharap tiada henti akan belas kasihMu

Sayangi kami, sayangi kedua orang tua kami , anak – anak dan keturunan kami . Satukan kami di dunia dalam indahnya ketaatan dan padukan kami dalam nikmat abadi dalam SyurgaMu .

Ya Allah , bagikan kebahagiaan bagibsemya saudara kami yang teraniaya , tolonglah mereka , dan berikan kemenangan sejati atas mereka

ربنا ءاتنا في الدنيا حسنة و في الآخرة حسنة و قنا عذاب النار

‎اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

‎ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

‎رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَن لَا يَرْ

Membangun Negeri dengan Ukhuwah Sejati dan Cinta Ilahi

Membangun Negeri dengan Ukhuwah Sejati dan Cinta Ilahi

Membangun Negeri dengan Ukhuwah Sejati dan Cinta Ilahi

(Naskah Khutbah  Idul Fitri 1439 H DPP Wahdah Islamiyah)

‎إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، ‎وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،

‎مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

‎﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

‎﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

‎﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا‎أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وكلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Kaum muslimin rahimakumullah…

Alangkah indahnya pagi ini, kita gemakan takbir yang membahana, kita lantunkan pujian pada Allah dengan segenap jiwa, hingga hilang semua duka, hingga terhapus semua nestapa, dan mekarlah semua bahagia.

Kita syukuri semua nikmat lalu kita panjatkan puji syukur kita kepada Allah, dan mungkin puji syukur kita itu lebih bernilai bagi kita disisi Allah, lebih dari nikmat itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Negeri ini yang demikian indah, demikian kaya, gunung- gunungnya yang tinggi menjulang, lautnya yang menghampar luas, lembah, ngarai dan sawahnya yang membentang elok,sungguh karunia Ilahi yang teramat berharga untuk disia- siakan.

Selalu terkenang bagaimana dahulu jiwa-jiwa beriman yang demikan tegar dan teguh merebut dan mempertahankan kemerdekaan negeri ini, dengan segenap kekuatan yang dimiliki dengan harta, bahkan darah dan air mata.

Demi kemerdekaan itu, entah berapa ribu negeri ini mempersembahkan para syuhadanya dalam titian masa yang hingga beratus tahun hingga tanahnya  demikian subur bagi agama Allah yang mulia ini.

Suara anak-anak yang mengeja huruf Al-Quran, suara adzan yang menggema berpadu dengan denting pedang dan lembing yang beradu bersama letusan senapan dan mitraliur, itulah sketsa sejarah Jihad di negeri ini, hingga penjajah durjana hengkang dan terusir bersama kesombongan dan kekufurannya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Saat ini, di zaman ini, di negeri ini, saat negeri ini berada di persimpangan jalan, antara poros kebenaran dan poros kebatilan, antara pengusung agama Allah dan pengusung materialisme, maka saatnya anak cucu generasi beriman tampil ke depan mengambil alih kendali, menentukan arah baru negeri ini sebelum terlalu jauh menyimpang.

Bukankah itu telah menjadi janji Allah Ta’ala yang janjinya pasti terpenuhi.

﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nur : 55)

Sesungguhnya saat nilai-nilai iman dan Islam yang mengendalikan negeri ini, saat itulah kesejahteraan yang sesungguhnya, saat itulah kemakmuran yang sejati, dan itulah pembangunan yang seutuhnya pada manusianya dan pada tanah air mereka. Iman, Islam dan taqwa adalah pintu- pintu keberkahan.

‎﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَآءِ وَالأَرْضِ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al A’raf : 96)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum muslimin, a’aanakumullah…

Membangun negeri bagi para pengusung iman dan kebenaran bukanlah persoalan sederhana, benar di sana ada harapan, namun di sana tidak sedikit halangan dan aral yang melintang bahkan pengusung kebatilan senantiasa bersinergi dan memperkuat diri bahkan dengan piawai menggoda sebagian pengusung iman dan kebenaran itu. Wallahul Musta’an.

Salah satu benteng orang-orang beriman yang mutlak diperkuat dan dijaga terutama dalam kondisi seperti ini adalah benteng ukhuwah dan kebersamaan.

Ukhuwah dan kebersamaan adalah kekuatan dan berkah.

