Gelar Mukerwil V, Wahdah Islamiyah Jawa Barat Targetkan Buka Daerah Baru di 2019

“Keputusan strategis bahwa tahun ini insya Allah buka 2 DPD merambah wilayah timur Jawa Barat, seperti Cirebon, Tasikmalaya dan Pangandaran”. 

Gelar Mukerwil V, Wahdah Islamiyah Jawa Barat Buka Dua Daerah Baru di 2019
Para pengurus DPW dan DPD Wahdah Islamiyah se-Jawa Barat pada pembukaan Mukerwil V DPW WI Jabar, Sabtu (12/01/2019)

(Bandung) wahdahjakarta.com – Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah Jawa Barat (DPW WI Jabar) menggelar Musyawarah Kerja Wilayah ke. 5 (Mukerwil V), di Bandung, Sabtu (12/01/2019).

Mukerwil V yang mengangkat tema Optimalisasi Kader dan Peran Lembaga Menuju Visi 2030 ini mengagendakan evalusi program kerja (proker) 2018 dan pencanangan proker 2019.

“Agenda yang dibahas adalah laporan pelaksanaan kegiatan dan anggaran tahun 2018 serta rencana program kerja dan anggaran tahun 2019”, ujar Ketua DPW Wahdah Islamiyah Jawa Barat ustadz Mochamad Budiman.

Selain mempertajam target pencapain visi 2030 Wahdah Islamiyah, Mukerwil kali ini juga merencanakan pembukaan DPD (Dewan Pimpinan Daerah) baru di wilayah timur Jawa Barat.

Ketua DPW Wahdah Islamiyah Jawa Barat, Mochamad Budiman.

“Keputusan strategis bahwa tahun ini insya Allah buka 2 DPD merambah wilayah timur Jawa Barat, seperti Cirebon, Tasikmalaya dan Pangandaran”, imbuhnya.

Acara ini diikuti oleh seluruh pengurus DPW serta 9 DPD di wilayah Jawa Barat, antara lain Kab Bandung, Kota Bandung, Kab Bandung Barat, Cianjur, Karawang, Sukabumi, Kota Bogor, Kab Bogor dan Kab Bekasi.

Turut hadir sebagai pendamping dan pengarah Mukerwil Wakil Sekretaris Jendral (Wasekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah, Ustadz Ridwan Hamidi, sekaligus membuka Mukerwil V WI Jabar.

Dalam taujih (arahan) nya Ustadz Ridwan menekankan pentingnya musyawarah dan semangat tanggung jawa, militansi, serta kesetiaan dalam berorganisasi.

“Setiap pengambilan keputusan hendaknya diambil melalui mekanisme musyawarah dan secara tertulis”, ucapnya.

“Hendaknya diiringi semangat mas’uliyah (tanggung jawab), militansi, komitmen, dan wafa (kesetiaan)”, pungkasnya. []

Lazis Wahdah Salurkan Bantuan Al-Qur’an Untuk Korban Tsunami Selat Sunda

Lazis Wahdah Salurkan Bantuan Al-Qur’an Untuk Korban Tsunami Selat Sunda

(Pandeglang) wahdahjakarta.com – Setelah mengirimkan bantuan pangan berupa sembako, pengiriman utusan dai ke beberapa lokasi bencana, Kamis (10/1/2019), LAZIS Wahdah kembali menyalurkan sebanyak 150 buah al-Qur’an untuk masyarakat korban bencana tsunami di Kampung Paniis, Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten.

Dari keterangan Jumardan, kordinator relawan LAZIS Wahdah, bantuan ini merupakan bentuk kepedulian LAZIS Wahdah kepada  masyarakat yang kehilangan al-Qur’annya saat bencana menimpa, Sabtu (22/12/2018) yang lalu.

“Banyak yang minta. Dan rata-rata mereka suka baca al-Qur’an,” kata Jumardan, lewat pesan singkat yang dikirimkannya.

Selain bantuan mushaf, lanjut Jumardan, LAZIS Wahdah juga memberikan bantuan kaca mata baca untuk para lansia.

“Termasuk juga membagikan kecamata baca untuk guru ngaji yang kecamatanya hilang. Karena sejak tsunami tidak pernah lagi baca al-Qur’an,” lanjutnya.

