Atasi Trauma Korban Gempa, Wahdah Islamiyah Kirim Relawan Trauma Healing Ke Palu

Atasi Trauma Korban Gempa, Wahdah Islamiyah Kirim Relawan Trauma Healing Ke Palu

Apel Siaga pengiriman Relawan Pasukan Hijau Wahdah Islamiyah. Lokasi: Halaman Kantor DPP Wahdah Islamiyah, Jln. Antang Raya, Makassar, Selasa (09/10/2018) pagi

Oleh karena itu, selain mengirim relawan medis, tim evakuasi, dan logistik Wahdah Islamiyah juga menerjunkan tim relawan trauma healing.

(MAKASSAR) wahdahjakarta.com – Gempa dengan kekuatan 7,5 SR mengguncang kota Palu dan sekitarnya disusul tsunami hingga 8 meter pada Jumat (28/9) petang, meninggalkan trauma yang mendalam bagi warga terdampak langsung. Kehilangan keluarga, harta, tempat tinggal memang bukan hal yang ringan. Apalagi gempa susulan masih sering dirasakan, sebagaimana pada Selasa (9/10) subuh pukul 05.15 WITA kembali terjadi gempa dengan kekuatan 5.2 SR.

Untuk itu selain pemulihan secara fisik sebagian warga korban gempa juga membutuhkan penanganan psikis.

Diantara program Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah (WI) dalam penanganan pasca gempa Sulawesi Tengah adalah Trauma Healing.

Oleh karena itu, selain mengirim relawan medis, tim evakuasi, dan logistik Wahdah Islamiyah juga menerjunkan tim relawan trauma healing.

Atasi Trauma Korban Gempa, Wahdah Islamiyah Kirim Relawan Trauma Healing Ke Palu

Tim Trauma Healing Wahdah Islamiyah, Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil (memakai tas ranse) dan Ustadz Jahada Mangka, sesaat setelah mendarat di Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufri Palu, Selasa (09\10\2018)

“Hari ini kita mengirimkan 10 ustadz yang akan menjadi tim trauma healing,” kata ustadz Taufan Djafri, koordinator pengiriman relawan, di kantor DPP Wahdah Islamiyah, Jl. Antang Raya no 48, Makassar, Selasa (9/10).

Tim ini, lanjut ustadz Taufan, akan bertugas untuk memberikan penguatan, membangkitkan semangat, memberi motivasi, nasehat dan arahan-arahan kepada korban terdampak gempa.

Menurut Ustadz Taufan pendekatan yang paling tepat dalam memulihkan trauma korban gempa adalah pendekatan agama yang ia sebut dengan tazkiyah syar’iyyah.

Menariknya, diantara tim trauma healing yang diutus ada ustadz senior dan notabene adalah petinggi di Wahdah Islamiyah. Diantara ustadz yang diutus adalah ustadz Muhammad Ikhwan Abdul Jalil, Lc. M.HI. yang juga Ketua Dewan Syura Wahdah Islamiyah dan ustadz Jahada Mangka, Lc. M.HI, Ketua Lembaga Koordinasi Pembinaan Dai dan Murabbi (LKPDM) DPP Wahdah Islamiyah. []

Wahdah Islamiyah Kembali Kirim Relawan ‘Pasukan Hijau’ Ke Sulawesi Tengah

Pasukan Hijau Wahdah Islamiyah

“Pasukan Hijau” yang dikirim oleh DPP Wahdah Islamiyah untuk membantu evakuasi korban gempa SulTeng

(MAKASSAR) wahdahjakarta.com– “Selamat bergabung dalam ‘Pasukan Hijau’ Wahdah Islamiyah,”
demikian ucapan Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah, Ustadz DR. Rahmat Abdul Rahman, Lc. MA saat apel pelepasan relawan Wahdah Islamiyah di halaman kantor DPP WI, Jl. Antang Raya, no 48, Makassar, Selasa (9/10).