Ukhuwah dan kebersamaan adalah solusi dari banyak masalah.

Ukhuwah dan kebersamaan adalah kemajuan dan modal utama keberhasilan.

Mewujudkan itu semua juga perlu kerja keras, perlu kesabaran, perlu inayah dan i’aanah dan pertolongan Allah.

﴿ وَاعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ اللّٰـهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَاذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ اللّٰـهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ    أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰـهُ لَكُمْ ءَايٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah kalian bercerai berai dan ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika kalian saling bermusuhan kemudian Allah satukan hati kalian sehingga kalian menjadi bersaudara, dan ketika kalian berada di tepi jurang neraka maka Allah selamatkan kalian, demikianlah Allah menunjukkan tanda kekuasaan-Nya semoga kalian mendapatkan petunjuk.” (QS Ali Imran ; 103)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Ukhuwah dan Persaudaraan sejati berupa Ta’liful Qulub (berpadunya hati)  sejatinya adalah karunia Ilahi yang telah digariskan oleh-Nya kepada hamba-hamba Allah yang terpilih.

Hamba- hamba-Nya yang bertauhid dan beraqidah lurus.

Hamba-hamba-Nya yang menyembah Allah dengan sebaik-baiknya dan sebenar- benarnya.

Dunia beserta segala isi tak bisa membeli sebuah persaudaraan, namun sekali lagi itu merupakan anugerah Ilahi

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“…dan (Allah سبحانه و تعالى) Dia-lah Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal [8] : 63)

Namun pun demikian, Allah dan Rasul-Nya yang mulia telah memberikan petunjuk untuk mewujudkan ukhuwah yang hakiki itu bagi orang- orang yang beriman.

Cara utama dan pertama adalah dengan memperbaiki hubungan dengan Allah, menetapi syariat dan aturan-Nya, sebagian salaf mengatakan: perbaikilah hubunganmu dengan Allah, niscaya Allah memperbaiki hubunganmu dengan sesama manusia.

Diantaranya yang terpenting adalah menjadikan interaksi antar orang beriman dipenuhi kasih sayang, saling percaya, berlaku adil dan menghindar dari sikap hasad dan dengki, sabda Nabi:

لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ ) رواه مسلم

“Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling membenci dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu di sini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya” (HR. Muslim).

Petunjuk Nabawi yang tentunya adalah wahyu Ilahi ini menjadi dasar bagi  kita dalam mewujudkan ukhuwah sejati itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin yang berbahagia.

Mewujudkan ukhuwah juga sangat terkait sejauh mana kita memperindah akhlak dan perilaku kita, Ibnu Qudamah Al Maqdisi dalam kitabnya yang masyhur “Mukhtasar Minhaj al Qasidien” mengatakan: “Persatuan adalah buah dari akhlak yang baik, perpecahan adalah buah dari akhlak yang buruk

Akhlak sejatinya adalah buah dari aqidah yang kuat dan iman yang mendalam. Semakin kuat iman seseorang maka akhlaknya pun seharusnya semakin baik dan indah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin a’azzakumullah.

Kebutuhan kita akan persatuan dan ukhuwah semakin besar saat kita menengok kondisi global umat Islam hari ini, saat musuh  sudah di depan mata tidak pantaslah kiranya kita merawat perselisihan dan mematangkan perseteruan.

Palestina dan Masjidil Aqsha, Suriah, Rohingya dan setumpuk duka kaum muslimin belum mampu kita enyahkan, maka tak pantas kiranya kita saling berselisih untuk permasalahan yang remeh temeh.

Mereka semua berharap agar dari Negeri ini, yang 200 juta penduduk muslimnya bersatu, berukhuwah saling bersinergi lantas menjadi episentrum (kekuatan) umat dan memenangkan pertarungan ini.

Negeri ini adalah negeri harapan, negeri yang penduduknya penuh cita – cita mulia.

Wujudkan itu semua dengan semangat persatuan.

Wujudkan itu semua dengan ketaatan mutlak kepada Allah.

Wujudkan itu semua dengan akhlak yang mulia.