Sahabat, semenjak bencana itu terjadi, beberapa kepala keluarga kehilangan al-Qur’an yang selama ini mereka baca tiap hari. Untuk itu, LAZIS Wahdah Islamiyah membuka peluang bagi sahabat sekalian untuk ikut terlibat dalam program “Tebar Al-Qur’an Nusantara”. Bantuan al-Qur’an bisa dikirim ke Kantor Kami di Jl. Urip Sumoharjo No.15 Tello Baru, Makassar atau salurkan melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 497 900 9009 a.n LAZIS Wahdah Sedekah dan konfirmasi transfer ke 085315900900. Semoga setiap usaha-usaha kebaikan yang kita lakukan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah ta’ala, aamiin. []

#laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #tsunamiselatsunda #tsunamibanten #tsunamilampung #pasukanhijau

Foto Kamp Penyiksaan Muslim Uighur Beda Dengan Kenyataan

“Tujuan akhir dari kamp-kamp konsentrasi itu adalah untuk menghilangkan orang-orang Uighur, kaum Muslim.” 

Pejabat Cina menyebut kamp itu pusat pendidikan keterampilan kejuruan. Tapi faktanya tempat penyiksaan etnis Muslim Uighur.

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Mantan peserta kamp di Provinsi Xianjang, Cina Gulbachar Jalilova (54 tahun) mengaku terkejut melihat perbedaan foto yang diambil pekan lalu oleh jurnalis dari beberapa media internasional ke kamp yang diduga muslim Uighur disiksa di sana. Jalilova menggambarkan kondisi sebenarnya penuh dengan penyiksaan.

Ruangan dengan ukuran 7x3x6 yang tanpa jendela menjadi tempat sehari-harinya selama 16 bulan dia ditempatkan di kamp Uighur.

 “Kami ditahan di kamar pengap dan gelap. kadang-kadang mereka mengikat logam seberat 5 kilogram di kaki kami sebagai cara hukuman. dur tidur kami bergantian, hanya empat jam semalam,” ujar Jalilova saat kunjungannya ke Republika pada Jumat (11/01/2019).

Jelilova berasal dari Kazakhstan. Dia menghabiskan dua dekade terakhir berbisnis di perbatasan Cina-Kazahstan. Pada Mei 2017, dia tiba-tiba ditangkap di kota Urumqi, Cina dengan tuduhan mentransfer dana secara ilegal sebesar 17 ribu yuan (3500 dolar AS) dari Cina dan Turki.

“Ketika saya berada di kamp, saya memberi tahu mereka bahwa saya adalah orang asing dan bahwa saya tidak melakukan kesalahan,” katanya.

Setelah ditangkap dan ditempatkan di kamp, dia tersiksa dan terpisah dari anaknya. Setiap pekan anaknya hanya bisa mengirim surat kepadanya.

“Kami diberitahu bahwa kami tidak memiliki hak di sana. Kami tidak memiliki hak untuk melakukan panggilan telepon, kami seperti orang mati,” ceritanya.

Kehidupan sehari-hari hanya dalam ruangan pengap. Dalam hal minum sebagai energi pertahanan tubuh pun dibatasi oleh Cina di kamp itu. Ketika mereka menggunakan air dalam tubuh mereka, mereka disangka berwudhu kemudian disiksa.

Pendidikan vokasi yang diakui Cina, menurut Jalilova berbentuk pengajaran ajaran-ajaran komunis, baik itu dari lagu-lagu komunis Cina dan undang-undang komunis. Semua wajib dihapal, wajib dipelajari bahkan dijadikan ujian.

“Dalam satu kamar pengap terdiri dari 40-50 orang. Jadi jika waktu tidur, kami bergantian sehingga waktu tidur kami hanya ada empat jam,” ujarnya.

Pernyataan Gulbachar Jalilova ini bertentangan dengan klaim Pemerintah Cina, namun sesuai dengan kelompok advokasi masyarakat Uighur dan hak asasi manusia lainnya.

Jalilova mengaku selama berada di dalam kamp dirinya kerap dipukuli dan ketika pertama kali masuk dia memiliki berat 76 kilogram tetapi dalam sebulan ia kehilangan berat badan lebih dari 20 kilogram. “Ini foto saya sekitar tahun 2017,” Jelilova menunjukkan foto sebelum berada di Kamp.

“Tujuan akhir dari kamp-kamp konsentrasi itu adalah untuk menghilangkan orang-orang Uighur, kaum Muslim,” katanya.

Jelilova mengatakan, dia dikeluarkan dari kamp setelah upaya lobi yang berkelanjutan oleh keluarganya dan pemerintah KAzhastan. “Saya dibebaskan dari kamp konsentrasi tiga bulan lalu, tetapi setiap hari situasi di kamp konsentrasi masih terbayang-bayang di pelupuk mata saya,” ujarnya.

“Tangisan rakyat Uighur masih terngiang di telinga saya,” ungkapnya.

