Membatasi dan Mengatur Jarak Kelahiran, Bolehkah?

 

Mengatur Jarak Kelahiran

Membatasi dan Mengatur Jarak Kelahiran, Bolehkah?

Pertanyaan:

Saya dan istri bersepakat untuk mengatur keturunan (kelahiran). Kami tidak memiliki maksud apa-apa melainkan sekadar mengatur jarak (kelahiran), yakni dengan cara istri saya mengkonsumsi pil pencegah kehamilan. Apa hukumnya mengatur keturunan?

Jawaban:
Alhamdulillahi wahdah, Was Shalatu Was Salamu ‘ala Man La Nabiyya ba’dah, amma ba’d;

Pengaturan keturunan (kelahiran) jika untuk maksud yang baik dan dilandasi udzur sya’ri, seperti istri tidak kuat menjalani kehamilan dan persalinan yang jaraknya terlalu rapat, atau istri mengidap suatu penyakit, maka hal itu (mengatur kelahiran) tidak apa-apa (boleh). Namun, bila dilakukan tanpa udzur udzur syar’i, maka kami memandang hendaknya seseorang menyerahkan hal itu kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Karena Dialah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan anak keturunan dan Dia pulalah yang menjamin rezkinya, men-tarbiy-ahnya, dan sebagainya. Oleh karena itu tidak boleh bagai pasangan suami istri mengakhirkan kelahiran tanpa adanya mudharat (yang mengancam) dan tanpa udzur syar’i.

Meskipun sebagian ulama tasahul (bermudah-mudahan) dalam masalah seperti ini, tapi sebenarnya jika ditelusuri lebih jauh tersingkap, bahwa target jangka panjang dari program ini adalah ditujukan kepada ummat Islam, yang pada hakikatnya pembatasan keturunan (Tahdidun Nasl). Kadang tujuan itu dilakukan dengan cara mengatasnamakan pengaturan (jarak kelahiran) dan semacamnya.

Adapun pengaturan tanpa obat-obatan, seperti memilih waktu-waktu tertentu (misal di luar masa subur) untuk bercampur suami-istri, selama tidak menimbulkan mudharat bagi masing-masing; suami atau sitri. Hal ini boleh selama tidak ada maksud membatasi keturunan. Dan seorang istri tidak boleh menolak untuk hamil tanpa udzur syar’i. Wallahu Ta’ala a’la wa a’lam, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhamma wa alihi wa shahbihi ajma’im.

Kesimpulan:

1. Membatasi keturunan hukumya haram, kecuali darurat, seperti istri mengidap penyakit yang membahayakan jiwanya bila hamil dan melahirkan
2. Mengatur kelahiran dibolehkan bila ada udzur syar’i, seperti fisik istri yang tidak kuat bila menjalani kehamilan dengan jarak yang dekat, atau mengidap penyakit tertentu. [sym].

(Sumber: Fatwa Syekh DR. Abdurrhaman al-Mahmud, dalam http://www.almoslim.net/node/52850, diakses tanggal 22 Maret 2016).

Wanita Haid Masuk Masjid Untuk Mendengarkan Ta’lim, Bolehkah?

Wanita Haid Boleh Masuk Masjid?

Wanita Haid  Masuk Masjid Untuk Mendengarkan Ta’lim, Bolehkah?

Pertanyaan:

Bolehkah menyediakan tempat khusus dalam masjid untuk tempat belajar, agar wanita haid dapat masuk masjid untuk belajar atau mengikuti ta’lim?

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Wanita haid tidak boleh masuk masjid dan berdiam di dalamnya, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata, “Kami diperintahkan (oleh Nabi) untuk menguarkan para wanita dan gadis pingitan pada hari Ied agar mereka menyaksikan kebaikan dan yang sedang haid memisah dari tempat shalat”. (Terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Jika pelajaran/ kajian berlangsung di dalam masjid, maka tidak boleh sama sekali bagi wanita haidh masuk ke dalamnya, baik untuk mengajar maupun belajar. Sebaiknya disediakan ruangan atau bangunan khusus untuk tempat wanita haid di luar Masjid. Wallahu a’lam. (Sumber: Fatwa Syekh Dr. Abdul Karim al Khudhair dalam http://www.almoslim.net/node/52127). [sym].

berwasiat

Berwasiat Untuk Dikuburkan di Suatu Tempat, Tapi Ditolak Oleh Pengelola Pemakaman

Pertanyaan:

Seorang pemuda menikah dengan sepupunya dari jalur ibu. Ia meminta (berwasiat, jika meninggal) untuk dikuburkan di pemakaman kakeknya dari jalur ibu. Tapi paman-pamannya dan para sepupunya dari jalur ibu menolak. Mereka menyuruh agar jenazah pemuda tersebut dimakamkan di pekuburan/pemakaman keluarga ayahnya. Apakah ia berhak meminta dikuburkan di pemakaman keluarga ibunya? Apakah para pamannya tersebut berhak melarang dikuburkan di pemakaman keluarga mereka?