Teror dan angkara murka tidak akan menggoyahkan jiwa-jiwa beriman, tak akan mengotori kebersihan jiwa para pengusung kebenaran, walau sesaat dia muncul menyebar fitnah, namun kebenaran tak mungkin bisa terkalahkan biiznillah, katakan kepada para pengatur teror dan kejahatan, kalian takkan bisa membakar matahari.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin A’aanakumullah...

Diantara buah manis ukhuwah adalah terwujudnya Tanaashur, yaitu sikap saling tolong menolong.

Membangun negeri ini dan membangun dunia yang diridhai Allah berarti membangun dan menguatkan sikap dan sifat Tanaashur ini.

Hal itu berarti kita saling tolong menolong dalam ketaatan dan kebenaran.

Hal itu berarti kita saling tolong menolong dalam mencegah kemungkaran. Sejatinya jika kita mencegah saudara kita dari kezaliman dan kemungkaran berarti kita menolong dia untuk terhindar dari sesuatu yang sangat membahayakannya. Bukankah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :

انصُرْ أخَاكَ ظالِمًا أو مظلومًا

Tolonglah saudaramu dalam keadaan dia berbuat zalim atau ia dizalimi” (HR. Bukhari & Muslim).

Menolong saat ia berbuat zalim adalah mencegahnya berbuat zalim dan mungkar.

Dan Tanaashur tentunya berarti memberi pertolongan kepada saudara kita yang membutuhkan, terutama kepada saudara kita yang terzalimi karena iman dan Islamnya

﴿وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ  فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ

Dan jika mereka meminta pertolongan padamu dalam urusan pembelaan terhadap agama ini, maka wajib atasmu memberi pertolongan“. (QS. Al-Anfaal :72).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum muslimin, a’aazakumullah…

Di era kemajuan teknologi komunikasi saat ini, yang ditandai dengan alat- alat komunikasi yang teramat canggih, kadang kita luput dan lalai, hingga tidak bijak menggunakannya, bahkan tidak sedikit yang terjatuh hingga ke lubang-lubang kehinaan dengan smartphonenya.

Mari, sebagai alumni Ramadhan kita kembali menjadi pengguna alat komunikasi canggih ini untuk kebaikan dan sebagai alat perjuangan.

Khusus kepada para pemuda harapan umat dan bangsa, bangkitlah, ambillah peran terdepan dalam perjuangan, jadilah prajurit kebenaran gagah perwira.

Dan kepada para ibu dan bapak, bagi setiap anaknya, setiap benteng keluarga bagi mata hatinya, berikan perhatian dan hati kita untuk mereka. Teteskan embun iman dan taqwa pada jiwa-jiwa mereka, jangan biarkan pencuri- pencuri aqidah dan akhlak merebut anak- anak kita, belahan jiwa dan pelanjut perjuangan.

Kepada para pemuda harapan perjuangan, jangan berleha- leha, bergeraklah, belajarlah, berjuanglah. Bangkitkan jiwa Shalahuddin pada dirimu, kobarkan semangat Thariq bin Ziyad dalam sanubarimu.

Kepada para muslimah, tiang negara yang kokoh, kokohkan dirimu dengan aqidah dan akhlak mulia, jadilah ibu yang hadir dalam jiwa anaknya dengan iman dan jihad, jadilah istri yang setia dan pelabuhan jiwa bagi suami anda hingga biduk rumah tangga indah berlayar ke pulau kebahagian, jadilah pejuang dakwah yang tangguh dalam kelembutanmu.

Kepada pemerintah dan para tampuk pimpinan negeri ini, ketahuilah bahwa dunia ini sementara. Waktu yang Allah berikan juga terbatas, maka berbuatlah untuk kebaikan dan kemaslahatan negeri, jangan sia-siakan amanah rakyat. Bertaqwalah kepada Allah, karena itulah jalan keselamatan. Jadikanlah tuntunan Syariat sebagai petunjuk menjalankan amanah itu, karena jika tidak kehancuran dunia dan akhirat adalah akibatnya.

Kepada segenap manusia-manusia tangguh, para pejuang dakwah dan pengusung kebenaran, tetaplah di jalan ini, istiqamahlah walau dunia sangat gemerlap menggoda.

Jangan sampai ukhuwah dan cinta di antara kita tercabik oleh kegersangan jiwa.