Berdasarkan data yang dirilis perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diperkirakan lebih dari 1 juta etnis minoritas Muslim Uighur telah ditahan tanpa persetujuan mereka di pusat penahanan tidak resmi di Xinjiang. Pemerintah Cina mengatakan kamp-kamp tersebut adalah pusat pelatihan kejuruan yang menyediakan pelatihan bahasa dan pendidikan ulang bagi para ekstremis. []

Sumber: Republika.co.id

Mantan Tahanan Kamp Penyiksaan Cina Dapat Amanah  Sampaikan Kabar Uighur ke Dunia

Gulbakhar Cililova
Gulbakhar Cililova menceritakan penindasan yang dialami Muslim Uighur dalam diskusi dan konferensi pers  ‘Kesaksian dari Balik Tembok Penjara Uighur’, di Menteng, Jakarta, Sabtu (12/1/2019).

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Gulbakhar Cililova, mantan tahanan Kamp Konsentrasi (Kamp Penyiksaan) mengaku mendapat amanah dari masyarakat Uighur, khususnya yang ditahan di Kamp Penyiksaan rezim komunis Cina, untuk menyampaikan penindasan yang dialami Muslim Uighur kepada Dunia.

“Mereka (masyarakat Uighur) mengatakan kepada saya bahwa kita di sini tidak bisa bagaimana keluar. ‘Ketika kamu keluar, saya amanahkan kamu agar dunia tahu apa yang sebenarnya terjadi’,” ujar Gulbakhar menirukan ucapan teman-temannya saat di tahanan dalam acara diskusi dan konferensi pers bertajuk ‘Kesaksian dari Balik Tembok Penjara Uighur’, di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/1/2019).

Dalam diskusi dan konferensi pers yang diinisiasi lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Jurnalis Islam Bersatu  (JITU) itu, Gulbakhar juga menceritakan penderitaan yang dialami oleh Muslim Uighur.

“Pernah suatu hari saya dibawa ke rumah sakit di kamp tersebut, dan saya melihat seseorang dibawa  dari penjara. Para sipir mengatakan tahanan itu akan dibebaskan, namun sejatinya mereka ternyata dihukum mati,” ujar ibu dari tiga anak ini seperti dilansir INA News Agency (INA) — sindikasi berita bentukan JITU.

Gulbakhar menceritakan ketika ada warga, seorang ibu, yang ditahan, pingsan, dan ada tahanan lain ingin menolong, maka tahanan yang mau menolong itu langsung disiksa.

Dia juga bercerita, ada seorang wanita yang melahirkan di dalam kamp. Ketika baru melahirkan di ruangan tempat Muslim Uighur ditahan, pihak rezim Cina langsung merebut bayi yang baru dilahirkan itu. Mereka tidak membiarkan wanita tersebut menyusui bayinya.

“Saya baru diinterogasi ketika sudah masuk bulan ketiga di tahanan. Saya diperiksa selama 24 jam tanpa diberi makan dan minum. Bahkan saya diancam ditahan selama 10 tahun. Di kamp tersebut, sudah ada Muslim yang ditahan selama 30 tahun lebih,” paparnya.

Gulbakhar sendiri sebenarnya berasal dari negara Kazakhstan. Lalu, mengapa dia sampai bisa ditahan di Kamp Penyiksaan Cina? Ceritanya dalam dua dekade terakhir, dia berbisnis di perbatasan Cina-Kazakhstan. Namun pada Mei 2017, rezim Cina menangkapnya di  Kota Urumqi, Cina. Ia dituduh mentransfer dana secara ilegal sebesar 17 ribu Yuan (sekitar 3.500 dolar USD) dari Cina dan Turki.

Setelah ditangkap, dia ditempatkan di kamp, disiksa dan terpisah dengan anak-anaknya. Gulbakhar mengaku, di dalam kamp dia kerap dipukuli. Ketika pertama kali masuk Kamp Penyiksaan, Gulbakhar memiliki berat 76 kg. Tetapi dalam sebulan berat badannya menyusut sampai 20 kilo lebih.

“Tujuan akhir dari kamp-kamp konsentrasi itu adalah untuk menghilangkan orang-orang Uighur, kaum Muslimin,” terangnya.

Gulbakhar akhirnya dapat keluar (bebas) dari tahanan Kamp Penyiksaan itu setelah adanya upaya lobi yang terus menerus dilakukan oleh pemerintah Kazakhstan dan keluarganya.

“Saya dibebaskan  dari Kamp Konsentrasi tiga bulan lalu, tetapi setiap hari situasi di Kamp Konsentrasi masih terbayang-bayang di pelupuk mata Saya,” ungkapnya. “Tangisan rakyat Uighur masih terngiang di telinga saya,” kata Gulbakhar seperti dikutip Republika.co.id, Jumat (11/1).

