Tanya Jawab Fiqh Puasa [02]:  Mengkonsumsi Pil Pencegah Haid Agar Dapat Berpuasa, Bolehkah?

Tanya Jawab Fiqh Puasa [02]:  Mengkonsumsi Pil Pencegah Haid Agar Dapat Berpuasa, Bolehkah?

Pertanyaan:

Saya ingin bertanya jika seorang perempuan menahan datangnya haid di bulan puasa (dengan sengaja menghentikan agar haid tidak keluar) agar bisa berpuasa penuh di bulan Romadhon. Dosakah cara yang dilakukan itu? Mohon jawabannya. (Solichah Munari).

Jawaban:

Pertama,

Pada dasarnya haid merupakan  ketentuan Allah yang ditetapkan kepada wanita, sebagaimana di dalam hadits,

هَذَا شَيْءٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ

Ini adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah pada anak-anak wanita Adam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, maka hendaknya setiap wanita  muslimah menerima kenyataan dan ketetapan tersebut  sepenuh hati. Adapun ibadah dan amal shaleh  yang tidak terlaksana karena haid maka Allah yang maha pengasih dan penyayang serta maha adil telah menetapkan rukhshah (keringanan) bagi wanita untuk meninggalkan ibadah-ibadah tertentu saat haid.

Sehingga tidak perlu merasa berdosa jika luput dari suatu amalan karena sebab yang telah ditetapkan oleh Allah berupa rukhshah. Karena rukhshah tersebut merupakan sedekah dari Allah Ta’ala.  Sebagaimana dalam hadits;

“(Rukhsah) itu adalah sedekah yang diberikan Allah Subhanahu WaTa’ala kepada kalian. Maka terimalah sedekah-Nya.” (HR Muslim).

Dengan  menjalankan rukhsah berarti menerima hadiah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala berupa kemudahan yang diberikan kepada kaum wanita.

Kedua,

Adapun mengkonsumsi obat atau pil penunda haid agar dapat berpuasa Ramadhan beberapa ulama membolehkan jika hal itu tidak menimbulkan mudharat, resiko, dan gannguan bagi kesehatan dan alat reproduksi baik sementara maupun permanen.

Syaikh Bin Baz rahimahullah mengatakan;

“Tidak masalah bagi wanita untuk menggunakan obat pencegah haid, menghalangi datang bulan selama bulan Ramadhan, agar dia dapat   berpuasa bersama kaum muslimin lainnya… dan jika ada cara lain selain konsumsi obat untuk menghalangi terjadinya haid, hukumnya boleh, selama tidak ada hal yang dilarang syariat dan tidak berbahaya.”

Artinya mempertimbangkan aspek maslahat dan manfaatnya serta aman dari mudharat dan resiko sangat dianjurkan.  Sehingga jika mengandung mudharat bagi tubuh wanita, mengkonsumsi obat pencegah haid sebaiknya tidak dilakukan.

Karena pil tersebut bersifat hormonal yang mungkin memengaruhi hormon yang  membuat siklus haid tidak teratur dan dikhawatirkan merusak sistim reproduksi serta efek samping lainnya seperti; Insomnia, rontok rambut, menambah berat badan, depresi, pusing,  perubahan libido, perubahan siklus menstruasi, sakit kepala dan mual, bahkan bisa menyebabkan kemandulan.

Oleh karena itu sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli guna menghindari mudharat dan resiko yang mungkin timbul akibat mengkonsumsi pil pencegah haid tersebut.

Ketiga,

Meskipun wanita tidak berpuasa pada bulan Ramadhan karena haidh, namun masih banyak pintu kebaikan lain yang dapat dimasuki  untuk tetap  beribadah dan menuai pahala di bulan Ramadhan. Di antaranya :

  • Memperbanyak  do’a dan dzikir.
  • Memperbanyak shadaqah dan infak,
  • Memberi makan dan minum serta suguhan buka puasa,
  • Membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf,  boleh dengan menggunakan media elektronik seperti ponsel, tablet, komputer, atau Al-Qur’an digital lainnya.
  • Mengikuti kajian keislaman dan membaca buku-buku islami.
  • Berbakti kepada kedua orangtua dan suami, Dan sebagaianya. [sym].