Jawab:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بع

Pertama kita tekankan bahwa tidak mengapa (tidak berdosa) seseorang meminta (berwasiat) untuk dikuburkan di suatu tempat tertentu, dan permintaan [wasiat] nya harus ditunaikan. Tentu selama hal itu tidak mengandung masyaqqah (kesulitan). Syekh Ibnu Baz berkata, “Tidak apa-apa seseorang berwasiat untuk dikuburkan di pemakaman tertentu atau di samping (kuburan) seseorang. Karena hal itu kadang di suatu pekuburan terdapat kuburan orang-orang saleh, sehingga ia berharap dikuburkan bersama orang-orang saleh dan baik. Jika seseorang berwasiat seperti itu, maka hal itu tidak mengapa. Dan penerima wasiat harus melaksanakan wasiat tersebut jika mampu melaksanakannya. Namun jika sulit atau tidak mudah merealisasikan wasiat tersebut, karena tidak mampu, atau karena jarak yang jauh dijangkau atau sebab lain, maka tidak perlu menunaikan wasiat tersebut. Hendaknya dikuburkan di pemakaman kaum Muslimin yang ada”.

Adapun masalah khusus seperti yang ditanyakan, maka kembali kepada pengetahuan tentang kondisi pemakaman yang diminta oleh pewasiat. Jika pekuburan tersebut penuh dengan makam paman-pamannya (sebagaimana yang tersirat dari penolakan tersebut), dan paman-pamannya menolak karena sebab tersebut, maka mereka berhak menolak. Sehingga sipewasiat tidak boleh dikuburkan di pemakaman tersebut melainkan dengan idzin para pamannya (dari pihak ibu). Namun jika pemakaman tersebut merupakan Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang merupakan wakaf kepada kaum Muslimin maka mereka tidak berhak menolak dan melarang dikuburkan di tempat tersebut.
Di samping itu ahli waris tidak wajib menunaikan wasiat tersebut, tetapi sifatnya mandub saja sebagai bentuk ihsan (berbuat baik) kepada simayit. (sym)

Sumber: http://fatwa.islamweb.com/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=295222

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Assalamualaikum, Saya ingin bertanya perihal sholat. Apakah hukum sholat tanpa sutrah? Misalnya sholat dengan status masbuk pada shaf kedua tanpa ada sutrah didepannya. Apakah kita harus melangkah ke shaf pertama jika imam sudah salam? Bagaimana statusnya dengan sholat sendiri dengan posisi yang sama? Mohon penjelasannya berhubung masih ragu menentukan sikap.
Dari Hadi – Makassar

📝 Jawaban :

Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Apa Itu Sutrah?

Sutrah adalah pembatas yang digunakan oleh orang yang shalat sendirian atau pada saat menjadi imam agar tidak ada yang melewati di depannya ketika dia sementara shalat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لا تُصَلِّ إلَّا إِلى سُتْرَةٍ، وَلا تَدَعْ أَحَداً يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ
“Jangan kamu shalat kecuali menghadap sutrah dan jangan kamu biarkan seseorang lewat di depanmu…” (HR. Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma)
Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
إذَا صَلّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلى سُتْرَةٍ، وَلْيَدْنُ مِنْهَا، وَلَا يَدَعْ أَحَداً يَمُرُّ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا
“Jika seorang diantara kalian shalat maka hendaknya dia shalat menghadap sutrah dan mendekat ke sutrah tersebut serta jangan dia membiarkan seseorang melewati antara dia dengan sutrahnya…” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Said Al Khudri radhiyallahu anhu)

Para ulama bersepakat tentang disyariatkannya penggunaan sutrah untuk shalat namun mereka berbeda pendapat apakah wajib atau sunnah. Mayoritas ulama fikih mengatakan sunnah dan sebagian ulama menganggapnya sebagai suatu kewajiban. Sebagaimana yang difahami dari penjelasan Ibnu Hazm, Syaukani dan Albani rahimahumullahu jamian.

