Pembelahan Dada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Serial Sirah Nabawiyah

Pembelahan Dada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
(Serial Sirah Nabawiyah [05] dari Kitab Al-Khulaashoh al-Bahiyyah fiy Ahdaats as-Siyrah an-Nabawiyah, Karya Syekh Wahid Abdus-Salam Bali)

Tatkala usia Nabi ﷺ menginjak empat tahun, dua malaikat mendatanginya dan membelah dadanya, lalu mencuci hatinya dan mengembalikannya ke tempat semula.”

Penjelasan

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shohihnya, bahwa Rasulullah ﷺ didatangi oleh Malaikat Jibril ketika sedang bermain bersama anak-anak sebayanya, kemudian (Jibril) mengambilnya dan menelentangkannya, lalu membelah dadanya lalu mengeluarkan hatinya dan mengeluarkan satu gumpalan darinya, lantas berkata:

Ini adalah bagian Syaitan yang ada padamu“, kemudian mencucinya dalam bejana emas dengan air zam-zam lalu menata dan mengembalikannya ke tempat semula. Dan anak-anak (yang sedang bermain dengannya) berlarian mencari ibu susuannya seraya berseru: “Muhammad telah dibunuh”, maka merekapun mendatangi Rasulullah ﷺ yang mukanya terlihat pucat.”

Anas bin Malik berkata: “Saya pernah melihat bekas jahitan di dada Rasulullah ﷺ .”(Shahih Muslim no. 261).

Ibnu Sa’ad berkata; “Umur Rasulullah ﷺ saat peristiwa tersebut (pembelahan dada) adalah 4 tahun. (Lihat ath-Thobaqoot I/112).

Pembersihan spiritual dari bagian syaitan, mrupakan prolog dini kenabian dan prsiapan untuk pemeliharaan dari berbagai kejahatan dan penyembahan kepada selain Allah. Tidak boleh ada di dadanya kecuali Tauhid.

Peristiwa masa kecil Beliau ﷺ telah menunjukkan hal tersebut, beliau ﷺ tidak pernah melakukan dosa dan tidak pernah bersujud kpda berhala di saat hal trsbut menjadi sesuatu yg biasa di tengah kaumnya. (Lihat As-Sirah an-Nabawiyah Ash-Shohihah, DR. Akram Dhiya’ al-‘Umari).

Peristiwa ini (pembelahan dada) menyebabkan Rasulullah ﷺ dikembalikan kepada ibunya, Aminah binti Wahb, karena Halimah merasa khawatir terhadap keselamatan beliau ﷺ . (Musnad Ahmad 4:184-185, Sunan Ad-Darimi 1:8-9, Mustadrak al-Hakim 2:616). (MU/sym]

WaLlahu Ta’ala A’lam.

Asmaul Husna [7]: Al-Mukmin (Yang Maha Memberi Keamanan)

Asmaul Husna Al-Mukmin (Yang Maha Memberi Kemanan), Gambar:Tadabburdaily.com

Asmaul Husna [7]: Al-Mukmin (Yang Maha Memberi Keamanan)

Al- Mukmin artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Dzat yang menjadi tempat pelarian dan perlindungan orang-orang yang merasa ketakutan, sehingga kemudian mereka mendapat keamanan. Karena sesungguhnya keamanan itu hanya berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dia-lah Allah Yang Tiada Tuhan(yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan Keamanan.’’ ( Qs. Al- Hasyr:23 )

Nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala inilah yang menjadi asal kata aman, Amanah,dan Mukmin Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfiman :

فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ

“Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya). ‘’ ( Qs. Al- Baqarah: 283).

وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ

Budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu.” (Qs. Al-Baqarah:221 )

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bersabda: “Seorang mukmin adalah orang yang dirasakan tidak membahayakan orang lain dalam nyawa dan harta mereka.’’

Dari namanya, seorang mukmin seharusnya merasakan sebuah keamanan dalam nyawa dan harta mereka;bisa memegang amanah, jujur, dan sama sekali tidak bohong. Nama ini sangat baik untuk dijadikan sebagai Dzikir orang yang sedang merasa ketakutan, karena dengan menyebutkannya sepenuh hati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, akan memberinya rasa aman dari segala marabahaya. [sym]

Sumber: Syarh Singkat Asmaul Husna, Musthafa Wahbah.