Tanya Jawab Fiqh Puasa [01]: Qadha Puasa Dua Hari Sebelum Ramadhan

Qadha Puasa

Tanya Jawab Fiqh Puasa [01]: Qadha Puasa Dua Hari Sebelum Ramadhan

Pertanyaan:

Saya ingin meminta penjelasan, saya pernah membatalkan puasa pada Ramadhan yang lalu. Saya berbuka sehari dan mengqadhanya dua hari sebelum Ramadhan tahun ini. Apakah hal ini boleh atau tidak?

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد

Bila anda berbuka (membatalkan puasa) tanpa udzur, maka anda telah melakukan satu dosa besar yang mengharuskan anda bertaubat nashuha kepada Allah dan menyesali dosa yang buruk tersebut serta berazam untuk tidak mengulanginya, karena berbuka (membatalkan puasa) pada bulan Ramadhan tanpa ‘udzur merupakan dosa besar. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berkata, “Siapa yang sengaja membatalkan puasanya tanpa udzur, maka hal itu termasuk dosa besar”. Bahkan Imam Adz-Dzahabi secara tegas mengatakan bahwa orang yang meninggalkan puasa Ramadhan tanpa udzur, sakit, atau sebab lain, maka ia lebih buruk dari pezina, penipu, dan peminum khamar, bahkan diragukan keislamannya.

Selain itu anda wajib meng-qadha (ganti) puasa yang batal tersebut. Jika anda batal dengan berhubungan suami istri, maka selain qadha anda juga harus membayar kaffarat. Kaffaratnya adalah memerdekakan seorang budak. Bila tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu maka memberi makan kepada 60 orang miskin.

Adapun bila anda berbuka (membatalkan puasa) karena udzur yang dibenarkan syariat seperti safar atau sakit maka aanda tidak berdosa. Tapi anda harus meng-qadha sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Bila anda telah melakukan hal itu maka beban anda telah selesai dan tidak ada kewajiban yang lain (selan qadha). Dan tidak masalah bila meng-qadhanya dua hari sebelum Ramadhan, dan hal ini bertentangan dengan larangan Nabi mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari dan atau dua hari sebelumnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan (rukhshah); boleh berpuasa bagi yang melakukan puasa dengan alasan atau sebab yang jelas seperti yang terbiasa puasa sunnah. Karena tidak boleh berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan, “Kecuali bagi yang terbiasa puasa, hendaknya ia tetap berpuasa”. (Muttafaq ‘alaihi).

Bila boleh berpuasa tathawwu’ (sunnah), maka puasa Fardhu lebih boleh lagi. Ibn Hajar berakata dalam Fathul Bari, “Makna pengecualian (dalam hadits tersebut) bahwa siapa yang memiliki kebiasaan rutin dibolehkan berpuasa kaerena ia telah terbiasa berpuasa, sehingga puasanya tidak dianggap mendahului puasa Ramadhan. Disamakan dengan hal itu puasa Qadha dan nadzar karena hukumnya wajib. Sebagian ulama berkata, “Dikecualikan (boleh puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan) puasa qadha dan nadzar. Kebolehan hal itu berdasarka dalil-dalil qath’i tentang wajibnya menunaikan keduanya. Sehingga dalil qath’i tidak dibatalkan oleh dalil dzan”. (sym).
Sumber: http://fatwa.islamweb.net/, Fatwa No. 126807, 120929, & 1104

Berwasiat Untuk Dimakamkan di Suatu Tempat, Tapi . . .

Berwasiat Untuk Dimakamkan di Suatu Tempat, Tapi . . .

Pertanyaan:

Seorang pemuda menikah dengan sepupunya dari jalur ibu. Ia meminta (berwasiat, jika meninggal) untuk dikuburkan di pemakaman kakeknya dari jalur ibu. Tapi paman-pamannya dan para sepupunya dari jalur ibu menolak. Mereka menyuruh agar jenazah pemuda tersebut dimakamkan di pekuburan/pemakaman keluarga ayahnya. Apakah ia berhak meminta dikuburkan di pemakaman keluarga ibunya? Apakah para pamannya tersebut berhak melarang dikuburkan di pemakaman keluarga mereka?