Maka bersimpuh dalam ibadah kepada Allah semoga meretas asbab kebersamaan yang sejati dan abadi hingga Syurga Ilahi

—————— Khutbah Kedua ——————

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum muslimin hafizhakumullah…

Suatu sunnah yang kiranya sangat sayang untuk kita lewatkan dalam bulan syawal ini adalah berpuasa enam hari di dalamnya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka dia seolah-olah berpuasa selama setahun.” (HR. Muslim).

Semoga Allah memberi kemudahan melaksanakannya.

Kaum muslimin yang diberkahi Allah.

Akhirnya, di penghujung khutbah ini, marilah kita menengadahkan jiwa seraya merundukkan diri, memohon dan berdoa untuk kebaikan diri, keluarga, bangsa dan umat kita.

Ya Allah, Rabb yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui, tak ada yang terluput dari-Mu.  Dan tak ada yang dapat mengampuni semua dosa kami selain Engkau, ya Allah, maka  ampunilah kami, hamba-hamba-Mu yang faqir dan hina ini, Ya Allah ,ampuni segenap dosa kami setelah Engkau karuniakan Ramadhan-Mu tahun ini.

Tuliskanlah  nama kami sebagai hamba-Mu yang Kau bebaskan dari api Neraka-Mu, Ya Ghafur, Ya Rahman, Ya Rahiim…

Ya Allah, limpahkan ampunan dan rahmat-Mu yang tiada berbatas kepada kedua orangtua kami.

Ya Allah, hanya Engkau yang Maha mengetahui betapa banyak dosa dan durhaka kami pada mereka, maka  ampuni kami, ampuni kami, ampuni kedurhakaan kami, ya Allah…Beri kami waktu dan kekuatan untuk berbakti pada mereka saat hidup maupun dan setelah kepergian mereka menghadap-Mu

Ya Allah, Mereka juga hamba-hamba-Mu yang lemah, maka ampuni dosa dan salah mereka,

Ya Allah,  ringankan dan mudahkan jejak langkah perjalanan mereka di dunia dan akhirat, lapangkan dan terangi alam kubur mereka.

Ya Allah anugerahkan kami,  pertemuan terindah bersama mereka di dalam Jannah-Mu, ya Allah…

Ya Allah sejukkan pandangan kami dengan kesholehan keluarga dan anak-anak kami, jadikanlah mereka pejuang-pejuang  di jalan-Mu, jadikanlah kami dan mereka sebagai Ahlul Quran, yang Engkau tempatkan sebagai manusia-manusia pilihan-Mu.

Ya Allah berkahilah dan tuntunlah para ulama, ustadz,  dan para guru kami yang tak kenal lelah mengajar dan membimbing kami menggapai ridha-Mu, sucikan hati mereka, lapangkan rezki mereka, hindarkan mereka dari setiap marabahaya dan lindungi mereka dari setiap tipu daya dan makar musuh-musuh-Mu.

Ya Allah, Yang Maha Perkasa dan Maha kuasa, negeri kami dan negeri-negeri saudara kami kaum muslimin telah diliputi ancaman dan makar yang hebat, namun tak ada yang dapat mengalahkan keMahaperkasaan-Mu, ya Allah.

Lindungilah negeri kami dan negeri-negeri kaum muslimin dari setiap rencana keji dan jahat musuh-musuh-Mu.

Ringankan dan bebaskan penderitaan saudara-saudara kami yang terzhalimi, teraniaya, terampas hak-haknya, dan tertuduh dengan fitnah yang keji, Ya ‘Aziizu Ya Qawiyyu…

Ya Allah, Ya Rabbana… satukanlah kami umat Islam di atas jalan-Mu. Persatukanlah negeri-negeri kaum muslimin untuk selalu seiring memperjuangkan agama-Mu. Sadarkanlah para pemimpin negeri kaum muslimin untuk tidak tertipu dan terperdaya oleh genderang tari yang dimainkan oleh musuh-musuh-Mu, ya Allah…

Ya Allah, anugerahkanlah kami pemimpin negeri yang selalu takut hanya pada-Mu. Tuntunlah langkah mereka untuk memimpin negeri ini dengan panduan Syariat-Mu. Berikan kepada mereka para pengiring dan penasehat yang selalu takut kepada-Mu, dan jauhkan mereka dari para pengiring dan penasehat yang keji.

