Hak Waris  Anak Angkat Hasil Adopsi, Adakah?

Pertanyaan:

“Assalam alaikum Ustadz, saya pernah mengadopsi seorang anak secara resmi, dan kini telah menginjak dewasa. Pertanyaan saya, apakah jika saya meninggal dunia nanti anak angkat saya itu boleh mendapat warisan saya?

Jawaban:

Wa’alaikum salam, pertama yang perlu diperhatikan bahwa masalah Tabanni (mengangkat anak seolah menjadi anak kandung dengan menisbatkan nasab padanya) sudah tidak berlaku dalam syariat. Olehnya, haram hukumnya seorang mengangkat anak lalu memberikan pada anak angkat itu nasab keluarga orangtua angkatnya.

Allah Ta’ala berfirman: “Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu Dan tidak ada dosa bagimu terhadap apa yang kamu salah padanya, tetapi (yang ada dosanya adalah) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Ahzaab : 5).

Adapun jika sekedar mengadopsi untuk tujuan memelihara dan membantu anak itu maka dia boleh-boleh saja. Bahkan termasuk dalam kebaikan yang sangat besar. Akan tetapi, status anak itu tetap sebagai anak angkat dan dinasabkan pada bapak kandungnya. Tidak boleh bernasab dengan nasab bapak angkatnya, serta tetap menjaga aurat darinya. Misalnya jika dia anak laki-laki dan telah baligh, maka tidak boleh melihat aurat istri juga anak-anak perempuan kita.

Nah, lantaran anak angkat tidak ada sama sekali hubungannya dengan nasab dan keturunan kita, maka dia tidak berhak atas harta warisan. Hanya saja warisan itu merupakan hak ahli waris yang ada hubungan nasab, keluarga, dan perkawinan.

Adapun solusi dari masalah ini, kita sebagai orangtua angkat bisa menempuh dua cara. Pertama dengan memberikan hibah kepadanya, yakni pemberian cuma-cuma semasa orangtua angkatnya hidup. Atau cara kedua, dengan menulis wasiat agar diberikan bagian tertentu dari harta peninggalan orangtua angkatnya tersebut. Wallahu A’lam.

Sumber: Akun FB Ustadz Rapung Samuddin, Lc, MA

Suami Mengancam Cerai dan Menyuruh Istri Melakukan Perbuatan Haram, Apa Sikap Istri?

Suami Mengancam Cerai dan Menyuruh Istri Melakukan Perbuatan Haram, Apa Sikap Istri?

“Tidak ada ketaatan kepada makhluq jika mengandung maksiat kepada Khaliq (Pencita)”

Suami Mengancam Cerai dan Menyuruh Istri Melakukan Perbuatan Haram, Apa Sikap Istri?

Pertanyaan

Apa yang dilakukan seorang istri ketika suaminya mengancam menceraikannya kalau dia tidak melakukan perkara yang haram?

Jawaban

Bismillah,

Istri wajib taat dan patuh pada suami. Namun ketaatan yang dimaksud adalah dalam urusan kebaikan, ketaatan atau hal-hal yang boleh dan tidak melanggar syariat.

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam berbuat kemaksiatan kepada pencipta (Allah). sebagaimana sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

  إنما الطاعة في المعروف

Sesungguhnya ketaatan itu dalam kebaikan.”

Bukan merupakan suatu kebaikan kalau melakukan sesuatu yang haram. Bahkan ini termasuk suatu kemungkaran. Bagi seorang istri kalau diancam suaminya melakukan sesuatu yang haram. Kalau dia tidak melakukan akan diceraikannya. Hendaknya dia memberi nasehat dengan menakut-nakuti serta menjelaskan bahwa hal ini diharamkan dan tidak diperbolehkan disertai dengan penjelasan dalil akan hal itu. Penanya tidak merinci sesuatu yang haram ini, apa itu dan sejauh mana derajat keharamannya. Yang terbaik adalah menjelaskan apa itu yang diharamkan agar jawabannya lebih terang. Akan tetapi asalnya hal itu tidak boleh dilakukan dan tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam berbuat kemaksiatan kepada Pencipta (Allah).

Hendaknya bagi wanita ini menolak melakukan perbuatan yang haram. Karena ketaatan kepada Allah itu didahulukan terhadap ketaatan kepada suami. Hendaknya dia bersungguh-sungguh dan mengharap (pahala). Kembali kepada Allah Azza wa jallah. Memperbanyak berdoa dan merendah (kepada Allah) semoga Allah memberikan petunjuk kepada suaminya. Dan memalingkan dari perbuatan semacam ini. Karena doa adalah senjata yang agung. Allah Azza Wajallah tidak akan mengecewakan orang yang meminta ketika dia meminta.

Begitu juga kalau (istri) memungkinkan beli kitab atau kaset, meminta setelah Allah kepada salah satu kerabatnya atau dari pencari ilmu di kotanya. Atau imam masjid dan semisalnya untuk menasehati suaminya, memberi arahan dan menakut-nakuti kepada Allah serta menganjurkan (kebaikan). Bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, akan diganti kebaikan lebih baik lagi oleh Allah. (Sumber: Islamqa.info.id).

 Sudah Talak Tiga, Pengen Rujuk, Bagaimana Caranya?