Saat Si Kecil Hadir ke Dunia

Saat Si Kecil Lahir ke Dunia

Ilustrasi : Si Kecil Lahir ke Dunia

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Luqman: 34)

Hal-hal ghaib, hanya diketahui oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, termasuk diantaranya apa yang ada di dalam rahim. Mengenai janin dalam rahim, ada beberapa hal yanga hanya diketahui oleh Allah. Antara lain, berapa lama janin akan berada dalam rahim ibu? Bagaimana kehidupan janin tersebut setelah lahir ke dunia? Akan seperti apakah amaliyah hidupnya? Bagaimana rizqinya? Apakah dia bahagia atau sengsara?Dan juga, apa jenis kelamin dari janin tersebut sebelum terbentuk?

Adapun setelah janin diciptakan, maka jenis kelamin yang dimiliki oleh janin itu bukan lagi bagian dari ilmu ghaib, karena dapat diketahui dengan panca indra dengan alat deteksi yang akurat. Deteksi ini dibolehkan dan tidak berarti ‘mendahului’ ketentuan Allah, akan tetapi hanya mengetahui apa yang telah Allah ciptakan. Adapun sebelum semuanya diciptakan oleh Allah, maka hal tersebut merupakan hal ghaib, dimana hanya Allah saja yang mengetahuinya.

Yang terpenting, apapun jenis kelaminnya, hendaklah kita tetap ridha atas anugerah-Nya. Bukan hak kita untuk menentukannya. Jika jenis kelamin anak yang kita lahirkan tidak sesuai dengan harapan kita, maka tetaplah bersyukur, karena banyak orang yang tidak Allah berikan keturunan.

Lalu, hal-hal apa saja yang harus kita lakukan saat si kecil hadir dalam kehidupan kita?

  1. Mohon perlindungan untuk si kecil
    Mohonlah perlindungan agar syaithan tidak menggoda anak kita. Sorang bayi yang lemah tak berdaya, dia belum bisa memohon perlindungan untuk dirinya sendiri kepada Allah Maka kitalah sebagai orangtua yang harus memintakan perlindungan kepada pencipta-Nya. Istri ‘Imran saat melahirkan Maryam beliau berdoa:

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya: “Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk”.” (QS Al ‘Imran: 36)

  1. Hukum Adzan dan Iqomat di telinga bayi

Adapun membaca adzan dan iqomat di telinga bayi, sebaiknya ditinggalkan karena diperselisihkan oleh para ulama. Hendaklah kita merasa cukup dengan mengamalkan bimbingan Al Qur’an dan sunnah nabi yang shahih, yang tidak diperselisihkan oleh para ulama.

  1. Mentahnik bayi dan mendoakan keberkahan baginya

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha ia berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ.

Artinya: “Sesungungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah didatangkan kepadanya bayi-bayi, maka beliau mendoakan keberkahan dan mentahnik mereka” (HR.Muslim no.2147)
Tahnik ialah mengunyah kurma kemudian meletakkannya ke mulut bayi lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit mulut bayi.
Hanya saja, berhati-hatilah terhadap orang yang tidak kita ketahui keshalihannya. Jangan sampai orang yang merokok melakukan tahnik bagi anak kita, karena bisa saja di mulut dan ludahnya terdapat racun yang berbahaya bagi bayi.

  1. Aqiqah

Aqiqah ialah menyembelih kambing di hari ketujuh, atau ke empat belas,atau ke duapuluh satu setelah kelahiran bayi.
Untuk bayi laki-laki 2 ekor kambing, sedangkan untuk anak perempuan cukup satu ekor kambing.
Di hari ketujuh ini selain ‘aqiqah, disunnahkan pula mencukur rambut, menamai (jika belum ada), dan mengkhitannya.

Setiap yang disyariatkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah bermanfaat dan tidak selayaknya ditinggalkan.
Wallaahu a’lam.

[Tri Afrianti]

Sumber: Tuntunan Praktis dan Padat Bagi Ibu Hamil dari “A” sampai “Z” Menurut Al Qur’an dan As Sunnah yang Shahih

Allah Pelindung Orang Beriman

 

 

Allah Pelindung Orang Beriman, gambar: wahdahmakassar.or. id

Allah Pelindung Orang Beriman

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya:
Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” [Surat Al-Baqarah 257].