Jawab:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد

Pertama kita tekankan bahwa tidak mengapa (tidak berdosa) seseorang meminta (berwasiat) untuk dikuburkan di suatu tempat tertentu, dan permintaan [wasiat] nya harus ditunaikan. Tentu selama hal itu tidak mengandung masyaqqah (kesulitan). Syekh Ibnu Baz berkata, “Tidak apa-apa seseorang berwasiat untuk dikuburkan di pemakaman tertentu atau di samping (kuburan) seseorang. Karena hal itu kadang di suatu pekuburan terdapat kuburan orang-orang saleh, sehingga ia berharap dikuburkan bersama orang-orang saleh dan baik. Jika seseorang berwasiat seperti itu, maka hal itu tidak mengapa. Dan penerima wasiat harus melaksanakan wasiat tersebut jika mampu melaksanakannya. Namun jika sulit atau tidak mudah merealisasikan wasiat tersebut, karena tidak mampu, atau karena jarak yang jauh dijangkau atau sebab lain, maka tidak perlu menunaikan wasiat tersebut. Hendaknya dikuburkan di pemakaman kaum Muslimin yang ada”.

Adapun masalah khusus seperti yang ditanyakan, maka kembali kepada pengetahuan tentang kondisi pemakaman yang diminta oleh pewasiat. Jika pekuburan tersebut penuh dengan makam paman-pamannya (sebagaimana yang tersirat dari penolakan tersebut), dan paman-pamannya menolak karena sebab tersebut, maka mereka berhak menolak. Sehingga sipewasiat tidak boleh dikuburkan di pemakaman tersebut melainkan dengan idzin para pamannya (dari pihak ibu). Namun jika pemakaman tersebut merupakan Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang merupakan wakaf kepada kaum Muslimin maka mereka tidak berhak menolak dan melarang dikuburkan di tempat tersebut.

Di samping itu ahli waris tidak wajib menunaikan wasiat tersebut, tetapi sifatnya mandub saja sebagai bentuk ihsan (berbuat baik) kepada simayit.

Sumber: http://fatwa.islamweb.com/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=295222. [sym].

Membatasi dan Mengatur Jarak Kelahiran, Bolehkah?

 

Mengatur Jarak Kelahiran

Membatasi dan Mengatur Jarak Kelahiran, Bolehkah?

Pertanyaan:

Saya dan istri bersepakat untuk mengatur keturunan (kelahiran). Kami tidak memiliki maksud apa-apa melainkan sekadar mengatur jarak (kelahiran), yakni dengan cara istri saya mengkonsumsi pil pencegah kehamilan. Apa hukumnya mengatur keturunan?

Jawaban:
Alhamdulillahi wahdah, Was Shalatu Was Salamu ‘ala Man La Nabiyya ba’dah, amma ba’d;

Pengaturan keturunan (kelahiran) jika untuk maksud yang baik dan dilandasi udzur sya’ri, seperti istri tidak kuat menjalani kehamilan dan persalinan yang jaraknya terlalu rapat, atau istri mengidap suatu penyakit, maka hal itu (mengatur kelahiran) tidak apa-apa (boleh). Namun, bila dilakukan tanpa udzur udzur syar’i, maka kami memandang hendaknya seseorang menyerahkan hal itu kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Karena Dialah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan anak keturunan dan Dia pulalah yang menjamin rezkinya, men-tarbiy-ahnya, dan sebagainya. Oleh karena itu tidak boleh bagai pasangan suami istri mengakhirkan kelahiran tanpa adanya mudharat (yang mengancam) dan tanpa udzur syar’i.

Meskipun sebagian ulama tasahul (bermudah-mudahan) dalam masalah seperti ini, tapi sebenarnya jika ditelusuri lebih jauh tersingkap, bahwa target jangka panjang dari program ini adalah ditujukan kepada ummat Islam, yang pada hakikatnya pembatasan keturunan (Tahdidun Nasl). Kadang tujuan itu dilakukan dengan cara mengatasnamakan pengaturan (jarak kelahiran) dan semacamnya.