Karena itu berkaitan dengan pertanyaan pertama apa hukum shalat tanpa sutrah maka jawabannya shalatnya sah namun dikatakan minimal dia telah menyelisihi yang afdhal

Masbuq Tanpa Adanya Sutrah

Berkaitan dengan masbuq yang mau menyempurnakan shalatnya namun tidak ada sutrah di depannya apakah boleh dia melangkah untuk mendapatkan sutrah?.  Hal ini juga diikhtilafkan oleh para ulama kita. Mayoritas ulama memandang tidak perlu dan ada juga sebagian ulama yang membolehkan dengan syarat tidak terlalu banyak gerakan yang dilakukan untuk mendapatkan sutrah tersebut.

Imam Malik mengatakan, “Tidak mengapa bagi masbuq yang menyempurnakan shalatnya setelah imam salam untuk mendekat ke tiang-tiang masjid yang ada di depannya atau kanan dan kirinya atau mundur ke belakang sedikit untuk menghadap sutrah kalau jaraknya dekat. Namun jika dia tidak mendapati sutrah yang dekat maka cukup dia tetap shalat di tempatnya” (Al Jami’ Li Masaail Al Mudawwanah 2/698)

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Aku melihat sebagian pemuda kalau imam telah selesai salam dan dia masih mau menyempurnakan shalatnya beberapa rakaat maka dia melangkah beberapa langkah ke depan agar dia mampu mencegah orang-orang yang mau lewat di depan orang-orang yang masih shalat, apakah perbuatannya ini benar dan apakah langkah-langkahnya itu tidak membatalkan shalatnya?”. Maka beliau rahimahullah menjawab, “Hal itu tidak mengapa insya Allah, langkah-langkah yang tidak banyak pada saat shalat demi mencegah orang-orang lewat tidak mengapa insya Allah jika masih ada sisa shalat yang akan diselesaikannya. Namun demikian jika dia tetap di tempat shalatnya yang semula maka alhamdulillah itu yang lebih utama”
lihat https://www.binbaz.org.sa/noor/5557

Syaikh Utsaimin rahimahullah juga pernah ditanya, “Kadang makmum ketinggalan satu atau dua rakaat lalu ketika imam salam maka makmum tersebut mendapati sutrah cukup jauh sekitar dua atau tiga langkah, apakah boleh baginya melangkah ke depan untuk mendapatkan sutrah tersebut?”. Beliau menjawab, “Yang nampak bagi saya dari perbuatan para sahabat radhiyallahu anhum bahwa masbuq tidak (disyariatkan) membuat sutrah dan dia menyempurnakan shalatnya tanpa sutrah” (Liqo al Bab al Maftuh 30/232) Lihat: https://islamqa. info/ar/116964

Sutrah Jika Shalat Sendiri

Adapun bagi yang shalat sendiri maka sebelum shalat hendaknya mendekat ke tembok atau dinding atau sesuatu yang tinggi dan menjadikannya sebagai sutrah, berdasarkan hadits-hadits yang telah disebutkan sebelumnya dan juga praktek yang dicontohkan oleh para sahabat. Anas bin Malik radhiyallahu anhu menceritakan, “Aku telah melihat para sahabat nabi shallallahu alaihi wasallam bersegera ke tiang-tiang masjid untuk melaksanakan shalat sunnah sebelum Maghrib” (HR. Bukhari). Nafi’ mengatakan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu anhuma selalu shalat menghadap sutrah dan jika beliau tidak mendapat lagi tiang-tiang masjid yang kosong maka beliau berkata ke Nafi’ palingkan tubuhmu untuk aku jadikan punggungmu sebagai sutrah” (Riwayat Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah). Dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah juga disebutkan bahwa Salamah bin Akwa’ radhiyallahu anhu jika sementara berada di gurun lalu beliau ingin shalat maka beliau menegakkan beberapa batu untuk beliau jadikan sutrah dan shalat menghadapnya.
Wallohul Muwaffiq

Dijawab oleh Ustadz Muhammad Yusran Anshar, Lc., MA
📝 Sumber http://wahdah.or.id/hukum-sholat-tanpa-sutrah/

Sogokan

PNS Melalui Sogokan Lalu Bertaubat, Haruskah Mengundurkan Diri?

Pertanyaan:

Bismillaah. Bagaimana hukumnya secara syari’at orang yang lulus PNS karena membayar (sogok) ? Ia sudah 5 tahun berstatus PNS, tapi sudah 3 tahun ini orang tersebut sudah taubat dan berhijrah. Dia sangat-sangat menyesal atas apa yang telah dilakukannya. Menurut syari’at, apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah dia harus berhenti/mengundurkan diri dari pemerintahan ? Mohon petunjuknya.