‘Pasukan Hijau’ sendiri adalah istilah yang merujuk pada relawan Wahdah Islamiyah dengan ciri khas pakaian warna hijau.

Ustadz Rahmat berpesan agar para relawan senantiasa menjaga keikhlasan. “Tugas kemanusiaan yang ikhwah sekalian akan laksanakan adalah bagian dari jihad fii sabilillah. Maka luruskan niat, perbaiki tujuan dan maksud antum semua” pesan Ustadz Rahmat.

Jihad yang dimaksud, lanjut ustadz Rahmat, bukan jihad dalam artian perang, namun untuk membantu sesama umat manusia.

Apel relawan di depan gedung DPP Wahdah Islamiyah.

Selain persiapan fisik, para relawan juga harus mempersiapkan mental dengan baik untuk menghadapi kondisi yang terburuk sekalipun. “Kondisi di sana mungkin tidak sesuai dengan bayangan antum sebelumnya, makanya jangan kaget, tetapi harus siap dengan segala kemungkinan terburuk yang bisa saja antum hadapi di sana,” kata ustadz Rahmat.

Menjelaskan kondisi di lokasi terdampak gempa Sulteng, menurut Ustadz Rahmat bahwa masih ada lokasi-lokasi pengungsi belum tertangani dengan baik, mereka masih kekurangan makanan dan minuman. Untuk itu diharapkan agar relawan bekerja dengan koordinasi yang baik dengan relawan yang telah ada di sana dan juga pihak pemerintah.

“Lihat titik-titik lokasi yang belum mendapat bantuan. Kita masuk ke pelosok-pelosok dimana belum disentuh oleh relawan-relawan dari organisasi lain. Masuk ke sana, antarkan bantuan, buat mereka tersenyum. Minimal mereka merasa bahwa mereka punya saudara yang memberikan kepedulian dan perhatian kepada mereka,” kata ustadz Rahmat penuh haru.

Koordinator pengiriman relawan Ustadz Taufan Djafri mengatakan, hari ini akan diberangkatkan relawan sebanyak 66 relawan dengan rincian 48 relawan yang akan bertugas di dapur umum, distribusi bantuan dan evakuasi, 8 orang relawan medis yang terdiri atas Dokter dan Perawat, serta 10 orang relawan Trauma Healing.

Relawan ini akan menjadi tenaga tambahan bagi 150 relawan Wahdah Islamiyah yang telah bertugas di kota Palu, kabupaten Sigi dan kabupaten Donggala.[]

Layani Pengungsi, Dapur Umum Wahdah Islamiyah Terus Mengepul

Layani Pengungsi, Dapur Umum Wahdah Islamiyah Terus Mengepul

Layani Pengungsi, Dapur Umum Wahdah Islamiyah Terus Mengepul

Layani Pengungsi, Dapur Umum Wahdah Islamiyah Terus Mengepul

Palu (Wahdahjakarta.com)- Memasuki hari ke-12 pasca gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah dapur umum Posko Induk  Wahdah Islamiyah di Tinggede, Kabupaten Sigi – Sulawesi Tengah terus beroperasi melayani kebutuhan konsumsi pengungsi dan relawan.

“Alhamdulillah bahan makanan untuk Dapur Umum sementara masih aman”. Ujar Mistam Fahmi Ahmad (51), juru masak Posko induk Wahdah Islamiyah Palu, Selasa (09/10/2018)

Untuk menghindari kebosanan Mistam berusaha meramu dan mengolah bahan makanan secar variatif. “Meramu bahan makanan ini untuk jadi menu yang berbeda setiap harinya agar tidak bosan yang jadi tantangan.” Ujarnya kepada Tim Media Lazis Wahdah.

 Dapur Umum Wahdah Islamiyah

Menu sederhana Dapur Umum Wahdah Islamiyah. Dapur umum ini melayani kebutuhan konsumsi pengungsi dan relawan

Menurut relawan Wahdah Peduli asal Majene ini bahwa dapur umum ini sangat penting. Menjaga asupan nutrisi untuk pengungsi, juga untuk relawan yang hingga saat ini masih terus bertugas agar tidak drop akibat kecapean.