Ya Allah..bimbinglah kami dan anak istri kami agar senantiasa berada di jalan-Mu, meniti dan menyusurinya hingga bersama di Jannah-Mu

Ya Allah..satukan hati kami dalam azam perjuangan, dalam setia pada-Mu hingga Engkau ridha pada kami.

Ya Allah..damaikanlah setiap jiwa-jiwa beriman, satukanlah dalam ukhuwah karena-Mu, jangan biarkan permusuhan mengeram dalam jiwa-jiwa ini Ya Allah.

Ya Allah..jadikan setiap jengkal negeri ini bersaksi atas Jihad dan perjuangan kami menegakkan Syariat-Mu di atasnya.

‎اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi kami dari perbuatan maksiat kepada-Mu, dan (anugerahkanlah kepada kami) ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan Kami ke surga-Mu dan (anugerahkanlah pula) keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dunia ini. Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam urusan agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan jangan Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami berkuasa atas kami.”

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةًوَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sumber: Naskah Khutbah Seragam Idul Fitri 1439 Dewan Syari’ah DPP Wahdah Islamiyah

Cinta Negeri dengan Iman Pada Ilahi (Khutbah Idul Fitri 1438 H)

Cinta Negeri dengan Iman Pada Ilahi

Cinta Negeri dengan Iman Pada Ilahi (Khutbah Idul Fitri 1438 H)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Kaum muslimin rahimakumullah …

Pagi ini, kita berkumpul di sini, pada detik-detik penuh makna, saat desah nafas dan detak jantung menyatu pada takbir, tahlil dan tahmid. Pagi ini kita berkumpul di sini, menggenapkan suka, memadukan jiwa, menyambung asa .. atas Ramadhan tercinta… semoga taqwa menjadi muara atas semua juang dan usaha kita.

Kaum muslimin a’azzakumullah …

Saat ini, ketika takbir kita kumandangkan dengan penuh suka dan gembira. Ternyata di sana, nun jauh di negeri- negeri seberang, ada saudara kita yang tetap gembira dengan takbirnya walau bau mesiu mengiringi, walau dingin menusuk menyertai, walau lapar dan dahaga setia membersamai.

Bahagia dan gembira selalu hadir, mengapa?

Karena bahagia itu di sini, di dalam jiwa ini. Ketika iman telah membalut qalbu, memberinya rasa terindah, ya,  semuanya karena iman, karena indahnya bergantung kepada Allah.

Oleh karena itu, bergembiralah, berbahagialah, menyatulah pada tasbih semesta yang terus membahana pada setiap putaran bumi, pada setiap tetes embun dan kicau burung atau hangat mentari pagi.

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus: 58)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Kaum Muslimin a’aanakumullah

Saat ini, di negeri ini, yang dikenal dengan nama Nusantara atau Indonesia. Zamrud khatulistiwa julukannya, tanah air yang merdeka dari para penjajah. Di negeri yang indah ini, tempat iman bertahta, ternyata ada suara-suara sumbang yang mengusik telinga, mempertanyakan cinta tanah air kaum muslimin, mempertanyakan nasionalisme umat Islam.

Ada apa ini?

Apakah anda lupa bahwa tanpa umat Islam, tak ada yang bernama Indonesia. Apakah anda lupa bahwa negeri ini merdeka oleh pekik takbir Allahu Akbar? Apakah anda lupa bahwa penjajah terusir atas pengorbanan berjuta syuhada yang darahnya mewangi membasahi ibu pertiwi.  Apakah anda lupa pada Sultan Agung, Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo? Atau anda tak kenal Syekh Yusuf dan Sultan Hasanuddin? Atau anda tak tahu siapa Tuanku Nan Renceh, Tuanku Imam Bonjol  dan Sultan Baabullah, Atau Fathillah yang berjaya di Jayakarta? Ataukah anda sudah lupa pada Sudirman, Sutomo, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Muhammad Natsir atau bahkan sang guru Bangsa Hadji Oemar Said Cokroaminoto? Mereka semua anak bangsa yang telah membuktikan cintanya pada negeri ini dengan keringat, darah dan air mata. Cinta mereka suci, karena bagi mereka cinta negeri haruslah karena Ilahi Rabbi. Cinta negeri tanpa cinta pada Ilahi tak ada rasa dan arti.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Kaum Muslimin yang berjaya!