Sudah Talak Tiga, Pengen Rujuk, Bagaimana Caranya?

Pertanyaan:

“Assalamu Alaikum, pak Ustadz, langsung saja pertanyaannya, saya sudah mentalak istri saya sebanyak tiga kali, dalam arti talak tiga saya sudah jatuh. Saya menyesal karena melihat kondisi anak-anak. Bagaimana cara agar saya bisa kembali lagi hidup bersama mantan istri saya?”

Jawaban:

Wa’alaikum Salam, dalam ajaran Islam, jika talak tiga sudah jatuh maka seorang suami tidak lagi memiliki hak untuk rujuk kepada istrinya, sampai mantan istri itu dinikahi oleh lelaki lain. Seperti dinyatakan dalam firman Allah:

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ … فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik… Kemudian jika si suami mentalaknya (talak ketiga) maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia menikah dengan lelaki yang lain”. (QS. Al Baqarah: 229-230).

Perlu ditegaskan, pernikahan yang dilakukan oleh mantan istrinya itu betul-betul pernikahan. Yakni ada proses hubungan badan dengan suami keduanya. Bukan pernikahan sandiwara yang diatur untuk tujuan menghalalkan suami pertama menikahinya kembali. Kemudian setelah itu terjadi perceraian antara keduanya secara alami pula, dan bukan atas rekayasa dari suami pertama atau selainnya.

Jika kedua hal ini tidak ada, maka proses pernikahan suami pertama yang ingin kembali rujuk batal alias tidak sah. Bahkan, perbuatan ini, yakni merekayasa pernikahan agar suami pertama bisa kembali (Muhallil), termasuk dosa besar yang diancam laknat.

Dari Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِالتَّيْسِ الْمُسْتَعَارِ؟ قاَلُوْا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: هُوَ الْمُحَلِّلُ، لَعَنَ اللهُ المُحَلِّلَ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ.

Sukakah aku kabarkan kepada kalian tentang At-Taisil Musta’aar (domba pejantan yang disewakan)?” Para Sahabat menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah”. Beliau kemudian bersabda: “Ia adalah Al-Muhallil, Allah akan melaknat Al-Muhallil dan Al-Muhallal lahu”. (HR. Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad Hasan).

Ibnu Qudamah mengatakan,

“Nikah Muhallil adalah haram, batal, menurut pendapat umumnya ulama. Di antaranya: Hasan Al-Bashri, Ibrahim An-Nakha’i, Qatadah, Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Mubarak, dan Imam Asy-Syafi’i”. (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 7/574)

Al Muhallil adalah laki-laki yang disuruh oleh mantan suami agar bersandiwara menikahi mantan istinya lalu menceraikan dengan tanpa menggaulinya, agar suapa ia bisa kembali rujuk. Sedangkan Al Muhallal lahu, adalah mantan suami yang merekayasa pernikahan tersebut.

Dari Ummul Mukminin Aisyah Radhiallahu Anha, ia berkata:

أَنَّ امْرَأَةَ رِفَاعَةَ الْقُرَظِىِّ جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَنِى فَبَتَّ طَلاَقِى ، وَإِنِّى نَكَحْتُ بَعْدَهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزَّبِيرِ الْقُرَظِىَّ ، وَإِنَّمَا مَعَهُ مِثْلُ الْهُدْبَةِ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لَعَلَّكِ تُرِيدِينَ أَنْ تَرْجِعِى إِلَى رِفَاعَةَ ، لاَ ، حَتَّى يَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ وَتَذُوقِى عُسَيْلَتَهُ

“Pernah istri Rifa’ah Al Qurazhiy menemui Nabi Shallallaahu Alaihi wa Sallam serya berkata: “Aku adalah istri Rifa’ah, kemudian ia menceraikanku dengan talak tiga. Setelah itu aku menikah dengan Abdurrahman bin Az-Zubair Al Qurazhiy. Akan tetapi sesuatu yang ada padanya seperti juntaian kain (tidak mampu berhubungan intim)”. Rasulullah pun berkata kepadanya: “Barangkali engkau ingin kembali kepada Rifa’ah? Tidak bisa, sebelum kamu merasakan madunya dan ia pun merasakan madumu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksud “hingga engkau merasakan madunya”, yakni hingga engkau merasakan nikmatnya berhubungan intim bersama suamimu saat ini, dan dia pun (suamimu saat ini) merasakan kenikmatan darimu. Wallahu A’lam.

(Sumber: Akun Facebook Ustadz Rapung Samuddin, Lc, MA)

Merasa Tidak Mampu Menghadapi Berbagai Persoalan Hidup, Bolehkah Berharap Kematian?

Merasa Tidak Mampu Menghadapi Berbagai Persoalan Hidup, Bolehkah Berharap Kematian?

Pertanyaan

Kalau seorang muslim menghadapi berbagai macam permasalahan dalam kehidupannya, tidak mendapatkan solusi, apakah dia dibolehkan berdoa dan berharap kematian untuk dirinya agar selesai dari berbagai permasalahan ini?