Saat ini setiap harinya Dapur Umum mengolah 100 kg beras. Makanan siap saji seperti abon dan ikan kering dari para dermawan pun sangat membantu. [Anas/Sym].

Mahasiswa STIBA Makassar Kumpulkan Rp 208 Juta untuk Korban Gempa Sulteng

Mahasiswa STIBA Makassar Kumpulkan Rp 208 Juta untuk Korban Gempa Sulteng

Mahasiswa STIBA Makassar Kumpulkan Rp 208 Juta untuk Korban Gempa Sulteng

Mahasiswa STIBA  Makassar Kumpulkan Rp 208 Juta untuk Korban Bencana Sulteng

(Makassar) wahdahjakarta.com- Aksi turun ke jalan yang dilakukan mahasiswa  Sekolah Tiggi Islam dan Bahasa Arab (STIBA ) Makassar selama Jumat-Ahad (5-7/10/2018), berhasil mengumpulkan donasi masyarakat lebih dari Rp 151 juta. Sepekan sebelumnya, Ahad (30/9), terkumpul Rp 43 juta dalam aksi yang sama.

Di samping aksi turun ke jalan, Departemen Sosial Dewan Mahasiswa (Dema) STIBA Makassar turut menggalang dana dengan  membuka Posko STIBA Peduli Sulteng. Dari posko ini,  terkumpul Rp 11 juta. Sehingga total donasi untuk korban bencana Sulawesi Tengah yang berhasil dikumpulkan mahasiswa STIBA adalah Rp 208 juta.

Hasil penggalangan dana ini akan disalurkan melalui LAZIS Wahdah Islamiyah dalam bentuk logistik. LAZIS Wahdah yang saat ini terjun langsung memberikan bantuan ke masyarakat terdampak gempa di Sulawesi Tengah telah memberikan daftar sejumlah kebutuhan pokok, seperti bahan-bahan makanan, perlengkapan bayi, dan kebutuhan mendesak lainnya.

Pasukan Hijau SAR Wahdah Islamiyah Bersih-Bersih Bandara Palu

Pasukan Hijau SAR Wahdah Islamiyah Bersih-Bersih Bandara Palu

Pasukan Hijau SAR Wahdah Islamiyah sedang membersihkan maerial dia dalam areal Bandar Uda SIS Al-Jufri Palu, Senin (08/10/2018). Photo>Lazis wahdah

Pasukan Hijau SAR Wahdah Islamiyah Bersih-Bersih Bandara Palu

(PALU) wahdahjakrta.com – Memasuki pekan kedua pasca bencana gempa Palu dan sekitarnya Tim SAR Wahdah Islamiyah bergerak memberishkan areal Bandar Udara SIS Al-Jufri Palu, Senin (08/10/2018).

Sebanyak  26 personil tim SAR WI diterjunkan untuk membersihkan Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufri, kota Palu yang sempat ditutup akibat gempa yang melanda Palu pada Jum’at (28/09) lalu.

Menurut Koordinator tim  Abu Umar Al-Qassam, aksi pembersihan ini dilakukan setelah sebelumnya terjalin koordinasi bersama pihak Bandara.

Saat menjalankan aksinya, lanjut Abu Umar, tim dipecah menjadi dua, masing-masing terdiri atas tiga belas orang.

“Tim pertama kami tugaskan untuk membersihkan masjid dan toilet bandara, dan Tim kedua ditugaskan untuk membersihkan material pengganggu di landasan parkir dan pacu, sehingga penerbangan bisa normal seperti sedia kala,” terangnya.

Gunawan selaku Koordinator Jasa Kebandaraan mengungkapkan, awalnya terkejut dengan kehadiran para relawan. Namun berkat aksi yang dilakukan, dia merasa sangat terbantu.