Dari IS – Makassar

Jawaban:

Dilaknatnya Orang yang Memberi dan Menerima Sogokan

Memberi dan menerima sogokan termasuk perbuatan dosa yang dilaknat, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

Artinya:

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat orang yang memberi dan menerima sogokan. (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani)

Yang dimaksud sogokan (risywah) adalah pemberian harta dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya seperti menyogok hakim agar ia dapat memenangkan sebuah perkara yang bukan haknya atau menyogok seorang pejabat yang berwenang untuk memprioritaskan dirinya dibanding yang lain. Termasuk sogok juga memberikan sesuatu kepada seseorang yang bukan haknya.

Menyogok dengan tujuan mendapatkan pekerjaan, seperti PNS dan atau yang lainnya termasuk dalam kategori ini. Karena secara umum semua pelamar yang memenuhi persyaratan memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Kecuali jika kesempatan tersebut merupakan hak seseorang melebihi dari hak orang lain dalam artian dialah yang paling berhak dan memenuhi persyaratan untuk pekerjaan tersebut dan ia tidak mampu mendapatkannya kecuali dengan sogokan, maka dalam hal ini yang berdosa adalah pihak yang menerima sogokan tersebut.

Bertaubat dari Perkara Sogokan / Risywah

Alhamdulillah jika anda sudah bertaubat dan memperbaiki diri lebih baik dan menyadari kesalahan ini, maka perbanyaklah memohon ampun (istighfar) atas kesalahan ini disertai dengan banyak melakukan amal shalih lainnya. Semoga dengannya Allah mengampuni dosa tersebut.

Adapun meninggalkan/mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut maka hal ini tidak perlu dilakukan selama anda dapat menunaikan pekerjaan tersebut dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Namun jangan menjadi jalan bagi yang lain dengan anggapan bahwa rezki yang didapat adalah rezki yang halal meskipun didapat dari sogokan, karena yang didapat bukan dari cara yang benar, lalu Anda mengatakan nanti saya bertaubat. Ini adalah sikap yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang muslim, karena boleh jadi sebelum dia bertaubat, Allah lebih dahulu mencabut nyawanya. Wallahu a’lam. [ed:sym]

Dijawab Oleh Ustadz Ahmad Hanafi DY, Lc, M.A

Sumber : http://wahdah.or.id/menjadi-pns-melalui-sogokan-lalu-bertaubat-haruskah-mengundurkan-diri/

Amal Shaleh yang Ditekankan Pada 10 Hari Awal Dzulhijjah

Assalamu’alaikum wrwb ustadz, tanya amaliyah apa saja yg sy harus lakukan di bln dzulhijjah menurut alqur’an wa assunnah. Syukron.

Jawaban :

walaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Amal Shaleh yang Ditekankan Pada 10 Hari Awal Dzulhijjah

Pada dasarnya semua amal shaleh dianjurkan untuk diperbanyak dan ditingkatkan pada sepuluh hari prtama bulan zulhijjah. Berdasarkan keumuman hadits Rasulullah shallallah ‘alaiahi wa sallam, “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah”, (HR. Bukhari), dan “Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari pertama ini” (HR. Ahmad).

Namun ada beberapa amal shaleh yang secara spesifik dikaitkan dengan bulan Dzulhijjah atau sepuluh hari pertama pada bulan ini, seperti shiyam (puasa), haji dan umrah, kurban, serta dzikir berupa tahlil, tahmid, dan takbir.

Haji dan Umrah

Bulan Dzulhijjah identik dengan ibadah haji dan umrah. Karena pelaksanaan ibadah ini (haji) terikat dengan masalah waktu, yakni bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu haji merupakan amalan paling utama di bulan ini.

Haji merupakan rukun Islam kelima bagi yang mampu. Ia diwajibkan sekali dalam seumur hidup. Keutamaanya dijelaskan dalam banyak hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan; “Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). Dalam hadits lain beliau menyebut haji sebagai amalan paling afdhal (HR. Bukhari). Haji juga dapat menghilangkan kefakiran dan dosa. Rasul bersabda, “Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih).