 Jawaban

Bismillah,

Pertama: umur panjang bagi orang mukmin disertai dengan amalan saleh itu lebih baik dari kematian. Nabi -sallallahu alaihi wa sallam- bersabda ketika ditanya siapakah orang yang paling baik,

 خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

 “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umur dan baik amalannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, no. 110, dinyatakan shahih oleh Albani  dalam Shahih Tirmidzi)

Sabda beliau -sallallahu alaihi wa sallam– lainnya:

  طُوْبَى لِمَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

 “Beruntunglah orang yang panjang umur dan baik amalannya.” (HR. Thabrani dan Abu Nu’aim. Dinyatakan shahih oleh Albani di Shahih Al-Jami’, no. 3928)

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, (8195) dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata:

كَانَ رَجُلَانِ أَسْلَمَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتُشْهِدَ أَحَدُهُمَا وَأُخِّرَ الْآخَرُ سَنَةً . قَالَ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ : فَأُرِيتُ الْجَنَّةَ ، فَرَأَيْتُ فِيهَا الْمُؤَخَّرَ مِنْهُمَا أُدْخِلَ قَبْلَ الشَّهِيدِ ، فَعَجِبْتُ لِذَلِكَ ، فَأَصْبَحْتُ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَلَيْسَ قَدْ صَامَ بَعْدَهُ رَمَضَانَ ! وَصَلَّى سِتَّةَ آلافِ رَكْعَةٍ أَوْ كَذَا وَكَذَا رَكْعَةً ! صَلاةَ السَّنَةِ

“Ada dua orang masuk Islam di hadapan Nabi sallallahu alaihi wa sallam, salah satunya mati syahid dan yang lainnya (wafat) setahun lagi. Tholhah bin Ubaidillah mengatakan, “Saya diperlihatkan surga (dalam mimpi), maka saya melihat yang (wafat) terakhir dimasukkan surga sebelum orang yang mati syahid. Saya heran akan hal itu. Ketika pagi hari, saya ceritakan hal itu kepada Rasulullah -sallallahu alaihi wa sallam-, maka Rasulullah -sallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Tidakkah dia telah berpuasa Ramadan setelahnya! Telah menunaikan shalat enam ribu rakaat atau ini dan ini rakaat! (juga menunaikan) shalat sunnah.” (Dinyatakan shahih oleh Albani di Silsilah Shahihah, (2591) Ajluni mengomentari dalam kitab ‘Kasyful Khofa’’ sanadnya hasan)

وقال رجل : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ ؟ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ : فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ ؟ قَالَ : مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

 “Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang terbaik? Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Berkata, “Siapakah yang orang paling jelek? Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, no. 2330. Dinyatakan shahih oleh Albani di Shahih Tirmidzi)

Ath-Thayiby rahimahullah mengatakan,

 “Sesungguhnya waktu dan jam seperti modal harta bagi pedagang. Selayaknya dia berniaga agar beruntung. Setiap kali modal hartanya banyak, maka keuntungannya akan lebih banyak. Siapa yang dapat memanfaatkan umurnya dengan memperbaiki amalannya. Maka dia akan beruntung dan bahagia. Siapa yang menyia-nyakan modal hartanya, tidak beruntung dan rugi, maka dia rugi yang nyata.”

Oleh karena itu ketika dikatakan kepada sebagian ulama salaf,

“Alangkah indahnya kematian!! Maka beliau mengatakan, “Wahai anak saudaraku, jangan melakukan hal itu, satu waktu anda hidup dapat beristigfar kepada Allah, itu lebih baik bagi anda dibandingkan kematian!!.

Dikatakan kepada Syeikh yang tua dikalangan mereka, “Apakah anda senang kematian? Beliau menjawab, “Tidak. Telah lewat masa muda dengan keburukannya. Dan telah datang masa tua dengan kebaikannya. Kalau anda berdiri mengucapkan ‘Bismillah. Ketika anda duduk mengucapkan ‘Alhamdulillah. Dan saya senang tetap seperti ini.

Banyak dari ulama salaf menangis ketika akan meninggal dunia menyayangkan keterputusan amal kebaikan. Oleh karena itu, Nabi sallallahu alaihi wa sallam melarang berangan-angan kematian. Karena orang mukmin terhalangi dari kebaikan kataatan, nikmatnya ibadah, kesempatan bertaubat dan mendapatkan apa yang terlewatkan.

Dari Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu– dari Rasulullah sallallahu aliahi wa sallam bersabda:

لا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ , وَلا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ ، إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ انْقَطَعَ عَمَلُهُ ، وَإِنَّهُ لا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلا خَيْرًا

“Janganlah salah seorang diantara kamu berangan-angan untuk mati. Jangan berdoa dengannya sebelum waktunya. Sesungguhnya ketika salah seorang diantara kamu ketika meninggal dunia, maka akan terputus amalannya. Bahwa orang mukmin tidak bertambah umurnya melainkan ada kebaikan.” (HR. Muslim, 2682)

Maka terkumpul larangan berangan-angan kematian dan larangan berdoa kejelekan untuk dirinya. Dalam Bukhori, (7235) dengan redaksi, “Salah seorang diantara kamu jangan berangan-angan kematian. Karena bisa menambah kebaikan atau perasaan bersalah terhadap keburukan.

Imam Nawawi rahimahullah mengomentari, “Dalam hadits jelas melarang berangan-angan kematian karena kesusahan yang menimpahnya baik kekurangan, ujian musuh atau kesusahan dunia lainnya. Sementara kalau dia takut kesusahan atau fitnah terhadap agamanya, maka tidak dilarang sesuai dengan pemahaman hadits ini. Hal itu telah dilakukan banyak dari ulama salaf.