Adapun pengaturan tanpa obat-obatan, seperti memilih waktu-waktu tertentu (misal di luar masa subur) untuk bercampur suami-istri, selama tidak menimbulkan mudharat bagi masing-masing; suami atau sitri. Hal ini boleh selama tidak ada maksud membatasi keturunan. Dan seorang istri tidak boleh menolak untuk hamil tanpa udzur syar’i. Wallahu Ta’ala a’la wa a’lam, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhamma wa alihi wa shahbihi ajma’im.

Kesimpulan:

1. Membatasi keturunan hukumya haram, kecuali darurat, seperti istri mengidap penyakit yang membahayakan jiwanya bila hamil dan melahirkan
2. Mengatur kelahiran dibolehkan bila ada udzur syar’i, seperti fisik istri yang tidak kuat bila menjalani kehamilan dengan jarak yang dekat, atau mengidap penyakit tertentu. [sym].

(Sumber: Fatwa Syekh DR. Abdurrhaman al-Mahmud, dalam http://www.almoslim.net/node/52850, diakses tanggal 22 Maret 2016).

Wanita Haid Masuk Masjid Untuk Mendengarkan Ta’lim, Bolehkah?

Wanita Haid Boleh Masuk Masjid?

Wanita Haid  Masuk Masjid Untuk Mendengarkan Ta’lim, Bolehkah?

Pertanyaan:

Bolehkah menyediakan tempat khusus dalam masjid untuk tempat belajar, agar wanita haid masuk masjid untuk belajar atau mengikuti ta’lim?

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Wanita haid tidak boleh masuk masjid dan berdiam di dalamnya, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata, “Kami diperintahkan (oleh Nabi) untuk menguarkan para wanita dan gadis pingitan pada hari Ied agar mereka menyaksikan kebaikan dan yang sedang haid memisah dari tempat shalat”. (Terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Jika pelajaran/ kajian berlangsung di dalam masjid, maka tidak boleh sama sekali bagi wanita haidh masuk ke dalamnya, baik untuk mengajar maupun belajar. Sebaiknya disediakan ruangan atau bangunan khusus untuk tempat wanita haid di luar Masjid. Wallahu a’lam. (Sumber: Fatwa Syekh Dr. Abdul Karim al Khudhair dalam http://www.almoslim.net/node/52127). [sym].

berwasiat

Berwasiat Untuk Dikuburkan di Suatu Tempat, Tapi Ditolak Oleh Pengelola Pemakaman

Pertanyaan:

Seorang pemuda menikah dengan sepupunya dari jalur ibu. Ia meminta (berwasiat, jika meninggal) untuk dikuburkan di pemakaman kakeknya dari jalur ibu. Tapi paman-pamannya dan para sepupunya dari jalur ibu menolak. Mereka menyuruh agar jenazah pemuda tersebut dimakamkan di pekuburan/pemakaman keluarga ayahnya. Apakah ia berhak meminta dikuburkan di pemakaman keluarga ibunya? Apakah para pamannya tersebut berhak melarang dikuburkan di pemakaman keluarga mereka?

Jawab:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بع

Pertama kita tekankan bahwa tidak mengapa (tidak berdosa) seseorang meminta (berwasiat) untuk dikuburkan di suatu tempat tertentu, dan permintaan [wasiat] nya harus ditunaikan. Tentu selama hal itu tidak mengandung masyaqqah (kesulitan). Syekh Ibnu Baz berkata, “Tidak apa-apa seseorang berwasiat untuk dikuburkan di pemakaman tertentu atau di samping (kuburan) seseorang. Karena hal itu kadang di suatu pekuburan terdapat kuburan orang-orang saleh, sehingga ia berharap dikuburkan bersama orang-orang saleh dan baik. Jika seseorang berwasiat seperti itu, maka hal itu tidak mengapa. Dan penerima wasiat harus melaksanakan wasiat tersebut jika mampu melaksanakannya. Namun jika sulit atau tidak mudah merealisasikan wasiat tersebut, karena tidak mampu, atau karena jarak yang jauh dijangkau atau sebab lain, maka tidak perlu menunaikan wasiat tersebut. Hendaknya dikuburkan di pemakaman kaum Muslimin yang ada”.