Selain Gulbakhar, diskusi ini juga menghadirkan Senior Vice President ACT Syuhelmaidi Syukur, Anggota DPR, Almuzzammil Yusuf, Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur (Uighur), Seyit Tümtürk, Tim Komunikasi & Advokasi Amnesty International Indonesia, Haeril Ilham, dan moderator, Ketua Umum JITU, Pizaro. []

Reporter: Muhammad Jundii (INA)

Melalui Sejuta Qur’an, Mendidik Negeri, Cerdaskan Bangsa

Direktur Wilayah LAZIS Wahdah Jakarta, Ust. Yudi Wahyudi saat menyampaikan presentasi di hadapan peserta Kajian Aqidah “Huru-Hura Akhir Zaman” launching Program Sejuta Qur’an, Ahad (6/1/2019), Al Jazeerah Resto, Jl Pramuka, Jakpus

JAKARTA – Bertepatan dengan moment Kajian Aqidah yang bertemakan Huru-Hara Akhir Zaman yang bertempat di Meeting Room Restoran Al Jazeerah, Jl Pramuka, Jakarta Pusat, Ahad (6/1), Direktur Wilayah LAZIS Wahdah Jakarta, Ust.Yudi Wahyudi diberi kesempatan untuk menyampaikan Program Baru LAZIS Wahdah Jakarta.

Program baru ini dinamakan “SEJUTA QURA’N DAN KEMANUSIAAN” merupakan kelanjutan dari “Program 1000 Quran Untuk Palu dan Indonesia” yang berlangsung semenjak November-Desember 2018. Melalui Program 1000 Qur’an, memberikan kemudahan kepada setiap masyarakat yang ingin mendonasikan AL Qur’an kepada warga yang terdampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Pada akhir Desember lalu, sudah tersalurkan 100 buah Al Qur’an untuk korban gempa dan tsunami di Palu dan Sigi melalui paket pendidikan dan pembinaan.

“Kemarin kita diberi kemudahan menyalurkan 100 Qur’an di Palu di bebeapa titik, ada 10 titik di sana…di dua kabupaten di Palu dan Sigi…”, ujar Ust.Yudi Wahyudi, Ahad (6/1).

“Program kami bukan hanya bagi-bagi Al Quran tapi dalam bentuk pendidikan Qur’an…Di Indonesia ini alhamdulillah cabang kami untuk penyaluran Qur’an yang resmi sudah mewakili 34 provinsi dan 193 Kabupaten, ada 4.340 masjid dan majelis binaan, ada 5.063 kelompok tahfidz, ada 220 pondok Al Quran,…ada 14.339 da’i/guru/pengajar, dan alhamdulillah sampai saat ini kami sudah menyalurkan 33.100 eks tebar Qur’an”, tambahnya. [rsp]
————-

Mari bergabung bersama Kami memberantas buta huruf Al Qur’an di negeri ini melalui donasi yang Anda kirimkan..

Program Sejuta Qur’an: Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451) No Rek: 773 800 8008 an Lazis Wahdah Jakarta Sedekah. Mulai Rp.110.000,- (untuk paket pendidikan dan pembinaan).

Konfirmasi Transfer WA/SMS ke: 0811 9787 900 (mohon dengan menyertakan bukti transfer)

#LazisWahdahJakarta
#SejutaQurandanKemanusiaan

PAUD Rahmat LAZIS Wahdah Kembalikan Keceriaan Anak-anak Desa Sidera Kab. Sigi

(Sigi) wahdahjakarta.com – LAZIS Wahdah membangun PAUD sementara di Desa Sidera Kabupaten Sigi – Sulawesi Tengah. Sekolah yang bernama PAUD Rahmat tersebut membina 44 murid. Sekolah tersebut diresmikan dan telah di tempati para siswa untuk belajar sejak Kamis (10/01/2019)

Nurani (59 tahun), Kepala Sekolah Paud Rahmat mengatakan bahwa “Sebelum gempa, jumlah siswa 45 orang dan 1 orang meninggal saat kejadian bencana liquifaksi, jadi saat ini jumlah siswa tersisa 44 orang. Sebelum bencana pada tnggal 28 September 2019, lokasi TK. PAUD Rahmat bertempat di RT 1 yang kondisinya kini telah hancur disebabkan liquifaksi. Alhamdulillah berkat bantuan dari LAZIS Wahdah, TK. PAUD Rahmat yang dibangun di RT 6 Desa Sidera Kec. Sigi kini sudah bisa ditempati anak-anak untuk belajar karena lokasi sebelumnya sudah tak layak ditempati untuk proses belajar mengajar.”

“Alhamdulillah setelah adanya bantuan dari LAZIS Wahdah ini siswa yg belajar di TK. Paud Rahmat kembali ceria dengan siswa 44 orang.”

