Cara Memilih Calon Istri

Cara Memilih Calon Istri

Cara  Memilih Calon  Istri

Pertanyaan:

Bagaimanakah caranya memilih calon istri dari sisi kecantikannya, keturunan dan agamanya ?  Terima kasih.

Jawaban:

Sunnah Nabi telah menjelaskan sifat-sifat seorang wanita yang seharusnya diupayakan oleh setiap laki-laki, sifat-sifat tersebut bisa disimpulkan sebagai berikut: perawan, baik agamanya, keturunannya, cantik dan kaya, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ ) رواه البخاري (4802) ومسلم (1466

Wanita itu dinikahi karena empat hal: kaya, berasal dari keturunan yang baik, cantik dan karena agamanya. Maka beruntunglah dengan yang agamanya baik, maka akan menjadikanmu tenang”. (HR. Bukhori: 4802 dan Muslim: 1466)

Jika telah berkumpul semua sifat itu pada diri seorang wanita, maka dialah yang baik dan sempurna, kalau tidak maka hendaknya lebih mengutamakan yang lebih penting dan lebih utama. Dan yang terpenting adalah yang baik agamanya dan shalihah, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا : الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ) رواه مسلم (1467

Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah”. (HR. Muslim: 1467)

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah ditanya: wanita yang bagaimanakah yang paling baik ?, beliau menjawab:

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ ) رواه النسائي (7373) . وحسنه الألباني في “السلسلة الصحيحة” (1838

Adalah wanita yang menyenangkan jika dipandang, mentaatinya jika disuruh, dan tidak menyelisihinya dalam diri dan hartanya dengan apa yang tidak disenangi olehnya”. (HR Nasa’i: 7373 dan dihasankan oleh al Baani dalam Silsilah ash Shahihah: 1838).

Bolehkah Nadzor (Melihat) Tunangan Lebih Dari Satu Kali dan Ngobrol Bersama

Nadzor

 Nadzor (Melihat) Tunangan Lebih Dari Satu Kali dan Ngobrol Bersama?

Pertanyaan:

Saya telah meminang seorang wanita, namun pada saat prosesi nadzo r (melihat) dia terlihat sangat malu, sampai-sampai saya tidak bisa melihat dengan jelas karena dia sangat tersipu malu.

Pertanyaannya adalah Apakah saya boleh minta izin kepada keluarganya untuk melihatnya lagi, dan duduk bersama untuk bercakap-cakap dengannya sebelum adanya kesepakatan dan proses pinangan selesai ?

Terima kasih

Jawaban:

Alhamdulillah

Bagi seorang peminang boleh melihat wanita pinangannya, duduk bersama dan bercakap-cakap dengannya, meskipun terjadi lebih dari satu kali, selama masih ada keraguan dalam dirinya hingga benar-benar yakin dan masing-masing saling menerima, namun dengan syarat tidak terjadi kholwat (berduaan), dan dalam batasan pembicaraan yang wajar dan semestinya.

Jika telah terjadi khitbah (pinangan) atau sebaliknya, maka hukum kembali kepada asalnya, yaitu; haram melihatnya kembali; karena sebab yang membolehkannya sudah berlalu.

Yang mendasari hukum di atas adalah sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ ، فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا ، فَلْيَفْعَلْ). رواه أبو داود (2082) وحسنه الحافظ ابن حجر في “فتح الباري” (9/181(

 “Jika salah seorang dari kalian meminang seorang wanita, maka apabila dia bisa melihatnya hingga memiliki hasrat untuk menikahinya, maka hendaknya dia melakukannya”. (HR. Abu Daud (2082) dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari: 9/181)

Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah– berkata: “Dibolehkan mengulangi untuk melihatnya… Jika pada prosesi melihat yang pertama belum ada hasrat untuk menikahinya, maka hendaknya melihatnya yang kedua kali dan ketiga kalinya”. (Asy Syarhul Mumti’: 12/21)

Syeikh Ibnu Baaz berkata: “Dibolehkan bagi seseorang yang mau meminang seorang wanita untuk bercakap-cakap dengannya dan melihatnya namun tidak dengan khalwat (berduaan)…., jika percakapannya seputar pernikahan, tempat tinggal dan latar belakangnya, apakah dia mengetahui ini dan itu, maka hal itu tidak masalah jika dia memang mau meminangnya”. (Majmu’ Fatawa: 20/429).

Dan di dalam al Mausu’ah al Fiqhiyah (22/17) disebutkan:

Dibolehkan mengulangi prosesi nadzor (melihatnya) jika dibutuhkan agar menjadi jelas semuanya, dan tidak menyesal setelah menikahinya; karena biasanya tujuannya tidak tercapai hanya dengan melihatnya satu kali”.

Sumber: Islamqa.id.info

Sahkah Jika Jama’ah Wanita Shalat disamping Jama’ah Laki-Laki dengan Pembatas?

Sahkah Jika Jama'ah Wanita Shalat disamping Jama'ah Laki-Laki dengan Pembatas

Sahkah Jika Jama’ah Wanita Shalat disamping Jama’ah Laki-Laki dengan Pembatas

Sahkah Shalat Jama’ah Wanita disamping Jama’ah Laki-Laki dengan Pembatas?