Kata ‘Yasta’tib’ artinya adalah ridho kepada Allah dengan meninggalkan (dosa) dan beristigfar

Ada arti lain larangan berangan-angan kematian yaitu:

Bahwa sakaratul maut sangat berat dan kegentingannya sangat mengerikan. Tidak ada seorangpun seperti itu. Kemudian seseorang tidak mengetahui apa yang dia tungguh setelah kematian. Kita memohon keselamatan kepada Allah. Maka berangan-angan kematian adalah meminta sesuatu dimana tidak ada seorangpun mendapatkannya. Dan menipu pada dirinya. Khawatir angan-angan kematian menjadi sebab musibah besar seperti orang yang meminta perlindungan dari panasnya neraka. Khawatir setelah mendapatkan kematian, terjadi yang lebih besar dan lebih berat lagi. Maka berangan-angan kematian termasuk salah satu bentuk mempercepat cobaan sebelum menimpanya. Sehingga tidak layak bagi orang berakal melakukan hal itu. Sebagaimana sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

لا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ ، وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ

“Jangan berangan-angan bertemu musuh, dan mintalah kesehatan (kebaikan) kepada Allah.” (HR. Muttafaq ‘alaihi)

Dari Jabir bin Abdullah radhillahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لا تَمَنَّوْا الْمَوْتَ ، فَإِنَّ هَوْلَ الْمَطَّلَع شَدِيدٌ ، وَإِنَّ مِنْ السَّعَادَةِ أَنْ يَطُولَ عُمْرُ الْعَبْدِ وَيَرْزُقَهُ اللَّهُ الإِنَابَةَ

 “Jangan berangan-angan kematian, karena kegentingan sangat mengerikan. Sesungguhnya diantara kebahagiaan seorang hamba adalah berumur panjang dan dikarunia taubat kepada Allah.” (HR. Ahmad, dilemahkan oleh Albani di Silsilah Ahadits Dhoifah, no. 885)

Ibnu Umar radhiallahu anhuma mendengarkan seseorang berangan-angan kematian, maka beliau mengatakan, “Jangan anda berangan-angan kematian. Memohonlah kepada Allah kesehatan. Karena kematian dapat menyingkap ngerinya kegentingannya.

Ibnu Rojab rahimahullah mengatakan, “Dahulu banyak dari kalangan orang-orang saleh berangan-angan kematian waktu sehatnya. Ketika mendapatkannya, mereka tidak menyukainya karena kedahsyatannya. Diantara mereka ada Abu Darda’, Sofyan Tsauri. Bagaimana lagi dengan lainnya?

Larangan beranga-angan kematian sesungguhnya disebabkan karena seseorang mendapatkan kesusahan dalam masalah dunianya. Karena berangan-angan kematian menunjukkan keluhan terhadap apa yang menimpanya.

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ , فَإِنْ كَانَ لا بُدَّ فَاعِلا فَلْيَقُلْ : اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي , وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

“Jangan salah seorang diantara kamu berangan-angan kematian karena kesusahan yang menimpanya. Kalau memang harus dilakukan, hendaknya dia berdoa ‘Ya Allah hidupkan diriku selagi kehidupan itu baik bagi diriku. Dan wafatkan diriku selagi kematian itu baik bagi diriku.” (Muttafaq alaih)

Ungkapan ‘Kesusahan yang menimpanya’ maksudnya kesusahan dunia seperti sakit, cobaan pada harta dan anak-anak dan semisal itu. Sementara kalau takut kesusahan dalam agamnya seperti fitnah, maka tidak mengapa berangan-angan kematian sebagaimana yang akan kita jelaskan.

Kemungkinan permintaan kematian ini agar dapat terlepas dari kesusahan. Bisa jadi semakin bertambah payah dan kesakitannya terus berlangsung sementara dia belum mengetahuinya. Dari Aisyah radhiallahu anha berkata, dikatakan, “Wahai Rasulullah, si fulanah telah meninggal dunia dan istirahat. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam marah seraya bersabda, “Sesungguhnya (hakekat) istirahat itu orang yang telah diampuni. HR. Ahmad, 24192 dinyatakan shahih oleh Albani di Silsilah Shahihah, 1710.

Kedua: Beberapa kondisi dianjurkan berangan-angan kematian diantaranya adalah:

  1. Khawatir terhadap fitnah yang menimpa agamanya

Tidak diragukan lagi bahwa kematian seseorang jauh dari fitnah meskipun amalannya sedikit itu lebih baik daripada mendapatkan fitnah dalam agamanya. Kita memohon kepada Allah keselamatan.

Dari Mahmud bin Labid sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ : الْمَوْتُ ، وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنْ الْفِتْنَةِ ، وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ ، وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ

“Dua hal yang tidak disukai Bani Adam, kematian. Kematian lebih baik bagi orang mukmin dibandingkan dengan fitnah. Dan tidak menyukai sedikit harta, padahal sedikit harta itu sedikit hisabnya.”(HR. Ahmad dinyatakan shahih oleh Albani di Silsilah Shahihah, no. 813)

Telah ada anjuran berangan-angan kematian pada kondisi seperti ini juga. Sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam doanya:

 وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِيْ إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُوْنٍ

“Kalau Engkau menginginkan hamba-Mu fitnah, maka cabutlah (nyawa) diriku tanpa terkena fitnah.” (HR. Tirmidzi, 3233 dinyatakan shahih oleh Albani di Shahih Tirmidzi)

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hal ini dibolehkan menurut mayoritas ulama.”