Kurban

Selain ibadah haji dan umrah, ibadah lain yang diidentikkan dengan bulan dzulhijjah adalah kurban. Karena ibadah ini hanya diperintahkan pada bulan dzulhijjah. Perintah berkurban dinyatakan oleh Allah dalam surah al-Kautsar ayat 2; “dan shalatlah karena Tuhanmu serta menyembelilah”. Makna fanhar (menyembelilah) dalam ayat ini adalah sembelilah hewan kurban sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah yang banyak kepadamu.

Hukum ibadah kurban adalah sunnah muakkadah. Namun yang mampu ditekankan untuk berkurban. Bahkan Nabi melarang orang mampu yang tidak berkurban untuk mendekati tempat shalat beliau pada hari ‘ied. Beliau mengatakan;

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ, فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا” – رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَه, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ, لَكِنْ رَجَّحَ اَلْأَئِمَّةُ غَيْرُهُ وَقْفَه ُ

Siapa yang memiliki kemampuan tetapi tidak berkurban makan jangan mendekati tempat shalat kami”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al-Hakim).

Takbir, Tahmid, dan Tahlil

Amalan yang juga ditekankan pada hari-hari yang mulia ini adalah memperbanyak tahlil (ucapan La Ilaha Illallah), tahmid (alhamdulillah), dan takbir (Allah Akbar). Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan hadits Nabi tentang hal ini.

ما من أيام أعظم عند الله سبحانه ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر , فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد .

Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari pertama ini. Maka pada hari hari itu perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid” (HR. Ahmad dalam Musnad dan Ath Thabrany dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan secara mu’allaq (tanpa menyebutkan sanad) bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum pernah keluar ke pasar pada 10 hari pertama Dzulhijjah, lalu mereka berdua bertakbir, lantas orang-orang turut bertakbir bersama mereka. Muhammad bin Ali pun bertakbir setelah shalat.

Selain dzikir dengan membaca tahlil, tahmid, dan takbir dianjurkan pula memperabnyak dzikir-dzikir yang lain. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Berdzikirlah pada hari-hari yang ditentukan, yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dan hari-hari tasyriq [11-13 Dzulhijjah]”. (HR. Bukhari secara mu’allaq).

Puasa

Diriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah, sebagaimana dituturkan oleh sebagian istri beliau;

أَنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَتِسْعًا مِنْ ذِى الْحِجَّةِ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهْرِ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura, pada sembilan hari Dzulhijjah, dan pada tiga hari dalam sebulan: senin awal dari bulan (berjalan) dan dua kamis.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, dan Al-Baihaqy serta dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Jika tak dapat puasa sembilan hari, minimal memperbanyak puasa pada hari-hari tersebut. Jika tidak dapat dan tidak sempat sama sekali, maka jangan sampai ketinggalan dari puasa hari ‘Arafah. Keutamaan puasa Arafah dapat menghapus dosa selama dua tahun, sbagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam Beliau bersabda;

صوم يوم عرفة يكفر سنتين, ماضية ومستقبلة

Puasa ‘Arafah menghapus dosa dua tahun, yakni tahun lalu dan tahun mendatang”, . . (HR. Ahmad dan Nasai).

Amal Shaleh Lainnya

Selain amalan yang disebutkan di atas hendaknya memperbanyak pula amalan-amalan yang lain. Hal ini berdasarkan keumuman hadits Nabi tentang keagungan dan kecintaan Allah terhadap amal shaleh yang dikerjakan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini. Diantara amal shaleh yang perlu mendapat perhatian seperti menjaga shalat berjama’ah di awal waktu, membaca dan menelaah al-Qur’an, bersedekah, menghadiri majelis ilmu, berda’wah, menjaga shalat sunnah, memelihara akhlaq dan adab Islami, dan sebagainya. Wallahul muwaffiq ilal ‘ilmin nafi’ wal ‘amalis Shalih. (sym).

Zakat Manfaat

ZAKAT PERDAGANGAN

Seorang pedagang hendaknya menghitung jumlah nilai barang dagangan dg harga asli lalu digabungkan dg keuntungan bersih setelah dipotong piutang.
KADAR ZAKAT 2,5%.

Modal tetap tidak wajib dizakati seperti gedung, perkakas, dan alat operasional perdagangan.

Contoh : Seorang pedagang menjumlah barang dagangan di akhir tahun, dg jumlah total Rp 200Jt dan laba bersih sebesar Rp 50Jt sementara hutang Rp 100Jt.