Kitalah pewaris sejati negeri ini, kitalah yang paling berhak atas setiap jengkal dan incinya.

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُوْرِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبادِيَ الصَّالِحُوْنَ

Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami tulis dalam Zabur setelah Adz-Dzikr (Taurat), Bahwasanya bumi itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shaleh.” (QS. Al Anbiya : 105)

Wahai para pahlawan kesiangan, wahai para jawara dunia maya, anda tak lebih dari bidak-bidak catur para durjana tak bertuhan, para komunis terlaknat, dan para liberalis pengkhianat. Umat dan bangsa ini tidak takut pada kalian, tidak gentar pada setiap gertak sambal kalian! Intimidasi kalian kepada para ulama dan pemimpin umat tak akan berarti apa-apa biiznillah. Hati mereka terlalu manis atas setiap pahit dan busuknya makar kalian. Merekalah sesungguhnya garda terdepan negeri ini, merekalah pewaris sejati, para pahlawan sejati, para tokoh pendiri negeri ini. Dan jangan ajari mereka tentang toleransi, karena sesungguhnya merelah umat Islam dan para ulamanya kaum mayoritas yang paling toleran di negeri ini. Saat umat Islam dibantai di negeri mayoritas nonmuslim, maka mereka mendapatkan keamanan, perlindungan dan kesempatan yang sama di negeri ini. Bahkan dalam beberapa kondisi terjadilah apa yang disebut tirani minoritas.

Negeri ini hanya akan selamat jika anak negerinya menjadikan iman dan taqwa  sebagai pilar utama.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَآءِ وَالأَرْضِ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al A’raf : 96)

Taqwa sebagaimana yang didefinisikan oleh sebagian ulama salaf:

الخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ، وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ، وَالْقَنَاعَةُ بِالْقَلِيْلِ، وَالإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ

Taqwa itu adalah: Rasa takut kepada Allah Sang Maha mulia, mengamalkan apa yang diturunkan-Nya, merasa cukup dengan yang ada, dan selalu menyiapkan diri untuk hari perpisahan dengan dunia.”

Iman pada Allah Sang Maha Mulia akan melahirkan amal shaleh yang tertuntun oleh wahyu, yang mengantar pada sikap yang benar terhadap dunia dengan zuhud atasnya dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, titik pusat dari kumparan asa dan harapannya. Karakter seperti inilah yang akan membawa bangsa ini menuju kemenangan dan kejayaannya yang sejati.

Hamba yang bertaqwa menyadari benar bahwa kisah hidupnya di dunia tidak akan lama. Karena itu, setiap pilihan sikap dan langkah akan selalu ditimbang dengan sebaik-baiknya oleh hamba yang bertaqwa, apakah pilihan itu dapat dipertanggungjawabkannya di Hari Akhir? Apakah pilihan itu memberinya kebahagiaan di kehidupan Akhiratnya?

Diriwayatkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَفْضَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لَهُ اِسْتِعْدَادًا

Artinya: “Sebaik-baik orang beriman adalah yang terbaik akhlaknya dan yang paling cerdas dari mereka adalah yang terbanyak mengingat mati dan  yang paling baik bersiap untuknya” (HR. Baihaqy dan dinyatakan hasan oleh Albani)

Ketika memilih pekerjaan, maka pilihan hamba yang bertaqwa jatuh pada yang menguntungkan akhiratnya. Ketika memilih bisnis, maka hamba yang bertaqwa akan menjauhi bisnis yang merugikan akhiratnya. Ketika memilih pasangan hidup, maka pilihan hamba yang bertaqwa jatuh pada yang menguntungkan akhiratnya. Ketika mendidik keluarganya, hamba yang bertaqwa akan mendidik mereka agar dapat bersatu kembali di dalam Surga Allah. Termasuk ketika memilih pemimpin, hamba yang bertaqwa akan menjatuhkan pilihan pada apa yang dapat dipertanggungjawabkannya di akhirat.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil-hamd.