Hal ini yang ada dari salaf terkait dengan berangan-angan kematian. Mereka berangan-angan kematian karena takut fitnah.

Diriwayatkan Malik dari Said bin Musayyab beliau berkata, ketika Umar bin Khotob kembali dari Mina, tinggal di Abtoh kemudian mengumpulkan tumpukan di Batha dan melepas selendang kemudian terlentang sambil menjulurkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa:

اللَّهُمَّ كَبِرَتْ سِنِّي ، وَضَعُفَتْ قُوَّتِي ، وَانْتَشَرَتْ رَعِيَّتِي ، فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مُضَيِّعٍ وَلا مُفَرِّطٍ

“Ya Allah usiaku telah tua, lemah kekuatanku, rakyatku telah tersebar, maka tolong cabut diriku (menghadap kepada-Mu) tanpa sia-sia dan melampaui batas.”

Said berkomentar, tidak lama setelah bulan Dzulhijjah, sampai Umar radhiallahu anhu terbunuh.

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, “Siapa yang melihat kematian dijual, tolong belikan untukku !. (‘Tsabat ‘Indal Mamat, karangan Ibnul Jauzi, hal. 45).

  1. Jika kematiannya berupa syahid di jalan Allah Azza Wajalla

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَوْلا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي مَا قَعَدْتُ خَلْفَ سَرِيَّةٍ ، وَلَوَدِدْتُ أَنِّي أُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ ، ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ   )متفق عليه

“Kalau sekiranya tidak memberatkan kepada umatku, maka aku tidak akan pernah meninggalkan dibelakang peperangan. Saya ingin terbunuh di jalan Allah kemudian dihidupkan kemudian dibunuh lagi, kemudian dihidupkan kemudian dibunuh.” (HR. Muttafaq ‘alaihi)

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berangan-angan dibunuh di jalan Allah tiada lain karena agungnya keutamaan mati syahid.

Diriwayatkan Muslim, no. 1909 sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

Siapa yang memohon kepada Allah mati syahid dengan jujur, Allah akan sampaikan ke posisi orang-orang yang mati syahid meskipun meninggal di atas ranjangnya.)

Para ulama salaf mencintai mati di jalan Allah

Abu bakar radhiallahu anhu berkomentar terkait Musailamah Al-Kadzab ketika mengaku menjadi Nabi,

“Demi Allah. saya akan memeranginya dengan suatu kaum yang mencintai kematian sebagaimana dia mencintai kehidupan.

Kholid bin Walid radhiallahu anhu pernah menulis surat kepada penduduk Persia ‘Demi Zat yang tiada Tuhan selainnya. Pasti saya akan utus kepada kamu semua suatu kaum yang mencintai kematian sebagaimana anda mencintai kehidupan.

Karena posisi ini diinginkan –semoga Allah tidak menghalangi kami untuk mendapatkannya- dan mencarinya sangat dipuji dari semua sisi. Karena orang yang dikarunianya tidak akan terhalangi dari pahala amal saleh yang menjadi kebaikan dalam kehidupan. Sehingga kematian itu lebih baik bagi seseorang. Kemudian Allah juga akan menjaga kedudukan orangnya dari fitnah kubur.

Dari Salman radhiallahu anhu berkata, saya mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ

“Ribath (menjaga) sehari semalam itu lebih baik daripada puasa dan qiyam sebulan. Kalau dia meninggal dunia, maka amalannya tetap mengalir yang dilakukannya, dialirkan rezkinya dan aman dari fitnah.”(HR. Muslim, no. 1913)

Kesimpulan

Dimakruhkan bagi seorang muslim berangan-angan kematian kalau disebabkan bencana dunia yang menimpanya. Bahkan hendaknya dia bersabar dan memohon bantuan kepada Allah. kita memohon kepada Allah agar anda dibebaskan dari kegalauan yang menimpa anda. silahkan merujuk soal no. 22880.

Wallahu a’lam.

Sumber: Islamqa.info.id

Setelah Hafal Lupa Lagi, Apa Solusinya?

Ilustrasi: Santri penghafal Al-Qur’an sedang memperdengarkan (tasmi’) hafalannya

Setelah Hafal Lupa Lagi, Apa Solusinya?

Pertanyaan:

Apa hukumnya jika seseorang menghapal suatu surat namun cepat lupa. Apakah lebih baik dia merutinkan bacaan dengan melihat mushaf saja atau bagaimana?

Jawaban:

Orang yang sering lupa hendaknya memiliki wirid rutin berupa bacaan Istighfar yang dapat menghindarkannya dari sifat lupa. Karena Allah Ta’ala berfirman;

{واذكر ربك إذا نسيت وقل عسى أن يهدين ربي لأقرب من هذا رشداً}،

Orang yang senantiasa memperbanyak istighfar akan ditolong oleh Allah dengan dikaruniai ingatan yang baik yang membantunya menyimpan apa yang telah dihafalkannya. Demikian pula  orang yang selalu shalat dengan membaca apa yang telah dihafalaknnya. Misalnya apa yang dihafalkannya pada siang hari dia baca pada shalat di malam hari, maka hafalannya akan tetap tinggal.