Pertanyaan:

Di negara kami ada masjid, wanitanya shalat di samping laki-laki tapi diantara keduanya ada pembatas tembok. Apakah prilaku ini sah ataukah wanita shalatnya harus dibelakang laki-laki?

Jawaban:

Alhamdulillah

Pertama, kalau jama’ah wanita shalat sejajar (disamping) laki-laki dan diantara keduanya ada pembatas baik dinding atau tempat kosong memungkinkan untuk shalat, maka shalatnya sah menurut kebanyakan ahli ilmu dari Madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyyah dan Hanabilah. Adanya perbedaan diantara mereka manakala shalat di sampingnya tanpa ada pembatas. Pendapat Hanafiyah (mengatakan), bahwa batal shalatnya tiga orang laki-laki. Satu disamping kanan, yang lain samping kiri dan ketiga dibelakangnya. Dengan syarat-syarat yang telah mereka sebutkan. Hasilnya adalah wanita itu sudah ‘Musytaha’ yaitu telah berumur tujuh tahun atau yang sudah layak untuk digauli, menurut perbedaan dalam madzhab. Dan ikut dengan laki-laki dalam shalat mutlak yaitu yang ada ruku’ dan sujud. Sama-sama dalam larangan dan pelaksanaan. Dan hendaklah imam telah berniat untuk mengimami (wanita) atau menjadi imam kalangan wanita secara umum. Dengan perincian lainnya, dapat diketahui dengan merujuk ke kitab-kitab mereka. Silahkan melihat kitab AL-Mabsut, 1/183. Badai’ sonai’, 1/239. Tabyinul Haqaiq, 1/ 136-139.

An-Nawawi rahimahullah berkata dalam menjelaskan perbedaan dalam masalah, kesimpulan madzhab Hanafiyah adalah kalau laki-laki shalat sementara disampingnya ada wanita. Shalatnya tidak batal (baik) laki-laki maupun wanita. Baik dia sebagai imam atau makmum. Ini adalah madzhab kami (Syafiiyyah), dan juga pendapat Imam Malik dan kebanyakan (ulama’). Abu Hanifah mengatakan, kalau wanita (dalam kondisi) tidak shalat atau dalam kondisi shalat tapi tidak bersama shalat dengan dia. Maka shalatnya sah baik laki-laki maupun wanita. Kalau (wanita) dalam kondisi shalat ikut bersama dengan (laki-laki) –tidak dikatakan kebersamaan menurut Abu Hanifah kecuali kalau imamnya berniat menjadi imam para wanita- kalau wanita ikut bersamanya, jika ada laki-laki berdiri disampingnya. Maka shalatnya batal orang yang (berdiri) disamping wanita. Sementara shalat wanita tersebut tidak batal. Bagitu juga (tidak batal) orang yang shalat disela setelah selanya. Karena antara (wanita) dengan laki-laki ada penghalang. Kalau wanita di shaf diantara yakni imamnya, maka shalat orang yang sejajar dibelakangnya batal, dan tidak batal orang yang shalat sejajar dengan jajaran wanita. Karena ada penghalang. Kalau para wanita membuat shaf dibelakang imam, sementara dibelakang mereka ada shaf laki-laki. Maka shalat yang ada dishaf setelah (shaf para wanita) batal. Berkata, sebenarnya qiyas (analoginya) tidak batal shalat yang ada dibelakang shaf diantara shaf-shaf karena ada penghalang. Akan tetapi kami katakan, shaf para laki-laki dibelakangnya batal meskipun ada seratus shaf karena istihsan. Kalau wanita berdiri di samping imam, maka shalat imam batal karena wanita ada di sampingnya. Dan madzhabnya, kalau shalat imam batal, maka shalat para makmum juga batal. Dan shalat (wanita) itu juga batal karena dia termasuk bagian dari makmum.

Madzhab ini lemah hujjahnya. Nampak berpegang teguh dengan perincian yang tidak ada asalnya. Pegangan kami bahwa shalatnya sah sampai ada dalil shoheh syar’i yang menjelaskan batalnya (shalat) padahal mereka tidak punya (dalil). Teman-teman kami (semadzhab) mengkiyaskan berdirinya (wanita) dengan berdirinya dalam shalat jenazah, (maka shalatnya) tidak batal menurut mereka. (Al-Majmu’, 3/331 Dengan sedikit ringkasan).

Sementara kalau ada penghalang, madzhab Hanafi dan mayoritas ulama’ bersepakat bahwa shalatnya tidak ada yang batal salah satu diantara keduanya, sebagaimana di kitab ‘Tabyinul Haqoiq, 1/138.

Kedua, tidak diragukan bahwa yang sesuai sunnah adalah shaf para wanita dibelakang para lelaki. Sebagaimana kondisi zaman Nabi sallallahu’alaihi wa sallam. Telah diriwayatkan oleh Bukhori, 380 dan Muslim, 658. Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu bahwa neneknya Mulaikah mengundang Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam untuk makan-makan yang telah dibuatnya. Kemudian (beliau) mengatakan, berdirilah kamu semua untuk menunaikan shalat bersama kami. Anas berkata: ”Saya berdiri ke tikar yang kami punya sudah menghitam dikarenakan lama dipakai, dan kami percikkan air. Maka Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam berdiri sementara saya dan anak yatim membuat shaf dibelakangnya. Dan orang tua (nenek) dibelakang kami. Maka Rasulullah sallallahu’alaih wa sallam shalat bersama kami dua rakaat kemudian pulang.