Menurut Nurani, masih banyak sekolah Paud di kec. Sigi Biromaru yg masih belum mendapat penanganan dari pihak manapun di antaranya

“TK. Anatapura Lolu, TK. PGRI, dan TK. Pertiwi yg sangat parah kondisinya pasca gempa.” Pungkasnya

Don’t stop bantu Sulteng. Sulteng masih butuh bantuan anda, mari merajut kebaikan bersama LAZIS Wahdah lewat program-program kebaikan. Salurkan donasi anda melalui Bank Syariah Mandiri (451) nomor rekening : 499 900 9005 a.n LAZIS Wahdah Peduli Negeri dan konfirmasi transfer ke 085315900900.

#DontStopBantuSulteng #KabarGempaSulteng #laziswahdah #wahdahislamiyah #wahdah #sedekah #zakat #laziswahdahpeduli #wahdahpeduli #ayosedekah #palubangkit

Muslim Uighur Apresiasi Solidaritas Indonesia

Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur di Istanbul, Seyit Tümtürk,pada diskusi “Kesaksian dari Balik Tembok Penjara Uighur”, Jakarta, Sabtu (12/01/2019)

(Jakarta) wahdahjakarta.com– Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur di Istanbul, Seyit Tümtürk, berterima kasih kepada seluruh masyarakat Indonésia, Ormas Islam, lembaga-lembaga dan media atas solidaritasnya kepada Muslim Uighur.

Dia mewakili 35 juta warga Muslim Uighur menyampaikan salam keselamatan kepada Indonésia.

Dalam diskusi dan konferensi pers bertajuk “Kesaksian dari Balik Tembok Penjara Uighur”, yang diinisiasi Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Seyit Tümtürk menjelaskan bahwa sudah sejak lama Turkistan Timur ditindas oleh rezim komunis Cina.

Atas alasan itu, Tümtürk dan beberapa perwakilan masyarakat Uighur datang ke Indonesia.

“Dalam hitungan PBB, angka masyarakat Uighur yang ditahan dalam Kamp Konsentrasi Cina sebanyak lebih satu juta orang. Akan tetapi, menurut data yang kami kumpulkan ada sekitar 3 sampai 5 juta orang. Mereka mendapat siksaan lebih dari yang dilakukan oleh Nazi,” ujar Tümtürk dalam bahasa Turki, di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/1/2019).

Dia menjelaskan, Kamp Penyiksaan terhadap Muslim Uighur disebut oleh rezim komunis Cina sebagai proyek “Persaudaraan Keluarga”, padahal sejatinya itu adalah sebuah kamp genosida terhadap muslim Uighur. Muslim Uighur yang ditahan di sana pun karena dituduh sebagai teroris, radikalis.

“Amat kita sayangkan, 3 hingga 5 juta Muslim Uighur disiksa, tapi dunia buta dan tuli terhadap apa yang terjadi di sana. Dan atas semua penindasan itu, alhamdulillah masyarakat Muslim Indonesia turun ke jalan menyuarakan pembebasan Muslim Uighur,” ujarnya yang dikutip INA News Agency (INA) — sindikasi berita bentukan JITU, Sabtu (12/1).

Sikap Muslim Indonesia itulah yang menyebabkan perwakilan Uighur datang ke Indonesia. Umat Islam Indonesia menyuarakan kebebasan Uighur.

“Setelah aksi itu dilakukan, efeknya kedutaan Cina langsung mempersilakan ormas Islam untuk datang ke Xinjiang, melihat kondisi Muslim Uighur, supaya kabar penindasan itu terkesan tidak benar” ujarnya.

Tümtürk mengungkapkan, dua tahun lalu, Cina juga mengingkari penindasan yang dilakukanya. Namun, tiga bulan terakhir ini, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan Parlemen Eropa melakukan penelitian. Dari angkasa terungkap fakta yang membenarkan adanya Kamp Penyiksaan itu.

Setelah parlemen Eropa dan PBB mendesak Cina untuk mengakui hal itu, Cina mengatakan benar adanya kamp tersebut, tapi (Cina) tidak mengakui penindasan tersebut.