Modal dikurangi hutang : Rp 200Jt-Rp100Jt = Rp 100Jt

Jumlah Harta Zakat : Rp 100Jt + Rp 50Jt = Rp 150Jt

Zakatnya : Rp 150Jt X 2,5% = Rp 3.750.000,-

LAZIS Wahdah Jakarta
“Melayani dan Memberdayakan”

Konsultasi Zakat :
082315900900 (call/wa/sms)

Sumber : Panduan Zakat

⁠⁠⁠TANYA JAWAB SEPUTAR QURBAN

⁠⁠⁠TANYA JAWAB SEPUTAR QURBAN

1. Daging sapi kurban harus dibagi 7?
JAWAB: Tidak harus dibagi tujuh, bisa satu orang, atau dua, maksimal tujuh orang untuk satu sapi

2. Apakah yang berkurban boleh makan daging kurbannya?
JAWAB: Boleh, bahkan disunnahkan

3. Kalau boleh, berapa bagian yang bisa diambil oleh yang berkurban?
JAWAB: Tidak ada ukuran tertentu, boleh sepertiga sebagaimana amalan sebagian sahabat

4. Siapa saja yang berhak mendapatkan daging kurban?
JAWAB: Pemilik kurban, fakir miskin dan boleh diberikan kepada orang yang mampu sebagai hadiah

5. Bagaimana cara pembagian daging kurban?
JAWAB: Boleh dibagi tiga, sepertiga untuk pemilik kurban, sepertiga untuk fakir miskin dan sepertiga hadiah untuk siapa yang diinginkan walaupun orang yang tergolong mampu

6. Panitia kurban dapat bagian daging kurban?
JAWAB: Boleh diberikan sebagai sedekah kalau miskin atau hadiah kalau orang yang mampu, TIDAK BOLEH diberikan sebagai upah kepanitiaan

7. Daging kurban bisa dimasak dulu baru dibagi atau memanggil keluarga / tetangga untuk makan?
JAWAB: Kedua-duanya boleh

Wallaahu a’lam

Dijawab oleh tim Dewan Syari’ah Wahdah Islamiyah

Hijab

Batasan Hijab Wanita

HIJAB WANITA

Soal Ke-130
💌 Tanya Ustad 💌

📩PERTANYAAN📩
Bismillah..
Mohon diberikan penjelasan dan landasan hukumnya baik berdasar Alquran maupun Hadist mengenai keharusan seorang muslimah menggunakan hijab syar’i.
syukron ustad
aedy moward#serpong#bii55

📌JAWABAN📌
Bismillaah,,
Untuk menjawab pertanyaan anda dibutuhkan satu pembahasan khusus, dan ini lah salah satu pembahasan ringkas tentang hijab wanita muslimah, yang disadur dari: http://markazinayah.com/hijab-wanita.html , selamat membaca:

Hijab Wanita

🌱 Harga diri dan kemuliaan seorang wanita sangat bernilai dalam pandangan Islam. Ini tergambarkan begitu jelas dalam tujuan dan misi utama Islam; yaitu tuntunan yang datang untuk menyelamatkan agama [aqidah dan syariat], jiwa, harta, akal, dan harga diri [kehormatan] umat manusia.
Demi menjaga harga diri seorang wanita, Islam telah menetapkan beberapa batasan dan aturan yang sesuai dengan fitrahnya. Artinya, ketika seorang wanita keluar dari batasan-batasan Allah ini, maka pada dasarnya ia telah menentang fitrah penciptaannya dan pasti akan berakibat fatal pada harga diri dan agamanya.

🌱 Di antara aturan Islam tersebut adalah: Menjauhi segala perbuatan yang bisa menjerumuskan seseorang dalam hubungan haram, maksiat zina, dan pelecehan harga diri seorang wanita. Selain pacaran dan berdua-duaan dengan laki-laki bukan mahram, perbuatan yang bisa menjerumuskan seseorang dalam perbuatan nista ini adalah menanggalkan hijab atau pakaian yang menutup seluruh aurat dan perhiasan yang dipakainya. Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang [biasa] tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” [QS. An-Nur: 31].

Sebagai seorang muslimah, hijab merupakan penjaga harga diri dan potret kemuliaannya. Dengannya ia lebih dikenal sebagai wanita yang memiliki identitas muslimah sejati serta bisa menjaga aurat dan menutup pintu kenistaan atas dirinya.

🌱 Ini salah satu di antara sekian hikmah hijab yang disyariatkan oleh Allah sebagaimana firmanNya:

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” [QS. Al-Ahzab: 59].