Al-Hafidz (Ibnu Hajar) mengomentari dalam kitab Fath, ‘’dalam hadits ini banyak  faedahnya… (Shaf) wanita berada di belakang shaf para lelaki. Dan berdirinya wanita sendirian dalam shaf dikala tidak ada wanita lainnya”.

Akan tetapi kalau terjadi seperti apa yang anda sebutkan bahwa para wanita sejajar dengan para lelaki, maka shalatnya sah wal hamdulillah.

Wallahu’alam . [islamqa.info.id].

Ingin Tobat dari Riba, Tapi?

Riba

Bunga Bank=Riba

Ingin Tobat dari Riba, Tapi?

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad,

Saya mau tanya tentang riba,,,saya dulu hutang di bank sampai skrng, pada waktu sy htng d bank sy tdk tau klu itu riba, setelah sy tau sy n suami berusaha untuk cepat2 melunasinya ,,tp blm lunas suami sy pindah kerja n gajinya cuma cukup untuk kebutuhan keluarga kami,,,kata pihak bank angsran hutang kami bisa dikecilkan tp jangka waktu pembayarannya jdi lama,,, rasanya hati sy berat untuk memperpanjang angsran krn sy takut dosanya,,tp klu angsran hut bank tdk kami kecil kan untuk keperluan keluarga kami tdk cukup ,,,,saya punya rumah pemberian dari orang tua, apakah saya harus menjualnya ustad tapi sy takut mengecewakan orang tua sy,,,,sy hrs bgmn y ustad,,, tolong sy ustad sy minta solusinya,,,,,terima kasih . [Lia].

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalam,

Pertama,  Kami ucapkan selamat kepada ibu dan suami yang telah bertaubat dari dosa riba dan sedang berjuang keluar dari lilitan hutang riba.

Kedua,  Kami doakan semoga ibu dan suami diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala.

Ketiga,  Solusi yang kami tawarkan adalah: Jika nilai jual dari rumah yang ibu tempati saat ini cukup untuk melunasi hutang atau mempercepat proses melunasi hutang tersebut, maka solusi yang kami sarankan kepada ibu adalah menjual rumah tersebut.  Syukur jika masih ada sisa untuk membeli rumah yang sederhana atau ngontrak+modal usaha sambilan.

Namun karena rumah tersebut merupakn pemberian dari orang tua,  maka secara etika sebaiknya tetap menyampaikan kepada orang tua bahwa rumah tersebut akan dijual. Tentu dengan menyampaikan alasan bahwa rumah dijual sebagai satu-satunya solusi dan jalan keluar dari dosa riba.  Semoga orang tua ibu tergerak.  Saya kira tak ada satupun orang tua yang tega membiarkan anakny terjatuh dalam dosa.  Tentu ibu perlu meyakinkan orang tua dengan penuh adab dan sopan santun ttg bahaya riba.  Tetap jaga adab dan sopan santun dalam membicarakn masalah ini.  Agar orang tua tidak salah paham dan tersinggung.

Keempat,  jangan lupa bersedekah (walau sedikit)  dan banyak berdo’a,  khususnya do’a memohon perlindungan dari lilitan hutang.  Diantaranya;

اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن والعجز والكسل  والجبن والبخل وضلع الدين وغلبة الرجال

Allahumma Inniy a ‘udzu bika minal hammi wal hazani wal ‘ajzi wal kasali wal jubi wal bukhli wa dhal ‘id Daini wa ghalabatir Rijal

“Ya Allah,  sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari rasa bimbang dan sedih,  lemah dan malasa,  kikir dan pengecut lilitan hutang dan penguasa yng semena-mena“.

Semoga ibu diberi kemudahan dan jalan keluar. [sym].

Sujud Sahwi, Sebelum Salam Atau Setelah Salam?

Sujud Sahwi

 

Sujud Sahwi, Sebelum Salam Atau Setelah Salam?

Pertanyaan:

Assalamu alaikum ustadz mohon penjelasan tentang sujud sahwi. Apakah dilakukan setelah salam atau sebelum salam? Karena saya pernah lihat ada yang sujud setelah salam, ada juga pernah saya lihat sujud sebelum salam. Terima kasih. (Abu Abdillah, Sulawesi Selatan)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Sujud sahwi adalah dua kali sujud yang dilakukan orang shalat untuk menambal kekurang sempurnaan shalatnya lantaran karena  lupa. Sebab kelupaan ada tiga; kelebihan, kekurangan dan keraguan.

Kelebihan (tambah): Jika yang shalat sengaja menambahkan berdiri, duduk, ruku’ atau sujud, batallah shalatnya.

Jika ia lupa akan kelebihannya dan baru sadar ketika sudah selesai, maka ia wajib sujud sahwi. Jika sadarnya itu terjadi di tengah-tengah shalat, hendaklah ia kembali ke shalatnya lalu sujud sahwi. Contohnya, jika ia lupa shalat Zuhur lima raka’at dan baru ingat sedang tasyahud, hendaklah ia sujud sahwi dan salam. Jika ingatnya itu di tengah-tengah raka’at kelima, hendaklah langsung duduk tasyahud dan salam, setelah itu sujud sahwi dan salam.