“Setelah dikeluarkan angka satu juta Muslim Uighur ditahan, Cina tetap berusaha mengelak. Setelah seperti Gulbakhar yang baru keluar dan mengalami penindasan, kita bawa ke hadapan media, rezim Cina tetap saja mengelak. Cina berdalih Kamp Penyiksaan itu adalah kamp konsentrasi dan pelatihan kerja untuk warga,” jelasnya. []

Laporan : Muhammad Jundii/INA News Agency

Forjim Gelar Pelatihan Jurnalistik Jarak Jauh Jakarta-Banggai Lewat Skype

Forjim Gelar Pelatihan Jurnalistik Jarak Jauh Jakarta-Banggai Lewat Skype
Peserta Pelatihan Jurnalistik jarak jauh via skype yang digelar Forjim dan Wahdah Islamiyah Banggai, Sabtu (13/01/2019)

(Jakarta-Banggai) wahdahjakarta.com -,  Forum Jurnalis Muslim (Forjim) bekerja sama dengan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah Banggai menggelar pelatihan jurnalistik jarak jauh Jakarta-Banggai, Sulawesi Tengah, Sabtu (12/1/2019). Penyampaian materi melalui aplikasi Skype.

Sebanyak lima pengurus DPD Wahdah Islamiyyah Kabupaten Banggai menjadi peserta pelatihan ini. Para peserta antusias mendengarkan pemaparan materi instruktur Forjim melalui perangkat multimedia.

Ibnu Syafaat, Sekretaris Umum Forjim mengatakan pelatihan jurnalistik ini merupakan solusi atas permintaan umat di daerah-daerah untuk pembekalan ilmu jurnalistik dakwah.

“Ini bagian dari program One Masjid One Journalist. Banyak permintaan dari teman-teman daerah ke Forjim untuk dapat mengisi pelatihan jurnalistik dakwah. Nah, pelatihan jarak jauh dengan Skype ini adalah solusi untuk memenuhi permintaan daerah,” ujar Syafaat di Jakarta.

Sebelumnya, jelas Syafaat, Forjim tidak bisa memenuhi permintaan pelatihan jurnalistik di daerah-daerah karena keterbatasan biaya. “Pelatihan jarak jauh ini efisien dan hemat biaya. Instruktur Forjim dari Jakarta tak perlu biaya tiket perjalanan ke lokasi acara. Insyaallah dengan metode ini, daerah pelosok mana pun asal ada koneksi internet bisa kami fasilitasi pelatihan,” jelas Syafaat.

Yulianto Labarani, Ketua Departemen Infokom DPD Wahdah Islamiyyah Kabupaten Banggai menyambut baik pelatihan ini. Menurutnya, pelatihan jurnalistik jarak jauh ini merupakan gebrakan yang kreatif dan solutif. Sehingga meskipun berada pada jarak yang jauh dan perbedaan waktu,  pelatihan dilaksanakan dengan sukses.

 Forjim Gelar Pelatihan Jurnalistik Jarak Jauh Jakarta-Banggai Lewat Skype
Shodiq Ramadhan, Bendahara Umum menyampaikan materi Teknik Membuat Rilis pada  pelatihan Jurnalistik Jarak Jauh Jakarta-Banggai Lewat Skype, Sabtu (13/01/2019)

“Pelatihan ini harus dilanjutkan hingga tingkat mahir sebagai wartawan dan pengelola media muslim,” ungkap Yulianto Labarani.

Pelatihan berlangsung dari pagi hingga sore. Ada tiga sesi materi pada pelatihan ini yang diisi boleh instruktur Forjim.

Instruktur dalam pelatihan ini adalah  Ibnu Syafaat, Sekretaris Umum Forjim menyampaikan materi Teknik Reportase. Kemudian Shodiq Ramadhan, Bendahara Umum Forjim menyampaikan materi Teknik Membuat Rilis yang Menarik. Dan sesi terakhir Dudy S Takdir, Ketua Umum Forjim menyampaikan materi Profesi Kewartawanan. []

GUNAKAN KECERDASANMU..!

Perang Khandaq adalah perang antara ‘negara’ Madinah melawan konspirasi regional jazirah Arab. Pasukan gabungan lintas klan, lintas etnis, lintas agama. Bukan lagi sekedar Madinah dengan Makkah.

Di tengah ketegangan itu, Rasulullah kumpulkan sebagian shahabat. Dalam Mustadraknya, Imam Al Hakim menyebutkan bahwa yang tinggal hanya 12 orang. Akan ada penugasan, “amaliyyah”, misi khusus. Spionase ke jantung musuh.

Awalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan penawaran. Siapa diantara mereka yang siap berangkat? Rasulullah bahkan mengulangnya sampai 3 kali. Jaminannya, “Dia bersamaku kelak di hari kiamat..” kata beliau.

Semua diam. Ini berbeda dengan Perang Uhud dulu, ketika para shahabat ditawari pedangnya Rasulullah, mereka berlomba menjulurkan tangan. Meskipun akhirnya mereka tarik kembali setelah tahu konsekuensinya tidak ringan. Hanya Abu Dujanah yang siap waktu itu.

Di Perang Khandaq ini sedikit lain. Tidak ada sama sekali yang mengajukan diri. Bukan berarti mereka tidak mau ber-‘mubadarah’. Bukan. Bukan mereka takut terhadap dingin yang menusuk, angin badai, medan berat, atau takut mati, bukan.