Makna dan maksud Waliy pada frasa Allahu waliyyulLadzina Amanu di atas adalah penolong dan pembantu, pecinta, pemberi hidayah, sebagaimana dikatkan oleh Imam Al-Baghawi (1/273). Jadi maksud Allah sebagai Waliy bagi orang beriman adalah;
– Allah akan selalu menolong dan membantu orang-orang beriman,
– Allah mencintai orang beriman,
– Allah membimbing dan meneguhkan orang beriman di atas hidayah dan petujuk-Nya
– Allah memenuhi dan mengurusi keperluan orang-orang beriman

Kesemua karunia di atas sesungguhnya merupakan balasan dari janji Allah kepada para Waliy-Nya dah hamba-hambaNya yang beriman, sebagaimana dalam Hadits Qudsi tentang keistimewaan wali-wali Allah, “Dan jika hambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah tambahan (nawafil/nafilah), maka Aku pasti mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Akulah pendengarannya yang dengannya dia mendengar, (Akulah) penglihatannya yang dengannya dia melihat, (Akulah) tangannya yang dengannya dia memegang, dan (Akulah) kakinya yang dengannya dia berjalan, Jika dia meminta Aku kabulkan dan jika dia memohon perlindungan Aku pasti melinunginya”. (HR. Bukhari).

Itulah hakikat dan makna Allah sebagai waliy bagi orang beriman, sebagaimana sebaliknya orang beriman merupakan wali Allah. Sebagaimana firman Allah, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. (Qs. Yunus:62-63).

Minadz Dzulumati Ilan Nur
“Mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya”; Maknanya dari gelapnya kekufuran dan kejahilan menuju cahaya iman dan ilmu. Ibnu Katsir mengatakan, “Dia mengeluarkan hamba-hambaNya yang beriman dari gelapnya kekufuran keraguan menuju cahaya kebenaran yang sangat jelas, terang, mudah, dan bersinar terang”.

Semakna dengan Imam Ibnu Katsir, Syekh As-Sa’di mengatakan, “Allah mengeluarkan mereka dari gelapnya kekufuran, maksiat, dan kebodohan menuju cahaya iman, ketaatan, dan ilmu. Sehingga balasan bagi mereka adalah keselamatan bagi mereka dari gelapnya kuburan, hari kebangkitan, dan kiamat”.

Jalan Kebenaran dan Keselamatan Hanya Satu
Pada Frasa “minadzulumat ilan Nur”, kata dzulumat disebutkan dengan bentuk jamak (plural/jama’), sedangkan kata Nur disebutkan dengan bentuk tunggal (singular/mufrad). Hal ini mengisyaratkan bahwa jalan kebenaran itu hanya satu. Sebaliknya kekufuran itu beragam dan semuanya bathil. Hal ini semakna dengan firman Allah dalam surah Al-An’am ayat 153;

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Qs.Al-An’am:153).

Seperti pada ayat 257 Surat Al-baqarah, dalam ayat di atas jalan lurus yang diperintahkan oleh Allah untuk diikuti disebutkan dalam bentuk mufrad (tunggal), sedangkan jalan yang Allah larang untuk diikuti disebutkan dalam bentuk jamak (plural). Sebab jalan jalan kebenaran itu hanya satu.

Wali Orang Kafir Adalah Thaghut
Adapun orang kafir maka pelindung adalah Thaghut dan Setan yang menghiasi kekafiran dalam pandangan mereka, sehingga mereka keluar dari cahaya iman dan ilmu menuju gelapnya kekufuran dan kejahilan. Jalan kekafiran disebut dan disifati sebagai kegelapan karena jalannya penuh dengan iltibas (ketidakjelasan).

Balasan untuk mereka adalah neraka dan kekal di dalamnya.
Semoga Allah meneguhkan iman di hati-hati kita dan menunjuki kita ke jalan iman, ilmu, dan ketaatan. [sym].

Kebutuhan Atau Keinginan?

Kebutuhan atau Keinginan

Kebutuhan atau Keinginan

Kebutuhan Atau Keinginan?

Suatu hari penduduk Hims mengadukan beberapa permasalahan gubernur mereka, Said bin Amir kepada khalifah Umar bin Khaththab. Mereka adukan 4 hal: pertama, beliau tidak pernah menemui mereka hingga siang hari. Kedua, beliau tidak menerima tamu di malam hari. Ketiga, ada satu hari dalam sebulan dimana beliau tidak menemui atau menerima tamu sama sekali. Dan yang keempat, beliau terkadang pingsan tiba-tiba.