“Terimakasih kepada teman-teman LAZIS Wahdah, yang cukup membantu keberlangsungan bandara ini, dan mudah-mudahan mendapatkan balasan dari Tuhan,” tukasnya.

Dilaporkan, landasan pacu mengalami keretakan, serta tower yang runtuh. “Reruntuhan ini meninggalkan material yang mengganggu penerbangan. Alhamdulillah perlahan-lahan kami bersihkan agar penerbangan lancar,” ucap Abu Umar kembali.

Tim SAR Wahdah Islamiyah masih akan melanjutkan kegiatan pembersihan di lokasi yang sama, dengan konsentrasi aksi pada Gedung administrasi bandara.

Sebagaimana diberitakan wahdahjakarta.com, kegiatan pembersihan Tim SAR yang dijuluki pasukan hijau ini juga dilakukan di RSUD Undata Sulawesi Tengah yang mendapatkan apresiasi dari Wakil Presiden Jusuf Kalla serta tenaga medis setempat. ()

Minum Air Rebusan, Sebagian Pengungsi Diserang Diare dan Batuk-Batuk

Minum Air Rebusan, sebagian pengungsi diserang diare dan batuk

Untuk sumber air  warga mengandalkan aliran air yang berasal dari gunung. Baik untuk mandi, masak hingga minum. Sebagian pengungsi diserang diare dan batuk-batuk.

(DONGGALA) wahdahjakarta.com – Gempa bumi disusul tsunami yang melanda  Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya, menyebabkan puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal. Mereka  memilih tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Diantara mereka ada yang mencari dataran tinggi untuk menghindari gempa dan tsunami susulan. Mereka tinggal di perbukitan dengan membawa kebutuhan seadanya.

Salah satunya adalah warga Desa Sipi, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala. Mayoritas warga di desa ini menyelamatkan diri dan mendirikan tenda-tenda pengungsian di perbukitan.

Ketika Relawan LAZIS Wahdah melakukan penyisiran, untuk mencapai Camp pengungsian tersebut, relawan harus menempuh jalan sempit yang penuh dengan bebatuan dan semak belukar sejauh 3 kilometer.

Camp pengungsian warga di desa ini terletak di atas bukit, dikelilingi oleh hutan belantara. Kata warga setempat, untuk menghindari terjangan tsunami.

Mayoritas warga telah kehilangan rumahnya, ungkap Juliadi. Bahkan ketika gempa terjadi, karena melihat air laut yang mulai pasang, warga kemudian beramai-ramai berlari jauh ke dalam hutan hingga yakin keadaan telah aman.

“Kami sudah tujuh hari pak kesulitan mendapatkan bantuan, ada beberapa warga yang kami utus ke pusat pembagian bantuan, namun yang didapat hanya sedikit. Satu kepala keluarga hanya mendapatkan satu bungkus mie instan, dan satu kilogram beras,” ungkap Juliadi (33) yang mengungsi dan tinggal di tenda bersama seluruh anggota keluarganya, Ahad (7/10/2018)

Bahkan, tutur dia, sudah dua hari banyak warga yang kelaparan, karena akses menuju desa yang terputus beberapa hari.

“Saat awal gempa terjadi, kami masih memiliki uang, namun memasuki hari ke empat, uang kami habis dan terpaksa menjual dan menggadaikan barang-barang berharga yang kami miliki,” ujarnya.

Bahkan, Juliadi bersama istri harus menggadaikan cincin pernikahannya untuk membeli bahan makanan.

“Harta terakhir yang saya miliki adalah cincin itu pak, kalau kedepannya bagus rejeki, baru saya tebus,” pungkas bapak tiga anak ini.

Untuk sumber air, lanjutnya, warga mengandalkan aliran air yang berasal dari gunung. Baik untuk mandi, masak hingga minum. Sebagian pengungungsi diserang diare dan batuk-batuk.

Air ini berasal dari bukit di atas sana pak, disana ada perkampungan, sehingga pembuangan mereka suatu saat bisa ikut terbawa. Ini sudah banyak warga yang batuk-batuk dan diare,” ujarnya.