Kandungan ayat ini sangat jelas bahwa fungsi dan hikmah dari hijab adalah untuk menghindari terjadinya dosa dan fitnah yang mengancam kehormatan dan harga diri kaum wanita. Oleh sebab itu, hijab dan menutup aurat secara sempurna merupakan suatu kewajiban yang harus diperhatikan oleh setiap muslimah. Ayat di atas juga menegaskan bahwa memakai hijab bukanlah suatu kewajiban dan amanah semata, namun ia juga merupakan suatu anugerah yang patut disyukuri oleh setiap kaum muslimah.

🍂 Perlu diperhatikan bahwa hijab dan pakaian penutup aurat ini memiliki kriteria yang diatur secara jelas dalam al-Quran dan sunnah. Di antara kriteria tersebut adalah:

•1. Menutupi seluruh aurat.
Dalam perkara aurat ini, para ulama berbeda dalam dua pendapat.

Pendapat pertama: menyatakan bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya, sebab itu ia diwajibkan memakai hijab yang bisa menutup seluruh tubuhnya tanpa terkecuali.

Pendapat kedua: menyatakan bahwa wajah dan telapak tangan bukan termasuk aurat, sehingga menutup keduanya adalah sunah. Namun perlu diketahui, pendapat yang kedua ini tidak memutlakkan bolehnya menampakkan wajah dan telapak tangan begitu saja, sebab pendapat ini mensyaratkan bolehnya menampakkan keduanya kalau tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah dan menjadi objek pandangan kaum laki-laki.

•2. Pakaiannya longgar dan tidak ketat, juga tebal dan tidak tipis agar tidak menampakkan lekuk dan bentuk tubuh.
Rasulullah telah mengancam para wanita yang memakai pakaian tipis dan ketat dalam sabda beliau:
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌمُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya; yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi untuk memukuli manusia, dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang [baik karena tipis atau pendek sehingga tidak menutup auratnya], berlenggak-lenggok [ketika berjalan agar diperhatikan orang], kepala mereka seperti punuk unta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya bisa didapati dari jarak perjalanan demikian dan demikian.” [HR. Muslim].

•3. Warnanya tidak terlalu mencolok dan tidak memuat hiasan.
Karena hal yang demikian ini bisa menarik perhatian kaum laki-laki. Alangkah baiknya memilih warna yang gelap atau warna lain yang tidak terlalu mencolok.

•4. Tidak memakai wewangian yang menyengat ketika keluar rumah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِيَ زَانِيَة
“Setiap wanita yang memakai wewangian lalu keluar melewati suatu kaum [laki-laki] agar mereka bisa mencium bau wanginya, maka ia laksana penzina.” [HR. Abu Dawud, hasan].

Jika kriteria hijab ini tidak terpenuhi, maka ia merupakan pakaian berlabel tabarruj jahiliah [berpakaian ala kaum jahiliah] dan hal ini telah dilarang oleh Allah Ta’ala:
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan RasulNya.” [QS. Al-Ahzab: 33].
Ayat ini juga menjelaskan bahwa seorang muslimah seharusnya menetap di dalam rumah dan tidak keluar kecuali untuk suatu hajat atau keperluan, sebab banyak keluar tanpa ada alasan tepat merupakan sikap wanita jahiliah sebagaimana halnya menampakkan aurat dan perhiasan di hadapan lawan jenis yang bukan mahram.

🍂 Syariat yang diturunkan Allah pasti memiliki suatu hikmah dan manfaat yang sangat besar, sebab Allah tidak mewajibkan suatu amalan kecuali amalan tersebut memiliki maslahat dan manfaat yang besar dan pasti. Demikian halnya dengan hijab ini. Di antara maslahat itu ialah:

•1. Menjaga aurat, harga diri, dan kemuliaan seorang wanita. Dengan hijab identitas dirinya sebagai muslimah sejati bisa terjaga, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Dengan berjilbab pula wanita bisa menjauhi tempat-tempat maksiat, dan terhindar dari pelecehan seksual.

•2. Menyelamatkan seorang wanita dari azab neraka yang disebutkan dalam hadits-hadits di atas. Siksa Allah amatlah pedih. Jangan sampai kita mengira bahwa tubuh kita akan kuat menahan siksaNya.

•3. Hijab merupakan ibadah yang mudah dan ringan, namun mendatangkan cinta dan ridha Allah Ta’ala. Allah berfirman dalam hadits qudsi:
“HambaKu tidak mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatupun yang lebih Kucintai daripada apa yang Aku wajibkan.” [HR. Bukhari].