Cara di atas bersumber kepada hadits dari Abdullah bin Mas’ud yang menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah shalat Zhuhur lima rakaat. Lalu ditanyakan apakah ia menambahkan raka’at shalat? Maka setelah para sahabat menjelaskan bahwa beliau shalat lima raka’at, beliau langsung bersujud dua kali setelah salam (shalat). Riwayat lain menjelaskan bahwa ketika itu beliau berdiri membelahkan kedua kakinya sambil menghadap kiblat lalu sujud dua kali dan salam.

Sujud sahwi dilakukan sebelum salam dalam dua kondisi;

Pertama

Jika seseorang kekurangan dalam shalatnya, berdasarkan hadits Abdullah bin Buhainah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud sahwi sebelum salam ketika lupa tasyahud awal.

Kedua

Ketika yang shalat ragu-ragu atas dua hal dan tak mampu mengambil yang lebih diyakininya, seperti yang dijelaskan oleh hadits Abi Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu tentang orang yang ragu-ragu dalam shalatnya, apakah tiga atau empat raka’at. Ketika itu, orang tersebut disuruh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar sujud dua kali sebelum salam. Hadits-hadits yang barusan telah dikemukakan lafaznya dalam bahasan sebelumnya.

Sedangkan sujud sahwi sesudah salam, dilakukan dalam dua keadaan:

Pertama

Ketika kelebihan sesuatu dalam shalat sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abdullah bin Mas’ud tentang shalat Zuhur lima raka’at yang dialami Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sujud sahwi dua kali ketika sudah diberitahu oleh para sahabat. Ketika itu beliau tidak menjelaskan bahwa sujud sahwinya dilakukan setelah salam (selesai) karena beliau tidak tahu kelebihan. Maka hal ini menunjukkan bahwa sujud sahwi karena kelebihan dalam shalat dilaksanakan setelah salam shalat, baik kelebihannya itu diketahui sebelum atau sesudah salam.

Contoh lain, jika orang lupa membaca salam padahal shalatnya belum sempurna, lalu ia sadar dan menyempurnakannya, berarti ia telah menambahkan salam di tengah-tengah shalatnya. Karena itu, ia wajib sujud sahwi setelah salam berdasarkan hadits Abu Hurairah yang menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Zuhur atau Ashar sebanyak dua raka’at. Maka setelah diberitahukan, beliau menyempurnakan shalatnya dan salam. Dan setelah itu sujud sahwi dan salam.

Kedua

Jika ragu-ragu atas dua hal namun salah satunya diyakini. Hal ini telah dicontohkan dalam hadits Ibnu Mas’ud sebelumnya. Jika terjadi dua kelupaan, yang satu terjadi sebelum salam dan yang kedua sesudah salam, maka menurut ulama, yang terjadi sebelum salamlah yang diperhatikan lalu sujud sahwi sebelum salam.

Contohnya, misalnya seseorang shalat Zuhur lalu berdiri menuju raka’at ketiga tanpa tasyahud awal. Kemudian pada raka’at ketiga itu ia duduk tasyahud karena dikiranya raka’at kedua dan ketika itu ia baru ingat bahwa ia berada pada raka’at ketiga, maka hendaklah ia bediri menambah satu rakaat lagi, lalu sujud sahwi serta salam.

Yakni dari contoh di atas diketahui bahwa lelaki tersebut telah tertinggal tasyahud awal dan sujud sebelum salam. Ia pun kelebihan duduk pada raka’at ketiga dan hendaknya sujud (sahwi) sesudah salam. Oleh sebab itu, apa yang terjadi sebelum salam diunggulkan. Wallahu ‘alam.

Dari uraian di atas disimpulkan bahwa sujud sahwi ada yang dilakukan sebelum salam dan ada yang dilakukan setelah salam.

[sym]

Sumber: 257 Tanya Jawab, Fatwa-Fatwa Al-‘Ustaimin, hal 146-148 Gema Risalah Press

Adakah Shalat Sunnah Sebelum Maghrib (Qabliyah Maghrib)?

Adakah Shalat Sunnah Sebelum Maghrib (Qabliyah Maghrib)?

Pertanyaan :

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Sebelumnya saya ingin menyampaikan syukur alhamdulillah dengan keberadaan rubrik konsultasi syari’ah di web ini. Adapun yang mau saya tanyakan adalah :

  1. Adakah shalat sunnah qabliyah sebelum magrib?
  2. Apa sesungguhnya hukum shalat berjamaah? Wajib ataukah Sunnah? Adakah perbedaan antara pria dan wanita dalam hal shalat berjamaah di masjid?

terimaksih atas jawabannya.

(Udin Mas K, Makassar, HP 085 255 578 xxx)

Jawaban:

Bismillah, alhamdulillah washalaatu wassalamu ‘alaa Rasulillah , ammaa ba’d.

Para ‘Ulama rahimahumullaha membagi shalat sunnah  rawatib menjadi dua:

  1. Ar Rawaatib Al Muakkadah. Yang terdiri atas 12 raka’at selama sehari semalam. Inilah yang dijelaskan keutamaanya dalam satu hadits tersendiri, yaitu hadits Ummul Mu’miniin Ummu Habibah radhiyallaahu ‘anha beliau berkata bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang muslim shalat sunnah setiap hari dua belas raka’at selain shalat wajib, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga” (HR. Muslim).