Jalur transportasi darat menuju desa ini terputus selama enam hari karena longsoran bukit yang menutupi badan jalan, namun dua hari terakhir telah berhasil dibuka karena kebutuhan warga yang sudah sangat darurat karena tidak masuknya logistik.

Warga setempat berharap, logistik yang disalurkan oleh LAZIS  Wahdah menjadi magnet untuk bantuan selanjutnya, termasuk yang  menjadi harapan warga  adalah pendirian hunian sementara yang memiliki kakus dan dapur umum. ()

Guppy Lovers Indonesia Donasi 40 Juta Untuk Korban Gempa Palu

Guppy Lovers Indonesia Donasi 40 Juta Untuk Korban Gempa Palu

(Makassar) wahdahjakarta.com – Bertempat di Wisma Apple Jl. Ince Nurdin No.22A, Sawerigading, Ujung Pandang, Kota Makassar, sejumlah Pengurus Pusat dan Daerah Komunitas Pecinta Ikan Hias Guppy Lovers Indonesia menyerahkan donasi kepada pihak LAZIS Wahdah untuk korban gempa Palu, Donggala, Sigi, dan sekitarnya di Sulawesi Tengah, Jumat  (5/10).

Pada acara penyerahan ini Guppy Lovers Indonesia diwakili oleh Danang Prima, diterima langsung oleh Sekretaris Jendral DPP Wahdah Islamiyah Ustadz Syaibani Mudjiono S.Sy.

Bantuan ini kata Danang adalah wujud kepeduliaan pihaknya terhadap gempa yang menimpa masyarakat Palu, Sigi, dan Donggala. Ia turut prihatin dengan kondisi pengungsi yang jauh dari kata layak.

“Saya terenyuh melihat kondisi mereka yang kekurangan pangan dan logistik. Mereka tidur dengan peralatan seadanya, dan kampung mereka benar-benar hancur,” ujarnya

Sementara itu, Ustadz Syaibani menuturkan rasa terima kasih kepada pihak Guppy Lovers Indonesia yang mempercayakan donasinya kepada LAZIS Wahdah.

“Saya mewakili pihak LAZIS berterima kasih kepada pak Danang yang telah mempercayakan donasinya kepada kami. Semoga kerjasama ini bisa bermanfaat bagi mereka,”ucapnya. []

[Gempa Palu] Semua Rumah di RW Ini Rata dengan Tanah

Penampakan satu RW yang rata dengan tanah akibat gempa

Penampakan satu RW yang rata dengan tanah akibat gempa di Kelurahan Panau, Kecamatan Taweli Kota Palu, Sabtu (6/10/2018

[Gempa Palu] Semua Rumah di RW Ini Rata dengan Tanah

(Palu) wahdahpeduli.com- Tim Wahdah Peduli mengunjungi warga terdampak gempa di Posko Panau Bamba Kelurahan Panau,  Kecamatan Taweli Kota Palu (6/10/2018).

Kelurahan panau dihuni 2000 jiwa, semuanya terdampak gempa yang menerjang Palu dan sekitarnya. Bahkan di salah satu RW semua rumah hancur dan rata dengan tanah.

“Hancur Pak yang dekat pantai, 27 orang meninggal dunia dan 5 warga masih sementara kami cari” tutur Arwan (53), ketua RW 6.

“Jenazah dievakuasi oleh masyarakat secara gotong royong”, imbuhnya.

[Gempa Palu] Semua Rumah di RW Ini Rata dengan Tanah

Relawan Wahdah Peduli berjalan diantara puing-puing reruntuhan bangunan terdampak gempa

Sepanjang lorong terlihat warga masih berada di tenda-tenda pengungsian dengan kondisi memprihatinkan. Bantuan yang masuk pun hanya berasal dari sanak keluarga yang mengunjungi mereka. Bahkan mereka sudah dua hari ini hanya mengkonsumsi mie instan.