Adapun masalah khusus seperti yang ditanyakan, maka kembali kepada pengetahuan tentang kondisi pemakaman yang diminta oleh pewasiat. Jika pekuburan tersebut penuh dengan makam paman-pamannya (sebagaimana yang tersirat dari penolakan tersebut), dan paman-pamannya menolak karena sebab tersebut, maka mereka berhak menolak. Sehingga sipewasiat tidak boleh dikuburkan di pemakaman tersebut melainkan dengan idzin para pamannya (dari pihak ibu). Namun jika pemakaman tersebut merupakan Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang merupakan wakaf kepada kaum Muslimin maka mereka tidak berhak menolak dan melarang dikuburkan di tempat tersebut.
Di samping itu ahli waris tidak wajib menunaikan wasiat tersebut, tetapi sifatnya mandub saja sebagai bentuk ihsan (berbuat baik) kepada simayit. (sym)

Sumber: http://fatwa.islamweb.com/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=295222

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Hukum Sholat Tanpa Sutrah

Assalamualaikum, Saya ingin bertanya perihal sholat. Apakah hukum sholat tanpa sutrah? Misalnya sholat dengan status masbuk pada shaf kedua tanpa ada sutrah didepannya. Apakah kita harus melangkah ke shaf pertama jika imam sudah salam? Bagaimana statusnya dengan sholat sendiri dengan posisi yang sama? Mohon penjelasannya berhubung masih ragu menentukan sikap.
Dari Hadi – Makassar

📝 Jawaban :

Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Apa Itu Sutrah?

Sutrah adalah pembatas yang digunakan oleh orang yang shalat sendirian atau pada saat menjadi imam agar tidak ada yang melewati di depannya ketika dia sementara shalat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لا تُصَلِّ إلَّا إِلى سُتْرَةٍ، وَلا تَدَعْ أَحَداً يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ
“Jangan kamu shalat kecuali menghadap sutrah dan jangan kamu biarkan seseorang lewat di depanmu…” (HR. Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma)
Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
إذَا صَلّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلى سُتْرَةٍ، وَلْيَدْنُ مِنْهَا، وَلَا يَدَعْ أَحَداً يَمُرُّ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا
“Jika seorang diantara kalian shalat maka hendaknya dia shalat menghadap sutrah dan mendekat ke sutrah tersebut serta jangan dia membiarkan seseorang melewati antara dia dengan sutrahnya…” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Said Al Khudri radhiyallahu anhu)

Para ulama bersepakat tentang disyariatkannya penggunaan sutrah untuk shalat namun mereka berbeda pendapat apakah wajib atau sunnah. Mayoritas ulama fikih mengatakan sunnah dan sebagian ulama menganggapnya sebagai suatu kewajiban. Sebagaimana yang difahami dari penjelasan Ibnu Hazm, Syaukani dan Albani rahimahumullahu jamian.

Karena itu berkaitan dengan pertanyaan pertama apa hukum shalat tanpa sutrah maka jawabannya shalatnya sah namun dikatakan minimal dia telah menyelisihi yang afdhal

Masbuq Tanpa Adanya Sutrah

Berkaitan dengan masbuq yang mau menyempurnakan shalatnya namun tidak ada sutrah di depannya apakah boleh dia melangkah untuk mendapatkan sutrah?.  Hal ini juga diikhtilafkan oleh para ulama kita. Mayoritas ulama memandang tidak perlu dan ada juga sebagian ulama yang membolehkan dengan syarat tidak terlalu banyak gerakan yang dilakukan untuk mendapatkan sutrah tersebut.