Perinciannya adalah sebagai berikut: Empat rakaat sebelum dzuhur dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah ‘isya, dan dua rakaat sebelum shubuh.

  1. Ar Rawaatib Ghairu Muakkadah,Yaitu:
  2. Shalat sunnah antara adzan dan iqamat berdasarkan hadits Bukhariy “Antara dua adzan (adzan & iqamat) terdapat shalat (sunnah) (HR. Bukhari).
  3. Empat Rakaat sebelum ‘Ashar, berdasarkan hadits Ibnu, Umar radhiyallaahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat (sunnah) empat rakaat sebelum ‘ashar”. (HR Abu Daud dan Tirmidziy dan dishahihkan oleh Syaikh al-AlBaani).
  4. Dua rakaat sebelum Maghrib berdasarkan hadits ‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Shalatlah sebelum maghrib dua rakaat,shalatlah sebelum maghrib dua rakaat,shalatlah sebelum maghrib dua rakaat  (beliau berkata pada kali yang ketiga) Bagi siapa yang mau “.(HR Bukhari).

Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa shalat sunnah qabliyah maghrib disunnahkan (termasuk Rawatib ghairu muakkadah). Berikut ini kami akan rincikan dan tambahkan beberapa dalil lain yang menunjukkan  disunnahkannya shalat sunnah dua rakaat sebelum maghrib:

  1. Hadits Bukhari di atas bahwa “Antara dua adzan (adzan & iqamat) terdapat shalat (sunnah) (HR Bukhari).
  2. Hadits ‘Abdullah bin Mughaffal di atas: Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalatlah sebelum maghrib dua rakaat,shalatlah sebelum maghrib dua rakaat, shalatlah sebelum maghrib dua rakaat (beliau berkata pada kali yang ketiga) Bagi siapa yang mau”. (HR Bukhari).

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi shallalaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada para shahabat untuk shalat sunnah dua rakaat sebelum maghrib. Bahkan beliau sampai mengulangi perintahnya sebanyak tiga kalai, hanya saja pada kali yang ketiga beliau memberikan pilihan bagi yang mau.Sebagian perawi menambahkan di ujung hadits tersebut “Beliau tidak suka kalau manusia menganggap  hal itu (shalat dua rakaat sebelum maghrib) sunnah (“karaahiyata an yattakhidzahaannaasu sunnah”).

Menurut al-Muhib ath-Thabari,(tambahan)  sabda Nabi dengan lafadz: “karaa hiyata an yattakhidzahaannaasu sunnah” tidaklah berarti bahwa dua rakaat sebelum maghrib itu tidak sunnah hukumnya. Hal ini karena Nabi tidak mungkin memerintahkan sesuatu yang beliau sendiri tidak menyukainya. Bahkan hadits inilah yang menunjukan sunnahnya  dua rakaat sebelum maghrib. Sedangkan makna dari ucapan Nabi diatas adalah: “Beliau tidak mau kalau nanti dia dijadikan sebagai “syarii’atan wa thariqatan laazimatan” yakni syari’at dan jalan yang wajib hukumnya”. Ucapan beliau itu bisa juga menunjukan bahwa derajat shalat maghrib lebih rendah dibanding sunnat-sunnat rawatib lainnya. Karena itulah maka mayoritas ulama syafi’iyah tidak memasukannya ke dalam shalat-shalat sunat rawatib”. Demikian keterangan Imam Syaukani dalam Nailul authar jilid II halaman 8.

  1. Hadist Riwayat Imam Muslim.

Dari Mukhtar bin Fulful  radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata:

“Aku bertanya kepada Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu  tentang tathawwu’ (shalat sunnah) setelah ‘ashar? Beliau berkata; Dahulu ‘Umar memukul tangan orang yang shalat setelah shalat ‘ashar. Dan kami shalat di zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dua rakaat setelah terbenam matahari sebelum shalat maghrib, Aku tanyakan kepadanya; apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukannya? Anas menjawab; Beliau melihat kami melakukannya, namun beliau tidak menyuruh kami dan tidak pula melarang kami  (HR Muslim No. 836).

Hadist ini  menunjukan taqrir (persetujuan) Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ketika beliau melihat para shahabat melakukannya, beliau membiarkan dan tidak melarang.

Dari dalil-dalil diatas dapat disimpulkan bahwa disunnahkan shalat 2 dua rakaat sebelum (qabliyah) maghrib, wallaahu a’lam.

Bolehkah Wanita Shalat dalam Keadaan Telapak Tangan Terlihat ???

Bolehkah Wanita Shalat dalam Keadaan Telapak Tangan Terlihat ???

oleh : Samsul Basri

Para Ulama berbeda dalam menetapkan hukumnya apakah boleh atau tidaknya telapak tangan tersingkap di dalam Shalat.