Mereka tahu bahwa konsekuensinya sangat-sangat berat: harus pulang membawa informasi dalam keadaan HIDUP. Kalau sekedar menyusup kemudian ‘boleh’ mati syahid, semua juga siap. Tapi kalau harus kembali hidup-hidup, itu yang tidak ringan.

Setelah tiga kali penawaran tidak ada respon, tidak ada jalan lain kecuali harus “instruksional”, penunjukan. Kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memberikan instruksi, maka tidak ada pilihan lain kecuali “sam’an wa tha’atan”, siap laksanakan!

Kalau sudah penunjukan, tentu berbeda dengan tawaran yang membuka peluang ‘mubadarah’ bagi suka relawan. Itupun sang pemimpin harus tahu betul kapabilitas anggotanya. Di sisi lain, jika sang anggota sudah dipandang mampu oleh pimpinannya maka dia harus siap dan memantaskan diri. Laksanakan sampai tuntas.

Disinilah terlihat betul bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat faham terhadap ‘binaan’-nya. Beliau tahu persis, siapa yang harus ditunjuk untuk persoalan ini. Salah orang, bisa fatal.

Tugas spionase dan “covering” seperti ini butuh orang yang betul-betul menguasai medan, faham informasi dan data apa yang harus dikumpulkan, serta mampu menjaga kerahasiaan. Senyap, cepat, tepat. Maka, Hudzaifah lah orangnya, ‘shaahibu sirri Rasulillah”_shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah percaya penuh. Beliau tidak bertanya lagi, “Antum siap atau tidak?” Rasulullah juga tidak memberikan arahan teknis secara detil. Seorang Hudzaifah tidak perlu diberi tahu harus lewat lembah mana, bukit apa, masuk dari mana, siapa yang didekati, apa yang dibawa, dst. Seolah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengatakan, “Gunakan kecerdasanmu!”

Memang ada tipe orang yang suka diberikan instruksi detil, ada yang justru tidak suka dan malah efektif kalau instruksinya tidak didetilkan. Ada tipe orang yang harus “dituntun” baru bisa sampai tujuan, ada yang “dilepas” saja juga bakal sampai.

Seorang pemimpin dituntut untuk bisa mengenali karakter masing-masing personilnya. Dari mana? Tentu tidak cukup hanya mengandalkan psiko tes. Kemampuan ‘membaca’ seperti ini hanya bisa didapat dari interaksi yang panjang dan intens.

Hasilnya? Efektif. Misi terlaksana dengan sempurna.

Pantas saja, seorang Umar pernah berandai tentangnya.

Suatu hari Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada beberapa orang di sekelilingnya.

“Beranganlah kalian!”

“Aku berangan-angan seandainya rumah ini dipenuhi dengan emas, kemudian kuinfakkan seluruhnya di jalan Allah”, kata salah seorang. Yang lain pun berandai dengan angannya masing-masing.

“Adapun aku” kata Umar, “Aku berangan seandainya rumah ini dipenuhi dengan orang-orang sekelas Abu Ubaidah bin Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Salim Maula Abu Hudzaifah, serta Hudzaifah bin Yaman”

“Aku akan ajak mereka untuk meninggikan kalimat Allah,” kata Umar.
Radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Ditulis oleh : Ust. Murtadha Ibawi (Ketua Departemen Dakwah DPW Wahdah DKI Jakarta

Kepala BNPB Ajak Semua Pihak Kurangi Risiko Bencana

“Pencegahan jauh lebih murah dan mudah daripada saat melakukan penanganan

Kepala BNPB Ajak Semua Pihak Kurangi Risiko Bencana
Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo didampingi Sekda Kabupaten Sukabumi Iyos Somantri saat memberikan keterangan kepada wartawan pada jum’at (11/01/2019). (Sumber Foto: sukabumiupdate.com.

(JAKARTA) wahdahjakarta.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Doni Monardo mengajak tokoh-tokoh masyarakat dan agama untuk dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan pengurangan risiko bencana.

Doni mengatakan bahwa dengan pelibatan semua komponen, semua masyarakat dapat mengetahui dan semakin menyadari untuk mengurangi risiko bencana. “Jadi harus ada sebuah kepedulian tidak hanya pada tingkat pemerintah provinsi kabupaten, kota tetapi sampai dengan tingkat desa. Kita berharap kepala-kepala desa, kepala kampung, lurah memiliki pengetahuan risiko bencana saat ini,” ucap Doni di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Jawa Barat pada Jumat (11/1).