Imam Malik mengatakan, “Tidak mengapa bagi masbuq yang menyempurnakan shalatnya setelah imam salam untuk mendekat ke tiang-tiang masjid yang ada di depannya atau kanan dan kirinya atau mundur ke belakang sedikit untuk menghadap sutrah kalau jaraknya dekat. Namun jika dia tidak mendapati sutrah yang dekat maka cukup dia tetap shalat di tempatnya” (Al Jami’ Li Masaail Al Mudawwanah 2/698)

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Aku melihat sebagian pemuda kalau imam telah selesai salam dan dia masih mau menyempurnakan shalatnya beberapa rakaat maka dia melangkah beberapa langkah ke depan agar dia mampu mencegah orang-orang yang mau lewat di depan orang-orang yang masih shalat, apakah perbuatannya ini benar dan apakah langkah-langkahnya itu tidak membatalkan shalatnya?”. Maka beliau rahimahullah menjawab, “Hal itu tidak mengapa insya Allah, langkah-langkah yang tidak banyak pada saat shalat demi mencegah orang-orang lewat tidak mengapa insya Allah jika masih ada sisa shalat yang akan diselesaikannya. Namun demikian jika dia tetap di tempat shalatnya yang semula maka alhamdulillah itu yang lebih utama”
lihat https://www.binbaz.org.sa/noor/5557

Syaikh Utsaimin rahimahullah juga pernah ditanya, “Kadang makmum ketinggalan satu atau dua rakaat lalu ketika imam salam maka makmum tersebut mendapati sutrah cukup jauh sekitar dua atau tiga langkah, apakah boleh baginya melangkah ke depan untuk mendapatkan sutrah tersebut?”. Beliau menjawab, “Yang nampak bagi saya dari perbuatan para sahabat radhiyallahu anhum bahwa masbuq tidak (disyariatkan) membuat sutrah dan dia menyempurnakan shalatnya tanpa sutrah” (Liqo al Bab al Maftuh 30/232) Lihat: https://islamqa. info/ar/116964

Sutrah Jika Shalat Sendiri

Adapun bagi yang shalat sendiri maka sebelum shalat hendaknya mendekat ke tembok atau dinding atau sesuatu yang tinggi dan menjadikannya sebagai sutrah, berdasarkan hadits-hadits yang telah disebutkan sebelumnya dan juga praktek yang dicontohkan oleh para sahabat. Anas bin Malik radhiyallahu anhu menceritakan, “Aku telah melihat para sahabat nabi shallallahu alaihi wasallam bersegera ke tiang-tiang masjid untuk melaksanakan shalat sunnah sebelum Maghrib” (HR. Bukhari). Nafi’ mengatakan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu anhuma selalu shalat menghadap sutrah dan jika beliau tidak mendapat lagi tiang-tiang masjid yang kosong maka beliau berkata ke Nafi’ palingkan tubuhmu untuk aku jadikan punggungmu sebagai sutrah” (Riwayat Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah). Dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah juga disebutkan bahwa Salamah bin Akwa’ radhiyallahu anhu jika sementara berada di gurun lalu beliau ingin shalat maka beliau menegakkan beberapa batu untuk beliau jadikan sutrah dan shalat menghadapnya.
Wallohul Muwaffiq

Dijawab oleh Ustadz Muhammad Yusran Anshar, Lc., MA
📝 Sumber http://wahdah.or.id/hukum-sholat-tanpa-sutrah/

Sogokan

PNS Melalui Sogokan Lalu Bertaubat, Haruskah Mengundurkan Diri?

Pertanyaan:

Bismillaah. Bagaimana hukumnya secara syari’at orang yang lulus PNS karena membayar (sogok) ? Ia sudah 5 tahun berstatus PNS, tapi sudah 3 tahun ini orang tersebut sudah taubat dan berhijrah. Dia sangat-sangat menyesal atas apa yang telah dilakukannya. Menurut syari’at, apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah dia harus berhenti/mengundurkan diri dari pemerintahan ? Mohon petunjuknya.

Dari IS – Makassar

Jawaban:

Dilaknatnya Orang yang Memberi dan Menerima Sogokan

Memberi dan menerima sogokan termasuk perbuatan dosa yang dilaknat, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

Artinya:

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat orang yang memberi dan menerima sogokan. (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani)

Yang dimaksud sogokan (risywah) adalah pemberian harta dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya seperti menyogok hakim agar ia dapat memenangkan sebuah perkara yang bukan haknya atau menyogok seorang pejabat yang berwenang untuk memprioritaskan dirinya dibanding yang lain. Termasuk sogok juga memberikan sesuatu kepada seseorang yang bukan haknya.