Kedua Tangan Wajib ditutup Ketika shalat

Imam Asy-Syaukani rahimahullahu  menyebutkan dalam kitab “Nailu al-Authaar” juz 3 hlm.330 bahwa al-Imam al-Muhaddits, Imam Abu Daud dan Imam Ahmad berkata,

أنه لا يجوز للمرأة الحرة أن تكشف كفيها وقدميها في الصلاة. ويجب عليها ستر جميع بدنها إلا الوجه

“Mengenai hal ini tidak boleh bagi seorang wanita merdeka menampakkan kedua telapak tangan demikian pula kedua kakinya ketika shalat.  wajib baginya menutup semua badannya kecuali wajah.”

Kedua Tangan Tidak Wajib ditutup dan  Boleh Terlihat

Pendapat  ini dipilih oleh Imam Malik dan Imam Asy-Syafi’i, sebagaimana dinukil oleh Abu al-Qashim bin al-Jilaabi al-Bashriy al-Maalikiy dalam kitab “at-Tafrii’u” juz 1 hlm.239.

والمرأة الحرة كلها عورة إلا وجهها ويديها وعليها أن تستر في الصلاة سائر جسدها ولا تبدي منه شيئا الا الوجه واليدين

Dan seorang wanita merdeka, seluruh tubuhnya adalah aurat, kecuali wajah dan kedua tangannya, maka wajib baginya menutup seluruh tubuhnya dalam shalat, dan tidak menampakkan bagian dari tubuhnya sedikitpun ketika shalat kecuali wajah dan kedua tangannya.

Bagaimana sebaiknya???

Sebaiknya dengan menggabungkan dua pendapat,

Fatwa Majelis Ulama al-Mamlakah as-Su’udiyyah

إن غطتهما فأفضل ، وإلا فليس بلازم ، لا بأس بكشفهما ، والوجه يشرع كشفه في الصلاة ، المرأة تكشف وجهها في الصلاة ، إلا إذا كان عندها أجنبي تغطي وجهها ، أما إذا كان ما عندها إلا زوج أو نساء ، السنة أن يكون الوجه مكشوفا ، أما اليدان فإن شاءت كشفتهما على الصحيح ، وإن شاءت سترتهما وهو أفضل خروجا من خلاف من قال بوجوب سترهما ، أما القدمان فيستران .

Sekiranya muslimah menutup kedua tangan ketika shalat, maka hal itulah yang lebih utama. namun sekiranya tidak, maka bukan suatu keharusan. yaitu tidak mengapa tampak kedua tangan. adapun wajah, disyariatkan tersingkap ketika shalat, maksudnya seorang wanita menyingkap wajahnya dalam shalat, kecuali disekitarnya lelaki asing yang memungkinkan secara leluasa melihatnya, maka ia menutupnya. adapun jika yang memungkinkan melihatnya hanya suami atau wanita muslimah, maka yang sunnah adalah membiarkan wajah tersingkap. adapun kedua tangan jika ia mau, boleh menampakkan kedua tangan, dan jika mau ia menutup kedua tangannya dan tentu inilah yang lebih afdhal (lebih utama), lebih selamat, menghindari khilaf dari yang mengatakan bahwa menutup kedua tangan adalah wajib. adapun kedua kaki, maka keduanya wajib ditutup bagi wanita. (http://www.alifta.net/Fatawa).

 

Fatwa Syaikh Bin Baz rahimahulla

المرأة عورة كلها عورة، يجب أن تستر بدنها في الصلاة، ولو ما عندها أحد، إلا الوجه، فالسنة كشفه، أما بقية بدنها فالمشروع ستره، بل يجب ستره إلا الكفين بعض أهل العلم أجاز كشفهما، والأفضل سترهما والأحوط سترهما، فإذا صلَّت وقدماها مكشوفتان أو رأسها أو ذراعها، أو صدرها لم تصح صلاتها، فالواجب على المرأة أن تستتر إلا الوجه، وهكذا الكفان الأحوط سترهما؛ لأنها عورةٌ كلها ولو ما حضرها أجنبي.

Seorang wanita seluruh tubuhnya adalah aurat. wajib baginya menutup seluruh tubuhnya di dalam shalatnya, meski tak seorang pun melihatnya, kecuali wajahnya. karena sunnahnya wajah memang ditampakkan, adapun anggota tubuh yang lainnya disyariatkan untuk ditutup. bahkan wajib ditutup kecuali kedua telapak tangan, karena sebagian ulama membolehkan keduanya tersingkap. dan yang lebih utama adalah menutup keduanya, dan yang lebih berhati -hati  adalah menutupnya. jika seorang wanita shalat, sedang kedua kakinya tersingkap atau rambutnya, atau lengannya, atau dadanya maka shalatnya tidak sah. maka wajib bagi wanita menutup badannya kecuali wajahnya. demikian pula kedua tangan, yang lebih berhati-hati adalah dengan menutupnya. karena wanita adalah aurat seluruhnya meskipun tidak ada lelaki asing yang melihatnya. (http://www.binbaz.org.sa/node/14749).

 

Apakah Memasukkan Uang Ke Dalam Kotak Amal Saat Khutbah Jum’at Termasuk Lagha?

Kotak Amal

Kotak Amal

Apakah Memasukkan Uang Ke Dalam Kotak Amal Saat Khutbah Jum’at Termasuk Lagha?

Pertanyaan:

Bismillah.. Assalamualaikum ustadz,

Afwan.. Ana mau tanya..

Ketika khatib sedang berkhutbah itu kita wajib untuk tenang dan tidak melakukan gerakan yang sia2..

Kira2 yang dimaksud gerakan yg sia2 itu seperti apa saja ya ust? Apakah memasukkan uang kedalam kotak amal dan mendorong kotak amal juga termasuk gerakan yang sia-sia? (Fadhel/Group Wa Konsultasi Islami).

 

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Khutbah Jum’at merupakan salah satu syarat sah pelaksanaan Shalat Jum’at. Dalam Khutbah Jum’at sendiri juga terdapat rukun-rukun khutbah yang harus terpenuhi, seperti  membaca hamdalah, membaca shalawat dan lain-lain. Oleh karena khutbah merupakan syarat sah shalat Jum’at maka menyimak dan mendengarkan khutbah Jum’at hukumnya wajib.

Oleh sebab itu ketika khutbah Jum’at berlangsung para jama’ah dianjurkan menghadap ke arah kiblat, memperhatikan, mendengarkan, dan menyimak khutbah dengan serius dan sungguh-sungguh serta tidak melakukan sesuatu yang sia-sia yang dapat mengurangi bahkan menggugurkan pahala jum’atnya. Hal ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim;

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

Barangsiapa berwudhu, lalu memperbagus (menyempurnakan) wudhunya, kemudian mendatangi shalat Jum’at lalu mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka dia akan diampuni dosa-dosanya antara  hari itu sampai dengan hari Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya. Barangsiapa menyentuh kerikil, maka sia-sialah Jum’atnya” (HR. Muslim)

Dalam Syarh Shahih Muslim Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa memegang (bermain-main) kerikil  dan lainnya merupakan saat khutbah merupakan salah satu perbuatan yang sia-sia. Selain itu juga terdapat isyarat untuk menghadapkan hati dan anggota badan saat  khutbah Jum’at berlangsung.

Selian itu perbuatan sia-sia (lagha) juga dapat berupa ucapan atau perkataan sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah dalam sabdanya,

Apabila engkau berkata kepada temanmu “diamlah” pada hari Jum’at sedang imam sedang berkhutbah, maka engkau telah berbuat lagha (sia-sia).” (HR al-Bukhari).

Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulus-Salam Syarh Bulughil Maram menjelaskan: “Apabila engkau berkata kepada temanmu: ‘diamlah’ ketika khatib berkhutbah, maka engkau telah berbuat lagha” merupakan penguat larangan berbicara. Apabila hal tersebut (berkata ‘diamlah’) dikategorikan sebagai pebuatan laghapadahal perkataan hal tersebut termasuk pada amar ma’ruf, maka orang yang berbicara lebih berat hukumnya. Dengan pengertian tersebut, maka wajib bagi orang yang akan menegur dengan menggunakan isyarat apabila memungkinkan.

Artinya jika perkataan “diam”! yang dimaksudkan mengingatkan orang berbuat lagha tergolong lagha juga, maka perkataan lain seperti mengobrol lebih terlarang lagi.

Lalu bagaimana dengan memasukan uang ke kotak amal dan menggeser kotak amal?

Jika mengucapkan satu kata ‘’diam’’ dan menyentuh/mempermainkan kerikil yang merupakan gerakan paling ringan termasuk lagha (sia-sia) yang dilarang, maka perkataan dan perbuatan atau gerakan yang lebih banyak lebih terlarang. Apalagi saat pengedaran kotak infaq ketika khutbah terdapat enam gerakan yang tidak dapat dielakkan:

  • Mengambil dompet dari saku/tas
  • Memilih uang dalam dompet
  • Melipat-lipat uang sebelum memasukannya ke dalam kotak infaq
  • Memasukkan uang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri menutupinya
  • Menggeser kotak infaq, sebelum maupun setelah memasukkan uang kedalam kotak infaq.
  • Jika tidak berinfaq minimal sekedar menggeser.

Illat (sebab)  yang menjadi alasan larangan memainkan kerikil, mengatakan ‘’diam”! atau yang lainnya karena dapat memalingkan dari berdzikir dan menyimak khutbah.

Oleh karena itu sebaiknya tidak mengedarkan kotak amal atau infaq saat Khutbah Jum’at sedang berlangsung. Hal ini demi menjaga suasana khusyu’ dan khidmatnya pelaksanaan shalat dan khutbah Jum’at. Sebagai solusi dapat diusahakan alternatif lain, seperti;

  1. Menyiapkan kotak amal/infaq di setiap pintu masuk,
  2. Mengedarkan kotak amal/infaq sebelum khutbah dimulai, misalnya saat penyampaian pengumuman atau maklumat oleh pengurus masjid jelang masuk waktu jum’at (jika ada).
  3. Mengedarkan kotak amal/infaq setelah shalat Jum’at sebelum menunaikan shalat ba’diyah jum’at.

Tentu bagi pengurus masjid perlu mensosialisasikan hal ini secara bijak kepada jama’ah, sebagai bentuk edukasi kepada para jama’ah. Walahu a’lam bish Shawab. [sym].

Tanya Jawab Fiqh Puasa [12]: Puasa Syawal, Haruskah Enam Hari Berturut-turut Atau Boleh Terpisah-pisah?

Puasa Syawal

Tanya Jawab Fiqh Puasa [12]: Puasa Syawal, Haruskah Enam Hari Berturut-turut Atau Boleh Terpisah-pisah?

Pertanyaan:

Bolehkah seseorang memilih hari-hari tertentu  untuk berpuasa pada bulan Syawal ataukah puasa syawal ini memiliki waktu-waktu (hari-hari) tertentu (ayyam ma’lum)? Apakah jika seseorang berpuasa pada hari-hari itu terhitung sebagai puasa wajib baginya?

Jawaban:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (tentang puasa Syawal);

” من صام رمضان ثم أتبعه ستًّا من شوال كان كصيام الدهر ” خرجه الإمام مسلم

Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal bagaikan puasa setahun”. (Dikelurakan Oleh Imam Muslim).

Keenam hari tersebut tidak terbatas pada hari-hari tertentu dalam bulan Syawal. Seseorang dapat memilih hari i apa saja di sepanjang bulan Syawal. Bila dia mau bisa pada awal bulan, pertengahan, atau akhir bulan. Bila dia mau bisa terpisah-pisah atau berturut-turut. Masalah ini luwes, alhamdulillah.

Jika seseorang bersegera melakukannya di awal bulan dan berturut-turut, maka itu lebih afdhal. Karena hal itu termasuk sikap bergegas kepada kebaikan (al musara’ah ilal khair).

Puasa tersebut bukan merupakan kewajiban (tidak wajib). Bahkan boleh meninggalkannya pada suatu tahun tertentu. Tetapi yang lebih utama dan lebih sempurna adalah istimrar (terus-menerus) melakukannya setiap tahun, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dirutinkan oleh pelakunya meskipun sedikit”. Semoga Allah memberi taufiq. (Sumber: Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, Juz 15, hlm. 390). (sym)

Artikel: wahdah.or.id

Tanya Jawab Fiqh Puasa [11]: Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dengan Puasa syawal?

Puasa Syawal

Tanya Jawab Fiqh Puasa [11]: Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dengan Puasa Syawal?

Pertanyaan:

Mungkinkah (baca: Bolehkah) menggabungkan dua niat puasa syawal dan puasa qadha? Syukran.

Jawab:

Masalah ini di kalangan ulama dikenal dengan masalah tasyrik (menggabungkan dua ibadah dalam satu niat). Hukumnya adalah jika termasuk wasail atau ibadah yang saling berkaitan, maka ibadahnya sah, dan kedua ibadah tersebut terhitung telah tertunaikan. Seperti, jika seseorang mandi junub pada hari jum’at dengan niat mandi jum’at dan mandi junub. Maka ia dianggap telah bersih dari hadast akbar/junub tersebut dan memperoleh pahala mandi jum’at.

Jika salah satu dari dua ibadah tersebut tidak diniatkan (ghairu maqshudah) dan yang lainnya diniatkan secara langsung, maka boleh digabung dan hal itu tidak berpengaruh pada ibadah tersebut. Misalnya shalat tahiyatul masjid dengan shalat fardhu atau shalat sunnah lainnya. Tahiyatul masjid tidak diniatkan secara langsung (ghairu maqshudah bidzatiha), tapi yang dimaksud (diniatkan) adalah memuliakan tempat (masjid) dengan shalat, dan hal itu telah terlaksana. 1

Adapun menggabung niat dua ibadah yang dimaksudkan secara dzatnya; semisal shalat –fardhu-dzuhur- dan rawatib-nya, atau seperti shiyam fardhu baik ada’ maupun qadha, kaffarat ataupun nadzar dengan shiyam sunnah seperti shiyam 6 hari syawal, maka tidak sah. Karena masing-masing ibadah tersebut berdiri sndiri dan terpisah dengan yang lainnya. Masing-masing ibadah tersebut dimaksudkan secara dzatnya dan bukan merupakan bagian dari ibadah yang lainnya (sehingga tidak dapat digabung. Jika digabung; tidak sah).

Qadha Shiyam Ramadhan dan puasa yang lainnya dimaksudkan secara dzatnya. Demikian pula dengan shiyam enam hari diu bulan syawal juga dimaksudkan secara dzatnya. Karena kedua puasa tersebut (puasa ramadhan + puasa enam hari syawal) setara dengan puasa setahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih. Sehingga tidak sah jika keduanya digabung (pelaksanaannya) dalam satu niat.

 

Kesimpulan (red): Puasa qadha dan puasa syawal tidak digabung. Jika digabung, tidak sah. Wallahu a’lam.

(sumber:http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=6579)

1[1] Misalnya, seseorang masuk masjid saat kumandang adzan telah usai. Lalu ia menunaikan shalat sunnat rawatib qabliyah . dalam keadaan seperti ini kewajiban shalat tahiyatul masjid atasnya telah gugur. Karena yang dikehendaki oleh syariat adalah “Tidak duduk –saat masuk masjid- sebelum shalat dua rakaat”. Shalat yang dimaksud adalah shalat tahiyatul masjid (penghormatan/pemuliaan terhadap masjid). Namun jika kondisi tidak memungkikan, sehingga seseorang langsung menunaikan shalat sunnah rawatib atau shalat fardhu (jika masuk saat iqamat), maka kewajiban tahiyatul masjid telah gugur, dan boleh menyertakan niat tahiyatul masjid saat shalat sunnat rawatib.

Sumber dari: http://wahdah.or.id/