Demikian pula halnya dengan shalat fardhu, jika seseorang selalu membaca hafalan (baru) nya dalam shalat fardhu, maka hal itu akan menguatkan hafalannya.

Adapun bacaan melalui mushaf, jika sekadar membaca dan membolak-balik lembaran mushaf tanpa diserta tadabbur (perenungan) dan tafahhum (pemahaman), maka hal itu juga tidak akan membantu dalam menghafal. Yang membantu dan memudahkan dalam menghafal Al-Qur’an adalah bacaan yang tenang dan perlahan-lahan, dimana seseorang memahami apa yang dibacanya. (Syekh Muhammad Hasan Dadew Asy-Syinqithi).

Ahlul Qur’an, Siapakah Mereka?

Ilustasi: Santri Penghafal Al-Qur’an sedang saling simak Hafalan. Foto: Istimewa.

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum ustadz. Saya pernah dengar bahwa Ahlul Qur’an merupakan keluarga Allah. Sipakah mereka yang dimaksud sebagai ahlul Qur’an?

Jawaban:

Ahlul Qur’an adalah hamba-hamba pilihan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana  dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Ahad dan Ibnu Majah;

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya” (HR. Ahmad, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syekh AL-Albani)

Al-Munawi rahimahullah berkata dalam Faidhul Qadir,

“Maksudnya adalah para penghafal Al-Qur’an yang mengamalkannya, mereka itu adalah kekasih Allah yang dikhususkan dari kalangan manusia. Mereka dinamakan seperti itu sebagai bentuk penghormatan kepada mereka seperti penamaan Baitullah.

Al-Hakim At-Tirmizi berkata,

“Sesungguhnya keutamaan ini berlaku bagi para pembaca yang telah membersihkan hatinya dari sifat lalai dan menghilangkan dosa pada dirinya. Tidak termasuk orang khususnya kecuali bagi orang yang membersihkan dirinya dari dosa yang tampak maupun tersembunyi, lalu menghiasi dirinya dengan ketaatan. Maka ketika itu, dia termasuk orang khusus Allah.” (Faidhul Qadir, 3/87)

Syaikh Shalih Al-Fauzan juga mengatakan;

“Yang dimaksud ahlul qur’an  bukan orang yang sekedar menghafal dan membacanya saja. Ahlul qur’an (sejati) adalah yang mengamalkannya, meskipun ia belum hafal Qur’an. Orang-orang yang mengamalkan Al-Qur’an; menjalankan perintah dan menjauhi larangan, serta tidak melanggar batasan-batasan yang digariskan Al-Qur’an, mereka itulah yang dimaksud ahlul qur’an, keluarga Allah serta orang-orang pilihannya Allah. Merekalah hamba Allah yang paling istimewa.

Dari uraian dan jawaban para ulama di atas dapat disimpulkan bahwa Ahlul Qur’an mereka yang dekat dengan Al-Qur’an dalam arti membaca, menghafal, dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an.

Bolehkah Tidak Memberi Maaf Pada Orang Lain

Pertanyaan:

“Assalamu Alaikum, Ustadz, saya punya masalah dengan teman beberapa waktu lalu. Saya sangat kecewa dan marah kepadanya. Berkali-kali dia datang minta maaf tapi tidak saya ladeni. Apakah sikap saya ini benar?”

Jawaban:

Wa’alaikum Salam.

Perbuatan yang saudara(i) lakukan ini tidak pantas dan tidak dibolehkan oleh syariat. Karena ciri seorang Muslim itu adalah lapang dada dan saling memberi maaf.

Kita boleh marah dan mendiamkan jika saudara muslim kita berlaku tidak adil atau menzalimi kita. Akan tetapi, hal itu hanya diizinkan selama tiga hari. Lebih dari itu, maka hukumnya tidak boleh.

Dalam hal ini, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melarang seseorang memboikot saudaranya lebih dari 3 hari. Dalam sebuah hadits disebutkan, Rasulullah bersabda:

لاَيَحِلُّ لِمُسلِمٍ أَن يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ، فَيَعْرِضُ هَذَاوَيَعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ”. متفق عليه.

“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari, saling bertemu lalu yang satu berpaling dan lainnya juga berpaling. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan, dalam riwayat lain sikap tidak memaafkan kesalahan sesama Muslim sementara yang bersalah sudah berusaha minta maaf, diancam amalnya akan ditangguhkan (tidak diterima) hingga bersedia memberi maaf dan berdamai.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menceritakan:

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ فِى كُلِّ يَوْمِ خَمِيسٍ وَاثْنَيْنِ فَيَغْفِرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى ذَلِكَ الْيَوْمِ لِكُلِّ امْرِئٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ امْرَأً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ ارْكُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا اترْكُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Pintu-pintu surga dibuka setiap hari senin dan hari kamis, lalu orang-orang yang tidak berbuat syirik diampuni dosa-dosanya, kecuali orang yang memiliki rasa kebencian terhadap suadaranya. Lalu dikatakan, “Tangguhkanlah kedua orang ini hingga kembali berdamai. Tangguhkanlah kedua orang ini hingga kembali berdamai”. (HR.Muslim).