Setelah sholat Jumat (kemarin), Doni mencontohkan bahwa beberapa tokoh setempat tidak mengetahui bahwa di kawasan selatan Sukabumi merupakan kawasan rawan gempa dan tsunami.

“Seluruh tokoh masyarakat, terutama ulama, seminggu sekali saat khutbah atau pengajian, mengingat mayoritas masyarakat Jawa Barat ini beragama Islam, untuk menyisipkan 2 – 3 menit, perhatian kepada alam. Kita peduli alam, alam merawat kita.”

“BNPB akan bangun emosi masyarakat agar setiap saat mereka memiliki kepedulian, misalnya pada musim hujan, kewaspadaan kita akan banjir dan tanah lognsor. Kemudian menjelang musim kemarau, dengan kebakaran hutan. Dan beberapa tempat yang telah diberikan analisis oleh sejumlah pakar, itu juga harus kita antisipasi. Dan bagamana masyarakat kita bisa lebih siap.”

Doni menekankan bahwa mencegah jauh lebih mudah daripada kita melakukan penanganan. “Pencegahan jauh lebih murah dan mudah daripada saat melakukan penanganan,” kata Doni Monardo yang didampingi oleh Kepala BMKG dan PVMBG, serta pejabat kementerian/lembaga di Desa Sirnaresmi.

Pada saat meninjau desa yang tertimpa longsor pada 31 Desember 2018 lalu itu, Doni menilai masyarakat yang tinggal di wilayah dengan  kemiringan 30 derajat tersebut perlu memperhatikan tanaman yang ditanam. Warga setempat banyak menanam tanaman sayuran dan padi. Bersamaan dengan kunjungan di kawasan longsor itu, Doni dan para komunitas menanam 10.000 bibit vetifer untuk jangka pendek, yang bisa membantu untuk mengurangi risiko bencana. Selain 10.000 bibit tersebut, BNPB juga menanam 2.500 bibit pohon campuran, seperti tanaman buah dan tanaman keras yang endemik di Jawa Barat. 

Penanaman ini sebagai contoh konkret kepedulian terhadap alam sekita dengan harapan banyak masyarakat sadar. Doni mengatakan, “Karena kalau tidak diberikan sebuah pemahaman maka risiko terjadi bencana akan semakin banyak.”

Doni menekankan pihaknya untuk lebih giat, ulet dan massif untuk mengajak semua komponen dalam pengurangan risiko bencana. Kepala BNPB yang didampingi sejumlah ahli kebumian menyampaikan bahwa kita semua untuk merawat alam maka alam akan merawat kita. Tanaman buah tadi seperti alpukat dan sukun, sedangkan tanaman keras berupa rasamala, manii, dan kidamar.

Sehubungan dengan penunjukkan sebagai Kepala BNPB, Doni mendapatkan perintah dari Presiden Joko Widodo untuk melakukan penanggulangan bencana secara terintegrasi. Tadi malam (10/1), BNPB mengajak beberapa lembaga untuk menekankan pada informasi yang diberikan oleh para pakar, seperti di bidang vulkanologi, geologi, seismik, dan tsunami.

“Para pakar inilah yang harus kita ikuti. Pakar ini ibaratnya sebuah tim intelijen jadi ketika menghadapi ancaman, informasi intelijen itu sangat penting. Program-program yang berhubungan dengan masyarakat berorientasi pada informasi dari para pakar. Kalau kita tidak mengikuti hasil riset dan temuan mereka yang semakin akurat maka kita akan salah.”

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi,dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa puncak musim hujan di wilayah Jawa Barat masih berlangsung hingga akhir Januari hingga Maret. Pihaknya akan selalu memberikan informasi perkembangan yang penting, misalnya dengan potensi cuaca ekstrim. Dwikorita menyampaikan bahwa sangat penting untuk mengantisipasi bahaya di musim hujan ini, khususnya di wilayah rawan banjir dan longsor. BMKG dan PVMBG bersinergi untuk memberikan peringatan dini.

“Kami memberikan peringatan dini 3 – 6 hari sebelum terjadi cuaca ekstrim sehingga peringatan dini segera kami kirimkan ke BPBD setempat agar mengkondisikan warga dalam 3 – 6 hari tersebut.”

Jawa Barat merupakan kawasan yang memiliki gerakan tanah yang tinggi. Seperti Sirnaresmi, desa ini termasuk kawasan bertebing, bertanah gembur dan pemanfaatan tanah oleh warga yang kurang sesuai. Faktor-faktor tersebut dapat memicu terjadinya longsor. Akibat longsor di desa itu, 32 jiwa meninggal dunia dan 29 rumah tertimbun, sedangkan luas area terdampak mencapai 10,6 hektar. Longsor tersebut dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan tanah yang labil.

Sumber: Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB