MTT  dan DKM Asy Syakirin Salurkan Bantuan Korban Gempa Melalui Lazis Wahdah

MTT  dan DKM Asy Syakirin Salurkan Bantuan Korban Gempa Melalui Lazis Wahdah

 

MTT dan DKM Asy Syakirin Salurkan Bantuan Korban Gempa Melalui Lazis Wahdah

Wakil Ketua Majelis Taklim Telokomsel (MTT) Ade Muwazir menyerahkan bantuan korban gempa palu dan Donggala ke  Lazis Wahdah, Senin (15/10/2018)

(Jakarta-Depok) wahdahjakarta.com- Rasa simpati terhadap warga Sulawesi Tengah terdampak musibah gempa dan tsunami di  Palu, Sigi dan Donggala, terus mengalir. Sampai memasuki hari ke-15 pascagempa bantuan kemanusiaan melalui Lazis Wahdah dari lembaga pemerintah dan swasta  di berbagai daerah ters berdatangan.

Tanpa terkecuali, di Jakarta Majelis Taklim Telkomsel (MTT), menyerahkan bantuan berupa dana sebesar Rp. 32.780.500. Penyerahan dilakukan  Wakil Ketua MTT Ade Muzawir dan diterima Staf lazis Wahdah Jakarta Ismail T, Senin (15/10/2018).

Pada hari yang  sama,  usai shalat Maghrib DKM Masjid Asyakirin Komp. Perumahan Mekarsari Permai Depok juga menyerahkan dana peduli gempa dan tsunami Sulteng. Serah terima dana 10 juta tersebut diwakili H.Suryadi selaku pengurus DKM bidang Dakwah,  dan diserahkan kepada UPZ Wahdah Islamiyah Depok.

MTT dan DKM Asy Syakirin Salurkan Bantuan Korban Gempa Melalui Lazis Wahdah (2)

Serah terima Bantuan Peduli  Gempa Sulteng  dari  DKM Masjid Asy Syakirin  Komp. Perumahan Mekarsari Permai Depok ke Lazis Wahdah, Senin (15/10/2018)

Alhamdulillah, selain dua lembaga diatas juga telah menyalurkan bantuannya dari, masjid Energizeer, masjid Asyuhada, karyawan PT. Lucky Ceramic, RM Pondok Laras Depok,

Laporan  tim Lazis Wahdah Pusat, sampai 12 Oktober mencapai 20 ton beras,   3600 doz mie instant, 3500 doz air minum kemasan, dan 1300 kaleng ikan.

Jumlah penerima manfaat dari program penyaluran bantuan logistik 28.742 jiwa.

Selain program bantuan bahan pokok, program dakwah, trauma healing dan layanan kesehatan, juga menjadi prioritas relawan Wahdah Islamiyah di tempat-tempat pengungsian.

Pasca gempa dan tsunami, Lazis Wahdah bergerak untuk membantu warga terdampak melalui tiga tahapan : tahap tanggap bencana, tahap pemulihan, dan ketiga tahap program dakwah yang merupakan program jangka panjang. [Anwar.A/sym].

Hari Pertama Sekolah Pasca Gempa, Relawan Gelar Trauma Healing di SMAN 1 Banawa

Hari Pertama Sekolah Pasca Gempa, Relawan Gelar Trauma Healing di SMAN 1 Banawa

Relawan Wahdah Peduli sedang memberikan Trauma Healing kepada Siswa SMAN 1 Banawa Kab. Donggala di hari pertama masuk sekolah pasca gempa, Senin (15/10/2018)

(DONGGALA) wahdahjakarta.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah mengeluarkan instruksi untuk memulai kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). Salah satunya adalah di SMA Negeri 1 Banawa, jalan Banawa No.20, Kabupaten Donggala, Senin (15/10/2018).

Kegiatan belajar mengajar diawali dengan Trauma Healing oleh Tim Relawan Wahdah Peduli.

Menurut  Malik selaku salah satu tenaga pengajar di SMA Negeri 1 Banawa, kegiatan tersebut dilakukan di hari pertama sekolah pasca gempa untuk menghilangan trauma dari para siswa serta membangkitkan semangat belajar mereka.

“Materi trauma healing yang diberikan sangat baik dan sangat membantu pihak sekolah, karena dengan kegiatan ini minimal bisa membangkitkan semangat siswa untuk bisa move on dari keaadan saat ini,” tuturnya.

Trauma Healing ini merupakan salah satu program utama Wahdah Islamiyah dalam penanganan bencana Gempa Bumi yang melanda Sulawesi Tengah. Diantara tujuannya adalah untuk menghilangkan trauma warga akan bencana yang pernah mereka alami. ()

Dosen Universitas Malaya Malaysia Motivasi Relawan untuk Ikhlas dalam Bekerja

Dosen Universitas Malaya Malaysia Motivasi Relawan untuk Ikhlas dalam Bekerja

Dosen Universitas Malaya Malaysia Dr. Mahyudin Daud saat menyampaikan taushiyah dan motivasi kepada para  relawan Wahdah Islamiyah, Sigi, Ahad (15/09/2018).

(Sigi) Wahdahjakarta.com, — Dr. Mahyudin Daud, salah seorang pengajar al-Qur’an di Universitas Malaya Malaysia mengajak seluruh relawan Wahdah untuk tetap menjaga keikhlasan selama bekerja.

“Jagalah keikhlasan kita. Karena itu yang menjadi sebab Allah mudahkan urusan kita,” ucapnya, dihadapan jamaah Shalat Maghrib di Masjid Abdul Hadi Al Quraim, Tinggede, Kab. Sigi, Sulawesi Tengah, Ahad (15/10).

Ia menambahkan bahwa relawan muslim itu perlu menyisipkan pesan-pesan dakwah kepada semua penerima manfaat.

Bersama dengan Saufi Zakaria, mantan Perwira Angkatan Udara Malaysia yang juga merupakan pendiri Masjid Iktikaf ZB Kelantan, beliau membawa beberapa program kemanusiaan seperti paket ribuan nasi siap santap, paket sembako dan bantuan tenda.

“Kita datang kesini mewakili pihak Masjid di Kelantan dan gabung dengan Wahdah, dalam rangka mempersambungkan bantuan rakyat Malaysia untuk kawan-kawan di Sulawesi Tengah ini,” ujarnya.

Ia berharap, agar kerjasama ini bisa terus dilanjutkan. “Karena kita adalah saudara yang diikat dengan Islam,” pungkasnya. []

Echa, Siswa Sekolah Ceria LAZIS Wahdah, yang Nyaris Tertimbun Reruntuhan

Echa, Siswa Sekolah Ceria LAZIS Wahdah, yang Nyaris Tertimbun Reruntuhan

Echa, Siswa Sekolah Ceria LAZIS Wahdah, yang Nyaris Tertimbun Reruntuhan

Namanya Meisalwa Claudia. Biasa  dipanggil Echa. Bocah perempuan berusia 7 tahun ini merupakan salah seorang anak yang selamat dari reruntuhan bangunan akibat gempa yang menerjang Sulawesi Tengah , Jum’at (28/09/2018) sore lalu.

Echa tinggal bersama ibu dan tiga orang kakaknya di kota Palu. Sebelum gempa terjadi, Ibu dan kakak Echa berada di tempat kerja. Sedangkan Echa dijaga oleh tetangganya yang digaji perbulan oleh ibunya untuk menjaganya ketika ibu dan kakaknya berada di tempat kerja.

Detik detik sebelum gempa terjadi ibu Echa sudah berada di rumah. Ketika salah satu kakinya melangkah memasuki rumah, terjadilah gempa yang sangat dahsyat itu.

“Saya bergegas mencari anak saya setelah terombang-ambing, dan akhirnya jatuh dan kepala saya terbentur sebanyak dua kali di tembok. Karena sudah tidak sanggup berdiri akhirnya dalam keadaan merangkak saya mencari anak saya,” ungkap Yuliasi, Ibu dari Echa, Senin (15/10/2018).

Yuliasi melanjutkan, Ia menemukan Echa berada di kamar mandi tanpa satupun pakaian melekat di tubuhnya. Dengan keterbatasan kemampuan dengan sakit yang ia rasa, Yuliasi hanya dapat menggapai rambutnya dan menariknya untuk menyelamatkan Echa dari bangunan yang sudah mulai runtuh.

 “Alhamdulillah akhirnya dalam keadaan merangkak saya berhasil menarik rambut anak saya dan merangkulnya dalam keadaan merangkak dan berusaha keluar dari rumah,” tuturnya.

Namun pintu rumah terkunci dengan sendirinya, tutur Yuliasi. Akhirnya dengan sisa tenaga yang terisa, Ia berusaha membuka pintu. Namun ketika Ia berusaha membuka pintu, Echa sudah ditindih barang-barang yang berada di sekitarnya.

“Kakinya ditindih tempat piring, setelah sekian lama berusaha membuka pintu, akhirnya pintunya pun terbuka dan kami berusaha untuk keluar dari rumah,” tukasnya.

Setelah gempa terjadi selama dua hari dua malam, Yuliasi beserta anak-anaknya hanya berada di atas pasir tanpa beralaskan apapun dan tanpa bantuan apapun. Hingga akhirnya, mereka berhasil dibawa ke tempat pengungsian di daerah kabupaten Donggala, Kecamatan Banawa tengah.

Sampai sekarang Echa masih merasakan sakit di bagian dadanya yang tertimpa barang-barang yang berada di sekitarnya ketika gempa terjadi. Begitupun dengan Ibunya yang masih merasakan sakit pada kakinya yang bengkak karena jatuh akibat guncangan gempa.

Alhamdulillah, melalui program Sekolah Ceria LAZIS Wahdah Echa menjalani pemulihan trauma dan pendidikan sekolah darurat. Salah satunya adalah pembagian Paket Ceria untuk membantunya mengikuti Sekolah Darurat dan ceria kembali. ()

Warga Desa Puty Titipkan Bantuan Bencana Gempa Ke Posko Wahdah Islamiyah

Warga Desa Puty Titipkan Bantuan Bencana Gempa Ke Posko Wahdah Islamiyah

Warga Desa Puty Titipkan Bantuan Bencana Gempa Ke Posko Wahdah Islamiyah

(Sigi) Wahdahjakarta.com — Sudah tujuh belas hari tim relawan Wahdah Peduli bertugas di Sulawesi Tengah. Selama itu bantuan dari masyarakat luar kota Palu terus  berdatangan. Siang dan malam secara bergantian truk hingga mobil bak terbuka masuk ke posko induk Wahdah Islamiyah  di Jln. Rappolinja, Tinggede, Kab. Sigi.

Senin (15/10), bantuan dari masyarakat Desa Puty, Kec. Bua, Kab. Luwu tiba di posko induk dengan membawa beberapa bantuan berisi beras, ikan kaleng, susu, makanan ringan, air, dan bantuan pangan lainnya.

Rendi syamsul (29), perwakilan warga mengatakan, bantuan ini hadir sebagai bentuk keprihatinan warga di Desanya atas musibah yang menimpa masyarakat di Sulawesi Tengah.

“Alhamdulillah, setelah melakukan perjalanan kurang lebih seharian penuh, akhirnya bantuan tiba dengan selamat,” ucapnya kepada relawan.

Hingga hari ke-14, Wahdah Islamiyah telah menyalurkan bantuan kepada 32605 jiwa dan 7548 kk korban gempa bumi dan tsunami. []

Lazis Wahdah Bergerak, Rancang 1000 Shalter di Palu

Lazis Wahdah Bergerak, Rancang 1000 Shalter di Palu

Ketua Lazis Wahdah, Ustadz Syahruddin

Wawancara Khusus
Ustaz Syahrudin SC

Direktur Laziz Wahdah

Lazis Wahdah Bergerak, Rancang 1000 Shalter di Palu

(MAKASSAR) wahdahjakarta.com – Kabar gempa dan tsunami di Palu menghentak seluruh pelosok negeri. Semua bergerak menunjukkan kepeduliannya membantu saudara-saudaranya yang menjadi korban bencana alam. Salahsatunya adalah Lazis Wahdah yang sejak Jum’at (28 September 2018) mendengar kabar duka itu.

“Awalnya kami ragu, khawatir hoax. Kami menunggu beberapa waktu untuk mendapat validasi informasi, dan ternyata bencana itu betul-betul terjadi. Usai shalat Isya, kami langsung koordinasi, bergerak menuju Palu saat itu juga,” ungkap Direktur Laziz Wahdah, Ustaz Syahrudin SC di kantor Lazis Wahdah, Makassar, belum lama ini, Sabtu (13/10/2018).

Dari Makassar, Lazis Wahdah mengirim tim ke Palu. Namun, semua maskapai penerbangan mengcancel keberangkatan menuju Bandara Sis Al Jufri, Palu.

“Kami tetap bergerak, mencari jalur lain. Akhirnya kami mencari jalur terdekat untuk terbang ke Poso. Dari Poso, kami bersama tim Lazis Wahdah Poso menuju Palu melalui jalur darat,” ujarnya.

Beberapa saat setelah bencana, tim Wahdah berupaya melakukan kontak dengan perwakilannya di Palu. Namun hanya satu telepon yang bisa terhubung.

“Itupun diterima oleh telepon kakaknya di Sigi. Yang lain lost contact semua,” tukas Ustaz Syahrudin bercerita.

Pada hari Sabtunya, tim Lazis Wahdah sudah membuka posko di komplek di SDIT Qurrota ‘Ayun. Pasca gempa dan tsunami, posko Lazis Wahdah berjumlah sembilan titik yang tersebar di tiga kabupaten, yakni, Palu, Sigi, dan Donggala.

“Kami membaginya menjadi tiga posko, yakni, Posko Induk, Posko Satelit dan Posko Bayangan. Adapun posko satelit ada tujuh titik untuk mensuplai bantuan ke posko bayangan yang berdampingan langsung dengan pengungsi. Kami membantu korban gempa dan tsunami, mulai dari kegiatan trauma healing, tim medis, hingga makanan.”

Ada beberapa kendala saat memberi bantuan ke Poso. Mobil ambulance milik Lazis Wahda mengalami kecelakaan di daerah Pasang Kayu, tepatnya sebelum Donggala. Saat itu pukul 00.30 WITA.

“Yang membawa ambulance itu adalah relawan Lombok yang ditarik ke Palu. Saat di jalan, mobil yang membawa penuh logistik, tenda, solar dua drum, tiba-tiba oleng di tikungan, lalu terbalik.”

Cobaan kedua, mobil Lazis Dakwah yang berangkat dari kantor cabangnya di Mamuju, yang juga membawa bantuan logistik makanan dan obat-obatan, dihentikan ditengah jalan oleh warga, dan merebutnya hingga “bersih”.

“Akibatnya, penghadangan itu menghambat trauma teman-teman relawan yang membawa bantuan lewat jalur darat. Kami memutuskan untuk melepas spanduk bantuan untuk bisa masuk ke Pasang Kayu,” pungkasnya.

Rancang 1000 Shalter

Pasca gempa dan tsunami di Palu dan sekitarnya, banyak korban yang mengungsi di Makassar, termasuk di wilayah Sidrap, yang jaraknya 150 kilometer dari Kabupaten Pare-pare, Sulawesi Serlatan .

Ketua Dewan Perwakilan Daerah Wahdah Islamiyah mencatat, ada 1.600 orang yang mengungsi. Mereka berpencar di rumah-rumah penduduk, bahkan ada yang mengungsi di Asrama Haji Makassar.

Pasca gempa dan tsunami, Lazis Wahdah bergerak untuk membantu melalui tiga tahapan: Pertama, tahap tanggap bencana. Kedua, tahap pemulihan, dan ketiga tahap program dakwah yang merupakan program jangka panjang.

“Saat ini masih tahap pemulihan hak dasar para pengungsi, mulai dari kebutuhan makanan, pakaian, medis. Kami akan merencang di 3 lokasi di lokasi bencana berupa komplek shalter. Insya Allah target kami mendirikan 1.000 shalter untuk korban gempa Palu,” tandasnya.

Ustaz Syahrudin tidak bisa memastikan, apakah pengungsi yang berada di Makassar akan kembali ke Palu.

“Saya perkirakan, mungkin mereka tidak akan kembali lagi ke tempat tinggalnya, mengingat jenis tanahnya yang disebut likuifasi, dimana kadar airnya sangat tinggi.”

Ustaz Syahrudin sangat bersyukur dengan kepedulian masyarakat yang membantu korban gempa dan tsunami di Palu. Hampir setiap hari, bantuan tidak berhenti dari segala penjuru, termasuk dari negara sahabat, seperti Malaysia, salah satunya.

“Kalau dihitung-hitung, sudah ada 430 orang relawan Lazis Wahdah yang datang ke Palu untuk membantu. Kalau tidak kami tahan-tahan, jumlahnya bisa mencapai 1.000 relawan. Dikarenakan bantuan ini merupakan program jangka panjang yang perlu biaya besar.”

Bicara penanganan bencana, Ustaz Syahruddin menjadikan musibah itu sebuah pelajaran dan hikmah yang sangat berharga. Terutama para relawan agar belajar tanggap bencana yang sifatnya darurat. Dibutuhkan sinergi dengan lembaga lain yang bernaung dibawah kordinasi Forum Zakat (FOZ) agar tidak terjadi tumpang tindih.

“Kami berharap, para relawan dapat menjaga ritme kerja agar bernafas panjang dan tetap semangat untuk membantu Palu bangkit kembali.

Setidaknya, tidak sebatas saat darurat saja, tapi hingga pemulihan, mulai dari psikisnya, kehidupannya, dan perputaran ekonominya.

Alhamdulillah, saat ini sudah ada toko yang buka, pasar kembali normal, bank telah beroperasional, listrik menyala, dan internet bagus,” ungkap Ustaz Syahruddin. (des)

Malam yang Mencekam di Petobo (Catatan Seorang Relawan)

Malam yang Mencekam di Petobo (Catatan Seorang Relawan)

Malam yang Mencekam di Petobo (Catatan Seorang Relawan)

Jelang tengah malam, Ahad (14/10/2018) malam ini di Whatsapp Group seorang ikhwan yang sedang bertugas sebagai relawan kemanusiaan di Palu Sulawesi Tengah mengirim pesan tetang suasana mencekam di petobo Palu lokasi pengungsian.

Berikut selengkapnya.

Bismillah

Saat ini kami sedang di Posko yang jarak posko kami dengan Lokasi Musibah hanya berkisar 300 meter..

Suasana mistis ditambah gonggongan anjing saling sahut-sahutandi lokasi tersebut semakin menguji adrenalin Relawan Lazis Wahdah Sultra.

Menurut penuturan warga asli Petobo memang jumlah masyarakat petobo sebanyak 15 ribu warga dan tidak lebih 30% saja yang selamat..

Jumlah ini belum masuk dengan pendatang yang masuk wilayah tersebut..

Cukup merinding juga dengan suasana malam yang pekat dan sepi, yang sebelumnya tempat ini sangat padat pemukiman warga dan dalam waktu singkat menghilang..

Penuturan salah seorang warga, Petobo ini tidak pernah sepi dengan aktifitas. Kota yang kita kenal sebagai kota hilang adalah tempat perjudian terbesar di pulau Sulawesi. Bahkan orang-orang Non pribumi tidak mau ketinggalan datang hanya untuk ikut berjudi di lokasi ini..

Kita mungkin pernah mendengar nasehat ustadz-ustadz kita. Maksiat yang satu akan mengundang maksiat yang lain..

Dan itulah yang terjadi..

Wanita penghibur, minuman keras, pembunuhan bahkan praktek kesyirikan pun terjadi di lokasi tersebut..

Bahkan yang lebih aneh sebagian Warga rela meminum darah kerbau demi mencapai tujuannya. Ini penuturan Warga sekitar. Wal’iyadzubillah..

Sekarang keramaian Petobo tinggal sejarah. Hamparan kosong yang sebagian tempat masih berbau jenazah..

Semoga Allah Subahanahu Wata’ala memberikan kita kekuatan untuk memperbaiki ummat ini agar tdk terjatuh pada maksiat berjama’ah..

Salam Lazis Wahdah “Melayani dan Memberdayakan

(Yayat/sym).

Adzan Berkumandang di Posko Pengungsian di Donggala

Adzan Berkumandang di Posko Pengungsian Donggala

Shalat berjama’ah di tenda pengungsi Donggala, Jum’at (12/10/2018)

(Donggala) wahdahjakarta.com– Adzan subuh berkumandang di Mushalla darurat posko pengungsian yang berada di Desa Limboro, Kabupaten Donggala, Sulawesi tengah, Minggu, (14/10/2018).

Sebelumnya, adzan untuk salat dikumandangkan tanpa pengeras suara, sehingga waktu shalat tidak diketahui pengungsi. Al-hamdulillah adzan subuh hari ini mulai terdengar karena sudah ada pengeras suara sumbangan Lazis Wahdah.

Farid (35), warga setempat menyebutkan, subuh kali ini berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya.
“Waktu subuh tadi saya kaget pak, kenapa tiba-tiba ada suara adzan terdengar keras, Alhamdulillah bisa langsung bangun tadi dan segera ke masjid,” ungkapnya.

Farid sebelumnya sangat kesulitan untuk shalat tepat waktu di mushala darurat yang dibangun, sebab tidak ada penanda yang jelas.

“Sudah dua belas hari pak saya biasa terlambat salat bersama imam. Ini Alhamdulillah sudah bisa tahu kapan waktu masuknya,” tuturnya.

Andi Nasaruddin salah satu personil relawan Wahdah Islamiyah yang berposko di lokasi pengungsian ini mengatakan, setelah ada pengeras suara dan fasilitas penerangan jumlah jama’ah mengalami peningkatan.

“Alhamdulillah jumlah warga yang shalat Subuh lebih banyak dari sebelumnya. Mungkin karena awalnya tidak ada penerangan dan pengeras suara yang bisa mengingatkan warga akan masuknya waktu shalat,” pungkasnya.
Nasar, sapaan akrabnya, menuturkan, perlahan-lahan inventaris musholla ini diadakan untuk menunjang program dakwah di posko pengungsian ini.

“Kami berusaha membangun warga dari musholla, jadi program-program banyak kami laksanakan di musholla. Di antaranya adalah Sekolah Darurat, Taman Pembinaan Alquran untuk Anak-anak, Pengajian Ibu-ibu dan bapak-bapak, dan lainnya,” ujarnya.

Di antara inventaris yang telah diadakan antara lain lampu penerang, pengeras suara yang perdana telah mengumandangkan adzan, dan mukena.

“Insya Allah akan disusul dengan Alquran, karpet dan kebutuhan lainnya,” ungkap Nasar lagi.
Posko pengungsian di desa ini merupakan satu dari delapan titik pengungsian yang dibina oleh Lazis Wahdah. Program utama yang digelar di masing-masing posko pembinaan antara lain distribusi logistik/ sembako, layanan kesehatan, trauma healing, pembinaan rohani dan program kemasyarakatan lainnya.(San/sym)

Sumber: http://makassar.tribunnews.com

Bantuan Perdana Masuk Petobo, Ini kata Warga Pada Relawan

Bantuan Perdana Masuk Petobo, Ini kata Warga Pada Relawan

Penyerahan bantuan kepada warga terdampak gempa di Petobo, kata Warga Pada Relawan ini bantuan yang pertama masuk, Ahad (14/10/2018).

Bantuan Perdana Masuk Petobo, Ini kata Warga Pada Relawan

(Palu) Wahdahjakarta.com, Memasuki akhir pekan kedua pascagempa bumi dan tsunami yang menerjang Palu, Donggala, dan Sigi Sulawesi Tengah, ternyata masih terdapat warga terdampak yang belum mendapatkan bantua.

Hal ini ditutukan salah seorang relawan yang hari ini, Ahad (14/10/2018) menyalurkan

“Kata warga, ini bantuan pertama yang langsung diantarkan kepada mereka,” ujar Irwan, relawan Wahdah Islamiyah asal Luwu.

Menurut Irwan, logistic yang diantarkan oleh relawan Wahdah Islamiyah adalah yang pertama kali masuk ke wilayah mereka.

“Sebelumnya memang belum pernah. Kami sudah tanyakan langsung informasi ini ke warga dan kata mereka memang benar adanya,” ungkapnya.

Beberapa bantuan yang disalurkan yakni paket sembako berupa beras, biscuit, mie instan, popok bayi, susu dan sebagainya.

Wilayah Petobo merupakan salah satu kawasan terdampak gempa yang paling parah

Wahdah Islamiyah telah membuka posko tambahan wilayah Petobo yang beralamat di BTN Patobo, Kec. Palu Selatan, kota Palu, Sulawesi Tengah.  Sebelumnya Lazis wahdah telah membangun delapan posko yang tersebar di beberapa titik di Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Sigi. [ed:sym].

Relawan Wahdah Islamiyah Lakukan Aksi Bersih-Bersih di Pengungsian

Salah satu Relawan LAZIS Wahdah yang melakukan kegiatan kebersihan di lokasi pengungsian bencana Sulteng.

(DONGGALA) wahdahjakarta.com– Relawan Wahdah Islamiyah melakukan pembersihan di posko pengungsian Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala Sulawesi tengah, Sabtu (13/10).

Pembersihan dilakukan sepanjang posko yang berisi 342 Kepala Keluarga ini, dengan menyisir tenda-tenda pengungsian.

Andi Nasaruddin selaku Koordinator Posko relawan Wahdah mengatakan, tujuan dilaksanakan pembersihan adalah untuk membantu warga menjalankan aktivitasnya di lingkungan yang steril.

“Banyak sekali sampah, sehingga banyak lalat-lalat berkeliaran yang sangat berbahaya untuk kesehatan warga,” ujar pria asal Bone ini.

Nasaruddin melanjutkan, salah satu program Wahdah Islamiyah di posko pengungsian ini adalah layanan kesehatan. Maka untuk mempersiapkannya, kata Nasar, adalah dengan mempersiapkan lingkungan yang bersih.

“Insya Allah tim medis akan tiba untuk melayani keluhan kesehatan warga,” ujarnya.

Selain layanan kesehatan, Wahdah Islamiyah juga membuka Sekolah Ceria kepada anak-anak, bersama Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI). Sekolah ditujukan untuk mengisi waktu anak-anak yang libur sekolah akibat gempa yang terjadi.

“Juga sebagai cara Trauma Healing dengan menggunakan permainan dan materi-materi sekolah,” pungkas Nasar.

“Kami berharap program-program yang kami jalankan bisa memberikan manfaat bagi seluruh warga pengungsian, bukan hanya bantuan sembako,” tambahnya.

Sejauh ini, sudah ada delapan posko Wahdah Islamiyah yang tersebar di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigimoutong. Masing-masing memiliki program antara lain distribusi logistik, trauma healing, pembinaan keislaman, sekolah darurat, dan program lainnya. (fry)

Laporan:Rustam Hafid
Relawan Wahdah Peduli