•4. Menyerupai sifat bidadari surga yang senantiasa menjaga dan menutup dirinya, serta tidak memandang atau menampakkan aurat dan perhiasannya kecuali kepada suami-suami mereka. Dengan hijab seorang wanita bisa menjadi seorang ratu bidadari surga.

•5. Hijab salah satu tanda kesalehan dan menambah aura kecantikan baik secara lahir ataupun batin. Dengannya ia bisa berteman dengan wanita-wanita muslimah yang salehah. Bahkan bisa mendatangkan jodoh yang saleh pula. Dalam ayat al-Quran disebutkan:
“Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik [pula].” [QS. An-Nur: 26].

 

✏ Dijawab oleh Ustad Maulana La Eda, Lc. Hafizhahullah
(Mahasiswa S2 Jurusan Ilmu Hadis, Universitas Islam Madinah)

🍀Grup WA Belajar Islam Intensif🍀

 

Gabung Grup BII
Ketik BII#Nama#L/P#Daerah
Kirim via WhatsApp ke:
📱 +628113940090

👍Like FP Belajar Islam Intensif
👍Follow instagram belajar.islam.intensif
🌐 www.belajarislamintensif.com

🍀Belajar Islam Intensif🍀

Fenomena Hilangnya Janin dari Perut Ibunya dalam Islam

Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokaatuh..

‘Afwan ustadz mau tanya..

Biasakan ada janin yang tiba-tiba hilang dari perut ibunya (bukan karena keguguran atau apapun itu), tiba-tiba saja hilang. Kalau orang bilang katanya bayinya melayang naik atas langit. Bagaimana hukumnya dalam Islam ? Atau bagaimana Islam memandang ini ustadz ? Syukron

mariana – makassar

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Dalam pandangan medis tidak diakui adanya bayi atau janin yang hilang tanpa ada sebab yang jelas. Biasanya analis medis menyatakan bahwa kasus demikian terjadi hanya pada kandungan semu yang lumrah dikenal dengan hamil anggur yang kelihatan hamil tetapi sebetulnya tidak hamil. Analisa ini tentu dapat diterima bilamana sang ibu tidak dapat memastikan bahwa dalam rahimnya benar-benar janin manusia. Namun apabila sang ibu dapat memastikan bahwa dalam rahimnya benar-benar janin manusia. Misalnya dengan gerakan, atau tendangan yang dirasakannya, atau hasil USG atau indikasi lain yang meyakinkan. Jika kondisinya seperti itu lalu bayinya menghilang tanpa sebab yang jelas maka Islam memandang hal itu sebagai sesuatu yang tidak mustahil. Hal demikian dapat saja terjadi dengan kehendak Allah Ta’ala.

Tindakan preventif yang perlu dilakukan oleh pasangan suami istri adalah senantiasa berdo’a sebelum melakukan aktifitas jima’ agar dapat menghindari gangguan jin atau setan yang dapat menggugurkan atau menghilangkan janin dari rahim ibunya dengan izin Allah. Nabi bersabda:

« لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ، فَقَالَ: بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا».

Sekiranya salah seorang di antara kalian, apabila ingin berjima’ dengan istrinya terlebih dahulu membaca: *”Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah setan dari kami dan jauhkan setan dari anak yang Engkau anugrahkan kepada kami”,* apabila kedua pasangan tersebut dikaruniai anak niscaya setan tidak dapat mengganggunya untuk selama. Anak tersebut akan terjaga akal dan pisiknya setelah lahir dan pada saat masih dalam rahim ibunya. Ia juga tidak diseret oleh setan ke dalam kekufuran menurut sebagian ulama seperti al-Qasthallani.

Beberapa praktisi ruqyah syar’iyah juga mengakui beberapa kasus gangguan janin berupa keguguran atau halangan hamil akibat dari ganggun jin atau setan yang biasa diistilahkan dengan “tabi’ah” atau “ummu shibyan” yang beraksi terutama di awal-awal masa kehamilan. Selain berdo’a sebelum melakukan aktifitas jima’, sang ibu juga harus senantiasa menjaga ibadah-ibadahnya, terutama shalat lima waktu. Juga harus rutin membaca zikir pagi dan petang, zikir dan wirid sebelum tidur agar gangguan jin dan setan dapat terhindarkan.

✍ Dijawab oleh ust. Salahuddin Guntung, Lc, M.A

(Mahasiswa Program Doktoral Konsentrasi Aqidah dan Pemikiran Kontemporer, King Saud University Riyadh)

➡ Sumber 👉 http://wahdah.or.id/fenomena-janin-yang-tiba-tiba-hilang-dari-perut-ibunya/