Menyogok dengan tujuan mendapatkan pekerjaan, seperti PNS dan atau yang lainnya termasuk dalam kategori ini. Karena secara umum semua pelamar yang memenuhi persyaratan memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Kecuali jika kesempatan tersebut merupakan hak seseorang melebihi dari hak orang lain dalam artian dialah yang paling berhak dan memenuhi persyaratan untuk pekerjaan tersebut dan ia tidak mampu mendapatkannya kecuali dengan sogokan, maka dalam hal ini yang berdosa adalah pihak yang menerima sogokan tersebut.

Bertaubat dari Perkara Sogokan / Risywah

Alhamdulillah jika anda sudah bertaubat dan memperbaiki diri lebih baik dan menyadari kesalahan ini, maka perbanyaklah memohon ampun (istighfar) atas kesalahan ini disertai dengan banyak melakukan amal shalih lainnya. Semoga dengannya Allah mengampuni dosa tersebut.

Adapun meninggalkan/mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut maka hal ini tidak perlu dilakukan selama anda dapat menunaikan pekerjaan tersebut dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Namun jangan menjadi jalan bagi yang lain dengan anggapan bahwa rezki yang didapat adalah rezki yang halal meskipun didapat dari sogokan, karena yang didapat bukan dari cara yang benar, lalu Anda mengatakan nanti saya bertaubat. Ini adalah sikap yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang muslim, karena boleh jadi sebelum dia bertaubat, Allah lebih dahulu mencabut nyawanya. Wallahu a’lam. [ed:sym]

Dijawab Oleh Ustadz Ahmad Hanafi DY, Lc, M.A

Sumber : http://wahdah.or.id/menjadi-pns-melalui-sogokan-lalu-bertaubat-haruskah-mengundurkan-diri/

Amal Shaleh yang Ditekankan Pada 10 Hari Awal Dzulhijjah

Assalamu’alaikum wrwb ustadz, tanya amaliyah apa saja yg saya harus lakukan di bulan dzulhijjah menurut alqur’an wa assunnah. Syukron.

Jawaban :

walaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Amal Shaleh yang Ditekankan Pada 10 Hari Awal Dzulhijjah

Pada dasarnya semua amal shaleh dianjurkan untuk diperbanyak dan ditingkatkan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Berdasarkan keumuman hadits Rasulullah shallallah ‘alaiahi wa sallam, “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah”, (HR. Bukhari), dan “Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari pertama ini” (HR. Ahmad).

Namun ada beberapa amal shaleh yang secara spesifik dikaitkan dengan bulan Dzulhijjah atau sepuluh hari pertama pada bulan ini, seperti shiyam (puasa), haji dan umrah, kurban, serta dzikir berupa tahlil, tahmid, dan takbir.

Haji dan Umrah

Bulan Dzulhijjah identik dengan ibadah haji dan umrah. Karena pelaksanaan ibadah ini (haji) terikat dengan masalah waktu, yakni bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu haji merupakan amalan paling utama di bulan ini.

Haji merupakan rukun Islam kelima bagi yang mampu. Ia diwajibkan sekali dalam seumur hidup. Keutamaanya dijelaskan dalam banyak hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan; “Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). Dalam hadits lain beliau menyebut haji sebagai amalan paling afdhal (HR. Bukhari). Haji juga dapat menghilangkan kefakiran dan dosa. Rasul bersabda, “Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih).

Kurban

Selain ibadah haji dan umrah, ibadah lain yang diidentikkan dengan bulan dzulhijjah adalah kurban. Karena ibadah ini hanya diperintahkan pada bulan dzulhijjah. Perintah berkurban dinyatakan oleh Allah dalam surah al-Kautsar ayat 2; “dan shalatlah karena Tuhanmu serta menyembelilah”. Makna fanhar (menyembelilah) dalam ayat ini adalah sembelilah hewan kurban sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah yang banyak kepadamu.

Hukum ibadah kurban adalah sunnah muakkadah. Namun yang mampu ditekankan untuk berkurban. Bahkan Nabi melarang orang mampu yang tidak berkurban untuk mendekati tempat shalat beliau pada hari ‘ied. Beliau mengatakan;

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ, فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا” – رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَه, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ, لَكِنْ رَجَّحَ اَلْأَئِمَّةُ غَيْرُهُ وَقْفَه ُ

Siapa yang memiliki kemampuan tetapi tidak berkurban makan jangan mendekati tempat shalat kami”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al-Hakim).