“Mohon bantuan tenda dan berasnya Pak. Biar sedikit nanti kami bagi-bagi ke warga atau kami buat jadi bubur agar mencukupi.” lanjutnya.

“Sehari setelah bencana warga belum mendapatkan bantuan sampai-sampai anak-anak menangis kelaparan”, pungkasnya.

Tim Wahdah Islamiyah Peduli menyalurkan bantuan sembako berupa beras, air mineral, mie instan, dan sebagainya. [Anas/sym].

Keajaiban Dzikir dan Do’a (Ibrah dari Korban Selamat Gempa Palu)

Keajaiban Dzikir dan Do'a (Ibrah dari Korban Selamat Gempa Palu)

Keajaiban Dzikir dan Do’a (Ibrah dari Korban Selamat Gempa Palu)

Berbagai Fenomena dan Kisah Yang Memilukan Sejak terjadinya Gelombang Tsunami dan Gempa Tektonik yang berkekuatan 7,7 SR, di kota Palu, Donggala, Sigi dan Sekitarnya. Mulai dari keluarga yang kehilangan rumahnya, kehilangan sanak Familinya (anak, Istri, Suami dan orang tua) tercinta mereka sampai kepada mereka yang berhasil berjuang melawan derasnya arus gelombang Tsunami, tapi kemudian bisa selamat dan bertahan hidup sampai saat ini.

Sebut saja Ibu Rani seorang Ibu rumah tangga yang berusia sekitar 30-an Tahun, Warga kota Palu yang selamat dari amukan Tsunami beserta putra semata wayangnya. Sebagaimana yang dituturkan berikut :

Sore itu (Jumat, 28 Septi’ 2018), Rani bersama beberapa Ibu-ibu lainnya lagi ngumpul di rumah salah seorang temannya. Entah  mengapa tiba-tiba Rani merasa nggak enak perasaannya, baru saja beberapa menit dia beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba warga sudah berteriak tsunami….tsunami….tsunami….. .

Tak pelak lagi, Rani dan teman-temannya secara spontan berlarian untuk menyelamatkan diri. Namun  apa daya gerakan gelombang tsunami telah menelan dan membolak-balikkan tubuh Rani dan teman-temannya hingga pakaian yang melekat di badan sudah habis terlepas semua, diantara mereka ada nyangkut diatap rumah, pohon-pohon, bahkan ada yang ditarik oleh gelombang tsunami ke tengah-tengah laut.

Subhanallah…. Allah Maha kuasa, Rani masih bisa selamat, walau dengan susah payah Ia memeluk erat disebuah pohon kayu yang berdiameter satu setengah meter. Hari semakin malam, Rani masih bertahan diatas pohon, karena khawatir masih datang tsunami susulan. Benar  saja sekitar beberapa saat kemudian datang lagi tsunami susulan, walau tidak sedahsyat yang pertama, namun tetap saja merusak beberapa rumah saat itu.

Rani baru tersadar ketika waktu sudah menjelang shubuh, rasa paniknya sedikit mulai hilang, dan mulai mengingat buah hatinya Rahmat yang baru berumur 6 thn. Secara  pelan-pelan Rani menuruni pohon. Sesaat kemudian tidak jauh dari pohon itu Rani menemukan sepenggal kain spanduk lalu kemudian menutupi badannya dengan seadanya.

Subhanallah…. Lagi-lagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukkan kuasa-Nya. Ketika  menjelang waktu shubuh tiba dengan suasana yang masih gelap gulita, sesosok wanita bercadar tiba-tiba muncul dihadapan Rani dengan membawa pakaian Busana Muslim yang lengkap. Masih dengan suara tangis yang terisak-isak, Rani memohon kepada wanita tersebut agar dipinjamkan busana itu kepadanya. Tanpa  pikir panjang lagi wanita itu langsung menyerahkan busana tersebut kepada Rani.