Setelah permasalahan tersebut ditanyakan Amiirul Mu’minin kepada sang gubernur, beliau menjawab, “Demi Allah, aku malu mengatakan ini. Aku tidak mempunyai pembantu, di pagi hari aku mengaduk kue untuk keluargaku, setelah siang baru menemui masyarakat. Sedangkan malam hari aku ingin memberikan waktuku hanya untuk Allah. Aku tidak bisa menerima tamu pada salah satu hari dalam sebulan karena aku harus mencuci satu-satunya baju yang sedang aku pakai ini dan menunggunya hingga kering, baru bisa keluar rumah. Dan aku sering pingsan karena takut dengan do’a sahabatku Khabab bin Adi tatkala ia dibunuh.”

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini, betapa Sa’id bin Amir sang gubernur Hims sangat berhati-hati dengan harta. Beliau bisa saja mengambil haknya, yaitu harta sebagai gubernur namun beliau lebih memilih untuk menghindari dunia.

Berbeda sekali dengan orang-orang zaman sekarang yang justru berlomba-lomba memperbanyak harta, memperbanyak koleksi perhiasan dunia. Seringkali orang merasa gembira dengan segala tumpukan hartanya, dan merasa sempit dada ketika melihat barang lain lagi yang belum bisa terbeli.

Apakah haram memperbanyak harta? Tentu saja tidak, jika semua diniatkan untuk dibelanjakan fii sabiilillah. Jika semua harta yang dimiliki, ditujukan untuk ketaatan kepada Allah. Yang jadi masalah adalah saat barang-barang yang kita miliki hanya sekedar untuk koleksi saja. Padahal kelak semua harta yang kita miliki akan dihisab oleh Allah subhanahu wata’ala.

Berhati-hati dalam membelanjakan harta dan tidak berlebih-lebihan tentulah lebih diutamakan bagi seorang mukmin. Hidup adalah sekedar apa yang bisa dirasakan oleh panca indra. Hidup adalah sarana sekaligus perjalanan untuk menjemput kehidupan di akherat. Layaknya sebuah perjalanan, tentulah banyak tantangan dan cobaan yang dihadapi. Tantangan dan cobaan itu, bukan hanya menghindari perkara-perkara yang terang haramnya, namun juga perkara-perkara mubah yang berlebih-lebihan. Perkara mubah yang tidak dimanage dengan baik, akan melupakan kita dari tujuan hidup.

Sekali lagi, coba tengok berapa koleksi barang-barang di rumah kita, yang bahkan barang-barang tersebut sudah tidak kita pakai. Apa jawaban kita kelak saat ditanya di akherat?

Saat masuk ke tempat perbelanjaan, coba kita bertanya pada hati kita saat akan membeli, apakah benar-benar membutuhkan ataukah hanya sekedar keinginang saja? Semua akan ditanya di akhirat kelak. Semua akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana ia mengamalkannya, tentang hartanya, darimana ia memperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR at Tirmidzi no.2417 dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Al Albani dalam Ash Shahihah no.946).

Idealnya, seorang mukmin hatinya senantiasa terikat pada akhirat dan surga. Karena segala kenikmatan yang ada di dunia ini tidak lebih baik dan kekal daripada kenikmatan di akherat.

Tentu saja ini membutuhkan tekad yang kuat dan pembiasaan. Mari kita belajar dari pada generasi salafush shalih, karena merekalah generasi yang telah menimba dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.

[Tri Afrianti]

Wahdah Imbau Sholat Gerhana Bulan 31 Januari 2018

Wahdah Islamiyah Imbau Sholat Gerhana Bulan Januari 2018

Wahdah Islamiyah Imbau Sholat Gerhana Bulan Januari 2018

🌗 Imbauan Tentang Pelaksanaan Shalat Gerhana Bulan 🌗
IMBAUAN
Nomor : K.013/IL/DSA-WI/V/1439
Tentang: Pelaksanaan Shalat Gerhana Bulan

Dewan Syariah Wahdah Islamiyah, berdasarkan:
🌸 1. Firman Allah Subhanahu Wata’ala di dalam QS. Fushshilat: 37
وَمِنْ آياتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepda matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepadanya.”