Wallahu A’lam.

Sumber: Akun Facebook  Ustadz Rappung Samuddin,Lc, MA

Waktu Shalat Dhuha yang Paling Utama

Waktu Shalat Dhuha

Waktu Paling Utama Melaksanakan Shalat Dhuha (Gambar diambil dari mauhijrah.com)

Pertanyaan:

Pertanyaan saya tentang waktu shalat Dhuha, Bolehkah melaksanakan shalat Dhuha setelah terbit mata hari, ataukah satu dua jam pasca terbitnya matahari, misalnya jam delapan atau sembilan? Bolehkah mengerjakan shalat Dhuha menjelang Dzuhur?

Jawaban:

Waktu shalat Dhuha dimulai setelah terbit mata hari setinggi satu tombak. Kira-kira 15 menit setelah terbit matahari. Adapun waktu akhirnya yakni menjelang Dzuhur (qubaila dzuhur). Kira-kira lebih kurang 10 menit menjelang masuk waktu dzuhur. Oleh karena itu memungkinkan dilaksanakan di antara waktu tersebut.

Akan tetapi waktu yang paling afdhal adalah ketika matahari mulai meninggi atau saat panasnya mulai menyengat, sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya;

صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

 “(Waktu terbaik) shalat awwabin (shalat Dhuha) adalah ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim ).

Imam Nawawi mengatakan dalam Syarh Shahih Muslim, “Inilah waktu paling utama untuk melaksanakan shalat Dhuha. Begitu pula para sahabat kami (ulama Syafi’iyah) mengatakan bahwa ini merupakan waktu terbaik untuk shalat Dhuha. Walaupun boleh pula dilaksanakan ketika matahari terbit hingga waktu zawal (tergelincir matahari).

“Tarmadhul fishal” artinya ketika kuku-kuku anak unta mulai kepanasan karena pasir terpapar oleh terik panas matahari sehingga anak unta mulai mencari tempat yang teduh untuk bernaung. Inilah waktu yang utama melakukan shalat Dhuha.

Imam Ash-Shan’ani mengutip perkataan Ibnul Atsir dalam Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir, “Maksudnya, waktu Shalat Dhuha adalah ketika matahari mulai meninggi dan panasnya menyengat. Beliau berdalil dengan hadits ini tentang keutamaan mengakhirkan Shalat Dhuha sampai terik mata hari mulai menyengat.”

Beliau (Ibnul Atsir) juga menjelaskan tentang sebab penamaan Shalatul Awwabin untuk shalat Dhuha karena pada waktu tersebut cenderung untuk santai, mencari ketenangan, dan istirahat, sehingga mengisi waktu tersebut dengan  shalat merupakan adab mulia bagi jiwa yang menghendaki keridhaan Allah. Wallahu ‘alam.

Hukum Mengambil Upah dari Mengajarkan Agama dan Al-Qur’an

Keutamaan Membaca Al-Qur'an

Ilustarsi: Seorang santri sedang membaca Al-Qur’an

Hukum Mengambil Upah dari Mengajarkan Agama dan Al-Qur’an

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum, mohon penjelasan tentang hukum mengambil upah atau gaji dari mengajarkan Agama atau Al-Qur’an.

Jawaban:

Pertama:

Asal dalam ibadah, seorang muslim tidak boleh mengambil gaji sebagai pengganti apa yang dia lakukan. Siapa yang berkeinginan ketaatannya untuk (mendapatkan) dunia. Maka dia tidak mendapatkan pahala di sisi Allah sebagaimana Firman Ta’ala:

( مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ) هود/ 15 ، 16

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” QS. Hud: 15-16.

Kedua:

Kalau ibadah itu manfaatnya untuk orang lain dimana orang selain pelakukanya dapat mengambil manfaat seperti ruqyah dengan Qur’an atau mengajarkannya. Atau mengajarkan hadits, maka dia diperbolehkan mengambil upah atasnya menurut jumhur ulama. Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

فعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ نَفَراً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مَرُّوا بِمَاءٍ فِيهِمْ لَدِيغٌ ، فَعَرَضَ لَهُمْ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَاءِ فَقَالَ : هَلْ فِيكُمْ مِنْ رَاقٍ إنَّ فِي الْمَاءِ رَجُلاً لَدِيغًا ؟ فَانْطَلَقَ رَجُلٌ مِنْهُمْ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ عَلَى شَاءٍ [أي : مجموعة من الغنم]، فَبَرَأَ ، فَجَاءَ بِالشَّاءِ إِلَى أَصْحَابِهِ ، فَكَرِهُوا ذَلِكَ ، وَقَالُوا : أَخَذْتَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَجْراً ؟ حَتَّى قَدِمُوا الْمَدِينَةَ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَخَذَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَجْراً ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : (إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ) رواه البخاري ( 5405 ) .