Masih dengan sisa tenaga yang tertatih-tatih Rani melangkah menuju ke jalan raya. Ia mulai merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya akibat adanya beberapa goresan dan benturan benda keras sewaktu dihempaskan oleh tsunami. Bisa dibayangkan…. mulai dari waktu maghrib sampai kemudian terhempas oleh tsunami, lalu nyangkut dipohon, nyaris nggak tidur semalaman, ditambah dengan rasa sedih yang sangat dalam. Syukur alhamdulillah ketika waktu menjelang pagi seseorang yang berbaik hati mengantar Rani ketempat keluarganya.

Rupanya dibalik keselamatan Rani dari amukan tsunami, ada sosok yang paling berperan, yaitu Rahmat Putra Kesayangannya. Menurut  penuturan Paman Rani, bahwa begitu mengetahui Ibunya terperangkap tsunami, semalaman bahkan sampai shubuh Rahmat berdzikir dan berdoa memohon perlindungan dan keselamatan Ibunya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika Rani tiba dirumah dan berjumpa putra kesayangannya, suasana haru yang diiringin dengan rasa tangispun tak bisa dihindari, Semua yang hadir pada saat itu ikut sedih oleh karena menyaksikan Rani dipertemukan oleh Allah dengan putra kesayangannya.

Seperti yang tuturkan oleh Rani bersama Pamannya Kepada  Relawan Tim Peduli Bencana Hidayatullah: #ImranBaharuddinAbdulQadir.

Sumber: Akun Facebook Yusuf Attamimi II.

Lazis Wahdah Salurkan Bantuan Untuk Warga Terdampak Gempa di Pasangkayu

Relawan Lazis Wahdah Pasangkayu menyerahkan bantuan kepada warga terdampak gempa di Pasangkayu Sulawesi Barat

Relawan Lazis Wahdah Pasangkayu menyerahkan bantuan kepada warga terdampak gempa di Pasangkayu Sulawesi Barat. Photo:Lazis wahdah

Lazis Wahdah Salurkan Bantuan Kepada Warga Terdampak Gempa di Pasangkayu

(PASANGKAYU) wahdahjakarta.com – Bencana gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan Kota Palu berdampak hingga ke Kabupaten Pasangkayu Sulawesi Barat. Sebanyak 20 unit rumah di Desa Wulai, Kecamatan Bambalamotu, mengalami kerusakan dan tidak layak huni.

DPD Wahdah Islamiyah Pasangkayu selain konsentrasi sebagai posko transit relawan dan bantuan logistik Wahdah Islamiyah dari berbagai penjuru tanah air menuju Palu-Sulteng, juga berupaya maksimal untuk meringankan beban sesama dengan menyalurkan bantuan sembako untuk korban gempa di wilayah Bambalamotu Kabupaten Pasangkayu, Jumat (5/10/2018).

Tokoh  masyarakat Bambalamotu Muhammad Barsuki mengatakan, sebagian korban gempa terpaksa membuat tenda darurat karena kondisi rumahnya sedang perbaikan akibat guncangan gempa yang menyebabkan sebagian dinding retak dan rubuh.

Ia juga berharap bantuan pemerintah, terutama sembako segera mereka dapatkan. Karena selain tidak bisa bekerja seperti biasanya, sembako juga semakin langka.

Hal senada juga disampaikan anggota polsek Bambalamotu Asdar Ahmad. Dia mengatakan sebagian warga di atas gunung Galu’ Langi masih mengungsi.

“Yang paling dibutuhkan saat ini diatas gunung adalah makanan,” kata Asdar

20 paket sembako yang disalurkan LAZIS Wahdah Pasangkayu diharapkan dapat meringankan beban warga yang menjadi korban.

Dalam waktu dekat ini, bantuan tahap kedua akan kembali disalurkan ke Desa Wulai. “Setelah melihat kondisi saudara kita di Wulai, Insyaa Allah kami akan salurkan bantuan berikutnya dan secepatnya,” kata Marfu Ketua LAZIS Wahdah Pasangkayu.[]