🌸 2. Hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Mas’ud Al Anshari -radhiyallahu ‘anhu-:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ، يُخَوِّفُ اللهُ بِهِمَا عِبَادَهُ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَصَلُّوا، وَادْعُوا اللهَ حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ

“Sesungguhnya matahari dan bulan dua diantara tanda-tanda (kebesaran) Allah, Allah mempertakuti para hamba-Nya dengan dua tanda tersebut, matahari dan bulan mengalami gerhana bukan karena ada seseorang yang meninggal dunia maka jika engkau melihat kejadian gerhana shalatlah dan berdoalah kepada Allah hingga gerhana sirna dari kalian”

🌸 3. Surat Kementrian Agama R.I. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarat Islam tertanggal 29 Rabiul Akhir 1439 H/ 17 Januari 2018 M perihal seruan pelaksanaan shalat Gerhana Bulan (shalat Khusuf).

🌸 4. Hasil musyawarah Pengurus Harian Dewan Syariah Wahdah Islamiyah Indonesia pada hari Rabu, 29 Rabiul Akhir1439 H/ 18 Januari 2018 M, terkait informasi akan terjadinya Gerhana Bulan Total di hampir seluruh kawasan Indonesia pada hari Rabu 14 Jumadal Ula 1439 H/31 Januari 2018 M.

Maka atas pertimbangan keempat point di atas Dewan Syariah Wahdah Islamiyah mengimbau kepada seluruh anggota Wahdah Islamiyah di seluruh wilayah dan daerah serta kaum muslimin secara umum untuk memperhatikan hal-hal berikut:
🍃 1. Shalat Gerhana hukumnya sunnah muakkadah menurut kebanyakan ulama.

🍃 2. Shalat Gerhana hanya dilaksanakan jika gerhana terlihat di wilayah masing-masing.

🍃 3. Menghidupkan beberapa ibadah yang dianjurkan ketika terjadinya gerhana, seperti shalat, memperbanyak zikir, doa, istighfar, sedekah dan amal saleh lainnya.

🍃 4. Shalat Gerhana dikerjakan sebanyak dua rakaat dengan mengeraskan bacaan surah dalam shalat, dan setiap rakaat dua kali ruku’ dan dua kali sujud.

🍃 5. Waktu pelaksanaan shalat Gerhana sejak terjadi gerhana hingga berakhir

🍃 6. Disunnahkan dilaksanakan secara berjamaah dan boleh dilaksanakan secara sendiri-sendiri, akan tetapi lebih utama dilaksanakan secara berjamaah.

🍃 7. Dianjurkan untuk dilaksanakan shalat Gerhana di masjid.

🍃 8. Disunnahkan untuk diserukan kalimat “asshalatu jaami’ah” pada saat hendak dilaksanakan shalat gerhana dan tidak disyariatkan pelaksanaan adzan dan iqamah.

🍃 9. Tata Cara Shalat Gerhana:
Imam berdiri bertakbir lalu membaca surah al-Fatihah dengan menjaharkannya lalu membaca surah yang panjang semisal surah al-Baqarah, lalu ruku’ dengan ruku’ yang lama meskipun lebih pendek dari ketika berdiri membaca surah, lalu bangkit dari ruku’ dengan mengucapkan: “Sami’allahu liman hamidah, rabbanaa walakal hamdu”. Lalu berdiri dengan berdiri yang lama dengan membaca surah al-Fatihah dan surah lainnya semisal surah Ali Imran meskipun lebih pendek dari berdiri yang pertama. Lalu ruku’ dengan ruku’ yang lama meskipun lebih pendek dari ruku’ yang pertama, lalu sujud dengan sujud yang lama, kemudian duduk di antara dua sujud, kemudian sujud dengan sujud yang lama. Kemudian melanjutkan shalat di rakaat kedua seperti pada rakaat yang pertama dengan dua kali ruku’ yang panjang dan dua kali sujud yang panjang seperti yang dilakukan pada rakaat pertama kemudian tasyahhud lalu salam.

🍃 10. Setelah melaksanakan shalat Gerhana disunnahkan berkotbah kepada para jamaah dengan memberikan peringatan kepada mereka agar tidak lalai dan hanya takut kepada Allah, serta memerintahkan mereka untuk memperbanyak doa dan istighfar.

🍃 11. Jika telah selesai shalat sebelum berakhirnya gerhana, maka dianjurkan untuk berdzikir kepada Allah dan berdoa hingga berakhirnya gerhana dan tidak perlu mengulang shalat. Dan jika gerhana telah berakhir pada saat shalat, maka shalat tetap dilanjutkan hingga selesai meskipun tidak memperpanjang shalatnya.

🍃 12. Tidak dianjurkan meng-qadha shalat Gerhana jika gerhana telah berakhir sebelum shalat.
وفقنا الله جميعا لما يحب ويرضى، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين

Makassar, 5 Jumadal Ula 1439 H
23 Januari 2018 M

DEWAN SYARIAH WAHDAH ISLAMIYAH
✍🏼 Dr. Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A. – Ketua
✍🏼Harman Tajang, Lc., M.H.I. – Sekretaris

Sumber 👉🏼 http://wahdah.or.id/imbauan-tentang-pelaksanaan-shalat-ger…/

➡ Mohon ketika menyebarkan, harap sertakan sumbernya dan jgn dihapus 🙏🏼
💖 Silahkan SEBARKAN dan semoga Allah memberikan PAHALA atas berbagi ilmu ini
📖 Dapatkan artikel islami lainya di 👉 http://wahdah.or.id/

💖 Daftar Broadcast Wahdah.Or.Id
Ketik nama lengkap – daerah – wi
Contoh:
Irhamullah – Yogyakarta – WI
Kirim via WhatsApp ke:
📱 +6281383787678

👍 Facebook s.id/FBWahdah
📲 Instagram s.id/InstagramWahdah
📩 Telegram s.id/TelegramWahdah
🐣 Twitter s.id/TwitterWahdah
🌐 www.wahdah.or.id

9 Ciri Guru yang Sukses, Perhatikan Ciri yang ke-8!Sangat Mengagumkan

Guru yang Sukses, Gambar:wahdah.or.id

9 Ciri Guru yang Sukses, Perhatikan Ciri yang ke-8!Sangat Mengagumkan

Dalam bukunya Rahasia Sukses Orang-orang Besar, Syekh. DR. ‘Aidh bin Abdullah al-Qarni menyebutkan 9 ciri guru yang sukses, yaitu;

1. Diteladani, disegani, dicintai, dan dihormati oleh murid – muridnya.

2. Ikhlas dalam mengajarkan ilmu – ilmunya, memiliki tekad yang kuat untuk memberi manfaat yang terbaik untuk murid – muridnya, dan berusaha keras mengantarkan mereka pada ketinggian derajat orang – orang yang berilmu.

3. Tidak berprilaku menakutkan, tidak bersikap kasar, senantiasa menyayangi murid-muridnya, dan merekapun menyayanginya.

4. Tekun memperdalam bidang keahliahan dan Konsenrasinya, menonjol di bidangnya, dan meguasai seluruh materinya dengan baik.

5. Rajin mengkaji, berwawasan luas, mengenal baik adat dan budaya masyarakatnya, dan memahami betul permasalahan umatnya.

6. Bersemangat dalam menyampaikan ilmu, memberi motivasi kepada murid– muridnya, dan selalu ramah dan ceria di hadapan mereka.

7. Tertib, tepat dalam janji – janjinya, dan rapi dalam setiap pekerjaannya.

8. Menjauhi hal – hal yang syubhat (meragukan), meninggalkan setiap perilaku yang buruk, dan bersifat terpuji dalam segala hal.

9. Tidak larut dalam canda, kelalaian, kebodhan, perkataan kotor, dan hanya bertutur kata dengan lembut dan santun. [sym].

[Sumber: Rahasia Sukses Orang-orang Besar, Karya Syekh. DR. ‘Aidh bin Abdullah al-Qarni, Qisthi Press]

Asmaul Husna [6]: As-Salam (Yang Maha Pemberi Kesejahteraan)

Asmaul Husna [6] As-Salam (Yang Maha Pemberi Kesejahteran)

Asmaul Husna [6]: As-Salâm ( Maha Pemberi Kesejahteraan )

As- Salam artinya Allah Subhanahu Wa Ta’ala terbebas dari kekurangan ,cacat , dan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan Keagungan dan Kesempurnaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala .
Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman :

 

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

 

Dia-lah Allah  Yang tiada Tuhan (yang berhak di sembah) selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera.” (Al- Hasyr:23).

Dari nama ini juga asal kata nama agama kita,islam. Satu-satunya agama yang mendapat ridha dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala .

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

 

Sesungguhnya agama(yang di ridhai) di sisi Allah hanya Islam.” ( Ali Imran: 190 )

Kemudian, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menjadikan nam- Nya ini sebagai sebuah penghormatan kepada hamba-Nya.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala ,

تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ ۚ وَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيمًا

Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah : “salam” ; dan Dia Menyediakan Pahala yang mulia bagi mereka.’ (Qs.  Al- Azhab : 44)

Ketika memasuki pintu surga, orang-orang yang beriman akan mendapat penghormatan dari pada malaikat berupa “ salam “

ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ

“(Dikatakan kepada mereka): ‘Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman”. ( Al- Hiijr: 46)

Dan Terakhir, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan para muslimin untuk selalu mengulang-ulang kata salam dalam ibadah dan shalat mereka. Seperti yang selalu kita ucapkan saat tasyahhud.

السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

“Semoga kesejahteraan , rahmat, dan berkah dari Allah diperuntukkan bagimu, wahai Nabi Allah. Semoga kesejahteraan juga diperuntukkan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang shalih.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Kalian semua tidak masuk surga kecuali kalian beriman. Dan kalian juga tidak akan beriman kecuali setelah saling mencintai sesama kalian. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang bisa membuat kalian saling mencintai? Tebarkan salam diantara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai”. (Syarh Singkat Asmaul Husna, hlm.20-23).

Shalat Berjamaah di Rumah, Sama dengan Shalat di Masjid?

 

Shalat Berjamaah di Masjid, Gambar: Wahdah.or.id

Shalat Berjamaah di Masjid, Gambar: Wahdah.or.id

Shalat Berjamaah di Rumah, Sama dengan Berjamaah di Masjid?

Pertanyaan:

Saya sering shalat berjamaah di rumahku, apakah shalat di rumah secara berjama’ah pahalanya 27 derajat (juga)?

Jawaban:

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang tidak ada Nabi setelahnya. Wa ba’d.

Jika seseorang memiliki udzur yang menghalanginya shalat di Masjid dibolehkan ia shalat di rumah. Jika tidak memiliki udzur, maka tidak boleh. Karena shalat berjamaah wajib ditunaikan di masjid, kecuali bagi yang memiliki udzur, berdasarkan hadits;

من سمع النداء فلم يُجب ، فلا صلاة له إلاّ من عذر

Siapa yang mendengarkan panggilan adzan lalu tidak memenuhinya (Tidak menghadiri shalat jama’ah) maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur”. (terj. HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Hakim dengan sanad Shahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma).

Maksudnya shalatnya tidak sempurna, sebagaimana disebutkan oleh para Ulama. Hal ini menunjukan bahwa ia (yang shalat di rumah) tidak mendapatkan pahala yang sempurna. Wallahu a’lam, Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad Wa ‘ala Alihi Wa Shahbihi Ajma’in.(Sym)

(Sumber: Fatwa Syekh. Prof. DR. Nashir al-Umar hafidzahullah http://www.almoslim.net/node/53190).

Wanita Haid Masuk Masjid Untuk Mendengarkan Ta’lim, Bolehkah?

Wanita Haid Boleh Masuk Masjid?

Wanita Haid  Masuk Masjid Untuk Mendengarkan Ta’lim, Bolehkah?

Pertanyaan:

Bolehkah menyediakan tempat khusus dalam masjid untuk tempat belajar, agar wanita haid masuk masjid untuk belajar atau mengikuti ta’lim?

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Wanita haid tidak boleh masuk masjid dan berdiam di dalamnya, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ummu ‘Athiyah radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata, “Kami diperintahkan (oleh Nabi) untuk menguarkan para wanita dan gadis pingitan pada hari Ied agar mereka menyaksikan kebaikan dan yang sedang haid memisah dari tempat shalat”. (Terj. HR. Bukhari dan Muslim).

Jika pelajaran/ kajian berlangsung di dalam masjid, maka tidak boleh sama sekali bagi wanita haidh masuk ke dalamnya, baik untuk mengajar maupun belajar. Sebaiknya disediakan ruangan atau bangunan khusus untuk tempat wanita haid di luar Masjid. Wallahu a’lam. (Sumber: Fatwa Syekh Dr. Abdul Karim al Khudhair dalam http://www.almoslim.net/node/52127). [sym].