Mewujudkan iman dan takwa serta menegakkan kebenaran adalah tanggung jawab kita semua, termasuk para insan pers. Masa ini kita menyaksikan betapa berkuasanya media baik mainstream maupun sosial dalam mengarahkan dan mengatur opini publik, hingga yang benar bisa menjadi salah dan yang salah bisa menjadi benar.

Dalam kesempatan yang mulia ini kami menyerukan agar saudara-saudara kita yang bergelut di media selalu menjadikan akhirat sebagai landasan berpikir dan bertindaknya. Alangkah indahnya dunia jika diisi dengan tontonan yang sekaligus menjadi tuntunan, membangun moral dan akhlak yang mulia. Sebaliknya akan semakin runyam dan memprihatinkan kondisi kita dengan tontonan dan acara serta postingan yang tidak mendidik, pamer aurat dan mendangkalkan aqidah akhlak.

Dan jangan pula anda terjebak dalam memojokkan Islam dan dakwah serta para penyeru kebenaran ini, sungguh kehormatan seorang muslim sangat penting untuk dijaga dan dihargai.

Wahai Para pemuda Islam yang dicintai Allah!

Penghujung kehidupan ini adalah rahasia Allah. Itulah sebabnya, kita semua sama di hadapan kematian. Jadilah pemuda muslim yang cerdas, yang selalu menimbang setiap langkah dan tindakan: “Apakah ini bermanfaat untuk akhiratku atau tidak?”

Ingatlah masa muda adalah penggalan zaman yang tidak lama, namun menjadi penentu keberhasilan atau kegagalanmu dunia akhirat. Jadikan dirimu seperti cemerlangnya Ali, seberaninya Usamah, dan sealimnya Ibnu Umar dan setekunnya Abdullah bin Amr, radhiyallahu anhum ajma’in.

Kepada para muslimah yang dimuliakan Allah!

Islam memuliakan Anda dengan anugerah yang luar biasa. Islam menjadikan Anda sebagai salah satu pilar utama kejayaan umat dan bangsa ini. Namun itu takkan terjadi kecuali jika Anda, wahai muslimah, mewujud menjadi seorang wanita yang bertaqwa kepada Allah. Jagalah ibadah Anda dengan penuh kesungguhan. Jagalah kehormatan diri dengan mengenakan hijab yang disyariatkan oleh Allah Azza wa Jalla. Muslimah yang bertaqwa akan membawa keberkahan untuk dirinya, keluarganya, bangsa dan umatnya.

Wahai setiap istri jadilah sandaran jiwa bagi suami anda, hadirlah dalam suka dan dukanya, bersamai itu semua dengan cinta dan iman agar abadi cintamu hingga gerbang istanamu di Jannah Allah.

Wahai setiap ibu, usaplah jiwa buah hatimu dengan sentuhan kasih sayang yang berbalut taqwa, genapi hatinya dengan khasyah, bersamai hari-harinya dengan ibadah, jangan biarkan liarnya kehidupan memangsa anak belahan jiwamu. Sisihkan waktu dan hatimu buat mereka.

Wahai setiap ayah, andalah andalan sejatinya. Anda adalah “Ibrahim” bagi setiap “Ismail” di rumah anda, anda adalah “Muhammad” bagi setiap “Fatimah” dalam keluarga anda. Maka bicaralah kepada setiap anakmu, sentuh hatinya dengan cinta, basuh qalbunya dengan iman, hiasi kebersamaanmu dengan bahagia dalam Jihad di jalan Allah, rengkuh mereka dalam doa-doamu yang tiada henti, itulah jembatan Surga yang sejati.

Kaum muslimin yang diberkahi Allah!

Akhirnya, di penghujung khutbah ini, marilah kita menghadapkan jiwa dan merundukkan diri, memohon dan menghaturkan doa untuk kebaikan diri, keluarga, bangsa dan umat kita.