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwa sekelompok dari para shahabat Nabi sallallahu alaihi wa sallam melewati perkampungan yang terkena sengatan. Maka salah seorang penduduk perkampungan menawarkan seraya mengatakan, “Apa ada diantara kamu semua orang yang meruqyah. Sesungguhnya ada seseorang terkena sengatan di perkampungan? Maka ada salah seorang diantara mereka pergi dan dibacakan Fatihatul Kitab (dengan imbalan) sejumlah kambing dan sembuh. Maka beliau sambil membawa kambing kembali ke teman-temannya. Sementara mereka tidak menyukainya. Seraya mengatakan, “Apakah kamu mengambil upah dari kitabullah? Sampai mereka di Madinah. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, mengambil upah dari Kitabullah. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling berhak anda mengambil upah itu dari kitabullah.” (HR. Bukhari, (5405).

Dikeluarkan oleh Bukhori, (2156) dan Muslim, (2201) dari hadits Abu Said Al-Khudri. Nawawi rahimahullah membuat bab dalam penjelasan Muslim seraya mengatakan, “Bab Jawaz Akhdil Ujroh Alar Ruqyah Bil Quran Wal Adzkar (Bab diperbolehkan mengambil upah atas Ruqyah dengan Quran dan Zikir).

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan dalam menjelaskan hadits,

Ini jelas diperbolehkan mengambil upah atas ruqyah dengan Al-Fatihah dan zikir. Dan itu halal tidak makruh di dalamnya. Bagitu juga upah dalam mengajarkan Qur’an. Dan ini mazhab Syafi’I, Malik, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan ulama salaf lainnya dan ulama setelahnya. (Syarkh Nawawi, (14/188)

Para ulama Lajnah Daimah Lil Ifta’ mengatakan,

 “Anda diperbolehkan mengambil upah dari pengajaran Qur’an. Karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam menikahkan seseorang dengan wanita dengan mengajarkannya kepadanya apa yang dia punya dari Qur’an. Dan hal itu sebagai maharnya. Dan shabat yang mengambil upah atas kesembuhan orang kafir sakit disebabkan ruqyah kepadanya dengan Fatihatul Kitab. Dan Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda akan hal itu, “Sesungguhnya yang paling berhak untuk anda ambil upahnya adalah Kitab Allah.” HR. Bukhori dan Muslim. Sesungguhnya yang dilarang adalah mengambil upah atas bacaan Qur’an itu sendiri dan meminta orang dengan bacaannya.”  (Fatawa Lajnah Daimah, 15/96).

(Sumber: Jawaban dikuti dari islamqa.info.id)

Hukum Bershalawat Saat Khutbah Jum’at Sedang Berlangsung  

 

Hukum Bershalawat Saat Khutbah Jum’at Sedang Berlangsung  

Pertanyaan:

Kita wajib mengucapkan shallallahu ‘alaihi wa sallam (bershalawat) saat mendengar nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut. Tetapi pada saat khutbah kita wajib tidak berbicara, karena jika berbicara saat khutbah pahala kita akan hilang. Lalu apakah ketika khatib menyebut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kita tetap bershalawat?

Jawaban:

Alhamdulillah, Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, wa ba’d;

Masalah ini meruapakan perkara khilafiyah (perbedaan pendapat) di kalangan ulama. Ada yang memandang keharusan untuk diam secara mutlak, berdasarkan hadits-hadits tentang perintah diam (inshat) saat khutbah. Dan ada pula yang berpendapat disyariatkannya ta’min (mengaminkan do’a) dan bershalawat kepada Nabi. Mereka berdalil dengan anjuran mengaminkan do’a seperti pada khutbah Istisqa (minta hujan). Demikian pula berdalil dengan mengangkat tangan saat berdo’a pada khutbah shalat istisqa, yang mana mengangkat tangan melebihi shalawat (karena mengangkat tangan berupa gerakan sedangkan shalawat sekadar ucapan yang dapat pula disirrkan). Sedangkan shalawat lebih penting dari ta’min. Karena shalawat hukumnya wajib, berdasarkan firman Allah;

“إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً” (الأحزاب:56)،

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

“رغم أنف امرئ ذكرت عنده فلم يصلِّ عليّ” رواه الترمذي

Celakalah seseorang yang mendengar aku disebutkan dihadapannya lalu ia tidak bershalawat kepadaku”. (HR. Tirmidziy).

Inilah pendapat yang rajih dalam masalah ini. Oleh karena itu saya wasiatkan kepada para imam dan khatib untuk memperhatikan keadaan manusia dalam masalah ini, selama ia merupakan persoalan yang ada kelonggaran di dalamnya, dengan tidak mengharuskan orang-orang bershalawat secara jahr. Cukup mereka bershalawat secara sirr (lirih) agar tidak mengganggu orang di sekitarnya dan tidak menimbulkan fitnah.

Inilah sikap hikmah  dan manhaj Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dan para Imam Islam lainnya. Mereka sangat memperhatikan keadaan manusia dalam persoalan yang tidak termasuk bid’ah atau amalan haram. Karena ia sebatas perkara fadhilah amal dan masalah khilafiyah yang mu’tabarah, seperti halnya masalah jahr dan sirr dalam Bismillahirrahmanirrahim dan yang lainnya. Sebab perbedaan (khilaf) merupakan sesuatu yang buruk, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.  Wallahu a’lam.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Sumber: http://www.almoslim.net/node/62918#

Kesimpulan:

Boleh bershalawat secara sirr  saat khutbah bila mendengar khatib menyebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.