Takbir, Tahmid, dan Tahlil

Amalan yang juga ditekankan pada hari-hari yang mulia ini adalah memperbanyak tahlil (ucapan La Ilaha Illallah), tahmid (alhamdulillah), dan takbir (Allah Akbar). Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan hadits Nabi tentang hal ini.

ما من أيام أعظم عند الله سبحانه ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر , فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد .

Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari pertama ini. Maka pada hari hari itu perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid” (HR. Ahmad dalam Musnad dan Ath Thabrany dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan secara mu’allaq (tanpa menyebutkan sanad) bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum pernah keluar ke pasar pada 10 hari pertama Dzulhijjah, lalu mereka berdua bertakbir, lantas orang-orang turut bertakbir bersama mereka. Muhammad bin Ali pun bertakbir setelah shalat.

Selain dzikir dengan membaca tahlil, tahmid, dan takbir dianjurkan pula memperabnyak dzikir-dzikir yang lain. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Berdzikirlah pada hari-hari yang ditentukan, yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dan hari-hari tasyriq [11-13 Dzulhijjah]”. (HR. Bukhari secara mu’allaq).

Puasa

Diriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah, sebagaimana dituturkan oleh sebagian istri beliau;

أَنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَتِسْعًا مِنْ ذِى الْحِجَّةِ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهْرِ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura, pada sembilan hari Dzulhijjah, dan pada tiga hari dalam sebulan: senin awal dari bulan (berjalan) dan dua kamis.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, dan Al-Baihaqy serta dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Jika tak dapat puasa sembilan hari, minimal memperbanyak puasa pada hari-hari tersebut. Jika tidak dapat dan tidak sempat sama sekali, maka jangan sampai ketinggalan dari puasa hari ‘Arafah. Keutamaan puasa Arafah dapat menghapus dosa selama dua tahun, sbagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam Beliau bersabda;

صوم يوم عرفة يكفر سنتين, ماضية ومستقبلة

Puasa ‘Arafah menghapus dosa dua tahun, yakni tahun lalu dan tahun mendatang”, . . (HR. Ahmad dan Nasai).

Amal Shaleh Lainnya

Selain amalan yang disebutkan di atas hendaknya memperbanyak pula amalan-amalan yang lain. Hal ini berdasarkan keumuman hadits Nabi tentang keagungan dan kecintaan Allah terhadap amal shaleh yang dikerjakan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini. Diantara amal shaleh yang perlu mendapat perhatian seperti menjaga shalat berjama’ah di awal waktu, membaca dan menelaah al-Qur’an, bersedekah, menghadiri majelis ilmu, berda’wah, menjaga shalat sunnah, memelihara akhlaq dan adab Islami, dan sebagainya. Wallahul muwaffiq ilal ‘ilmin nafi’ wal ‘amalis Shalih. (sym).

Zakat Perdagangan

Zakat Perdagangan

Zakat Perdagangan

Seorang pedagang hendaknya menghitung jumlah nilai barang dagangan dg harga asli lalu digabungkan dg keuntungan bersih setelah dipotong piutang.
KADAR ZAKAT 2,5%.

Modal tetap tidak wajib dizakati seperti gedung, perkakas, dan alat operasional perdagangan.

Contoh : Seorang pedagang menjumlah barang dagangan di akhir tahun, dg jumlah total Rp 200Jt dan laba bersih sebesar Rp 50Jt sementara hutang Rp 100Jt.

Modal dikurangi hutang : Rp 200Jt-Rp100Jt = Rp 100Jt

Jumlah Harta Zakat : Rp 100Jt + Rp 50Jt = Rp 150Jt

Zakatnya : Rp 150Jt X 2,5% = Rp 3.750.000,-

LAZIS Wahdah Jakarta
“Melayani dan Memberdayakan”

Konsultasi Zakat :
082315900900 (call/wa/sms)

Sumber : Panduan Zakat