Ya Allah, Rabb yang Maha melihat dan Maha mengetahui, sekecil apapun dosa dan khilaf diri ini, tak ada yang terluput dari-Mu. Meski kelam malam begitu gulita sekalipun, semua tak luput dari-Mu, ya Allah. Dan tak ada yang dapat mengampuni semua dosa kami selain Engkau, ya Allah. Maka ampunilah kami, sekumpulan hamba-Mu yang faqir dan hina ini, ya Allah. Ampuni segenap dosa kami seiring berhembus perginya angin Ramadhan tahun ini. Torehkan nama kami dalam nama-nama hamba-Mu yang Kau bebaskan dari api Neraka-Mu, Ya Ghafur, Ya Rahman, Ya Rahiim…

Ya Allah, limpahkan ampunan dan rahmat-Mu yang Maha luas kepada kedua orangtua kami. Dengan segala kekurangannya, mereka telah berjuang dan berusaha untuk mewarnai kehidupan kami. Ya Allah, hanya Engkau yang Maha mengetahui betapa banyak kedurhakaan kami pada mereka. Maka ampuni kami, ampuni kami, ampuni kedurhakaan kami, ya Allah…Beri kami waktu dan kekuatan untuk berbakti pada mereka yang masih Engkau beri kehidupan.

Ya Allah, seperti juga kami, mereka, orang tua kami, pastilah tak luput dari dosa dan salah. Mereka adalah hamba-hamba-Mu yang lemah, maka ampuni dosa dan salah mereka, ya Allah. Ringankan dan mudahkan jejak langkah perjalanan mereka di dunia dan akhirat. Lapangkan dan terangi alam kubur mereka. Karuniakan kepada kami pertemuan terindah bersama mereka di dalam Jannah-Mu, ya Allah…

Ya Allah sejukkan pandangan kami dengan kesholehan keluarga dan anak-anak kami, jadikanlah mereka pejuang di jalanMu, jadikanlah kami dan mereka sebagai Ahlul Quran, yang Engkau tempatkan sebagai manusia-manusia pilihanMu.

Ya Allah berkahilah dan  tuntunlah para ulama, ustadz,  dan para guru kami yang tak kenal lelah mengajar dan membimbing ummat menggapai ridhaMu, sucikan hati mereka, lapangkan rezki mereka, hindarkan mereka dari setiap marabahaya dan lindungi mereka dari setiap tipu daya dan makar musuh-musuhMu.

Ya Allah, yang Maha perkasa dan Maha kuasa, negeri kami dan negeri-negeri saudara kami kaum muslimin telah diliputi ancaman dan makar yang hebat. Namun tak ada yang dapat mengalahkan keMahaperkasaan-Mu, ya Allah. Lindungilah negeri kami dan negeri-negeri kaum muslimin dari setiap rencana keji dan jahat untuk merusak dan menghancurkannya. Ringankan dan bebaskan penderitaan saudara-saudara kami yang terzhalimi, teraniaya, terampas hak-haknya, dan tertuduh dengan fitnah yang keji, Ya ‘Aziizu Ya Qawiyyu…

Ya Allah, Ya Rabbana… satukanlah kami umat Islam di atas jalan-Mu. Persatukanlah negeri-negeri kaum muslimin untuk selalu seiring memperjuangkan agamaMu. Sadarkanlah para pemimpin negeri kaum muslimin untuk tidak tertipu dan terperdaya oleh genderang tari yang dimainkan oleh musuh-musuh-Mu, ya Allah…

Ya Allah, anugerahkanlah kami pemimpin negeri yang selalu takut hanya padaMu. Tuntunlah langkah mereka untuk memimpin negeri ini dengan panduan Syariat-Mu. Berikan kepada mereka para pengiring dan penasehat yang selalu takut kepadaMu, dan jauhkan mereka dari para pengiring dan penasehat yang keji.

Ya Allah.. bimbinglah kami dan anak istri kami agar senantiasa berada di jalan-Mu, meniti dan menyusurinya hingga bersama di Jannah-Mu

Ya Allah.. satukan hati kami dalam azam perjuangan, dalam setia pada-Mu hingga Engkau ridha pada kami.

Ya Allah.. damaikanlah setiap jiwa – jiwa beriman, satukanlah dalam ukhuwah karena-Mu, jangan biarkan permusuhan mengeram dalam jiwa-jiwa ini Ya Allah.

Ya Allah.. jadikan setiap jengkal negeri ini bersaksi atas Jihad dan perjuangan kami menegakkan Syariat-Mu di atasnya.

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 


Sumber dari: http://wahdah.or.id/